Curhat Terbuka, Family & Friends, Hobby, Life, Travelling

Kenapa Jakarta?

“Kenapa Jakarta?”

Begitulah pertanyaan yang sering aku dengar dan aku dapat dari kerabatku.

 

Jakarta. Sebuah kota penuh impian. Sebuah kota yang kata banyak orang, adalah tempat di mana mimpi-mimpi untuk kehidupan dapat dimulai. Setidaknya, aku juga merasakan hal yang sama tentang perasaan itu terhadap Jakarta.

– – –

Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Source: http://www.instagram.com/mrs.ganis)

 

1. UMR Tertinggi di Indonesia

Dapat dikatakan, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, Provinsi DKI Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan UMR tertinggi di Indonesia. Untuk tahun 2018 ini saja UMR Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp 3.648.035,-.

Mungkin, ya mungkin, itulah salah satu alasan “Kenapa Jakarta?” ya karena hal tersebut di atas.

Oleh karenanya, Jakarta menjadi “surga” bagi para pejuang nafkah demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.

 

2. Teman-Teman SMA dan Kuliah 

Berjalannya waktu, aku pun ditakdirkan Tuhan untuk dapat mengenyam pendidikan tingkat SMA di Kota Bandung. Aku memang bukan asli Jawa Barat dan Jakarta, melainkan asli Jawa Tengah.

Entah bagaimana cerita, setelah lulus dari SMP, kemudian karena cita-cita yang gagal untuk dapat masuk ke sebuah SMA Swasta ternama di Kota Magelang, dan berkat ketidak-sengajaan kedua orang tuaku yang saat itu sedang ada acara gathering kantor Ayahku di Kota Bandung, yang membuat mereka bertemu dengan rombongan senior almamaterku yang sedang melaksanakan Pesiar Hari Minggu, jadilah aku pun dapat meneruskan jenjang pendidikan SMA ke sekolah yang mirip  dengan sekolah impianku dulu di Kota Magelang.

Selepas masa SMA, lagi-lagi Tuhan Menakdirkanku untuk meneruskan pendidikan di Kota Bandung. Walau pengalaman 3 tahun berasrama sesungguhnya membuatku homesick dan selalu ingin kembali ke Jawa Tengah agar dekat dengan kedua orang tuaku, namun tetap, Tuhan Berkata lain. Aku tetap stay di Kota Bandung selepas SMA, hanya berbeda lokasi saja.

Dan entah bagaimana cerita, banyak teman-teman saat SMA dan kuliah yang pada akhirnya meneruskan kehidupan mereka masing-masing di kota Bandung, Jakarta, dan area sekitarnya. Apalagi jarak Bandung-Jakarta hanya membutuhkan waktu 3 jam saja jika menggunakan transportasi umum kereta api dan plus-minus 2 jam (jika lancar) via tol.

Oleh karenanya, jika terdapat acara-acara, seperti pernikahan teman-teman, reuni komunitas-komunitas saat SMA dan kuliah, maupun reuni akbar dan reuni angkatan dari almamater-almamater itu sendiri, sudah pasti akan sering dilakukan di antara kedua kota tersebut, entah di Jakarta maupun Bandung.

 

3. Komunitas

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, aku pun memulai mencicipi kegiatan dagang kecil-kecilan untuk mengisi waktu-waktu kosong. Dari kegiatan tersebut, aku pun bertemu dengan teman-teman yang pada mulanya bertemu secara maya, yang kini berteman secara nyata juga.

Komunitas yang aku ikuti tersebut berisikan orang-orang yang memang asli Jakarta dan orang-orang rantau sepertiku yang meneruskan kehidupan di Jakarta. Komunitas ini beranggotakan ibu-ibu atas kesamaan hobi. Dan aku senang berada di dalamnya. Banyak informasi yang didapatkan dari komunitas tersebut, yang dapat kujadikan pelajaran dan pengalaman bekal hidup untuk ke depannya.

Sebenarnya tidak hanya komunitas ibu-ibu saja yang aku ikuti. Ada juga komunitas-komunitas alumni seperti organisasi alumni almamater, baik SMA maupun kuliah, yang mana banyak kegiatan juga dilaksanakan di antara Jakarta maupun Bandung.

 

4. Pekerjaan

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, kebetulan memang pasanganku memulai karir di Jakarta. Jadilah aku pun mendampingi Beliau untuk hijrah ke kota tersebut.

Pada mulanya aku memang tidak bekerja saat menapaki kaki di kota Jakarta ini. Saat itu memang, kondisinya, setelah lulus kuliah, aku langsung mau saja dipersunting calon suamiku saat itu untuk menjadi istri Beliau. Toh aku sudah merasa siap dan sudah merasa cocok-cocok saja tiada masalah, jadi untuk apa harus menunggu-nunggu lebih lama lagi. Hehe.

Baru setelah menikah, dengan suasana sebagai fresh graduate, aku pun baru mulai “menjelajah” dunia kerja yang kiranya cocok dengan latar belakang pendidikanku.

Dan lagi-lagi, dengan hanya jeda waktu kurang-lebih 3 bulan saja selepas menikah, Tuhan pun Memberikan rejeki itu kepadaku. Akupun memulai pengalamanku dalam dunia kerja di sebuah daerah di Jakarta juga. Saat itu adalah awal tahun 2014. Dan hingga detik ini, aku pun telah terlibat ke beberapa project dan semuanya berlangsung di Jakarta.

 

5. Rumah Sakit dan Dokter yang Kompeten untuk Program Hamil

Aku pikir, setelah menikah, yang namanya memiliki anak itu adalah perkara yang sangat mudah. Ibaratnya, toh sudah sah ini kan, gampang lah… Begitu pikirku dulu. Ternyata tidak demikian.

Pertengahan 2015 lalu, aku pun memulai untuk mencoba mencari-cari informasi terkait program hamil yang ada di Jakarta dan beberapa dokter Sp.OG ternama dan terkenal, khususnya dokter perempuan, yang ternyata memang banyak ditemukan di Jakarta. Walau saat itu belum mengikuti program secara sungguh-sungguh dan terhenti antara 2016 – 2017, namun pada akhir tahun 2017 lalu, aku dan pasangan baru memulai kembali untuk berprogram kembali.

Berkat dari teman-teman komunitas juga, yang memang most of them adalah asli orang Jakarta, lahir dan besar di Jakarta, aku pun mendapatkan banyak informasi dari mereka terkait rumah sakit dan dokter bagus untuk program hamil. Dan memang ternyata banyak sekali ditemukan di Jakarta.

 

6. Hiburan dan Surga Dunia

Selain karena alasan-alasan utama di atas, aku pun menemukan kenyamanan di dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta. Ditambah tempat-tempat belanja sehari-sehari seperti pasar, terasa lebih banyak warna dan pilihan di kota ini, dibandingkan dengan kota asalku dulu di Jawa Tengah.

Kemudian tempat-tempat hiburan untuk refreshing. Mungkin bagi sebagian orang merasa bosan mainnya ke mall lagi, ke mall lagi. Tapi bagiku, justru tidak. Tidak pernah ada rasa bosan untuk menapaki tempat-tempat hiburan tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat saja. Biasanya di dalam mall, ada yang namanya toko buku, itulah yang membuatku juga semakin menyukai untuk berkunjung ke mall.

Di Jakarta juga, aku banyak menemukan momen dan hiburan di mana saat masa kecilku dulu, aku tidak mampu dan tidak dapat merasakannya. Seperti halnya mainan-mainan dan kesukaan masa kecil, yang dulu hanya dapat melihat milik orang lain atau hanya melihat di majalah maupun TV, akhirnya di masa dewasa ini ternyata banyak kutemukan di Jakarta. Ditambah saat ini aku sudah memiliki penghasilan sendiri, sehingga tanpa harus melibatkan pasangan, aku pun sudah dapat memenuhi keinginan sangat tersier tersebut.

 

– – –

Jadi, itulah alasan-alasanku saat ini yang mungkin membuatku betah dan nyaman untuk hidup dan tinggal di kota Jakarta. Ditambah juga saat ini, aku menjalani kegiatan sehari-hari tanpa bertemu dengan macetnya Jakarta sama sekali. Yap, sama sekali. Mungkin faktor tersebutlah yang membuatku semakin merasa nyaman dan betah untuk tinggal di kota ini.

Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti, aku akan mulai move on dan jatuh cinta dengan kota lain. Who knows. 🙂

Advertisements
Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan.)

 

– – –

 

Kembali lagi bertemu dengan “minggu tema”, di mana tema dalam minggu ini adalah tentang “berbagi”. Terus terang, saat mendengar tema ini, yang saya pikirkan hanya tentang “berbagi” yang berkaitan dengan social media. Yap, yang ada dalam pikiran saya adalah ini:

Berbagi = Share

 

(Entahlah tulisan kali ini apakah akan nyambung dengan tema atau tidak. Hehe.

– – –

 

Di era social media seperti saat ini, banyak sekali saya temukan berbagai informasi dari hal  yang penting, kurang penting, hingga nggak penting sama sekali. Bahkan ke dalam tingkat yang lebih ekstrim lagi, akan semakin ditemukan juga berbagai macam berita “berat” yang terkadang saya ataupun kita belum tahu kebenaran akan isi berita tersebut.  Bahkan bisa jadi malah, banyak berita yang sudah saya baca, yang saya mengira selama ini adalah berita atau informasi benar, ternyata setelah berselang beberapa waktu, terbukti bahwa berita atau informasi tersebut ternyata adalah salah, alias hoax. Ngeri! Hi…..

Nah, akan tetapi sat ini saya sedang tidak ingin menulis tentang hal-hal “berat” demikian, melainkan ingin bercerita tentang pengalaman atau setidaknya perasaan yang saya alami saat menggunakan social media sejauh ini.

 

– – –

 

Platform social media saat ini bermacam-macam, ada Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Bahkan aktivitas blogging seperti ini juga dapat dikategorikan sebagai social media. Pada intinya kan, social media itu merupakan media yang bersifat maya, yang dapat berfungsi secara sosial, atau dapat menghubungkan dan berinteraksi antar satu individu dengan individu-individu lainnya dalam berbagai tempat dan waktu berbeda secara bersamaan. Mungkin seperti itu.

Di dalam penggunaan social media-social media ini, makin banyak individu bermunculan yang berekspresi dengan sekreatif-kreatifnya dan sebebas-bebasnya, termasuk saya. (walau saya tidak kreatif sih, yang penting mah upload, haha) Kehidupan atau kegiatan sehari-hari pun saling dibagikan, minimal ke dalam lingkaran pertemanan terdekat. Nah, di sinilah jika semakin addict di dalam penggunaan social media, maka masalah baru akan muncul jika tidak pandai dalam bermain social media. Apa itu?

 

Yup, perasaan hati yang semakin tidak menentu jika melihat postingan milik orang lain.

 

– – –

 

Hal ini pernah saya alami beberapa waktu lalu. Mudah-mudahan insyaaAllah kalau sekarang ini, sudah mulai bisa move on  dan sudah mulai bisa menata hati. “Gejala” yang tidak beres saat awal-awal dulu ketika mulai muncul Twitter, di mana kalau kata sebagian orang, media tersebut seperti mini blog, karena kita dapat mengungkapkan hal apapun, yep, a-pa-pun yang ada dalam benak kita, yang terkadang bahasan yang diungkapkan tersebut tidak di-filter sama sekali. Pokoknya yang penting ngomong! Haha.

Kalau dapat dibilang, masa-masa itu adalah masa-masa alay saya di mana saat sedang nge-tweet rasanya itu seperti “pede tingkat dewa” kalau buah pemikiran yang saya ungkapkan saat itu adalah benar, bahkan berasa paling benar. Media tersebut kalau kata sebagian orang juga, sebagai “pengganti” update status yang kepengen sering-sering seperti yang suka dilakukan sebelum-sebelumnya pada Facebook maupun Friendster.

Saat itu sebenarnya juga ada media lain yang dapat berfungsi juga seperti Twitter, yaitu media Plurk. Namun platform yang satu itu kurang begitu populer dibandingkan dengan Twitter.

 

Semakin berjalannya waktu, menggunakan Twitter semakin tidak ada rem-nya dan mulai merambah ke area baper, alias bawa perasaan. Misalnya, si A bilang tentang sesuatu, kemudian si B membaca dan si B pun merasa kalau si A sedang membicarakan tentang dirinya, yang padahal belum tentu si A sedang membahas tentang si B. Dan akhirnya muncullah yang namanya tweet-war, alias saling berbalas pantun. Yang tadinya si A tidak bermaksud menyinggung si B, kemudian karena melihat si B update status yang “rasanya” berkaitan dengan status si A sebelumnya, maka si A pun mulai “membalas” dengan update status terbaru yang bersifat lebih ke arah “pembelaan”. Duh!

 Benar-benar tidak sehat. Saya sebagai penonton terkadang jadi jengah membacanya, bahkan malah saya pun pernah mengalami baper tersebut. Nggak banget deh gan!

 

– – –

 

Berikutnya adalah ketika media Instagram mulai muncul. Namun saat masa-masa awal Twitter, saya belum menjadi pengguna aktif Instagram, bahkan saat itu sepertinya belum punya akun social media tersebut.

 

Malah terdapat media lain dengan lilngkaran pertemanan lebih kecil yaitu Path. Nah, mengingat saya “mulai sadar” ada yang salah dalam diri saya dalam ber-social media, maka saya putuskan saat baru beberapa bulan menggunakan Path, langsung saya putuskan uninstall aplikasi tersebut dan menghapus akun Path milik saya selama-lamanya. Saat itu bahkan lingkaran pertemanan masih dibatasi dalam jumlah 150 orang teman saja, dan saya pun sudah memutuskan untuk tidak ikut-ikutan menggunakan social media tersebut. Kini kabarnya bahkan dapat menambahkan daftar teman mencapai 500 orang teman dalam social media Path.

 

Fyuuuh…

 

– – –

 

Kembali lagi ke dalam social media Instagram. Saya lupa di tahun berapa tepatnya, saat itu saya merasa pengguna Facebook semakin banyak yang tidak aktif. Dan saya melihat banyak yang berpindah ke Path, di mana banyak yang meng-link­­-kan status Path pada akun Facebook mereka. Dan saya mulai berpikir untuk mulai “bermain” Instagram, walau sebenarnya saya awalnya tidak terlalu paham bahkan tidak tertarik dengan media satu ini. Sebelum mulai “serius” bermain Instagram, saya putuskan untuk menghapus akun Twitter saya selama-lamanya. Yep, selama-lamanya.

 

Berhubung dalam Twitter tidak ada istilah “deactivate sementara”, hanya ada pilihan “hapus akun”, maka saya putuskan untuk memilih lebih baik dihapus saja. Lebay-nya saat dulu memutuskan untuk menghapus akun Twitter, rasanya kok beraaat sekali ya, wkwkwk. Lebay! Namun berjalannya waktu, eh ternyata biasa saja tuh tidak punya Twitter. Hehehe…

 

Balik lagi ke Instagram.

(et dah, dari tadi mau bahas Instagram kagak jadi mulu, haha) 😀

 

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk “ikut-ikutan” membuat akun Instagram. Saya ingat sekali saat itu adalah masa-masa awal saya menikah dan masa-masa awal saya juga bekerja dan ikut pasangan hijrah ke ibukota.

 

Ternyata di Instagram, rasanya semakin gila! Lebih gila! Jika dibandingkan dengan platform-platform lain yang sudah saya “icipi”. Di sini banyak sekali yang narsis, temasuk saya. Wkwkwk. Bahkan dapat dikatakan saat itu rasanya ada perasaan “tidak mau kalah”. Wkwkwk, itu benar-benar pikiran gila se-gila-gilanya. Bahkan dapat dikatakan sepanjang bermain Instagram, sepertinya lebih sering muncul perasaan “pengen deh seperti si C atau si D agar dapat dilihat juga”, walau terkadang di tengah-tengah kembali “eling” alias inget kalau punya perasaan demikian itu sangat-sangat tidak baik, bahkan cenderung sangat buruk! Hehe.

 

Terutama, saat melihat momen-momen kebahagiaan milik orang lain pada orang-orang tertentu, yang terkadang entah bagaimana ceritanya, bisa “mengusik” perasaan hati saya.

 

Yep, it happened! Wkwkwk. Sedih sekali kamu gan!

 

– – –

 

Dulu saya sempat punya pemikiran, jika ingin men-share sesuatu dalam social media kita, ada baiknya melihat-lihat terlebih dahulu situasi dan kondisi bagaimana teman-teman dalam lingkaran pertemanan social media tersebut. Menurut saya saat itu, ibaratnya manusia, harus sering-sering memiliki rasa empati terhadap sesama. Belum tentu kondisi yang sedang saya alami, dapat pula dirasakan pula oleh orang lain atau orang-orang di sekitar kita. 

 

Well, saya yakin saat itu pemikiran tersebut juga didorong oleh rasa nafsu iri yang besar ketika saya melihat apa yang sedang di-share oleh orang lain, dalam arti bahkan diantaranya adalah teman-teman saya.

 

Berjalannya waktu, saya semakin sadar kalau ada yang salah dengan apa yang saya rasakan. Benarkah ikut campaign bahwa sesama manusia harus saling menghormati dan harus memiliki rasa simpati dan empati? Ataukah hanya perasana cemburu belaka?

 

Saat itu masa-masa yang sangat aneh  bagi saya. Rasanya saya ingin segera memiliki semuanya. Puncaknya adalah ketika saya dan pasangan mulai memasuki usia pernikahan dua tahun jalan tiga tahun, dan kehamilan tak kunjung datang. Rasanya hari-hari terasa berat dan hopeless, terutama saat melihat milik orang lain.

 

Beruntunglah masih belum terlambat, seperti yang sudah pernah saya tulis juga dalam tulisan ini. Berjalannya waktu saya semakin sadar, bahwa benar, ketika saya semakin iri, maka saya semakin tidak fokus pada kehidupan saya. Segala kesempatan baik, bahkan rejeki baik pun rasanya tidak ada yang mau mampir ke dalam kehidupan saya. Saya lupa bahwa hidup saya sudah terlalu banyak kenikmatan yang seharusnya banyak-banyak disyukuri. Pada akhirnya, semakin bertambahnya waktu, saya semakin terus dan selalu belajar untuk bisa bersabar, untuk bisa ikhlas, dan move on.

 

120756-Positive-Mind-Vibes-Life
(Source: http://www.lovethispic.com)

 

Mudah-mudahan pemikiran dan perasaan positif seperti ini akan dapat terjaga. Saya merasa bahwa hal ini sudah sangat-sangat gawat jika saya teruskan untuk trying to be somebody elses. Sampai-sampai niatan hati untuk mencoba move on seperti ini, yang membuat saya  men-deactivate akun Instagram lama saya, di samping juga sekarang mulai banyak campaign bahwa muslimah sebaiknya (atau bahkan dilarang) untuk  meng-upload foto-foto diri mereka karena akan ada kemungkinan dilihat oleh orang banyak, bahkan oleh non-mahram-nya. Namun untuk hal tersebut, saya masih meyakini bahwa semuanya tergantung kepada niat­-nya bagaimana. Akan tetapi, siapa yang tahu isi hati seseorang kan. Hehe.

Saya pun semakin fokus pada aktivitas jualan online saya yang memang juga masih menggunakan media Instagram untuk berjualan. 

 

Pada akhirnya, saya pun semakin dan sangat meyakini bahwa, jika semakin saya iri dan cemburu dengan hal-hal yang dimiliki oleh orang lain, di mana hal-hal yang dimiliki oleh orang lain tersebut adalah hal-hal yang memang benar yang saya inginkan, malah akan semakin menutup rejeki-rejeki yang justru seharusnya dapat datang kapan saja ke dalam kehidupan saya. Semakin saya iri, maka semakin tertutup rejeki milik saya.

 

Dan sebaliknya, saya pun sangat yakin. Semakin saya mengurangi rasa iri dan rasa cemburu yang sebelumnya mungkin sangat menggebu-gebu, entah bagaimana cerita, rasanya hidup terasa semakin ringan, dan rejeki-rejeki malah banyak yang datang ke dalam kehidupan saya dan datangnya pun tidak diduga-duga. Saya saaangat yakin itu! At least I feel I’ve experienced itA lot. 🙂

Semakin banyak bersyukur, maka Tuhan Akan Melipat Gandakan nikmat-Nya. 🙂

– – –

 

Jadi kesimpulannya?

 

Kembali kepada pribadi masing-masing. Lagipula tulisan ini hanyalah tulisan curhat colongan belaka. Dan ini adalah murni pendapat dari pandangan pribadi tentang penggunaan social media di mata saya dan murni pendapat saya tentang apa-apa saja yang do and don’ts to be shared.

 

Terakhir, ingat. Jangan iri, itu berat! Just be yourself and always be the original you. 🙂

 

 

 

Pondok Pinang, 11 Februari 2018

20.15 WIB

 

 

 

 

Uncategorized

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

Jika kamu percaya kepada Tuhan, maka percayalah dengan penuh keyakinan. Jangan bebani pikiranmu dari perkataan-perkataan (bahkan nasehat-nasehat) orang lain yang cenderung menyakiti hatimu. Biarkan argumen mereka berlalu. Percaya saja sepenuhnya dengan apa-apa saja yang kamu yakini untuk dijalani. Trust me, it works! 🙂

Diary Renjana

Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan cantik milik  Mbak Dian  dan saat itu juga entah mengapa hati saya semakin plong se-plong-plongnya. Tanpa beban! Seolah seperti whuzzz… diterpa angin dan hilang begitu saja. Haha! Terima kasih untuk teman-teman facebook yang sudah men-share link tersebut yang pada akhirnya bisa muncul juga di halaman news feed saya. Terima kasih ya! 😀

Tulisan Mbak Dian tersebut benar-benar mencerahkan pikiran dan membuka mata saya semakin lebar. Terutama saat membaca ayat-ayat Allah yang Mbak Dian cantumkan juga di dalam tulisan Beliau, di mana membuat hati semakin tenang dan membuat saya semakin enjoy dalam menjalani kehidupan. Mengapa saya? Karena diantara saya dan suami, hanya saya saja yang terlalu banyak berpikir tidak-tidak dan khawatir ini-itu yang padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Haha. 😀

Syukur alhamdulillah memang, saya memiliki pasangan hidup yang pembawaannya selalu bisa tenang dalam situasi dan kondisi apapun, sekalipun itu dalam kondisi sepanik-paniknya. Itulah…

View original post 2,596 more words

Curhat Terbuka, Life, Uncategorized

Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….

Apakah Anda perokok? Namun apakah Anda paham kalau merokok di tempat umum juga ada aturannya?

Tulisan ini terinspirasi saat saya sedang melakukan antrian di salah satu wahana di Dunia Fantasi di mana antriannya panjang dan mengular. Dan di dalam antrian tersebut terdapat segerombolan manusia yang nampaknya benar-benar “tidak punya otak” atau “tidak bisa membaca plang larangan merokok yang jelas-jelas tertera di area mengantri”.

Saya marah dan saya kesal.

– – – – –

Pada dasarnya, saya bukan tipe orang yang mudah terganggu dengan para perokok begitu saja. Saya sama sekali tidak masalah dengan orang-orang yang merokok, asalkan:

  • Memang di tempat tersebut tidak ada rambu-rambu yang menyatakan “dilarang merokok”.
  • Memang di tempat tersebut memang dikhususkan bagi para perokok (area merokok atau ruang khusus merokok).
  • Memang di tempat tersebut diperbolehkan untuk merokok.
  • Ruang outdoor dan tidak ada plang larangan merokok.
  • Perokoknya punya tata krama, bahkan meminta izin terlebih dahulu kepada yang bukan merokok sebelum mereka merokok.

Dan saya akan sangat kesal dan marah dengan para perokok jika:

  • Jelas-jelas pada tempat tersebut terdapat tulisan rambu-rambu larangan “dilarang merokok” atau “no smoking“.
  • Jelas-jelas ruangan ber-AC, apalagi ada tulisan “no smoking” yang terpampang jelas di sudut ruangan.
  • Di sekitar perokok terdapat anak kecil, apalagi bayi, dan ibu hamil.
  • Di dalam angkutan umum, khususnya angkot atau kendaraan kecil, ditambah kalau suasana padat atau ramai penumpang.

Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang sengaja merokok di tempat yang jelas-jelas dilarang atau tidak diperbolehkan untuk merokok. Atau mereka yang merokok tidak melihat situasi dan kondisi di mana banyak anak kecil, bayi, dan ibu hamil. Di mana rasa empatinya?! *geregetan*

Oke, mungkin dalam pikiran mereka bahwa merokok bagi mereka bukan sesuatu yang haram dan “merasa” badannya sehat-sehat saja sehingga “tidak percaya” dengan berbagai penyakit mematikan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam kehidupan mereka.

Walau demikian, saya akan sangat respect dan menghargai teman-teman perokok jika:

  • Saat sebelum merokok, mereka sudah lihat-lihat situasi dan kondisi ada siapa-siapa saja di sana, bahkan mereka rela melipir atau menjauh dari gerombolan orang untuk menikmati sendiri asap rokoknya.
  • Saat merokok minta izin terlebih dahulu dan arah asap tidak ditiupkan ke arah yang sedang bergerombol atau berkumpul.

Sebenarnya saat ini terdapat peraturan-peraturan yang sudah berlaku terkait merokok di tempat umum. Bahkan terdapat sanksi yang benar-benar akan diterapkan jika melanggar.

(Well, saya tidak peduli dengan pendapat orang-orang yang menganggap hukum di Indonesia itu masih lemah dan dapat dibeli. Pokoknya peraturan ya peraturan, harus dilaksanakan dan dipatuhi, dalam hal apapun, walau memang terkadang suka “berat” menjalaninya.)

 

Dan berikut merupakan beberapa peraturan-peraturan perundang-undangan yang saya tahu yang mengatur tentang perokok dan merokok di tempat umum, khususnya di area ibukota Jakarta.

 

1. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 (klik link untuk mendownload)

Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 ini mengatur tentang Kawasan Larangan Merokok. Disebutkan dalam peraturan tersebut bahwa kawasan yang dilarang untuk merokok adalah:

  • Tempat umum.
  • Tempat kerja.
  • Tempat proses belajar mengajar.
  • Tempat pelayanan kesehatan.
  • Arena kegiatan anak-anak.
  • Tempat ibadah.
  • Angkutan umum.

Di dalam peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa kawasan dilarang merokok dan kawasan merokok harus terpisah di dalam pelaksanaannya. Dalam arti, sebenarnya merokok itu tidak dilarang, melainkan ada tempatnya dan aturannya sendiri. Catet ya.

 

2. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 Pasal 13 dan Pasal 41 Ayat (2) (klik link untuk mendownload)

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 merupakan peraturan yang mengatur tentang Pengendalian Pencemaran Udara, di mana di dalam Pasal 13 disebutkan bahwa kawasan dilarang merokok yang sudah saya sebutkan pada poin pertama tadi disebutkan sebagai upaya pencegahan pencemaran udara. Dan apabila melanggar, akan ada sanksi pidana yang disebutkan pada Pasal 41 Ayat (2) yaitu pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

 

3. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 (klik link untuk mendownload)

Sebenarnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 ini merupakan penyempurnaan dari peraturan terdahulu (seperti yang sudah saya sebutkan juga di atas), yaitu penyempurnaan dari Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 di mana memang Peraturan Gubernur No. 88 Tahun 2010 ini tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Di dalam PerGub ini disebutkan penjelasan tambahan mengenai tempat khusus merokok, yaitu:

  • Terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung, dan
  • Tidak berdekatan dengan pintu keluar-masuk gedung.

 

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 (klik link untuk mendownload)

Di Indonesia, terdapat peraturan khusus mengenai produksi rokok di mana harus melihat aspek pengamanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia, seperti yang tertuang di dalam peraturan ini. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 ini berbicara tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Tujuan dikeluarkannya peraturan ini adalah:

  • Melindungi kesehatan dari bahaya akibat merokok.
  • Membudayakan hidup sehat.
  • Menekan perokok pemula.
  • Melindungi kesehatan perokok pasif.

Kembali disebutkan dalam PP No. 19 Tahun 2003 ini di Bagian Keenam yaitu Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 yaitu berbicara tentang Kawasan Tanpa Rokok, di mana kawasan tanpa rokok adalah tempat-tempat yang sudah saya sebutkan dalam poin pertama tadi di atas. Bahkan disebutkan di dalam Pasal 25 bahwa Pemerintah Daerah juga harus dapat berpartisipasi (bahkan bersifat wajib) di dalam perwujudan kawasan tanpa rokok.

Plang Peringatan “Dilarang Merokok” di Salah Satu Mall di Jakarta Selatan

 

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau merokok di tempat umum itu ada aturannya, bahkan ada sanksi pidana bagi siapa saja yang berani melanggar. Jadi, mas-mas dan  mbak-mbak yang memang belum bisa lepas dari rokok karena memang hobi dan sudah menjadi bagian dalam hidup, diharapkan untuk selalu bijak jika pas ingin merokok. Kalau misal ditegur di tengah jalan, please, jangan marah dan sensi ya. Boleh kok merokok bebas-sebebasnya, yang penting manners-nya saja. Hormati mereka yang benar-benar nggak bisa dekat-dekat dengan asap rokok. Oke? 🙂

 

nb: Beruntunglah pasangan saya bukan perokok.

AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

 

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

 

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa Gading.

 

Sekali lagi saya sebutkan, lokasi hotel ini saaaaangat dan superrrrr strategis. POP! Hotel Kelapa Gading menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Kali ini saya berkesempatan menginap selama 4 hari 3 malam dan saya hanya, ya, hanya, memerlukan Rp 1.000.000,- ++ lebih sedikit. Entahlah, bagi saya jumlah sekian termasuk murah, jika dibandingkan dengan lokasi yang super strategis seperti ini. Apalagi jika dibandingkan dengan postingan saya sebelumnya mengenai hotel ini di mana harga per malam saat itu adalah Rp 425.000,-.  Plus, ini momen peak season lho, di saat suasana Tahun Baru. Jadi semakin berasa “murah”nya. Dan saya memesan hotel tersebut 2 bulan sebelum kedatangan melalui aplikasi Agoda.

 

– – –

 

Day 1 – Jumat, 29 Desember 2017

 

Jauh-jauh hari saya memang sengaja memesan untuk dapat menginap sejak hari Jumat, walau dulu jauh hari tersebut saya sudah berpikir dan tahu jika hari Jumat, 29 Desember 2017 belum libur dan bukan hari cuti bersama. Walau demikian saya hanya berpikir bahwa saya ingin “memulai” liburan long weekend saya dengan sudah berada pada hotel. Jadi, bangun tidur di pagi hari di hari Sabtu-nya, saya sudah dapat bermalas-malasan dengan suasana hotel, tanpa harus bergerak bersiap menuju lokasi liburan.

 

Alhamdulillah, tibalah juga hari Jumat tanggal 29 Desember 2017 tersebut, dan di Jumat siang harinya saya dapat “kabur”, mengingat suasana kantor juga sudah sepi sekali, dan sebenarnya banyak juga yang mengambil jatah cuti di hari tersebut.

 

Tadinya saya berniat ingin naik Kereta Commuter Line (KRL) dan nyambung-nyambung menggunakan Kopaja. Namun saya mengurungkan niat dan memikirkan saran pasangan untuk langsung naik ojol alias ojek online langsung dari kantor (di selatan) menuju Mall Kelapa Gading (di utara).

 

Sebenarnya yang terpikirkan oleh saya kemudian malah naik ojol nyambung-nyambung, misal dari kantor (Jakarta Selatan) ke Jakarta Pusat (sekitar Bundaran Hotel Indonesia atau Sudirman), kemudian dari  titik Bundaran HI atau Sudirman tersebut baru melanjutkan kembali ke Jakarta Utara (MKG). Karena saya berpikir, “sepertinya nggak mungkin ada yang mau ambil, kalaupun ambil nanti takutnya misuh-misuh”, dsb.

 

Namun  saat saya mencoba order langsung menuju Mall Kelapa Gading (MKG), ternyata ada yang mau! Saat datang pun saya langsung bilang ke Bapak Driver Ojol, “ke utara nih ya Pak, hehe”. Dan ternyata…..malah si Bapak Driver adalah orang Bekasi yang mungkin Bekasi-nya berbatasan langsung dengan area Pulogadung, yang jadinya malah lokasi tujuan saya di Kelapa Gading jadi semakin dekat dengan rumah Beliau. Haaah…..beruntunglah saya. *senang*

 

Saat sampai, beruntunglah saya sudah sekitar pukul 1 siang, sehingga sudah memasuki jam check in, alias sudah bisa check in. Ditambah, belum ada antrian check in. Yeay! Dan lebih beruntungnya lagi, saya mendapatkan service dari Mbak Resepsionis yang baaaik banget dan super ramah. Mood langsung hepi. Plus, request-request  yang saya sebutkan pada order sebelumnya, terpenuhi semua, lantai tertinggi dari jenis kamar yang dipilih, non-smoking room, dan view menghadap ke arah selatan atau arah mall sampai La Piazza. Alhamdulillah…

 

Dan beginilah penampakan kamar kami, simpel namun nyaman.

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami dengan Kamar Mandi Simpel Tanpa Bathtub Hanya Shower

 

Penampakan Kamar Kami

 

Setelah istirahat sejenak, saya langsung menuju ke area food court mall untuk mencari makan siang.

 

Ruang Makan Hotel yang Menyambung dengan Lantai 3 Mall Kelapa Gading Bagian Food Court

 

Pasangan baru sampai sekitar pukul 19.30 WIB. Beliau tidak ikut “kabur” seperti yang sudah saya lakukan. Tentu saja tidak, biarkan Beliau serius di dalam mencari nafkah tanpa saya ganggu-ganggu. Hehe. Eeeaaa… XD

 

Malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film Si Juki The Movie. Usai menonton, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel, mencari tempat makan yang mungkin masih buka. Karena sudah hampir tengah malam, terlihat sudah semua tempat makan yang berjajar banyak di sepanjang jalan kuliner Kelapa Gading tutup. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata masih ada yang buka (dan bukan tempat dugem tentu saja), tempat makan hits  kekinian, yaitu Warunk Upnormal.

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Oiya, setelah sekian lama tidak bermain ke area Kelapa Gading, sekarang ada perubahan pada Mall Kelapa Gading-nya, terutama bagian MKG 1 dan MKG 2. Seperti sekarang, bioskop yang biasanya ada di MKG 1, sekarang semuanya menyatu di area bioskop MKG 3 di lantai 3 yang satu lantai dengan area food court. Dan nama mall sudah berubah ditambah dengan nama developer-nya yaitu menjadi Summarecon Mall Kelapa Gading.

 

Selain itu juga, di sekitar MKG ini, terutama di jalan raya bagian depan MKG, kini sedang dibangun jalur LRT di mana LRT ini panjangnya sampai menuju area Cikarang, Bekasi (cmiiw).

 

 

Day 2 – Sabtu, 30 Desember 2017

 

 

Sabtu pagi kami lalui di dalam hotel saja. Dan baru memasuki waktu brunch, kami memutuskan untuk ke Dunia Fantasi yang berada di area Ancol, Jakarta Utara. Yeay!

 

Sebelum berangkat, kami sudah berpikir, sudah pasti nanti saat di area wisata tersebut akan saaangat ramai orang, mengingat ini adalah hari libur nasional dan semua orang di Indonesia juga libur! Dalam arti, wisatawan domestik yang datang di DuFan tidak hanya orang Jakarta atau orang yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, melainkan banyak juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Benar saja, saat kami sampai sekitar pukul 11 siang, kami melihat buanyaaak sekali orang yang akan masuk ke DuFan.

 

Antrian Panjang Masuk Dunia Fantasi di Libur Panjang Tahun Baru 2018

 

Jadi, saat kami datang, terdapat promo Tiket Masuk Annual yang harganya sama dengan Tiket Masuk Reguler sebesar Rp 335.000,-. Tiket Masuk Annual  ini merupakan tiket masuk ke DuFan di mana sepanjang tahun 2018, kita dapat masuk DuFan secara free alias gratis. Jadilah semua orang yang datang membeli tiket masuk yang Tiket Masuk Annual.

 

Formulir yang Harus Diisi untuk Mendapatkan Annual Card Dunia Fantasi

 

Semakin siang semakin panas. Antrian pun semakin mengular. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan manca negara saya lihat ikut meramaikan suasana liburan di Dunia Fantasi siang hari itu.

 

Antrian di “Balai Kota” Dunia Fantasi untuk Menukar Formulir Isian dengan Annual Card

 

Setelah mengantri hampir 30 menit lamanya, akhirnya kami pun mendapatkan tiket masuk yang ternyata kami harus mengantri kembali di “Balai Kota” yang baru kemarin saat ke DuFan saya ketahui bahwa terdapat bangunan baru miniatur Taman Fatahillah lengkap dengan gedung Balai Kota Jadul. Nah di dalam gedung tersebutlah kami menukar tiket masuk annual kami, dengan sebelumnya juga kami harus mengisi formulir yang telah disediakan. Well, kembalilah kami mengantri selama kurang lebih 20 menit-an. Haha.

 

Akhirnya, setelah 30 menit-an kami mengantri, didapatkanlah Annual Access Card kami, yeay!

 

Annual Card Dunia Fantasi

 

Setelah mendapatkan kartu dan akhirnya beneran bisa masuk, kami tidak langsung menuju wahana, melainkan beli jajanan kentang goreng dulu di dekat pintu masuk, dekat komedi putar, haha. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Dan…kami pun kembali mengantri. Hahaha. XD

 

Untunglah tidak lama kemudian, kami pun sudah mendapatkan kentang goreng kami.

 

Dan wahana pertama yang kami coba adalah Tornado! Awalnya saya hanya iseng saja menyebutkan ingin naik wahana tersebut kepada pasangan. Sembari makan kentang goreng kami, kami bersama pengunjung lain di bagian pedestrian samping wahana, menyaksikan para pengunjung yang sedang naik wahana tersebut. Nampaknya seru! Begitu saya pikir. Plus, nampaknya antrian Tornado masih saaangat sepi bila dibandingkan dengan wahana-wahana lain. Jadilah setelah menghabiskan kentang goreng kami, naiklah kami ke wahana.

 

Hasilnya? Saya mual, benar-benar mual! Seru memang naik wahana Tornado, tapi tidak lagi-lagi deh. Masih untung saya tidak sampai muntah-muntah. X(

 

Muka Udah Mau Nangis Ketakutan 😦

 

Wahana berikutnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Boneka. Kondisi perut yang masih sangat mual dan saya yang hampir menyerah, membuat saya meminta kepada pasangan untuk naik wahana yang santai-santai saja.

 

Awalnya ragu saat akan memasuki wahana Rumah Boneka tersebut, mengingat antrian yang menguuular puanjaaang sekali. Akhirnya kami pun tetap masuk ke dalam antrian. Yah, begitulah suasana libur panjang. Di wahana manapun pasti ramai.

 

Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kami pun mendapat giliran untuk masuk ke dalam wahana dengan menaiki perahu yang digerakkan oleh pompa untuk menyusuri dan melintasi bagian dalam Rumah Boneka.

 

Usai dari Rumah Boneka, kami memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang dapat kami makan di siang hari tersebut.

 

Sampailah kami di area Rumah Jahil dan Rumah Miring. Di sana terdapat kedai snack yang sepertinya baru buka, di mana ia menawarkan snack cumi-cumi yang dipanggang, di mana cumi-cumi tersebut di-press ke dalam mesin panggang, dan penyajiannya ditusuk sate. Rasanya? Yummy…! 

 

Korean Roasted Squid Mashita

 

Setelah makan snack gurita, kami melanjutkan petualangan kami untuk memasuki wahana Rumah Jahil dan Rumah Miring.

 

Sebelum lanjut kembali, saya beristirahat sejenak di sebuah panggung di dekat area tersebut. Saya tidur-tiduran sejenak beberapa menit. Tidak hanya saya yang rebahan beristirahat, terlihat beberapa pengunjung lain juga tidur-tiduran di sekitar kami. Beruntunglah saya dan pasangan masih mendapatkan space untuk beristirahat, mengingat panggung tersebut sangat kecil.

 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar.

 

Usai sholat, kami penasaran dengan wahana Ice Age yang saat itu sedang tidak beroperasi, akan tetapi terlihat ada 2-3 orang petugas yang berdiri di depan wahana tersebut seperti sedang menjaga sesuatu tapi tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Kami pun menghampiri dan menanyakan wahana Ice Age yang tutup tersebut. Namun ternyata, dari jawaban para petugas tersebut, walau Ice Age tidak beroperasi, di dalam gedung wahana terdapat wahana lain seperti Perahu Ice Age yang dapat berputar-puar dan wahana Hello Kitty.

 

Di dalam gedung juga terdapat tempat jajanan dan makanan. Dan saya memutuskan untuk membeli sebuah nasi dalam mangkuk kertas yang ternyata sepertinya anak perusahaan Hoka-Hoka Bento. Usai makan, kami melanjutkan masuk ke dalam wahana Rumah Hello Kitty.

 

Rumah Hello Kitty

 

Usai dari Rumah Hello Kitty, kami melanjutkan ke wahana yang saat itu sedang sering ditayangkan dalam iklan Dunia Fantasi di TV, yaitu wahana permainan Galactica. Lokasinya bersebelahan dengan restoran cepat saji Mc Donald di bagian dalam.

 

Seperti yang sudah ditebak, betul saja, antri panjang! Haha. Yasudah, karena penasaran, kami pun ikut mengantri. Selama kurang lebih 1 jam-an, akhirnya kami pun mendapat giliran masuk ke dalam wahana.

 

Akan tetapi………………..

 

Ternyata “menu utama” wahana tersebut yaitu tembak-tembakan, mendadak tidak beroperasi dan terjadi masalah teknis di dalam pengoperasiannya.

 

Yah……….penonton kecewa. 😦

 

Kami pun diarahkan keluar wahana dengan diberikan cap stempel tambahan di tangan kami, agar nanti jika sudah dapat beroperasi kembali, kami dapat masuk melalui Pintu Khusus pemegang Kartu Premium  tanpa mengantri. Tetap saja, kami menjadi kecewa. Karena sudah hampir 1,5 jam kami mengantri, eh, malah batal bermain. Hiks, hiks. 😦

 

Terlihat Petugas Wahana “Galactica” yang Panik dan Bingung Rembugan

 

Baiklah, daripada kami memendam kesedihan, akhirnya kami memutuskan ke area wahana Bianglala. Namun ketika melihat antriannya plus hari sudah mulai gelap, pada awalnya saya agak malas. Namun karena saya penasaran dan belum pernah sama sekali naik wahana tersebut sebelum-sebelumnya saat mengunjungi DuFan, akhirnya kami pun ikut ke dalam antrian panjang tersebut.

 

Dan…kembali. Setelah hampir 2 jam kami mengantri, akhirnya kami dapat masuk ke dalam wahana. Hah…akhirnya. Kalau dipikir-pikir, kok kami mau-maunya ya mengantri lagi selama itu, padahal sebelumnya kami sudah mendapatkan zonk setelah mengantri selama 1 jam-an. Haha.

 

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami menyudahi petualangan kami di Dunia Fantasi Ancol.

 

Oiya, setelah turun dari wahana Bianglala, kami melihat kalau wahana Ice Age MENDADAK dibuka dooonk. Hahaha. Namun karena badan sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kelapa Gading.

 

Sesampainya di Kelapa Gading sekitar pukul 20.30 WIB, kami langsung menuju ke restoran seafood yang di malam sebelumnya kami melihat sudah tutup. Namanya adalah Rumah Makan Seafood Wiro Sableng 212. Saya terbayang-bayang dengan Kepiting Raksasa yang pernah saya makan beberapa waktu sebelumnya di Rumah Makan Kepiting Asap Cendrawasih Lebak Bulus. Di restoran Wiro Sableng 212 ini juga tersedia menu kepeting raksasa tersebut dengan beberapa bumbu pilihan.

 

Makan Malam Besar di Rumah Makan Seafood “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kepiting Saus Telur Asin “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Udang Goreng Saus Mentega “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

 

Berhubung hari itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan akan menikmati nonton film midnite di MKG. Karena midnite hanya ada di hari Sabtu saja, tidak ada di hari lain. Kami sudah membeli tiket sejak kami masih di DuFan di siang harinya. Film yang kami tonton adalah Bleeding Steel, di mana pemeran utamanya adalah Jackie Chan.

 

Sekitar pukul 2 pagi, kami pun menyudahi aktivitas kami di hari Sabtu tersebut.

 

 

Day 3 – Minggu, 31 Desember 2017

 

Hari Minggu pagi kami mulai seperti biasa dengan sarapan di dalam hotel. Ternyata memang betul, pengunjung hotel di liburan panjang kali itu benar-benar ramai! Tidak seperti pada kunjungan kami sebelumnya pada hotel ini.

 

Hari itu kami memutuskan untuk ke daerah Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Menurut berita di TV beberapa waktu lalu yang pernah saya lihat, sedang diadakan bazaar besar-besaran dari beberapa instansi bertajuk “Big Bang Jakarta“. Memang sih, suasana pada acara tersebut tidak seramai saat PRJ. Acara tersebut lebih ke ajang acara cuci gudang diskon akhir tahun.

Naik Bajaj dari MKG 3 Menuju PRJ Kemayoran

 

Minggu pagi itu langit tidak begitu cerah seperti pada hari sebelumnya dan agak sedikit mendung. Kami memutuskan pergi ke Kemayoran dengan menggunakan bajaj yang memang sedang ngetem di depan Mall Kelapa Gading 3.

 

Sesampainya di JIExpo Kemayoran, kami disambut oleh petugas dari JakFM. Mendadak kami ditawari promo untuk masuk gratis ke dalam acara pameran dengan cara meng-install aplikasi radio tersebut. Akhirnya kami pun mengikuti arahan dari mas petugas tersebut dan mendapatkan free tiket masuk.

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Setelah masuk ke area pameran, kami langsung menuju spot tempat makan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berkeliling. Saat kami makan, benar saja, hujan turun sangat deras! Angin juga bertiup sangat kencangnya. Bahkan air hujan sampai terciprat ke bagian teras dalam bangunan saking deras dan kencangnya. Beruntungnya tidak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Dan tidak sampai 30 menit, hujan pun sedikit reda.

Menu Makan Siang Hari Itu

 

Suasana Hujan Angin Deras – View dari Tempat Kami Makan Siang

 

Saya dan pasangan pun kembali meneruskan kegiatan usai makan siang dengan masuk ke dalam beberapa area pameran di dalam gedung.

 

Seperti biasa terdapat peralatan rumah tangga, elektronik, handphone, mainan anak, kosmetik, bahkan travel fair pun juga diselenggarakan dalam bazaar. Terlihat antrian tersendiri untuk acara travel fair tersebut. Dan travel fair  tersebut diadakan oleh maskapai Sriwijaya Air.

Salah Satu Suasana Bazaar “Big Bang Jakarta”

 

Kami pun puas berkeliling, namun tidak ada satu pun barang yang berhasil kami lirik, akhirnya kami menuju ke pusat kuliner kembali. Di sana kami akhirnya malah menikmati kuliner durian yang katanya asli dari Medan. Mantab!

 

Kuliner Durian Asli Medan

 

Setelah makan durian, kami memutuskan pulang kembali saja ke Kelapa Gading. Kami pun beristirahat sore hari hingga waktu Isya’ di dalam kamar hotel. Sembari suami tidur-tiduran dan main game, saya menelepon Ibu saya yang juga sedang beraktivitas liburan tahun baru di sebuah tempat yang sejuk bernama Sarangan yang dekat dari Cepu. Ibu tidak sendiri, Beliau ditemani Ayah dan adik saya, serta bersama dengan teman Ayah di Cepu.

 

Sore hari tersebut, saya menikmati betul-betul suasana menjelang Maghrib. Pasca hujan, langit begitu indah dan sangat cerah. Terlihat semburat orange di ujung selatan sana.

 

Suasana Sore Hari Terakhir 2017 – Lokasi Kelapa Gading

 

Selepas Sholat Isya’, kami memutuskan untuk berkeliling mall sepanjang MKG 5, MKG 3, MKG 2, MKG 1, dan La Piazza. Kami juga mencari tempat untuk aktivitas makan malam kami.

 

Namun apa yang terjadi? Tempat makan – tempat makan yang menjadi tujuan dan keinginan kami, semuanya full alias penuh dan harus waiting list jika ingin benar-benar makan di tempat-tempat tujuan kami tersebut. Berawal dari 1 tempat, pindah ke tempat lain karena tujuan awal full, yang berujung nggak nemu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar mall dan berjalan ke area rumah makan seafood yang berjejer.

 

Akhirnya saya masuk ke dalam Rumah Makan Seafood Pondok Pangandaran. Akhirnya makan seafood lagi malam itu. Haha. Beruntungnya masih ada tempat, terutama bagi kami yang hanya berdua saja.

Rumah Makan Seafood “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

 

Udang Jumbo Goreng Mentega “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Udang Jumbo Saos Pangandaran “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Usai makan malam, kami kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk tidak keluar-keluar lagi hingga tengah malam. Ya, tengah malamnya adalah malam pergantian tahun dari tahun 2017 menuju tahun 2018.

 

Di dalam menunggu datangnya tengah malam, kami pun hanya mengamati kondisi langit malam hari melalui jendela kamar kami. Sebenarnya terdapat acara konser musik di halaman La Piazza, namun kami tidak tertarik untuk masuk. Kami cukup memperhatikan dari jauh lampu-lampu suar yang menyorot ke langit yang bersumber dari panggung acara konser tersebut. Kebetulan memang view kamar kami ini adalah yang menuju ke arah mall dan La Piazza.

 

Kami juga melihat acara di TV yang menyiarkan siaran langsung acara pergantian tahun di berbagai daerah di Indonesia. Setengah jam menuju tengah malam, mulai terdengar suara kembang api dari kejauhan. Kami pun mulai heboh dengan mematikan lampu kamar dan mulai melihat ke arah luar kamar. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya dan suamipun mulai sibuk dengan hape-nya. Haha.

 

Tengah malam pun tiba. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari arah La Piazza, muncul juga kembang api terdekat dan terbesarnya. Karena beberapa menit sebelumnya, fireworks yang muncul hanya dari wilayah sekitar dan dari arah yang jauh-jauh.

 

Fireworks Mulai Muncul dari Arah La Piazza

 

Fireworks dari Arah La Piazza

 

Euforia kami malam itu benar-benar terasa. Sekitar pukul 00.30 WIB kami baru berangkat tidur.

 

Day 4 – Senin, 1 Januari 2018

 

Aktivitas pagi kembali berjalan seperti biasanya. Namun setelah Sholat Subuh kami memutuskan untuk kembali berlabuh ke Pulau Kapuk. Maklum, baru tidur 4 jam dan rasanya ngantuk sekali. Haha. Walau begitu kami tetap tidak melewatkan waktu sarapan kami di hotel. (nggak mau rugi bo’ hehe)

 

Sekitar pukul 11 siang kami sudah siap berkemas dan siap untuk check out dari hotel.  Sebelum pulang ke Pondok Pinang, kami menyempatkan datang sejenak ke area pameran “Star Wars” di dalam Mall Kelapa Gading 3 untuk sekedar melihat-lihat. Siang hari itu kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta Selatan dengan menggunakan taksi. Mengingat bawaan kami yang juga sudah “beranak” akibat libur panjang kali itu.

Pameran Star Wars di MKG 3

 

Berfoto dengan Lightsaber

 

– – –

 

Liburan usai. Akhirnya kami pun benar-benar dapat bersantai selama 4 hari full. Benar-benar rasanya energi recharged walau bagi sebagian orang berkesan “liburannya kok ke situ-situ lagi sih”. Hehe.

 

So, alhamdulillah. 🙂