Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Maven Fatmawati, Jakarta Selatan

Hai internet! Kembali kali ini saya ingin me-review sebuah hotel dan hotel yang akan saya review ini berlokasi di area Fatmawati, Jakarta Selatan. Yuk, cekidot gan!

 

Sebenarnya tulisan kali ini masih relate dengan tulisan saya yang ini (klik ya…). Yup, menginap di sini dikarenakan air di rumah masih mati dari hari-hari sebelumnya, sementara saya sedang sangat butuh-butuhnya untuk bolak-balik ke kamar mandi untuk urusan beser.

 

– – – – –

 

Hotel yang akan saya review ini bernama Hotel Maven Fatmawati yang merupakan hotel jadul berbintang 3 (tiga) di mana lokasinya sangat dekat dengan kawasan ITC Fatmawati. Jadi sewaktu saya menginap di sini, terlihat juga ada beberapa orang yang sepertinya penjual yang berasal dari daerah, yang mungkin sedang kulakan di Jakarta.

Lokasi Hotel Maven Fatmawati (sumber: Google Maps)

 

Saya memilih hotel ini dengan pertimbangan, lokasinya tidak jauh dari pusat kuliner dan pusat perbelanjaan (mumpung nginep di hotel ceritanya kan…), serta dilalui jalur pulang-pergi suami ngantor sehari-hari.

 

Namun sayangnya saat menginap di hotel ini, area sekitar, khususnya bagian depan hotel, masih terdapat proyek pembangunan Jalur MRT Jakarta, jadi cukup lumayan berdebu jika berjalan kaki di siang hari.

 

Walau demikian, menurut saya menginap di hotel ini tidak mengecewakan dan cenderung merasa nyaman selama periode menginap berlangsung.

 

Saya menginap dari hari Senin hingga hari Kamis siang, alias menginap selama 4 hari 3 malam. Pada mulanya, saya hanya booking selama 2 malam saja, namun pada saat hari ke-3 yang seharusnya di rencana awal hari check out, saat suami mengecek air di rumah masih belum menyala juga dan beberapa tetangga terlihat masih mengandalkan pompa air rumahnya masing-masing, jadilah kami menambah 1 malam meginap. Dan bersyukurnya pada hari ke-4 mengungsi, alias hari terakhir mengungsi, saat dicek kembali di pagi harinya oleh suami, air di rumah sudah mulai berangsur-angsur menyala walau masih rintik-rintik nyala-mati tidak jelas.

 

 

Kondisi Kamar Hotel

 

Di hotel ini kami menginap di kelas kamar terendah yaitu tipe Kamar Standard. Harga per malam yang kami dapatkan di sini adalah Rp 330.000,-an.

Jika melihat kondisi hotel yang bersifat klasik dan memang merupakan hotel jadul, serta walau bertuliskan hotel berbintang 3, namun kamar yang kami tempati berukuran lebih luas jika dibandingkan dengan tipe Kamar Standard hotel berbintang 3 lainnya yang pernah kami kunjungi, plus fasilitas di dalam kamar yang sudah terdapat heater yang mana sangat jarang saya temui di hotel berbintang 3 lainnya dan terdapat jumlah colokan jauh lebih banyak dibandingkan dengan hotel berbintang 3 lainnya, saya rasa harga demikian cukup worth it.

 

Mengingat juga area sekitar hotel yang sedang menjadi wilayah pembangunan, hotel ini ternyata memang sedang memberikan harga diskon bagi siapa saja yang menginap di hotel tersebut. Mungkin jika area hotel “sedang normal” dan bukan masa-masa pembangunan, harga per malam di kelas kamar terendah hotel tersebut dapat mencapai angka Rp 400.000,-an.

 

Dan beginilah kondisi kamar yang kami tempati.

Kondisi Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

Kondisi Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

Kondisi Kamar Mandi Tipe Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

Area Mini Bar Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

View dari Kamar Standard Kami di Hotel Maven Fatmawati

 

Kami memang sengaja meminta view kamar kami menghadap ke bagian luar hotel, dengan alasan agar cahaya matahari dari luar dapat masuk di siang harinya dan pemandangan mata juga tidak terasa jenuh.

 

 

Kondisi Interior Hotel dan Ruang Resepsionis Hotel

 

Saat pertama kali memasuki hotel dan memasuki area resepsionis hotel, suasana yang saya rasakan adalah kenyamanan. Ditambah pula walau bersifat minimalis, namun dekorasi interior hotel membuat saya menjadi lupa dengan “kondisi berantakannya” di luar hotel yang memang sedang bertumpuk-tumpuk bahan bangunan.

 

Bahkan jika dilihat dari area kedatangan saya, lokasi hotel ini benar-benar dilalui jalan buntu akibat proyek pembangunan MRT yang sedang berlangsung tersebut.

Lokasi Hotel Maven Fatmawati (Sebelah Kiri pada Gambar)

 

Dan berikut ini merupakan beberapa penampakan bagian dalam hotel.

Ruang Resepsionis Hotel Maven Fatmawati

 

Hiasan pada Ruang Resepsionis Hotel Maven Fatmawati

 

Terdapat Sebuah Piano di Ruang Resepsionis Hotel Maven Fatmawati

 

Lift “Touchscreen” di Hotel Maven Fatmawati

 

Tangga Bernuansa Klasik di Hotel Maven Fatmawati

 

 

Kondisi Ruang Makan dan Sarapan

 

Kebetulan di hotel ini tidak terdapat sewa kamar tanpa sarapan, jadi setiap menginap di hotel ini, harga yang diberikan sudah termasuk dengan fasilitas sarapan pagi.

 

Nah, untuk kualitas sarapan di sini sebenarnya agak kurang berwarna dan kurang bervariasi. Mungkin hal ini dikarenakan karena memang kondisi hotel yang berbintang 3. Namun, suasana “minimalis sekali” sangat terasa saat kami melaksanakan sarapan pagi kami.

 

Makanan berat yang tersedia pun hanya terdapat 2 jenis saja, yaitu nasi dan lauk 1 jenis. Nasinya memang pilihan, nasi putih atau nasi goreng, namun untuk lauknya ya hanya 1 jenis saja, bergantian di tiap harinya. Berhubung kami menginap selama 4 hari, “hawa bosan” agak terasa saat kami sarapan di sini.

 

Walau demikian, terdapat menu lain seperti roti, buah, puding, teh panas, kopi panas, serta jus yang tersedia juga untuk para pengunjung.

 

Kesimpulan untuk sarapan di hotel ini, cukup dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan sarapan kami lah ya…

 

Suasana Ruang Makan Hotel Maven Fatmawati

 

Suasana Ruang Makan di Hotel Maven Fatmawati yang Menghadap Langsung Bagian Depan Hotel (Terlihat Pagar Seng Pembatas Proyek MRT)

 

Suasana Sarapan di Hotel Maven Fatmawati

 

Suasana Sarapan di Hotel Maven Fatmawati

 

Kuliner Sekitar Hotel Maven Fatmawati

 

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, bahwa lokasi hotel ini sangat dekat sekali dengan area ITC Fatmawati. Oleh karenanya, di wilayah sekitarnya pun sudah pasti banyak terdapat warung makan-warung makan seperti warteg dan warung makan padang yang berderet di pinggir jalan raya Fatmawati.

 

Namun terdapat 2 (dua) kuliner yang “membekas” di hati saat saya menginap pada Hotel Maven Fatmawati ini.

 

 

1) Kuliner Soto Kudus

 

Posisi warung makan ini berada pada deretan warteg dan warung  makan padang yang ada. Pada hari pertama menginap, saya nge-warteg, namun saat melihat ada warung Soto Kudus di sampingnya, saya pun tertarik untuk mengunjunginya di keesokan harinya. Dan rasa penasaran saya pun terpuaskan dengan hidangan yang disajikan.

 

Lokasi Warung Soto Kudus yang Berada pada Deretan Warteg

 

Soto Kudus yang Disajikan dengan Mangkuk Berbahan Tanah Liat

 

Soto Kudus yang disajikan masih menggunakan cara tradisional dengan menggunakan mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Awalnya saya mengira akan menggunakan mangkuk kecil keramik seperti pada warung-warung soto sejenis di tempat lain, namun saya “dikejutkan” dengan penyajian yang terasa “berbeda” dan “tidak biasanya”.

 

Suasana saat makan siang di warung soto tersebut, membuat saya jadi teringat kampung halaman di Jawa Tengah sana. Rasanya tuh jadi “pas”. Hehe.

 

Harga soto pun menurut saya tidak terlalu mahal, yaitu Rp 15.000,- untuk semangkuk Soto Kudus Campur.

 

(oiya, kalau di Jawa Tengah,  cara menikmati sajian soto khas kuliner Jawa Tengah memang kebanyakan dengan cara “dicampur”, dari yang namanya Soto Sokaraja, Soto Bangkong Semarang, hingga Soto Kudus, semuanya akan terasa nikmat jika disantap dengan cara “dicampur”, tidak dipisah antara soto dengan nasi)

 

Namun kebanyakan sekarang di kota-kota besar seperti di Bandung maupun Jakarta, jika terdapat warung soto khas Jawa Tengah seperti yang sudah saya sebutkan tadi, biasanya tetap memberikan pilihan bagi para pengunjung, mau menikmati soto secara “dipisah” atau “dicampur”.

 

 

2) Kuliner Seafood

 

Seafood! Siapa sih yang tidak suka dengan jenis makanan yang satu ini? Hehe.

 

Jadi ternyata, di deretan Hotel Maven Fatmawati menjorok ke bagian dalam ke arah jalan buntu akibat proyek pembangunan MRT, terdapat sebuah kuliner seafood yang sangat lezat menurut saya, di mana sepertinya karena sedang ada pembangunan, tempat makan tersebut menjadi tidak seramai biasanya seperti saat belum terdapat proyek pembangunan MRT Jakarta ini. Karena lokasinya menjadi sedikit “tersembunyi”, maka sang owner pun setiap malam harus menaruh papan pengumuman kalau tempat makannya tetap buka dalam masa pembangunan MRT.

 

Papan Penunjuk Arah Lokasi Seafood “Santiga” di Ujung Jalan Sebelum Jalan Buntu

 

Kenapa saya tau kalau papan ini ditaruh setiap hari? Karena pada saat siang hari papan tersebut tidak ada, baru ada di malam harinya, dan tempat makan seafood tersebut memang hanya buka pada malam hari saja.

Dan beginilah suasana tempat makan Seafood “Santiga”.

 

Penampakan Tempat Makan Seafood “Santiga”

 

Menu di Tempat Makan Seafood “Santiga”

 

 

Suasana di Tempat Makan Seafood “Santiga”

 

 

– – – – –

Jadi, begitulah pengalaman kami selama menginap 4 hari 3 malam pada Hotel Maven Fatmawati. Overall menginap di sini sangat menyenangkan dan membuat “rasa betah” walau harus seharian berada di dalam kamar hotel.

 

(maklum, saya kan IRT sehari-hari, jadi memang nggak ke mana-mana sehari-hari juga, hehe)

 

Dan menurut saya, Hotel Maven Fatmawati ini sangat cocok bagi para backpacker maupun siapa saja yang ingin “kabur sejenak” dari rutinitas harian. Harga relatif sangat murah untuk lokasi yang sangat strategis.

 

Oiya, FYI, jika saya bandingkan dengan hotel-hotel lain di sekitar ITC Fatmawati juga, penawaran harga tipe kamar terendah Hotel Maven Fatmawati ini masih jauh lebih murah. Hotel-hotel lain yang sama-sama berlokasi sekitar ITC Fatmawati, masih menawarkan harga di angka sekitar Rp 400.000,- hingga Rp 450.000-an untuk tipe kamar terendah yang dimiliki dari hotel-hotel tersebut. So, masih worth it saya rasa jika memutuskan untuk menginap di hotel ini.

 

Terutama apabila para pelancong adalah para pedagang yang memang bergerak dalam dunia fashion maupun bidang elektronik, yang kebetulan mungkin sesekali ingin “mencari inspirasi” di area ITC Fatmawati. Hotel Maven Fatmawati dapat dijadikan bahan pertimbangan sebagai tempat menginap.

Advertisements
Curhat Terbuka, Life

Kreativitas yang Meresahkan

Berita akhir-akhir ini, baik di media elektronik, media cetak, sosial media, dan lain sebagainya, cukup membuat resah masyarakat. Apalagi di antara berita-berita tersebut terdapat kejadian yang bersinggungan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Berita-berita ini saya menyaksikan langsung melalui media televisi maupun juga di media elektronik, jadi saya meyakini jika berita-berita ini bukan merupakan berita hoax.

 

  1. Berita Pemulung Bahan Makanan

Berita ini saya lihat di Trans 7 di acara-acara investigasi makanan yang khas dimiliki oleh stasiun TV ini. Biasanya dari program televisi ini, kita sering mendengar berita mengenai daging bakso sapi yang diganti dengan daging tikus, ada juga berita terkait makanan yang mengandung pengawet borax, dan berita negatif lainnya.

Namun pada sore hari itu, saya tidak sengaja melihat berita yang cukup membuat kaget dan menjadi membuat sedikit rasa khawatir.

Berita yang saya lihat adalah adanya kegiatan yang dilakukan oleh beberapa oknum pemulung di mana mereka memulung bahan makanan sisa yang terlihat “masih layak” konsumsi di pasar tradisional. Jenis bahan makanan yang dimaksud dalam berita adalah beberapa bahan dasar seperti bawang merah, bawang putih, tomat, dan cabai.  Yang membuat miris adalah bahwa hasil-hasil pulungan tersebut kemudian akan dilakukan pembersihan agar terlihat “lebih fresh”. Kemudian setelah bersih, bahan-bahan makanan tersebut akan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran.

Misal, saat ini harga bawang merah ¼ kg adalah mencapai angka Rp 13.000,-, namun harga jual bawang merah hasil pulungan ini, ¼ kg-nya bisa hanya dijual dalam rentang Rp 6.000,- sampai dengan Rp 7.000,- saja.

Yang membuat saya merasa miris adalah, kejadian ini menyasar pasar-pasar tradisional, di mana membuat saya semakin berpikir, di pasar tradisional inilah banyak masyarakat yang menggantungkan kehidupan sehari-hari keluarga mereka dari tempat ini. Terutama untuk saya pribadi, jika ingin berhemat untuk supply bahan makanan sehari-hari, saya bisa dapatkan di pasar tradisional ini. Sementara yang terlihat pada berita investigasi sore hari itu adalah benar-benar terjadi di sebuah pasar tradisional yang kebetulan lokasinya berada di sebuah kota besar. Saya tidak habis pikir jika apabila ternyata praktek-praktek kejahatan ini banyak terjadi di pasar-pasar tradisional lainnya di kota-kota lainnya.

Yang tadinya merasa aman-aman saja berbelanja harian di pasar tradisional, berubah menjadi memiliki rasa khawatir berlebih dan memiliki rasa hilang kepercayaan terhadap kualitas bahan makanan yang dijual di pasar tradisional.

Ya…memang tidak semua pasar tradisional akan seperti itu sih, saya yakin. Namun rasa was-was dan khawatir tetap muncul kan. 😦

 

  1. Berita Kebocoran Jawaban Ujian Nasional Tingkat SMA

Berita ini juga saya lihat di televisi. Kejadian kebocoran jawaban ujian nasional ini terjadi di Kota Bandung di suatu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan menurut berita yang saya dengar, kunci jawaban ujian ini sudah tersebar luas beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian di kalangan murid-murid tingkat SMA tersebut melalui grup-grup WhatsApp dan grup-grup sejenis.

Yang saya tangkap, mungkin, terdapat beberapa oknum yang terlalu khawatir jika terjadi ketidak-lulusan siswa yang sangat besar. Oleh karenanya sang oknum melakukan penyebaran kunci jawaban soal-soal ujian tersebut dengan sengaja, mengingat ujian tersebut bersifat nasional dan sebagai tolak ukur lulus atau tidaknya seorang siswa dari bangku sekolah tingkat SMA.

Link berita terkait.

 

  1. Berita Packaging Ulang Makanan yang Sudah Kedaluwarsa

Nah ini. Berita ini yang lagi-lagi membuat geleng-geleng kepala saat mendengarnya. Bagaimana tidak? Banyak sekali makanan-makanan yang sudah jelas-jelas telah melewati batas tanggal kedaluwarsa, namun dilakukan packaging ulang dengan kemasan yang bertuliskan tanggal kedaluwarsa baru yang lebih panjang lagi dari masa sebelumnya, yang padahal jelas-jelas tanggal tersebut adalah palsu alias bohong. Dan lebih mirisnya lagi adalah ketika saya melihat nama salah satu perusahan besar yang memang bergerak dalam bidang makanan, terdapat dalam gerombolan makanan yang berhasil dikumpulkan oleh pihak kepolisian. Yang jauh lebih miris lagi, hasil re-packaging ini benar-benar dijual kembali ke supermarket-supermarket yang ada di beberapa kota besar.

Saat menyimak berita ini, saya tidak menemukan kesimpulan jika memang sang produsen asli (perusahaan-perusahaan makanan asli) yang “menyuruh” kegiatan demikian, melainkan terdapat beberapa oknum di tengah-tengah masyarakat, yang memang memiliki usaha ilegal ini, bahkan memiliki pabrik sendiri yang memang sengaja untuk melakukan re-packaging makanan-makanan kedaluwarsa ini. Sad.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan nasib makanan-makanan yang sudah terlanjur tersebar di beberapa supermarket ya? Mudah-mudahan dapat terdeteksi ke mana saja persebarannya dari hasil penyelidikan kepolisian dan dapat segera menarik kembali makanan-makanan tersebut. Aamiin. -_-”

Link berita terkait.

 

  1. Berita Konten Puisi yang Menyinggung Isu SARA

Berita yang satu ini memang cukup menggegerkan dunia maya. Berita ini membuat netizen bereaksi super heboh dengan berbagai macam reaksi, baik reaksi negatif maupun positif ketika melihat berita ini.

Jadi, dalam puisi tersebut mengandung beberapa kata-kata yang menyinggung suatu agama di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, kata-kata yang digunakan benar-benar straight to the point, benar-benar lugas, sehingga orang yang mendengar dan membaca hampir pasti akan dapat mendidih seketika, khususnya umat agama tersebut. Permasalahan di sini adalah karena kata-kata yang digunakan terlalu sensitif dan tidak bisa dijadikan sebagai hal-hal perbandingan, apalagi sebagai bahan lelucon, karena kata-kata tersebut merupakan hal-hal mendasar pada ajaran agama tersebut.

Berita terakhir yang saya baca sih, sudah ada klarifikasi langsung oleh sang penyair melalui press conference dan sudah meminta maaf langsung kepada masyarakat umum.

Satu hal yang dapat dipelajari dari kasus ini, sekreatif apapun diri kalian, jika kurang berhati-hati di dalam bertindak, maka kelak akan dapat menimbulkan masalah di kemudian hari, apalagi jika menyangkut hal-hal sensitif seperti halnya isu SARA dan menyangkut hajat hidup masyarakat pada umumnya.

Link berita terkait.

 

  1. Video Instastory Seorang Youtuber Muda yang Merobek Uang Rp 100.000,-

Terakhir, berita ini. Saya sebenarnya sudah tidak kaget jika hal ini akan terjadi demikian, mengingat sepertinya “ada yang berbeda” dengan Halilintar yang satu ini. Sayangnya, akibat dari seorang Halilintar yang berperilaku negatif  inilah, jadinya nama Gen Halilintar pun ikutan tercoreng negatif. Padahal sebenarnya, tidak semua Halilintar yang memiliki sifat “nyentrik” macam sang Youtuber tersebut.

Di dalam video tersebut, terlihat bahwa seorang Halilintar yang juga seorang Youtuber melakukan  aksi merobek uang kertas senilai Rp 100.000,-, di mana yang diklarifikasi oleh sang Youtuber tersebut di kemudian hari menyatakan kalau uang kertas yang digunakan adalah uang kertas mainan. Namun nasi telah menjadi bubur. Video tersebut sudah banyak ditonton oleh banyak pengguna Instagram dan bahkan sudah tersebar dalam bentuk digitalnya secara luas. Sehingga banyak masyarakat yang telah menyaksikan video tersebut. Pada akhirnya masyarakat pun merasa kecewa terhadap sang Youtuber karena sudah memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat. Terutama apalagi banyak fans  dari keluarga Halilintar ini yang masih anak-anak dan remaja. Miris sekali rasanya. 😦

Saya pernah bertemu dengan gerombolan Halilintar perempuan saat sedang berbelanja di supermarket di suatu mall di Jakarta Selatan. Kesan yang saya lihat dari mereka justru (anak-anak Halilintar perempuan), malah tidak terlihat sama sekali kalau mereka ini adalah “anak orang kaya”.  Benar-benar penampilannya sangat biasa saja, kesan “kaya” hampir tidak terlihat sama sekali. Banyak yang menyematkan bahwa keluarga ini sangat kaya-raya dan tajir-melintir, kemudian sering riya’ di kesehariannya. Padahal menurut saya, kesan seperti itu terbentuk hanya karena perspektif orang-orang tertentu saja, atau karena “bentukan” image di sosial media, dan mungkin disebabkan oleh beberapa anggota Halilintar saja yang memang memiliki sifat “nyentrik” tadi.

Hal yang saya pelajari di sini adalah bukan tertuju pada sang Youtuber, melainkan tertuju kepada kedua orang tuanya. Saya malah memiliki kesimpulan pribadi demikian, ternyata mendidik anak itu susah, atau dapat dikatan sangat susah. Bagaimanapun anak adalah titipan Tuhan, harus dirawat dan dididik dengan penuh tanggung-jawab. Menjadi orang tua memang berat, akan tetapi jika sudah memutuskan untuk menjadi orang tua, berarti juga sudah harus siap secara lahir dan batin untuk segala bentuk tanggung-jawab ke depannya di dalam mendidik dan menuntun anak-anaknya hingga nanti usia dewasa.

Menurut saya pribadi, saya yakin kedua orang tua Halilintar bukan orang tua yang tidak baik, bukan tipe orang tua yang masa bodoh dan  menelantarkan anak-anak mereka, bukan. Hanya saja kejadian yang sedang terjadi ini semacam “ujian” yang sedang “mampir” ke dalam kehidupan mereka saja sebagai orang tua. Dari beberapa video Gen Halilintar yang berada di channel Youtube, khususnya yang berada pada channel utama keluarga ini, saya melihat kalau apa yang mereka lakukan itu adalah murni jika mereka memang “demikian” adanya, yang terkadang juga terlihat kesan kalau mereka adalah keluarga religius juga. Walau terkadang benar, kesan “terlalu heboh” pada keluarga ini juga benar-benar terasa, yang mana terkadang memang dapat mengganggu orang-orang di sekitar mereka pada saat mereka melakukan rekaman video vlog.

Link berita terkait.

– – – – –

 

Beberapa kejadian di atas merupakan hal-hal yang sesungguhnya bersifat kreatif, namun sayangnya hal-hal yang dilakukan justru bersifat sangat negatif.

Dari kejadian-kejadian yang sudah saya sebutkan di atas, kita jadi dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran, agar untuk ke depannya kita juga tidak ikut-ikutan membuat sebuah kreativitas yang justru malah dapat meresahkan.

So, be careful ya. 🙂

nb: Kata “kedaluwarsa” adalah kata baku sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Culinary, Hobby, Review Hotel, Travelling

Review M Hotel Melawai – Blok M

Halo internet!

Kembali kali ini saya ingin menulis tentang review sebuah hotel, dan kali ini saya akan me-review hotel yang berada di kawasan Blok M Square. Lagi-lagi kali ini yang menyebabkan kami (harus) menginap (kembali) di hotel adalah karena adanya perbaikan sistem penyediaan air bersih dari pusat terhitung sejak hari Sabtu tanggal 31 Maret 2018, yang katanya air mati hanya sampai Minggu sore saja di tanggal 1 April 2018.

Baca juga: Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Mengapa bisa kembali ke kawasan Blok M? Karena kebetulan kemarin yang terpikirkan hanya kawasan ini, mengingat lokasi yang super ramai dan memang suasana sekitar hotel bernuansa liburan.

 

– – – – –

 

M Hotel merupakan hotel bintang 3 yang berlokasi tepat di pusat perbelanjaan Blok M Square.  Bahkan posisinya persis berada di seberang Mall Blok M Square-nya.

Lokasi M Hotel – Blok M (Source: Google Maps)

 

Karena kemarin sifatnya adalah “dadakan”, maka kami memang tidak mempersiapkan secara khusus untuk “sengaja berlibur” menginap di hotel, walau memang kemarin suasananya adalah suasana libur long weekend (30 Maret, 31 Maret, 1 April 2018). Di hari Sabtunya, kami kebetulan sedang ada acara di Kota Depok. Sepulangnya kembali ke Jakarta sudah malam sekitar pukul 7 malam. Di tengah jalan saat kepikiran air di rumah sudah menyala atau belum, kami pun memutuskan untuk mengungsi saja di hotel, mengingat sudah hampir pasti malam minggu tersebut air masih mati, karena pengumuman dari Palyja menyebutkan bahwa air mati sampai dengan hari Minggu sore di tanggal 1 April 2018-nya.

Jika ada yang bertanya, “Kok nggak nimba saja dari pompa?” Bukan tidak punya dan tidak mau, kebetulan memang pompa air di rumah kebetulan sekali masih rusak dan memang belum diperbaiki. Walaupun dapat diperbaiki juga, harus menunggu sekitar 3 hari-an agar air yang mengalir benar-benar bersih terbebas dari pasir. Itu pun setelah 3 hari dinyalakan, tetap saja masih ada pasir kecil-kecil di dalam air. Jadi, mau tidak mau, untuk saat ini kami masih bergantung sepenuhnya kepada Palyja.

Kembali kepada M Hotel.

Kami check in pada hotel sudah sangat malam dan beruntungnya kami mendapatkan harga promo yaitu Rp 350.000,- di mana harga tersebut sudah dengan sarapan pagi. Kebetulan kami memesan kamar hotel melalui aplikasi travel online di mana sudah mendapatkan diskon dari aplikasi, kemudian mendapatkan diskon tambahan sebesar 10%  dari program promo hotel. Dan saat di meja resepsionis, kami juga melihat bahwa M Hotel memang sedang mengadakan promo kalau menginap saat weekday akan mendapatkan diskon 20% jika check in langsung, dan di weekend diskon 10%. Namun saya curiganya, promo yang diberikan pada saat check in langsung, hanya kamar yang seharga Rp 500.000,- ke atas, mengingat sebelumnya kami pernah “dadakan” juga ingin check in di hotel ini dikarenakan air mati juga di minggu-minggu sebelumnya, yang pada akhirnya tidak jadi, dan jadinya menginap di Fave Hotel.

Promo Diskon M Hotel

 

Suasana Ruang Resepsionis

Suasana ruang resepsionis M Hotel ini bersifat minimalis seperti hotel-hotel budget pada umumnya. Jam menunjukkan pukul 22.44 WIB, ya, itu adalah jam kami check in pada hotel. Benar-benar murni ini sifatnya “mengungsi” kembali. Hiks.

Suasana Ruang Resepsionis

 

Setelah melakukan check in, kami masuk ke arah lift menggunakan pintu kaca yang berada di sebelah kanan (lihat gambar di atas), dan untuk membuka pintu tersebut harus menggunakan kartu akses, sehingga saat naik lift menuju kamar hotel tidak perlu lagi menggunakan kartu akses.

Di depan lift terdapat ruang tunggu tamu yang juga bersebelahan dengan ruang makan hotel.

Suasana Ruang Tunggu Tamu yang Bersebelahan dengan Ruang Makan Hotel

 

Suasana Kamar Hotel

Berikut ini adalah kondisi penampakan kamar standard kami.

Suasana Kamar Standard M Hotel

 

Suasana Kamar Standard M Hotel

 

Dan berikut ini merupakan suasana kamar mandi tipe kamar yang kami pesan. Tidak terdapat bath tub, namun sudah sangat cukup dengan menggunakan shower dan mendapatkan peralatan mandi standar seperti sabun, cotton bud, sikat gigi, dan shampo.

Suasana Kamar Mandi

 

Malam itu tidak banyak yang kami lakukan. Sebelum masuk hotel, kami baru saja menonton film indonesia yang sedang tayang, yaitu Hongkong Kasarung yang bintang utamanya adalah Sule. Usai check in, kami melaksanakan makan malam kami di lesehan makan malam area teras Mall Blok M Square seperti yang pernah saya ceritakan juga pada tulisan-tulisan saya sebelumnya mengenai review hotel-hotel di Blok M yang pernah kami singgahi.

 

Baca Juga: Review Fave Hotel Melawai – Blok M

Baca Juga: Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Baca Juga: Review Hotel Losari Blok M

 

Suasana Sarapan Pagi

Sarapan pagi pada M Hotel dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Lokasi ruang makan terletak di lantai paling bawah bersebalahan dengan ruang resepsionis.

Untuk menu sarapan pagi kami di hari Minggu tersebut, menurut saya cukup simpel dan tidak terlalu banyak variasinya, terutama untuk menu nasi dan lauknya, jika dibandingkan dengan hotel-hotel budget lainnya yang berbintang 3 juga yang pernah kami kunjungi sebelum-sebelumnya. Dan untuk menu nasinya saja, hanya tersedia nasi liwet dengan berbagai macam lauk di mana lauk-pauknya sudah termasuk di dalam masing-masing bungkusan nasi liwetnya.  Namun demikian, sudah cukup membuat kenyang dan memenuhi kebutuhan sarapan pagi kami.

 

Suasana Ruang Makan Hotel dan Menu Sarapan Kami

 

Ruang makan hotel tidak terlalu luas dan terkesan minimalis, namun terasa sangat segar karena jendela-jendela di samping ruang makan ini langsung berhadapan ke bagian luar hotel. Suasana dinginnya pagi hari (walau di Jakarta), masih terasa dari hembusan-hembusan angin yang masuk melalui celah-celah jendela. Segar! Membuat pikiran saya melayang “seolah-olah” suasana seperti berada di pinggir pantai. Haha.

Suasana Ruang Makan Hotel yang Langsung Menghadap Bagian Luar Hotel

 

Terlihat dari foto di atas, bagian luar hotel yang terlihat adalah bagian dari Mall Blok M Square. Benar-benar strategis bukan lokasi hotel ini? Apalagi jika menginap dengan harga promo. Hehe.

Nasi Liwet dengan Lauk Ikan Cakalang

 

Pagi itu, menu sarapan saya tidak banyak, hanya mengambil roti beserta selai dan butter-nya, dan nasi liwet dengan lauk ikan cakalangnya. Sebenarnya ada menu lain yaitu bubur ayam, tapi saya tidak mencobanya. Kembali, sayangnya karena menu sarapannya tidak terlalu variatif, khususnya untuk menu nasinya, yang tersedia hanya nasi liwet ini saja. Super minimalis ya. Hehe.

– – – – –

Jadi kesimpulannya, menginap pada M Hotel Melawai – Blok M ini overall menyenangkan, dikarenakan nilai plus-nya yaitu lokasi yang super strategis di pusat perbelanjaan Blok M Square. Oiya, bahkan lokasi M Hotel ini berseberangan langsung dengan kedai kopi yang sangat terkenal se-Indonesia Raya, bahkan pernah ada filmya, ya, yaitu si Filosofi Kopi yang terkenal itu. Kemudian di samping persis kedai kopi tersebut terdapat mini market 24 jam Circle K di mana jika menginginkan jajan makanan ringan dan minuman di malam hari, tidak perlu khawatir. Perlengkapan mandi juga terdapat pada mini market tersebut.

M Hotel ini menurut saya sangat cocok bagi siapa saja yang berniat backpacker-an bersama dengan teman-teman untuk menikmati suasana Jakarta di area selatan Jakarta.

So, tunggu apalagi. Mari berkemas! 🙂

 

Life

Dampak Negatif (di) Sosial Media

Di era sosial media saat ini, segala macam hal dapat terjadi dari berbagai fungsi sosial media itu sendiri, salah satunya adalah media sosial dijadikan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri seseorang. Mungkin hampir mayoritas penduduk dunia saat ini, terutama yang di negaranya memiliki koneksi internet, memiliki minimal satu buah akun sosial media dari beberapa platform sosial media yang ada pada saat ini. Bahkan berdasarkan informasi dari https://www.statista.com/, disebutkan bahwa jumlah pengguna aktif sosial media Facebook dalam 1 (satu) bulan di dunia dalam rentang Quarter ke-4 tahun 2017 adalah mencapai 2,2 Milyar orang dari sekitar 7,6 Milyar penduduk dunia (source: Google, Wikipedia, World Bank).

 

Statistik Jumlah Pengguna Facebook Rentang 2008 – 2017 (source: https://www.statista.com/)

 

Jumlah Penduduk Dunia Tahun 2016 dan 2017 (sumber: Google, Wikipedia, World Bank)

 

 

 

Sosial Media sebagai Sarana Ekspresi Diri

Tidak dipungkiri, dengan hadirnya sosial media saat ini, mungkin akan banyak orang yang berlomba-lomba untuk dapat “terlihat” di ranah publik. Atau kalau dalam bahasa kerennya “narsis“. Sebagai sarana mengekspresikan diri seseorang inilah, terkadang sosial media juga dijadikan sebagai wadah untuk ajang pamer terhadap segala hal yang melekat pada diri individu pengguna sosial media tersebut, entah kegiatan sehari-hari, koleksi akan kebendaan, aktivitas liburan, aktivitas rumah tangga, aktivitas keluarga, dan berbagai hal lainnya. Tidak ada yang salah dengan hal itu semua, asalkan setiap hal yang dibagikan ke ranah publik adalah sesuatu hal yang positif-positif saja. Bahkan banyak juga akun-akun sosial media saat ini yang berisikan hal-hal bermanfaat dan mengandung banyak ilmu pengetahuan bagi para pengikutnya, seperti tentang perencanaan keuangan dan investasi, tentang parenting, tentang resep-resep masakan, dan berbagai hal bermanfaat lainnya.

 

 

Dampak Buruk Penggunaan Sosial Media

Apabila terjadi penggunaan sosial media secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, maka hal-hal negatif akan sangat mungkin terjadi, seperti halnya adanya penyebaran isu-isu hoax, gosip-gosip artis yang belum tentu akan kebenarannya, pornografi, hingga kasus penipuan online.

Dan melalui tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kejadian-kejadian negatif yang terjadi di dalam penggunaan sosial media yang kebetulan saya  menyaksikannya sendiri dengan mata kepala saya sendiri.

 

Beberapa waktu lalu di linimasa facebook milik saya, terdapat 2 (dua) buah kasus yang mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi siapapun. Kasus yang pertama adalah kasus penjualan krim wajah secara online namun ternyata terbukti bahwa krim yang dijual mengandung zat berbahaya, yaitu zat kimia mercury (Hg). Kasus yang kedua adalah kasus penipuan hingga milyaran rupiah dari investasi berlian, Logam Mulia emas, dan properti. Sebenarnya masih terdapat kasus-kasus negatif yang terjadi dalam lingkaran sosial media milik saya seperti halnya juga kasus penipuan arisan online, namun saya kali ini hanya ingin bercerita tentang 2 (dua) kasus yang sempat hits dan panas di linimasa saya tersebut.

 

1. Kasus Penjualan Krim Wajah Ber-Mercury

Dengan sosial media, kita juga dapat melakukan aktivitas positif yang dapat menguntungkan, misalnya seperti aktivitas jual-beli secara online. Dengan “kepiawaian” para penjual online di dalam mengoperasikan penggunaan sosial medianya, tidak menutup kemungkinan jika aktivitas jualan online miliknya akan dapat sukses di kemudian hari. Entah dari “kepiawaian” mereka dalam merangkai kata-kata indah dalam rangka mempromosikan produk-produk yang mereka jual, pencitraan diri akan produk yang mereka jual, kemampuan menjaring calon-calon pembeli, hingga kemampuan “pdkt” yang sangat “ciamik” kepada calon-calon pembeli tersebut.

Tersebutlah seseorang pengusaha baru dalam dunia jual-beli krim wajah. Sebenarnya jika ingin melihat di instagram saat ini, akan banyak ditemui akun-akun online shop yang menjual produk-produk krim wajah sejenis dengan dibalut berbagai merk-merk “baru” yang bertebaran yang mungkin banyak di antaranya belum teruji keamanannya.  Walau demikian, di antara ratusan bahkan mungkin jutaan merk-merk  “baru” tersebut, tetap ada merk-merk yang benar-benar baik dan aman bagi kulit wajah.

Kembali kepada pengusaha baru bidang krim wajah tadi.

Secara background pendidikan maupun pelatihan, sang pengusaha tersebut bukanlah seseorang yang memiliki latar maupun pengalaman di bidang kesehatan kecantikan maupun kefarmasian atau kimia dalam peracikan pembuatan obat-obatan maupun kosmetik. Namun sang pengusaha tersebut memang merupakan lulusan Public Relation, yang mana menyebabkan ia memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa bahkan dapat “membius” siapapun yang ia temui.

Berjalannya waktu, usaha penjualan krim wajah tersebut berkembang pesat, bahkan dapat dikatakan sangat cepat, karena hanya dalam kurun waktu 1,5 tahunan saja ia sudah dapat “menjaring” reseller di berbagai kota besar di Indonesia hingga memiliki keuntungan sangat luar biasa, terlihat dari apa-apa saja yang ia tunjukkan dan pamerkan melalui sosial media miliknya.

Hingga pada suatu hari, salah seorang pengguna krim wajah tersebut menguji sendiri dan membawa krim wajah tersebut ke laboratorium. Dan hasil yang didapatkan sangat membuat shock karena krim tersebut mengandung mercury (Hg) dalam kadar yang sangat tinggi. Setelah seorang pengguna tersebut menguji sendiri krim wajah tersebut, akhirnya beberapa orang pun mengikuti jejaknya untuk menguji krim wajah mereka ke laboratorium. Sangat sedih. Hasil yang didapatkan pun sama, krim wajah mereka mengandung kadar mercury yang sangat tinggi juga!

Zat merkuri memang dikenal sebagai zat berbahaya yang memang dapat memutihkan kulit wajah secara cepat. Kasus-kasus krim wajah yang mengandung mercury (Hg) banyak ditemui di pasaran sebagai tindak kejahatan, seperti berita razia pabrik krim wajah gelondongan yang banyak ditemui di beberapa daerah. Padahal sejatinya tidak boleh ada kandungan zat mercury sama sekali di dalam produk-produk kecantikan (cmiiw), apalagi yang bersentuhan langsung dengan kulit. Dan kasus penjual krim wajah yang saya ceritakan ini pun terduga kuat kalau krim yang dijual merupakan krim gelondongan.

 

Selang beberapa saat setelah beberapa bukti kuat laboratorium di dapat, gegerlah suasana linimasa di facebook saya. Karena tidak dipungkiri kalau sudah banyak sekali pengguna krim wajah tersebut, terutama dalam lingkaran  pertemanan maya saya, dan bahkan termasuk diri saya sendiri. Banyak yang kecewa dan marah besar, apalagi saya. Bagaimana tidak? Sang pengusaha selalu menggembar-gemborkan dan mempromosikan melalui sosial medianya bahwa krim wajah yang ia jual adalah aman dan sudah bersertifikat BPOM, bahkan diklaim aman bagi ibu hamil dan ibu menyusui.  Sudah begitu, foto-foto liburan ke luar negeri sang pengusaha tersebut sering muncul dan berseliweran di news feed facebook kami para pembeli krim wajahnya.

Hingga saat ini, saya belum mendengar lagi kelanjutan dari kasus krim merkuri tersebut. Informasi terakhir yang saya dengar, beberapa korban yang kebetulan sudah memakai hampir setahun dan memiliki kemampuan materi berlebih, membantu kami para korban dengan melaporkan sang pengusaha ke pihak yang berwajib. Dan beruntungnya, di antara ibu-ibu tersebut, terdapat juga orang-orang yang pandai dan paham dalam bidang hukum, karena kebetulan memang profesi ibu-ibu tersebut sehari-hari.

Well, tidak dipungkiri. Kemampuan marketing yang luar biasa sang pengusaha lakukan benar-benar hebat dan mampu menghipnotis setiap pembaca yang berseliweran dan berteman maya dengannya. Balutan kata-kata indah pencitraan akan produk-produk krim wajah yang ia jual benar-benar dapat “menggugah” minat calon pembeli. Kemampuan membalas komentar yang ciamik turut “menyihir” siapapun yang bertanya tentang krim wajah tersebut. Bahkan informasi produk yang dapat  “memutihkan wajah secara cepat” entah bagaimana cerita, dapat menyebar dari orang satu ke orang lainnya secara cepat juga. Begitulah “kehebatan” sosial media jika digunakan dengan maksimal namun sayangnya dalam kasus ini bersifat sangat negatif.

 

 

2. Kasus Penipuan Investasi Hingga Milyaran Rupiah

Nah, kalau kasus ini benar-benar  saya tidak pernah menyangka-nyangka kejadiannya akan demikian adanya. Sempat tidak percaya dengan apa yang saya lihat dan saya baca terkait kasus ini. Bagaimana tidak? Sebelumnya, saya adalah termasuk orang yang sangat mengagumi orang yang melakukan kejahatan ini. Karena bagi saya, orang tersebut adalah orang yang sangat baik dan nampak “sempurna” sebagai seorang wanita, seorang istri, dan seorang ibu.

Tersebutlah seorang pengusaha (ya, lagi-lagi pengusaha) yang nampak sangat luar biasa dari “penampilan luar”nya. Pengusaha tersebut gemar sekali membuat kalimat-kalimat bijak dan nasehat-nasehat super bak Mario Teguh. Konten facebook-nya pun nampak indah, dari jualan-jualan Logam Mulia-nya, tips-tips investasi, hingga kehidupan pribadi dan keluarganya yang nampak baik.

Bertambahnya waktu, lingkup usaha orang tersebut pun merambah, dari yang hanya berjualan Logam Mulia, saat itu sudah dapat merambah ke usaha berlian dan properti. Bahkan ia pun sudah membuka program cicilan dan tabungan Logam Mulia. Sebenarnya bidang usahanya tidak hanya yang berbau-bau “kemewahan”, tetapi juga merambah ramuan-ramuan tradisional untuk kesehatan yang ia dapat dari beberapa UKM di beberapa daerah di Indonesia. Ia pun, sepenglihatan di sosial medianya, sedang membuka sebuah salon kecantikan di kota tempat ia tinggal.

Yang menarik dari orang tersebut adalah, cara ia berkomunikasi dengan siapa saja di dunia maya, baik melalui komen-komen maupun chat, memiliki kesan yang sangat ramah dan teduh. Ditambah status-status bijaknya yang hampir setiap hari update membuat “adem” bagi siapa saja yang membaca. Saya pun sempat berkomunikasi dengannya walau tidak intens, karena saat itu ia pernah membantu saya di dalam penjualan barang jualan saya.

Selain update status-status bijak yang ia buat, terkadang ia juga menunjukkan beberapa asset dan kegiatan liburan ke luar negerinya. Boleh dikata saat itu, saya terpesona dengannya karena berkat kerja keras dan kegigihannya, ia pun dapat memiliki segala yang diinginkan. Kesan “wah” namun elegan tidak lebay, itulah yang saya lihat.

Hingga pada suatu hari, saya melihat salah seorang teman maya saya ada yang mulai me-mention namanya kalau ternyata ada transaksi di antara mereka (teman maya dengan si pengusaha) yang belum selesai. Tidak tanggung-tanggung kerugian yang teman maya rasakan mencapai belasan juta, akibat dari aktivitas cicilan Logam Mulia dan berlian. Saat pertama kali membaca status tersebut, saya tidak percaya. “Masa’ sih?“, begitu respon saya di dalam hati.

Setelah salah seorang teman maya berstatus demikian, tidak lama kemudian saya pun melihat status yang mirip oleh teman maya lainnya, dan lagi-lagi me-mention nama sang pengusaha. Namun yang membedakan pada status teman maya lainnya ini, ia bercerita lebih detail. Dan dari update-an status-statusnya terkait sang pengusaha, benar-benar membuat mata saya semakin terbuka lebar plus tidak percaya. Dari menyimak obrolan-obrolan dalam kolom komentar, ternyata kasus ini sudah sampai tahap pelaporan kepada pihak berwajib, di mana ternyata data korban terkumpul berjumlah puluhan dengan kerugian materi total mencapai angka milyaran. Insane!

Benar-benar tidak menyangka.

Sosok yang nampaknya sangat positif dalam kehidupan sehari-hari, ternyata seorang penipu juga. Miris. Sempat saya membuat status terkait orang tersebut dalam status facebook saya. Setelahnya beberapa orang chat saya secara personal, dan ada yang memberi tahu kalau ternyata sebelum kasus penipuan cicilan investasi Logam Mulia, berlian, dan properti, pernah terdapat kasus sebelumnya yang mirip. Namun, kebiasaan orang tersebut (sang pengusaha) ternyata memang demikian. Jika sudah ada pembeli yang berhasil “terjaring”, maka beberapa saat kemudian customer tersebut akan kena block atau tidak, akan digantung-gantungkan dengan chat yang tidak dibalas berhari-hari hingga berbulan-bulan.

Aksinya memang demikian. Bermanis-manis di muka, mempengaruhi calon pembeli dengan nuansa baik dan positif, dan jika sudah berhasil meyakinkan calon pembeli tersebut untuk dapat berinvestasi dalam jumlah yang cukup besar, barulah sang pengusaha mulai menjauhi pembeli tersebut, dengan cara-cara negatif seperti yang sudah saya katakan di kalimat akhir paragraf di atas. Mungkin strategi si pengusaha memang “sengaja” demikian, membiarkan para pembelinya “lelah” menagih dengan sendirinya. Insane!

Informasi yang saya dengar dan baca, saat ini kasus penipuan investasi tersebut sedang berjalan di ranah hukum, namun belum tahu lagi sudah sejauh mana prosesnya.

Walau demikian, berkat orang tersebut, saya jadi tersadar akan keharusan untuk memulai berinvestasi atau menabung untuk masa depan, salah satunya adalah dengan menabung Logam Mulia. Well, thanks to her.

 

– – – – –

(source: MakeAWebsiteHub.com)

 

Kedua kasus penipuan online di atas benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala. Hanya dengan berbekal “pencitraan” dunia maya melalui sosial media, orang pun dapat berubah menjadi liar dan lupa diri. Apakah mungkin dikarenakan ingin selalu terlihat “keren” dan “wah” di dunia maya, maka segala macam cara ditempuh, termasuk cara-cara yang tidak halal? Entahlah.

Ternyata bisa sampai sebegitunya, jika seorang pengguna sosial media tidak mampu mengendalikan diri. Bahkan hanya berbekal update-an status sehari-hari di sosial media, orang dapat membuat citra dirinya sesuai dengan yang diinginkan dan direncanakan oleh pikirannya.

 

Saya malah jadi ingat kejadian unik yang saya alami, yang justru berkebalikan dengan kondisi di atas, di mana pelaku pengguna sosial media dalam kedua kasus di atas, mereka, sangat intens meng-update status tentang dirinya sehari-hari.

Saat ini saya ibaratnya seperti sedang “berpuasa” untuk tidak bermain dengan sosial media pribadi milik saya. Kebetulan memang saya sedang tidak ada mood pada sosial media tersebut, karena sosial media tersebut juga saya gunakan untuk berjualan online dengan menggunakan akun lain, bukan menggunakan akun pribadi.

Kebetulan beberapa bulan lalu, saya memang suka bermain sosial media tersebut seperti yang dilakukan teman-teman lainnya juga, di mana terkadang saat berkala waktunya, ikut-ikutan untuk update kegiatan-kegiatan apa saja yang sedang saya lalui dan alami. Namun kemudian, karena sudah berbulan-bulan lamanya saya tidak update, salah seorang sahabat dekat pada salah satu chatting personal melalui WhatsApp, sahabat saya tersebut mengatakan kalau saya sudah lama sekali tidak terdengar kabarnya dan serasa “menghilang”. Wow! Ternyata sebegitunya ya dampak sosial media sehingga dapat benar-benar me-labeli setiap penggunanya.

 

Entahlah. Menurut pendapat sebagian orang, justru semakin tidak sering “terlihat” di sosial media, berarti orang tersebut benar-benar “hidup” dan menikmati kesehariannya. Begitupun sebaliknya, semakin sering update seseorang tentang dirinya, maka ada kemungkinan orang tersebut sesungguhnya sedang mencari pengakuan dan perhatian.

Namun, sebagian orang lainnya tidak setuju dengan pendapat demikian. Menurut pendapat orang-orang yang tidak setuju ini, menurut mereka, sejatinya memang terdapat orang-orang yang benar-benar murni “demikian adanya”,  sesuai dengan apa yang sedang dirasakan saat itu dan bukan sedang berusaha mencari simpati. Entahlah.

Saya pun tidak dapat menyimpulkan. Karena bagi saya pribadi, menurut saya pribadi seperti yang saya rasakan, semakin saya addict untuk bermain sosial media (akun sosial media pribadi, bukan akun sosial media jualan online), saya merasa seperti ada yang salah dalam diri saya. Seperti orang yang tidak punya kehidupan nyata rasanya, yang padahal sebenarnya sehari-hari saya benar-benar menikmati kehidupan sehari-hari saya. Hmmm, rumit ya?

– – – – –

Sejatinya, bermain sosial media mau sesering apapun sebenarnya tidak masalah, asalkan semuanya bersifat positif, dan kalau bisa tidak mengganggu kenyamanan orang lain yang berada dalam lingkaran followers atau pertemanan maya seorang pengguna sosial media tersebut. Karena bagaimana pun, isi kepala tiap orang berbeda-beda.

 

Terkadang ada kasus seperti ini, ada orang yang sangat aktifnya bermain sosial media, dalam sehari dapat meng-upload beberapa foto kegiatan dirinya di sosial media instagram. Namun, hal tersebut tidak hanya dilakukan dalam 1 hari, terkadang hanya jeda 2 atau 3 hari kemudian, ia pun melakukan hal yang sama. Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal demikian. Namun apabila jika dilakukan di facebook, yang bersangkutan dapat membuat sebuah album foto khusus untuk foto-foto tersebut atau dalam arti, akan terlihat hanya dalam 1 kali muncul dalam sekali post, sehingga tidak beberapa detik kemudian atau beberapa menit kemudian muncul postingan sejenis di linimasa. Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap sah-sah saja dan biasa saja. Namun, ada sebagian orang lainnya akan merasa seperti “spam” yang terlalu berlebihan. Dan hal yang paling tidak diinginkan pun terjadi, orang-orang yang merasa “terganggu” dengan “spam” tersebut, akan memilih untuk meng-unfollow  bahkan meng-unfriend temannya sendiri tersebut, yap, padahal teman, namun terpaksa melakukan demikian.

Kasus unfollow dan unfriend di dalam lingkaran pertemanan nyata dalam dunia maya ini juga, dapat terjadi jika sang pengguna sosial media gemar menyebar berita-berita dan artikel-artikel yang belum tentu akan kebenarannya, menulis tulisan-tulisan hoax, tulisan-tulisan yang mengandung unsur kebencian, atau tulisan-tulisan berat berkaitan dengan isu SARA serta politik. Terkadang hal-hal tersebut membuat sebagian orang juga merasa “gerah” dan malas untuk berteman dengan teman “nyata”-nya lagi secara maya.

Kondisi seperti yang terjadi pada kedua paragraf sebelumnya di atas, di kemudian hari memunculkan persepsi baru bagi pengguna-pengguna  sosial media yang melakukan upload foto-foto dalam sehari tersebut atau penyebar-penyebar isu hoax tersebut bahwa, “jika tidak suka, ya silakan unfollow saja“. Pernyataan tersebut bagi saya terlalu berlebihan. Kalau dipikir-pikir dengan hati emosi dan egois, mungkin pernyataan tersebut terasa “benar” dalam sesaat. Namun ada baiknya sebelum berpikir demikian, bagaimana kalau berpikir sebaliknya :

Jika bisa tidak perlu mendatangkan musuh atau jika mampu membuat orang lain merasa nyaman dan tidak terganggu akan kehadiran kita di tengah-tengah mereka, kenapa tidak kita pilih opsi kedua ini, daripada harus membuat orang lain menjauh dari diri kita, menjadi musuh kita, dan berpikir buruk tentang kita?“.

 

– – – – –

Jadi, pada intinya tidak ada yang salah dengan bermain sosial media, di mana diharapkan mampu bijak di dalam berinteraksi antar sesama di dalamnya juga. Jangan sampai digunakan untuk hal-hal negatif seperti yang terjadi dalam lingkaran maya saya yang sudah saya ceritakan di atas. Dan yang terpenting adalah, jadilah diri sendiri, itu jauh lebih baik, dibandingkan dengan harus berpura-pura agar terlihat seperti orang lain. Karena nafsu “narsis” memang manusiawi, namun nafsu tersebut jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat berujung yang tidak baik juga, entah capek hati, capek pikiran, bahkan capek berhutang dan capek kredit kesana-kemari. Nah lho. 🙂

AMG, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah

Sebelum memulai tulisan pada minggu ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh wanita hebat di dunia yang kebetulan jatuh pada minggu ini, yaitu tanggal 8 Maret 2018. Selamat!

Happy International Women’s Day

 

– – –

 

Bagi sebagian wanita, terutama yang sudah beranjak dewasa, pasti akan memiliki rasa kelak ingin menjadi seorang istri yang baik bagi suami mereka dan menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anak mereka. Semakin bertambah usia, maka impian-impian tersebut akan semakin sering muncul dalam pikiran. Namun tidak dipungkiri juga, terkadang saat memiliki impian-impian indah tersebut, sebagian wanita “hanya” mengimpikannya tanpa ada persiapan-persiapan yang cukup matang, walau berjalannya waktu bagi sebagian wanita tersebut dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan-kehidupan baru mereka terkait impian-impian indah yang selalu mereka impikan itu.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pribadi “yang belum siap” tersebut, apalagi jika terdapat ke-fleksibilitas-an di dalam kehidupan baru sebagian wanita tersebut. Seperti misal, terdapat seorang wanita yang menikah dengan pasangan yang “tidak ribet”, di mana memang di dalam kehidupan baru wanita tersebut, tidak perlu “berubah” secara drastis untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya. Walau demikian, bagaimanapun juga, seorang wanita yang sudah menikah hukumnya adalah wajib untuk patuh terhadap suaminya.

 

Lalu, apakah dengan ke-fleksibilitas-an yang diberikan oleh pasangan yang “tidak ribet” lantas dapat membiarkan sebagian wanita tersebut untuk tetap terus hidup santai bin “leha-leha”? Tentu saja jawabannya adalah tidak.

 

Dan berikut ini merupakan 2 (dua) hal yang sangat mendasar yang mungkin dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sebagian wanita tersebut.

 

 

  1. Jika Memiliki Pasangan yang Tidak Mewajibkan Istrinya untuk Memasak Setiap Hari Bahkan Cenderung Melarang

 

Jika sebagian wanita memiliki pasangan jenis ini, dapat dipastikan bahwa sang pasangan memang betul-betul bersikap demikian, bukan sedang “berpura-pura” agar sang istri menyadari sendiri, bukan. Namun, jangan sampai “keleluasaan” dari pasangan inilah yang kelak malah dapat membuat kehidupan berjalan tidak baik untuk ke depannya.

 

Makan merupakan kebutuhan pokok setiap manusia di muka bumi ini. Untuk memenuhi kebutuhan utama tersebut, maka manusia akan melakukan “usaha” agar dapat memenuhinya. Dan salah satu “usaha”nya adalah dengan cara memasak, selain melakukan “usaha” dengan “jajan di luar rumah”.

 

Mungkin bagi sebagian wanita, ada yang terbiasa “hidup enak” dan “tidak ribet” perihal memperoleh makanan. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, mungkin di antaranya adalah sejak kecil sebagian wanita tersebut memiliki seorang asisten rumah tangga kedua orang tuanya di mana segala macam kebutuhan dapat terpenuhi atau terbantukan karenanya, atau dapat diakibatkan juga sebagian wanita tersebut di masa mudanya tidak dibiasakan oleh ibunya untuk membantu menyiapkan makanan bagi keluarga di dapur dengan alasan “takut malah membuat lama persiapan”, dan berbagai alasan lainnya.

 

Tidak ada yang salah dengan pola asuh kedua orang tuanya, karena pasti terdapat alasan baik mengapa hal tersebut terjadi dan dilakukan.

 

Seperti misal, terdapat seorang wanita di mana sesungguhnya ibunya sangat pandai dan sangat berbakat di dapur alias sangat jago memasak berbagai jenis masakan, dari yang namanya makanan berat, hingga ke makanan ringan. Namun demikian, wanita tersebut, anak dari sang ibu, malah tidak dapat memasak sama sekali atau hanya dapat memasak masakan-masakan yang simpel dan tidak memerlukan skill rumit.

 

Lalu bagaimana jika sang wanita tersebut kemudian menikah? Apakah kebiasaan buruk tersebut harus terus dipelihara, walaupun memiliki pasangan yang “tidak ribet” tadi? Tentu saja jawabannya adalah jelas, harus bin wajib untuk berubah.

 

Walau mungkin kondisi pasangan “sangat mentolerir” terhadap istrinya dan dengan alasan “menerima apa adanya dan tidak menuntut macam-macam terhadap sang istri”,  namun sebagai wanita hendaknya merubah kebiasaan buruk tersebut dan berniatlah untuk berubah.

 

Mungkin tidak akan terasa selama 1 – 2 tahun di awal, terutama apabila di dalam memulai kehidupan baru berumah-tangga belum memiliki anak. Mungkin kebiasaan buruk tersebut akan menjadi sesuatu hal “yang wajar” bagi kehidupan berdua. Namun, di sinilah sebagai wanita, yuk, mari berubah. Ubah kebiasaan yang kurang baik ini menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk ke depannya. Berubahlah untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Yah, walau mungkin akan terasa “ribet” di awal, namun tidak ada salahnya untuk memulai belajar masak makanan-makanan sederhana sehari-hari.

 

Ibarat kata, semalas-malasnya seorang wanita, jika sudah menikah dan di mana kelak akan menjadi seorang ibu juga, dirasa tetap harus dan wajib untuk bisa memasak, walau hanya masakan-masakan sederhana ala warteg. Jika pasangan melarang memasak dengan alasan “takut istri kecapekan”, tetap niatkan untuk selalu belajar. Diniatkan saja bahwa skill memasak ini diperuntukkan untuk anak-anak kelak. Mungkin niat pasangan memang sangat baik untuk istrinya, namun sebagai wanita, harus tetap menjadi koki nomor satu di hati anak-anaknya.

 

Selalu terbayang-bayang bukan, kata-kata seperti ini:

“Masakan paling enak adalah masakan buatan ibuku!”

 

Lagipula, jika berjalannya waktu sang wanita menjadi sangat mahir memasak, bukankah akan menjadi sebuah hadiah sepanjang hidup yang sangat berharga juga untuk pasangan? Sangat berpahala juga to. Apalagi jika diniatkan utama untuk beribadah kepada Yang Maha Kuasa.

 

 

  1. Jika Memiliki Pasangan yang Tidak Mewajibkan Istrinya untuk Berberes Rumah dan Bebersih Rumah Setiap Hari Bahkan Jika Tidak Dibersihkan Berminggu-Minggu pun Tidak Masalah

 

Jika sebagian wanita memiliki pasangan jenis ini, sekali lagi, bukan berarti pasangan  tidak peduli terhadap sang istri, apalagi bukan berarti juga tidak peduli akan kebersihan, bukan.

 

Mungkin pasangan jenis ini yang memang di sepanjang hidupnya tidak pernah merasa “ribet” tentang kebersihan dan kerapihan. Ditambah kebiasaan “anak cowok” di masa muda “yang katanya” cenderung memiliki kamar yang sering berantakan di setiap harinya.

 

Pada umumnya, secara naluriah, wanita akan jauh lebih peka terhadap hal-hal berbau kebersihan dan kerapihan dibandingkan dengan pria. Namun terkadang tingkat kerajinan tiap wanita inilah yang berbeda-beda, di mana mungkin akan dikaitkan dengan beberapa faktor seperti kondisi sehari-hari, kebiasaan masa muda, kebiasaan sehari-hari, dan berbagai faktor lainnya.

 

Lalu bagaimana jika wanita dengan tingkat kerajinan seadanya ini memiliki pasangan yang “tidak ribet” tadi? Apakah rasa tentang kebersihan terabaikan begitu saja di dalam hatinya? Sepertinya tidak ya.

 

Ibarat kata, apabila terdapat seorang wanita yang sangat malas pun, pasti akan ada rasa tidak nyaman atau kurang nyaman ketika melihat ruangan yang tidak bersih dan tidak rapih. Hal ini sangat alamiah dirasakan wanita. Kalau meminjam istilah umum, “naluri seorang wanita”.

 

Walau sebagian wanita yang memiliki tingkat kerajinan seadanya ini terkadang “merasa beruntung” memiliki pasangan jenis “tidak ribet” tersebut, tetap harus berubah demi keberlangsungan hidup yang lebih baik di masa mendatang.

 

Kembali, niatkan saja seutuhnya untuk anak-anak kelak, walau saat ini bagi sebagian wanita tersebut belum memiliki anak bersama dengan pasangannya. Karena kelak seorang ibu adalah sebuah “contoh nyata” sehari-hari bagi kehidupan sehari-hari anak-anaknya. Bagaimana anak-anak akan berperilaku baik atau memiliki kebiasaan baik jika kedua orang tuanya tidak mencontohkan hal-hal yang baik juga? Sekiranya demikian.

 

Perubahan dapat dimulai dari membuat jadwal kecil-kecilan di tengah-tengah minggu atau di akhir minggu untuk khusus bersih-bersih dan berberes. Tidak harus setiap hari, namun belajar saja dulu untuk dapat rutin minimal 1 minggu 1 kali. Lagipula, jika rumah bersih, rapih, dan wangi, bukankan akan menjadi bonus plus-plus  bagi pasangan?

 

Kembali, sebelum diniatkan untuk keluarga, niatkanlah yang utama untuk beribadah kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan dan mengharapkan ridho dari-Nya, maka akan berbuah pahala yang berlipat-lipat juga to. Mengingat pula bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman“.

 

– – –

 

Mungkin bagi sebagian wanita akan merasa sangat beruntung jika memiliki jenis pasangan yang “tidak ribet” dan cenderung sersan alias serius tapi santai di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari berumah-tangga. Satu sisi betul, mungkin pasangan sangat perhatian dan sangat baik bagi sebagian wanita tersebut, namun tetap harus dipikirkan juga dampaknya kelak jika sudah memiliki anak. Jika kebetulan masih belum memiliki anak di awal kehidupan berumah-tangga, mungkin itu adalah saat yang sangat tepat untuk mulai berubah dan mulai belajar sedikit demi sedikit.

 

Pasangan yang “tidak ribet” bukan berarti orang yang tidak tegas, bukan. Adalah benar adanya jenis pasangan seperti ini betul-betul sangat menyayangi dan sangat perhatian terhadap sang istri. Namun sebagai wanita, sebaiknya membalas kebaikan-kebaikan tersebut dengan hal-hal yang baik pula, semisal melakukan perubahan-perubahan kecil yang justru kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga. Anak-anak akan bangga, apalagi pasangan, akan semakin sayang. Ditambah, jika ikhlas melakukan semua-semuanya itu, maka ridho dan pahala dari-Nya pun akan didapat. Nah, kan. 🙂