Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid”

Jika momen-momen kebersamaan dapat bermakna keakraban, namun mengapa harus merusaknya dengan bumbu-bumbu “yang tidak perlu” saat sedang pertemuan. Jika momen-momen kebersamaan dapat mempererat kekeluargaan, namun mengapa harus merusaknya dengan kata-kata “pedas berbekas” hingga di kemudian hari. Jika momen-momen kebersamaan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, namun mengapa harus merusaknya dengan sikap tidak saling menghormati privacy antar individu dalam sebuah pertemuan tersebut.

Dunia akhir-akhir ini dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai orang-orang terkenal yang ternyata mereka mengidap depresi dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Berita-berita tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa yang namanya penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya. Namun, jangan sekali-kali men-cap mereka “kurang iman”, jangan. Ini bukan perkara tidak beragama atau kurang iman. Melainkan hal ini juga dapat dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sekitar sang penderita. Lagipula kasus bunuh diri di dalam negeri pun juga banyak ditemui bukan? Walau mereka bukan orang terkenal, tapi kasus-kasus tersebut benar adanya dan nyata.  Continue reading “Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid””

Advertisements
AMG, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah

Sebelum memulai tulisan pada minggu ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh wanita hebat di dunia yang kebetulan jatuh pada minggu ini, yaitu tanggal 8 Maret 2018. Selamat!

– – –

Bagi sebagian wanita, terutama yang sudah beranjak dewasa, pasti akan memiliki rasa kelak ingin menjadi seorang istri yang baik bagi suami mereka dan menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anak mereka. Semakin bertambah usia, maka impian-impian tersebut akan semakin sering muncul dalam pikiran. Namun tidak dipungkiri juga, terkadang saat memiliki impian-impian indah tersebut, sebagian wanita “hanya” mengimpikannya tanpa ada persiapan-persiapan yang cukup matang, walau berjalannya waktu bagi sebagian wanita tersebut dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan-kehidupan baru mereka terkait impian-impian indah yang selalu mereka impikan itu.  Continue reading “Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah”

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan. Continue reading “Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)”

AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.  Continue reading “Just Be Positive”

Family & Friends, Learn About Islam, Life

6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Visiting the Sick

This writing is inspired by the time when me and office mates visited our Big Boss who had to be stayed for days in the hospital. I saw his wife told us a little bit displeasure when some of her husband’s friends came to visit him then took some photographs of him. She said it would bother him by spreading the information of his sick among his friends. She said they shouldn’t have taken the husband photograph and shared it to his friends. Despite the fact that my Big Boss was no objection about it. But I saw it as a form of an attention and an affection from the wife to the husband.

 

It has to be noted when you wanted to visit one of your friend or colleague or even family who’s in unhelthy condition so then he/she should have a bedrest time at home or at hospital.

We have to understand why almost all hospitals adjust their tight schedule for patients’ guests who want to visit them. You may see that commonly hospitals have two times for visitors schedule. Usually it happens at noon between 11.30 – 12.30 (lunch time) and at evening between 17.00 – 19.00 (dinner time). But sometimes most of us didn’t pay attention with the rules just because we feel as part of the family which actually we’re not in the main family member or we’re the patient’s close friend, etc.

 

Visiting the sick is a very good action and good suggestion to do, especially if the sick is someone you close with, like family, friend, or colleague. Even in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam said,

“When a Muslim visits his sick Muslim brother in the morning, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the evening. And when he visits him in the evening, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the morning, and he will be granted a garden for it in Jannah.” (HR. at-Tirmidzi and Abu Daud)

The other Hadith of Our Beloved Prophet that mention about visiting the sick is a Sunnah:

“Whoever visits a sick person (for the pleasure of Allah), a Caller from the skies announces: You are indeed blessed and your walking is blessed and you have (by this noble act) built yourself a home in Jannah.” (HR. Ibnu Majah)

And still, don’t forget and always to remember when we visit the sick is we have to follow the rules that might be held by the hospital or if the sick stayed at home then the rules were held by the host.

The simply action you can do is to be polite, do not make any noisy thing, and do not stay for a long time to let the sick continues his/her bedrest time.

Even also in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassallam that related by Hadrat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu’anhu:

“It is part of the Sunnah that when you visit a sick person, you should shorten your visit to him and make the least amount of noise by him.”

 

– – – – –

grandma-kissing-grandpa-elderly-couple-love-eps-illustration-46330886

The other wisdom that I could take from the moment is the couple was looked nice, happy, and seemed that they always live in peace and never had fight on each other. They’re still romantic on that age. (it showed when they did their conversation and a little movement of their hands when they touched each other in front of us)

And my prediction of my Big Boss and his wife ages are among 60s.

Incredibly beautiful, isn’t it?

 

– – –

11.00 WIB

Matraman, 26.03.2016

 

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (4)

Bertemu lagi dengan catatan hati mengenai konsep rejeki yang memang Tuhan telah persiapkan ke dalam kehidupan setiap insan di dunia. Dan di dalam pemahaman ini terkandung nilai religius yang semakin untuk bisa  eling, semakin untuk ingat selalu kepada Sang Pencipta bahwa Ia Tidak Akan Pernah Salah.

 

Memulai tahun 2016 ini, saya memutuskan untuk “menghilang” sejenak dari salah satu akun social media yaitu facebook, lebih tepatnya akun lama fb saya dan memutuskan untuk membuat lagi yang baru. Entahlah, semua hanya terdorong oleh perasaan “tidak enak” terhadap orang lain. Apalagi terutama apabila, mengalami masa transisi yang dirasa lumayan dalam hal kehidupan lingkungan sekitar. Sebelumnya saya juga sudah melakukan  “menghilang” secara utuh dari social media bernama path. Saya dulu berpikir, path ini betul sangat eksklusif ke dalam beberapa orang saja dalam lingkaran pertemanannya, namun saya merasa “ada yang kurang pantas” dari path ini. Lalu apa bedanya dengan grup-grup yang sudah terbentuk, misal di whatsapp atau line atau bbm dengan si path ini.

Pada intinya, mungkin betul, tidak semua orang bisa menerima apa yang kita keluarkan dari pikiran kita yang biasa kita tuangkan dalam setiap posting di social media milik kita, walaupun pada istilahnya itu adalah kita “menyampah” pada halaman rumah sendiri, belum tentu orang yang melihat juga turut senang.

 

quote

 

Anyway, kembali ke dalam konsep rejeki Tuhan.

Pada suatu kesempatan, saya kembali membuka lapak authentic di beberapa grup di facebook dengan menggunakan akun baru, di mana kondisinya saya tidak memasang profile picture. Dan kondisinya pada masa itu adalah sedang sering terjadi beberapa kejadian mengenai seller “bodong” yang pada akhirnya membuat banyak orang menjadi latah jika ingin bertransaksi dengan beberapa orang baru bagi mereka, para calon pembeli dari beberapa seller ini akan melakukan sesi “klarifikasi ke-trusted-an” yang biasanya suka dilakukan di halaman grup.

Namun entah memang karena memang sudah merupakan rejeki bagi saya, saya mendapatkan kesempatan yang mengesankan & membuat meningkatkan keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan Tidak Akan Pernah Salah. Alhamdulillah dengan tanpa ba-bi-bu, kedua orang calon customer saya saat itu langsung melakukan transaksi terhadap saya tanpa harus klarifikasi ini dan itu di halaman grup.

 

Saya semakin yakin apa yang sudah saya putuskan pada akhir 2015 lalu untuk mencoba “bertransformasi” menjadi pribadi yang lebih baru lagi ternyata keputusan yang benar. Saya yakin Tuhan Yang Telah Menuntun saya untuk melakukan hal tersebut. Maksud saya, walaupun ini adalah akun baru, bukan berarti Tuhan Menutup Jalur Rizqi saya di dalam usaha berdagang secara online ini.

 

– – – – –

23.03.2016

11.15 WIB

Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Female and Engineering Life (1)

Hello February! 🙂

Today I want to tell you a little bit story about my life as an environmentalist through these 2 (two) years of working experiences, or I could say my life after graduated from Environmental Engineering field for my Bachelor’s Degree last 2013. Also how I could be on this way today.

This writing is inspired by some friends, especially my girlfriends  who always have enthusiastic when they talked about their future dreams and their “what’s next to do” even though some of them are married and have babies.

– – – – –

Senior High School Graduate and “Choosing” Phase

After finished from senior high school, I admitted that I was included in “followers” type of person. I had a dream to be a police woman and wanted to continue my study to the Police Academy in Semarang, Central Java. But if I could say, maybe that was only because of I studied in semi-military senior high school which has similar school-type with the higher education of military-acamedy schools. My senior high school is applying military system, such as high disciplinary and applying boarding school system.

However, the fact said that I was a “follower” person, so I decided to try any opportunities ahead. Coincidentally, the Police Academy where I dreamed of to be part of it, didn’t open for new students in that year, 2008.
(I’m still wondering why they postponed it until a year ahead. Cmiiw. But I realize something that maybe it was what we always called as “God Always Makes a Good Plan for all of us in this world” and yes, God Always Knows the best for ourselves.)

Then I followed others to register for some tests to enter some universities, and my first preference was the UGM or Universitas Gadjah Mada which placed in Jogja, with majors I wanted to take were Dentistry and Electrical Engineering. Moreover, the UGM is near from my hometown, Banjarnegara which we only take 6 hours maximum to reach Jogja City from Banjarnegara. I took 2 (two) types of the UGM entrance examinations, but sadly I didn’t pass them all. Ha-ha. I felt really sad as if there’s no more options I could take. Well, I mean it. I had my weeping until 3 (three) days after. I don’t know why I was really sad and upset.

Then (again) I followed my friends to register another entrance examination for another university and it was the UnDip or Universitas Diponegoro which placed in Semarang, with majors I wanted to take were General Medicine and Electrical Engineering. Sadly, I was in very less information condition about various types of study fields in the university. That’s why I kept being a “follower” to others. I kept choosing what my friends chose. Really sad, wasn’t it? But before the UnDip test held, the ITB or Institut Teknlogi Bandung opened registration for its first type of entrance examination. Again, as a “follower”, I completed my registration form too like my friends did, whereas I didn’t really understand enough what study fields there were.

And it was my first inner turmoil throughout the university application processes..

Actually I really wanted to continue my higher education near my hometown, Banjarnegara which might be taken place in Purwokerto, Semarang, Jogja, or the furthest city Solo. I was a homesick type of person. I often felt it when I was still in senior high school. So I arranged my self hardly to be a student or a part of those near universities (which placed in those 4 cities). Until oneday I told my parents that I didn’t want to take another chances aside from the ITB’s entrance examination or the UnPad’s that is still also in Bandung area (same city with ITB and my senior high school), although my parents occasionally forced me to take another chances of other universities which placed in West Java area or Jakarta area, such as the UI and the IPB. No, I really didn’t want it. I said, the furthest city was only Bandung, not Bogor even more Jakarta! I remembered how angry I was. Ha-ha.

Well yes, words are words, I had to carry out what I just said to my parents. I had no other choices. So I took the ITB’s entrance examination and felt like I wouldn’t take it seriously, and wouldn’t make it. Besides it’s true that almost all the questions were really hard to be solved. I was hoping I would be rejected and could came back to my region, Central Java area. That examination held after I failed 2 (two) tests of the UGM’s. And again,  coincidentally the UnPad hadn’t open registration for its entrance examination yet.

About a month later…..

I remember that night, me and my generation, Teners were assembling in the school’s main hall  after our dinner activity before we came back to our dormitories. We were talking seriously about the national exams that would be occured in days ahead. I forget in detail, a day after that night if I’m not mistaken, me and my friends drove together into the counceling office. Yes, only for checking the announcement about the ITB’s entrance examination result. And it was really unexpected moment. Unbelievable. I read the announcement on computer screen again and again. I was stunned! I repeatedly inserted my test number and pressed “enter” only for making sure my self.

Well, well, yes. I passed the examination. But really, I felt like “floating” and on the contrary mind I started thinking that I had to deal with the separate ways again between Banjarnegara and Bandung and I had to enjoy it (again?), IF I took a chance be an ITB student. Yes, I mean it, “if”. I was in very doubtful almost a week until some friends came to me, advised me, even one of them was angry to me. They said I had to let the UGM dream go away, move on, and face the new destiny of me, accept it, enjoy it. Then one of them, his name is Pandu, he said with pressure words and a little bit like angry (because he’s really wanted to be an ITB student, but he failed on that test and felt upset), he said I HAD TO be grateful, move on, and MUST accept the chance! For a moment I was glued and started to think what he just said was so much true: I had to move on! And yes, finally by the time I realized it. But still, it was like a dream and until today I’m thinking I was just…..lucky.

(Pandu was failed on first type of ITB’s entrance examination but he made it on the second chance on the second type of its entrance examination. Today, he’s an expert geologist who’s working for one of BUMN company.)

image

Being a Woman, Life, Passion, Dreams

Well, yes. After that dramatically chapter of my life, finally I accepted the result and became more grateful and wouldn’t make it as a useless chance. I was happy and preparing my self for the next stage to be part of the Ganesha Campus.

I was in Faculty of Civil and Environmental Engineering department and took Environmental Engineering for my major.

Days became weeks, weeks became months, and months became years. As I said before, I was just lucky and might be it’s true that I don’t have any aptitude to be an engineer. I needed 5 (five) years to complete my Bachelor’s Degree by the final GPA score isn’t as good as others’.

But still, really Thank God that my journey as an amateur-graduate-engineer started right after I was announced as a graduate-to-be, after finished my final thesis examination. It was in July 2013. Before the graduation ceremony, by the help of my thesis supervisor, I joined a short-term project that only held in 2 (two) months. That was my first job as an environmentalist. I was so excited and very happy, even though the salary was (maybe) in low value. But truly, as a less-smart person, I wouldn’t make that chance useless. (I won’t say my self as an idiot or a dumb after all those years that everything I’ve faced. I’ll always appreciate my self in previous life inside “college chapter” and won’t feel regret at all.)

In January 2014, I moved to Jakarta with my husband (finally we’re officially married, :p) with jobless condition. Actually, it wasn’t a problem anymore for my self because I’m married. But since my husband has never felt objection if I went to work, so I tried to apply for some new jobs. And back again, lucky me, I was hired by a company to have role as a junior environmental engineer or we could say as an assistant of the environmental engineer expert for a project. The point is I still have a chance and still have my lucky to implement all of I’ve learned at the college into the environmental engineering world until today.

To be honest, at the first time I acquainted with the engineering world or the ITB’s world, I didn’t have an enough knowledge what engineering field study was. It has proven by the result of my final GPA score and the 5 (five) years I had to finish my study. (ha-ha) I felt hard passing day by day there, inside the ITB. That’s why I always underline the word “lucky” for that “ITB scene” of my life.

I used to think that is very impossible for me to get an environmental engineering job, again, I thought it would be related to my GPA score. But the fate said that actually I have same opportunity with others and I don’t need to feel low self-esteem. Well yes, to be honest, I’m still feel inadequate when I compared my self with my friends until today. Nonetheless, I’m trying to be more confident and fight my faint-hearted. And gradually, I’m accustomed by this engineering field and becoming enjoy with its world. Met new people then increasing my network have made my self to be more spirited, confident, and relaxed with anything that happened in working situation.

I trully never imagine that my life would be as wonderful as it is. Really Thank God for everything I have. Slowly but sure, even though I’m a female and now working at engineering field, I still have dreams to develop my self and increasing my skills through a higher education or some other ways I could take later. Might be true, nowadays I’m not good enough in this engineering world but it’s still possible for me to make it as my “real” passion for my future and for my entire life.

However, I have to realize my role in this world too, my responsibility as a wife and a mother (later, insyaaAllah). I have to balance my self among my family life, my hereafter life, my dreams, and anything I want to do.

The most important thing is everything that I lived in, must have gotten permission from my husband because in accordance to the God’s rule, my life is in his hands which I became his responsibility after the consent granted happened (ijab qobul procession). And for the reciprocal, I have to keep my self keep on positive-track and always be in the right way, even if I would be very ambitious for chasing my dreams. I hope someday I could be useful not only for my self or my family but also for people around me. Aamiin. Wish me luck then. 🙂

– – – – –
Matraman, 21.02.2016

Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (3)

Saat ini saya sedang “nyambi” berjualan Tas Batam sambil menyalurkan hobi dikit-dikit, disamping profesi utama saya sebagai kuli. Untuk sekarang, tas-tas yang authentic bersifat konsumtif saja dulu deh. Hahaha. 😀
Disamping itu, setelah saya hitung-hitung, ternyata keuntungan dari hasil penjualan Tas Batam lebih besar dibandingkan dengan dari hasil penjualan tas-tas yang authentic. Mungkin karena dari segi harga dan pangsa pasar-nya, Tas Batam lebih mudah menjangkau seluruh lapisan masyarakat dibandingkan dengan Tas Authentic. Mungkin saya-nya yang masih harus perlu memperluas jaringan lebih besar lagi untuk pasar Tas Authentic ini. Atau, menjadi supplier tangan pertama langsung dari luar negeri. Hahaha. Aamiin! 🙂

 

Dan kali ini saya ingin berkisah kembali tentang sebuah konsep rejeki.

 

Dan ya. Rejeki ternyata begitu ya, asal kita punya niatan baik, senantiasa berperilaku baik, insyaaAllah adaaa saja kejutan baik-baik dari-Nya juga.

 

Seperti kisah 3 (tiga) hari lalu.

 

– – – – –

 

Sepertinya Beliau ini adalah orang kaya, pejabat pemerintah atau Beliaunya ini istrinya pejabat pemerintah (terlihat dari alamat rumah yang Beliau berikan), dengan tiba-tiba Beliau meng-add kontak saya, tanya ini-itu, dan langsung, mborong tasNggak pake rempong, nggak bawel ini-itu, komunikasi lancar, kemudian sesaat setelah ditotalin, Beliau langsung transfer detik itu juga! NO  drama.
Padahal, saya notalin rekapan Beliau sampai telat berjam-jam karena kurang konsentrasinya saya di dalam menghitung angka-angkanya yang memang karena jumlah tasnya nggak seperti biasanya, nggak yang  hanya 1 atau 2 pcs seperti customer-customer hari-hari biasanya, disamping juga karena saya harus berbagi konsentrasi dengan agak padatnya kegiatan dan pekerjaan.

 

Awalnya saya hampir su’udzon kalau  Beliau ini mau tipu-tipu karena mengirimkan bukti transfer-nya berupa mobile/sms banking yang bukan screen captured atau foto kertas transferan seperti customer-customer hari-hari biasanya.
Ternyata memang bukan tipu-tipu!
Astaghfirulloh saya ih ya. 😦

 

Ternyata konsep rejeki memang seperti itu ya.
Bisa datang dengan tiba-tiba dan nggak kita duga-duga datangnya seperti ini.
Rasanya memang benar ya.
Nggak perlu suka iri atau menginginkan benda-benda milik orang lain, yang kalau “dipelihara” bisa-bisa berbuah menjadi rasa dengki. Na’udzubillahimindzalik..

 

Alhamdulillah

 

Asalkan percaya selalu kepada Allah, beriman dan bertaqwa kepada Allah, sabar, selalu bersyukur, menghilangkan yang kotor-kotor di hati, khususnya yang berbau-bau iri dan dengki, rajin sedekah serta rajin beribadah, insyaaAllah terkadang apa yang kita inginkan atau harapkan, bisa menjadi kenyataan yang justru bisa melebihi dari ekspektasi/bayangan kita pada awalnya dari keinginan atau harapan tersebut.
Aamiin..

🙂

 

Tebet, 15 Januari 2016

Learn About Islam, Life

Mengelola Hati dengan Keimanan

Apakah Anda memiliki social media? Apakah Anda memiliki facebook?

Bila iya memiliki, apakah Anda suka melakukan share terhadap artikel-artikel menarik atau tulisan-tulisan menarik berupa nasehat-nasehat yang berupa kebaikan? Seperti misalnya, tulisan-tulisan Bapak Mario Teguh dalam fan page-nya atau tulisan-tulisan penulis-penulis bijak lainnya. Apakah Anda termasuk salah satunya yang sering melakukan hal tersebut?

 

– – – – –

 

Pada hakikatnya, ketika kita sedang terhimpit oleh perasaan “permasalahan” hati yang mostly biasanya sebenarnya hanya dipengaruhi oleh pikiran-pikiran kita sendiri, kita senang mencari pembenaran-pembenaran melalui tulisan-tulisan bijak atau nasehat-nasehat yang keluar dari penulis-penulis bijak tersebut yang memang tulisan-tulisannya sangat menarik untuk dibaca dan tentu saja juga menenangkan hati.

Sebenarnya kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan diri kita yang biasanya suka terjadi pada saat kita sedang melakukan sesi curhat bersama sahabat. Apakah Anda pernah berada dalam posisi “yang dicurhati” dan biasanya sahabat Anda tersebut akan meminta nasehat baik dari Anda? Nah, sebenarnya hampir mirip dengan kondisi tersebut.

 

Pada saat kita sedang merasa “susah hati” kemudian membuka halaman facebook dan melihat ada status baik atau tulisan baik yang berkaitan dengan suasana hati kita saat itu juga, yang kemudian tipe kita adalah tipe yang suka men-share hal-hal baik tersebut, biasanya kita akan dengan mudah meng-klik tombol “share” di bagian bawah tulisan atau status tersebut. Atau bila bukan tipe demikian, maka kita akan sekedar membaca saja tanpa ikut men-share dan kemudian diresapi betul-betul makna dari tulisan tersebut. Saya yakin, pasti hal tersebut akan membuat hati kita menjadi lebih plong dan merasa “terhibur”. Bukankah demikian?

Atau apabila kita sedang merasa “susah hati” kemudian kita mendatangi sahabat kita dan melakukan sesi curhat, pasti di akhir cerita panjang-lebar kita, kita akan meminta saran atau nasehat baik yang datang dari mulut sahabat kita untuk bisa kita resapi betul-betul dan tentu saja hati akan sangat senang dan “terhibur” dengan nasehat-nasehat tersebut. Rasanya nyaman. Ya, seperti itu.

 

Namun, di sinilah hal tersusah itu dimulai. Memang sangat mudah berkata-kata baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Saya yakin, baik saya maupun Anda pasti pernah mengalami hal ini. Anda diminta oleh sahabat Anda untuk memberikan nasehat atau saran terbaik dari sudut pandang Anda, yang sebenarnya belum tentu Anda dan saya bisa melakukan atau mengimplementasikan “nasehat baik” yang telah Anda dan saya buat tersebut, dengan mudahnya. Dan bahkan mungkin malah akan diikuti oleh perasaan bersalah mendalam atas kata-kata yang sudah saya/Anda perbuat untuk sahabat terbaik saya/Anda tersebut. Karena sesungguhnya saya/Anda sendiri belum begitu mengetahui secara persis “kadar kebaikan” dari kata-kata saya/Anda yang keluar dari mulut saya/Anda tersebut. Betul tidak?

pure heart

Dan menurut saya, hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk bisa menjadi pribadi yang “baik” sesuai dengan kata-kata “baik” yang sudah saya katakan kepada orang lain tersebut adalah, cukup saya diam dan meresapi betul-betul di dalam hati atas kata-kata “baik” yang telah “berhasil” saya buat tersebut, dan mencoba dengan perlahan dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan “nasehat baik saya” tersebut. Khususnya apabila diri kita sendiri, saya dan Anda, yang sedang pada gilirannya mengalami kondisi “susah hati”. Ternyata betul. Tidak mudah mengimplementasikan kata-kata dalam bersikap.

Sama halnya pada saat  kita telah usai dalam membaca tulisan atau artikel baik yang penuh dengan peringatan dan nasehat baik. Sama terasa susahnya di dalam pelaksanaan nasehat-nasehat tersebut. Yang padahal salah satu diantara tulisan-tulisan baik yang banyak tersebut, juga merupakan Ayat-Ayat Suci Tuhan dan Janji-Janji Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang mau beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Tetap saja. Adaaa saja rasa “susah” yang muncul dari bisikan-bisikan hati terdalam, yang sesungguhnya sudah menyadari bahwa sebenarnya bisikan-bisikan tersebut adalah berasal dari syaitan. Mungkin dalam bagian ini, yang perlu dipertanyakan adalah kualitas keimanan kita. Seharusnya bila sudah yakin, maka hati akan mantap dan tetap beriman penuh atas Janji-Janji Tuhan tersebut.

 

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu bijak dan baik terhadap sesama dan terhindar dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, khususnya kondisi hati yang buruk.

Na’udzubillaamindzalik…

 

– – – – –

Tebet, 12 Januari 2016

 

AMG, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

 

Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan cantik milik  Mbak Dian  dan saat itu juga entah mengapa hati saya semakin plong se-plong-plongnya. Tanpa beban! Seolah seperti whuzzz… diterpa angin dan hilang begitu saja. Haha! Terima kasih untuk teman-teman facebook yang sudah men-share link tersebut yang pada akhirnya bisa muncul juga di halaman news feed saya. Terima kasih ya! 😀

 

Tulisan Mbak Dian tersebut benar-benar mencerahkan pikiran dan membuka mata saya semakin lebar. Terutama saat membaca ayat-ayat Allah yang Mbak Dian cantumkan juga di dalam tulisan Beliau, di mana membuat hati semakin tenang dan membuat saya semakin enjoy dalam menjalani kehidupan. Mengapa saya? Karena diantara saya dan suami, hanya saya saja yang terlalu banyak berpikir tidak-tidak dan khawatir ini-itu yang padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Haha. 😀

 

Syukur alhamdulillah memang, saya memiliki pasangan hidup yang pembawaannya selalu bisa tenang dalam situasi dan kondisi apapun, sekalipun itu dalam kondisi sepanik-paniknya. Itulah mengapa saya selalu heboh dan panik sendiri terutama pada saat sedang merasa kepepet atau panik yang sesungguhnya nggak penting. (Biasanya terjadi pada saat merasa takut ketinggalan pesawat, ketinggalan kereta, atau terlambat masuk studio bioskop. Terutama kalau jam-nya sudah “merasa” mepet dan kami masih di jalan. Dan ternyata sampai sekarang, kami alhamdulillah belum pernah terlambat dari hal-hal tersebut. Jadi intinya, memang tidak perlu panik kan? Haha. 😀 )

 

Berikut Ayat-Ayat Allah yang disebutkan Mbak Dian dalam tulisan cantiknya, yang terkandung dalam Q.S. As-Syura (42) : 49 – 50 beserta artinya.

quickmemo-_2015-08-24-01-07-02-1.png.png

quickmemo-_2015-08-24-01-07-18-1.png.png
– – – – –

 

Menikah kemudian memiliki momongan dengan segera.
Yep, seperti itulah culture kita “normally” as an Indonesian.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Indonesia dengan budaya ramah-tamah-nya, pasti tidak pernah luput dari fenomena “kepo” yang terkadang dibumbui banyak basa-basi, yang terkadang basa-basi ini diterjemahkan sebagai “perhatian”. Haha. (beuh, dalem)

 

Sebagai contoh, sebut saja Pasangan X, di mana posisinya sudah menikah selama 3 tahun, akan tetapi belum juga terlihat menggendong anak, atau setidaknya melihat perut si istri menggelembung lah ya, sudah pasti akan menjadi “sasaran empuk” bagi golongan “kepo-ers”. Terutama jika sedang berada dalam momen-momen kebersamaan seperti pada saat acara kumpul keluarga, entah saat sedang pengajian keluarga, arisan keluarga, wisata keluarga, saat-saat lebaran, atau bisa terjadi juga pada saat reuni sekolah bersama teman-teman. Sudah bisa ditebak apa itu? Yep, pertanyaan-pertanyaan tiada henti macam itu lah. Haha. Tau kan? 😀

 

Sebenarnya itu wajar sih…mengingat kita ini orang Indonesia yang katanya notabene “memang sudah bawaan orok” kalau kita ini senang beramah-tamah diantara sesama. Rasanya kurang afdhol bo, kalau lagi acara ketemuan malah diem-diem aja dan nggak tanya kabar ini-itu. Ya kan?

 

Nah, biasanya, yang menjadi masalah di sini adalah bagian si penerima pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada yang selow kayak di pantai, ada yang cuek pura-pura bego, ada yang mbolongin kuping tembus sepanjang kuping kanan sampai dengan kuping kiri alias masuk kuping kanan keluar kuping kiri, ada yang antusias heboh nggak karuan, ada yang mengaminkan secara tulus, ada yang buru-buru mengaminkan dengan segera (biar cepet beres obrolannya ceunah), ada yang cuma diam dan memberikan senyuman terbaik plus nyengir mamerin gigi putih cemerlangnya tapi sambil ngedumel dalem ati, dan berbagai respon yang mungkin terjadi.
Kalau saya? Wah, saya kurang tau termasuk tipe yang mana yah. Hahaha. Cuman mungkin lebih banyak selow-nya kali ya. Diaminkan saja to. Hahaha. (jyaaah pencitraan lo gan! :p)

 

Akan tetapi yang menjadi bahasan di sini adalah kita sebagai pihak si penerima pertanyaan saja, bukan pihak yang memberikan pertanyaan. Karena saya secara pribadi lebih banyak berpengalamannya sebagai si pihak penerima pertanyaan saja. Hahaha. Mengapa kita? Atau kamu? Iya… kamu… (Dodit style mode on, :p)

 

Hey girls, santai sajalah kita. Mungkin benar jika pertanyaan-pertanyaan mereka adalah bentuk “perhatian” dan “kasih sayang” yang sedang ditunjukkan kepada kita girls. Walau semisal suka terbersit pikiran buruk macam, “yaelah kepo banget sih, iye tau iye, anak lo banyak udah 2, 3, 4, dst,” maka buang jauh-jauh pikiran buruk macam itu. Sekalipun misal benar ada diantara mereka yang seperti itu (super kepo dan ingin ngerusuh), yasudah biarkan saja, karena itu adalah urusan mereka dengan Tuhannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah positive thinking dan positive thinking terus selamanya dengan senyuman merekah setiap hari. (ceileh gan, tumben bijak, :p)

 

Tapi benar kan, tidak ada untungnya meratapi nasib yang sebenarnya tidak perlu diratapi dengan lebay. 😀

 

Kalau pesan suami saya seperti ini :
“Belum memiliki anak” itu CUMA satu perkara saja, iya, satu, S-A-T-U, satu! HANYA satu bo, satu! 😀
Dan bila mau membandingkan dengan hal-hal bahagia lain yang sudah saya dan suami lalui, jalani, nikmati, miliki, angka 1 (satu) tadi berbanding dengan banyak angka lho. Dan itupun KALAU memang mau memandang hal tanda kutip tadi sebagai sebuah masalah. Kalau tidak? Wuih, ternyata beneran hidup itu rasanya nggak ada beban sama sekali! Beneran. 😀

 

Coba deh temen-temen yang baca tulisan ini, nerapin buat “hal-hal lain” yang temen-temen rasa “hal-hal lain” tersebut adalah sebagai sebuah “masalah”, kemudian mengubah mindset bahwa “hal-hal lain” tersebut itu hanyalah “nothing”, CUMA satu (1), HANYA satu (1) dari sekian banyak hal yang udah bikin temen-temen bahagia hingga detik ini. Yakin deh, yang 1 (satu) itu akan ketutup sama banyak angka (banyak hal lain) dari momen-momen bahagia yang udah temen-temen lalui. Ya kan?

 

Kalau dalam kasus saya, saya benar-benar harus bisa serius belajar ikhlasnya, karena betul kan, ini semua ketetapan Tuhan, di mana kita sebagai manusia hanya dibatasi kemampuan dalam berusaha dan berdo’a. Ketika saya mengubah mindset di dalam menghadapi yang SATU itu, saya kembali bisa fokus kepada kehidupan saya. Semakin menikmati apa-apa saja yang sedang dijalani, semakin bisa bersyukur, semakin bisa memahami dan berusaha untuk selalu bijak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dan semakin banyak direnungi, ternyata kenikmatan dunia yang sudah “mampir” ke saya itu buanyaaaaak sekali. Banyak! Termasuk masih hidup dan bernapas hingga detik ini sebagai seorang muslimah secara sadar, bukankah hal itu merupakan kenikmatan teramat luar biasa yang patut disyukuri?

 

Hingga suatu ketika di saat saya dan suami kontrol ke Dokter SpOG kami, Beliau tidak menangkap sinyal kekhawatiran pada wajah kami. Mungkin dalam pikiran Beliau, “ni anak tiap dateng cengangas-cengenges niat program nggak sih,” Hahaha. 😀 Sampai-sampai pada saat Beliau membaca rekaman medis berat badan kami jeda 1 minggu yang bertambah 3 kg, Beliau hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah. (peace Dok, haha)

 

– – – – –

 

beautiful-heart

 

Mungkin ada beberapa hal yang membuat saya agak selow dengan “masalah” ini. (well, now i won’t mention it as a problem anymore) Karena apa? Karena rasanya sudah banyaaaaak sekali nikmat-Nya yang saya rasakan dan terima hingga detik ini, salah satunya adalah saya ini sudah beruntung buanget lho akhirnya bisa menikah cepat dengan seseorang yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. (iya bo, anak STEI (Sekolah Teknik Elektro & Informatika ya, bukan Sekolah Tinggi Ekonomi, :p), tinggi besar, pinter plus ganteng kayak bintang pelem India2-nya ANTV itu, gimana nggak bersyukur, :p – jyaaah pamer lo kumat lagi gan!) Masih beryukur dan beruntung akhirnya beneran “jadi” dengan Beliau suami saya. Teringat gimana dulu susah-nya menuju jalan ini (uhuks!). Iiish…ngebayanginnya aja kadang bikin sedih, tapi sekarang kalau diingat-ingat lagi, “kok bisa ya?”. Ya itulah. Kalau sudah jodoh ternyata betul nggak akan ke mana. Ya pada intinya, nggak semua orang seberuntung saya akhirnya bisa merasakan “menikah cepat”.

Momen mendapatkan “jodoh idaman” itulah yang membuat saya semakin sadar, kalau rejeki itu Tuhan Benar-Benar Sudah Atur! Yang terpenting kita sebagai manusia selalu berusaha dan berdoa. Jadi, sersan sajalah, alias serius, tapi santai. Hehe.

 

Kemudian ada lagi yang membuat saya semakin menikmati hidup dan semakin bersemangat menapaki masa depan tanpa harus bersedih memikirkan hal “itu”, yaitu dengan melihat kawan-kawan sepantaran yang buanyaaak sekali yang melanjutkan sekolah lanjutan, entah di dalam negeri maupun di luar negeri. Terutama kawan-kawan yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, benar-benar membuat saya tidak terlalu merisaukan “masalah” yang sedang saya bahas pada tulisan ini. Luar negeri bo! Hampir tiap hari seliweran di social media saya postingan kawan-kawan ini. Ada yang di Amerika, Australia, Jepang, Norwegia, Belanda, Jerman, New Zealand, Spanyol, Inggris, China, Singapore, dll. (ternyata banyak juga ya, haha, 😀 ) Malah justru saya secara pribadi menjadi termotivasi suatu saat nanti ingin seperti mereka juga. Apalagi baru saja adik sepupu (kakak sepupu, literally) kelar sarjana dan langsung berangkat ke Jepang. Pikiran saya malah motivasinya semakin bertambah untuk merencanakan dan memikirkan hal-hal lain yang bermanfaat, ketimbang memikirkan kapan ya “masalah” ini “berakhir”. Hahaha.

 

Kemudian lagi, ketika melihat kawan-kawan sepantaran juga yang sedang meraih sukses di perusahaannya masing-masing, berkarya, berprestasi, dan bermanfaat untuk bangsa dan negara. Ditambah, sekalipun diantara kawan-kawan tersebut yang sudah menikah juga dan memiliki anak, mereka jaraaang sekali meng-update (di depan umum) tentang kehidupan anak-anak mereka, melainkan lebih banyak meng-update (di depan umum) prestasi dan karya mereka yang tentunya banyak juga bermanfaat bagi bangsa dan negara ini.

 

Jadi, itulah alasan-alasan mengapa saya masih agak selooow dan yeah, santai saja lah ya. Haha. 😀

 

Kalau Tuhan sudah Bertindak dan Berkata “YA”, maka jadilah! Jadi, tunggu saja dan sembari menunggu, mari bersenang-senang! Hehe. 🙂

 

Saya teringat kisah Paman (Alm) dan Bibi saya. Beliau berdua sudah ditakdirkan oleh Tuhan hingga pada usia dewasa seperti ini belum memiliki keturunan juga, sampai Paman wafat pun, Tuhan tidak juga menitipkan keturunan bagi Beliau berdua. Namun, jangan salah sangka dulu. Saya yakin Beliau berdua, terutama Bibi (Tante), pasti sudah mengalami masa-masa yang tentunya “sangat sulit” juga, terutama bila bertemu sanak saudara. Coba dibayangkan, betul tidak? Bagaimana beratnya hati, dan lain sebagainya.

 

Namun di sini, ada yang menarik.
Alhamdulillah Beliau berdua dititipi Tuhan harta yang buanyaaak sekali, besaaar sekali, yang terus mengalir berlimpah, dan terus bertambah sepanjang hidup Beliau berdua. Walau demikian, Beliau berdua hampir sama sekali tidak pernah yang namanya absen untuk berbagi dan bersedekah. Tiap minggu! Bayangkan, seminggu sekali setiap Jumat! Pengajian anak yatim, pengajian mushola, bagi-bagi nasi berkat (nasi lunch box), dan agenda-agenda lain yang terus bergantian. Itu baru 1 agenda yang saya ketahui, kegiatan seminggu-sekali tersebut. Kalau ternyata Beliau berdua sedekahnya tiap hari? Hayo. Who knows kan? Subhanallah sekali. :’)

 

Dan yang saya petik dari kisah Beliau berdua, kita benar-benar harus luruuus hati, tawakal seutuhnya atas segala ketetapan Tuhan yang sudah betul-betul memang harus kita alami. Bisa jadi hal yang secara kasat mata adalah sesuatu “yang tidak menyenangkan”, akan tetapi dari jalur tersebutlah ternyata Tuhan Melipat-Gandakan dan Menyuburkan pahala-pahala bekal akhirat, yang kalau dalam kasus Paman dan Bibi saya, mungkin saja belum tentu akan demikian bila Beliau berdua dititipi keturunan.

 

Pada intinya, kita memang harus pandai-pandai bagaimana cara kita melihat “berkah” dan “potensi pahala” dari setiap detik hidup kita sekalipun itu terasa sulit dan berat. InsyaaAllah Janji Tuhan tidak akan pernah salah. Mungkin pesan berikutnya dari kisah Beliau berdua adalah, tidak perlu menunggu hadirnya anak-anak yang sholeh-sholehah untuk bisa mendapatkan tiket ke surga secara mudah. Karena memang pada intinya, kelak nasib kita di akhirat itu, porsi paaaling besar ya ditentukan oleh diri kita sendiri masing-masing selama kita hidup di dunia. 🙂

 

– – – – –

 

Berikutnya adalah……….hindari iri! Apalagi dengki, hindari! Hihihi. 😀

 

Sudah menjadi wajar lah ya, namanya orang, manusiawi, apalagi musim-musim banyak pengantin baru, beuh…angin yang bertiup dari segala penjuru itu rasanya seperti whuzzz-whuzzz kesana-kemari bagaikan badai tiada henti. (lebay! :p) Bagaimana tidak? Teman-teman yang “seangkatan” menikahnya dengan saya dan suami, mulai terlihat melahirkan anak-anak mereka satu per satu. Bahkan lebih berasanya lagi, “badai” yang datang dari teman-teman “angkatan berikutnya” yaitu teman-teman yang menikah sesudah saya dan suami, semakin banyak yang terlihat sudah melahirkan anak-anak mereka. “Lah terus, kapan donk giliran gue, Tuhan?” Kira-kira seperti itu kondisi kesalnya saya kepada Tuhan beberapa bulan lalu. Wkwkwk. So pathetic, wasn’t I?

 

Namun, apa jadinya kalau saya terus meratapi dan nggak move on-move on? Beuh, nggak kebayang deh macam mana saya jadinya sekarang ini. Mungkin bisa menjadi orang yang kurus kering kerontang dengan pandangan nanar seolah-olah tiada kehidupan asik lagi di dunia ini, atau lebih banyak melamun sehingga menyebabkan tidak fokus pada pekerjaan, tidak fokus pada keluarga yang menyayangi saya, dan tidak fokus pada teman-teman di sekeliling saya, atau kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya, na’udzubillahimindzalik… (lebay sih ah gan!)

 

Well, well. Setiap orang berhak atas kebahagiaannya masing-masing bukan. Dan memang rasa-rasanya tidak perlu iri maupun dengki atas kebahagiaan, keberhasilan, atau rizqi milik orang lain. Apalagi sampai merasa dengki, dan apalagi apabila menjauh sebagai teman. Ih, rasa-rasanya nggak banget deh ya.

 

Dan untuk saya pribadi, menurut saya, tidak perlu lah membenci seseorang hanya karena mellihat dia atau mereka nampak “lebih” di mata kita, apalagi dia atau mereka itu adalah kawan-kawan atau saudara sendiri. Please, nggak banget deh ya. Dan menurut saya juga, apabila sampai muncul rasa benci hanya karena hal-hal kelebihan yang dimiliki oleh orang lain justru akan membuat diri kita ini semakin tidak fokus dan tidak pandai bersyukur dengan apa-apa yang ada di hadapan kita sendiri. Kita semakin sibuk melihat orang lain dan berusaha mencari cara agar dapat “menyaingi” orang lain tersebut, dan malah menjadi tidak fokus pada kehidupan sendiri. Intinya, sia-sia.

 

Padahal menurut saya secara pribadi, dengan menghindari iri maupun dengki bisa membuka pintu rizqi semakin lebar dan mendatangkan rizqi yang banyak serta tidak diduga-duga. Ditambah hidup semakin dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain. Syukur-syukur semakin dapat berkontribusi secara positif kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

 

Dan itu benar, banyak pengalaman dan kejadian yang saya rasa saya sudah mengalaminya.

 

Saya memberi contoh untuk kasus “masalah” yang sedang kita bahas dalam tulisan ini saja ya. Suatu ketika betul, saya sempat “minder” dan “rendah diri” dikarenakan hanya karena melihat makhluk kecil nan lucu milik orang lain, yang kemudian membuat saya kepikiran dan membuat gerombolan syaitan menanamkan rasa benci akibat iri karena melihat makhluk kecil lucu nan tidak berdosa itu. Semakin hari kebencian saya semakin menjadi dengan merapal beberapa pembenaran yang saya buat-buat secara pribadi. Namun beruntungnya, belum sempat kebencian itu memuncak, saya kembali sadar. Sepanjang masa itu, perlahan-lahan, suami saya semakin mengarahkan hati serta pikiran saya supaya “back to normal”.

 

Dan sampailah pada saat saya memutuskan untuk tidak merasa iri lagi dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Hati semakin plong dan membuat saya semakin enjoy di dalam mengarungi kehidupan ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, seolah-olah setelah “lepas” dari perasaan penuh dosa tersebut, saya diberi Tuhan rizqi yang semakin berlimpah, semakin banyak, dan datangnya banyak yang tidak diduga-duga. Sebagai contoh yang paling mengagetkan yaitu, rizqi pekerjaan yang datang secara tiba-tiba, tidak diduga-duga, di mana pekerjaan ini sesuai dengan bidang saya dengan tentunya salary yang cukup lumayan, hahaha. (masalah gaji, cuma bonus ya, bukan patokan, :p)

 

Dan maaaaasih banyak lagi kejadian menyenangkan lainnya yang terjadi secara tiba-tiba setelah saya menurunkan kadar iri (khususnya ke-benda-an) terhadap orang lain, serta memahami bahwa porsi rizqi tiap orang itu memang berbeda. Dan yang pasti selalu ada maksud mengapa Tuhan memberikan rizqi si A sekian, si B sekian, si C sekian, dst yang sebetulnya kita yang “melihat” tidak pernah tahu kan latar belakang dan kebutuhan mereka seperti apa.

 

Ya…pada intinya.
Semakin seseorang iri maupun dengki dengan apa yang dipunya atau dimiliki oleh orang lain, maka akan semakin dapat menutup pintu-pintu rizqi miliknya yang sebetulnya bisa dibuka kapan saja dengan leluasa tanpa halangan. Yah…kira-kira begitulah mekanisme kerja syaitan di dunia ini. Yang padahal, dengan semakin kita pandai bersyukur, maka rizqi dan nikmat Tuhan akan semakin banyak diberikan kepada kita. Memang benar harus banyak-banyak berdo’a, berusaha, dan selalu memohon perlindungan Tuhan selama masih hidup di dunia.

 

Q. S. Ibrahim : 7
Q. S. Ibrahim : 7

 

– – – – –

 

Jadi, saya rasa sudah jelas kan bagaimana Tuhan Mengatur setiap kehidupan yang ada di dunia ini. Dan rejeki itu memang Hanya Tuhan Yang Mahatahu, tidak akan salah, dan tidak akan pernah tertukar antara satu individu dengan individu lain, selama kita sebagai makhluk selalu berusaha dan berdoa secara maksimal. Saya selalu yakin Tuhan Sudah Menyiapkan sesuatu yang saaaaangat indah bagi saya dan suami kelak di kemudian hari. Entah apa itu yang tentu saja kami belum tahu. 🙂

 

Terakhir. Jujur saja, saya suka iri kepada teman-teman yang pintar-pintar. Kok bisaaa ya teman-teman tuh gampang banget masuk instansi keren sana-sini, S2 di negara ini-itu, bikin karya ini-itu, dll. Haha. 😀 Tapi dalam hal ini, “iri” yang demikian, “iri” yang seperti inilah, yang kemudian saya terjemahkan sebagai “motivasi” untuk dapat terus mengembangkan dan menggali potensi diri. Dan baiknya memang setiap rasa “iri” yang sempat mampir dalam hati kita, akan jauh lebih baik bila diterjemahkan sebagai sebuah “motivasi” membangun diri agar kita dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik serta agar bisa semakin mengembangkan potensi diri kita masing-masing sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. 🙂

 

– – – – –

4 Januari 2016 

( eeeh tulisan perdana di tahun 2016! 😀 )

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Ibu,..

Hari ini, bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam (dalam kalender Hijriah), adalah juga merupakan Hari Ulang Tahun Ibu yang ke-56 Tahun, berdasarkan kalender Masehi.

Ya, hari ini, 24 Desember adalah hari yang seharusnya menjadi hari ulang tahun Ibu yang ke-56.

Ibu, insyaaAllah Jannah tempat Ibu saat ini.
Menanti kehadiran kami, di sana, sampai batas waktunya nanti.

– – – – –

image

Ibu adalah orang yang saaaaangat baik.
Kalau boleh dikatakan, ganis ini beruntung yang seuntung-untungnya.

Ganis yakin, jika bukan karena kebaikan Ibu, mungkin saja pernikahan antara ganis dan Bang Amir tidak akan pernah terjadi.
Ganis selalu ingat masa-masa itu, masa-masa di mana penuh kebimbangan dan ketakutan.
Namun dengan seizin Allah melalui kebaikan Ibu yang sungguh sangat luar biasa, kini semuanya yang terlihat “tidak mungkin”, menjadi “sangat mungkin”.
Ya, ganis pada akhirnya bisa menjadi menantu Ibu.
Ini yang selalu ganis sebut sebagai “Keajaiban”! :’)

Ibu adalah Ibu yang sangat lembut, baik hatinya, hangat, penyabar, dan pokoknya benar-benar seorang Ibu dambaan bagi setiap orang. Ganis sangat yakin itu.
Bayang-bayang “mengerikan” mengenai sosok Ibu Mertua itu benar-benar tidak ada sama sekali.
Sifat Ibu yang demikian baiknya benar-benar sering membuat mata ganis berkaca-kaca dalam diam, mensyukuri nikmat luar biasa yang sedang Allah berikan untuk ganis.

Ya, Ibu saya ini benaaar-benar sangaaat baik!

Belum sempat ganis bertanya dan meminta nasehat, kiat-kiat, serta tips-tips di dalam membesarkan dan mendidik anak-anak ganis kelak, cucu-cucu Ibu, khususnya pengalaman Ibu di dalam membesarkan dan mendidik Bang Amir, Elisa, & Huda, ternyata Allah Sudah Berkehendak lain.
Ganis sungguh benar selalu penasaran, apa yang sudah Ibu kerjakan dan amalkan di dalam membentuk pribadi Elisa, Huda, & Bang Amir sehingga menjadikan mereka  manusia-manusia sholeh-sholehah seperti saat ini.

Selalu teringat, pada masa setiap pertengahan dan pergantian Bulan Hijriah, atau pada saat tanggal-tanggal penting bagi kita umat Muslim, Ibu selalu mengingatkan ganis (dan juga Bang Amir), di dalam membaca suatu do’a tertentu.
Mengingatkan amalan-amalan apa saja yang baik dilakukan.

Dan pokoknya dalam banyak hal. Ibu adalah yang terbaik! Ibu paling bijaksana sedunia! Lembut, hangat, arif, bijaksana, dan semua sifat baik Ibu benar-benar ingin ganis contoh.
Sungguh belum tentu ganis bisa menjadi seorang ibu seperti Ibu.

Kami Bu, anak-anak Ibu insyaaAllah akan senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah untuk Ibu.
InsyaaAllah khusnul khotimah dan insyaaAllah Jannah tempat Ibu saat ini..

– – – – –

Matraman, 24.12.2015

Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (1)

Saat ini saya sedang senang dengan dunia per-tas-an. Dan sedikit-sedikit saya juga ikut terlibat di dalam dunia jual-beli tas, khususnya secara online. Pada mulanya, saya hanya sekedar menyalurkan kesenangan atau hobi saja, terlebih lagi dalam rangka menahan diri dari godaan-godaan dunia yang sesungguhnya tidak berguna serta menanamkan sikap hemat dalam perilaku sehari-hari. Haha.

Loh apa hubungannya dunia jual-beli tas dengan sikap hemat?

Yup, karena di satu sisi nafsu duniawinya muncul di mana sebenarnya mengerti bahwa perasaan tersebut hanyalah sesaat dan sementara, yang kemudian di mana setelah hasrat nafsu duniawi-nya sudah terpenuhi, dalam hal ini adalah Belanja Tas-nya, biasanya akan muncul rasa ‘lega’. Nah, setelah ‘lega’ itulah, maka kembali deh saya jual-jualin benda (tas) tersebut yang sudah saya peroleh sebelumnya. Tentunya dengan harga jual yang lebih tinggi (mengambil keuntungan juga). Tapi dalam bagian ini memang kudu pintar-pintar sih dalam memilih barang, di mana si benda (tas) ‘harus’ yang banyak peminatnya.

– – – – –

Pada mulanya saya tidak pernah menyangka bisa terjun ke dalam dunia per-tas-an ini. Dari yang sebelumnya facebook hanya ‘sekedar’ berfungsi sebagai sarana komunikasi dunia maya saja, eh ternyata, justru dunia per-tas-an ini malah melebar dan semakin banyak saya temui di facebook. Maka, berkenalanlah saya satu per satu dengan berbagai pengusaha tas, khususnya tas branded, sampai siapapun yang juga sebagai penikmat dunia per-tas-an.

Saya ‘bertemu’ dan berkenalan dengan teman-teman baru dari berbagai latar belakang, yang sedikit berbeda lingkaran dengan pertemanan facebook saya sebelumnya. Join lah saya dari satu grup tas ke grup tas lainnya. Bersyukurnya, setiap saya add pertemanan dengan Kakak-Kakak Senior dunia per-tas-an ini, Beliau-Beliau dengan baik hati ‘meng-accept’ pertemanan yang padahal mutual friend hanya 1, 2, 3 saja dengan Beliau-Beliau yang saya add tersebut. Namun kini, bila ‘mampir’ ke halaman facebook Beliau-Beliau tersebut, kini mutual friend sudah mencapai angka ratusan. 😀

Dan ini adalah contoh ketika dalam 3 (tiga) hari saya tidak membuka facebook. Notifikasi bisa mencapai 99++! Haha. 😀

 

notifications

 

Dan setelah berjalan beberapa waktu, beberapa kali saya pernah melihat status beberapa seller atau siapapun itu yang menginformasikan bahwa friend list Beliau sudah akan penuh mendekati angka 5000, kemudian dengan tema mohon maaf ingin “bebersih” friend list. Dan beruntungnya saya, saya masih masuk dalam friend list Kakak-Kakak seller / Kakak-Kakak pengusaha tersebut. Hal ini dapat disebut sebagai rejeki bukan? 🙂

(please Kak kalau ada yang membaca tulisan ini, jangan remove saya dari friend list Kakak yaa… Hehehe. 😀)

– – – – –

Dalam keberjalanannya, seller dan buyer pasti bertemu di “lapangan” di mana maksud “lapangan” di sini adalah dalam dunia online dunia maya ini. Banyaaak sekali juga Kakak-Kakak seller nubie sama seperti saya, atau lebih tepatnya yang sama-sama baru belajar bagaimana cara berdagang tas.

Sering ditemui kondisi di mana harga tas yang saya jual lebih mahal dibandingkan dengan seller-seller lainnya. Sering juga ditemui calon buyer dari berbagai tipe, dari yang “biasa saja normal”, sampai dengan “super WOW sampe kudu mengelus-elus dada”. Haha.

Tapi begitulah konsep rejeki yang sedang Tuhan atur untuk saya. Karena bagi saya, rejeki itu tidak melulu bermakna duit dan duit. Di sinilah saya jadi semakin belajar bagaimana memahami berbagai macam tipe manusia itu. Di sinilah Tuhan Membukakan mata saya bahwa manusia itu tipenya nggak melulu itu-itu saja yang sebelumnya saya jumpai dalam lingkaran pertemanan facebook saya terdahulu. Sebuah rejeki bukan? ( saya mengambil asumsi bahwa teman-teman dunia nyata 90% pasti memiliki akun facebook juga )

Walau pada akhirnya tidak semua orang atau calon buyer itu “jadi” membeli barang pada kita, saya merasa memang belum rejeki bentuk uang saat itu, akan tetapi melainkan saya mendapatkan rejeki berupa tali silaturahmi baru yang saya dapatkan dari interaksi macam demikian. Jadi walaupun terkadang saya bertemu dengan calon-calon customer yang tidak jadi membeli tersebut, yang bahkan ada yang sudah bertanya panjang kali lebar, namun bersyukurnya hingga detik ini saya masih belum sampai merasakan sebuah “kejengkelan” yang gimanaaa gitu. Haha. 😀 (mudah-mudahan jangan sampe deh, sabar seterusnya saja, aamiin, hehe)

Ya. Begitulah konsep rejeki yang sudah Tuhan persiapkan untuk saya.

Ketika rejeki bukan berbentuk ‘uang’, yang mana biasanya mostly menjadi tujuan utama, di sisi lain Tuhan memberikan rejeki lain berupa rejeki lingkaran pertemanan yang semakin bertambah, rejeki tali silaturahmi yang baru, rejeki pemahaman di dalam interaksi sesama manusia (belajar memahami manusia), rejeki pemahaman di dalam belajar mengelola emosi, dan berbagai rejeki lainnya.

– – – – –

Berikutnya adalah…..hindari iri.

Jikalau saya tidak pandai-pandai dalam mengelola emosi, maka dijamin semangat belajar berjualan tas saya bisa luntur seketika karena hanya memikirkan emosi pribadi yang sesungguhnya hanya sesaat dan sementara.

Sering dijumpai  banyak customer yang akhirnya berpindah ke lain hati alias pindah ke seller lain untuk barang impian mereka. Entah dengan alasan apapun. Namun demikian,  di sinilah pemahaman konsep rejeki Tuhan yang Sedang Dijalankan Tuhan kepada saya. Di sinilah Tuhan Sedang Mengajarkan saya pentingnya untuk bisa menerima kondisi dan pemahaman belajar dalam berjualan.

Dengan tidak merasa iri dengan toko lain atau seller lain, justru menurut pendapat saya, akan semakin banyak pintu-pintu rizqi yang semakin terbuka untuk saya. Ya…seperti itu tadi di mana rejeki dapat berupa apaaa saja. Sebagai contoh, tau-tau saya dengan tiba-tiba mendapatkan informasi seorang seller first hand-carry yang padahal sebelumnya saya tidak pernah tahu ada Beliau. Nah, rejeki tiba-tiba seperti ini-lah yang saya artikan sebagai “Hadiah Tuhan” kepada saya karena ‘keberhasilan’ saya dalam pengelolaan emosi tadi, yaitu berupa rasa iri yang mungkin muncul.

Pada intinya, pengelolaan emosi pribadi itu memang sungguh sangat-sangatlah penting untuk dilakukan. Dan harus selalu yakin bahwa Tuhan Tidak Akan Pernah Salah, Tuhan Selalu Benar, dan Tuhan Selalu Tahu apa kebutuhan kita. Yakin terus di dalam berusaha, tanpa henti, diiringi doa dan semangat pantang menyerah, niscaya suatu saat nanti, insyaaAllah Tuhan Akan Memberikan Rejeki lebih dari yang kita bayangkan.

Walau sebetulnya masih belum tau apakah benar saya kelak akan membuka usaha sampingan (atau usaha beneran) dengan berjualan tas di masa mendatang, namun tidak ada salahnya saya mencoba dan belajar selagi saya diberi kesempatan oleh Tuhan seperti saat ini.

– – – – –

Dan konsep pemahaman ini berlaku dalam hal apapun di dunia ini.
Entah dalam hal karir, hal prestasi, dan lain sebagainya.
Selalu yakin dan percaya bahwa Tuhan Tidak Akan Pernah Salah.
Sebagai manusia wajib berusaha semaksimal mungkin dan berdoa. Karena Tuhan Sangat Menyukai Hamba-Hamba-Nya yang rajin berdoa dan meminta kepada-Nya.

Dan link di bawah ini adalah toko online saya, menjual tas-tas lucu import cantik berbasis di Kota Batam. Tentunya dengan harga ramah di kantong dan yang pasti awet & nggak bakal nyesel deh! Hehehe. ( numpang promosi yaaah… )

http://www.instagram.com/tas.batam_murah/

 

– – –
Tebet, 23 Desember 2015
16:05 WIB

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Lost in Thought – Sebuah Pengakuan

Suatu ketika Pakdhe saya bertanya kepada saya perihal hidup dan tinggal di Ibukota Jakarta.
“Betah atau tidak?”
Saya jawab, betah! Tentu saja betah.
Lalu Beliau menanyakan kembali.
Moso’ kerasan kamu di sana? Pakdhe mbayangno muacete ra’ karuan gitu udah males duluan,”

 
– – –

 

Ya.
Sudah hampir 2 (dua) tahun saya dan suami hijrah ke kota ini.
Dan sudah genap 1 (satu) tahun pula kami secara resmi tercatat secara hukum sebagai Warga Ibukota, ber-KTP dan ber-KK dengan status sebagai Warga DKI Jakarta.
Banyak orang mengatakan kota ini merupakan sumber dari segala sumber, khususnya di dalam perputaran dunia ekonomi serta sebagai pusat dunia bisnis.

 

KK dan KTP sebagai Tanda Resminya Kami Berdua sebagai Warga DKI
KK dan KTP sebagai Tanda Resminya Kami Berdua sebagai Warga DKI

 

Saya jadi ingat obrolan beberapa waktu lalu dengan tetangga saya di Banjarnegara, yang kini Beliau sedang melanjutkan studi S3-nya di Perancis.
Saat itu kondisi saya baru saja lulus dari studi S1 saya di Bandung dan kebetulan kedua adik Beliau juga menempuh pendidikan di Bandung, yang salah satunya satu angkatan dengan saya dan sudah lebih dahulu lulus daripada saya.
Ketika itu Beliau sedang berlibur ke Indonesia, tepatnya berlibur ke Bandung, kemudian Beliau pun menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya.
Banyak hal yang kami perbincangkan, dari kami membahas masa kecil, pendidikan luar negeri, hingga kami pun berbincang tentang rencana ke depan kami masing-masing akan bagaimana.
Dan Beliau pun mengungkapkan,
“Iya juga sih, mau di mana lagi coba perputaran duit itu. Mau nggak mau kita pasti menuju ke sana nggak sih, buat ngaplikasiin segala macem ilmu yang udah kita pelajarin. Ya kan?”

 
Begitu pula yang diungkapkan oleh seorang senior saya satu jurusan yang dulu juga merupakan tetangga di kos Bunda, Bandung.
Beliau memang asli Depok, sejak kecil memang sudah tinggal di Depok (walau sempat diselingi 7 tahun tinggal di Amerika).
Saat itu kami sedang berbincang-bincang ngalor-ngidul tentang kehidupan.
Dan kebetulan pada saat itu kondisi Beliau memang sedang mempersiapkan skripsinya.
Hingga sampailah pada Beliau berkata,
“Ya… lo mau kerja apa di Bandung. Ya…bukan berarti nggak ada sih. Dengan background TL, pilihan yang banyak ya di Jakarta, di mana lagi. Ya nggak sih,”
Begitulah.
– – –

 

Di sisi lain, memiliki kesempatan bisa melanjutkan hidup dan tinggal di kota ini terkadang menjadi sebuah “gengsi” bagi sebagian orang.
Bisa jadi salah satunya adalah saya, yang asli kampung nun jauh di sana.
Mengapa “gengsi”? Karena itu tadi, Jakarta.
Anda bisa mendapatkan semuanya di sini.
Dan cara berpikir ini masih banyak melekat di otak-otak kami yang datang dari daerah.

 
Akan tetapi di sisi lain, memiliki kesempatan bisa melanjutkan hidup di Jakarta tentunya menjadi sebuah kesempatan yang sungguh harus patut disyukuri.
Terutama bila Anda memiliki keinginan besar untuk terus mengembangkan kemampuan diri serta ingin selalu dapat berkarya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.
Syukur-syukur, apa yang Anda kerjakan dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia secara luas.
Terkesan ambisius dan idealis? Bisa jadi.
Namun apa salahnya bila kita memiliki impian setinggi langit?
Dahulu sekali saat kita masih kecil, oleh orang tua kita masing-masing, kebanyakan diantara kita banyak yang diajarkan untuk bisa memiliki cita-cita dan bermimpi setinggi-tingginya.
Bukankah demikian?
– – –

 

Saya secara pribadi memang sudah merasakan merantau sejak usia masuk SMA ke Bandung.
Ditambah, SMA saya adalah SMA full asrama dengan sistem semi-militer.
Keluar kampus pun (pesiar) hanya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) minggu, yaitu hanya pada hari Minggu saja. Selama 3 tahun!
Kecuali, jika sudah memasuki semester akhir (6 bulan terakhir) di SMA, baru terdapat izin khusus (izin tambahan) keluar kampus setiap hari Sabtu siang bagi siswa-siswi kelas XII untuk mengambil les/tambahan pelajaran di luar kampus (bagi yang ingin saja).
Sementara itu, jarak Banjarnegara – Bandung sekitar 8-9 jam perjalanan darat.
Cukup jauh menurut saya.
Pada awal-awal masa perantauan, saya sering sekali merasakan “homesick” atau “rindu rumah” yang menjadi-jadi.
Terkadang saya harus menangis dan menumpahkan segala kisah rindu kepada sahabat sambil sesenggukan.
Ya.
Susah, pada mulanya.

 
Namun dengan berjalannya waktu, saya pun semakin terbiasa.
Jiwa kemandirian semakin terbentuk.
Segala bentuk peristiwa “homesick” semakin menjauh dari kamus hidup saya.
Ditambah, saya adalah anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara dalam keluarga saya.
Sejak kecil memang sudah terbiasa melakukan banyak kegiatan secara mandiri.
Kurang perhatian dari orang tua?
Ow, tentu saja tidak. 🙂

 
Lulus dari SMA, saya yang bermula memiliki niat untuk kembali ke kampung halaman (Jawa Tengah), ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan.
Saya sudah bertekad memiliki keinginan melanjutkan sekolah dekat-dekat rumah saja (dekat-dekat Banjarnegara saja), di mana jarak antara rumah dengan kota studi tidak lebih dari seperempat hari (6 jam) perjalanan darat.
Karena walau sudah merasa bisa mandiri, tetap saja keinginan untuk dekat-dekat dengan rumah, khususnya dekat-dekat dengan Ibu, akan selalu ada.
Dan perasaan “homesick” dengan kadar ringan pun terkadang mendadak suka muncul di akhir-akhir masa sekolah di SMA.

 
Pada akhirnya, Tuhan pun memberikan jawaban-Nya terhadap keinginan saya yang menggebu untuk bisa kembali ke kampung halaman kala itu.
Dan ternyata…..Tuhan masih menginginkan saya untuk terus berjuang dan belajar untuk terus bisa menjadi manusia mandiri yang semakin mandiri.

 
Sebelumnya, saya sempat beradu argumen dengan orang tua, khususnya dengan Ibu saya, bahwasanya saya tidak akan pernah mau mencoba mendaftarkan diri ke perguruan tinggi area Jawa Barat, yaitu di Jakarta maupun Bogor. Tidak mau!
Sejauh-jauhnya hanya mau di Bandung! Ya, Bandung saja!
Begitulah teriakan saya kala itu via telepon dengan Ibu saya di seberang sana.

 
Dan…..ternyata. Kemakan-lah saya dengan omongan saya sendiri.

 
– – –

 

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun.
Saya pun semakin merasakan rasa “betah” untuk bisa tinggal di kota sebesar Bandung tersebut.
Kesukaan saya berkumpul dengan teman-teman, kemudian saya wujudkan dengan ikut secara aktif ke beberapa organisasi maupun kelompok kegiatan yang saya minati di kampus, baik saat SMA maupun saat berkuliah.
Karena dengan demikian juga, apabila tiba-tiba muncul rasa “homesick”, akan dapat terobati seketika itu juga.
Bisa mendapatkan kesempatan sampai 8 tahun tinggal dan hidup di Bandung, membuat saya menjadi pribadi yang semakin “kaya” akan kemampuan beradaptasi pada lingkungan baru.
Sombong? Tentu saja tidak.
Karena saya yakin banyak orang di luar sana yang juga memiliki kemampuan beradaptasi sangat tinggi dan sangat cepat juga.
– – –

 

Inilah yang saya katakan di awal bahwa saya betah dengan sebetah-betahnya, tinggal dan hidup di Ibukota Jakarta ini.
Seperti halnya do’a Ibu saya yang selalu mendoakan anak-anak Beliau agar selalu beruntung di sepanjang hidup kami. Ya, beruntung. Bejo!

 
Dan yang saya sebut sebagai  salah satu bentuk “keberuntungan” di sini yaitu, salah satu faktor yang bisa membuat saya merasa “betah” hidup di kota ini adalah banyaknya kawan-kawan SMA maupun kawan-kawan semasa kuliah yang melanjutkan hidup, tinggal, dan bermukim di Ibukota Jakarta ini.
Organisasi-organisasi yang kini sedang saya incar pun banyak yang berpusat di Jakarta juga.
Alumni-alumni satu almamater SMA dan alumni-alumni satu almamater kuliah banyak juga yang tinggal dan melakukan perkumpulan, kegiatan, serta diskusi di kota ini juga.
Ditambah, suami saya yang juga satu almamater kuliah, juga senang melakukan perkumpulan dengan kawan-kawan Beliau di Jakarta.
Banyak kawan-kawan Beliau juga yang tinggal dan hidup di kota ini.
– – –

 

Melanjutkan percakapan dengan Pakdhe saya di atas,

“Pakdhe, nek ganis udah bisa hapal angkutan umum lewate jalure mana-mana aja, insyaaAllah ganis ndak masalah sama kondisi macete Jakarta. Dulu di awal-awal pindah Jakarta, ganis ngapalin ini angkot nomor sekian lewatnya ke mana, metromini nomor ini ke mana, kopaja sing iki ke mana. Gitu, Pakdhe. Ditambah kalo ganis dah bisa sehari-hari “lepas” dari naik busway (Trans Jakarta) sebagai moda transportasi umum utama sehari-hari, bisa dibilang, ganis sampun betah, Pakdhe. Hehe,”

 
Dan lagi menurut saya pribadi, seperti yang pernah diungkapkan juga oleh Bunda Soimah, jika Anda dari daerah yang memang memiliki keinginan besar yang kemudian memutuskan untuk datang, merantau, atau tinggal serta bermukim di Ibukota, maka Anda harus bisa menerima segala bentuk kondisi kota ini sampai ke bagian “buruk-buruk”-nya.
Jangan hanya membayangkan yang enak-enaknya saja.
Berkawanlah dengan macet.
Berkawanlah dengan banjir jika memang ia harus datang ke lingkungan tempat tinggal Anda.

 

Kondisi Macet Pagi Hari yang Terkadang Harus Dinikmati
Kondisi Macet Pagi Hari yang Terkadang Harus Dinikmati

 

 

Banjir Terparah yang Pernah Dialami sebagai Pendatang Baru (Jan/Feb 2014)
Banjir Terparah yang Pernah Dialami sebagai Pendatang Baru (Jan/Feb 2014)

 

 

Dan yang terpenting.
Tetaplah bersyukur dengan setiap kondisi yang sedang Anda lalui, rasakan, dan nikmati saat ini.
Dengan semakin bersyukurnya Anda, maka Tuhan akan semakin terus menambah kenikmatan ke dalam kehidupan Anda.
Jangan lupa untuk selalu berbagi, menyedekahkan sebagian rizqi yang telah Anda peroleh.
Sisihkan sebagian harta yang sudah berhasil Anda kumpulkan untuk disedekahkan.
Karena sebagian harta kita terdapat hak-hak mereka yang benar-benar sangat membutuhkan.
Dengan bersedekah di jalan Tuhan, niscaya hidup Anda akan semakin nyaman, tentram, dan bahagia.

 

Sekian.
– – –

 

Tebet.
Jumat, 06 November 2015
16:55 WIB

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Tamparan Sebuah Cahaya Keikhlasan

Hari yang penuh emosi.
Bisa jadi terpengaruh juga oleh siklus bulananku.
Ah ya, ternyata bulan kesekian kali ini pun gagal lagi.

Hari ini aku merasa “memuncak” untuk tidak bertahan pada tempat yang “aku rasa” aku dapat bertahan di dalamnya.
Sudah sering berulang kali pikiran naik-turun seperti ini, namun berulang kali juga aku memilih untuk bertahan.
Entahlah apa yang aku pikirkan.
Aku merasa tidak cocok dengan kultur suasana kebersamaan yang menurutku berbeda dengan tempat yang seharusnya.
Dan hari ini pun aku kabur dari tempat itu, ya, meja kerjaku.
Aku linglung, suasana hujan, badan masih kurang fit pasca demam kelelahan, komplit sudah.
Kutumpahkan rasa “sedih” ku pada suamiku dan ibundaku.
Dan “masih hebatnya” lagi, pada saat kabur pulang ke rumah itu, aku membawa beberapa pekerjaan rumah.
Kupikir ada baiknya kuselesaikan dengan suasana rumahan saja.

– – –

Menjelang sore hari, mood-ku semakin tidak menentu.
Pada saat Maghrib, beliau pun muncul.
Kupeluk beliau dengan eratnya.
Kuutarakan ulang “kesedihan” hari itu.
Pada saat kabur di pagi harinya, saat kusapa beliau melalui telepon, beliau menawarkan dirinya untuk membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang sempat kubawa itu.
Tapi tentu saja aku tolak, karena ini adalah urusanku, bukan beliau.
Dan kuberitahu, beliau di hari itu pun sedang merasakan demam kelelahan yang sama.

– – –

Menuju jam 9 malam, usai beliau memainkan game pada ponselnya, beliau pun melihat pekerjaan rumah yang sempat aku bawa di pagi harinya.
Beliau pun melihat & tertarik untuk membantu.
Dikit demi sedikit, apa yang menjadi pekerjaan rumah pun semakin terisi banyak.
Sampai-sampai pun aku sudah merasa “muak” dan mulai beralih kegiatan lain pada ponselku.
Yang kulihat malah, beliau mengambil alih laptopku dan semakin terlihat tertarik meneruskan.
Berkali-kali pun aku mengutarakan, tidak perlu, dan akan aku lanjutkan kemudian.
Tapi beliau tidak berhenti.
Sampai pada akhirnya beliau pun kembali bersin dan sudah mulai tidak tahan untuk segera tidur.
Begitu pun aku, tapi sungguh kaget pun terharu, beliau telah membantu beberapa “catatan”ku. Sungguh, aku sangat berterima kasih! T_T

– – –

Kulihat beliau begitu lelahnya.
Kusentuh lembut dahinya, masih agak sedikit hangat.
Perlahan kurapihkan selimut untuknya, kutatap wajahnya lembut.
Berulang kali kuucapkan terima kasih padanya sembari sesekali terisak. T_T
Dan sesaat sebelum berangkat tidur, beliau pun berkata,

Aku ingin ganisku untuk bisa bertahan dulu sementara di tempat itu, baru sesudahnya bila ada yang lebih baik, barulah boleh bertindak. Aku hanya ingin ganisku bertahan untuk waktu sejenak saja dulu, biarkanlah bertahan pada rasa kecewa sesaat sebelum datangnya rasa sesal. Aku tak mau melihat ganisku bersedih hanya karena sebuah rasa sesal kecil,

Tanpa sela lagi, air mataku semakin menetes dengan derasnya. T_T T_T T_T
Tumpah-ruah sambil menatap wajahnya.
Dibalik lelahnya, beliau pun masih sempat memikirkan “hal remeh-temeh” tentangku.
Sungguh, padahal aku tadi tidak mengharapkan itu.
Aku pun “padahal” sudah pasrah untuk satu hari ini.
Ya Tuhan…
Mengapa ada jenis makhluk-Mu yang seperti ini?

Jakarta, 11 Februari 2015
Pukul 23:35 WIB

– – –

*PR :
“Membaca” rumpun tulisan banyak yang tertuang pada suatu foto, dilihat satu per satu, memastikan tulisannya apa, kemudian menerjemahkan dalam suatu catatan tulisan. Foto spanduk yang berisikan tulisan banyak, dengan jarak yang “baik” untuk versi digital (karena bisa memanfaatkan fitur ‘zoom’), namun menjadi kurang baik apabila sudah menjadi versi cetaknya.

Family & Friends, Learn About Islam, Life, Traveling

Sebuah Renungan

Aku dulu kerapkali menanyakan kepada-Nya.
Mengapa Allah?
Mengapa aku tak seperti mereka, bepergian jauh ke pantai-pantai indah-Mu, sementara aku berkutat pada satu tempat demi sebuah harapan permulaan cita-cita?
Mengapa Allah?
Lalu, mengapa aku tak secepat mereka Ya Allah? Mengapa?

Dan…

Apakah mungkin ini jawab-Nya?
Sebagaimanapun rizqi yang kita pinta, kita pun harus beriman bahwasanya Dia Tak Akan Pernah Salah, Dia-lah Yang Mahatahu waktu terbaik.
Dan hingga detik inipun, aku masih belum percaya, dengan apa yang sedang aku lihat, aku alami.
Subhanallah…!

Diamlah.
Sadarilah.
Begitu banyak nikmat-Nya yang telah Dia Berikan.
Masih pantaskah aku mengeluh?
Masih pantaskah aku tidak bersyukur?

– – –

Makkah Al-Mukarromah, 28 Januari 2015
22.30

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Dalam 1 Tahun

Hmmm. Sedang trend rupanya membuat sebuah kaleidoskop tahun 2014 di facebook. Fitur yang satu itu membantu setiap orang yang ingin “mengingat” kembali apa-apa yang sudah terjadi dan dilakukan dalam tahun 2014. (khususnya yang di-“link”-kan ke dalam facebook, hehe.)

Bukan, saya sedang tidak ingin menulis tentang fitur kaleidoskop tersebut. Saya pun ingin menulis pengalaman-pengalaman super yang tentunya patut disyukuri dalam 1 tahun terakhir ini.

– – –

1)

Well, tidak dipungkiri, usia pernikahan saya dengan suami telah menginjak usia 1 tahun lebih, dan ya, seperti pada umumnya, orang-orang sekitar kami pun mulai bertanya-tanya.

“Kapan?”

“Kok belum?”

Hahaha. Akhirnya kami pun merasakan digerundungi banyak pertanyaan-pertanyaan semacam itu sepanjang tahun ini, khususnya saya sebagai seorang perempuan. Dan paling banyak bersumber dari keluarga kami, ya…siapa lagi. Hihi.

Tapi entahlah. Perasaan kami entah mengapa masih saja “menganggap” santai dan yeah-let it flow aja deh. Walau memang, saya pernah berada dalam 1 titik “down” akibat mendadak panik karena belum juga. Tapi lucunya, setelah perasaan galau itu pergi, saya pun kembali bersenang-senang dengan kehidupan yang sedang kami jalani bersama-sama ini. Bahkan terkadang saya pun menyadari, perasaan-perasaan “santai” ini harus segera disembuhkan dan dihilangkan. Entahlah, bagaimana caranya. Mungkin karena kami sangat percaya, Allah Mahatau waktu terbaik untuk kami. Dan mungkin karena kami percaya, Allah sedang Memberikan Kesenangan sesaat dahulu sebelum mungkin kesibukan-kesibukan serius yang harus kami lalui nantinya. Ya, mungkin Allah sedang Mempersiapkan kami berdua. Positif saja kepada-Nya. Hehe.

Ditambah kedua orang tua kami yang menyikapi kondisi ini secara bijak, bahkan beliau-beliau tidak suka menyinggung-menyinggung atau mempersalahkan hal ini. Di satu sisi kami sangat bersyukur dengan kondisi seperti ini, namun sisi lain, kami juga harus segera bertindak untuk mengurangi rasa yang tidak-tidak.

– – –

2)

Dahulu sekali, saya pikir, bergabung dalam sebuah keluarga baru akan membuat diri menjadi tidak nyaman dan akan banyak sekali penyesuaian. Terutama di tahun-tahun awal sebuah kehidupan pernikahan dimulai. Ditambah dramatisasi artikel-artikel kebanyakan masa kini. Well, ternyata TIDAK! Ya, tidak begitu buruk adanya seperti yang dibayangkan.

Sudah 1 tahun lebih ini saya mengenal keluarga baru saya. Apa-apa yang saya bayangkan tentang kecemasan dan keburukan, benar-benar sirna. Beruntungnya saya memiliki Ibu Mertua yang sangat-sangat baik, kalem, dan sangat bijaksana. Ditambah saya sebagai seorang “outsider”-mungkin, karena saya sadar diri bukanlah siapa-siapa (ya, pikiran-pikiran buruk macam ini seringkali menghantui). Jika mungkin bukan karena Beliau, saya yakin, mungkin saya tidak akan bersanding dengan seorang Amir Muntaha untuk selamanya (kisah ini mungkin kelak akan saya tulis). :’)

Kondisi yang dibayangkan seperti apa kata artikel-artikel mainstream tentang ibu mertua, sungguh tidak tergambar sama sekali pada Ibu Mertua saya, alias Ibu suami saya. Tidak heran, anak Beliau ini (suami) adalah seorang yang sangaaaaat baik, sebaik didikan Ibunya yang super-duper luar biasa ini. Ditambah adik-adik ipar & Bapak Mertua yang baik juga humoris, terutama adik ipar perempuan saya yang benar-benar super ramah dan baiiiiik hati. Ah, lengkap sudah hidup ini rasanya. Pernah saya dibuat menangis terharu secara diam-diam hanya karena sebuah kebaikan Ibu Mertua saat saya usai berkunjung dari Semarang, kampung halaman suami. Ihiks! :’)

– – –

3)

Pengalaman sekali-kalinya dalam hidup tentang sebuah pernikahan model islami, akhirnya teralami juga. Saya pribadi, tentu sadar sebagai seorang jawa tulen (Bapak-Ibu saya), rasanya agak sukar jika ingin merealisasikan sebuah pernikahan yang tidak berbau Adat Jawa kental (ah ya, teringat hutang tulisan tentang Pernikahan Adat Jawa yang belum selesai-selesai). Walau pada saat akad nikah di Banjarnegara, Bapak saya mengkonsepkan pernikahan terpisah, saya muncul di majelis akad nikah setelah dinyatakan sah (matur suwun Bapake! ^-^ ). Saya telah diposisikan oleh Allah menjadi pasangan seorang pria keturunan Pakistan-Indonesia (atau dalam istilahnya disebut Koja), di mana keluarga besar memegang teguh nilai-nilai islami untuk dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. (InsyaAllah selamanya, allahumma aamiin!)

Beruntungnya, saya pun merasakan suasana pernikahan yang berbau islami seperti itu (walau hanya dalam resepsi unduh mantu). Salah satu contohnya adalah tamu undangan dipisah, antara laki-laki dan perempuan. Kemudian di area prasmanan, disediakan banyak kursi dengan tujuan para tamu undangan dapat menikmati hidangan dengan duduk (karena makan dengan duduk lebih baik daripada makan dengan berdiri). Satu lagi, di pelaminan pun, kami yang perempuan dan laki-laki terpisah juga, kedua Ibu saya berada di sayap saya, kedua Bapak saya berada di sayap suami. Begitulah, rasanya memang “aneh” pada mulanya. Namun acara-acara pernikahan berikutnya dalam keluarga besar suami membuat saya menjadi terbiasa. Ya, pernikahan islami. Seperti tradisi rebana-an (maulud) pada H-1 akad nikah di kediaman calon mempelai wanita yang benar-benar dalam kacamata saya, tradisi ini membuat saya merasa seperti sedang “berada di luar negeri, tepatnya di negeri timur tengah”, ya seperti rasanya. Baru, tapi sungguh beruntung.

– – –

4)

Keluarga besar suami mengajarkan dan memperlihatkan pada saya bagaimana seorang muslim yang dididik sejak kecil hingga dewasa dalam nuansa islami. Walau benar, dalam penerapannya dalam kehidupan dewasa (masa baligh dan seterusnya), akan kembali kepada pribadi masing-masingnya.

Saya belajar berjilbab lebar dan berpakaian longgar dari keluarga baru saya ini. Namun bukan berarti keluarga saya sendiri tidak mengajarkan, bukan. Ibu saya sering berjilbab lebar ke manapun beliau pergi, sebagai contoh untuk saya agar berpakaian tertutup dan tidak ketat. Namun apa daya diri saya yang masih terus belajar dan belajar yang mana masih sering tergoda oleh produk-produk fashion modern, membuat saya menjadi masih suka “setengah-tengah” hingga kini.

Saat masuk ke dalam suasana keluarga baru, terutama pada saat kunjungan pulang kampung, saya melihat saudari-saudari yang muda-muda & cantik-cantik tentunya, berpakaian lebar-lebar & berjilbab lebar-lebar. Ah senangnya. Sungguh nyaman dan anggun terlihat. Ternyata, bila pandai memilih, kita pun bisa terlihat anggun dan elegan ketika kita berjilbab lebar seperti itu. No pakaian ketat, no gamis ketat, plus jilbab lebar menutupi dada. Aih.

Saya mengakui untuk bagian ini mungkin bisa disebut sebagai tahapan “ketertarikan”, karena sekarang pun, saya masih suka ber-jeans ria saat melakukan aktivitas-aktivitas weekend saya. Saya rasa, karena mereka-lah, muncul ketertarikan untuk belajar berpakaian yang seharusnya.

– – –

5)

Kembali, artikel-artikel mainstream mengatakan bahwa, setelah menikah, kehidupan akan 180 derajat berbeda dibandingkan dengan kehidupan pada era “pacaran”. Well, nyatanya tidak tuh. Hehehe. *songong*

Entahlah, saya tidak mengerti mengapa. Saya merasa perbedaan antara “sebelum” dan “sesudah”nya adalah, jikalau dulu jumlah pakaian di lemari pakaian, sepatu di rak sepatu, piring, gelas, dll yang berjumlah hanya satu atau milik saya sendiri, kini bertambah menjadi dua kali lipatnya. Ya, mungkin “hanya” itu perbedaannya dengan kehidupan terdahulu. Hmmm.

Jika beberapa artikel mengatakan, seorang istri “di-warning” untuk bersiap-siap sabar apabila seorang laki-laki akan berubah menjadi “lebih berego”, nyatanya, hingga kini saya masih berdiri di belakang garis start kesabaran seperti yang dimaksudkan “bersiap-siap” oleh artikel-artikel psikologi tersebut. Hmmm, tapi. Mudah-mudahan kondisi seperti ini akan bertahan selamanya, hingga nanti kami telah berubah menjadi aki-nini. Aamiin!

– – –

Sekiranya hal-hal penting tersebut yang menjadi pengalaman-pengalaman seru dan baru yang terjadi dalam 1 tahun belakangan ini. Masih banyak hal lain yang rasanya ingin saya tulis. Tapi sepertinya waktu sedang memaksa untuk menulis sebagian dulu.

Salam.
Jakarta, 1 Januari 2015

Family & Friends, Learn About Islam, Life

“Kuncinya Hanya Satu : Sabar,” He Said.

Suatu ketika gw dipanggil untuk interview di sebuah perusahaan. Saat itu memang saat-saat menuju masa akhir proyek Tanjung Priok. Ya…namanya orang, pengen cari sana-sinilah… Hehe. Beruntunglah ada yang memanggil, walau pada akhirnya enggak keterima juga sih. Entahlah. :p

– – –

Saat datang pertama kali, gw kaget. Karena gw pikir hanya sekedar wawancara biasa sambil berdiskusi tentang jobdesk posisi yang gw lamar. Ternyata di hari yang sama juga, gw harus mengikuti psikotes calon pegawai. Yah…enggak ada persiapan banget saat itu. Gw cuma mikir, psikotes ya, psikotes aja. Lanjut gan! Haha.

Ada yang menarik. Kalian tahu kan yang namanya tes menggambar pohon dan menggambar orang? Nah itu. Gw enggak tahu apa namanya dah itu tes. Pada saat kita (gw dan peserta psikotes lainnya) disuruh menggambar orang, instruksinya memang hanya disuruh menggambar seseorang yang sehari-hari kita temui atau seseorang yang dekat. Udah, itu aja. Gw pikir akan seperti biasanya setelah nggambar, pasti disuruh nyebutin sebatas dia siapa dan profesinya apa. Gitu. Eh ternyata, gak sebatas itu.

Yang menariknya adalah, penguji minta sebutin macem-macem. Salah satunya adalah 5 hal negatif dari orang tersebut. Jedher! Gw langsung kebingungan kayak orang kena checkmate. Untuk soal-soal lainnya seperti kelebihan, hal positif, hobi/kebiasaan, ciri khas diri, masih bisa deh lancar njawabnya. Pas bagian nyebutin hal-hal negatif, lamaaaaa banget ngisinya. Seriously, lama!
Ampe detik-detik terakhir pun, gw nyerah, harusnya (syarat) gw sebutin 5, keisi cuma 3, ya, 3! Itupun gw isi hal-hal umum, seperti kesal karena kecewa atas pelayanan publik yang tidak ramah, dan ketiga-tiganya mirip, tinggal diganti-ganti aja tempatnya, mall, halte busway, restoran. Yeah, cuma 1 jawaban itu sih.

– – –

Ya, waktu itu gw nggambar laki gw. Andai tahu ada pertanyaan itu, mungkin gw akan gambar orang lain, bisa jadi kayak adek gw yang suka bandel. (Eh enggak dhink, nggak bandel, :p)

– – –

Yup. Saat tes hari itu, gw bener-bener makin menyadari kalau beliau memang-yeah-terlalu sempurna sebagai seseorang yang berjenis kelamin laki-laki. Kalau katanya laki-laki itu penuh ego, mau menang sendiri, kemudian di saat-saat tertentu akan galak/marah, well, beliau ini hampir gak ada satu pun hal tersebut nempel dalam diri beliau. Gw lebay? Ya, tentu saja gw lebay! Tapi sesungguhnya gw ini bener-bener keterlaluan kurang bersyukur buat setiap hal, apa aja, yang kadang gw ngedumelin, entah dalem ati atau lewat mulut.

Kesel sama petugas busway, ngadunya ke beliau. Kesel sama mbak-mbak SPG sok cantik jutek di Matahari, ngadunya ke beliau. Kesel sama orang-orang yang nggak bisa antri dengan tertib di toilet bioskop, ngadunya ke beliau. Kesel sama supir taksi yang gw liat sengaja banget muter-muterin kita biar mahal argonya, ngadunya ke beliau. Kesel sama supir angkot yang kurang ajar (ngata-ngatain jelek) ke turis asing, ngadunya ke beliau. Kesel sama gaun gamis bagian bawah jadi kotor karena keinjek orang, ngadunya ke beliau. Kesel karena diri sendiri gampang kegoda sama diskon, ngadunya ke beliau. Daaan…berbagai hal lainnya yang bisa gw kesel-in. Astaghfirulloh ih lo gan. 😦

Mudah-mudahan dengan makin banyaknya gw merenungi sifat & perangai gw yang super buruk ituh, gw bisa jadi perempuan yang semakin mendambakan dan menyenangkan. (Walau kata laki gw, secerewet-cerewetnya gw, beliau enggak akan pernah kesel atau marah. Tapi gw akan balik kesel ke diri gw sendiri. T^T) Aamiin!

Oke gan. Lo emang harus banyak-banyak istighfar & banyak-banyak bersyukur! Serius.
Banyak-banyak merenung tanpa dilanjutkan dengan perubahan-perubahan ke arah kebaikan, itu sih sama aja bo’ong. Noted!

– – –

Jakarta, 13 Desember 2014
Kondisi: Habis kesel bingit sama kerumunan orang-orang yang gak sabaran berebut mau naik Trans Jakarta sampe-sampe gak mau kasih jalan / nutupin jalan orang-orang yang lagi mau turun, salah satunya gw!

Learn About Islam, Life

78. Qur’an Surat An-Naba’ (Berita Besar)

 

Begitulah kabar gembira yang datang dari-Nya.
Begitu menyejukkan dan menenangkan hati serta pikiran.
Rasanya seperti jatuh cinta yang berkali-kali terhadap suami saya namun lebih daripada itu.
Entahlah, saya sedang merasa senang dan bahagia membaca 40 ayat Allah SWT yang tertuang dalam Surat An-Naba’ ini.

 

Basmalah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

 

 

1

 

 

1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

 

2

 

 

2. Tentang berita yang besar,

 

3

 

 

3. yang mereka perselisihkan tentang ini.

 

4

 

 

4. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,

 

5

 

 

 

5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.

 

6

 

 

 

6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?

 

7

 

 

7. dan gunung-gunung sebagai pasak?

 

8

 

 

 

 

8. dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,

 

9

 

 

 

 

9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,

 

10

 

 

 

 

10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian,

 

11

 

 

 

 

11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,

 

 

12

 

 

 

12. dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,

 

13

 

 

 

13. dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),

 

14

 

 

 

14. dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,

 

15

 

 

 

15. supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,

 

16

 

 

16. dan kebun-kebun yang lebat?

 

17

 

 

 

17. Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,

 

18

 

 

 

18. yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,

 

19

 

 

 

19. dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,

 

20

 

 

 

20. dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.

 

21

 

 

 

21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai,

 

22

 

 

 

22. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,

 

23

 

 

 

23. mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,

 

24

 

 

 

24. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

 

25

 

 

25. selain air yang mendidih dan nanah,

 

26

 

 

26. sebagai pembalasan yang setimpal.

 

27

 

 

 

27. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,

 

28

 

 

 

28. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.

 

29

 

 

 

29. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.

 

30

 

 

 

30. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

 

31

 

 

 

31. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

 

32

 

 

32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,

 

33

 

 

33. dan gadis-gadis remaja yang sebaya,

 

34

 

 

34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

 

35

 

 

 

35. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta.

 

36

 

 

 

36. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,

 

37

 

 

37. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.

 

 

38

 

 

 

 

38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

 

39

 

 

 

39. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

 

40
40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

 

 

Source:

http://quran.com/78

http://www.al-quran.asia/2012/08/surat-naba-ayat-1-40.html