Keliling Singapura Naik MRT (Dokumentasi)

Halo lagi internet! Kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai pengalaman ke Singapura (Singapore) di mana saya menggunakan MRT (Mass Rapid Transit) sebagai sarana trasnportasinya.

 

Singapura. Ya, negara yang satu ini memang dekat sekali dengan Indonesia. Negara maju, negara pusat bisnis dunia, negara rapih, negara bersih, dan sebagainya ini memang sering menjadi tujuan wisata mancanegara bagi negara-negara di dunia, salah satunya Indonesia. Menuju ke negara tersebut juga sudah sangat mudah. Baik dengan menyeberang via Batam, maupun terbang langsung menuju Bandara Changi. Ditambah lagi, hanya bermodal paspor dan sedikit uang jajan, kita sudah dapat mengunjungi negara tersebut, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak memerlukan visa saat mengunjungi Singapura.

 

Sebelum berangkat, pastikan Paspor kita masih dalam keadaan aktif dan tidak bermasalah. Pastikan juga teman-teman membawa uang saku yang cukup, tidak perlu lebih, yang penting adalah cukup. Dan kalau menurut saya, untuk bekal Dolar Singapura, dapat ditukar saat setelah mendarat di Singapura saja, jadi tidak perlu menukar saat masih berada di Indonesia. Mengapa? Alasannya ada pada paragraf dalam rangkaian tulisan di bawah. Hehe. Cekidot gan!

 

Ketika Sudah Mendarat di Changi Airport

 

Saat menuju Singapura, jika teman-teman bepergian dengan menggunakan armada low cost airline seperti Air Asia di mana maskapai satu ini memang demen hobi ngasih promo-promo tiket murahnya, maka teman-teman akan mendarat pada Terminal 1 Changi Airport. Nah, setelah turun dari pesawat, langsung perhatikan seluruh papan-papan petunjuk jalan yang berada dalam gedung terminal kedatangan. Apalagi jika teman-teman melakukan perjalanan mandiri, tidak bergabung dengan tour/travel agent.

 

Perlu diketahui, bahwa jika ingin menaiki MRT menuju kota Singapura, kita HARUS menuju ke Terminal 3, di mana memang hanya dari terminal tersebutlah MRT mulai berjalan menuju ke arah kota.

 

Namun, jika teman-teman naik armada seperti Garuda Indonesia, maka akan langsung mendarat di Terminal 3, jadi tidak perlu mencari-cari lagi cara menuju Shelter MRT yang berada pada Terminal 3.

 

Peta MRT Singapore (Source: http://www.lta.gov.sg/)

 

Lalu bagaimana caranya teman-teman menuju ke Terminal 3? Mudah. Agar lebih cepat dan tidak perlu berjalan kaki, maka dapat menggunakan Skytrain (seperti monorail yang ada di TMII). Ikuti petunjuk arah yang mengarahkan ke arah Skytrain yang menuju ke Terminal 3, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini, “Skytrain to T3“.

Penunjuk Arah Menuju Skytrain ke Terminal 3

 

Menunggu Skytrain untuk Menuju Terminal 3

 

Setelah Sampai di Terminal 3

 

Setelah teman-teman sampai ke terminal 3, teman-teman langsung menuju ke arah Imigrasi yang berdekatan dengan Shelter MRT. Tetap ikuti petunjuk arah yang berada di dalam gedung bandara. Jika bingung, bertanyalah pada bagian informasi.

Imigrasi yang Dekat dengan Shelter MRT

 

Oiya, sebelum keluar imigrasi, tukarkan Uang Rupiah teman-teman di Counter UOB Bank. Mengapa UOB? Karena sebelum kami berangkat, diberitahu oleh banyak teman kalau menukar di UOB Bank adalah yang paling murah saat membeli Dolar Singapura (SGD) dibandingkan dengan Money Changer lainnya.

Dan saat menuju bagian imigrasi, siapkan:

  1. Paspor.
  2. Kertas Isian Tinggal yang dibagikan saat masih berada di dalam pesawat menuju Singapura. Bentuknya kertas putih tebal dengan kotak-kotak kosong yang harus diisi dengan data dan informasi milik kita. (Pada saat mengisi bagian kota tinggal, isi saja Nama Hotel dan Daerah Hotel tersebut berada.)

Pengisian Data Diri

 

Tidak perlu grogi saat berhadapan dengan petugas. Cukup jawab setiap pertanyaan petugas imigrasi. Yang paling sering ditanyain paling-paling:

“Mau ngapain Anda ke Singapore? Dengan siapa?”

 

Next, setelah melewati gerbang imigrasitetap perhatikan papan-papan penunjuk jalan.  Perhatikan papan yang menuju ke arah Shelter MRT, di mana pada papan akan tertulis “Train to City“, di mana memang tidak hanya MRT yang akan menuju ke arah kota, melainkan juga terdapat LRT (Light Rail Transitdan letak shelter-nya bersebelahan.

Papan Penunjuk Arah ke Shelter MRT

 

Nah, setelah sampai pada area Shelter MRT, beli tiket pada mesin, seperti mesin tiket KRL Jabodetabek. Cara pembeliannya pun mirip seperti saat membeli tiket KRL Jabodetabek dan touch screen. Kalau saya lebih suka menggunakan tampilan map atau peta baru memilih Stasiun Tujuan. Dan rata-rata para pelancong akan menuju ke area Bugis, Orchard, Bayfront, maupun Marina, dan rata-rata biaya yang dibutuhkan di dalam menuju lokasi-lokasi tersebut hanya senilai $ 2.4 saja. Sebenarnya ada semacam kartu seperti e-money atau e-toll sama seperti yang ada di Indonesia, di mana dengan kartu tersebut kita tidak perlu mengantri dan membeli tiket manual pada mesin, sehingga pemegang kartu dapat langsung masuk gerbang shelter. Berhubung kami belum punya, ya mau tidak mau kami harus bersabar mengantri.

Mengantri Membeli Tiket MRT pada Mesin Tiket

 

Tiket MRT Harian seperti Tiket Harian Berjalan (THB) KRL Jabodetabek

 

Setelah mendapatkan tiket MRT, mengantrilah pada Shelter MRT dan menunggu datangnya MRT. Jangan lupa! Siapkan Peta Jalur MRT (bisa dilihat pada gambar teratas pada postingan ini) pada HP masing-masing sebagai panduan selama perjalanan, karena sama seperti menaiki Bus TransJakarta dan KRL Jabodetabek, terkadang teman-teman harus transit pada titik-titik tertentu.

Karena lokasi hotel kami dekat dengan Stasiun Esplanade, maka pertama-tama kami harus transit di Stasiun Tanah Merah dan berganti dengan MRT ke arah Tuas, jika diperhatikan pada peta di atas, terdapat pada garis hijau. Dan memang jika ingin ke arah kota, semua wisatawan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Merah.

Stasiun Tanah Merah

 

Setelah sampai pada Stasiun Tanah Merah kita juga harus berhati-hati akan keluar sisi kanan atau kiri, karena posisi MRT berada di tengah-tengah jalur, di mana di kanan-kirinya adalah rel MRT arah Pasir Ris dan arah Tuas. Karena jika kita salah turun sisi, kita harus menunggu kereta datang untuk menyeberang arah (menyeberang melalui gerbong kereta) atau harus turun ke bawah melalui eskalator (ya, eskalator!) untuk menyeberang  (menyeberang bawah tanah). Sayangnya saya juga tidak sempat mendokumentasikan arah mana harus turun dari arah kereta melaju. Oiya, seluruh stasiun MRT di Singapura dilengkapi dengan eskalator, setidaknya sepanjang area yang saya lalui, jadi para penumpang tidak akan kelelahan dengan menaiki maupun menuruni tangga secara manual. Oiya, satu lagi, ketika menaiki eskalatorwajib berdiri di sebelah kiri, jangan seperti di Indonesia yang bisa santai-santai di eskalator berjejer kanan-kiri, tidak boleh alias tidak bisa. Karena bila demikian kita akan menghalangi orang-orang yang akan terburu-buru dan mereka-mereka inilah yang membutuhkan jalur kanan kosong tersebut.

Suasana di Dalam Salah Satu MRT

 

Karena tujuan kami ke arah Stasiun Esplanade, setelah naik MRT arah Pasir Ris atau Tuas dari Tanah Merah, maka kami harus transit di Stasiun Bugis, kemudian selang 1 stasiun naik MRT arah Chinatown atau Bayfront dan transit di Stasiun Promenade, kemudian kembali menaiki MRT arah Dhoby Ghaut dan hanya berjarak 1 stasiun saja kami sudah sampai pada Stasiun Esplanade. Setelah turun kami pun turun dan menuju ke arah Marina Square di mana lokasi hotel kami berada.

Arah Tujuan Kami ke Area Marina Square

 

Lebih lengkapnya dapat diperhatikan pada Peta MRT di atas. Pada saat kami menuju area Marina Square ini, kami juga melalui Stasiun Bugis di mana banyak juga pelancong yang turun pada stasiun tersebut, di mana memang di daerah tersebut dekat dengan area belanja, seperti Bugis Street dan Bugis JunctionSekali lagi, harus selalu perhatikan Peta dan juga Google Maps pada HP masing-masing. Karena apabila kita bingung di tengah perjalanan kita, dengan berbekal melihat Google Maps, kita dapat berjalan ke arah manapun yang kita inginkan.

Salah Satu Area di Kawasan Bugis Junction

 

Kawasan Bugis Street

 

Nah, memang tidak rumit keliling Singapura dengan menggunakan transportasi MRT, asalkan kita mau memperhatikan dan selalu aware di mana kita berada pada saat berjalan-jalan keliling Singapore. Tidak lupa selalu perhatikan Peta Singapura yang dapat didapatkan pada saat masih di Bandara Changi, kemudian memperhatikan panduan peta MRT seperti yang ada pada postingan ini, dan terakhir tidak lupa juga Google Maps. 

Area Mengantri Masuk MRT

 

Oiya, ada hal yang menarik juga untuk bisa dibahas, yaitu kondisi atau kultur orang-orang di negara ini pada saat akan naik dan turun dari MRT. Benar-benar tidak ada yang namanya saling serobot seperti yang terjadi pada saat kita mengantri naik KRL maupun Bus TransJakarta. Benar-benar yang namanya menunggu penumpang yang akan turun terlebih dahulu ya benar-benar ditunggu sampai semua penumpang yang akan turun itu turun! Tidak ada satu pun yang menghalangi mereka di depan pintu MRT. Dan orang-orang yang akan naik MRT pun bebaris mengantri dengan rapih di kanan-kiri pintu MRT. Benar-benar luar biasa ya. Boleh itu kita tiru dan kita contoh. Di setiap tepi jalur naik-turun MRT juga terdapat panah-panah seperti pada gambar di atas, panah merah dan panah hijau sebagai petunjuk bagi para pengguna MRT posisi mengantri dan posisi jalur turun yang harus dipatuhi. Dan kerennya rambu-rambu seperti itu selalu dipatuhi oleh orang-orang di negara tersebut. Keren!

 

Setiap kultur unik, rapih, dan bersih pada negara tersebut kerap membuat nagih para pelancong, sehingga rasanya ingin kembali merasakan sensasi berjalan-jalan keliling negara tersebut lagi dan lagi.

 

Advertisements

Review Hotel Wirton, Dago, Bandung

Hello again internet!

Pagi ini suasana langit sangat gloomy yah. Hujan sudah dimulai sejak tadi pagi Subuh. Dan saat ini, siang hari, saat saya menulis kembali, matahari belum juga muncul dari peraduannya. Hujan sudah berhenti sih sejak pukul 9 pagi tadi, tapi suasana masih mendung. Ya, mendung, dingin, komplit. Rasanya akan sangat menyenangkan menikmati hari dengan segelas teh hangat atau secangkir kopi hangat.

Yak, kembali lagi! Saya ingin kembali me-review sebuah penginapan yang baru saja saya dan pasangan kunjungi kemarin weekend. Kali ini kembali ke Kota Kembang, Bandung. Pada mulanya mengapa kami memilih hotel ini, dikarenakan sebenarnya kami sedang ada acara di malam minggunya di Teater Tertutup Dago Tea House yang letaknya berada pada kawasan budaya pemerintah Kota Bandung yang berada di area Dago Atas. Berhubung acaranya dilaksanakan pada malam hari, maka kami memutuskan untuk mencari hotel yang sangat dekat dengan Dago Tea House tersebut, bila perlu kami bisa PP Dago Tea House – hotel hanya dengan berjalan kaki.

Maka, pilihan kami jatuh kepada Hotel Wirton.

 

– – –

 

Hotel Wirton merupakan hotel bintang 2 yang terletak persis sebelum jalan masuk ke Dago Tea House, berseberangan dengan Pom Bensin.

Lokasi Hotel Wirton Dago Bandung

 

Lokasi hotel ini strategis berada di pinggir Jalan Raya Dago Atas (Jln. Ir. H. Djuanda bagian atas) dengan harga per malamnya untuk Kamar Standard adalah sekitar Rp 250.000,-an. Cukup murah bukan?

Jam check in dan check out hotel ini sama-sama jam 12 siang, akan tetapi saat kemarin kami datang tepat waktu pukul 12 siang, ternyata kamarnya belum ready. Jadilah kami agak sedikit menunggu sampai dengan pukul 12.30-an. Yah, cukup lama, tapi berhubung saya juga membawa bekal novel, jadilah saya bisa memanfaatkan waktu menunggu dengan membaca novel. Pasangan? Ya apalagi jika bukan bermain game. Haha.

 

Nah, berikut merupakan penampakan kamar standard pada Hotel Wirton tempat kami menginap ini. Cukup minimalis dengan bentuk kamar-kamar hotel budget masa kini. Dan yang menjadi unik sebenarnya adalah, 2 (dua) sisi dinding yang menghadap luar ini, terdapat kaca yang menembus ke arah luar, sehingga pemandangan keluar hotel langsung dapat terlihat. Kebetulan kami memang request untuk kamar yang menghadap ke arah luar dan di lantai tertinggi dari jenis kamar yang ada. Dan memang mentok di lantai 2 untuk jenis kamar standard hotel ini.

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

 

Suasananya tenang dan tidak berisik walau kamar menghadap ke arah jalan raya dan berhadapan langsung dengan Pos Satpam Hotel, ya, pos satpam! Haha. Stereotype  yang biasanya suka menjadi “hal wajar” dengan yang namanya “pos satpam” itu adalah, kalau pada malam hari, petugas-petugasnya atau satpam-satpamnya suka menyalakan radio kencang-kencang untuk menemani sepanjang malam berjaga, malah bisa-bisa dangdutan dari radio yang dinyalakan tersebut. Akan tetapi kemarin kami tidak mengalami “hal yang tidak diinginkan” tersebut, alhamdulillah. Haha. Nah, berikut ini adalah penampakan bagian luar kamar kami atau pemandangan yang kami dapat dari kamar kami. Hihi.

Penampakan Sisi Sebelah Utara

 

Penampakan Sisi Timur yang Menghadap ke Arah Jalan Raya (Nah kan, ada Pos Satpam-nya kan….hahaha.)

 

Menuju ke hotel ini juga relatif sangat mudah ya, apalagi jika menggunakan transportasi umum yaitu angkot. Dapat dituju dengan menggunakan:

  1. Angkot Kalapa – Dago (Warna Hijau dengan Corak Orange di Bagian Bawah Angkot)
  2. Angkot Stasion – Dago (Warna Hijau dengan Garis Orange di Bagian Tengah Angkot)
  3. Angkot Riung – Dago (Warna Putih dengan Corak Hijau di Bagian Bawah Angkot)

Berhentinya pun persis di depan hotel dan tidak perlu berjalan kaki lagi menuju ke hotel ini. Mudah bukan?

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Kalau boleh saya katakan, kulaitasnya sama seperti hotel-hotel budget bintang 2 lainnya. Sistem prasmanan, rasa yang cukup lezat dan memuaskan bagi para tamu di dalam memenuhi kebutuhan sarapan pagi. Sarapan pagi seperti biasa dari pukul 6 sampai dengan pukul 10 pagi. Kemarin saat kami selesai melaksanakan sarapan pagi kami, kami melanjutkan aktivitas kami ke Car Free Day (CFD) Dago yang berada di Jalan Raya Dago Bawah (Jln. Ir. H. Djuanda bagian bawah). Menuju ke CFD pun kami tidak kesulitan, karena hanya dengan sekali menggunakan angkot menuju ke arah Simpang Dago di bagian bawah.

Sarapan Pagi di Hotel Wirton Dago Bandung

 

Overall menurut saya menginap di hotel ini cukup memuaskan dan yah walau pada saat datang agak sedikit menunggu. Selain itu, harga di hotel ini relatif murah, karena dari Rp 250.000,-an, teman-teman sudah dapat menginap di hotel ini.

Oke deh, liburan yuk! 🙂

Review Hotel Losari Blok M

Hello internet!

Tulisan kali ini kembali mengenai review hotel. Yeay! Haha. Rasanya tiada henti ingin menulis tentang beberapa hotel yang sudah pernah saya singgahi. Yuk mareee.

Namanya adalah Hotel Losari Blok M. Hotel ini merupakan hotel bintang 2, lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Panglima Polim Raya dan berada di seberang sisi kiri Blok M Plaza, di mana di depan hotel yang merupakan Jalan Raya Panglima Polim Raya ini sedang dibangun fly over baru. Saat saya menginap bersama dengan suami, saya baru meyadari bahwa, hotel tempat kami menginap ini dilalui oleh crane proyek jalan layang tersebut! Yang terlintas dalam benak saya adalah, sungguh-sangat-tidak-aman-sekali kami menginap di sana. Benar-benar kurang tepat waktunya rasanya. Tapi alhamdulillah selama kami menginap di sana, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Na’udzubillahimindzalik

Lokasi hotel ini sangat strategis, meskipun apes-nya dia berlokasi dekat sekali dengan proyek pembangunan jalan layang di depannya. Hotel Losari Blok M ini berada pada komplek area hiburan dan bisnis Melawai – Blok M. Letaknya persis di samping pintu masuk area komplek ini di sisi barat. Lokasi hotel ini juga dekat sekali dengan Blok M Square.

Harga per malamnya juga relatif sangat murah, apalagi jika teman-teman melakukan booking hotel via aplikasi travel online seperti agoda, traveloka, dan lain sebagainya. Dan saya saat menginap adalah pada saat long-weekend mendapatkan biaya menginap per malamnya adalah  sekitar Rp 300.000,-an.

Lokasi Hotel Losari Blok M

 

Untuk suasana hotel dan kamarnya, interiornya malah mengingatkan saya akan kondisi-kondisi hostel-hostel atau bahkan hotel-hotel budget di luar negeri, yang memang diperuntukkan bagi para backpacker. Dari masuk hotel dan menunggu di ruang resepsionis atau kedatangan tamu, sudah terasa “aura luar negeri”-nya. Haha. Dekorasi resepsionis yang dihiasi bendera-bendera beberapa negara plus jam dinding yang menunjukkan 4 (empat) waktu di 4 (empat) wilayah di dunia, semakin membuat terasa “aura luar negeri”-nya. Dan ketika sedang menunggu, kami juga disuguhi welcome drink yang memang sengaja dipersiapkan bagi para tamu hotel yang masih harus menunggu beberapa saat menunggu kamar yang dipesan siap.

Suasana Ruang Tunggu Hotel Losari Blok M

 

Suasana Ruang Tunggu Hotel Losari Blok M

 

Nah, ini yang tidak kalah menarik. Kamarnya gaes. Entah bagaimana cerita, saya langsung teringat Negara Jepang pada saat pertama kali masuk kamar hotel ini, tanpa mengingat bahwa lokasi hotel ini memang berada di kawasan Jepang-Jepang-an di Komplek Melawai Blok M.  Ya, Jepang! Saya rasa hotel-hotel budget di Jepang akan memiliki penampakan mirip-mirip seperti dengan kamar standar Hotel Losari Blok M ini. Ya walaupun sebenarnya saya juga belum pernah ke Jepang sih. Haha. Dari luas kamar yang minimalis, tapi sepertinya sang arsitek hotel ini pandai memanfaatkan ruang yang kecil terasa menjadi cozy dan membuat betah. Terkesan juga dengan posisi kamar mandi yang tidak biasa semakin terasa seperti di luar negeri. Haha. Tapi mungkin memang sepertinya sang pemilik hotel juga merupakan orang Jepang, di mana memang wilayah komplek Melawai – Blok M ini isinya mostly cafe-cafe, restoran-restoran, dan club-club Jepang.

Penampakan Kamar Standard Hotel Losari Blok M

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Losari Blok M

 

Penampakan Kamar Mandi Hotel Losari Blok M yang Minimalis Praktis

 

Sebelum masuk ke dalam kamar, terdapat ruang duduk-duduk semacam ruang tamu yang dapat digunakan oleh para tamu hotel jika misalnya menerima tamunya masing-masing. Walau nampak cozy untuk duduk-duduk, tamu hotel tetap tidak diperkenankan untuk merokok di dalam hotel.

Penampakan Ruang Tamu Sekunder Dekat Kamar-Kamar Hotel

 

Lukisan Cantik pada Ruang Tamu Sekunder (Benar-benar lukisan asli, BUKAN gambar print. Cat lukisnya terasa sekali. Cantik!)

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Seperti pada kualitas-kualitas hotel budget pada umunya, sarapan pada hotel ini sudah cukup baik dan lezat, sangat dapat memuaskan kebutuhan sarapan pagi para tamu. Selain itu juga, desain interior untuk ruang makan dan bar pada hotel ini juga cantik dan lagi-lagi bernuansa Jepang atau bernuansa “luar negeri”.

Meja Makan pada Ruang Makan Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Prasmanan di Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Prasmanan di Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Kami di Hotel Losari Blok M

 

Nah, kalau berikut ini merupakan penampakan beberapa hiasan dinding yang berada di sekitar area ruang makan Hotel Losari Blok M.

Hiasan Dinding di Area Restoran dan Bar Hotel Losari Blok M

 

Hiasan Dinding di Area Restoran dan Bar Hotel Losari Blok M

 

Sebenarnya kalau dari luar, hotel ini sangat terlihat sekali sebagai hotel lama dengan eksterior bangunan lama. Sayangnya juga nampak seperti bangunan lusuh jika dilihat sepintas dari luar. Akan tetapi, dilihat dari lokasinya yang strategis, dekat dengan tempat-tempat wisata belanja, saya rasa, tidak akan menjadi masalah. Apalagi kondisi interior yang bersih dan unik juga membuat suasana semakin terasa kalau sedang berlibur.

Tunggu apalagi gaes. Mari berkemas dan yuk liburan!

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja.

– – –

Kembali kepada nasehat positif tadi, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga. Ya, saya masih dan akan selalu yakin dan percaya demikian.


Misal, dalam suatu tes atau ujian sesuatu. Ada sebagian orang pada mulanya grogi, nervous, nggak yakin, ketakutan, dan sebagainya. Akan tetapi karena akhirnya mereka yakin dan telah bersungguh-sungguh dengan ikhtiarnya masing-masing, yakin bisa, yakin mampu, kemudian semakin hari semakin positif semangat dan pikirannya, ternyata benar-benar membuahkan hasil, mereka pun lolos ujian!

– – –

Bahasan berikutnya, terkait dengan artikel-artikel yang suka beredar luas di masyarakat dan berdasarkan penelitian-penelitian psikologi oleh para ahli.

Misal, mungkin pernah ada yang mengatakan, “wajar”, namanya juga hidup berpasangan, apalagi dalam kehidupan berumah-tangga, berantem-berantem begitu itu “wajar”, bisa jadi bumbu asem-manis kehidupan berpasangan dan biar bisa jadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk ke depannya atau bahkan dapat diceritakan kepada anak-cucu kita.

Akan tetapi, kalau bisa nggak perlu berantem-berantem, kenapa harus “memaksakan” untuk berantem.

Terkadang stereotype-stereotype yang umum dan berlaku “pada umumnya” di masyarakat, yang dianggap “wajar” dan “biasa”, nggak perlu dijadikan “trend” juga atau beranggapan “ini lho track yg udah bener” atau “berarti kalau kamu “begini” itu sudah wajar lho“, dan sebagainya.

Terkadang artikel-artikel hasil penelitian dunia psikologi untuk sebagian (kecil) orang memang nggak cocok.

Misal lagi, ada yang mengatakan “wajar”, ibu hamil kan pasti ngidam. Tapi nyatanya, untuk sebagian orang ternyata “perasaan ngidam” tersebut nggak muncul sama sekali sampai mereka melahirkan.

(bahkan dalam hal ini, Ibu saya yang orang Biologi murni, bilang, kalau “trend ngidam” ini hanya fenomena “ikut-ikutan” dan bahkan hanyak “efek pengaruh pikiran”, karena para ibu hamil ini senang membaca artikel-artikel terkait ngidam, dan berdasarkan pengalaman Beliau, anak sampai 3 begini, nggak pernah ngidam sama sekali, yang membuat saya malah bertanya-tanya “kok bisa Bu? wow”)

Kemudian ada lagi artikel yg mengatakan, untuk kehidupan berpasangan, nanti di usia mencapai 5 tahun ke atas, pasti akan muncul rasa bosan dan akan dimulai berantem-berantem kecil dan itu adalah “wajar”. Tapi nyatanya, banyak juga yang ternyata pasangan yang sudah hidup bersama selama 10 tahun ++, bahkan 20 tahun ++, nggak pernah sama sekali berantem, nggak pernah sama sekali merasa bosan, bahkan “dipaksa” untuk menciptakan “adegan” berantem pun, gagal juga, alias bener-bener nggak bisa berantem sama sekali. Nah lho.

– – –

Kalau nggak salah, cmiiw, di setiap penelitian-penelitian psikologi-psikologi tersebut biasanya pakai angka persentase-persentase. Misal, ingin membuktikan kondisi “begini (X)” pada masyarakat yang dianggap “umum” dan “wajar”, yang kemudian diharapkan hasil kondisi “begini (X)” memiliki persentasi paling besar mendekati mayoritas dari random sampel yang diambil. Akan tetapi kemudian terdapat catatan, bahwa kondisi “begini (X)” mengandung kesan atau konotasi negatif.

Misalnya seperti ini, diadakan suatu penelitian tentang tema sesuatu hal, yang penelitiannya sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang juga oleh para ahli dengan tema yang sama, kemudian menunjukkan hasil seperti ini:

86% orang itu ternyata memang “begini (X)” dan 14% lainnya “begitu (Y)”. Maka muncul stereotype “umum”, “oh wajar” kalau misal mengalami kondisi X. Padahal, sekali lagi padahal, kondisi X adalah kondisi dengan kesan negatif.

Kenapa harus memaksakan diri menjadi bagian yang 86% tadi yang “umum” dan dianggap “wajar” berlaku dalam masyarakat yang padahal merupakan sesuatu hal yang berkesan negatif?

Kalau kita bisa menjadi atau bahkan naturally menjadi bagian yang 14% yaitu kondisi Y dan memang golongan 14% ini merupakan sesuatu hal dengan kondisi yang positif, kenapa tidak?

– – –

Saat ini saya masih dan selalu percaya dengan kekuatan pikiran. Apa yang kita jalani, alami, dan lalui merupakan hasil buah pemikiran kita sendiri dan sesuai apa yang kita percayai. Dan saya masih dan akan selalu percaya nasehat para bijak yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, di mana, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

– – –

Well, hidup cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dan sepositif-positifnya.

– – –

Sama seperti yang sedang saya alami (eeaaa curcol). Saya yakin dan masih akan selalu yakin, Tuhan Bukan Tidak Percaya kepada kami, bukan, melainkan Tuhan Mempersiapkan waktu terbaik-Nya, dan saya sangat yakin kalau kami punya kesempatan yang sama dengan yang lain.

Andaikata pun, na’udzubillahimindzalik, sampai nanti di penghujung waktu masih “belum kejadian” juga, maka saya yakin, Tuhan Memang Punya Rencana Terindah untuk kami berdua dan mungkin Tuhan Memang Mempercayakan kami untuk suatu hal lainnya yang memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih. Dan toh pun jika benar demikian, na’udzubillahimindzalik, mungkin sudah beberapa masa yang kami lewati, di usia panjang kami insyaaAllah (aamiin) dan mungkin juga sudah beberapa aksi atau kegiatan positif yang sudah kami kerjakan, lalui, dan jalani, dan mudah-mudahan bisa bermanfaat juga.

Setidaknya juga, jika benar sampai di penghujung waktu nanti kami masih “belum-belum juga”, na’udzubillahimindzalik, setidaknya, kami pasti sudah berusaha semaksimal kami bisa, berbagai ikhtiar dan cara pasti sudah kami coba, dan tentu saja tidak akan ada penyesalan dan rasa kecewa sedikit pun kepada-Nya, karena rasa kecewa dan rasa sesal yang muncul adalah jelas bisikan setan.

Lagian, masa’ kita mau marah dan benci kepada Sang Maha Pencipta kita? Ya nggak to.

So jadi, tetap dan berusaha selalu positif. Kondisikan pikiran agar selalu positive thinking. InsyaaAllah “bonus”-nya pasti juga positif. (dan mudah-mudahan “positif” beneran, eeaaa, aamiin) 😀


– – –

X-Trans Arah Bandung,

23 September 2017

08.25 WIB

Review Fave Hotel Melawai – Blok M

Halo lagi internet!

 

Wow-wow! Rasanya saya sedang bersemangat. Haha! Kembali lagi, saya akan membahas dan me-review sebuah hotel. Dan giliran kali ini jatuh pada Fave Hotel Melawai yang sebenarnya letaknya persis dekat dengan Blok M Square. Yuk, cekidot gan!

 

Pada mulanya mengapa saya menginap pada hotel ini? Ya, seperti biasa karena iseng. Oh wait, iseng? Buang-buang duit donk kamuh! No, no, nggak, kami bukan tipe yang suka buang-buang duit. Nyarinya susah, bo! Hehe. Ya, kebetulan memang dalam minggu-minggu kala itu, load pekerjaan yang sedang saya handle memang sedang banyak-banyaknya dikerjakan, walau sebenarnya yeah…..nggak capek-capek amat sih, hanya, rasanya badan memang terasa sedikit penat. Haha. (alasan kamu, gan! wkwk) 😀

 

Saya menginap dari tanggal 11 – 13 Agustus 2017. Saat itu memang kebetulan suami memang ada acara keluarga menemani Tante ke Samarinda, akan tetapi saya tidak dapat ikut, dikarenakan di hari Jumat-nya saya memang masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera, jadi yah, mau bagaimana lagi. Ditambah saat itu, di bulan depannya, yaitu September 2017, saya akan mengambil cuti banyak, karena urusan keluarga juga, hehe. (saat saya menulis ini, cutinya sudah saya lakukan pada minggu lalu, 😀) Saya pun izin kepada suami perkara ide menginap ini, dan alhamdulillah suami meng-iya-kan. Yeay! Dan kebetulan juga, di hari Sabtu-nya, 12 Agustus 2017, ada sebuah konser klasik (orkestra) yang diselenggarakan di Balai Resital Kertanegara di mana lokasinya tidak jauh dari Blok M, pluuus kebetulan yang dadakan juga, ada teman semasa kuliah yang akhirnya menemani saya menginap di hotel di hari Sabtu sampai dengan Minggu-nya, karena sama-sama akan menonton konser tersebut. (tenang, temen cewek kok! :D)

 

Konser Jakarta Sinfonietta di Balai Resital Kertanegara

 

– – –

 

Hotel budget bintang 3 (tiga) ini merupakan hotel yang termasuk dalam kategori hotel baru dengan mengusung konsep hotel budget “kekinian”, modern, dan memang tipe-tipe seperti ini diperuntukkan bagi para backpacker. Akan tetapi, saya berkesempatan menginap di hotel ini pada saat weekend, bukan dalam urusan atau kegiatan kerja.

 

Lokasi ini jika boleh saya bilang atau katakan adalah, sangat sangat sangat dan superrr strategis. Karena apa? Karena lokasinya persis di samping Blok M Square. Apalagi jika memang sengaja memiliki tujuan untuk berlibur dan untuk berwisata belanja di area Blok M. Bagaimana tidak? Keluar dari hotel, teman-teman sudah menjumpai Blok M Square di depan mata, sudah begitu pintu hotel tegak lurus dengan salah satu pintu masuk mall tersebut. Nah kan? Kurang strategis apalagi coba? Hahaha.

 

Lalu bagaimana dengan harga? Jangan khawatir, walaupun lokasi hotel ini begitu sangat strategis, harga per malamnya tidak terlalu mahal, alias relatif murah. Sebagai perbandingan, untuk harga kamar tipe standard adalah sekitar Rp 350.000,-an per malamnya untuk waktu weekend (karena pada saat saya menginap adalah waktu weekend, bukan weekday). Apalagi jika melakukan booking melalui aplikasi travel online seperti agoda, traveloka, maupun aplikasi lain semacamnya, bisa-bisa mendapatkan diskon tambahan atau diskon bawaan dari aplikasi-aplikasi tersebut.

 

Berikut penampakan Kamar Standard Fave Hotel Melawai:

 

 

Sebenarnya pada saat booking saya sudah request untuk kamar yang menghadap ke arah luar, alias arah bagian depan yang berhadapan langsung dengan Blok M Square, akan tetapi yang saya dapatkan malah di sisi bagian dalam (bukan menghadap ke bagian luar hotel). Sempat kecewa pada awalnya, namun setelah mendengar penjelasan dari petugas resepsionis yang mengatakan kalau tipe kamar standard dengan single bed sudah tidak ada yang menghadap ke bagian luar, karena yang bagian luar itu tersisa yang double bedYeah…..walau sebenarnya saya masih dongkol dan tidak terima, tapi yasudah lebih baik saya terima dan berdamai saja dengan keadaan. Haha. (lebay banget yak perkara letak posisi kamar doank :D). Akan tetapi, setelah tau dadakan yang ternyata kawan saya ternyata mau menemani saya menginap, tau begitu, saya akan ambil tuh kamar double bed. Hahaha. Yah…yasudahlah.

 

Next…

 

Untuk sarapan pagi pada hotel ini, menurut saya sudah sangat enak ya, dengan berbagai varian sarapan yang diberikan. Ada bentuk sereal, salad, roti, bubur, hingga makanan berat nasi atau mie beserta lauk-pauknya.

Omelette Fave Hotel Melawai

 

Dan yang menjadi unik adalah, letak ruang makan atau restoran hotel ini ternyata berada pada lantai yang menyambung dengan bangunan sebelah, yaitu terletak pada lantai 2. Dan setelah dilihat-lihat juga, properti seperti meja dan kursi makan, ternyata milik Kedai Kopitiam, di mana memang letak warung kopi tersebut bersebelahan persis dengan hotel ini. Jadi, ruang makan yang digunakan oleh Fave Hotel Melawai ini merupakan ruangan share dengan Kedai Kopitiam. Mungkin sistem pembagian jadwalnya menjadi begini, pada pagi hari diperuntukkan untuk sarapan pagi Fave Hotel Melawaikemudian pada siang harinya barulah untuk Kedai Kopitiam. Lagipula jam sarapan berbatas hanya dari jam 6 pagi sampai dengan jam 10 pagi saja, sementara toko-toko atau tempat makan atau cafe-cafe pada umumnya baru akan buka sekitar pukul 10 – 12 siang. Boleh juga ya idenya. (sayang saya tidak sempat memotret seluruh bagian ruang makan tersebut, hiks)

 

Yang lebih seru lagi, pada saat malam hari, akan berjejer banyak kuliner lesehan yang digelar pada sisi Blok M Square yang berhadapan langsung dengan hotel ini! Karena sisi-sisi lain Blok M Square tidak ada gelaran kuliner lesehan seperti sisi yang satu ini. Nah, ciamik bukan? Hehe. 😀 Jadi, tidak perlu khawatir jika ingin mencari makan malam atau jajanan pada malam hari. Hanya sayangnya, kuliner lesehan ini tidak sampai jam 12 malam biasanya sudah habis dan tutup. Pada awalnya, saya pikir kuliner malam tersebut akan buka dengan overtime lebih dari jam 12 malam, mengingat waktu weekend biasanya akan banyak orang yang berkegiatan malam di area wisata tersebut, tapi ternyata tidak demikian.

 

– – –

 

Atraksi-atraksi wisata belanja yang dapat dituju dari hotel ini antara lain, jelas yang pertama adalah Blok M Square, yang terletak persis di seberang hotel. Kemudian ada Pasaraya Blok M yang terletak di belakang hotel, di mana setelah keluar dari hotel, pengunjung diharuskan berjalan ke arah kanan mentok kemudian belok kanan, maka lokasi Pasaraya Blok M sudah terlihat di sebelah kanan. Perlu diketahui juga bahwa lokasi Pasaraya Blok M ini bersebalahan persis dengan Terminal Bus Blok M non-TransJakarta. Untuk halte TransJakarta itu sendiri, terintegrasi (menyatu) dengan Blok M Square, di mana jika ingin menuju ke sana, pengunjung diharuskan melalui bagian basement gedung Blok M Square.

 

Oh iya, ada lagi! Di atas Blok M Square ini juga terdapat Masjid Raya atau Masjid Besar yang saaangat luas, di mana di tiap minggunya suka diselenggarakan pengajian dan mendatangkan ustad-ustad ternama negeri ini. Nah kan, hotel ini benar-benar strategis bukan? Selain itu, hotel ini juga terletak dekat dengan Mall Blok M Plaza yang berada di arah barat dari Blok M Square, serta dekat juga dengan club-club (diskotik) dan restoran Jepang yang identik dengan “kehidupan malam”.

 

(Sungguh super unik ya area Blok M dan Melawai ini. Di sisi lain, pada saat malam hari, areanya penuh kelap-kelip khas hiburan malam, sementara di tengah-tengah-nya atau di “jantung” atau pusat-nya area Blok M dan Melawai ini, terdapat Masjid Raya Megah yang sudah saya sebutkan tadi yang berada di atas Blok M Square tersebut. Kontras sekali rasanya, apalagi jika menikmati area ini dari pagi, siang, sore, hingga malam hari, akan terasa sekali “perbedaan” dan “kontras”-nya. Haha.)

 

Lokasi Fave Hotel Melawai

 

Tunggu apa lagi. Mari berkemas dan hilangkan penat sejenak. Mari liburan! 😀