Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid”

Jika momen-momen kebersamaan dapat bermakna keakraban, namun mengapa harus merusaknya dengan bumbu-bumbu “yang tidak perlu” saat sedang pertemuan. Jika momen-momen kebersamaan dapat mempererat kekeluargaan, namun mengapa harus merusaknya dengan kata-kata “pedas berbekas” hingga di kemudian hari. Jika momen-momen kebersamaan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, namun mengapa harus merusaknya dengan sikap tidak saling menghormati privacy antar individu dalam sebuah pertemuan tersebut.

Dunia akhir-akhir ini dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai orang-orang terkenal yang ternyata mereka mengidap depresi dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Berita-berita tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa yang namanya penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya. Namun, jangan sekali-kali men-cap mereka “kurang iman”, jangan. Ini bukan perkara tidak beragama atau kurang iman. Melainkan hal ini juga dapat dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sekitar sang penderita. Lagipula kasus bunuh diri di dalam negeri pun juga banyak ditemui bukan? Walau mereka bukan orang terkenal, tapi kasus-kasus tersebut benar adanya dan nyata.  Continue reading “Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid””

Advertisements
AMG, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah

Sebelum memulai tulisan pada minggu ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh wanita hebat di dunia yang kebetulan jatuh pada minggu ini, yaitu tanggal 8 Maret 2018. Selamat!

– – –

Bagi sebagian wanita, terutama yang sudah beranjak dewasa, pasti akan memiliki rasa kelak ingin menjadi seorang istri yang baik bagi suami mereka dan menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anak mereka. Semakin bertambah usia, maka impian-impian tersebut akan semakin sering muncul dalam pikiran. Namun tidak dipungkiri juga, terkadang saat memiliki impian-impian indah tersebut, sebagian wanita “hanya” mengimpikannya tanpa ada persiapan-persiapan yang cukup matang, walau berjalannya waktu bagi sebagian wanita tersebut dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan-kehidupan baru mereka terkait impian-impian indah yang selalu mereka impikan itu.  Continue reading “Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah”

AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Traveling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa GadingContinue reading “Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)”

Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Film, Traveling

Review Film “Susah Sinyal”

Halo lagi internet!

Kali ini saya ingin kembali me-review sebuah film, lebih tepatnya bercerita tentang sebuah film. Dan film yang akan saya bahas adalah film Indonesia. Judulnya adalah “Sunyah Sinyal” dengan disutradarai oleh Ernest Prakasa.

Sedikit cerita, Ernest Prakasa merupakan seorang Stand Up Comedian yang sebelumnya telah mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV Season Pertama yaitu tahun 2011 dan berhasil mendapatkan peringkat ketiga. Berjalannya waktu, Ernest malah terlihat semakin melebarkan sayapnya di dunia tulis-menulis buku dan membuat film.  Continue reading “Review Film “Susah Sinyal””

Family & Friends, Hobby, Life, Review Film

Review Film “Wonder”

Hello internet!

Wiii, nggak kerasa ya udah hari Minggu lagi aja dan ini artinya hari terakhir batas setor tulisan blog di tiap minggunya. Dan hari ini sudah masuk minggu ke-3 Bulan Desember, alias minggu rentang tanggal 11 – 17 Desember 2017. 

Sebenarnya tema tulisan minggu ini tidak ada, alias bebas, tidak seperti tulisan bertema seperti pada minggu sebelumnya. Nah, saking bebasnya, malah saya jadi bingung mau nulis apa-an. Haha. Padahal seharusnya, semakin tidak ditentukan tema tulisan, maka harusnya semakin “lancar” diri ini untuk menulis. Namun nyatanya malah tidak demikian. 😀 

Karena saking bingungnya mau nulis apa dan kalau boleh dibilang ini sudah terlalu last minute banget menulisnya, akhirnya diputuskanlah untuk me-review sebuah film yang baruuu saja saya tonton yang menurut saya sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk ditonton. Hitung-hitung tema tulisan kali ini sedikit ada “nyambung”-nya juga dengan tema tulisan minggu lalu yang bertemakan “me-time“. Dan judul film yang akan saya review adalah film “Wonder“.  Continue reading “Review Film “Wonder””

AMG, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Traveling

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.  Continue reading “Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO”

Culinary, Family & Friends, Life, Public Transportation, Traveling

Reuni Akbar

Sabtu, 4 November 2017

 

Aku sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai di malam harinya aku tidur tidak tenang. Rasanya seperti  terkena sindrom “akan berlibur ke tempat yang seru” sehingga membuat hati dan saluran cernaku sedikit berbunga-bunga hanya karena menantikan datangnya hari itu.

Ya, Sabtu pagi itu aku akan pergi ke Bandung, ke kota di mana semua mimpi dan harapan dimulai. Hari itu aku datang ke acara Reuni Akbar yang diselenggarakan oleh sekolah di mana aku berkuliah dulu. Karena kegiatannya bertajuk “Reuni Akbar”, maka acara tersebut banyak dihadiri oleh para alumni senior. Tidak ketinggalan pula aku dan beberapa teman semasa kuliah juga turut meramaikan acara tersebut. Kegiatan Reuni Akbar Sabtu pagi itu selain sebagai ajang silaturahmi antar angkatan, juga sebagai ajang peringatan ulang tahun jurusan kuliahku yang ke-55 tahun dengan dibungkus sebagai Acara Lustrum yang tahun ini sudah menginjak Lustrum Ke-11Continue reading “Reuni Akbar”

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.  Continue reading “Just Be Positive”

Family & Friends, Hobby, Review Hotel, Traveling

Review POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta Utara

Hai, hello internet! Ternyata sudah berbulan-bulan lamanya tidak menulis di sini ya. 😀

 

Sepertinya saya akan menambahkan kategori baru dalam blog ini. Yep, saya ingin menambahkan kategori “Review Hotel”. Well, mungkin sebenarnya ide ini tidak terlalu menarik, akan tetapi saya terinsipirasi dari beberapa kegiatan proyek di mana saya terlibat di dalamnya, di mana saya harus melakukan perjalanan keluar kota dan mengharuskan saya menginap, 1 atau 2 hari atau bahkan selama 5 hari kerja dalam seminggu.

 

Akan tetapi dalam tulisan perdana dari kategori ini justru saya tulis dari pengalaman di luar kegiatan kerja proyek, melainkan dari kegiatan perjalan pribadi.  Continue reading “Review POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta Utara”

AMG, Family & Friends

Kejutan

 

Birthday Ring

Ini bukan cincin kawin, tapi ini cincin yang sangat berharga.

Disematkan dengan penuh drama, di tengah malam buta, dengan tiba-tiba.

Ini bukan cincin kawin, tapi bukan pula cincin biasa, melainkan cincin yang sangat istimewa.

Beliau datang perlahan menghampiri, membangunkanku dengan penuh hati-hati.

Mengecup lembut seraya berbisik, “Happy birthday, Sayangku,..

Seketika itu juga aku terbangun, perlahan namun pasti, dengan mata masih meraba-raba pukul berapa saat itu.

Lengannya yang melingkari perutku, bak penjaga yang siap siaga menjagaku dari belakang tubuhku.

Tanpa menunggu, tanpa memastikan kesadaranku sudah bersatu dengan suasana malam itu, lengan lainnya pun menyentuh jemariku, dan menyematkan benda itu pada jari manisku.

Ah, dirimu..
Pandai sekali membuatku tersipu.
Terima kasih.. 🙂

 

Matraman, 4 Oktober 2016

AMG, Family & Friends, Life

Dari Pencarian Review Klinik Kecantikan Berujung ke Pencarian Dokter Obgyn

Bismillah…

Dear Diary,

Nampaknya kali ini gue harus bener-bener serius bin serius bin serius lagi deh. Hahaha! (wah, emang serius tentang apaan sik?) Diiih, kepo. Nggak, nggak, bercanda. Gue kasih tau, kasih tau… :p

Jadi. (ciyeee…uhuk-uhuk, ehem)
Iya, jadi.
Jadi…..kan gue udah married tuh. (lah terus?)
Iya…jadi kan gue udah married . Ya…masih bentar sih, belum ada itungan banyak tahun. Cuman ya…gue kepikiran buat ngerencanain sesuatu aja. Lagipula, apa salahnya kan untuk kita berencana dan mencoba. (ciyeeeh…apaan ntuh) 😀

Iye, iye…nih gue kasih tau.
Jadi. Sebelum gue mulai berkisah (ceilaaah…bahasanya…berkisah), gue sama laki gue nggak ada niatan nunda-menunda perihal momongan. Walau emang sih di 6 bulan-an awal pernikahan kita, kita suka merhatiin kalender kesuburan yang bahkan sekarang ada apps-nya di HP. We used to notice tanggal-tanggal “rawan” itu. Tapi lepas dari 6 bulan-an itu, kita udah nggak aware lagi tuh sama tanggal-tanggal yang dianggap “rawan” kehamilan. Justru sejak saat itu gue suka merhatiin tanggal-tanggal di mana gue lagi dalam keadaan subur, walau nggak sering-sering juga sih. Lagian yak, tiap mau uhuy ribeut amat dah kudu ceki-ceki HP dulu. Rempong, bo! Nepsong mah, nepsong aja. Hahaha. 😀
Dan di tahun 2015 lalu, ya kira-kira pertengahan tahun sampai akhir tahun lalu, gue sama laki gue lagi iseng-iseng berhadiah buat rutin maen ke RS Tebet.

Awalnya sih, nggak sengaja aja nemu dokter SpOG di RS tersebut. Karena juga kebetulan kantor proyek yang sekarang itu deket banget sama RS Tebet, di area perempatan Pancoran belakang Bidakara ituh. Tepatnya di area perumahan BIR.

Nah, kenapa di RS Tebet? Ya karena sebelum gue mutusin mau maen ke mana, gue googling dulu dooong, dokter SpOG mana yang bagus dan yang pastinya harus perempuan. (ini gue udah prinsip banget, kudu, wajib, haram pokona mah kalo enggak, hehe)
Dan dari hasil googling-an gue di tahun 2015 lalu, pilihan jatuh ke nama dr. Cut Diah Tris Mananti, SpOG.
Nah…pas gue lihat-lihat, salah satu lokasi Beliau praktek adalah di RS Tebet.
Wuiiih, pas banget bo! Deket! Hehehe.
Bahkan pas udah eksekusinya, gue malah jalan kaki terus tiap berangkat ke sana dari kantor. Hahaha. Sehat kaaan.
Jadwal Beliau di sana yang gue ambil itu hari Rabu malem pasca jam pulang kantor dan bisa reservasi by phone.

Beliau ini orangnya ramah, baik, tapi tegas. Maksudnya, enggak galak gitu as long as you sebagai pasien nggak bandel. Hahaha. Eh tapi serius, Beliau orangnya buaek banget kok.

Dari hasil selama kurang-lebih setengah tahun tersebut, alhamdulillah kondisi gue sama laki gue dinyatakan sehat dan normal-normal saja. Cuman ada 1 hal yang paling diwanti-wanti sama dokternya, kita kudu dieeet! Hahaha. (kita ni pasangan bandel, mpun deh)
Oiya, dalam pemeriksaan kondisi kita berdua, kita juga mengambil beberapa tes (tes lab) buat ngedukung pemeriksaan gue dan laki gue sama Dokter Cut di RS yang berbeda, yaitu di RS Omni Pulomas. Karena RS Omni ini selain memang RS bagus, juga karena RS Omni masuk daftar RS yang biayanya kalau kita maen ke sana, dicover sama perusahaan laki gue. Hahaha, iya laaah, cari yang bagus tapi free aja kaaan. 😀

Dari pemeriksaan awal tersebut, gue ma laki gue belum lanjut lagi. Dan tau-tau…..udah mau pertengah 2016 lagi ajeee. Ya ampuuun. Cepet banget bo! Haha.

Gue nggak tau sih, mungkin kitanya terlalu nyaman (dan terlena) sama kondisi kita saat ini. Terlalu enak dan nyaman. Bahkan gue paling nggak ngerti kalau pas ada yang nanya tentang hal ini, dan dia cowok, ada pertanyaan, “serius laki lo nggak masalah & nggak panik apa gitu gan/nis?” Lah…lha emang nggak ada apa-apa dan santai aja kok.
Lagian kalau nggak santai, saat ini gue udah berhasil jalanin diet nurunin berat badan kali ya. Hahaha.

Nah…berangkat dari terlalu terlena tadi itu, kita juga harus makin mikir buat bisa “lebih serius” lagi dong dalam merencanakan hal ini.

Dan gue, abis googling meng-googling lagi nih. Iyes, buat nyari-nyari dokter lagi. Awalnya sih sebenernya nggak sengaja ya. (lagi-lagi nggak sengaja, 😀 ) Awalnya iseng karena sesungguhnya penasaran sama klinik kecantikan di RSIA Tambak. Soalnya, tiap hari berangkat dan pulang kantor selalu nglewatin jalur itu, karena gue tinggal di area Matraman.

Nah, di dinding gedung RSIA Tambak itu tertulis iklan promo besar-besaran untuk treatment laser penghilang bekas jerawat, kantung mata, kerutan di wajah, dsb dengan harga Rp 500.000++.
Tiaaaaap hari gue baca tuh tulisan. Gimana nggak penasaran kan. Dan ternyata pas gue compare sama treatment sejenis di tempat laen, harga sekian termasuk kategori “murah”. (hmmm…iya, murahnya dalam tanda kutip yah, inget, dahulukan kebutuhan pokok sebelum kebutuhan tersier a.k.a foya-foya, wkwk, nggak-nggak bercanda)

Nah, karena penasaran, gue googling lah tuh si RSIA Tambak. Karena dari namanya juga khusus rumah sakit ibu dan anak, tapi kok nyediain klinik kecantikan juga yaa. Gitchu…

Eh, lhaaa…dari hasil googling meng-googling ini nih gue baru tau kalau ternyata, banyak ibu-ibu yang nyaranin seorang dokter SpOG yang praktek di RSIA Tambak itu. Bahkan banyak yang review kalau pelayanan di sana supeeer enak, ramah, bahkan termasuk suster-susternya, satpamnya, bahkan sampai tukang parkirnya ramah semua, dan tempatnya nyaman banget, homey abis. Ini gue dapet referensi salah satunya dari femaledaily.
Nah, berhubung itu thread tahun 2012-2013 itu UDAH kondisi bagus kayak gitu, gue narik kesimpulan kalau di sana itu emang nyaman banget dan tempatnya enak, dan seharusnya di tahun 2016 kondisinya makin oke dooong, minimal ya sama lah kayak tahun 2013 lalu. Hehehe.

Nah…salah satu dokter SpOG yang paling favorit di sana adalah dr. Oni Khonsa, SpOG. Dan pas gue googling kek mana rupa Beliau, eh ternyata, perempuan! Yeay!
Yang tadinya mau cari-cari informasi tentang dunia per-setrika-an wajah itu, eh, malah berakhir memunculkan niat buat serius bin serius bin serius bin serius lagi. Wkwkwk. Mungkin kalau gue udah jadi orang tua dan ngelihat gue (sebagai anak gue) dan laki gue (sebagai mantu gue) nyante begini, udah gue sentil kali yak. Hahaha. Ya…alhamdulillahnya, ortu kita berdua nggak ribeut dan ikutan santai juga. Pasrah. Lah…hahaha.

Jadi kesimpulannya adalah…..jeng-jeng-jeng!
Kayaknya gue bakal mau ambil jadwal rutin lagi deh buat ke SpOG. Tapi kali ini gue akan coba ke RSIA Tambak dan ke Dokter Oni tadi. Dari review yang gue baca, beberapa ex-pasien Beliau banyak yang puas banget sama performa Dokter Oni dan bahkan ada yang nyesel kenapa nggak dari anak pertama aja ya dia udah bareng sama Dokter Oni. Katanya Beliau ni orangnya ramah, baek, dan super sabar. Beuh…manteb banget nggak tuh bacanya kaaan.
Cuman ya gitu, ada sesuatu yang bagus, pasti ada juga resikonya. Yup! Dari review yang gue baca juga, antrian buat Dokter Oni tiap lagi praktek ini puanjaaaaang banget, bisa sampe mengular! Nah lho…hahaha.
Tapi yang gue seneng, pas gue lihat jadwal Beliau di RSIA Tambak, (ternyata di 2016 ini Beliau masih praktek di sana chuy, kan review yang gue baca tahun 2012-2013…gitchu…) ada jadwal di hari Jumat dari sore sampe jam 12 malem! Beuuuh. Manteb nggak tuh. Kali aja ntar sambil nunggu antrian, kita bisa mampir dulu bentar ke resto sebelah, restoran arab Hadramout. (lah…belom-belom udah ngomongin makanan lagi aje…hahaha)

Oke, jadi.
Daripada gue harus jauh-jauh ke RS Tebet lagi, mengingat juga proyekan gue di kantor Pancoran udah mau kelar, gue mending pilih tempat yang deket sama tempat tinggal saat ini, ya, yang deket Matraman.
Gue pas tau ada informasi ini, beuh rasanya…..kenapa nggak dari tahun lalu aja sih gue bacanya. (ikutan emak-emak di forum dah, hahaha) Kan enak, kelar periksa, tinggal jalan santai menuju rumah. Hahaha. Deket banget soalnya. Kalau jalan kaki lambat aja kira-kira 30 menit lah sampai rumah.

Doakan kita ya, siapapun Anda yang sempat mampir ke blog gue. Hehehe.
Wish us luck then! Bismillah wae nya. Yeay!

– – –
Matraman, 30.05.2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Visiting the Sick

This writing is inspired by the time when me and office mates visited our Big Boss who had to be stayed for days in the hospital. I saw his wife told us a little bit displeasure when some of her husband’s friends came to visit him then took some photographs of him. She said it would bother him by spreading the information of his sick among his friends. She said they shouldn’t have taken the husband photograph and shared it to his friends. Despite the fact that my Big Boss was no objection about it. But I saw it as a form of an attention and an affection from the wife to the husband.

 

It has to be noted when you wanted to visit one of your friend or colleague or even family who’s in unhelthy condition so then he/she should have a bedrest time at home or at hospital.

We have to understand why almost all hospitals adjust their tight schedule for patients’ guests who want to visit them. You may see that commonly hospitals have two times for visitors schedule. Usually it happens at noon between 11.30 – 12.30 (lunch time) and at evening between 17.00 – 19.00 (dinner time). But sometimes most of us didn’t pay attention with the rules just because we feel as part of the family which actually we’re not in the main family member or we’re the patient’s close friend, etc.

 

Visiting the sick is a very good action and good suggestion to do, especially if the sick is someone you close with, like family, friend, or colleague. Even in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam said,

“When a Muslim visits his sick Muslim brother in the morning, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the evening. And when he visits him in the evening, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the morning, and he will be granted a garden for it in Jannah.” (HR. at-Tirmidzi and Abu Daud)

The other Hadith of Our Beloved Prophet that mention about visiting the sick is a Sunnah:

“Whoever visits a sick person (for the pleasure of Allah), a Caller from the skies announces: You are indeed blessed and your walking is blessed and you have (by this noble act) built yourself a home in Jannah.” (HR. Ibnu Majah)

And still, don’t forget and always to remember when we visit the sick is we have to follow the rules that might be held by the hospital or if the sick stayed at home then the rules were held by the host.

The simply action you can do is to be polite, do not make any noisy thing, and do not stay for a long time to let the sick continues his/her bedrest time.

Even also in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassallam that related by Hadrat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu’anhu:

“It is part of the Sunnah that when you visit a sick person, you should shorten your visit to him and make the least amount of noise by him.”

 

– – – – –

grandma-kissing-grandpa-elderly-couple-love-eps-illustration-46330886

The other wisdom that I could take from the moment is the couple was looked nice, happy, and seemed that they always live in peace and never had fight on each other. They’re still romantic on that age. (it showed when they did their conversation and a little movement of their hands when they touched each other in front of us)

And my prediction of my Big Boss and his wife ages are among 60s.

Incredibly beautiful, isn’t it?

 

– – –

11.00 WIB

Matraman, 26.03.2016

 

Culinary, Daily Recipes, Family & Friends, Hobby

The Failed Birthday Crepe-Pan”Cake” (Resep Crepe Cake)

Selamat ulang tahun Kakak Suami…!

21.03.2016

 

20160321_052510.jpg
Sebelum Nyurprise Pagi2 Subuh

 

Teringat beberapa tahun lalu saat saya pertama kali memberikan kejutan kepada (calon) suami saya kala itu yang masih menjalani program studi S2-nya. Siang-siang celingak-celinguk ke gedung prodi lain, menuju lab Beliau. Hahaha.

 

Tahun ini, saya kembali mencoba untuk membuat sesuatu. Resep saya temukan di sebuah halaman facebook luar negeri yang berisikan resep-resep unik nan simpel dalam prakteknya. Dan saya membuat sebuah crepe-pan”cake” untuk menu “Birthday Surprise” kali ini. Mumpung karena pagi hari juga, sekalian kan sarapan. Hehehe.

 

Bahan Crepe:
1) 1  2/3 cup cake flour (saya pakai Kunci Biru & based on web 1 cup = 110 gram).
2) 3 tsp chocolate powder (saya pakai Cocoa Powder Van Houten).
3) 3 telur utuh.
4) 3 kuning telur ajah.
5) 3 tsp gula (atau sesuai selera, ternyata ini kurang manis).
6) 600 ml susu putih segar (saya pakai Greenfields).

 

Steps Bikin Adonan Crepe:
1) Ke-6 bahan di atas mixer semua sampe nyampur se-nyampurnya.
2) Diemin 30 menit.
3) Setelah didiemin 30 menit, tambahin 40 ml unsalted butter (dicairin & saya pakai Elle & Vire).
4) Kocok2 sampe nyampur banget.

 

Steps Bikin Crepes Lembek (saya bikin kurang lebih 30 layers):
1) Panasin teflon (please kudu yg bersih mulus jangan ada bekas gosong).
2) Lapisin permukaan teflon dengan mentega/butter dikit (biar licin & nggak lengket).
3) Ambil 2 sdm adonan crepe & bikin lingkaran tipis di atas teflon yg udah panas (setelah saya pikir2, harusnya 3 sdm euy sesuai petunjuk aslinya).

 

Setelah semua crepes ready, then, bikin adonan coklat buat ngelapis cake2 ituh.

 

Bahan Adonan Cairan Coklat:
1) 250 gram coklat block (saya pakai L’agie).
2) 50 gram unsalted butter (saya pakai Elle & Vire).
3) 100 ml Whipping Cream Cair (saya pakai Anchor).
4) 150 ml susu putih segar (saya pakai Greenfields).
5) 55 gram gula.
6) (seharusnya) Espresso 100 ml (tp saya tadi skip saja karena mikirnya Abang nggak doyan kopi).

 

Steps Bikin Cairan Coklat:
1) Rebus air di panci panas.
2) Taruh baskom/sejenisnya di atas panci (ditumpuk).
3) Cacah2 atau potong2 kecil coklat block nya. Semuanya se-250 gram-nya.
4) Masukin unsalted butter-nya yang 50 gram ituh.
5) Aduk2 sampai lembek & nyatu (si coklat & unsulted butter).
6) Masukin whipping cream, susu segar, & gula.
7) Aduk-aduk merata.
8) Terakhir, (yang seharusnya dilakukan) tambahin espresso-nya.
9) Aduk-aduk.

 

Bikin Pan”cake” Birthday-nya:
1) Tinggal ditumpuk-tumpuk crepe-nya dengan tiap layer dilapisi coklat cairan coklat barusan.
2) Jadi deh.
3) Walau failed!
4) Dan ini padahal mengambil resep dari sebuah page fb & ternyata nggak semudah (se-apik) video tutorialnya. Hahaha.

 

Selamat mencoba!

🙂

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Female and Engineering Life (1)

Hello February! 🙂

Today I want to tell you a little bit story about my life as an environmentalist through these 2 (two) years of working experiences, or I could say my life after graduated from Environmental Engineering field for my Bachelor’s Degree last 2013. Also how I could be on this way today.

This writing is inspired by some friends, especially my girlfriends  who always have enthusiastic when they talked about their future dreams and their “what’s next to do” even though some of them are married and have babies.

– – – – –

Senior High School Graduate and “Choosing” Phase

After finished from senior high school, I admitted that I was included in “followers” type of person. I had a dream to be a police woman and wanted to continue my study to the Police Academy in Semarang, Central Java. But if I could say, maybe that was only because of I studied in semi-military senior high school which has similar school-type with the higher education of military-acamedy schools. My senior high school is applying military system, such as high disciplinary and applying boarding school system.

However, the fact said that I was a “follower” person, so I decided to try any opportunities ahead. Coincidentally, the Police Academy where I dreamed of to be part of it, didn’t open for new students in that year, 2008.
(I’m still wondering why they postponed it until a year ahead. Cmiiw. But I realize something that maybe it was what we always called as “God Always Makes a Good Plan for all of us in this world” and yes, God Always Knows the best for ourselves.)

Then I followed others to register for some tests to enter some universities, and my first preference was the UGM or Universitas Gadjah Mada which placed in Jogja, with majors I wanted to take were Dentistry and Electrical Engineering. Moreover, the UGM is near from my hometown, Banjarnegara which we only take 6 hours maximum to reach Jogja City from Banjarnegara. I took 2 (two) types of the UGM entrance examinations, but sadly I didn’t pass them all. Ha-ha. I felt really sad as if there’s no more options I could take. Well, I mean it. I had my weeping until 3 (three) days after. I don’t know why I was really sad and upset.

Then (again) I followed my friends to register another entrance examination for another university and it was the UnDip or Universitas Diponegoro which placed in Semarang, with majors I wanted to take were General Medicine and Electrical Engineering. Sadly, I was in very less information condition about various types of study fields in the university. That’s why I kept being a “follower” to others. I kept choosing what my friends chose. Really sad, wasn’t it? But before the UnDip test held, the ITB or Institut Teknlogi Bandung opened registration for its first type of entrance examination. Again, as a “follower”, I completed my registration form too like my friends did, whereas I didn’t really understand enough what study fields there were.

And it was my first inner turmoil throughout the university application processes..

Actually I really wanted to continue my higher education near my hometown, Banjarnegara which might be taken place in Purwokerto, Semarang, Jogja, or the furthest city Solo. I was a homesick type of person. I often felt it when I was still in senior high school. So I arranged my self hardly to be a student or a part of those near universities (which placed in those 4 cities). Until oneday I told my parents that I didn’t want to take another chances aside from the ITB’s entrance examination or the UnPad’s that is still also in Bandung area (same city with ITB and my senior high school), although my parents occasionally forced me to take another chances of other universities which placed in West Java area or Jakarta area, such as the UI and the IPB. No, I really didn’t want it. I said, the furthest city was only Bandung, not Bogor even more Jakarta! I remembered how angry I was. Ha-ha.

Well yes, words are words, I had to carry out what I just said to my parents. I had no other choices. So I took the ITB’s entrance examination and felt like I wouldn’t take it seriously, and wouldn’t make it. Besides it’s true that almost all the questions were really hard to be solved. I was hoping I would be rejected and could came back to my region, Central Java area. That examination held after I failed 2 (two) tests of the UGM’s. And again,  coincidentally the UnPad hadn’t open registration for its entrance examination yet.

About a month later…..

I remember that night, me and my generation, Teners were assembling in the school’s main hall  after our dinner activity before we came back to our dormitories. We were talking seriously about the national exams that would be occured in days ahead. I forget in detail, a day after that night if I’m not mistaken, me and my friends drove together into the counceling office. Yes, only for checking the announcement about the ITB’s entrance examination result. And it was really unexpected moment. Unbelievable. I read the announcement on computer screen again and again. I was stunned! I repeatedly inserted my test number and pressed “enter” only for making sure my self.

Well, well, yes. I passed the examination. But really, I felt like “floating” and on the contrary mind I started thinking that I had to deal with the separate ways again between Banjarnegara and Bandung and I had to enjoy it (again?), IF I took a chance be an ITB student. Yes, I mean it, “if”. I was in very doubtful almost a week until some friends came to me, advised me, even one of them was angry to me. They said I had to let the UGM dream go away, move on, and face the new destiny of me, accept it, enjoy it. Then one of them, his name is Pandu, he said with pressure words and a little bit like angry (because he’s really wanted to be an ITB student, but he failed on that test and felt upset), he said I HAD TO be grateful, move on, and MUST accept the chance! For a moment I was glued and started to think what he just said was so much true: I had to move on! And yes, finally by the time I realized it. But still, it was like a dream and until today I’m thinking I was just…..lucky.

(Pandu was failed on first type of ITB’s entrance examination but he made it on the second chance on the second type of its entrance examination. Today, he’s an expert geologist who’s working for one of BUMN company.)

image

Being a Woman, Life, Passion, Dreams

Well, yes. After that dramatically chapter of my life, finally I accepted the result and became more grateful and wouldn’t make it as a useless chance. I was happy and preparing my self for the next stage to be part of the Ganesha Campus.

I was in Faculty of Civil and Environmental Engineering department and took Environmental Engineering for my major.

Days became weeks, weeks became months, and months became years. As I said before, I was just lucky and might be it’s true that I don’t have any aptitude to be an engineer. I needed 5 (five) years to complete my Bachelor’s Degree by the final GPA score isn’t as good as others’.

But still, really Thank God that my journey as an amateur-graduate-engineer started right after I was announced as a graduate-to-be, after finished my final thesis examination. It was in July 2013. Before the graduation ceremony, by the help of my thesis supervisor, I joined a short-term project that only held in 2 (two) months. That was my first job as an environmentalist. I was so excited and very happy, even though the salary was (maybe) in low value. But truly, as a less-smart person, I wouldn’t make that chance useless. (I won’t say my self as an idiot or a dumb after all those years that everything I’ve faced. I’ll always appreciate my self in previous life inside “college chapter” and won’t feel regret at all.)

In January 2014, I moved to Jakarta with my husband (finally we’re officially married, :p) with jobless condition. Actually, it wasn’t a problem anymore for my self because I’m married. But since my husband has never felt objection if I went to work, so I tried to apply for some new jobs. And back again, lucky me, I was hired by a company to have role as a junior environmental engineer or we could say as an assistant of the environmental engineer expert for a project. The point is I still have a chance and still have my lucky to implement all of I’ve learned at the college into the environmental engineering world until today.

To be honest, at the first time I acquainted with the engineering world or the ITB’s world, I didn’t have an enough knowledge what engineering field study was. It has proven by the result of my final GPA score and the 5 (five) years I had to finish my study. (ha-ha) I felt hard passing day by day there, inside the ITB. That’s why I always underline the word “lucky” for that “ITB scene” of my life.

I used to think that is very impossible for me to get an environmental engineering job, again, I thought it would be related to my GPA score. But the fate said that actually I have same opportunity with others and I don’t need to feel low self-esteem. Well yes, to be honest, I’m still feel inadequate when I compared my self with my friends until today. Nonetheless, I’m trying to be more confident and fight my faint-hearted. And gradually, I’m accustomed by this engineering field and becoming enjoy with its world. Met new people then increasing my network have made my self to be more spirited, confident, and relaxed with anything that happened in working situation.

I trully never imagine that my life would be as wonderful as it is. Really Thank God for everything I have. Slowly but sure, even though I’m a female and now working at engineering field, I still have dreams to develop my self and increasing my skills through a higher education or some other ways I could take later. Might be true, nowadays I’m not good enough in this engineering world but it’s still possible for me to make it as my “real” passion for my future and for my entire life.

However, I have to realize my role in this world too, my responsibility as a wife and a mother (later, insyaaAllah). I have to balance my self among my family life, my hereafter life, my dreams, and anything I want to do.

The most important thing is everything that I lived in, must have gotten permission from my husband because in accordance to the God’s rule, my life is in his hands which I became his responsibility after the consent granted happened (ijab qobul procession). And for the reciprocal, I have to keep my self keep on positive-track and always be in the right way, even if I would be very ambitious for chasing my dreams. I hope someday I could be useful not only for my self or my family but also for people around me. Aamiin. Wish me luck then. 🙂

– – – – –
Matraman, 21.02.2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Ibu,..

Hari ini, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam (dalam kalender Hijriah), adalah juga merupakan Hari Ulang Tahun Ibu yang ke-56 Tahun, berdasarkan kalender Masehi.

Ya, hari ini, 24 Desember adalah hari yang seharusnya menjadi hari ulang tahun Ibu yang ke-56.

Ibu, insyaaAllah Jannah tempat Ibu saat ini.
Menanti kehadiran kami, di sana, sampai batas waktunya nanti.

– – – – –

image

Ibu adalah orang yang saaaaangat baik.
Kalau boleh dikatakan, ganis ini beruntung yang seuntung-untungnya.

Ganis yakin, jika bukan karena kebaikan Ibu, mungkin saja pernikahan antara ganis dan Bang Amir tidak akan pernah terjadi.
Ganis selalu ingat masa-masa itu, masa-masa di mana penuh kebimbangan dan ketakutan.
Namun dengan seizin Allah melalui kebaikan Ibu yang sungguh sangat luar biasa, kini semuanya yang terlihat “tidak mungkin”, menjadi “sangat mungkin”.
Ya, ganis pada akhirnya bisa menjadi menantu Ibu.
Ini yang selalu ganis sebut sebagai “Keajaiban”! :’)

Ibu adalah Ibu yang sangat lembut, baik hatinya, hangat, penyabar, dan pokoknya benar-benar seorang Ibu dambaan bagi setiap orang. Ganis sangat yakin itu.
Bayang-bayang “mengerikan” mengenai sosok Ibu Mertua itu benar-benar tidak ada sama sekali.
Sifat Ibu yang demikian baiknya benar-benar sering membuat mata ganis berkaca-kaca dalam diam, mensyukuri nikmat luar biasa yang sedang Allah berikan untuk ganis.

Ya, Ibu saya ini benaaar-benar sangaaat baik!

Belum sempat ganis bertanya dan meminta nasehat, kiat-kiat, serta tips-tips di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak ganis kelak, cucu-cucu Ibu, khususnya pengalaman Ibu di dalam membesarkan dan mendidik Bang Amir, Elisa, & Huda, ternyata Allah Sudah Berkehendak lain.
Ganis sungguh benar selalu penasaran, apa yang sudah Ibu kerjakan dan amalkan di dalam membentuk pribadi Elisa, Huda, & Bang Amir sehingga menjadikan mereka  manusia-manusia sholeh-sholehah seperti saat ini.

Selalu teringat, pada masa setiap pertengahan dan pergantian Bulan Hijriah, atau pada saat tanggal-tanggal penting bagi kita umat Muslim, Ibu selalu mengingatkan ganis (dan juga Bang Amir), di dalam membaca suatu do’a tertentu.
Mengingatkan amalan-amalan apa saja yang baik dilakukan.

Dan pokoknya dalam banyak hal. Ibu adalah yang terbaik! Ibu paling bijaksana sedunia! Lembut, hangat, arif, bijaksana, dan semua sifat baik Ibu benar-benar ingin ganis contoh.
Sungguh belum tentu ganis bisa menjadi seorang ibu seperti Ibu.

Kami Bu, anak-anak Ibu insyaaAllah akan senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah untuk Ibu.
InsyaaAllah khusnul khotimah dan insyaaAllah Jannah tempat Ibu saat ini..

– – – – –

Matraman, 24.12.2015

Family & Friends, Life

Selamat Ulang Tahun Bapake & Selamat Hari Ayah!

Selamat ulang tahun Bapake!
Selamat Hari Ayah juga! (eh, Hari Ayah udah lewat ya, tapi nggak apa-apa juga kan, :p )
Tepat hari ini, 23 November, Bapak saya berulang tahun yang ke-59!
Sehat-sehat selalu ya Bapake!

 

– – –

 

Kali ini saya ingin berkisah sedikit tentang Bapak saya. Boleh ya..? Hehehe.
Karena dari Beliau lah, saya bisa menjadi seperti saya sekarang ini.

Yuk!

 

– – –

 

Bapak saya, Djoko Lasono, merupakan sosok yang penuh tanggung-jawab terhadap keluarga, gigih, ulet, dan rajin dalam berkegiatan apapun, baik bekerja maupun berkegiatan organisasi dan sosial. (Mungkin sifat Bapak saya yang seneng dengan kegiatan organisasi inilah membuat saya juga suka berkegiatan organisasi sejak sekolah sampai kuliah, dan bahkan sampai sekarang.)
Walau Beliau sedikit agak keras dan galak (yang saya artikan sebagai sebuah ketegasan), akan tetapi dari didikan Beliau lah saya bisa menjadi pribadi saat ini, di samping saya ini yang memang sebagai anak pertama dalam keluarga.

 

Bapak saya berasal dari keluarga biasa saja. Kalau dari cerita Beliau, masa kecil dan masa remaja Beliau dapat dikatakan hidup itu dalam keadaan “susah”. Dan kisah yang paling membuat saya semakin merinding adalah pada saat masa kecil Beliau, Beliau harus membantu Alm. Kakek dan Alm. Nenek saya dalam pekerjaan rumah tangga. Karena kebetulan juga Bapak saya adalah Kakak tertua dari 5 bersaudara. Sampai-sampai pada saat untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, Bapak saya harus menimba dulu bolak-balik ke sumur yang letaknya agak jauh dari rumah dengan cara memanggul. Manggul, guys! Manggul! Nangis dewa nggak sih saya mendengarnya?

 

Tapi di sisi lain, di balik keterbatasan ekonomi saat itu, Beliau merupakan sosok yang sangat ulet, gigih, pandai, dan rajin belajar. Dan karena keterbatasan ekonomi tersebutlah, Bapak saya hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat STM saja (kalau sekarang itu namanya SMK). Beruntungnya Beliau mengambil keahlian Teknik Mesin pada saat bersekolah di STM tersebut.

 

Lulus dari STM, Bapak saya tidak langsung bekerja di perusahaan-perusahaan yang mostly perusahaan minyak dan gas, seperti sebagian kecil kawan-kawan Beliau. Beliau memutuskan merantau dan mencari peruntungan ke ibukota untuk bekerja aaaaapa saja! Bayangkan, Beliau yang saya tahu memang orang yang sangat pintar, dan memiliki hasil nilai yang baik dan memuaskan, Beliau tidak gengsi dan mau bekerja apa saja. “Sembari mengenyam pengalaman hidup,” kalau kata Beliau. Yang membuat saya semakin merinding dewa adalah, Beliau ke Jakarta benar-benar bekerja serabutan guys, seperti halnya menjadi seorang buruh bangunan! Ya, itu, menjadi seorang buruh bangunan seperti yang Anda tahu, angkut-angkut pasir, angkut-angkut batu, nyemen, masang batu bata, dan berbagai pekerjaan bangunan lainnya. Seperti itu! Bayangkan, apa nggak nangis dewa saya mendengar cerita itu? Beruntung banget kan saya dengan kondisi saya saat ini? *mewek* 😥

 

Sembari menjadi seorang buruh bangunan, Beliau mencoba peruntungan baru juga untuk menjadi seorang bellboy di sebuah hotel di Jakarta. Bayangkan guys, bellboy! Itu lho yang suka angkut-angkut tas tamu ke kamar hotel dan bahkan sesekali juga ikut membantu bersih-bersih di hotel lho. Bellboy jaman dahulu dengan jaman sekarang tentu berbeda kondisi bukan? Dan setiap kali saya melintasi hotel tersebut, pasti saya akan selalu teringat kisah ini dan terkadang membuat saya berkaca-kaca lagi dan lagi. Gilak, bersyukur banget hidup saya kan? Nama hotelnya adalah Hotel Arya Duta yang terletak di Tugu Tani, dekat dengan Stasiun Gambir itu.

 

Mungkin dengan keuletan dan kegigihan Beliau itulah, Tuhan pun membukakan rizqi lain kepada Bapak saya. Saat itu terdapat pengumuman rekrutmen pegawai PLN besar-besaran skala nasional, dan dibuka untuk lulusan STM juga. Alhamdulillah Beliau berkesempatan mendapatkan informasi ini dan mencoba untuk ikut mendaftar. Jaman dahulu masih banyak perusahaan, yang bahkan perusahaan sekelas BUMN, masih banyak yang merekrut lulusan-lulusan SMA dan STM (SMK), apalagi untuk keahlian-keahlian tertentu. Dan bersyukurnya, Bapak saya memiliki latar belakang keahlian di bidang Teknik Mesin. Dan ketika Tuhan Berkata, Jadilah! Maka Jadilah. Alhamdulillah, Bapak saya lolos tahap demi tahap seleksi dan pada akhirnya bisa menjadi seorang pegawai muda di PLN. Alhamdulillah…

 

Berangkat dari seorang pegawai tetap PLN inilah, Beliau akhirnya bisa memulai kehidupan baru ke arah yang jauuuh lebih baik. (Walau banyak orang bilang sampai-sampai Bapak saya ini telat menikah lho.) Namun sekali lagi, karena Beliau tidak langsung berpuas diri dan tetap tekun dan gigih dalam bekerja, maka Tuhan pun kembali membukakan rizqi kepada Bapak saya melalui perusahaan untuk dapat menyekolahkan Bapak saya ke tingkat pendidikan lanjut. Nggak mudah loh mendapatkan beasiswa spesial tersebut. Tentunya melalui proses seleksi ketat juga! Ah, keren Bapake! Beliau mendapatkan kesempatan bersekolah D3 di Bandung, ya di ITB. Nggak tanggung-tanggung memang PLN memberikan beasiswa kepada pegawai-pegawai terbaiknya ya! Jaman dahulu ITB memang masih menerima D3 untuk beberapa jurusan “umum” macam Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Sipil. Kalau jaman sekarang, kalau saya tidak salah pemahaman, program D3 ITB tersebut kini sudah memisahkan diri sebagai Politeknik Bandung (PolBan), dan memang khusus untuk D3 ke-teknik-an jurusan-jurusan “umum” tersebut. Cmiiw.

 

Dan apalah saya ini kalau masih tidak mau bersyukur kaaan. 😥

 

– – –

 

Tepat pada tanggal 16 Juli 1988, Beliau resmi menikahi Ibu saya. Dan 1,5 tahun berikutnya, lahirlah saya. Ehehehe.

 

Dahulu, tugas perdana Bapak saya setelah diterima sebagai pegawai PLN adalah di Jakarta. Namun, setelah selesai pendidikan D3 di Bandung, Beliau mendapatkan mandat tugas dari perusahaan untuk mutasi ke daerah, yaitu ke Banjarnegara, ke PLTA Mrica atau nama yang sesungguhnya adalah PLTA Jenderal Soedirman. Saat itu usia saya kurang lebih 2 tahun dan saat itu adik saya Wisnu, sudah lahir juga. Dari sanalah kisah kehidupan saya di Banjarnegara dimulai. 🙂

 

Baca juga: Renjana adalah Kami Bertiga.

 

Lagi dan lagi, berkat kegigihan dan keuletan Beliau dalam bekerja, Tuhan kembali membukakan rizqi kepada Bapak saya melalui perusahaan untuk menyekolahkan Beliau kembali ke sekolah lanjutan, yaitu ke jenjang pendidikan S1 di Universitas Tidar Magelang mengambil jurusan Teknik Mesin. Sistem belajarnya menggunakan sistem kelas karyawan, hari Sabtu-Minggu, yang terkadang juga dilaksanakan pada hari Jumat. Saya ingat sekali saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SD saat Bapak saya lulus sarjana. Dan ramai-ramai juga kami sekeluarga menuju Magelang untuk perayaan kelulusan Beliau.

 

Mungkin ini yang selalu dinasehati Bapak saya untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Dengan bersyukur, rejeki dan nikmat  insyaaAllah (hampir pasti) akan terus bertambah. Saat saya sudah usia remaja, memang saya sebagai anak baru bisa memahami perjuangan luar biasa Bapak saya tersebut.

 

Kembali, lagi dan lagi, berkat kegigihan dan keuletan Bapak saya dalam bekerja dan berkegiatan, ditambah Beliau juga telah menamatkan pendidikan Magister Beliau dalam bidang Manajemen dengan predikat memuaskan, Tuhan kembali membukakan pintu rizqi kepada Beliau dan kembali lagi melalui perusahaan. (Oiya, dalam perkembangannya, PLN khusus pembangkit listrik seperti PLTA Mrica ini salah satunya, berganti nama sebagai anak perusahaan PLN, yaitu menjadi PT Indonesia Power seperti yang sudah dikenal umum saat ini.) Saat saya usia kelas 1 SMP, Bapak saya dipindah tugaskan kembali ke ibukota, ke kantor PT IP pusat, sampai Beliau pensiun pun juga di sana. See? Perjuangan panjang seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan saja loh guys. Butuh keuletan dan kegigihan banget-banget!

 

Walau sudah pindah tugas kembali ke ibukota, keluarga tetap tinggal di Banjarnegara, tidak ikut pindah ke Jakarta. LDR loh guys, LDR dengan Ibu saya! Ya…mungkin memang itu sudah keputusan terbaik. Mengingat Ibu saya juga memiliki tanggung-jawab sebagai abdi negara dan mengajar di SMP. Oleh karenanya saat dulu kuliah, saya suka sekali bolak-balik Bandung-Jakarta untuk berkumpul bersama Ibu dan Bapak. (Ibu saya dan adik saya yang paling kecil, kerap beberapa kali Sabtu-Minggu ke Jakarta juga, bergantian dengan Bapak saya yang pulang ke Banjarnegara atau Ibu saya yang menyusul Bapak saya ke Jakarta.)

 

– – –

 

Yang menarik dari bolak-baliknya saya Bandung-Jakarta pada masa-masa SMA Kelas 3 dan masa-masa kuliah itu, Bapak saya kerap tidak memanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang mungkin bisa saja Beliau berikan. Dari Beliaulah saya belajar naik kendaraan umum untuk keliling Jakarta dan sama sekali NO Taxi, walau sekali lagi saya bilang, bisa saja Beliau suruh saya/adakan untuk saya saat saya sedang berada di Jakarta kala itu. Tapi tidak, Beliau malah mengajari saya tentang Kopaja, Bus Besar, Metromini, dan angkot. Sama seperti halnya dulu saat masih kelas 3 SD, saya sudah diajari untuk berani naik “micro” atau mini bus untuk berangkat ke sekolah, tanpa harus menunggu Bus Koperca (fasilitas bus sekolah dari kantor).

Dulu saat masih awal-awal booming travel Bandung-Jakarta, saya malah bolak-balik Bandung-Jakarta masih menggunakan moda transportasi bus umum, yang berangkat dari Terminal Leuwi Panjang. Saya biasa naik bus ke arah Bekasi atau ke arah Grogol/Slipi. Memang saya akui, Bapak saya ini selalu mengajari tentang “berani” dan nggak manja di sepanjang perjalanan hidup saya sebagai anak Beliau. Hanya berbekal telepon-teleponan dengan Bapak saya sajalah, saya bisa tahu “ancer-ancer” saya untuk turun di mana atau menyambung dengan bus apa dari mana, untuk menuju kantor Bapak saya di perempatan Kuningan-Gatsu. Sampai pada akhirnya saya mengenal Kereta Api pun, ketika saya sampai di Jakarta tepatnya di Stasiun Gambir, saya tidak diarahkan untuk naik taksi, melainkan diarahkan untuk nyeberang ke jalan seberang setelah keluar dari Stasiun Gambir untuk naik Kopaja P20. “Nanti dari situ langsung nyampe kantor Bapak, ndhuk,” kata Bapak saya di seberang sana. “Okeeey,” Cuma 1 (satu) kata itu saja yang bisa saya gumamkan. Hahaha.

 

Baca juga: Curhat Terbuka – Untuk PT Kereta Api (Persero).

Baca juga: Curhat Terbuka – Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014.

 

Dan ketika dulu pada saat kuliah, saya dan teman-teman dari Club Catur di kampus, setiap 1 (satu) tahun sekali mengikuti kejuaraan catur nasional di Jakarta di Senayan, tepatnya di Gedung Kemendikbud. Lagi-lagi setiap saya bilang ingin main ke kantor Bapak saya, saya diarahkan untuk naik Kopaja nomor sekian, alias nomor 66. Bukan diarahkan untuk menggunakan taksi. See? Sepanjang menjadi pelajar saya tidak pernah disuruh untuk naik Taxi! Tega bener yak. Hiks2. Haha. 😀

 

Akan tetapi…..
Akibat didikan Beliau yang seperti itulah, yang kini membuat saya berani kesana-kemari tanpa mobil pribadi, even bila harus sendirian. Dan terasa sekali seperti saat ini, ketika saya benar-benar sudah hidup dan tinggal di ibukota. Sudah sejak lama juga saya lepas dari TransJakarta sebagai moda transportasi sehari-hari dalam berkendaraan umum. Biar dikata lebih mahal sedikit, setidaknya dengan sambung-menyambung naik Metromini, Angkot, Kopaja, atau bahkan KRL, setidaknya lebih hemat waktu dan lebih nyaman selama proses perjalanan. Dan setidaknya selama kurang-lebih 2 (dua) tahun tinggal di Jakarta, saya merasa langsung merasa betah dan no drama macet-macetan.

 

Walau memang, saat pertamaaaaa kali dulu itu saat saya datang ke Jakarta dan waktu itu masih dalam hitungan hari, dan kebetulan juga saya belum bekerja, pernah suatu ketika saya berniat main ke Tangerang, ke rumah teman SMA saya. Namanya Tia. Doi saat itu sedang sakit. Jadi ingin menjenguk dan sekalian main, mumpung saat itu saya memang masih sempat kesana-kemari. Tentunya, dengan seizin suami donk. Nah…dari sanalah saya merasa “rugi” karena saya naik taksi ke Tangerang dari Cempaka Putih! Hahaha. (dulu awal-awal menikah, kami masih tinggal di daerah Cempaka Putih). Thanks to Mami-nya Tia buat ngajarin pertama kalinya naik KRL dari Tangerang ke arah balik menuju Jakarta. Hahaha. Oiya, dan hari saat saya main ke rumah Tia itu adalah hari terjadinya peristiwa kecelakaan KRL bertabrakan dengan Truk Pertamina di daerah Bintaro, yang mengakibatkan 2 (dua) orang Pahlawan Masinis wafat di tempat. Senin, 9 Desember 2013. Gara-gara tabrakan tersebut, membuat Bapak saya sampai khawatir telepon-telepon saya dengan nada heboh plus panik (kebetulan Beliau juga tahu saat itu saya memang mau main ke Tangerang).

 

Semenjak dari Tangerang itulah saya semakin berani untuk bisa naik kendaraan umum yang tanpa “bergantung” dengan TransJakarta, apalagi taksi dan ojek. Maap, maap. Saya bukan maksud untuk narsis, temen-temen semua juga bisa kendel seperti ini to? Intinya rasa “berani” saya ini sebagai seorang pendatang baru ibukota (dan perasaan betah tentunya), diwarisi dari ajaran Bapak saya tersebut. Please, saya tau ini lebay, tapi please, jangan bandingkan dengan teman-teman yang sudah lama tinggal di ibukota ya, yang memang dari lahir, kecil, dan membesar di sini. I know I’m nothing lah.. Hehehe.

 

– – –

 

1185755_158901007638414_1974190412_n

 

Dan…sekali lagi.
Selamat ulang tahun Bapake ya!
Mugi-mugi selalu sehat, semakin berkah usia, semakin mesra sama Ibune, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Dan mugi-mugi cepet dikarunia putu-putu yang sholeh-sholehah ya Bapake. Aamiin! (kalau ini sih saya yang ngarep, hahaha) 😀
– – –

Tebet.
Senin, 23 November 2015

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Tamparan Sebuah Cahaya Keikhlasan

Hari yang penuh emosi.
Bisa jadi terpengaruh juga oleh siklus bulananku.
Ah ya, ternyata bulan kesekian kali ini pun gagal lagi.

Hari ini aku merasa “memuncak” untuk tidak bertahan pada tempat yang “aku rasa” aku dapat bertahan di dalamnya.
Sudah sering berulang kali pikiran naik-turun seperti ini, namun berulang kali juga aku memilih untuk bertahan.
Entahlah apa yang aku pikirkan.
Aku merasa tidak cocok dengan kultur suasana kebersamaan yang menurutku berbeda dengan tempat yang seharusnya.
Dan hari ini pun aku kabur dari tempat itu, ya, meja kerjaku.
Aku linglung, suasana hujan, badan masih kurang fit pasca demam kelelahan, komplit sudah.
Kutumpahkan rasa “sedih” ku pada suamiku dan ibundaku.
Dan “masih hebatnya” lagi, pada saat kabur pulang ke rumah itu, aku membawa beberapa pekerjaan rumah.
Kupikir ada baiknya kuselesaikan dengan suasana rumahan saja.

– – –

Menjelang sore hari, mood-ku semakin tidak menentu.
Pada saat Maghrib, beliau pun muncul.
Kupeluk beliau dengan eratnya.
Kuutarakan ulang “kesedihan” hari itu.
Pada saat kabur di pagi harinya, saat kusapa beliau melalui telepon, beliau menawarkan dirinya untuk membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang sempat kubawa itu.
Tapi tentu saja aku tolak, karena ini adalah urusanku, bukan beliau.
Dan kuberitahu, beliau di hari itu pun sedang merasakan demam kelelahan yang sama.

– – –

Menuju jam 9 malam, usai beliau memainkan game pada ponselnya, beliau pun melihat pekerjaan rumah yang sempat aku bawa di pagi harinya.
Beliau pun melihat & tertarik untuk membantu.
Dikit demi sedikit, apa yang menjadi pekerjaan rumah pun semakin terisi banyak.
Sampai-sampai pun aku sudah merasa “muak” dan mulai beralih kegiatan lain pada ponselku.
Yang kulihat malah, beliau mengambil alih laptopku dan semakin terlihat tertarik meneruskan.
Berkali-kali pun aku mengutarakan, tidak perlu, dan akan aku lanjutkan kemudian.
Tapi beliau tidak berhenti.
Sampai pada akhirnya beliau pun kembali bersin dan sudah mulai tidak tahan untuk segera tidur.
Begitu pun aku, tapi sungguh kaget pun terharu, beliau telah membantu beberapa “catatan”ku. Sungguh, aku sangat berterima kasih! T_T

– – –

Kulihat beliau begitu lelahnya.
Kusentuh lembut dahinya, masih agak sedikit hangat.
Perlahan kurapihkan selimut untuknya, kutatap wajahnya lembut.
Berulang kali kuucapkan terima kasih padanya sembari sesekali terisak. T_T
Dan sesaat sebelum berangkat tidur, beliau pun berkata,

Aku ingin ganisku untuk bisa bertahan dulu sementara di tempat itu, baru sesudahnya bila ada yang lebih baik, barulah boleh bertindak. Aku hanya ingin ganisku bertahan untuk waktu sejenak saja dulu, biarkanlah bertahan pada rasa kecewa sesaat sebelum datangnya rasa sesal. Aku tak mau melihat ganisku bersedih hanya karena sebuah rasa sesal kecil,

Tanpa sela lagi, air mataku semakin menetes dengan derasnya. T_T T_T T_T
Tumpah-ruah sambil menatap wajahnya.
Dibalik lelahnya, beliau pun masih sempat memikirkan “hal remeh-temeh” tentangku.
Sungguh, padahal aku tadi tidak mengharapkan itu.
Aku pun “padahal” sudah pasrah untuk satu hari ini.
Ya Tuhan…
Mengapa ada jenis makhluk-Mu yang seperti ini?

Jakarta, 11 Februari 2015
Pukul 23:35 WIB

– – –

*PR :
“Membaca” rumpun tulisan banyak yang tertuang pada suatu foto, dilihat satu per satu, memastikan tulisannya apa, kemudian menerjemahkan dalam suatu catatan tulisan. Foto spanduk yang berisikan tulisan banyak, dengan jarak yang “baik” untuk versi digital (karena bisa memanfaatkan fitur ‘zoom’), namun menjadi kurang baik apabila sudah menjadi versi cetaknya.