Bhupalaka – Malam Keakraban – Lembang, Bandung

Kisah ini bercerita tentang angkatan saya semasa kuliah di Bandung. Kala itu merupakan masa-masa tahun terakhir kegiatan perkuliahan bagi sebagian kami. Dan kami berkumpul bersama-sama dalam satu malam yang penuh kebahagiaan, canda-tawa serta haru tiada tertahankan lagi.

Kisah ini pernah saya tulis dalam blog lama saya (flutist0410.wordpress.com) yang beberapa bulan lalu telah removed.

Berikut kisahnya…

 

Selamat malam.

Alhamdulillah.
Kembali sepenggal kisah dalam hidup saya tercurah kembali melalui media ini.
πŸ™‚
Hari ini, Jumat tanggal 25 Mei 2012.
Seperti biasa, dalam kegiatan rutin mingguan, saya memiliki jadwal les bahasa inggris di sore hari.
Namun kali ini nampak berbeda, karena hari ini adalah hari terakhir program, alias ujian. πŸ˜›
Dan….. beginilah wajah-wajah pusing sesudah ujian, bersama Melanie dan Miss Mufy. πŸ˜€

E-45Bu Jes, Oppie, Icmi, Ika, Aul, Irvan, Siti, Ushy.

 

Tapi, kisah di atas bukanlah inti dari kisah ini.

Melainkan kisah permulaan di mana saya akhirnya dapat menggambarkan sebuah kisah seru yang terus terngiang-ngiang dalam benak saya.

Sepulangnya dari tempat les, saya langsung berhadapan dengan laptop kembali di meja kerja saya (baca : meja belajar). πŸ˜€
Sebelum beraktivitas seperti biasa, saya ingin mencurahkan segenap perasaan dan uneg-uneg saya atas peristiwa dan kejadian kemarin hingga kini.
Ya, pada saat acara Makrab bersama keluarga besar Bhupalaka. :’)

Villa KIta

Villa Kita, Blok Z 1 A, Kompleks Villa Istana Bunga, Parongpong, Lembang, Bandung

 

 

Kamis, 24 Mei 2012

Bermula dari keberangkatan kloter kedua menuju Villa Kita yang beralamat di Blok Z Nomor 1 A, Komplek Villa Istana Bunga, Parongpong-Lembang, Bandung.
Saya, Inong, Mbi, dan Intan, berangkat bersama Reo dengan menggunakan mobilnya Bella. Hehehe.
Kami berangkat dari kampus sekitar pukul setengah 6 sore.
Tanpa menunggu lagi, saat saya sudah datang bersama Intan, Vivin, Marsha, Tia, (kami dari Salman), langsung Reo mengajak untuk menuju parkiran SR.

Kondisi lalu lintas sore itu cukup lancar.
Walaupun kondisi pulang kerja karyawan, saat kami melintasi Jalan Ir. H. Djuanda (Jalan Utama Dago) menuju Simpang Dago, kondisi lalu lintas cukup lancar.
Namun, di saat kami mulai menyusuri Jalan Cihampelas, menuju Setiabudhi, kondisi lalu lintas mulai padat-merayap.
Terlihat banyak antrian kendaraan menuju arah atas, alias Ledeng.
Disusul beberapa angkutan umum (baca : angkot) trayek Ledeng-Cicaheum yang ikut memenuhi kepadatan lalu lintas dengan sesekali melakukan “nge-time” juga.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, di mana Adzan Maghrib sudah lewat sekitar 15 menit sebelumnya.
Mengingat kami ingin melaksanakan Sholat Maghrib dengan tepat waktu, maka diputuskanlah kami akan mampir di Masjid Universitas Pendidikan Indonesia.
Sekitar pukul setengah 7 malam, kami melaksanakan Sholat Maghrib di Masjib Agung UPI.
Setelah kurang lebih 10 menit, kami bergegas menuju Villa Kita di Komplek Villa Istana Bunga, Parongpong-Lembang, Bandung.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat 15 menit-an, akhirnya kami sampai juga di Villa Kita.
Dan… SUBHANALLAH!
Villanya SUPER! MEWAH! Speechless… >.<

Setelah membantu Titin, Putu, Reo, dkk menurunkan barang-barang dan meletakkannya di dapur Villa, saya bergegas menuju lantai paling atas, yaitu lantai 5.
Luar biasa! πŸ˜€
Pemandangan Kota Bandung, lebih tepatnya pemandangan lampu Kota Bandung yang sangat indah, dapat terlihat begitu jelasnya dari balkon lantai 5 ini.
Subhanallah… Sesaat ada perasaan berbeda yang tiba-tiba terlintas dalam hati saya. (lebay, :P)

Makin malam, suasana semakin bertambah dingin.
Datang Ncil dan semua yang berada di lantai 5 berteriak, “Karaokeeeee…..!!!”
πŸ˜€
Waw. Sangat ber-excited sekali ini Bhupalaka.
Hehehe. πŸ˜€

Saya akhirnya memutuskan untuk menuju lantai 1, melihat suasana di dapur, dan di halaman Villa.

Di dapur, terlihat Pichan dengan lincahnya mengiris semua bawang putih dan bawang merah menjadi butiran-butiran kecil yang sangat rapih.
Kemudian terlihat Ninis, Pije, Yoel, yang sedang memasukkan paprika dan bawang bombay ke dalam tusuk sate.
Ada Lieke yang sedang merebus makaroni (kalo kata orang2 taunya spageti, coz according to jarkom, hehe).
Kemudian ada Chita dan Agni membantu mengupas bawang merah dan bawang putih.
Titin yang sibuk dengan wajannya.
Kemudian beberapa saat kemudian, terlihat Regi dan Wawank yang datang untuk mengantarkan konsumsi dan memberikan woro-woro kalo mereka berdua akan membeli jagung bakar dan ubi bakar.

Sekitar pukul 8 malam, kami Bhupalaka menunaikan hajat makan malam kami.
XD
Lapaaarrr! Hehehehehe. πŸ˜€
Alhamdulillah, nasi, ayam, sayur, sambal, membuat malam itu membuat perut menjadi sangat kenyang.
Lega, dan tidak merasa lemas lagi.
πŸ˜€

Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan, dan mencuci sendok masing-masing, saya kembali ke lantai 5 untuk menyimpan sendok saya di dalam tas. (ih…pelit, :P)

Kemudian saya memutuskan menuju lantai 1 menuju ruang tamu.
Terlihat Santi, Kiki, Henri, dkk sedang menyaksikan Serial Korea di CT-Channel.
Wah, Korea lagi..dan lagi. πŸ˜€
(saya bukan penikmat Korea, serial ataupun penyanyi, kecuali Full House, :P)

Saya akhirnya keluar Villa menuju halaman VIlla.
Terlihat ChaCha, Fanny, Agni, Wahyu Putra, Sori.
Setelah Titin muncul, rombongan Agni dkk akhirnya berangkat membeli jagung bakar, ubi bakar, dan bahan-bahan lainnya dengan turun ke bawah. (maksudnya keluar area Komplek Villa Istana Bunga)

Akhirnya tinggal saya bertiga dengan Fanny dan ChaCha, serta ditemani oleh kamera SLR milik Wahyu Putra. Hehe. πŸ˜€
Berfoto-fotolah kami.

Terlihat di lantai cowok, lebih tepatnya di lantai 4, sedang ramai-ramainya orang bermain.
Ada yang bermain kartu, maupun gaplek.
Akhirnya saya mengeluarkan bekal kartu dan papan catur milik saya. πŸ˜€
Dan…kami bermain “teplok” dengan jumlah kartu adalah dua kali lipat lebih banyak. πŸ˜€
SERU!
Tidak henti-hentinya saya tertawa dan berteriak-teriak.
Terutama melihat tingkah Hendro dan Fajar.
Puas sekali rasanya bisa teriak-teriak dan tertawa terbahak-bahak seperti itu. πŸ˜€

Beberapa saat kemudian, saya beralih permainan dengan bermain catur bersama Wilman.
Datang Ary, Sigit, Wawank, dan teman-teman lain. πŸ˜€

Ah…what a beautiful night!
:’)

Wangi barbeque sangat “mengganggu” indra penciuman saya.
Hmmmm…..
πŸ™‚

Terlihat Ninis, Pichan, Putu, dkk sedang membakar semua sosis dan sate paprika-bawang bombay tersebut.
Dan…terlihat sebuah lingkaran yang sangat-sangat tidak sabar menunggu hasil.
Hehe. πŸ˜€
Bhupalaka yang luar biasa. Mencari celah yang dapat memudahkan dirinya mendapatkan apa yang diinginkan, yaitu sate barbeque. Hehe. πŸ˜€
Kalo dilihat-lihat, kita ini sangat lincah ya.
Tangan-tangan kita tidak henti-hentinya bergerak ke sana kemari demi mendapatkan setusuk sate. πŸ˜€
Luar biasa! πŸ˜€

Terlihat di belakang lingkaran ini, terdapat grup penyanyi latar. πŸ˜€
Dari lagu-lagu masa kecil, dangdut, hingga lagu-lagu nasional, seperti Tanah Air pun mereka nyanyikan. πŸ˜€
Ramai!

Dalam gelapnya malam, para bintang seolah turut serta merayakan kebahagiaan kami.
Suasana dingin yang menyelimuti seolah menjadi tiada artinya dibandingkan dengan kehangatan diantara kami. :’)

Bintang(ilustrasi taburan bintang-bintang di langit malam bila dilihat dari langit Villa Kita)

 

Tidak lama, kami pun membuat api unggun.
Dan menu-pun berubah menjadi sate daging ayam, sudah bukan sate sosis lagi.
Saya pun turut serta membantu Asri, Pichan, untuk menusuk-nusuk sate ayam mentah. (biar nggak gabut lah…haha, :P)
Dan yang membuat saya SHOCK adalah, daging ayam-nya sangat banyak! EH salah, maksud saya, BUANYAK!!! πŸ˜€

Api anggunApi Unggun Bhupalaka

Pantas lah kalo kami merasa sangat puas dan kenyang malam itu.
πŸ˜€

BBQ bhupalakaMenu BBQ Bhupalaka

 

Terlihat “tambahan” menu bakar-bakaran kami, yaitu jagung bakar! πŸ˜€
Enyak loh. Hehehe.
Ada jagung bakar, plus sate ayam. Yummi! πŸ˜€

Makin menuju tengah malam memang makin dinginnya tiada terkira. Β Β ~.~

Api unggun juga terus membara seolah menolak mentah-mentah kesan dingin yang ditawarkan oleh sang malam.
Beberapa mendekat ke arah panggangan atau api unggun.
Ada yang memang sekedar mencari kehangatan, namun tetap, tentu saja ada yang “berdusel-dusel” alias “bersumpek-sumpek” ria untuk berlomba-lomba mendapatkan sate ayam.
Bhups, Bhups… πŸ˜›

Dan…tibalah saat-saat yang sudah sangat dinantikan, yaitu, TUKAR KADO!
Sebelumnya, Ncil dan Tiara mengecek kami siapa-siapa saja yang belum mengumpulkan kado.
Dan, tidak membutuhkan waktu yang sangat lama, terkumpullah semua kado Bhupalaka, kecuali 2 orang, Pichan dan Fariz. Hehe. πŸ˜›
Doi berdua tidak membawa, jadi, pada gilirannya pun tidak mendapatkan “jatah” atas kadonya.

regiTiara dan Regi (nyelip Wahyu, :p) nge-MC “Tuker Kado”

 

 

Aturan permainan TUKAR KADO-nya adalah dengan menggunakan undian (seperti dalam arisan, pake lintingan-lintingan kertas gitu deh, :P).
Tiara dan Ncil sudah menyiapkan semua NIM kami 1 Bhupalaka.
Setiap orang yang disebutkan NIM-nya, berhak maju dan mengambil secara mata tertutup (baca : mata merem, hehe), dan…hap! Lalu ditangkap… Kado-nya maksudnya.. πŸ˜€
Setelah itu, sembari membuka kado “hasil tangkapan”-nya, doi juga mengambil nomor undian dalam kotak untuk pemanggilan NIM berikutnya.
Berikut seterusnya. πŸ˜€

Sepanjang momen TUKAR KADO ini sungguh sangat ramai.
Bila saya membandingkan dg tukar kado yang sebelum-sebelumnya, seperti salah satunya kemarin saat di Villa Merah (ada dalam kisah “Cerita Villa Merah” —> (https://renjanaganis.wordpress.com/2014/09/23/cerita-villa-merah/), sistem permainan yang ini-lah yang paling berkesan untuk saya.
Selain kami membungkus kado, diusahakan pada saat sebelum membungkusnya, kami juga menuliskan sepatah-dua patah kata sebagai ucapannya.
Indah!

Dari yang teriak, hingga yang tertawa-tawa, sampai ada yang kehebohan, kekagetan karena kado yang didapat, dan berbagai ekspresi lainnya. πŸ˜€
Alhamdulillah kado milik saya jatuh kepada Naldi, dan saya mendapatkan kado milik Brian.
πŸ™‚

Sambil menunggu momen TUKAR KADO juga, Hendro, Wawank, Theo, mengiringi nyanyian kami dengan gitar-gitar mereka.
Entahlah. Saya sangat semangat sekali menyanyi di malam itu. Tidak lupa lagu angkatan Syalalalalalala versi lama maupun baru, sampai Mars kami.
Kalo dapat dikatakan, kami ini bukan menyanyi, melainkan “meneriakkan” sebuah lagu! πŸ˜€

DAN, yang paling menggemparkan 1 Bhupalaka adalah, Bhups terakhir yang mendapatkan kadonya adalah Agni.
Dan yang ter-sweet adalah, doi mendapatkan kadonya Theo yang berisi sebuah kalung.
Kontan para pria mendorong dan menyeru Theo untuk memakaikan kalung tersebut kepada Agni.
Ihiy!
:’D

Tidak terasa jam sudah menunjukkan waktu pukul setengah 2-an pagi.
Terlihat “antrian” sate ayam yang sudah semakin menipis.
Dan menu terakhir adalah Ubi Bakar Cilembu yang dimasukkan langsung ke dalam perapian api unggun.
Saya melihat Chita dengan penuh semangatnya memasukkan ubi miliknya ke dalam api unggun.
Namun sayang, (ini kalo saya nggak salah lihat lagi yah… :P), katanya Ubinya masuk ke dasar perapian. Waduuu…

Sebelumnya saya masuk ke dalam Villa untuk melaksanakan Sholat Isya dan sekedar buang air kecil.
Terlihat Regi dan Intan sedang membuat “oseng” pasta makaroninya.
Hmmmm….harrrummm… >_<

Saya agak sedikit rancu menceritakan penggalan-penggalan bagian kisah “makan-makan” ini.
Saya sampai rancu mengurutkan tiap kejadian makanan mana dulu yang disantap, dan dicicipi.
Tapi pokoknya, semua menu, dari sate sosis, sate paprika, sate ayam, jagung bakar, ubi bakar, makaroni pasta, sampai oseng ayam lada hitam “Regi”, semuanya ENAK-ENAK POOOLLL! Hehe. πŸ˜€
Beneran enak dan sungguh-sangat-mengenyangkan! Hehehe. πŸ˜€
Thanks God…

Menginjak acara pagi dini hari, bertempat di lantai 5 kamar anak perempuan, Ncil memutarkan foto-foto kami dalam bentuk tampilan video.
Bermula dari foto-foto berurutan per-NIM, hingga foto 1 Bhupalaka dari jaman jadul, alias Pekka, hingga masa-masa sekarang.
Dan…yang PALING menyebalkan dalam momen ini adalah, gak terasa air mata udah ngalir ajeee… :’)
(hayo ngaku…siapa kemarin yang berkaca-kaca?, :’D)

Setelah itu, dilanjutkan acara kesan-pesan yang disampaikan oleh orang per orang.
:’)

tuker ceritaSuasana Kesan-Pesan Bhupalaka

 

Sebagai penutup, Regi, sang ketua angkatan kami, menyampaikan sepatah-dua patah katanya.
Sumpah.
Momen pas Regi bercerita ini juga “berhasil” “mengudak-ngaduk” perasaan saya lagi.
Kembali lah saya berkaca-kaca.
Maaakkk… :’)

Dan saya juga teringat kesan-pesan Intan, hal itu juga membuat saya berkaca-kaca di pagi buta itu.
:’)

Jam sudah menunjukkan pukul 3-an pagi.
Saya, Intan, Nida, Karin, (kemudian disusul Chita dan Ary), menuju lantai bawah.
Terlihat sudah pada tidak sabar untuk segera tidur.
Dan…saya, seperti biasanya, masih belum dapat memejamkan mata juga dan rasa kantuk pun benar-benar masih jauh. Insomnia tingkat akut sepertinya. +_+

Diputuskanlah saya bermain catur bersama Wawank di kamar pria lantai 4.
Ada juga Sori, Regi, Sofy, dkk. bermain gaplek mahjong. (gaplek yang bentuknya bagusan dikit gituh…hehe. :D)
Dan Goklas yang sedang asik mantengin cinema di RCTI.

Hah… pagi dini hari yang sangat indah!
Sekitar pukul 4 pagi saya kembali ke kamar bawah dan terlihat kamar terkunci dan sudah gelap.
Pada mulanya saya sangat panik.
Bagaimana bisa, sementara barang-barang saya ada di dalam.
And…thanks God…ternyata Karin belum beneran tidur dan membukakan kunci untuk saya. Β ~.~

Dengan sambil mendengarkan lagu-lagu via headset, saya berusaha untuk memejamkan mata (walaupun kamar sudah sangat gelap tiada penerangan), namun tetap saja GAGAL!
Walaupun otak sudah mulai terdengar “nging..nging..” pertanda rasa kantuk akan segera datang.
Namun beberapa saat kemudian, terdengar Adzan Subuh.
Yasudah. Saya putuskan mengambil air wudhu dan melaksanakan Sholat Subuh.
Setelah itu, saya kembali berbaring.
Kembali mendengarkan lagu-lagu.
Biarpun sudah “dipasang” lagu-lagu yang sangat potensial mengundang rasa kantuk, seperti “slow classic dan sejenisnya”, tetap saja GAGAL untuk mengantuk dan tertidur.

Beberapa saat kemudian, langit semakin memerah.
Saya mengintip dari balik gordyn jendela di samping saya.
Dan…kalian tahu apa yang saya lihat? Ya!
Pemadangan yang lagi-lagi-sungguh-sangat-luar-biasa!
Melihat detik-detik kemunculan matahari terbit dengan ditemani pemandangan hamparan alam pegunungan serta atap-atap villa di areal komplek ini yang menghiasi pandangan mata saya akan langit di pagi hari, membuat saya semakin melankolik!
Ah…INDAH!
Subhanallah…!
>.<
Felt like Prague early in the morning. Beautiful!
>.<

pagi

Pemandangan Langit Pagi Menjelang Sunrise dari Kamar Bawah

 

Berhubung saya tidak mempunyai kamera SLR yang super canggih, maka saya mengabadikan dengan kamera seadanya.
Sangat sayang untuk tidak diabadikan, apalagi dilewatkan.
Speechless pisan lah pokona mah!
>.<

Dan…semakin bengong, semakin sadar kalo tadi saat saya mengerjakan Sholat Subuh adalah SALAH ARAH!
Yap.
Entah refleks apa yang menggerayangi saya, saya langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kembali.
Terlihat Nida juga sudah bangun.
Saya pun sholat lagi!
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Yaudahlah yaa… -.-”

Beberapa menit kemudian, Chita terbangun karena ada panggilan ke ponsel-nya.

Ah ya, jadi ingat.
Malamnya saat momen KESAN-PESAN, Chita mengaku bahwa Chita adalah Orang yang datar.
Kontan 1 Bhupalaka yang ada di dalam ruangan tertawa mendengar penjelasan Chita soal perasaan serta ekspresi kesehariannya dulu yang “datar”.
Hahaha. πŸ˜€

Nah, pagi ini sepertinya Caesar menelepon Chita.
Lucunya, saya dan Nida yang mendengar dia berbicara malah ketawa-ketiwi.
Bagaimana tidak, melihat ekspresi Chita yang menjawab ogah-ogah orang di seberang sana dengan suara baru bangun tidur dan malaaasss banget rasanya gitu loh njawab telepon pagi.
Hehehe. πŸ˜€
Usai Chita melaksanakan Sholat Subuh, satu per satu dari kami “nglulat-nglulet” terbangun.
Dan…BURUKnya adalah, saya malah baru memulai merasa mengantuk.
God…

-.-”

Tidak terasa sudah jam setengah 8 pagi.
Oiya, hari itu, Jumat 25 Mei 2012.
Saya, Nida, dan Intan memutuskan ke atas untuk mengambil sarapan.

Sembari sarapan, saya dan Dede bermain catur. [again] πŸ˜€
Dan… Dede keluar sebagai juara loh…! πŸ˜€
Worshiping him. Hehehe.
Mantabhlah kau De!
πŸ˜€
Beberapa menit kemudian, sambil terburu-buru, saya juga bersiap berganti pakaian untuk bersiap bermain PAINT BALL.
Seru!!!
Dan, saat-saat itulah saya BARU SADAR kalo saya sudah DITIPU sama Regi. (hehehe, b’canda Reg, :P)
Katanya buat tanda-tangan, ternyata…buat basah-basahan. Huaaa… Maaakkk. -.-”

Tim dibagi ke dalam 4 kelompok.
Saya masuk ke dalam Tim Kuning bersama Ncil, Sori, Dede, Sigit, Uchan.

Di saat game ini sudah dimulai, terlihat semuanya sangat bersemangat sekali yaa melemparkan PELURU AIR CAT POSTER ituh. πŸ˜›
Seruuu!!! Nampol abis!
πŸ˜€
Di tengah-tengah kami bermain, terlihat sodara-sodara Bhups yang lain ada yang pamit izin turun duluan.
Coz ada bimbingan dan beberapa urusan lainnya.

paint

Suasana Paint Ball Bhupalaka

 

 

Setelah beberapa kita yang perempuan menyingkir, terlihat para pria ini tidak henti-hentinya untuk “melampiaskan” “dendam kesumat-nya” sepertinya. πŸ˜›
Bagaimana tidak?
Bergilir dari Wilman, Sigit, Jamal, Regi, dst, pokoknya HARUS basah TOTAL lah yaw…
Hahaha! πŸ˜€ Seru ma-men!!!

Setelah itu, secara diam-diam dan terencana, saya melihat Naldi sudah bersiap dengan sebuah ember untuk “target” berikutnya, yaitu Sori.
Ternyata, Sori saat “pertandingan” PAINT BALL berlangsung, doi keluar arena donk..
Ga mau basah tuh doi.
Hehehe. πŸ˜›
Dan…akhirnya mission completed!
Sori akhirnya BASAH JUGA!
Hahaha! πŸ˜€
Kembali saya tertawa ngakak di sini.
Setelah Sori basah kuyup, doi seperti refleks langsung mengejar Goklas yang berada di belakangnya. πŸ˜€

Foto session-pun berlangsung dengan sangat meriah.
Dengan kondisi basah-basahan, kami mengambil foto bersama.
Hehe. πŸ˜€

550391_3501230521808_2091336015_nBhupalaka Foto Session Pasca Paint Ball

 

Dilanjutkan kembali ke dalam Villa untuk membersihkan diri, dan berkemas untuk pulang.

Huah…seneng, seneng, seneng…!!!
πŸ˜€

Setelah usai dan siap beragkat pulang, kami mengambil sesi foto lagi.
Kali ini dengan kami dalam kondisi yang jauh lebih wangi.

Alhamdulillah…
Semuanya terasa sangat menyenangkan, berkesan, membahagiakan, dan pokoknya super-duper WAH DEH POKOKNYA!!!
Kapan-kapan HARUS lagi yaaah Bhups… :’)

1-33234-66167-993(source: http://bhupalaka.wordpress.com/)

 

 

BHUPALAKA

Karena hobi saya adalah musik, maka saya mengibaratkan BHUPALAKA itu seperti Sebuah Orchestra, di mana para personilnya ini adalah alat musik-alat musik yang tentunya memiliki keindahan dan karakteristiknya masing-masing.

Walaupun jenis biola atau cello yang sama dan merek yang sama, namun, tetap saja ada touch-touch permainan tertentu yang dapat membuat instrumen-instrumen tersebut dapat berbunyi dengan sangat indah.

Begitulah kita, Bhups..
Saya tidak peduli ada yang mengatakan geng-geng-an atau semacamnya.
Namun nyatanya, di saat kita semua mampu memberikan touch-touch indah tersebut (dalam artian, kita semua ini mampu loh saling memahami diantara kita ini… :’)), kita pun bersatu dengan saaaaangaaaaat indahnya.
Begitu mempesona!
Ya.
Sama seperti sebuah orkestra yang indah, bila seperti kata Wahyu, dapat menjadi sebuah pertunjukkan konser yang tetap terus ingin lagi dan lagi untuk terus disaksikan.
We’re BIG FAMILY, Bhups…
:’)

Melalui tulisan ini, saya pun ingin memohon maaf karena selama ini saya sudah banyak mengecewakan teman-teman sekalian.
Maaf saya yang senantiasa berputus-asa untuk tidak mencoba kembali dalam berinteraksi.
Maaf terlalu cupu tidak mengucapkannya kemarin.
Ini hanya penanda bagi saya, bahwa saya harus ingat.
Saya ini pernah punya salah yang musti saya perbaiki dan tidak terulang kembali.

Saya juga mengucapkan terima kasih se-banyak-banyak-nya, Bhupalaka.
Terus terang.
Bila bukan karena temen-temen sekalian, mungkin saya GAK AKAN SADAR-SADAR kalo saya ini sedang kuliah di jurusan Teknik Lingkungan.
Terima kasih telah menjadi penumbuh semangat saya kembali dalam belajar. Saya suka teringat momen-momen belajar bareng 1 angkatan. Terima kasih..
Alhamdulillah…
:’)

Sekali lagi, terima kasih banyak Brothers and Sisters..
Terima kasih Bhupalaka..!
Do not forget forever that we’re A BIG FAMILY!
1 BHUPALAKA!

Sukses selalu untuk semuanya.
Sampai kapanpun dan di manapun, semoga kita semua menjadi pribadi yang sukses dan senantiasa gotong-royong antar satu dengan yang lainnya.

Mohon maaf karena mungkin ini hanya sekedar kata-kata belaka tiada mengandung arti..
Sukses yah Bhups…!!!
πŸ™‚

 

Sabtu, 26 Mei 2012
Pukul 02:14 WIB
Cisitu Baru No. 1 Kamar No. 16
Bandung, Jawa Barat

Password

Sejak kami “sepakat” untuk menjalin kisah kasih asmara, terdapat serangkaian kalimat yang biasa diucapkan dan diperdengarkan di hadapan saya, sebelum berpisah pulang ke kosan masing-masing, atau sebelum berangkat tidur via telepon. Deretan kalimat gombalan cinta dari seorang pria kepada wanita yang sangat dikagumi dan dicintai, sekiranya begitu, mudah-mudahan istiqomah selamanya hingga di penghujung waktu dan sesampainya di akhirat kelak.

Sejak pertama kali berjumpa, beliau langsung mengajak saya menjadi calon istrinya. Niat saya kala itu, cukup sekali saja, bertemu dengan seseorang yang serius, tidak main-main. Walau saat itu tidak pernah terpikirkan akan terjadi apa dan bagaimana di hadapan kami. Namun hanya berbekal saran dari Ibu, maka saya mengiyakan beliau dan menjalani saja hingga nanti pada waktunya, rencana pada saat itu, yaitu pasca kelulusan tingkat sarjana.

Sama-sama dimabuk cinta untuk yang pertama kalinya dalam hidup, begitu indah dan pernuh warna, dan ketikaΒ  seseorang yang saya minta dari-Nya, “langsung” sesuai kriteria, baik untuk saya juga kedua orang tua saya. Dan salah satu bagian “bumbu penyedap rasa” kami berdua adalah serangkaian kalimat password berikut.

wpid-password-abi.jpg.jpeg

 

Sebelum sah menjadi istri beliau, kalimat “ibu dari anak-anakku” berbunyi “calon istriku”. Begitu diperdengarkan langsung dengan lembut oleh suara beliau dengan intonasi yang pas, sungguh indah dan begituΒ  memanjakan. Memang, sangat gombal, sangat, sangat, sangat gombal. Namun saya senang. Ketika beliau mengantar pulang dari kampus, sebelum berpisah, hampir selalu tidak pernah absen kalimat-kalimat tersebut. Dalam beberapa kesempatan pula, diucapkan saat menjelang tidur melalui telepon.

Kami menyebutnya “password”. Entah bagaimana dulu mulanya, saya hanya menceploskan ide dengan menamakan untaian kalimat gombal tersebut sebagai “password”. Selain dengan do’a dan usaha, kalimat-kalimat “password” tersebut membuat kami menjadi semakin kuat, hari demi hari. Hingga terdapat beberapa kerikil dan batu besar di hadapan kami pun, yang bukan berasal dari diri kami, dapat kami lalui. Syukur kepada-Nya, setelah ini-itu, akhirnya Allah menyatukan kami berdua.

Kini, untaian kalimat-kalimat indah dalam “password” tetap berlanjut, tidak terhenti. Terutama setiap beranjak tidur, tidak lupa beliau ucapkan dengan lembutnya lagi-lagi dan seperti biasanya di hadapan saya. Ibarat sunnah menjelang tidur, seperti halnya mengambil air wudhu atau Sholat Sunnah Taubat 2 roka’at yang sebaiknya dilakukan sebelum tidur.

Gambar di atas adalah pesan singkat yang dikirimkan beliau malam ini, ketika kami sedang berada pada kota berbeda. Ada hal yang harus kami urus. Ini memang berlebihan. Padahal insyaAllah Selasa pagi besok (18 Aug’14) beliau sudah di Jakarta lagi. Dikarenakan sinyal kurang baik di kota seberang sana, membuat beliau “terpaksa” mengetikkannya malam ini sebelum berangkat tidur. Dan membiarkan saya membacanya dengan imajinasi suara lembut beliau dalam benak saya.

 

 

Jakarta, 17 Agustus 2014
Pukul 22:22 WIB

78. Qur’an Surat An-Naba’ (Berita Besar)

 

Begitulah kabar gembira yang datang dari-Nya.
Begitu menyejukkan dan menenangkan hati serta pikiran.
Rasanya seperti jatuh cinta yang berkali-kali terhadap suami saya namun lebih daripada itu.
Entahlah, saya sedang merasa senang dan bahagia membaca 40 ayatΒ Allah SWT yang tertuang dalam Surat An-Naba’ ini.

 

Basmalah

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

 

 

1

 

 

1. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

 

2

 

 

2. Tentang berita yang besar,

 

3

 

 

3. yang mereka perselisihkan tentang ini.

 

4

 

 

4. Sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,

 

5

 

 

 

5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.

 

6

 

 

 

6. Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?

 

7

 

 

7. dan gunung-gunung sebagai pasak?

 

8

 

 

 

 

8. dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,

 

9

 

 

 

 

9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,

 

10

 

 

 

 

10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian,

 

11

 

 

 

 

11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,

 

 

12

 

 

 

12. dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,

 

13

 

 

 

13. dan Kami jadikan pelita yang amat terang (matahari),

 

14

 

 

 

14. dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah,

 

15

 

 

 

15. supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan,

 

16

 

 

16. dan kebun-kebun yang lebat?

 

17

 

 

 

17. Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan,

 

18

 

 

 

18. yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok,

 

19

 

 

 

19. dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,

 

20

 

 

 

20. dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.

 

21

 

 

 

21. Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai,

 

22

 

 

 

22. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas,

 

23

 

 

 

23. mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya,

 

24

 

 

 

24. mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman,

 

25

 

 

25. selain air yang mendidih dan nanah,

 

26

 

 

26. sebagai pembalasan yang setimpal.

 

27

 

 

 

27. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab,

 

28

 

 

 

28. dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sesungguh-sungguhnya.

 

29

 

 

 

29. Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab.

 

30

 

 

 

30. Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab.

 

31

 

 

 

31. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan,

 

32

 

 

32. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur,

 

33

 

 

33. dan gadis-gadis remaja yang sebaya,

 

34

 

 

34. dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

 

35

 

 

 

35. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta.

 

36

 

 

 

36. Sebagai pembalasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak,

 

37

 

 

37. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pemurah. Mereka tidak dapat berbicara dengan Dia.

 

 

38

 

 

 

 

38. Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.

 

39

 

 

 

39. Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

 

40
40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

 

 

Source:

http://quran.com/78

http://www.al-quran.asia/2012/08/surat-naba-ayat-1-40.html