Cara Menggunakan InstaSave for Instagram

Halo-halo. Bertemu lagi.

Kali ini saya ingin membahas mengenai bagaimana cara menggunakan Aplikasi InstaSave pada HP Android Anda.

Karena saat ini semakin bertambahnya permintaan menjadi dropshipper atau reseller  @tas.batam_murah (jangan lupa pakai titik, 😉 ), maka saya ingin menulis step by step bagaimana cara menggunakan Aplikasi InstaSave pada HP Android. Karena saat ini, toko online saya belum ada Grup Khusus di BBM maupun WA, maupun page facebook tersendiri, belum ada. 🙂

Walau beberapa HP terdapat fasilitas screenshot, namun InstaSave bisa menjadi alternatif agar dapat menyimpan gambar-gambar yang banyak dari sebuah akun Instagram.

Yuk, cekidot gan!

 

LANGKAH 1

a.) Langkah pertama adalah, Anda harus membuka Aplikasi “Google Play” yang ada pada HP Android Anda.

play1

b.) Kemudian cari pada kolom “Search” dengan mengetikkan “instasave“. Kemudian pilih InstaSave for Instagram.

886817_159680737740627_8152964172632282609_o

c.) Kemudian install aplikasi tersebut.

1126_159680791073955_3614464949527576519_n

d.) Setelah aplikasi InstaSave ter-install, Anda harus log in menggunakan akun Instagram milik Anda.

 

LANGKAH 2

Langkah berikutnya adalah, setelah aplikasi InstaSave ter-install pada HP Android Anda dan melakukan log in, berikutnya adalah buka Instagram dan membuka Akun yang akan dituju. Misalnya adalah @tas.batam_murah (jangan lupa pakai titik yaa..).

Untitled

 

LANGKAH 3

Berikutnya adalah klik foto yang ingin disimpan atau di-save. Kemudian klik bagian pojok kanan bawah atau yang bertanda 3 buah titik.

12647130_159680661073968_2419077013202095316_n

LANGKAH 4

Akan muncul Kotak Dialog seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Kemudian klik Copy Share URL“.

12439010_159680641073970_1241198187467681827_n

 

LANGKAH 5

Setelah klik tersebut, berikutnya adalah close atau tutup aplikasi Instagram Anda. Kemudian buka Aplikasi InstaSave yang sudah di-install tadi.

12650842_159680674407300_8334181630263943586_n

 

LANGKAH 6

Setelah aplikasi InstaSave terbuka, berikutnya akan muncul foto yang diinginkan untuk disimpan tadi. Kemudian klikTanda Panah Ke Bawah” yang ada di bagian pojok kanan bawah. Dan secara otomatis, foto akan tersimpan dalam album foto atau Gallery HP Android Anda. Bagian pojok sebelah kiri yang saya lingkari kuning itu menunjukkan akun Instagram yang baru saja kita kunjungi.

12650902_159680707740630_4754036724740576989_n

 

Nah, bagaimana? Sebenarnya tidak ribet kan sis-gan sekalian? Hehehe.

Selamat mencoba. 🙂

 

nb: 

Akun Instagram yang dapat di-save gambar-gambar-nya adalah akun yang tidak digembok, tidak di-private. Cmiiw.

 

Advertisements

Criminal Case dan Facebook Baru

Hai, hai!
Wah, sungguh sangat tidak terasa sekali ya. Tau-tau, Bulan Januari 2016 sudah mau akan berlalu lagi saja!

Oke, kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai Criminal Case. Tau kan game yang sangat terkenal itu?

Yup.
Jadi…begini ceritanya.

Suatu ketika saya memutuskan membuat akun baru untuk facebook saya. Istilahnya, akun yang lama sedang non-aktif dan saya membuat akun baru. Lagipula, dengan alasan ingin “berbenah diri”, maka saya wujudkan niat itu menjadi nyata. Selain, daripada saya harus mem-filter satu per satu daftar teman-teman dalam friendlist saya, jadi baiknya saya putuskan membuat akun baru saja. Untuk alasannya mengapa demikian, agak sukar dijabarkan. Tapi pada intinya, terkadang saya masih suka merasakan perasaan “tidak enak” kepada beberapa teman saya (yang ada dalam friendlist tentu saja) –yang mungkin– kurang berkenan akibat dari postingan-postingan yang saya buat. Ya…intinya demikian. Sukar untuk dijabarkan secara gamblang. 🙂

Lhooo…..kok jadi bahas itu. Hehe. Oke, back to topic.

image

Jadi, pada akun facebook lama, saya sudah memainkan game Criminal Case ini sampai pada level 50-an. Cukup lama juga bukan saya bermain game tersebut? Haha. 😀
Kalau tidak salah ingat, butuh 2 (dua) tahun lebih untuk bisa mencapai level tersebut. Karena saya pun memainkannya secara santai, tidak terus-menerus secara intensif.

Pada saat usai membuat akun facebook baru saat itu, saya tetiba kepikiran dengan game Criminal Case ini. Saya tidak bisa membayangkan bila harus mengulang case demi case dari level awal, yang mana akan sangat membutuhkan waktu yg sangat lama even bisa sampai lebih dari 2 (dua) tahun untuk bisa mencapai posisi level 50-an seperti saat ini. Rasanya…..sudah capek duluan ketika ingin memulainya kembali.

Walau ini memang “hanya sekedar” permainan atau game, tapi rasanya sudah seperti skripsi. Apabila hilang 1 (satu) folder penuh file skripsi dengan tiba-tiba, tanpa adanya back up di mana-mana, rasanya akan sangat malaaas sekali untuk memulai lagi dari awal. Rasanya tuh beraaat sekali. Haha. 😀
(lebay sih emang, haha :D)

Namun ternyata…..

Kemarin saya mencoba iseng membuka kembali aplikasi game ini pada Android saya. Dengan tentunya data-data game dengan menggunakan akun sebelumnya (akun facebook lama) masih tersimpan rapi dalam aplikasi. Kemudian saya mencoba log in kembali dengan menggunakan akun facebook baru saya. Awalnya sudah agak pesimis (lebay, :p). Namun ternyata….. Taraaaaa! Bisa! 😀

Thank God, ternyata saya tidak perlu mengulang kembali dari awal permainan! Cukup sinkronisasi dan jadi deh… Senang! Haha. 😀

Jadi.
Dari yang dulu memulai permainan Criminal Case ini sejak jaman masih duduk di bangku kuliah, dengan saat itu masih belum ada aplikasi mobile-nya (belum dibuat), kemudian sampai akhirnya muncul aplikasi mobile-nya, seluruh data game saling sinkron antara facebook dengan aplikasi game yang ada di handphone.
Setelah di-download semua data dan tersimpan rapi dalam handphone (walau keadaan sudah log out), kemudian pada saat ingin log in facebook untuk game via aplikasi mobile kembali, seluruh data game yang tadi sudah tersimpan banyak di handphone tersebut, kemudian ter-upload kembali ke facebook.

Sungguh menyenangkan bukan?

Memiliki akun baru, akan tetapi saya tidak perlu susah-susah mengulang game favorit tersebut dari awal. Haha. 🙂

Well, saya bukan tipe penikmat banyak game. Hanya gamegame tertentu saja dan sangat sedikit ini yang bisa saya nikmati, seperti salah satunya game Criminal Case ini.

Ngomong-ngomong, sesekali bermain game itu ternyata perlu juga ya. Hehe. Sesekali saja. Dan jangan sampai besarnya waktu bermanfaat bisa terbuang sia-sia hanya karena bermain game secara terus-menerus hingga lupa waktu.

Salam. 😉

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (3)

Saat ini saya sedang “nyambi” berjualan Tas Batam sambil menyalurkan hobi dikit-dikit, disamping profesi utama saya sebagai kuli. Untuk sekarang, tas-tas yang authentic bersifat konsumtif saja dulu deh. Hahaha. 😀
Disamping itu, setelah saya hitung-hitung, ternyata keuntungan dari hasil penjualan Tas Batam lebih besar dibandingkan dengan dari hasil penjualan tas-tas yang authentic. Mungkin karena dari segi harga dan pangsa pasar-nya, Tas Batam lebih mudah menjangkau seluruh lapisan masyarakat dibandingkan dengan Tas Authentic. Mungkin saya-nya yang masih harus perlu memperluas jaringan lebih besar lagi untuk pasar Tas Authentic ini. Atau, menjadi supplier tangan pertama langsung dari luar negeri. Hahaha. Aamiin! 🙂

 

Dan kali ini saya ingin berkisah kembali tentang sebuah konsep rejeki.

 

Dan ya. Rejeki ternyata begitu ya, asal kita punya niatan baik, senantiasa berperilaku baik, insyaaAllah adaaa saja kejutan baik-baik dari-Nya juga.

 

Seperti kisah 3 (tiga) hari lalu.

 

– – – – –

 

Sepertinya Beliau ini adalah orang kaya, pejabat pemerintah atau Beliaunya ini istrinya pejabat pemerintah (terlihat dari alamat rumah yang Beliau berikan), dengan tiba-tiba Beliau meng-add kontak saya, tanya ini-itu, dan langsung, mborong tasNggak pake rempong, nggak bawel ini-itu, komunikasi lancar, kemudian sesaat setelah ditotalin, Beliau langsung transfer detik itu juga! NO  drama.
Padahal, saya notalin rekapan Beliau sampai telat berjam-jam karena kurang konsentrasinya saya di dalam menghitung angka-angkanya yang memang karena jumlah tasnya nggak seperti biasanya, nggak yang  hanya 1 atau 2 pcs seperti customer-customer hari-hari biasanya, disamping juga karena saya harus berbagi konsentrasi dengan agak padatnya kegiatan dan pekerjaan.

 

Awalnya saya hampir su’udzon kalau  Beliau ini mau tipu-tipu karena mengirimkan bukti transfer-nya berupa mobile/sms banking yang bukan screen captured atau foto kertas transferan seperti customer-customer hari-hari biasanya.
Ternyata memang bukan tipu-tipu!
Astaghfirulloh saya ih ya. 😦

 

Ternyata konsep rejeki memang seperti itu ya.
Bisa datang dengan tiba-tiba dan nggak kita duga-duga datangnya seperti ini.
Rasanya memang benar ya.
Nggak perlu suka iri atau menginginkan benda-benda milik orang lain, yang kalau “dipelihara” bisa-bisa berbuah menjadi rasa dengki. Na’udzubillahimindzalik..

 

Alhamdulillah

 

Asalkan percaya selalu kepada Allah, beriman dan bertaqwa kepada Allah, sabar, selalu bersyukur, menghilangkan yang kotor-kotor di hati, khususnya yang berbau-bau iri dan dengki, rajin sedekah serta rajin beribadah, insyaaAllah terkadang apa yang kita inginkan atau harapkan, bisa menjadi kenyataan yang justru bisa melebihi dari ekspektasi/bayangan kita pada awalnya dari keinginan atau harapan tersebut.
Aamiin..

🙂

 

Tebet, 15 Januari 2016

Mengelola Hati dengan Keimanan

Apakah Anda memiliki social media? Apakah Anda memiliki facebook?

Bila iya memiliki, apakah Anda suka melakukan share terhadap artikel-artikel menarik atau tulisan-tulisan menarik berupa nasehat-nasehat yang berupa kebaikan? Seperti misalnya, tulisan-tulisan Bapak Mario Teguh dalam fan page-nya atau tulisan-tulisan penulis-penulis bijak lainnya. Apakah Anda termasuk salah satunya yang sering melakukan hal tersebut?

 

– – – – –

 

Pada hakikatnya, ketika kita sedang terhimpit oleh perasaan “permasalahan” hati yang mostly biasanya sebenarnya hanya dipengaruhi oleh pikiran-pikiran kita sendiri, kita senang mencari pembenaran-pembenaran melalui tulisan-tulisan bijak atau nasehat-nasehat yang keluar dari penulis-penulis bijak tersebut yang memang tulisan-tulisannya sangat menarik untuk dibaca dan tentu saja juga menenangkan hati.

Sebenarnya kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan diri kita yang biasanya suka terjadi pada saat kita sedang melakukan sesi curhat bersama sahabat. Apakah Anda pernah berada dalam posisi “yang dicurhati” dan biasanya sahabat Anda tersebut akan meminta nasehat baik dari Anda? Nah, sebenarnya hampir mirip dengan kondisi tersebut.

 

Pada saat kita sedang merasa “susah hati” kemudian membuka halaman facebook dan melihat ada status baik atau tulisan baik yang berkaitan dengan suasana hati kita saat itu juga, yang kemudian tipe kita adalah tipe yang suka men-share hal-hal baik tersebut, biasanya kita akan dengan mudah meng-klik tombol “share” di bagian bawah tulisan atau status tersebut. Atau bila bukan tipe demikian, maka kita akan sekedar membaca saja tanpa ikut men-share dan kemudian diresapi betul-betul makna dari tulisan tersebut. Saya yakin, pasti hal tersebut akan membuat hati kita menjadi lebih plong dan merasa “terhibur”. Bukankah demikian?

Atau apabila kita sedang merasa “susah hati” kemudian kita mendatangi sahabat kita dan melakukan sesi curhat, pasti di akhir cerita panjang-lebar kita, kita akan meminta saran atau nasehat baik yang datang dari mulut sahabat kita untuk bisa kita resapi betul-betul dan tentu saja hati akan sangat senang dan “terhibur” dengan nasehat-nasehat tersebut. Rasanya nyaman. Ya, seperti itu.

 

Namun, di sinilah hal tersusah itu dimulai. Memang sangat mudah berkata-kata baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Saya yakin, baik saya maupun Anda pasti pernah mengalami hal ini. Anda diminta oleh sahabat Anda untuk memberikan nasehat atau saran terbaik dari sudut pandang Anda, yang sebenarnya belum tentu Anda dan saya bisa melakukan atau mengimplementasikan “nasehat baik” yang telah Anda dan saya buat tersebut, dengan mudahnya. Dan bahkan mungkin malah akan diikuti oleh perasaan bersalah mendalam atas kata-kata yang sudah saya/Anda perbuat untuk sahabat terbaik saya/Anda tersebut. Karena sesungguhnya saya/Anda sendiri belum begitu mengetahui secara persis “kadar kebaikan” dari kata-kata saya/Anda yang keluar dari mulut saya/Anda tersebut. Betul tidak?

pure heart

Dan menurut saya, hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk bisa menjadi pribadi yang “baik” sesuai dengan kata-kata “baik” yang sudah saya katakan kepada orang lain tersebut adalah, cukup saya diam dan meresapi betul-betul di dalam hati atas kata-kata “baik” yang telah “berhasil” saya buat tersebut, dan mencoba dengan perlahan dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan “nasehat baik saya” tersebut. Khususnya apabila diri kita sendiri, saya dan Anda, yang sedang pada gilirannya mengalami kondisi “susah hati”. Ternyata betul. Tidak mudah mengimplementasikan kata-kata dalam bersikap.

Sama halnya pada saat  kita telah usai dalam membaca tulisan atau artikel baik yang penuh dengan peringatan dan nasehat baik. Sama terasa susahnya di dalam pelaksanaan nasehat-nasehat tersebut. Yang padahal salah satu diantara tulisan-tulisan baik yang banyak tersebut, juga merupakan Ayat-Ayat Suci Tuhan dan Janji-Janji Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang mau beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Tetap saja. Adaaa saja rasa “susah” yang muncul dari bisikan-bisikan hati terdalam, yang sesungguhnya sudah menyadari bahwa sebenarnya bisikan-bisikan tersebut adalah berasal dari syaitan. Mungkin dalam bagian ini, yang perlu dipertanyakan adalah kualitas keimanan kita. Seharusnya bila sudah yakin, maka hati akan mantap dan tetap beriman penuh atas Janji-Janji Tuhan tersebut.

 

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu bijak dan baik terhadap sesama dan terhindar dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, khususnya kondisi hati yang buruk.

Na’udzubillaamindzalik…

 

– – – – –

Tebet, 12 Januari 2016

 

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

 

Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan cantik milik  Mbak Dian  dan saat itu juga entah mengapa hati saya semakin plong se-plong-plongnya. Tanpa beban! Seolah seperti whuzzz… diterpa angin dan hilang begitu saja. Haha! Terima kasih untuk teman-teman facebook yang sudah men-share link tersebut yang pada akhirnya bisa muncul juga di halaman news feed saya. Terima kasih ya! 😀

 

Tulisan Mbak Dian tersebut benar-benar mencerahkan pikiran dan membuka mata saya semakin lebar. Terutama saat membaca ayat-ayat Allah yang Mbak Dian cantumkan juga di dalam tulisan Beliau, di mana membuat hati semakin tenang dan membuat saya semakin enjoy dalam menjalani kehidupan. Mengapa saya? Karena diantara saya dan suami, hanya saya saja yang terlalu banyak berpikir tidak-tidak dan khawatir ini-itu yang padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Haha. 😀

 

Syukur alhamdulillah memang, saya memiliki pasangan hidup yang pembawaannya selalu bisa tenang dalam situasi dan kondisi apapun, sekalipun itu dalam kondisi sepanik-paniknya. Itulah mengapa saya selalu heboh dan panik sendiri terutama pada saat sedang merasa kepepet atau panik yang sesungguhnya nggak penting. (Biasanya terjadi pada saat merasa takut ketinggalan pesawat, ketinggalan kereta, atau terlambat masuk studio bioskop. Terutama kalau jam-nya sudah “merasa” mepet dan kami masih di jalan. Dan ternyata sampai sekarang, kami alhamdulillah belum pernah terlambat dari hal-hal tersebut. Jadi intinya, memang tidak perlu panik kan? Haha. 😀 )

 

Berikut Ayat-Ayat Allah yang disebutkan Mbak Dian dalam tulisan cantiknya, yang terkandung dalam Q.S. As-Syura (42) : 49 – 50 beserta artinya.

quickmemo-_2015-08-24-01-07-02-1.png.png

quickmemo-_2015-08-24-01-07-18-1.png.png
– – – – –

 

Menikah kemudian memiliki momongan dengan segera.
Yep, seperti itulah culture kita “normally” as an Indonesian.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Indonesia dengan budaya ramah-tamah-nya, pasti tidak pernah luput dari fenomena “kepo” yang terkadang dibumbui banyak basa-basi, yang terkadang basa-basi ini diterjemahkan sebagai “perhatian”. Haha. (beuh, dalem)

 

Sebagai contoh, sebut saja Pasangan X, di mana posisinya sudah menikah selama 3 tahun, akan tetapi belum juga terlihat menggendong anak, atau setidaknya melihat perut si istri menggelembung lah ya, sudah pasti akan menjadi “sasaran empuk” bagi golongan “kepo-ers”. Terutama jika sedang berada dalam momen-momen kebersamaan seperti pada saat acara kumpul keluarga, entah saat sedang pengajian keluarga, arisan keluarga, wisata keluarga, saat-saat lebaran, atau bisa terjadi juga pada saat reuni sekolah bersama teman-teman. Sudah bisa ditebak apa itu? Yep, pertanyaan-pertanyaan tiada henti macam itu lah. Haha. Tau kan? 😀

 

Sebenarnya itu wajar sih…mengingat kita ini orang Indonesia yang katanya notabene “memang sudah bawaan orok” kalau kita ini senang beramah-tamah diantara sesama. Rasanya kurang afdhol bo, kalau lagi acara ketemuan malah diem-diem aja dan nggak tanya kabar ini-itu. Ya kan?

 

Nah, biasanya, yang menjadi masalah di sini adalah bagian si penerima pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada yang selow kayak di pantai, ada yang cuek pura-pura bego, ada yang mbolongin kuping tembus sepanjang kuping kanan sampai dengan kuping kiri alias masuk kuping kanan keluar kuping kiri, ada yang antusias heboh nggak karuan, ada yang mengaminkan secara tulus, ada yang buru-buru mengaminkan dengan segera (biar cepet beres obrolannya ceunah), ada yang cuma diam dan memberikan senyuman terbaik plus nyengir mamerin gigi putih cemerlangnya tapi sambil ngedumel dalem ati, dan berbagai respon yang mungkin terjadi.
Kalau saya? Wah, saya kurang tau termasuk tipe yang mana yah. Hahaha. Cuman mungkin lebih banyak selow-nya kali ya. Diaminkan saja to. Hahaha. (jyaaah pencitraan lo gan! :p)

 

Akan tetapi yang menjadi bahasan di sini adalah kita sebagai pihak si penerima pertanyaan saja, bukan pihak yang memberikan pertanyaan. Karena saya secara pribadi lebih banyak berpengalamannya sebagai si pihak penerima pertanyaan saja. Hahaha. Mengapa kita? Atau kamu? Iya… kamu… (Dodit style mode on, :p)

 

Hey girls, santai sajalah kita. Mungkin benar jika pertanyaan-pertanyaan mereka adalah bentuk “perhatian” dan “kasih sayang” yang sedang ditunjukkan kepada kita girls. Walau semisal suka terbersit pikiran buruk macam, “yaelah kepo banget sih, iye tau iye, anak lo banyak udah 2, 3, 4, dst,” maka buang jauh-jauh pikiran buruk macam itu. Sekalipun misal benar ada diantara mereka yang seperti itu (super kepo dan ingin ngerusuh), yasudah biarkan saja, karena itu adalah urusan mereka dengan Tuhannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah positive thinking dan positive thinking terus selamanya dengan senyuman merekah setiap hari. (ceileh gan, tumben bijak, :p)

 

Tapi benar kan, tidak ada untungnya meratapi nasib yang sebenarnya tidak perlu diratapi dengan lebay. 😀

 

Kalau pesan suami saya seperti ini :
“Belum memiliki anak” itu CUMA satu perkara saja, iya, satu, S-A-T-U, satu! HANYA satu bo, satu! 😀
Dan bila mau membandingkan dengan hal-hal bahagia lain yang sudah saya dan suami lalui, jalani, nikmati, miliki, angka 1 (satu) tadi berbanding dengan banyak angka lho. Dan itupun KALAU memang mau memandang hal tanda kutip tadi sebagai sebuah masalah. Kalau tidak? Wuih, ternyata beneran hidup itu rasanya nggak ada beban sama sekali! Beneran. 😀

 

Coba deh temen-temen yang baca tulisan ini, nerapin buat “hal-hal lain” yang temen-temen rasa “hal-hal lain” tersebut adalah sebagai sebuah “masalah”, kemudian mengubah mindset bahwa “hal-hal lain” tersebut itu hanyalah “nothing”, CUMA satu (1), HANYA satu (1) dari sekian banyak hal yang udah bikin temen-temen bahagia hingga detik ini. Yakin deh, yang 1 (satu) itu akan ketutup sama banyak angka (banyak hal lain) dari momen-momen bahagia yang udah temen-temen lalui. Ya kan?

 

Kalau dalam kasus saya, saya benar-benar harus bisa serius belajar ikhlasnya, karena betul kan, ini semua ketetapan Tuhan, di mana kita sebagai manusia hanya dibatasi kemampuan dalam berusaha dan berdo’a. Ketika saya mengubah mindset di dalam menghadapi yang SATU itu, saya kembali bisa fokus kepada kehidupan saya. Semakin menikmati apa-apa saja yang sedang dijalani, semakin bisa bersyukur, semakin bisa memahami dan berusaha untuk selalu bijak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dan semakin banyak direnungi, ternyata kenikmatan dunia yang sudah “mampir” ke saya itu buanyaaaaak sekali. Banyak! Termasuk masih hidup dan bernapas hingga detik ini sebagai seorang muslimah secara sadar, bukankah hal itu merupakan kenikmatan teramat luar biasa yang patut disyukuri?

 

Hingga suatu ketika di saat saya dan suami kontrol ke Dokter SpOG kami, Beliau tidak menangkap sinyal kekhawatiran pada wajah kami. Mungkin dalam pikiran Beliau, “ni anak tiap dateng cengangas-cengenges niat program nggak sih,” Hahaha. 😀 Sampai-sampai pada saat Beliau membaca rekaman medis berat badan kami jeda 1 minggu yang bertambah 3 kg, Beliau hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah. (peace Dok, haha)

 

– – – – –

 

beautiful-heart

 

Mungkin ada beberapa hal yang membuat saya agak selow dengan “masalah” ini. (well, now i won’t mention it as a problem anymore) Karena apa? Karena salah satunya, saya ini sudah beruntung buanget lho akhirnya bisa menikah cepat dengan seseorang yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. (iya bo, anak STEI (Sekolah Teknik Elektro & Informatika ya, bukan Sekolah Tinggi Ekonomi, :p), tinggi besar, pinter plus ganteng kayak bintang pelem India2-nya ANTV itu, gimana nggak bersyukur, :p – jyaaah pamer lo kumat lagi gan!) Masih beryukur dan beruntung akhirnya beneran “jadi” dengan Beliau suami saya. Teringat gimana dulu susah-nya menuju jalan ini (uhuks!). Iiish…ngebayanginnya aja kadang bikin sedih, tapi sekarang kalau diingat-ingat lagi, “kok bisa ya?”. Ya itulah. Kalau sudah jodoh ternyata betul nggak akan ke mana. Ya pada intinya, nggak semua orang seberuntung saya akhirnya bisa merasakan “menikah cepat”.

 

Kemudian melihat juga kawan-kawan sepantaran yang buanyak sekali yang melanjutkan sekolah lanjutan, entah di dalam negeri maupun di luar negeri. Terutama kawan-kawan yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, membuat saya tidak terlalu merisaukan “masalah” yang sedang saya bahas pada tulisan ini. Luar negeri bo! Hampir tiap hari seliweran di social media saya postingan kawan-kawan ini. Ada yang di Amerika, Australia, Jepang, Norwegia, Belanda, Jerman, New Zealand, Spanyol, Inggris, China, Singapore, dll. (ternyata banyak juga ya, haha, 😀 ) Malah justru saya secara pribadi menjadi termotivasi. Apalagi baru saja adik sepupu (kakak sepupu, literally) kelar sarjana dan berangkat ke Jepang. Pikiran saya menjadi bertambah motivasi untuk hal lain, ketimbang memikirkan kapan ya “masalah” ini “berakhir”. Hahaha.

 

Kemudian lagi, melihat kawan-kawan sepantaran juga yang sedang meraih sukses di perusahaannya masing-masing, berkarya, berprestasi, dan bermanfaat untuk bangsa dan negara. Ditambah, sekalipun diantara kawan-kawan tersebut yang sudah menikah juga dan memiliki anak, mereka jaraaang sekali mengupdate tentang kehidupan anak-anak mereka, melainkan lebih banyak mengupdate prestasi dan karya mereka yang tentunya banyak juga bermanfaat bagi bangsa dan negara ini.

 

Jadi, itulah alasan-alasan mengapa saya masih agak selooow dan yeah, santai saja lah ya. Haha. 😀

 

Kalau Tuhan sudah Bertindak dan Berkata “YA”, maka jadilah! Jadi, tunggu saja dan sembari menunggu, mari bersenang-senang! Haha. 🙂

 

Dan saya teringat kisah Paman (Alm) dan Bibi dari pihak suami. Beliau berdua sudah ditakdirkan oleh Tuhan hingga pada usia dewasa seperti ini belum memiliki keturunan juga, sampai Paman wafat pun, Tuhan tidak juga menitipkan keturunan bagi Beliau berdua. Namun, jangan salah sangka dulu. Saya yakin Beliau berdua, terutama Bibi (Tante), pasti sudah mengalami masa-masa yang tentunya “sangat sulit” juga, terutama bila bertemu sanak saudara. Coba dibayangkan, betul tidak? Bagaimana beratnya hati, dan lain sebagainya.

 

Namun di sini, ada yang menarik.
Alhamdulillah Beliau berdua dititipi Tuhan harta yang terus mengalir berlimpah dan terus bertambah sepanjang hidup Beliau berdua. Walau demikian, Beliau berdua hampir sama sekali tidak pernah yang namanya absen untuk berbagi dan bersedekah. Tiap minggu! Bayangkan, seminggu sekali! Pengajian anak yatim, pengajian mushola, bagi-bagi nasi berkat (nasi lunch box), dan agenda-agenda lain yang terus bergantian.

 

Dan yang saya petik dari kisah Beliau berdua, kita benar-benar harus luruuus hati, tawakal seutuhnya atas segala ketetapan Tuhan yang sudah betul-betul memang harus kita alami. Bisa jadi hal yang secara kasat mata adalah sesuatu “yang tidak menyenangkan”, akan tetapi dari jalur tersebutlah ternyata Tuhan telah melipat-gandakan dan menyuburkan pahala-pahala bekal akhirat yang mungkin saja belum tentu akan demikian bila Beliau berdua dititipi keturunan.

 

Pada intinya, kita memang harus pandai-pandai bagaimana cara kita melihat “berkah” dan “potensi pahala” dari setiap detik hidup kita sekalipun itu terasa sulit dan berat. InsyaaAllah Janji Tuhan tidak akan pernah salah. Mungkin pesan berikutnya dari kisah Beliau berdua adalah, tidak perlu menunggu hadirnya anak-anak yang sholeh-sholehah untuk bisa mendapatkan tiket ke surga secara mudah. Karena memang pada intinya, kelak nasib kita di akhirat itu, porsi paaaling besar ya ditentukan oleh diri kita sendiri masing-masing selama kita hidup di dunia. 🙂

 

– – – – –

 

Berikutnya adalah……….hindari iri! Apalagi dengki, hindari! Hihihi. 😀

 

Sudah menjadi wajar lah ya, namanya orang, manusiawi, apalagi musim-musim banyak pengantin baru, beuh…angin yang bertiup dari segala penjuru itu rasanya seperti whuzzz-whuzzz kesana-kemari bagaikan badai tiada henti. (lebay! :p) Bagaimana tidak? Teman-teman yang “seangkatan” menikahnya dengan saya dan suami, mulai terlihat melahirkan anak-anak mereka satu per satu. Bahkan lebih berasanya lagi, “badai” yang datang dari teman-teman “angkatan berikutnya” yaitu teman-teman yang menikah sesudah saya dan suami, semakin banyak yang terlihat sudah melahirkan anak-anak mereka. “Lah terus, kapan donk giliran gue, Tuhan?” Kira-kira seperti itu kondisi kesalnya saya kepada Tuhan beberapa bulan lalu. Wkwkwk. So pathetic, wasn’t I?

 

Namun, apa jadinya kalau saya terus meratapi dan nggak move on-move on? Beuh, nggak kebayang deh macam mana saya jadinya sekarang ini. Mungkin bisa menjadi orang yang kurus kering kerontang dengan pandangan nanar seolah-olah tiada kehidupan asik lagi di dunia ini, atau lebih banyak melamun sehingga menyebabkan tidak fokus pada pekerjaan, tidak fokus pada keluarga yang menyayangi saya, dan tidak fokus pada teman-teman di sekeliling saya, atau kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya, na’udzubillahimindzalik… (lebay sih ah gan!)

 

Well, well. Setiap orang berhak atas kebahagiaannya masing-masing bukan. Dan memang rasa-rasanya tidak perlu iri maupun dengki atas kebahagiaan, keberhasilan, atau rizqi milik orang lain. Apalagi sampai merasa dengki, dan apalagi apabila menjauh sebagai teman. Ih, rasa-rasanya nggak banget deh ya.

 

Dan untuk saya pribadi, menurut saya, tidak perlu lah membenci seseorang hanya karena mellihat dia atau mereka nampak “lebih” di mata kita, apalagi dia atau mereka itu adalah kawan-kawan atau saudara sendiri. Please, nggak banget deh ya. Dan menurut saya juga, apabila sampai muncul rasa benci hanya karena hal-hal kelebihan yang dimiliki oleh orang lain justru akan membuat diri kita ini semakin tidak fokus dan tidak pandai bersyukur dengan apa-apa yang ada di hadapan kita sendiri. Kita semakin sibuk melihat orang lain dan berusaha mencari cara agar dapat “menyaingi” orang lain tersebut, dan malah menjadi tidak fokus pada kehidupan sendiri. Intinya, sia-sia.

 

Padahal menurut saya secara pribadi, dengan menghindari iri maupun dengki bisa membuka pintu rizqi semakin lebar dan mendatangkan rizqi yang banyak serta tidak diduga-duga. Ditambah hidup semakin dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain. Syukur-syukur semakin dapat berkontribusi secara positif kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

 

Dan itu benar, banyak pengalaman dan kejadian yang saya rasa saya sudah mengalaminya.

 

Saya memberi contoh untuk kasus “masalah” yang sedang kita bahas dalam tulisan ini saja ya. Suatu ketika betul, saya sempat “minder” dan “rendah diri” dikarenakan hanya karena melihat makhluk kecil nan lucu milik orang lain, yang kemudian membuat saya kepikiran dan membuat gerombolan syaitan menanamkan rasa benci akibat iri karena melihat makhluk kecil lucu nan tidak berdosa itu. Semakin hari kebencian saya semakin menjadi dengan merapal beberapa pembenaran yang saya buat-buat secara pribadi. Namun beruntungnya, belum sempat kebencian itu memuncak, saya kembali sadar. Sepanjang masa itu, perlahan-lahan, suami saya semakin mengarahkan hati serta pikiran saya supaya “back to normal”.

 

Dan sampailah pada saat saya memutuskan untuk tidak merasa iri lagi dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Hati semakin plong dan membuat saya semakin enjoy di dalam mengarungi kehidupan ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, seolah-olah setelah “lepas” dari perasaan penuh dosa tersebut, saya diberi Tuhan rizqi yang semakin berlimbah, semakin banyak, dan datangnya banyak yang tidak diduga-duga. Sebagai contoh yang paling mengagetkan yaitu, rizqi pekerjaan yang datang secara tiba-tiba, tidak diduga-duga, di mana pekerjaan ini sesuai dengan bidang saya dengan tentunya salary yang lumayan, hahaha. (masalah gaji, cuma bonus ya, bukan patokan, :p)

 

Dan maaaaasih banyak lagi kejadian menyenangkan lainnya yang terjadi secara tiba-tiba setelah saya menurunkan kadar iri (khususnya ke-benda-an) terhadap orang lain, serta memahami bahwa porsi rizqi tiap orang itu memang berbeda. Dan yang pasti selalu ada maksud mengapa Tuhan memberikan rizqi si A sekian, si B sekian, si C sekian, dst yang sebetulnya kita yang “melihat” tidak pernah tahu kan latar belakang dan kebutuhan mereka seperti apa.

 

Ya…pada intinya.
Semakin seseorang iri maupun dengki dengan apa yang dipunya atau dimiliki oleh orang lain, maka akan semakin dapat menutup pintu-pintu rizqi miliknya yang sebetulnya bisa dibuka kapan saja dengan leluasa tanpa halangan. Yah…kira-kira begitulah mekanisme kerja syaitan di dunia ini. Yang padahal, dengan semakin kita pandai bersyukur, maka rizqi dan nikmat Tuhan akan semakin banyak diberikan kepada kita. Memang benar harus banyak-banyak berdo’a dan memohon perlindungan Tuhan selama masih hidup di dunia.

 

Q. S. Ibrahim : 7

Q. S. Ibrahim : 7

 

– – – – –

 

Jadi, saya rasa sudah jelas kan bagaimana Tuhan Mengatur setiap kehidupan yang ada di dunia ini. Dan rejeki itu memang Hanya Allah Yang Mahatahu, tidak akan salah, dan tidak akan pernah tertukar antara satu individu dengan individu lain, selama kita sebagai makhluk selalu berusaha dan berdoa secara maksimal. Saya selalu yakin Allah Sudah Menyiapkan sesuatu yang saaaaangat indah bagi saya dan suami kelak di kemudian hari. Entah apa itu yang tentu saja kami belum tahu. 🙂

 

Terakhir. Jujur saja, saya suka iri kepada teman-teman yang pintar-pintar. Kok bisaaa ya teman-teman tuh gampang banget masuk sana-sini, bikin ini-itu, dll. Haha. 😀 Tapi dalam hal ini, “iri” yang demikian, “iri” yang seperti ini, yang kemudian saya terjemahkan sebagai “motivasi” untuk dapat terus mengembangkan dan menggali potensi diri. Dan baiknya memang setiap rasa “iri” yang sempat mampir dalam hati kita, akan jauh lebih baik bila diterjemahkan sebagai sebuah “motivasi” membangun diri agar kita dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik serta agar bisa semakin mengembangkan potensi diri kita masing-masing sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. 🙂

 

– – – – –

4 Januari 2016 

( eeeh tulisan perdana di tahun 2016! 😀 )