Tamparan Sebuah Cahaya Keikhlasan

Hari yang penuh emosi.
Bisa jadi terpengaruh juga oleh siklus bulananku.
Ah ya, ternyata bulan kesekian kali ini pun gagal lagi.

Hari ini aku merasa “memuncak” untuk tidak bertahan pada tempat yang “aku rasa” aku dapat bertahan di dalamnya.
Sudah sering berulang kali pikiran naik-turun seperti ini, namun berulang kali juga aku memilih untuk bertahan.
Entahlah apa yang aku pikirkan.
Aku merasa tidak cocok dengan kultur suasana kebersamaan yang menurutku berbeda dengan tempat yang seharusnya.
Dan hari ini pun aku kabur dari tempat itu, ya, meja kerjaku.
Aku linglung, suasana hujan, badan masih kurang fit pasca demam kelelahan, komplit sudah.
Kutumpahkan rasa “sedih” ku pada suamiku dan ibundaku.
Dan “masih hebatnya” lagi, pada saat kabur pulang ke rumah itu, aku membawa beberapa pekerjaan rumah.
Kupikir ada baiknya kuselesaikan dengan suasana rumahan saja.

– – –

Menjelang sore hari, mood-ku semakin tidak menentu.
Pada saat Maghrib, beliau pun muncul.
Kupeluk beliau dengan eratnya.
Kuutarakan ulang “kesedihan” hari itu.
Pada saat kabur di pagi harinya, saat kusapa beliau melalui telepon, beliau menawarkan dirinya untuk membantu menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah yang sempat kubawa itu.
Tapi tentu saja aku tolak, karena ini adalah urusanku, bukan beliau.
Dan kuberitahu, beliau di hari itu pun sedang merasakan demam kelelahan yang sama.

– – –

Menuju jam 9 malam, usai beliau memainkan game pada ponselnya, beliau pun melihat pekerjaan rumah yang sempat aku bawa di pagi harinya.
Beliau pun melihat & tertarik untuk membantu.
Dikit demi sedikit, apa yang menjadi pekerjaan rumah pun semakin terisi banyak.
Sampai-sampai pun aku sudah merasa “muak” dan mulai beralih kegiatan lain pada ponselku.
Yang kulihat malah, beliau mengambil alih laptopku dan semakin terlihat tertarik meneruskan.
Berkali-kali pun aku mengutarakan, tidak perlu, dan akan aku lanjutkan kemudian.
Tapi beliau tidak berhenti.
Sampai pada akhirnya beliau pun kembali bersin dan sudah mulai tidak tahan untuk segera tidur.
Begitu pun aku, tapi sungguh kaget pun terharu, beliau telah membantu beberapa “catatan”ku. Sungguh, aku sangat berterima kasih! T_T

– – –

Kulihat beliau begitu lelahnya.
Kusentuh lembut dahinya, masih agak sedikit hangat.
Perlahan kurapihkan selimut untuknya, kutatap wajahnya lembut.
Berulang kali kuucapkan terima kasih padanya sembari sesekali terisak. T_T
Dan sesaat sebelum berangkat tidur, beliau pun berkata,

Aku ingin ganisku untuk bisa bertahan dulu sementara di tempat itu, baru sesudahnya bila ada yang lebih baik, barulah boleh bertindak. Aku hanya ingin ganisku bertahan untuk waktu sejenak saja dulu, biarkanlah bertahan pada rasa kecewa sesaat sebelum datangnya rasa sesal. Aku tak mau melihat ganisku bersedih hanya karena sebuah rasa sesal kecil,

Tanpa sela lagi, air mataku semakin menetes dengan derasnya. T_T T_T T_T
Tumpah-ruah sambil menatap wajahnya.
Dibalik lelahnya, beliau pun masih sempat memikirkan “hal remeh-temeh” tentangku.
Sungguh, padahal aku tadi tidak mengharapkan itu.
Aku pun “padahal” sudah pasrah untuk satu hari ini.
Ya Tuhan…
Mengapa ada jenis makhluk-Mu yang seperti ini?

Jakarta, 11 Februari 2015
Pukul 23:35 WIB

– – –

*PR :
“Membaca” rumpun tulisan banyak yang tertuang pada suatu foto, dilihat satu per satu, memastikan tulisannya apa, kemudian menerjemahkan dalam suatu catatan tulisan. Foto spanduk yang berisikan tulisan banyak, dengan jarak yang “baik” untuk versi digital (karena bisa memanfaatkan fitur ‘zoom’), namun menjadi kurang baik apabila sudah menjadi versi cetaknya.

Advertisements