Review POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta Utara

Hai, hello internet! Ternyata sudah berbulan-bulan lamanya tidak menulis di sini ya. 😀

 

Sepertinya saya akan menambahkan kategori baru dalam blog ini. Yep, saya ingin menambahkan kategori “Review Hotel”. Well, mungkin sebenarnya ide ini tidak terlalu menarik, akan tetapi saya terinsipirasi dari beberapa kegiatan proyek di mana saya terlibat di dalamnya, di mana saya harus melakukan perjalanan keluar kota dan mengharuskan saya menginap, 1 atau 2 hari atau bahkan selama 5 hari kerja dalam seminggu.

 

Akan tetapi dalam tulisan perdana dari kategori ini justru saya tulis dari pengalaman di luar kegiatan kerja proyek, melainkan dari kegiatan perjalan pribadi.

 

– – –

 

Pada mulanya ide menginap di luar rumah ini muncul secara random dan tiba-tiba begitu saja. Rasanya seperti seru saja jika bisa menginap di luar rumah, dengan menginap di hotel yang tidak perlu mahal-mahal juga, dalam arti yang murah-murah saja. Seru! Begitu kami pikir. Kemudian saya berpikir untuk menginap di hotel yang dekat dengan mall, bila perlu hotel yang menyatu dengan mall. Dan jadwal menginap kami kala itu adalah weekend di tanggal 1-2 April 2017.

 

 

Mencari, mencari, dan mencari, dapatlah tujuan kami ke POP! Hotel Kelapa Gading yang letaknya menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Mengapa di POP! Hotel? Tentu saja selain harganya murah sebagai hotel budget, lokasinya pun berdekatan dengan pusat perbelanjaan, jadi ketika keluar kamar, tidak perlu jauh-jauh berjalan untuk menuju mall terdekat sebagai tujuan kegiatan weekend kami.

 

Beberapa hari kemudian setelah memesan kamar pada hotel tersebut, saya mendapatkan undangan pernikahan dari seorang kawan semasa kuliah untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 1 April 2017! Wow! Perlu diketahui, sebelum adanya undangan pernikahan ke Kelapa Gading tersebut, kami sudah terlebih dahulu memesan kamar pada POP! Hotel Kelapa Gading tanpa tahu di kemudian hari akan diundang ke pernikahan di daerah Kelapa Gading juga. What a coincidence, wasn’t it? 😀

 

– – –

 

Review Hotel

 

POP! Hotel Kelapa Gading merupakan Hotel Budget Bintang 2 yang letaknya di seberang selatan persis Masjid Raya Al-Musyawarah Kelapa Gading. Untuk menuju hotel ini, bisa dari pintu masuk yang terletak pada seberang masjid tersebut, atau masuk melalui jalan kecil dari pintu masuk MKG 3. Dari meja resepsionis mall, menuju belok ke arah kiri ke arah jalan kecil yang tembus ke arah hotel tersebut.

 

Selain itu, POP! Hotel Kelapa Gading juga memiliki akses langsung (menyatu) dengan MKG 3 dengan jalan tembus dari lantai 3 area food court mall dengan privasi khusus, karena untuk melewati jalan tembus ini harus menggunakan kartu kamar hotel. Cukup menyenangkan dan memudahkan tamu hotel jika ingin menonton film pada saat midnite, seperti kami. Tidak perlu repot-repot turun tangga dan keluar mall untuk kembali ke hotel, melainkan bisa langsung melalui jalan akses di lantai 3 ini, dan lagi posisi Bioskop XXI MKG 3 juga terletak di lantai yang sama dengan jalan tembus tersebut, yaitu di lantai 3 juga. Apalagi jika sudah lelah seharian muter-muter shopping sepanjang La Piazza, MKG 1, MKG 2, MKG 3, MKG 5, Gading Walk, dan sekitarnya.

 

Dari segi ruangan kamar, memang ukuran kamarnya seperti Unit Studio Apartemen atau bahkan lebih kecil, ukuran yang tidak terlalu luas dengan 1 kamar mandi shower minimalis tanpa bathtub dengan wastafel terletak di luar kamar mandi, rak penyimpanan pakaian minimalis, dan area tempat tidur + sofa kecil + area tivi. Tidak terlalu luas, akan tetapi kerapihannya cukup bermanfaat untuk kegiatan weekend escape atau backpacking iniSayang bagian kamar tidak sempat terdokumentasi  (terfoto).

 

Saya memesan kamar melalui aplikasi traveloka dengan harga permalam hanya Rp 420.000-an saja! Cukup murah bukan? Ditambah dengan lokasi yang super strategis, saya rasa harga sekian lumayan pantas untuk hotel budget bintang 2 demikian.

 

Oiya, untuk sarapannya memang, tidak terlalu banyak varian, akan tetapi cukup lezat dan enak untuk sekelas sarapan di hotel budget, dari segi rasa juga tidak mengecewakan, dapat memuaskan rasa lapar kami di pagi hari.

 

Sepertinya hanya itu yang bisa saya tulis dari pengalaman menginap 1 malam di POP! Hotel Kelapa Gading. Dan ini adalah beberapa view yang saya ambil dari kamar saya dan sudut-sudut lain dari hotel ini juga. Cekidot!

 

View dari Kamar Kami

 

View dari Sisi Lain Hotel

 

View dari Sisi Lain Hotel yang Menghadap Masjid Raya Kelapa Gading

 

View dari Sisi Lain Hotel

 

Nah, bagaimana? View-nya cukup memanjakan mata bukan? Bisa nih dicoba sebagai alternatif tempat menginap murah meriah. Dan, selamat berlibur! 🙂

Pokémon Go Fever (Bandung Experience)

It’s been about three months since the Pokémon Go game was released. I’ve been playing this game since the beginning of the game was released too. I play it in honest way without using some cheater applications like (maybe) others did. Eventhough I’ve ever felt want to install those kind of apps also, but I decided not to do that act. I decided to play it in honest way without worrying my progress will look slower than others’ have. But never mind, I feel proud of my self. 😀

I’m a woman and not kind of a freak gamer. I love playing many games but for me this game is the most addicted game I’ve ever played although I have to do some walks to make this game more attractive. And I think this game is very healthy for the gamer itself. So that’s why I’m being addicted with this Pokémon Go and could increase my walking time so can make me healthier too, refer to my big body which needs to be treated by diet program and much exercise. Ha-ha. 😀

Until one day in the last weekend of July, when I went to Bandung with my husband, we experienced the most attractive place to play Pokémon Go. Actually I had a personal business at campus on Friday and was invited to my friend’s wedding ceremony on Saturday of that weekend. Therefore I had been decided in days before the weekend to book a hotel near the Cihampelas Walk a.k.a Ciwalk. At first I hadn’t chosen the hotel we’d like to stay yet then a friend suggested me to stay near Ciwalk if me and my husband wanted to play Pokémon Go too. My friend said that at Ciwalk, there are 24 hours Lure Parties even on weekdays. Lure Party is an action of the game by using Lure Module that applied at each PokéStop. It could attract some Pokémons around to appear. If you’re lucky, the rare Pokémon would be appeared.

Remember that Saturday night after we came back from the wedding party and arrived in hotel at about 9.30 PM, we didn’t immediately go to sleep but decided to continue our activity to go to Ciwalk for playing this game! Ha-ha. 😀

And…..it happened! I saw beautiful lure parties appeared on my smartphone screen. Look!

Lure Parties

Lure Parties

Then I saw many people there, sooo crowded. Some of them were seemed walking toward the outside of Ciwalk, maybe they had finished their playing time then wanted to go home, besides the mall was starting to close. When I walked in front area of the mall, I thought there would be quiter inside such as in the central park of the mall, but I was completely wrong! There were still maaany people there, holding their smartphones connected with their power bank devices too. Interesting. 😀

My husband and I then decided to get a seat around the central park. The Ciwalk Mall has a concept indoor and outdoor mall, so that’s why it has a kind of central park and some pathways inside the mall. In the middle of playing time, suddenly we’re surprised by a friend who’s playing the game too with his friends. Suddenly he came and accosted us. We’re not talking much but yes, we discussed anything about Pokémon Go. That time was about a month since the game has been released. On that time also I was pretty sure that people all around the globe were playing this game with great enthusiasm.

These pictures below will show you how enthusiasm of Bandung people when they play Pokémon Go.

20160730_230902

20160730_230906

20160730_230919

20160730_231412

20160730_231956

20160730_235059

Met our friend, Ajie.

 

And…you have to know that it’s happened at midnight, around 11.00 – 12.00 PM! Interesting, isn’t it? 😀 Even Ajie told us that actually if we came around 8.00 – 10.00 PM we’re gonna see a very wide of ocean of people, very crowded he described. 😀

Then about 00.30 AM, suddenly a very rare Pokémon appeared! And yes, all of people inside Ciwalk was making funny scream to express their excitement to catch this rare Pokémon. Haha! 😀 I called us “lebay!” for that noisy scream. 😀
And…..without waiting so long, several minutes later a rare Pokémon appeared inside the “Pokémon Nearby” Box. Guess what? Maybe some of them were using a cheat application that help user finding a precise place of the Pokémon appeared, then suddenly those people lead almost all people who’s playing, included us, to follow them just only want to catch that rare Pokémon! 😀 This video I recorded below will describe how very crowded and very “lebay” of people on that midnite. Insane! Ha-ha. 😀

image

– – –

A month later, at the end of August, I was invited again to my friend’s wedding ceremony in Bandung. Then again, we planned to book a hotel near the Cihampelas Walk, again and again! Ha-ha. 😀 Actually at noon, I was invited to my friend’s engagement day in Bintaro, but lucky us, my friend’s house is near from a shopping center that there’s a travel bus pool named X-Trans that has route between Bintaro and Cihampelas. And the access from my friend’s house to the shopping center is easy and near. What a coincidence, isn’t it? So we decided go to Bandung by X-Trans travel bus that heading to Cihampelas. And more coincidence is the hotel we booked was precisely beside the X-Trans pool at Cihampelas, so we didn’t need extra ride by public transportation to lead us up to our hotel. Ha-ha. 😀

The wedding ceremony was held at 07.00 PM until 09.00 PM, but after that I didn’t directly go back to hotel with my husband because my friend, Alif, invited me to attend a small conference of our alumni group at his Coffee Shop, Cokotetra at Dago that actually had been started since after Isya’ pray time, about 07.30 PM. Of course I wasn’t alone by myself as the only woman on that informal meeting, but I was with my senior high school girl friends, Ichi and Fine. Fine is a new Mom, but she’s still like to attend some events that related to Krida (my senior high school) friends while having reunion. She’s lucky, her husband is always support her that can make her easily to come to those events without much worrying about baby-sitting of her little son while she’s enjoying the moment with friends. Everytime I saw her appearance at events I attended, I made a promise that someday, I also won’t stop for attending friends’ events, even my babies have born. 🙂 And that night, she brought Emir, her baby-son who’s sleeping. So cute! ^-^ She and her husband weren’t hurrying themselves to went back to hotel after the wedding party, but decided to came by at Cokotetra for awhile.

Then how about my husband? Yes, of course, he’s directly went to Ciwalk and playing Pokémon Go immediately. Ha-ha. 😀 At about 10.30 PM we ended our small meeting at Cokotetra then Alif and Ichi accompanied me going back to hotel at Cihampelas.

 

di-cokotetra

Me and Friends at Cokotetra

After I arrived in hotel at about 11.00 PM, my husband picked me up then walked together to Ciwalk. Ha-ha. 😀 As I guessed before, there were still maaany people inside Ciwalk  and we started to play, particularly my husband, he started to continue his game. He had been playing for about an hour before I came. And these pictures below will show you how crowded on that midnite at Ciwalk. It’s taken about 11.30 PM – 00.30 AM! 😀

20160828_001622

20160828_001646

– – –

Today, I don’t know is anybody still playing this game with great enthusiasm or not. But for me and husband, we’re still playing it although it is not as enthusiastic as before. Now he’s on Level 26 and I’m on Level 23. The higher the level we’ve got, the more difficult to raise the level up, therefore I’m becoming not as enthusiastic as many weeks ago, but surely I don’t feel bored. I’m still playing it but rarely. However, the developer of this game had made some updated  of some features so can make Pokémon Go becoming more attractive, such as the “Buddy” feature.

Well, I guess Pokémon Go is still the most interesting game for me to play nowadays. I wish I could raise the higher level as fast as others did which I often see when I saw the Gym nearby. Ha-ha. Wish me luck then. 😀

Transportasi Umum (Angkot) dari Dago ke TSM (Trans Studio Mall) Bandung

Halo, halo!

Lagi bikin kategori baru nih! Haha. 😀 Semoga bermanfaat yaaah. Dan ini adalah postingan perdana saya dalam kategori ini. Yuk, cekidot gan-sis! 🙂

– – – – –

Apakah agan dan sista adalah traveller – backpacker? Apakah agan dan sista termasuk yang sedang bingung mencari rute angkutan umum dari Dago menuju Trans Studio Bandung atau Trans Studio Mall tanpa harus menggunakan jasa taksi dan ojek? Nah, mungkin di sini saya bisa membantu sedikit. 🙂

 

A. Jika Anda berangkat dari arah Dago Atas, wilayah Kanayakan dan sekitarnya, atau dekat-dekat dengan  Terminal Angkot Dago.

  1. Karena Anda berangkat dari Dago Atas, maka Anda langsung saja naik Angkot Riung – Dago (Warna Putih – Garis Dasar Hijau) ke arah Riung tentu saja.
  2. Ikuti saja rute angkot selama Anda naik. Sekitar 1 – 1,5 jam kemudian, turun di Perempatan Binong, yaitu yang terletak setelah Jembatan (Stasiun) Kiara Condong. Jika Anda ragu, dari awal naik angkot harap bilang ke Bapak Sopir supaya diingatkan. 

    Penampakan Perempatan Binong

     

  3. Setelah turun (di jalan sebelah kiri), menyeberang ke arah perempatan sisi Barat. (kalau seperti pada gambar di atas, ke arah kanan) Kemudian di sana akan ada 2 jenis angkot, yaitu Angkot Elang – Cicadas (Warna Merah – Garis Dasar Hijau) dan Angkot Abdul Muis / Kalapa – Cicaheum (Warna Hijau – Garis Dasar Kuning). Anda BISA naik dengan kedua angkot tersebut. Naik dan bilang ke Bapak Sopir kalau si angkot ke arah BSM/TSM. (sebelum berubah menjadi TSM, dulu namanya BSM, dan orang-orang terkadang masih suka menyebut demikian, BSM atau Bandung Super Mall)
  4. Tidak sampai 15 menit, Anda sudah sampai di seberang TSM. 🙂

 

B. Jika Anda berangkat dari arah Dago Bawah, wilayah sekitar Jalan Merdeka atau sekitar Bandung Indah Plaza (BIP), sekitar Dukomsel, Super Indo, dan sekitarnya, serta wilayah sekitar Factory Outlet Dago, ITB (Pertigaan Jln. Ganesha – Dago), Borromeus, dan sekitarnya.

  1. Naik Angkot Kalapa – Dago (Warna Hijau – Garis Dasar Oranye) yang menuju ke arah Dago, atau biasa orang-orang menyebutnya ke arah Atas.
  2. Berhenti di Simpang Dago. Kemudian setelah turun (di jalan sebelah kiri), menyeberang ke arah perempatan sisi Timur (kalau seperti pada gambar di bawah, ke arah kanan). 
    Penampakan Simpang Dago

    Penampakan Simpang Dago

     

  3. Dari Simpang Dago tersebut, naik Angkot Riung – Dago (Warna Putih – Garis Dasar Hijau) ke arah Riung tentu saja.
  4. Ikuti saja rute angkot selama Anda naik. Sekitar 1 – 1,5 jam kemudian, turun di Perempatan Binong, yaitu yang terletak setelah Jembatan (Stasiun) Kiara Condong. Jika Anda ragu, dari awal naik angkot harap bilang ke Bapak Sopir supaya diingatkan.
  5. Setelah turun, menyeberang ke arah perempatan sisi Barat. Kemudian di sana akan ada 2 jenis angkot, yaitu Angkot Elang – Cicadas (Warna Merah – Garis Dasar Hijau) dan Angkot Abdul Muis / Kalapa – Cicaheum (Warna Hijau – Garis Dasar Kuning). Anda BISA naik dengan kedua angkot tersebut. Naik dan bilang ke Bapak Sopir kalau si angkot ke arah BSM/TSM. (sebelum berubah menjadi TSM, dulu namanya BSM, dan orang-orang terkadang masih suka menyebut demikian, BSM atau Bandung Super Mall)
  6. Tidak sampai 15 menit, Anda sudah sampai di seberang TSM. 🙂

 

Nah… Gimana? Mudah bukan? 🙂

Yang terpenting adalah selalu berdo’a sebelum bepergian ke mana pun yaaa. Selamat jalan-jalan! 🙂

Sebuah Renungan

Aku dulu kerapkali menanyakan kepada-Nya.
Mengapa Allah?
Mengapa aku tak seperti mereka, bepergian jauh ke pantai-pantai indah-Mu, sementara aku berkutat pada satu tempat demi sebuah harapan permulaan cita-cita?
Mengapa Allah?
Lalu, mengapa aku tak secepat mereka Ya Allah? Mengapa?

Dan…

Apakah mungkin ini jawab-Nya?
Sebagaimanapun rizqi yang kita pinta, kita pun harus beriman bahwasanya Dia Tak Akan Pernah Salah, Dia-lah Yang Mahatahu waktu terbaik.
Dan hingga detik inipun, aku masih belum percaya, dengan apa yang sedang aku lihat, aku alami.
Subhanallah…!

Diamlah.
Sadarilah.
Begitu banyak nikmat-Nya yang telah Dia Berikan.
Masih pantaskah aku mengeluh?
Masih pantaskah aku tidak bersyukur?

– – –

Makkah Al-Mukarromah, 28 Januari 2015
22.30

Pengalaman Pertama Naik Gunung – Gunung Prau (2.565 mdpl)

Ini adalah pengalaman pertamaku mendaki gunung, benar-benar gunung, bukan hanya sekedar tracking, namun benar-benar hiking! Dulu semasa sekolah di SMA, aku pernah dua kali mengikuti kegiatan semacam tracking, walau sedikit mirip dengan hiking, di mana perjalanan jauh bermula dari satu titik (yaitu sekolah asramaku) hingga menuju suatu tempat pada ketinggian tertentu. Kegiatan tersebut bernama “pembaretan”. Yak, aku pernah sebagai peserta dan sebagai panitia. Kegiatan pembaretan tersebut dilaksankan di kaki Gunung Manglayang (1.818 mdpl), selama 2 hari 1 malam.

Kegiatan naik gunung “sungguhan” tentu saja berbeda dengan kegiatan pembaretan dahulu itu. Hal ini tentu berbeda dengan jalur pendakian yang lebih rumit dibandingkan dengan masa pembaretan kala itu. Kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk naik gunung bersama kawan-kawan baruku yang sebagian dari mereka telah aku kenal sebelumnya. Kami berpetualang di Gunung Perahu atau Gunung Prau (2.565 mdpl) masyarakat secara umum menyebutnya.

Gunung Prau  memiliki ketinggian 2.565 mdpl terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Namun setelah sampai pada jalur awal pendakian, aku baru tau bila jalur awal pendakian tersebut terletak pada perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara (Kec. Batur) dengan Kabupaten Wonosobo. Sebagai orang yang tumbuh besar di Banjarnegara, sungguh rasanya aneh ketika baru mengetahui hal tersebut. Namun, secara administratif, wilayah Gunung Prau merupakan milik wilayah Kabupaten Wonosobo.

 

Jumat, 5 September 2014

Pada hari itu aku memutuskan untuk tidak masuk kantor. Mengingat beberapa tugas sudah aku selesaikan dalam beberapa hari sebelumnya dalam minggu yang sama. Bahkan aku rela untuk menambah ekstra jam kerja di atas jam 5 sore. Tapi senangnya, suamiku selalu menjemputku ketika sudah lewat jam kantor tersebut. :p

Pagi hari di hari Jumat, seperti biasa rutinitas pagi kulalui. Namun kali itu sedikit agak lama kumenahan suamiku untuk pergi ke kantor. Sungguh rasanya sudah rindu detik itu juga sebelum keberangkatanku pada sore hari tersebut. Setelah akhirnya aku sedikit tenang hati, perlahan-lahan aku melepaskan diri darinya dan meng-iya-kan beliau untuk segera berangkat ke kantor. Setelah keberangkatan beliau ke kantor, aku memutuskan untuk mengecek ulang segala benda yang sudah masuk ke dalam tas ranselku. Dari ponco, headlamp, baterai cadangan, sleeping bag, pakaian hangat, dan lain sebagainya. Rasanya seperti mimpi, bisa mendapatkan kesempatan naik gunung walau sebagai pemula.

Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Beberapa hari sebelumnya, saat datang penawaran adanya naik gunung dari grup angkatan kuliahku, aku menunjukkan kepada beliau untuk meminta pendapatnya. Tidak disangka suamiku malah menyarankan untuk ikut jika memang ada niatan ingin pergi dan bergabung bersama kawan-kawan baruku tersebut. Berulang-kali aku tanyakan kepastian beliau, beliau tetap meng-iya-kan tanda setuju. Alhamdulillah, rasanya menjadi tenang. 🙂

Sekitar pukul 3 sore, aku memutuskan berangkat, dan kuputuskan menggunakan taksi. Aku menuju tempat titik kumpulku bersama kawan-kawan lain di Plaza Semanggi, yang terletak di area Sudirman. Lalu lintas sore itu cukup padat, namun tidak terlalu macet. Sekitar pukul 4 sore, aku tiba di Plaza Semanggi. Berdasarkan informasi dari grup di WhatsApp, titik kumpul berada di Store Dunkin Donuts Plaza Semanggi. Saat aku datang, ternyata belum ada seorang pun yang di sana. Kuputuskan untuk berjalan di area sekitar untuk sekedar mencari bekal roti dalam perjalanan. Setelah membeli 2 potong roti, aku kembali ke tempat titik kumpul, dan kudapati di sana sudah ada 2 orang yang sedang menunggu yang terlihat dengan barang-barang bawaan berat milik mereka. Aku pun berkenalan dengan mereka berdua. Mereka adalah Ayu Fitri dan Adrian. Beberapa saat kemudian, datanglah wanita berjilbab dan berkacamata, namanya adalah Nadhia. Beberapa saat sesudahnya, datanglah seorang perempuan berambut pendek cantik ala pramugari, kami pun berkenalan dengannya, namanya adalah Tiwi.

Suasana sore itu semakin mendekati jam pulang kantor, jam 5 sore, suasana lalu lintas semakin padat.

Sebenarnya, titik kumpul keberangkatan rombongan besar kami tidak hanya pada Plaza Semanggi saja, namun terdapat tempat-tempat lain seperti di Lebak Bulus dan Daan Mogot. Kami berlima menduga bahwa kawan-kawan lain akan datang lebih terlambat dari jadwal yang telah ditentukan. Dan kami berlima pun memutuskan untuk makan malam sebelum perjalanan, dan kami pun memutuskan untuk makan di restoran cepat saji, yaitu Hoka-Hoka Bento. Setelah sampai di Hoka-Hoka Bento, datanglah Regi, Feschi, Imam, Febry, dan Oca. Datang juga Kodil, yang katanya bus yang berangkat dari titik kumpul Daan Mogot sedang terjebak macet. Kemungkinan mereka baru akan masuk ke wilayah Semanggi sekitar pukul 7 malam. Akhirnya, sembari menunggu, kami berbincang-bincang bersama.

Sekitar pukul 7 malam, kami memutuskan untuk berangkat menuju halte bus dekat Plaza Semanggi, karena menurut kabar, bus kami sudah mulai dekat dengan area Semanggi. Mereka akan menjemput kami pada halte tersebut. Dengan dipimpin oleh para pria dalam kelompok kami, berangkatlah kami berjalan menuju keluar Plaza Semanggi. Rombongan kami terlihat “nyentrik” karena berjalan-jalan di tengah-tengah kerumunan manusia di dalam mall. Setiap kali kami melewati suatu titik di dalam mall, terlihat orang-orang yang melintas di sekitar kami memalingkan muka dan pandangan mata mereka tertuju kepada kami.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di depan halte yang dimaksud. Tidak lama kemudian, terlihat sebuah mini bus pariwisata menghampiri arah rombongan kami, dan ternyata benar, itulah mereka! Dengan segera kami bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus dengan sebelumnya meletakkan barang bawaan kami ke dalam bagasi bus. Aku duduk bersebelahan dengan Ayu. Sesaat setelah kami semua rombongan Semanggi masuk ke dalam bus, Sausan a.k.a Ucan berdiri dan berpidato sejenak, menjelaskan bagaimana awal mula perjalanan ini direncanakan, kemudian diakhiri dengan perkenalan satu per satu oleh Ucan juga. Tidak lupa kami semua berdoa sebelum memulai kegiatan kami. Bismillahirrohmanirrohim!

– – –

Lalu lintas Jakarta malam itu sangat padat. Terutama lalu lintas arah keluar kota Jakarta menuju arah timur, seperti jalan yang sedang bus kami lalui. Kami berjalan menuju arah Karawang (dekat dengan pintu tol), kami menjemput seseorang yang paling terakhir bergabung dengan kami, namanya Taufik. Beliau ini yang paling banyak membelikan titipan-titipan perlengkapan naik gunung kami. Terlihat saat beliau menunggu di pinggiir jalan, setumpuk barang berada di sampingnya, mulai dari sleeping bag, matras, dan lain sebagainya. Sesudah doi bergabung dan memasukkan semua barang ke dalam bagasi, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Dieng. Jalur perjalanan kami melalui jalur pantai utara jawa (pantura) yang nanti akan tembus melalui Kota Purwokerto sebelum menuju Banjarnegara/Wonosobo.

Aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk menidurkan raga, pikiran, dan mata ini. Rasa-rasanya aku ingin mengumpulkan tenaga maksimal agar di keesokan harinya aku dapat berjuang penuh untuk dapat mendaki gunung pertama dalam hidupku itu. Sesekali juga aku pun berbincang-bincang dengan Ayu Fitri, tentang apa saja, mulai dari kegiatan di kampus sampai tentang pekerjaan, kebetulan juga kami ini satu almamater dan satu angkatan 2008. Beberapa saat kemudian, akhirnya aku pun mulai memejamkan mata dan mulai menikmati suasana tidur dalam perjalanan malam. Tidak lama kemudian tibalah kami di sebuah resto untuk beristirahat sejenak. Aku dan Ayu bersama-sama menuju toilet dan mushola untuk melaksanakan sholat Isya merangkap sholat Maghrib. Di sana juga kami melaksanakan makan malam. Seusai makan malam, kami berbincang-bincang bersama di meja makan sambil sesekali tertawa bersama-sama. Setelah siap, kembalilah kami melanjutkan perjalanan menuju arah timur.

 

Sabtu, 6 September 2014

Seperti yang sudah terkenal, jalur pantura ini akan padat pada titik-titik tertentu, dan ternyata benar, perjalanan kami sedikit terhambat dan masuk ke dalam antrian panjang saat akan menuju kota Cirebon. Aku hanya sesekali membuka mata  dan tetap berusaha untuk memejamkan mata untuk tidur.

Tiba-tiba aku pun terbangun. Bis yang kami tumpangi ini sudah mampir kembali ke sebuah rumah makan untuk istirahat kedua kami. Saat itu pukul setengah 6 pagi. Kami juga harus melaksanakan sholat Subuh. Terlihat kawan-kawan juga baru saja bangun dari tidurnya masing-masing. Tempat istirahat kami di daerah Bumiayu sesaat sebelum masuk Purwokerto. Ternyata lama juga ya perjalanan kami. Setelah sholat Subuh, kami berkumpul-kumpul, duduk-duduk sambil menikmati seduhan kopi hangat maupun pop mie rebus masing-masing dari kami. Suasana pagi itu cukup dingin dan yang  pasti menyegarkan.

Setelah agak fresh, kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju Wonosobo.

Setelah melewati panjangnya perjalanan, sekitar pukul 11 siang tibalah kami di Kec. Batur Kab. Banjarnegara, dekat dengan pintu masuk (jalan masuk) pendakian Gunung Prau. Yeay! Saat itu kami semua berkumpul di suatu warung makan unutk menikmati mie ongklok dan  nasi rames untuk mengisi tenaga sebelum pendakian yang akan dilakukan jam 3 sore.

Perbatasan Kab. Banjarnegara (Kec. Batur) dengan Kab. Wonosobo (Kec. Dieng)

Perbatasan Kab. Banjarnegara (Kec. Batur) dengan Kab. Wonosobo (Kec. Dieng)

 

Setelah berbagai macam persiapan dan packing ulang barang-barang yang akan naik ke gunung, kami pun berkumpul di halaman masjid dekat dengan pintu masuk pendakian. Kami berdiri melingkar, melakukan briefing oleh Mas Cahyo yang sudah berpengalaman dalam kegiatan naik gunung dan tidak lupa untuk berdoa bersama sebelum keberangkatan. Sekitar pukul setengah 4 sore, kami pun siap mendaki.  Dan, perjalanan pun dimulai!

Briefing Sebelum Memulai Mendaki

Briefing Sebelum Memulai Mendaki

– – –

Pendakian tersebut terasa berat, rasanya sudah lamaaa sekali aku ini tidak pernah bergerak. Beban di ransel rasanya berat, padahal kalau kupikir-pikir, beban dalam ransel tidak terlalu berat seperti dahulu kala saat masa-masa pembaretan kala itu. Bedanya memang, kalau dulu hampir setiap hari latihan fisik, kalau kali ini, boro-boro. Aku pun hanya berbekal naik-turun tangga di kantor. Saat berjalan menanjak, padahal perjalanan baru dimulai, badan rasanya sudah mulai ngos-ngosan.  Udara sekitar yang semakin mendingin pun membuat suasana diriku semakin kurang tenang, benar-benar keringat dingin yang tidak enak. Aku berusaha terus menepis perasaan-perasaan negatif yang semakin muncul. Kukuatkan kembali niat dan tekadku. Alhamdulillah, aku pun kembali bersemangat dan menaikkan kecepatanku berjalan.

Di jalan, aku bersama kawan-kawan barukku ini tidak lupa untuk sering mengambil gambar-gambar kami semua, sembari beristirahat sejenak. Muka cerah kami yang pada saat akan memulai pendakian, kala itu sudah berubah berkeringat dan kemerah-merahan, tanda kami semakin lelah. Namun, begitulah kami, semakin lelah terasa, semakin senang dan bahagialah kami melanjutkan pendakian.

Matahari semakin bergeser ke arah barat, suasana juga semakin dingin dan gelap, ditambah ketinggian yang kami capai semakin tinggi. Badanku sudah mulai penuh dengan peluh yang semakin membanjiri sekujur tubuh. Badanku pun sudah mulai merasa menggigil tidak jelas, antara kedinginan juga kepanasan karena jaket tebal. Beberapa peralatan sudah mulai kukenakan satu persatu, seperti headlamp dan sarung tangan tebal.

Hari semakin gelap, jalanku juga semakin melambat. Sepertinya aku semakin merasa lelah dan semakin sukar bernafas rasanya. Hawa dingin semakin menusuk dan tidak tertahankan lagi. Kukencangkan sarung tangan dan jaket yang kukenakan. Walau sudah berlapis-lapis baju dan jaket yang kupakai, tetap saja rasa dingin tetap menusuk-nusuk. Headlamp yang kukenakan pun tidak luput dari perhatianku agar benda tersebut tetap fokus pada tempatnya.

sunset

Di Tengah Pendakian Saat Matahari Akan Terbenam

 

Sayup-sayup gema suara dari kegiatan di daratan (di bawah gunung) terdengar jelas di telingaku.

Sepertinya sedang ada perayaan di bawah sana,” pikirku.

Aku terus mendaki dengan penuh semangat. Sampai pada akhirnya aku lupa bagaimana kronologisnya aku pun sampai berkelompok bersama seorang Mas GEA (karena beliau ini mengenakan jahim GEA) bernama Fahma dan bersama Kodil dan Andro. Saat akan mencapai puncak sebelum turunan kembali menuju area camp yang sesungguhnya, tiba-tiba kakiku kram! Ya, kram! Bayangkan saja, aku berteriak kesakitan seolah rasanya seperti akan mati. Kaki kananku ini mungkin saja kesakitan akibat kombinasi kedinginan dan juga kelelahan. Beruntunglah aku sekelompok dengan orang-orang yang sudah biasa naik gunung, dan beliau-beliau inilah yang menolongku.

Saat sekelompok dengan Kodil dan Andro, kami sempat nyasar, jalan  setapak yang kami susuri semakin salah arah dan semakin tidak berujung. Aku sempat panik. Beruntunglah selera humor (atau jayus lebih tepatnya) Bang Andro ini cukup tinggi. Menghiburlah kami-kami yang perempuan ini.

Akhirnya dengan sedikit banyak perjuangan dan berteriak-teriak mencari rekan-rekan kami lainnya, sampailah kami ke area camp yang sesungguhnya. Karena sebelumnya kami sempat bertemu sekelompok orang yang membangun sebuah tenda, namun bukan di area camp yang ramai.

Alhamdulillah…!

– – –

Sesampainya di tenda kelompok kami, aku berisitirahat sejenak. Aku dan beberapa rekan mulai menyiapkan perlengkapan memasak kami dan masak! Ada mie goreng, bakso, sosis, serta minuman teh panas kami sajikan, sambil menunggu kedatangan kawan-kawan lainnya.

Sekitar pukul 9 malam, rombongan kami pun lengkap. Namun ternyata salah seorang diantara kami, Uki, meriang dan nampak kurang sehat akibat perjalanan yang cukup melelahkan sebelumnya. Beruntunglah kondisinya saat sudah sampai puncak ini, beliau tidak terlihat begitu parah keadaanya.

Sembari menikmati santap makan malam, kami bercanda dan bergurau bersama. Berteriak-teriak di dalam berbicara karena area camp saat itu saaaaangat ramai dan banyaaaaak sekali orang. Malam ini memang malam minggu, suasana weekend di mana banyak orang, entah mereka pekerja maupun pelajar, pasti tidak ingin menyia-nyiakan waktu menikmati waktu luang malam minggu, khususnya bagi mereka yang hobi mendaki gunung. Cuaca cerah juga yang mendukung banyaknya pendaki yang melakukan pendakian malam minggu tersebut.

Tibalah waktu tidur. Aku berlima dalam satu tenda bersama dengan Ayu, Kodil, Nadhia, dan Tiwi. Sebelum tidur kutaklupa menunaikan sholat Isya yang merangkap sholat Maghrib. Tentu saja, semakin malam semakin dingin terasa.

– – –

Suasana di luar tenda sangat berisik, terutama dari kerumunan mas-mas medhok dekat tenda kami. Mas-mas medhok yang ngobrol dengan volume berisik, sambil terselip beberapa bahasa kasar. Lucunya, mereka ini setelah berteriak-teriak dengan bahasa kasar, beberapa saat kemudian, berganti lagu menjadi sholawatan! Sarap. -_-“

 

Minggu, 7 September 2104

Walhasil aku pun kesusahan tidur, walau akhirnya dapat tidur juga dan walau tetap  terbangun juga di saat tengah malam karena ingin buang air kecil. Ternyata tidak hanya aku yang terbangun dini hari tersebut. Ayu dan Tiwi pun ikut terbangun bersamaku. Kami berdua pun akhirnya keluar tenda menuju semak-semak dekat area perkemahan. Harap-harap cemas. Berharap tidak ada yang melihat kami buang air kecil di semak-semak, khususnya para lelaki jahat yang mungkin saja ada di sana.

Ah, lega juga!”

Setelah selesai dengan urusan kami, kembalilah kami bertiga ke tenda. Terlihat beberapa pendaki yang juga semakin banyak berdatangan. Di sana-sini masih terdengar sayup-sayup orang-orang bercengkerama.

– – –

Aku terbangun dengan gelagapan, menarik-narik sleeping bag yang ternyata kurang menutup sempurna akibat terbangun tengah malam tadi. Saatnya Subuh! Aku dan Nadhia bergegas tayamum dan melaksanakan Sholat Subuh bersama. Udara di luar tenda sangat dingin tak tertahankan. Brrrrr!

Usai Sholat Subuh kami beramai-ramai bersiap untuk hunting matahari terbit bersama-sama. Segala perlengkapan sudah kami bawa, khususnya kamera dan handphone kami masing-masing. Berhati-hati sekali kami berjalan menuju ke area tanah yang lebih tinggi. Pagi hari itu sangat ramai karena tidak hanya kami sekelompok yang ingin menikmati pemandangan indah matahari terbit di puncak Gunung Prau. Dan udara sangat dingiiiiin sekali. >,<

Aku bersama-sama dengan Ayu di pagi hari itu. Sambil menungu munculnya sang mentari pagi, kami bergantian mengambil foto dengan berlatar belakang Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing.

horizon1

Suasana Menjelang Matahari Terbit

 

Sampailah pada akhirnya momen-momen yang kami tunggu datang. Sebuah bulatan kecil terlihat di kejauhan sana. Sangat indah! Subhanallah!

view sundoro sumbing1

Suasana Matahari Terbit dari Gunung Prau dengan Latar Belakang Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing

 

Suasana Matahari Terbit dari Gunung Prau dengan Latar Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing

Suasana Matahari Terbit dari Gunung Prau dengan Latar Belakang Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing

 

Berpose Bersama Sesudah Menyaksikan Matahari Terbit dengan Latar Gunung Sundoro dan Sumbing

Berpose Bersama Usai Menyaksikan Matahari Terbit dengan Latar Gunung Sundoro dan Sumbing

– – –

Usai sudah rangkaian acara menikmati keindahan pagi hari itu. Selanjutnya kami semua kembali ke area tenda kami dan melakukan berbagai persiapan untuk turun gunung. Kami semua berkemas barang kami masing-masing, ada juga sebagian yang memasak sisa bahan makanan malam sebelumnya. Sebagian lagi juga terlihat membereskan beberapa sampah yang bertebaran di area kami. Kami juga membagi-bagikan makanan yang masih ada ke beberapa tetangga tenda kami.

Suasana Ramai di Area Camp

Suasana Ramai di Area Camp

 

Terakhir, tidak lupa, kami berfoto ria bersama. Tongsis en selfie! Selain itu juga kami meminta tolong pendaki lain untuk mengambilkan foto kami semua full team! Yeah! 🙂

Full Team "Prau Syalalala~"

Full Team “Prau Syalalala~”

– – –

Tibalah waktunya kami turun gunung. Mas Cahyo bergantian dengan Fahma memimpin kami semua untuk berdoa bersama sebelum turun gunung. Tidak lupa untuk selalu berdoa sepanjang perjalanan. Kali ini kami melalui track berbeda dengan track keberangkatan kami hari kemarin. Jalur penurunan lebih curam dan cenderung licin dan berpasir. Sungguh harus ekstra hati-hati saat menjejakkan kaki di setiap langkah. Sempat aku beberapa kali meluncur turun dengan cara duduk.

Setelah kurang lebih 2 jam kami semua telah sampai di pinggir jalan raya lagi. Ah, rasanya seperti mimpi! Kami pun bersiap-siap pulang dengan riang gembira. Tak lupa untuk membawa oleh-oleh untuk dibagikan kepada kerabat kami semua setelah sampai di ibukota kembali.

Sekitar pukul 1 siang kami berangkat dari Dieng. Namun kali ini melewati Wonosobo, tidak melewati Banjarnegara lagi.

Kembali, saat melewati depan komplek rumah, air mataku kembali menetes. Sungguh tempat itu kini mungkin akan menjadi kenangan yang sangat berharga untukku. :’)

– – –

Sekitar pukul 4 sore kami mampir di Sokaraja sesaat akan masuk Kota Purwokerto. Entah mengapa saya merasa perjalanan bus wisata ini sangatlah sangat-sangat lambat. Dan lagi, jalur pulang kembali melewati jalur pantura, tidak melewati jalur selatan yang bisa melewati Tol Cileunyi.

 

Senin, 8 September 2014

Dan sesuai perkiraan, sampailah kami di Jakarta kembali sekitar pukul 04.15 WIB. Segera saja aku dan Nadhia menuju utara bersama-sama dengan menggunakan taksi, karena kebetulan tempat tinggal kami yang areanya berdekatan.

– – –

Perjalanan naik gunung pertama sungguhan yang sangat menyenangkan dan tidak akan pernah aku lupakan. Terima kasih kawan-kawan semua atas pengalaman yang sangat luar biasa ini. Maafkan aku kalau ada kesalahan-kesalahan yang tidak terduga dan tidak terencana. Terima kasih juga untuk suamiku yang telah memberikan izin jalan untukku. Hehehe. 🙂

*** FIN ***