Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.

– – –

Kembali kepada nasehat positif tadi, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga. Ya, saya masih dan akan selalu yakin dan percaya demikian.


Misal, dalam suatu tes atau ujian sesuatu. Ada sebagian orang pada mulanya grogi, nervous, nggak yakin, ketakutan, dan sebagainya. Akan tetapi karena akhirnya mereka yakin dan telah bersungguh-sungguh dengan ikhtiarnya masing-masing, yakin bisa, yakin mampu, kemudian semakin hari semakin positif semangat dan pikirannya, ternyata benar-benar membuahkan hasil, mereka pun lolos ujian!

– – –

Bahasan berikutnya, terkait dengan artikel-artikel yang suka beredar luas di masyarakat dan berdasarkan penelitian-penelitian psikologi oleh para ahli.

Misal, mungkin pernah ada yang mengatakan, “wajar”, namanya juga hidup berpasangan, apalagi dalam kehidupan berumah-tangga, berantem-berantem begitu itu “wajar”, bisa jadi bumbu asem-manis kehidupan berpasangan dan biar bisa jadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk ke depannya atau bahkan dapat diceritakan kepada anak-cucu kita.

Akan tetapi, kalau bisa nggak perlu berantem-berantem, kenapa harus “memaksakan” untuk berantem.

Terkadang stereotype-stereotype yang umum dan berlaku “pada umumnya” di masyarakat, yang dianggap “wajar” dan “biasa”, nggak perlu dijadikan “trend” juga atau beranggapan “ini lho track yg udah bener” atau “berarti kalau kamu “begini” itu sudah wajar lho“, dan sebagainya.

Terkadang artikel-artikel hasil penelitian dunia psikologi untuk sebagian (kecil) orang memang nggak cocok.

Misal lagi, ada yang mengatakan “wajar”, ibu hamil kan pasti ngidam. Tapi nyatanya, untuk sebagian orang ternyata “perasaan ngidam” tersebut nggak muncul sama sekali sampai mereka melahirkan.

(bahkan dalam hal ini, Ibu saya yang orang Biologi murni, bilang, kalau “trend ngidam” ini hanya fenomena “ikut-ikutan” dan bahkan hanyak “efek pengaruh pikiran”, karena para ibu hamil ini senang membaca artikel-artikel terkait ngidam, dan berdasarkan pengalaman Beliau, anak sampai 3 begini, nggak pernah ngidam sama sekali, yang membuat saya malah bertanya-tanya “kok bisa Bu? wow”)

Kemudian ada lagi artikel yg mengatakan, untuk kehidupan berpasangan, nanti di usia mencapai 5 tahun ke atas, pasti akan muncul rasa bosan dan akan dimulai berantem-berantem kecil dan itu adalah “wajar”. Tapi nyatanya, banyak juga yang ternyata pasangan yang sudah hidup bersama selama 10 tahun ++, bahkan 20 tahun ++, nggak pernah sama sekali berantem, nggak pernah sama sekali merasa bosan, bahkan “dipaksa” untuk menciptakan “adegan” berantem pun, gagal juga, alias bener-bener nggak bisa berantem sama sekali. Nah lho.

– – –

Kalau nggak salah, cmiiw, di setiap penelitian-penelitian psikologi-psikologi tersebut biasanya pakai angka persentase-persentase. Misal, ingin membuktikan kondisi “begini (X)” pada masyarakat yang dianggap “umum” dan “wajar”, yang kemudian diharapkan hasil kondisi “begini (X)” memiliki persentasi paling besar mendekati mayoritas dari random sampel yang diambil. Akan tetapi kemudian terdapat catatan, bahwa kondisi “begini (X)” mengandung kesan atau konotasi negatif.

Misalnya seperti ini, diadakan suatu penelitian tentang tema sesuatu hal, yang penelitiannya sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang juga oleh para ahli dengan tema yang sama, kemudian menunjukkan hasil seperti ini:

86% orang itu ternyata memang “begini (X)” dan 14% lainnya “begitu (Y)”. Maka muncul stereotype “umum”, “oh wajar” kalau misal mengalami kondisi X. Padahal, sekali lagi padahal, kondisi X adalah kondisi dengan kesan negatif.

Kenapa harus memaksakan diri menjadi bagian yang 86% tadi yang “umum” dan dianggap “wajar” berlaku dalam masyarakat yang padahal merupakan sesuatu hal yang berkesan negatif?

Kalau kita bisa menjadi atau bahkan naturally menjadi bagian yang 14% yaitu kondisi Y dan memang golongan 14% ini merupakan sesuatu hal dengan kondisi yang positif, kenapa tidak?

– – –

Saat ini saya masih dan selalu percaya dengan kekuatan pikiran. Apa yang kita jalani, alami, dan lalui merupakan hasil buah pemikiran kita sendiri dan sesuai apa yang kita percayai. Dan saya masih dan akan selalu percaya nasehat para bijak yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, di mana, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

– – –

Well, hidup cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dan sepositif-positifnya.

– – –

Sama seperti yang sedang saya alami (eeaaa curcol). Saya yakin dan masih akan selalu yakin, Tuhan Bukan Tidak Percaya kepada kami, bukan, melainkan Tuhan Mempersiapkan waktu terbaik-Nya, dan saya sangat yakin kalau kami punya kesempatan yang sama dengan yang lain.

Andaikata pun, na’udzubillahimindzalik, sampai nanti di penghujung waktu masih “belum kejadian” juga, maka saya yakin, Tuhan Memang Punya Rencana Terindah untuk kami berdua dan mungkin Tuhan Memang Mempercayakan kami untuk suatu hal lainnya yang memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih. Dan toh pun jika benar demikian, na’udzubillahimindzalik, mungkin sudah beberapa masa yang kami lewati, di usia panjang kami insyaaAllah (aamiin) dan mungkin juga sudah beberapa aksi atau kegiatan positif yang sudah kami kerjakan, lalui, dan jalani, dan mudah-mudahan bisa bermanfaat juga.

Setidaknya juga, jika benar sampai di penghujung waktu nanti kami masih “belum-belum juga”, na’udzubillahimindzalik, setidaknya, kami pasti sudah berusaha semaksimal kami bisa, berbagai ikhtiar dan cara pasti sudah kami coba, dan tentu saja tidak akan ada penyesalan dan rasa kecewa sedikit pun kepada-Nya, karena rasa kecewa dan rasa sesal yang muncul adalah jelas bisikan setan.

Lagian, masa’ kita mau marah dan benci kepada Sang Maha Pencipta kita? Ya nggak to.

So jadi, tetap dan berusaha selalu positif. Kondisikan pikiran agar selalu positive thinking. InsyaaAllah “bonus”-nya pasti juga positif. (dan mudah-mudahan “positif” beneran, eeaaa, aamiin) 😀


– – –

X-Trans Arah Bandung,

23 September 2017

08.25 WIB

Advertisements

Review POP! Hotel Kelapa Gading Jakarta Utara

Hai, hello internet! Ternyata sudah berbulan-bulan lamanya tidak menulis di sini ya. 😀

 

Sepertinya saya akan menambahkan kategori baru dalam blog ini. Yep, saya ingin menambahkan kategori “Review Hotel”. Well, mungkin sebenarnya ide ini tidak terlalu menarik, akan tetapi saya terinsipirasi dari beberapa kegiatan proyek di mana saya terlibat di dalamnya, di mana saya harus melakukan perjalanan keluar kota dan mengharuskan saya menginap, 1 atau 2 hari atau bahkan selama 5 hari kerja dalam seminggu.

 

Akan tetapi dalam tulisan perdana dari kategori ini justru saya tulis dari pengalaman di luar kegiatan kerja proyek, melainkan dari kegiatan perjalan pribadi.

 

– – –

 

Pada mulanya ide menginap di luar rumah ini muncul secara random dan tiba-tiba begitu saja. Rasanya seperti seru saja jika bisa menginap di luar rumah, dengan menginap di hotel yang tidak perlu mahal-mahal juga, dalam arti yang murah-murah saja. Seru! Begitu kami pikir. Kemudian saya berpikir untuk menginap di hotel yang dekat dengan mall, bila perlu hotel yang menyatu dengan mall. Dan jadwal menginap kami kala itu adalah weekend di tanggal 1-2 April 2017.

 

 

Mencari, mencari, dan mencari, dapatlah tujuan kami ke POP! Hotel Kelapa Gading yang letaknya menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Mengapa di POP! Hotel? Tentu saja selain harganya murah sebagai hotel budget, lokasinya pun berdekatan dengan pusat perbelanjaan, jadi ketika keluar kamar, tidak perlu jauh-jauh berjalan untuk menuju mall terdekat sebagai tujuan kegiatan weekend kami.

 

Beberapa hari kemudian setelah memesan kamar pada hotel tersebut, saya mendapatkan undangan pernikahan dari seorang kawan semasa kuliah untuk menghadiri acara resepsi pernikahannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 1 April 2017! Wow! Perlu diketahui, sebelum adanya undangan pernikahan ke Kelapa Gading tersebut, kami sudah terlebih dahulu memesan kamar pada POP! Hotel Kelapa Gading tanpa tahu di kemudian hari akan diundang ke pernikahan di daerah Kelapa Gading juga. What a coincidence, wasn’t it? 😀

 

– – –

 

Review Hotel

 

POP! Hotel Kelapa Gading merupakan Hotel Budget Bintang 2 yang letaknya di seberang selatan persis Masjid Raya Al-Musyawarah Kelapa Gading. Untuk menuju hotel ini, bisa dari pintu masuk yang terletak pada seberang masjid tersebut, atau masuk melalui jalan kecil dari pintu masuk MKG 3. Dari meja resepsionis mall, menuju belok ke arah kiri ke arah jalan kecil yang tembus ke arah hotel tersebut.

 

Selain itu, POP! Hotel Kelapa Gading juga memiliki akses langsung (menyatu) dengan MKG 3 dengan jalan tembus dari lantai 3 area food court mall dengan privasi khusus, karena untuk melewati jalan tembus ini harus menggunakan kartu kamar hotel. Cukup menyenangkan dan memudahkan tamu hotel jika ingin menonton film pada saat midnite, seperti kami. Tidak perlu repot-repot turun tangga dan keluar mall untuk kembali ke hotel, melainkan bisa langsung melalui jalan akses di lantai 3 ini, dan lagi posisi Bioskop XXI MKG 3 juga terletak di lantai yang sama dengan jalan tembus tersebut, yaitu di lantai 3 juga. Apalagi jika sudah lelah seharian muter-muter shopping sepanjang La Piazza, MKG 1, MKG 2, MKG 3, MKG 5, Gading Walk, dan sekitarnya.

 

Dari segi ruangan kamar, memang ukuran kamarnya seperti Unit Studio Apartemen atau bahkan lebih kecil, ukuran yang tidak terlalu luas dengan 1 kamar mandi shower minimalis tanpa bathtub dengan wastafel terletak di luar kamar mandi, rak penyimpanan pakaian minimalis, dan area tempat tidur + sofa kecil + area tivi. Tidak terlalu luas, akan tetapi kerapihannya cukup bermanfaat untuk kegiatan weekend escape atau backpacking iniSayang bagian kamar tidak sempat terdokumentasi  (terfoto).

 

Saya memesan kamar melalui aplikasi traveloka dengan harga permalam hanya Rp 420.000-an saja! Cukup murah bukan? Ditambah dengan lokasi yang super strategis, saya rasa harga sekian lumayan pantas untuk hotel budget bintang 2 demikian.

 

Oiya, untuk sarapannya memang, tidak terlalu banyak varian, akan tetapi cukup lezat dan enak untuk sekelas sarapan di hotel budget, dari segi rasa juga tidak mengecewakan, dapat memuaskan rasa lapar kami di pagi hari.

 

Sepertinya hanya itu yang bisa saya tulis dari pengalaman menginap 1 malam di POP! Hotel Kelapa Gading. Dan ini adalah beberapa view yang saya ambil dari kamar saya dan sudut-sudut lain dari hotel ini juga. Cekidot!

 

View dari Kamar Kami

 

View dari Sisi Lain Hotel

 

View dari Sisi Lain Hotel yang Menghadap Masjid Raya Kelapa Gading

 

View dari Sisi Lain Hotel

 

Nah, bagaimana? View-nya cukup memanjakan mata bukan? Bisa nih dicoba sebagai alternatif tempat menginap murah meriah. Dan, selamat berlibur! 🙂

Kejutan

 

Birthday Ring

Ini bukan cincin kawin, tapi ini cincin yang sangat berharga.

Disematkan dengan penuh drama, di tengah malam buta, dengan tiba-tiba.

Ini bukan cincin kawin, tapi bukan pula cincin biasa, melainkan cincin yang sangat istimewa.

Beliau datang perlahan menghampiri, membangunkanku dengan penuh hati-hati.

Mengecup lembut seraya berbisik, “Happy birthday, Sayangku,..

Seketika itu juga aku terbangun, perlahan namun pasti, dengan mata masih meraba-raba pukul berapa saat itu.

Lengannya yang melingkari perutku, bak penjaga yang siap siaga menjagaku dari belakang tubuhku.

Tanpa menunggu, tanpa memastikan kesadaranku sudah bersatu dengan suasana malam itu, lengan lainnya pun menyentuh jemariku, dan menyematkan benda itu pada jari manisku.

Ah, dirimu..
Pandai sekali membuatku tersipu.
Terima kasih.. 🙂

 

Matraman, 4 Oktober 2016

Dari Pencarian Review Klinik Kecantikan Berujung ke Pencarian Dokter Obgyn

Bismillah…

Dear Diary,

Nampaknya kali ini gue harus bener-bener serius bin serius bin serius lagi deh. Hahaha! (wah, emang serius tentang apaan sik?) Diiih, kepo. Nggak, nggak, bercanda. Gue kasih tau, kasih tau… :p

Jadi. (ciyeee…uhuk-uhuk, ehem)
Iya, jadi.
Jadi…..kan gue udah married tuh. (lah terus?)
Iya…jadi kan gue udah married . Ya…masih bentar sih, belum ada itungan banyak tahun. Cuman ya…gue kepikiran buat ngerencanain sesuatu aja. Lagipula, apa salahnya kan untuk kita berencana dan mencoba. (ciyeeeh…apaan ntuh) 😀

Iye, iye…nih gue kasih tau.
Jadi. Sebelum gue mulai berkisah (ceilaaah…bahasanya…berkisah), gue sama laki gue nggak ada niatan nunda-menunda perihal momongan. Walau emang sih di 6 bulan-an awal pernikahan kita, kita suka merhatiin kalender kesuburan yang bahkan sekarang ada apps-nya di HP. We used to notice tanggal-tanggal “rawan” itu. Tapi lepas dari 6 bulan-an itu, kita udah nggak aware lagi tuh sama tanggal-tanggal yang dianggap “rawan” kehamilan. Justru sejak saat itu gue suka merhatiin tanggal-tanggal di mana gue lagi dalam keadaan subur, walau nggak sering-sering juga sih. Lagian yak, tiap mau uhuy ribeut amat dah kudu ceki-ceki HP dulu. Rempong, bo! Nepsong mah, nepsong aja. Hahaha. 😀
Dan di tahun 2015 lalu, ya kira-kira pertengahan tahun sampai akhir tahun lalu, gue sama laki gue lagi iseng-iseng berhadiah buat rutin maen ke RS Tebet.

Awalnya sih, nggak sengaja aja nemu dokter SpOG di RS tersebut. Karena juga kebetulan kantor proyek yang sekarang itu deket banget sama RS Tebet, di area perempatan Pancoran belakang Bidakara ituh. Tepatnya di area perumahan BIR.

Nah, kenapa di RS Tebet? Ya karena sebelum gue mutusin mau maen ke mana, gue googling dulu dooong, dokter SpOG mana yang bagus dan yang pastinya harus perempuan. (ini gue udah prinsip banget, kudu, wajib, haram pokona mah kalo enggak, hehe)
Dan dari hasil googling-an gue di tahun 2015 lalu, pilihan jatuh ke nama dr. Cut Diah Tris Mananti, SpOG.
Nah…pas gue lihat-lihat, salah satu lokasi Beliau praktek adalah di RS Tebet.
Wuiiih, pas banget bo! Deket! Hehehe.
Bahkan pas udah eksekusinya, gue malah jalan kaki terus tiap berangkat ke sana dari kantor. Hahaha. Sehat kaaan.
Jadwal Beliau di sana yang gue ambil itu hari Rabu malem pasca jam pulang kantor dan bisa reservasi by phone.

Beliau ini orangnya ramah, baik, tapi tegas. Maksudnya, enggak galak gitu as long as you sebagai pasien nggak bandel. Hahaha. Eh tapi serius, Beliau orangnya buaek banget kok.

Dari hasil selama kurang-lebih setengah tahun tersebut, alhamdulillah kondisi gue sama laki gue dinyatakan sehat dan normal-normal saja. Cuman ada 1 hal yang paling diwanti-wanti sama dokternya, kita kudu dieeet! Hahaha. (kita ni pasangan bandel, mpun deh)
Oiya, dalam pemeriksaan kondisi kita berdua, kita juga mengambil beberapa tes (tes lab) buat ngedukung pemeriksaan gue dan laki gue sama Dokter Cut di RS yang berbeda, yaitu di RS Omni Pulomas. Karena RS Omni ini selain memang RS bagus, juga karena RS Omni masuk daftar RS yang biayanya kalau kita maen ke sana, dicover sama perusahaan laki gue. Hahaha, iya laaah, cari yang bagus tapi free aja kaaan. 😀

Dari pemeriksaan awal tersebut, gue ma laki gue belum lanjut lagi. Dan tau-tau…..udah mau pertengah 2016 lagi ajeee. Ya ampuuun. Cepet banget bo! Haha.

Gue nggak tau sih, mungkin kitanya terlalu nyaman (dan terlena) sama kondisi kita saat ini. Terlalu enak dan nyaman. Bahkan gue paling nggak ngerti kalau pas ada yang nanya tentang hal ini, dan dia cowok, ada pertanyaan, “serius laki lo nggak masalah & nggak panik apa gitu gan/nis?” Lah…lha emang nggak ada apa-apa dan santai aja kok.
Lagian kalau nggak santai, saat ini gue udah berhasil jalanin diet nurunin berat badan kali ya. Hahaha.

Nah…berangkat dari terlalu terlena tadi itu, kita juga harus makin mikir buat bisa “lebih serius” lagi dong dalam merencanakan hal ini.

Dan gue, abis googling meng-googling lagi nih. Iyes, buat nyari-nyari dokter lagi. Awalnya sih sebenernya nggak sengaja ya. (lagi-lagi nggak sengaja, 😀 ) Awalnya iseng karena sesungguhnya penasaran sama klinik kecantikan di RSIA Tambak. Soalnya, tiap hari berangkat dan pulang kantor selalu nglewatin jalur itu, karena gue tinggal di area Matraman.

Nah, di dinding gedung RSIA Tambak itu tertulis iklan promo besar-besaran untuk treatment laser penghilang bekas jerawat, kantung mata, kerutan di wajah, dsb dengan harga Rp 500.000++.
Tiaaaaap hari gue baca tuh tulisan. Gimana nggak penasaran kan. Dan ternyata pas gue compare sama treatment sejenis di tempat laen, harga sekian termasuk kategori “murah”. (hmmm…iya, murahnya dalam tanda kutip yah, inget, dahulukan kebutuhan pokok sebelum kebutuhan tersier a.k.a foya-foya, wkwk, nggak-nggak bercanda)

Nah, karena penasaran, gue googling lah tuh si RSIA Tambak. Karena dari namanya juga khusus rumah sakit ibu dan anak, tapi kok nyediain klinik kecantikan juga yaa. Gitchu…

Eh, lhaaa…dari hasil googling meng-googling ini nih gue baru tau kalau ternyata, banyak ibu-ibu yang nyaranin seorang dokter SpOG yang praktek di RSIA Tambak itu. Bahkan banyak yang review kalau pelayanan di sana supeeer enak, ramah, bahkan termasuk suster-susternya, satpamnya, bahkan sampai tukang parkirnya ramah semua, dan tempatnya nyaman banget, homey abis. Ini gue dapet referensi salah satunya dari femaledaily.
Nah, berhubung itu thread tahun 2012-2013 itu UDAH kondisi bagus kayak gitu, gue narik kesimpulan kalau di sana itu emang nyaman banget dan tempatnya enak, dan seharusnya di tahun 2016 kondisinya makin oke dooong, minimal ya sama lah kayak tahun 2013 lalu. Hehehe.

Nah…salah satu dokter SpOG yang paling favorit di sana adalah dr. Oni Khonsa, SpOG. Dan pas gue googling kek mana rupa Beliau, eh ternyata, perempuan! Yeay!
Yang tadinya mau cari-cari informasi tentang dunia per-setrika-an wajah itu, eh, malah berakhir memunculkan niat buat serius bin serius bin serius bin serius lagi. Wkwkwk. Mungkin kalau gue udah jadi orang tua dan ngelihat gue (sebagai anak gue) dan laki gue (sebagai mantu gue) nyante begini, udah gue sentil kali yak. Hahaha. Ya…alhamdulillahnya, ortu kita berdua nggak ribeut dan ikutan santai juga. Pasrah. Lah…hahaha.

Jadi kesimpulannya adalah…..jeng-jeng-jeng!
Kayaknya gue bakal mau ambil jadwal rutin lagi deh buat ke SpOG. Tapi kali ini gue akan coba ke RSIA Tambak dan ke Dokter Oni tadi. Dari review yang gue baca, beberapa ex-pasien Beliau banyak yang puas banget sama performa Dokter Oni dan bahkan ada yang nyesel kenapa nggak dari anak pertama aja ya dia udah bareng sama Dokter Oni. Katanya Beliau ni orangnya ramah, baek, dan super sabar. Beuh…manteb banget nggak tuh bacanya kaaan.
Cuman ya gitu, ada sesuatu yang bagus, pasti ada juga resikonya. Yup! Dari review yang gue baca juga, antrian buat Dokter Oni tiap lagi praktek ini puanjaaaaang banget, bisa sampe mengular! Nah lho…hahaha.
Tapi yang gue seneng, pas gue lihat jadwal Beliau di RSIA Tambak, (ternyata di 2016 ini Beliau masih praktek di sana chuy, kan review yang gue baca tahun 2012-2013…gitchu…) ada jadwal di hari Jumat dari sore sampe jam 12 malem! Beuuuh. Manteb nggak tuh. Kali aja ntar sambil nunggu antrian, kita bisa mampir dulu bentar ke resto sebelah, restoran arab Hadramout. (lah…belom-belom udah ngomongin makanan lagi aje…hahaha)

Oke, jadi.
Daripada gue harus jauh-jauh ke RS Tebet lagi, mengingat juga proyekan gue di kantor Pancoran udah mau kelar, gue mending pilih tempat yang deket sama tempat tinggal saat ini, ya, yang deket Matraman.
Gue pas tau ada informasi ini, beuh rasanya…..kenapa nggak dari tahun lalu aja sih gue bacanya. (ikutan emak-emak di forum dah, hahaha) Kan enak, kelar periksa, tinggal jalan santai menuju rumah. Hahaha. Deket banget soalnya. Kalau jalan kaki lambat aja kira-kira 30 menit lah sampai rumah.

Doakan kita ya, siapapun Anda yang sempat mampir ke blog gue. Hehehe.
Wish us luck then! Bismillah wae nya. Yeay!

– – –
Matraman, 30.05.2016

6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016