Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan.)

 

– – –

 

Kembali lagi bertemu dengan “minggu tema”, di mana tema dalam minggu ini adalah tentang “berbagi”. Terus terang, saat mendengar tema ini, yang saya pikirkan hanya tentang “berbagi” yang berkaitan dengan social media. Yap, yang ada dalam pikiran saya adalah ini:

Berbagi = Share

 

(Entahlah tulisan kali ini apakah akan nyambung dengan tema atau tidak. Hehe.

– – –

 

Di era social media seperti saat ini, banyak sekali saya temukan berbagai informasi dari hal  yang penting, kurang penting, hingga nggak penting sama sekali. Bahkan ke dalam tingkat yang lebih ekstrim lagi, akan semakin ditemukan juga berbagai macam berita “berat” yang terkadang saya ataupun kita belum tahu kebenaran akan isi berita tersebut.  Bahkan bisa jadi malah, banyak berita yang sudah saya baca, yang saya mengira selama ini adalah berita atau informasi benar, ternyata setelah berselang beberapa waktu, terbukti bahwa berita atau informasi tersebut ternyata adalah salah, alias hoax. Ngeri! Hi…..

Nah, akan tetapi sat ini saya sedang tidak ingin menulis tentang hal-hal “berat” demikian, melainkan ingin bercerita tentang pengalaman atau setidaknya perasaan yang saya alami saat menggunakan social media sejauh ini.

 

– – –

 

Platform social media saat ini bermacam-macam, ada Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Bahkan aktivitas blogging seperti ini juga dapat dikategorikan sebagai social media. Pada intinya kan, social media itu merupakan media yang bersifat maya, yang dapat berfungsi secara sosial, atau dapat menghubungkan dan berinteraksi antar satu individu dengan individu-individu lainnya dalam berbagai tempat dan waktu berbeda secara bersamaan. Mungkin seperti itu.

Di dalam penggunaan social media-social media ini, makin banyak individu bermunculan yang berekspresi dengan sekreatif-kreatifnya dan sebebas-bebasnya, termasuk saya. (walau saya tidak kreatif sih, yang penting mah upload, haha) Kehidupan atau kegiatan sehari-hari pun saling dibagikan, minimal ke dalam lingkaran pertemanan terdekat. Nah, di sinilah jika semakin addict di dalam penggunaan social media, maka masalah baru akan muncul jika tidak pandai dalam bermain social media. Apa itu?

 

Yup, perasaan hati yang semakin tidak menentu jika melihat postingan milik orang lain.

 

– – –

 

Hal ini pernah saya alami beberapa waktu lalu. Mudah-mudahan insyaaAllah kalau sekarang ini, sudah mulai bisa move on  dan sudah mulai bisa menata hati. “Gejala” yang tidak beres saat awal-awal dulu ketika mulai muncul Twitter, di mana kalau kata sebagian orang, media tersebut seperti mini blog, karena kita dapat mengungkapkan hal apapun, yep, a-pa-pun yang ada dalam benak kita, yang terkadang bahasan yang diungkapkan tersebut tidak di-filter sama sekali. Pokoknya yang penting ngomong! Haha.

Kalau dapat dibilang, masa-masa itu adalah masa-masa alay saya di mana saat sedang nge-tweet rasanya itu seperti “pede tingkat dewa” kalau buah pemikiran yang saya ungkapkan saat itu adalah benar, bahkan berasa paling benar. Media tersebut kalau kata sebagian orang juga, sebagai “pengganti” update status yang kepengen sering-sering seperti yang suka dilakukan sebelum-sebelumnya pada Facebook maupun Friendster.

Saat itu sebenarnya juga ada media lain yang dapat berfungsi juga seperti Twitter, yaitu media Plurk. Namun platform yang satu itu kurang begitu populer dibandingkan dengan Twitter.

 

Semakin berjalannya waktu, menggunakan Twitter semakin tidak ada rem-nya dan mulai merambah ke area baper, alias bawa perasaan. Misalnya, si A bilang tentang sesuatu, kemudian si B membaca dan si B pun merasa kalau si A sedang membicarakan tentang dirinya, yang padahal belum tentu si A sedang membahas tentang si B. Dan akhirnya muncullah yang namanya tweet-war, alias saling berbalas pantun. Yang tadinya si A tidak bermaksud menyinggung si B, kemudian karena melihat si B update status yang “rasanya” berkaitan dengan status si A sebelumnya, maka si A pun mulai “membalas” dengan update status terbaru yang bersifat lebih ke arah “pembelaan”. Duh!

 Benar-benar tidak sehat. Saya sebagai penonton terkadang jadi jengah membacanya, bahkan malah saya pun pernah mengalami baper tersebut. Nggak banget deh gan!

 

– – –

 

Berikutnya adalah ketika media Instagram mulai muncul. Namun saat masa-masa awal Twitter, saya belum menjadi pengguna aktif Instagram, bahkan saat itu sepertinya belum punya akun social media tersebut.

 

Malah terdapat media lain dengan lilngkaran pertemanan lebih kecil yaitu Path. Nah, mengingat saya “mulai sadar” ada yang salah dalam diri saya dalam ber-social media, maka saya putuskan saat baru beberapa bulan menggunakan Path, langsung saya putuskan uninstall aplikasi tersebut dan menghapus akun Path milik saya selama-lamanya. Saat itu bahkan lingkaran pertemanan masih dibatasi dalam jumlah 150 orang teman saja, dan saya pun sudah memutuskan untuk tidak ikut-ikutan menggunakan social media tersebut. Kini kabarnya bahkan dapat menambahkan daftar teman mencapai 500 orang teman dalam social media Path.

 

Fyuuuh…

 

– – –

 

Kembali lagi ke dalam social media Instagram. Saya lupa di tahun berapa tepatnya, saat itu saya merasa pengguna Facebook semakin banyak yang tidak aktif. Dan saya melihat banyak yang berpindah ke Path, di mana banyak yang meng-link­­-kan status Path pada akun Facebook mereka. Dan saya mulai berpikir untuk mulai “bermain” Instagram, walau sebenarnya saya awalnya tidak terlalu paham bahkan tidak tertarik dengan media satu ini. Sebelum mulai “serius” bermain Instagram, saya putuskan untuk menghapus akun Twitter saya selama-lamanya. Yep, selama-lamanya.

 

Berhubung dalam Twitter tidak ada istilah “deactivate sementara”, hanya ada pilihan “hapus akun”, maka saya putuskan untuk memilih lebih baik dihapus saja. Lebay-nya saat dulu memutuskan untuk menghapus akun Twitter, rasanya kok beraaat sekali ya, wkwkwk. Lebay! Namun berjalannya waktu, eh ternyata biasa saja tuh tidak punya Twitter. Hehehe…

 

Balik lagi ke Instagram.

(et dah, dari tadi mau bahas Instagram kagak jadi mulu, haha) 😀

 

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk “ikut-ikutan” membuat akun Instagram. Saya ingat sekali saat itu adalah masa-masa awal saya menikah dan masa-masa awal saya juga bekerja dan ikut pasangan hijrah ke ibukota.

 

Ternyata di Instagram, rasanya semakin gila! Lebih gila! Jika dibandingkan dengan platform-platform lain yang sudah saya “icipi”. Di sini banyak sekali yang narsis, temasuk saya. Wkwkwk. Bahkan dapat dikatakan saat itu rasanya ada perasaan “tidak mau kalah”. Wkwkwk, itu benar-benar pikiran gila se-gila-gilanya. Bahkan dapat dikatakan sepanjang bermain Instagram, sepertinya lebih sering muncul perasaan “pengen deh seperti si C atau si D agar dapat dilihat juga”, walau terkadang di tengah-tengah kembali “eling” alias inget kalau punya perasaan demikian itu sangat-sangat tidak baik, bahkan cenderung sangat buruk! Hehe.

 

Terutama, saat melihat momen-momen kebahagiaan milik orang lain pada orang-orang tertentu, yang terkadang entah bagaimana ceritanya, bisa “mengusik” perasaan hati saya.

 

Yep, it happened! Wkwkwk. Sedih sekali kamu gan!

 

– – –

 

Dulu saya sempat punya pemikiran, jika ingin men-share sesuatu dalam social media kita, ada baiknya melihat-lihat terlebih dahulu situasi dan kondisi bagaimana teman-teman dalam lingkaran pertemanan social media tersebut. Menurut saya saat itu, ibaratnya manusia, harus sering-sering memiliki rasa empati terhadap sesama. Belum tentu kondisi yang sedang saya alami, dapat pula dirasakan pula oleh orang lain atau orang-orang di sekitar kita. 

 

Well, saya yakin saat itu pemikiran tersebut juga didorong oleh rasa nafsu iri yang besar ketika saya melihat apa yang sedang di-share oleh orang lain, dalam arti bahkan diantaranya adalah teman-teman saya.

 

Berjalannya waktu, saya semakin sadar kalau ada yang salah dengan apa yang saya rasakan. Benarkah ikut campaign bahwa sesama manusia harus saling menghormati dan harus memiliki rasa simpati dan empati? Ataukah hanya perasana cemburu belaka?

 

Saat itu masa-masa yang sangat aneh  bagi saya. Rasanya saya ingin segera memiliki semuanya. Puncaknya adalah ketika saya dan pasangan mulai memasuki usia pernikahan dua tahun jalan tiga tahun, dan kehamilan tak kunjung datang. Rasanya hari-hari terasa berat dan hopeless, terutama saat melihat milik orang lain.

 

Beruntunglah masih belum terlambat, seperti yang sudah pernah saya tulis juga dalam tulisan ini. Berjalannya waktu saya semakin sadar, bahwa benar, ketika saya semakin iri, maka saya semakin tidak fokus pada kehidupan saya. Segala kesempatan baik, bahkan rejeki baik pun rasanya tidak ada yang mau mampir ke dalam kehidupan saya. Saya lupa bahwa hidup saya sudah terlalu banyak kenikmatan yang seharusnya banyak-banyak disyukuri. Pada akhirnya, semakin bertambahnya waktu, saya semakin terus dan selalu belajar untuk bisa bersabar, untuk bisa ikhlas, dan move on.

 

120756-Positive-Mind-Vibes-Life
(Source: http://www.lovethispic.com)

 

Mudah-mudahan pemikiran dan perasaan positif seperti ini akan dapat terjaga. Saya merasa bahwa hal ini sudah sangat-sangat gawat jika saya teruskan untuk trying to be somebody elses. Sampai-sampai niatan hati untuk mencoba move on seperti ini, yang membuat saya  men-deactivate akun Instagram lama saya, di samping juga sekarang mulai banyak campaign bahwa muslimah sebaiknya (atau bahkan dilarang) untuk  meng-upload foto-foto diri mereka karena akan ada kemungkinan dilihat oleh orang banyak, bahkan oleh non-mahram-nya. Namun untuk hal tersebut, saya masih meyakini bahwa semuanya tergantung kepada niat­-nya bagaimana. Akan tetapi, siapa yang tahu isi hati seseorang kan. Hehe.

Saya pun semakin fokus pada aktivitas jualan online saya yang memang juga masih menggunakan media Instagram untuk berjualan. 

 

Pada akhirnya, saya pun semakin dan sangat meyakini bahwa, jika semakin saya iri dan cemburu dengan hal-hal yang dimiliki oleh orang lain, di mana hal-hal yang dimiliki oleh orang lain tersebut adalah hal-hal yang memang benar yang saya inginkan, malah akan semakin menutup rejeki-rejeki yang justru seharusnya dapat datang kapan saja ke dalam kehidupan saya. Semakin saya iri, maka semakin tertutup rejeki milik saya.

 

Dan sebaliknya, saya pun sangat yakin. Semakin saya mengurangi rasa iri dan rasa cemburu yang sebelumnya mungkin sangat menggebu-gebu, entah bagaimana cerita, rasanya hidup terasa semakin ringan, dan rejeki-rejeki malah banyak yang datang ke dalam kehidupan saya dan datangnya pun tidak diduga-duga. Saya saaangat yakin itu! At least I feel I’ve experienced itA lot. 🙂

Semakin banyak bersyukur, maka Tuhan Akan Melipat Gandakan nikmat-Nya. 🙂

– – –

 

Jadi kesimpulannya?

 

Kembali kepada pribadi masing-masing. Lagipula tulisan ini hanyalah tulisan curhat colongan belaka. Dan ini adalah murni pendapat dari pandangan pribadi tentang penggunaan social media di mata saya dan murni pendapat saya tentang apa-apa saja yang do and don’ts to be shared.

 

Terakhir, ingat. Jangan iri, itu berat! Just be yourself and always be the original you. 🙂

 

 

 

Pondok Pinang, 11 Februari 2018

20.15 WIB

 

 

 

 

Advertisements
AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.

– – –

Kembali kepada nasehat positif tadi, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga. Ya, saya masih dan akan selalu yakin dan percaya demikian.

Source: https://www.jiujitsutimes.com/


Misal, dalam suatu tes atau ujian sesuatu. Ada sebagian orang pada mulanya grogi, nervous, nggak yakin, ketakutan, dan sebagainya. Akan tetapi karena akhirnya mereka yakin dan telah bersungguh-sungguh dengan ikhtiarnya masing-masing, yakin bisa, yakin mampu, kemudian semakin hari semakin positif semangat dan pikirannya, ternyata benar-benar membuahkan hasil, mereka pun lolos ujian!

– – –

Bahasan berikutnya, terkait dengan artikel-artikel yang suka beredar luas di masyarakat dan berdasarkan penelitian-penelitian psikologi oleh para ahli.

Misal, mungkin pernah ada yang mengatakan, “wajar”, namanya juga hidup berpasangan, apalagi dalam kehidupan berumah-tangga, berantem-berantem begitu itu “wajar”, bisa jadi bumbu asem-manis kehidupan berpasangan dan biar bisa jadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk ke depannya atau bahkan dapat diceritakan kepada anak-cucu kita.

Akan tetapi, kalau bisa nggak perlu berantem-berantem, kenapa harus “memaksakan” untuk berantem.

Terkadang stereotype-stereotype yang umum dan berlaku “pada umumnya” di masyarakat, yang dianggap “wajar” dan “biasa”, nggak perlu dijadikan “trend” juga atau beranggapan “ini lho track yg udah bener” atau “berarti kalau kamu “begini” itu sudah wajar lho“, dan sebagainya.

Terkadang artikel-artikel hasil penelitian dunia psikologi untuk sebagian (kecil) orang memang nggak cocok.

Misal lagi, ada yang mengatakan “wajar”, ibu hamil kan pasti ngidam. Tapi nyatanya, untuk sebagian orang ternyata “perasaan ngidam” tersebut nggak muncul sama sekali sampai mereka melahirkan.

(bahkan dalam hal ini, Ibu saya yang orang Biologi murni, bilang, kalau “trend ngidam” ini hanya fenomena “ikut-ikutan” dan bahkan hanyak “efek pengaruh pikiran”, karena para ibu hamil ini senang membaca artikel-artikel terkait ngidam, dan berdasarkan pengalaman Beliau, anak sampai 3 begini, nggak pernah ngidam sama sekali, yang membuat saya malah bertanya-tanya “kok bisa Bu? wow”)

Kemudian ada lagi artikel yg mengatakan, untuk kehidupan berpasangan, nanti di usia mencapai 5 tahun ke atas, pasti akan muncul rasa bosan dan akan dimulai berantem-berantem kecil dan itu adalah “wajar”. Tapi nyatanya, banyak juga yang ternyata pasangan yang sudah hidup bersama selama 10 tahun ++, bahkan 20 tahun ++, nggak pernah sama sekali berantem, nggak pernah sama sekali merasa bosan, bahkan “dipaksa” untuk menciptakan “adegan” berantem pun, gagal juga, alias bener-bener nggak bisa berantem sama sekali. Nah lho.

– – –

Kalau nggak salah, cmiiw, di setiap penelitian-penelitian psikologi-psikologi tersebut biasanya pakai angka persentase-persentase. Misal, ingin membuktikan kondisi “begini (X)” pada masyarakat yang dianggap “umum” dan “wajar”, yang kemudian diharapkan hasil kondisi “begini (X)” memiliki persentasi paling besar mendekati mayoritas dari random sampel yang diambil. Akan tetapi kemudian terdapat catatan, bahwa kondisi “begini (X)” mengandung kesan atau konotasi negatif.

Misalnya seperti ini, diadakan suatu penelitian tentang tema sesuatu hal, yang penelitiannya sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang juga oleh para ahli dengan tema yang sama, kemudian menunjukkan hasil seperti ini:

86% orang itu ternyata memang “begini (X)” dan 14% lainnya “begitu (Y)”. Maka muncul stereotype “umum”, “oh wajar” kalau misal mengalami kondisi X. Padahal, sekali lagi padahal, kondisi X adalah kondisi dengan kesan negatif.

Kenapa harus memaksakan diri menjadi bagian yang 86% tadi yang “umum” dan dianggap “wajar” berlaku dalam masyarakat yang padahal merupakan sesuatu hal yang berkesan negatif?

Kalau kita bisa menjadi atau bahkan naturally menjadi bagian yang 14% yaitu kondisi Y dan memang golongan 14% ini merupakan sesuatu hal dengan kondisi yang positif, kenapa tidak?

– – –

Saat ini saya masih dan selalu percaya dengan kekuatan pikiran. Apa yang kita jalani, alami, dan lalui merupakan hasil buah pemikiran kita sendiri dan sesuai apa yang kita percayai. Dan saya masih dan akan selalu percaya nasehat para bijak yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, di mana, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

– – –

Well, hidup cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dan sepositif-positifnya.

Source: https://www.successconsciousness.com/

– – –

Sama seperti yang sedang saya alami (eeaaa curcol). Saya yakin dan masih akan selalu yakin, Tuhan Bukan Tidak Percaya kepada kami, bukan, melainkan Tuhan Mempersiapkan waktu terbaik-Nya, dan saya sangat yakin kalau kami punya kesempatan yang sama dengan yang lain.

Andaikata pun, na’udzubillahimindzalik, sampai nanti di penghujung waktu masih “belum kejadian” juga, maka saya yakin, Tuhan Memang Punya Rencana Terindah untuk kami berdua dan mungkin Tuhan Memang Mempercayakan kami untuk suatu hal lainnya yang memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih. Dan toh pun jika benar demikian, na’udzubillahimindzalik, mungkin sudah beberapa masa yang kami lewati, di usia panjang kami insyaaAllah (aamiin) dan mungkin juga sudah beberapa aksi atau kegiatan positif yang sudah kami kerjakan, lalui, dan jalani, dan mudah-mudahan bisa bermanfaat juga.

Setidaknya juga, jika benar sampai di penghujung waktu nanti kami masih “belum-belum juga”, na’udzubillahimindzalik, setidaknya, kami pasti sudah berusaha semaksimal kami bisa, berbagai ikhtiar dan cara pasti sudah kami coba, dan tentu saja tidak akan ada penyesalan dan rasa kecewa sedikit pun kepada-Nya, karena rasa kecewa dan rasa sesal yang muncul adalah jelas bisikan setan.

Lagian, masa’ kita mau marah dan benci kepada Sang Maha Pencipta kita? Ya nggak to.

So jadi, tetap dan berusaha selalu positif. Kondisikan pikiran agar selalu positive thinking. InsyaaAllah “bonus”-nya pasti juga positif. (dan mudah-mudahan “positif” beneran, eeaaa, aamiin) 😀


– – –

X-Trans Arah Bandung,

23 September 2017

08.25 WIB

Family & Friends, Learn About Islam, Life

6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016

Family & Friends, Learn About Islam, Life

Visiting the Sick

This writing is inspired by the time when me and office mates visited our Big Boss who had to be stayed for days in the hospital. I saw his wife told us a little bit displeasure when some of her husband’s friends came to visit him then took some photographs of him. She said it would bother him by spreading the information of his sick among his friends. She said they shouldn’t have taken the husband photograph and shared it to his friends. Despite the fact that my Big Boss was no objection about it. But I saw it as a form of an attention and an affection from the wife to the husband.

 

It has to be noted when you wanted to visit one of your friend or colleague or even family who’s in unhelthy condition so then he/she should have a bedrest time at home or at hospital.

We have to understand why almost all hospitals adjust their tight schedule for patients’ guests who want to visit them. You may see that commonly hospitals have two times for visitors schedule. Usually it happens at noon between 11.30 – 12.30 (lunch time) and at evening between 17.00 – 19.00 (dinner time). But sometimes most of us didn’t pay attention with the rules just because we feel as part of the family which actually we’re not in the main family member or we’re the patient’s close friend, etc.

 

Visiting the sick is a very good action and good suggestion to do, especially if the sick is someone you close with, like family, friend, or colleague. Even in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassalam said,

“When a Muslim visits his sick Muslim brother in the morning, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the evening. And when he visits him in the evening, seventy thousand angels make dua for his forgiveness till the morning, and he will be granted a garden for it in Jannah.” (HR. at-Tirmidzi and Abu Daud)

The other Hadith of Our Beloved Prophet that mention about visiting the sick is a Sunnah:

“Whoever visits a sick person (for the pleasure of Allah), a Caller from the skies announces: You are indeed blessed and your walking is blessed and you have (by this noble act) built yourself a home in Jannah.” (HR. Ibnu Majah)

And still, don’t forget and always to remember when we visit the sick is we have to follow the rules that might be held by the hospital or if the sick stayed at home then the rules were held by the host.

The simply action you can do is to be polite, do not make any noisy thing, and do not stay for a long time to let the sick continues his/her bedrest time.

Even also in a Hadith of Our Beloved Prophet Muhammad Sallallaahu’alaihi Wassallam that related by Hadrat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu’anhu:

“It is part of the Sunnah that when you visit a sick person, you should shorten your visit to him and make the least amount of noise by him.”

 

– – – – –

grandma-kissing-grandpa-elderly-couple-love-eps-illustration-46330886

The other wisdom that I could take from the moment is the couple was looked nice, happy, and seemed that they always live in peace and never had fight on each other. They’re still romantic on that age. (it showed when they did their conversation and a little movement of their hands when they touched each other in front of us)

And my prediction of my Big Boss and his wife ages are among 60s.

Incredibly beautiful, isn’t it?

 

– – –

11.00 WIB

Matraman, 26.03.2016

 

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (4)

Bertemu lagi dengan catatan hati mengenai konsep rejeki yang memang Tuhan telah persiapkan ke dalam kehidupan setiap insan di dunia. Dan di dalam pemahaman ini terkandung nilai religius yang semakin untuk bisa  eling, semakin untuk ingat selalu kepada Sang Pencipta bahwa Ia Tidak Akan Pernah Salah.

 

Memulai tahun 2016 ini, saya memutuskan untuk “menghilang” sejenak dari salah satu akun social media yaitu facebook, lebih tepatnya akun lama fb saya dan memutuskan untuk membuat lagi yang baru. Entahlah, semua hanya terdorong oleh perasaan “tidak enak” terhadap orang lain. Apalagi terutama apabila, mengalami masa transisi yang dirasa lumayan dalam hal kehidupan lingkungan sekitar. Sebelumnya saya juga sudah melakukan  “menghilang” secara utuh dari social media bernama path. Saya dulu berpikir, path ini betul sangat eksklusif ke dalam beberapa orang saja dalam lingkaran pertemanannya, namun saya merasa “ada yang kurang pantas” dari path ini. Lalu apa bedanya dengan grup-grup yang sudah terbentuk, misal di whatsapp atau line atau bbm dengan si path ini.

Pada intinya, mungkin betul, tidak semua orang bisa menerima apa yang kita keluarkan dari pikiran kita yang biasa kita tuangkan dalam setiap posting di social media milik kita, walaupun pada istilahnya itu adalah kita “menyampah” pada halaman rumah sendiri, belum tentu orang yang melihat juga turut senang.

 

quote

 

Anyway, kembali ke dalam konsep rejeki Tuhan.

Pada suatu kesempatan, saya kembali membuka lapak authentic di beberapa grup di facebook dengan menggunakan akun baru, di mana kondisinya saya tidak memasang profile picture. Dan kondisinya pada masa itu adalah sedang sering terjadi beberapa kejadian mengenai seller “bodong” yang pada akhirnya membuat banyak orang menjadi latah jika ingin bertransaksi dengan beberapa orang baru bagi mereka, para calon pembeli dari beberapa seller ini akan melakukan sesi “klarifikasi ke-trusted-an” yang biasanya suka dilakukan di halaman grup.

Namun entah memang karena memang sudah merupakan rejeki bagi saya, saya mendapatkan kesempatan yang mengesankan & membuat meningkatkan keyakinan bahwa Tuhan Maha Adil dan Tidak Akan Pernah Salah. Alhamdulillah dengan tanpa ba-bi-bu, kedua orang calon customer saya saat itu langsung melakukan transaksi terhadap saya tanpa harus klarifikasi ini dan itu di halaman grup.

 

Saya semakin yakin apa yang sudah saya putuskan pada akhir 2015 lalu untuk mencoba “bertransformasi” menjadi pribadi yang lebih baru lagi ternyata keputusan yang benar. Saya yakin Tuhan Yang Telah Menuntun saya untuk melakukan hal tersebut. Maksud saya, walaupun ini adalah akun baru, bukan berarti Tuhan Menutup Jalur Rizqi saya di dalam usaha berdagang secara online ini.

 

– – – – –

23.03.2016

11.15 WIB