Curhat Terbuka – Untuk PT Kereta Api (Persero)

Salam.

Perkenalkan, saya adalah seorang pengguna setia Kereta Api. Sudah mengenal Kereta Api sejak saya masih duduk di bangku SMA kelas 3. Kebetulan SMA saya adalah sekolah berasrama semi-militer di Bandung, yang tentunya punya peraturan sendiri bagi siswa-siswinya, khususnya di dalam perihal meninggalkan area kampus. Hanya siswa-siswi kelas 3 yang mendapat jatah pulang ke rumah/menginap Sabtu – Minggu di luar kampus (IB – Izin Bermalam) setiap 1 bulan sekali. Saat itu, Bapak saya masih bekerja di Jakarta, maka saya suka bolak-balik Bandung – Jakarta – Bandung di sepanjang 1 tahun tersebut. Dan saat ini Beliau sudah pensiun dan kembali ke kampung halaman kami, yaitu di Cepu, Jawa Tengah.

Kebiasaan menggunakan Kereta Api kemudian berlanjut sampai sekarang.

1) Dulu saat Ibu-Bapak-Kedua Adik saya-Nenek-Alm Kakek masih di Banjarnegara, Jawa Tengah, terkadang saya suka menaiki Kereta Api Purwojaya untuk mencapai Kota Purwokerto. Baru sesudahnya menyambung dengan bus umum menuju Kota Banjarnegara.

2) Saat Ibu-Bapak-Adik Nomor 3 (Adik Nomor 2 stay di Banjarnegara)-Nenek-Alm Kakek sudah boyongan (pindah) ke Cepu, Jawa Tengah, maka saat pulang kampung juga menaiki Kereta Api tentunya. Terlebih langsung sampai dekat rumah. Karena di Cepu ada Stasiun Kereta Api dan semua jenis kereta berhenti di sini. (mungkin karena Cepu Kota Minyak juga, walau Cepu tergolong kecamatan/kota kecil)

3) Saat sudah menikah, keluarga besar suami saya di Semarang. Tentu saja transportasi andalan untuk mudik juga Kereta Api.

– – – – –

Dibalik kecintaan saya kepada Kereta Api, ada beberapa kejadian yang terkadang bikin elus-elus dada. Seperti tahun lalu (2014) saat akan mendapatkan tiket mudik (Baca juga : Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014) dan PUN tahun ini (2015), susah sekali mendapatkan tiket mudik lebaran! Padahal online, hadeuh… Hehehe.

Serta kejadian yang baru saja dialami Bapak saya sekitar 1,5 bulan lalu.

– – – – –

Saat itu Bapak saya sedang ada acara di kantor lama Beliau di Jakarta. Acaranya diselenggarakan saat hari Sabtu di Bulan April 2015 lalu. Kebetulan juga ada beberapa teman dekat Bapak saya (yang sama-sama orang Cepu) yang menetap di Jakarta. Maka tidak heran kalau sesudah acara di kantor, langsung kumpul-kumpul bersama teman-teman Beliau. Dan ternyata, Bapak saya pernah menitipkan sebuah Sepeda Balap di salah seorang sahabat Bapak saya tersebut. Karena melihat sepeda tersebut, maka kepikiran-lah Bapak saya untuk membawa sepeda tersebut pulang kampung ke Cepu. Akhirnya dan akhirnya, Beliau me-mreteli setiap komponen sepeda dan dikemas hingga sedimikian rupa agar mudah ditenteng menggunakan 1 tangan saja. Karena pada malam harinya, Beliau akan kembali ke Cepu menggunakan Kereta Api, maka sekalian-lah pikir Beliau.

Pretelan Sepeda

Pretelan Sepeda

Pretelan sepeda tersebut-lah yang kemudian ditenteng-tenteng oleh Bapak saya menggunakan 1 tangan, iya loh 1 tangan! Itu artinya…sudah sangat tenteng-able alias ringkas. Dan kalau saya tidak salah, ukuran “kemasan” sepeda Bapak saya tersebut bisa muat di bagian paling belakang bangku kursi penumpang eksekutif entah di belakang nomor 1 atau nomor 13 (yang biasanya suka juga dipakai oleh petugas Kereta Api untuk menumpuk karung selimut penumpang yang tidak dipakai sepanjang perjalanan). Dan lagi “kemasan” sepeda Bapak saya juga tidak selebar 2 kursi penumpang eksekutif banget-banget tooo… Dan syukur-syukur bisa diletakkan di gerbong makanan atau gudang atau barang sekalian.

Nah, masalah pun datang ketika Bapak saya sudah sampai Stasiun Gambir kala itu dan akan check-in. Bapak saya ditolak! Ditolak mentah-mentah oleh petugas satpam di pintu masuk check-in. Katanya sepeda dilarang masuk! Katanya lagi akan mengganggu penumpang lain! Nah tapi kan sudah dimodifikasi sedemikian rupa seperti Sepeda Lipat lho. Saat itu Bapak saya merasa sudah sangat-sangat kecewa. Ditambah sepeda tersebut juga sepeda kesayangan Beliau. Masih untung alhamdulillah Bapak saya sempat punya posisi bagus di kantor lama. Jadilah Beliau menghubungi salah seorang supir kantor lama dan alhamdulillah saat itu sang Bapak Sopir mau membantu Bapak saya untuk membawakan “kemasan” sepeda tersebut di tempat tinggal saya (pada awalnya mau dititipkan di kantor lama saja, tapi rasanya kurang praktis karena saya dan suami kan di Jakarta juga).

Dan untuk sekedar informasi saja. “Kemasan” sepeda tersebut bisa masuk bagasi mobil jenis sedan loh. Dan pun tidak terlalu memakan tempat. Berarti sesungguhnya “kemasan” sepeda Bapak saya sudah sangat-sangat ringkas to?

Saya melihat ini sungguh rasanya naik darah ingin marah-marah di tempat saat itu juga. Lebih menyedihkan lagi mengingat Bapak saya pasti sudah sangat ingin menggunakan sepeda kesayangan Beliau di kampung halaman.

Dan pada akhirnya, saya melihat peraturan-peraturan dari PT Kereta Api (Persero) kepada para calon penumpang Kereta Api sebagai berikut :

11228105_674651646001925_1195418368009265803_n

Persyaratan dan Ketentuan Angkutan Penumpang Kereta Api

Dan LIHAT pada POIN NOMOR 14!

Nomor 14

Poin Nomor 14 tentang Ketentuan SEPEDA

Di sana tertulis JELAS :

“14. Khusus sepeda lipat atau sepeda biasa yang dikemas sedemikian rupa dalam keadaan komponen-komponennya tidak dirakit menjadi sepeda utuh dapat dibawa ke dalam kabin kereta penumpang dan ditempatkan pada tempat yang tidak mengganggu atau membahayakan penumpang lain serta tidak akan menimbulkan kerusakan pada kereta, tidak dikenakan biaya.”

NAH kaaan… Jadi menurut saya, petugas-petugas di Stasiun Gambir itu KURANG atau TIDAK memahami peraturan-peraturan yang sudah dibuat oleh perusahaan tempat mereka bekerja tersebut. Padahal secara kasat mata ya, “kemasan” sepeda milik Bapak saya tersebut itu jaaauuuuuh lebih ringkas daripada koper-koper segedhe gaban yang suka dibawa-bawa oleh para traveler luar negeri.

Jadi, kepada Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu dari PT Kereta Api (Persero) dimohon untuk dapat meningkatkan kembali pelayanannya kepada masyarakat untuk hal-hal yang mungkin terlihat remeh semacam ini. Dimohon juga untuk dapat meningkatkan kualitas para front liners yang langsung berhadapan dengan masyarakat umum.

Dan pada akhirnya…

“Kemasan” sepeda tersebut dengan bantuan suami saya menenteng-nenteng, dititipkanlah pada bus malam yang menuju Cepu, yaitu Bus Malam Pahala Kencana.

Yaa…..mosok kereta api bisa kalah dengan sebuah bus yang ukurannya pastinya jauh lebih kecil dibandingkan badan kereta api to?

– – – – –

Begitulah kisah sebuah kecewa saya terhadap PT Kereta Api (Persero). Mudah-mudahan tidak ada lagi yang mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh Bapak saya.

Bisa-bisa bikin naik tensi dan panik lho. Apalagi kalau sedang terburu-buru karena sudah mepet jadwal keberangkatan kereta api. Ya to?

– – – – –

Salam hangat dari pengguna setia moda transportasi Kereta Api.

🙂

Advertisements