“Kuncinya Hanya Satu : Sabar,” He Said.

Suatu ketika gw dipanggil untuk interview di sebuah perusahaan. Saat itu memang saat-saat menuju masa akhir proyek Tanjung Priok. Ya…namanya orang, pengen cari sana-sinilah… Hehe. Beruntunglah ada yang memanggil, walau pada akhirnya enggak keterima juga sih. Entahlah. :p

– – –

Saat datang pertama kali, gw kaget. Karena gw pikir hanya sekedar wawancara biasa sambil berdiskusi tentang jobdesk posisi yang gw lamar. Ternyata di hari yang sama juga, gw harus mengikuti psikotes calon pegawai. Yah…enggak ada persiapan banget saat itu. Gw cuma mikir, psikotes ya, psikotes aja. Lanjut gan! Haha.

Ada yang menarik. Kalian tahu kan yang namanya tes menggambar pohon dan menggambar orang? Nah itu. Gw enggak tahu apa namanya dah itu tes. Pada saat kita (gw dan peserta psikotes lainnya) disuruh menggambar orang, instruksinya memang hanya disuruh menggambar seseorang yang sehari-hari kita temui atau seseorang yang dekat. Udah, itu aja. Gw pikir akan seperti biasanya setelah nggambar, pasti disuruh nyebutin sebatas dia siapa dan profesinya apa. Gitu. Eh ternyata, gak sebatas itu.

Yang menariknya adalah, penguji minta sebutin macem-macem. Salah satunya adalah 5 hal negatif dari orang tersebut. Jedher! Gw langsung kebingungan kayak orang kena checkmate. Untuk soal-soal lainnya seperti kelebihan, hal positif, hobi/kebiasaan, ciri khas diri, masih bisa deh lancar njawabnya. Pas bagian nyebutin hal-hal negatif, lamaaaaa banget ngisinya. Seriously, lama!
Ampe detik-detik terakhir pun, gw nyerah, harusnya (syarat) gw sebutin 5, keisi cuma 3, ya, 3! Itupun gw isi hal-hal umum, seperti kesal karena kecewa atas pelayanan publik yang tidak ramah, dan ketiga-tiganya mirip, tinggal diganti-ganti aja tempatnya, mall, halte busway, restoran. Yeah, cuma 1 jawaban itu sih.

– – –

Ya, waktu itu gw nggambar laki gw. Andai tahu ada pertanyaan itu, mungkin gw akan gambar orang lain, bisa jadi kayak adek gw yang suka bandel. (Eh enggak dhink, nggak bandel, :p)

– – –

Yup. Saat tes hari itu, gw bener-bener makin menyadari kalau beliau memang-yeah-terlalu sempurna sebagai seseorang yang berjenis kelamin laki-laki. Kalau katanya laki-laki itu penuh ego, mau menang sendiri, kemudian di saat-saat tertentu akan galak/marah, well, beliau ini hampir gak ada satu pun hal tersebut nempel dalam diri beliau. Gw lebay? Ya, tentu saja gw lebay! Tapi sesungguhnya gw ini bener-bener keterlaluan kurang bersyukur buat setiap hal, apa aja, yang kadang gw ngedumelin, entah dalem ati atau lewat mulut.

Kesel sama petugas busway, ngadunya ke beliau. Kesel sama mbak-mbak SPG sok cantik jutek di Matahari, ngadunya ke beliau. Kesel sama orang-orang yang nggak bisa antri dengan tertib di toilet bioskop, ngadunya ke beliau. Kesel sama supir taksi yang gw liat sengaja banget muter-muterin kita biar mahal argonya, ngadunya ke beliau. Kesel sama supir angkot yang kurang ajar (ngata-ngatain jelek) ke turis asing, ngadunya ke beliau. Kesel sama gaun gamis bagian bawah jadi kotor karena keinjek orang, ngadunya ke beliau. Kesel karena diri sendiri gampang kegoda sama diskon, ngadunya ke beliau. Daaan…berbagai hal lainnya yang bisa gw kesel-in. Astaghfirulloh ih lo gan. 😦

Mudah-mudahan dengan makin banyaknya gw merenungi sifat & perangai gw yang super buruk ituh, gw bisa jadi perempuan yang semakin mendambakan dan menyenangkan. (Walau kata laki gw, secerewet-cerewetnya gw, beliau enggak akan pernah kesel atau marah. Tapi gw akan balik kesel ke diri gw sendiri. T^T) Aamiin!

Oke gan. Lo emang harus banyak-banyak istighfar & banyak-banyak bersyukur! Serius.
Banyak-banyak merenung tanpa dilanjutkan dengan perubahan-perubahan ke arah kebaikan, itu sih sama aja bo’ong. Noted!

– – –

Jakarta, 13 Desember 2014
Kondisi: Habis kesel bingit sama kerumunan orang-orang yang gak sabaran berebut mau naik Trans Jakarta sampe-sampe gak mau kasih jalan / nutupin jalan orang-orang yang lagi mau turun, salah satunya gw!

Pengalaman Pertama Naik Gunung – Gunung Prau (2.565 mdpl)

Ini adalah pengalaman pertamaku mendaki gunung, benar-benar gunung, bukan hanya sekedar tracking, namun benar-benar hiking! Dulu semasa sekolah di SMA, aku pernah dua kali mengikuti kegiatan semacam tracking, walau sedikit mirip dengan hiking, di mana perjalanan jauh bermula dari satu titik (yaitu sekolah asramaku) hingga menuju suatu tempat pada ketinggian tertentu. Kegiatan tersebut bernama “pembaretan”. Yak, aku pernah sebagai peserta dan sebagai panitia. Kegiatan pembaretan tersebut dilaksankan di kaki Gunung Manglayang (1.818 mdpl), selama 2 hari 1 malam.

Kegiatan naik gunung “sungguhan” tentu saja berbeda dengan kegiatan pembaretan dahulu itu. Hal ini tentu berbeda dengan jalur pendakian yang lebih rumit dibandingkan dengan masa pembaretan kala itu. Kali ini aku mendapatkan kesempatan untuk naik gunung bersama kawan-kawan baruku yang sebagian dari mereka telah aku kenal sebelumnya. Kami berpetualang di Gunung Perahu atau Gunung Prau (2.565 mdpl) masyarakat secara umum menyebutnya.

Gunung Prau  memiliki ketinggian 2.565 mdpl terletak di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Namun setelah sampai pada jalur awal pendakian, aku baru tau bila jalur awal pendakian tersebut terletak pada perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara (Kec. Batur) dengan Kabupaten Wonosobo. Sebagai orang yang tumbuh besar di Banjarnegara, sungguh rasanya aneh ketika baru mengetahui hal tersebut. Namun, secara administratif, wilayah Gunung Prau merupakan milik wilayah Kabupaten Wonosobo.

 

Jumat, 5 September 2014

Pada hari itu aku memutuskan untuk tidak masuk kantor. Mengingat beberapa tugas sudah aku selesaikan dalam beberapa hari sebelumnya dalam minggu yang sama. Bahkan aku rela untuk menambah ekstra jam kerja di atas jam 5 sore. Tapi senangnya, suamiku selalu menjemputku ketika sudah lewat jam kantor tersebut. :p

Pagi hari di hari Jumat, seperti biasa rutinitas pagi kulalui. Namun kali itu sedikit agak lama kumenahan suamiku untuk pergi ke kantor. Sungguh rasanya sudah rindu detik itu juga sebelum keberangkatanku pada sore hari tersebut. Setelah akhirnya aku sedikit tenang hati, perlahan-lahan aku melepaskan diri darinya dan meng-iya-kan beliau untuk segera berangkat ke kantor. Setelah keberangkatan beliau ke kantor, aku memutuskan untuk mengecek ulang segala benda yang sudah masuk ke dalam tas ranselku. Dari ponco, headlamp, baterai cadangan, sleeping bag, pakaian hangat, dan lain sebagainya. Rasanya seperti mimpi, bisa mendapatkan kesempatan naik gunung walau sebagai pemula.

Aku sangat berterima kasih kepada suamiku. Beberapa hari sebelumnya, saat datang penawaran adanya naik gunung dari grup angkatan kuliahku, aku menunjukkan kepada beliau untuk meminta pendapatnya. Tidak disangka suamiku malah menyarankan untuk ikut jika memang ada niatan ingin pergi dan bergabung bersama kawan-kawan baruku tersebut. Berulang-kali aku tanyakan kepastian beliau, beliau tetap meng-iya-kan tanda setuju. Alhamdulillah, rasanya menjadi tenang. 🙂

Sekitar pukul 3 sore, aku memutuskan berangkat, dan kuputuskan menggunakan taksi. Aku menuju tempat titik kumpulku bersama kawan-kawan lain di Plaza Semanggi, yang terletak di area Sudirman. Lalu lintas sore itu cukup padat, namun tidak terlalu macet. Sekitar pukul 4 sore, aku tiba di Plaza Semanggi. Berdasarkan informasi dari grup di WhatsApp, titik kumpul berada di Store Dunkin Donuts Plaza Semanggi. Saat aku datang, ternyata belum ada seorang pun yang di sana. Kuputuskan untuk berjalan di area sekitar untuk sekedar mencari bekal roti dalam perjalanan. Setelah membeli 2 potong roti, aku kembali ke tempat titik kumpul, dan kudapati di sana sudah ada 2 orang yang sedang menunggu yang terlihat dengan barang-barang bawaan berat milik mereka. Aku pun berkenalan dengan mereka berdua. Mereka adalah Ayu Fitri dan Adrian. Beberapa saat kemudian, datanglah wanita berjilbab dan berkacamata, namanya adalah Nadhia. Beberapa saat sesudahnya, datanglah seorang perempuan berambut pendek cantik ala pramugari, kami pun berkenalan dengannya, namanya adalah Tiwi.

Suasana sore itu semakin mendekati jam pulang kantor, jam 5 sore, suasana lalu lintas semakin padat.

Sebenarnya, titik kumpul keberangkatan rombongan besar kami tidak hanya pada Plaza Semanggi saja, namun terdapat tempat-tempat lain seperti di Lebak Bulus dan Daan Mogot. Kami berlima menduga bahwa kawan-kawan lain akan datang lebih terlambat dari jadwal yang telah ditentukan. Dan kami berlima pun memutuskan untuk makan malam sebelum perjalanan, dan kami pun memutuskan untuk makan di restoran cepat saji, yaitu Hoka-Hoka Bento. Setelah sampai di Hoka-Hoka Bento, datanglah Regi, Feschi, Imam, Febry, dan Oca. Datang juga Kodil, yang katanya bus yang berangkat dari titik kumpul Daan Mogot sedang terjebak macet. Kemungkinan mereka baru akan masuk ke wilayah Semanggi sekitar pukul 7 malam. Akhirnya, sembari menunggu, kami berbincang-bincang bersama.

Sekitar pukul 7 malam, kami memutuskan untuk berangkat menuju halte bus dekat Plaza Semanggi, karena menurut kabar, bus kami sudah mulai dekat dengan area Semanggi. Mereka akan menjemput kami pada halte tersebut. Dengan dipimpin oleh para pria dalam kelompok kami, berangkatlah kami berjalan menuju keluar Plaza Semanggi. Rombongan kami terlihat “nyentrik” karena berjalan-jalan di tengah-tengah kerumunan manusia di dalam mall. Setiap kali kami melewati suatu titik di dalam mall, terlihat orang-orang yang melintas di sekitar kami memalingkan muka dan pandangan mata mereka tertuju kepada kami.

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di depan halte yang dimaksud. Tidak lama kemudian, terlihat sebuah mini bus pariwisata menghampiri arah rombongan kami, dan ternyata benar, itulah mereka! Dengan segera kami bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus dengan sebelumnya meletakkan barang bawaan kami ke dalam bagasi bus. Aku duduk bersebelahan dengan Ayu. Sesaat setelah kami semua rombongan Semanggi masuk ke dalam bus, Sausan a.k.a Ucan berdiri dan berpidato sejenak, menjelaskan bagaimana awal mula perjalanan ini direncanakan, kemudian diakhiri dengan perkenalan satu per satu oleh Ucan juga. Tidak lupa kami semua berdoa sebelum memulai kegiatan kami. Bismillahirrohmanirrohim!

– – –

Lalu lintas Jakarta malam itu sangat padat. Terutama lalu lintas arah keluar kota Jakarta menuju arah timur, seperti jalan yang sedang bus kami lalui. Kami berjalan menuju arah Karawang (dekat dengan pintu tol), kami menjemput seseorang yang paling terakhir bergabung dengan kami, namanya Taufik. Beliau ini yang paling banyak membelikan titipan-titipan perlengkapan naik gunung kami. Terlihat saat beliau menunggu di pinggiir jalan, setumpuk barang berada di sampingnya, mulai dari sleeping bag, matras, dan lain sebagainya. Sesudah doi bergabung dan memasukkan semua barang ke dalam bagasi, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Dieng. Jalur perjalanan kami melalui jalur pantai utara jawa (pantura) yang nanti akan tembus melalui Kota Purwokerto sebelum menuju Banjarnegara/Wonosobo.

Aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk menidurkan raga, pikiran, dan mata ini. Rasa-rasanya aku ingin mengumpulkan tenaga maksimal agar di keesokan harinya aku dapat berjuang penuh untuk dapat mendaki gunung pertama dalam hidupku itu. Sesekali juga aku pun berbincang-bincang dengan Ayu Fitri, tentang apa saja, mulai dari kegiatan di kampus sampai tentang pekerjaan, kebetulan juga kami ini satu almamater dan satu angkatan 2008. Beberapa saat kemudian, akhirnya aku pun mulai memejamkan mata dan mulai menikmati suasana tidur dalam perjalanan malam. Tidak lama kemudian tibalah kami di sebuah resto untuk beristirahat sejenak. Aku dan Ayu bersama-sama menuju toilet dan mushola untuk melaksanakan sholat Isya merangkap sholat Maghrib. Di sana juga kami melaksanakan makan malam. Seusai makan malam, kami berbincang-bincang bersama di meja makan sambil sesekali tertawa bersama-sama. Setelah siap, kembalilah kami melanjutkan perjalanan menuju arah timur.

 

Sabtu, 6 September 2014

Seperti yang sudah terkenal, jalur pantura ini akan padat pada titik-titik tertentu, dan ternyata benar, perjalanan kami sedikit terhambat dan masuk ke dalam antrian panjang saat akan menuju kota Cirebon. Aku hanya sesekali membuka mata  dan tetap berusaha untuk memejamkan mata untuk tidur.

Tiba-tiba aku pun terbangun. Bis yang kami tumpangi ini sudah mampir kembali ke sebuah rumah makan untuk istirahat kedua kami. Saat itu pukul setengah 6 pagi. Kami juga harus melaksanakan sholat Subuh. Terlihat kawan-kawan juga baru saja bangun dari tidurnya masing-masing. Tempat istirahat kami di daerah Bumiayu sesaat sebelum masuk Purwokerto. Ternyata lama juga ya perjalanan kami. Setelah sholat Subuh, kami berkumpul-kumpul, duduk-duduk sambil menikmati seduhan kopi hangat maupun pop mie rebus masing-masing dari kami. Suasana pagi itu cukup dingin dan yang  pasti menyegarkan.

Setelah agak fresh, kami pun melanjutkan perjalanan kembali menuju Wonosobo.

Setelah melewati panjangnya perjalanan, sekitar pukul 11 siang tibalah kami di Kec. Batur Kab. Banjarnegara, dekat dengan pintu masuk (jalan masuk) pendakian Gunung Prau. Yeay! Saat itu kami semua berkumpul di suatu warung makan unutk menikmati mie ongklok dan  nasi rames untuk mengisi tenaga sebelum pendakian yang akan dilakukan jam 3 sore.

Perbatasan Kab. Banjarnegara (Kec. Batur) dengan Kab. Wonosobo (Kec. Dieng)

Perbatasan Kab. Banjarnegara (Kec. Batur) dengan Kab. Wonosobo (Kec. Dieng)

 

Setelah berbagai macam persiapan dan packing ulang barang-barang yang akan naik ke gunung, kami pun berkumpul di halaman masjid dekat dengan pintu masuk pendakian. Kami berdiri melingkar, melakukan briefing oleh Mas Cahyo yang sudah berpengalaman dalam kegiatan naik gunung dan tidak lupa untuk berdoa bersama sebelum keberangkatan. Sekitar pukul setengah 4 sore, kami pun siap mendaki.  Dan, perjalanan pun dimulai!

Briefing Sebelum Memulai Mendaki

Briefing Sebelum Memulai Mendaki

– – –

Pendakian tersebut terasa berat, rasanya sudah lamaaa sekali aku ini tidak pernah bergerak. Beban di ransel rasanya berat, padahal kalau kupikir-pikir, beban dalam ransel tidak terlalu berat seperti dahulu kala saat masa-masa pembaretan kala itu. Bedanya memang, kalau dulu hampir setiap hari latihan fisik, kalau kali ini, boro-boro. Aku pun hanya berbekal naik-turun tangga di kantor. Saat berjalan menanjak, padahal perjalanan baru dimulai, badan rasanya sudah mulai ngos-ngosan.  Udara sekitar yang semakin mendingin pun membuat suasana diriku semakin kurang tenang, benar-benar keringat dingin yang tidak enak. Aku berusaha terus menepis perasaan-perasaan negatif yang semakin muncul. Kukuatkan kembali niat dan tekadku. Alhamdulillah, aku pun kembali bersemangat dan menaikkan kecepatanku berjalan.

Di jalan, aku bersama kawan-kawan barukku ini tidak lupa untuk sering mengambil gambar-gambar kami semua, sembari beristirahat sejenak. Muka cerah kami yang pada saat akan memulai pendakian, kala itu sudah berubah berkeringat dan kemerah-merahan, tanda kami semakin lelah. Namun, begitulah kami, semakin lelah terasa, semakin senang dan bahagialah kami melanjutkan pendakian.

Matahari semakin bergeser ke arah barat, suasana juga semakin dingin dan gelap, ditambah ketinggian yang kami capai semakin tinggi. Badanku sudah mulai penuh dengan peluh yang semakin membanjiri sekujur tubuh. Badanku pun sudah mulai merasa menggigil tidak jelas, antara kedinginan juga kepanasan karena jaket tebal. Beberapa peralatan sudah mulai kukenakan satu persatu, seperti headlamp dan sarung tangan tebal.

Hari semakin gelap, jalanku juga semakin melambat. Sepertinya aku semakin merasa lelah dan semakin sukar bernafas rasanya. Hawa dingin semakin menusuk dan tidak tertahankan lagi. Kukencangkan sarung tangan dan jaket yang kukenakan. Walau sudah berlapis-lapis baju dan jaket yang kupakai, tetap saja rasa dingin tetap menusuk-nusuk. Headlamp yang kukenakan pun tidak luput dari perhatianku agar benda tersebut tetap fokus pada tempatnya.

sunset

Di Tengah Pendakian Saat Matahari Akan Terbenam

 

Sayup-sayup gema suara dari kegiatan di daratan (di bawah gunung) terdengar jelas di telingaku.

Sepertinya sedang ada perayaan di bawah sana,” pikirku.

Aku terus mendaki dengan penuh semangat. Sampai pada akhirnya aku lupa bagaimana kronologisnya aku pun sampai berkelompok bersama seorang Mas GEA (karena beliau ini mengenakan jahim GEA) bernama Fahma dan bersama Kodil dan Andro. Saat akan mencapai puncak sebelum turunan kembali menuju area camp yang sesungguhnya, tiba-tiba kakiku kram! Ya, kram! Bayangkan saja, aku berteriak kesakitan seolah rasanya seperti akan mati. Kaki kananku ini mungkin saja kesakitan akibat kombinasi kedinginan dan juga kelelahan. Beruntunglah aku sekelompok dengan orang-orang yang sudah biasa naik gunung, dan beliau-beliau inilah yang menolongku.

Saat sekelompok dengan Kodil dan Andro, kami sempat nyasar, jalan  setapak yang kami susuri semakin salah arah dan semakin tidak berujung. Aku sempat panik. Beruntunglah selera humor (atau jayus lebih tepatnya) Bang Andro ini cukup tinggi. Menghiburlah kami-kami yang perempuan ini.

Akhirnya dengan sedikit banyak perjuangan dan berteriak-teriak mencari rekan-rekan kami lainnya, sampailah kami ke area camp yang sesungguhnya. Karena sebelumnya kami sempat bertemu sekelompok orang yang membangun sebuah tenda, namun bukan di area camp yang ramai.

Alhamdulillah…!

– – –

Sesampainya di tenda kelompok kami, aku berisitirahat sejenak. Aku dan beberapa rekan mulai menyiapkan perlengkapan memasak kami dan masak! Ada mie goreng, bakso, sosis, serta minuman teh panas kami sajikan, sambil menunggu kedatangan kawan-kawan lainnya.

Sekitar pukul 9 malam, rombongan kami pun lengkap. Namun ternyata salah seorang diantara kami, Uki, meriang dan nampak kurang sehat akibat perjalanan yang cukup melelahkan sebelumnya. Beruntunglah kondisinya saat sudah sampai puncak ini, beliau tidak terlihat begitu parah keadaanya.

Sembari menikmati santap makan malam, kami bercanda dan bergurau bersama. Berteriak-teriak di dalam berbicara karena area camp saat itu saaaaangat ramai dan banyaaaaak sekali orang. Malam ini memang malam minggu, suasana weekend di mana banyak orang, entah mereka pekerja maupun pelajar, pasti tidak ingin menyia-nyiakan waktu menikmati waktu luang malam minggu, khususnya bagi mereka yang hobi mendaki gunung. Cuaca cerah juga yang mendukung banyaknya pendaki yang melakukan pendakian malam minggu tersebut.

Tibalah waktu tidur. Aku berlima dalam satu tenda bersama dengan Ayu, Kodil, Nadhia, dan Tiwi. Sebelum tidur kutaklupa menunaikan sholat Isya yang merangkap sholat Maghrib. Tentu saja, semakin malam semakin dingin terasa.

– – –

Suasana di luar tenda sangat berisik, terutama dari kerumunan mas-mas medhok dekat tenda kami. Mas-mas medhok yang ngobrol dengan volume berisik, sambil terselip beberapa bahasa kasar. Lucunya, mereka ini setelah berteriak-teriak dengan bahasa kasar, beberapa saat kemudian, berganti lagu menjadi sholawatan! Sarap. -_-“

 

Minggu, 7 September 2104

Walhasil aku pun kesusahan tidur, walau akhirnya dapat tidur juga dan walau tetap  terbangun juga di saat tengah malam karena ingin buang air kecil. Ternyata tidak hanya aku yang terbangun dini hari tersebut. Ayu dan Tiwi pun ikut terbangun bersamaku. Kami berdua pun akhirnya keluar tenda menuju semak-semak dekat area perkemahan. Harap-harap cemas. Berharap tidak ada yang melihat kami buang air kecil di semak-semak, khususnya para lelaki jahat yang mungkin saja ada di sana.

Ah, lega juga!”

Setelah selesai dengan urusan kami, kembalilah kami bertiga ke tenda. Terlihat beberapa pendaki yang juga semakin banyak berdatangan. Di sana-sini masih terdengar sayup-sayup orang-orang bercengkerama.

– – –

Aku terbangun dengan gelagapan, menarik-narik sleeping bag yang ternyata kurang menutup sempurna akibat terbangun tengah malam tadi. Saatnya Subuh! Aku dan Nadhia bergegas tayamum dan melaksanakan Sholat Subuh bersama. Udara di luar tenda sangat dingin tak tertahankan. Brrrrr!

Usai Sholat Subuh kami beramai-ramai bersiap untuk hunting matahari terbit bersama-sama. Segala perlengkapan sudah kami bawa, khususnya kamera dan handphone kami masing-masing. Berhati-hati sekali kami berjalan menuju ke area tanah yang lebih tinggi. Pagi hari itu sangat ramai karena tidak hanya kami sekelompok yang ingin menikmati pemandangan indah matahari terbit di puncak Gunung Prau. Dan udara sangat dingiiiiin sekali. >,<

Aku bersama-sama dengan Ayu di pagi hari itu. Sambil menungu munculnya sang mentari pagi, kami bergantian mengambil foto dengan berlatar belakang Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing.

horizon1

Suasana Menjelang Matahari Terbit

 

Sampailah pada akhirnya momen-momen yang kami tunggu datang. Sebuah bulatan kecil terlihat di kejauhan sana. Sangat indah! Subhanallah!

view sundoro sumbing1

Suasana Matahari Terbit dari Gunung Prau dengan Latar Belakang Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing

 

Suasana Matahari Terbit dari Gunung Prau dengan Latar Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing

Suasana Matahari Terbit dari Gunung Prau dengan Latar Belakang Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing

 

Berpose Bersama Sesudah Menyaksikan Matahari Terbit dengan Latar Gunung Sundoro dan Sumbing

Berpose Bersama Usai Menyaksikan Matahari Terbit dengan Latar Gunung Sundoro dan Sumbing

– – –

Usai sudah rangkaian acara menikmati keindahan pagi hari itu. Selanjutnya kami semua kembali ke area tenda kami dan melakukan berbagai persiapan untuk turun gunung. Kami semua berkemas barang kami masing-masing, ada juga sebagian yang memasak sisa bahan makanan malam sebelumnya. Sebagian lagi juga terlihat membereskan beberapa sampah yang bertebaran di area kami. Kami juga membagi-bagikan makanan yang masih ada ke beberapa tetangga tenda kami.

Suasana Ramai di Area Camp

Suasana Ramai di Area Camp

 

Terakhir, tidak lupa, kami berfoto ria bersama. Tongsis en selfie! Selain itu juga kami meminta tolong pendaki lain untuk mengambilkan foto kami semua full team! Yeah! 🙂

Full Team "Prau Syalalala~"

Full Team “Prau Syalalala~”

– – –

Tibalah waktunya kami turun gunung. Mas Cahyo bergantian dengan Fahma memimpin kami semua untuk berdoa bersama sebelum turun gunung. Tidak lupa untuk selalu berdoa sepanjang perjalanan. Kali ini kami melalui track berbeda dengan track keberangkatan kami hari kemarin. Jalur penurunan lebih curam dan cenderung licin dan berpasir. Sungguh harus ekstra hati-hati saat menjejakkan kaki di setiap langkah. Sempat aku beberapa kali meluncur turun dengan cara duduk.

Setelah kurang lebih 2 jam kami semua telah sampai di pinggir jalan raya lagi. Ah, rasanya seperti mimpi! Kami pun bersiap-siap pulang dengan riang gembira. Tak lupa untuk membawa oleh-oleh untuk dibagikan kepada kerabat kami semua setelah sampai di ibukota kembali.

Sekitar pukul 1 siang kami berangkat dari Dieng. Namun kali ini melewati Wonosobo, tidak melewati Banjarnegara lagi.

Kembali, saat melewati depan komplek rumah, air mataku kembali menetes. Sungguh tempat itu kini mungkin akan menjadi kenangan yang sangat berharga untukku. :’)

– – –

Sekitar pukul 4 sore kami mampir di Sokaraja sesaat akan masuk Kota Purwokerto. Entah mengapa saya merasa perjalanan bus wisata ini sangatlah sangat-sangat lambat. Dan lagi, jalur pulang kembali melewati jalur pantura, tidak melewati jalur selatan yang bisa melewati Tol Cileunyi.

 

Senin, 8 September 2014

Dan sesuai perkiraan, sampailah kami di Jakarta kembali sekitar pukul 04.15 WIB. Segera saja aku dan Nadhia menuju utara bersama-sama dengan menggunakan taksi, karena kebetulan tempat tinggal kami yang areanya berdekatan.

– – –

Perjalanan naik gunung pertama sungguhan yang sangat menyenangkan dan tidak akan pernah aku lupakan. Terima kasih kawan-kawan semua atas pengalaman yang sangat luar biasa ini. Maafkan aku kalau ada kesalahan-kesalahan yang tidak terduga dan tidak terencana. Terima kasih juga untuk suamiku yang telah memberikan izin jalan untukku. Hehehe. 🙂

*** FIN ***

Ternyata Hujan-Hujanan Memang Romantis Ya!

Jika dahulu Pak B. J. Habibie beserta Ibunda Ainun mbecak, kalau saat ini adanya bajaj, maka kami mbajaj. Ternyata benar, hujan-hujanan itu romantis! Ditambah lagi kena cipratan air banjir dari sebuah motor yang melaju kencang di samping bajaj! Yang sudah basah kuyup menjadi semakin basah kuyup. Ah, romantis! :’)

Berawal dari ngambek yang seperti biasa tidak jelas, berjalan kaki-lah aku dari Bundaran HI yang ceritanya menuju arah Halte Transjakarta Dukuh Atas. Sebelum sampai patung Jend. Soedirman, hujan turun dengan sangat derasnya. Dengan masih sambil sok-sokan ngambek, turunlah aku ke arah kolong jembatan.
(Dan dirimu seperti biasa di belakangku, mengikutiku, kemanapun.)

Sudah jelas, taksi-taksi tidak ada yang mau berhenti. Apalagi melihat kondisi calon penumpangnya yang basah kuyup. Setelah beberapa menit, beruntunglah ada sebuah bajaj berhenti menurunkan penumpang di kolong jembatan yang sama. Dan alhamdulillah akhirnya kami dapat meneruskan perjalanan kembali menuju rumah.
(Dan ya, tentu saja, dirimulah semua yang melakukannya. Aku hanya diam saja yang tahu-tahu sudah duduk manis di dalam bajaj.)

Untuk engkau, aku salut. Kurang lebih 4 tahun kebersamaan kita, tidak pernah sekalipun engkau menyelaku di saat-saat aku ngambek ge-je. Marah pun tidak. Malah mendengarkan selalu. Dan hebatnya engkau, selalu bisa meredakan ngambek hanya dengan cara mendengarkan dan mendengarkan, hingga dalam waktu hitungan jam (bahkan menit), selesai. Baru sesudahnya, perlahan-lahan engkau meng-input-kan nasehat/kata-kata positif untuk aku cerna kemudian.

Dan selama waktu inilah, aku belajar bagaimana mengelola emosi, belajar untuk sabar, sabar, dan sabar, khususnya kepada orang-orang terdekat yang aku ini merasa nyaman di dekat mereka.

Dan tidak terasa kanan-kiri sudah suasana natal lagi. Rasanya baru kemarin aku berkeliling melihat-lihat suasana kota pada musim natal 2013. Mungkin karena sehari-hari yang terlalu nyaman, dapat dikatakan bahkan, sangat nyaman.

Engkau benar, dengan bermodal sabar, satu per satu apa yang aku impikan, engkau wujudkan. Aku tahu, seharusnya tidak demikian berlebihan. Maafkan aku. Tapi, aku jadi semakin semangat untuk bisa lebih bersabar lagi. Kira-kira dalam waktu satu tahun ke depan, engkau akan memberikan kejutan apalagi.

Terima kasih untukmu yang selalu sabar! Aku tahu, aku terlalu beruntung, karena dirimu telah dan akan selalu memilihku. Dirimu sungguh terlalu sempurna! Sungguh!

Dulu, saat ikatan ini belum sah di hadapan Allah SWT, aku senantiasa berpikir di tengah-tengah kengambekanku yang super tidak jelas. Sebenarnya, mudah saja bagimu untuk meninggalkanku yang sangat-sangat tidak sempurna ini dan mencari pengganti yang lain. Namun dirimu tidak pernah lakukan! Ditambah lagi penampilan fisik rupawan serta kudengar kabar saat itu ada beberapa wanita (yang kubayangkan dan kutahu pasti berparas sangat cantik) yang akan dijodohkan untukmu. Tapi dirimu tetap bertahan untukku!

Terima kasih menjadikan aku wanita asing pertama dan satu-satunya dalam hidupmu. Mudah-mudahan akan selalu, hingga nanti di hari tua kita bersama, dan berlanjut di akhirat kelak. Selamanya. Aamiin.

Dan sebelum keluar rumah menuju Sholat Maghrib berjama’ah, tidak lupa engkau menanyakannya,
Mau dibeliin makan malem apa Yang?

Hai hujan, terima kasih telah membuatku merasa romantis dan menuangkan semuanya di sini.

Jakarta, 6 Desember 2014
18.45 WIB