AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

 

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

 

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa Gading.

 

Sekali lagi saya sebutkan, lokasi hotel ini saaaaangat dan superrrrr strategis. POP! Hotel Kelapa Gading menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Kali ini saya berkesempatan menginap selama 4 hari 3 malam dan saya hanya, ya, hanya, memerlukan Rp 1.000.000,- ++ lebih sedikit. Entahlah, bagi saya jumlah sekian termasuk murah, jika dibandingkan dengan lokasi yang super strategis seperti ini. Apalagi jika dibandingkan dengan postingan saya sebelumnya mengenai hotel ini di mana harga per malam saat itu adalah Rp 425.000,-.  Plus, ini momen peak season lho, di saat suasana Tahun Baru. Jadi semakin berasa “murah”nya. Dan saya memesan hotel tersebut 2 bulan sebelum kedatangan melalui aplikasi Agoda.

 

– – –

 

Day 1 – Jumat, 29 Desember 2017

 

Jauh-jauh hari saya memang sengaja memesan untuk dapat menginap sejak hari Jumat, walau dulu jauh hari tersebut saya sudah berpikir dan tahu jika hari Jumat, 29 Desember 2017 belum libur dan bukan hari cuti bersama. Walau demikian saya hanya berpikir bahwa saya ingin “memulai” liburan long weekend saya dengan sudah berada pada hotel. Jadi, bangun tidur di pagi hari di hari Sabtu-nya, saya sudah dapat bermalas-malasan dengan suasana hotel, tanpa harus bergerak bersiap menuju lokasi liburan.

 

Alhamdulillah, tibalah juga hari Jumat tanggal 29 Desember 2017 tersebut, dan di Jumat siang harinya saya dapat “kabur”, mengingat suasana kantor juga sudah sepi sekali, dan sebenarnya banyak juga yang mengambil jatah cuti di hari tersebut.

 

Tadinya saya berniat ingin naik Kereta Commuter Line (KRL) dan nyambung-nyambung menggunakan Kopaja. Namun saya mengurungkan niat dan memikirkan saran pasangan untuk langsung naik ojol alias ojek online langsung dari kantor (di selatan) menuju Mall Kelapa Gading (di utara).

 

Sebenarnya yang terpikirkan oleh saya kemudian malah naik ojol nyambung-nyambung, misal dari kantor (Jakarta Selatan) ke Jakarta Pusat (sekitar Bundaran Hotel Indonesia atau Sudirman), kemudian dari  titik Bundaran HI atau Sudirman tersebut baru melanjutkan kembali ke Jakarta Utara (MKG). Karena saya berpikir, “sepertinya nggak mungkin ada yang mau ambil, kalaupun ambil nanti takutnya misuh-misuh”, dsb.

 

Namun  saat saya mencoba order langsung menuju Mall Kelapa Gading (MKG), ternyata ada yang mau! Saat datang pun saya langsung bilang ke Bapak Driver Ojol, “ke utara nih ya Pak, hehe”. Dan ternyata…..malah si Bapak Driver adalah orang Bekasi yang mungkin Bekasi-nya berbatasan langsung dengan area Pulogadung, yang jadinya malah lokasi tujuan saya di Kelapa Gading jadi semakin dekat dengan rumah Beliau. Haaah…..beruntunglah saya. *senang*

 

Saat sampai, beruntunglah saya sudah sekitar pukul 1 siang, sehingga sudah memasuki jam check in, alias sudah bisa check in. Ditambah, belum ada antrian check in. Yeay! Dan lebih beruntungnya lagi, saya mendapatkan service dari Mbak Resepsionis yang baaaik banget dan super ramah. Mood langsung hepi. Plus, request-request  yang saya sebutkan pada order sebelumnya, terpenuhi semua, lantai tertinggi dari jenis kamar yang dipilih, non-smoking room, dan view menghadap ke arah selatan atau arah mall sampai La Piazza. Alhamdulillah…

 

Dan beginilah penampakan kamar kami, simpel namun nyaman.

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami dengan Kamar Mandi Simpel Tanpa Bathtub Hanya Shower

 

Penampakan Kamar Kami

 

Setelah istirahat sejenak, saya langsung menuju ke area food court mall untuk mencari makan siang.

 

Ruang Makan Hotel yang Menyambung dengan Lantai 3 Mall Kelapa Gading Bagian Food Court

 

Pasangan baru sampai sekitar pukul 19.30 WIB. Beliau tidak ikut “kabur” seperti yang sudah saya lakukan. Tentu saja tidak, biarkan Beliau serius di dalam mencari nafkah tanpa saya ganggu-ganggu. Hehe. Eeeaaa… XD

 

Malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film Si Juki The Movie. Usai menonton, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel, mencari tempat makan yang mungkin masih buka. Karena sudah hampir tengah malam, terlihat sudah semua tempat makan yang berjajar banyak di sepanjang jalan kuliner Kelapa Gading tutup. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata masih ada yang buka (dan bukan tempat dugem tentu saja), tempat makan hits  kekinian, yaitu Warunk Upnormal.

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Oiya, setelah sekian lama tidak bermain ke area Kelapa Gading, sekarang ada perubahan pada Mall Kelapa Gading-nya, terutama bagian MKG 1 dan MKG 2. Seperti sekarang, bioskop yang biasanya ada di MKG 1, sekarang semuanya menyatu di area bioskop MKG 3 di lantai 3 yang satu lantai dengan area food court. Dan nama mall sudah berubah ditambah dengan nama developer-nya yaitu menjadi Summarecon Mall Kelapa Gading.

 

Selain itu juga, di sekitar MKG ini, terutama di jalan raya bagian depan MKG, kini sedang dibangun jalur LRT di mana LRT ini panjangnya sampai menuju area Cikarang, Bekasi (cmiiw).

 

 

Day 2 – Sabtu, 30 Desember 2017

 

 

Sabtu pagi kami lalui di dalam hotel saja. Dan baru memasuki waktu brunch, kami memutuskan untuk ke Dunia Fantasi yang berada di area Ancol, Jakarta Utara. Yeay!

 

Sebelum berangkat, kami sudah berpikir, sudah pasti nanti saat di area wisata tersebut akan saaangat ramai orang, mengingat ini adalah hari libur nasional dan semua orang di Indonesia juga libur! Dalam arti, wisatawan domestik yang datang di DuFan tidak hanya orang Jakarta atau orang yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, melainkan banyak juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Benar saja, saat kami sampai sekitar pukul 11 siang, kami melihat buanyaaak sekali orang yang akan masuk ke DuFan.

 

Antrian Panjang Masuk Dunia Fantasi di Libur Panjang Tahun Baru 2018

 

Jadi, saat kami datang, terdapat promo Tiket Masuk Annual yang harganya sama dengan Tiket Masuk Reguler sebesar Rp 335.000,-. Tiket Masuk Annual  ini merupakan tiket masuk ke DuFan di mana sepanjang tahun 2018, kita dapat masuk DuFan secara free alias gratis. Jadilah semua orang yang datang membeli tiket masuk yang Tiket Masuk Annual.

 

Formulir yang Harus Diisi untuk Mendapatkan Annual Card Dunia Fantasi

 

Semakin siang semakin panas. Antrian pun semakin mengular. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan manca negara saya lihat ikut meramaikan suasana liburan di Dunia Fantasi siang hari itu.

 

Antrian di “Balai Kota” Dunia Fantasi untuk Menukar Formulir Isian dengan Annual Card

 

Setelah mengantri hampir 30 menit lamanya, akhirnya kami pun mendapatkan tiket masuk yang ternyata kami harus mengantri kembali di “Balai Kota” yang baru kemarin saat ke DuFan saya ketahui bahwa terdapat bangunan baru miniatur Taman Fatahillah lengkap dengan gedung Balai Kota Jadul. Nah di dalam gedung tersebutlah kami menukar tiket masuk annual kami, dengan sebelumnya juga kami harus mengisi formulir yang telah disediakan. Well, kembalilah kami mengantri selama kurang lebih 20 menit-an. Haha.

 

Akhirnya, setelah 30 menit-an kami mengantri, didapatkanlah Annual Access Card kami, yeay!

 

Annual Card Dunia Fantasi

 

Setelah mendapatkan kartu dan akhirnya beneran bisa masuk, kami tidak langsung menuju wahana, melainkan beli jajanan kentang goreng dulu di dekat pintu masuk, dekat komedi putar, haha. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Dan…kami pun kembali mengantri. Hahaha. XD

 

Untunglah tidak lama kemudian, kami pun sudah mendapatkan kentang goreng kami.

 

Dan wahana pertama yang kami coba adalah Tornado! Awalnya saya hanya iseng saja menyebutkan ingin naik wahana tersebut kepada pasangan. Sembari makan kentang goreng kami, kami bersama pengunjung lain di bagian pedestrian samping wahana, menyaksikan para pengunjung yang sedang naik wahana tersebut. Nampaknya seru! Begitu saya pikir. Plus, nampaknya antrian Tornado masih saaangat sepi bila dibandingkan dengan wahana-wahana lain. Jadilah setelah menghabiskan kentang goreng kami, naiklah kami ke wahana.

 

Hasilnya? Saya mual, benar-benar mual! Seru memang naik wahana Tornado, tapi tidak lagi-lagi deh. Masih untung saya tidak sampai muntah-muntah. X(

 

Muka Udah Mau Nangis Ketakutan 😦

 

Wahana berikutnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Boneka. Kondisi perut yang masih sangat mual dan saya yang hampir menyerah, membuat saya meminta kepada pasangan untuk naik wahana yang santai-santai saja.

 

Awalnya ragu saat akan memasuki wahana Rumah Boneka tersebut, mengingat antrian yang menguuular puanjaaang sekali. Akhirnya kami pun tetap masuk ke dalam antrian. Yah, begitulah suasana libur panjang. Di wahana manapun pasti ramai.

 

Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kami pun mendapat giliran untuk masuk ke dalam wahana dengan menaiki perahu yang digerakkan oleh pompa untuk menyusuri dan melintasi bagian dalam Rumah Boneka.

 

Usai dari Rumah Boneka, kami memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang dapat kami makan di siang hari tersebut.

 

Sampailah kami di area Rumah Jahil dan Rumah Miring. Di sana terdapat kedai snack yang sepertinya baru buka, di mana ia menawarkan snack cumi-cumi yang dipanggang, di mana cumi-cumi tersebut di-press ke dalam mesin panggang, dan penyajiannya ditusuk sate. Rasanya? Yummy…! 

 

Korean Roasted Squid Mashita

 

Setelah makan snack gurita, kami melanjutkan petualangan kami untuk memasuki wahana Rumah Jahil dan Rumah Miring.

 

Sebelum lanjut kembali, saya beristirahat sejenak di sebuah panggung di dekat area tersebut. Saya tidur-tiduran sejenak beberapa menit. Tidak hanya saya yang rebahan beristirahat, terlihat beberapa pengunjung lain juga tidur-tiduran di sekitar kami. Beruntunglah saya dan pasangan masih mendapatkan space untuk beristirahat, mengingat panggung tersebut sangat kecil.

 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar.

 

Usai sholat, kami penasaran dengan wahana Ice Age yang saat itu sedang tidak beroperasi, akan tetapi terlihat ada 2-3 orang petugas yang berdiri di depan wahana tersebut seperti sedang menjaga sesuatu tapi tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Kami pun menghampiri dan menanyakan wahana Ice Age yang tutup tersebut. Namun ternyata, dari jawaban para petugas tersebut, walau Ice Age tidak beroperasi, di dalam gedung wahana terdapat wahana lain seperti Perahu Ice Age yang dapat berputar-puar dan wahana Hello Kitty.

 

Di dalam gedung juga terdapat tempat jajanan dan makanan. Dan saya memutuskan untuk membeli sebuah nasi dalam mangkuk kertas yang ternyata sepertinya anak perusahaan Hoka-Hoka Bento. Usai makan, kami melanjutkan masuk ke dalam wahana Rumah Hello Kitty.

 

Rumah Hello Kitty

 

Usai dari Rumah Hello Kitty, kami melanjutkan ke wahana yang saat itu sedang sering ditayangkan dalam iklan Dunia Fantasi di TV, yaitu wahana permainan Galactica. Lokasinya bersebelahan dengan restoran cepat saji Mc Donald di bagian dalam.

 

Seperti yang sudah ditebak, betul saja, antri panjang! Haha. Yasudah, karena penasaran, kami pun ikut mengantri. Selama kurang lebih 1 jam-an, akhirnya kami pun mendapat giliran masuk ke dalam wahana.

 

Akan tetapi………………..

 

Ternyata “menu utama” wahana tersebut yaitu tembak-tembakan, mendadak tidak beroperasi dan terjadi masalah teknis di dalam pengoperasiannya.

 

Yah……….penonton kecewa. 😦

 

Kami pun diarahkan keluar wahana dengan diberikan cap stempel tambahan di tangan kami, agar nanti jika sudah dapat beroperasi kembali, kami dapat masuk melalui Pintu Khusus pemegang Kartu Premium  tanpa mengantri. Tetap saja, kami menjadi kecewa. Karena sudah hampir 1,5 jam kami mengantri, eh, malah batal bermain. Hiks, hiks. 😦

 

Terlihat Petugas Wahana “Galactica” yang Panik dan Bingung Rembugan

 

Baiklah, daripada kami memendam kesedihan, akhirnya kami memutuskan ke area wahana Bianglala. Namun ketika melihat antriannya plus hari sudah mulai gelap, pada awalnya saya agak malas. Namun karena saya penasaran dan belum pernah sama sekali naik wahana tersebut sebelum-sebelumnya saat mengunjungi DuFan, akhirnya kami pun ikut ke dalam antrian panjang tersebut.

 

Dan…kembali. Setelah hampir 2 jam kami mengantri, akhirnya kami dapat masuk ke dalam wahana. Hah…akhirnya. Kalau dipikir-pikir, kok kami mau-maunya ya mengantri lagi selama itu, padahal sebelumnya kami sudah mendapatkan zonk setelah mengantri selama 1 jam-an. Haha.

 

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami menyudahi petualangan kami di Dunia Fantasi Ancol.

 

Oiya, setelah turun dari wahana Bianglala, kami melihat kalau wahana Ice Age MENDADAK dibuka dooonk. Hahaha. Namun karena badan sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kelapa Gading.

 

Sesampainya di Kelapa Gading sekitar pukul 20.30 WIB, kami langsung menuju ke restoran seafood yang di malam sebelumnya kami melihat sudah tutup. Namanya adalah Rumah Makan Seafood Wiro Sableng 212. Saya terbayang-bayang dengan Kepiting Raksasa yang pernah saya makan beberapa waktu sebelumnya di Rumah Makan Kepiting Asap Cendrawasih Lebak Bulus. Di restoran Wiro Sableng 212 ini juga tersedia menu kepeting raksasa tersebut dengan beberapa bumbu pilihan.

 

Makan Malam Besar di Rumah Makan Seafood “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kepiting Saus Telur Asin “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Udang Goreng Saus Mentega “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

 

Berhubung hari itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan akan menikmati nonton film midnite di MKG. Karena midnite hanya ada di hari Sabtu saja, tidak ada di hari lain. Kami sudah membeli tiket sejak kami masih di DuFan di siang harinya. Film yang kami tonton adalah Bleeding Steel, di mana pemeran utamanya adalah Jackie Chan.

 

Sekitar pukul 2 pagi, kami pun menyudahi aktivitas kami di hari Sabtu tersebut.

 

 

Day 3 – Minggu, 31 Desember 2017

 

Hari Minggu pagi kami mulai seperti biasa dengan sarapan di dalam hotel. Ternyata memang betul, pengunjung hotel di liburan panjang kali itu benar-benar ramai! Tidak seperti pada kunjungan kami sebelumnya pada hotel ini.

 

Hari itu kami memutuskan untuk ke daerah Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Menurut berita di TV beberapa waktu lalu yang pernah saya lihat, sedang diadakan bazaar besar-besaran dari beberapa instansi bertajuk “Big Bang Jakarta“. Memang sih, suasana pada acara tersebut tidak seramai saat PRJ. Acara tersebut lebih ke ajang acara cuci gudang diskon akhir tahun.

Naik Bajaj dari MKG 3 Menuju PRJ Kemayoran

 

Minggu pagi itu langit tidak begitu cerah seperti pada hari sebelumnya dan agak sedikit mendung. Kami memutuskan pergi ke Kemayoran dengan menggunakan bajaj yang memang sedang ngetem di depan Mall Kelapa Gading 3.

 

Sesampainya di JIExpo Kemayoran, kami disambut oleh petugas dari JakFM. Mendadak kami ditawari promo untuk masuk gratis ke dalam acara pameran dengan cara meng-install aplikasi radio tersebut. Akhirnya kami pun mengikuti arahan dari mas petugas tersebut dan mendapatkan free tiket masuk.

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Setelah masuk ke area pameran, kami langsung menuju spot tempat makan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berkeliling. Saat kami makan, benar saja, hujan turun sangat deras! Angin juga bertiup sangat kencangnya. Bahkan air hujan sampai terciprat ke bagian teras dalam bangunan saking deras dan kencangnya. Beruntungnya tidak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Dan tidak sampai 30 menit, hujan pun sedikit reda.

Menu Makan Siang Hari Itu

 

Suasana Hujan Angin Deras – View dari Tempat Kami Makan Siang

 

Saya dan pasangan pun kembali meneruskan kegiatan usai makan siang dengan masuk ke dalam beberapa area pameran di dalam gedung.

 

Seperti biasa terdapat peralatan rumah tangga, elektronik, handphone, mainan anak, kosmetik, bahkan travel fair pun juga diselenggarakan dalam bazaar. Terlihat antrian tersendiri untuk acara travel fair tersebut. Dan travel fair  tersebut diadakan oleh maskapai Sriwijaya Air.

Salah Satu Suasana Bazaar “Big Bang Jakarta”

 

Kami pun puas berkeliling, namun tidak ada satu pun barang yang berhasil kami lirik, akhirnya kami menuju ke pusat kuliner kembali. Di sana kami akhirnya malah menikmati kuliner durian yang katanya asli dari Medan. Mantab!

 

Kuliner Durian Asli Medan

 

Setelah makan durian, kami memutuskan pulang kembali saja ke Kelapa Gading. Kami pun beristirahat sore hari hingga waktu Isya’ di dalam kamar hotel. Sembari suami tidur-tiduran dan main game, saya menelepon Ibu saya yang juga sedang beraktivitas liburan tahun baru di sebuah tempat yang sejuk bernama Sarangan yang dekat dari Cepu. Ibu tidak sendiri, Beliau ditemani Ayah dan adik saya, serta bersama dengan teman Ayah di Cepu.

 

Sore hari tersebut, saya menikmati betul-betul suasana menjelang Maghrib. Pasca hujan, langit begitu indah dan sangat cerah. Terlihat semburat orange di ujung selatan sana.

 

Suasana Sore Hari Terakhir 2017 – Lokasi Kelapa Gading

 

Selepas Sholat Isya’, kami memutuskan untuk berkeliling mall sepanjang MKG 5, MKG 3, MKG 2, MKG 1, dan La Piazza. Kami juga mencari tempat untuk aktivitas makan malam kami.

 

Namun apa yang terjadi? Tempat makan – tempat makan yang menjadi tujuan dan keinginan kami, semuanya full alias penuh dan harus waiting list jika ingin benar-benar makan di tempat-tempat tujuan kami tersebut. Berawal dari 1 tempat, pindah ke tempat lain karena tujuan awal full, yang berujung nggak nemu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar mall dan berjalan ke area rumah makan seafood yang berjejer.

 

Akhirnya saya masuk ke dalam Rumah Makan Seafood Pondok Pangandaran. Akhirnya makan seafood lagi malam itu. Haha. Beruntungnya masih ada tempat, terutama bagi kami yang hanya berdua saja.

Rumah Makan Seafood “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

 

Udang Jumbo Goreng Mentega “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Udang Jumbo Saos Pangandaran “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Usai makan malam, kami kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk tidak keluar-keluar lagi hingga tengah malam. Ya, tengah malamnya adalah malam pergantian tahun dari tahun 2017 menuju tahun 2018.

 

Di dalam menunggu datangnya tengah malam, kami pun hanya mengamati kondisi langit malam hari melalui jendela kamar kami. Sebenarnya terdapat acara konser musik di halaman La Piazza, namun kami tidak tertarik untuk masuk. Kami cukup memperhatikan dari jauh lampu-lampu suar yang menyorot ke langit yang bersumber dari panggung acara konser tersebut. Kebetulan memang view kamar kami ini adalah yang menuju ke arah mall dan La Piazza.

 

Kami juga melihat acara di TV yang menyiarkan siaran langsung acara pergantian tahun di berbagai daerah di Indonesia. Setengah jam menuju tengah malam, mulai terdengar suara kembang api dari kejauhan. Kami pun mulai heboh dengan mematikan lampu kamar dan mulai melihat ke arah luar kamar. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya dan suamipun mulai sibuk dengan hape-nya. Haha.

 

Tengah malam pun tiba. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari arah La Piazza, muncul juga kembang api terdekat dan terbesarnya. Karena beberapa menit sebelumnya, fireworks yang muncul hanya dari wilayah sekitar dan dari arah yang jauh-jauh.

 

Fireworks Mulai Muncul dari Arah La Piazza

 

Fireworks dari Arah La Piazza

 

Euforia kami malam itu benar-benar terasa. Sekitar pukul 00.30 WIB kami baru berangkat tidur.

 

Day 4 – Senin, 1 Januari 2018

 

Aktivitas pagi kembali berjalan seperti biasanya. Namun setelah Sholat Subuh kami memutuskan untuk kembali berlabuh ke Pulau Kapuk. Maklum, baru tidur 4 jam dan rasanya ngantuk sekali. Haha. Walau begitu kami tetap tidak melewatkan waktu sarapan kami di hotel. (nggak mau rugi bo’ hehe)

 

Sekitar pukul 11 siang kami sudah siap berkemas dan siap untuk check out dari hotel.  Sebelum pulang ke Pondok Pinang, kami menyempatkan datang sejenak ke area pameran “Star Wars” di dalam Mall Kelapa Gading 3 untuk sekedar melihat-lihat. Siang hari itu kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta Selatan dengan menggunakan taksi. Mengingat bawaan kami yang juga sudah “beranak” akibat libur panjang kali itu.

Pameran Star Wars di MKG 3

 

Berfoto dengan Lightsaber

 

– – –

 

Liburan usai. Akhirnya kami pun benar-benar dapat bersantai selama 4 hari full. Benar-benar rasanya energi recharged walau bagi sebagian orang berkesan “liburannya kok ke situ-situ lagi sih”. Hehe.

 

So, alhamdulillah. 🙂

Advertisements
AMG, Curhat Terbuka, Life

Tahun Baru, Semangat Baru

Woohoo! Tidak terasa sudah memasuki tahun baru 2018! Selamat tahun baru 2018!!! 😀

Berhubung tema pada minggu ini bernuansa dengan yang baru-baru, jadilah saya memutuskan untuk sedikit bercerita tentang beberapa hal yang diharapkan bisa menjadi “baru” di tahun 2018 ini. (mudah-mudahan masih nyambung ya dengan tema minggu ini, hehe) Nah, apa sajakah kira-kira yang menjadi pengharapan di tahun baru 2018 ini? So, let’s check this out, gan!

 

Matahari Terakhir di Tahun 2017 – View dari Kamar Hotel Tempat Kami Menginap Liburan Long Weekend Tahun Baru

 

– – – – –

 

Di tahun 2018 ini, saya berharap akan ada banyak hal yang baru-baru. Entah seperti pengalaman baru, tantangan baru, serta kehidupan baru. Sebenarnya saya juga berharap dapat merubah kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baru lagi di tahun ini. Seperti misalnya, mampu melawan rasa malas, mampu berkomitmen dengan baik dan sungguh-sungguh terhadap cita-cita serta impian yang diharapkan, dan berbagai hal baru lainnya.

 

Tahun baru, semangat baru.

 

Mungkin ungkapan tersebut terdengar cliche dan merupakan sesuatu yang suka berulang-ulang diucapkan oleh banyak orang. Namun apa salahnya, di dalam momen pergantian tahun seperti ini, kalimat tersebut dapat dimaknai dengan betul-betul dan sungguh-sungguh di dalam pelaksanaannya.

Dan beberapa hal berikut ini merupakan impian-impian kecil saya yang diharapkan dapat terlaksana di tahun ini. Ya, harapan-harapan baru dalam hidup saya.

 

Berharap Memiliki Pekerjaan Baru dengan Tantangan Baru

Sebenarnya, hal ini terkesan dan terdengar “tidak bersyukur”. Bagaimana tidak? Dalam 1 tahun ini, saya berkesempatan dapat bekerja dekaaaaat sekali dengan rumah. Bahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki, saya hanya butuh waktu 15 menit saja, dan jika menggunakan motor dapat ditempuh kurang dari 5 menit waktu perjalanan! Ditambah, salary yang didapatkan perbulannya pun dapat saya katakan jauh lebih daripada cukup. Kemudian ada lagi, waktu masuk kantornya pun pukul 08.30 WIB, dengan terdapat “batas toleransi tidak tertulis” di mana jika sampai kantor pukul 09.00 WIB ya tidak apa-apa, khususnya bagi pegawai yang rumahnya jauh-jauh.

Sudah dekat, gaji lumayan, nggak perlu bertemu dengan kemacetan dan keganasan polusi Jakarta setiap harinya, berangkat ngantor pun dapat dikatakan “bisa siang” dan terhitung sangat santai saat menuju ke kantornya, plus di siang harinya bisa pulang ke rumah jika ingin beristirahat makan siang di rumah. Enak bukan?

Namun di sinilah gejolak perasaan batin mulai muncul. Sebenarnya saya sudah bergabung dengan perusahaan ini jika ditotal-total, sudah hampir 2,5 tahun lamanya. Pertama kali dulu di tahun 2015 saya join, saya ditugaskan sebagai seorang asisten engineer di mana saya merasa pekerjaan tersebut sesuai dengan background jurusan kuliah saya. Sampai tiba di akhir 2016 saat project sebagai asisten engineer berakhir, di mana project berikutnya yang hendak saya handle ternyata setelah berjalannya waktu hingga di tahun 2017, tidak ada hubungan sama sekali dengan background jurusan kuliah saya, membuat saya kembali berpikir. Walau begitu memang, pekerjaan tersebut merupakan sesuatu ilmu yang sangat baru juga bagi saya.

Dan di akhir tahun 2017 kemarin itulah saya kembali mulai berpikir. Untuk pertama kalinya saya pun merasa “ketakutan” jika suatu saat nanti betul, “saya tidak bisa apa-apa dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang lain-lainnya“. Terutama setelah beberapa waktu lalu seorang senior rekan kerja menasehati dan bertanya kepada saya, seperti yang sudah pernah saya tulis juga sebelumnya pada blog ini (klik link berikut).

Saya berharap di tahun ini, saya dapat merasakan pengalaman baru, tantangan baru, dengan suasana baru dalam dunia pekerjaan. Entahlah, saya merasa, sepertinya mungkin saya harus keluar dari zona nyaman saya untuk sementara ini dengan memperkaya diri sendiri dengan pengalaman-pengalaman baru, terutama yang berkaitan dengan background pendidikan. Entahlah, ini adalah mimpi saya yang sungguh  sangat dadakan sekali, yang tiba-tiba muncul dalam pikiran saya, di mana mungkin bagi sebagian orang hal ini bukan sesuatu yang penting-penting amat, dan mungkin bagi sebagian orang lainnya lagi menganggap hal ini adalah sesuatu yang “terlambat”.

Mungkin dalam waktu dekat, saya akan me-lobby atasan saya atau sekalian saja big boss saya agar dapat diberikan tugas-tugas baru yang masih terkait dengan background jurusan kuliah, mengingat sebenarnya kantor di mana saya bekerja ini juga bergerak dengan bidang yang salah satunya malah berkaitan erat sekali dengan jurusan kuliah saya.

Yah…mudah-mudahan ada jalan. Aamiin..

 

Memiliki Skor Bahasa Inggris Baru

Keinginan dan impian ini sebenarnya sudah lamaaaaa sekali ingin saya lakukan dan jalani. Bahkan dari tahun 2014 saya sudah ingin sekali mengambil sebuah tes Bahasa Inggris di mana sertifikatnya bertaraf internasional, dalam arti skor atau nilai Bahasa Inggris kita diakui di dunia. Selama ini saya hanya mengikuti beberapa tes online dalam website karir dan beberapa tes TOEFL prediksi guna melamar pekerjaan ke beberapa instansi yang membutuhkan skor TOEFL.

Nah, keinginan berikutnya ini merupakan tes Bahasa Inggris IELTS. Saya ingiiiiin sekali bisa untuk mengambil tes jenis ini. Tes IELTS yang ingin saya ambil adalah IELTS akademik, di mana nantinya dapat digunakan dalam mendaftar sekolah-sekolah di luar negeri (jika ada keinginan mencoba mendaftar sekolah-sekolah di luar negeri). Namun yang membuat tidak maju-maju sejak dahulu dan sejak kemarin-kemarin itu adalah karena memikirkan sebuah ketakutan akan “resiko fatal” jika gagal dalam tes ini, di mana uang yang sudah dibayarkan akan hangus begitu saja jika kita gagal dalam tes. Setidaknya itu adalah informasi yang pernah saya baca dan saya dengar dari teman-teman dan dari pengalaman-pengalaman mereka.

Jadi, yang dapat saya lakukan sekarang adalah, niatnya harus diperkuat, harus dapat meluangkan waktu di malam hari dan di hari libur untuk belajar IELTS, dan tentu saja harus bersungguh-sungguh.

 

Memiliki Anggota Keluarga Baru

Nah, ini-niiih…..haha. Saya akhirnya di pertengahan tahun 2017 kembali melakukan program hamil seperti yang sudah pernah saya lakukan di tahun 2015. Namun kali ini ingin lebih serius lagi.

Semenjak akhir tahun 2015, entah mengapa pikiran saya amat-sangat enteng jika dihadapkan dengan hal ini. Betul, hingga detik ini, saya dan pasangan belum juga dikaruniai seorang anak pun. Akan tetapi, kami tidak bersedih, khususnya saya, dengan segala tekanan dari sana-sini, memutuskan untuk tidak akan pernah bersedih lagi, melainkan akan terus berusaha dan berdoa. Oleh karenanya di tahun 2017, saya dan pasangan kembali untuk meneruskan apa yang sudah kami mulai dahulu. Akan tetapi, di dalam pelaksanaannya, kami tidak akan terburu-buru, dan cenderung jauh lebih rilex. Kami tidak akan memaksakan kehendak kepada-Nya, kami akan sersan, serius tapi santai. Dan yang terpenting adalah dapat selalu menjalani hidup dengan kesenangan dan kebahagiaan, bagi saya itu sudah lebiiih daripada cukup. Lagipula, saya tidak khawatir, karena Dia-lah Sang Maha Pengatur Rizqi kita.

 

Mencoba Tantangan Baru dengan Mendaftar Sekolah S2

Mungkin bagi sebagian orang hal ini merupakan sesuatu yang saaaaangat terlambat.

 

Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak dulu saat baru lulus kuliah? Mengapa tidak saat belum menikah?

 

Mengapa, mengapa, dan mengapa.

 

Entahlah, sebenarnya ini keinginan yang sangat tiba-tiba sekali dan terus terang mungkin karena dipengaruhi oleh melihat teman-teman di kanan-kiri saya saat ini. Kesibukan dan keasikan bekerja dan mencari uang, terkadang memang membuat terlena. Tau-tau sudah berganti bulan dan tau-tau sudah berganti tahun lagi. Hehe.

Lalu, ingin mendaftar ke mana? Sudah ada sih keinginan ke suatu tempat. Tapi mungkin saya akan fokus dulu dalam menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Jadi? Ya…tidak ada salahnya kan mencoba? 🙂

 

Memiliki Konsep Baru dalam Mengelola Online Shop

Sejak tahun 2014 akhir, saya menjajal untuk berjualan tas di dunia online, mengingat saat itu masa-masa saya pertama kali bekerja dan memiliki gaji sendiri, dan merasa “sudah mampu” membeli barang-barang yang saya inginkan, yang tentu saja bersifat konsumtif. Saat itu saya tertarik dengan tas-tas branded di mana harganya tidak murah, dan tentu saja asli, no kw.

Namun saat itu, saya pikir-pikir kembali, jika saya membeli tas dan begitu terus, beli, beli, beli, dan numpuk, bisa jadi malah menguras tabungan begitu saja dan tidak berbekas sama sekali di tabungan. Berjalannya waktu, saya pun melihat dunia jual-beli tas branded di dunia maya dan di sisi lain juga melihat potensi pasar di masyarakat wanita Indonesia akan ketertarikan mereka pada tas-tas lucu-lucu yang cantik-cantik, tas import, yang memang salah satunya ada juga golongan pecinta tas kw. Namun dari sinilah saya belajar, bagaimana bentuk tas branded yang benar-benar asli dan bagaimana bentuk palsunya atau kw-nya, dan sebagainya. Tidak berhenti di sana, saya pun melihat adanya trend terbaru dari tas-tas import yang datang ke Indonesia tanpa menggunakan merk, alias tanpa brand, ternyata juga banyak diminati oleh kalangan perempuan luas di Indonesia, di mana saya dapat menjual tas-tas tersebut dengan harga relatif sangat murah.

Berjalannya waktu, saya pun menjajal berjualan tas branded dan sekaligus juga tas import. Dan semakin berjalannya waktu, saya merasa penjualan tas import memiliki nilai yang jauh lebih bagus dibandingkan dengan penjualan tas branded. Jadilah untuk saat ini, saya fokus terlebih dahulu di jual-beli tas import dan masih berjalan hingga sekarang. Namun di kemudian hari, saya masih bermimpi untuk memiliki sendiri toko tas branded yang jelas asli, no kw, dan saat ini masih belajar melihat-lihat dan “mencuri” ilmu dari teman-teman komunitas yang juga sedang saya ikuti, agar kelak dapat menuju kepada impian tersebut. Aamiin..

(wah, panjang ya latar belakangnya, haha, maap, maap) XD

 

Nah, di tahun 2018 ini saya menginginkan konsep baru di dalam penataan dan pengelolaan online shop yang kini sudah berjalan, sehingga dapat beriringan dengan kegiatan harian saya yang mungkin masih berkantor secara reguler. Sebenarnya keinginan ini sudah muncul sejak tahun lalu. Namun, akibat bermacam-macam alasan pembenaran diri ini, saya pun jadi lupa. Haha.

Bagi teman-teman yang ingin mampir untuk sekedar melihat-lihat, khususnya pengguna Instagram, boleh mampir lhooo silakan. 🙂 Link di bawah ini boleh di-klik, hehe.

http://www.instagram.com/tas.batam_murah

dan ini: (masih belum berfungsikarena sebelumnya berjualan tas branded via facebook)

http://www.instagram.com/tas_authentic

 

Memiliki Berat Badan Baru

Naaah…kalau ini sih baru yang namanya tantangan “terberat” ya. Hahaha. 😀

Sebenarnya keinginan untuk menurunkan berat badan itu sudah muncul sejak tahun jebot, entah dari kapan tau sudah ingin melakukan. Akan tetapi…entah mengapa adaaa saja alasan-alasan yang terkesan dan terlalu dibuat-buat ya rasanya. Haha.

Di tahun 2017 kemarin, saya dan pasangan bertemu dengan 2 orang dokter Sp.OG di mana salah seorang diantaranya mengatakan bahwa, saya overweight 14 kilogram! What? Ha..ha..ha.. Selama ini saya hanya tau kalau saya beratnya sudah melebihi ambang “aman”, namun tidak pernah punya patokan besaran angka yang harus dikejar atau diturunkan. Tah eta!

Yah…mudah-mudahan pertemuan dengan seorang dokter Sp.OG tersebut merupakan sebuah “hidayah” buat saya, sehingga saya pun tidak bandel ke depannya dan benar-benar mulai bersungguh-sungguh di dalam upaya penurunan berat badan. Ya, mudah-mudahan ya.. Hahaha.

 

– – – – –

Laluuuuu…jika dilihat dari beberapa keinginan-keinginginan yang serba baru di atas (dan super sangat lebay sepertinya ya), secara nalar dan logika, jika semuanya terwujud berbarengan dan bersama-sama di tahun ini (..aamiin..), maka akan saling tumpang-tindih. Haha. (kayak yang gampang simsalabim jadi apa prok-prok-prok gitu yak) XD

Namun, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang sudah-sudah, menurut saya bagi seseorang yang agak pemalas dan mager-an seperti saya, baiknya semua dilakukan secara paralel saja, alias secara bersama-sama saja. Anggap seperti sedang berkegiatan sehari-hari seperti biasanya saja. (mudah-mudahan benar bisa nggak malas di tengah-tengah ya)

Dan memulai tahun ini, saya “ditemani” oleh Buku Agenda cantik yang saya dapatkan dari Majalah Gogirl! edisi Bulan Desember 2017. Ngomong-ngomong soal majalah yang satu ini, entah mengapa sekarang bertransformasi wujudnya menjadi majalah yang cantik dan ciamik bingiiittt dibandingkan dengan penampakannya di tahun-tahun sebelumnya saat saya masih duduk di bangku SMA, sekitar tahun 2005 – 2008. Bener-bener beda dan fresh!

Buku Agenda Cantik “2018 Goals” Persembahan dari Majalah Gogirl!

 

So, apakah teman-teman juga sudah siap menyambut dan menyongsong hari-hari baru di depan sana? Apakah sudah siap menerima tantangan-tantangan baru yang diberikan dunia? Yuk mari kita ber-se-ma-ngattt! Yeay! 😀

AMG, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life

Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

Source: https://www.pexels.com/

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂

AMG, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Travelling

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.

 

  1. Permainan Ini Berhasil Membuat Saya dan Suami Menikmati CFD-nya Jakarta untuk PERTAMA KALI-nya, Sampai-Sampai Membuat Kami Berjalan Kaki Selama Kurang Lebih 5 Jam Berjalan Non-Stop!

 

Apa? Hanya karena Pokémon GO baru jalan-jalan dan main ke CFD? Seriusan lo?

 

Beberapa kawan sempat ada yang bertanya demikian saking tidak percayanya. Bagaimana tidak, saat itu sudah hampir 3 tahun kami (saya dan suami) merantau ke ibukota dan tempat tinggal kami  saat itu kalau boleh dikatakan sangat dekat dengan area Car Free Day (CFD) Sudirman. Ya, kami tinggal di area Perempatan Matraman, dekat dengan halte TransJakarta Matraman, di mana kalau naik Bus TransJakarta kami dapat langsung menuju ke area Sudirman dengan sekali jalan tanpa transit, itu pun hanya beda 3 halte saja, dekat bukan? Namun apa? Kami belum pernah sekalipun “mencicipi” suasana CFD Sudirman sepanjang menuju 3 tahun kami tinggal di Jakarta tersebut. Selalu saja ada banyak alasan untuk kami tidak dapat menuju ke sana. Bahkan kami pun merasa kalau CFD itu jauuuuuh sekali, padahal sebenarnya tidak jauh sama sekali.

 

Namun semua itu berubah ketika Pokémon GO hadir di dalam kehidupan kami. Haha. 😀

 

Percaya tidak percaya, kami benar-benar baru merasakan suasana CFD  Sudirman untuk pertama kalinya yaitu pada saat minggu-minggu awal hadirnya Pokémon GO. Ingat sekali saat itu hari Minggu pertama setelah libur panjang lebaran.

 

Saat itu kami masih berada pada level-level awal permainan. So, mau tidak mau kami harus berjalan! Ya, jalaaan terus! Hahaha.

 

Mendadak kami menjadi rajin di hari Minggu pagi. Setelah Sholat Subuh kami tidak bermalas-malasan di atas kasur dan menikmati acara-acara pagi hari di televisi seperti biasanya. Kami langsung bersiap dan berkemas untuk menyiapkan segala amunisi yang harus kami bawa untuk “bekal” bermain Pokémon GO. Power bank full, baterai HP full, dan tas kecil yang roomy untuk memudahkan membawa peralatan-peralatan tersebut.

 

Sepatu olahraga?

 

Tidak, kami tidak menggunakan itu. Kami benar-benar pure, murni hanya berjalan kaki menyusuri CFD Sudirman. So, kami hanya butuh sandal kami saja, tidak sepatu kami.

 

Saking bersemangatnya, kami sengaja tidak naik TransJakarta menuju ke sana. Kami naik bajaj!  Dan tujuan pertama kami adalah menuju Bundaran Hotel Indonesia sebagai titik awal kami akan mulai “berburu”. Bahkan selama perjalanan menuju Bundaran HI, kami pun sudah mulai memainkan permainan tersebut! Haha.

 

CFD kali itu terdapat sebuah atraksi TNI Terjun Payung di area Bundaran HI. Sesekali juga saya melihat-lihat beberapa pedagang yang menggelar lapaknya masing-masing. Dan kami juga beberapa kali berhenti untuk sekedar jajan makanan yang ada di area tersebut.

 

Kami berjalan mengelilingi Bundaran HI, karena di area tersebut banyak sekali titik Pokéstop yang dipasangi Lure Module.

 

Pokéstop adalah sebuah titik di mana pemain bisa mendapatkan pokéball dan beberapa bonus lainnya dengan cara berhenti pada titik tersebut dan memutar bulatan yang ada.

 

Sedangkan Lure Module adalah sebuah fitur berbentuk seperti hujan kelopak bunga pink, di mana jika dipasangi Lure tersebut, maka akan semakin banyak Pokémon  yang “mampir” dan terlihat di area Pokéstop tersebut. Namun sifat Lure ini tidak selamanya “menyala”, ia berbatas waktu dengan max waktu adalah 30 menit.

 

Banyaaak sekali jika boleh saya bilang. Hampir semua titik Pokéstop dipasangi Lure.

 

Oh iya, virus Pokémon GO ini tidak hanya menjangkiti kami berdua. Berhubung CFD kali itu merupakan CFD perdana pasca libur panjang lebaran dan pasca rilisnya game tersebut, jadilah banyak pula manusia di CFD kala itu memainkan game yang sama. Ada yang bergerombol, ada yang sampai ketawa-tawa, ejek-ejekan bercanda-ria bersama dengan teman-temannya, berlari-lari demi agar tidak tertinggal masa Lure yang sedang menyala, dan sebagainya. Seru!

 

Kami berjalan kaki hampir 5 jam tanpa henti!

 

Ya, kami berjalan kaki hampir sepanjang 5 jam dari area Bundaran HI – Dukuh Atas – Perempatan Matraman dengan melalui jalur area sekitar Bappenas – Taman Suropati – Masjid Cut Mutia Menteng – Perumahan Menteng – Cikini – Tugu Proklamasi – Matraman.

 

Di dalam permainan Pokémon GO ini juga terdapat yang namanya fitur telur pokémon yang dapat ditetaskan dengan cara berjalan kaki sampai beberapa km. Misal, sebuah telur akan menetas jika sudah berjalan kaki selama 5 km dan 10 km.

 

Pengalaman perdana CFD Jakarta kami benar-benar berkesan. Bagaimana tidak? Kami melaluinya sambil bermain Pokémon GO. Haha! 😀

 

 

  1. Membuat Kami Menginap di Area Dekat Cihampelas Walk pada Saat Ada Acara di Bandung

 

Ya! Ini yang lebih lebay lagi.

 

Begitu banyak hotel yang bertebaran di Kota Bandung, namun kami memilih hotel-hotel di area sekitar Cihampelas Walk pada saat kami menghadiri beberapa acara di Bandung pada masa-masa permainan Pokémon GO sedang hits-hitsnya. Dan yang lebih sering kami tuju adalah Hotel Serela Cihampelas (klik untuk melihat tautan) yang berlokasi di seberang Cihampelas Walk persis.

 

Mengapa harus dekat dengan Cihampelas Walk?

 

Jadi ternyata, pada saat awal-awal permainan ini muncul, pihak manajemen Cihampelas Walk “sengaja” dan  “rutin” memasang Lure Module di setiap titik Pokéstop yang memang tersebar beberapa titik di area Mall Cihampelas Walk.

 

Sampai-sampai yang tidak habis pikir, bahkan sampai tengah malam pun area Cihampelas Walk masih ramai dipadati orang! Khususnya di malam minggu, semakin malam, semakin ramai. Luar biasa! Kisah ini pernah saya tulis juga dalam blog ini (klik untuk melihat tautan). Jika teman-teman melihat dokumentasi pada postingan tersebut, benar-benar menggila bukan people of Bandung di dalam antusiasmenya bermain Pokémon GO?

 

Suasana Ramainya Titik2 Pokéstop di CiWalk yang Dipasangi Lure Module

 

  1. Semakin Hari Kami Semakin Rajin Berjalan Kaki, Bahkan di Malam Hari Sepulang Kerja

 

Ini yang lebih parahya lagi sih. Kami benar-benar seperti sudah “dibutakan” oleh permainan ini. Demi naik level, kami  akan upayakan untuk selalu berjalan dan berjalan terus.

 

Walau saat itu sudah mulai banyak yang cheating alias curang dengan adanya aplikasi-aplikasi “Fake GPS” yang katanya memudahkan orang untuk tidak perlu berjalan jauh, tau-tau level bisa naik begitu saja, hanya dengan menggerakkan titik pada peta dalam aplikasi “Fake GPS”. Untunglah saat itu pihak Pokémon GO melihat fenomena kebocoran dan kecurangan ini, sehingga meraka pun membuat sistem “banned otomatis” bagi para pemain yang dengan sengaja bermain curang (langsung terdeteksi oleh server).

 

Berjalan di malam hari tidak hanya kami lakukan di malam minggu. Terkadang di malam-malam biasa kami juga melakukan “ritual” berjalan kaki sekitaran area Perempatan Matraman. Sambil berjalan kaki menuju Bioskop Metropole, kami sempatkan bermain. Kemudian ke area Taman Proklamasi, di mana di sana memang terdapat sebuah Gym atau “area battle” dalam permainan, kami pun mencicipi “nongkrong” di sana sampai area tugu tutup atau sekitaran pukul 9 malam.

 

  1. Menjadi Tidak Malas ke Monas

 

Jadi, selain kami belum pernah ke CFD Jakarta selama 3 tahun merantau, kami pun juga belum pernah mencoba naik ke Tugu Monas. Kalau sekedar melihat Tugu Monas dari jarak jauh, cukup sering, karena kami pulang kampung ke Jawa atau main ke Bandung, hampir pasti kami selalu naik kereta api dari Stasiun Gambir.

 

Tujuannya sih memang ingin naik ke Tugu Monas, tapi tetap sebagai menu utama kami berjalan-jalan ke sana adalah bermain  Pokémon GO donk. Apa lagi? Haha. 😀

 

Di area Monas memang banyak sekali titik-titik Pokéstop yang juga sering dipasangi Lure Module. Terutama di Hari Minggu pagi.

 

Penampakan manusia-manusia-nya persis seperti manusia-manusia yang ada pada CFD Sudirman kala itu. “Beringas” dan “terlalu bersemangat” di dalam memainkan permainan Pokemon GO. Walau begitu, suasana terasa seru dan asik. 😀

 

 

Nah, jadi itu adalah beberapa pengalaman kami setelah “dipengaruhi” oleh sebuah game bernama  Pokémon GO. Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman juga merasakan ke-lebay-an yang sama?

 

😀

AMG, Curhat Terbuka, Life

“Kamu Mau Jadi Apa?”

“Kamu mau jadi apa?”

Begitulah pertanyaan itu muncul seketika dan ditujukan kepadaku.

 

– – – – –

 

Sebelum masuk ke dalam tulisan, aku hanya ingin berkata, tulisan ini adalah murni pendapatku pribadi dan tidak ada kepentingan di dalam mengomentari pilihan hidup orang lain. Tulisan ini mengandung opini individual dari seseorang yang belum genap berusia 30 tahun, dalam arti “masih di bawah” usia 30 tahun dengan segala pemikirannya.

So, mari kita lanjutkan.

 

– – – – –

 

Siang itu aku baru saja selesai mengikuti meeting mingguan bersama dengan direksi dan tentunya beberapa rekan kerja. Cukup agak sedikit menegangkan. Mengingat hari itu merupakan hari permulaan minggu, yaitu Hari Senin. Hari di mana raga ini baru saja selesai menikmati “masa-masa indahnya” bersama dengan weekend 2 hari yang baru saja dilalui. Ditambah materi yang dibahas sedikit agak “berat”. Sudah begitu, pagi hari pula kami melakukan aktivitas meeting mingguan tersebut.

 

Aku terduduk termangu memikirikan sebuah jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan seorang rekan kerjaku itu. Ya, mau jadi apa aku nantinya?

 

Dengan tiba-tiba suasana makan siangku agak sedikit terusik dengan pertanyaan tersebut. Akan tetapi, aku tidak sakit hati sama sekali, melainkan sedikit menggelitik pikiranku dan ingin menggali lebih dalam lagi akan jawaban-jawaban yang mungkin muncul. Ada benarnya juga Beliau bertanya demikian. Aku pun semakin terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi di depan sana, sembari menikmati rendang pesananku. Hmmm, cukup sulit ya.

 

Source: http://clipartix.com

 

Beliau menjabarkan kalau dirinya, dalam usianya, mengatakan bahwa Beliau agak sedikit menyesal dengan pilihan yang sudah Beliau pilih. Menurutnya, dalam usia sekian, seharusnya Beliau sudah dapat mencapai dan melakukan sesuatu yang lebih daripada kondisi saat ini yang sedang Beliau jalani. Beliau pun bilang kepadaku, jangan sampai aku terlena, terbawa suasana, terbawa nyaman, terbawa santai, yang kemudian hari dapat menjadi bom waktu untuk diriku sendiri kelak di kemudian hari.

 

Well, sebenarnya pemikiran dan nasehat Beliau sedikit mengena kalbuku. Betul juga, pikirku sesaat.

 

Beliau menambahkan, ditambah dengan background pendidikan atau jurusan kuliah yang sudah aku ambil, jangan sampai ter-sia-siakan hanya dengan mengerjakan pekerjaan “remeh” menurut Beliau seperti yang sedang aku kerjakan saat ini, di mana memang, tidak ada keterkaitan langsung dengan jurusan kuliahku dulu.

 

Di sini, pikiranku mulai tidak setuju. Ya, betul. Saat ini aku lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan administrasi dan lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan me-manage orang banyak. Akan tetapi menurutku, pekerjaan ini tidak mudah. Tidak se-“remeh” itu. Butuh skill, ketelitian dan disiplin tinggi di dalam menjalankan semua tugas ini. Di sinilah pikirkanku mulai tidak setuju dengan pernyataan Beliau. Namun siang itu, aku memilih diam dan mendengarkan saja. Ditambah, Beliau adalah senior jauh dan sudah berpengalaman bertahun-tahun bekerja dalam perusahaan tempatku bekerja saat ini.

 

Source: http://thinkingorganized.com

 

Usai makan siang dengan Beliau, aku semakin hanyut dalam pertanyaan tersebut.

 

“Kamu mau jadi apa?”

 

Sebenarnya kalau ingin dibuat mudah dan simple, aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Aku ini adalah seorang wanita dewasa yang kebetulan sudah menikah juga. Sebenarnya, tujuan utamaku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hebat bagi suami dan anak-anakku kelak. Aku ingin menjadi seorang wanita rumahan dengan menjalankan bisnis sampingan yang menjadi hobiku. Ya, itulah impianku.

 

Lalu, jika melihat kondisi saat ini di mana aku yang hingga detik ini masih “hanya” berstatus sebagai istri, belum berstatus sebagai ibu, ditambah tempat tinggal yang sangat dekat sekali dengan kantor di mana aku bekerja, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil berusaha membentuk sebuah keluarga “yang utuh” dan menjalankan hobiku yaitu bisnis online shop, aku masih dapat beraktivitas harian dengan  pemasukan bulanan yang walau sifatnya sementara.

 

Ya, saat ini aku hanyalah seorang pegawai kontrak dari sebuah perusahaan swasta di mana aku dapat diberhentikan sewaktu-waktu. Oleh karenanya aku sebutkan di awal, bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik yang sedang mampir dalam hidupku ini. Walau mungkin bagi orang lain, menurut penilaian mereka, aku sedang “terjerumus” ke dalam tempat “yang tidak seharusnya”. Well, hidup tidak semudah berkata demikian, bukan?

 

Source: http://www.professionalexamtutoring.com

 

Aku pun teringat nasehat dan wejangan seniorku siang itu. Beliau berkata, jika aku makin “terlena” dan “terlalu nyaman”, ditakutkan pada saat aku mencapai usianya, aku akan ikut menyesal karena mungkin aku akan “tidak menjadi apa-apa” dan menyesali dengan langkah yang sudah aku pilih. Wow, sedikit mengernyitkan dahi saat aku mendengarnya. Dan tentu saja, aku tidak membalas atau berkomentar. Aku tetap menikmati makan siangku sambil mendengarkan Beliau.

 

Mungkin betul. Jika aku tidak “bergerak” sekarang, bisa jadi masa depanku akan “hancur”.

Wait what, “hancur”?

 

Kembali lagi kepada impianku menjadi seorang wanita rumahan yang menjalankan bisnis sampingan sambil mengurus keluarga. Mungkin bagi sebagian orang, cita-citaku seperti itu adalah cita-cita “bodoh” dan “tidak berguna”, mengingat kata mereka, aku sudah menyia-nyiakan kesempatan masa mudaku yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan tentunya tidak murah, alias membutuhkan biaya yang tidak sedikit di dalam menyelesaikan semuanya hingga aku dapat lulus menjadi seorang sarjana.

 

Bagiku, ini bukan selalu menjadi seseorang yang “wah” atau harus menjadi sesuatu agar orang lain berdecak kagum. Aku ini adalah seorang wanita, seorang istri, yang sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu. Terkadang impian-impian “tinggi” tersebut bagiku tidak terlalu penting.

 

Dan terkadang yang terpenting bagiku adalah dapat menjalankan hidup dengan baik, lancar dan normal, serta memiliki tabungan yang cukup di dalam menjalankan kehidupan, entah bagaimanapun cara mendapatkannya, selama proses yang dilalui adalah dengan cara yang halal. Terutama tabungan hasil jerih payah pribadi, bukan tabungan hasil pemberian suami. Apalagi kondisi saat ini banyak mendukungku bahkan mempermudah diriku untuk melakukan aktivitas sehari-hari tersebut tanpa harus bertemu dengan keganasan dan kemacetan luar biasa kota Jakarta.

 

Ditambah ketika aku mengingat-ingat akan sebuah kematian, sebuah gerbang yang benar-benar akan menghentikan seluruh aktivitas kita di dunia menuju ke kehidupan baru yang kekal. Mau apa lagi?

 

– – – – –

 

Jadi, jika harus menjawab, “Kamu mau jadi apa?”

 

Aku akan menjawab, aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Dengan segala pilihan yang terbaik menurutku dan berjanji tidak akan menyesalinya di kemudian hari. Aku sangat-sangat yakin. Sebuah penyesalan hanyalah bisikan dari syaitan yang tidak suka dengan kondisi hidup kita sebagai manusia.

 

Dan sebagai pertimbangan juga, banyak sering terdengar kisah beberapa wanita dewasa di mana mereka gemar mengungkapkan beberapa penyesalan dalam hidup.

 

Seperti misalnya seorang wanita dewasa di usia kesekian ia menyesal karena “hanya” menjadi seseorang yang “biasa-biasa saja” dengan kemampuan seadanya atau bahkan kemampuan masa mudanya yang “sudah menguap” dan bahkan “tidak berbekas” sama sekali, seperti yang mungkin telah diungkapkan rekan kerja seniorku pada tulisan ini.

 

Kemudian ada juga sebagian wanita dewasa di usia tertentu yang justru sudah menjadi seseorang dengan kemampuan luar biasa, dihormati, memiliki jabatan fungsional yang bagus di sebuah perusahaan atau instansi ternama, ternyata juga punya perasaan menyesal akan waktu-waktu yang hilang bersama dengan keluarga dan anak-anaknya akibat kesibukan-kesibukan yang sudah dilalui.

 

Hidup memang selalu tentang pilihan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya serta sebijak mungkin di dalam menentukan pilihan, baik itu pilihan baik maupun pilihan buruk. Dan yang terpenting adalah, tidak akan menyesal, untuk setiap pilihan yang sudah dibuat dan dipilih.

 

So, “Kamu mau jadi apa?”

 

🙂