AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Life, Traveling

Perjalanan Jauh Perdana dengan Bayi 3 Bulan

Perjalanan perdana dengan bayi 3 bulan ternyata seru dan menegangkan. Haha. Bagaimana tidak? Ini pengalaman perdana chuy, pertama! Bawaannya udah cemas-cemas aja duluan dari H-sekian. Takut entar bakal ada kejadian apa dan gimana. Gitu aja terus kepala mikirnya. Haha.

1 kata : SERU!

Yes, seru adrenalinnya, secara ini pengalaman pertama sekali buat saya sebagai orang tua baru. Sudah begitu, perjalanan yang kami tempuh bukan sekadar Jakarta-Tangerang, Jakarta-Depok, atau Jakarta-Bogor, bukan. Melainkan perjalanan jauh pulang kampung ke rumah orang tua saya di Cepu, sebuah kecamatan dalam Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Jauh! Ya…walau memang kami menggunakan moda transportasi kereta api sih, bukan berkendara sendiri menuju ke Cepu-nya.

Continue reading “Perjalanan Jauh Perdana dengan Bayi 3 Bulan”

Advertisements
AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Catatan Akhir Tahun 2018

Liburan Tahun Baru 2018.
Ketika semua bermula.
Tidak peduli saat itu sudah “terlambat” 5 hari.
Tetap wahana “Tornado” ini dinaiki.
Bahkan mengulanginya lagi untuk berkunjung ke Dunia Fantasi Ancol kembali 2 minggu setelahnya.

Mungkin saat itu sudah paling ter-embuh dengan semuanya.
Dengan keadaan juga lingkungan.
Antara pasrah dan ikhlas.

Continue reading “Catatan Akhir Tahun 2018”

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Pengalaman sebagai Ibu Baru

Hai halo internet! I’m back!

 

Tulisan kali ini gue buat di tengah-tengah “kesibukan” baru gue as a new mom. Beberapa hal yang bakal gue tulis ini murni pengalaman gue, murni apa yang gue rasain, setidaknya dalam menuju 3 bulan pertama ini. Serba-serbi menjadi ibu baru memang luar biasa. Banyak hal yang berubah, tentunya ke arah yang jauh lebih baik.

 

Buat gue, menjadi orang tua itu seperti terlahir menjadi pribadi baru dengan berbagai tantangan baru. Seperti halnya belajar untuk semakin dewasa, semakin disiplin, semakin bertanggung-jawab, dan tentunya belajar untuk semakin sabar.

 

Nah, berikut ini beberapa hal yang menurut gue menjadi pengalaman baru gue setelah menjadi seorang ibu baru. Mungkin beberapa di antaranya, temen-temen yang mampir baca juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi, apa aja sih? Yuk, cekidot gan!

Continue reading “Pengalaman sebagai Ibu Baru”

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid”

Jika momen-momen kebersamaan dapat bermakna keakraban, namun mengapa harus merusaknya dengan bumbu-bumbu “yang tidak perlu” saat sedang pertemuan. Jika momen-momen kebersamaan dapat mempererat kekeluargaan, namun mengapa harus merusaknya dengan kata-kata “pedas berbekas” hingga di kemudian hari. Jika momen-momen kebersamaan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, namun mengapa harus merusaknya dengan sikap tidak saling menghormati privacy antar individu dalam sebuah pertemuan tersebut.

Dunia akhir-akhir ini dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai orang-orang terkenal yang ternyata mereka mengidap depresi dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Berita-berita tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa yang namanya penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya. Namun, jangan sekali-kali men-cap mereka “kurang iman”, jangan. Ini bukan perkara tidak beragama atau kurang iman. Melainkan hal ini juga dapat dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sekitar sang penderita. Lagipula kasus bunuh diri di dalam negeri pun juga banyak ditemui bukan? Walau mereka bukan orang terkenal, tapi kasus-kasus tersebut benar adanya dan nyata.  Continue reading “Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid””

AMG, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah

Sebelum memulai tulisan pada minggu ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh wanita hebat di dunia yang kebetulan jatuh pada minggu ini, yaitu tanggal 8 Maret 2018. Selamat!

– – –

Bagi sebagian wanita, terutama yang sudah beranjak dewasa, pasti akan memiliki rasa kelak ingin menjadi seorang istri yang baik bagi suami mereka dan menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anak mereka. Semakin bertambah usia, maka impian-impian tersebut akan semakin sering muncul dalam pikiran. Namun tidak dipungkiri juga, terkadang saat memiliki impian-impian indah tersebut, sebagian wanita “hanya” mengimpikannya tanpa ada persiapan-persiapan yang cukup matang, walau berjalannya waktu bagi sebagian wanita tersebut dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan-kehidupan baru mereka terkait impian-impian indah yang selalu mereka impikan itu.  Continue reading “Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah”

AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Traveling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa GadingContinue reading “Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)”

Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Film, Traveling

Review Film “Susah Sinyal”

Halo lagi internet!

Kali ini saya ingin kembali me-review sebuah film, lebih tepatnya bercerita tentang sebuah film. Dan film yang akan saya bahas adalah film Indonesia. Judulnya adalah “Sunyah Sinyal” dengan disutradarai oleh Ernest Prakasa.

Sedikit cerita, Ernest Prakasa merupakan seorang Stand Up Comedian yang sebelumnya telah mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV Season Pertama yaitu tahun 2011 dan berhasil mendapatkan peringkat ketiga. Berjalannya waktu, Ernest malah terlihat semakin melebarkan sayapnya di dunia tulis-menulis buku dan membuat film.  Continue reading “Review Film “Susah Sinyal””

Family & Friends, Hobby, Life, Review Film

Review Film “Wonder”

Hello internet!

Wiii, nggak kerasa ya udah hari Minggu lagi aja dan ini artinya hari terakhir batas setor tulisan blog di tiap minggunya. Dan hari ini sudah masuk minggu ke-3 Bulan Desember, alias minggu rentang tanggal 11 – 17 Desember 2017. 

Sebenarnya tema tulisan minggu ini tidak ada, alias bebas, tidak seperti tulisan bertema seperti pada minggu sebelumnya. Nah, saking bebasnya, malah saya jadi bingung mau nulis apa-an. Haha. Padahal seharusnya, semakin tidak ditentukan tema tulisan, maka harusnya semakin “lancar” diri ini untuk menulis. Namun nyatanya malah tidak demikian. 😀 

Karena saking bingungnya mau nulis apa dan kalau boleh dibilang ini sudah terlalu last minute banget menulisnya, akhirnya diputuskanlah untuk me-review sebuah film yang baruuu saja saya tonton yang menurut saya sangat bagus dan sangat direkomendasikan untuk ditonton. Hitung-hitung tema tulisan kali ini sedikit ada “nyambung”-nya juga dengan tema tulisan minggu lalu yang bertemakan “me-time“. Dan judul film yang akan saya review adalah film “Wonder“.  Continue reading “Review Film “Wonder””

AMG, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Traveling

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.  Continue reading “Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO”

Culinary, Family & Friends, Life, Public Transportation, Traveling

Reuni Akbar

Sabtu, 4 November 2017

 

Aku sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai di malam harinya aku tidur tidak tenang. Rasanya seperti  terkena sindrom “akan berlibur ke tempat yang seru” sehingga membuat hati dan saluran cernaku sedikit berbunga-bunga hanya karena menantikan datangnya hari itu.

Ya, Sabtu pagi itu aku akan pergi ke Bandung, ke kota di mana semua mimpi dan harapan dimulai. Hari itu aku datang ke acara Reuni Akbar yang diselenggarakan oleh sekolah di mana aku berkuliah dulu. Karena kegiatannya bertajuk “Reuni Akbar”, maka acara tersebut banyak dihadiri oleh para alumni senior. Tidak ketinggalan pula aku dan beberapa teman semasa kuliah juga turut meramaikan acara tersebut. Kegiatan Reuni Akbar Sabtu pagi itu selain sebagai ajang silaturahmi antar angkatan, juga sebagai ajang peringatan ulang tahun jurusan kuliahku yang ke-55 tahun dengan dibungkus sebagai Acara Lustrum yang tahun ini sudah menginjak Lustrum Ke-11Continue reading “Reuni Akbar”

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.  Continue reading “Just Be Positive”

Family & Friends, Hobby, Review Hotel, Traveling

Review POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta Utara

Hai, hello internet! Ternyata sudah berbulan-bulan lamanya tidak menulis di sini ya. 😀

 

Sepertinya saya akan menambahkan kategori baru dalam blog ini. Yep, saya ingin menambahkan kategori “Review Hotel”. Well, mungkin sebenarnya ide ini tidak terlalu menarik, akan tetapi saya terinsipirasi dari beberapa kegiatan proyek di mana saya terlibat di dalamnya, di mana saya harus melakukan perjalanan keluar kota dan mengharuskan saya menginap, 1 atau 2 hari atau bahkan selama 5 hari kerja dalam seminggu.

 

Akan tetapi dalam tulisan perdana dari kategori ini justru saya tulis dari pengalaman di luar kegiatan kerja proyek, melainkan dari kegiatan perjalan pribadi.  Continue reading “Review POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta Utara”

AMG, Family & Friends

Kejutan

 

Birthday Ring

Ini bukan cincin kawin, tapi ini cincin yang sangat berharga.

Disematkan dengan penuh drama, di tengah malam buta, dengan tiba-tiba.

Ini bukan cincin kawin, tapi bukan pula cincin biasa, melainkan cincin yang sangat istimewa.

Beliau datang perlahan menghampiri, membangunkanku dengan penuh hati-hati.

Mengecup lembut seraya berbisik, “Happy birthday, Sayangku,..

Seketika itu juga aku terbangun, perlahan namun pasti, dengan mata masih meraba-raba pukul berapa saat itu.

Lengannya yang melingkari perutku, bak penjaga yang siap siaga menjagaku dari belakang tubuhku.

Tanpa menunggu, tanpa memastikan kesadaranku sudah bersatu dengan suasana malam itu, lengan lainnya pun menyentuh jemariku, dan menyematkan benda itu pada jari manisku.

Ah, dirimu..
Pandai sekali membuatku tersipu.
Terima kasih.. 🙂

 

Matraman, 4 Oktober 2016

AMG, Family & Friends, Life

Dari Pencarian Review Klinik Kecantikan Berujung ke Pencarian Dokter Obgyn

Bismillah…

Dear Diary,

Nampaknya kali ini gue harus bener-bener serius bin serius bin serius lagi deh. Hahaha! (wah, emang serius tentang apaan sik?) Diiih, kepo. Nggak, nggak, bercanda. Gue kasih tau, kasih tau… :p

Jadi. (ciyeee…uhuk-uhuk, ehem)
Iya, jadi.
Jadi…..kan gue udah married tuh. (lah terus?)
Iya…jadi kan gue udah married . Ya…masih bentar sih, belum ada itungan banyak tahun. Cuman ya…gue kepikiran buat ngerencanain sesuatu aja. Lagipula, apa salahnya kan untuk kita berencana dan mencoba. (ciyeeeh…apaan ntuh) 😀

Iye, iye…nih gue kasih tau.
Jadi. Sebelum gue mulai berkisah (ceilaaah…bahasanya…berkisah), gue sama laki gue nggak ada niatan nunda-menunda perihal momongan. Walau emang sih di 6 bulan-an awal pernikahan kita, kita suka merhatiin kalender kesuburan yang bahkan sekarang ada apps-nya di HP. We used to notice tanggal-tanggal “rawan” itu. Tapi lepas dari 6 bulan-an itu, kita udah nggak aware lagi tuh sama tanggal-tanggal yang dianggap “rawan” kehamilan. Justru sejak saat itu gue suka merhatiin tanggal-tanggal di mana gue lagi dalam keadaan subur, walau nggak sering-sering juga sih. Lagian yak, tiap mau uhuy ribeut amat dah kudu ceki-ceki HP dulu. Rempong, bo! Nepsong mah, nepsong aja. Hahaha. 😀
Dan di tahun 2015 lalu, ya kira-kira pertengahan tahun sampai akhir tahun lalu, gue sama laki gue lagi iseng-iseng berhadiah buat rutin maen ke RS Tebet.

Awalnya sih, nggak sengaja aja nemu dokter SpOG di RS tersebut. Karena juga kebetulan kantor proyek yang sekarang itu deket banget sama RS Tebet, di area perempatan Pancoran belakang Bidakara ituh. Tepatnya di area perumahan BIR.

Nah, kenapa di RS Tebet? Ya karena sebelum gue mutusin mau maen ke mana, gue googling dulu dooong, dokter SpOG mana yang bagus dan yang pastinya harus perempuan. (ini gue udah prinsip banget, kudu, wajib, haram pokona mah kalo enggak, hehe)
Dan dari hasil googling-an gue di tahun 2015 lalu, pilihan jatuh ke nama dr. Cut Diah Tris Mananti, SpOG.
Nah…pas gue lihat-lihat, salah satu lokasi Beliau praktek adalah di RS Tebet.
Wuiiih, pas banget bo! Deket! Hehehe.
Bahkan pas udah eksekusinya, gue malah jalan kaki terus tiap berangkat ke sana dari kantor. Hahaha. Sehat kaaan.
Jadwal Beliau di sana yang gue ambil itu hari Rabu malem pasca jam pulang kantor dan bisa reservasi by phone.

Beliau ini orangnya ramah, baik, tapi tegas. Maksudnya, enggak galak gitu as long as you sebagai pasien nggak bandel. Hahaha. Eh tapi serius, Beliau orangnya buaek banget kok.

Dari hasil selama kurang-lebih setengah tahun tersebut, alhamdulillah kondisi gue sama laki gue dinyatakan sehat dan normal-normal saja. Cuman ada 1 hal yang paling diwanti-wanti sama dokternya, kita kudu dieeet! Hahaha. (kita ni pasangan bandel, mpun deh)
Oiya, dalam pemeriksaan kondisi kita berdua, kita juga mengambil beberapa tes (tes lab) buat ngedukung pemeriksaan gue dan laki gue sama Dokter Cut di RS yang berbeda, yaitu di RS Omni Pulomas. Karena RS Omni ini selain memang RS bagus, juga karena RS Omni masuk daftar RS yang biayanya kalau kita maen ke sana, dicover sama perusahaan laki gue. Hahaha, iya laaah, cari yang bagus tapi free aja kaaan. 😀

Dari pemeriksaan awal tersebut, gue ma laki gue belum lanjut lagi. Dan tau-tau…..udah mau pertengah 2016 lagi ajeee. Ya ampuuun. Cepet banget bo! Haha.

Gue nggak tau sih, mungkin kitanya terlalu nyaman (dan terlena) sama kondisi kita saat ini. Terlalu enak dan nyaman. Bahkan gue paling nggak ngerti kalau pas ada yang nanya tentang hal ini, dan dia cowok, ada pertanyaan, “serius laki lo nggak masalah & nggak panik apa gitu gan/nis?” Lah…lha emang nggak ada apa-apa dan santai aja kok.
Lagian kalau nggak santai, saat ini gue udah berhasil jalanin diet nurunin berat badan kali ya. Hahaha.

Nah…berangkat dari terlalu terlena tadi itu, kita juga harus makin mikir buat bisa “lebih serius” lagi dong dalam merencanakan hal ini.

Dan gue, abis googling meng-googling lagi nih. Iyes, buat nyari-nyari dokter lagi. Awalnya sih sebenernya nggak sengaja ya. (lagi-lagi nggak sengaja, 😀 ) Awalnya iseng karena sesungguhnya penasaran sama klinik kecantikan di RSIA Tambak. Soalnya, tiap hari berangkat dan pulang kantor selalu nglewatin jalur itu, karena gue tinggal di area Matraman.

Nah, di dinding gedung RSIA Tambak itu tertulis iklan promo besar-besaran untuk treatment laser penghilang bekas jerawat, kantung mata, kerutan di wajah, dsb dengan harga Rp 500.000++.
Tiaaaaap hari gue baca tuh tulisan. Gimana nggak penasaran kan. Dan ternyata pas gue compare sama treatment sejenis di tempat laen, harga sekian termasuk kategori “murah”. (hmmm…iya, murahnya dalam tanda kutip yah, inget, dahulukan kebutuhan pokok sebelum kebutuhan tersier a.k.a foya-foya, wkwk, nggak-nggak bercanda)

Nah, karena penasaran, gue googling lah tuh si RSIA Tambak. Karena dari namanya juga khusus rumah sakit ibu dan anak, tapi kok nyediain klinik kecantikan juga yaa. Gitchu…

Eh, lhaaa…dari hasil googling meng-googling ini nih gue baru tau kalau ternyata, banyak ibu-ibu yang nyaranin seorang dokter SpOG yang praktek di RSIA Tambak itu. Bahkan banyak yang review kalau pelayanan di sana supeeer enak, ramah, bahkan termasuk suster-susternya, satpamnya, bahkan sampai tukang parkirnya ramah semua, dan tempatnya nyaman banget, homey abis. Ini gue dapet referensi salah satunya dari femaledaily.
Nah, berhubung itu thread tahun 2012-2013 itu UDAH kondisi bagus kayak gitu, gue narik kesimpulan kalau di sana itu emang nyaman banget dan tempatnya enak, dan seharusnya di tahun 2016 kondisinya makin oke dooong, minimal ya sama lah kayak tahun 2013 lalu. Hehehe.

Nah…salah satu dokter SpOG yang paling favorit di sana adalah dr. Oni Khonsa, SpOG. Dan pas gue googling kek mana rupa Beliau, eh ternyata, perempuan! Yeay!
Yang tadinya mau cari-cari informasi tentang dunia per-setrika-an wajah itu, eh, malah berakhir memunculkan niat buat serius bin serius bin serius bin serius lagi. Wkwkwk. Mungkin kalau gue udah jadi orang tua dan ngelihat gue (sebagai anak gue) dan laki gue (sebagai mantu gue) nyante begini, udah gue sentil kali yak. Hahaha. Ya…alhamdulillahnya, ortu kita berdua nggak ribeut dan ikutan santai juga. Pasrah. Lah…hahaha.

Jadi kesimpulannya adalah…..jeng-jeng-jeng!
Kayaknya gue bakal mau ambil jadwal rutin lagi deh buat ke SpOG. Tapi kali ini gue akan coba ke RSIA Tambak dan ke Dokter Oni tadi. Dari review yang gue baca, beberapa ex-pasien Beliau banyak yang puas banget sama performa Dokter Oni dan bahkan ada yang nyesel kenapa nggak dari anak pertama aja ya dia udah bareng sama Dokter Oni. Katanya Beliau ni orangnya ramah, baek, dan super sabar. Beuh…manteb banget nggak tuh bacanya kaaan.
Cuman ya gitu, ada sesuatu yang bagus, pasti ada juga resikonya. Yup! Dari review yang gue baca juga, antrian buat Dokter Oni tiap lagi praktek ini puanjaaaaang banget, bisa sampe mengular! Nah lho…hahaha.
Tapi yang gue seneng, pas gue lihat jadwal Beliau di RSIA Tambak, (ternyata di 2016 ini Beliau masih praktek di sana chuy, kan review yang gue baca tahun 2012-2013…gitchu…) ada jadwal di hari Jumat dari sore sampe jam 12 malem! Beuuuh. Manteb nggak tuh. Kali aja ntar sambil nunggu antrian, kita bisa mampir dulu bentar ke resto sebelah, restoran arab Hadramout. (lah…belom-belom udah ngomongin makanan lagi aje…hahaha)

Oke, jadi.
Daripada gue harus jauh-jauh ke RS Tebet lagi, mengingat juga proyekan gue di kantor Pancoran udah mau kelar, gue mending pilih tempat yang deket sama tempat tinggal saat ini, ya, yang deket Matraman.
Gue pas tau ada informasi ini, beuh rasanya…..kenapa nggak dari tahun lalu aja sih gue bacanya. (ikutan emak-emak di forum dah, hahaha) Kan enak, kelar periksa, tinggal jalan santai menuju rumah. Hahaha. Deket banget soalnya. Kalau jalan kaki lambat aja kira-kira 30 menit lah sampai rumah.

Doakan kita ya, siapapun Anda yang sempat mampir ke blog gue. Hehehe.
Wish us luck then! Bismillah wae nya. Yeay!

– – –
Matraman, 30.05.2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Visiting the Sick

This writing is inspired by the time when me and office mates visited our Big Boss who had to be stayed for days in the hospital. I saw his wife told us a little bit displeasure when some of her husband’s friends came to visit him then took some photographs of him. She said it would bother him by spreading the information of his sick among his friends. She said they shouldn’t have taken the husband photograph and shared it to his friends. Despite the fact that my Big Boss was no objection about it. But I saw it as a form of an attention and an affection from the wife to the husband.

 

It has to be noted when you wanted to visit one of your friend or colleague or even family who’s in unhelthy condition so then he/she should have a bedrest time at home or at hospital.

We have to understand why almost all hospitals adjust their tight schedule for patients’ guests who want to visit them. You may see that commonly hospitals have two times for visitors schedule. Usually it happens at noon between 11.30 – 12.30 (lunch time) and at evening between 17.00 – 19.00 (dinner time). But sometimes most of us didn’t pay attention with the rules just because we feel as part of the family which actually we’re not in the main family member or we’re the patient’s close friend, etc.

 

Visiting the sick is a very good action and good suggestion to do, especially if the sick is someone you close with, like family, friend, or colleague. Even in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam said,

“When a Muslim visits his sick Muslim brother in the morning, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the evening. And when he visits him in the evening, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the morning, and he will be granted a garden for it in Jannah.” (HR. at-Tirmidzi and Abu Daud)

The other Hadith of Our Beloved Prophet that mention about visiting the sick is a Sunnah:

“Whoever visits a sick person (for the pleasure of Allah), a Caller from the skies announces: You are indeed blessed and your walking is blessed and you have (by this noble act) built yourself a home in Jannah.” (HR. Ibnu Majah)

And still, don’t forget and always to remember when we visit the sick is we have to follow the rules that might be held by the hospital or if the sick stayed at home then the rules were held by the host.

The simply action you can do is to be polite, do not make any noisy thing, and do not stay for a long time to let the sick continues his/her bedrest time.

Even also in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassallam that related by Hadrat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu’anhu:

“It is part of the Sunnah that when you visit a sick person, you should shorten your visit to him and make the least amount of noise by him.”

 

– – – – –

grandma-kissing-grandpa-elderly-couple-love-eps-illustration-46330886

The other wisdom that I could take from the moment is the couple was looked nice, happy, and seemed that they always live in peace and never had fight on each other. They’re still romantic on that age. (it showed when they did their conversation and a little movement of their hands when they touched each other in front of us)

And my prediction of my Big Boss and his wife ages are among 60s.

Incredibly beautiful, isn’t it?

 

– – –

11.00 WIB

Matraman, 26.03.2016

 

Culinary, Daily Recipes, Family & Friends, Hobby

The Failed Birthday Crepe-Pan”Cake” (Resep Crepe Cake)

Selamat ulang tahun Kakak Suami…!

21.03.2016

 

20160321_052510.jpg
Sebelum Nyurprise Pagi2 Subuh

 

Teringat beberapa tahun lalu saat saya pertama kali memberikan kejutan kepada (calon) suami saya kala itu yang masih menjalani program studi S2-nya. Siang-siang celingak-celinguk ke gedung prodi lain, menuju lab Beliau. Hahaha.

 

Tahun ini, saya kembali mencoba untuk membuat sesuatu. Resep saya temukan di sebuah halaman facebook luar negeri yang berisikan resep-resep unik nan simpel dalam prakteknya. Dan saya membuat sebuah crepe-pan”cake” untuk menu “Birthday Surprise” kali ini. Mumpung karena pagi hari juga, sekalian kan sarapan. Hehehe.

 

Bahan Crepe:
1) 1  2/3 cup cake flour (saya pakai Kunci Biru & based on web 1 cup = 110 gram).
2) 3 tsp chocolate powder (saya pakai Cocoa Powder Van Houten).
3) 3 telur utuh.
4) 3 kuning telur ajah.
5) 3 tsp gula (atau sesuai selera, ternyata ini kurang manis).
6) 600 ml susu putih segar (saya pakai Greenfields).

 

Steps Bikin Adonan Crepe:
1) Ke-6 bahan di atas mixer semua sampe nyampur se-nyampurnya.
2) Diemin 30 menit.
3) Setelah didiemin 30 menit, tambahin 40 ml unsalted butter (dicairin & saya pakai Elle & Vire).
4) Kocok2 sampe nyampur banget.

 

Steps Bikin Crepes Lembek (saya bikin kurang lebih 30 layers):
1) Panasin teflon (please kudu yg bersih mulus jangan ada bekas gosong).
2) Lapisin permukaan teflon dengan mentega/butter dikit (biar licin & nggak lengket).
3) Ambil 2 sdm adonan crepe & bikin lingkaran tipis di atas teflon yg udah panas (setelah saya pikir2, harusnya 3 sdm euy sesuai petunjuk aslinya).

 

Setelah semua crepes ready, then, bikin adonan coklat buat ngelapis cake2 ituh.

 

Bahan Adonan Cairan Coklat:
1) 250 gram coklat block (saya pakai L’agie).
2) 50 gram unsalted butter (saya pakai Elle & Vire).
3) 100 ml Whipping Cream Cair (saya pakai Anchor).
4) 150 ml susu putih segar (saya pakai Greenfields).
5) 55 gram gula.
6) (seharusnya) Espresso 100 ml (tp saya tadi skip saja karena mikirnya Abang nggak doyan kopi).

 

Steps Bikin Cairan Coklat:
1) Rebus air di panci panas.
2) Taruh baskom/sejenisnya di atas panci (ditumpuk).
3) Cacah2 atau potong2 kecil coklat block nya. Semuanya se-250 gram-nya.
4) Masukin unsalted butter-nya yang 50 gram ituh.
5) Aduk2 sampai lembek & nyatu (si coklat & unsulted butter).
6) Masukin whipping cream, susu segar, & gula.
7) Aduk-aduk merata.
8) Terakhir, (yang seharusnya dilakukan) tambahin espresso-nya.
9) Aduk-aduk.

 

Bikin Pan”cake” Birthday-nya:
1) Tinggal ditumpuk-tumpuk crepe-nya dengan tiap layer dilapisi coklat cairan coklat barusan.
2) Jadi deh.
3) Walau failed!
4) Dan ini padahal mengambil resep dari sebuah page fb & ternyata nggak semudah (se-apik) video tutorialnya. Hahaha.

 

Selamat mencoba!

🙂

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Female and Engineering Life (1)

Hello February! 🙂

Today I want to tell you a little bit story about my life as an environmentalist through these 2 (two) years of working experiences, or I could say my life after graduated from Environmental Engineering field for my Bachelor’s Degree last 2013. Also how I could be on this way today.

This writing is inspired by some friends, especially my girlfriends  who always have enthusiastic when they talked about their future dreams and their “what’s next to do” even though some of them are married and have babies.

– – – – –

Senior High School Graduate and “Choosing” Phase

After finished from senior high school, I admitted that I was included in “followers” type of person. I had a dream to be a police woman and wanted to continue my study to the Police Academy in Semarang, Central Java. But if I could say, maybe that was only because of I studied in semi-military senior high school which has similar school-type with the higher education of military-acamedy schools. My senior high school is applying military system, such as high disciplinary and applying boarding school system.

However, the fact said that I was a “follower” person, so I decided to try any opportunities ahead. Coincidentally, the Police Academy where I dreamed of to be part of it, didn’t open for new students in that year, 2008.
(I’m still wondering why they postponed it until a year ahead. Cmiiw. But I realize something that maybe it was what we always called as “God Always Makes a Good Plan for all of us in this world” and yes, God Always Knows the best for ourselves.)

Then I followed others to register for some tests to enter some universities, and my first preference was the UGM or Universitas Gadjah Mada which placed in Jogja, with majors I wanted to take were Dentistry and Electrical Engineering. Moreover, the UGM is near from my hometown, Banjarnegara which we only take 6 hours maximum to reach Jogja City from Banjarnegara. I took 2 (two) types of the UGM entrance examinations, but sadly I didn’t pass them all. Ha-ha. I felt really sad as if there’s no more options I could take. Well, I mean it. I had my weeping until 3 (three) days after. I don’t know why I was really sad and upset.

Then (again) I followed my friends to register another entrance examination for another university and it was the UnDip or Universitas Diponegoro which placed in Semarang, with majors I wanted to take were General Medicine and Electrical Engineering. Sadly, I was in very less information condition about various types of study fields in the university. That’s why I kept being a “follower” to others. I kept choosing what my friends chose. Really sad, wasn’t it? But before the UnDip test held, the ITB or Institut Teknlogi Bandung opened registration for its first type of entrance examination. Again, as a “follower”, I completed my registration form too like my friends did, whereas I didn’t really understand enough what study fields there were.

And it was my first inner turmoil throughout the university application processes..

Actually I really wanted to continue my higher education near my hometown, Banjarnegara which might be taken place in Purwokerto, Semarang, Jogja, or the furthest city Solo. I was a homesick type of person. I often felt it when I was still in senior high school. So I arranged my self hardly to be a student or a part of those near universities (which placed in those 4 cities). Until oneday I told my parents that I didn’t want to take another chances aside from the ITB’s entrance examination or the UnPad’s that is still also in Bandung area (same city with ITB and my senior high school), although my parents occasionally forced me to take another chances of other universities which placed in West Java area or Jakarta area, such as the UI and the IPB. No, I really didn’t want it. I said, the furthest city was only Bandung, not Bogor even more Jakarta! I remembered how angry I was. Ha-ha.

Well yes, words are words, I had to carry out what I just said to my parents. I had no other choices. So I took the ITB’s entrance examination and felt like I wouldn’t take it seriously, and wouldn’t make it. Besides it’s true that almost all the questions were really hard to be solved. I was hoping I would be rejected and could came back to my region, Central Java area. That examination held after I failed 2 (two) tests of the UGM’s. And again,  coincidentally the UnPad hadn’t open registration for its entrance examination yet.

About a month later…..

I remember that night, me and my generation, Teners were assembling in the school’s main hall  after our dinner activity before we came back to our dormitories. We were talking seriously about the national exams that would be occured in days ahead. I forget in detail, a day after that night if I’m not mistaken, me and my friends drove together into the counceling office. Yes, only for checking the announcement about the ITB’s entrance examination result. And it was really unexpected moment. Unbelievable. I read the announcement on computer screen again and again. I was stunned! I repeatedly inserted my test number and pressed “enter” only for making sure my self.

Well, well, yes. I passed the examination. But really, I felt like “floating” and on the contrary mind I started thinking that I had to deal with the separate ways again between Banjarnegara and Bandung and I had to enjoy it (again?), IF I took a chance be an ITB student. Yes, I mean it, “if”. I was in very doubtful almost a week until some friends came to me, advised me, even one of them was angry to me. They said I had to let the UGM dream go away, move on, and face the new destiny of me, accept it, enjoy it. Then one of them, his name is Pandu, he said with pressure words and a little bit like angry (because he’s really wanted to be an ITB student, but he failed on that test and felt upset), he said I HAD TO be grateful, move on, and MUST accept the chance! For a moment I was glued and started to think what he just said was so much true: I had to move on! And yes, finally by the time I realized it. But still, it was like a dream and until today I’m thinking I was just…..lucky.

(Pandu was failed on first type of ITB’s entrance examination but he made it on the second chance on the second type of its entrance examination. Today, he’s an expert geologist who’s working for one of BUMN company.)

image

Being a Woman, Life, Passion, Dreams

Well, yes. After that dramatically chapter of my life, finally I accepted the result and became more grateful and wouldn’t make it as a useless chance. I was happy and preparing my self for the next stage to be part of the Ganesha Campus.

I was in Faculty of Civil and Environmental Engineering department and took Environmental Engineering for my major.

Days became weeks, weeks became months, and months became years. As I said before, I was just lucky and might be it’s true that I don’t have any aptitude to be an engineer. I needed 5 (five) years to complete my Bachelor’s Degree by the final GPA score isn’t as good as others’.

But still, really Thank God that my journey as an amateur-graduate-engineer started right after I was announced as a graduate-to-be, after finished my final thesis examination. It was in July 2013. Before the graduation ceremony, by the help of my thesis supervisor, I joined a short-term project that only held in 2 (two) months. That was my first job as an environmentalist. I was so excited and very happy, even though the salary was (maybe) in low value. But truly, as a less-smart person, I wouldn’t make that chance useless. (I won’t say my self as an idiot or a dumb after all those years that everything I’ve faced. I’ll always appreciate my self in previous life inside “college chapter” and won’t feel regret at all.)

In January 2014, I moved to Jakarta with my husband (finally we’re officially married, :p) with jobless condition. Actually, it wasn’t a problem anymore for my self because I’m married. But since my husband has never felt objection if I went to work, so I tried to apply for some new jobs. And back again, lucky me, I was hired by a company to have role as a junior environmental engineer or we could say as an assistant of the environmental engineer expert for a project. The point is I still have a chance and still have my lucky to implement all of I’ve learned at the college into the environmental engineering world until today.

To be honest, at the first time I acquainted with the engineering world or the ITB’s world, I didn’t have an enough knowledge what engineering field study was. It has proven by the result of my final GPA score and the 5 (five) years I had to finish my study. (ha-ha) I felt hard passing day by day there, inside the ITB. That’s why I always underline the word “lucky” for that “ITB scene” of my life.

I used to think that is very impossible for me to get an environmental engineering job, again, I thought it would be related to my GPA score. But the fate said that actually I have same opportunity with others and I don’t need to feel low self-esteem. Well yes, to be honest, I’m still feel inadequate when I compared my self with my friends until today. Nonetheless, I’m trying to be more confident and fight my faint-hearted. And gradually, I’m accustomed by this engineering field and becoming enjoy with its world. Met new people then increasing my network have made my self to be more spirited, confident, and relaxed with anything that happened in working situation.

I trully never imagine that my life would be as wonderful as it is. Really Thank God for everything I have. Slowly but sure, even though I’m a female and now working at engineering field, I still have dreams to develop my self and increasing my skills through a higher education or some other ways I could take later. Might be true, nowadays I’m not good enough in this engineering world but it’s still possible for me to make it as my “real” passion for my future and for my entire life.

However, I have to realize my role in this world too, my responsibility as a wife and a mother (later, insyaaAllah). I have to balance my self among my family life, my hereafter life, my dreams, and anything I want to do.

The most important thing is everything that I lived in, must have gotten permission from my husband because in accordance to the God’s rule, my life is in his hands which I became his responsibility after the consent granted happened (ijab qobul procession). And for the reciprocal, I have to keep my self keep on positive-track and always be in the right way, even if I would be very ambitious for chasing my dreams. I hope someday I could be useful not only for my self or my family but also for people around me. Aamiin. Wish me luck then. 🙂

– – – – –
Matraman, 21.02.2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Ibu,..

Hari ini, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam (dalam kalender Hijriah), adalah juga merupakan Hari Ulang Tahun Ibu yang ke-56 Tahun, berdasarkan kalender Masehi.

Ya, hari ini, 24 Desember adalah hari yang seharusnya menjadi hari ulang tahun Ibu yang ke-56.

Ibu, insyaaAllah Jannah tempat Ibu saat ini.
Menanti kehadiran kami, di sana, sampai batas waktunya nanti.

– – – – –

image

Ibu adalah orang yang saaaaangat baik.
Kalau boleh dikatakan, ganis ini beruntung yang seuntung-untungnya.

Ganis yakin, jika bukan karena kebaikan Ibu, mungkin saja pernikahan antara ganis dan Bang Amir tidak akan pernah terjadi.
Ganis selalu ingat masa-masa itu, masa-masa di mana penuh kebimbangan dan ketakutan.
Namun dengan seizin Allah melalui kebaikan Ibu yang sungguh sangat luar biasa, kini semuanya yang terlihat “tidak mungkin”, menjadi “sangat mungkin”.
Ya, ganis pada akhirnya bisa menjadi menantu Ibu.
Ini yang selalu ganis sebut sebagai “Keajaiban”! :’)

Ibu adalah Ibu yang sangat lembut, baik hatinya, hangat, penyabar, dan pokoknya benar-benar seorang Ibu dambaan bagi setiap orang. Ganis sangat yakin itu.
Bayang-bayang “mengerikan” mengenai sosok Ibu Mertua itu benar-benar tidak ada sama sekali.
Sifat Ibu yang demikian baiknya benar-benar sering membuat mata ganis berkaca-kaca dalam diam, mensyukuri nikmat luar biasa yang sedang Allah berikan untuk ganis.

Ya, Ibu saya ini benaaar-benar sangaaat baik!

Belum sempat ganis bertanya dan meminta nasehat, kiat-kiat, serta tips-tips di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak ganis kelak, cucu-cucu Ibu, khususnya pengalaman Ibu di dalam membesarkan dan mendidik Bang Amir, Elisa, & Huda, ternyata Allah Sudah Berkehendak lain.
Ganis sungguh benar selalu penasaran, apa yang sudah Ibu kerjakan dan amalkan di dalam membentuk pribadi Elisa, Huda, & Bang Amir sehingga menjadikan mereka  manusia-manusia sholeh-sholehah seperti saat ini.

Selalu teringat, pada masa setiap pertengahan dan pergantian Bulan Hijriah, atau pada saat tanggal-tanggal penting bagi kita umat Muslim, Ibu selalu mengingatkan ganis (dan juga Bang Amir), di dalam membaca suatu do’a tertentu.
Mengingatkan amalan-amalan apa saja yang baik dilakukan.

Dan pokoknya dalam banyak hal. Ibu adalah yang terbaik! Ibu paling bijaksana sedunia! Lembut, hangat, arif, bijaksana, dan semua sifat baik Ibu benar-benar ingin ganis contoh.
Sungguh belum tentu ganis bisa menjadi seorang ibu seperti Ibu.

Kami Bu, anak-anak Ibu insyaaAllah akan senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah untuk Ibu.
InsyaaAllah khusnul khotimah dan insyaaAllah Jannah tempat Ibu saat ini..

– – – – –

Matraman, 24.12.2015