Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid”

Jika momen-momen kebersamaan dapat bermakna keakraban, namun mengapa harus merusaknya dengan bumbu-bumbu “yang tidak perlu” saat sedang pertemuan. Jika momen-momen kebersamaan dapat mempererat kekeluargaan, namun mengapa harus merusaknya dengan kata-kata “pedas berbekas” hingga di kemudian hari. Jika momen-momen kebersamaan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, namun mengapa harus merusaknya dengan sikap tidak saling menghormati privacy antar individu dalam sebuah pertemuan tersebut.

Dunia akhir-akhir ini dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai orang-orang terkenal yang ternyata mereka mengidap depresi dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Berita-berita tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa yang namanya penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya. Namun, jangan sekali-kali men-cap mereka “kurang iman”, jangan. Ini bukan perkara tidak beragama atau kurang iman. Melainkan hal ini juga dapat dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sekitar sang penderita. Lagipula kasus bunuh diri di dalam negeri pun juga banyak ditemui bukan? Walau mereka bukan orang terkenal, tapi kasus-kasus tersebut benar adanya dan nyata.  Continue reading “Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid””

Advertisements
Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life, Review Hotel, Traveling

Review Hotel Maven Fatmawati, Jakarta Selatan

Hai internet! Kembali kali ini saya ingin me-review sebuah hotel dan hotel yang akan saya review ini berlokasi di area Fatmawati, Jakarta Selatan. Yuk, cekidot gan!

Sebenarnya tulisan kali ini masih relate dengan tulisan saya yang ini (klik ya…). Yup, menginap di sini dikarenakan air di rumah masih mati dari hari-hari sebelumnya, sementara saya sedang sangat butuh-butuhnya untuk bolak-balik ke kamar mandi untuk urusan beser.

– – – – –

Hotel yang akan saya review ini bernama Hotel Maven Fatmawati. Continue reading “Review Hotel Maven Fatmawati, Jakarta Selatan”

Curhat Terbuka, Life

Kreativitas yang Meresahkan

Berita akhir-akhir ini, baik di media elektronik, media cetak, sosial media, dan lain sebagainya, cukup membuat resah masyarakat. Apalagi di antara berita-berita tersebut terdapat kejadian yang bersinggungan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Berita-berita ini saya menyaksikan langsung melalui media televisi maupun juga di media elektronik, jadi saya meyakini jika berita-berita ini bukan merupakan berita hoaxContinue reading “Kreativitas yang Meresahkan”

AMG, Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Review Hotel, Traveling

Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Hai hai hai internet!

Akhir-akhir ini saya sedang saaangat malas sekali untuk membuat tulisan. Ada apa ya gerangan? Padahal tidak berat, cukup 1 kali saja dalam 1 minggu untuk “menyetorkan” sebuah cerita pada blog pribadi. Yeah, itulah ketentuan wajib yang harus dipatuhi jika ingin dapat terus bertahan dan mengikuti komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti.

Baiklah, berhubung sudah sangat mepet dengan waktu setoran, di mana ini saya mulai menulis tepat pukul 22.45 WIB di hari Minggu tanggal 4 Maret 2018, dalam arti sudah tinggal 1 jam lagi menuju batas waktu penyetoran, maka saya putuskan untuk bercerita singkat mengenai kegiatan weekend 3 – 4 Maret 2018 ini ngapain aja dan ke mana aja. Yuk, cekidot gan!  Continue reading “Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)”

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan. Continue reading “Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)”

Curhat Terbuka, Life, Uncategorized

Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….

Apakah Anda perokok? Namun apakah Anda paham kalau merokok di tempat umum juga ada aturannya?

Tulisan ini terinspirasi saat saya sedang melakukan antrian di salah satu wahana di Dunia Fantasi di mana antriannya panjang dan mengular. Dan di dalam antrian tersebut terdapat segerombolan manusia yang nampaknya benar-benar “tidak punya otak” atau “tidak bisa membaca plang larangan merokok yang jelas-jelas tertera di area mengantri”.

Saya marah dan saya kesal.  Continue reading “Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….”

AMG, Curhat Terbuka, Life

Tahun Baru, Semangat Baru

Woohoo! Tidak terasa sudah memasuki tahun baru 2018! Selamat tahun baru 2018!!! 😀

Berhubung tema pada minggu ini bernuansa dengan yang baru-baru, jadilah saya memutuskan untuk sedikit bercerita tentang beberapa hal yang diharapkan bisa menjadi “baru” di tahun 2018 ini. (mudah-mudahan masih nyambung ya dengan tema minggu ini, hehe) Nah, apa sajakah kira-kira yang menjadi pengharapan di tahun baru 2018 ini? So, let’s check this out, ganContinue reading “Tahun Baru, Semangat Baru”

AMG, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life

Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀  Continue reading “Aktivitas Me-Time”

AMG, Curhat Terbuka, Life

“Kamu Mau Jadi Apa?”

“Kamu mau jadi apa?”

Begitulah pertanyaan itu muncul seketika dan ditujukan kepadaku.

 

– – – – –

 

Sebelum masuk ke dalam tulisan, aku hanya ingin berkata, tulisan ini adalah murni pendapatku pribadi dan tidak ada kepentingan di dalam mengomentari pilihan hidup orang lain. Tulisan ini mengandung opini individual dari seseorang yang belum genap berusia 30 tahun, dalam arti “masih di bawah” usia 30 tahun dengan segala pemikirannya.

So, mari kita lanjutkan.  Continue reading ““Kamu Mau Jadi Apa?””

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.  Continue reading “Just Be Positive”

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (4)

Bertemu lagi dengan catatan hati mengenai konsep rejeki yang memang Tuhan telah persiapkan ke dalam kehidupan setiap insan di dunia. Dan di dalam pemahaman ini terkandung nilai religius yang semakin untuk bisa  eling, semakin untuk ingat selalu kepada Sang Pencipta bahwa Ia Tidak Akan Pernah Salah.

 

Memulai tahun 2016 ini, saya memutuskan untuk “menghilang” sejenak dari salah satu akun social media yaitu facebook, lebih tepatnya akun lama fb saya dan memutuskan untuk membuat lagi yang baru. Entahlah, semua hanya terdorong oleh perasaan “tidak enak” terhadap orang lain. Apalagi terutama apabila, mengalami masa transisi yang dirasa lumayan dalam hal kehidupan lingkungan sekitar. Sebelumnya saya juga sudah melakukan  “menghilang” secara utuh dari social media bernama path. Saya dulu berpikir, path ini betul sangat eksklusif ke dalam beberapa orang saja dalam lingkaran pertemanannya, namun saya merasa “ada yang kurang pantas” dari path ini. Lalu apa bedanya dengan grup-grup yang sudah terbentuk, misal di whatsapp atau line atau bbm dengan si path ini.

Pada intinya, mungkin betul, tidak semua orang bisa menerima apa yang kita keluarkan dari pikiran kita yang biasa kita tuangkan dalam setiap posting di social media milik kita, walaupun pada istilahnya itu adalah kita “menyampah” pada halaman rumah sendiri, belum tentu orang yang melihat juga turut senang.

 

quote

 

Anyway, kembali ke dalam konsep rejeki Tuhan.

Pada suatu kesempatan, saya kembali membuka lapak authentic di beberapa grup di facebook dengan menggunakan akun baru, di mana kondisinya saya tidak memasang profile picture. Dan kondisinya pada masa itu adalah sedang sering terjadi beberapa kejadian mengenai seller “bodong” yang pada akhirnya membuat banyak orang menjadi latah jika ingin bertransaksi dengan beberapa orang baru bagi mereka, para calon pembeli dari beberapa seller ini akan melakukan sesi “klarifikasi ke-trusted-an” yang biasanya suka dilakukan di halaman grup.

Namun entah memang karena memang sudah merupakan rejeki bagi saya, saya mendapatkan kesempatan yang mengesankan & membuat meningkatkan keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan Tidak Akan Pernah Salah. Alhamdulillah dengan tanpa ba-bi-bu, kedua orang calon customer saya saat itu langsung melakukan transaksi terhadap saya tanpa harus klarifikasi ini dan itu di halaman grup.

 

Saya semakin yakin apa yang sudah saya putuskan pada akhir 2015 lalu untuk mencoba “bertransformasi” menjadi pribadi yang lebih baru lagi ternyata keputusan yang benar. Saya yakin Tuhan Yang Telah Menuntun saya untuk melakukan hal tersebut. Maksud saya, walaupun ini adalah akun baru, bukan berarti Tuhan Menutup Jalur Rizqi saya di dalam usaha berdagang secara online ini.

 

– – – – –

23.03.2016

11.15 WIB

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Female and Engineering Life (1)

Hello February! 🙂

Today I want to tell you a little bit story about my life as an environmentalist through these 2 (two) years of working experiences, or I could say my life after graduated from Environmental Engineering field for my Bachelor’s Degree last 2013. Also how I could be on this way today.

This writing is inspired by some friends, especially my girlfriends  who always have enthusiastic when they talked about their future dreams and their “what’s next to do” even though some of them are married and have babies.

– – – – –

Senior High School Graduate and “Choosing” Phase

After finished from senior high school, I admitted that I was included in “followers” type of person. I had a dream to be a police woman and wanted to continue my study to the Police Academy in Semarang, Central Java. But if I could say, maybe that was only because of I studied in semi-military senior high school which has similar school-type with the higher education of military-acamedy schools. My senior high school is applying military system, such as high disciplinary and applying boarding school system.

However, the fact said that I was a “follower” person, so I decided to try any opportunities ahead. Coincidentally, the Police Academy where I dreamed of to be part of it, didn’t open for new students in that year, 2008.
(I’m still wondering why they postponed it until a year ahead. Cmiiw. But I realize something that maybe it was what we always called as “God Always Makes a Good Plan for all of us in this world” and yes, God Always Knows the best for ourselves.)

Then I followed others to register for some tests to enter some universities, and my first preference was the UGM or Universitas Gadjah Mada which placed in Jogja, with majors I wanted to take were Dentistry and Electrical Engineering. Moreover, the UGM is near from my hometown, Banjarnegara which we only take 6 hours maximum to reach Jogja City from Banjarnegara. I took 2 (two) types of the UGM entrance examinations, but sadly I didn’t pass them all. Ha-ha. I felt really sad as if there’s no more options I could take. Well, I mean it. I had my weeping until 3 (three) days after. I don’t know why I was really sad and upset.

Then (again) I followed my friends to register another entrance examination for another university and it was the UnDip or Universitas Diponegoro which placed in Semarang, with majors I wanted to take were General Medicine and Electrical Engineering. Sadly, I was in very less information condition about various types of study fields in the university. That’s why I kept being a “follower” to others. I kept choosing what my friends chose. Really sad, wasn’t it? But before the UnDip test held, the ITB or Institut Teknlogi Bandung opened registration for its first type of entrance examination. Again, as a “follower”, I completed my registration form too like my friends did, whereas I didn’t really understand enough what study fields there were.

And it was my first inner turmoil throughout the university application processes..

Actually I really wanted to continue my higher education near my hometown, Banjarnegara which might be taken place in Purwokerto, Semarang, Jogja, or the furthest city Solo. I was a homesick type of person. I often felt it when I was still in senior high school. So I arranged my self hardly to be a student or a part of those near universities (which placed in those 4 cities). Until oneday I told my parents that I didn’t want to take another chances aside from the ITB’s entrance examination or the UnPad’s that is still also in Bandung area (same city with ITB and my senior high school), although my parents occasionally forced me to take another chances of other universities which placed in West Java area or Jakarta area, such as the UI and the IPB. No, I really didn’t want it. I said, the furthest city was only Bandung, not Bogor even more Jakarta! I remembered how angry I was. Ha-ha.

Well yes, words are words, I had to carry out what I just said to my parents. I had no other choices. So I took the ITB’s entrance examination and felt like I wouldn’t take it seriously, and wouldn’t make it. Besides it’s true that almost all the questions were really hard to be solved. I was hoping I would be rejected and could came back to my region, Central Java area. That examination held after I failed 2 (two) tests of the UGM’s. And again,  coincidentally the UnPad hadn’t open registration for its entrance examination yet.

About a month later…..

I remember that night, me and my generation, Teners were assembling in the school’s main hall  after our dinner activity before we came back to our dormitories. We were talking seriously about the national exams that would be occured in days ahead. I forget in detail, a day after that night if I’m not mistaken, me and my friends drove together into the counceling office. Yes, only for checking the announcement about the ITB’s entrance examination result. And it was really unexpected moment. Unbelievable. I read the announcement on computer screen again and again. I was stunned! I repeatedly inserted my test number and pressed “enter” only for making sure my self.

Well, well, yes. I passed the examination. But really, I felt like “floating” and on the contrary mind I started thinking that I had to deal with the separate ways again between Banjarnegara and Bandung and I had to enjoy it (again?), IF I took a chance be an ITB student. Yes, I mean it, “if”. I was in very doubtful almost a week until some friends came to me, advised me, even one of them was angry to me. They said I had to let the UGM dream go away, move on, and face the new destiny of me, accept it, enjoy it. Then one of them, his name is Pandu, he said with pressure words and a little bit like angry (because he’s really wanted to be an ITB student, but he failed on that test and felt upset), he said I HAD TO be grateful, move on, and MUST accept the chance! For a moment I was glued and started to think what he just said was so much true: I had to move on! And yes, finally by the time I realized it. But still, it was like a dream and until today I’m thinking I was just…..lucky.

(Pandu was failed on first type of ITB’s entrance examination but he made it on the second chance on the second type of its entrance examination. Today, he’s an expert geologist who’s working for one of BUMN company.)

image

Being a Woman, Life, Passion, Dreams

Well, yes. After that dramatically chapter of my life, finally I accepted the result and became more grateful and wouldn’t make it as a useless chance. I was happy and preparing my self for the next stage to be part of the Ganesha Campus.

I was in Faculty of Civil and Environmental Engineering department and took Environmental Engineering for my major.

Days became weeks, weeks became months, and months became years. As I said before, I was just lucky and might be it’s true that I don’t have any aptitude to be an engineer. I needed 5 (five) years to complete my Bachelor’s Degree by the final GPA score isn’t as good as others’.

But still, really Thank God that my journey as an amateur-graduate-engineer started right after I was announced as a graduate-to-be, after finished my final thesis examination. It was in July 2013. Before the graduation ceremony, by the help of my thesis supervisor, I joined a short-term project that only held in 2 (two) months. That was my first job as an environmentalist. I was so excited and very happy, even though the salary was (maybe) in low value. But truly, as a less-smart person, I wouldn’t make that chance useless. (I won’t say my self as an idiot or a dumb after all those years that everything I’ve faced. I’ll always appreciate my self in previous life inside “college chapter” and won’t feel regret at all.)

In January 2014, I moved to Jakarta with my husband (finally we’re officially married, :p) with jobless condition. Actually, it wasn’t a problem anymore for my self because I’m married. But since my husband has never felt objection if I went to work, so I tried to apply for some new jobs. And back again, lucky me, I was hired by a company to have role as a junior environmental engineer or we could say as an assistant of the environmental engineer expert for a project. The point is I still have a chance and still have my lucky to implement all of I’ve learned at the college into the environmental engineering world until today.

To be honest, at the first time I acquainted with the engineering world or the ITB’s world, I didn’t have an enough knowledge what engineering field study was. It has proven by the result of my final GPA score and the 5 (five) years I had to finish my study. (ha-ha) I felt hard passing day by day there, inside the ITB. That’s why I always underline the word “lucky” for that “ITB scene” of my life.

I used to think that is very impossible for me to get an environmental engineering job, again, I thought it would be related to my GPA score. But the fate said that actually I have same opportunity with others and I don’t need to feel low self-esteem. Well yes, to be honest, I’m still feel inadequate when I compared my self with my friends until today. Nonetheless, I’m trying to be more confident and fight my faint-hearted. And gradually, I’m accustomed by this engineering field and becoming enjoy with its world. Met new people then increasing my network have made my self to be more spirited, confident, and relaxed with anything that happened in working situation.

I trully never imagine that my life would be as wonderful as it is. Really Thank God for everything I have. Slowly but sure, even though I’m a female and now working at engineering field, I still have dreams to develop my self and increasing my skills through a higher education or some other ways I could take later. Might be true, nowadays I’m not good enough in this engineering world but it’s still possible for me to make it as my “real” passion for my future and for my entire life.

However, I have to realize my role in this world too, my responsibility as a wife and a mother (later, insyaaAllah). I have to balance my self among my family life, my hereafter life, my dreams, and anything I want to do.

The most important thing is everything that I lived in, must have gotten permission from my husband because in accordance to the God’s rule, my life is in his hands which I became his responsibility after the consent granted happened (ijab qobul procession). And for the reciprocal, I have to keep my self keep on positive-track and always be in the right way, even if I would be very ambitious for chasing my dreams. I hope someday I could be useful not only for my self or my family but also for people around me. Aamiin. Wish me luck then. 🙂

– – – – –
Matraman, 21.02.2016

Curhat Terbuka, Life

Criminal Case dan Facebook Baru

Hai, hai!
Wah, sungguh sangat tidak terasa sekali ya. Tau-tau, Bulan Januari 2016 sudah mau akan berlalu lagi saja!

Oke, kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai Criminal Case. Tau kan game yang sangat terkenal itu?

Yup.
Jadi…begini ceritanya.

Suatu ketika saya memutuskan membuat akun baru untuk facebook saya. Istilahnya, akun yang lama sedang non-aktif dan saya membuat akun baru. Lagipula, dengan alasan ingin “berbenah diri”, maka saya wujudkan niat itu menjadi nyata. Selain, daripada saya harus mem-filter satu per satu daftar teman-teman dalam friendlist saya, jadi baiknya saya putuskan membuat akun baru saja. Untuk alasannya mengapa demikian, agak sukar dijabarkan. Tapi pada intinya, terkadang saya masih suka merasakan perasaan “tidak enak” kepada beberapa teman saya (yang ada dalam friendlist tentu saja) –yang mungkin– kurang berkenan akibat dari postingan-postingan yang saya buat. Ya…intinya demikian. Sukar untuk dijabarkan secara gamblang. 🙂

Lhooo…..kok jadi bahas itu. Hehe. Oke, back to topic.

image

Jadi, pada akun facebook lama, saya sudah memainkan game Criminal Case ini sampai pada level 50-an. Cukup lama juga bukan saya bermain game tersebut? Haha. 😀
Kalau tidak salah ingat, butuh 2 (dua) tahun lebih untuk bisa mencapai level tersebut. Karena saya pun memainkannya secara santai, tidak terus-menerus secara intensif.

Pada saat usai membuat akun facebook baru saat itu, saya tetiba kepikiran dengan game Criminal Case ini. Saya tidak bisa membayangkan bila harus mengulang case demi case dari level awal, yang mana akan sangat membutuhkan waktu yg sangat lama even bisa sampai lebih dari 2 (dua) tahun untuk bisa mencapai posisi level 50-an seperti saat ini. Rasanya…..sudah capek duluan ketika ingin memulainya kembali.

Walau ini memang “hanya sekedar” permainan atau game, tapi rasanya sudah seperti skripsi. Apabila hilang 1 (satu) folder penuh file skripsi dengan tiba-tiba, tanpa adanya back up di mana-mana, rasanya akan sangat malaaas sekali untuk memulai lagi dari awal. Rasanya tuh beraaat sekali. Haha. 😀
(lebay sih emang, haha :D)

Namun ternyata…..

Kemarin saya mencoba iseng membuka kembali aplikasi game ini pada Android saya. Dengan tentunya data-data game dengan menggunakan akun sebelumnya (akun facebook lama) masih tersimpan rapi dalam aplikasi. Kemudian saya mencoba log in kembali dengan menggunakan akun facebook baru saya. Awalnya sudah agak pesimis (lebay, :p). Namun ternyata….. Taraaaaa! Bisa! 😀

Thank God, ternyata saya tidak perlu mengulang kembali dari awal permainan! Cukup sinkronisasi dan jadi deh… Senang! Haha. 😀

Jadi.
Dari yang dulu memulai permainan Criminal Case ini sejak jaman masih duduk di bangku kuliah, dengan saat itu masih belum ada aplikasi mobile-nya (belum dibuat), kemudian sampai akhirnya muncul aplikasi mobile-nya, seluruh data game saling sinkron antara facebook dengan aplikasi game yang ada di handphone.
Setelah di-download semua data dan tersimpan rapi dalam handphone (walau keadaan sudah log out), kemudian pada saat ingin log in facebook untuk game via aplikasi mobile kembali, seluruh data game yang tadi sudah tersimpan banyak di handphone tersebut, kemudian ter-upload kembali ke facebook.

Sungguh menyenangkan bukan?

Memiliki akun baru, akan tetapi saya tidak perlu susah-susah mengulang game favorit tersebut dari awal. Haha. 🙂

Well, saya bukan tipe penikmat banyak game. Hanya gamegame tertentu saja dan sangat sedikit ini yang bisa saya nikmati, seperti salah satunya game Criminal Case ini.

Ngomong-ngomong, sesekali bermain game itu ternyata perlu juga ya. Hehe. Sesekali saja. Dan jangan sampai besarnya waktu bermanfaat bisa terbuang sia-sia hanya karena bermain game secara terus-menerus hingga lupa waktu.

Salam. 😉

Curhat Terbuka, Life

Reverie

It’s started 2 (two) days ago. One of my friend started talk about “it” on  our Whatsapp Group and it suddenly reminded me of something.

 

I remembered about an article I’ve read several months ago. It tells about a young man who gained a scholarship and studied abroad with an “unlucky” academic condition at his previous college. Why I said “unlucky”? Because he had a “not common” condition as a scholarship awardee like others.

 

Usually people nowadays when talking about scholarships or studying abroad, they have an outlook that it would be impossible for people who don’t have good academic records from their previous schools/colleges to have an equal opportunity to others who “lucky” or in good academic condition which means they have good academic results that usually with CGPA scores is 3.0/4 or more. And it’s true. Today, almost all good universities or colleges abroad are requiring candidates with good academic performances background, e.g. a Bachelor’s Cumulative Grade Point Average (CGPA) must be at least 75% of the scale maximum or if we’re interpreted means Sarjana I (SI) degree with a final cumulative grade point average (CGPA) of 3.0/4. Sometimes for some universities, they will require beyond that criteria. Especially if those universities have good rank record of the world universities. On that case, we could say this young man didn’t meet all those “high level” requirements but he proved us that he’s made something impossible to be a possible thing.

 

Well, now I’m very enthusiastic and dreamed of being a young man on that article. But I also do repeat many questions and statements of my mind. “Would it be?”, “Should I try?”, “Ow, that’s impossible.”, “I wouldn’t make it.”, “Is it possible?”, etc. The more I’m asking my self, the more I feel curious.

 

Right after the day my friend broached the topic, I started to do research on the internet. While I was researching many things, I also asked my husband about everything and some ‘sensitive’ questions. (You know, it’s one of obligation for a wife before she could do anything she likes.) And…..unexpectedly! Like usual, he said he’ll always give his best and will always support, for everything, as long as it’s a good thing and won’t harm anybody else. Thanks, Honey! :’) If it wasn’t him, maybe I wouldn’t dare to have such wild dreams.

 

After got his permission, I’m getting more excited and intend to be more serious. I don’t want to be like “me” in previous time who didn’t consider “it” as an important thing. Yeah, we’re still don’t know what will happen in the future, next year, two years, three years, or more years from now. But, what can I do right now is only to do “trying” and “acting”.

 

We realize our condition isn’t same as like our previous life as a single person. But we have chosen and made a decision. We’re only taking an “advantage” of our condition that still in “no children” condition until today. We don’t take KB program, we’re normal, and healthy. Is there something wrong? No, we guess not. As long as we happy with our life, nothing more that we should problem with.

 

As we know, we never know what Allah’s Plan for all of us in this world, especially here for both of us. Maybe Allah Has a Better Plan or something more beautiful that could be make us happier and make our life more useful for us even useful for others? Maybe. So I would say, I won’t waste my time lamenting uncertain thing and will fill it with good activities and good things.

 

Sometimes I feel worry about what people would think to me when they know if “it” truly happened later. But like my husband always told me before, from now, I have to learn how to ignore people who don’t like me and always trying to ignore negative things that may come from them. He said, it would be many possibilities for people will talk behind us, talking about our “wrong” decisions or about our “wrong” choices. But he always said to ignore it and try not to deep think about what people would say.

 

– – –

 

Today, I’m holding a long list of “it“. And I’ve started to make marks, one by one of this my long list. I promise to focus on “it” and try not to think other people, especially them who don’t like me.

 

🙂

 

– – –

Matraman.

Thursday, 12.11.2015

17:47 WIB

 

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Lost in Thought – Sebuah Pengakuan

Suatu ketika Pakdhe saya bertanya kepada saya perihal hidup dan tinggal di Ibukota Jakarta.
“Betah atau tidak?”
Saya jawab, betah! Tentu saja betah.
Lalu Beliau menanyakan kembali.
Moso’ kerasan kamu di sana? Pakdhe mbayangno muacete ra’ karuan gitu udah males duluan,”

 
– – –

 

Ya.
Sudah hampir 2 (dua) tahun saya dan suami hijrah ke kota ini.
Dan sudah genap 1 (satu) tahun pula kami secara resmi tercatat secara hukum sebagai Warga Ibukota, ber-KTP dan ber-KK dengan status sebagai Warga DKI Jakarta.
Banyak orang mengatakan kota ini merupakan sumber dari segala sumber, khususnya di dalam perputaran dunia ekonomi serta sebagai pusat dunia bisnis.

 

KK dan KTP sebagai Tanda Resminya Kami Berdua sebagai Warga DKI
KK dan KTP sebagai Tanda Resminya Kami Berdua sebagai Warga DKI

 

Saya jadi ingat obrolan beberapa waktu lalu dengan tetangga saya di Banjarnegara, yang kini Beliau sedang melanjutkan studi S3-nya di Perancis.
Saat itu kondisi saya baru saja lulus dari studi S1 saya di Bandung dan kebetulan kedua adik Beliau juga menempuh pendidikan di Bandung, yang salah satunya satu angkatan dengan saya dan sudah lebih dahulu lulus daripada saya.
Ketika itu Beliau sedang berlibur ke Indonesia, tepatnya berlibur ke Bandung, kemudian Beliau pun menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya.
Banyak hal yang kami perbincangkan, dari kami membahas masa kecil, pendidikan luar negeri, hingga kami pun berbincang tentang rencana ke depan kami masing-masing akan bagaimana.
Dan Beliau pun mengungkapkan,
“Iya juga sih, mau di mana lagi coba perputaran duit itu. Mau nggak mau kita pasti menuju ke sana nggak sih, buat ngaplikasiin segala macem ilmu yang udah kita pelajarin. Ya kan?”

 
Begitu pula yang diungkapkan oleh seorang senior saya satu jurusan yang dulu juga merupakan tetangga di kos Bunda, Bandung.
Beliau memang asli Depok, sejak kecil memang sudah tinggal di Depok (walau sempat diselingi 7 tahun tinggal di Amerika).
Saat itu kami sedang berbincang-bincang ngalor-ngidul tentang kehidupan.
Dan kebetulan pada saat itu kondisi Beliau memang sedang mempersiapkan skripsinya.
Hingga sampailah pada Beliau berkata,
“Ya… lo mau kerja apa di Bandung. Ya…bukan berarti nggak ada sih. Dengan background TL, pilihan yang banyak ya di Jakarta, di mana lagi. Ya nggak sih,”
Begitulah.
– – –

 

Di sisi lain, memiliki kesempatan bisa melanjutkan hidup dan tinggal di kota ini terkadang menjadi sebuah “gengsi” bagi sebagian orang.
Bisa jadi salah satunya adalah saya, yang asli kampung nun jauh di sana.
Mengapa “gengsi”? Karena itu tadi, Jakarta.
Anda bisa mendapatkan semuanya di sini.
Dan cara berpikir ini masih banyak melekat di otak-otak kami yang datang dari daerah.

 
Akan tetapi di sisi lain, memiliki kesempatan bisa melanjutkan hidup di Jakarta tentunya menjadi sebuah kesempatan yang sungguh harus patut disyukuri.
Terutama bila Anda memiliki keinginan besar untuk terus mengembangkan kemampuan diri serta ingin selalu dapat berkarya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.
Syukur-syukur, apa yang Anda kerjakan dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas.
Terkesan ambisius dan idealis? Bisa jadi.
Namun apa salahnya bila kita memiliki impian setinggi langit?
Dahulu sekali saat kita masih kecil, oleh orang tua kita masing-masing, kebanyakan diantara kita banyak yang diajarkan untuk bisa memiliki cita-cita dan bermimpi setinggi-tingginya.
Bukankah demikian?
– – –

 

Saya secara pribadi memang sudah merasakan merantau sejak usia masuk SMA ke Bandung.
Ditambah, SMA saya adalah SMA full asrama dengan sistem semi-militer.
Keluar kampus pun (pesiar) hanya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu, yaitu hanya pada hari Minggu saja. Selama 3 tahun!
Kecuali, jika sudah memasuki semester akhir (6 bulan terakhir) di SMA, baru terdapat izin khusus (izin tambahan) keluar kampus setiap hari Sabtu siang bagi siswa-siswi kelas XII untuk mengambil les/tambahan pelajaran di luar kampus (bagi yang ingin saja).
Sementara itu, jarak Banjarnegara – Bandung sekitar 8-9 jam perjalanan darat.
Cukup jauh menurut saya.
Pada awal-awal masa perantauan, saya sering sekali merasakan “homesick” atau “rindu rumah” yang menjadi-jadi.
Terkadang saya harus menangis dan menumpahkan segala kisah rindu kepada sahabat sambil sesenggukan.
Ya.
Susah, pada mulanya.

 
Namun dengan berjalannya waktu, saya pun semakin terbiasa.
Jiwa kemandirian semakin terbentuk.
Segala bentuk peristiwa “homesick” semakin menjauh dari kamus hidup saya.
Ditambah, saya adalah anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara dalam keluarga saya.
Sejak kecil memang sudah terbiasa melakukan banyak kegiatan secara mandiri.
Kurang perhatian dari orang tua?
Ow, tentu saja tidak. 🙂

 
Lulus dari SMA, saya yang bermula memiliki niat untuk kembali ke kampung halaman (Jawa Tengah), ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan.
Saya sudah bertekad memiliki keinginan melanjutkan sekolah dekat-dekat rumah saja (dekat-dekat Banjarnegara saja), di mana jarak antara rumah dengan kota studi tidak lebih dari seperempat hari (6 jam) perjalanan darat.
Karena walau sudah merasa bisa mandiri, tetap saja keinginan untuk dekat-dekat dengan rumah, khususnya dekat-dekat dengan Ibu, akan selalu ada.
Dan perasaan “homesick” dengan kadar ringan pun terkadang mendadak suka muncul di akhir-akhir masa sekolah di SMA.

 
Pada akhirnya, Tuhan pun memberikan jawaban-Nya terhadap keinginan saya yang menggebu untuk bisa kembali ke kampung halaman kala itu.
Dan ternyata…..Tuhan masih menginginkan saya untuk terus berjuang dan belajar untuk terus bisa menjadi manusia mandiri yang semakin mandiri.

 
Sebelumnya, saya sempat beradu argumen dengan orang tua, khususnya dengan Ibu saya, bahwasanya saya tidak akan pernah mau mencoba mendaftarkan diri ke perguruan tinggi area Jawa Barat, yaitu di Jakarta maupun Bogor. Tidak mau!
Sejauh-jauhnya hanya mau di Bandung! Ya, Bandung saja!
Begitulah teriakan saya kala itu via telepon dengan Ibu saya di seberang sana.

 
Dan…..ternyata. Kemakan-lah saya dengan omongan saya sendiri.

 
– – –

 

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun.
Saya pun semakin merasakan rasa “betah” untuk bisa tinggal di kota sebesar Bandung tersebut.
Kesukaan saya berkumpul dengan teman-teman, kemudian saya wujudkan dengan ikut secara aktif ke beberapa organisasi maupun kelompok kegiatan yang saya minati di kampus, baik saat SMA maupun saat berkuliah.
Karena dengan demikian juga, apabila tiba-tiba muncul rasa “homesick”, akan dapat terobati seketika itu juga.
Bisa mendapatkan kesempatan sampai 8 tahun tinggal dan hidup di Bandung, membuat saya menjadi pribadi yang semakin “kaya” akan kemampuan beradaptasi pada lingkungan baru.
Sombong? Tentu saja tidak.
Karena saya yakin banyak orang di luar sana yang juga memiliki kemampuan beradaptasi sangat tinggi dan sangat cepat juga.
– – –

 

Inilah yang saya katakan di awal bahwa saya betah dengan sebetah-betahnya, tinggal dan hidup di Ibukota Jakarta ini.
Seperti halnya do’a Ibu saya yang selalu mendoakan anak-anak Beliau agar selalu beruntung di sepanjang hidup kami. Ya, beruntung. Bejo!

 
Dan yang saya sebut sebagai  salah satu bentuk “keberuntungan” di sini yaitu, salah satu faktor yang bisa membuat saya merasa “betah” hidup di kota ini adalah banyaknya kawan-kawan SMA maupun kawan-kawan semasa kuliah yang melanjutkan hidup, tinggal, dan bermukim di Ibukota Jakarta ini.
Organisasi-organisasi yang kini sedang saya incar pun banyak yang berpusat di Jakarta juga.
Alumni-alumni satu almamater SMA dan alumni-alumni satu almamater kuliah banyak juga yang tinggal dan melakukan perkumpulan, kegiatan, serta diskusi di kota ini juga.
Ditambah, suami saya yang juga satu almamater kuliah, juga senang melakukan perkumpulan dengan kawan-kawan Beliau di Jakarta.
Banyak kawan-kawan Beliau juga yang tinggal dan hidup di kota ini.
– – –

 

Melanjutkan percakapan dengan Pakdhe saya di atas,

“Pakdhe, nek ganis udah bisa hapal angkutan umum lewate jalure mana-mana aja, insyaaAllah ganis ndak masalah sama kondisi macete Jakarta. Dulu di awal-awal pindah Jakarta, ganis ngapalin ini angkot nomor sekian lewatnya ke mana, metromini nomor ini ke mana, kopaja sing iki ke mana. Gitu, Pakdhe. Ditambah kalo ganis dah bisa sehari-hari “lepas” dari naik busway (Trans Jakarta) sebagai moda transportasi umum utama sehari-hari, bisa dibilang, ganis sampun betah, Pakdhe. Hehe,”

 
Dan lagi menurut saya pribadi, seperti yang pernah diungkapkan juga oleh Bunda Soimah, jika Anda dari daerah yang memang memiliki keinginan besar yang kemudian memutuskan untuk datang, merantau, atau tinggal serta bermukim di Ibukota, maka Anda harus bisa menerima segala bentuk kondisi kota ini sampai ke bagian “buruk-buruk”-nya.
Jangan hanya membayangkan yang enak-enaknya saja.
Berkawanlah dengan macet.
Berkawanlah dengan banjir jika memang ia harus datang ke lingkungan tempat tinggal Anda.

 

Kondisi Macet Pagi Hari yang Terkadang Harus Dinikmati
Kondisi Macet Pagi Hari yang Terkadang Harus Dinikmati

 

 

Banjir Terparah yang Pernah Dialami sebagai Pendatang Baru (Jan/Feb 2014)
Banjir Terparah yang Pernah Dialami sebagai Pendatang Baru (Jan/Feb 2014)

 

 

Dan yang terpenting.
Tetaplah bersyukur dengan setiap kondisi yang sedang Anda lalui, rasakan, dan nikmati saat ini.
Dengan semakin bersyukurnya Anda, maka Tuhan akan semakin terus menambah kenikmatan ke dalam kehidupan Anda.
Jangan lupa untuk selalu berbagi, menyedekahkan sebagian rizqi yang telah Anda peroleh.
Sisihkan sebagian harta yang sudah berhasil Anda kumpulkan untuk disedekahkan.
Karena sebagian harta kita terdapat hak-hak mereka yang benar-benar sangat membutuhkan.
Dengan bersedekah di jalan Tuhan, niscaya hidup Anda akan semakin nyaman, tentram, dan bahagia.

 

Sekian.
– – –

 

Tebet.
Jumat, 06 November 2015
16:55 WIB

Curhat Terbuka, Life

Curhat Terbuka – Untuk PT Kereta Api (Persero)

Salam.

Perkenalkan, saya adalah seorang pengguna setia Kereta Api. Sudah mengenal Kereta Api sejak saya masih duduk di bangku SMA kelas 3. Kebetulan SMA saya adalah sekolah berasrama semi-militer di Bandung, yang tentunya punya peraturan sendiri bagi siswa-siswinya, khususnya di dalam perihal meninggalkan area kampus. Hanya siswa-siswi kelas 3 yang mendapat jatah pulang ke rumah/menginap Sabtu – Minggu di luar kampus (IB – Izin Bermalam) setiap 1 bulan sekali. Saat itu, Bapak saya masih bekerja di Jakarta, maka saya suka bolak-balik Bandung – Jakarta – Bandung di sepanjang 1 tahun tersebut. Dan saat ini Beliau sudah pensiun dan kembali ke kampung halaman kami, yaitu di Cepu, Jawa Tengah.

Kebiasaan menggunakan Kereta Api kemudian berlanjut sampai sekarang.

1) Dulu saat Ibu-Bapak-Kedua Adik saya-Nenek-Alm Kakek masih di Banjarnegara, Jawa Tengah, terkadang saya suka menaiki Kereta Api Purwojaya untuk mencapai Kota Purwokerto. Baru sesudahnya menyambung dengan bus umum menuju Kota Banjarnegara.

2) Saat Ibu-Bapak-Adik Nomor 3 (Adik Nomor 2 stay di Banjarnegara)-Nenek-Alm Kakek sudah boyongan (pindah) ke Cepu, Jawa Tengah, maka saat pulang kampung juga menaiki Kereta Api tentunya. Terlebih langsung sampai dekat rumah. Karena di Cepu ada Stasiun Kereta Api dan semua jenis kereta berhenti di sini. (mungkin karena Cepu Kota Minyak juga, walau Cepu tergolong kecamatan/kota kecil)

3) Saat sudah menikah, keluarga besar suami saya di Semarang. Tentu saja transportasi andalan untuk mudik juga Kereta Api.

– – – – –

Dibalik kecintaan saya kepada Kereta Api, ada beberapa kejadian yang terkadang bikin elus-elus dada. Seperti tahun lalu (2014) saat akan mendapatkan tiket mudik (Baca juga : Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014) dan PUN tahun ini (2015), susah sekali mendapatkan tiket mudik lebaran! Padahal online, hadeuh… Hehehe.

Serta kejadian yang baru saja dialami Bapak saya sekitar 1,5 bulan lalu.

– – – – –

Saat itu Bapak saya sedang ada acara di kantor lama Beliau di Jakarta. Acaranya diselenggarakan saat hari Sabtu di Bulan April 2015 lalu. Kebetulan juga ada beberapa teman dekat Bapak saya (yang sama-sama orang Cepu) yang menetap di Jakarta. Maka tidak heran kalau sesudah acara di kantor, langsung kumpul-kumpul bersama teman-teman Beliau. Dan ternyata, Bapak saya pernah menitipkan sebuah Sepeda Balap di salah seorang sahabat Bapak saya tersebut. Karena melihat sepeda tersebut, maka kepikiran-lah Bapak saya untuk membawa sepeda tersebut pulang kampung ke Cepu. Akhirnya dan akhirnya, Beliau me-mreteli setiap komponen sepeda dan dikemas hingga sedimikian rupa agar mudah ditenteng menggunakan 1 tangan saja. Karena pada malam harinya, Beliau akan kembali ke Cepu menggunakan Kereta Api, maka sekalian-lah pikir Beliau.

Pretelan Sepeda
Pretelan Sepeda

Pretelan sepeda tersebut-lah yang kemudian ditenteng-tenteng oleh Bapak saya menggunakan 1 tangan, iya loh 1 tangan! Itu artinya…sudah sangat tenteng-able alias ringkas. Dan kalau saya tidak salah, ukuran “kemasan” sepeda Bapak saya tersebut bisa muat di bagian paling belakang bangku kursi penumpang eksekutif entah di belakang nomor 1 atau nomor 13 (yang biasanya suka juga dipakai oleh petugas Kereta Api untuk menumpuk karung selimut penumpang yang tidak dipakai sepanjang perjalanan). Dan lagi “kemasan” sepeda Bapak saya juga tidak selebar 2 kursi penumpang eksekutif banget-banget tooo… Dan syukur-syukur bisa diletakkan di gerbong makanan atau gudang atau barang sekalian.

Nah, masalah pun datang ketika Bapak saya sudah sampai Stasiun Gambir kala itu dan akan check-in. Bapak saya ditolak! Ditolak mentah-mentah oleh petugas satpam di pintu masuk check-in. Katanya sepeda dilarang masuk! Katanya lagi akan mengganggu penumpang lain! Nah tapi kan sudah dimodifikasi sedemikian rupa seperti Sepeda Lipat lho. Saat itu Bapak saya merasa sudah sangat-sangat kecewa. Ditambah sepeda tersebut juga sepeda kesayangan Beliau. Masih untung alhamdulillah Bapak saya sempat punya posisi bagus di kantor lama. Jadilah Beliau menghubungi salah seorang supir kantor lama dan alhamdulillah saat itu sang Bapak Sopir mau membantu Bapak saya untuk membawakan “kemasan” sepeda tersebut di tempat tinggal saya (pada awalnya mau dititipkan di kantor lama saja, tapi rasanya kurang praktis karena saya dan suami kan di Jakarta juga).

Dan untuk sekedar informasi saja. “Kemasan” sepeda tersebut bisa masuk bagasi mobil jenis sedan loh. Dan pun tidak terlalu memakan tempat. Berarti sesungguhnya “kemasan” sepeda Bapak saya sudah sangat-sangat ringkas to?

Saya melihat ini sungguh rasanya naik darah ingin marah-marah di tempat saat itu juga. Lebih menyedihkan lagi mengingat Bapak saya pasti sudah sangat ingin menggunakan sepeda kesayangan Beliau di kampung halaman.

Dan pada akhirnya, saya melihat peraturan-peraturan dari PT Kereta Api (Persero) kepada para calon penumpang Kereta Api sebagai berikut :

11228105_674651646001925_1195418368009265803_n
Persyaratan dan Ketentuan Angkutan Penumpang Kereta Api

Dan LIHAT pada POIN NOMOR 14!

Nomor 14
Poin Nomor 14 tentang Ketentuan SEPEDA

Di sana tertulis JELAS :

“14. Khusus sepeda lipat atau sepeda biasa yang dikemas sedemikian rupa dalam keadaan komponen-komponennya tidak dirakit menjadi sepeda utuh dapat dibawa ke dalam kabin kereta penumpang dan ditempatkan pada tempat yang tidak mengganggu atau membahayakan penumpang lain serta tidak akan menimbulkan kerusakan pada kereta, tidak dikenakan biaya.”

NAH kaaan… Jadi menurut saya, petugas-petugas di Stasiun Gambir itu KURANG atau TIDAK memahami peraturan-peraturan yang sudah dibuat oleh perusahaan tempat mereka bekerja tersebut. Padahal secara kasat mata ya, “kemasan” sepeda milik Bapak saya tersebut itu jaaauuuuuh lebih ringkas daripada koper-koper segedhe gaban yang suka dibawa-bawa oleh para traveler luar negeri.

Jadi, kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu dari PT Kereta Api (Persero) dimohon untuk dapat meningkatkan kembali pelayanannya kepada masyarakat untuk hal-hal yang mungkin terlihat remeh semacam ini. Dimohon juga untuk dapat meningkatkan kualitas para front liners yang langsung berhadapan dengan masyarakat umum.

Dan pada akhirnya…

“Kemasan” sepeda tersebut dengan bantuan suami saya menenteng-nenteng, dititipkanlah pada bus malam yang menuju Cepu, yaitu Bus Malam Pahala Kencana.

Yaa…..mosok kereta api bisa kalah dengan sebuah bus yang ukurannya pastinya jauh lebih kecil dibandingkan badan kereta api to?

– – – – –

Begitulah kisah sebuah kecewa saya terhadap PT Kereta Api (Persero). Mudah-mudahan tidak ada lagi yang mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh Bapak saya.

Bisa-bisa bikin naik tensi dan panik lho. Apalagi kalau sedang terburu-buru karena sudah mepet jadwal keberangkatan kereta api. Ya to?

– – – – –

Salam hangat dari pengguna setia moda transportasi Kereta Api.

🙂

Curhat Terbuka, Life

Curhat Terbuka – Setiap Perempuan Itu Bisa Memasak

Dapur
Ilustrasi

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa statement yang sering saya dengar, baik saat masih SMA atau saat masih duduk di bangku kuliah.

Pembicaraan yang sering terjadi di antara kami anak-anak perempuan tentang “keharusan” bisa memasak. Memang benar, di setiap keluarga terdapat “ajaran” yang berbeda-beda tentang perihal masak-memasak ini. Dikatakan bahwa, setiap wanita itu “diwajibkan” untuk dapat memasak. Namun pada kenyataannya, ada beberapa keluarga juga yang tidak mensyaratkan mutlak bahwa anak-anak perempuan mereka diharuskan untuk dapat memasak dan memasak. Sementara di dalam concern orang tua yang tinggi terhadap pendidikan anak, porsi “ketrampilan memasak” lebih terasa “dinomor-duakan” dibandingkan dengan pendidikan formal itu sendiri.

Mengapa dikatakan demikian?
Setiap ibu di dunia -mungkin-, memiliki kekhawatiran tinggi apabila di masa depan, anak-anak perempuan mereka tidak dapat memasak. Tentu saja hal itu berkaitan dengan kodrat seorang perempuan yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka. Dan seiring berkembangnya waktu, kekhawatiran-kekhawatiran tersebut berubah menjadi pola pikir kekinian yang akhirnya membuat beberapa wanita merasa khawatir dengan dirinya, kurang percaya diri, dan sebagainya.

Sebenarnya di sini, saya hanya ingin menggambarkan diri saya yang malas dan enggan pada mulanya untuk belajar memasak. (walaupun Ibu saya adalah Ibu Guru Rumah Tangga yang sangat jago memasak) Apalagi untuk sekedar “nongkrong” di dapur bersama Ibu dan Dhe Ngatini di masa kecil sampai remaja, sementara Bapak saya yang dengan ngototnya selalu “memaksa” saya untuk ikutan beraktivitas di dapur. Ditambah kini, suami yang selalu membebaskan dan tidak menuntut perihal memasak.

Pada kenyataannya, setelah saya menikah, saya memang tiada ketrampilan berarti di dalam perihal masak-memasak ini. Sementara sejak mengenyam pendidikan di bangku SMA sampai kuliah, saya merantau ke Kota Bandung hingga 8 tahun lamanya. Otomatis tidak banyak kegiatan memasak yang saya lakukan. (tentu saja, karena saat SMA bersekolah di sekolah asrama, dan pada saat kuliah memilih untuk ngekos yang hanya berfungsi sebagai tempat tidur dari full-nya kegiatan kampus yang saya ikuti, dalam arti tidak mementingkan faktor ada dapur atau tidak di dalam memilih kamar kos) 😀

Dengan hanya berbekal sepengamatan saya sejauh ini dengan kegiatan Ibu di dapur, saya berangkat untuk memulai belajar sedikit demi sedikit. Dan seperjalanan saya memasak hari demi hari, ternyata muncullah secara naluriah “ke-perempuan-an” bahwa sebenarnya saya ini ada bakat loh dalam memasak (dalam arti sebagai seorang perempuan). Tidak peduli sebrutal dan setomboi apapun, pasti bisa memasak. Seperti kata pepatah, asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. Dan saya juga berpikir, itulah mengapa ada saja teman-teman pria yang justru malah jago memasak dibandingkan saya sendiri.

Jadi intinya.
Tidak perlu takut karena menganggap diri tidak bisa memasak atau masih kurang percaya diri dalam memasak. Begitu pun sebaliknya, tidak perlu berbangga berlebih karena merasa bisa dan jago dalam hal memasak dibandingkan dengan orang lain. Karena pada dasarnya, setiap perempuan itu bisa memasak.

Walaupun pada akhirnya semua kembali lagi kepada kondisi keluarga masing-masing dan fleksibilitas pembawaan di setiap anggota keluarga. Di mana urusan “keharusan bisa memasak” hanya menjadi sebuah pilihan tanpa harus terbebani di dalamnya.

Jakarta, 12 Juni 2014

Curhat Terbuka, Life

Curhat Terbuka – Jalur Selatan Jawa Tengah Menuju Jawa Barat yang Sering Rusak

Kali ini saya ingin menulis tentang sebuah memori di mana dalam kurun waktu 8,5 tahun ini kurang lebih, selalu “terngiang-ngiang” dalam benak saya. Mungkin untuk beberapa saat ini dalam beberapa kurun waktu ke depan, saya akan jarang mengalaminya lagi.

Sejak kecil, kira-kira usia 2 tahun, sampai saya menamatkan bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), hari-hari saya lalui di Kota Banjarnegara, Jawa Tengah. Saya memang bukan asli kelahiran Banjarnegara, melainkan kelahiran Kota Surakarta (Solo), karena saat saya dalam kandungan dan kemudian lahir,  status Ibu saya adalah seorang mahasiswi di Universitas Negeri Surakarta (UNS). Dan mengapa ke Banjarnegara? Karena mengikuti Bapak saya yang telah dipindah-tugaskan oleh perusahaan dari Jakarta ke Banjarnegara. (walau pada akhirnya Bapak saya kembali dimutasikan ke Jakarta, namun tanpa keluarga ikut berpindah) Walhasil saya dan kedua adik saya tumbuh besar di Banjarnegara.

Barulah setelah lulus SMP, saya mendapatkan kesempatan dari-Nya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke Kota Kembang, Bandung, yaitu di SMA Terpadu Krida Nusantara. Sedikit promosi, sekolah saya ini merupakan sekolah berasrama full dengan sistem kedisiplinan yang semi-militer namun tetap memperhatikan kualitas pendidikan agamanya juga. Dan pemilik Yayasan Krida Nusantara adalah Ibu Hj. Tuty Tri Sutrisno. Sesungguhnya cita-cita pribadi saya sejak duduk di bangku SD adalah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan SMA ke Magelang, yaitu SMA Taruna Nusantara (SMA TN). Namun apa daya, kemampuan saya ternyata tidak dapat menembus passing grade sebagai calon siswa-siswi SMA TN. Untuk masuk sekolah impian tersebut harus melalui rangkaian tes-tes yang cukup sukar. Jadilah saya masuk sekolah berasrama yang setidaknya menurut saya pribadi memiliki penerapan sistem semi-militer yang sama dengan SMA TN.

Hijrah ke Bandung di Tahun 2005

Alhamdulillah merasa beruntung, saat masuk di usia masuk SMA, angkutan umum (dalam hal ini adalah bus umum) yang menuju Bandung, sudah ada yang jalurnya melewati Kota Banjarnegara. Karena setahu saya sejak kecil, bus umum yang banyak melewati jalur Banjarnegara ke arah barat hanyalah bus-bus yang menuju Ibukota Jakarta, tidak ada yang menuju Kota Bandung. Kesemua bus yang ke arah barat tersebut seperti tujuan Jakarta, Bekasi, dan Bandung, semuanya berasal dari Kota Wonosobo (kira-kira jaraknya kurang lebih ada 10 km dari arah timur Banjarnegara). Nah, Banjarnegara merupakan kota kedua setelah Wonosobo dalam jalur bus-bus tersebut yang menuju ke arah barat.

Tiga tahun berlalu dan alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan-Nya lagi kepada saya untuk meneruskan hidup sebagai mahasiswa di Kota Bandung. Dan ritme mudik yang saya alami benar-benar semakin terasa dan semakin terekam dalam benak saya. Dalam hal ini adalah kegiatan perjalanan saya dari Bandung menuju Banjarnegara, ataupun sebaliknya dari Banjarnegara menuju Bandung.

Mobilisasi Bandung – Banjarnegara & Banjarnegara – Bandung

Transportasi utama favorit saya adalah bus umum bernama Budiman. Bus Bandung tersebut yang melewati jalur Banjarnegara kebetulan semuanya merupakan bus patas bisnis AC, sehingga di dalam perjalanan sudah terasa nyaman, karena jumlah kursi sesuai dengan jumlah penumpang yang naik, alias mendapatkan tempat duduk semuanya, tidak ada yang berdiri satu pun. Walau dalam titik-titik tertentu, tetap ada pejuang-pejuang rizqi-Nya seperti, pengamen-pengamen bus, pedagang-pedagang asongan, sampai peminta-peminta sumbangan (biasanya meminta untuk pembangunan masjid). Akan tetapi suasana seperti itulah yang justru membuat “rasa” perjalanan saya menjadi semakin seru dan menjadi pengalaman-pengalaman yang sangat berharga kelak untuk anak-anak dan cucu-cucu saya di masa mendatang. (Aamiin…!) 🙂

Namun sesekali juga, pergi menuju Bandung diantar oleh Bapak saya, sekaligus karena Beliau memang harus ke Jakarta menuju tempat kerja sehari-hari. Begitu juga sebaliknya. Terkadang saya dijemput Bapak saya di Bandung, kemudian meneruskan perjalanan menuju Banjarnegara. Biasanya momen-momen ini terjadi saat suasana libur semester, libur lebaran, dan juga sebaliknya.

Baru pada tahun-tahun menuju akhir tahun perkuliahan, kira-kira tingkat tiga, saya mencoba transportasi yang baru saya sadari ternyata ADA. Yaitu travel, namanya Luis Jaya Travel. Walaupun jenis dan tipenya tidak secanggih travel-travel Bandung – Jakarta. Informasi ini saya peroleh dari sahabat saya satu kota Banjarnegara yang juga melanjutkan kuliah di Bandung. Dari sanalah Ibu saya kemudian mencari letak travel tersebut di Banjarnegara.

Dan pada tahun-tahun terakhir perkuliahan juga, bus umum Sinar Jaya yang sudah terkenal mengangkut penumpang ke daerah Ibukota Jakarta dan sekitarnya, membuka trayek baru sama seperti bus Budiman, yaitu Bandung – Wonosobo dan sebaliknya.

UNEG – UNEG

Satu hal yang selalu saya ingat dan terekam dalam benak saya adalah kondisi jalan raya utama jalur selatan Jawa Tengah yang menghubungkan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan dari kondisi jalan raya kedua provinsi tersebut. Bahkan ketika sedang menikmati perjalanan dengan memejamkan mata atau pada saat sudah gelap, saya pun dapat “merasakan” sudah sampai di Jawa Barat atau sebaliknya sudah sampai di Jawa Tengah. Terasa sekali perbedaannya! Dari duduk yang tidak tenang naik-turun loncat-loncat kemudian dengan tiba-tiba duduknya menjadi nyaman dan tenang. ATAU sebaliknya, dari yang duduk tenang dan nyaman, tahu-tahu duduk loncat-loncat sampai terkaget-kaget dan akhirnya terbangun.

Jalan raya Jawa Tengah jalur selatan banyak sekali yang blang-bonteng, banyak lubang dan rusak.  Apabila kendaraan dalam kecepatan yang cukup tinggi, akan sangat berbahaya sekali dalam mengemudinya. Di satu sisi harus menghindari lubang-lubang yang bertebaran, satu sisi juga harus memperhatikan jalur arus berlawanan. Hal ini sering saya alami dan amati dengan Bapak saya.

Setiap kali perjalanan-perjalanan tersebut saya lalui, saya selalu berpikir. Kenapa ya, kok jalanan JaTeng nggak pernah mulus kayak jalanan di JaBar? Terutama di area Ajibarang-Wangon-Lumbir-Karangpucung-Cimanggu-Majenang-Wanareja menuju perbatasan JaTeng-JaBar. Ketika grunjal-grunjal sudah reda dan duduk bernapas lega, berarti saya sudah masuk Kota Banjar (JaBar). Dan sebaliknya dari arah barat, ketika masih tenang-tenangnya tiba-tiba berubah menjadi grunjal-grunjal, maka sudah pasti saya merasa akan segera sampai rumah, dalam arti terasa saya sudah masuk wilayah Jawa Tengah!

jalan rusak

Ilustrasi – Penampakan Jalan Rusak (sumber: Pikiran Rakyat Online)

Berdasarkan berita dari Republika Online tertanda tanggal 5 Februari 2014, dikutip dari  Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Nasional wilayah Cilacap Barat Rudi Hartono mengatakan bahwa pemerintah akan menggelontorkan dana sebesar Rp 58 Miliar yang dialokasikan dari APBN untuk perbaikan maupun pelebaran sejumlah ruas jalan di jalur selatan JaTeng. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/14/02/05/n0imk8-sejumlah-ruas-jalan-jalur-selatan-jateng-rusak) Serta berdasarkan informasi lawas yang saya dapat dari AntaraJateng.com tertanda tanggal 27 Februari 2013, dikatakan oleh Bina Marga Jawa Tengah bahwa alokasi anggaran perbaikan jalan di provinsi Jawa Tengah mencapai Rp 1,9 Triliun lebih yang bersumber dari APBD, APBN, dana alokasi khusus (DAK), dan pinjaman lunak (loan). (http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=74863)

Saya memang tidak pandai dalam urusan ilmu kenegaraan maupun pemerintahan bila menyangkut dana-pendanaan atau yang berkaitan dengan anggaran negara. Namun, apabila benar informasinya seperti itu, saya semakin terheran-heran. Dana sebegitu besarnya, namun mengapa di setiap tahunnya saya selalu merasakan “kekurang-nyamanan” dalam perjalanan-perjalanan saya? Perjalanan-perjalanan bolak-balik Bandung – Banjarnegara dan Banjarnegara – Bandung. Saya suka berpikir seenaknya, kalau pemerintah Jawa Barat saja bisa dan mampu membuat jalanan jalur selatan selalu mulus dan nyaman, mengapa pemerintah di Jawa Tengah tidak bisa atau melakukan perbaikan jalan yang ”lebih serius” begitu?

Entahlah. Saya hanya berharap pemerintah di Jawa Tengah lebih serius di dalam meningkatkan kualitas perbaikan jalan raya ke arah yang jauh lebih baik, sehingga perbaikan-perbaikan major  tidak perlu dilakukan lagi tahun demi tahun. Setidaknya pemerintah-pemerintah daerah terkait, seperti Pemerintah Daerah Karesidenan Banyumas dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cilacap agar selalu memperhatikan dan menyelesaikan permasalahan kerusakan jalan ini. Dapat dibayangkan, apabila di setiap tahunnya dalam kurun waktu 8 tahun ke belakang ini, di setiap momen libur mudik lebaran saya selalu merasa jalan raya jalur selatan selalu rusak dan bolong-bolong, apakah mungkin di tahun ini akan kembali terulang dengan kondisi yang sama? Mudah-mudahan tidak. 🙂

Jakarta, 23 Mei 2014

Curhat Terbuka, Life

Curhat Terbuka – Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014

Tulisan ini mengisahkan sedikit “perjuangan” untuk mendapatkan tiket kereta api untuk kembali ke kota tempat tinggal. Berdasarkan pengalaman yang gagal total mendapatkan tiket mudik di hari akhir kerja (jum’at, 25 juli 2014) maupun hari sesudahnya (sabtu, 26 juli 2014) & hari berikutnya lagi (minggu, 27 juli 2014), alias kehabisan tiket kereta api, yang akhirnya harus “terpaksa” memilih hari lebih cepat untuk melaksanakan mudik dari waktu yang seharusnya. Itupun sudah dalam kondisi kursi-kursi sisa, di mana saya dan suami pun mendapatkan jatah bangku terpisah. Luar biasa sekali tahun ini!

Sabtu, 3 Mei 2014

Hari tersebut adalah tepat 1 hari sebelum pembukaan secara on-line untuk pembelian tiket kereta api tertanda tanggal 2 Agustus 2014. Dalam arti, pada malam hari tersebut merupakan jadwal untuk begadang. Untung saja, pada hari tersebut merupakan hari Sabtu, di mana bila begadang tidak menjadi masalah, karena besoknya masih hari libur, dapat digunakan untuk beristirahat karena adanya kemungkinan mengantuk.

Mengapa harus begadang?

Seperti yang sudah diketahui oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) telah memberikan kebijakan pembelian tiket dengan cara lebih mudah, yaitu dapat membeli secara on-line dalam waktu H-90 sebelum hari keberangkatan. (tentunya dengan standar Waktu Indonesia Barat yang digunakan) Namun, apa jadinya apabila hal ini berkaitan dengan waktu libur lebaran? Mungkin saja bukan “lebih mudah” yang didapatkan, melainkan “agak lebih berat” karena harus bersaing dengan ribuan atau bahkan mungkin jutaan masyarakat Indonesia yang juga ingin mendapatkan tiket mudik lebaran dan tiket sepulangnya kembali ke kota asal pasca mudik.

Tahun ini merupakan pengalaman pertama saya untuk “harus” berjuang lebih, demi mendapatkan tiket kereta api untuk mudik dan untuk sekembalinya lagi ke kota tempat tinggal, yaitu Jakarta. Kebetulan juga, mudik kali ini dapat dijangkau dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Karena sebelumnya bila saya mudik (yaitu ke Banjarnegara), hanya dapat dijangkau dengan menggunakan bus ataupun travel, dalam arti hanya dapat ditempuh dengan jalan raya.  Tidak ada stasiun kereta api, apalagi bandara. Hehe. (yaa bisa saja sih menggunakan kereta api, namun tujuannya adalah ke Kota Purwokerto dan menyambung dengan bus ke Kota Banjarnegara-nya) Dan kebetulan juga, tertanda awal tahun 2014, orang tua saya sudah berhijrah dari Banjarnegara menuju kota kelahiran beliau berdua (lebih tepatnya Kecamatan kali ya) di Kota Cepu. Jadi, kali ini dapat menjangkau kedua orang tua dengan menggunakan kereta api. Dan kebetulan lagi, kedua mertua saya bermukim di Kota Semarang. Walhasil, dalam beberapa masa sekarang ini, ke mana-mana kalau mudik, sudah pasti akan selalu mengandalkan kereta api sebagai moda transportasi umum yang utama.

Oke, kembali ke topik.

 

Minggu, 4 Mei 2014

Jadilah malam minggu tanggal 3 Mei 2014 menuju tanggal 4 Mei 2014 saya lewatkan dengan harap-harap cemas. Dan TENG! Jam 12 malam pun tiba! Suami dengan cekatannya meng-klik alamat yang sudah diketik sejak menit-menit sebelumnya ke http://www.kereta-api.co.id/. Dan apa yang terjadi? Loading lamaaaaaaaaaa sekali! Sampai muncul error dan kotak dialog yang menyuruh user mengecek alamat yang dituju. Hadeuh, sebenarnya kenapa ya? For your information saja, internet yang kami pakai saat itu memiliki koneksi yang dibilang tergolong cepat, apalagi untuk ukuran waktu tengah malam seperti itu. Dan, Anda tahu? Setiap halaman reservasi tiket sudah berhasil terbuka, yang ada hanyalah informasi bahwa sudah banyak tiket habis di beberapa gerbong, HABIS! Dan jam baru menunjukkan pukul 00.25 WIB!

Malam itu pikiran semakin kalut dan khawatir. Masih mungkinkah mendapatkan tiket atau tidak. Menit demi menit terus berlalu tanpa harapan pasti. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB kurang lebih. Dan YAK! Alhamdulillah akhirnya muncul juga halaman tiket reservasi. Segeralah suami meng-copy paste identitas diri kami masing-masing yang sudah disiapkan dalam lembar notepad. Kondisi saat itu masih sesekali loading dan diikuti situasi yang harap-harap cemas. Sepertinya Dewi Fortuna memang berpihak kepada kami malam itu. Akhirnya, Kode Bukti Pemesanan pun telah masuk ke dalam kotak inbox e-mail dan segeralah kami keluar rumah menuju ATM terdekat.

Jadi, apabila pembelian tiket kereta api dilakukan secara on-line, pembayaran dapat dilakukan melalui ATM. Namun, terdapat batasan waktu maksimal pembayaran. Apabila tidak dipenuhi pembayarannya, maka tiket kereta api yang sudah dipesan, akan hangus, dan harus mengulang proses pemesanan dari awal. Biasanya, maksimal waktu pembayaran yang harus dilakukan adalah 3 jam, terhitung sejak Kode Bukti Pemesanan masuk ke inbox e-mail. Nah, oleh sebab itu lah mengapa kami dengan segera menuju ATM terdekat, selain karena mata sudah terasa mengantuknya ingin segera beranjak tidur.

Sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, proses pembayaran tiket kereta api berhasil dilakukan! Alhamdulillah! Dengan sigap saya menyimpan bukti transfer bayar dari ATM secara hati-hati dalam dompet saya, dengan sebelumnya dipotret terlebih dahulu menggunakan handphone. (saking berharganya loh!) Sekitar pukul 3 dini hari barulah saya dapat bernapas lega dan segera beranjak tidur, walau masih belum melihat notifikasi Kode Bukti Pembayaran masuk ke kotak inbox e-mail.

Dan keesokan paginya, saya diberitahu suami bahwa beliau ternyata begadang sampai Subuh! Dan ternyata notifikasi Kode Bukti Pembayaran baru masuk sekitar pukul 4 pagi menjelang setengah 5 pagi! WAH! Benar-benar perjuangan banget yah!

 

KONFLIK BATIN

Yang menjadi pertanyaan adalah, kok ya bisa gitu ya, sampai sesusah itu ndapetin tiket, PADAHAL on-line? Saya sempat kesal dan menumpahkan kekecewaan saya terhadap pelayanan PT KAI yang menurut saya kurang optimal dan kurang persiapan di dalam menghadapi momen mudik lebaran tahun ini. Yah…, walau pada akhirnya saya pun mendapatkan tiketnya juga sih, dan lumayan mendapatkan respon dari admin twitter PT KAI.

Tweet Kereta Tiket1

Penampakan Tweet Kekecewaan

 

Dan bunyi balasan dari admin @KAI121 adalah sebagai berikut:

Twitter KAI

Penampakan Tweet Balasan Mimin PT KAI

 

Sampailah pada kesempatan hari Sabtu kemarin tanggal 17 Mei 2014, saya yang sedang berencana menonton konser klasik di Goethe Haus, yang dengan tiba-tiba harus ke Gambir terlebih dahulu karena pada akhirnya meeting point saya dengan kawan-kawan dari Bandung adalah di sana. (padahal mereka menggunakan mobil LOH, BUKAN naik kereta -___-“)

Sembari menunggu, saya menemukan sebuah papan bertuliskan daftar nama-nama agen resmi PT KAI yang tersebar di beberapa wilayah di Jakarta. Wah! (baru sadar ada papan beginian di Stasiun Gambir, donk!)

agen kereta

Penampakan Papan Besar di Gambir Berisikan Nama-Nama Agen Resmi PT KAI di Jakarta

 

Pikiran saya kembali teringat akan perjuangan di malam minggu yang telah lalu tersebut. Dugaan-dugaan negatif berseliweran di kepala saya. Memikirkan adanya kemungkinan PT KAI “ada main” dengan orang-orang tertentu. Saya sempat berpikir bahwa, “modus” pencaloan tiket saat ini tetap ada, dengan cara “titip KTP” kepada pihak-pihak tertentu.

Dan setelah melihat papan tersebut, saya jadi berpikir, apakah mungkin salah satu penyebab lelet-nya koneksi internet menuju website resmi PT KAI adalah karena layanan-layanan utama tertuju pada agen-agen ini? Atau, penyebab CEPAT-HABIS-nya TIKET KAI adalah karena adanya agen-agen tersebut? Sehingga terdapat pengkondisian jumlah tiket terlebih dahulu oleh pihak PT KAI sebelum resmi launch secara on-line? Entahlah.

Sampai sekarang saya terus berpikir, kenapa dan ada apa. Mudah-mudahan dugaan-dugaan negatif saya benar-benar hanyalah sekedar pikiran buruk belaka. Dan mudah-mudahan PT KAI akan semakin baik di dalam pelayanannya ke depan, khususnya dalam menghadapi momen lebaran yang terjadi di setiap tahunnya. Mungkin dapat menerapkan pembagian jumlah yang merata untuk pembelian tiket oleh pihak agen A, B, C, dan seterusnya, dengan masyarakat umum. Atau dapat dengan penambahan kuota bandwith, sehingga koneksi menuju alamat website PT KAI lebih cepat.

Karena saya mengakui, pelayanan PT KAI memang jauh lebih membaik, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama dapat dilihat dalam pelayanan Kereta kelas Ekonomi dan tidak adanya lagi pedagang-pedagang liar yang berlalu-lalang di dalam stasiun kereta. For your information lagi, saya dan kebetulan juga suami, adalah penyuka bepergian menggunakan kereta api. Sekalipun menuju Bandung, kami tetap menggunakan jasa kereta api, walaupun sudah banyak terdapat jasa travel Jakarta-Bandung yang semakin marak.

Maju terus PT KAI! 🙂

 

 

Jakarta, 18 Mei 2014