AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Life, Traveling

Perjalanan Jauh Perdana dengan Bayi 3 Bulan

Perjalanan perdana dengan bayi 3 bulan ternyata seru dan menegangkan. Haha. Bagaimana tidak? Ini pengalaman perdana chuy, pertama! Bawaannya udah cemas-cemas aja duluan dari H-sekian. Takut entar bakal ada kejadian apa dan gimana. Gitu aja terus kepala mikirnya. Haha.

1 kata : SERU!

Yes, seru adrenalinnya, secara ini pengalaman pertama sekali buat saya sebagai orang tua baru. Sudah begitu, perjalanan yang kami tempuh bukan sekadar Jakarta-Tangerang, Jakarta-Depok, atau Jakarta-Bogor, bukan. Melainkan perjalanan jauh pulang kampung ke rumah orang tua saya di Cepu, sebuah kecamatan dalam Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Jauh! Ya…walau memang kami menggunakan moda transportasi kereta api sih, bukan berkendara sendiri menuju ke Cepu-nya.

Continue reading “Perjalanan Jauh Perdana dengan Bayi 3 Bulan”

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Catatan Akhir Tahun 2018

Liburan Tahun Baru 2018.
Ketika semua bermula.
Tidak peduli saat itu sudah “terlambat” 5 hari.
Tetap wahana “Tornado” ini dinaiki.
Bahkan mengulanginya lagi untuk berkunjung ke Dunia Fantasi Ancol kembali 2 minggu setelahnya.

Mungkin saat itu sudah paling ter-embuh dengan semuanya.
Dengan keadaan juga lingkungan.
Antara pasrah dan ikhlas.

Continue reading “Catatan Akhir Tahun 2018”

Culinary, Curhat Terbuka, Life

Rindu Seorang Perantau

Aku tahu, ini amatlah berlebihan.

Selalu saja terjadi, di setiap usai masa liburan.

Menangis haru yang selalu tak bisa kutahan.

Seperti sudah menjadi langganan.

Karena rindu yang tidak berkesudahan.

Sejak masa putih-abu dulu, di mana kumulai petualangan di dunia perantauan.

Ibu.

Sosok yang selalu kurindu.

Bahkan hingga kini saat tiba giliranku pun menjadi seorang ibu.

Tetap saja tidak pernah tidak untuk tidak menangis haru menahan rindu.

Hampir selalu.

Di setiap penghujung waktu masa liburanku.

Pondok Pinang,

30 Desember 2018

23.25 WIB

Catatan Gambar :

Bekal dari Ibu.

Enthung Jati, kepompong ulat pohon jati.

Sangat nikmat disantap dengan nasi hangat.

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Pengalaman sebagai Ibu Baru

Hai halo internet! I’m back!

 

Tulisan kali ini gue buat di tengah-tengah “kesibukan” baru gue as a new mom. Beberapa hal yang bakal gue tulis ini murni pengalaman gue, murni apa yang gue rasain, setidaknya dalam menuju 3 bulan pertama ini. Serba-serbi menjadi ibu baru memang luar biasa. Banyak hal yang berubah, tentunya ke arah yang jauh lebih baik.

 

Buat gue, menjadi orang tua itu seperti terlahir menjadi pribadi baru dengan berbagai tantangan baru. Seperti halnya belajar untuk semakin dewasa, semakin disiplin, semakin bertanggung-jawab, dan tentunya belajar untuk semakin sabar.

 

Nah, berikut ini beberapa hal yang menurut gue menjadi pengalaman baru gue setelah menjadi seorang ibu baru. Mungkin beberapa di antaranya, temen-temen yang mampir baca juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi, apa aja sih? Yuk, cekidot gan!

Continue reading “Pengalaman sebagai Ibu Baru”

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (6) – Penantian Kehamilan

Rasanya ada banyak hal yang aku pelajari dan renungkan selama masa-masa penantian kehamilan ini. Rasanya ada banyak kejadian dan pengalaman yang benar-benar membuat diri ini semakin banyak untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Rasanya sama seperti pada saat menggapai jodoh pasangan hidup dan jodoh pekerjaan yang diinginkan. Namun, dibalik semua kejadian yang sudah terjadi itu, ada 1 kata kunci yang sungguh sangat luar biasa dapat mengubah cara pandang serta cara berpikir, atau dapat dikatakan,  bahkan dapat mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik.

Ya, bersyukur.

Janji Tuhan pun Nyata sesuai dengan Firman-Nya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Q.S. Ibrahim (14) : 7]

Continue reading “Konsep Rejeki dan Hindari Iri (6) – Penantian Kehamilan”

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid”

Jika momen-momen kebersamaan dapat bermakna keakraban, namun mengapa harus merusaknya dengan bumbu-bumbu “yang tidak perlu” saat sedang pertemuan. Jika momen-momen kebersamaan dapat mempererat kekeluargaan, namun mengapa harus merusaknya dengan kata-kata “pedas berbekas” hingga di kemudian hari. Jika momen-momen kebersamaan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, namun mengapa harus merusaknya dengan sikap tidak saling menghormati privacy antar individu dalam sebuah pertemuan tersebut.

Dunia akhir-akhir ini dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai orang-orang terkenal yang ternyata mereka mengidap depresi dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Berita-berita tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa yang namanya penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya. Namun, jangan sekali-kali men-cap mereka “kurang iman”, jangan. Ini bukan perkara tidak beragama atau kurang iman. Melainkan hal ini juga dapat dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sekitar sang penderita. Lagipula kasus bunuh diri di dalam negeri pun juga banyak ditemui bukan? Walau mereka bukan orang terkenal, tapi kasus-kasus tersebut benar adanya dan nyata.  Continue reading “Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid””

Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life, Review Hotel, Traveling

Review Hotel Maven Fatmawati, Jakarta Selatan

Hai internet! Kembali kali ini saya ingin me-review sebuah hotel dan hotel yang akan saya review ini berlokasi di area Fatmawati, Jakarta Selatan. Yuk, cekidot gan!

Sebenarnya tulisan kali ini masih relate dengan tulisan saya yang ini (klik ya…). Yup, menginap di sini dikarenakan air di rumah masih mati dari hari-hari sebelumnya, sementara saya sedang sangat butuh-butuhnya untuk bolak-balik ke kamar mandi untuk urusan beser.

– – – – –

Hotel yang akan saya review ini bernama Hotel Maven Fatmawati. Continue reading “Review Hotel Maven Fatmawati, Jakarta Selatan”

Curhat Terbuka, Life

Kreativitas yang Meresahkan

Berita akhir-akhir ini, baik di media elektronik, media cetak, sosial media, dan lain sebagainya, cukup membuat resah masyarakat. Apalagi di antara berita-berita tersebut terdapat kejadian yang bersinggungan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Berita-berita ini saya menyaksikan langsung melalui media televisi maupun juga di media elektronik, jadi saya meyakini jika berita-berita ini bukan merupakan berita hoaxContinue reading “Kreativitas yang Meresahkan”

AMG, Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Review Hotel, Traveling

Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Hai hai hai internet!

Akhir-akhir ini saya sedang saaangat malas sekali untuk membuat tulisan. Ada apa ya gerangan? Padahal tidak berat, cukup 1 kali saja dalam 1 minggu untuk “menyetorkan” sebuah cerita pada blog pribadi. Yeah, itulah ketentuan wajib yang harus dipatuhi jika ingin dapat terus bertahan dan mengikuti komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti.

Baiklah, berhubung sudah sangat mepet dengan waktu setoran, di mana ini saya mulai menulis tepat pukul 22.45 WIB di hari Minggu tanggal 4 Maret 2018, dalam arti sudah tinggal 1 jam lagi menuju batas waktu penyetoran, maka saya putuskan untuk bercerita singkat mengenai kegiatan weekend 3 – 4 Maret 2018 ini ngapain aja dan ke mana aja. Yuk, cekidot gan!  Continue reading “Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)”

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5) – Jangan Iri, Itu Berat

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan. Continue reading “Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5) – Jangan Iri, Itu Berat”

Curhat Terbuka, Life, Uncategorized

Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….

Apakah Anda perokok? Namun apakah Anda paham kalau merokok di tempat umum juga ada aturannya?

Tulisan ini terinspirasi saat saya sedang melakukan antrian di salah satu wahana di Dunia Fantasi di mana antriannya panjang dan mengular. Dan di dalam antrian tersebut terdapat segerombolan manusia yang nampaknya benar-benar “tidak punya otak” atau “tidak bisa membaca plang larangan merokok yang jelas-jelas tertera di area mengantri”.

Saya marah dan saya kesal.  Continue reading “Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….”

AMG, Curhat Terbuka, Life

Tahun Baru, Semangat Baru

Woohoo! Tidak terasa sudah memasuki tahun baru 2018! Selamat tahun baru 2018!!! 😀

Berhubung tema pada minggu ini bernuansa dengan yang baru-baru, jadilah saya memutuskan untuk sedikit bercerita tentang beberapa hal yang diharapkan bisa menjadi “baru” di tahun 2018 ini. (mudah-mudahan masih nyambung ya dengan tema minggu ini, hehe) Nah, apa sajakah kira-kira yang menjadi pengharapan di tahun baru 2018 ini? So, let’s check this out, ganContinue reading “Tahun Baru, Semangat Baru”

AMG, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life

Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀  Continue reading “Aktivitas Me-Time”

AMG, Curhat Terbuka, Life

“Kamu Mau Jadi Apa?”

“Kamu mau jadi apa?”

Begitulah pertanyaan itu muncul seketika dan ditujukan kepadaku.

 

– – – – –

 

Sebelum masuk ke dalam tulisan, aku hanya ingin berkata, tulisan ini adalah murni pendapatku pribadi dan tidak ada kepentingan di dalam mengomentari pilihan hidup orang lain. Tulisan ini mengandung opini individual dari seseorang yang belum genap berusia 30 tahun, dalam arti “masih di bawah” usia 30 tahun dengan segala pemikirannya.

So, mari kita lanjutkan.  Continue reading ““Kamu Mau Jadi Apa?””

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.  Continue reading “Just Be Positive”

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (4)

Bertemu lagi dengan catatan hati mengenai konsep rejeki yang memang Tuhan telah persiapkan ke dalam kehidupan setiap insan di dunia. Dan di dalam pemahaman ini terkandung nilai religius yang semakin untuk bisa  eling, semakin untuk ingat selalu kepada Sang Pencipta bahwa Ia Tidak Akan Pernah Salah.

 

Memulai tahun 2016 ini, saya memutuskan untuk “menghilang” sejenak dari salah satu akun social media yaitu facebook, lebih tepatnya akun lama fb saya dan memutuskan untuk membuat lagi yang baru. Entahlah, semua hanya terdorong oleh perasaan “tidak enak” terhadap orang lain. Apalagi terutama apabila, mengalami masa transisi yang dirasa lumayan dalam hal kehidupan lingkungan sekitar. Sebelumnya saya juga sudah melakukan  “menghilang” secara utuh dari social media bernama path. Saya dulu berpikir, path ini betul sangat eksklusif ke dalam beberapa orang saja dalam lingkaran pertemanannya, namun saya merasa “ada yang kurang pantas” dari path ini. Lalu apa bedanya dengan grup-grup yang sudah terbentuk, misal di whatsapp atau line atau bbm dengan si path ini.

Pada intinya, mungkin betul, tidak semua orang bisa menerima apa yang kita keluarkan dari pikiran kita yang biasa kita tuangkan dalam setiap posting di social media milik kita, walaupun pada istilahnya itu adalah kita “menyampah” pada halaman rumah sendiri, belum tentu orang yang melihat juga turut senang.

 

quote

 

Anyway, kembali ke dalam konsep rejeki Tuhan.

Pada suatu kesempatan, saya kembali membuka lapak authentic di beberapa grup di facebook dengan menggunakan akun baru, di mana kondisinya saya tidak memasang profile picture. Dan kondisinya pada masa itu adalah sedang sering terjadi beberapa kejadian mengenai seller “bodong” yang pada akhirnya membuat banyak orang menjadi latah jika ingin bertransaksi dengan beberapa orang baru bagi mereka, para calon pembeli dari beberapa seller ini akan melakukan sesi “klarifikasi ke-trusted-an” yang biasanya suka dilakukan di halaman grup.

Namun entah memang karena memang sudah merupakan rejeki bagi saya, saya mendapatkan kesempatan yang mengesankan & membuat meningkatkan keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan Tidak Akan Pernah Salah. Alhamdulillah dengan tanpa ba-bi-bu, kedua orang calon customer saya saat itu langsung melakukan transaksi terhadap saya tanpa harus klarifikasi ini dan itu di halaman grup.

 

Saya semakin yakin apa yang sudah saya putuskan pada akhir 2015 lalu untuk mencoba “bertransformasi” menjadi pribadi yang lebih baru lagi ternyata keputusan yang benar. Saya yakin Tuhan Yang Telah Menuntun saya untuk melakukan hal tersebut. Maksud saya, walaupun ini adalah akun baru, bukan berarti Tuhan Menutup Jalur Rizqi saya di dalam usaha berdagang secara online ini.

 

– – – – –

23.03.2016

11.15 WIB

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Female and Engineering Life (1)

Hello February! 🙂

Today I want to tell you a little bit story about my life as an environmentalist through these 2 (two) years of working experiences, or I could say my life after graduated from Environmental Engineering field for my Bachelor’s Degree last 2013. Also how I could be on this way today.

This writing is inspired by some friends, especially my girlfriends  who always have enthusiastic when they talked about their future dreams and their “what’s next to do” even though some of them are married and have babies.

– – – – –

Senior High School Graduate and “Choosing” Phase

After finished from senior high school, I admitted that I was included in “followers” type of person. I had a dream to be a police woman and wanted to continue my study to the Police Academy in Semarang, Central Java. But if I could say, maybe that was only because of I studied in semi-military senior high school which has similar school-type with the higher education of military-acamedy schools. My senior high school is applying military system, such as high disciplinary and applying boarding school system.

However, the fact said that I was a “follower” person, so I decided to try any opportunities ahead. Coincidentally, the Police Academy where I dreamed of to be part of it, didn’t open for new students in that year, 2008.
(I’m still wondering why they postponed it until a year ahead. Cmiiw. But I realize something that maybe it was what we always called as “God Always Makes a Good Plan for all of us in this world” and yes, God Always Knows the best for ourselves.)

Then I followed others to register for some tests to enter some universities, and my first preference was the UGM or Universitas Gadjah Mada which placed in Jogja, with majors I wanted to take were Dentistry and Electrical Engineering. Moreover, the UGM is near from my hometown, Banjarnegara which we only take 6 hours maximum to reach Jogja City from Banjarnegara. I took 2 (two) types of the UGM entrance examinations, but sadly I didn’t pass them all. Ha-ha. I felt really sad as if there’s no more options I could take. Well, I mean it. I had my weeping until 3 (three) days after. I don’t know why I was really sad and upset.

Then (again) I followed my friends to register another entrance examination for another university and it was the UnDip or Universitas Diponegoro which placed in Semarang, with majors I wanted to take were General Medicine and Electrical Engineering. Sadly, I was in very less information condition about various types of study fields in the university. That’s why I kept being a “follower” to others. I kept choosing what my friends chose. Really sad, wasn’t it? But before the UnDip test held, the ITB or Institut Teknlogi Bandung opened registration for its first type of entrance examination. Again, as a “follower”, I completed my registration form too like my friends did, whereas I didn’t really understand enough what study fields there were.

And it was my first inner turmoil throughout the university application processes..

Actually I really wanted to continue my higher education near my hometown, Banjarnegara which might be taken place in Purwokerto, Semarang, Jogja, or the furthest city Solo. I was a homesick type of person. I often felt it when I was still in senior high school. So I arranged my self hardly to be a student or a part of those near universities (which placed in those 4 cities). Until oneday I told my parents that I didn’t want to take another chances aside from the ITB’s entrance examination or the UnPad’s that is still also in Bandung area (same city with ITB and my senior high school), although my parents occasionally forced me to take another chances of other universities which placed in West Java area or Jakarta area, such as the UI and the IPB. No, I really didn’t want it. I said, the furthest city was only Bandung, not Bogor even more Jakarta! I remembered how angry I was. Ha-ha.

Well yes, words are words, I had to carry out what I just said to my parents. I had no other choices. So I took the ITB’s entrance examination and felt like I wouldn’t take it seriously, and wouldn’t make it. Besides it’s true that almost all the questions were really hard to be solved. I was hoping I would be rejected and could came back to my region, Central Java area. That examination held after I failed 2 (two) tests of the UGM’s. And again,  coincidentally the UnPad hadn’t open registration for its entrance examination yet.

About a month later…..

I remember that night, me and my generation, Teners were assembling in the school’s main hall  after our dinner activity before we came back to our dormitories. We were talking seriously about the national exams that would be occured in days ahead. I forget in detail, a day after that night if I’m not mistaken, me and my friends drove together into the counceling office. Yes, only for checking the announcement about the ITB’s entrance examination result. And it was really unexpected moment. Unbelievable. I read the announcement on computer screen again and again. I was stunned! I repeatedly inserted my test number and pressed “enter” only for making sure my self.

Well, well, yes. I passed the examination. But really, I felt like “floating” and on the contrary mind I started thinking that I had to deal with the separate ways again between Banjarnegara and Bandung and I had to enjoy it (again?), IF I took a chance be an ITB student. Yes, I mean it, “if”. I was in very doubtful almost a week until some friends came to me, advised me, even one of them was angry to me. They said I had to let the UGM dream go away, move on, and face the new destiny of me, accept it, enjoy it. Then one of them, his name is Pandu, he said with pressure words and a little bit like angry (because he’s really wanted to be an ITB student, but he failed on that test and felt upset), he said I HAD TO be grateful, move on, and MUST accept the chance! For a moment I was glued and started to think what he just said was so much true: I had to move on! And yes, finally by the time I realized it. But still, it was like a dream and until today I’m thinking I was just…..lucky.

(Pandu was failed on first type of ITB’s entrance examination but he made it on the second chance on the second type of its entrance examination. Today, he’s an expert geologist who’s working for one of BUMN company.)

image

Being a Woman, Life, Passion, Dreams

Well, yes. After that dramatically chapter of my life, finally I accepted the result and became more grateful and wouldn’t make it as a useless chance. I was happy and preparing my self for the next stage to be part of the Ganesha Campus.

I was in Faculty of Civil and Environmental Engineering department and took Environmental Engineering for my major.

Days became weeks, weeks became months, and months became years. As I said before, I was just lucky and might be it’s true that I don’t have any aptitude to be an engineer. I needed 5 (five) years to complete my Bachelor’s Degree by the final GPA score isn’t as good as others’.

But still, really Thank God that my journey as an amateur-graduate-engineer started right after I was announced as a graduate-to-be, after finished my final thesis examination. It was in July 2013. Before the graduation ceremony, by the help of my thesis supervisor, I joined a short-term project that only held in 2 (two) months. That was my first job as an environmentalist. I was so excited and very happy, even though the salary was (maybe) in low value. But truly, as a less-smart person, I wouldn’t make that chance useless. (I won’t say my self as an idiot or a dumb after all those years that everything I’ve faced. I’ll always appreciate my self in previous life inside “college chapter” and won’t feel regret at all.)

In January 2014, I moved to Jakarta with my husband (finally we’re officially married, :p) with jobless condition. Actually, it wasn’t a problem anymore for my self because I’m married. But since my husband has never felt objection if I went to work, so I tried to apply for some new jobs. And back again, lucky me, I was hired by a company to have role as a junior environmental engineer or we could say as an assistant of the environmental engineer expert for a project. The point is I still have a chance and still have my lucky to implement all of I’ve learned at the college into the environmental engineering world until today.

To be honest, at the first time I acquainted with the engineering world or the ITB’s world, I didn’t have an enough knowledge what engineering field study was. It has proven by the result of my final GPA score and the 5 (five) years I had to finish my study. (ha-ha) I felt hard passing day by day there, inside the ITB. That’s why I always underline the word “lucky” for that “ITB scene” of my life.

I used to think that is very impossible for me to get an environmental engineering job, again, I thought it would be related to my GPA score. But the fate said that actually I have same opportunity with others and I don’t need to feel low self-esteem. Well yes, to be honest, I’m still feel inadequate when I compared my self with my friends until today. Nonetheless, I’m trying to be more confident and fight my faint-hearted. And gradually, I’m accustomed by this engineering field and becoming enjoy with its world. Met new people then increasing my network have made my self to be more spirited, confident, and relaxed with anything that happened in working situation.

I trully never imagine that my life would be as wonderful as it is. Really Thank God for everything I have. Slowly but sure, even though I’m a female and now working at engineering field, I still have dreams to develop my self and increasing my skills through a higher education or some other ways I could take later. Might be true, nowadays I’m not good enough in this engineering world but it’s still possible for me to make it as my “real” passion for my future and for my entire life.

However, I have to realize my role in this world too, my responsibility as a wife and a mother (later, insyaaAllah). I have to balance my self among my family life, my hereafter life, my dreams, and anything I want to do.

The most important thing is everything that I lived in, must have gotten permission from my husband because in accordance to the God’s rule, my life is in his hands which I became his responsibility after the consent granted happened (ijab qobul procession). And for the reciprocal, I have to keep my self keep on positive-track and always be in the right way, even if I would be very ambitious for chasing my dreams. I hope someday I could be useful not only for my self or my family but also for people around me. Aamiin. Wish me luck then. 🙂

– – – – –
Matraman, 21.02.2016

Curhat Terbuka, Life

Criminal Case dan Facebook Baru

Hai, hai!
Wah, sungguh sangat tidak terasa sekali ya. Tau-tau, Bulan Januari 2016 sudah mau akan berlalu lagi saja!

Oke, kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai Criminal Case. Tau kan game yang sangat terkenal itu?

Yup.
Jadi…begini ceritanya.

Suatu ketika saya memutuskan membuat akun baru untuk facebook saya. Istilahnya, akun yang lama sedang non-aktif dan saya membuat akun baru. Lagipula, dengan alasan ingin “berbenah diri”, maka saya wujudkan niat itu menjadi nyata. Selain, daripada saya harus mem-filter satu per satu daftar teman-teman dalam friendlist saya, jadi baiknya saya putuskan membuat akun baru saja. Untuk alasannya mengapa demikian, agak sukar dijabarkan. Tapi pada intinya, terkadang saya masih suka merasakan perasaan “tidak enak” kepada beberapa teman saya (yang ada dalam friendlist tentu saja) –yang mungkin– kurang berkenan akibat dari postingan-postingan yang saya buat. Ya…intinya demikian. Sukar untuk dijabarkan secara gamblang. 🙂

Lhooo…..kok jadi bahas itu. Hehe. Oke, back to topic.

image

Jadi, pada akun facebook lama, saya sudah memainkan game Criminal Case ini sampai pada level 50-an. Cukup lama juga bukan saya bermain game tersebut? Haha. 😀
Kalau tidak salah ingat, butuh 2 (dua) tahun lebih untuk bisa mencapai level tersebut. Karena saya pun memainkannya secara santai, tidak terus-menerus secara intensif.

Pada saat usai membuat akun facebook baru saat itu, saya tetiba kepikiran dengan game Criminal Case ini. Saya tidak bisa membayangkan bila harus mengulang case demi case dari level awal, yang mana akan sangat membutuhkan waktu yg sangat lama even bisa sampai lebih dari 2 (dua) tahun untuk bisa mencapai posisi level 50-an seperti saat ini. Rasanya…..sudah capek duluan ketika ingin memulainya kembali.

Walau ini memang “hanya sekedar” permainan atau game, tapi rasanya sudah seperti skripsi. Apabila hilang 1 (satu) folder penuh file skripsi dengan tiba-tiba, tanpa adanya back up di mana-mana, rasanya akan sangat malaaas sekali untuk memulai lagi dari awal. Rasanya tuh beraaat sekali. Haha. 😀
(lebay sih emang, haha :D)

Namun ternyata…..

Kemarin saya mencoba iseng membuka kembali aplikasi game ini pada Android saya. Dengan tentunya data-data game dengan menggunakan akun sebelumnya (akun facebook lama) masih tersimpan rapi dalam aplikasi. Kemudian saya mencoba log in kembali dengan menggunakan akun facebook baru saya. Awalnya sudah agak pesimis (lebay, :p). Namun ternyata….. Taraaaaa! Bisa! 😀

Thank God, ternyata saya tidak perlu mengulang kembali dari awal permainan! Cukup sinkronisasi dan jadi deh… Senang! Haha. 😀

Jadi.
Dari yang dulu memulai permainan Criminal Case ini sejak jaman masih duduk di bangku kuliah, dengan saat itu masih belum ada aplikasi mobile-nya (belum dibuat), kemudian sampai akhirnya muncul aplikasi mobile-nya, seluruh data game saling sinkron antara facebook dengan aplikasi game yang ada di handphone.
Setelah di-download semua data dan tersimpan rapi dalam handphone (walau keadaan sudah log out), kemudian pada saat ingin log in facebook untuk game via aplikasi mobile kembali, seluruh data game yang tadi sudah tersimpan banyak di handphone tersebut, kemudian ter-upload kembali ke facebook.

Sungguh menyenangkan bukan?

Memiliki akun baru, akan tetapi saya tidak perlu susah-susah mengulang game favorit tersebut dari awal. Haha. 🙂

Well, saya bukan tipe penikmat banyak game. Hanya gamegame tertentu saja dan sangat sedikit ini yang bisa saya nikmati, seperti salah satunya game Criminal Case ini.

Ngomong-ngomong, sesekali bermain game itu ternyata perlu juga ya. Hehe. Sesekali saja. Dan jangan sampai besarnya waktu bermanfaat bisa terbuang sia-sia hanya karena bermain game secara terus-menerus hingga lupa waktu.

Salam. 😉

Curhat Terbuka, Life

Reverie

It’s started 2 (two) days ago. One of my friend started talk about “it” on  our Whatsapp Group and it suddenly reminded me of something.

 

I remembered about an article I’ve read several months ago. It tells about a young man who gained a scholarship and studied abroad with an “unlucky” academic condition at his previous college. Why I said “unlucky”? Because he had a “not common” condition as a scholarship awardee like others.

 

Usually people nowadays when talking about scholarships or studying abroad, they have an outlook that it would be impossible for people who don’t have good academic records from their previous schools/colleges to have an equal opportunity to others who “lucky” or in good academic condition which means they have good academic results that usually with CGPA scores is 3.0/4 or more. And it’s true. Today, almost all good universities or colleges abroad are requiring candidates with good academic performances background, e.g. a Bachelor’s Cumulative Grade Point Average (CGPA) must be at least 75% of the scale maximum or if we’re interpreted means Sarjana I (SI) degree with a final cumulative grade point average (CGPA) of 3.0/4. Sometimes for some universities, they will require beyond that criteria. Especially if those universities have good rank record of the world universities. On that case, we could say this young man didn’t meet all those “high level” requirements but he proved us that he’s made something impossible to be a possible thing.

 

Well, now I’m very enthusiastic and dreamed of being a young man on that article. But I also do repeat many questions and statements of my mind. “Would it be?”, “Should I try?”, “Ow, that’s impossible.”, “I wouldn’t make it.”, “Is it possible?”, etc. The more I’m asking my self, the more I feel curious.

 

Right after the day my friend broached the topic, I started to do research on the internet. While I was researching many things, I also asked my husband about everything and some ‘sensitive’ questions. (You know, it’s one of obligation for a wife before she could do anything she likes.) And…..unexpectedly! Like usual, he said he’ll always give his best and will always support, for everything, as long as it’s a good thing and won’t harm anybody else. Thanks, Honey! :’) If it wasn’t him, maybe I wouldn’t dare to have such wild dreams.

 

After got his permission, I’m getting more excited and intend to be more serious. I don’t want to be like “me” in previous time who didn’t consider “it” as an important thing. Yeah, we’re still don’t know what will happen in the future, next year, two years, three years, or more years from now. But, what can I do right now is only to do “trying” and “acting”.

 

We realize our condition isn’t same as like our previous life as a single person. But we have chosen and made a decision. We’re only taking an “advantage” of our condition that still in “no children” condition until today. We don’t take KB program, we’re normal, and healthy. Is there something wrong? No, we guess not. As long as we happy with our life, nothing more that we should problem with.

 

As we know, we never know what Allah’s Plan for all of us in this world, especially here for both of us. Maybe Allah Has a Better Plan or something more beautiful that could be make us happier and make our life more useful for us even useful for others? Maybe. So I would say, I won’t waste my time lamenting uncertain thing and will fill it with good activities and good things.

 

Sometimes I feel worry about what people would think to me when they know if “it” truly happened later. But like my husband always told me before, from now, I have to learn how to ignore people who don’t like me and always trying to ignore negative things that may come from them. He said, it would be many possibilities for people will talk behind us, talking about our “wrong” decisions or about our “wrong” choices. But he always said to ignore it and try not to deep think about what people would say.

 

– – –

 

Today, I’m holding a long list of “it“. And I’ve started to make marks, one by one of this my long list. I promise to focus on “it” and try not to think other people, especially them who don’t like me.

 

🙂

 

– – –

Matraman.

Thursday, 12.11.2015

17:47 WIB