Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂

Advertisements

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.

 

  1. Permainan Ini Berhasil Membuat Saya dan Suami Menikmati CFD-nya Jakarta untuk PERTAMA KALI-nya, Sampai-Sampai Membuat Kami Berjalan Kaki Selama Kurang Lebih 5 Jam Berjalan Non-Stop!

 

Apa? Hanya karena Pokémon GO baru jalan-jalan dan main ke CFD? Seriusan lo?

 

Beberapa kawan sempat ada yang bertanya demikian saking tidak percayanya. Bagaimana tidak, saat itu sudah hampir 3 tahun kami (saya dan suami) merantau ke ibukota dan tempat tinggal kami  saat itu kalau boleh dikatakan sangat dekat dengan area Car Free Day (CFD) Sudirman. Ya, kami tinggal di area Perempatan Matraman, dekat dengan halte TransJakarta Matraman, di mana kalau naik Bus TransJakarta kami dapat langsung menuju ke area Sudirman dengan sekali jalan tanpa transit, itu pun hanya beda 3 halte saja, dekat bukan? Namun apa? Kami belum pernah sekalipun “mencicipi” suasana CFD Sudirman sepanjang menuju 3 tahun kami tinggal di Jakarta tersebut. Selalu saja ada banyak alasan untuk kami tidak dapat menuju ke sana. Bahkan kami pun merasa kalau CFD itu jauuuuuh sekali, padahal sebenarnya tidak jauh sama sekali.

 

Namun semua itu berubah ketika Pokémon GO hadir di dalam kehidupan kami. Haha. 😀

 

Percaya tidak percaya, kami benar-benar baru merasakan suasana CFD  Sudirman untuk pertama kalinya yaitu pada saat minggu-minggu awal hadirnya Pokémon GO. Ingat sekali saat itu hari Minggu pertama setelah libur panjang lebaran.

 

Saat itu kami masih berada pada level-level awal permainan. So, mau tidak mau kami harus berjalan! Ya, jalaaan terus! Hahaha.

 

Mendadak kami menjadi rajin di hari Minggu pagi. Setelah Sholat Subuh kami tidak bermalas-malasan di atas kasur dan menikmati acara-acara pagi hari di televisi seperti biasanya. Kami langsung bersiap dan berkemas untuk menyiapkan segala amunisi yang harus kami bawa untuk “bekal” bermain Pokémon GO. Power bank full, baterai HP full, dan tas kecil yang roomy untuk memudahkan membawa peralatan-peralatan tersebut.

 

Sepatu olahraga?

 

Tidak, kami tidak menggunakan itu. Kami benar-benar pure, murni hanya berjalan kaki menyusuri CFD Sudirman. So, kami hanya butuh sandal kami saja, tidak sepatu kami.

 

Saking bersemangatnya, kami sengaja tidak naik TransJakarta menuju ke sana. Kami naik bajaj!  Dan tujuan pertama kami adalah menuju Bundaran Hotel Indonesia sebagai titik awal kami akan mulai “berburu”. Bahkan selama perjalanan menuju Bundaran HI, kami pun sudah mulai memainkan permainan tersebut! Haha.

 

CFD kali itu terdapat sebuah atraksi TNI Terjun Payung di area Bundaran HI. Sesekali juga saya melihat-lihat beberapa pedagang yang menggelar lapaknya masing-masing. Dan kami juga beberapa kali berhenti untuk sekedar jajan makanan yang ada di area tersebut.

 

Kami berjalan mengelilingi Bundaran HI, karena di area tersebut banyak sekali titik Pokéstop yang dipasangi Lure Module.

 

Pokéstop adalah sebuah titik di mana pemain bisa mendapatkan pokéball dan beberapa bonus lainnya dengan cara berhenti pada titik tersebut dan memutar bulatan yang ada.

 

Sedangkan Lure Module adalah sebuah fitur berbentuk seperti hujan kelopak bunga pink, di mana jika dipasangi Lure tersebut, maka akan semakin banyak Pokémon  yang “mampir” dan terlihat di area Pokéstop tersebut. Namun sifat Lure ini tidak selamanya “menyala”, ia berbatas waktu dengan max waktu adalah 30 menit.

 

Banyaaak sekali jika boleh saya bilang. Hampir semua titik Pokéstop dipasangi Lure.

 

Oh iya, virus Pokémon GO ini tidak hanya menjangkiti kami berdua. Berhubung CFD kali itu merupakan CFD perdana pasca libur panjang lebaran dan pasca rilisnya game tersebut, jadilah banyak pula manusia di CFD kala itu memainkan game yang sama. Ada yang bergerombol, ada yang sampai ketawa-tawa, ejek-ejekan bercanda-ria bersama dengan teman-temannya, berlari-lari demi agar tidak tertinggal masa Lure yang sedang menyala, dan sebagainya. Seru!

 

Kami berjalan kaki hampir 5 jam tanpa henti!

 

Ya, kami berjalan kaki hampir sepanjang 5 jam dari area Bundaran HI – Dukuh Atas – Perempatan Matraman dengan melalui jalur area sekitar Bappenas – Taman Suropati – Masjid Cut Mutia Menteng – Perumahan Menteng – Cikini – Tugu Proklamasi – Matraman.

 

Di dalam permainan Pokémon GO ini juga terdapat yang namanya fitur telur pokémon yang dapat ditetaskan dengan cara berjalan kaki sampai beberapa km. Misal, sebuah telur akan menetas jika sudah berjalan kaki selama 5 km dan 10 km.

 

Pengalaman perdana CFD Jakarta kami benar-benar berkesan. Bagaimana tidak? Kami melaluinya sambil bermain Pokémon GO. Haha! 😀

 

 

  1. Membuat Kami Menginap di Area Dekat Cihampelas Walk pada Saat Ada Acara di Bandung

 

Ya! Ini yang lebih lebay lagi.

 

Begitu banyak hotel yang bertebaran di Kota Bandung, namun kami memilih hotel-hotel di area sekitar Cihampelas Walk pada saat kami menghadiri beberapa acara di Bandung pada masa-masa permainan Pokémon GO sedang hits-hitsnya. Dan yang lebih sering kami tuju adalah Hotel Serela Cihampelas (klik untuk melihat tautan) yang berlokasi di seberang Cihampelas Walk persis.

 

Mengapa harus dekat dengan Cihampelas Walk?

 

Jadi ternyata, pada saat awal-awal permainan ini muncul, pihak manajemen Cihampelas Walk “sengaja” dan  “rutin” memasang Lure Module di setiap titik Pokéstop yang memang tersebar beberapa titik di area Mall Cihampelas Walk.

 

Sampai-sampai yang tidak habis pikir, bahkan sampai tengah malam pun area Cihampelas Walk masih ramai dipadati orang! Khususnya di malam minggu, semakin malam, semakin ramai. Luar biasa! Kisah ini pernah saya tulis juga dalam blog ini (klik untuk melihat tautan). Jika teman-teman melihat dokumentasi pada postingan tersebut, benar-benar menggila bukan people of Bandung di dalam antusiasmenya bermain Pokémon GO?

 

Suasana Ramainya Titik2 Pokéstop di CiWalk yang Dipasangi Lure Module

 

  1. Semakin Hari Kami Semakin Rajin Berjalan Kaki, Bahkan di Malam Hari Sepulang Kerja

 

Ini yang lebih parahya lagi sih. Kami benar-benar seperti sudah “dibutakan” oleh permainan ini. Demi naik level, kami  akan upayakan untuk selalu berjalan dan berjalan terus.

 

Walau saat itu sudah mulai banyak yang cheating alias curang dengan adanya aplikasi-aplikasi “Fake GPS” yang katanya memudahkan orang untuk tidak perlu berjalan jauh, tau-tau level bisa naik begitu saja, hanya dengan menggerakkan titik pada peta dalam aplikasi “Fake GPS”. Untunglah saat itu pihak Pokémon GO melihat fenomena kebocoran dan kecurangan ini, sehingga meraka pun membuat sistem “banned otomatis” bagi para pemain yang dengan sengaja bermain curang (langsung terdeteksi oleh server).

 

Berjalan di malam hari tidak hanya kami lakukan di malam minggu. Terkadang di malam-malam biasa kami juga melakukan “ritual” berjalan kaki sekitaran area Perempatan Matraman. Sambil berjalan kaki menuju Bioskop Metropole, kami sempatkan bermain. Kemudian ke area Taman Proklamasi, di mana di sana memang terdapat sebuah Gym atau “area battle” dalam permainan, kami pun mencicipi “nongkrong” di sana sampai area tugu tutup atau sekitaran pukul 9 malam.

 

  1. Menjadi Tidak Malas ke Monas

 

Jadi, selain kami belum pernah ke CFD Jakarta selama 3 tahun merantau, kami pun juga belum pernah mencoba naik ke Tugu Monas. Kalau sekedar melihat Tugu Monas dari jarak jauh, cukup sering, karena kami pulang kampung ke Jawa atau main ke Bandung, hampir pasti kami selalu naik kereta api dari Stasiun Gambir.

 

Tujuannya sih memang ingin naik ke Tugu Monas, tapi tetap sebagai menu utama kami berjalan-jalan ke sana adalah bermain  Pokémon GO donk. Apa lagi? Haha. 😀

 

Di area Monas memang banyak sekali titik-titik Pokéstop yang juga sering dipasangi Lure Module. Terutama di Hari Minggu pagi.

 

Penampakan manusia-manusia-nya persis seperti manusia-manusia yang ada pada CFD Sudirman kala itu. “Beringas” dan “terlalu bersemangat” di dalam memainkan permainan Pokemon GO. Walau begitu, suasana terasa seru dan asik. 😀

 

 

Nah, jadi itu adalah beberapa pengalaman kami setelah “dipengaruhi” oleh sebuah game bernama  Pokémon GO. Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman juga merasakan ke-lebay-an yang sama?

 

😀

“Kamu Mau Jadi Apa?”

“Kamu mau jadi apa?”

Begitulah pertanyaan itu muncul seketika dan ditujukan kepadaku.

 

– – – – –

 

Sebelum masuk ke dalam tulisan, aku hanya ingin berkata, tulisan ini adalah murni pendapatku pribadi dan tidak ada kepentingan di dalam mengomentari pilihan hidup orang lain. Tulisan ini mengandung opini individual dari seseorang yang belum genap berusia 30 tahun, dalam arti “masih di bawah” usia 30 tahun dengan segala pemikirannya.

So, mari kita lanjutkan.

 

– – – – –

 

Siang itu aku baru saja selesai mengikuti meeting mingguan bersama dengan direksi dan tentunya beberapa rekan kerja. Cukup agak sedikit menegangkan. Mengingat hari itu merupakan hari permulaan minggu, yaitu Hari Senin. Hari di mana raga ini baru saja selesai menikmati “masa-masa indahnya” bersama dengan weekend 2 hari yang baru saja dilalui. Ditambah materi yang dibahas sedikit agak “berat”. Sudah begitu, pagi hari pula kami melakukan aktivitas meeting mingguan tersebut.

 

Aku terduduk termangu memikirikan sebuah jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan seorang rekan kerjaku itu. Ya, mau jadi apa aku nantinya?

 

Dengan tiba-tiba suasana makan siangku agak sedikit terusik dengan pertanyaan tersebut. Akan tetapi, aku tidak sakit hati sama sekali, melainkan sedikit menggelitik pikiranku dan ingin menggali lebih dalam lagi akan jawaban-jawaban yang mungkin muncul. Ada benarnya juga Beliau bertanya demikian. Aku pun semakin terdiam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi di depan sana, sembari menikmati rendang pesananku. Hmmm, cukup sulit ya.

 

 

Beliau menjabarkan kalau dirinya, dalam usianya, mengatakan bahwa Beliau agak sedikit menyesal dengan pilihan yang sudah Beliau pilih. Menurutnya, dalam usia sekian, seharusnya Beliau sudah dapat mencapai dan melakukan sesuatu yang lebih daripada kondisi saat ini yang sedang Beliau jalani. Beliau pun bilang kepadaku, jangan sampai aku terlena, terbawa suasana, terbawa nyaman, terbawa santai, yang kemudian hari dapat menjadi bom waktu untuk diriku sendiri kelak di kemudian hari.

 

Well, sebenarnya pemikiran dan nasehat Beliau sedikit mengena kalbuku. Betul juga, pikirku sesaat.

 

Beliau menambahkan, ditambah dengan background pendidikan atau jurusan kuliah yang sudah aku ambil, jangan sampai ter-sia-siakan hanya dengan mengerjakan pekerjaan “remeh” menurut Beliau seperti yang sedang aku kerjakan saat ini, di mana memang, tidak ada keterkaitan langsung dengan jurusan kuliahku dulu.

 

Di sini, pikiranku mulai tidak setuju. Ya, betul. Saat ini aku lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan administrasi dan lebih banyak berhubungan dengan pekerjaan me-manage orang banyak. Akan tetapi menurutku, pekerjaan ini tidak mudah. Tidak se-“remeh” itu. Butuh skill, ketelitian dan disiplin tinggi di dalam menjalankan semua tugas ini. Di sinilah pikirkanku mulai tidak setuju dengan pernyataan Beliau. Namun siang itu, aku memilih diam dan mendengarkan saja. Ditambah, Beliau adalah senior jauh dan sudah berpengalaman bertahun-tahun bekerja dalam perusahaan tempatku bekerja saat ini.

 

 

Usai makan siang dengan Beliau, aku semakin hanyut dalam pertanyaan tersebut.

 

“Kamu mau jadi apa?”

 

Sebenarnya kalau ingin dibuat mudah dan simple, aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. Aku ini adalah seorang wanita dewasa yang kebetulan sudah menikah juga. Sebenarnya, tujuan utamaku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hebat bagi suami dan anak-anakku kelak. Aku ingin menjadi seorang wanita rumahan dengan menjalankan bisnis sampingan yang menjadi hobiku. Ya, itulah impianku.

 

Lalu, jika melihat kondisi saat ini di mana aku yang hingga detik ini masih “hanya” berstatus sebagai istri, belum berstatus sebagai ibu, ditambah tempat tinggal yang sangat dekat sekali dengan kantor di mana aku bekerja, maka aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil berusaha membentuk sebuah keluarga “yang utuh” dan menjalankan hobiku yaitu bisnis online shop, aku masih dapat beraktivitas harian dengan  pemasukan bulanan yang walau sifatnya sementara.

 

Ya, saat ini aku hanyalah seorang pegawai kontrak dari sebuah perusahaan swasta di mana aku dapat diberhentikan sewaktu-waktu. Oleh karenanya aku sebutkan di awal, bahwa aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan baik yang sedang mampir dalam hidupku ini. Walau mungkin bagi orang lain, menurut penilaian mereka, aku sedang “terjerumus” ke dalam tempat “yang tidak seharusnya”. Well, hidup tidak semudah berkata demikian, bukan?

 

 

Aku pun teringat nasehat dan wejangan seniorku siang itu. Beliau berkata, jika aku makin “terlena” dan “terlalu nyaman”, ditakutkan pada saat aku mencapai usianya, aku akan ikut menyesal karena mungkin aku akan “tidak menjadi apa-apa” dan menyesali dengan langkah yang sudah aku pilih. Wow, sedikit mengernyitkan dahi saat aku mendengarnya. Dan tentu saja, aku tidak membalas atau berkomentar. Aku tetap menikmati makan siangku sambil mendengarkan Beliau.

 

Mungkin betul. Jika aku tidak “bergerak” sekarang, bisa jadi masa depanku akan “hancur”.

Wait what, “hancur”?

 

Kembali lagi kepada impianku menjadi seorang wanita rumahan yang menjalankan bisnis sampingan sambil mengurus keluarga. Mungkin bagi sebagian orang, cita-citaku seperti itu adalah cita-cita “bodoh” dan “tidak berguna”, mengingat kata mereka, aku sudah menyia-nyiakan kesempatan masa mudaku yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dan tentunya tidak murah, alias membutuhkan biaya yang tidak sedikit di dalam menyelesaikan semuanya hingga aku dapat lulus menjadi seorang sarjana.

 

Bagiku, ini bukan selalu menjadi seseorang yang “wah” atau harus menjadi sesuatu agar orang lain berdecak kagum. Aku ini adalah seorang wanita, seorang istri, yang sebentar lagi juga akan menjadi seorang ibu. Terkadang impian-impian “tinggi” tersebut bagiku tidak terlalu penting.

 

Dan terkadang yang terpenting bagiku adalah dapat menjalankan hidup dengan baik, lancar dan normal, serta memiliki tabungan yang cukup di dalam menjalankan kehidupan, entah bagaimanapun cara mendapatkannya, selama proses yang dilalui adalah dengan cara yang halal. Terutama tabungan hasil jerih payah pribadi, bukan tabungan hasil pemberian suami. Apalagi kondisi saat ini banyak mendukungku bahkan mempermudah diriku untuk melakukan aktivitas sehari-hari tersebut tanpa harus bertemu dengan keganasan dan kemacetan luar biasa kota Jakarta.

 

Ditambah ketika aku mengingat-ingat akan sebuah kematian, sebuah gerbang yang benar-benar akan menghentikan seluruh aktivitas kita di dunia menuju ke kehidupan baru yang kekal. Mau apa lagi?

 

– – – – –

 

Jadi, jika harus menjawab, “Kamu mau jadi apa?”

 

Aku akan menjawab, aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Dengan segala pilihan yang terbaik menurutku dan berjanji tidak akan menyesalinya di kemudian hari. Aku sangat-sangat yakin. Sebuah penyesalan hanyalah bisikan dari syaitan yang tidak suka dengan kondisi hidup kita sebagai manusia.

 

Dan sebagai pertimbangan juga, banyak sering terdengar kisah beberapa wanita dewasa di mana mereka gemar mengungkapkan beberapa penyesalan dalam hidup.

 

Seperti misalnya seorang wanita dewasa di usia kesekian ia menyesal karena “hanya” menjadi seseorang yang “biasa-biasa saja” dengan kemampuan seadanya atau bahkan kemampuan masa mudanya yang “sudah menguap” dan bahkan “tidak berbekas” sama sekali, seperti yang mungkin telah diungkapkan rekan kerja seniorku pada tulisan ini.

 

Kemudian ada juga sebagian wanita dewasa di usia tertentu yang justru sudah menjadi seseorang dengan kemampuan luar biasa, dihormati, memiliki jabatan fungsional yang bagus di sebuah perusahaan atau instansi ternama, ternyata juga punya perasaan menyesal akan waktu-waktu yang hilang bersama dengan keluarga dan anak-anaknya akibat kesibukan-kesibukan yang sudah dilalui.

 

Hidup memang selalu tentang pilihan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya serta sebijak mungkin di dalam menentukan pilihan, baik itu pilihan baik maupun pilihan buruk. Dan yang terpenting adalah, tidak akan menyesal, untuk setiap pilihan yang sudah dibuat dan dipilih.

 

So, “Kamu mau jadi apa?”

 

🙂

Review Hotel De’ Qur dan Wisata Kawasan Kota Tua Jakarta

Dear internet, apa kabar! Hehe. 😀

Kali ini kembali saya ingin menulis mengenai review liburan singkat dengan bermodal menginap di hotel murah atau hotel-hotel yang cocok disambangi oleh para backpackerSo, let’s check this out, gan!

 

– – –

Day 1: Sabtu, 30 September 2017

Ide menginap weekend kali itu muncul dengan sangat tiba-tiba sekali. Karena sesungguhnya kami sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Ya memang, walau tidak sering, tapi setidaknya sudah pernah kami mengunjunginya.

Namanya adalah Kawasan Kota Tua Jakarta, sebuah tempat sangat bersejarah bagi Indonesia dan khususnya bagi Jakarta. Di kawasan ini berjajar banyak sekali bangunan-bangunan kuno alias bangunan-bangunan jadul khas Kota Tua, baik yang masih berfungsi dengan baik maupun yang sudah tidak berfungsi atau sudah tidak digunakan sama sekali.

Salah satunya adalah Museum Fatahillah atau Museum Sejarah yang sangat terkenal itu. Pada area tersebut juga terdapat bangunan-bangunan atau gedung-gedung lain yang bersejarah, seperti Museum WayangCafe BataviaMuseum Seni Rupa dan KeramikMuseum Bank IndonesiaJembatan Kota Intan, dan lain sebagainya. Dan kami pun memutuskan untuk bermalam di Kawasan Kota Tua JakartaSooo random! Haha. 😀

Kami memutuskan untuk berlibur akhir pekan di Kawasan Kota Tua Jakarta pada weekend akhir Bulan September 2017, ya tepat pada tanggal 30 September 2017 dan tanggal 1 Oktober 2017. Saat itu saya berpikir akan ada nobar film sejarah di area tersebut karena tanggal menginap kami bertepatan dengan peristiwa sejarah kelam G30S PKI, yang ternyata tidak ada kegiatan pemutaran film sejarah atau sejenisnya pada tanggal tersebut.

– – –

 

Perjalanan Menuju Kawasan Kota Tua Jakarta

Kami menuju ke kawasan wisata tersebut dengan menggunakan angkutan umum kereta KRL Jabodetabek, dimulai berangkat dari Stasiun Kebayoran dengan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang untuk menuju ke Stasiun Kampung Bandan yang kemudian transit kembali pada stasiun tersebut untuk menuju ke stasiun akhir yaitu Stasiun Jakarta Kota. Peta Rute Jalur KRL Jabodetabek dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Peta KRL Jabodetabek (source: http://www.krl.co.id/)

 

Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota, kami langsung menuju ke arah Hotel De’ Qur tempat kami menginap dengan melalui area Taman Fatahillah. Suasana siang hari itu sangat terik dan terlihat banyak sekali orang memadati area tersebut. Benar-benar semakin terasa suasana libur weekend saat kami melalui hamparan orang-orang itu.

Berhubung hari sudah siang dan suasana cukup terik, ditambah perjalanan kami yang lumayan memakan waktu, maka pada saat kami melalui area Taman Fatahillah dan melihat Cafe Batavia di hadapan kami, maka kami pun memutuskan untuk mampir sejenak sambil menunggu waktu check in hotel. Sebelum mampir ke dalam cafe, saya sempat membeli sebuah es krim. Saat sampai di depan cafe kami dihadang oleh Mbak-Mbak Cantik pelayan cafe tersebut dan kami dilarang masuk karena masih memegang es krim yang belum habis. Terpaksa deh makan cepat sambil mengamati orang-orang yang mampir di depan cafe untuk sekedar mengambil foto dengan latar belakang Cafe Batavia.

Jajan Es Krim (gagal bokeh, hiks)

 

Cafe Batavia

Suasana di dalam Cafe Batavia ini benar-benar seperti berada di luar negeri dan terasa sekali suasan vintage-nya alias jadul-nya. Di dalam cafe banyak sekali terlihat turis mancanegara, makin terasa seperti kami sedang berjalan-jalan di luar negeri. Suasana interior di dalam cafe pun menggambarkan suasana cozy dengan sentuhan artistik jaman kolonial. Cafe ini terdiri dari 2 (dua) lantai, lantai atas dikhususkan bagi para pengunjung yang tidak merokok, dan lantai bawah dikhususkan bagi para pengunjung yang merokok dengan dilengkapi panggung hiburan serta bar, persis seperti apa yang suka dilihat dalam film-film hollywood.

Suasana di Dalam Cafe Lantai 2

 

Foto-Foto Tokoh di Dinding Dekat Tangga

 

Hotel De’ Qur

Tepat pukul 2 siang atau pukul 14.00 WIB, kami sampai di Hotel De’ Qur. Hotel ini terletak persis di samping Jalan Kali Besar dengan ciri khas bangunan lama. Beberapa waktu sebelumnya, kami pernah mengikuti tur jalan kaki dari sebuah Komunitas Tur Lokal bernama Jakarta Good Guide dan jadwal tur yang kami ikuti saat itu adalah berjalan-jalan di area Kota Tua Jakarta, dengan rute start dari Stasiun Jakarta Kota yang kemudian rute jalan kaki kami saat itu juga melalui Jalan Kali Besar. Saat itu, kawasan Kali Besar belum dilakukan renovasi atau pemugaran pada area pinggir kalinya. Dan saat kami berkunjung kembali akhir September 2017 lalu, area Kali Besar sedang dilakukan renovasi di bagian trotoar di kanan-kiri Kali Besar.

Berikut ini adalah sebuah foto yang sempat saya ambil saat berjalan-jalan bersama dengan Jakarta Good Guide pada awal tahun 2016 lalu yang juga saya abadikan dalam instagram “serius” saya di http://www.instagram.com/phoneography.id/ .

Kali Besar Sebelum Renovasi di Awal 2016 (IG: @phoneography.id –> http://www.instagram.com/phoneography.id/)

 

Dan berikut ini adalah penampakan Kali Besar yang sedang dilakukan renovasi.

Kali Besar sedang Direnovasi, Penampakan dari Ruang Makan Hotel De’ Qur  (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

Renovasi Kali Besar (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

 

Kami memesan Hotel De’ Qur dengan menggunakan aplikasi travel online. Harga yang kami dapatkan pada hotel ini adalah Rp 230.000,-an saja per malamnya. Cukup relatif sangat murah dengan lokasi yang super strategis dengan Kawasan Kota Tua Jakarta atau Taman Fatahillah. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke arah tersebut. Hotel De’ Qur ini merupakan hotel bintang 1.

Saat kami datang untuk check in sesuai petunjuk di dalam voucher hotel yaitu pukul 14.00 WIB, suasana di dalam hotel masih terlihat ramai dari para petugasnya yang sedang membereskan kamar-kamar hotel dan baru sebagian kamar yang ready. Walau begitu, kami sudah mendapatkan kamar tepat pada pukul 2 siang tersebut.

Suasana kamar hotel mirip dengan suasana kos-kosan yang sudah kategori “wah”, karena ukuran kamar cukup luas, sudah dilengkapi meja belajar, lemari pakaian, TV, AC, kasur ukuran large, dan sudah kamar mandi dalam. Haha. 😀

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Ukuran kamar yang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar, alias cukup ini, memang sangat cocok bagi para pelancong backpacker di mana kegiatan wisata lebih banyak di luar hotel. Kami menempati kamar di lantai 2. Bangunan hotel ini terdiri dari 3 lantai, dan sepertinya memang hanya tersedia ukuran kamar demikian, tidak ada jenis kamar lain atau tipe kamar dengan ukuran kamar lebih besar lagi, mengingat pula hotel ini adalah hotel bintang 1.

Dan berikut ini suasana di lorong kamar hotel, semakin terasa seperti kos-kosan, bukan?

Lorong Hotel De’ Qur

 

Hotel De Qur 5.jpg

Suasana Lantai 2 di Mana Terdapat Ruang Makan dan Ruang Tunggu Tamu

 

Kami beristirahat sejenak siang hari itu dengan tidur-tiduran dan menikmati HBO. Kami berencana untuk kembali ke area Taman Fatahillah di sore harinya kembali. Di tengah-tengah kami beristirahat, saya teringat kapan Museum Sejarah atau Museum Fatahillah tutup, dan saat melihat jam, sepertinya sudah tutup, maka saya putuskan untuk masuk ke museum adalah di keesokan harinya, alias Hari Minggu.

 

Kawasan Taman Fatahillah

 

Sekitar pukul setengah lima sore atau pukul 16.30 WIB, kami memutuskan untuk kembali menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Namun rute masuk ke Taman Fatahillah sore hari itu, kami memilih jalur pintu selatan, di mana sebelumnya saat kami akan menuju hotel, kami melalui pintu di sebelah utara. Saat menuju ke pintu selatan, kami melihat sebuah Indomaret unik yang berada pada bangunan gedung lama, namun sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Dan ternyataIndomaret tersebut menyatu dengan sebuah Hostel yang sepertinya unik dan instagram-able sekali yaSudah begitu, keluar masuk hostel menggunakan akses kartu, jadi tidak sembarang orang dapat masuk. ( kemudian saya berpikir, bagaimana cara masuk para pelancong pada saat datang pertama kali ke hostel tersebut dan bagaimana caranya mereka mendaftar ya? mungkin ada semacam bel pintu masuk yang harus ditekan dari luar sehingga memudahkan petugas hostel di dalam untuk mendapatkan notifikasi pengunjung datang dan menyambut mereka? entahlah) Pada mulanya saya berpikir bahwa hostel tersebut tidak terdapat pada aplikasi travel online, namun ternyata setelah meng-googling via maps.google.com tenyata ada. Hiks hiks…nggak notice samsek euy… Oke deh, next time kali ya… 

Wonderloft Hostel (source: TripAdvisor)

 

Suasana sore hari tersebut semakin menggila. Kerumuman orang di area Taman Fatahillah semakiiiiin ramai! Kami pun lagi-lagi hanya menikmati suasana dan melihat-lihat saja, sesekali juga mengambil beberapa foto. Saat sampai di dekat Cafe Batavia kembali, saya melihat sebuah poster besar mengenai pengumuman sebuah Pameran Seni bertajuk “Book of Islamic Art” yang diselenggarakan oleh Universitas Leiden bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda, yang diselenggarakan di Gedung Niaga Kawasan Kota Tua Jakarta. Beruntunglah kami “sempat” melihat pengumuman poster tersebut, karena pada saat kami masuk ke area pameran, kami adalah pengunjung terakhir, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore (18.00 WIB) di mana area pameran akan ditutup. Begitu sepi suasana, karena diselenggarakan pada gedung yang sebagian besar bagian-bagiannya sedang direnovasi dan diselenggarakan di area tidak terlalu luas.

Salah Satu Karya Seni yang Dipamerkan

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Usai melilhat pameran tersebut, kami memutuskan kembali lagi ke hotel, untuk melaksanakan Sholat Maghrib dan Sholat Isya. Dan kami memutuskan akan kembali lagi sekitar pukul 19.30 WIB di malam harinya.

Hotel De’ Qur di Malam Hari

 

Malam Minggu di Kawasan Kota Tua Jakarta

Sekitar hampir menuju pukul 20.00 WIB, kami kembali lagi ke area Kawasan Kota Tua Jakarta lebih tepatnya menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Dan pada saat kami menuju area Taman Fatahillah kembali, kami dikejutkan dengan banyaknya pedagang pasar malam yang sudah mulai ramai di kanan-kiri jalan sepanjang trotoar area kawasan tersebut, sungguh meriah dan semakin terasa aura pesta rakyat-nya! Dan yang paling membuat terkejut adalah pada saat memasuki Taman Fatahillah, sudah sangat-sangat-sangat ramai penuh sesak lautan manusia! Luarrr biasa! 😀

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Malam pun kian larut dan kami pun kian merasakan rasa lapar yang datang menghampiri, maklum makan berat terakhir saat makan siang saja. Kami pun memutuskan menyusuri lautan pasar malam yang berada di sepanjang trotoar di pinggir-pinggir jalan di sebelah utara Taman Fatahillah. Kami menyusuri jalanan hingga ke ujung di mana spot pasar malam ini berakhir. Berharap menemukan menu makan malam yang akan menggiurkan, kami malah “bertemu” dengan sebuah rumah makan di seberang jalan setelah ujung spot pasar malam berakhir. Dari kejauhan terlihat aura warna-warni dari rumah makan tersebut, maka tanpa pikir panjang lagi kami segera memutuskan menuju ke tempat makan tersebut.

 

Rumah Makan Lumba-Lumba Kota Tua Jakarta

Dari kejauhan dengan aura warna-warni-nya bak lukisan suasana pantai, saya pikir rumah makan tersebut adalah rumah makan yang menyajikan makanan laut alias seafood, di tambah nama rumah makan tersebut adalah “Rumah Makan Lumba-Lumba“. Tapi ternyata, tidak. Haha. 😀 Rumah makan ini ternyata menyajikan makanan khas Kota Semarang dan juga menjual beberapa oleh-oleh khas Kota Semarang. Saat memasukinya, kami pun hanya bisa senyam-senyum saja, maklum, suami adalah asli orang Semarang, sementara saya sendiri pun asli orang Jawa Tengah. Berharap dapat bertemu dengan kuliner unik, eh ternyata, ketemunya makanan semarang lagi, semarang lagi. Hehe.

Dan kami pun memesan makanan favorit kami, yaitu pindang ayam, garang asem bandeng, dan tahu petis khas Semarang.

Menu Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Interior Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Pindang Ayam Khas Semarang

 

Garang Asem Bandeng Khas Semarang

 

Tahu Petis Khas Semarang

 

Usai makan malam, kami kembali menuju ke arah area Taman Fatahillah dengan menyusuri trotoar di bagian luar yang sudah menjadi pasar malam di malam minggu yang ramai itu. Penjaja bekam dan shisha di pinggir jalan raya semakin banyak bermunculan. Sepertinya semakin malam semakin ramai ya!

Penjaja Pijat Urut, Bekam, dan Refleksi yang Berjajar di Sepanjang Trotoar

 

Penjaja Shisha Berjajar Juga di Sepanjang Trotoar

 

Area Pasar Malam di Mana Lauan Manusianya Menutupi Jalur TransJakarta

 

Kami akhirnya kembali ke Hotel De’ Qur, namun pada saat bertemu dengan security hotel, dan karena kami terlihat benar-benar seperti pelancong dari kota yang jauh, mendadak si Bapak Security menyarankan kepada kami untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan di mana saya menyebutnya sebagai Jembatan Merah karena bentuk fisiknya yang berwarna merah. Letak jembatan tersebut di ujung jalan Kali Besar  di sebelah utara, dekat dengan Hotel De Rivier di mana hotel tersebut sempat hampir kami pilih sebagai tujuan tempat menginap kami kala itu yang ternyata malah sedang direnovasi di bagian depannya.  Kami menuju Jembatan Kota Intan dengan berjalan kaki, menyusuri kegelapan malam di mana semakin terasa gelap karena memang area trotoar kanan-kiri Kali Besar yang sedang direnovasi menyebabkan jalan dekat kali menjadi minim penerangan. Agak seram, sih sebenarnya. Tapi untunglah kami dapat sampai ke jembatan dengan selamat.

 

Jembatan Kota Intan di Malam Hari

 

Suasana Kali Besar ke Arah Selatan Dilihat dari Jembatan Kota Intan, Sebelah Kanan adalah Bangunan Hotel De Rivier

 

Pada mulanya kami pikir bahwa pintu akses masuk jembatan sudah tutup dan kami tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat suasana Jembatan Kota Intan secara langsung. Beruntunglah ternyata penjaganya masih ada dan membukakan pintu untuk kami berdua.

Susana di Jembatan Kota Intan sebenarnya sedikit agak creepy mengingat di sampingnya juga terdapat pohon tua raksasa plus kami berkunjung di malam hari, bukan siang hari. Mungkin karena area dekat jembatan juga masih ramai lalu-lalang orang, menyebabkan suasana seram agak dapat sedikit ternetralisir. Struktur bangunan Jembatan Kota Intan masih asli berbahan dasar kayu. Pada zamannya, jembatan ini dapat membuka dan menutup karena dahulu Kali Besar sebagai tempat lalu-lintas transportasi laut juga. Saat berada di atasnya sambil menikmati suasana jembatan, saya juga membayangkan suasana masa lampau di sekitar area jembatan tersebut. Merinding, tapi seru. Sebenarnya dulu pada saat saya berjalan-jalan bersama dengan Komunitas Jakarta Good Guide, kami juga melalui area ini, namun saat itu kami tidak mampir karena saat itu suasana sangat panas.

Setelah puas melihat-lihat suasana, kami pun pamit kepada penjaga dan kembali pulang menuju hotel kami Hotel De’ Qur. Namun saat kembali, kami menggunakan angkot dan tidak berjalan kaki seperti sebelumnya saat berangkat menuju Jembatan Kota Intan.

– – – – –

Day 2: Minggu, 1 Oktober 2017

Minggu pagi saya sangat bersemangat sekali. Saya sangat penasaran bagaimana suasana sunrise di Kawasan Kota Tua tersebut. Setelah Sholat Subuh, kami bergegas untuk bersiap-siap menuju kembali ke area Taman Fatahillah.

Kami menyusuri jalan menuju pintu masuk di bagian utara. Miris. Begitu banyak sampah bertebaran di sana-sini. Terlihat beberapa Pasukan Oranye yang sedang membersihkan jalur jalan bekas pasar kaget di malam minggunya. Terlihat juga beberapa kios tenda yang masih ditunggui oleh beberapa pemiliknya yang mungkin sengaja menginap.

Memasuki area Taman Fatahillah kembali, kami melihat suasana yang berbeda dengan hari sebelumnya. Mungkin karena masih pagi, maka area tersebut juga masih sepi pengunjung. Terlihat beberapa warga sekitar yang melaksanakan olahraga pagi. Sayup-sayup terdengar suara musik disco yang sengaja dinyalakan untuk mempersiapkan senam aerobik warga sekitar. Suasana pagi itu saaaaangat indah! Suasananya mirip sekali dengan suasana luar negeri. Dan ternyata kalau pagi, masih banyak burung merpati yang bertebaran di Taman Fatahillah ini. Seorang pengelola rental sepeda hias mulai menebarkan biji-bijian agar para merpati datang bergerombol menikmatinya. Benar-benar indah!

Burung-Burung Bergerombol Menikmati Suasana Pagi

 

Sekitar pukul 6 pagi menuju setengah 7 pagi, terlihat di ufuk timur matahari mulai nampak batang hidungnya. Benar-benar indaaah. Tidak menyangka kami dapat menyaksikan langsung suasana indahnya pagi hari itu.

Suasana Sunrise di Kawasan Wisata Kota Tua

 

Setelah puas menikmati suasana pagi di Kawasan Kota Tua Jakarta, kami memutuskan kembali lagi ke hotel untuk sarapan dan bersiap-siap berkemas kembali pulang ke rumah.

 

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Sarapan pada Hotel De’ Qur ini dapat dikatakan cukup minimalis, sekali lagi, mengingat bahwa hotel tempat kami menginap adalah hotel bintang 1. Sarapan pada hotel ini kami diberi Menu Nasi Goreng + Telur Dadar + Teh Manis Panas pagi hari.

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Usai sarapan kami segera bergegas untuk bersiap-siap. Sesudah check out kami pun mengunjungi Museum Fatahillah.

Tiket masuk ke dalam Museum Fatahillah adalah Rp 5.000,-/orang dewasa. Cukup murah, bukan? Kami pun menyusuri setiap bagian museum dan sesekali mengambil gambar. Kami pun mengikuti alur rombongan yang juga berkeliling untuk melihat-lihat dan menikmati suasana museum.

Suasana Taman Fatahillah di Siang Hari Dilihat dari Museum Fatahillah

 

Sejarah Asal Muasal Kata “Jakarta”

 

Berpose di Salah Satu Prasasti

 

Sekitar pukul setengah 2 siang, kami memutuskan untuk pulang dan menuju ke Stasiun Kota kembali. Sebelum pulang kami menyempatkan menjajal sego pecel yang penjualnya tersebar banyak di area Kawasan Kota Tua.

Kami sampai Stasiun Kebayoran kembali sekitar pukul 16.30 WIB. Dan sore hari itu suasana sudah mulai terlihat mendung. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Angkot D01 yang menuju ke arah Lebak Bulus dan Pondok Pinang. Sekitar pukul 17.30 WIB kami pun sampai rumah.

– – – – –

Liburan singkat 2 hari kami itu menjadi liburan yang terasa sangat menyenangkan dan menyehatkan bagi kami berdua. Karena kami menuju satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki. Ditambah kami pun tidak mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan perjalanan sehat tersebut.

Nah, bagaimana? Tertarik mencoba juga untuk berlibur singkat di Kawasan Kota Tua Jakarta? Tunggu apalagi… Yuk! 🙂

Reuni Akbar

Sabtu, 4 November 2017

 

Aku sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai di malam harinya aku tidur tidak tenang. Rasanya seperti  terkena sindrom “akan berlibur ke tempat yang seru” sehingga membuat hati dan saluran cernaku sedikit berbunga-bunga hanya karena menantikan datangnya hari itu.

Ya, Sabtu pagi itu aku akan pergi ke Bandung, ke kota di mana semua mimpi dan harapan dimulai. Hari itu aku datang ke acara Reuni Akbar yang diselenggarakan oleh sekolah di mana aku berkuliah dulu. Karena kegiatannya bertajuk “Reuni Akbar”, maka acara tersebut banyak dihadiri oleh para alumni senior. Tidak ketinggalan pula aku dan beberapa teman semasa kuliah juga turut meramaikan acara tersebut. Kegiatan Reuni Akbar Sabtu pagi itu selain sebagai ajang silaturahmi antar angkatan, juga sebagai ajang peringatan ulang tahun jurusan kuliahku yang ke-55 tahun dengan dibungkus sebagai Acara Lustrum yang tahun ini sudah menginjak Lustrum Ke-11.

Aku berangkat menuju Kota Bandung dengan menggunakan kereta api yang berangkat dari Stasiun Gambir dengan jadwal keberangkatan pukul 5 pagi. Bersama dengan suamiku pagi hari itu, kami berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Namun aku sendiri, sudah mulai bersiap-siap sejak pukul 2 pagi, ya, saking bersemangatnya. Untunglah kami tidak terlambat dan bisa melaksanakan Sholat Subuh terlebih dahulu di stasiun sekitar pukul 04.30 WIB.

Pemandangan dari dalam KA Argo Parahyangan (Dokumentasi Pribadi)

 

Kegiatan Reuni Akbar dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berlangsung selama dua hari berturut-turut, hari Sabtu dan hari Minggu. Sangat cocok bagi para alumni yang turut serta membawa keluarganya masing-masing untuk sekalian berlibur weekend dengan menikmati suasana indahnya Kota Bandung.

Acara utama dalam kegiatan Reuni Akbar tersebut adalah kegiatan kongres pemilu ikatan alumni, yaitu di mana dalam momen tersebut dilakukan pemilihan ketua alumni yang baru untuk periode kepengurusan tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Acara kongres  diselenggarakan pada siang hari setelah istirahat makan siang. Namun sebelumnya di pagi harinya, kami disuguhi sebuah kuliah umum bertajuk acara talkshow, di mana para pembicara yang dihadirkan adalah dari para alumni yang saat ini sudah dapat dikatakan sukses yang tentu saja berprestasi dan sangat menginspirasi. Ditambah, talkshow tersebut dipandu langsung oleh seorang moderator ternama tanah air bernama Mbak Ira. Ya, siapa sih yang tidak kenal Beliau? Jika aku harus menggambarkan suasana hari Sabtu itu, rasanya sangat-sangat-sangat luar biasa menyenangkan, terutama pada sesi acara talkshow di pagi harinya. Setelah mendengarkan pemaparan-pemaparan Beliau-Beliau, rasanya seperti mendapatkan  motivasi dan penyemangat baru.

 

– – – – –

 

Walau acara sudah dimulai sejak pukul 8 pagi, aku baru sampai di tempat acara sekitar pukul 9 pagi dan saat itu masih sesi sambutan dari ketua panitia dan beberapa petinggi dari sekolah dan dari pihak ikatan alumni. Beruntunglah aku tidak terlambat pada sesi kuliah umum yang sudah dinanti-nantikan sejak hari-hari sebelumnya.

Sampailah pada sesi di mana Mbak Ira muncul ke permukaan dan mulai membuka sesi talkshow dengan gayanya yang khas. Para peserta yang berada di dalam ruangan pun riuh senang dan semangat saat menyambut kehadiran moderator ternama itu. Aku pun tak henti-hentinya mengangkatkan kepala untuk sekedar mengikuti arah berjalannya Mbak Ira menuju panggung. Satu-persatu nama pembicara pun disebutkan Mbak Ira agar Beliau-Beliau tersebut segera naik ke atas panggung dan menduduki kursi yang telah disediakan. Tepuk tangan riuh peserta talkshow pun tidak henti-hentinya bertabuh di setiap Mbak Ira mengeluarkan jokes cerdas saat memandu acara bersama dengan ke-5 pembicara hebat di atas panggung. Ya, aku sangat menikmatinya. Seru!

 

Mbak Ira Memandu Acara Talkshow (Dokumentasi Pribadi)

 

Ada Pak Joni sebagai rektor Kampus I, ada Bu Penny sebagai kepala Badan P, ada Pak Elia sebagai Direktur PT P, ada Pak Setiawan yang saat ini menjabat sebagai Kepala SDM suatu kementerian di mana sebelumnya selama bertahun-tahun Beliau berkarya dan mengabdi di Provinsi Jawa Barat, kemudian ada juga Pak Tjatur yang saat ini bertugas sebagai anggota dewan di Jakarta. Masing-masing dari Beliau pun menyampaikan paparan singkat mengenai pengalaman-pengalaman hidup sebagai alumni, serta berbagi bagaimana mengelola tekad dan semangat berjuang demi cita-cita di dalam menggapai masa depan agar dapat berguna dan bermanfaat hidup, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Aku menyaksikan dengan antusias dan penuh seksama, walau sesekali bercengkarama dengan kawan-kawanku di bangku penonton. Tidak ketinggalan pula kami terkadang memberikan komentar-komentar positif kepada Beliau-Beliau yang ada di panggung.

 

– – – – –

 

Usai acara di siang hari itu, aku bersama dengan kawan-kawanku memutuskan untuk pergi ke suatu café yang hits di dekat kampus kami. Kami pun saling melepas rindu. Rasanya benar-benar sangat menyenangkan. Namun bagiku, momen-momen reuni bersama dengan kawan-kawan kuliahku ini malah  memunculkan sedikit rasa sesal jika mengingat-ingat masa kuliah dulu. Aku akui, dulu semasa kuliah aku tidak terlalu dekat dengan banyak kawan dalam satu jurusan, jarang sekali ikut berkumpul bersama saat sedang mengerjakan tugas, atau jarang sekali berkumpul untuk sekedar melepas penat di sekretariat himpunan mahasiswa jurusan kami. Padahal di situlah momen-momen bahagia bersama kami yang kini akan selalu terkenang dalam memori kami.

Bukan, aku bukan tipe anti-sosial dan sukar bergaul, bukan. Aku masih dapat berteman dengan beberapa kawan dalam lingkup satu jurusanku dan masih dapat berkumpul bersama seperti untuk mengerjakan tugas atau belajar bersama. Sayangnya, dulu tidak sering melewatkan waktu bersama mereka di luar urusan perkuliahan. Ya, disitulah letak rasa sesal yang terkadang masih menghantui hingga kini.

Walau aku jarang bermain bersama dengan teman-temanku di jurusan, aku aktif di beberapa unit kegiatan mahasiwa atau organisasi lain di kampusku, di mana unit-unit kegiatan tersebut tidak ada satupun yang berkaitan dengan hal-hal berbau jurusan kuliahku. Aku saat itu merasa lebih bebas dan lebih dapat mengekspresikan diri pada komunitas-komunitas di luar jurusanku tersebut.

Dulu aku sering merasa rendah diri di hadapan kawan-kawanku di jurusan. Bagaimana tidak? Aku ini bukan termasuk mahasiswi pintar seperti teman-temanku yang lain. Ibarat kata, aku ini sering mengulang mata kuliah di semester berikutnya atau di tahun berikutnya dari mata kuliah tersebut diselenggarakan. Nilai akhir pun terkadang pas-pasan, ditambah saat mengerjakan skripsi, lamanya minta ampun. Entah, aku pun  bingung apa yang sebenarnya terjadi pada diriku di masa lalu. Beberapa kali setiap mengingat kejadian-kejadian tersebut rasanya menyesal dan rasanya ingin kembali mengulang masa-masa kuliah. Namun beruntungnya aku, aku memiliki teman-teman yang sangat baik dan tidak membeda-bedakan status dan kedudukan diantara kami. Mudah-mudahan rasa saling menguatkan seperti ini akan terus terjaga hingga nanti di masa tua kami. Amin.

 

– – – – –

Suasana Senja Cihampelas di Kala Mendung (Dokumentasi Pribadi)

 

Acara reuni memang diselenggarakan 2 hari, namun aku dan teman-temanku hanya mengikuti prosesi acara di hari Sabtu-nya saja. Beberapa di antara kami juga sudah ada yang bertolak kembali ke kota masing-masing di malam minggunya.

Namun demikian, hari Sabtu kala itu benar-benar berkesan untukku. Rasa semangat untuk kembali menapaki kehidupan beserta tantangan-tantangannya kembali muncul dan semakin bergelora. Rasa rendah diri bertahun-tahun yang aku alami pun semakin terasa berkurang sejak Sabtu itu. Rasanya seperti kembali hidup. \(^-^)/

Dan berikut ini adalah beberapa hal serta hikmah yang dapat aku ambil dari pertemuan hari Sabtu kemarin itu:

  1. Kerja keras pasti membuahkan hasil, tidak ada yang namanya keberuntungan yang hakiki tanpa disertai dengan usaha dan kerja keras yang gigih. Usaha tidak akan menghianati hasil.
  2. Jangan lupa untuk senantiasa berdoa di setiap usaha yang sedang dijalankan, tanpa doa, usaha akan menjadi sia-sia. Karena sejatinya, segala nikmat yang kita dapat di dunia ini berasal dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
  3. Selalu bersyukur dengan apa-apa yang sudah didapat dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang sudah Tuhan Berikan hingga detik ini. Pada intinya, semakin pandai bersyukur, maka semakin bertambah nikmat yang akan didatangkan Tuhan kepada kita. Terkadang juga, malah datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
  4. Jangan pernah meremehkan orang yang selalu bekerja jujur, selain usaha dan kerja keras yang selalu ia lakukan, karena kita tidak akan pernah tahu keberuntungan seperti apa yang menantinya di depan.
  5. Bekerjalah dengan niat tulus ikhlas dan jangan selalu mengejar materi. Karena yang terpenting adalah kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperkaya diri dengan berbagai pengalaman kerja, agar dapat mengambil berbagai manfaat dari pengalaman-pengalaman tersebut bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

– – – – –

 

Jadi, tunggu apalagi. Yuk mari semangat! 🙂