Sebuah Renungan

Aku dulu kerapkali menanyakan kepada-Nya.
Mengapa Allah?
Mengapa aku tak seperti mereka, bepergian jauh ke pantai-pantai indah-Mu, sementara aku berkutat pada satu tempat demi sebuah harapan permulaan cita-cita?
Mengapa Allah?
Lalu, mengapa aku tak secepat mereka Ya Allah? Mengapa?

Dan…

Apakah mungkin ini jawab-Nya?
Sebagaimanapun rizqi yang kita pinta, kita pun harus beriman bahwasanya Dia Tak Akan Pernah Salah, Dia-lah Yang Mahatahu waktu terbaik.
Dan hingga detik inipun, aku masih belum percaya, dengan apa yang sedang aku lihat, aku alami.
Subhanallah…!

Diamlah.
Sadarilah.
Begitu banyak nikmat-Nya yang telah Dia Berikan.
Masih pantaskah aku mengeluh?
Masih pantaskah aku tidak bersyukur?

– – –

Makkah Al-Mukarromah, 28 Januari 2015
22.30

Dalam 1 Tahun

Hmmm. Sedang trend rupanya membuat sebuah kaleidoskop tahun 2014 di facebook. Fitur yang satu itu membantu setiap orang yang ingin “mengingat” kembali apa-apa yang sudah terjadi dan dilakukan dalam tahun 2014. (khususnya yang di-“link”-kan ke dalam facebook, hehe.)

Bukan, saya sedang tidak ingin menulis tentang fitur kaleidoskop tersebut. Saya pun ingin menulis pengalaman-pengalaman super yang tentunya patut disyukuri dalam 1 tahun terakhir ini.

– – –

1)

Well, tidak dipungkiri, usia pernikahan saya dengan suami telah menginjak usia 1 tahun lebih, dan ya, seperti pada umumnya, orang-orang sekitar kami pun mulai bertanya-tanya.

“Kapan?”

“Kok belum?”

Hahaha. Akhirnya kami pun merasakan digerundungi banyak pertanyaan-pertanyaan semacam itu sepanjang tahun ini, khususnya saya sebagai seorang perempuan. Dan paling banyak bersumber dari keluarga kami, ya…siapa lagi. Hihi.

Tapi entahlah. Perasaan kami entah mengapa masih saja “menganggap” santai dan yeah-let it flow aja deh. Walau memang, saya pernah berada dalam 1 titik “down” akibat mendadak panik karena belum juga. Tapi lucunya, setelah perasaan galau itu pergi, saya pun kembali bersenang-senang dengan kehidupan yang sedang kami jalani bersama-sama ini. Bahkan terkadang saya pun menyadari, perasaan-perasaan “santai” ini harus segera disembuhkan dan dihilangkan. Entahlah, bagaimana caranya. Mungkin karena kami sangat percaya, Allah Mahatau waktu terbaik untuk kami. Dan mungkin karena kami percaya, Allah sedang Memberikan Kesenangan sesaat dahulu sebelum mungkin kesibukan-kesibukan serius yang harus kami lalui nantinya. Ya, mungkin Allah sedang Mempersiapkan kami berdua. Positif saja kepada-Nya. Hehe.

Ditambah kedua orang tua kami yang menyikapi kondisi ini secara bijak, bahkan beliau-beliau tidak suka menyinggung-menyinggung atau mempersalahkan hal ini. Di satu sisi kami sangat bersyukur dengan kondisi seperti ini, namun sisi lain, kami juga harus segera bertindak untuk mengurangi rasa yang tidak-tidak.

– – –

2)

Dahulu sekali, saya pikir, bergabung dalam sebuah keluarga baru akan membuat diri menjadi tidak nyaman dan akan banyak sekali penyesuaian. Terutama di tahun-tahun awal sebuah kehidupan pernikahan dimulai. Ditambah dramatisasi artikel-artikel kebanyakan masa kini. Well, ternyata TIDAK! Ya, tidak begitu buruk adanya seperti yang dibayangkan.

Sudah 1 tahun lebih ini saya mengenal keluarga baru saya. Apa-apa yang saya bayangkan tentang kecemasan dan keburukan, benar-benar sirna. Beruntungnya saya memiliki Ibu Mertua yang sangat-sangat baik, kalem, dan sangat bijaksana. Ditambah saya sebagai seorang “outsider”-mungkin, karena saya sadar diri bukanlah siapa-siapa (ya, pikiran-pikiran buruk macam ini seringkali menghantui). Jika mungkin bukan karena Beliau, saya yakin, mungkin saya tidak akan bersanding dengan seorang Amir Muntaha untuk selamanya (kisah ini mungkin kelak akan saya tulis). :’)

Kondisi yang dibayangkan seperti apa kata artikel-artikel mainstream tentang ibu mertua, sungguh tidak tergambar sama sekali pada Ibu Mertua saya, alias Ibu suami saya. Tidak heran, anak Beliau ini (suami) adalah seorang yang sangaaaaat baik, sebaik didikan Ibunya yang super-duper luar biasa ini. Ditambah adik-adik ipar & Bapak Mertua yang baik juga humoris, terutama adik ipar perempuan saya yang benar-benar super ramah dan baiiiiik hati. Ah, lengkap sudah hidup ini rasanya. Pernah saya dibuat menangis terharu secara diam-diam hanya karena sebuah kebaikan Ibu Mertua saat saya usai berkunjung dari Semarang, kampung halaman suami. Ihiks! :’)

– – –

3)

Pengalaman sekali-kalinya dalam hidup tentang sebuah pernikahan model islami, akhirnya teralami juga. Saya pribadi, tentu sadar sebagai seorang jawa tulen (Bapak-Ibu saya), rasanya agak sukar jika ingin merealisasikan sebuah pernikahan yang tidak berbau Adat Jawa kental (ah ya, teringat hutang tulisan tentang Pernikahan Adat Jawa yang belum selesai-selesai). Walau pada saat akad nikah di Banjarnegara, Bapak saya mengkonsepkan pernikahan terpisah, saya muncul di majelis akad nikah setelah dinyatakan sah (matur suwun Bapake! ^-^ ). Saya telah diposisikan oleh Allah menjadi pasangan seorang pria keturunan Pakistan-Indonesia (atau dalam istilahnya disebut Koja), di mana keluarga besar memegang teguh nilai-nilai islami untuk dapat diterapkan dalam setiap aspek kehidupan. (InsyaAllah selamanya, allahumma aamiin!)

Beruntungnya, saya pun merasakan suasana pernikahan yang berbau islami seperti itu (walau hanya dalam resepsi unduh mantu). Salah satu contohnya adalah tamu undangan dipisah, antara laki-laki dan perempuan. Kemudian di area prasmanan, disediakan banyak kursi dengan tujuan para tamu undangan dapat menikmati hidangan dengan duduk (karena makan dengan duduk lebih baik daripada makan dengan berdiri). Satu lagi, di pelaminan pun, kami yang perempuan dan laki-laki terpisah juga, kedua Ibu saya berada di sayap saya, kedua Bapak saya berada di sayap suami. Begitulah, rasanya memang “aneh” pada mulanya. Namun acara-acara pernikahan berikutnya dalam keluarga besar suami membuat saya menjadi terbiasa. Ya, pernikahan islami. Seperti tradisi rebana-an (maulud) pada H-1 akad nikah di kediaman calon mempelai wanita yang benar-benar dalam kacamata saya, tradisi ini membuat saya merasa seperti sedang “berada di luar negeri, tepatnya di negeri timur tengah”, ya seperti rasanya. Baru, tapi sungguh beruntung.

– – –

4)

Keluarga besar suami mengajarkan dan memperlihatkan pada saya bagaimana seorang muslim yang dididik sejak kecil hingga dewasa dalam nuansa islami. Walau benar, dalam penerapannya dalam kehidupan dewasa (masa baligh dan seterusnya), akan kembali kepada pribadi masing-masingnya.

Saya belajar berjilbab lebar dan berpakaian longgar dari keluarga baru saya ini. Namun bukan berarti keluarga saya sendiri tidak mengajarkan, bukan. Ibu saya sering berjilbab lebar ke manapun beliau pergi, sebagai contoh untuk saya agar berpakaian tertutup dan tidak ketat. Namun apa daya diri saya yang masih terus belajar dan belajar yang mana masih sering tergoda oleh produk-produk fashion modern, membuat saya menjadi masih suka “setengah-tengah” hingga kini.

Saat masuk ke dalam suasana keluarga baru, terutama pada saat kunjungan pulang kampung, saya melihat saudari-saudari yang muda-muda & cantik-cantik tentunya, berpakaian lebar-lebar & berjilbab lebar-lebar. Ah senangnya. Sungguh nyaman dan anggun terlihat. Ternyata, bila pandai memilih, kita pun bisa terlihat anggun dan elegan ketika kita berjilbab lebar seperti itu. No pakaian ketat, no gamis ketat, plus jilbab lebar menutupi dada. Aih.

Saya mengakui untuk bagian ini mungkin bisa disebut sebagai tahapan “ketertarikan”, karena sekarang pun, saya masih suka ber-jeans ria saat melakukan aktivitas-aktivitas weekend saya. Saya rasa, karena mereka-lah, muncul ketertarikan untuk belajar berpakaian yang seharusnya.

– – –

5)

Kembali, artikel-artikel mainstream mengatakan bahwa, setelah menikah, kehidupan akan 180 derajat berbeda dibandingkan dengan kehidupan pada era “pacaran”. Well, nyatanya tidak tuh. Hehehe. *songong*

Entahlah, saya tidak mengerti mengapa. Saya merasa perbedaan antara “sebelum” dan “sesudah”nya adalah, jikalau dulu jumlah pakaian di lemari pakaian, sepatu di rak sepatu, piring, gelas, dll yang berjumlah hanya satu atau milik saya sendiri, kini bertambah menjadi dua kali lipatnya. Ya, mungkin “hanya” itu perbedaannya dengan kehidupan terdahulu. Hmmm.

Jika beberapa artikel mengatakan, seorang istri “di-warning” untuk bersiap-siap sabar apabila seorang laki-laki akan berubah menjadi “lebih berego”, nyatanya, hingga kini saya masih berdiri di belakang garis start kesabaran seperti yang dimaksudkan “bersiap-siap” oleh artikel-artikel psikologi tersebut. Hmmm, tapi. Mudah-mudahan kondisi seperti ini akan bertahan selamanya, hingga nanti kami telah berubah menjadi aki-nini. Aamiin!

– – –

Sekiranya hal-hal penting tersebut yang menjadi pengalaman-pengalaman seru dan baru yang terjadi dalam 1 tahun belakangan ini. Masih banyak hal lain yang rasanya ingin saya tulis. Tapi sepertinya waktu sedang memaksa untuk menulis sebagian dulu.

Salam.
Jakarta, 1 Januari 2015