Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂

Advertisements

“Kamu Mau Jadi Apa?”

“Kamu mau jadi apa?”

Begitulah pertanyaan itu muncul seketika dan ditujukan kepadaku.

 

– – – – –

 

Sebelum masuk ke dalam tulisan, aku hanya ingin berkata, tulisan ini adalah murni pendapatku pribadi dan tidak ada kepentingan di dalam mengomentari pilihan hidup orang lain. Tulisan ini mengandung opini individual dari seseorang yang belum genap berusia 30 tahun, dalam arti “masih di bawah” usia 30 tahun dengan segala pemikirannya.

So, mari kita lanjutkan.

 

– – – – –

 

Siang itu aku baru saja selesai mengikuti meeting mingguan bersama dengan direksi dan tentunya beberapa rekan kerja. Cukup agak sedikit menegangkan. Mengingat hari itu merupakan hari permulaan minggu, yaitu Hari Senin. Hari di mana raga ini baru saja selesai menikmati “masa-masa indahnya” bersama dengan weekend 2 hari yang baru saja dilalui. Ditambah materi yang dibahas sedikit agak “berat”. Sudah begitu, pagi hari pula kami melakukan aktivitas meeting mingguan tersebut.

 

Aku terduduk termangu memikirikan sebuah jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan seorang rekan kerjaku itu. Ya, mau jadi apa aku nantinya?

 

Dengan tiba-tiba suasana makan siangku agak sedikit terusik dengan pertanyaan tersebut. Akan tetapi, aku tidak sakit hati sama sekali, melainkan sedikit menggelitik pikiranku dan ingin menggali lebih dalam lagi akan jawaban-jawaban yang mungkin muncul. Ada benarnya juga Beliau bertanya demikian. Aku pun semakin terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi di depan sana, sembari menikmati rendang pesananku. Hmmm, cukup sulit ya.

 

 

Beliau menjabarkan kalau dirinya, dalam usianya, mengatakan bahwa Beliau agak sedikit menyesal dengan pilihan yang sudah Beliau pilih. Menurutnya, dalam usia sekian, seharusnya Beliau sudah dapat mencapai dan melakukan sesuatu yang lebih daripada kondisi saat ini yang sedang Beliau jalani. Beliau pun bilang kepadaku, jangan sampai aku terlena, terbawa suasana, terbawa nyaman, terbawa santai, yang kemudian hari dapat menjadi bom waktu untuk diriku sendiri kelak di kemudian hari.

 

Well, sebenarnya pemikiran dan nasehat Beliau sedikit mengena kalbuku. Betul juga, pikirku sesaat.

 

Beliau menambahkan, ditambah dengan background pendidikan atau jurusan kuliah yang sudah aku ambil, jangan sampai ter-sia-siakan hanya dengan mengerjakan pekerjaan “remeh” menurut Beliau seperti yang sedang aku kerjakan saat ini, di mana memang, tidak ada keterkaitan langsung dengan jurusan kuliahku dulu.

 

Di sini, pikiranku mulai tidak setuju. Ya, betul. Saat ini aku lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan administrasi dan lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan me-manage orang banyak. Akan tetapi menurutku, pekerjaan ini tidak mudah. Tidak se-“remeh” itu. Butuh skill, ketelitian dan disiplin tinggi di dalam menjalankan semua tugas ini. Di sinilah pikirkanku mulai tidak setuju dengan pernyataan Beliau. Namun siang itu, aku memilih diam dan mendengarkan saja. Ditambah, Beliau adalah senior jauh dan sudah berpengalaman bertahun-tahun bekerja dalam perusahaan tempatku bekerja saat ini.

 

 

Usai makan siang dengan Beliau, aku semakin hanyut dalam pertanyaan tersebut.

 

“Kamu mau jadi apa?”

 

Sebenarnya kalau ingin dibuat mudah dan simple, aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Aku ini adalah seorang wanita dewasa yang kebetulan sudah menikah juga. Sebenarnya, tujuan utamaku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hebat bagi suami dan anak-anakku kelak. Aku ingin menjadi seorang wanita rumahan dengan menjalankan bisnis sampingan yang menjadi hobiku. Ya, itulah impianku.

 

Lalu, jika melihat kondisi saat ini di mana aku yang hingga detik ini masih “hanya” berstatus sebagai istri, belum berstatus sebagai ibu, ditambah tempat tinggal yang sangat dekat sekali dengan kantor di mana aku bekerja, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil berusaha membentuk sebuah keluarga “yang utuh” dan menjalankan hobiku yaitu bisnis online shop, aku masih dapat beraktivitas harian dengan  pemasukan bulanan yang walau sifatnya sementara.

 

Ya, saat ini aku hanyalah seorang pegawai kontrak dari sebuah perusahaan swasta di mana aku dapat diberhentikan sewaktu-waktu. Oleh karenanya aku sebutkan di awal, bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik yang sedang mampir dalam hidupku ini. Walau mungkin bagi orang lain, menurut penilaian mereka, aku sedang “terjerumus” ke dalam tempat “yang tidak seharusnya”. Well, hidup tidak semudah berkata demikian, bukan?

 

 

Aku pun teringat nasehat dan wejangan seniorku siang itu. Beliau berkata, jika aku makin “terlena” dan “terlalu nyaman”, ditakutkan pada saat aku mencapai usianya, aku akan ikut menyesal karena mungkin aku akan “tidak menjadi apa-apa” dan menyesali dengan langkah yang sudah aku pilih. Wow, sedikit mengernyitkan dahi saat aku mendengarnya. Dan tentu saja, aku tidak membalas atau berkomentar. Aku tetap menikmati makan siangku sambil mendengarkan Beliau.

 

Mungkin betul. Jika aku tidak “bergerak” sekarang, bisa jadi masa depanku akan “hancur”.

Wait what, “hancur”?

 

Kembali lagi kepada impianku menjadi seorang wanita rumahan yang menjalankan bisnis sampingan sambil mengurus keluarga. Mungkin bagi sebagian orang, cita-citaku seperti itu adalah cita-cita “bodoh” dan “tidak berguna”, mengingat kata mereka, aku sudah menyia-nyiakan kesempatan masa mudaku yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan tentunya tidak murah, alias membutuhkan biaya yang tidak sedikit di dalam menyelesaikan semuanya hingga aku dapat lulus menjadi seorang sarjana.

 

Bagiku, ini bukan selalu menjadi seseorang yang “wah” atau harus menjadi sesuatu agar orang lain berdecak kagum. Aku ini adalah seorang wanita, seorang istri, yang sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu. Terkadang impian-impian “tinggi” tersebut bagiku tidak terlalu penting.

 

Dan terkadang yang terpenting bagiku adalah dapat menjalankan hidup dengan baik, lancar dan normal, serta memiliki tabungan yang cukup di dalam menjalankan kehidupan, entah bagaimanapun cara mendapatkannya, selama proses yang dilalui adalah dengan cara yang halal. Terutama tabungan hasil jerih payah pribadi, bukan tabungan hasil pemberian suami. Apalagi kondisi saat ini banyak mendukungku bahkan mempermudah diriku untuk melakukan aktivitas sehari-hari tersebut tanpa harus bertemu dengan keganasan dan kemacetan luar biasa kota Jakarta.

 

Ditambah ketika aku mengingat-ingat akan sebuah kematian, sebuah gerbang yang benar-benar akan menghentikan seluruh aktivitas kita di dunia menuju ke kehidupan baru yang kekal. Mau apa lagi?

 

– – – – –

 

Jadi, jika harus menjawab, “Kamu mau jadi apa?”

 

Aku akan menjawab, aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Dengan segala pilihan yang terbaik menurutku dan berjanji tidak akan menyesalinya di kemudian hari. Aku sangat-sangat yakin. Sebuah penyesalan hanyalah bisikan dari syaitan yang tidak suka dengan kondisi hidup kita sebagai manusia.

 

Dan sebagai pertimbangan juga, banyak sering terdengar kisah beberapa wanita dewasa di mana mereka gemar mengungkapkan beberapa penyesalan dalam hidup.

 

Seperti misalnya seorang wanita dewasa di usia kesekian ia menyesal karena “hanya” menjadi seseorang yang “biasa-biasa saja” dengan kemampuan seadanya atau bahkan kemampuan masa mudanya yang “sudah menguap” dan bahkan “tidak berbekas” sama sekali, seperti yang mungkin telah diungkapkan rekan kerja seniorku pada tulisan ini.

 

Kemudian ada juga sebagian wanita dewasa di usia tertentu yang justru sudah menjadi seseorang dengan kemampuan luar biasa, dihormati, memiliki jabatan fungsional yang bagus di sebuah perusahaan atau instansi ternama, ternyata juga punya perasaan menyesal akan waktu-waktu yang hilang bersama dengan keluarga dan anak-anaknya akibat kesibukan-kesibukan yang sudah dilalui.

 

Hidup memang selalu tentang pilihan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya serta sebijak mungkin di dalam menentukan pilihan, baik itu pilihan baik maupun pilihan buruk. Dan yang terpenting adalah, tidak akan menyesal, untuk setiap pilihan yang sudah dibuat dan dipilih.

 

So, “Kamu mau jadi apa?”

 

🙂

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.

– – –

Kembali kepada nasehat positif tadi, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga. Ya, saya masih dan akan selalu yakin dan percaya demikian.


Misal, dalam suatu tes atau ujian sesuatu. Ada sebagian orang pada mulanya grogi, nervous, nggak yakin, ketakutan, dan sebagainya. Akan tetapi karena akhirnya mereka yakin dan telah bersungguh-sungguh dengan ikhtiarnya masing-masing, yakin bisa, yakin mampu, kemudian semakin hari semakin positif semangat dan pikirannya, ternyata benar-benar membuahkan hasil, mereka pun lolos ujian!

– – –

Bahasan berikutnya, terkait dengan artikel-artikel yang suka beredar luas di masyarakat dan berdasarkan penelitian-penelitian psikologi oleh para ahli.

Misal, mungkin pernah ada yang mengatakan, “wajar”, namanya juga hidup berpasangan, apalagi dalam kehidupan berumah-tangga, berantem-berantem begitu itu “wajar”, bisa jadi bumbu asem-manis kehidupan berpasangan dan biar bisa jadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk ke depannya atau bahkan dapat diceritakan kepada anak-cucu kita.

Akan tetapi, kalau bisa nggak perlu berantem-berantem, kenapa harus “memaksakan” untuk berantem.

Terkadang stereotype-stereotype yang umum dan berlaku “pada umumnya” di masyarakat, yang dianggap “wajar” dan “biasa”, nggak perlu dijadikan “trend” juga atau beranggapan “ini lho track yg udah bener” atau “berarti kalau kamu “begini” itu sudah wajar lho“, dan sebagainya.

Terkadang artikel-artikel hasil penelitian dunia psikologi untuk sebagian (kecil) orang memang nggak cocok.

Misal lagi, ada yang mengatakan “wajar”, ibu hamil kan pasti ngidam. Tapi nyatanya, untuk sebagian orang ternyata “perasaan ngidam” tersebut nggak muncul sama sekali sampai mereka melahirkan.

(bahkan dalam hal ini, Ibu saya yang orang Biologi murni, bilang, kalau “trend ngidam” ini hanya fenomena “ikut-ikutan” dan bahkan hanyak “efek pengaruh pikiran”, karena para ibu hamil ini senang membaca artikel-artikel terkait ngidam, dan berdasarkan pengalaman Beliau, anak sampai 3 begini, nggak pernah ngidam sama sekali, yang membuat saya malah bertanya-tanya “kok bisa Bu? wow”)

Kemudian ada lagi artikel yg mengatakan, untuk kehidupan berpasangan, nanti di usia mencapai 5 tahun ke atas, pasti akan muncul rasa bosan dan akan dimulai berantem-berantem kecil dan itu adalah “wajar”. Tapi nyatanya, banyak juga yang ternyata pasangan yang sudah hidup bersama selama 10 tahun ++, bahkan 20 tahun ++, nggak pernah sama sekali berantem, nggak pernah sama sekali merasa bosan, bahkan “dipaksa” untuk menciptakan “adegan” berantem pun, gagal juga, alias bener-bener nggak bisa berantem sama sekali. Nah lho.

– – –

Kalau nggak salah, cmiiw, di setiap penelitian-penelitian psikologi-psikologi tersebut biasanya pakai angka persentase-persentase. Misal, ingin membuktikan kondisi “begini (X)” pada masyarakat yang dianggap “umum” dan “wajar”, yang kemudian diharapkan hasil kondisi “begini (X)” memiliki persentasi paling besar mendekati mayoritas dari random sampel yang diambil. Akan tetapi kemudian terdapat catatan, bahwa kondisi “begini (X)” mengandung kesan atau konotasi negatif.

Misalnya seperti ini, diadakan suatu penelitian tentang tema sesuatu hal, yang penelitiannya sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang juga oleh para ahli dengan tema yang sama, kemudian menunjukkan hasil seperti ini:

86% orang itu ternyata memang “begini (X)” dan 14% lainnya “begitu (Y)”. Maka muncul stereotype “umum”, “oh wajar” kalau misal mengalami kondisi X. Padahal, sekali lagi padahal, kondisi X adalah kondisi dengan kesan negatif.

Kenapa harus memaksakan diri menjadi bagian yang 86% tadi yang “umum” dan dianggap “wajar” berlaku dalam masyarakat yang padahal merupakan sesuatu hal yang berkesan negatif?

Kalau kita bisa menjadi atau bahkan naturally menjadi bagian yang 14% yaitu kondisi Y dan memang golongan 14% ini merupakan sesuatu hal dengan kondisi yang positif, kenapa tidak?

– – –

Saat ini saya masih dan selalu percaya dengan kekuatan pikiran. Apa yang kita jalani, alami, dan lalui merupakan hasil buah pemikiran kita sendiri dan sesuai apa yang kita percayai. Dan saya masih dan akan selalu percaya nasehat para bijak yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, di mana, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

– – –

Well, hidup cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dan sepositif-positifnya.

– – –

Sama seperti yang sedang saya alami (eeaaa curcol). Saya yakin dan masih akan selalu yakin, Tuhan Bukan Tidak Percaya kepada kami, bukan, melainkan Tuhan Mempersiapkan waktu terbaik-Nya, dan saya sangat yakin kalau kami punya kesempatan yang sama dengan yang lain.

Andaikata pun, na’udzubillahimindzalik, sampai nanti di penghujung waktu masih “belum kejadian” juga, maka saya yakin, Tuhan Memang Punya Rencana Terindah untuk kami berdua dan mungkin Tuhan Memang Mempercayakan kami untuk suatu hal lainnya yang memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih. Dan toh pun jika benar demikian, na’udzubillahimindzalik, mungkin sudah beberapa masa yang kami lewati, di usia panjang kami insyaaAllah (aamiin) dan mungkin juga sudah beberapa aksi atau kegiatan positif yang sudah kami kerjakan, lalui, dan jalani, dan mudah-mudahan bisa bermanfaat juga.

Setidaknya juga, jika benar sampai di penghujung waktu nanti kami masih “belum-belum juga”, na’udzubillahimindzalik, setidaknya, kami pasti sudah berusaha semaksimal kami bisa, berbagai ikhtiar dan cara pasti sudah kami coba, dan tentu saja tidak akan ada penyesalan dan rasa kecewa sedikit pun kepada-Nya, karena rasa kecewa dan rasa sesal yang muncul adalah jelas bisikan setan.

Lagian, masa’ kita mau marah dan benci kepada Sang Maha Pencipta kita? Ya nggak to.

So jadi, tetap dan berusaha selalu positif. Kondisikan pikiran agar selalu positive thinking. InsyaaAllah “bonus”-nya pasti juga positif. (dan mudah-mudahan “positif” beneran, eeaaa, aamiin) 😀


– – –

X-Trans Arah Bandung,

23 September 2017

08.25 WIB

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (4)

Bertemu lagi dengan catatan hati mengenai konsep rejeki yang memang Tuhan telah persiapkan ke dalam kehidupan setiap insan di dunia. Dan di dalam pemahaman ini terkandung nilai religius yang semakin untuk bisa  eling, semakin untuk ingat selalu kepada Sang Pencipta bahwa Ia Tidak Akan Pernah Salah.

 

Memulai tahun 2016 ini, saya memutuskan untuk “menghilang” sejenak dari salah satu akun social media yaitu facebook, lebih tepatnya akun lama fb saya dan memutuskan untuk membuat lagi yang baru. Entahlah, semua hanya terdorong oleh perasaan “tidak enak” terhadap orang lain. Apalagi terutama apabila, mengalami masa transisi yang dirasa lumayan dalam hal kehidupan lingkungan sekitar. Sebelumnya saya juga sudah melakukan  “menghilang” secara utuh dari social media bernama path. Saya dulu berpikir, path ini betul sangat eksklusif ke dalam beberapa orang saja dalam lingkaran pertemanannya, namun saya merasa “ada yang kurang pantas” dari path ini. Lalu apa bedanya dengan grup-grup yang sudah terbentuk, misal di whatsapp atau line atau bbm dengan si path ini.

Pada intinya, mungkin betul, tidak semua orang bisa menerima apa yang kita keluarkan dari pikiran kita yang biasa kita tuangkan dalam setiap posting di social media milik kita, walaupun pada istilahnya itu adalah kita “menyampah” pada halaman rumah sendiri, belum tentu orang yang melihat juga turut senang.

 

quote

 

Anyway, kembali ke dalam konsep rejeki Tuhan.

Pada suatu kesempatan, saya kembali membuka lapak authentic di beberapa grup di facebook dengan menggunakan akun baru, di mana kondisinya saya tidak memasang profile picture. Dan kondisinya pada masa itu adalah sedang sering terjadi beberapa kejadian mengenai seller “bodong” yang pada akhirnya membuat banyak orang menjadi latah jika ingin bertransaksi dengan beberapa orang baru bagi mereka, para calon pembeli dari beberapa seller ini akan melakukan sesi “klarifikasi ke-trusted-an” yang biasanya suka dilakukan di halaman grup.

Namun entah memang karena memang sudah merupakan rejeki bagi saya, saya mendapatkan kesempatan yang mengesankan & membuat meningkatkan keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan Tidak Akan Pernah Salah. Alhamdulillah dengan tanpa ba-bi-bu, kedua orang calon customer saya saat itu langsung melakukan transaksi terhadap saya tanpa harus klarifikasi ini dan itu di halaman grup.

 

Saya semakin yakin apa yang sudah saya putuskan pada akhir 2015 lalu untuk mencoba “bertransformasi” menjadi pribadi yang lebih baru lagi ternyata keputusan yang benar. Saya yakin Tuhan Yang Telah Menuntun saya untuk melakukan hal tersebut. Maksud saya, walaupun ini adalah akun baru, bukan berarti Tuhan Menutup Jalur Rizqi saya di dalam usaha berdagang secara online ini.

 

– – – – –

23.03.2016

11.15 WIB

Female and Engineering Life (1)

Hello February! 🙂

Today I want to tell you a little bit story about my life as an environmentalist through these 2 (two) years of working experiences, or I could say my life after graduated from Environmental Engineering field for my Bachelor’s Degree last 2013. Also how I could be on this way today.

This writing is inspired by some friends, especially my girlfriends  who always have enthusiastic when they talked about their future dreams and their “what’s next to do” even though some of them are married and have babies.

– – – – –

Senior High School Graduate and “Choosing” Phase

After finished from senior high school, I admitted that I was included in “followers” type of person. I had a dream to be a police woman and wanted to continue my study to the Police Academy in Semarang, Central Java. But if I could say, maybe that was only because of I studied in semi-military senior high school which has similar school-type with the higher education of military-acamedy schools. My senior high school is applying military system, such as high disciplinary and applying boarding school system.

However, the fact said that I was a “follower” person, so I decided to try any opportunities ahead. Coincidentally, the Police Academy where I dreamed of to be part of it, didn’t open for new students in that year, 2008.
(I’m still wondering why they postponed it until a year ahead. Cmiiw. But I realize something that maybe it was what we always called as “God Always Makes a Good Plan for all of us in this world” and yes, God Always Knows the best for ourselves.)

Then I followed others to register for some tests to enter some universities, and my first preference was the UGM or Universitas Gadjah Mada which placed in Jogja, with majors I wanted to take were Dentistry and Electrical Engineering. Moreover, the UGM is near from my hometown, Banjarnegara which we only take 6 hours maximum to reach Jogja City from Banjarnegara. I took 2 (two) types of the UGM entrance examinations, but sadly I didn’t pass them all. Ha-ha. I felt really sad as if there’s no more options I could take. Well, I mean it. I had my weeping until 3 (three) days after. I don’t know why I was really sad and upset.

Then (again) I followed my friends to register another entrance examination for another university and it was the UnDip or Universitas Diponegoro which placed in Semarang, with majors I wanted to take were General Medicine and Electrical Engineering. Sadly, I was in very less information condition about various types of study fields in the university. That’s why I kept being a “follower” to others. I kept choosing what my friends chose. Really sad, wasn’t it? But before the UnDip test held, the ITB or Institut Teknlogi Bandung opened registration for its first type of entrance examination. Again, as a “follower”, I completed my registration form too like my friends did, whereas I didn’t really understand enough what study fields there were.

And it was my first inner turmoil throughout the university application processes..

Actually I really wanted to continue my higher education near my hometown, Banjarnegara which might be taken place in Purwokerto, Semarang, Jogja, or the furthest city Solo. I was a homesick type of person. I often felt it when I was still in senior high school. So I arranged my self hardly to be a student or a part of those near universities (which placed in those 4 cities). Until oneday I told my parents that I didn’t want to take another chances aside from the ITB’s entrance examination or the UnPad’s that is still also in Bandung area (same city with ITB and my senior high school), although my parents occasionally forced me to take another chances of other universities which placed in West Java area or Jakarta area, such as the UI and the IPB. No, I really didn’t want it. I said, the furthest city was only Bandung, not Bogor even more Jakarta! I remembered how angry I was. Ha-ha.

Well yes, words are words, I had to carry out what I just said to my parents. I had no other choices. So I took the ITB’s entrance examination and felt like I wouldn’t take it seriously, and wouldn’t make it. Besides it’s true that almost all the questions were really hard to be solved. I was hoping I would be rejected and could came back to my region, Central Java area. That examination held after I failed 2 (two) tests of the UGM’s. And again,  coincidentally the UnPad hadn’t open registration for its entrance examination yet.

About a month later…..

I remember that night, me and my generation, Teners were assembling in the school’s main hall  after our dinner activity before we came back to our dormitories. We were talking seriously about the national exams that would be occured in days ahead. I forget in detail, a day after that night if I’m not mistaken, me and my friends drove together into the counceling office. Yes, only for checking the announcement about the ITB’s entrance examination result. And it was really unexpected moment. Unbelievable. I read the announcement on computer screen again and again. I was stunned! I repeatedly inserted my test number and pressed “enter” only for making sure my self.

Well, well, yes. I passed the examination. But really, I felt like “floating” and on the contrary mind I started thinking that I had to deal with the separate ways again between Banjarnegara and Bandung and I had to enjoy it (again?), IF I took a chance be an ITB student. Yes, I mean it, “if”. I was in very doubtful almost a week until some friends came to me, advised me, even one of them was angry to me. They said I had to let the UGM dream go away, move on, and face the new destiny of me, accept it, enjoy it. Then one of them, his name is Pandu, he said with pressure words and a little bit like angry (because he’s really wanted to be an ITB student, but he failed on that test and felt upset), he said I HAD TO be grateful, move on, and MUST accept the chance! For a moment I was glued and started to think what he just said was so much true: I had to move on! And yes, finally by the time I realized it. But still, it was like a dream and until today I’m thinking I was just…..lucky.

(Pandu was failed on first type of ITB’s entrance examination but he made it on the second chance on the second type of its entrance examination. Today, he’s an expert geologist who’s working for one of BUMN company.)

image

Being a Woman, Life, Passion, Dreams

Well, yes. After that dramatically chapter of my life, finally I accepted the result and became more grateful and wouldn’t make it as a useless chance. I was happy and preparing my self for the next stage to be part of the Ganesha Campus.

I was in Faculty of Civil and Environmental Engineering department and took Environmental Engineering for my major.

Days became weeks, weeks became months, and months became years. As I said before, I was just lucky and might be it’s true that I don’t have any aptitude to be an engineer. I needed 5 (five) years to complete my Bachelor’s Degree by the final GPA score isn’t as good as others’.

But still, really Thank God that my journey as an amateur-graduate-engineer started right after I was announced as a graduate-to-be, after finished my final thesis examination. It was in July 2013. Before the graduation ceremony, by the help of my thesis supervisor, I joined a short-term project that only held in 2 (two) months. That was my first job as an environmentalist. I was so excited and very happy, even though the salary was (maybe) in low value. But truly, as a less-smart person, I wouldn’t make that chance useless. (I won’t say my self as an idiot or a dumb after all those years that everything I’ve faced. I’ll always appreciate my self in previous life inside “college chapter” and won’t feel regret at all.)

In January 2014, I moved to Jakarta with my husband (finally we’re officially married, :p) with jobless condition. Actually, it wasn’t a problem anymore for my self because I’m married. But since my husband has never felt objection if I went to work, so I tried to apply for some new jobs. And back again, lucky me, I was hired by a company to have role as a junior environmental engineer or we could say as an assistant of the environmental engineer expert for a project. The point is I still have a chance and still have my lucky to implement all of I’ve learned at the college into the environmental engineering world until today.

To be honest, at the first time I acquainted with the engineering world or the ITB’s world, I didn’t have an enough knowledge what engineering field study was. It has proven by the result of my final GPA score and the 5 (five) years I had to finish my study. (ha-ha) I felt hard passing day by day there, inside the ITB. That’s why I always underline the word “lucky” for that “ITB scene” of my life.

I used to think that is very impossible for me to get an environmental engineering job, again, I thought it would be related to my GPA score. But the fate said that actually I have same opportunity with others and I don’t need to feel low self-esteem. Well yes, to be honest, I’m still feel inadequate when I compared my self with my friends until today. Nonetheless, I’m trying to be more confident and fight my faint-hearted. And gradually, I’m accustomed by this engineering field and becoming enjoy with its world. Met new people then increasing my network have made my self to be more spirited, confident, and relaxed with anything that happened in working situation.

I trully never imagine that my life would be as wonderful as it is. Really Thank God for everything I have. Slowly but sure, even though I’m a female and now working at engineering field, I still have dreams to develop my self and increasing my skills through a higher education or some other ways I could take later. Might be true, nowadays I’m not good enough in this engineering world but it’s still possible for me to make it as my “real” passion for my future and for my entire life.

However, I have to realize my role in this world too, my responsibility as a wife and a mother (later, insyaaAllah). I have to balance my self among my family life, my hereafter life, my dreams, and anything I want to do.

The most important thing is everything that I lived in, must have gotten permission from my husband because in accordance to the God’s rule, my life is in his hands which I became his responsibility after the consent granted happened (ijab qobul procession). And for the reciprocal, I have to keep my self keep on positive-track and always be in the right way, even if I would be very ambitious for chasing my dreams. I hope someday I could be useful not only for my self or my family but also for people around me. Aamiin. Wish me luck then. 🙂

– – – – –
Matraman, 21.02.2016