Selamat Ulang Tahun Bapake & Selamat Hari Ayah!

Selamat ulang tahun Bapake!
Selamat Hari Ayah juga! (eh, Hari Ayah udah lewat ya, tapi nggak apa-apa juga kan, :p )
Tepat hari ini, 23 November, Bapak saya berulang tahun yang ke-59!
Sehat-sehat selalu ya Bapake!

 

– – –

 

Kali ini saya ingin berkisah sedikit tentang Bapak saya. Boleh ya..? Hehehe.
Karena dari Beliau lah, saya bisa menjadi seperti saya sekarang ini.

Yuk!

 

– – –

 

Bapak saya, Djoko Lasono, merupakan sosok yang penuh tanggung-jawab terhadap keluarga, gigih, ulet, dan rajin dalam berkegiatan apapun, baik bekerja maupun berkegiatan organisasi dan sosial. (Mungkin sifat Bapak saya yang seneng dengan kegiatan organisasi inilah membuat saya juga suka berkegiatan organisasi sejak sekolah sampai kuliah, dan bahkan sampai sekarang.)
Walau Beliau sedikit agak keras dan galak (yang saya artikan sebagai sebuah ketegasan), akan tetapi dari didikan Beliau lah saya bisa menjadi pribadi saat ini, di samping saya ini yang memang sebagai anak pertama dalam keluarga.

 

Bapak saya berasal dari keluarga biasa saja. Kalau dari cerita Beliau, masa kecil dan masa remaja Beliau dapat dikatakan hidup itu dalam keadaan “susah”. Dan kisah yang paling membuat saya semakin merinding adalah pada saat masa kecil Beliau, Beliau harus membantu Alm. Kakek dan Alm. Nenek saya dalam pekerjaan rumah tangga. Karena kebetulan juga Bapak saya adalah Kakak tertua dari 5 bersaudara. Sampai-sampai pada saat untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, Bapak saya harus menimba dulu bolak-balik ke sumur yang letaknya agak jauh dari rumah dengan cara memanggul. Manggul, guys! Manggul! Nangis dewa nggak sih saya mendengarnya?

 

Tapi di sisi lain, di balik keterbatasan ekonomi saat itu, Beliau merupakan sosok yang sangat ulet, gigih, pandai, dan rajin belajar. Dan karena keterbatasan ekonomi tersebutlah, Bapak saya hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat STM saja (kalau sekarang itu namanya SMK). Beruntungnya Beliau mengambil keahlian Teknik Mesin pada saat bersekolah di STM tersebut.

 

Lulus dari STM, Bapak saya tidak langsung bekerja di perusahaan-perusahaan yang mostly perusahaan minyak dan gas, seperti sebagian kecil kawan-kawan Beliau. Beliau memutuskan merantau dan mencari peruntungan ke ibukota untuk bekerja aaaaapa saja! Bayangkan, Beliau yang saya tahu memang orang yang sangat pintar, dan memiliki hasil nilai yang baik dan memuaskan, Beliau tidak gengsi dan mau bekerja apa saja. “Sembari mengenyam pengalaman hidup,” kalau kata Beliau. Yang membuat saya semakin merinding dewa adalah, Beliau ke Jakarta benar-benar bekerja serabutan guys, seperti halnya menjadi seorang buruh bangunan! Ya, itu, menjadi seorang buruh bangunan seperti yang Anda tahu, angkut-angkut pasir, angkut-angkut batu, nyemen, masang batu bata, dan berbagai pekerjaan bangunan lainnya. Seperti itu! Bayangkan, apa nggak nangis dewa saya mendengar cerita itu? Beruntung banget kan saya dengan kondisi saya saat ini? *mewek* 😥

 

Sembari menjadi seorang buruh bangunan, Beliau mencoba peruntungan baru juga untuk menjadi seorang bellboy di sebuah hotel di Jakarta. Bayangkan guys, bellboy! Itu lho yang suka angkut-angkut tas tamu ke kamar hotel dan bahkan sesekali juga ikut membantu bersih-bersih di hotel lho. Bellboy jaman dahulu dengan jaman sekarang tentu berbeda kondisi bukan? Dan setiap kali saya melintasi hotel tersebut, pasti saya akan selalu teringat kisah ini dan terkadang membuat saya berkaca-kaca lagi dan lagi. Gilak, bersyukur banget hidup saya kan? Nama hotelnya adalah Hotel Arya Duta yang terletak di Tugu Tani, dekat dengan Stasiun Gambir itu.

 

Mungkin dengan keuletan dan kegigihan Beliau itulah, Tuhan pun membukakan rizqi lain kepada Bapak saya. Saat itu terdapat pengumuman rekrutmen pegawai PLN besar-besaran skala nasional, dan dibuka untuk lulusan STM juga. Alhamdulillah Beliau berkesempatan mendapatkan informasi ini dan mencoba untuk ikut mendaftar. Jaman dahulu masih banyak perusahaan, yang bahkan perusahaan sekelas BUMN, masih banyak yang merekrut lulusan-lulusan SMA dan STM (SMK), apalagi untuk keahlian-keahlian tertentu. Dan bersyukurnya, Bapak saya memiliki latar belakang keahlian di bidang Teknik Mesin. Dan ketika Tuhan Berkata, Jadilah! Maka Jadilah. Alhamdulillah, Bapak saya lolos tahap demi tahap seleksi dan pada akhirnya bisa menjadi seorang pegawai muda di PLN. Alhamdulillah…

 

Berangkat dari seorang pegawai tetap PLN inilah, Beliau akhirnya bisa memulai kehidupan baru ke arah yang jauuuh lebih baik. (Walau banyak orang bilang sampai-sampai Bapak saya ini telat menikah lho.) Namun sekali lagi, karena Beliau tidak langsung berpuas diri dan tetap tekun dan gigih dalam bekerja, maka Tuhan pun kembali membukakan rizqi kepada Bapak saya melalui perusahaan untuk dapat menyekolahkan Bapak saya ke tingkat pendidikan lanjut. Nggak mudah loh mendapatkan beasiswa spesial tersebut. Tentunya melalui proses seleksi ketat juga! Ah, keren Bapake! Beliau mendapatkan kesempatan bersekolah D3 di Bandung, ya di ITB. Nggak tanggung-tanggung memang PLN memberikan beasiswa kepada pegawai-pegawai terbaiknya ya! Jaman dahulu ITB memang masih menerima D3 untuk beberapa jurusan “umum” macam Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Sipil. Kalau jaman sekarang, kalau saya tidak salah pemahaman, program D3 ITB tersebut kini sudah memisahkan diri sebagai Politeknik Bandung (PolBan), dan memang khusus untuk D3 ke-teknik-an jurusan-jurusan “umum” tersebut. Cmiiw.

 

Dan apalah saya ini kalau masih tidak mau bersyukur kaaan. 😥

 

– – –

 

Tepat pada tanggal 16 Juli 1988, Beliau resmi menikahi Ibu saya. Dan 1,5 tahun berikutnya, lahirlah saya. Ehehehe.

 

Dahulu, tugas perdana Bapak saya setelah diterima sebagai pegawai PLN adalah di Jakarta. Namun, setelah selesai pendidikan D3 di Bandung, Beliau mendapatkan mandat tugas dari perusahaan untuk mutasi ke daerah, yaitu ke Banjarnegara, ke PLTA Mrica atau nama yang sesungguhnya adalah PLTA Jenderal Soedirman. Saat itu usia saya kurang lebih 2 tahun dan saat itu adik saya Wisnu, sudah lahir juga. Dari sanalah kisah kehidupan saya di Banjarnegara dimulai. 🙂

 

Baca juga: Renjana adalah Kami Bertiga.

 

Lagi dan lagi, berkat kegigihan dan keuletan Beliau dalam bekerja, Tuhan kembali membukakan rizqi kepada Bapak saya melalui perusahaan untuk menyekolahkan Beliau kembali ke sekolah lanjutan, yaitu ke jenjang pendidikan S1 di Universitas Tidar Magelang mengambil jurusan Teknik Mesin. Sistem belajarnya menggunakan sistem kelas karyawan, hari Sabtu-Minggu, yang terkadang juga dilaksanakan pada hari Jumat. Saya ingat sekali saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SD saat Bapak saya lulus sarjana. Dan ramai-ramai juga kami sekeluarga menuju Magelang untuk perayaan kelulusan Beliau.

 

Mungkin ini yang selalu dinasehati Bapak saya untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Dengan bersyukur, rejeki dan nikmat  insyaaAllah (hampir pasti) akan terus bertambah. Saat saya sudah usia remaja, memang saya sebagai anak baru bisa memahami perjuangan luar biasa Bapak saya tersebut.

 

Kembali, lagi dan lagi, berkat kegigihan dan keuletan Bapak saya dalam bekerja dan berkegiatan, ditambah Beliau juga telah menamatkan pendidikan Magister Beliau dalam bidang Manajemen dengan predikat memuaskan, Tuhan kembali membukakan pintu rizqi kepada Beliau dan kembali lagi melalui perusahaan. (Oiya, dalam perkembangannya, PLN khusus pembangkit listrik seperti PLTA Mrica ini salah satunya, berganti nama sebagai anak perusahaan PLN, yaitu menjadi PT Indonesia Power seperti yang sudah dikenal umum saat ini.) Saat saya usia kelas 1 SMP, Bapak saya dipindah tugaskan kembali ke ibukota, ke kantor PT IP pusat, sampai Beliau pensiun pun juga di sana. See? Perjuangan panjang seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan saja loh guys. Butuh keuletan dan kegigihan banget-banget!

 

Walau sudah pindah tugas kembali ke ibukota, keluarga tetap tinggal di Banjarnegara, tidak ikut pindah ke Jakarta. LDR loh guys, LDR dengan Ibu saya! Ya…mungkin memang itu sudah keputusan terbaik. Mengingat Ibu saya juga memiliki tanggung-jawab sebagai abdi negara dan mengajar di SMP. Oleh karenanya saat dulu kuliah, saya suka sekali bolak-balik Bandung-Jakarta untuk berkumpul bersama Ibu dan Bapak. (Ibu saya dan adik saya yang paling kecil, kerap beberapa kali Sabtu-Minggu ke Jakarta juga, bergantian dengan Bapak saya yang pulang ke Banjarnegara atau Ibu saya yang menyusul Bapak saya ke Jakarta.)

 

– – –

 

Yang menarik dari bolak-baliknya saya Bandung-Jakarta pada masa-masa SMA Kelas 3 dan masa-masa kuliah itu, Bapak saya kerap tidak memanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang mungkin bisa saja Beliau berikan. Dari Beliaulah saya belajar naik kendaraan umum untuk keliling Jakarta dan sama sekali NO Taxi, walau sekali lagi saya bilang, bisa saja Beliau suruh saya/adakan untuk saya saat saya sedang berada di Jakarta kala itu. Tapi tidak, Beliau malah mengajari saya tentang Kopaja, Bus Besar, Metromini, dan angkot. Sama seperti halnya dulu saat masih kelas 3 SD, saya sudah diajari untuk berani naik “micro” atau mini bus untuk berangkat ke sekolah, tanpa harus menunggu Bus Koperca (fasilitas bus sekolah dari kantor).

Dulu saat masih awal-awal booming travel Bandung-Jakarta, saya malah bolak-balik Bandung-Jakarta masih menggunakan moda transportasi bus umum, yang berangkat dari Terminal Leuwi Panjang. Saya biasa naik bus ke arah Bekasi atau ke arah Grogol/Slipi. Memang saya akui, Bapak saya ini selalu mengajari tentang “berani” dan nggak manja di sepanjang perjalanan hidup saya sebagai anak Beliau. Hanya berbekal telepon-teleponan dengan Bapak saya sajalah, saya bisa tahu “ancer-ancer” saya untuk turun di mana atau menyambung dengan bus apa dari mana, untuk menuju kantor Bapak saya di perempatan Kuningan-Gatsu. Sampai pada akhirnya saya mengenal Kereta Api pun, ketika saya sampai di Jakarta tepatnya di Stasiun Gambir, saya tidak diarahkan untuk naik taksi, melainkan diarahkan untuk nyeberang ke jalan seberang setelah keluar dari Stasiun Gambir untuk naik Kopaja P20. “Nanti dari situ langsung nyampe kantor Bapak, ndhuk,” kata Bapak saya di seberang sana. “Okeeey,” Cuma 1 (satu) kata itu saja yang bisa saya gumamkan. Hahaha.

 

Baca juga: Curhat Terbuka – Untuk PT Kereta Api (Persero).

Baca juga: Curhat Terbuka – Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014.

 

Dan ketika dulu pada saat kuliah, saya dan teman-teman dari Club Catur di kampus, setiap 1 (satu) tahun sekali mengikuti kejuaraan catur nasional di Jakarta di Senayan, tepatnya di Gedung Kemendikbud. Lagi-lagi setiap saya bilang ingin main ke kantor Bapak saya, saya diarahkan untuk naik Kopaja nomor sekian, alias nomor 66. Bukan diarahkan untuk menggunakan taksi. See? Sepanjang menjadi pelajar saya tidak pernah disuruh untuk naik Taxi! Tega bener yak. Hiks2. Haha. 😀

 

Akan tetapi…..
Akibat didikan Beliau yang seperti itulah, yang kini membuat saya berani kesana-kemari tanpa mobil pribadi, even bila harus sendirian. Dan terasa sekali seperti saat ini, ketika saya benar-benar sudah hidup dan tinggal di ibukota. Sudah sejak lama juga saya lepas dari TransJakarta sebagai moda transportasi sehari-hari dalam berkendaraan umum. Biar dikata lebih mahal sedikit, setidaknya dengan sambung-menyambung naik Metromini, Angkot, Kopaja, atau bahkan KRL, setidaknya lebih hemat waktu dan lebih nyaman selama proses perjalanan. Dan setidaknya selama kurang-lebih 2 (dua) tahun tinggal di Jakarta, saya merasa langsung merasa betah dan no drama macet-macetan.

 

Walau memang, saat pertamaaaaa kali dulu itu saat saya datang ke Jakarta dan waktu itu masih dalam hitungan hari, dan kebetulan juga saya belum bekerja, pernah suatu ketika saya berniat main ke Tangerang, ke rumah teman SMA saya. Namanya Tia. Doi saat itu sedang sakit. Jadi ingin menjenguk dan sekalian main, mumpung saat itu saya memang masih sempat kesana-kemari. Tentunya, dengan seizin suami donk. Nah…dari sanalah saya merasa “rugi” karena saya naik taksi ke Tangerang dari Cempaka Putih! Hahaha. (dulu awal-awal menikah, kami masih tinggal di daerah Cempaka Putih). Thanks to Mami-nya Tia buat ngajarin pertama kalinya naik KRL dari Tangerang ke arah balik menuju Jakarta. Hahaha. Oiya, dan hari saat saya main ke rumah Tia itu adalah hari terjadinya peristiwa kecelakaan KRL bertabrakan dengan Truk Pertamina di daerah Bintaro, yang mengakibatkan 2 (dua) orang Pahlawan Masinis wafat di tempat. Senin, 9 Desember 2013. Gara-gara tabrakan tersebut, membuat Bapak saya sampai khawatir telepon-telepon saya dengan nada heboh plus panik (kebetulan Beliau juga tahu saat itu saya memang mau main ke Tangerang).

 

Semenjak dari Tangerang itulah saya semakin berani untuk bisa naik kendaraan umum yang tanpa “bergantung” dengan TransJakarta, apalagi taksi dan ojek. Maap, maap. Saya bukan maksud untuk narsis, temen-temen semua juga bisa kendel seperti ini to? Intinya rasa “berani” saya ini sebagai seorang pendatang baru ibukota (dan perasaan betah tentunya), diwarisi dari ajaran Bapak saya tersebut. Please, saya tau ini lebay, tapi please, jangan bandingkan dengan teman-teman yang sudah lama tinggal di ibukota ya, yang memang dari lahir, kecil, dan membesar di sini. I know I’m nothing lah.. Hehehe.

 

– – –

 

1185755_158901007638414_1974190412_n

 

Dan…sekali lagi.
Selamat ulang tahun Bapake ya!
Mugi-mugi selalu sehat, semakin berkah usia, semakin mesra sama Ibune, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Dan mugi-mugi cepet dikarunia putu-putu yang sholeh-sholehah ya Bapake. Aamiin! (kalau ini sih saya yang ngarep, hahaha) 😀
– – –

Tebet.
Senin, 23 November 2015

Advertisements

Reverie

It’s started 2 (two) days ago. One of my friend started talk about “it” on  our Whatsapp Group and it suddenly reminded me of something.

 

I remembered about an article I’ve read several months ago. It tells about a young man who gained a scholarship and studied abroad with an “unlucky” academic condition at his previous college. Why I said “unlucky”? Because he had a “not common” condition as a scholarship awardee like others.

 

Usually people nowadays when talking about scholarships or studying abroad, they have an outlook that it would be impossible for people who don’t have good academic records from their previous schools/colleges to have an equal opportunity to others who “lucky” or in good academic condition which means they have good academic results that usually with CGPA scores is 3.0/4 or more. And it’s true. Today, almost all good universities or colleges abroad are requiring candidates with good academic performances background, e.g. a Bachelor’s Cumulative Grade Point Average (CGPA) must be at least 75% of the scale maximum or if we’re interpreted means Sarjana I (SI) degree with a final cumulative grade point average (CGPA) of 3.0/4. Sometimes for some universities, they will require beyond that criteria. Especially if those universities have good rank record of the world universities. On that case, we could say this young man didn’t meet all those “high level” requirements but he proved us that he’s made something impossible to be a possible thing.

 

Well, now I’m very enthusiastic and dreamed of being a young man on that article. But I also do repeat many questions and statements of my mind. “Would it be?”, “Should I try?”, “Ow, that’s impossible.”, “I wouldn’t make it.”, “Is it possible?”, etc. The more I’m asking my self, the more I feel curious.

 

Right after the day my friend broached the topic, I started to do research on the internet. While I was researching many things, I also asked my husband about everything and some ‘sensitive’ questions. (You know, it’s one of obligation for a wife before she could do anything she likes.) And…..unexpectedly! Like usual, he said he’ll always give his best and will always support, for everything, as long as it’s a good thing and won’t harm anybody else. Thanks, Honey! :’) If it wasn’t him, maybe I wouldn’t dare to have such wild dreams.

 

After got his permission, I’m getting more excited and intend to be more serious. I don’t want to be like “me” in previous time who didn’t consider “it” as an important thing. Yeah, we’re still don’t know what will happen in the future, next year, two years, three years, or more years from now. But, what can I do right now is only to do “trying” and “acting”.

 

We realize our condition isn’t same as like our previous life as a single person. But we have chosen and made a decision. We’re only taking an “advantage” of our condition that still in “no children” condition until today. We don’t take KB program, we’re normal, and healthy. Is there something wrong? No, we guess not. As long as we happy with our life, nothing more that we should problem with.

 

As we know, we never know what Allah’s Plan for all of us in this world, especially here for both of us. Maybe Allah Has a Better Plan or something more beautiful that could be make us happier and make our life more useful for us even useful for others? Maybe. So I would say, I won’t waste my time lamenting uncertain thing and will fill it with good activities and good things.

 

Sometimes I feel worry about what people would think to me when they know if “it” truly happened later. But like my husband always told me before, from now, I have to learn how to ignore people who don’t like me and always trying to ignore negative things that may come from them. He said, it would be many possibilities for people will talk behind us, talking about our “wrong” decisions or about our “wrong” choices. But he always said to ignore it and try not to deep think about what people would say.

 

– – –

 

Today, I’m holding a long list of “it“. And I’ve started to make marks, one by one of this my long list. I promise to focus on “it” and try not to think other people, especially them who don’t like me.

 

🙂

 

– – –

Matraman.

Thursday, 12.11.2015

17:47 WIB

 

Lost in Thought – Sebuah Pengakuan

Suatu ketika Pakdhe saya bertanya kepada saya perihal hidup dan tinggal di Ibukota Jakarta.
“Betah atau tidak?”
Saya jawab, betah! Tentu saja betah.
Lalu Beliau menanyakan kembali.
Moso’ kerasan kamu di sana? Pakdhe mbayangno muacete ra’ karuan gitu udah males duluan,”

 
– – –

 

Ya.
Sudah hampir 2 (dua) tahun saya dan suami hijrah ke kota ini.
Dan sudah genap 1 (satu) tahun pula kami secara resmi tercatat secara hukum sebagai Warga Ibukota, ber-KTP dan ber-KK dengan status sebagai Warga DKI Jakarta.
Banyak orang mengatakan kota ini merupakan sumber dari segala sumber, khususnya di dalam perputaran dunia ekonomi serta sebagai pusat dunia bisnis.

 

KK dan KTP sebagai Tanda Resminya Kami Berdua sebagai Warga DKI

KK dan KTP sebagai Tanda Resminya Kami Berdua sebagai Warga DKI

 

Saya jadi ingat obrolan beberapa waktu lalu dengan tetangga saya di Banjarnegara, yang kini Beliau sedang melanjutkan studi S3-nya di Perancis.
Saat itu kondisi saya baru saja lulus dari studi S1 saya di Bandung dan kebetulan kedua adik Beliau juga menempuh pendidikan di Bandung, yang salah satunya satu angkatan dengan saya dan sudah lebih dahulu lulus daripada saya.
Ketika itu Beliau sedang berlibur ke Indonesia, tepatnya berlibur ke Bandung, kemudian Beliau pun menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya.
Banyak hal yang kami perbincangkan, dari kami membahas masa kecil, pendidikan luar negeri, hingga kami pun berbincang tentang rencana ke depan kami masing-masing akan bagaimana.
Dan Beliau pun mengungkapkan,
“Iya juga sih, mau di mana lagi coba perputaran duit itu. Mau nggak mau kita pasti menuju ke sana nggak sih, buat ngaplikasiin segala macem ilmu yang udah kita pelajarin. Ya kan?”

 
Begitu pula yang diungkapkan oleh seorang senior saya satu jurusan yang dulu juga merupakan tetangga di kos Bunda, Bandung.
Beliau memang asli Depok, sejak kecil memang sudah tinggal di Depok (walau sempat diselingi 7 tahun tinggal di Amerika).
Saat itu kami sedang berbincang-bincang ngalor-ngidul tentang kehidupan.
Dan kebetulan pada saat itu kondisi Beliau memang sedang mempersiapkan skripsinya.
Hingga sampailah pada Beliau berkata,
“Ya… lo mau kerja apa di Bandung. Ya…bukan berarti nggak ada sih. Dengan background TL, pilihan yang banyak ya di Jakarta, di mana lagi. Ya nggak sih,”
Begitulah.
– – –

 

Di sisi lain, memiliki kesempatan bisa melanjutkan hidup dan tinggal di kota ini terkadang menjadi sebuah “gengsi” bagi sebagian orang.
Bisa jadi salah satunya adalah saya, yang asli kampung nun jauh di sana.
Mengapa “gengsi”? Karena itu tadi, Jakarta.
Anda bisa mendapatkan semuanya di sini.
Dan cara berpikir ini masih banyak melekat di otak-otak kami yang datang dari daerah.

 
Akan tetapi di sisi lain, memiliki kesempatan bisa melanjutkan hidup di Jakarta tentunya menjadi sebuah kesempatan yang sungguh harus patut disyukuri.
Terutama bila Anda memiliki keinginan besar untuk terus mengembangkan kemampuan diri serta ingin selalu dapat berkarya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.
Syukur-syukur, apa yang Anda kerjakan dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas.
Terkesan ambisius dan idealis? Bisa jadi.
Namun apa salahnya bila kita memiliki impian setinggi langit?
Dahulu sekali saat kita masih kecil, oleh orang tua kita masing-masing, kebanyakan diantara kita banyak yang diajarkan untuk bisa memiliki cita-cita dan bermimpi setinggi-tingginya.
Bukankah demikian?
– – –

 

Saya secara pribadi memang sudah merasakan merantau sejak usia masuk SMA ke Bandung.
Ditambah, SMA saya adalah SMA full asrama dengan sistem semi-militer.
Keluar kampus pun (pesiar) hanya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu, yaitu hanya pada hari Minggu saja. Selama 3 tahun!
Kecuali, jika sudah memasuki semester akhir (6 bulan terakhir) di SMA, baru terdapat izin khusus (izin tambahan) keluar kampus setiap hari Sabtu siang bagi siswa-siswi kelas XII untuk mengambil les/tambahan pelajaran di luar kampus (bagi yang ingin saja).
Sementara itu, jarak Banjarnegara – Bandung sekitar 8-9 jam perjalanan darat.
Cukup jauh menurut saya.
Pada awal-awal masa perantauan, saya sering sekali merasakan “homesick” atau “rindu rumah” yang menjadi-jadi.
Terkadang saya harus menangis dan menumpahkan segala kisah rindu kepada sahabat sambil sesenggukan.
Ya.
Susah, pada mulanya.

 
Namun dengan berjalannya waktu, saya pun semakin terbiasa.
Jiwa kemandirian semakin terbentuk.
Segala bentuk peristiwa “homesick” semakin menjauh dari kamus hidup saya.
Ditambah, saya adalah anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara dalam keluarga saya.
Sejak kecil memang sudah terbiasa melakukan banyak kegiatan secara mandiri.
Kurang perhatian dari orang tua?
Ow, tentu saja tidak. 🙂

 
Lulus dari SMA, saya yang bermula memiliki niat untuk kembali ke kampung halaman (Jawa Tengah), ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan.
Saya sudah bertekad memiliki keinginan melanjutkan sekolah dekat-dekat rumah saja (dekat-dekat Banjarnegara saja), di mana jarak antara rumah dengan kota studi tidak lebih dari seperempat hari (6 jam) perjalanan darat.
Karena walau sudah merasa bisa mandiri, tetap saja keinginan untuk dekat-dekat dengan rumah, khususnya dekat-dekat dengan Ibu, akan selalu ada.
Dan perasaan “homesick” dengan kadar ringan pun terkadang mendadak suka muncul di akhir-akhir masa sekolah di SMA.

 
Pada akhirnya, Tuhan pun memberikan jawaban-Nya terhadap keinginan saya yang menggebu untuk bisa kembali ke kampung halaman kala itu.
Dan ternyata…..Tuhan masih menginginkan saya untuk terus berjuang dan belajar untuk terus bisa menjadi manusia mandiri yang semakin mandiri.

 
Sebelumnya, saya sempat beradu argumen dengan orang tua, khususnya dengan Ibu saya, bahwasanya saya tidak akan pernah mau mencoba mendaftarkan diri ke perguruan tinggi area Jawa Barat, yaitu di Jakarta maupun Bogor. Tidak mau!
Sejauh-jauhnya hanya mau di Bandung! Ya, Bandung saja!
Begitulah teriakan saya kala itu via telepon dengan Ibu saya di seberang sana.

 
Dan…..ternyata. Kemakan-lah saya dengan omongan saya sendiri.

 
– – –

 

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun.
Saya pun semakin merasakan rasa “betah” untuk bisa tinggal di kota sebesar Bandung tersebut.
Kesukaan saya berkumpul dengan teman-teman, kemudian saya wujudkan dengan ikut secara aktif ke beberapa organisasi maupun kelompok kegiatan yang saya minati di kampus, baik saat SMA maupun saat berkuliah.
Karena dengan demikian juga, apabila tiba-tiba muncul rasa “homesick”, akan dapat terobati seketika itu juga.
Bisa mendapatkan kesempatan sampai 8 tahun tinggal dan hidup di Bandung, membuat saya menjadi pribadi yang semakin “kaya” akan kemampuan beradaptasi pada lingkungan baru.
Sombong? Tentu saja tidak.
Karena saya yakin banyak orang di luar sana yang juga memiliki kemampuan beradaptasi sangat tinggi dan sangat cepat juga.
– – –

 

Inilah yang saya katakan di awal bahwa saya betah dengan sebetah-betahnya, tinggal dan hidup di Ibukota Jakarta ini.
Seperti halnya do’a Ibu saya yang selalu mendoakan anak-anak Beliau agar selalu beruntung di sepanjang hidup kami. Ya, beruntung. Bejo!

 
Dan yang saya sebut sebagai  salah satu bentuk “keberuntungan” di sini yaitu, salah satu faktor yang bisa membuat saya merasa “betah” hidup di kota ini adalah banyaknya kawan-kawan SMA maupun kawan-kawan semasa kuliah yang melanjutkan hidup, tinggal, dan bermukim di Ibukota Jakarta ini.
Organisasi-organisasi yang kini sedang saya incar pun banyak yang berpusat di Jakarta juga.
Alumni-alumni satu almamater SMA dan alumni-alumni satu almamater kuliah banyak juga yang tinggal dan melakukan perkumpulan, kegiatan, serta diskusi di kota ini juga.
Ditambah, suami saya yang juga satu almamater kuliah, juga senang melakukan perkumpulan dengan kawan-kawan Beliau di Jakarta.
Banyak kawan-kawan Beliau juga yang tinggal dan hidup di kota ini.
– – –

 

Melanjutkan percakapan dengan Pakdhe saya di atas,

“Pakdhe, nek ganis udah bisa hapal angkutan umum lewate jalure mana-mana aja, insyaaAllah ganis ndak masalah sama kondisi macete Jakarta. Dulu di awal-awal pindah Jakarta, ganis ngapalin ini angkot nomor sekian lewatnya ke mana, metromini nomor ini ke mana, kopaja sing iki ke mana. Gitu, Pakdhe. Ditambah kalo ganis dah bisa sehari-hari “lepas” dari naik busway (Trans Jakarta) sebagai moda transportasi umum utama sehari-hari, bisa dibilang, ganis sampun betah, Pakdhe. Hehe,”

 
Dan lagi menurut saya pribadi, seperti yang pernah diungkapkan juga oleh Bunda Soimah, jika Anda dari daerah yang memang memiliki keinginan besar yang kemudian memutuskan untuk datang, merantau, atau tinggal serta bermukim di Ibukota, maka Anda harus bisa menerima segala bentuk kondisi kota ini sampai ke bagian “buruk-buruk”-nya.
Jangan hanya membayangkan yang enak-enaknya saja.
Berkawanlah dengan macet.
Berkawanlah dengan banjir jika memang ia harus datang ke lingkungan tempat tinggal Anda.

 

Kondisi Macet Pagi Hari yang Terkadang Harus Dinikmati

Kondisi Macet Pagi Hari yang Terkadang Harus Dinikmati

 

 

Banjir Terparah yang Pernah Dialami sebagai Pendatang Baru (Jan/Feb 2014)

Banjir Terparah yang Pernah Dialami sebagai Pendatang Baru (Jan/Feb 2014)

 

 

Dan yang terpenting.
Tetaplah bersyukur dengan setiap kondisi yang sedang Anda lalui, rasakan, dan nikmati saat ini.
Dengan semakin bersyukurnya Anda, maka Tuhan akan semakin terus menambah kenikmatan ke dalam kehidupan Anda.
Jangan lupa untuk selalu berbagi, menyedekahkan sebagian rizqi yang telah Anda peroleh.
Sisihkan sebagian harta yang sudah berhasil Anda kumpulkan untuk disedekahkan.
Karena sebagian harta kita terdapat hak-hak mereka yang benar-benar sangat membutuhkan.
Dengan bersedekah di jalan Tuhan, niscaya hidup Anda akan semakin nyaman, tentram, dan bahagia.

 

Sekian.
– – –

 

Tebet.
Jumat, 06 November 2015
16:55 WIB