Curhat Terbuka, Family & Friends, Hobby, Life, Travelling

Kenapa Jakarta?

“Kenapa Jakarta?”

Begitulah pertanyaan yang sering aku dengar dan aku dapat dari kerabatku.

 

Jakarta. Sebuah kota penuh impian. Sebuah kota yang kata banyak orang, adalah tempat di mana mimpi-mimpi untuk kehidupan dapat dimulai. Setidaknya, aku juga merasakan hal yang sama tentang perasaan itu terhadap Jakarta.

– – –

Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Source: http://www.instagram.com/mrs.ganis)

 

1. UMR Tertinggi di Indonesia

Dapat dikatakan, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, Provinsi DKI Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan UMR tertinggi di Indonesia. Untuk tahun 2018 ini saja UMR Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp 3.648.035,-.

Mungkin, ya mungkin, itulah salah satu alasan “Kenapa Jakarta?” ya karena hal tersebut di atas.

Oleh karenanya, Jakarta menjadi “surga” bagi para pejuang nafkah demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.

 

2. Teman-Teman SMA dan Kuliah 

Berjalannya waktu, aku pun ditakdirkan Tuhan untuk dapat mengenyam pendidikan tingkat SMA di Kota Bandung. Aku memang bukan asli Jawa Barat dan Jakarta, melainkan asli Jawa Tengah.

Entah bagaimana cerita, setelah lulus dari SMP, kemudian karena cita-cita yang gagal untuk dapat masuk ke sebuah SMA Swasta ternama di Kota Magelang, dan berkat ketidak-sengajaan kedua orang tuaku yang saat itu sedang ada acara gathering kantor Ayahku di Kota Bandung, yang membuat mereka bertemu dengan rombongan senior almamaterku yang sedang melaksanakan Pesiar Hari Minggu, jadilah aku pun dapat meneruskan jenjang pendidikan SMA ke sekolah yang mirip  dengan sekolah impianku dulu di Kota Magelang.

Selepas masa SMA, lagi-lagi Tuhan Menakdirkanku untuk meneruskan pendidikan di Kota Bandung. Walau pengalaman 3 tahun berasrama sesungguhnya membuatku homesick dan selalu ingin kembali ke Jawa Tengah agar dekat dengan kedua orang tuaku, namun tetap, Tuhan Berkata lain. Aku tetap stay di Kota Bandung selepas SMA, hanya berbeda lokasi saja.

Dan entah bagaimana cerita, banyak teman-teman saat SMA dan kuliah yang pada akhirnya meneruskan kehidupan mereka masing-masing di kota Bandung, Jakarta, dan area sekitarnya. Apalagi jarak Bandung-Jakarta hanya membutuhkan waktu 3 jam saja jika menggunakan transportasi umum kereta api dan plus-minus 2 jam (jika lancar) via tol.

Oleh karenanya, jika terdapat acara-acara, seperti pernikahan teman-teman, reuni komunitas-komunitas saat SMA dan kuliah, maupun reuni akbar dan reuni angkatan dari almamater-almamater itu sendiri, sudah pasti akan sering dilakukan di antara kedua kota tersebut, entah di Jakarta maupun Bandung.

 

3. Komunitas

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, aku pun memulai mencicipi kegiatan dagang kecil-kecilan untuk mengisi waktu-waktu kosong. Dari kegiatan tersebut, aku pun bertemu dengan teman-teman yang pada mulanya bertemu secara maya, yang kini berteman secara nyata juga.

Komunitas yang aku ikuti tersebut berisikan orang-orang yang memang asli Jakarta dan orang-orang rantau sepertiku yang meneruskan kehidupan di Jakarta. Komunitas ini beranggotakan ibu-ibu atas kesamaan hobi. Dan aku senang berada di dalamnya. Banyak informasi yang didapatkan dari komunitas tersebut, yang dapat kujadikan pelajaran dan pengalaman bekal hidup untuk ke depannya.

Sebenarnya tidak hanya komunitas ibu-ibu saja yang aku ikuti. Ada juga komunitas-komunitas alumni seperti organisasi alumni almamater, baik SMA maupun kuliah, yang mana banyak kegiatan juga dilaksanakan di antara Jakarta maupun Bandung.

 

4. Pekerjaan

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, kebetulan memang pasanganku memulai karir di Jakarta. Jadilah aku pun mendampingi Beliau untuk hijrah ke kota tersebut.

Pada mulanya aku memang tidak bekerja saat menapaki kaki di kota Jakarta ini. Saat itu memang, kondisinya, setelah lulus kuliah, aku langsung mau saja dipersunting calon suamiku saat itu untuk menjadi istri Beliau. Toh aku sudah merasa siap dan sudah merasa cocok-cocok saja tiada masalah, jadi untuk apa harus menunggu-nunggu lebih lama lagi. Hehe.

Baru setelah menikah, dengan suasana sebagai fresh graduate, aku pun baru mulai “menjelajah” dunia kerja yang kiranya cocok dengan latar belakang pendidikanku.

Dan lagi-lagi, dengan hanya jeda waktu kurang-lebih 3 bulan saja selepas menikah, Tuhan pun Memberikan rejeki itu kepadaku. Akupun memulai pengalamanku dalam dunia kerja di sebuah daerah di Jakarta juga. Saat itu adalah awal tahun 2014. Dan hingga detik ini, aku pun telah terlibat ke beberapa project dan semuanya berlangsung di Jakarta.

 

5. Rumah Sakit dan Dokter yang Kompeten untuk Program Hamil

Aku pikir, setelah menikah, yang namanya memiliki anak itu adalah perkara yang sangat mudah. Ibaratnya, toh sudah sah ini kan, gampang lah… Begitu pikirku dulu. Ternyata tidak demikian.

Pertengahan 2015 lalu, aku pun memulai untuk mencoba mencari-cari informasi terkait program hamil yang ada di Jakarta dan beberapa dokter Sp.OG ternama dan terkenal, khususnya dokter perempuan, yang ternyata memang banyak ditemukan di Jakarta. Walau saat itu belum mengikuti program secara sungguh-sungguh dan terhenti antara 2016 – 2017, namun pada akhir tahun 2017 lalu, aku dan pasangan baru memulai kembali untuk berprogram kembali.

Berkat dari teman-teman komunitas juga, yang memang most of them adalah asli orang Jakarta, lahir dan besar di Jakarta, aku pun mendapatkan banyak informasi dari mereka terkait rumah sakit dan dokter bagus untuk program hamil. Dan memang ternyata banyak sekali ditemukan di Jakarta.

 

6. Hiburan dan Surga Dunia

Selain karena alasan-alasan utama di atas, aku pun menemukan kenyamanan di dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta. Ditambah tempat-tempat belanja sehari-sehari seperti pasar, terasa lebih banyak warna dan pilihan di kota ini, dibandingkan dengan kota asalku dulu di Jawa Tengah.

Kemudian tempat-tempat hiburan untuk refreshing. Mungkin bagi sebagian orang merasa bosan mainnya ke mall lagi, ke mall lagi. Tapi bagiku, justru tidak. Tidak pernah ada rasa bosan untuk menapaki tempat-tempat hiburan tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat saja. Biasanya di dalam mall, ada yang namanya toko buku, itulah yang membuatku juga semakin menyukai untuk berkunjung ke mall.

Di Jakarta juga, aku banyak menemukan momen dan hiburan di mana saat masa kecilku dulu, aku tidak mampu dan tidak dapat merasakannya. Seperti halnya mainan-mainan dan kesukaan masa kecil, yang dulu hanya dapat melihat milik orang lain atau hanya melihat di majalah maupun TV, akhirnya di masa dewasa ini ternyata banyak kutemukan di Jakarta. Ditambah saat ini aku sudah memiliki penghasilan sendiri, sehingga tanpa harus melibatkan pasangan, aku pun sudah dapat memenuhi keinginan sangat tersier tersebut.

 

– – –

Jadi, itulah alasan-alasanku saat ini yang mungkin membuatku betah dan nyaman untuk hidup dan tinggal di kota Jakarta. Ditambah juga saat ini, aku menjalani kegiatan sehari-hari tanpa bertemu dengan macetnya Jakarta sama sekali. Yap, sama sekali. Mungkin faktor tersebutlah yang membuatku semakin merasa nyaman dan betah untuk tinggal di kota ini.

Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti, aku akan mulai move on dan jatuh cinta dengan kota lain. Who knows. 🙂

Advertisements
Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan.)

 

– – –

 

Kembali lagi bertemu dengan “minggu tema”, di mana tema dalam minggu ini adalah tentang “berbagi”. Terus terang, saat mendengar tema ini, yang saya pikirkan hanya tentang “berbagi” yang berkaitan dengan social media. Yap, yang ada dalam pikiran saya adalah ini:

Berbagi = Share

 

(Entahlah tulisan kali ini apakah akan nyambung dengan tema atau tidak. Hehe.

– – –

 

Di era social media seperti saat ini, banyak sekali saya temukan berbagai informasi dari hal  yang penting, kurang penting, hingga nggak penting sama sekali. Bahkan ke dalam tingkat yang lebih ekstrim lagi, akan semakin ditemukan juga berbagai macam berita “berat” yang terkadang saya ataupun kita belum tahu kebenaran akan isi berita tersebut.  Bahkan bisa jadi malah, banyak berita yang sudah saya baca, yang saya mengira selama ini adalah berita atau informasi benar, ternyata setelah berselang beberapa waktu, terbukti bahwa berita atau informasi tersebut ternyata adalah salah, alias hoax. Ngeri! Hi…..

Nah, akan tetapi sat ini saya sedang tidak ingin menulis tentang hal-hal “berat” demikian, melainkan ingin bercerita tentang pengalaman atau setidaknya perasaan yang saya alami saat menggunakan social media sejauh ini.

 

– – –

 

Platform social media saat ini bermacam-macam, ada Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Bahkan aktivitas blogging seperti ini juga dapat dikategorikan sebagai social media. Pada intinya kan, social media itu merupakan media yang bersifat maya, yang dapat berfungsi secara sosial, atau dapat menghubungkan dan berinteraksi antar satu individu dengan individu-individu lainnya dalam berbagai tempat dan waktu berbeda secara bersamaan. Mungkin seperti itu.

Di dalam penggunaan social media-social media ini, makin banyak individu bermunculan yang berekspresi dengan sekreatif-kreatifnya dan sebebas-bebasnya, termasuk saya. (walau saya tidak kreatif sih, yang penting mah upload, haha) Kehidupan atau kegiatan sehari-hari pun saling dibagikan, minimal ke dalam lingkaran pertemanan terdekat. Nah, di sinilah jika semakin addict di dalam penggunaan social media, maka masalah baru akan muncul jika tidak pandai dalam bermain social media. Apa itu?

 

Yup, perasaan hati yang semakin tidak menentu jika melihat postingan milik orang lain.

 

– – –

 

Hal ini pernah saya alami beberapa waktu lalu. Mudah-mudahan insyaaAllah kalau sekarang ini, sudah mulai bisa move on  dan sudah mulai bisa menata hati. “Gejala” yang tidak beres saat awal-awal dulu ketika mulai muncul Twitter, di mana kalau kata sebagian orang, media tersebut seperti mini blog, karena kita dapat mengungkapkan hal apapun, yep, a-pa-pun yang ada dalam benak kita, yang terkadang bahasan yang diungkapkan tersebut tidak di-filter sama sekali. Pokoknya yang penting ngomong! Haha.

Kalau dapat dibilang, masa-masa itu adalah masa-masa alay saya di mana saat sedang nge-tweet rasanya itu seperti “pede tingkat dewa” kalau buah pemikiran yang saya ungkapkan saat itu adalah benar, bahkan berasa paling benar. Media tersebut kalau kata sebagian orang juga, sebagai “pengganti” update status yang kepengen sering-sering seperti yang suka dilakukan sebelum-sebelumnya pada Facebook maupun Friendster.

Saat itu sebenarnya juga ada media lain yang dapat berfungsi juga seperti Twitter, yaitu media Plurk. Namun platform yang satu itu kurang begitu populer dibandingkan dengan Twitter.

 

Semakin berjalannya waktu, menggunakan Twitter semakin tidak ada rem-nya dan mulai merambah ke area baper, alias bawa perasaan. Misalnya, si A bilang tentang sesuatu, kemudian si B membaca dan si B pun merasa kalau si A sedang membicarakan tentang dirinya, yang padahal belum tentu si A sedang membahas tentang si B. Dan akhirnya muncullah yang namanya tweet-war, alias saling berbalas pantun. Yang tadinya si A tidak bermaksud menyinggung si B, kemudian karena melihat si B update status yang “rasanya” berkaitan dengan status si A sebelumnya, maka si A pun mulai “membalas” dengan update status terbaru yang bersifat lebih ke arah “pembelaan”. Duh!

 Benar-benar tidak sehat. Saya sebagai penonton terkadang jadi jengah membacanya, bahkan malah saya pun pernah mengalami baper tersebut. Nggak banget deh gan!

 

– – –

 

Berikutnya adalah ketika media Instagram mulai muncul. Namun saat masa-masa awal Twitter, saya belum menjadi pengguna aktif Instagram, bahkan saat itu sepertinya belum punya akun social media tersebut.

 

Malah terdapat media lain dengan lilngkaran pertemanan lebih kecil yaitu Path. Nah, mengingat saya “mulai sadar” ada yang salah dalam diri saya dalam ber-social media, maka saya putuskan saat baru beberapa bulan menggunakan Path, langsung saya putuskan uninstall aplikasi tersebut dan menghapus akun Path milik saya selama-lamanya. Saat itu bahkan lingkaran pertemanan masih dibatasi dalam jumlah 150 orang teman saja, dan saya pun sudah memutuskan untuk tidak ikut-ikutan menggunakan social media tersebut. Kini kabarnya bahkan dapat menambahkan daftar teman mencapai 500 orang teman dalam social media Path.

 

Fyuuuh…

 

– – –

 

Kembali lagi ke dalam social media Instagram. Saya lupa di tahun berapa tepatnya, saat itu saya merasa pengguna Facebook semakin banyak yang tidak aktif. Dan saya melihat banyak yang berpindah ke Path, di mana banyak yang meng-link­­-kan status Path pada akun Facebook mereka. Dan saya mulai berpikir untuk mulai “bermain” Instagram, walau sebenarnya saya awalnya tidak terlalu paham bahkan tidak tertarik dengan media satu ini. Sebelum mulai “serius” bermain Instagram, saya putuskan untuk menghapus akun Twitter saya selama-lamanya. Yep, selama-lamanya.

 

Berhubung dalam Twitter tidak ada istilah “deactivate sementara”, hanya ada pilihan “hapus akun”, maka saya putuskan untuk memilih lebih baik dihapus saja. Lebay-nya saat dulu memutuskan untuk menghapus akun Twitter, rasanya kok beraaat sekali ya, wkwkwk. Lebay! Namun berjalannya waktu, eh ternyata biasa saja tuh tidak punya Twitter. Hehehe…

 

Balik lagi ke Instagram.

(et dah, dari tadi mau bahas Instagram kagak jadi mulu, haha) 😀

 

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk “ikut-ikutan” membuat akun Instagram. Saya ingat sekali saat itu adalah masa-masa awal saya menikah dan masa-masa awal saya juga bekerja dan ikut pasangan hijrah ke ibukota.

 

Ternyata di Instagram, rasanya semakin gila! Lebih gila! Jika dibandingkan dengan platform-platform lain yang sudah saya “icipi”. Di sini banyak sekali yang narsis, temasuk saya. Wkwkwk. Bahkan dapat dikatakan saat itu rasanya ada perasaan “tidak mau kalah”. Wkwkwk, itu benar-benar pikiran gila se-gila-gilanya. Bahkan dapat dikatakan sepanjang bermain Instagram, sepertinya lebih sering muncul perasaan “pengen deh seperti si C atau si D agar dapat dilihat juga”, walau terkadang di tengah-tengah kembali “eling” alias inget kalau punya perasaan demikian itu sangat-sangat tidak baik, bahkan cenderung sangat buruk! Hehe.

 

Terutama, saat melihat momen-momen kebahagiaan milik orang lain pada orang-orang tertentu, yang terkadang entah bagaimana ceritanya, bisa “mengusik” perasaan hati saya.

 

Yep, it happened! Wkwkwk. Sedih sekali kamu gan!

 

– – –

 

Dulu saya sempat punya pemikiran, jika ingin men-share sesuatu dalam social media kita, ada baiknya melihat-lihat terlebih dahulu situasi dan kondisi bagaimana teman-teman dalam lingkaran pertemanan social media tersebut. Menurut saya saat itu, ibaratnya manusia, harus sering-sering memiliki rasa empati terhadap sesama. Belum tentu kondisi yang sedang saya alami, dapat pula dirasakan pula oleh orang lain atau orang-orang di sekitar kita. 

 

Well, saya yakin saat itu pemikiran tersebut juga didorong oleh rasa nafsu iri yang besar ketika saya melihat apa yang sedang di-share oleh orang lain, dalam arti bahkan diantaranya adalah teman-teman saya.

 

Berjalannya waktu, saya semakin sadar kalau ada yang salah dengan apa yang saya rasakan. Benarkah ikut campaign bahwa sesama manusia harus saling menghormati dan harus memiliki rasa simpati dan empati? Ataukah hanya perasana cemburu belaka?

 

Saat itu masa-masa yang sangat aneh  bagi saya. Rasanya saya ingin segera memiliki semuanya. Puncaknya adalah ketika saya dan pasangan mulai memasuki usia pernikahan dua tahun jalan tiga tahun, dan kehamilan tak kunjung datang. Rasanya hari-hari terasa berat dan hopeless, terutama saat melihat milik orang lain.

 

Beruntunglah masih belum terlambat, seperti yang sudah pernah saya tulis juga dalam tulisan ini. Berjalannya waktu saya semakin sadar, bahwa benar, ketika saya semakin iri, maka saya semakin tidak fokus pada kehidupan saya. Segala kesempatan baik, bahkan rejeki baik pun rasanya tidak ada yang mau mampir ke dalam kehidupan saya. Saya lupa bahwa hidup saya sudah terlalu banyak kenikmatan yang seharusnya banyak-banyak disyukuri. Pada akhirnya, semakin bertambahnya waktu, saya semakin terus dan selalu belajar untuk bisa bersabar, untuk bisa ikhlas, dan move on.

 

120756-Positive-Mind-Vibes-Life
(Source: http://www.lovethispic.com)

 

Mudah-mudahan pemikiran dan perasaan positif seperti ini akan dapat terjaga. Saya merasa bahwa hal ini sudah sangat-sangat gawat jika saya teruskan untuk trying to be somebody elses. Sampai-sampai niatan hati untuk mencoba move on seperti ini, yang membuat saya  men-deactivate akun Instagram lama saya, di samping juga sekarang mulai banyak campaign bahwa muslimah sebaiknya (atau bahkan dilarang) untuk  meng-upload foto-foto diri mereka karena akan ada kemungkinan dilihat oleh orang banyak, bahkan oleh non-mahram-nya. Namun untuk hal tersebut, saya masih meyakini bahwa semuanya tergantung kepada niat­-nya bagaimana. Akan tetapi, siapa yang tahu isi hati seseorang kan. Hehe.

Saya pun semakin fokus pada aktivitas jualan online saya yang memang juga masih menggunakan media Instagram untuk berjualan. 

 

Pada akhirnya, saya pun semakin dan sangat meyakini bahwa, jika semakin saya iri dan cemburu dengan hal-hal yang dimiliki oleh orang lain, di mana hal-hal yang dimiliki oleh orang lain tersebut adalah hal-hal yang memang benar yang saya inginkan, malah akan semakin menutup rejeki-rejeki yang justru seharusnya dapat datang kapan saja ke dalam kehidupan saya. Semakin saya iri, maka semakin tertutup rejeki milik saya.

 

Dan sebaliknya, saya pun sangat yakin. Semakin saya mengurangi rasa iri dan rasa cemburu yang sebelumnya mungkin sangat menggebu-gebu, entah bagaimana cerita, rasanya hidup terasa semakin ringan, dan rejeki-rejeki malah banyak yang datang ke dalam kehidupan saya dan datangnya pun tidak diduga-duga. Saya saaangat yakin itu! At least I feel I’ve experienced itA lot. 🙂

Semakin banyak bersyukur, maka Tuhan Akan Melipat Gandakan nikmat-Nya. 🙂

– – –

 

Jadi kesimpulannya?

 

Kembali kepada pribadi masing-masing. Lagipula tulisan ini hanyalah tulisan curhat colongan belaka. Dan ini adalah murni pendapat dari pandangan pribadi tentang penggunaan social media di mata saya dan murni pendapat saya tentang apa-apa saja yang do and don’ts to be shared.

 

Terakhir, ingat. Jangan iri, itu berat! Just be yourself and always be the original you. 🙂

 

 

 

Pondok Pinang, 11 Februari 2018

20.15 WIB

 

 

 

 

Curhat Terbuka, Life, Uncategorized

Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….

Apakah Anda perokok? Namun apakah Anda paham kalau merokok di tempat umum juga ada aturannya?

Tulisan ini terinspirasi saat saya sedang melakukan antrian di salah satu wahana di Dunia Fantasi di mana antriannya panjang dan mengular. Dan di dalam antrian tersebut terdapat segerombolan manusia yang nampaknya benar-benar “tidak punya otak” atau “tidak bisa membaca plang larangan merokok yang jelas-jelas tertera di area mengantri”.

Saya marah dan saya kesal.

– – – – –

Pada dasarnya, saya bukan tipe orang yang mudah terganggu dengan para perokok begitu saja. Saya sama sekali tidak masalah dengan orang-orang yang merokok, asalkan:

  • Memang di tempat tersebut tidak ada rambu-rambu yang menyatakan “dilarang merokok”.
  • Memang di tempat tersebut memang dikhususkan bagi para perokok (area merokok atau ruang khusus merokok).
  • Memang di tempat tersebut diperbolehkan untuk merokok.
  • Ruang outdoor dan tidak ada plang larangan merokok.
  • Perokoknya punya tata krama, bahkan meminta izin terlebih dahulu kepada yang bukan merokok sebelum mereka merokok.

Dan saya akan sangat kesal dan marah dengan para perokok jika:

  • Jelas-jelas pada tempat tersebut terdapat tulisan rambu-rambu larangan “dilarang merokok” atau “no smoking“.
  • Jelas-jelas ruangan ber-AC, apalagi ada tulisan “no smoking” yang terpampang jelas di sudut ruangan.
  • Di sekitar perokok terdapat anak kecil, apalagi bayi, dan ibu hamil.
  • Di dalam angkutan umum, khususnya angkot atau kendaraan kecil, ditambah kalau suasana padat atau ramai penumpang.

Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang sengaja merokok di tempat yang jelas-jelas dilarang atau tidak diperbolehkan untuk merokok. Atau mereka yang merokok tidak melihat situasi dan kondisi di mana banyak anak kecil, bayi, dan ibu hamil. Di mana rasa empatinya?! *geregetan*

Oke, mungkin dalam pikiran mereka bahwa merokok bagi mereka bukan sesuatu yang haram dan “merasa” badannya sehat-sehat saja sehingga “tidak percaya” dengan berbagai penyakit mematikan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam kehidupan mereka.

Walau demikian, saya akan sangat respect dan menghargai teman-teman perokok jika:

  • Saat sebelum merokok, mereka sudah lihat-lihat situasi dan kondisi ada siapa-siapa saja di sana, bahkan mereka rela melipir atau menjauh dari gerombolan orang untuk menikmati sendiri asap rokoknya.
  • Saat merokok minta izin terlebih dahulu dan arah asap tidak ditiupkan ke arah yang sedang bergerombol atau berkumpul.

Sebenarnya saat ini terdapat peraturan-peraturan yang sudah berlaku terkait merokok di tempat umum. Bahkan terdapat sanksi yang benar-benar akan diterapkan jika melanggar.

(Well, saya tidak peduli dengan pendapat orang-orang yang menganggap hukum di Indonesia itu masih lemah dan dapat dibeli. Pokoknya peraturan ya peraturan, harus dilaksanakan dan dipatuhi, dalam hal apapun, walau memang terkadang suka “berat” menjalaninya.)

 

Dan berikut merupakan beberapa peraturan-peraturan perundang-undangan yang saya tahu yang mengatur tentang perokok dan merokok di tempat umum, khususnya di area ibukota Jakarta.

 

1. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 (klik link untuk mendownload)

Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 ini mengatur tentang Kawasan Larangan Merokok. Disebutkan dalam peraturan tersebut bahwa kawasan yang dilarang untuk merokok adalah:

  • Tempat umum.
  • Tempat kerja.
  • Tempat proses belajar mengajar.
  • Tempat pelayanan kesehatan.
  • Arena kegiatan anak-anak.
  • Tempat ibadah.
  • Angkutan umum.

Di dalam peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa kawasan dilarang merokok dan kawasan merokok harus terpisah di dalam pelaksanaannya. Dalam arti, sebenarnya merokok itu tidak dilarang, melainkan ada tempatnya dan aturannya sendiri. Catet ya.

 

2. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 Pasal 13 dan Pasal 41 Ayat (2) (klik link untuk mendownload)

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 merupakan peraturan yang mengatur tentang Pengendalian Pencemaran Udara, di mana di dalam Pasal 13 disebutkan bahwa kawasan dilarang merokok yang sudah saya sebutkan pada poin pertama tadi disebutkan sebagai upaya pencegahan pencemaran udara. Dan apabila melanggar, akan ada sanksi pidana yang disebutkan pada Pasal 41 Ayat (2) yaitu pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

 

3. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 (klik link untuk mendownload)

Sebenarnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 ini merupakan penyempurnaan dari peraturan terdahulu (seperti yang sudah saya sebutkan juga di atas), yaitu penyempurnaan dari Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 di mana memang Peraturan Gubernur No. 88 Tahun 2010 ini tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Di dalam PerGub ini disebutkan penjelasan tambahan mengenai tempat khusus merokok, yaitu:

  • Terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung, dan
  • Tidak berdekatan dengan pintu keluar-masuk gedung.

 

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 (klik link untuk mendownload)

Di Indonesia, terdapat peraturan khusus mengenai produksi rokok di mana harus melihat aspek pengamanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia, seperti yang tertuang di dalam peraturan ini. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 ini berbicara tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Tujuan dikeluarkannya peraturan ini adalah:

  • Melindungi kesehatan dari bahaya akibat merokok.
  • Membudayakan hidup sehat.
  • Menekan perokok pemula.
  • Melindungi kesehatan perokok pasif.

Kembali disebutkan dalam PP No. 19 Tahun 2003 ini di Bagian Keenam yaitu Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 yaitu berbicara tentang Kawasan Tanpa Rokok, di mana kawasan tanpa rokok adalah tempat-tempat yang sudah saya sebutkan dalam poin pertama tadi di atas. Bahkan disebutkan di dalam Pasal 25 bahwa Pemerintah Daerah juga harus dapat berpartisipasi (bahkan bersifat wajib) di dalam perwujudan kawasan tanpa rokok.

Plang Peringatan “Dilarang Merokok” di Salah Satu Mall di Jakarta Selatan

 

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau merokok di tempat umum itu ada aturannya, bahkan ada sanksi pidana bagi siapa saja yang berani melanggar. Jadi, mas-mas dan  mbak-mbak yang memang belum bisa lepas dari rokok karena memang hobi dan sudah menjadi bagian dalam hidup, diharapkan untuk selalu bijak jika pas ingin merokok. Kalau misal ditegur di tengah jalan, please, jangan marah dan sensi ya. Boleh kok merokok bebas-sebebasnya, yang penting manners-nya saja. Hormati mereka yang benar-benar nggak bisa dekat-dekat dengan asap rokok. Oke? 🙂

 

nb: Beruntunglah pasangan saya bukan perokok.

AMG, Curhat Terbuka, Life

Tahun Baru, Semangat Baru

Woohoo! Tidak terasa sudah memasuki tahun baru 2018! Selamat tahun baru 2018!!! 😀

Berhubung tema pada minggu ini bernuansa dengan yang baru-baru, jadilah saya memutuskan untuk sedikit bercerita tentang beberapa hal yang diharapkan bisa menjadi “baru” di tahun 2018 ini. (mudah-mudahan masih nyambung ya dengan tema minggu ini, hehe) Nah, apa sajakah kira-kira yang menjadi pengharapan di tahun baru 2018 ini? So, let’s check this out, gan!

 

Matahari Terakhir di Tahun 2017 – View dari Kamar Hotel Tempat Kami Menginap Liburan Long Weekend Tahun Baru

 

– – – – –

 

Di tahun 2018 ini, saya berharap akan ada banyak hal yang baru-baru. Entah seperti pengalaman baru, tantangan baru, serta kehidupan baru. Sebenarnya saya juga berharap dapat merubah kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baru lagi di tahun ini. Seperti misalnya, mampu melawan rasa malas, mampu berkomitmen dengan baik dan sungguh-sungguh terhadap cita-cita serta impian yang diharapkan, dan berbagai hal baru lainnya.

 

Tahun baru, semangat baru.

 

Mungkin ungkapan tersebut terdengar cliche dan merupakan sesuatu yang suka berulang-ulang diucapkan oleh banyak orang. Namun apa salahnya, di dalam momen pergantian tahun seperti ini, kalimat tersebut dapat dimaknai dengan betul-betul dan sungguh-sungguh di dalam pelaksanaannya.

Dan beberapa hal berikut ini merupakan impian-impian kecil saya yang diharapkan dapat terlaksana di tahun ini. Ya, harapan-harapan baru dalam hidup saya.

 

Berharap Memiliki Pekerjaan Baru dengan Tantangan Baru

Sebenarnya, hal ini terkesan dan terdengar “tidak bersyukur”. Bagaimana tidak? Dalam 1 tahun ini, saya berkesempatan dapat bekerja dekaaaaat sekali dengan rumah. Bahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki, saya hanya butuh waktu 15 menit saja, dan jika menggunakan motor dapat ditempuh kurang dari 5 menit waktu perjalanan! Ditambah, salary yang didapatkan perbulannya pun dapat saya katakan jauh lebih daripada cukup. Kemudian ada lagi, waktu masuk kantornya pun pukul 08.30 WIB, dengan terdapat “batas toleransi tidak tertulis” di mana jika sampai kantor pukul 09.00 WIB ya tidak apa-apa, khususnya bagi pegawai yang rumahnya jauh-jauh.

Sudah dekat, gaji lumayan, nggak perlu bertemu dengan kemacetan dan keganasan polusi Jakarta setiap harinya, berangkat ngantor pun dapat dikatakan “bisa siang” dan terhitung sangat santai saat menuju ke kantornya, plus di siang harinya bisa pulang ke rumah jika ingin beristirahat makan siang di rumah. Enak bukan?

Namun di sinilah gejolak perasaan batin mulai muncul. Sebenarnya saya sudah bergabung dengan perusahaan ini jika ditotal-total, sudah hampir 2,5 tahun lamanya. Pertama kali dulu di tahun 2015 saya join, saya ditugaskan sebagai seorang asisten engineer di mana saya merasa pekerjaan tersebut sesuai dengan background jurusan kuliah saya. Sampai tiba di akhir 2016 saat project sebagai asisten engineer berakhir, di mana project berikutnya yang hendak saya handle ternyata setelah berjalannya waktu hingga di tahun 2017, tidak ada hubungan sama sekali dengan background jurusan kuliah saya, membuat saya kembali berpikir. Walau begitu memang, pekerjaan tersebut merupakan sesuatu ilmu yang sangat baru juga bagi saya.

Dan di akhir tahun 2017 kemarin itulah saya kembali mulai berpikir. Untuk pertama kalinya saya pun merasa “ketakutan” jika suatu saat nanti betul, “saya tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang lain-lainnya“. Terutama setelah beberapa waktu lalu seorang senior rekan kerja menasehati dan bertanya kepada saya, seperti yang sudah pernah saya tulis juga sebelumnya pada blog ini (klik link berikut).

Saya berharap di tahun ini, saya dapat merasakan pengalaman baru, tantangan baru, dengan suasana baru dalam dunia pekerjaan. Entahlah, saya merasa, sepertinya mungkin saya harus keluar dari zona nyaman saya untuk sementara ini dengan memperkaya diri sendiri dengan pengalaman-pengalaman baru, terutama yang berkaitan dengan background pendidikan. Entahlah, ini adalah mimpi saya yang sungguh  sangat dadakan sekali, yang tiba-tiba muncul dalam pikiran saya, di mana mungkin bagi sebagian orang hal ini bukan sesuatu yang penting-penting amat, dan mungkin bagi sebagian orang lainnya lagi menganggap hal ini adalah sesuatu yang “terlambat”.

Mungkin dalam waktu dekat, saya akan me-lobby atasan saya atau sekalian saja big boss saya agar dapat diberikan tugas-tugas baru yang masih terkait dengan background jurusan kuliah, mengingat sebenarnya kantor di mana saya bekerja ini juga bergerak dengan bidang yang salah satunya malah berkaitan erat sekali dengan jurusan kuliah saya.

Yah…mudah-mudahan ada jalan. Aamiin..

 

Memiliki Skor Bahasa Inggris Baru

Keinginan dan impian ini sebenarnya sudah lamaaaaa sekali ingin saya lakukan dan jalani. Bahkan dari tahun 2014 saya sudah ingin sekali mengambil sebuah tes Bahasa Inggris di mana sertifikatnya bertaraf internasional, dalam arti skor atau nilai Bahasa Inggris kita diakui di dunia. Selama ini saya hanya mengikuti beberapa tes online dalam website karir dan beberapa tes TOEFL prediksi guna melamar pekerjaan ke beberapa instansi yang membutuhkan skor TOEFL.

Nah, keinginan berikutnya ini merupakan tes Bahasa Inggris IELTS. Saya ingiiiiin sekali bisa untuk mengambil tes jenis ini. Tes IELTS yang ingin saya ambil adalah IELTS akademik, di mana nantinya dapat digunakan dalam mendaftar sekolah-sekolah di luar negeri (jika ada keinginan mencoba mendaftar sekolah-sekolah di luar negeri). Namun yang membuat tidak maju-maju sejak dahulu dan sejak kemarin-kemarin itu adalah karena memikirkan sebuah ketakutan akan “resiko fatal” jika gagal dalam tes ini, di mana uang yang sudah dibayarkan akan hangus begitu saja jika kita gagal dalam tes. Setidaknya itu adalah informasi yang pernah saya baca dan saya dengar dari teman-teman dan dari pengalaman-pengalaman mereka.

Jadi, yang dapat saya lakukan sekarang adalah, niatnya harus diperkuat, harus dapat meluangkan waktu di malam hari dan di hari libur untuk belajar IELTS, dan tentu saja harus bersungguh-sungguh.

 

Memiliki Anggota Keluarga Baru

Nah, ini-niiih…..haha. Saya akhirnya di pertengahan tahun 2017 kembali melakukan program hamil seperti yang sudah pernah saya lakukan di tahun 2015. Namun kali ini ingin lebih serius lagi.

Semenjak akhir tahun 2015, entah mengapa pikiran saya amat-sangat enteng jika dihadapkan dengan hal ini. Betul, hingga detik ini, saya dan pasangan belum juga dikaruniai seorang anak pun. Akan tetapi, kami tidak bersedih, khususnya saya, dengan segala tekanan dari sana-sini, memutuskan untuk tidak akan pernah bersedih lagi, melainkan akan terus berusaha dan berdoa. Oleh karenanya di tahun 2017, saya dan pasangan kembali untuk meneruskan apa yang sudah kami mulai dahulu. Akan tetapi, di dalam pelaksanaannya, kami tidak akan terburu-buru, dan cenderung jauh lebih rilex. Kami tidak akan memaksakan kehendak kepada-Nya, kami akan sersan, serius tapi santai. Dan yang terpenting adalah dapat selalu menjalani hidup dengan kesenangan dan kebahagiaan, bagi saya itu sudah lebiiih daripada cukup. Lagipula, saya tidak khawatir, karena Dia-lah Sang Maha Pengatur Rizqi kita.

 

Mencoba Tantangan Baru dengan Mendaftar Sekolah S2

Mungkin bagi sebagian orang hal ini merupakan sesuatu yang saaaaangat terlambat.

 

Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak dulu saat baru lulus kuliah? Mengapa tidak saat belum menikah?

 

Mengapa, mengapa, dan mengapa.

 

Entahlah, sebenarnya ini keinginan yang sangat tiba-tiba sekali dan terus terang mungkin karena dipengaruhi oleh melihat teman-teman di kanan-kiri saya saat ini. Kesibukan dan keasikan bekerja dan mencari uang, terkadang memang membuat terlena. Tau-tau sudah berganti bulan dan tau-tau sudah berganti tahun lagi. Hehe.

Lalu, ingin mendaftar ke mana? Sudah ada sih keinginan ke suatu tempat. Tapi mungkin saya akan fokus dulu dalam menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Jadi? Ya…tidak ada salahnya kan mencoba? 🙂

 

Memiliki Konsep Baru dalam Mengelola Online Shop

Sejak tahun 2014 akhir, saya menjajal untuk berjualan tas di dunia online, mengingat saat itu masa-masa saya pertama kali bekerja dan memiliki gaji sendiri, dan merasa “sudah mampu” membeli barang-barang yang saya inginkan, yang tentu saja bersifat konsumtif. Saat itu saya tertarik dengan tas-tas branded di mana harganya tidak murah, dan tentu saja asli, no kw.

Namun saat itu, saya pikir-pikir kembali, jika saya membeli tas dan begitu terus, beli, beli, beli, dan numpuk, bisa jadi malah menguras tabungan begitu saja dan tidak berbekas sama sekali di tabungan. Berjalannya waktu, saya pun melihat dunia jual-beli tas branded di dunia maya dan di sisi lain juga melihat potensi pasar di masyarakat wanita Indonesia akan ketertarikan mereka pada tas-tas lucu-lucu yang cantik-cantik, tas import, yang memang salah satunya ada juga golongan pecinta tas kw. Namun dari sinilah saya belajar, bagaimana bentuk tas branded yang benar-benar asli dan bagaimana bentuk palsunya atau kw-nya, dan sebagainya. Tidak berhenti di sana, saya pun melihat adanya trend terbaru dari tas-tas import yang datang ke Indonesia tanpa menggunakan merk, alias tanpa brand, ternyata juga banyak diminati oleh kalangan perempuan luas di Indonesia, di mana saya dapat menjual tas-tas tersebut dengan harga relatif sangat murah.

Berjalannya waktu, saya pun menjajal berjualan tas branded dan sekaligus juga tas import. Dan semakin berjalannya waktu, saya merasa penjualan tas import memiliki nilai yang jauh lebih bagus dibandingkan dengan penjualan tas branded. Jadilah untuk saat ini, saya fokus terlebih dahulu di jual-beli tas import dan masih berjalan hingga sekarang. Namun di kemudian hari, saya masih bermimpi untuk memiliki sendiri toko tas branded yang jelas asli, no kw, dan saat ini masih belajar melihat-lihat dan “mencuri” ilmu dari teman-teman komunitas yang juga sedang saya ikuti, agar kelak dapat menuju kepada impian tersebut. Aamiin..

(wah, panjang ya latar belakangnya, haha, maap, maap) XD

 

Nah, di tahun 2018 ini saya menginginkan konsep baru di dalam penataan dan pengelolaan online shop yang kini sudah berjalan, sehingga dapat beriringan dengan kegiatan harian saya yang mungkin masih berkantor secara reguler. Sebenarnya keinginan ini sudah muncul sejak tahun lalu. Namun, akibat bermacam-macam alasan pembenaran diri ini, saya pun jadi lupa. Haha.

Bagi teman-teman yang ingin mampir untuk sekedar melihat-lihat, khususnya pengguna Instagram, boleh mampir lhooo silakan. 🙂 Link di bawah ini boleh di-klik, hehe.

http://www.instagram.com/tas.batam_murah

dan ini: (masih belum berfungsikarena sebelumnya berjualan tas branded via facebook)

http://www.instagram.com/tas_authentic

 

Memiliki Berat Badan Baru

Naaah…kalau ini sih baru yang namanya tantangan “terberat” ya. Hahaha. 😀

Sebenarnya keinginan untuk menurunkan berat badan itu sudah muncul sejak tahun jebot, entah dari kapan tau sudah ingin melakukan. Akan tetapi…entah mengapa adaaa saja alasan-alasan yang terkesan dan terlalu dibuat-buat ya rasanya. Haha.

Di tahun 2017 kemarin, saya dan pasangan bertemu dengan 2 orang dokter Sp.OG di mana salah seorang diantaranya mengatakan bahwa, saya overweight 14 kilogram! What? Ha..ha..ha.. Selama ini saya hanya tau kalau saya beratnya sudah melebihi ambang “aman”, namun tidak pernah punya patokan besaran angka yang harus dikejar atau diturunkan. Tah eta!

Yah…mudah-mudahan pertemuan dengan seorang dokter Sp.OG tersebut merupakan sebuah “hidayah” buat saya, sehingga saya pun tidak bandel ke depannya dan benar-benar mulai bersungguh-sungguh di dalam upaya penurunan berat badan. Ya, mudah-mudahan ya.. Hahaha.

 

– – – – –

Laluuuuu…jika dilihat dari beberapa keinginan-keinginginan yang serba baru di atas (dan super sangat lebay sepertinya ya), secara nalar dan logika, jika semuanya terwujud berbarengan dan bersama-sama di tahun ini (..aamiin..), maka akan saling tumpang-tindih. Haha. (kayak yang gampang simsalabim jadi apa prok-prok-prok gitu yak) XD

Namun, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah, menurut saya bagi seseorang yang agak pemalas dan mager-an seperti saya, baiknya semua dilakukan secara paralel saja, alias secara bersama-sama saja. Anggap seperti sedang berkegiatan sehari-hari seperti biasanya saja. (mudah-mudahan benar bisa nggak malas di tengah-tengah ya)

Dan memulai tahun ini, saya “ditemani” oleh Buku Agenda cantik yang saya dapatkan dari Majalah Gogirl! edisi Bulan Desember 2017. Ngomong-ngomong soal majalah yang satu ini, entah mengapa sekarang bertransformasi wujudnya menjadi majalah yang cantik dan ciamik bingiiittt dibandingkan dengan penampakannya di tahun-tahun sebelumnya saat saya masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2005 – 2008. Bener-bener beda dan fresh!

Buku Agenda Cantik “2018 Goals” Persembahan dari Majalah Gogirl!

 

So, apakah teman-teman juga sudah siap menyambut dan menyongsong hari-hari baru di depan sana? Apakah sudah siap menerima tantangan-tantangan baru yang diberikan dunia? Yuk mari kita ber-se-ma-ngattt! Yeay! 😀

AMG, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life

Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

Source: https://www.pexels.com/

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂