Entertainment, Hobby, Public Transportation, Review Hotel, Traveling

Setelah 28 Tahun, Akhirnya Ke Bali Juga! – Part 1

Hai hai hai internet!

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman liburan PERTAMA saya ke Bali, yes PERTAMA! Woohoo! Too much excitement ya? Haha. Maklum, coz ini benar-benar yang akhirnya gue ke Bali juga! Di saat hampir seluruh penduduk dunia sudah mencicipi keindahan Bali, lah gue, baru bisa ngerasain pas di usia 28 tahun gini. Wkwk. 😀

Oke, oke, let’s back to the story.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita rasanya berlibur dengan perasaan “plus-plus” dikarenakan dari pengalaman merasakan harga tiket pesawat sampai harga hotel yang super relatif murah yang berhasil saya dapatkan. Saya seperti merasa “sangat beruntung” alias merasa “tidak rugi” dikarenakan harga yang super relatif murah tersebut. 

Mungkin pengalaman berlibur ke Bali kali ini akan saya buat ke dalam beberapa tulisan. Seperti pada Part 1 ini, saya ingin bercerita pengalaman terbang bersama salah satu maskapai yang ada di Indonesia, kemudian pada Part 2 saya akan kembali melakukan review terhadap hotel tempat saya dan suami tinggal selama berlibur, dan baru pada Part 3 (maupun part-part selanjutnya) saya akan bercerita aktivitas-aktivitas apa saja yang kami lakukan selama di Bali.

So, cekidot gan!

 

 

– – – – –

 

Jadi, di Bulan Mei 2018, ada long weekend jelang puasa, di mana hari Jumat-nya adalah HarPitNas alias Hari Kejepit Nasional. Long Weekend tersebut jatuh pada tanggal 10 – 13 Mei 2018, berturut-turut dari hari Kamis sampai dengan hari Minggu. Saya dan suami memutuskan sekitar 1 bulan sebelumnya, untuk pergi berlibur ke Bali pada tanggal-tanggal tersebut. Dan tentu saja suami mengambil cuti pada hari Jumat tanggal 11 Mei 2018 tersebut. Yeay!

 

– – – – –

 

 

Terbang Naik Citilink

Well, saya sebenarnya sedang tidak mempromosikan maskapai tersebut. Hehe. Namun, berhubung pada berita-berita di waktu-waktu sebelumnya, di mana salah satu nama maskapai sedang banyak diberitakan karena perilaku buruknya, alias banyak yang mengalami pengalaman buruk ketika terbang bersamanya, walaupun sebenarnya harga tiket maskapai tersebut juga termasuk relatif murah, maka saya putuskan untuk terbang bersama si Citilink ini.

Akibat berita-berita yang tidak enak tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil opsi terbang bersama “anaknya” Garuda Indonesia, yaitu si Citilink ini. Selain faktor rasa aman dan nyaman karena maskapai ini satu perusahaan dengan Garuda Indonesia, saya juga berpikir kalau maskapai ini juga tetap akan disiplin, tidak akan ada drama ­delay-delay, walaupun nantinya akan ada kondisi yang dapat memungkinkan terjadinya peristiwa delay.

Pada mulanya, kami hunting tiket pesawat melalui aplikasi travel online semacam traveloka dan tiket[dot]com untuk maskapai Citilink ini, di mana ditemukan bahwa harga termurah di angka 1,3 juta-an untuk sekali penerbangan dari Jakarta menuju Bali. Wow! Padahal saat itu kami melakukan pencarian pada masa sekitar 1 bulan-an sebelum jadwal keberangkatan.

 

Pesimis.

 

Hanya itu yang saat itu saya pikirkan. Sempat berpikir untuk “nekat” mengambil tiket Garuda Indonesia sekalian, jika memang harga Citilink saja sebegitu mahalnya.

 

Namun…..

 

Saya baru kepikiran tentang sesuatu beberapa hari setelahnya. Saya baru kepikiran dan teringat kalau maskapai Citilink pasti punya aplikasi mandiri sama seperti “orang tua”-nya. Yep. Saya pun segera menuju play store, kemudian langusng meng-install aplikasi Citilink pada handphone saya. Dan……….JENG-JENG! Surprise! 😀

Saat saya melihat pada aplikasi, saya  pun akhirnya menemukan angin segar yang saya tunggu-tunggu dari hari-hari sebelumnya. Saya pun menemukan harga tiket termurah dari Citilink pada tanggal-tanggal yang saya inginkan!

 

Yeay!

 

Saya melihat harga tiket HANYA 500 ribu-an untuk sekali penerbangan dari Jakarta menuju Bali, yang padahal sedang musim high season, seperti musim long-weekend kemarin. Saya memilih tanggal 10 Mei 2018 sebagai hari keberangkatan kami, dan tanggal 13 Mei 2018 sebagai tanggal kepulangan kami dari Bali menuju Jakarta kembali. See? Tanggal-tanggal yang secara kasat mata udah pasti kelihatan kan, gimana bakal mahal-mahalnya tiket penerbangan untuk destinasi favorit liburan seluruh masyarakat Indonesia itu?

Namun, ada catatannya nih.. Hehe. Harga tiket termurah tersebut hanya terdapat pada jam-jam tertentu saja. Seperti saat keberangkatan dari Jakarta menuju Bali di tanggal 10 Mei 2018, harga tiket termurah HANYA terdapat pada jam keberangkatan pukul setengah 2 siang WIB. Dan untuk kepulangannya kembali dari Bali menuju Jakarta di tanggal 13 Mei 2018-nya, tiket termurah HANYA ditemukan pada jam setengah 9 malam WITA dan setengah 10 malam WITA (kalau tidak salah ingat). Kebetulan kami membeli tiket kepulangan Bali ke Jakarta yang pukul setengah 9 malam WITA.

Penampakan berikut ini adalah screenshot pencarian saya pada saat tanggal 14 Maret 2018. Namun sayangnya pada layar handphone tidak tertera tanggal di mana saya benar-benar mencari pada tanggal tersebut.

 

Screenshot Pencarian Tiket Penerbangan (1 Tiket) di Tanggal 14 Maret 2018

 

Pada gambar di atas sudah menjelaskan, terdapat maskapai penerbangan lain selain Citilink yang termurah yang ada, dari suatu aplikasi travel online. Mengapa saya melingkari AirAsia? Yep, hal ini karena saat itu si Citilink menunjukkan di angka 1,3 juta-an, yang tentu saja tidak mungkin saya pilih. Opsi pertimbangan ya hanya si AirAsia saja saat itu (tanggal 14 Maret 2018).

Saat itu memang tidak langsung membeli, dikarenakan saya masih berpikir bagaimana caranya agar mendapatkan tiket pesawat dengan harga yang jauuuh lebih murah lagi. Hmmm.

Maka, terjadilah juga di kemudian hari tersebut, di mana saya yang pada akhirnya meng-install aplikasi Citilink pada handphone. Dan TARA…..! Dapatlah harga tiket per sekali terbang per orang yang HANYA 500 ribu-an saja. Yeay!

 

Screenshot Tiket Penerbangan (2 Tiket) Jakarta ke Bali Hasil Hunting Tanggal 20 Maret 2018

 

Screenshot Tiket Penerbangan (2 Tiket) Bali ke Jakarta Hasil Hunting Tanggal 20 Maret 2018

 

– – – – –

 

 

Pengalaman “Hampir” Delay Saat Penerbangan dari Bali ke Jakarta dengan Citilink

Kami pulang ke Jakarta dari Bali pada hari Minggu-nya di tanggal 13 Mei 2018, dan tentu saja dengan menggunakan Citilink kembali.

Terdapat sebuah kejadian yang cukup membuat bete saat akan penerbangan malam kala itu. Bagaimana tidak? Listrik di area bandara padam! Beugh! Bandara bo, bisa mati juga ya listriknya. Dan benar saja, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Antrian pada counter check in pun mengular!

Kami dijadwalkan terbang sekitar pukul setengah 9 malam WITA. Namun saya dan suami beruntungnya sudah sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai sejak pukul 6 sore WITA. Tepat saat kami baru masuk dan selesai pemeriksaan menggunakan mesin X-Ray, listrik padam sesaat dan kemudian menyala lagi. Mungkin saat itu untuk penerangan menggunakan genset yang menyala secara otomatis jika terjadi mati listrik. Namun, tidak untuk sistem. Nah lho!

Kami pun segera menuju counter Citilink untuk melakukan check in dan pengambilan boarding pass. Kami memang lupa untuk melakukan check in mandiri sehari sebelumnya dikarenakan memang benar-benar lupa dan mungkin karena keasikan berlibur kali ya.

Berhubung tidak ada barang yang akan dimasukkan ke dalam bagasi, maka, hanya suami saja yang mengantri pada barisan. Beruntunglah Beliau mendapatkan urutan awal-awal sekali. Saya pun menunggu di belakang.

10 menit, 20 menit, 30 menit, ….. sampai akhirnya 60 menit kemudian, belum ada tanda-tanda suami mendapatkan boarding pass kami. Duh! Padahal kala itu jam sudah hampir menunjukkan pukul setengah 8 malam WITA.

Namun tidak lama setelah saya menyadari bahwa suami sudah mengantri selama 1 jam-an, akhirnya Beliau pun datang dan membawa boarding pass kami.

 

[skip]

 

Saya ingin bercerita saat saya sedang menunggu suami mengantri.

Suasana saat itu benar-benar paaadettttt bangettttt. Antrian check in saaangaaaaattttt panjang! Sayang saya benar-benar LUPA untuk mendokumentasikan suasana kala itu dikarenakan sudah terlanjur bete karena merasa sudah menunggu cukup lama.

Kebetulan juga, saat saya menunggu di bagian belakang antrian, tempat saya menunggu itu dekat dengan gerbang check in yang ditutup sementara akibat dari mati listrik yang menyebabkan sistem pun mati. Padahal gerbang tersebut yang digunakan oleh calon penumpang seluruh maskapai (kecuali Garuda Indonesia, cmiiw).

 

Dan…..berulang kali saya melihat calon penumpang maskapai sebelah yang “sudah terkenal bermasalah” itu, menuju gerbang tersebut namun hanya mendapat tolakan halus dari para petugas yang menjaga dan mengarahkan mereka untuk menuju ke gerbang check in milik Garuda Indonesia. Jadi, dikarenakan sistem yang masih mati tersebut, seluruh calon penumpang maskapai apapun, saat akan masuk menuju ruang tunggu, harus “nebeng” melalui gerbang-nya Garuda Indonesia.

Kebetulan pada 1 jam-an tersebut saat sistem masih mati, yang terlihat heboh hanya calon penumpang maskapai “yang sudah terkenal bermasalah” tersebut. Baaanyak sekali yang kena “ping-pong” oleh petugas untuk menuju ke gerbang-nya Garuda Indonesia. Ada yang woles menanggapi arahan dan penjelasan petugas, ada yang sedikit bete, sampai ada yang marah-marah (beneran marah) ke petugas yang berjaga. Wadaw banget memang kalau melihat chaos­-nya suasana malam hari itu.

 

– – – – –

 

Nah, kembali ke cerita suami yang sudah berhasil mendapatkan boarding pass tadi.

Jadi, kenapa Beliau lamaaa banget dapetin itu boarding pass, ternyata, diharuskan mendahulukan rombongan yang akan terbang ke Bandara Halim Perdana Kusuma. Karena memang kebetulan sudah jam-nya mereka untuk segera boarding. Mendengar penjelasan ini, rasa bete saya akibat kelamaan menunggu pun berkurang.

Dan…..tidak lama dari kedatangan suami, gerbang check in untuk masuk ke area tunggu penumpang yang pada 1 jam-an sebelumnya tutup, AKHIRNYA dibuka juga. Fyuuuh… Jadilah kami tidak perlu repot-repot berjalan jauh menuju area Garuda Indonesia. Begitulah.

 

– – – – –

 

Satu kata: SALUT!

Yep, salut banget buat usaha Citilink  di dalam penanganan para customer-nya dalam keadaan chaos sekalipun. Mereka tetap mengedepankan TEPAT WAKTU lho saya rasa.

Tadinya kami pikir, kami pun akan ikut-ikutan delay seperti maskapai sebelah “yang sudah terkenal bermasalah” tersebut. Kenapa kami tau? Ya tentu saja dari pengumuman mbak-mbak yang kami dengar, kalau penerbangan mereka harus mundur dari jadwal yang seharusnya.

Berbeda dengan kami para pengguna Citilink.  

Baru sebentar kami duduk di ruang tunggu, namun memang sih, jam sudah hampir menunjukkan pukul di mana kami harus boarding, tau-tau sudah ada pengumuman kalau kami sudah harus masuk ke dalam pesawat. Wow!

Padahal beberapa menit sebelumnya masih terlihat beberapa crew Citilink yang mondar-mandir berteriak mencari penumpang tujuan Bandara Halim Perdana Kusuma yang belum masuk ke dalam pesawat. Heboh teriak-teriak gitu deh di area ruang tunggu.

Salutnya, kami tidak delay dan TEPAT WAKTU. Keren. Apresiasi yang bagus untuk Citilink deh!

 

– – – – –

 

 

Nah, sekian tulisan pada Part 1 ini.

Pada tulisan berikutnya, saya akan bercerita mengenai pengalaman menginap di hotel kami, yaitu Maharani Beach Hotel. Sekalian melakukan Review Hotel seperti yang suka saya lakukan pada tulisan-tulisan sebelumnya.

 

…..to be continued…..

Advertisements

5 thoughts on “Setelah 28 Tahun, Akhirnya Ke Bali Juga! – Part 1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s