Curhat Terbuka, Family & Friends, Hobby, Life, Travelling

Kenapa Jakarta?

“Kenapa Jakarta?”

Begitulah pertanyaan yang sering aku dengar dan aku dapat dari kerabatku.

 

Jakarta. Sebuah kota penuh impian. Sebuah kota yang kata banyak orang, adalah tempat di mana mimpi-mimpi untuk kehidupan dapat dimulai. Setidaknya, aku juga merasakan hal yang sama tentang perasaan itu terhadap Jakarta.

– – –

Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Source: http://www.instagram.com/mrs.ganis)

 

1. UMR Tertinggi di Indonesia

Dapat dikatakan, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, Provinsi DKI Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan UMR tertinggi di Indonesia. Untuk tahun 2018 ini saja UMR Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp 3.648.035,-.

Mungkin, ya mungkin, itulah salah satu alasan “Kenapa Jakarta?” ya karena hal tersebut di atas.

Oleh karenanya, Jakarta menjadi “surga” bagi para pejuang nafkah demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.

 

2. Teman-Teman SMA dan Kuliah 

Berjalannya waktu, aku pun ditakdirkan Tuhan untuk dapat mengenyam pendidikan tingkat SMA di Kota Bandung. Aku memang bukan asli Jawa Barat dan Jakarta, melainkan asli Jawa Tengah.

Entah bagaimana cerita, setelah lulus dari SMP, kemudian karena cita-cita yang gagal untuk dapat masuk ke sebuah SMA Swasta ternama di Kota Magelang, dan berkat ketidak-sengajaan kedua orang tuaku yang saat itu sedang ada acara gathering kantor Ayahku di Kota Bandung, yang membuat mereka bertemu dengan rombongan senior almamaterku yang sedang melaksanakan Pesiar Hari Minggu, jadilah aku pun dapat meneruskan jenjang pendidikan SMA ke sekolah yang mirip  dengan sekolah impianku dulu di Kota Magelang.

Selepas masa SMA, lagi-lagi Tuhan Menakdirkanku untuk meneruskan pendidikan di Kota Bandung. Walau pengalaman 3 tahun berasrama sesungguhnya membuatku homesick dan selalu ingin kembali ke Jawa Tengah agar dekat dengan kedua orang tuaku, namun tetap, Tuhan Berkata lain. Aku tetap stay di Kota Bandung selepas SMA, hanya berbeda lokasi saja.

Dan entah bagaimana cerita, banyak teman-teman saat SMA dan kuliah yang pada akhirnya meneruskan kehidupan mereka masing-masing di kota Bandung, Jakarta, dan area sekitarnya. Apalagi jarak Bandung-Jakarta hanya membutuhkan waktu 3 jam saja jika menggunakan transportasi umum kereta api dan plus-minus 2 jam (jika lancar) via tol.

Oleh karenanya, jika terdapat acara-acara, seperti pernikahan teman-teman, reuni komunitas-komunitas saat SMA dan kuliah, maupun reuni akbar dan reuni angkatan dari almamater-almamater itu sendiri, sudah pasti akan sering dilakukan di antara kedua kota tersebut, entah di Jakarta maupun Bandung.

 

3. Komunitas

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, aku pun memulai mencicipi kegiatan dagang kecil-kecilan untuk mengisi waktu-waktu kosong. Dari kegiatan tersebut, aku pun bertemu dengan teman-teman yang pada mulanya bertemu secara maya, yang kini berteman secara nyata juga.

Komunitas yang aku ikuti tersebut berisikan orang-orang yang memang asli Jakarta dan orang-orang rantau sepertiku yang meneruskan kehidupan di Jakarta. Komunitas ini beranggotakan ibu-ibu atas kesamaan hobi. Dan aku senang berada di dalamnya. Banyak informasi yang didapatkan dari komunitas tersebut, yang dapat kujadikan pelajaran dan pengalaman bekal hidup untuk ke depannya.

Sebenarnya tidak hanya komunitas ibu-ibu saja yang aku ikuti. Ada juga komunitas-komunitas alumni seperti organisasi alumni almamater, baik SMA maupun kuliah, yang mana banyak kegiatan juga dilaksanakan di antara Jakarta maupun Bandung.

 

4. Pekerjaan

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, kebetulan memang pasanganku memulai karir di Jakarta. Jadilah aku pun mendampingi Beliau untuk hijrah ke kota tersebut.

Pada mulanya aku memang tidak bekerja saat menapaki kaki di kota Jakarta ini. Saat itu memang, kondisinya, setelah lulus kuliah, aku langsung mau saja dipersunting calon suamiku saat itu untuk menjadi istri Beliau. Toh aku sudah merasa siap dan sudah merasa cocok-cocok saja tiada masalah, jadi untuk apa harus menunggu-nunggu lebih lama lagi. Hehe.

Baru setelah menikah, dengan suasana sebagai fresh graduate, aku pun baru mulai “menjelajah” dunia kerja yang kiranya cocok dengan latar belakang pendidikanku.

Dan lagi-lagi, dengan hanya jeda waktu kurang-lebih 3 bulan saja selepas menikah, Tuhan pun Memberikan rejeki itu kepadaku. Akupun memulai pengalamanku dalam dunia kerja di sebuah daerah di Jakarta juga. Saat itu adalah awal tahun 2014. Dan hingga detik ini, aku pun telah terlibat ke beberapa project dan semuanya berlangsung di Jakarta.

 

5. Rumah Sakit dan Dokter yang Kompeten untuk Program Hamil

Aku pikir, setelah menikah, yang namanya memiliki anak itu adalah perkara yang sangat mudah. Ibaratnya, toh sudah sah ini kan, gampang lah… Begitu pikirku dulu. Ternyata tidak demikian.

Pertengahan 2015 lalu, aku pun memulai untuk mencoba mencari-cari informasi terkait program hamil yang ada di Jakarta dan beberapa dokter Sp.OG ternama dan terkenal, khususnya dokter perempuan, yang ternyata memang banyak ditemukan di Jakarta. Walau saat itu belum mengikuti program secara sungguh-sungguh dan terhenti antara 2016 – 2017, namun pada akhir tahun 2017 lalu, aku dan pasangan baru memulai kembali untuk berprogram kembali.

Berkat dari teman-teman komunitas juga, yang memang most of them adalah asli orang Jakarta, lahir dan besar di Jakarta, aku pun mendapatkan banyak informasi dari mereka terkait rumah sakit dan dokter bagus untuk program hamil. Dan memang ternyata banyak sekali ditemukan di Jakarta.

 

6. Hiburan dan Surga Dunia

Selain karena alasan-alasan utama di atas, aku pun menemukan kenyamanan di dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta. Ditambah tempat-tempat belanja sehari-sehari seperti pasar, terasa lebih banyak warna dan pilihan di kota ini, dibandingkan dengan kota asalku dulu di Jawa Tengah.

Kemudian tempat-tempat hiburan untuk refreshing. Mungkin bagi sebagian orang merasa bosan mainnya ke mall lagi, ke mall lagi. Tapi bagiku, justru tidak. Tidak pernah ada rasa bosan untuk menapaki tempat-tempat hiburan tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat saja. Biasanya di dalam mall, ada yang namanya toko buku, itulah yang membuatku juga semakin menyukai untuk berkunjung ke mall.

Di Jakarta juga, aku banyak menemukan momen dan hiburan di mana saat masa kecilku dulu, aku tidak mampu dan tidak dapat merasakannya. Seperti halnya mainan-mainan dan kesukaan masa kecil, yang dulu hanya dapat melihat milik orang lain atau hanya melihat di majalah maupun TV, akhirnya di masa dewasa ini ternyata banyak kutemukan di Jakarta. Ditambah saat ini aku sudah memiliki penghasilan sendiri, sehingga tanpa harus melibatkan pasangan, aku pun sudah dapat memenuhi keinginan sangat tersier tersebut.

 

– – –

Jadi, itulah alasan-alasanku saat ini yang mungkin membuatku betah dan nyaman untuk hidup dan tinggal di kota Jakarta. Ditambah juga saat ini, aku menjalani kegiatan sehari-hari tanpa bertemu dengan macetnya Jakarta sama sekali. Yap, sama sekali. Mungkin faktor tersebutlah yang membuatku semakin merasa nyaman dan betah untuk tinggal di kota ini.

Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti, aku akan mulai move on dan jatuh cinta dengan kota lain. Who knows. 🙂

Advertisements
AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

 

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

 

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa Gading.

 

Sekali lagi saya sebutkan, lokasi hotel ini saaaaangat dan superrrrr strategis. POP! Hotel Kelapa Gading menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Kali ini saya berkesempatan menginap selama 4 hari 3 malam dan saya hanya, ya, hanya, memerlukan Rp 1.000.000,- ++ lebih sedikit. Entahlah, bagi saya jumlah sekian termasuk murah, jika dibandingkan dengan lokasi yang super strategis seperti ini. Apalagi jika dibandingkan dengan postingan saya sebelumnya mengenai hotel ini di mana harga per malam saat itu adalah Rp 425.000,-.  Plus, ini momen peak season lho, di saat suasana Tahun Baru. Jadi semakin berasa “murah”nya. Dan saya memesan hotel tersebut 2 bulan sebelum kedatangan melalui aplikasi Agoda.

 

– – –

 

Day 1 – Jumat, 29 Desember 2017

 

Jauh-jauh hari saya memang sengaja memesan untuk dapat menginap sejak hari Jumat, walau dulu jauh hari tersebut saya sudah berpikir dan tahu jika hari Jumat, 29 Desember 2017 belum libur dan bukan hari cuti bersama. Walau demikian saya hanya berpikir bahwa saya ingin “memulai” liburan long weekend saya dengan sudah berada pada hotel. Jadi, bangun tidur di pagi hari di hari Sabtu-nya, saya sudah dapat bermalas-malasan dengan suasana hotel, tanpa harus bergerak bersiap menuju lokasi liburan.

 

Alhamdulillah, tibalah juga hari Jumat tanggal 29 Desember 2017 tersebut, dan di Jumat siang harinya saya dapat “kabur”, mengingat suasana kantor juga sudah sepi sekali, dan sebenarnya banyak juga yang mengambil jatah cuti di hari tersebut.

 

Tadinya saya berniat ingin naik Kereta Commuter Line (KRL) dan nyambung-nyambung menggunakan Kopaja. Namun saya mengurungkan niat dan memikirkan saran pasangan untuk langsung naik ojol alias ojek online langsung dari kantor (di selatan) menuju Mall Kelapa Gading (di utara).

 

Sebenarnya yang terpikirkan oleh saya kemudian malah naik ojol nyambung-nyambung, misal dari kantor (Jakarta Selatan) ke Jakarta Pusat (sekitar Bundaran Hotel Indonesia atau Sudirman), kemudian dari  titik Bundaran HI atau Sudirman tersebut baru melanjutkan kembali ke Jakarta Utara (MKG). Karena saya berpikir, “sepertinya nggak mungkin ada yang mau ambil, kalaupun ambil nanti takutnya misuh-misuh”, dsb.

 

Namun  saat saya mencoba order langsung menuju Mall Kelapa Gading (MKG), ternyata ada yang mau! Saat datang pun saya langsung bilang ke Bapak Driver Ojol, “ke utara nih ya Pak, hehe”. Dan ternyata…..malah si Bapak Driver adalah orang Bekasi yang mungkin Bekasi-nya berbatasan langsung dengan area Pulogadung, yang jadinya malah lokasi tujuan saya di Kelapa Gading jadi semakin dekat dengan rumah Beliau. Haaah…..beruntunglah saya. *senang*

 

Saat sampai, beruntunglah saya sudah sekitar pukul 1 siang, sehingga sudah memasuki jam check in, alias sudah bisa check in. Ditambah, belum ada antrian check in. Yeay! Dan lebih beruntungnya lagi, saya mendapatkan service dari Mbak Resepsionis yang baaaik banget dan super ramah. Mood langsung hepi. Plus, request-request  yang saya sebutkan pada order sebelumnya, terpenuhi semua, lantai tertinggi dari jenis kamar yang dipilih, non-smoking room, dan view menghadap ke arah selatan atau arah mall sampai La Piazza. Alhamdulillah…

 

Dan beginilah penampakan kamar kami, simpel namun nyaman.

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami dengan Kamar Mandi Simpel Tanpa Bathtub Hanya Shower

 

Penampakan Kamar Kami

 

Setelah istirahat sejenak, saya langsung menuju ke area food court mall untuk mencari makan siang.

 

Ruang Makan Hotel yang Menyambung dengan Lantai 3 Mall Kelapa Gading Bagian Food Court

 

Pasangan baru sampai sekitar pukul 19.30 WIB. Beliau tidak ikut “kabur” seperti yang sudah saya lakukan. Tentu saja tidak, biarkan Beliau serius di dalam mencari nafkah tanpa saya ganggu-ganggu. Hehe. Eeeaaa… XD

 

Malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film Si Juki The Movie. Usai menonton, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel, mencari tempat makan yang mungkin masih buka. Karena sudah hampir tengah malam, terlihat sudah semua tempat makan yang berjajar banyak di sepanjang jalan kuliner Kelapa Gading tutup. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata masih ada yang buka (dan bukan tempat dugem tentu saja), tempat makan hits  kekinian, yaitu Warunk Upnormal.

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Oiya, setelah sekian lama tidak bermain ke area Kelapa Gading, sekarang ada perubahan pada Mall Kelapa Gading-nya, terutama bagian MKG 1 dan MKG 2. Seperti sekarang, bioskop yang biasanya ada di MKG 1, sekarang semuanya menyatu di area bioskop MKG 3 di lantai 3 yang satu lantai dengan area food court. Dan nama mall sudah berubah ditambah dengan nama developer-nya yaitu menjadi Summarecon Mall Kelapa Gading.

 

Selain itu juga, di sekitar MKG ini, terutama di jalan raya bagian depan MKG, kini sedang dibangun jalur LRT di mana LRT ini panjangnya sampai menuju area Cikarang, Bekasi (cmiiw).

 

 

Day 2 – Sabtu, 30 Desember 2017

 

 

Sabtu pagi kami lalui di dalam hotel saja. Dan baru memasuki waktu brunch, kami memutuskan untuk ke Dunia Fantasi yang berada di area Ancol, Jakarta Utara. Yeay!

 

Sebelum berangkat, kami sudah berpikir, sudah pasti nanti saat di area wisata tersebut akan saaangat ramai orang, mengingat ini adalah hari libur nasional dan semua orang di Indonesia juga libur! Dalam arti, wisatawan domestik yang datang di DuFan tidak hanya orang Jakarta atau orang yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, melainkan banyak juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Benar saja, saat kami sampai sekitar pukul 11 siang, kami melihat buanyaaak sekali orang yang akan masuk ke DuFan.

 

Antrian Panjang Masuk Dunia Fantasi di Libur Panjang Tahun Baru 2018

 

Jadi, saat kami datang, terdapat promo Tiket Masuk Annual yang harganya sama dengan Tiket Masuk Reguler sebesar Rp 335.000,-. Tiket Masuk Annual  ini merupakan tiket masuk ke DuFan di mana sepanjang tahun 2018, kita dapat masuk DuFan secara free alias gratis. Jadilah semua orang yang datang membeli tiket masuk yang Tiket Masuk Annual.

 

Formulir yang Harus Diisi untuk Mendapatkan Annual Card Dunia Fantasi

 

Semakin siang semakin panas. Antrian pun semakin mengular. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan manca negara saya lihat ikut meramaikan suasana liburan di Dunia Fantasi siang hari itu.

 

Antrian di “Balai Kota” Dunia Fantasi untuk Menukar Formulir Isian dengan Annual Card

 

Setelah mengantri hampir 30 menit lamanya, akhirnya kami pun mendapatkan tiket masuk yang ternyata kami harus mengantri kembali di “Balai Kota” yang baru kemarin saat ke DuFan saya ketahui bahwa terdapat bangunan baru miniatur Taman Fatahillah lengkap dengan gedung Balai Kota Jadul. Nah di dalam gedung tersebutlah kami menukar tiket masuk annual kami, dengan sebelumnya juga kami harus mengisi formulir yang telah disediakan. Well, kembalilah kami mengantri selama kurang lebih 20 menit-an. Haha.

 

Akhirnya, setelah 30 menit-an kami mengantri, didapatkanlah Annual Access Card kami, yeay!

 

Annual Card Dunia Fantasi

 

Setelah mendapatkan kartu dan akhirnya beneran bisa masuk, kami tidak langsung menuju wahana, melainkan beli jajanan kentang goreng dulu di dekat pintu masuk, dekat komedi putar, haha. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Dan…kami pun kembali mengantri. Hahaha. XD

 

Untunglah tidak lama kemudian, kami pun sudah mendapatkan kentang goreng kami.

 

Dan wahana pertama yang kami coba adalah Tornado! Awalnya saya hanya iseng saja menyebutkan ingin naik wahana tersebut kepada pasangan. Sembari makan kentang goreng kami, kami bersama pengunjung lain di bagian pedestrian samping wahana, menyaksikan para pengunjung yang sedang naik wahana tersebut. Nampaknya seru! Begitu saya pikir. Plus, nampaknya antrian Tornado masih saaangat sepi bila dibandingkan dengan wahana-wahana lain. Jadilah setelah menghabiskan kentang goreng kami, naiklah kami ke wahana.

 

Hasilnya? Saya mual, benar-benar mual! Seru memang naik wahana Tornado, tapi tidak lagi-lagi deh. Masih untung saya tidak sampai muntah-muntah. X(

 

Muka Udah Mau Nangis Ketakutan 😦

 

Wahana berikutnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Boneka. Kondisi perut yang masih sangat mual dan saya yang hampir menyerah, membuat saya meminta kepada pasangan untuk naik wahana yang santai-santai saja.

 

Awalnya ragu saat akan memasuki wahana Rumah Boneka tersebut, mengingat antrian yang menguuular puanjaaang sekali. Akhirnya kami pun tetap masuk ke dalam antrian. Yah, begitulah suasana libur panjang. Di wahana manapun pasti ramai.

 

Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kami pun mendapat giliran untuk masuk ke dalam wahana dengan menaiki perahu yang digerakkan oleh pompa untuk menyusuri dan melintasi bagian dalam Rumah Boneka.

 

Usai dari Rumah Boneka, kami memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang dapat kami makan di siang hari tersebut.

 

Sampailah kami di area Rumah Jahil dan Rumah Miring. Di sana terdapat kedai snack yang sepertinya baru buka, di mana ia menawarkan snack cumi-cumi yang dipanggang, di mana cumi-cumi tersebut di-press ke dalam mesin panggang, dan penyajiannya ditusuk sate. Rasanya? Yummy…! 

 

Korean Roasted Squid Mashita

 

Setelah makan snack gurita, kami melanjutkan petualangan kami untuk memasuki wahana Rumah Jahil dan Rumah Miring.

 

Sebelum lanjut kembali, saya beristirahat sejenak di sebuah panggung di dekat area tersebut. Saya tidur-tiduran sejenak beberapa menit. Tidak hanya saya yang rebahan beristirahat, terlihat beberapa pengunjung lain juga tidur-tiduran di sekitar kami. Beruntunglah saya dan pasangan masih mendapatkan space untuk beristirahat, mengingat panggung tersebut sangat kecil.

 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar.

 

Usai sholat, kami penasaran dengan wahana Ice Age yang saat itu sedang tidak beroperasi, akan tetapi terlihat ada 2-3 orang petugas yang berdiri di depan wahana tersebut seperti sedang menjaga sesuatu tapi tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Kami pun menghampiri dan menanyakan wahana Ice Age yang tutup tersebut. Namun ternyata, dari jawaban para petugas tersebut, walau Ice Age tidak beroperasi, di dalam gedung wahana terdapat wahana lain seperti Perahu Ice Age yang dapat berputar-puar dan wahana Hello Kitty.

 

Di dalam gedung juga terdapat tempat jajanan dan makanan. Dan saya memutuskan untuk membeli sebuah nasi dalam mangkuk kertas yang ternyata sepertinya anak perusahaan Hoka-Hoka Bento. Usai makan, kami melanjutkan masuk ke dalam wahana Rumah Hello Kitty.

 

Rumah Hello Kitty

 

Usai dari Rumah Hello Kitty, kami melanjutkan ke wahana yang saat itu sedang sering ditayangkan dalam iklan Dunia Fantasi di TV, yaitu wahana permainan Galactica. Lokasinya bersebelahan dengan restoran cepat saji Mc Donald di bagian dalam.

 

Seperti yang sudah ditebak, betul saja, antri panjang! Haha. Yasudah, karena penasaran, kami pun ikut mengantri. Selama kurang lebih 1 jam-an, akhirnya kami pun mendapat giliran masuk ke dalam wahana.

 

Akan tetapi………………..

 

Ternyata “menu utama” wahana tersebut yaitu tembak-tembakan, mendadak tidak beroperasi dan terjadi masalah teknis di dalam pengoperasiannya.

 

Yah……….penonton kecewa. 😦

 

Kami pun diarahkan keluar wahana dengan diberikan cap stempel tambahan di tangan kami, agar nanti jika sudah dapat beroperasi kembali, kami dapat masuk melalui Pintu Khusus pemegang Kartu Premium  tanpa mengantri. Tetap saja, kami menjadi kecewa. Karena sudah hampir 1,5 jam kami mengantri, eh, malah batal bermain. Hiks, hiks. 😦

 

Terlihat Petugas Wahana “Galactica” yang Panik dan Bingung Rembugan

 

Baiklah, daripada kami memendam kesedihan, akhirnya kami memutuskan ke area wahana Bianglala. Namun ketika melihat antriannya plus hari sudah mulai gelap, pada awalnya saya agak malas. Namun karena saya penasaran dan belum pernah sama sekali naik wahana tersebut sebelum-sebelumnya saat mengunjungi DuFan, akhirnya kami pun ikut ke dalam antrian panjang tersebut.

 

Dan…kembali. Setelah hampir 2 jam kami mengantri, akhirnya kami dapat masuk ke dalam wahana. Hah…akhirnya. Kalau dipikir-pikir, kok kami mau-maunya ya mengantri lagi selama itu, padahal sebelumnya kami sudah mendapatkan zonk setelah mengantri selama 1 jam-an. Haha.

 

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami menyudahi petualangan kami di Dunia Fantasi Ancol.

 

Oiya, setelah turun dari wahana Bianglala, kami melihat kalau wahana Ice Age MENDADAK dibuka dooonk. Hahaha. Namun karena badan sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kelapa Gading.

 

Sesampainya di Kelapa Gading sekitar pukul 20.30 WIB, kami langsung menuju ke restoran seafood yang di malam sebelumnya kami melihat sudah tutup. Namanya adalah Rumah Makan Seafood Wiro Sableng 212. Saya terbayang-bayang dengan Kepiting Raksasa yang pernah saya makan beberapa waktu sebelumnya di Rumah Makan Kepiting Asap Cendrawasih Lebak Bulus. Di restoran Wiro Sableng 212 ini juga tersedia menu kepeting raksasa tersebut dengan beberapa bumbu pilihan.

 

Makan Malam Besar di Rumah Makan Seafood “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kepiting Saus Telur Asin “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Udang Goreng Saus Mentega “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

 

Berhubung hari itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan akan menikmati nonton film midnite di MKG. Karena midnite hanya ada di hari Sabtu saja, tidak ada di hari lain. Kami sudah membeli tiket sejak kami masih di DuFan di siang harinya. Film yang kami tonton adalah Bleeding Steel, di mana pemeran utamanya adalah Jackie Chan.

 

Sekitar pukul 2 pagi, kami pun menyudahi aktivitas kami di hari Sabtu tersebut.

 

 

Day 3 – Minggu, 31 Desember 2017

 

Hari Minggu pagi kami mulai seperti biasa dengan sarapan di dalam hotel. Ternyata memang betul, pengunjung hotel di liburan panjang kali itu benar-benar ramai! Tidak seperti pada kunjungan kami sebelumnya pada hotel ini.

 

Hari itu kami memutuskan untuk ke daerah Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Menurut berita di TV beberapa waktu lalu yang pernah saya lihat, sedang diadakan bazaar besar-besaran dari beberapa instansi bertajuk “Big Bang Jakarta“. Memang sih, suasana pada acara tersebut tidak seramai saat PRJ. Acara tersebut lebih ke ajang acara cuci gudang diskon akhir tahun.

Naik Bajaj dari MKG 3 Menuju PRJ Kemayoran

 

Minggu pagi itu langit tidak begitu cerah seperti pada hari sebelumnya dan agak sedikit mendung. Kami memutuskan pergi ke Kemayoran dengan menggunakan bajaj yang memang sedang ngetem di depan Mall Kelapa Gading 3.

 

Sesampainya di JIExpo Kemayoran, kami disambut oleh petugas dari JakFM. Mendadak kami ditawari promo untuk masuk gratis ke dalam acara pameran dengan cara meng-install aplikasi radio tersebut. Akhirnya kami pun mengikuti arahan dari mas petugas tersebut dan mendapatkan free tiket masuk.

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Setelah masuk ke area pameran, kami langsung menuju spot tempat makan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berkeliling. Saat kami makan, benar saja, hujan turun sangat deras! Angin juga bertiup sangat kencangnya. Bahkan air hujan sampai terciprat ke bagian teras dalam bangunan saking deras dan kencangnya. Beruntungnya tidak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Dan tidak sampai 30 menit, hujan pun sedikit reda.

Menu Makan Siang Hari Itu

 

Suasana Hujan Angin Deras – View dari Tempat Kami Makan Siang

 

Saya dan pasangan pun kembali meneruskan kegiatan usai makan siang dengan masuk ke dalam beberapa area pameran di dalam gedung.

 

Seperti biasa terdapat peralatan rumah tangga, elektronik, handphone, mainan anak, kosmetik, bahkan travel fair pun juga diselenggarakan dalam bazaar. Terlihat antrian tersendiri untuk acara travel fair tersebut. Dan travel fair  tersebut diadakan oleh maskapai Sriwijaya Air.

Salah Satu Suasana Bazaar “Big Bang Jakarta”

 

Kami pun puas berkeliling, namun tidak ada satu pun barang yang berhasil kami lirik, akhirnya kami menuju ke pusat kuliner kembali. Di sana kami akhirnya malah menikmati kuliner durian yang katanya asli dari Medan. Mantab!

 

Kuliner Durian Asli Medan

 

Setelah makan durian, kami memutuskan pulang kembali saja ke Kelapa Gading. Kami pun beristirahat sore hari hingga waktu Isya’ di dalam kamar hotel. Sembari suami tidur-tiduran dan main game, saya menelepon Ibu saya yang juga sedang beraktivitas liburan tahun baru di sebuah tempat yang sejuk bernama Sarangan yang dekat dari Cepu. Ibu tidak sendiri, Beliau ditemani Ayah dan adik saya, serta bersama dengan teman Ayah di Cepu.

 

Sore hari tersebut, saya menikmati betul-betul suasana menjelang Maghrib. Pasca hujan, langit begitu indah dan sangat cerah. Terlihat semburat orange di ujung selatan sana.

 

Suasana Sore Hari Terakhir 2017 – Lokasi Kelapa Gading

 

Selepas Sholat Isya’, kami memutuskan untuk berkeliling mall sepanjang MKG 5, MKG 3, MKG 2, MKG 1, dan La Piazza. Kami juga mencari tempat untuk aktivitas makan malam kami.

 

Namun apa yang terjadi? Tempat makan – tempat makan yang menjadi tujuan dan keinginan kami, semuanya full alias penuh dan harus waiting list jika ingin benar-benar makan di tempat-tempat tujuan kami tersebut. Berawal dari 1 tempat, pindah ke tempat lain karena tujuan awal full, yang berujung nggak nemu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar mall dan berjalan ke area rumah makan seafood yang berjejer.

 

Akhirnya saya masuk ke dalam Rumah Makan Seafood Pondok Pangandaran. Akhirnya makan seafood lagi malam itu. Haha. Beruntungnya masih ada tempat, terutama bagi kami yang hanya berdua saja.

Rumah Makan Seafood “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

 

Udang Jumbo Goreng Mentega “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Udang Jumbo Saos Pangandaran “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Usai makan malam, kami kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk tidak keluar-keluar lagi hingga tengah malam. Ya, tengah malamnya adalah malam pergantian tahun dari tahun 2017 menuju tahun 2018.

 

Di dalam menunggu datangnya tengah malam, kami pun hanya mengamati kondisi langit malam hari melalui jendela kamar kami. Sebenarnya terdapat acara konser musik di halaman La Piazza, namun kami tidak tertarik untuk masuk. Kami cukup memperhatikan dari jauh lampu-lampu suar yang menyorot ke langit yang bersumber dari panggung acara konser tersebut. Kebetulan memang view kamar kami ini adalah yang menuju ke arah mall dan La Piazza.

 

Kami juga melihat acara di TV yang menyiarkan siaran langsung acara pergantian tahun di berbagai daerah di Indonesia. Setengah jam menuju tengah malam, mulai terdengar suara kembang api dari kejauhan. Kami pun mulai heboh dengan mematikan lampu kamar dan mulai melihat ke arah luar kamar. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya dan suamipun mulai sibuk dengan hape-nya. Haha.

 

Tengah malam pun tiba. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari arah La Piazza, muncul juga kembang api terdekat dan terbesarnya. Karena beberapa menit sebelumnya, fireworks yang muncul hanya dari wilayah sekitar dan dari arah yang jauh-jauh.

 

Fireworks Mulai Muncul dari Arah La Piazza

 

Fireworks dari Arah La Piazza

 

Euforia kami malam itu benar-benar terasa. Sekitar pukul 00.30 WIB kami baru berangkat tidur.

 

Day 4 – Senin, 1 Januari 2018

 

Aktivitas pagi kembali berjalan seperti biasanya. Namun setelah Sholat Subuh kami memutuskan untuk kembali berlabuh ke Pulau Kapuk. Maklum, baru tidur 4 jam dan rasanya ngantuk sekali. Haha. Walau begitu kami tetap tidak melewatkan waktu sarapan kami di hotel. (nggak mau rugi bo’ hehe)

 

Sekitar pukul 11 siang kami sudah siap berkemas dan siap untuk check out dari hotel.  Sebelum pulang ke Pondok Pinang, kami menyempatkan datang sejenak ke area pameran “Star Wars” di dalam Mall Kelapa Gading 3 untuk sekedar melihat-lihat. Siang hari itu kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta Selatan dengan menggunakan taksi. Mengingat bawaan kami yang juga sudah “beranak” akibat libur panjang kali itu.

Pameran Star Wars di MKG 3

 

Berfoto dengan Lightsaber

 

– – –

 

Liburan usai. Akhirnya kami pun benar-benar dapat bersantai selama 4 hari full. Benar-benar rasanya energi recharged walau bagi sebagian orang berkesan “liburannya kok ke situ-situ lagi sih”. Hehe.

 

So, alhamdulillah. 🙂

Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Film, Travelling

Review Film “Susah Sinyal”

Halo lagi internet!

Kali ini saya ingin kembali me-review sebuah film, lebih tepatnya bercerita tentang sebuah film. Dan film yang akan saya bahas adalah film Indonesia. Judulnya adalah “Sunyah Sinyal” dengan disutradarai oleh Ernest Prakasa.

Sedikit cerita, Ernest Prakasa merupakan seorang Stand Up Comedian yang sebelumnya telah mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV Season Pertama yaitu tahun 2011 dan berhasil mendapatkan peringkat ketiga. Berjalannya waktu, Ernest malah terlihat semakin melebarkan sayapnya di dunia tulis-menulis buku dan membuat film.

Beberapa waktu sebelumnya, sebuah film berjudul “Cek Toko Sebelah” telah semakin membuat saya semakin “mengenal” sosok Ernest seperti apa di dalam dunia perfilman. Dari “Cek Toko Sebelah” juga, saya dapat menyimpulkan bahwa Ernest ini memang keren banget kalau harus membuat film ber-genre drama komedi berbobot. Tidak sembarang komedi, melainkan juga dapat memasukkan unsur nilai-nilai positif yang dapat diambil hikmahnya.

Seperti film Indonesia satu ini yang baru saja saya tonton, yaitu film “Susah Sinyal”.

Oiya, hokinya, saat kemarin membeli tiket nonton film ini, saya mendapatkan free CD Stand Up Comedy dari para pemain “Susah Sinyal“. Hehe.

 

Free CD Susah Sinyal

 

– – – – –

 

Susah Sinyal” mengisahkan kehidupan seorang wanita single parent yang sangat sukses dan bertipe workaholic dengan seorang anak yang sedang beranjak remaja. Dikisahkan wanita ini telah berpisah sejak lama dengan suaminya sejak anak perempuannya tersebut berusia 2 tahun.

Namanya adalah Ellen, seorang pengacara yang sangat sukses. Berjalannya waktu, Ellen memutuskan untuk membuat sebuah law firm sendiri di bawah pimpinannya dengan dibantu oleh sahabat terbaiknya yaitu Iwan. Ellen memiliki seorang anak perempuan yang saat ini sedang duduk di bangku SMA, bernama Kiara. Sehari-hari Ellen dikenal sebagai seorang wanita pekerja keras dan seorang ibu yang sangat sibuk.

Kiara sehari-hari ditemani oleh Oma-nya, yaitu Oma Agatha, Mama-nya Ellen. Kiara merasa bahwa Mamanya super dan sangat sibuk, sampai-sampai tidak memiliki waktu sama sekali dengannya. Dikisahkan bahwa Kiara dan Ellen jarang sekali berbincang. Ellen pun jika pulang ke rumah selalu di malam hari atau sudah sangat larut.

Hingga suatu hari, Oma Agatha terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Kiara pun akhirnya sangat bersedih karena kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan seseorang yang sangat dekat dengannya sehari-hari. Berjalannya waktu, Kiara membuat ulah di sekolah sampai-sampai Ellen pun dipanggil oleh pihak sekolah, yaitu Guru BK. Bincang, bincang, dan berbincang, Guru BK pun menasehati Ellen agar mengurang-ngurangi kesibukannya sebagai seorang pengacara dan sesekali mengambil waktu libur bersama dengan Kiara berdua saja.

Maka, ide rencana liburan pun Ellen utarakan juga kepada Kiara saat Ellen mengantar Kiara ke sekolah. Dikisahkan dalam fim bahwa Kiara memang sedang ingin mengunjungi sebuah pantai atau daerah baru yang belum pernah ia kunjungi, sementara Ellen menyerahkan sepenuhnya kepada Kiara ke mana tujuan wisata yang Kiara inginkan. Dan pilihan pun jatuh kepada Sumba, sebuah pulau cantik di Nusa Tenggara Timur.

Pada saat yang sama, law firm milik Ellen sedang menangani kasus perceraian seorang aktris yang sangat terkenal di Indonesia. Dan dalam waktu yang bersamaan dengan jadwal liburan ke Sumba, akan diselenggarakan sebuah sidang penting atas kasus tersebut, dan Ellen pun menyerahkan kepada Iwan, sahabatnya beserta anak magang bernama Astrid. Astrid inilah koneksi Ellen untuk mendapatkan travel agent di Sumba. Dan travel agent di Sumba ini adalah milik Tante-nya Astrid, Tante Maya.

 

 

Wisata ke Sumba

Akhirnya, sampailah juga Ellen dan Kiara di Sumba. Mereka dijemput oleh pegawai dari travel agent yang memang sudah dipilih Ellen untuk menemani perjalanan wisata mereka selama di Sumba.

Dikisahkan bahwa mereka berdua akan menginap di sebuah  hotel yang berlokasi persis di pinggir pantai. Dikisahkan juga bahwa Ellen dan Kiara tidak hanya berdua di sana, melainkan terdapat juga dua pasang honeymoon-ers  yang juga sedang menikmati liburan di sana.

Sebaliknya di Jakarta, sidang pun berjalan lancar.

Nah, mengapa film ini diberi judul “Susah Sinyal”, mungkin dikarenakan selama menginap di Sumba inilah, para peserta wisata susah sekali mendapatkan sinyal. Namun demikian, “akibat” dari  susah sinyal tersebut, maka Ellen dan Kiara malah dapat benar-benar menikmati waktu liburan mereka, walau sesekali Ellen juga “penasaran” dengan kondisi pekerjaannya di Jakarta.

Saat di Sumba inilah, penonton diberi suguhan pemandangan-pemandangan fantastis dan eksotis indahnya Pulau Sumba yang sudah mirip seperti pemandangan-pemandangan di luar negeri. Suasana Pulau Sumba digambarkan dengan hamparan savana yang sangat luas dengan beberapa kali diselingi ada adegan berkuda. Selain itu juga, Pulau Sumba juga digambarkan sebagai tempat yang sangat indah dengan keindahan air terjun yang dimilikinya. Benar-benar membuat diri ini menjadi ingin berkunjung ke Pulau Sumba.

 

 

Sepulangnya Kembali ke Jakarta

Sepulangnya kembali ke Jakarta, Kiara akan mengikuti sebuah audisi tarik suara di mana sebelum pergi berwisata ke Pulau Sumba, ia telah mengikuti audisi online untuk ajang pencarian bakat tersebut. Ellen berjanji akan selalu ada dan hadir di dalam segala persiapan audisi hingga pada hari-H audisi, termasuk di dalamnya menyiapkan pakaian yang akan dikenakan saat audisi nantinya.

Dan di sinilah konflik permasalahan pun mulai muncul. Pada hari yang sama dengan hari jadwal audisi, Ellen juga akan menggelar sidang yang sangat penting terkait dengan perceraian sang aktris yang sedang ia tangani saat ini. Pada jadwal rencana, sidang akan dilaksanakan pada pagi hari dan audisi akan dilaksanakan di siang harinya setelah jam makan siang. Namun, hal di luar dugaan pun terjadi. Sidang ditunda dan baru di mulai siang hari. Dan apes­-nya lagi, Ellen mem-flight mode­ ponselnya.

Audisi Kiara pun berlangsung, namun ia tidak dapat perform  dengan baik dan malah berhenti di tengah-tengah ia menyanyi. Kiara pun marah besar dikarenakan Mama-nya, Ellen, terihat tidak hadir di tengah-tengah Kiara melakukan audisi. Karena saking marahnya, Kiara pun kabur dan pergi dari rumah. Ia pun kembali ke Pulau Sumba dan bertemu Tante Maya di hotel yang sama.

Sementara Ellen baru selesai sidang saat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan ia pun baru sadar kalau ia telah melakukan kesalahan dengan lupa hadir dalam acara audisi Kiara di siang harinya.  Ellen pun buru-buru menyalakan kembali jaringan pada ponselnya dan mendapatkan laporan dari Saodah, Mbak di rumah, kalau Kiara sudah kabur pergi dari rumah.

Saat pulang ke rumah, Ellen sudah melihat kamar Kiara yang begitu berantakannya, pakaian audisinya yang sudah terkoyak, serta dekorasi kamar yang dibuat berdua pun juga sudah hancur. Ellen pun menyesal. Beruntunglah notebook milik Kiara masih menyala dan menampilkan ke mana tujuan Kiara pergi dan terlihat bahwa tujuan Kiara adalah kembali ke Pulau Sumba. Ellen pun berpikir untuk menyusulnya.

 

 

Kembali ke Pulau Sumba

Keesokan harinya, Ellen sudah sampai kembali ke hotel tempat ia sebelumnya berlibur bersama dengan Kiara. Terlihat Kiara begitu sangat marah dan tidak mau berbicara dengan Ellen saat Ellen menghampiri Kiara. Pergolakan emosi Kiara pun terjadi. Namun pada akhirnya Ellen pun berhasil menenangkan putrinya dan menunjukkan sebuah video kepada putrinya tersebut.

Dikisahkan dalam audisi tarik suara yang sedang diikuti oleh Kiara, salah satu juri merupakan idola Kiara, yaitu Andien. Dan video yang Ellen tunjukkan kepada Kiara merupakan video dari Andien yang menyatakan bahwa Andien mengajak Kiara untuk dapat berkolaborasi menyanyi bersama dengannya. Begitu video tersebut ditunjukkan pada Kiara, Kiara pun bangkit bersorak-sorak kegirangan karena saking bergembiranya. Ia tidak percaya apa yang baru saja Mama-nya tunjukkan padanya.

 

 

Happy Ending dan Pesta Tahun Baru di Jakarta

Pada akhir cerita dikisahkan bahwa akhirnya semuanya berbahagia dan senang bersama. Diselenggarakanlah sebuah pesta tahun baru kecil-kecilan di kediaman Kiara. Tante Maya beserta rombongan dari Sumba pun turut hadir meramaikan pesta tersebut. Akhirnya, Ellen pun menyadari bahwa keluarga adalah hal terpenting di atas segalanya. Keluarga adalah sesuatu yang jauh lebih penting dibandingkan dengan karirnya yang sedang bersinar. Ellen pun berjanji akan selalu ada di samping Kiara dan akan selalu hadir di manapun Kiara membutuhkannya.

 

– – – – –

 

Dari film “Susah Sinyal” inilah, saya dapat mengambil beberapa poin penting yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Diantaranya adalah:

  1. Sesibuk-sibuknya dan sesukses-suksesnya seorang Ibu, tetap ia adalah seorang Ibu yang memiliki tugas dan kewajiban kepada keluarganya.
  2. Bagaimana pun, bagi seorang Ibu, keluarga harus selalu menjadi prioritas utama, prioritas nomor satu dibandingkan dengan apapun, termasuk karir atau perkerjaan yang mungkin sedang dirintis atau mungkin sedang bersinar-sinarnya.
  3. Komunikasi antara anak dan orang tua sangatlah penting dilakukan, di usia berapapun, sekalipun sang anak sudah beranjak dewasa.

Jadi, begitulah kira-kira kisah dari film “Susah Sinyal” yang menurut saya sangat layak dan bagus untuk ditonton. Walau ber-genre drama keluarga, sentuhan-sentuhan komedi yang sangat lucu juga mewarnai sepanjang film dimainkan.

 

Tertarik menontonnya langsung? Berikut ini merupakan link trailer film “Susah Sinyal”.

Nah, bagaimana? Yuk, capcus segera ke bioskop-bioskop terdekat ya.

 

 

Family & Friends, Hobby, Life, Review Film

Review Film “Wonder”

Hello internet!

Wiii, nggak kerasa ya udah hari Minggu lagi aja dan ini artinya hari terakhir batas setor tulisan blog di tiap minggunya. Dan hari ini sudah masuk minggu ke-3 Bulan Desember, alias minggu rentang tanggal 11 – 17 Desember 2017. 

Sebenarnya tema tulisan minggu ini tidak ada, alias bebas, tidak seperti tulisan bertema seperti pada minggu sebelumnya. Nah, saking bebasnya, malah saya jadi bingung mau nulis apa-an. Haha. Padahal seharusnya, semakin tidak ditentukan tema tulisan, maka harusnya semakin “lancar” diri ini untuk menulis. Namun nyatanya malah tidak demikian. 😀 

Karena saking bingungnya mau nulis apa dan kalau boleh dibilang ini sudah terlalu last minute banget menulisnya, akhirnya diputuskanlah untuk me-review sebuah film yang baruuu saja saya tonton yang menurut saya sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk ditonton. Hitung-hitung tema tulisan kali ini sedikit ada “nyambung”-nya juga dengan tema tulisan minggu lalu yang bertemakan “me-time“. Dan judul film yang akan saya review adalah film “Wonder“.

Dan ini adalah bukti kalau tulisan ini benar-benar baru dibuat dalam waktu mepet di hari terakhir setoran. Haha. XD

Tiket Nonton “Wonder”

– – – – –

Sebelum lanjut kepada inti tulisan, saya ingin sedikit pamer bercerita. Boleh yes? 😀

Saya belum terbiasa membuat tulisan tentang review sebuah film, terutama film-film yang baru saja “nangkring” di bioskop. Kebiasaan “up to date” tentang film-film yang baru muncul di bioskop, membuat saya menjadi susah memulai menulis tentang sebuah film. Sedikit pamer cerita lagi, jika ada film yang baru rilis atau baru main di bioskop, kemudian rating dari imdb atau rotten tomatoes-nya bagus, dan memang saya dan pasangan ada waktu untuk menonton, maka hampir tidak mungkin saya dan pasangan tidak menonton film-film tersebut. Bahkan jika ada film Indonesia yang lucu atau seru menurut kami, maka kami pun pasti akan menontonnya. 

Karena kebiasaan “up to date” tersebut juga yang terkadang membuat perasaan “tidak enak” jika harus cepat-cepat membuat tulisan tentang film yang baru saja ditonton, apalagi jika film tersebut baruuu saja main. Takut menjadi spoiler juga kan. Sebenarnya memang lebay banget sih ya sampai “segitunya”, hehe. Sampai-sampai kami hafal hari perdana jadwal film tayang di bioskop, seperti kalau di Jakarta adalah hari Rabu dan kalau di Bandung itu hari Kamis (cmiiw). 

Nah, untuk film “Wonder” ini mudah-mudahan tidak terlalu menjadi sebuah spoiler ya, mengingat film tersebut sudah hampir sebulan nangkring di bioskop. Film “Wonder” ini memiliki rating yang sangat bagus, namun saat awal kemunculan film ini, saya berpikir karena ber-genre “drama” (dan saat itu takut merasa bosan), jadi “kurang diprioritaskan” bahkan berpikir menunggu saja download-annya. Duh. -_-“

Akan tetapi ternyata malah menjadi sebuah kebetulan jika menonton film ini setelah menonton film “Star Wars: The Last Jedi” yang baruuu saja muncul atau tayang di bioskop dalam minggu ini. Malah rasanya jadi “pas“. Hehe. Mengapa demikian? Jawabannya ada pada penjelasan di bawah ini. Yuk cekidot gan! 😀

– – – – –

Film “Wonder” ini merupakan sebuah film drama keluarga dan persahabatan yang memiliki banyak nilai edukasi bagi siapapun yang menontonnya. Walau ber-genre “drama”, saya tidak merasa bosan sama sekali menonton film ini dari awal hingga akhir. Rating imdb untuk film ini adalah 8,1 dan rating rotten tomatoes untuk film ini adalah 85% untuk tomatometer-nya dan 91% untuk audience score-nya. Rating yang sangat baik sekali bukan?

Di dalam film “Wonder“, kita sebagai penonton juga akan dibawa masuk ke dalam cerita dari sudut pandang yang berbeda-beda dari beberapa karakter dalam film ini dalam satu jenis kondisi. Ada Auggie (tokoh utama dalam film), Via (kakak perempuan Auggie), Miranda (sahabat Via), dan Jack Will (sahabat Auggie).

Film “Wonder” mengisahkan seorang anak bernama August Pullman (Auggie) yang terlahir dengan wajah yang berbeda dengan wajah orang-orang pada umumnya. Dikisahkan di awal film bahwa Auggie saat lahir, ia harus melalui berbagai macam operasi agar ia dapat mendengar, melihat, dan berbagai hal lainnya secara normal. Salah satunya adalah wajahnya yang berbeda tersebut. Film baru dimulai saja sudah membuat mata ini berkaca-kaca. :’)

Walau demikian, karakter Auggie ini merupakan anak yang sangat baik, sangat pintar, sangat pandai, menyukai sains, menyukai hal-hal berbau luar angkasa serta NASA, dan merupakan pecinta berat Star Wars. Dikisahkan dalam cuplikan-cuplikan scene bahwa ia juga hobi bermain lightsaber bersama dengan ayahnya. Nah, kan. Jadi nyambung kan kalau nonton film ini setelah nonton film Star Wars? Ditambah beberapa scene dalam film ini muncul beberapa karakter Star Wars. Semakin nyambung bukan?

– – – – –

Berawal dari orang tua Auggie yang berniat menyekolahkannya di sekolah umum, karena sebelumnya Auggie menjalani home-schooling yang dipandu oleh Ibunya sendiri. Auggie masuk pada grade kelas 5 SD.

Hari pertama sekolah Auggie dijalani dengan agak sedikit berat. Beberapa teman barunya banyak yang tidak terbiasa dengan penampakan wajah Auggie. Diilustrasikan pula saat ia melalui lorong sekolah bahwa orang-orang yang dilaluinya menatap heran saat ia berjalan melewati mereka. Namun di scene ini ia digambarkan sedang mengimajinasikan dirinya sedang berpakaian astronot yang sedang sangat bersemangat dan ada Chewbacca muncul untuk menyambutnya di hari pertamanya di sekolah. Kemudian setelahnya saat sesi perkenalan di kelas, muncul juga karakter Darth SidiousFilm baru dimulai sudah sedikit ber-aura Star Wars.

Film “Wonder”

Berjalannya waktu, Auggie  yang pada mulanya lebih banyak diam, sedikit bicara, dan tidak memiliki teman, akhirnya dapat berteman dengan baik dengan seorang anak bernama Jack Will. Bermula dari sebuah test dadakan dalam kelas sains di mana Auggie memberikan contekan jawaban kepada Jack. Walau demikian, dalam scene tersebut tidak bermaksud mengajarkan yang tidak baik kepada penonton, melainkan menonjolkan sisi komedinya yang mungkin juga malah dapat membangkitkan memori para penonton saat masih sekolah dulu.

Sebenarnya Jack ini pada mulanya bergerombol dengan anak-anak yang gemar mem-bully Auggie di kesehariannya. Namun berjalannya waktu itulah Jack merasa jauh lebih nyaman bersahabat dengan Auggie. Dan di dalam persahabatan mereka, terdapat konflik yang muncul yang juga dikisahkan dalam scene sudut pandang cerita Jack Will. Namun pada akhirnya Auggie dan Jack tetap dapat bersahabat dengan baik.

Di dalam film “Wonder” ini, penonton akan dibawa melihat suatu kejadian dari sudut pandang beberapa tokoh, salah satunya adalah Via, kakak perempuan AuggieVia merupakan gadis yang mandiri dan sangat pengertian dengan kondisi kerluarganya saat ini. Dikisahkan bahwa di dalam hati Via, terkadang ia merasa kalau kedua orang tuanya hanya memperhatikan Auggie dengan berbagai permasalahan yang muncul. Walau demikian, Via tidak pernah membenci Auggie sekalipun dan justru sangat sayang dengan Auggie. Saat berulang tahun yang ke-4, Via berharap agar kelak memiliki adik laki-laki. Dan Tuhan pun menjawab doanya dengan menghadirkan Auggie dalam hidupnya.

Karakter Via dikisahkan bersahabat karib dengan Miranda dengan konflik panjang diantara keduanya. Namun demikian, pada akhirnya Via dan Miranda pun tetap bersahabat dengan baik. Dalam film ini juga, penonton akan dibawa masuk ke dalam kehidupan pribadi Miranda dari sudut pandang cerita dirinya.

Secara keseluruhan, film ini sangat bagus dan sangat layak untuk ditonton. Dan film ini mengandung beberapa pesan yang dapat dijadikan hikmah, diantaranya adalah:

  1. Stop bullying! Jelas, kita dilarang menghina dan menjauhi seseorang hanya karena ia “berbeda”.
  2. Jadilah orang tua yang penuh kasih sayang, penuh cinta, serta penuh kebijaksanaan terhadap anak-anaknya, dalam kondisi dan situasi apapun dan bagaimanapun. Seperti yang dicontohkan oleh kedua orang tua Auggie dalam film.
  3. Bersahabatlah karena hati dan perilakunya, bukan karena fisiknya. Orang yang berhati dan bersikap baik, maka akan berteman dengan teman-teman yang baik pula, sebaliknya jika orang yang berhati dan bersikap buruk, maka akan berkumpul dengan orang-orang yang jahat hati dan perilakunya.
  4. Jadilah apa adanya dirimu, jadilah diri sendiri, tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Jujurlah dengan kondisimu apa adanya. Orang lain akan menghormati atas sikap kejujuran yang sudah kamu miliki, daripada kamu harus berpura-pura di hadapan orang lain.

Berikut ini adalah link trailer film “Wonder“:

Oiya, ada kutipan sangat menarik yang saya dapatkan dalam film ini, yaitu:

“When given the choice between being right or being kind, choose kind.”

Jika harus dihadapkan pada kondisi untuk memilih melakukan yang benar atau melakukan yang baik, maka pilihlah yang baik.”

Quotation inilah yang membuat saya baru sadar mengapa ada banyak hashtag #ChooseKind  di Twitter dan Instagram yang berkaitan dengan film “Wonder“.

Nah, tertarik untuk mulai memutuskan menonton film ini? Yuk, tunggu apalagi? Segera capcus ke bioskop terdekat yaa. Selamat menonton! 🙂

AMG, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Travelling

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.

 

  1. Permainan Ini Berhasil Membuat Saya dan Suami Menikmati CFD-nya Jakarta untuk PERTAMA KALI-nya, Sampai-Sampai Membuat Kami Berjalan Kaki Selama Kurang Lebih 5 Jam Berjalan Non-Stop!

 

Apa? Hanya karena Pokémon GO baru jalan-jalan dan main ke CFD? Seriusan lo?

 

Beberapa kawan sempat ada yang bertanya demikian saking tidak percayanya. Bagaimana tidak, saat itu sudah hampir 3 tahun kami (saya dan suami) merantau ke ibukota dan tempat tinggal kami  saat itu kalau boleh dikatakan sangat dekat dengan area Car Free Day (CFD) Sudirman. Ya, kami tinggal di area Perempatan Matraman, dekat dengan halte TransJakarta Matraman, di mana kalau naik Bus TransJakarta kami dapat langsung menuju ke area Sudirman dengan sekali jalan tanpa transit, itu pun hanya beda 3 halte saja, dekat bukan? Namun apa? Kami belum pernah sekalipun “mencicipi” suasana CFD Sudirman sepanjang menuju 3 tahun kami tinggal di Jakarta tersebut. Selalu saja ada banyak alasan untuk kami tidak dapat menuju ke sana. Bahkan kami pun merasa kalau CFD itu jauuuuuh sekali, padahal sebenarnya tidak jauh sama sekali.

 

Namun semua itu berubah ketika Pokémon GO hadir di dalam kehidupan kami. Haha. 😀

 

Percaya tidak percaya, kami benar-benar baru merasakan suasana CFD  Sudirman untuk pertama kalinya yaitu pada saat minggu-minggu awal hadirnya Pokémon GO. Ingat sekali saat itu hari Minggu pertama setelah libur panjang lebaran.

 

Saat itu kami masih berada pada level-level awal permainan. So, mau tidak mau kami harus berjalan! Ya, jalaaan terus! Hahaha.

 

Mendadak kami menjadi rajin di hari Minggu pagi. Setelah Sholat Subuh kami tidak bermalas-malasan di atas kasur dan menikmati acara-acara pagi hari di televisi seperti biasanya. Kami langsung bersiap dan berkemas untuk menyiapkan segala amunisi yang harus kami bawa untuk “bekal” bermain Pokémon GO. Power bank full, baterai HP full, dan tas kecil yang roomy untuk memudahkan membawa peralatan-peralatan tersebut.

 

Sepatu olahraga?

 

Tidak, kami tidak menggunakan itu. Kami benar-benar pure, murni hanya berjalan kaki menyusuri CFD Sudirman. So, kami hanya butuh sandal kami saja, tidak sepatu kami.

 

Saking bersemangatnya, kami sengaja tidak naik TransJakarta menuju ke sana. Kami naik bajaj!  Dan tujuan pertama kami adalah menuju Bundaran Hotel Indonesia sebagai titik awal kami akan mulai “berburu”. Bahkan selama perjalanan menuju Bundaran HI, kami pun sudah mulai memainkan permainan tersebut! Haha.

 

CFD kali itu terdapat sebuah atraksi TNI Terjun Payung di area Bundaran HI. Sesekali juga saya melihat-lihat beberapa pedagang yang menggelar lapaknya masing-masing. Dan kami juga beberapa kali berhenti untuk sekedar jajan makanan yang ada di area tersebut.

 

Kami berjalan mengelilingi Bundaran HI, karena di area tersebut banyak sekali titik Pokéstop yang dipasangi Lure Module.

 

Pokéstop adalah sebuah titik di mana pemain bisa mendapatkan pokéball dan beberapa bonus lainnya dengan cara berhenti pada titik tersebut dan memutar bulatan yang ada.

 

Sedangkan Lure Module adalah sebuah fitur berbentuk seperti hujan kelopak bunga pink, di mana jika dipasangi Lure tersebut, maka akan semakin banyak Pokémon  yang “mampir” dan terlihat di area Pokéstop tersebut. Namun sifat Lure ini tidak selamanya “menyala”, ia berbatas waktu dengan max waktu adalah 30 menit.

 

Banyaaak sekali jika boleh saya bilang. Hampir semua titik Pokéstop dipasangi Lure.

 

Oh iya, virus Pokémon GO ini tidak hanya menjangkiti kami berdua. Berhubung CFD kali itu merupakan CFD perdana pasca libur panjang lebaran dan pasca rilisnya game tersebut, jadilah banyak pula manusia di CFD kala itu memainkan game yang sama. Ada yang bergerombol, ada yang sampai ketawa-tawa, ejek-ejekan bercanda-ria bersama dengan teman-temannya, berlari-lari demi agar tidak tertinggal masa Lure yang sedang menyala, dan sebagainya. Seru!

 

Kami berjalan kaki hampir 5 jam tanpa henti!

 

Ya, kami berjalan kaki hampir sepanjang 5 jam dari area Bundaran HI – Dukuh Atas – Perempatan Matraman dengan melalui jalur area sekitar Bappenas – Taman Suropati – Masjid Cut Mutia Menteng – Perumahan Menteng – Cikini – Tugu Proklamasi – Matraman.

 

Di dalam permainan Pokémon GO ini juga terdapat yang namanya fitur telur pokémon yang dapat ditetaskan dengan cara berjalan kaki sampai beberapa km. Misal, sebuah telur akan menetas jika sudah berjalan kaki selama 5 km dan 10 km.

 

Pengalaman perdana CFD Jakarta kami benar-benar berkesan. Bagaimana tidak? Kami melaluinya sambil bermain Pokémon GO. Haha! 😀

 

 

  1. Membuat Kami Menginap di Area Dekat Cihampelas Walk pada Saat Ada Acara di Bandung

 

Ya! Ini yang lebih lebay lagi.

 

Begitu banyak hotel yang bertebaran di Kota Bandung, namun kami memilih hotel-hotel di area sekitar Cihampelas Walk pada saat kami menghadiri beberapa acara di Bandung pada masa-masa permainan Pokémon GO sedang hits-hitsnya. Dan yang lebih sering kami tuju adalah Hotel Serela Cihampelas (klik untuk melihat tautan) yang berlokasi di seberang Cihampelas Walk persis.

 

Mengapa harus dekat dengan Cihampelas Walk?

 

Jadi ternyata, pada saat awal-awal permainan ini muncul, pihak manajemen Cihampelas Walk “sengaja” dan  “rutin” memasang Lure Module di setiap titik Pokéstop yang memang tersebar beberapa titik di area Mall Cihampelas Walk.

 

Sampai-sampai yang tidak habis pikir, bahkan sampai tengah malam pun area Cihampelas Walk masih ramai dipadati orang! Khususnya di malam minggu, semakin malam, semakin ramai. Luar biasa! Kisah ini pernah saya tulis juga dalam blog ini (klik untuk melihat tautan). Jika teman-teman melihat dokumentasi pada postingan tersebut, benar-benar menggila bukan people of Bandung di dalam antusiasmenya bermain Pokémon GO?

 

Suasana Ramainya Titik2 Pokéstop di CiWalk yang Dipasangi Lure Module

 

  1. Semakin Hari Kami Semakin Rajin Berjalan Kaki, Bahkan di Malam Hari Sepulang Kerja

 

Ini yang lebih parahya lagi sih. Kami benar-benar seperti sudah “dibutakan” oleh permainan ini. Demi naik level, kami  akan upayakan untuk selalu berjalan dan berjalan terus.

 

Walau saat itu sudah mulai banyak yang cheating alias curang dengan adanya aplikasi-aplikasi “Fake GPS” yang katanya memudahkan orang untuk tidak perlu berjalan jauh, tau-tau level bisa naik begitu saja, hanya dengan menggerakkan titik pada peta dalam aplikasi “Fake GPS”. Untunglah saat itu pihak Pokémon GO melihat fenomena kebocoran dan kecurangan ini, sehingga meraka pun membuat sistem “banned otomatis” bagi para pemain yang dengan sengaja bermain curang (langsung terdeteksi oleh server).

 

Berjalan di malam hari tidak hanya kami lakukan di malam minggu. Terkadang di malam-malam biasa kami juga melakukan “ritual” berjalan kaki sekitaran area Perempatan Matraman. Sambil berjalan kaki menuju Bioskop Metropole, kami sempatkan bermain. Kemudian ke area Taman Proklamasi, di mana di sana memang terdapat sebuah Gym atau “area battle” dalam permainan, kami pun mencicipi “nongkrong” di sana sampai area tugu tutup atau sekitaran pukul 9 malam.

 

  1. Menjadi Tidak Malas ke Monas

 

Jadi, selain kami belum pernah ke CFD Jakarta selama 3 tahun merantau, kami pun juga belum pernah mencoba naik ke Tugu Monas. Kalau sekedar melihat Tugu Monas dari jarak jauh, cukup sering, karena kami pulang kampung ke Jawa atau main ke Bandung, hampir pasti kami selalu naik kereta api dari Stasiun Gambir.

 

Tujuannya sih memang ingin naik ke Tugu Monas, tapi tetap sebagai menu utama kami berjalan-jalan ke sana adalah bermain  Pokémon GO donk. Apa lagi? Haha. 😀

 

Di area Monas memang banyak sekali titik-titik Pokéstop yang juga sering dipasangi Lure Module. Terutama di Hari Minggu pagi.

 

Penampakan manusia-manusia-nya persis seperti manusia-manusia yang ada pada CFD Sudirman kala itu. “Beringas” dan “terlalu bersemangat” di dalam memainkan permainan Pokemon GO. Walau begitu, suasana terasa seru dan asik. 😀

 

 

Nah, jadi itu adalah beberapa pengalaman kami setelah “dipengaruhi” oleh sebuah game bernama  Pokémon GO. Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman juga merasakan ke-lebay-an yang sama?

 

😀