Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂

Advertisements

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.

 

  1. Permainan Ini Berhasil Membuat Saya dan Suami Menikmati CFD-nya Jakarta untuk PERTAMA KALI-nya, Sampai-Sampai Membuat Kami Berjalan Kaki Selama Kurang Lebih 5 Jam Berjalan Non-Stop!

 

Apa? Hanya karena Pokémon GO baru jalan-jalan dan main ke CFD? Seriusan lo?

 

Beberapa kawan sempat ada yang bertanya demikian saking tidak percayanya. Bagaimana tidak, saat itu sudah hampir 3 tahun kami (saya dan suami) merantau ke ibukota dan tempat tinggal kami  saat itu kalau boleh dikatakan sangat dekat dengan area Car Free Day (CFD) Sudirman. Ya, kami tinggal di area Perempatan Matraman, dekat dengan halte TransJakarta Matraman, di mana kalau naik Bus TransJakarta kami dapat langsung menuju ke area Sudirman dengan sekali jalan tanpa transit, itu pun hanya beda 3 halte saja, dekat bukan? Namun apa? Kami belum pernah sekalipun “mencicipi” suasana CFD Sudirman sepanjang menuju 3 tahun kami tinggal di Jakarta tersebut. Selalu saja ada banyak alasan untuk kami tidak dapat menuju ke sana. Bahkan kami pun merasa kalau CFD itu jauuuuuh sekali, padahal sebenarnya tidak jauh sama sekali.

 

Namun semua itu berubah ketika Pokémon GO hadir di dalam kehidupan kami. Haha. 😀

 

Percaya tidak percaya, kami benar-benar baru merasakan suasana CFD  Sudirman untuk pertama kalinya yaitu pada saat minggu-minggu awal hadirnya Pokémon GO. Ingat sekali saat itu hari Minggu pertama setelah libur panjang lebaran.

 

Saat itu kami masih berada pada level-level awal permainan. So, mau tidak mau kami harus berjalan! Ya, jalaaan terus! Hahaha.

 

Mendadak kami menjadi rajin di hari Minggu pagi. Setelah Sholat Subuh kami tidak bermalas-malasan di atas kasur dan menikmati acara-acara pagi hari di televisi seperti biasanya. Kami langsung bersiap dan berkemas untuk menyiapkan segala amunisi yang harus kami bawa untuk “bekal” bermain Pokémon GO. Power bank full, baterai HP full, dan tas kecil yang roomy untuk memudahkan membawa peralatan-peralatan tersebut.

 

Sepatu olahraga?

 

Tidak, kami tidak menggunakan itu. Kami benar-benar pure, murni hanya berjalan kaki menyusuri CFD Sudirman. So, kami hanya butuh sandal kami saja, tidak sepatu kami.

 

Saking bersemangatnya, kami sengaja tidak naik TransJakarta menuju ke sana. Kami naik bajaj!  Dan tujuan pertama kami adalah menuju Bundaran Hotel Indonesia sebagai titik awal kami akan mulai “berburu”. Bahkan selama perjalanan menuju Bundaran HI, kami pun sudah mulai memainkan permainan tersebut! Haha.

 

CFD kali itu terdapat sebuah atraksi TNI Terjun Payung di area Bundaran HI. Sesekali juga saya melihat-lihat beberapa pedagang yang menggelar lapaknya masing-masing. Dan kami juga beberapa kali berhenti untuk sekedar jajan makanan yang ada di area tersebut.

 

Kami berjalan mengelilingi Bundaran HI, karena di area tersebut banyak sekali titik Pokéstop yang dipasangi Lure Module.

 

Pokéstop adalah sebuah titik di mana pemain bisa mendapatkan pokéball dan beberapa bonus lainnya dengan cara berhenti pada titik tersebut dan memutar bulatan yang ada.

 

Sedangkan Lure Module adalah sebuah fitur berbentuk seperti hujan kelopak bunga pink, di mana jika dipasangi Lure tersebut, maka akan semakin banyak Pokémon  yang “mampir” dan terlihat di area Pokéstop tersebut. Namun sifat Lure ini tidak selamanya “menyala”, ia berbatas waktu dengan max waktu adalah 30 menit.

 

Banyaaak sekali jika boleh saya bilang. Hampir semua titik Pokéstop dipasangi Lure.

 

Oh iya, virus Pokémon GO ini tidak hanya menjangkiti kami berdua. Berhubung CFD kali itu merupakan CFD perdana pasca libur panjang lebaran dan pasca rilisnya game tersebut, jadilah banyak pula manusia di CFD kala itu memainkan game yang sama. Ada yang bergerombol, ada yang sampai ketawa-tawa, ejek-ejekan bercanda-ria bersama dengan teman-temannya, berlari-lari demi agar tidak tertinggal masa Lure yang sedang menyala, dan sebagainya. Seru!

 

Kami berjalan kaki hampir 5 jam tanpa henti!

 

Ya, kami berjalan kaki hampir sepanjang 5 jam dari area Bundaran HI – Dukuh Atas – Perempatan Matraman dengan melalui jalur area sekitar Bappenas – Taman Suropati – Masjid Cut Mutia Menteng – Perumahan Menteng – Cikini – Tugu Proklamasi – Matraman.

 

Di dalam permainan Pokémon GO ini juga terdapat yang namanya fitur telur pokémon yang dapat ditetaskan dengan cara berjalan kaki sampai beberapa km. Misal, sebuah telur akan menetas jika sudah berjalan kaki selama 5 km dan 10 km.

 

Pengalaman perdana CFD Jakarta kami benar-benar berkesan. Bagaimana tidak? Kami melaluinya sambil bermain Pokémon GO. Haha! 😀

 

 

  1. Membuat Kami Menginap di Area Dekat Cihampelas Walk pada Saat Ada Acara di Bandung

 

Ya! Ini yang lebih lebay lagi.

 

Begitu banyak hotel yang bertebaran di Kota Bandung, namun kami memilih hotel-hotel di area sekitar Cihampelas Walk pada saat kami menghadiri beberapa acara di Bandung pada masa-masa permainan Pokémon GO sedang hits-hitsnya. Dan yang lebih sering kami tuju adalah Hotel Serela Cihampelas (klik untuk melihat tautan) yang berlokasi di seberang Cihampelas Walk persis.

 

Mengapa harus dekat dengan Cihampelas Walk?

 

Jadi ternyata, pada saat awal-awal permainan ini muncul, pihak manajemen Cihampelas Walk “sengaja” dan  “rutin” memasang Lure Module di setiap titik Pokéstop yang memang tersebar beberapa titik di area Mall Cihampelas Walk.

 

Sampai-sampai yang tidak habis pikir, bahkan sampai tengah malam pun area Cihampelas Walk masih ramai dipadati orang! Khususnya di malam minggu, semakin malam, semakin ramai. Luar biasa! Kisah ini pernah saya tulis juga dalam blog ini (klik untuk melihat tautan). Jika teman-teman melihat dokumentasi pada postingan tersebut, benar-benar menggila bukan people of Bandung di dalam antusiasmenya bermain Pokémon GO?

 

Suasana Ramainya Titik2 Pokéstop di CiWalk yang Dipasangi Lure Module

 

  1. Semakin Hari Kami Semakin Rajin Berjalan Kaki, Bahkan di Malam Hari Sepulang Kerja

 

Ini yang lebih parahya lagi sih. Kami benar-benar seperti sudah “dibutakan” oleh permainan ini. Demi naik level, kami  akan upayakan untuk selalu berjalan dan berjalan terus.

 

Walau saat itu sudah mulai banyak yang cheating alias curang dengan adanya aplikasi-aplikasi “Fake GPS” yang katanya memudahkan orang untuk tidak perlu berjalan jauh, tau-tau level bisa naik begitu saja, hanya dengan menggerakkan titik pada peta dalam aplikasi “Fake GPS”. Untunglah saat itu pihak Pokémon GO melihat fenomena kebocoran dan kecurangan ini, sehingga meraka pun membuat sistem “banned otomatis” bagi para pemain yang dengan sengaja bermain curang (langsung terdeteksi oleh server).

 

Berjalan di malam hari tidak hanya kami lakukan di malam minggu. Terkadang di malam-malam biasa kami juga melakukan “ritual” berjalan kaki sekitaran area Perempatan Matraman. Sambil berjalan kaki menuju Bioskop Metropole, kami sempatkan bermain. Kemudian ke area Taman Proklamasi, di mana di sana memang terdapat sebuah Gym atau “area battle” dalam permainan, kami pun mencicipi “nongkrong” di sana sampai area tugu tutup atau sekitaran pukul 9 malam.

 

  1. Menjadi Tidak Malas ke Monas

 

Jadi, selain kami belum pernah ke CFD Jakarta selama 3 tahun merantau, kami pun juga belum pernah mencoba naik ke Tugu Monas. Kalau sekedar melihat Tugu Monas dari jarak jauh, cukup sering, karena kami pulang kampung ke Jawa atau main ke Bandung, hampir pasti kami selalu naik kereta api dari Stasiun Gambir.

 

Tujuannya sih memang ingin naik ke Tugu Monas, tapi tetap sebagai menu utama kami berjalan-jalan ke sana adalah bermain  Pokémon GO donk. Apa lagi? Haha. 😀

 

Di area Monas memang banyak sekali titik-titik Pokéstop yang juga sering dipasangi Lure Module. Terutama di Hari Minggu pagi.

 

Penampakan manusia-manusia-nya persis seperti manusia-manusia yang ada pada CFD Sudirman kala itu. “Beringas” dan “terlalu bersemangat” di dalam memainkan permainan Pokemon GO. Walau begitu, suasana terasa seru dan asik. 😀

 

 

Nah, jadi itu adalah beberapa pengalaman kami setelah “dipengaruhi” oleh sebuah game bernama  Pokémon GO. Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman juga merasakan ke-lebay-an yang sama?

 

😀

“Kamu Mau Jadi Apa?”

“Kamu mau jadi apa?”

Begitulah pertanyaan itu muncul seketika dan ditujukan kepadaku.

 

– – – – –

 

Sebelum masuk ke dalam tulisan, aku hanya ingin berkata, tulisan ini adalah murni pendapatku pribadi dan tidak ada kepentingan di dalam mengomentari pilihan hidup orang lain. Tulisan ini mengandung opini individual dari seseorang yang belum genap berusia 30 tahun, dalam arti “masih di bawah” usia 30 tahun dengan segala pemikirannya.

So, mari kita lanjutkan.

 

– – – – –

 

Siang itu aku baru saja selesai mengikuti meeting mingguan bersama dengan direksi dan tentunya beberapa rekan kerja. Cukup agak sedikit menegangkan. Mengingat hari itu merupakan hari permulaan minggu, yaitu Hari Senin. Hari di mana raga ini baru saja selesai menikmati “masa-masa indahnya” bersama dengan weekend 2 hari yang baru saja dilalui. Ditambah materi yang dibahas sedikit agak “berat”. Sudah begitu, pagi hari pula kami melakukan aktivitas meeting mingguan tersebut.

 

Aku terduduk termangu memikirikan sebuah jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan seorang rekan kerjaku itu. Ya, mau jadi apa aku nantinya?

 

Dengan tiba-tiba suasana makan siangku agak sedikit terusik dengan pertanyaan tersebut. Akan tetapi, aku tidak sakit hati sama sekali, melainkan sedikit menggelitik pikiranku dan ingin menggali lebih dalam lagi akan jawaban-jawaban yang mungkin muncul. Ada benarnya juga Beliau bertanya demikian. Aku pun semakin terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi di depan sana, sembari menikmati rendang pesananku. Hmmm, cukup sulit ya.

 

 

Beliau menjabarkan kalau dirinya, dalam usianya, mengatakan bahwa Beliau agak sedikit menyesal dengan pilihan yang sudah Beliau pilih. Menurutnya, dalam usia sekian, seharusnya Beliau sudah dapat mencapai dan melakukan sesuatu yang lebih daripada kondisi saat ini yang sedang Beliau jalani. Beliau pun bilang kepadaku, jangan sampai aku terlena, terbawa suasana, terbawa nyaman, terbawa santai, yang kemudian hari dapat menjadi bom waktu untuk diriku sendiri kelak di kemudian hari.

 

Well, sebenarnya pemikiran dan nasehat Beliau sedikit mengena kalbuku. Betul juga, pikirku sesaat.

 

Beliau menambahkan, ditambah dengan background pendidikan atau jurusan kuliah yang sudah aku ambil, jangan sampai ter-sia-siakan hanya dengan mengerjakan pekerjaan “remeh” menurut Beliau seperti yang sedang aku kerjakan saat ini, di mana memang, tidak ada keterkaitan langsung dengan jurusan kuliahku dulu.

 

Di sini, pikiranku mulai tidak setuju. Ya, betul. Saat ini aku lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan administrasi dan lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan me-manage orang banyak. Akan tetapi menurutku, pekerjaan ini tidak mudah. Tidak se-“remeh” itu. Butuh skill, ketelitian dan disiplin tinggi di dalam menjalankan semua tugas ini. Di sinilah pikirkanku mulai tidak setuju dengan pernyataan Beliau. Namun siang itu, aku memilih diam dan mendengarkan saja. Ditambah, Beliau adalah senior jauh dan sudah berpengalaman bertahun-tahun bekerja dalam perusahaan tempatku bekerja saat ini.

 

 

Usai makan siang dengan Beliau, aku semakin hanyut dalam pertanyaan tersebut.

 

“Kamu mau jadi apa?”

 

Sebenarnya kalau ingin dibuat mudah dan simple, aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Aku ini adalah seorang wanita dewasa yang kebetulan sudah menikah juga. Sebenarnya, tujuan utamaku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hebat bagi suami dan anak-anakku kelak. Aku ingin menjadi seorang wanita rumahan dengan menjalankan bisnis sampingan yang menjadi hobiku. Ya, itulah impianku.

 

Lalu, jika melihat kondisi saat ini di mana aku yang hingga detik ini masih “hanya” berstatus sebagai istri, belum berstatus sebagai ibu, ditambah tempat tinggal yang sangat dekat sekali dengan kantor di mana aku bekerja, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil berusaha membentuk sebuah keluarga “yang utuh” dan menjalankan hobiku yaitu bisnis online shop, aku masih dapat beraktivitas harian dengan  pemasukan bulanan yang walau sifatnya sementara.

 

Ya, saat ini aku hanyalah seorang pegawai kontrak dari sebuah perusahaan swasta di mana aku dapat diberhentikan sewaktu-waktu. Oleh karenanya aku sebutkan di awal, bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik yang sedang mampir dalam hidupku ini. Walau mungkin bagi orang lain, menurut penilaian mereka, aku sedang “terjerumus” ke dalam tempat “yang tidak seharusnya”. Well, hidup tidak semudah berkata demikian, bukan?

 

 

Aku pun teringat nasehat dan wejangan seniorku siang itu. Beliau berkata, jika aku makin “terlena” dan “terlalu nyaman”, ditakutkan pada saat aku mencapai usianya, aku akan ikut menyesal karena mungkin aku akan “tidak menjadi apa-apa” dan menyesali dengan langkah yang sudah aku pilih. Wow, sedikit mengernyitkan dahi saat aku mendengarnya. Dan tentu saja, aku tidak membalas atau berkomentar. Aku tetap menikmati makan siangku sambil mendengarkan Beliau.

 

Mungkin betul. Jika aku tidak “bergerak” sekarang, bisa jadi masa depanku akan “hancur”.

Wait what, “hancur”?

 

Kembali lagi kepada impianku menjadi seorang wanita rumahan yang menjalankan bisnis sampingan sambil mengurus keluarga. Mungkin bagi sebagian orang, cita-citaku seperti itu adalah cita-cita “bodoh” dan “tidak berguna”, mengingat kata mereka, aku sudah menyia-nyiakan kesempatan masa mudaku yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan tentunya tidak murah, alias membutuhkan biaya yang tidak sedikit di dalam menyelesaikan semuanya hingga aku dapat lulus menjadi seorang sarjana.

 

Bagiku, ini bukan selalu menjadi seseorang yang “wah” atau harus menjadi sesuatu agar orang lain berdecak kagum. Aku ini adalah seorang wanita, seorang istri, yang sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu. Terkadang impian-impian “tinggi” tersebut bagiku tidak terlalu penting.

 

Dan terkadang yang terpenting bagiku adalah dapat menjalankan hidup dengan baik, lancar dan normal, serta memiliki tabungan yang cukup di dalam menjalankan kehidupan, entah bagaimanapun cara mendapatkannya, selama proses yang dilalui adalah dengan cara yang halal. Terutama tabungan hasil jerih payah pribadi, bukan tabungan hasil pemberian suami. Apalagi kondisi saat ini banyak mendukungku bahkan mempermudah diriku untuk melakukan aktivitas sehari-hari tersebut tanpa harus bertemu dengan keganasan dan kemacetan luar biasa kota Jakarta.

 

Ditambah ketika aku mengingat-ingat akan sebuah kematian, sebuah gerbang yang benar-benar akan menghentikan seluruh aktivitas kita di dunia menuju ke kehidupan baru yang kekal. Mau apa lagi?

 

– – – – –

 

Jadi, jika harus menjawab, “Kamu mau jadi apa?”

 

Aku akan menjawab, aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Dengan segala pilihan yang terbaik menurutku dan berjanji tidak akan menyesalinya di kemudian hari. Aku sangat-sangat yakin. Sebuah penyesalan hanyalah bisikan dari syaitan yang tidak suka dengan kondisi hidup kita sebagai manusia.

 

Dan sebagai pertimbangan juga, banyak sering terdengar kisah beberapa wanita dewasa di mana mereka gemar mengungkapkan beberapa penyesalan dalam hidup.

 

Seperti misalnya seorang wanita dewasa di usia kesekian ia menyesal karena “hanya” menjadi seseorang yang “biasa-biasa saja” dengan kemampuan seadanya atau bahkan kemampuan masa mudanya yang “sudah menguap” dan bahkan “tidak berbekas” sama sekali, seperti yang mungkin telah diungkapkan rekan kerja seniorku pada tulisan ini.

 

Kemudian ada juga sebagian wanita dewasa di usia tertentu yang justru sudah menjadi seseorang dengan kemampuan luar biasa, dihormati, memiliki jabatan fungsional yang bagus di sebuah perusahaan atau instansi ternama, ternyata juga punya perasaan menyesal akan waktu-waktu yang hilang bersama dengan keluarga dan anak-anaknya akibat kesibukan-kesibukan yang sudah dilalui.

 

Hidup memang selalu tentang pilihan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya serta sebijak mungkin di dalam menentukan pilihan, baik itu pilihan baik maupun pilihan buruk. Dan yang terpenting adalah, tidak akan menyesal, untuk setiap pilihan yang sudah dibuat dan dipilih.

 

So, “Kamu mau jadi apa?”

 

🙂

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.

– – –

Kembali kepada nasehat positif tadi, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga. Ya, saya masih dan akan selalu yakin dan percaya demikian.


Misal, dalam suatu tes atau ujian sesuatu. Ada sebagian orang pada mulanya grogi, nervous, nggak yakin, ketakutan, dan sebagainya. Akan tetapi karena akhirnya mereka yakin dan telah bersungguh-sungguh dengan ikhtiarnya masing-masing, yakin bisa, yakin mampu, kemudian semakin hari semakin positif semangat dan pikirannya, ternyata benar-benar membuahkan hasil, mereka pun lolos ujian!

– – –

Bahasan berikutnya, terkait dengan artikel-artikel yang suka beredar luas di masyarakat dan berdasarkan penelitian-penelitian psikologi oleh para ahli.

Misal, mungkin pernah ada yang mengatakan, “wajar”, namanya juga hidup berpasangan, apalagi dalam kehidupan berumah-tangga, berantem-berantem begitu itu “wajar”, bisa jadi bumbu asem-manis kehidupan berpasangan dan biar bisa jadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk ke depannya atau bahkan dapat diceritakan kepada anak-cucu kita.

Akan tetapi, kalau bisa nggak perlu berantem-berantem, kenapa harus “memaksakan” untuk berantem.

Terkadang stereotype-stereotype yang umum dan berlaku “pada umumnya” di masyarakat, yang dianggap “wajar” dan “biasa”, nggak perlu dijadikan “trend” juga atau beranggapan “ini lho track yg udah bener” atau “berarti kalau kamu “begini” itu sudah wajar lho“, dan sebagainya.

Terkadang artikel-artikel hasil penelitian dunia psikologi untuk sebagian (kecil) orang memang nggak cocok.

Misal lagi, ada yang mengatakan “wajar”, ibu hamil kan pasti ngidam. Tapi nyatanya, untuk sebagian orang ternyata “perasaan ngidam” tersebut nggak muncul sama sekali sampai mereka melahirkan.

(bahkan dalam hal ini, Ibu saya yang orang Biologi murni, bilang, kalau “trend ngidam” ini hanya fenomena “ikut-ikutan” dan bahkan hanyak “efek pengaruh pikiran”, karena para ibu hamil ini senang membaca artikel-artikel terkait ngidam, dan berdasarkan pengalaman Beliau, anak sampai 3 begini, nggak pernah ngidam sama sekali, yang membuat saya malah bertanya-tanya “kok bisa Bu? wow”)

Kemudian ada lagi artikel yg mengatakan, untuk kehidupan berpasangan, nanti di usia mencapai 5 tahun ke atas, pasti akan muncul rasa bosan dan akan dimulai berantem-berantem kecil dan itu adalah “wajar”. Tapi nyatanya, banyak juga yang ternyata pasangan yang sudah hidup bersama selama 10 tahun ++, bahkan 20 tahun ++, nggak pernah sama sekali berantem, nggak pernah sama sekali merasa bosan, bahkan “dipaksa” untuk menciptakan “adegan” berantem pun, gagal juga, alias bener-bener nggak bisa berantem sama sekali. Nah lho.

– – –

Kalau nggak salah, cmiiw, di setiap penelitian-penelitian psikologi-psikologi tersebut biasanya pakai angka persentase-persentase. Misal, ingin membuktikan kondisi “begini (X)” pada masyarakat yang dianggap “umum” dan “wajar”, yang kemudian diharapkan hasil kondisi “begini (X)” memiliki persentasi paling besar mendekati mayoritas dari random sampel yang diambil. Akan tetapi kemudian terdapat catatan, bahwa kondisi “begini (X)” mengandung kesan atau konotasi negatif.

Misalnya seperti ini, diadakan suatu penelitian tentang tema sesuatu hal, yang penelitiannya sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang juga oleh para ahli dengan tema yang sama, kemudian menunjukkan hasil seperti ini:

86% orang itu ternyata memang “begini (X)” dan 14% lainnya “begitu (Y)”. Maka muncul stereotype “umum”, “oh wajar” kalau misal mengalami kondisi X. Padahal, sekali lagi padahal, kondisi X adalah kondisi dengan kesan negatif.

Kenapa harus memaksakan diri menjadi bagian yang 86% tadi yang “umum” dan dianggap “wajar” berlaku dalam masyarakat yang padahal merupakan sesuatu hal yang berkesan negatif?

Kalau kita bisa menjadi atau bahkan naturally menjadi bagian yang 14% yaitu kondisi Y dan memang golongan 14% ini merupakan sesuatu hal dengan kondisi yang positif, kenapa tidak?

– – –

Saat ini saya masih dan selalu percaya dengan kekuatan pikiran. Apa yang kita jalani, alami, dan lalui merupakan hasil buah pemikiran kita sendiri dan sesuai apa yang kita percayai. Dan saya masih dan akan selalu percaya nasehat para bijak yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, di mana, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

– – –

Well, hidup cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dan sepositif-positifnya.

– – –

Sama seperti yang sedang saya alami (eeaaa curcol). Saya yakin dan masih akan selalu yakin, Tuhan Bukan Tidak Percaya kepada kami, bukan, melainkan Tuhan Mempersiapkan waktu terbaik-Nya, dan saya sangat yakin kalau kami punya kesempatan yang sama dengan yang lain.

Andaikata pun, na’udzubillahimindzalik, sampai nanti di penghujung waktu masih “belum kejadian” juga, maka saya yakin, Tuhan Memang Punya Rencana Terindah untuk kami berdua dan mungkin Tuhan Memang Mempercayakan kami untuk suatu hal lainnya yang memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih. Dan toh pun jika benar demikian, na’udzubillahimindzalik, mungkin sudah beberapa masa yang kami lewati, di usia panjang kami insyaaAllah (aamiin) dan mungkin juga sudah beberapa aksi atau kegiatan positif yang sudah kami kerjakan, lalui, dan jalani, dan mudah-mudahan bisa bermanfaat juga.

Setidaknya juga, jika benar sampai di penghujung waktu nanti kami masih “belum-belum juga”, na’udzubillahimindzalik, setidaknya, kami pasti sudah berusaha semaksimal kami bisa, berbagai ikhtiar dan cara pasti sudah kami coba, dan tentu saja tidak akan ada penyesalan dan rasa kecewa sedikit pun kepada-Nya, karena rasa kecewa dan rasa sesal yang muncul adalah jelas bisikan setan.

Lagian, masa’ kita mau marah dan benci kepada Sang Maha Pencipta kita? Ya nggak to.

So jadi, tetap dan berusaha selalu positif. Kondisikan pikiran agar selalu positive thinking. InsyaaAllah “bonus”-nya pasti juga positif. (dan mudah-mudahan “positif” beneran, eeaaa, aamiin) 😀


– – –

X-Trans Arah Bandung,

23 September 2017

08.25 WIB

Kejutan

 

Birthday Ring

Ini bukan cincin kawin, tapi ini cincin yang sangat berharga.

Disematkan dengan penuh drama, di tengah malam buta, dengan tiba-tiba.

Ini bukan cincin kawin, tapi bukan pula cincin biasa, melainkan cincin yang sangat istimewa.

Beliau datang perlahan menghampiri, membangunkanku dengan penuh hati-hati.

Mengecup lembut seraya berbisik, “Happy birthday, Sayangku,..

Seketika itu juga aku terbangun, perlahan namun pasti, dengan mata masih meraba-raba pukul berapa saat itu.

Lengannya yang melingkari perutku, bak penjaga yang siap siaga menjagaku dari belakang tubuhku.

Tanpa menunggu, tanpa memastikan kesadaranku sudah bersatu dengan suasana malam itu, lengan lainnya pun menyentuh jemariku, dan menyematkan benda itu pada jari manisku.

Ah, dirimu..
Pandai sekali membuatku tersipu.
Terima kasih.. 🙂

 

Matraman, 4 Oktober 2016