Bandung dan Ciwalk

Hari ini tanggal 23 Juli 2014. Tepat sudah 9 tahun berlalu sejak hari pertama memulai kegiatan di Sekolah Asrama Tercinta, SMA Terpadu Krida Nusantara. Namun kali ini, saya sedang tidak ingin membahas lebih lanjut tentang apa dan bagaimana bersekolah di sana. Dan saya juga sedang tidak ingin ber-euforia kembali atas apa yang telah terjadi pada masa-masa sekolah tingkat SMA dulu.

Sembari menunggu kedatangan kereta, saya sempatkan menulis tentang sebuah kenangan kecil yang berkaitan dengan Kota Bandung dan Mall Cihampelas Walk (Ciwalk).

Bandung merupakan kota sejuta kenangan bagi saya. Benar, dari sejak mengenyam pendidikan tingkat SMA sampai kuliah, saya lalui di Kota Bandung. Lebih kurang sampai 8 tahun lamanya saya habiskan hidup saya di Kota Bandung. Sampai-sampai Allah SWT pun telah mempertemukan saya dengan partner hidup juga di kota tersebut.

Pertama kali datang ke Kota Bandung, saya jatuh cinta dan terpesona dengan segarnya alam yang dimiliki, serta air yang dingin dan tentunya menyegarkan. Terutama saat mengenyam pendidikan tingkat SMA, letak sekolah asrama saya di bawah Kaki Gunung Manglayang. Setiap pagi menunaikan kewajiban turun Subuh ke Masjid (keluar asrama menuju masjid), untuk melaksanakan sholat Subuh berjama’ah. Terbayang bagaimana dinginnya air wudhu masa-masa itu. Sampai-sampai suatu ketika saking “terbiasanya”, saya pun sesekali ketularan sahabat saya, Aisha, bangun lebih pagi sekitar pukul 3 pagi, untuk mandi. Hmmm, segar bukan? Jadi, saat di masjid, kami sudah wangi.

Segarnya air Bandung membuat saya saat pulang kampung ke Banjarnegara, sudah tidak memerlukan lagi air hangat untuk mandi sepulangnya dari perjalanan Bandung-Banjarnegara, yang biasanya suka disiapkan secara paksa oleh Ibu saya. Perbandingan temperatur kedua kota tersebut membuat saya merasa hawa Banjarnegara rasanya semakin panas tahun demi tahun.

Ada yang menarik dari Kota Bandung. Mungkin bagi saya yang “super ndeso”, rasanya berkunjung ke pusat-pusat perbelanjaan seperti mall-mall ini, terasa sangat “wah” bagi seorang pendatang. Dapat dibilang, saat-saat awal masa sekolah dulu itu merupakan culture shock bagi saya. Butuh beberapa waktu untuk meredakan “kekatrokan” dalam diri saya. Salah satu yang paling menarik bagi saya diantara mereka adalah Mall Cihampelas Walk (Ciwalk).

Saat acara City Tour akhir tahun menjelang kenaikan kelas, biasanya Wali Asuh (WA) atau Wali Kelas (WK) mengajak kami para siswa untuk berjalan-jalan keluar kampus Krida Nusantara. Biasanya tempat-tempat “utama” yang kami kunjungi adalah Hartz Chicken Buffet, Jonas Photo Studio, dan berakhir di Ciwalk.

Kebetulan saat memasuki bangku kuliah, saya kembali berkawan dengan Kota Bandung tercinta tersebut. Dan tentu saja kembali, ada berbagai macam kegiatan yang beberapa kali diadakan di Ciwalk, seperti buka puasa bersama, nonton bareng, dan lain sebagainya. Berjalannya waktu, Ciwalk mengalami beberapa kali renovasi. Dari dulu saat masa SMA hingga saya pun lulus dari bangku kuliah.

Sabtu, 19 Juli 2014

Hari tersebut merupakan hari kunjungan saya ke Bandung bertujuan untuk “menyelesaikan” pindah-pindah barang ke kampung halaman, di Cepu. (Orang tua saya setelah pensiun, kembali pindah ke kota asal Beliau berdua, yaitu Cepu.) Kondisi saat itu adalah masih dalam kondisi berpuasa Ramadhan. Tapi semangat saya tidak luntur hanya karena berpuasa. Lagipula saat itu rasanya sudah lama sekali tidak berkunjung ke Bandung sejak beberapa kali weekend untuk tetap stay di Jakarta.

Seperti yang sudah saya rencanakan, usai semua barang dibawa oleh truk pindahan pasca berbuka puasa, lebih tepatnya ba’da Isya’ dan tarawih, saya memohon kepada suami untuk berjalan-jalan menikmati malam di Ciwalk. Kebetulan kantor start-up Suami dan Kawan-Kawannya, berjarak dekat dengan Ciwalk, sehingga cukup dengan jalan kaki menuju ke arah Ciwalk. Sebenarnya jalan yang dilalui ini juga yang sering saya lalui bersama kawan-kawan dari kampus apabila sedang ingin berkegiatan di Ciwalk. Selain lebih sehat, biasanya kami menghindari macet bila menempuh perjalanan menggunakan angkot.

Ah, memang sungguh menyenangkan sekali malam itu. Rasanya euforia tentang memori masa-masa kuliah dan asrama kembali berkelebat. Saya tahu ini sangat berlebihan. Namun begitulah adanya. Mungkin bagi sebagian besar orang akan berkata, “biasa aja ah, Ciwalk doank,” dll. Namun sekali lagi, bukan masalah bentuk mall-nya, melainkan banyaknya kenangan yang terjadi di sana. Tentunya saat bersama kawan-kawan reramean saat nonton bareng atau sekedar makan malam bersama.

Hai Bandungku, sampai berjumpa kembali ya. Entahlah, saya begitu senang bila dapat bertandang ke kotamu, hai Bandungku.

🙂

Gambir, 23 Juli 2014

Advertisements

Tahu (Tofu) Campur (Saus) Telur Asin

Sembari menunggu jam keberangkatan ke lapangan, saya menyempatkan untuk menulis sejenak tentang sebuah resep yang sejak kemarin-kemarin ingin saya tuangkan dalam tulisan. Resep yang sangat mudah dan tentunya dapat sebagai menu sehari-hari. Menunya adalah Tofu Campur Telur Asin.

Ada yang pernah mengunjungi Restoran Seafood D’Cost? Nah, sebenarnya saya sampai sekarang masih penasaran dengan sebuah menu favorit yang biasa saya dan kawan-kawan pesan, yaitu Tahu Jepang Saus Telur Asin. Dari hasil gugling meng-gugling, akhirnya saya menemukan secercah harapan menuju cara membuat masakan tersebut.

Menurut saya memang, masakan ini tergolong simpel di dalam cara pembuatannya.

– – – – –

Bahan-Bahan :

– 2 buah tofu 140 gram rasa udang.
– 2 buah telur asin matang. (alternatif dengan 2 Butir Telur Ayam biasa)
– 3 siung bawang merah.
– 3 siung bawang putih.
– 1/2 badan bawang bombay.
– 2 cabe merah keriting.
– Daun bawang secukupnya.
– 1 sdm saus tiram.
– Minyak goreng secukupnya untuk menggoreng tofu dan menumis bumbu.
– Gula pasir secukupnya/sesuai selera sebagai penyeimbang rasa asin dari telur asin. (Catatan : apabila diperlukan saja; apabila dirasa perpaduan rasa asin dari telur asin dengan saus tiram dan bawang sudah pas, maka tidak perlu penambahan gula)
– Sedikit air putih, agar masakan tidak terlalu kering.

Bahan-Bahan

Bahan-Bahan

 

Tahap Persiapan :
– Iris-iris bawang merah, bawang putih, dan bawang bombay.
– Iris serong cabe merah keriting.
– Iris-iris daun bawang.
– Kupas telur asin matang (saya prefer dikupas seperti mengupas telur ayam matang biasa, daripada harus dibelah dua sebagaimana biasa akan menyantap telur asin), kemudian cacah-cacah hingga berbentuk butiran.

Cacahan Telur Asin

Cacahan Telur Asin

– Potong-potong tofu sesuai silindernya dengan ketebalan + 1 cm.

 

Alternatif Lain Bahan Saos Telur Asin menggunakan Telur Ayam Biasa: (updated!)

 

– Rebus 2 butir Telur Ayam hingga matang.
– Setelah matang, angkat, tiriskan, dan kupas.
– Hancurkan dengan menggunakan alat ulegan.

Tofu Telor Asin2

Ulegan Telur Ayam + Irisan Daun Bawang

Cara Membuat :
1. Siapkan minyak goreng secukupnya dalam wajan, kemudian goreng tofu hingga matang warna keemasan. Angkat.

Tofu Matang Warna Keemasan

Tofu Matang Warna Keemasan

2. Siapkan sedikit minyak goreng dalam wajan, tumis bawang merah, bawang putih, irisan cabe merah keriting, irisan daun bawang, irisan bawang bombay hingga harum.
3. Masukkan cacahan telur asin / atau ulegan terlur ayam dan tumis sebentar.
4. Masukkan tofu yang sudah matang tadi.
5. Tambahkan 1 sdm tiram. Kemudian apabila diperlukan, tambahkan gula secukupnya sebagai penyeimbang rasa.
6. Goreng bolak-balik hingga tofu dan telur asin tercampur merata, sambil ditambahkan sedikit air putih agar masakan tidak terlalu kering.
7. Sajikan hangat.

Tofu Campur Telur Asin MINUS Gula & Cabe Keriting

Tofu Campur Telur Asin MINUS Gula & Cabe Keriting

 

Tofu Telur Asin + Daun Bawang + Cabe Merah

Tofu Telur Asin + Daun Bawang + Cabe Merah

 

Benarkan, cukup singkat di dalam pembuatan Tofu Campur Telur Asin ini. Setidaknya sembari masih mencari-cari “kesempurnaan” bagaimana cara membuat Tahu Jepang Saus Telur Asin ala D’Cost. Mungkin ada diantara pembaca yang tahu bagaimana caranya?

Salam.
🙂

 

Catatan: Di dalam pembuatan Tofu Campur Telur Asin ini, saya tidak menambahkan bumbu-bumbu lain (seperti contoh: garam, gula, royco, dkk).

Ketika Sakit Mendera

Di tengah-tengah pesta demokrasi Indonesia Pemilihan Presiden 2014, di tengah-tengah euforia Piala Dunia 2014, di tengah-tengah kesenangan dalam melaksanakan pekerjaan di kantor, tanpa terasa telah mengabaikan kondisi kesehatan diri sendiri. Sebenarnya tanda-tanda “tidak enak badan” ini telah dirasakan berhari-hari sebelum puncak-puncaknya 3 hari lalu. Sebenarnya hanya penyakit “kecapekan” sebagaimana orang pada umumnya. Demam yang disertai flu berat dan batuk berdahak ditambah dengan radang tenggorokan yang cukup menyiksa. Memang, apabila melihat kondisi cuaca belakangan ini, terasa “agak wajar” jika saya tetiba harus jatuh sakit seperti ini.

Siapa sih yang ingin sakit? Tentu tidak. Karena badan tidak fit, banyak kegiatan dan pekerjaan yang harus tertunda. Hilangnya 1 hari kerja, dapat berdampak cukup signifikan terhadap tempo kerja saya di dalam pembuatan laporan lingkungan, misalnya. Belum lagi pekerjaan rumah yang harus tertunda dan tidak berjalan seperti hari-hari biasanya.

Ada satu hal menarik di saat saya sedang merasa “tidak karuan” beberapa hari ini. Cukup menampar saya, karena hal sekecil ini mengapa saya merasa tidak pernah mendengar sebelumnya. Yaitu, do’a meminum obat. Saat terbaring lemas, kebetulan saya juga sedang tidak berpuasa, setelah Panadol ada di tangan saya kemudian pada saat meminumnya, mulut suami seperti berkomat-kamit membacakan suatu kalimat yang saya sendiri tidak dapat mendengarnya. Lantas saya memintanya mengucap ulang kalimat komat-kamit apa yang Beliau katakan. Ternyata adalah lafadz do’a meminum obat. Dan saya pun terkesima se-per-sekian detik. Bisa-bisanya dalam usia sejauh ini, saya tidak pernah mendengar kalimat tersebut? Dan lagi, lafadz do’a tersebut merupakan sebuah ayat dalam Al-Qur’an Nur Karim! Astaghfirullohal’adzim ganis…

Asy Syura 80

Entahlah apa jadinya apabila suami saya bukanlah seseorang yang begitu baiknya luar biasa, begitu perhatian juga sangat menyayangi istrinya. Saya tidak melebih-lebihkan, namun beginilah adanya. Walaupun dibalik kebanggaan saya terhadap Beliau, terkadang terbersit ketakutan apabila saya terlalu melebih-lebihkan, mengingat, usia pernikahan kami masih sangatlah muda. Setiap menceritakan kisah-kisah mengenai sifat suami kepada Ibu saya, Ibu saya selalu berkata dan mendo’akan, “Mudah-mudahan sifatnya begitu seterusnya sampai anak-anakmu tumbuh besar dan menginjak usia tua bersama,” Aamiin…

Kebetulan terdapat 1 hari libur, di mana saya juga puncak-puncaknya merasakan kesakitan yang tidak tertahan. Sang suami dengan penuh kasih sayang, bolak-balik naik-turun demi membelikan saya bubur dan obat generik. Mata ini rasanya agak aneh melihat Beliau berkecimpung di dapur hanya demi memberikan saya air hangat dan bubur hangat. Berulang kali pula Beliau mengingatkan saya untuk senantiasa bersabar. Ah, terima kasih suamiku…

Karena drop akibat demam tinggi yang tidak karuan, ditambah dengan pusing yang mendera, otomatis kegiatan pekerjaan rumah tangga juga sedikit terhambat. Saya, sebagai seseorang yang baru saja menyandang gelar sebagai istri, tentu memiliki perasaan bersalah yang sedemikian rupa terhadap suami saya. Belum sempat menyapu, membereskan kamar tidur, belum lagi cucian piring yang menumpuk, ditambah akibatnya saya pun tidak kuat untuk memasak demi kebutuhan sahur dan berbuka puasa.

Namun, ketakutan-ketakutan pikiran yang terbentuk, perlahan-lahan berkurang beban. Ya, semuanya berkat Beliau, suami super yang luar biasa tiada tara baiknya. Sejak awal berkenalan dengannya, saya paham, Beliau ini memang memiliki sifat yang baik ditambah memiliki sifat sabar yang tinggi ditambah tidak pernah marah-marah apalagi menyalahkan dengan membabi-buta. Berulang kali Beliau meyakinkan saya untuk tetap stay di kasur, tiduran dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya nanti mau buka pakai apa, mau sahur pakai apa. Sampai-sampai saat saya merasa sudah “agak baikan”, dan kemarin saat sebelum Beliau berangkat kerja, Beliau pun melarang saya untuk memasak! Padahal sudah saya tekankan saya akan baik-baik saja, mengingat hari kemarin saya memutuskan tidak berangkat kerja.

Walau begitu, saya tetap “bandel” (versi Beliau) untuk tetap berberes rumah. Karena sejujurnya, saya sendiri yang cukup gatal dan tidak betah dengan pemandangan yang amburadul seperti itu. Namun seharian tersebut benar-benar saya manfaatkan untuk beristirahat, dan sesekali setelah “merasa baikan”, melanjutkan bebersih dan berberes, kemudian tiduran lagi. Alhamdulillah, semuanya kelar.

Sepulangnya Beliau dari kantor, saya pun menyambutnya dengan sangat antusias. Dan ketika Beliau melihat ke arah dapur, Beliau hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. :p

Usai berbuka puasa, akhirnya diputuskanlah untuk berobat ke rumah sakit. Sebenarnya suami sudah menyuruh sejak kapan tau untuk berobat ke rumah sakit, tapi seperti biasa, saya selalu tidak mau karena ada ketakutan tersendiri bila nanti berbincang dengan dokter.

“Aih, sungguh terlalu, kenapa tidak dari kemarin-kemarin sih gan?” Begitu pikir saya.

Alhamdulillah semua drama akibat sakit ini usai sudah. Kini saya sudah masuk kantor, walau masih sedikit terasa seliwer dalam pandangan mata. Walau dimulainya mengantor hari ini bukannya segera merampungkan paragraf demi paragraf dalam laporan, malah ke halaman wordpress.com. Maafkan aku Dyesti, maafkan aku Lieke, maafkan aku Irawan.

Dan bahkan, usai jam makan siang pun, Beliau tumben-tumbennya menelepon saya. Ternyata, hanya sekedar mengingatkan untuk minum obat! Oke, oke, saya tahu ini berlebihan, but thank you so much Hubby! :”)

Ketika Hujan Turun

image

Sering kita dengar keluhan ketika hujan lebat datang. Padahal sesungguhnya mengeluh adalah perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna.

Baginda Rasulullah SAW telah mencontohkan, bahwasanya ketika hujan turun dengan derasnya, banyak-banyaklah berdo’a kepada Allah SWT. Karena salah satu waktu yang mustajab untuk berdo’a adalah di kala hujan turun.

Bromo Story by Teners for Teners

Tidak terasa sudah 5 tahun berlalu ya! Tulisan ini, lebih tepatnya kisah panjang ini saya buat segera setelah perjalanan usai bersama saudara-saudara Sepuluh kala itu. Dengan sebelumnya, setiap kejadian dan setiap hal sepengamatan saya selalu saya catat dalam handphone. Tulisan ini pernah saya post untuk pertama kalinya pada blog lama saya (flutist0410.wordpress.com) yang sudah saya hapus. Nah, kembali pada hari ini, tertanda tanggal 1 Juli 2014, tepat 5 tahun sejak perjalanan hari pertama dimulai, saya mem-posting ulang tulisan perjalanan kala itu pada blog ini.

Karena pengalaman berharga tidak cukup hanya dengan diingat dalam memori. Maka, abadikanlah dalam tulisan!

Selamat Membaca! 🙂

***

Full Team

Full Team

 

1 Juli 2009

Hari ini adalah hari Senin, hari di mana mimpi kami akan terwujud. Mimpi yang telah jauh-jauh hari telah kami rencanakan. Mimpi yang telah membuat kami tidak sabar menunggu datangnya hari ini. Mimpi yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal biasa. Namun, bagi kami, mimpi ini adalah mimpi yang tidak akan pernah dapat tergantikan oleh apapun juga.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 15.53 WIB. Aku masih terduduk diam di beranda Masjid Raya Cipaganti. Sebenarnya, sudah sejak tadi aku berada di sini. Kira-kira mungkin sekitar satu jam yang lalu aku tiba di sini. Lebih tepatnya aku sedang menuggu seseorang datang untuk datang menjemputku. Aku menunggu temanku, Alif untuk mengantarku ke Waspada, tempat di mana aku dan teman-temanku akan berkumpul. Namun sayangnya, melalui Short Message Service (SMS), dia mengabarkan bahwa dia harus mengantar temanku juga, Adi untuk ke bengkel Ketok Magic. Menurut berita, Adi baru saja menabrak seseorang hanya gara-gara insiden sebuah ponsel. Setelah mendapat kabar seperti itu, aku hanya berharap semoga Adi baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu yang lebih serius. Dan aku pun memutuskan untuk tetap menunggu saja di Komplek Masjid Raya Cipaganti ini.

Beberapa saat kemudian, aku pun memutuskan untuk berjalan saja menuju Waspada. Aku hanya berpikir,

Toh dekat ini, ga apa kalau jalan,

Aku pun berdiri dan segera meninggalkan masjid. Aku pun masuk ke sebuah jalan kecil yang terletak di sebelah komplek masjid. Aku hanya berpikir, ini adalah jalan pintas jika ingin menuju Waspada. Aku pun masuk dan terus berjalan masuk. Namun, telah aku sadari, ternyata aku salah jalan. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, tiba-tiba aku pun menjadi ketakutan. Segera aku kembali keluar dan menuju ke arah Komplek Masjid Raya Cipaganti kembali. Aku pun kembali duduk di beranda masjid ini. Kemudian kukeluarkan Buku Sudoku dan mulai bermain.

Namun, bermain terus ternyata membuatku bosan dan tidak sabar untuk menunggu. Kemudian, aku melihat jam pada ponselku. Dan ternyata sudah pukul 16.58 WIB! Ternyata, sudah lama juga aku berada di sini. Tanpa pikir panjang lagi, aku beranjak berdiri dan segera meninggalkan masjid ini kembali. Yang hanya aku pikirkan saat itu adalah ingin segera cepat sampai di Waspada. Lagipula, tadi Alif baru saja memberitahuku melalui SMS kalau dia akan lama di bengkel. Dia pun memberitahu kalau di Waspada hanya ada Amri sang tuan rumah. Ya sudah, aku pun pergi.

Kembali menuju jalan kecil sebelah komplek masjid itu kembali. Dan aku baru menyadari sesuatu. Kubuka peta dadakan dari dalam ponsel (GPS), kemudian kuikuti arah sepeda motor yang ternyata juga melalui jalan kecil ini. Berjalan dan terus berjalan. Beberapa saat kemudian, aku pun tiba di Waspada. Berhasil!

Aku pun segera menekan tombol dekat pintu pagar rumah. Setelah menunggu agak lama, akhirnya datang seseorang membukakan pintu untukku. Ternyata adalah Si Mbak yang bekerja di sini. Dia pun mempersilakan aku untuk masuk. Aku pun mulai menunggu kembali di sofa. Anehnya, aku tidak bertemu Amri, sang tuan rumah. Tidak apa, yang terpenting sekarang adalah aku telah sampai di Waspada dengan selamat. Dan aku melanjutkan kembali untuk menunggu. Sesekali terdengar suara Si Mbak menyanyi.

Gaul juga ni orang,

Tepat pukul 17.14 WIB, ponselku berbunyi. Dari Pandu.

Nis, lo di mana? Gw udah di depan masjid ni,

Eh Ndu. Gw udah di Waspada,

Oh, lo udah di Waspada. Ya udah kalau gitu,

Ponsel pun mati. Aku pun kembali duduk menunggu di sofa. Dan seperti tadi, aku mendengar Si Mbak sedang menyanyikan lagu-lagu Indonesia yang sedang hits saat ini. Dan penantianku pun berbuah hasil. Tidak lama kemudian mereka datang. Dan aku mendengar kabar kalau Adi baik-baik saja. Aku pun lega mendengarnya.

***

Setelah berberes dan sholat Maghrib merangkap sholat Isya, kami pun segera bergegas. Aku, Alif, dan Pandu sudah terlihat seperti orang-orang yang akan maju ke medan perang. Setelah yakin sudah siap, kami pun segera berangkat. Kami pun pamit kepada tuan rumah, Amri dan tidak lupa Tommy. Mereka berdua tidak dapat bergabung dengan kami dalam perjalanan ini. Kami berangkat diantar oleh Wahyu menggunakan mobil jeep milik Amri. Kami harus segera menuju Stasiun Kereta Api Kiaracondong, karena kereta akan berangkat pukul 20.25 WIB. Kami akan berangkat naik Kereta Ekonomi Kahuripan menuju Stasiun Lempuyangan Jogjakarta.

Sebelum menuju Kiaracondong, kami rombongan dari Waspada, menjemput Dwi dan Adi di rumah Dwi. Saat di perjalanan sempat terpikir, bagaimana membawa enam orang dalam satu mobil jeep? Terutama mengingat badan Dwi yang begitu besarnya dan yakin akan memakan tempat. Hmmm…

Pada akhirnya, kami pun berhasil “memasukkan” enam orang dalam satu mobil jeep! Dengan posisi Dwi duduk di bangku depan, menemani Wahyu yang sedang menyetir. Dan yang paling “mengenaskan” adalah kami yang duduk di bangku belakang. Dengan posisi dari kiri ke kanan : aku, Pandu dengan memangku Alif, kemudian Adi. Belum pernah terbayangkan sebelumnya naik jeep berdempet-dempetan seperti ini. Belum lagi, tas kami yang super besar dan juga memakan tempat, sampai-sampai tidak semua tas dapat masuk di bagian bagasi. Alhasil, sebagian tas harus dipangku. Dan itu adalah bagianku serta Adi untuk memangku tas-tas tersebut. Bagiku ini adalah pengalaman pertama naik jeep dengan begitu sempitnya dan tersiksa. Bagaimana tidak, kaki dan (maaf) pantat rasanya sudah mati rasa karena tidak dapat digerakkan ke arah manapun juga.

Sesampainya di Stasiun Kiaracondong, segera kami turun dari jeep karena sudah merasa takut terlambat dan tentu saja karena sudah merasa kram di bagian kaki dan juga (maaf) pantat. Setelah turun, Wahyu pun pamit pulang. Dia juga tidak turut serta dalam perjalanan ini. Dia pun berpesan seperti biasa,

Ati-ati di jalan ya,

Kami pun masuk ke dalam Stasiun Kiaracondong. Beberapa saat kemudian, datanglah Tyo dengan diantar oleh Ncit. Dan Pasukan Bromo-Bandung sudah lengkap enam orang, aku, Alif, Pandu, Dwi, Tyo, dan Adi. Seperti yang sudah aku katakan tadi, kita berenam ini terlihat seperti akan maju ke dalam medan perang. Entah karena begitu senangnya dan gembiranya kami, kami pun terlihat seperti itu. Tanpa berlama-lama lagi, kami pun segera menuju ke dalam stasiun. Sebelumnya, kami pun pamit kepada Ncit. Sama seperti Amri, Tommy, maupun Wahyu, Ncit juga tidak turut serta dalam Petualangan Bromo kali ini.

Kami Berenam Siap Berangkat dari Stasiun Kiaracondong Bandung

Kami Berenam Siap Berangkat dari Stasiun Kiaracondong Bandung

***

Jam sudah menunjukkan pukul 20.37 WIB. Kami berenam sudah berada di dalam kereta. Kami duduk saling berhadapan tiga-tiga. Aku duduk di dekat jendela. Di sebelah kiriku ada Tyo, kemudian Dwi. Kemudian di depanku ada Adi, dan di sebelah kanan Adi ada Alif yang kemudian di sebelahnya lagi ada Pandu. Sesaat sebelum naik kereta, dengan dipimpin oleh Pandu, kami pun berdoa bersama. Bagaimanapun juga, hari ini adalah hari permulaan perwujudan mimpi kami jauh-jauh hari tersebut. Tentunya kami berharap, kegiatan ini akan berjalan lancar dan tiada satu pun yang akan menghalangi.

Beginilah rasanya naik kereta ekonomi. Panas, sempit, dan menurutku tidak begitu nyaman walaupun kami mendapatkan bangku sekalipun. Tetapi aku berpikir, kalau ternyata selama ini aku telah sangat beruntung menjadi seorang Ganis yang masih bisa menikmati sesuatu yang lebih, dibandingkan dengan orang-orang yang aku lihat di dalam kereta ini. Mungkin sebagian dari mereka adalah orang mampu yang dapat menikmati kereta yang lebih nyaman daripada kereta ekonomi ini. Mungkin mereka seperti “terpaksa” menaiki kereta ini lantaran tiket kereta yang “lebih baik” telah habis terjual. Tetapi entah mengapa aku yakin, sebagian besar dari mereka mungkin adalah orang-orang yang tidak mampu membeli tiket kereta yang “lebih baik” dari kereta ekonomi ini. Sungguh, di saat itu juga, aku mengucap syukur alhamdulillah kepada Sang Maha Penciptaku. Beginilah hidup, penuh warna.

Jam masih menunjukkan pukul 20.47 WIB. Ternyata baru sejenak aku berada dalam kereta ini. Terlihat Pandu, Alif, Tyo, Adi, dan Dwi bermain jempol-jempolan. Sebenarnya, aku juga diajak untuk ikut bermain, akan tetapi aku tidak mau. Karena aku yakin, permainan inilah yang akan melahirkan keributan yang nantinya dapat mengganggu orang lain di sekitar kami. Dan dugaanku benar. Beberapa saat kemudian, mereka mulai heboh karena mulai menikmati permainan ini. Hadeuh…

Ya sudah, pokoknya “Bismillaahi tawakkaltu’alallooh… Laakhaula wa laaquwwata, illaabillaah…

***

2 Juli 2009

Ternyata sudah jam 12 malam lewat dan aku pun masih terjaga. Aku masih sibuk dengan Buku Sudoku yang sengaja aku bawa untuk bekal dalam perjalanan ini. Terlihat Alif, Pandu, Tyo, dan Adi sudah tertidur dengan lelapnya. Berarti, hanya aku dan Dwi saja yang masih terjaga. Sebenarnya aku sudah mulai bosan dengan permainan sudoku ini. Segera saja kututup buku ini. Padahal di lain sisi, aku pun bingung harus berbuat apa. Entah mengapa mata ini belum mulai menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Baiklah, aku pun memasang headset pada kedua telingaku. Aku mulai mendengarkan lagu-lagu. Tapi, yang terdengar pertama kali malah lagu “Overture” milik Erwin Gutawa yang baru saja aku dan teman-temanku di ITB Student Orchestra mainkan. Aku pun mulai ketagihan dan segera memasang format repeat-one pada player.

Sambil mendengarkan lagu-lagu pada player, aku juga melihat-lihat sekeliling bangku kami. Terlihat seorang laki-laki yang menurutku mencurigakan. Dia berdiri tepat persis di dekat bangku kami. Dia mengenakan jaket coklat dan topi coklat. Baru kusadari, sejak kami duduk dan bercanda di bangku ini, dia terus memperhatikan kami. Aku benar-benar sangat awas dengan gerak-gerik matanya. Aku pun me-massanger Dwi tentang hal ini. Tapi mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu takut berlebihan. Dwi pun berkata,

Nyante aja,

Aku pun berusaha kembali menenangkan diri.

Ah, pikiran gw doank,

***

Sebelum Alif dan kawan-kawan tertidur, dia memberikan teka-teki kepada kami berlima. Teka-teki ini dia dapat dari orang matematika yang notabene adalah Dosen Matematika. Teka-teki tentang empat angka, yaitu 5, 5, 5, dan 1. Apabila keempat angka tersebut dioperasikan (ditambah, dibagi, dikurangi, ataupun dikalikan), maka akan menghasilkan angka 24. Kami berlima pun mulai berpikir. Alif pun memberikan clue lagi, kalau dalam hitungan ini, tidak terdapat operasi penjumlahan. Kami pun kembali berpikir, tetapi ternyata susah juga. Beberapa menit kemudian, kami pun menyerah. Alif pun segera memberitahu jawabannya. Setelah tahu jawabannya seperti itu, aku hanya dapat berkata,

Oh iya, ya,

(Dan kini saat saya membaca kembali tulisan ini, saya pun lupa jawabannya seperti apa. Haha. :p )

***

Saat ini aku melihat jam pada ponselku. Ternyata sudah jam 00.28 WIB. Tanpa dikomando, semuanya terbangun. Terlihat sepertinya kami mulai kelaparan. Saat itu, ada penjual Pop Mie lewat. Awalnya hanya Pandu, Adi, dan Tyo saja yang ingin makan, tetapi akhirnya kami berenam pun makan semua. Walaupun pada akhirnya aku tidak dapat menghabiskan Pop Mie milikku. Kemudian aku berikan milikku itu kepada Adi. Adi pun mulai menghabiskannya.

***

Hoahemmm…

Jam sudah menunjukkan pukul 04.17 WIB. Sudah pagi rupanya. Tapi nampaknya masih lama untuk sampai di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Tiba-tiba kereta berhenti. Aku pun melihat ke arah luar kereta. Sebuah stasiun, tapi apa ya? Kemudian kutemukan sebuah tulisan “Kebumen”. Ah, rupanya sudah sampai Kebumen. Hal ini berarti, sudah tidak lama lagi kami akan tiba di Jogjakarta. Perlahan-lahan yang lain pun ikut terbangun. Namun hanya Adi yang masih terlihat tidur pulas. Dwi mengeluarkan bekal rotinya. Aku pun menerima tawaran makan roti dari Dwi tersebut. Lumayan. Karena sejujurnya aku sudah lapar ingin segera makan nasi.

Sesaat tadi, ada sesosok orang yang sepertinya kami pun mengenalnya. Ada seorang laki-laki berdiri dari bangkunya yang letaknya tidak jauh dari bangku kami. Ternyata dia adalah Bang Maul (Angkatan 8). Kami pun hanya ber-say ‘hi’ padanya dan berbasa-basi seperti kebanyakan orang.

***

Tidak lama kemudian, aku kembali melihat ke arah ponsel dan melihat sudah jam 05.50 WIB. Ya, kami pun tiba di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Akhirnya, setelah bertahan selama beberapa jam, kami pun sampai. Kami pun pamit untuk turun kepada Bang Maul. Setelah turun dari kereta, kami tidak langsung menuju toilet seperti kebanyakan orang lainnya. Tetapi kami tetap berdiri untuk melakukan sesi foto oleh Tyo dengan berlatar tulisan “Lempuyangan”. Setelah mengambil gambar, kami baru menuju mushola untuk melaksanakan sholat Subuh. Entah sholat ini akan diterima-Nya atau tidak, tetapi keadaan kamilah yang “sedikit memaksa” kami untuk bertindak seperti ini. 😀

Photo Session di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta

Photo Session di Stasiun Lempuyangan Jogjakarta

 

Setelah menunaikan sholat, baru aku menuju toilet. Ternyata banyak sekali orang mengantri. Tetapi, ya sudahlah. Demi keamanan, aku pun ikut mengantri. Beberapa saat kemudian, terlihat rombongan teman-teman Jogja datang. Ada Haris, Kompiang, Erlan, dan Ready. Karena aku bosan untuk mengantri, kuputuskan untuk keluar dari antrian dulu untuk menyapa kedatangan mereka. Setelah menyapa dan bersalam-salaman dengan mereka berempat, aku pun kembali ke toilet untuk mengantri.

Setelah kami berenam beres dengan urusan toilet, kami berenam bersama teman-teman Jogja menuju ke arah luar stasiun. Kami sarapan di depan stasiun. Aku sungguh sangat kecewa dengan pelayanan di warung nasi tersebut. Mbak-nya tidak ramah. Aku benar-benar tidak suka dengannya. Bagaimana tidak? Aku bertanya harga makanan kami, tapi dia tidak menjawab pertanyaanku. Sebal. Demi menuntaskan keinginanku untuk makan nasi, aku pun diam saja dan melupakan kejutekan si mbak tersebut.

Sarapan di Depan Stasiun Lempuyangan Jogjakarta

Sarapan di Depan Stasiun Lempuyangan Jogjakarta

 

Setelah makan, Alif bergegas untuk membeli tiket kereta berikutnya. Kami akan naik Kereta Ekonomi Sri Tanjung menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Menurut jadwal, kereta akan berangkat pada pukul 07.30 WIB. Dan kali ini, sistem mendapatkan bangku dalam kereta adalah sistem “rebutan”. Oleh karena itu, kami segera masuk kembali ke dalam stasiun. Kereta tidak begitu ramai. Kami mendapatkan bangku dengan mudah. Beberapa saat kemudian, tanda peringatan kereta akan berangkat berbunyi. Haris, Kompiang, Erlan, dan Ready pun pamit pulang. Sayang mereka tidak jadi turut bergabung dalam perjalan ini, walau pada mulanya mereka sudah berencana dan berniat ikut. Namun dikarenakan adanya jadwal ujian mendadak bagi Haris, Kompiang, Ready dari kampus mereka di UGM, maka mereka semua termasuk Erlan yang sedang berada di Jogja (mahasiswa UNS Solo) membatalkan untuk ikut. Kami berenam pun bersalam-salaman dengan mereka berempat untuk pamit juga menuju Surabaya.

Bersama Erlan

Bersama Erlan

 

Bersama Haris

Bersama Haris

 

Kali ini, posisi duduk kami tetap berhadap-hadapan tiga-tiga. Aku tetap duduk di dekat jendela. Kali ini sebelah kananku ada Alif, kemudian Pandu. Di depanku duduk Dwi, kemudian di sebelah kiri Dwi ada Adi, dan di sebelahnya lagi ada Tyo.

Dan kembali, jam telah menunjukkan pukul 07.54 WIB. Kereta pun berangkat. Tidak lupa aku memanjatkan doa kepada-Nya agar perjalanan kami ini selamat hingga tujuan. Aamiin. Setelah berdoa, aku mulai memejamkan mataku. Aku mengantuk. Semalaman aku hanya tidur sebentar, tidak lama. Zzzzz…

***

Was, wes, wos.

Aku terbangun tepat pukul 10.56 WIB. Suasana di luar kereta sudah sangat panas sekali. Tentu saja di dalam kereta pun. Panas sekali. Aku mulai tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Rasanya ingin cepat-cepat turun segera dari kereta dan menghirup udara segar di luar sana. Huft… >_<

Sesaat kemudian, datang seorang penjual Rubik’s Cube imitasi. Aku jadi teringat Rubik’s Cube yang ada di kosan yang tadinya ingin aku bawa juga sebagai bekal dalam perjalanan untuk mengusir kebosanan. Entah apa yang aku pikirkan, aku menerima saja tawaran seseorang (aku lupa siapa yang berkata) untuk membeli mainan tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun membelinya. Sejujurnya aku merasa rugi dengan membeli barang tersebut. Tapi, ya sudahlah. Nasi telah menjadi bubur. Aku pun mulai bermain-main dengan Rubik’s Cube imitasi tersebut. Adi pun penasaran bagaimana cara menyelesaikan Rubik’s Cube tersebut menjadi enam warna pada sisi-sisi Rubik’s Cube tersebut.

(Dan setelah membaca tulisan ini kembali, saya lupa bagaimana caranya ya menyelesaikan puzzle Rubik’s Cube itu? Haha. 😀 )

Sudah Mulai Pusing Saat Perjalanan Menuju Surabaya

Sudah Mulai Pusing Saat Perjalanan Menuju Surabaya

 

Dwi yang sedang Merenung dalam Perjalanan Menuju Surabaya

Dwi yang sedang Merenung dalam Perjalanan Menuju Surabaya

 

Beberapa saat kemudian, jam makan siang pun tiba. Kami berenam pun membeli nasi pecel dari penjual nasi pecel yang lewat. Murah. 2000 rupiah saja! Kami pun makan dengan lahapnya. Mungkin hal ini didasari karena lapar dan suasana panas yang mendukung. Aku menghabiskan makananku tanpa bersisa sedikit pun. Alhamdulillah…

Setelah makan siang, rintangan pun kembali datang. Kami mulai terkena penyakit “kepanasan”. Sungguh saat itu aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Aku pun mulai mengipas-kipas wajahku menggunakan koran yang sebelumnya dibeli oleh Pandu. Panas, benar-benar panas! Padahal perjalanan masih kurang lebih satu setengah jam lagi untuk mencapai Stasiun Gubeng Surabaya.

Suasana di Dalam Kereta Menuju Surabaya

Suasana di Dalam Kereta Menuju Surabaya

 

Tiba-tiba masalah muncul padaku. Perutku mulai sakit. Benar-benar sakit! Sudah panas, perut sakit, apalagi yang harus aku perbuat. Sepertinya “tamu” ku sudah tiba. Aku benar-benar tidak kuat. Berulang kali aku pejamkan mataku untuk tidur, tetap saja tidak bisa. Akhirnya, ketika Alif akan meng-SMS Ijot untuk memberitahu kedatangan kami yang sebentar lagi, aku langsung menitip pesan untuk meminta tolong pada Ijot untuk membelikan Kiranti untukku. Sungguh, aku sudah tidak kuat lagi!

***

Akhirnya, dengan segala ke-panas-an yang telah kami derita, tibalah juga kami di Stasiun Gubeng Surabaya. Saat itu jam telah menunjukkan pukul 14.58 WIB. Segera kami beranjak untuk segera turun dari kereta. Tanpa disangka, ternyata kereta begitu penuh sesak, ramai orang. Pada awalnya kami hampir saja tidak dapat turun dan hampir terbawa kereta kembali menuju ke pemberhentian berikutnya. Namun, dengan perjuangan kami, akhirnya kami pun dapat turun dari kereta.

Sesampainya di stasiun, sudah terlihat ada Alfa yang sudah menunggu kedatangan kami. Kami pun bersalam-salaman dengannya. Tetapi Ijot belum terlihat di sana. Kami pun segera menuju toilet dan mushola. Terutama bagiku. Aku sedang sangat membutuhkan untuk pergi ke toilet. Setelah selesai segala urusan di toilet, aku menuju mini-market untuk membeli Kiranti. Alhamdulillah, entah ini hanya sebuah sugesti atau bukan, agak reda juga rasa sakitnya.

Saat aku sedang berdiri dekat mushola sambil meminum Kiranti, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki tinggi besar menatap ke arahku. Aku heran, mengapa orang ini sejak tadi dari kejauhan menatapku? Aku pun menjadi seram. Setelah jarak pandang kami berdua menjadi dekat, dia pun menghampiriku,

Hey!

Dan ternyata, dia adalah Ijot! Benar-benar aku pangling hingga tidak mengenali wajahnya dan badannya yang sekarang. Benar-benar berbeda seperti saat dulu masih menggunakan seragam pesiar kami. Bagaimana tidak? Menurut pengakuannya, dia sudah bertambah 20 kg pada berat badannya sejak kelulusan setahun yang lalu itu. Wah! Kami berenam pun bersalam-salaman dengan Ijot.

Ijot datang membawakan makanan berat dan minuman untuk kami berenam. Wah, luar biasa! Nasi pecel dan es teh! Tanpa disangka, Ijot melakukan hal itu untuk kami berenam. Setelah selesai sholat, kami berdelapan duduk-duduk di lantai sambil menunggu kedatangan kereta berikutnya sembari menghabiskan nasi pecel yang sudah dibelikan.

Lesehan Menikmati Nasi Pecel sambil Menunggu Kereta Menuju Malang

Lesehan Menikmati Nasi Pecel sambil Menunggu Kereta Menuju Malang

 

Sebelumnya juga, Alif meminta tolong Ijot untuk membelikan kami tiket Kereta Bisnis Malang Ekspres. Kami sudah tidak tahan dengan panasnya kereta ekonomi. Ditambah lagi, kami yang sudah mulai terlihat lelah. Namun, tanpa disangka lagi, kali ini Ijot benar-benar menjadi dewa penyelamat kami. Dia membelikan tiket tersebut dengan cuma-cuma. Dia tidak mengharapkan penggantian uang yang telah dia gunakan untuk membeli tiket tersebut. Luar biasa Ijot! Engkau memang saudara kami yang luar biasa baiknya! Tidak salah kalau dahulu kala kau terpilih sebagai Lurah Angkatan kami, Angkatan 10! Dan tidak lupa, ternyata dia membelikan aku dua buah Kiranti juga. Saat aku ingin mengganti uangnya, dia berkata,

Nggak usah, nyante aja. Kapan lagi orang Surabaya bisa ntraktir saudara-saudara gw dari Bandung,

Ya ampun Ijot. Terima kasih banyak ya…!!! 😀

***

Tanpa disadari, sudah jam 17.00 WIB. Kami harus segera menuju kereta. Karena menurut jadwal, kereta akan berangkat pada pukul 17.00 WIB. Tapi sebelum itu, kami mengambil foto bersama Ijot oleh Tyo, dengan berlatar “Stasiun Gubeng Surabaya”.

Berpose Sejenak di Stasiun Gubeng Surabaya sebelum Menuju Malang

Berpose Sejenak di Stasiun Gubeng Surabaya sebelum Menuju Malang

 

Berpose Sejenak di Stasiun Gubeng Surabaya sebelum Menuju Malang

Berpose Sejenak di Stasiun Gubeng Surabaya sebelum Menuju Malang

 

Kemudian kami pun segera bersalam-salaman dan masuk ke dalam kereta. Kemudian kami mencari bangku kami. Kali ini tanpa disangka lagi, Ijot melemparkan sesuatu melalui jendela. Ternyata dia membelikan kami kartu remi. Sesaat setelah kami beranjak menuju ke dalam kereta, Ijot melihat warung kecil yang ternyata menjual kartu remi tersebut. Tanpa pikir panjang, dia langsung membelinya dan memberikannya kepada kami. Bahkan, belum sempat dia membayar kartu remi tersebut, dia sudah berlari menuju jendela di mana kami duduk. Dan dia membayarnya setelah kereta kami benar-benar berjalan.

Ijot, Ijot

Kau memang pahlawan kami! :’)

***

Kereta berangkat pukul 17.13 WIB. Kali ini, bergabunglah Alfa dalam rombongan kami. Alfa sekarang sudah menjadi bagian dari mahasiswa Teknik Kimia, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Dan sekarang, rombongan kami berjumlah tujuh orang. Sungguh nikmat kali ini, karena kali ini kita menggunakan jasa kereta api kelas bisnis, bukan kereta api ekonomi lagi. Kami pun duduk tidak dengan format tiga-tiga lagi, tetapi dua-dua. Alhamdulillah Ya Allah… Sudah tidak ada lagi orang-orang berlalu-lalang di tengah-tengah jalan antara bangku-bangku, tidak ada lagi rasa panas yang menyiksa.

Saat di dalam kereta, kami pun saling mengambil gambar. Namun sesaat setelah itu, terlihat Adi, Alif, Alfa, Dwi, dan Tyo mulai memejamkan mata mereka. Terlihat sekali mereka sudah sangat lelah. Mereka pun tertidur dengan lelapnya. Berbeda denganku dan Pandu. Kami saling berbincang. Dan aku pun ingin ditunjukkan letak Lumpur Lapindo berada. Belum pernah aku melihatnya secara langsung, karena selama ini aku hanya melihat dan mendengarnya melalui berita di televisi dan radio ataupun koran.

Perjalanan kali ini tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih perjalanan menuju Malang membutuhkan waktu dua jam. Tanpa terasa karena saking asyiknya aku dan Pandu berbincang, tiba-tiba sampailah kita pada Stasiun Malang. Benar-benar syukur alhamdulillah kami pun telah tiba pada tempat tujuan dengan selamat.

Seperti biasa, setelah turun dari kereta, kami pun diambil gambarnya oleh Tyo. Hal ini dilakukan juga secara bergantian, karena Tyo juga harus terlihat dalam gambar. Kemudian, sesaat setelah itu, kami melanjutklan perjalanan kembali menuju rumah Tyo. Kami menuju rumah Tyo dengan berjalan kaki, karena memang tidak terlalu jauh dari stasiun.

Photo Session Di Stasiun Malang

Photo Session Di Stasiun Malang

 

Photo Session Di Stasiun Malang

Photo Session Di Stasiun Malang

 

Dan tepat pukul 19.38 WIB, kami tiba di kediaman Tyo. Kedatangan kami disambut oleh Mak, bibi yang mengurus rumah Tyo selama ini. Setelah masuk ke dalam rumah, terlihat semua orang sudah begitu lelahnya. Ada yang langsung menjatuhkan diri di atas kasur depan televisi, ada juga yang langsung duduk-duduk di sofa depan televisi juga. Aku pun sudah tidak tahan ingin segera berbersih badan saat itu juga. Mandi pun dilakukan secara bergantian. Seperti perhitunganku, aku akan mandi paling terakhir, karena aku adalah seorang cewek yang notabene mandinya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan seorang cowok.

Setelah mandi, kami tidak langsung beranjak pergi tidur. Kami menyantap makan malam terlebih dahulu yang telah disediakan oleh sang tuan rumah. Alhamdulillah… nasi + ayam goreng! Mantap lah…! Setelah perut sudah terisi penuh, kami pun mulai agak beristirahat di depan televisi sambil melihat acara “Final Debat Calon Presiden”. Dan tidak lama kemudian, kami pun mulai bermain “cangkulan”.

(Saat membaca bagian ini, ternyata saya sempat menyinggung juga dan memasukkan bagian “capres thing” dalam tulisan walau secuplik kalimat. Dan sekarang tidak terasa sudah memasuki era pemilihan presiden baru! 🙂 Wah… )

Dalam permainan, semuanya diantara kami mengikuti permainan ini. Tanpa terkecuali. Dan notabene, Alfa baru pertama kali bermain permainan ini. Teriakan demi teriakan pun mulai bermunculan. Semua orang mulai heboh dan menikmati permainan ini. Dan entah bagaimana ceritanya, permainan ini dapat berlangsung begitu lama.

Sampailah pada bagian akhir dari permainan “cangkulan” ini. Dan Alfa tak bisa mengelak kalau dirinya sudah dicap sebagai pemain yang kalah. Mau tak mau, dia harus segera membereskan kartu-kartu yang berserakan yang baru saja dimainkan. Dia pun mulai mengocok tumpukan kartu tersebut, dan memulai untuk membagikan kembali kepada seluruh peserta permainan. Permainan pun kembali dimulai.

Namun tidak disangka juga dari permainan sebelumnya. Di pertandingan kedua bagi Alfa ini, Alfa harus kembali menanggung derita kembali. Dia kembali tidak dapat menghindari kekalahannya lagi! Seperti biasa, semua orang berteriak. Menghina, atau dengan kata lain mentertawakannya. Haha. Alfa pun mulai membereskan kembali kartu-kartu yang berserakan dan mengocoknya kembali dan membagikannya kembali kepada kami.

Kami pun memulai untuk bermain kembali. Seperti biasa, tidak peduli aku ini yang seorang perempuan, tetap ikut berteriak jika terjadi perebutan kartu yang tidak dimiliki. Kami benar-benar tertawa lepas malam hari itu. Dan sampailah pada akhir permainan ini kembali. Dan… Alfa kembali mengulangi kekalahannya! Oh Tuhan… Ada apa dengannya? Sepertinya dia harus menanggung penderitaan ini terlebih dahulu, sebelum dia harus menjadi seorang yang berbahagia. Nasib, nasib… Alfa pun kembali dan kembali membereskan kartu yang berserakan, mengocoknya, dan membagikannya kembali kepada kami, para peserta permainan.

Permainan keempat bagi Alfa kembali dimulai. Nampaknya permainan semakin seru dan menegangkan. Teriakan-teriakan kali ini sepertinya lebih heboh dari permainan-permainan sebelumnya. Heboh, dan ramai. Sampai-sampai kartunya berubah bentuk menjadi sedikit agak berlipat, gara-gara si kartu harus diperebutkan secara “paksa” oleh kami yang tidak memiliki kartu tersebut. Permainan pun terus berlanjut dan cukup lama, karena di ujung permainan ini, seperti hanya saling melempar kartu diantara para pemain yang tersisa. Dan, dan…. Tibalah pada akhir permainan. Dan… Alfa kembali kalah! Huah… Nasib…!!!

Pretty, Pretty…!!!

Begitulah kami mulai mentertawakannya dan sedikit “menghinanya”. 😀

Dan sekarang memasuki “pertandingan” kelima. Kami kembali bermain sangat serunya. Bermain dengan “penuh” konsentrasi? Ya, kali ini Alfa berjuang untuk tidak menjadi yang nomor terakhir kembali. Permainan berlangsung sangat seru. Tidak lupa teriakan-teriakan kami tetap mengiringi sepanjang permainan kami berlangsung. Dan akhirnya, tanpa disangka oleh kami semua. Alfa kali ini memenangkan permainan kelima ini. Dia menduduki posisi sebagai “juara pertama”! Entah ini seperti dikomando atau bukan, setelah Alfa berhasil memenangkan permainan ini, pemain tersisa seperti sudah tidak terlihat “bersemangat” kembali. Wah… Dan itu benar. Setelah permainan kelima milik Alfa ini berakhir, berakhir pula kami bermain “cangkulan”.

Haduh Faries, sabar yaa,

Sebagai laporan, Alfa kalah 4 kali. Dan di saat dia memenangkan permainan sekali, permainan langsung berhenti begitu saja. Ckckckckck…

Dan nampaknya malam semakin larut. Sebagian anak laki-laki menuju teras depan rumah untuk sekedar melanjutkan aktivitas mengobrol diantara mereka.

Dan aku pun kembali ke kamar. Sudah mengantuk. Lagipula aku sudah tak tahan ingin segera melepaskan jilbabku, karena aku baru saja keramas. Segera kugerai rambutku, dan… tidur. Bismika alloohumma akhyaa wa bismika amuut… Aamiin.

***

3 Juli 2009

Selamat pagi! Ohayou gozaimasu!

Kireina asa da yo… Demo, totemo samui… Brrr…

Aku memang sengaja tidak takut bangun siang, karena aku tahu, aku sedang free untuk melakukan ibadah sholat. “Tamu”ku telah tiba kemarin sore saat aku sampai di Kota Surabaya. Jadi agak tidak bermasalah jika aku bangun siang di pagi hari ini. Toh aku bangun pukul 07.47 WIB. Jadi, tidak terlalu siang juga kan?

Sesaat kulihat langit di luar sana sudah sangat terang sekali. Matahari sudah muncul sejak kapan tahu, yang dapat dipastikan, aku tak tahu kapan sang matahari tersebut muncul di langit biru sana. Bagaimana tidak? Saat matahari terbit tersebut, aku masih terlelap dan terbuai dalam alam mimpiku. Hehe. Ya sudah. Nampaknya, tidak terlalu penting, jika harus berdebat tentang hal ini.

Segera kuikat kembali rambutku ini. Harus kencang. Jika tidak, khawatir disaat melakukan sesi canda-tawa bersama para pria tersebut, tiba-tiba ikatannya lepas. Dan mereka akan mengetahui rahasia terbesar dan terindah yang aku miliki selama ini! 😀 Kemudian, segera kukenakan jilbabku. Dan aku bersiap untuk keluar kamar. Tetapi sebelumnya, tidak lupa, aku mematikan lampu kamar dan membuka tirai jendela. Dan tentunya juga, melipat selimut yang baru saja aku kenakan saat tidur semalam itu.

Perlahan-lahan kubuka pintu kamar tidurku. Pelan-pelan sekali. Tanpa disangka dan tanpa aku duga sebelumnya, ternyata mereka masih “berjajar” sangat rapi di depan televisi sana. Aku pikir, di antara mereka, sudah ada yang terlebih dahulu bangun pagi. Ternyata, para pria ini…

Aku pun keluar kamar. Rutinitas tiap hari di pagi hari, minum segelas air putih. Itu penting. Karena menurut berita yang aku dengar, minum air putih di pagi hari setelah bangun tidur itu, dapat memberikan kesehatan yang berlipat bagi tubuh ini. Seperti jika digunakan perumpamaan, air putih ini akan membersihkan segala kotoran yang ada di dalam raga ini, dan dia juga dapat memenuhi kebutuhan tubuh akan air putih. Lagipula, air putih ini dapat melancarkan peredaran pencernaan dalam tubuh.

Baik, mari kukembalikan lagi ke topik utama.

Karena melihat mereka, para pria masih terlelap, setelah menenggak segelas (besar) air putih tersebut, aku kembali ke dalam kamar. Kulepas kembali jilbab dan ikat rambutku. Aku siapkan saja alat-alat untuk mandi dan pakaian ganti. Aku berpikir, mungkin beberapa saat lagi, mereka juga akan terbangun.

***

Oops! Aku ternyata ketiduran lagi!

Jam sudah menunjukkan pukul 08.18 WIB. Kali ini sudah mulai terdengar suara-suara di luar sana. Aku pun kembali mengenakan ikat rambutku dan jilbabku. Dan aku pun segera bergegas keluar. Dan ternyata benar, mereka sudah terbangun. Sekilas saat melihat wajah-wajah mereka, terlihat sekali, mereka masih memiliki “muka bantal”. Ya sudah, aku putuskan untuk mandi pagi.

Jika aku boleh jujur, aku sangat menyukai air di sini. Airnya bersih juga jernih. Jadi teringat saat aku masih di Asrama Krida Nusantara. Kondisi air di asramaku dulu itu memang sangat jauh dari kesan bersih dan jernih, seperti saat kulihat air di Kota Malang ini, lebih tepatnya di rumah Tyo ini. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membersihkan badan dengan sebersih-bersihnya, walaupun nantinya setelah mandi, aku harus kembali berkeringat.

Seusai melakukan ritual mandi pagiku, aku melihat seseorang sudah datang di kamar Tyo. Sepertinya aku mengenalnya. Dan ternyata benar, dia adalah Airen! Seperti biasa, Iyen (panggilan Airen) ini sangat dekat dengan Tyo. Mungkin tadi saat Iyen datang, dia langsung menghampiri Tyo yang masih tertidur di kamarnya. Aku sangat senang melihat kedekatan mereka. Benar-benar hubungan keluarga yang sangat dekat dan akrab. Apalagi di saat mereka berdua masih sama-sama bersekolah di sekolah yang sama denganku. Sungguh menyenangkan, memiliki saudara untuk berbagi ketika bersekolah di sekolah asrama dulu itu.

Tidak lama kemudian, Iyen pun keluar kamar. Aku pun berjabat tangan dan berpelukan dengannya. Benar-benar serasa sudah lama sekali tidak melihatnya. Dan aku benar-benar merasakan bahwa waktu satu tahun itu adalah waktu yang sangat singkat. Kami pun berbincang-bincang. Dan kami berdua pun mengakui jika memang kami ini dulu tidak terlalu dekat, selain karena kami berdua berbeda jurusan. Rasanya menyesal sekali, mengapa tidak sejak dahulu saat masih duduk di bangku SMA kami dapat saling berbincang seperti ini. Tapi melalui rangkaian acara seperti inilah yang dapat menyatukan kembali hubungan persaudaraan kami sebagai satu saudara se-angkatan 10.

Beberapa saat kemudian, sembari bergilir bagi anak laki-laki untuk membersihkan badan mereka masing-masing, alias mandi pagi, kami pun menggelar permainan kartu kembali. Namun kali ini, Iyen ikut dalam permainan. Tetapi ada satu hal yang disayangkan juga, dengan anehnya Alfa tidak mau ikut kembali dalam permainan. Apakah mungkin dia takut kalah kembali dalam permainan kali ini? Entahlah, aku tidak tahu. Kami pun tetap menggelar permainan kembali, sambil saling menunggu giliran untuk mandi.

Sebenarnya pada mulanya mereka para lelaki bermain permainan yang tidak aku mengerti, seperti “black-jack“, “bohong”, ataupun “tepok nyamuk”. Iyen juga ikut bermain dalam permainan-permainan tersebut, tapi aku tidak, karena memang pada kenyataannya aku tidak mengerti permainan tersebut. Dan kemudian yang pada akhirnya, kami semua bermain permainan “cangkulan“, seperti yang biasa kami mainkan sebelumnya. Permainan “cangkulan” inilah yang paling mengundang keramaian diantara kami. Paling mudah dan seru. Dan kali ini, apabila ada yang kalah, maka hukumannya adalah “jitak” oleh semua peserta yang memenangkan permainan. Sempat aku kalah, dan itu di permainan pembuka. Tetapi untungnya, mereka tidak men-jitak-ku sedikit pun, menjitaknya hanya melayang. 😀

***

Tanpa terasa hari semakin panas. Matahari pun telah mengorbit tepat di atas kepala kami. Jam sudah menunjukkan pukul 13.17 WIB. Setelah para lelaki melaksanakan sholat Dzuhur, kami pun berkemas untuk berangkat makan siang. Mengapa para lelaki saja? Kebetulan sekali, aku dan Iyen sedang berhalangan untuk melaksanakan ibadah sholat. Kali ini kami akan makan baso yang terkenal di Kota Malang ini. Namanya Baso Bakar Pak Man. Kami berangkat bersama-sama dalam satu mobil, milik Iyen. Namun kali ini Tyo-lah yang menyetir. Kami berdelapan masuk juga dalam satu mobil, walaupun harus agak sedikit berdempet-dempetan.

Perjalanan tidak terlalu membutuhkan waktu lama. Kami pun tiba di depan rumah baso tersebut. Kami segera turun. Namun sayangnya, ada satu kejadian yang mengganjal yang terjadi pada Pandu. Pandu tanpa menyadari kalau sejak awal berangkat menuju tempat ini, dia hanya berbekal sandal sebelah saja. Sebelahnya lagi ternyata tertinggal di rumah Tyo. Pandu pun saat berangkat tadi, tidak melakukan pengecekan pada dirinya sendiri. Dengan terpaksa, dia harus berjalan dengan sebelah kakinya menggunakan alas kaki dan sebelah kakinya lagi tidak menggunakan alas kaki. Kami pun menertawakannya. 😀

Mungkin karena sebelumnya aku belum pernah merasakan yang namanya baso bakar, maka di saat makan siang kala itu, aku benar-benar menikmati hidangan yang disajikan. Benar-benar lezat. Walaupun tadinya Tyo memesan dengan rasa yang agak pedas, atau pedas yang sedang, tetap saja aku merasa kepedasan. Benar-benar pedas yang membuatku ketagihan. Aku tidak makan terlalu banyak seperti yang lain. Mungkin disebabkan baso berukuran besar, sehingga membuatku cepat merasa kenyang juga.

Bakso Bakar Pak Man

Bakso Bakar Pak Man

 

Bakso Bakar Pak Man

Bakso Bakar Pak Man

 

Selesai makan siang, kami berdelapan melanjutkan perjalanan untuk berkeliling Kota Malang. Saat itu, jam telah menunjukkan pukul 13.53 WIB. Aku melihat banyak bangunan yang satu per satu diperkenalkan oleh Tyo, Iyen, ataupun Pandu. Aku melihat Museum Brawijaya, Stadion Gajayana yang merupakan stadion terbesar di Malang, kemudian aku juga melihat Universitas Negeri Malang yang merupakan kampus tempat saudara kami, Nada melakukan kegiatan kuliahnya. Kami juga mampir masuk ke dalam wilayah kampus Universitas Brawijaya. Di universitas inilah Iyen melaksanakan kegiatan kuliahnya. Iyen ini kuliah di jurusan psikologi, sama seperti saudara-saudara kami yang lain, yaitu Tia dan Ayu yang merupakan mahasiswi psikologi Universitas Padjadjaran (UnPad), Bandung. Kemudian Ijot yang merupakan mahasiswa psikologi Universitas Airlangga (UnAir), Surabaya. Ada juga saudara kami, Mira yang juga mengambil jurusan psikologi di kampus Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Bandung. Terakhir, untuk saudara-saudaraku yang juga masuk jurusan psikologi di manapun kalian berada, namun aku tidak menyebutkannya dalam tulisan ini, maafkan aku ya…

Setelah puas berkeliling Kota Malang, kami pun segera menuju pulang ke rumah Tyo. Kami juga membutuhkan waktu untuk berkemas juga beristirahat sebelum melakukan perjalanan besar kami yang sesungguhnya, yaitu perjalanan menuju Bromo yang akan kami lakukan malam ini. Sesampainya di rumah, aku segera menuju dapur untuk meminum segelas air putih. Udara di luar benar-benar panas. Kami pun berbincang-bincang di teras rumah Tyo. Beberapa saat kemudian, Iyen izin untuk pulang ke rumah sebentar, karena dia harus mengantar ibunya pergi ke dokter gigi. Lagipula, dia belum membawa perlengkapan yang akan dia bawa nanti malam.

Tidak lama kita bermain dan berbincang, tiba-tiba datanglah mobil kijang. Kami pun terhenti untuk berbicara. Dan ternyata adalah saudara kami, Ragaguci! Tidak ada yang berubah dari anak ini. Tetap tinggi dan berwajah alien seperti biasanya. Ragaguci datang dengan menggunakan jaket jurusan almamaternya. Dia sekarang telah menjadi mahasiswa Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Seperti Tyo, Iyen, dan Pandu, dia juga memiliki tempat tinggal di Kota Malang ini. Perjalanan malam ini juga, Ragaguci-lah yang menyediakan kendaraan untuk kami. Kami akan menggunakan kendaraan truk tentara yang memang sudah sengaja disiapkan untuk kami semua ini.

Di Teras Depan Rumah Tyo

Di Teras Depan Rumah Tyo

 

Tanpa terasa waktu terus dan terus berputar. Tanpa terasa, waktu juga makin sore. Setelah puas berbincang di teras rumah Tyo, kami pun kembali masuk ke dalam rumah. Kami kembali berkumpul di depan televisi. Dan kali ini, kami memulai kembali permainan kami. Kami kembali bermain “cangkulan“. Dan kali ini Raga ikut dalam permainan ini. Seperti biasa, permainan berlangsung sangat seru dan menegangkan. Terutama apabila sudah hampir menuju bagian akhir permainan ini. Karena peserta terakhir akan kembali saling berebut kartu yang tidak dimiliki.

Entah bagaimana ceritanya, badanku penuh keringat dan kepanasan. Mungkin hal ini disebabkan oleh teriakan-teriakan yang aku lakukan di saat sedang bermain kartu tadi. Aku melihat jam sudah pukul 16.30 WIB lebih. Wah, ternyata cepat sekali ya? Aku pun segera mandi, sudah tidak tahan gara-gara kepanasan ini. Dan tanpa terasa lagi, jam sudah menunjukkan pukul 17.13 WIB, aku selesai mandi. Aku pun ke kamar seperti biasa, untuk merapikan rambutku. Aku juga mempersiapkan tas dan barang-barang yang akan aku bawa ke Bromo nanti malam. Aku sudah berdebar-debar sudah tidak sabar menanti datangnya malam ini. Kami akan berangkat pada pukul 21.00 malam ini. Airen akan datang menyusul setelah waktu Isya nanti. Lengkaplah sudah kami bersembilan.

Selesai merapikan rambutku, aku kembali keluar kamar dan kembali mengikuti permainan. Kali ini ternyata sudah berganti permainan, yaitu “setan-setanan”. Permainan kartu yang ternyata juga mengundang teriakan-teriakan kehebohan kami. Aku jadi teringat saat aku masih kecil dulu. Aku juga sesekali memainkan permainan “setan-setanan” ini bersama teman-teman masa kecilku di komplek rumah.

***

Waktu benar-benar telah berputar begitu kencangnya. Saat ini aku kembali melirik ke arah layar ponselku. Jam sudah menunjukkan pukul 21.13 WIB. Makanan yang tadi dibelikan oleh Si Mak sudah masuk ke dalam tas. Kemudian jaket, kamera, baterai cadangan, dompet, snack yang tadi siang dibeli oleh Tyo dan Iyen sudah tertata rapi di dalam plastik, begitupun dengan air minum yang tadi juga sudah dibeli sudah siap, tidak lupa kami juga menyiapkan air dalam termos, karena kami juga berbekal beberapa bungkus kopi siap saji beserta dengan beberapa gelas plastik yang tadi juga sempat dibeli. Segala perlengkapan yang akan kami butuhkan saat di atas sana sudah siap tersedia. Bahkan kartu remi yang telah dibelikan Ijot untuk kami tidak lupa kami membawanya juga.

Iyen juga telah datang diantarkan oleh Om dan Tantenya, beberapa menit sebelum pukul 21.00 WIB. Lengkap sudah rombongan Bromo kali ini. Sembari berkemas untuk berangkat, sempat-sempatnya Dwi memulai teka-teki tentang “segitiga”. Jujur, aku dan Iyen sama sekali tidak mengerti apa yang mereka (para lelaki) bicarakan. Pada mulanya tidak kesemua di antara mereka mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Dwi. Tapi lama-kelamaan hampir semuanya mengerti, walaupun Alfa dan Adi harus menjadi orang terakhir yang mengerti teka-teki ini.

Setelah siap, kami segera keluar rumah, dan pamit kepada Mak yang ikut mengantar kami ke depan. Seperti biasa layaknya orang tua, Mak berpesan kepada kami supaya selalu berhati-hati di jalan. Seperti yang sudah-sudah, sebelum berangkat ke “medan perang”, kami mengambil gambar terlebih dahulu. Tak lupa kami memanjatkan doa demi keselamatan kami semua. Setelah puas, kami pun berjalan perlahan namun pasti menuju truk yang sudah menanti di luar gang sana. Aku melihat penampilan kami semua sungguh sangat takjub. Bagaimana tidak? Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kami ini sudah seperti orang-orang yang akan maju ke medan perang. Menyenangkan sekali.

Saat akan Berangkat Menuju Bromo dengan Naik Truk Tentara

Saat akan Berangkat Menuju Bromo dengan Naik Truk Tentara

 

Di Dalam Truk Tentara Menuju Bromo

Di Dalam Truk Tentara Menuju Bromo

 

Sepanjang perjalanan menuju ke truk kami terus saja tertawa. Apalagi mulailah bermunculan berbagai macam teka-teki aneh dari mulut Raga bergantian dengan Dwi. Teka-teki inilah yang terus berlanjut keluar selama berada di dalam truk. Tanpa terasa hampir seperempat perjalanan kami diisi oleh teka-teki aneh tersebut. Aku tadi sempat menghindar dari kerumunan orang-orang ini untuk berteka-teki. Jujur, kepalaku pusing sekali jika harus dipaksa untuk berpikir solusi-solusi dari semua teka-teki tersebut. Aku pun menyingkir menuju pojokan truk dan mendengarkan musik dan bernyanyi sekenanya. Aku hanya berpikir kegiatan inilah yang akan menghentikan putaran-putaran hebat yang terjadi dalam otakku ini. Sakit sekali.

Di saat aku menyingkir, mereka juga bermain “ABC-an”. Yang sempat terdengar olehku hanyalah ketika menyebutkan nama-nama teman satu angkatan 10. Mendengar mereka sudah mulai meredakan permainan teka-teki aneh itu, aku pun segera melipat kembali headset yang aku kenakan dan kumasukkan ke dalam tempatnya kembali. Dan aku segera kembali berbaur bersama dengan mereka, kembali mendengarkan ocehan mereka, dan tentunya permainan mereka. Lega rasanya tidak mendengar dan berpikir kembali tentang teka-teki tersebut. DwiRaga… Ada-ada saja kalian ini.

Pada mulanya aku tidak mengenakan jaket. Namun jalan yang semakin menanjak ini menyebabkan suhu udara yang aku rasakan semakin berubah. Semakin dingin aku rasakan. Dengan bodohnya aku tidak membawa sweater atau jaket lain selain “jaket utama” yang aku bawa. Aku hanya berpikir,

Ah, paling nggak bakal terlalu dingin,

Sungguh salah pemikiranku saat masih di Bandung itu. Aku menyesal seketika saat Pandu dan Tyo menawarkan sweater mereka kepadaku.

Eh, liat itu. Ada awan bagus!

Teriakan Tyo mengagetkan kami semua. Aku pun menjadi penasaran apa yang baru saja dikatakan Eyang Tyo tersebut. Aku pun kembali ikut melihat ke arah langit di atas sana. Tetapi penglihatanku tidak semulus yang aku harapkan untuk melihat bentuk “awan bagus” tersebut. Perjalan yang berbelok-belok dan bukit-bukit yang terbentang di kanan-kiri jalan inilah yang sesekali menghalangi mataku untuk melihat pemandangan “awan bagus” di atas langit sana. Benar, malam ini begitu cerah. Bintang-bintang bertebaran bagaikan padang bintang yang begitu luas dan indahnya. Dan aku pun melihat “awan bagus” yang dimaksudkan Tyo tadi. Sekelompok awan terlihat indah sekali akibat dari efek pantulan cahaya bulan purnama yang benar-benar bulat malam ini. Indah sekali. Aku senang sekali bagaikan aku menyaksikan aurora di kutub-kutub bumi sana (saat pengetikan bagian cerita ini, aku mengirim SMS ke Pandu, Alif, dan juga Levina. Alif mengatakan kalau aurora itu terjadi di kutub selatan, tetapi Levina menjawab jika aurora itu dapat terjadi baik di kutub utara maupun di kutub selatan, dengan masing-masing nama: Aurora Borealis di kutub utara dan Aurora Australis di kutub selatan. Dan sayangnya kali ini Pandu tidak mau menolongku dengan jalan tidak menjawab alias membalas SMS yang aku kirimkan itu). Cerah. Perlahan aku berharap dalam hatiku agar saat sunrise nanti langit juga cerah seperti yang aku saksikan saat ini. Aamiin.

(Saat membaca bagian ini, saya berpikir. Untuk apaaaaa ya saya SMS ke Alif dan Pandu? Kan sedang sama-sama dalam perjalanan ini…)

***

4 Juli 2009

Udara yang menjadi semakin dingin ini telah membuatku makin merapatkan jaket yang aku kenakan. Sebelumnya aku mendapatkan pinjaman sweater hijau milik Eyang Tyo. Karena bagaimanapun udara saat itu benar-benar dingin dan aku tak dapat mengelak tawaran pinjaman sweater hijau dari Tyo tersebut. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika udara di sini benar-benar dingin. Dan benar-benar di luar dugaan.

Akhirnya, pada pukul 00.48 WIB kami tiba di lokasi wisata Bromo. Sesampainya di lokasi, sepertinya nafasku mulai berubah. Dari lubang hidungku ataupun dari mulutku mulai terlihat asap-asap beterbangan keluar dari kedua lubang tubuhku ini. Kedua tanganku segera kusematkan ke dalam ke kedua saku jaket hangatku ini. Setelah turun dari truk, terlihat dua hingga tiga orang penjual sarung tangan, sweater, dan topi. Mereka menawarkan barang dagangan mereka kepada kami. Bagaikan artis, sebelum kami turun dari truk pun, mereka telah menanti di bawah truk menantikan kami untuk segera turun dari truk dan membeli dagangan mereka. Pada awalnya aku terus-terusan menolak kepada mereka, tetapi akhirnya aku luluh juga, Akhirnya aku membeli sepasang sarung tangan mereka. Lumayan, karena harganya murah, 5000 rupiah.

Segera setelah turun, kami diberitahu oleh om tentara yang mengantar kami dan diberitahu juga oleh salah seorang warga di lokasi wisata tersebut untuk segera memesan hardtop untuk kendaraan kami selanjutnya menuju puncak tempat melihat sunrise. Satu buah hardtop ini disewa dengan harga 275.000 rupiah dengan kapasitas satu hardtop dapat mencapai 7 orang penumpang. Akhirnya sebagian diantara kami berangkat ke pos pemesanan kendaraan hardtop tersebut.

Dengan melihat suasana sekitar yang masih sangat sepi di lokasi wisata tersebut, aku mengira akan mendapatkan nomor antrian awal untuk hardtop pesanan kami. Ternyata di luar dugaanku. Walaupun kami datang pada tengah malam seperti ini, kami telah mendapatkan urutan hardtop ke-90. Wow! Benar-benar kali ini di luar dugaanku kembali. Ternyata sebelum kehadiran kami ini, sudah banyak orang yang mengantri hardtop seperti kami ini dan tentunya dengan tujuan untuk melihat sunrise juga.

Udara memang sangat dingin sekali. Akhirnya Adi pun menyerah dengan keadaan, dan dia pun ikut membeli sepasang sarung tangan. Tapi malang baginya, entah disengaja atau tidak, atau karena dia memiliki “tampang” muka mudah dikelabui, akhirnya dia membeli sarung tangan tersebut seharga 10.000 rupiah. Setelah Adi membayar kepada pak penjual-nya, aku pun segera memberitahu Adi, kalau 10.000 rupiah adalah harga yang mahal bagi sepasang sarung tangan tersebut. Karena bagaimanapun juga, harga yang wajar adalah 5000 rupiah.

Sesaat Setelah Memesan Hartop

Sesaat Setelah Memesan Hardtop

 

Sesaat Setelah Memesan Hartop

Sesaat Setelah Memesan Hardtop

 

Sambil menanti datangnya pukul 3 pagi, kami pun segera kembali ke dalam truk untuk sekedar beristirahat atau bermain kartu. Aku pun juga turut serta ke dalam truk. Sebagian di antara kami ada yang memulai menyalakan puntung rokok, ada pula yang mulai membuat secangkir kopi, kemudian mulai menggelar permainan kartu kembali. Tapi kali ini, aku tak ikut bermain. Aku segera merebahkan diri di bangku untuk segera memejamkan mataku. Rasanya berat sekali mata ini jika tidak diistirahatkan. Sambil memejamkan mata, aku mulai mendengar teriakan-teriakan dan tawa teman-teman. Tetapi, lama-lama aku mulai mencium bau yang rupanya dapat mengganggu konsentrasiku untuk memulai petualangan mimpiku itu. Ya, asap rokok. Aku pun segera bangkit dan tanpa berkata, aku pun segera keluar truk dan menuju ke arah toilet. Tetapi bukan toilet yang aku tuju, melainkan bangku kosong yang berada di depan sebuah toko aksesoris.

Aku akhirnya menahan rasa kantukku dengan sedikit bernyanyi. Udara dingin yang begitu kuat membuatku semakin mendekapkan kedua tanganku di depan dadaku ini. Aku pun menatap langit bertabur bintang itu. Perasaan romantis pun datang. Aih… apa yang aku bayangkan? Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Iyen turun dari truk dan berjalan menuju ke arahku. Dia pun datang dan segera duduk disampingku. Kami pun akhirnya saling berbincang. Rasanya menyenangkan sekali dapat saling bertukar cerita. Asyik sekali. Sesekali terdengar tawa dari teman-teman pria yang sedang bermain kartu di dalam truk. Heningnya malam membuat teriakan-teriakan mereka terdengar sampai keluar dan terdengar oleh kami yang sedikit jauh dari truk. Setelah agak sekian lama, akhirnya kami berdua memutuskan untuk kembali ke dalam truk lagi. Nampaknya pagi makin menjelang. Saat berjalan menuju truk kembali, kami melihat beberapa kendaraan pribadi mulai memasuki area parkir ini. Dilihat dari nomor plat kendaraan-kendaraan tersebut, terlihat mereka adalah kebanyakan rombongan wisatawan luar kota yang juga akan bersiap sedia menyaksikan keindahan sang matahari muncul di ufuk timur sana.

Bersama Iyen Duduk-Duduk di Luar Truk sembari Ngobrol

Bersama Iyen Duduk-Duduk di Luar Truk sembari Ngobrol

 

Setelah masuk kembali, aku melihat mereka sedang asyik bermain. Tapi tidak semuanya ada di dalam truk, karena sebagian ada yang harus menunggu di pos pemesanan hardtop tersebut untuk menjaga nomor antrian kendaraan kami. Kedua mataku yang sudah tidak dapat ditoleransi ini, mengajakku untuk segera merebahkan diri kembali di atas bangku. Kali ini aku dapat memejamkan mataku tanpa harus mempedulikan adanya asap-asap rokok yang beterbangan di sana-sini. Walaupun posisi yang kudapat tidaklah begitu nyaman, tapi aku tak peduli. Namun terdengar di luar truk, orang-orang mulai berduyun-duyun datang. Susana semakin ramai.

Jadi nggak sabar,” begitu kata hatiku.

***

Bangun, bangun!

Suara Alfa sepertinya. Perlahan kubuka mataku. Tapi sepertinya aku masih belum puas menikmati mimpi-mimpi yang baru saja aku jelajahi. Mataku masih terasa berat. Dengan perlahan aku mulai bangkit dari bangku dan mulai menjejakkan kedua kakiku di lantai truk. Aku pun mulai bangkit untuk berdiri. Saat menuju pintu truk dan akan mulai turun, aku merasakan ganasnya udara di pagi hari ini. Dingin! Benar-benar dingin! Berulang kali kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket, tapi tetap saja dingin menusuk tersebut tetap terasa. Rupanya telah banyak wisatawan berkumpul untuk turut serta mengantri kendaraan hardtop yang akan digunakan menjelajahi Bromo tersebut. Terlihat tidak hanya turis lokal, namun banyak juga turis yang berasal dari luar negeri. Ternyata keindahan pemandangan sunrise di puncak ini sudah sangat terkenal hingga ke telinga para wisatawan mancanegara. Mereka juga tak mau ketinggalan menyaksikan fenomena alam yang mungkin tak akan mereka dapatkan di negara mereka itu.

Setelah kemudian aku tersadar, terlihat beberapa wajah tampak serius. Seperti Pandu dan Tyo. Sepertinya masalah sedang terjadi. Dan ternyata benar. Supir salah satu hardtop pesanan kami tidak ada di tempat. Padahal jadwal keberangkatan sesaat lagi. Dan orang-orang mulai sibuk dan bersemangat sekali yang kemudian membuatku semakin takut akan terjadinya kecurangan nomor antrian. Terutama karena jam sudah hampir menunjukkan pukul 4 pagi.

Pak Bejo! Di mana kau???

Suasana sudah semakin panas. Diantara kami mulai terlihat emosi, terutama Pandu. Karena bagaimanapun alasannya, kami harus segera tiba di puncak dan tidak ketinggalan menyaksikan fenomena langka yang belum tentu kita sering saksikan. Akhirnya kami memutuskan untuk segera naik dengan menggunakan satu hardtop yang memang sudah siap berangkat untuk kami. 9 orang dalam satu hardtop. Tetapi, sesaat setelah pengambilan keputusan, tiba-tiba terdengar kabar baru lagi bahwa sudah ada sebuah hardtop lagi yang siap membawa kami, menggantikan posisi Pak Bejo tersebut. Dan lebih menjengkelkan lagi, ternyata selidik punya selidik, Pak Bejo masih ada di rumahnya sedang akan baru berangkat ke lokasi wisata ini. Kontan setelah mendengar kabar tersebut, aku pun terbawa suasana menjadi emosi. Benar-benar mengesalkan!

Ah, sudahlah. Aku tak mau terlalu larut dalam emosi sangat. Akhirnya kami membuat keputusan baru. Kami bersembilan kemudian dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Pandu, Adi, Dwi, dan Tyo. Kemudian kelompok kedua terdiri dari aku, Alif, Raga, Alfa, dan Iyen. Tanpa banyak berbincang dan banyak basa-basi lagi, kami segera menaiki hardtop kami masing-masing. Segera kedua bapak sopir ini menyalakan mesin kendaraan. Dan tepat pukul 04.03 WIB kami berangkat.

Iyen, sesuai permintaannya, dia duduk di bangku paling depan, bersebelahan dengan bapak sopir. Kemudian di bagian belakang, aku duduk bersebelahan dengan Alfa, dan Raga duduk bersebelahan dengan Alif. Namun tadi sesaat setelah kami berlima memasuki hardtop dan mengambil posisi duduk kami masing-masing, tiba-tiba tercium bau yang sepertinya sangat mengganggu. “Bau” yang telah diciptakan oleh seseorang tentunya. Dan ternyata bau tersebut adalah hasil “produksi” salah seorang di antara kami, yaitu Alfa! Butuh beberapa menit untuk “menenangkan” suasana kembali di dalam hardtop, karena kami harus bersabar menunggu hilangnya bau tersebut. Hahaha. Ada-ada saja ya…

Setelah hampir kurang lebih tiga puluh menit kami melakukan perjalanan dengan hardtop, sampailah kita di tempat penyaksian sunrise tersebut. Hardtop kami pun memarkirkan dirinya. Kami pun segera turun. Tetapi, kami harus berjalan kaki kembali untuk menuju tempat yang sesungguhnya. Udara benar-benar dingin dan aku pun mulai merasa mual, alergi apabila merasakan udara yang terlalu dingin. Terlihat banyak sekali orang-orang yang sudah siap berjalan kaki menuju puncak. Terlihat pula para tukang ojek yang juga mencari peruntungan rezeki dalam keramaian ini. Sebenarnya tidak cukup jauh, tetapi memang akan lebih cepat sampai di tempat tujuan jika menggunakan kendaraan bermotor tersebut. Ada di antara para wisatawan yang menggunakan jasa para tukang ojek tersebut, namun sebagian besar para wisatawan lebih memilih untuk berjalan kaki. Suasana masih sangat gelap dan sangat ramai. Di kanan-kiriku sudah banyak orang yang berdesak-desakan dan berjalan cepat. Terlihat di sana-sini orang-orang berambut pirang yang berarti menandakan bahwa mereka adalah turis mancanegara. Karena aku dan Iyen adalah satu-satunya wanita dalam rombongan perjalanan ini, maka Alif dan Pandu pun turun tangan menjaga kami berdua.

Jalan menuju puncak sudah seperti jalan menuju Guest House almamater tercinta kami. Udara sangat dingin dan berulang kali aku mual-mual. Aku ditarik oleh Pandu dan Iyen pun ditarik oleh Alif. Berjalan dan terus berjalan. Kurang lebih lima belas menit kami telah lelah berjalan dan akhirya kami sampai juga di tempat tujuan. Terlihat Iyen yang sudah sampai terlebih dahulu, dia terduduk kelelahan di undakan salah satu tangga. Akupun ikut duduk di sampingnya. Aku mulai mengatur irama nafasku. Sambil menenangkan diri, aku pun melihat keramaian orang-orang yang sudah sangat antusias untuk segera melihat langit jingga di ufuk timur sana. Setelah sudah merasa sudah agak baikan, aku pun bangkit berdiri dan mengajak Iyen untuk bangkit juga dan segera menyusul ke dalam keramaian untuk ikut menyaksikan pemandangan tersebut. Benar-benar ramai!

Aku berdiri di atas undakan di bagian belakang keramaian orang-orang tersebut. Karena dengan tinggi badanku yang seperti ini, tidak cukup menjangkau ketinggian orang-orang yang ada di depanku yang menghalangi pandangan. Kecuali jika aku mau untuk menerobos keramaian dan menuju ke bagian terdepan dari keramaian tersebut. Aku ditemani Alfa. Setelah berhasil naik pada undakan, aku benar-benar terkesima menyaksikan apa yang aku lihat, garis langit berwarna jingga tersebut.

Subhanallah!

Garis Jingga Merah

Garis Jingga Merah

 

Garis Jingga Merah

Garis Jingga Merah

 

Berulang kali aku keluarkan ponsel dan memotret garis langit jingga tersebut. Mungkin saat itu sudah pukul setengah 5 pagi. Jari-jariku terus saja bergerak tiada henti untuk menekan tombol “take”. Sebenarnya aku membawa kamera yang sesungguhnya, namun kameraku itu aku berikan kepada Alfa. Dia pun berkata senang untuk mengambil gambar-gambar yang menurutnya bagus dan menarik untuk diambil. Dia sungguh baik karena terus menungguiku di atas undakan ini. Setelah beberapa saat, aku pun sudah tidak menyadari di mana Iyen dan kawan-kawan lainnya berada. Nampaknya mereka sudah menuju pada barisan-barisan depan dalam kerumunan ini.

Kurang lebih sudah tiga puluh menit aku berdiri pada undakan ini. Tetapi anehnya aku tidak merasakan pegal sekalipun. Mungkin hal ini dikarenakan suasana hati yang terlampau bahagia dan gembira luar biasa. Kemudian aku pun memutuskan untuk turun dari undakan dan segera menyusul yang lain yang sudah berada pada posisi nyaman mereka masing-masing. Kuajak Alfa untuk segera menyusul ke bagian depan dalam rombongan ini. Cukup sukar untuk menerobos kerumunan ini. Tapi akhirnya aku dan Alfa berhasil menemukan keberadaan mereka. Namun disayangkan, aku agak sedikit menyesal karena telah meninggalkan undakan yang baru saja aku naiki tadi. Karena di tempat ini, pandanganku dihalangi oleh banyak kepala dan juga banyak badan yang menjulang tinggi di hadapanku ini. Aku pun berusaha mencari celah untuk dapat melihat kembali sang langit berwarna jingga tersebut. Dan yang pada akhirnya, aku pun mendapatkan posisi-ku juga.

Terlihat Tyo sedang sibuk dengan kameranya. Bak fotografer profesional, dia melakukan banyak gerakan ketika sedang mengambil gambar dari sudut manapun dia mengambilnya. Aku melihatnya berulang kali meletakkan bidikan kameranya di depan matanya. Jarinya pun sangat ahli dan terampil dalam memainkan kamera tersebut.

Tiba-tiba langit sudah semakin terang. Sepertinya matahari akan segera muncul. Aku melihat cahaya jingga kekuningan yang sepertinya akan muncul dari balik awan bergaris jingga tersebut. Aku yakin, itulah sang mentari yang sudah dinanti-nantikan kemunculannya. Aku semakin sigap untuk tetap memotret pemandangan ini melalui ponselku. Cahaya jingga kekuningan itupun semakin lama berubah semakin terang.

Sunrise

Sunrise

 

Bulatan kuning di ufuk timur sana perlahan muncul. Aku pun sudah tak peduli lagi dengan dinginnya udara kala itu. Kedua sarung tangan segera kulepaskan dan tetap terus sigap mengambil gambar-gambar sang mentari. Orang-orang di sekitarku semakin lama semakin bersuara mengiri kemunculan sang mentari. Ada yang sibuk mengeluarkan kameranya masing-masing, ada yang merekamnya melalui video recorder, ada yang sibuk mengatur posisi ponsel mereka masing-masing, dan tentunya berbagai macam tingkah yang dilakukan oleh orang-orang ini. Aku pun tak mau kalah kepada orang-orang ini. Dengan bertumpu pada Raga, aku pun mulai menaiki sandaran sebuah bangku yang ada di depanku. Aku sebenarnya tidak dapat menerima sikap orang yang berada di depanku ini karena telah menghalangi pandanganku. Oleh karena itu, aku pun melakukan tindakan nekat menaiki bangku, yang walaupun pada akhirnya aku pun harus menyerah dengan terpaksa. Di tengah-tengah kesibukan seperti ini, tiba-tiba ayahku meneleponku. Dan aku hanya dapat memberitahu beliau aku sedang menyaksikan sunrise ini. Setelah sedikit berbincang, segera kumatikan kembali ponselku. Jujur aku tak dapat berkonsentrasi saat ayahku tadi berkata. Pandanganku terus saja tertuju pada bulatan kuning bersinar terang tersebut. Perlahan namun pasti, sang mentari pun muncul di ufuk timur sana. Aku benar-benar tak menyangka dan sungguh bersyukur dapat menikmati pemandangan yang sungguh indah ini. Subhanallah…

***

Sesaat setelah penyaksian proses kemunculan sang matahari di ufuk timur sana, kami bersembilan kembali berkumpul. Terlihat Alif sudah melepaskan jaket Gedebage super tebalnya yang kemudian dikenakan oleh Iyen, kemudian Dwi sudah mengambil posisi duduk di salah satu bangku yang sudah sepi dari orang-orang. Hari sudah semakin terang. Keramaian sudah semakin lengang. Banyak orang sudah mulai kembali pada kendaraan mereka masing-masing untuk segera melanjutkan perjalanan kembali menuju Kawah Bromo di bawah sana. Walaupun begitu, kami satu per satu tetap mengambil gambar untuk diri kami masing-masing. Ada yang foto berlatarkan cahaya menyilaukan dari sang mentari, ada yang foto berlatarkan Gunung Semeru, dan tentunya berbagai macam latar dan gaya sesuai keinginan hati masing-masing. Uniknya bagi Alif dan Pandu. Mereka berdua sengaja mengenakan pakaian yang bertuliskan “Krida Nusantara”, yang kemudian akhirnya mereka berpose di atas puncak ini.

Berlatar Mahameru - Alif & Pandu

Berlatar Mahameru – Alif & Pandu

 

Berlatar Mahameru - Tyo

Berlatar Mahameru – Tyo

 

Berlatar Mahameru - Dwi

Berlatar Mahameru – Dwi

 

Berlatar Mahameru - Alfariesta

Berlatar Mahameru – Alfariesta

 

Berlatar Mahameru - Iyen

Berlatar Mahameru – Iyen

 

Berlatar Mahameru - Adiarta

Berlatar Mahameru – Adiarta

 

Berlatar Mahameru - Alif

Berlatar Mahameru – Alif

 

Berlatar Mahameru - Pandu

Berlatar Mahameru – Pandu

 

Berlatar Mahameru - Me

Berlatar Mahameru – Me

 

Sampai pada akhirnya, kami memutuskan untuk mengambil gambar kami bersembilan tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Akhirya kami meminta tolong kepada salah seorang turis yang berada dekat dengan kami. Pada mulanya kami meminta tolong pada seorang pelajar (terlihat dari jas almamater yang digunakannya), namun ternyata hasil yang dia ambil tidaklah memuaskan. Kemudian akhirnya kami meminta tolong pada salah seorang turis Thailand. Seorang pria berumur. Dan hasil yang diperoleh pun lumayan, walaupun wajah kami bersembilan tidak terlalu jelas terlihat. (foto teratas dalam tulisan ini)

Berlatar Bromo

Berlatar Bromo

 

Berlatar Bromo - Alfariesta

Berlatar Bromo – Alfariesta

 

Berlatar Bromo - Ragaguci

Berlatar Bromo – Ragaguci

 

Berlatar Bromo - Pandu

Berlatar Bromo – Pandu

 

Bercahayakan Mentari Pagi

Bercahayakan Mentari Pagi

 

Bercahayakan Mentari Pagi

Bercahayakan Mentari Pagi

 

Bercahayakan Mentari Pagi

Bercahayakan Mentari Pagi

 

Akhirnya setelah berpuas diri potret sana-sini, kami pun memutuskan untuk segera kembali ke hardtop kami dan mengikuti yang lain menuju lokasi berikutnya, yaitu padang pasir Kawah Bromo – Gunung Batok.

Akhir kisah di atas puncak tontonan sunrise ini adalah Dwi yang ternyata telah menjadi “korban” penipuan kedua setelah Adi? Tadi Dwi sempat ikut untuk membeli sepasang sarung tangan. Dengan gayanya yang sangat meyakinkan, ketika sang penjual mengatakan bahwa harga sepasang sarung tangan tersebut adalah 6000 rupiah, Dwi pun berani untuk menawar. Dwi menawar harga sepasang sarung tangan tersebut dengan harga 4000 rupiah. Harga yang tentunya termurah diantara sarung tangan-sarung tangan yang kami miliki ini. Setelah selesai melakukan transaksi, Dwi segera untuk mengenakan sarung tangan tersebut. Namun tanpa disangka-sangka. Ternyata dia mendapatkan “sedikit” kerugian karena ternyata sarung tangan yang baru saja dia beli adalah sarung tangan untuk tangan kanan semua, dengan kata lain, sarung tangan tersebut bukanlah sepasang, melainkan hanya sarung tangan untuk satu sisi saja. Entah bagaimana ceritanya hal ini dapat terjadi. Mungkin saja sang penjual tidak menyadari apa yang telah dia lakukan kepada Dwi, sehingga sang penjual menyerahkan sarung tangan sisi kanan semuanya. Dan pada saat Dwi membeli pun, dia dalam keadaan yang sangat tergesa-gesa karena kedua tangannya sudah kedinginan dan tidak dapat ditahan lagi. Kesimpulan dari “Kisah Dwi” ini, baik sang penjual maupun Dwi, keduanya mendapatkan kerugian yang setimpal. Jadi, tak perlu ada yang disalahkan dalam hal ini. Ada-ada saja… 😀

Turun Tangga Pasca Sunrise

Turun Tangga Pasca Sunrise

Pemandangan Gunung Bromo

Pemandangan Kawah Bromo

Pemandangan Mahameru dari Bromo

Pemandangan Mahameru dari Bromo

***

Pukul 06.17 WIB. Ponselku tiba-tiba berdering. Kali ini dari ibuku.

Halo, assalamu’alaikum,

Ibuku hanya sekedar mengecek keadaanku. Beliau menanyakan bagaimana kegiatan kami, peristiwa yang baru saja dilalui, sedang di mana sekarang, dan lain-lain. Seperti biasa, Ibuku selalu berpesan untuk tetap berhati-hati terhadap barang-barang bawaan, karena bagaimanapun juga, tempat ini adalah tempat wisata yang tentunya sangat ramai dikunjungi oleh orang banyak.

Setelah mematikan dan menyimpan ponselku, aku kembali menikmati pemandangan yang terhampar di kanan-kiriku ini. Kami sekarang sedang dalam perjalanan menuju lokasi padang pasir yang terdapat Kawah Bromo dan Gunung Batok. Jalan menuju ke sana sungguh sangat terjal. Berulang kali badanku terhentak akibat kencangnya laju hardtop yang sedang aku, Alif, Raga, Alfa, dan Iyen tumpangi ini. Semakin lama, Gunung Batok dan padang pasir semakin terlihat. Kami hampir tiba!

Hardtop pun berhenti. Segera saja kami turun. Wow! Padang pasir! Benar-benar padang pasir yang sangat luas!

Aku pun melihat kembali ke arah layar ponsel, jam sudah menunjukkan pukul 06.47 WIB. Perlahan aku merasakan udara sudah tidak sedingin tadi pagi. Aku mulai kepanasan. Segera kulepaskan jaket tebal milikku dan sweater hijau milik Eyang Tyo yang tadi malam sempat dipinjamkan kepadaku. Angin bertiup semilir, terasa sejuk. Aku melihat banyak kuda di sini. Kuda-kuda tersebut disewakan bagi para pengunjung yang tidak ingin berjalan kaki menuju kaki tangga menuju Kawah Bromo. Sebelum memulai pendakian menuju Kawah Bromo, sebagian di antara kami menuju toilet terlebih dahulu. Dan beberapa saat kemudian, setelah lengkap kesembilan kami siap, segeralah kami berjalan menuju kawah tujuan kami.

Pemandangan Gunung Batok

Pemandangan Gunung Batok

 

Terlihat Beberapa Hardtop Parkir pada Salah Satu Sisi Padang Pasir

Terlihat Beberapa Hardtop Parkir pada Salah Satu Sisi Padang Pasir

 

Berjalan dan terus berjalan. Kaki ini terasa berat untuk diangkat, karena sesekali sepatu ini kemasukan segumpal pasir yang begitu banyak dan menumpuk. Karena berjalan kaki inilah, aku mulai berkeringat juga. Perlahan rasa dingin itu benar-benar sudah tidak terasa, walaupun angin bertiup kencang sekalipun. Angin tersebut membawa kesejukan di tengah panasnya padang pasir ini. Semakin lama perjalanan semakin menanjak dan berbukit-bukit. Debu bertebaran di sana-sini akibat derap kaki kuda yang lewat. Segera kututup hidung dan mulutku oleh sarung tangan milik Pandu yang dia pinjamkan kepadaku itu. Jika tidak benar-benar hati-hati, mata juga dapat kemasukan debu, atau dengan istilah lain, yaitu “kelilipan”.

Apabila ada salah seorang di antara kami berhenti, maka kami bersembilan pun menghentikan langkah kaki kami. Berhenti karena telah menemukan titik yang pas untuk mengambil sebuah gambar dengan latar yang diinginkan tersebut. Seperti halnya Dwi yang berpose di atas sebuah undakan kecil dari bukit yang sedang kami lalui ini. Di saat berhenti pun, tidak ketinggalan bagi yang lain untuk mengambil waktu beristirahat sejenak. Setelah puas beristirahat dan mengambil gambar, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami kembali berjalan dengan penuh semangat.

Berjalan Menuju Tangga Kawah Bromo

Berjalan Menuju Tangga Kawah Bromo

 

Setelah hampir kurang lebih lima belas menit setelah pemberhentian pertama kami tadi, akhirnya tibalah juga di kaki tangga untuk menuju Kawah Bromo. Mungkin lebih tepatnya untuk melihat Kawah Bromo dari atas. Pandanganku tertuju pada ujung tangga di atas sana.

Tinggi juga ya,” begitu pikirku.

Tanpa banyak bicara lagi, kami segera memulai untuk mendaki tangga-tangga tersebut. Saat menginjakkan kaki di anak tangga ke-6, tiba-tiba Pandu menyuruhku untuk menghitung jumlah anak tangga yang akan kami lewati ini. Hanya untuk membuktikan apakah benar informasi yang sudah tertulis pada internet? Aku pun menyanggupinya dan memulai menghitung ulang dari anak tangga paling awal.

1…2…3…4…5…

Sampai pada anak tangga ke-100, aku menghentikan langkahku. Fiuuuh… Benar-benar sangat melelahkan, ditambah dengan suasana yang mulai menjadi sangat panas ini. Punggungku mulai basah karena diguyur oleh keringat deras yang mengalir keluar dari dalam tubuhku ini. Saat berhenti ini, kumanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengatur nafasku. Lima menit kurasakan sudah sangat cukup untuk sekedar minum air dan mengatur nafas. Segera setelah itu, aku melanjutkan langkah lagi untuk menaiki anak tangga-anak tangga berikutnya.

101…102…103…104…105…

Sesekali langkahku menjadi lambat dikarenakan aku mulai merasa pegal di bagian manapun pada kedua kakiku ini. Tetapi Pandu yang berada di belakangku ini membuatku untuk terus melangkah tanpa berhenti lagi.

…252!

Akhirnya, sampailah juga di puncak Kawah Bromo ini. Setelah berhasil menghitung jumlah seluruh anak tangga ini, segera kumencari tempat yang dapat kugunakan untuk duduk sejenak. Gerakanku pun diikuti oleh Iyen yang sudah menyusul di belakangku ini. Kami duduk di atas sebuah undakan batu dan mengeluarkan botol air minum yang kubawa. Semilir angin membuat raga ini menjadi sedikit berkurang rasa lelahnya, walaupun panasnya matahari semakin lama semakin tidak dapat ditawar lagi keberadaannya. Tapi aku sungguh tidak tahan dengan debu yang terus saja beterbangan karena tiupan sang angin. Debu-debu pasir ini benar-benar membuatku ingin segera menuju kamar mandi untuk menyiramkan berliter-liter air ke seluruh badan ini. Pasti akan sangat menyegarkan sekali, begitu kataku dalam angan.

Bersama Iyen Duduk Istirahat Sejenak

Bersama Iyen Duduk Istirahat Sejenak

 

Sambil duduk-duduk dan menikmati semilir angin yang bertiup, kami saling bercerita. Ternyata tadi sesaat sebelum menaiki tangga, ada kejadian yang sempat membuat panik. Adi terpeleset dan hampir terjatuh ke sebuah jurang kecil pada bukit-bukit yang tadi kami lalui tersebut. Untung nyawa Adi masih dapat terselamatkan. Jika tidak, bagaimana pertanggungjawaban kami berdelapan kepada kedua orang tua Adi??? Mendengar kabar ini, bukannya merasa khawatir dan was-was, tetapi yang keluar dari mulutku adalah tawa yang lebar yang juga dikompakkan oleh yang lainnya. 😀

Hadeuh…

Setelah puas duduk sejenak untuk mengistirahatkan kedua kakiku ini, aku segera bangkit berdiri lagi untuk melihat apa yang ada di bawah sana. Perlahan kuberjalan menuju tepian puncak kawah ini. Seperti kawah-kawah pada umunya, ku lihat segumpal asap putih tebal di bawah sana. Bau khas belerang daerah per-kawah-an mulai tercium oleh indera penciumku ini. Silau. Bagaimanapun juga, teriknya sang mentari membuat kedua mataku harus sedikit menyipitkan kedua kelopak matanya. Panas dan silau. Begitulah yang kurasakan saat ini.

Terlihat Iyen yang sudah mulai beranjak berdiri dan menghampiriku. Aku pun membantunya untuk mengambilkan gambar berlatarkan suasana kawah ini. Dia berkata ingin menjadikan salah satu dari gambar-gambar yang diambil untuk dijadikan profile picture pada facebook miliknya.

Berada di atas puncak kawah ini dengan melihat ke bawah yang berada di kanan-kiri puncak ini, mengingatkanku pada adegan dalam iklan-iklan rokok yang melakukan atraksi di atas sebuah tebing yang kanan-kirinya adalah jurang yang sangat luas dan tentunya mematikan apabila ada seseorang yang menjatuhkan diri ke dalamnya tanpa ada satu pun alat pengaman yang menempel pada tubuh orang itu. Dari kejauhan terlihat seorang pria mancanegara bertubuh besar dan tinggi memakai pakaian ala atlet olahraga bersepeda, kemudian di tangan kanannya dia menjinjing sebuah sepeda. Entahlah apa yang akan dilakukannya. Mungkin dia ingin sekali mencoba bersepeda di atas puncak ini.

Seperti biasa, kami bersembilan ini tidak pernah melewatkan waktu sedetik pun untuk bergaya di depan kamera. Secara bergantian kami saling mengambil gambar dengan mengambil posisi berlatarkan Gunung Batok yang terletak di sebelah Kawah Bromo ini. Dengan bantuan Alfa, aku pun mendapatkan jatah sebuah gambar. Ada foto Adi yang bercahayakan sinar sang matahari, ada foto Alif yang bergaya tertawa lepas, ada foto Pandu dengan menmbelakangi kamera sehingga tulisan “SMAT Krida Nusantara” pada baju yang dia kenakan tertangkap oleh kamera, dan masih banyak lagi gaya-gaya yang diciptakan oleh kami bersembilan ini.

Berlatar Gunung Batok

Berlatar Gunung Batok

 

 Berlatar Gunung Batok - Alfariesta

Berlatar Gunung Batok – Alfariesta

 

Berlatar Gunung Batok - Alif

Berlatar Gunung Batok – Alif

 

Alif Bercahaya

Alif Bercahaya

 

Adiarta Bercahaya

Adiarta Bercahaya

 

Berlatar Gunung Batok "SMA Terpadu Krida Nusantara" - Pandu

Berlatar Gunung Batok “SMA Terpadu Krida Nusantara” – Pandu

 

Setelah puas bercanda dan berfoto-foto bersama di puncak kawah ini, kami segera memutuskan untuk segera kembali menuruni kawah ini. Kembali menuju tempat pemberhentian hardtop-hardtop kami untuk segera kembali menuju tempat parkir kendaraan truk tentara yang telah mengantarkan kami ke lokasi wisata ini. Aku melihat suasana yang semakin panas ini benar-benar membuatku sudah tidak tahan lagi dan ingin segera memasuki kamar mandi Eyang Tyo yang berlimpah ruah air yang luar biasa menyegarkan itu. Uuuuuhhh…

Terlihat hampir di sepanjang pinggir kawah ini, orang-orang mulai banyak yang berduyun-duyun datang dan melihat pemandangan sang kawah ini. Aku pun melihat tangga yang sudah semakin padat. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 09.36 WIB, yang hal ini berarti bahwa memang waktu sudah menunjukkan bahwa hari sudah semakin siang dan sudah semakin tidak tertolong lagi panasnya.

Segera kumulai langkahku untuk menyusuri anak tangga-anak tangga ini kembali. Kali ini aku akan berusaha untuk menghitung kembali jumlah anak tangga yang bakal aku lalui kembali. Namun nampaknya kali ini aku tidak mendapatkan konsentrasiku secara penuh, sehingga saat menghitung pun bilangan demi bilangan pun buyar dari ingatanku. Apalagi saat tiba-tiba langkah kaki ini terhenti karena antrian yang cukup panjang di tangga ini. Sekalipun dapat berjalan, tidak dapat secepat saat posisi menaiki tangga seperti pada awal tadi. Apalagi di depanku persis terdapat seorang ibu yang berjalan bersama seorang putrinya yang sangat lucu. Saat berhenti, selalu kuperhatikan wajah anak itu. Cantik, lucu, dan imut sekali. Inilah salah satu faktor yang dapat membuyarkan semua bilangan-bilangan yang pada awalnya sudah tertata rapi dalam pikiranku. Dan telah terbukti saat sudah sepenuhnya menuruni anak tangga-anak tangga tersebut. Entah bagaimana ceritanya, aku hanya mendapatkan jumlah 153 anak tangga. Ke mana jumlah 99 anak tangga lainnya? Dan satu jitakan kudapat dari Pandu.

Ah lu. Payah!

Yeee…dasar Pandu, cuma bisa ngatain orang aja. Ngitung sendiri nape??” begitu kataku dalam hati.

Ah sudahlah. Tidak penting untuk mendebatkan hal itu. Tadi sesaat akan sampai pada akhir anak tangga, aku sempat menanyakan tentang Sholat Subuh padanya.

Eh Ndu, ngomong-ngomong ni… Apa kabar Sholat Subuh?

Aku menanyakan hal ini padanya karena tiba-tiba teringat pada diriku sendiri yang sedang free untuk melaksanakan ibadah ini. Andai saja aku sedang tidak dalam keadaan free, apakah aku akan setenang ini?

***

Pemandangan Padang Pasir dari Posisi Atas

Pemandangan Padang Pasir dari Posisi Atas

 

Sesi selanjutnya adalah kembali untuk menyusuri bukit-bukit kecil berdebu dan berpasir tersebut. Kali ini kami memilih jalan yang lebih hati-hati. Terutama untuk menghindari terjadinya kecelakaan-kecelakaan kecil seperti yang terjadi pada Adi tadi. Dan juga untuk menghindari jalan yang dilalui oleh para pendaki kuda, alias menghindari jalur kuda. Karena dengan tujuan-tujuan yang seperti itulah, kami memulai perjalan kami dengan sangat hati-hati. Dengan orang terdepan adalah Adi.

Setelah berjalan terus, lama-lama aku menyadari adanya sedikit keanehan. Karena kami benar-benar memilih jalan pintas yang benar-benar sepi dan jauh dari keramaian para pejalan kaki lainnya. Dan lama-kelamaan, jalan yang kami lalui ini makin lama semakin berubah naik dan turun. Apalagi ada saja jalan yang agak sukar untuk dilalui. Saat itu juga aku yakin, kami ini sudah setengahnya “salah jalan”. Karena aku berada di bagian paling belakang, mau bagaimana lagi aku dapat mengelak? Tetap saja kuikuti jalur ini yang tentunya dipimpin oleh Adi, karena dialah yang berada paling depan dalam barisan kami bersembilan ini. Cukup berhati-hati saat aku melalui berbagai “rintangan-rintangan” ini. Salah-salah mengambil langkah, aku dapat saja terpeleset dengan mudahnya. Dan pada akhirnya, sampailah juga kami bersembilan ini di bawah bukit-bukit ini. Fiuuuhhh… Tidak lupa di antara kami ada yang sedikit “mengata-ngatai” Adi karena telah salah menunjukkan jalan yang baru saja kami lalui.

Perjalanan berikutnya adalah kami harus melalui kembali padang pasir yang sangat luas ini. Aku pun harus bertahan dengan kondisi sepatuku yang sudah sedikit berlubang dan tentunya sangat memudahkan segumpal pasir-pasir mengisi sepatuku. Sepatu yang kukenakan ini adalah sepatu peninggalan masa SMA. Sepatu ini sudah aku kenakan sejak aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Warrior pendek yang akhirnya terbeli karena sepatu wajib yang harus kukenakan sudah semakin tidak layak pakai. Mengingat saat itu, untuk pengambilan sepatu baru masih ada beberapa bulan kemudian.

Jalur kali ini kami melalui kompleks pura yang terdapat di padang pasir tersebut. Saat sampai di dekat kompleks pura tersebut, kami berhenti sejenak untuk pengambilan sesi pemotretan berikutnya. Kembali Iyen meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan gambar untukknya. Ada berbagai macam gaya yang sudah dia ciptakan tersebut. Aku pun melepaskan sepatuku untuk segera mengeluarkan pasir-pasir yang sudah menumpuk di dalam sepatu ini. Saat akan mengenakannya kembali, kulihat dari kejauhan, mereka sudah memulai kembali untuk berfoto-foto bersama. Kontan melihat keadaan seperti itu, aku sesegera mungkin berlari dan masuk ke dalam sesi pemotretan tersebut. Setelah selesai bergaya di depan kamera milik Tyo, aku pun kembali bergaya di depan kameraku sendiri yang sejak tadi pagi buta sudah dibawa dan dioperasikan oleh Alfa. Aku tidak mau kalah dengan yang lainnya. Aku pun menciptakan berbagai gaya yang menrutku cukup menyenangkan. 😀

Berpose Dekat Pura

Berpose Dekat Pura

 

Setelah berpuas diri di depan kamera, kami segera melanjutkan perjalanan kembali menuju hardtop-hardtop kami. Sepertinya sudah sangat lama sekali kedua sopir menunggu kami bermain di Kawah Bromo tersebut. Dengan badan berlumur keringat, kami segera memasuki kembali hardtop kami masing-masing. Kali ini kami benar-benar sudah merasa puas bermain-main di Kawasan Wisata Bromo ini. Kami akhirnya meninggalkan padang pasir ini dengan perasaan yang sangat gembira penuh kepuasan masing-masing.

Sampai Berjumpa Lagi Bromo!

Sampai Berjumpa Lagi Bromo!

 

Tidak cukup lama menuju kembali ke tempat area parkir di mana truk kami telah lama menunggu kami. Karena memang jarak lokasi padang pasir tadi tidak terlalu jauh terhadap area parkir ini. Setelah hardtop berhenti, aku pun segera menuruni kendaraan ini. Aku kembali melihat ke arah layar ponselku. Kali ini jam telah menunjukkan pukul 09.52 WIB. Wuah…benar-benar tidak terasa hari sudah benar-benar beranjak semakin siang. Aku pun mulai mengkhawatirkan wajahku. Aku takut sang matahari akan membakar wajahku ini dan merubahnya menjadi berwarna gelap. Berulang kali kuletakkan kedua tanganku untuk menutupi wajahku ini. Benar-benar khawatir.

Segera setelah sudah sangat lelah seperti ini, kami bersembilan segera menuju truk kami dan menaikinya. Aku langsung menuju bagian paling terdalam dan paling pojok di sebelah kanan. Tanpa pikir panjang lagi, aku kembali membuka sepatuku dan kembali pasir-pasir keluar dari dalam sepatuku ini. Langkahku ini diikuti oleh yang lainnya. Setelah mengenakannya kembali, aku segera mengambil posisi berbaring pada bangku. Tiba-tiba mataku menjadi berat dan aku pun mengantuk. Sama seperti Iyen, dia juga mengambil posisi berbaring di depanku. Begitupun juga dengan lainnya. Mengambil posisi berbaring, ada juga yang dengan posisi duduk, dan tidur. Sebenarnya tidak semuanya tertidur, tetapi ada saja yang duduk, namun hanya bisa diam karena sudah sangat kelelahan.

Truk akhirnya berjalan kembali. Kami pun segera kembali menuju ke Kota Malang. Tetapi baru sesaat truk ini berjalan, aku akhirnya terbangun dan terduduk kembali. Aku menyudahi saja tidurku yang baru sejenak tersebut. Aku merasa kepanasan. Membutuhkan angin segar yang luar biasa ingin segera kurasakan. Di bangku seberang, tampak Iyen masih dapat tertidur dengan tenangnya. Aku pun berdiri. Sembari berpegangan pada pegangan tangan yang bergelantungan pada langit-langi truk, aku pun berjalan perlahan menuju pintu truk. Aku ingin sekali duduk di pinggir sana untuk menikmati segarnya angin yang berhembus karena kendaraan yang bergerak. Setelah aku duduk di sana, Dwi mengambil alih posisi di bangku pojok kanan tersebut yang sudah kosong tersebut. Ah, segarnya…

Selama perjalanan menuruni pegunungan ini, aku melihat ke arah kendaraan-kendaraan yang berada di belakang truk ini. Rasanya tenang sekali melihat laju kendaraan-kendaraan tersebut, kemudian pikiran mulai berkelana di dunia khayalan. Jalan yang dilalui berkelok-kelok, tapi aku tidak merasakan mual sama sekali. Yang kurasakan hanyalah kepanasan dan kegerahan. Sungguh, sangat menyenangkan duduk di sini.

Entah sudah berapa menit aku duduk dan mengkhayal di bangku dekat pintu ini. Tiba-tiba Dwi sudah terbangun kembali. Dia memintaku untuk bergantian posisi duduk kembali. Rupanya Dwi ingin menyalakan rokoknya. Tentu saja aku segera berdiri dan kembali duduk di bangku dalam. Tapi kali ini aku tidak dapat berbaring seperti tadi, karena area bangku ini sudah terisi oleh Adiarta dan Alfa yang sudah berbaring terlebih dahulu. Setelah duduk kembali, kurasakan jalan yang sekarang dilalui sudah tidak berkelok-kelok seperti tadi. Terlihat di seberang bangku, Iyen terbangun dan duduk terdiam. Melihat dari kondisi wajahnya yang seprti itu, terlihat sekali kalau Iyen sudah sangat kelelahan. Aku mengerti kondisinya. Kemudian aku pun berpindah posisi duduk di sebelah Iyen. Di bangku ini masih ada sedikit tempat untuk setengah badanku jika menginginkan untuk berbaring. Namun tidak. Aku tetap duduk terdiam dengan tatapan mata tertuju ke depan.

Aku melihat Alif yang tidur dengan posisi duduk, tangan dilipatkan di dadanya, kakinya dibuka lebar. Alif benar-benar sudah tidak tidur sejak kemarin. Semalaman dia tidak sempat mencuri-curi waktu untuk melaksanakan tidur walau sejenak atau beberapa menit. Terlihat sekali di matanya. Dia benar-benar sudah sangat kelelahan. Tapi aku sungguh salut kepada Alif. Dia sudah dapat memimpin sebuah misi besar seperti perjalanan kali ini. Dan aku pun mengatakan bahwa perjalanan kali ini, sukses. Selamat untuk Alif! 🙂

Di sebelahku ada Pandu. Dia baru saja terbangun dari tidurnya. Dia mengambil bungkus kacang kulit yang kemudian dibuka olehnya dan memulai memakannya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Eh Ndu. Tadi kok ga beli souvenir-souvenir gitu yaaa…

Pandu berhenti sejenak dari mengupas kulit kacang.

Oiya. Kenapa tadi lu ga bilang? Ga pa-pa kali,

Aku benar-benar lupa akan hal itu. Mungkin karena tadi semuanya sudah merasakan sangat kelelahan, maka semuanya pun tidak berpikir untuk membeli barang-barang souvenir. Ya…sudah lah. Nasi telah menjadi bubur. Tetapi menurutku, hal itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Aku merasa baik-baik saja dan tidak terlalu terbebani akan hal tersebut. Yang terpenting dari perjalanan kali ini adalah bukan terletak dari souvenir yang dibeli sebagai tanda bahwa pernah mengunjungi Bromo, melainkan makna yang terdalam dari tujuan diadakannya perjalanan ini. Seperti yang sudah aku rasakan. Perjalanan kali ini benar-benar menambah erat hubungan persaudaraan kami sesama angkatan 10, menjalin komunikasi kembali yang sebelumnya sempat terputus, dan tentunya dapat menyambung tali silaturrahmi di antara kami. Dalam perjalan kali ini juga, aku menjadi tahu apa yang senang dilakukan oleh para pria ini selama masih berada di asrama dulu. Menjadi tahu sedikit dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para pria-pria ini. 😀

Dalam perjalanan menuju ke Malang ini, Adi menyempatkan waktunya untuk mengirim sebuah SMS iseng untuk Dwi. Sementara bunyi SMS tersebut berisi penghinaan-penghinaan seperti biasa yang ditujukan kepada Dwi, “oink”. Namun malang baginya, karena Adi telah salah mengirimkan. Nomor yang dia insert bukanlah nomor milik Dwi, melainkan nomor dari nyokap-nya Dwi. Saat menceritakan hal ini, Adi hanya bisa mengeluarkan senyum-senyum kecil kebodohan. Kontan kami pun yang masih terjaga tertawa. Adi, Adi… Hahaha.

Akhirnya…

Setelah berpanas-panasan ria di dalam truk dengan penuh kebosanan, sampailah juga kami di Kota Malang. Bagaikan sugesti, perjalanan pulang menuju rumah terasa sangat lama sekali, tidak seperti perjalanan menuju Bromo semalam. Pukul 13.18 WIB kami tiba kembali di kediaman Eyang Tyo. Rasanya senang sekali sudah sampai. Seperti perjalanan berhari-hari yang segera ingin menuntaskannya di dalam kamar mandi akibat dari kotoran-kotoran yang menempel di raga ini. Terlihat wajah-wajah yang tidak cerah pada kami semua ini. Kotor.

Seperti biasa, aku harus bersabar untuk menunggu giliran menggunakan kamar mandi. Dan tentunya aku adalah orang yang paling akhir mendapatkan kesempatan merasakan nikmatnya sebuah kamar mandi Eyang Tyo. Siang ini benar-benar panas. Setelah membersihkan badan dengan sebersih-bersihnya, aku pun beranjak ke kamar untuk tidur-tiduran sejenak. Ingin sekali tidur siang. Tetapi setelah berusaha sedemikian rupa, ternyata tidak bisa juga tidur. Aku pun keluar kamar. Bersama dengan Iyen dan lainnya, aku menonton televisi. Take Me Out Indonesia. Dengan noraknya, aku baru tahu ada acara seperti ini di televisi. Benar-benar tidak beruntungnya aku ini karena aku benar-benar selama di Bandung tidak pernah melihat televisi. Hehe.

Sambil menikmati sajian acara di televisi, aku juga menikmati hidangan rujak cingur yang sudah sengaja dibelikan untuk makan siang kami semua. Dwi, senang sekali melahap cingur atau dengan nama lain kikil. Bahkan milikku, kuberikan kepadanya. Pedas-pedas gurih. Enak. Namun sayangnya, sebagian dari para pria tersebut ada yang tidak makan siang, dan memilih untuk tetap terlelap.

***

Hari pun beranjak sore. Tetapi aku tetap saja asyik di depan televisi. Tetapi Adi, Pandu, beserta lainnya terlihat masih terbujur kaku di kasur. Iyen pun masih tertidur di kamar. Walhasil, aku tetap mempertahankan diri di depan televisi ini. menyaksikan wanita-wanita cantik dan pria-pria yang beruntung mendapatkan salah satu di antara para wanita cantik tersebut. Sesekali kumelihat ke arah ponsel. Online dan mengganti status. Tidak lupa sesegera mungkin mencatat kejadian-kejadian yang baru saja terjadi.

Tidak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Aku menuju ke arah pintu rumah. Ternyata Mama-nya Iyen. Aku pun membukakan pintu. Aku pun menyalami beliau. Dan segera kumenuju kamar kembali, untuk membangunkan Iyen. Sesaat sebelum terlelap, Iyen berpesan agar nanti saat kedua orang tuanya tiba, dia meminta untuk dibangunkan. Dan sepertinya aku telah melaksanakan tugas yang dia berikan kepadaku dengan sempurna. Setelah itu, aku kembali ke depan televisi. Dan Mama-nya Iyen telah ikut bergabung bersama kami di depan televisi ini. Sebagian pria ini, kecuali Adi dan Tyo, sudah terbangun kembali. Aku, Pandu, dan sesekali yang lain, berbincang-bincang dengan beliau.

Hari sudah benar-benar semakin sore. Apalagi jam sudah hampir menunjukkan pukul 17.00 WIB. Menurut rencana, sore ini kami akan berjalan-jalan menuju Batu Night Spectacular (BNS). Mumpung masih berada di Malang. Kapan lagi mendapatkan kesempatan yang sama seperti ini? Tetapi para pria ini masih saja bersantai-santai ria di atas kasur ini. Seperti tidak semangat dan tidak berniat untuk keluar malam ini. padahal malam ini adalah malam terakhir kami di Kota Malang.

Akhirnya dengan desakan-desakan yang keluar dari mulutku dan juga Iyen, akhirnya para pria ini mau bergerak juga. Akhirnya diputuskan, berangkat setelah melaksanakan Sholat Maghrib. Aku pun tetap menunggu di depan televisi. Dan acara ini masih berlanjut pada acara Take Me Out itu. Tapi kali ini bukan acara intinya, melainkan semacam Diary Take Me Out, seperti Diary AFI yang terdahulu itu. Bosan juga apabila nonstop seperti itu dan harus berlangsung tiap sore.

Menuju waktu Maghrib, Papa-nya Iyen pun ikut bergabung bersama kami dan duduk di sofa depan televisi ini. Seperti biasa, kami satu per satu ditanya dari mana, kuliah di mana, dan lain-lain. Tetapi ada saja pertanyaan dari Papa-nya Iyen ini yang membuat kami terjebak dan mati kutu. Seperti pertanyaan siapa nama rektor di universitas kami masing-masing dan siapa pemimpin progam studi yang sedang kami jalani ini. Tentu saja aku tidak terlalu memperhatikan terkait dengan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Hanya tahu, rektor ITB yang sedang menjabat kali ini bernama Bapak Djoko, tanpa tahu apa title-title yang menempel pada nama beliau. 😦

Adzan Maghrib pun berkumandang. Segera mereka para pria menunaikan kewajibannya. Sambil menunggu yang sedang sholat, aku menyiapkan kembali dan mengecek kembali dompet dan ponsel agar tidak lupa dibawa. Mama-nya Iyen mengingatkan untuk membawa snack-snack yang baru dibelikan di Giant tersebut. Ada dua plastik besar berisi snack-snack yang berukuran besar juga. Kemudian tepat pukul 17.53 WIB kami pun masuk ke dalam mobil dan berpamitan kepada kedua orang tua Iyen. Semua sudah siap. Kami naik mobil milik Raga. Bismillahirrohmanirrohim… kami pun berangkat menuju BNS.

Aku, Airen, Alif, dan Pandu duduk di bagian paling belakang. Di bagian tengah ada Adi, Alfa, Tyo, dan Dwi. Di bagian depan tentu saja Raga, sang pemilik mobil dengan Om Sopir. Perjalanan menuju BNS tidak terlalu jauh. Kami membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai ke sana. tidak lupa bahwa malam hari ini adalah malam minggu. Dikhawatirkan malam ini akan macet dan penuh orang di jalanan menuju lokasi wisata tersebut. Ternyata dugaan benar dan tidak salah. Setelah hampir mendekati lokasi tujuan, terlihat mobil yang kami naiki ini mulai ikut “mengantri” di sepanjang jalan ini. Di depan mobil kami sudah berjajar antrian mobil yang begitu rapinya.

Dengan kesabaran yang kami miliki, akhirnya sampailah kita di lokasi. Karena area parkir di dalam BNS sudah penuh, maka kami pun diarahkan untuk memarkirkan mobil di tempat yang agak jauh dari lokasi utama. Butuh berjalan kaki kurang lebih delapan menit untuk menuju BNS dari tempat parkir kami ini. Terlihat warna-warni lampu bersinar terang di atas BNS. Warna-warni di langit malam. Sesampainya di BNS, sudah terlihat antrian juga di depan pintu masuk. Kali ini entah sedang mendapatkan rejeki yang berulang kali, Iyen dan Tyo akan mentratktir kami semua. Tiket masuk gratis. Begitulah.

Setelah berhasil masuk ke dalam, kami mulai berjalan melihat-lihat suasana sekitar. Kami pun merundingkan tempat awal yang akan kami kunjungi. Dan pilihan pertama jatuhlah pada “Rumah Hantu”. Tetapi sayangnya Iyen maupun Tyo sendiri tidak mau ikut masuk ke dalam “Rumah Hantu” tersebut. Kami bertujuh ini pun memaksa dua orang tersebut. Namun, dipaksa berulang kali pun, tetap tidak mau. Tetap tidak berubah pendirian mereka berdua. Menurut catatan sejarah, Iyen dan Tyo ini memang terkenal agak takut dengan hal-hal berbau “hantu” seperti itu. Yah… sudahlah jika seperti itu. Akhirnya yang memutuskan masuk ke dalam “Rumah Hantu” adalah kami bertujuh dengan aku sebagai satu-satunya perempuan dalam kelompok ini.

Dalam lokasi “Rumah Hantu” ini, dibagi menjadi 2 cara menikmati “keindahan” pemandangan di dalamnya. Pertama dengan menggunakan kereta, seperti menaiki perahu saat memasuki “Istana Boneka” di Dunia Fantasi Ancol Jakarta. Kemudian yang kedua adalah dengan berjalan kaki. Kami bertujuh ini memutuskan untuk berjalan kaki, dengan alasan “agar lebih menikmati”. Antrian pun semakin lama semakin panjang, dan kami pun semakin dekat pada giliran kami. Jujur aku sangat penasaran sekali ingin segera masuk. Tetapi jujur pula kukatakan, aku takut jika nanti banyak hal yang dapat membuatku terkejut seketika.

Kemudian setelah menunggu beberapa lama, tibalah giliran kami. Mulanya, si Mbak Penjaga pintu masuk “Rumah Hantu” berniat membagi kami bertujuh menjadi dua kelompok, dengan format empat-tiga. Tetapi karena kami ingin tetap bersama bertujuh ini, akhirnya diputuskan juga oleh si Mbak, agar tetap bertujuh dan tidak jadi dibagi menjadi dua kelompok. Kami bertujuh pun berebut posisi agar tidak menjadi yang paling belakang. Seperti Alfa, sesaat akan memasuki “rumah”, dia berkata kepadaku bersedia untuk berada paling belakang di barisan kami bertujuh ini. Kami pun masuk.

Di pintu masuk, kami disambut oleh sebuah lukisan wajah seorang hantu eropa. Masih tidak terlalu menakutkan, biasa. Kami terus masuk dan berbelok arah. Tetapi tiba-tiba orang terdepan menghentikan langkahnya. Karena yang ada di depan kam ini ada sebuah pintu yang memang ternyata meminta dibuka oleh kami. Entah mengapa suasana menjadi agak sedikit tegang. Anehnya pun, sudah tahu ini hanyalah permainan belaka, tetap saja tidak ada yang berani yang membuka pintu tersebut. Dan pada akhirnya ada yang berani membuka pintu tersebut. Dan,

Aaaaa…!!!!!

Kami bertujuh tersentak kaget seketika. Setelah pintu terbuka, mulai nampak hantu-hantu khas Indonesia. Dan yang menyambut kami itu adalah sebuah patung seperti kuntilanak? Entahlah, aku agak sedikit lupa. Karena jujur saja, saat memasuki area permainan ini, aku tidak terlalu memperhatikan lingkungan sekitarku. Aku entah mengapa merasa “parno” dan sedikit agak menjadi takut, yang akhirnya menyebabkan aku tidak konsentrasi menghadapi hantu-hantu tersebut. Dan entah bagaimana ceritanya, aku sempat menjadi orang yang paling belakang. Alfa sudah berhasil mendesak dan menerobos barisan yang berarti telah melanggar janjinya bersedia berada paling belakang diantara barisan kami ini.

Sungguh, seperti orang bodoh saja merasa takut dengan hal seperti ini. Sepanjang petualangan “Rumah Hantu” ini, kami tertawa sekaligus berteriak-teriak sekenanya karena rasa kaget akibat setiap kali ada hantu yang muncul di hadapan kami ini. Menyenangkan! Lucu sekali kami ini. Sebenarnya tidak terlalu menakutkan, karena hampir kebanyakan hanu-hantu yang disajikan adalah rupa-rupa hantu khas eropa atau hantu-hantu khas film barat. Dan memang yang membuat seram adalah bagian bertemu dengan hantu-hantu versi Indonesia, seperti hantu kuntilanak dan hantu pocong. Karena memang kedua hantu tersebutlah yang paling tidak berani aku lihat keutuhan bentuknya. Berulang kali aku mengalihkan pandangan dari hantu-hantu imitasi tersebut. Seperti pada pintu kedua yang kami temui dan harus segera dibuka oleh kami juga, pintu yang menuju akhir dari permainan ini. Sesaat setelah dibuka, yang muncul kali ini adalah hantu kuntilanak kembali!

Aaaaa…!!!!!

Seperti biasa, karena kami merasa terkejut, berteriaklah kami sekencang kami bisa. Sambil berteriak sekaligus tertawa, kami melalui pintu tersebut dan tentunya si kuntilanak tersebut! Setelah melewatinya, beberapa saat kemudian, terlihath sebuah tulisan “Pintu Keluar”. Dan sesegera mungkin kami menuju pintu tersebut. Akhirnya… selesai juga permainan ini. 😀

Setelah berada di luar, kami tetap tertawa dan berbicara membahas hantu-hantu yang baru saja kami temui. Mengomentari setiap bagian yang kami lihat. Setiap kali mengingat bagian-bagian yang lucu, pasti kami melepaskan tawa dengan sangat antusiasnya. Aku benar-benar puas dengan mengeluarkan teriakan-teriakan dan juga tawa saat tadi di dalam “rumah” tersebut. Walhasil, suaraku kini berubah menjadi serak. Gatal sekali. Tapi aku gembira.

Kemudian kami melihat ke arah jalanan, di sana sudah nampak Eyang Tyo dan juga Iyen. Setelah ini, kami ingin melajutkan perjalanan kami untuk mencari makan malam. Sebelum keluar dari area “hantu” ini, aku juga melihat beberapa kafe yang bertemakan “hantu” juga. Benar-benar unik dan pandai untuk mencari simpati para pengunjung, terutama yang baru pertama kali mengunjungi BNS. Kami memutuskan untuk makan di food court yang ada di area BNS ini. Letaknya tidak terlalu jauh dari area “hantu”. Sambil berjalan menuju lokasi food court, aku pun melihat ke kanan dan ke kiri. Melihat wahana-wahana yang ditawarkan di BNS. Seperti yang kulihat, BNS ini memang sangat mengandalkan warna-warni dari lampu-lampu ataupun hiasan-hiasan yang menjadi penghias di setiap sudut BNS.

Sambil berjalan, aku sempat memperhatikan wajah teman-teman yang lain. Sebagian di antara mereka sudah berwajah sedikit muram karena kelelahan ataupun karena sudah merasa sedikit mengantuk. Aku sangat maklum akan hal tersebut, karena aku sendiri pun sudah merasa agak sedikit mengantuk dan mataku sudah berubah menjadi hitam dan berkantung, layaknya orang yang kurang tidur. Tetapi yang terpenting sekarang adalah mengisi perut kami yang sudah meronta ingin segera untuk diisi.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya tibalah kami di area food court yang dimaksudkan. Kali ini kembali serasa mendapatkan durian runtuh, alias mendapatkan rezeki yang berulang kali, karena Iyen kembali akan mentraktir makan malam kami semua. Wuaaah… terima kasih banyak saudiraku, Iyen… 😀

Seperti layaknya suasana malam minggu di mana pun itu, suasana food court di BNS ini juga sedang sangat ramai, banyak sekali pengunjung yang datang. Terlihat di panggung di depan sana, sedang diadakan pertunjukkan-pertunjukkan seni yang memang sengaja disajikan bagi para pengunjung malam minggu ini. Kami berkeliling dari satu meja ke meja yang lain untuk mencari tempat yang kosong, tetapi nihil. Sekalipun ada yang kosong, tidak cukup untuk kami bersembilan. Akhirnya diputuskanlah untuk menunggu giliran dengan pengunjung yang lain. Sebagian sudah ada yang menduduki kursi-kursi yang memang sudah kosong, dan sebagian lagi tetap berdiri sampai menunggu kursi kosong berikutnya. Sambil berdiri, kami menikmati sajian tarian di atas panggung sana. Terdapat penari wanita tunggal. Enerjik dan juga luwes. Menarik dan senang melihatnya. Setiap gerakan yang dia tarikan benar-benar menandakan jika dia adalah seorang penari yang cukup profesional pada bidangnya.

Setelah penari tersebut meninggalkan panggung, terlihat sudah bertambah kursi-kursi kosong di sebelah teman-teman yang sudah duduk terlebih dahulu itu. Aku pun ikut duduk. Dan Iyen segera mempersilakan yang sudah duduk untuk memesan makanan terlebih dahulu. Cara pembelian makanan di area ini, mengingatkanku dengan cara yang hampir sama seperti di food court milik Cihampelas Mall (Ciwalk). Sistem di area ini dengan menggunakan kartu yang digesek di setiap food counter. Bedanya dengan di Ciwalk, di BNS ini sistem pembayarannya di akhir, namun apabila di Ciwalk, sistem pembayarannya di awal. Ya, itu hanyalah sedikit cerita tentang sistem pembayaran pada sebuah food court. Dan… sekarang kembali kepada cerita.

Tibalah giliranku dengan Pandu untuk berkeliling untuk mencari makanan yang kami inginkan. Pandu ingin makan Soto Makasar, sementara pilihanku jatuh pada Sate Kelinci. Setelah proses gesek-menggesek kartu, aku pun kembali menuju meja makan kami. Sambil menunggu pesanan kami datang, kami menikmati sajian hiburan yang ditampilkan pada malam hari ini. Aku pun sempat mengambil gambar wajah Tyo dan Pandu. Terlihat sekali mereka berdua ini sudah sangat lelah dan ingin segera menuju kasur dan tidur.

Terlihat sebuah grup band country yang sedang membawakan beberapa lagu yang tentunya bernuansa country. Setelah beberapa lagu mereka bawakan, akhirnya mereka meninggalkan panggung. Pertunjukkan berikutnya adalah seni kreasi “Tarian Air Mancur” dan juga “Tarian Asap” pertunjukkan kali ini sangat menarik, karena menggabungkan dua media yang berbeda yang disusun secara apik yang kemudian menghasilkan sesuatu yang sangat indah dan menarik.

Tarian Air Mancur” merupakan kreasi seni penggabungan antara media air terjun dengan efek-efek cahaya lampu yang berwarna-warni. Pementasan “Tarian Air Mancur” diiringi dengan lagu-lagu nasional yang disatu-padukan, sehingga sangat unik dan menarik. Yang kedua adalah “Tarian Asap”. Sama seperti pertunjukkan sebelumnya, pertunjukkan kali ini merupakan penggabungan antara media asap dengan efek-efek cahaya lampu yang memiliki bentuk-bentuk tertentu dan berwarna-warni juga. Lagu-lagu yang mengiringi pun beragam, hingga salah satunya adalah house music. Bak lampu disko, benar-benar bagus, unik.

Setelah usai dua pertunjukkan tarian tesebut, pertunjukkan berikutnya adalah sebuah pertunjukkan seni teknik visualisasi. Seperti sebuah proyektor yang ditampilkan pada sebuah layar putih, pertunjukkan ini menggunakan konsep seperti itu, dengan layar raksasa adalah layar putih raksasa berukuran panjang yang berada di langit-langit food court ini. Para pengunjung yang ingin menikmatinya, menengadahkan kepala mereka semua ke atas, melihat ke arah langit-langit. Tetapi pertunjukkan kali ini tidak terlalu menarik menurutku. Menampilkan beberapa pesawat seperti sedang bertempur. Hal ini terlihat dari efek-efek suara yang mengiri pertunjukkan ini. Sambil berlangsungnya pertunjukkan pesawat ini, pesananku pun akhirnya datang. Begitupun dengan yang lainnya. Hidangan makan malam yang lainnya juga bergantian datang. Dan pandanganku pun teralihkan pada makanan yang telah aku pesan. Tentu saja. Aku sudah merasa sangat kelaparan.

Di sebelahku duduklah Iyen. Sebelum makan, aku kambali mengucapkan terima kasih kepada Airen. Setelah itu, aku pun berdoa dan diikuti yang lain, aku pun mulai menyantap hidangan makan malamku. Aku pun tidak lupa menawarkan kepada yang lain untuk mencicipi sate kelinci ini. Enak, nikmat, dan lezat. Rasa sate kelinci memang hampir mirip dengan rasa sate ayam. Namun sate kelinci ini dagingnya lebih tebal dibandingkan dengan daging ayam. Biasanya sate kelinci ini banyak ditemui di daerah-daerah berdataran tinggi dan bersuhu dingin. Entah aku pun tidak mengerti megapa dengan alasan seperti itu. Karena menurut pengalamanku, aku selalu menjumpai penjaja sate kelinci di daerah-daerah wisata yang memang bersuhu dingin dan berdataran tinggi.

Tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menghabiskan hidangan makan malamku kali ini. Walaupun secara kasat mata, hidangan yang baru saja disajikan tidak mampu untuk membuat perut kenyang, namun yang aku rasakan sudah cukup membuat perut ini terisi penuh. Benar-benar lezat dan mengenyangkan. Seperti juga dengan yang lainnya, mereka telah menghabiskan makanan mereka masing-masing tanpa bersisa sedikit pun. Setelah kenyang, kami pun masih terduduk diam di kursi masing-masing untuk menurunkan makanan yang baru saja kami santap.

Beberapa menit telah terlewati, kami pun segera meninggalkan meja makan dan tentunya meninggalkan food court ini. Tak lupa, aku kembali mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Iyen atas jamuan gratis malam ini. Kami berjalan keluar food court ini dan melewati berbagai warung-warung penjaja barang-barang souvenir. Namun sayangnya, aku tidak tertarik pada satu barangpun yang dijual. Sekali pun ada, aku masih berpikir jika barang tersebut masih dapat dijumpai di tempat lain, bahkan di Bandung sendiri. Karena Adi ingin sekali mencari gelang-gelangan jawa, maka kami pun ikut berkeliling menyusuri warung tiap warung. Tapi yang sudah aku duga, barang yang Adi maksud tidak ditemukan. Akhirnya, kami pun kembali pada formasi dan melanjutkan perjalanan kembali. Sebelum melangkah, kami merundingkan ingin mengunjungi tempat yang bagaimana. Dan akhirnya kami memutuskan berjalan saja, nanti jika ada yang ingin dikunjungi, maka mampirlah kami ke tempat tersebut.

Akhirnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri, pilihan pun jatuh pada sebuah area lampion, bernama Lampion Garden. Lampion-lampion ini berwarna-warni. Indah, karena menghiasi gelapnya malam. Kali ini kembali mendapatkan rezeki yang tidak kuduga. Kali ini kembali saudara kembar ini mentraktir kami semua. Kami pun dapat masuk dengan cuma-cuma. Sebenarnya tempat ini hanyalah sebuah taman yang dipenuhi oleh hiasan-hiasan lampion berbagai bentuk yang sangat indah dan menarik. Kami pun berjalan menyusuri jalan setapak ini. Setiap kali ada sebuah lampion yang menarik, kami pun berhenti dan mengambil gambar berlatar lampion tersebut. Aku pun foto bersama lampion Donald Duck. Seperti biasa, Eyang Tyo lah yang sangat berperan sebagai fotografer dalam perjalanan ini. Kami banyak mengambil gambar dengan berbagai macam gaya dan berbagai latar yang berwarna-warni dan beraneka ragam.

Sampailah pada sebuah area lampion yang berbentuk seperti sebuah pelaminan. Di area ini terdapat sebuah bangku panjang yang memang untuk sepasang kekasih. Di kanan-kiri bangku tersebut terdapat banyak hiasan balon berwarna pink dan berbentuk hati. Benar-benar sengaja dibuat untuk para pasangan yang ingin sekedar mengambil gambar untuk koleksi pribadi mereka masing-masing. Kami pun tidak melewatkan kesempatan foto pada area ini begitu saja. Lucunya, kami membuat sebuah foto seperti dua buah keluarga bahagia yang sedang melangsungkan sebuah pernikahan putra-putrinya. Yang berperan sebagai pasangan adalah Pandu dan Adi. Aku, Alif, Raga, Alva, Dwi, dan Airen berdiri di samping mereka berdua. Dan Tyo? Tentu saja dialah yang mengambil gambar kami ini.

Berpose di Arena BNS

Berpose di Arena BNS

 

Berpose di Arena BNS

Berpose di Arena BNS

 

Berpose di Arena BNS

Berpose di Arena BNS

 

Setelah foto di area cinta tersebut, kami berjalan kembali. Kami juga berfoto berlatarkan lampion rumah jamur, lampion Menara Eiffel, lampion balon terbang, dan lain sebagainya. Sampai pada akhirnya, di akhir perjalan kami ini, kami memutuskan ke toilet untuk membereskan urusan pribadi masing-masing. Setelah beres, kami berkumpul sejenak di pinggir sebuah pagar, dan kembali berpose di depan kamera. Setelah puas, kami segera keluar dari area lampion ini. Pintu keluarnya menggunakan sistem pintu yang berputar. Sementara antrian orang-orang yang ingin keluar dari area ini begitu panjang. Sesekali terjadi perebutan antrian untuk segera mendekati pintu keluar. Cukup dapat mengundang emosi apabila tidak memiliki kesabaran yang tinggi. Pada akhirnya, walaupun sempat berdesak-desakan, kami pun berhasil keluar dari area ini. Dan sebagai penutup perjalan di BNS ini, kami mengambil gambar berlatarkan tulisan “Welcome to Lampion Garden”.

Berpose di Arena BNS

Berpose di Arena BNS

 

Malam semakin larut. Kami pun segera menuju kembali ke tempat parkir mobil kami. Kami harus berjalan kaki kembali untuk menuju ke tempat parkir tersebut. Aku berjalan bersama dengan Iyen. Iyen tidak akan ikut pulang bersama kali ke tempat Tyo, melainkan akan langsung menuju rumahnya yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi wisata ini. Aku berangkulan dan saling bergandengan tangan dengan Iyen. Sesekali kami meracau bernyanyi-nyanyi kecil, seperti orang yang sudah mabuk berat. Kurang lebih delaan menit kemudian, kami sampai di mobil. Beberapa saat kemudian, Om Sopir pun muncul dan membukakan pintu untuk kami. Kami pun masuk dan duduk seperti format awal, saat berangkat tadi.

Terlihat wajah-wajah mengantuk, suntuk, capai, lelah, dan tentunya sudah tidak bersemangat lagi. Yang sudah terlintas pada benak kami adalah bantal dan kasur. Seperti aku juga, ingin sekali segera menuju kamar, dan tidur. Setelah semua sudah kembali pada posisi duduknya masing-masing, mobil pun segera melaju. Seperti ada yang memberikan komando, semua mata terpejam. Hampir tidak ada yang berbicara lagi, saat mobil ini sudah berjalan. Sebelum menuju kediaman Eyang Tyo kembali, kami harus mengantar Iyen menuju rumahnya. Tempat tinggal Iyen tidak terlalu jauh dari lokasi wisata BNS ini. Hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit untuk menuju rumahnya.

Karena selama perjalanan mataku terpejam, maka tak heran aku merasa cepat sekali tiba-tiba sudah sampai di depan rumah Iyen. Setelah mobil berhenti, Iyen pun pamit pulang. Dia berjanji akan kembali datang keesokan harinya untuk mengantarkan kami pulang ke Bandung. Mobil kembali bergerak. Terlihat Iyen yang masih melambai-lambaikan tangannya kepada kami. Setelah lambaian tangannya sudah tidak terlihat, aku kembali kepada posisi awal untuk melanjutkan ritual tidurku ini. Benar-benar sudah tidak kuat mata menahan kantuk yang luar biasa berat sekali.

Seperti yang sudah-sudah, tiba-tiba mobil berhenti kembali. Tetapi kali ini, kami sudah sampai di rumah Eyang Tyo kembali. Aku senang karena benar-benar perjalanannya tidak terasa sama sekali. Aku menduga, selama perjalanan, tidurku sangat nyenyak sekali. Segera kuturun dari mobil. Seperti juga dengan teman-teman yang lainnya. Mereka semua sudah tidak dapat menahan rasa kantuk mereka lagi. Wajar saja, karena waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam. Sempat terlihat Pandu langsung memasuki ruangan tivi dan seketika itu juga dia menjatuhkan sebuah kasur dan tanpa berkata apa-apa lagi, dia langsung merebahkan dirinya di atas kasur tersebut. Tindakan Pandu ini akhirnya diikuti pula oleh Adi. Tanpa mengeluarkan barang-barang dari kantong pakaian mereka masing-masing, bahkann tidak mengganti pakaian lagi, mereka berdua sudah langsung merebahkan diri mereka. Sudah tidak peduli dan mendengar suara Raga yang meminta pamit pulang.

Berbeda dengan Tyo, Dwi, ataupun Alfa. (Namun sayangnya, aku tidak begitu memperhatikan Alif. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Alif pada saat itu.) Setelah kumengganti pakaianku dengan pakaian tidur, aku keluar kamar kembali dan melihat Dwi sedang memulai kegiatan rutinitasnya kembali untuk merokok di teras depan. Aku pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka, tangan, dan kaki. Setelah selesai urusan perkamar-mandian, aku segera memasuki kamar. Saat akan kembali ke dalam kamar, aku sempat melihat Alfa sedang menatap layar ponselnya. Sepertinya dia sedang online mengecek facebook miliknya. Segera kututup pintu kamar. Kubuka kembali jilbabku. Kulepas kuncir rambutku dan segera menggerai rambutku. Tanpa berpikir dan berkhayal apa-apa lagi, aku segera memejamkan mataku. Sayup-sayup, semakin samar apa yang kudengar di luar sana, aku pun tertidur. Kembali menjelajahi dunia mimpiku.

***

5 Juli 2009

Ohayou gozaimasu…!!!

Good morning…!!!

Selamat pagi…!!!

Hoahemmm… tidak terasa jika hari ini adalah hari terakhirku berada di Malang. Cepat sekali rasanya bumi itu berputar. Sudah tanggal 5 Juli. Berarti sudah hampir lima hari aku meninggalkan Bandung untuk melakukan kegiatan ini. Aku memutuskan untuk tidak mandi terlalu cepat. Aku akan mandi saat sudah mendekati waktu keberangkatan. Seperti yang sudah diberitahu oleh Alif pada hari sebelumnya, kami akan berangkat pukul satu siang. Setelah bangun, aku tidak langsung beranjak mengenakan jilbab kembali dan menuju keluar kamar. Tetapi aku membereskan barang-barang yang masih berada di luar tas untuk segera kumasukkan ke dalam tas. Menyiapkan pakaian yang akan aku kenakan. Dan segala renak-reniknya aku persiapkan dengan baik. Aku tidak ingin ada barang yang tertinggal satu pun di kamar ini. Setelah aku rasa sudah terlihat sedikit rapi, aku pun segera mengenakan jilbab kembali dan menuju keluar kamar.

Terlihat sudah sebagian para pria ini membuka mata mereka dari tidur yang me-nyenyak-kan semalam. Acara yang sedang ditonton adalah Chicken Little, di mana salah satu tokohnya adalah seekor babi raksasa yang lucu. Dan bahan-bahan seperti inilah yang menjadi alat untuk menghina-dina Dwi. Benar-benar Dwi sudah kebal dengan segala ejekan ini ya? Terutama yang berhubungan dengan babi-babi seperti ini ya?

Tidak lama kemudian, Alif dan Dwi meutuskan untuk segera ke stasiun untuk membeli tiket kereta menuju Surabaya. Tiket kereta tersebut tidak dapat dibeli pada hari sebelumnya, tetapi hanya dapat dibeli pada hari di mana kereta tersebut beroperasi. Alif dan Dwi juga yang akan membelikan sarapan bagi kami semua. Setelah keberangkatan mereka berdua menuju stasiun, Iyen pun datang. Kali ini dia datang sendiri, tanpa ada seorang pun yang mengantar. Aku pun akhirnya berbincang-bincang bersama Iyen sambil menunggu kedatangan Alif dan Dwi kembali. Tiba-tiba ponselku berdering. Setelah kulihat, ternyata dari Alif. Alif menyuruhku untuk mengingatkan teman-teman yang lain untuk bersiap-siap dan berberes-beres, karena sudah hampir jam sebelas siang. Terutama bagi yang belum mandi, untuk segera memandikan diri mereka masing-masing. Setelah mendapat telepon dari Alif tersebut, aku pun berkata kepada mereka para pria. Tetapi sepertinya mereka tidak terlalu mendengarkan lantaran rasa malas bergerak masih menyergapi mereka. Akhirnya kuputuskan aku lah yang mandi terlebih dahulu.

Setelah selesai mandi, kulihat Alif dan Dwi sudah datang. Berita agak sedikit buruk kami terima. Perjalanan kali ini menuju Surabaya tetap menggunakan kereta bisnis Malang Ekspres, namun kami tidak mendapatkan nomor kursi satu pun. Tiket duduk sudah habis terjual. Karena ternyata orang-orang sudah berduyun-duyun datang ke stasiun sejak pagi hari tadi. Agak sedikit kecewa mendengarnya, namun bagiku tidak terlalu bermasalah. Karena perjalanan Malang-Surabaya bukanlah perjalanan yang jauh seperti Surabaya-Jogja ataupun sebaliknya. Jadi, kami harus berdiri selama di kereta menuju ke Surabaya.

Selesai berpakaian, aku mencari Mak guna meminjam setrika untuk menyetrika kerudung yang akan kukenakan. Namun yang kudapat adalah penawaran Mak sendiri untuk menyetrikakan. Berulang kali kutolak, namun tidak berhasil. Mak bersikeras untuk menyetrikakan kerudungku, yang padahal sesungguhnya aku pun dapat melakukannya sendiri. Aku menyerah. Kuberikan sehelai kerudung putihku kepada beliau.

Terlihat teman-teman sedang asyik menikmati sarapan pagi hari ini. Kali ini kami sarapan soto. Di meja makan ada Alfa dan juga Dwi. Aku pun segera bergabung bersama mereka berdua. Sebagian di antara kami sudah menyelesaikan sarapannya masing-masing dan sedang berkemas. Ada yang mandi, mengantri untuk mandi, dan tentunya berberes barang. Sambil makan, kami pun saling berbincang. Tiba-tiba si Mak sudah datang kembali dengan membawakan kerudungku yang sudah licin hasil setrika beliau. Aku pun beranjak sejenak dari meja makan dan menerima kerudung tersebut, tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak kepada si Mak. Setelah meletakkan kerudungku ke dalam kamar, aku pun kembali melanjutkan sarapan (mungkin lebih tepatnya brunch, karena sudah melebihi jam makan pagi) kembali bersama Alfa dan Dwi.

***

Semua barang sudah siap bawa. Kembali mengecek di setiap sudut kamar, kalau-kalau masih ada barang yang terselip dan lupa dimasukkan ke dalam tas. Setelah yakin benar-benar telah siap, aku mulai mengenakan tas ranselku itu. Kurapikan sejenak kamar yang baru saja aku gunakan itu. Yosh!

Jam sudah menunjukkan pukul 12.57 WIB. Kami berenam sudah siap berangkat menuju Surabaya. Mengapa berenam? Kali ini Eyang Tyo tidak ikut kembali menuju Bandung. Dia harus tetap berada di Malang dikarenakan adanya acara keluarga. Kalau aku tidak salah mendengar, akan ada saudaranya yang akan melangsungkan “sumpah dokter”. Kami pun segera pamit kepada orang-orang rumah Tyo. Tetapi sayangnya saat sedang akan pamit kepada Mak, beliau sedang keluar, tidak ada di kamarnya. Kami pun hanya dapat menitipkan salam pamit untuk beliau.

Kami berangkat diantar oleh Iyen dan Tyo. Agak sedikit berdesak-desakan karena barang-barang bawaan kami yang berukuran besar. Namun, desak-desakan kali ini tidak separah desak-desakan saat menaiki jeep milik Amri. Bismillahirrohmanirrohim… Berangkatlah kami menuju Stasiun Malang.

***

Sesampainya di Stasiun Malang, mobil yang kami naiki tidak dapat langsung menghentikan mesinnya dan memarkirkan dirinya. Di depan kendaraan kami terdapat sebuah kendaraan yang sedang menurunkan penumpang-penumpang yang lumayan banyak juga. Sedikit tidak sabar, tetapi keadaanlah yang memaksa agar kami tetap untuk bersabar. Setelah kendaraan di depan menurunkan penumpang-penumpangnya, mobil ini maju dan bersiap menghentikan mesinnya. Kami segera turun dari mobil. Waktunya sudah mepet. Segeralah kami masuk ke dalam stasiun.

Seperti dugaanku sebelumnya, kereta sudah menunggu. Kami segera mencari celah dalam gerbong agar termuati oleh kami berenam. Pilihan pun jatuh pada gerbong yang pertama, kedua dari gerbong lokomatif. Kembali kumelihat ke arah layar ponsel, jam sudah menunjukkan pukul 13.17 WIB. Menurut jadwal, kereta seharusnya berangkat pukul 13.15 WIB. Dan sesaat setelah kumelihat ponselku, terdengar suara peluit pertanda kereta akan berangkat. Segera mungkin kami pun menaiki kereta. Tidak lupa, sebelum berangkat, kami berpamitan kepada Iyen dan juga Eyang Tyo. Entah perasaan apa yang aku rasakan saat itu. Sedih. Sedih karena kegiatan bersama berakhir hari ini. Eyang Tyo seperti biasa, mengambilkan gambar untuk kami berenam dari arah luar kereta. Saat kereta sudah mulai bergerak, berulang kali kuberteriak nama mereka berdua dan melambai-lambaikan kedua tanganku ke arah mereka berdua. Semakin lama semakin jauh, dan kami telah meninggalkan Stasiun Malang.

Malang oh Malang… Kau telah memberikan aku coretan membahagiakan di musim liburan kali ini. Kau telah mempererat kembali tali persaudaraan di antara kami semua. Sampai berjumpa lagi, Kota Malang

***

Gerbong ini juga terdapat beberapa penumpang yang juga hanya mendapatkan tiket berdiri. Aku mendapatkan bagian bediri paling dalam di antara kami berenam. Duduk pun beralaskan tas ransel kami masing-masing. Ku melihat ke arah luar. Matahari bersinar dengan terangnya. Panas. Di bagian pintu gerbong, ada Dwi yang sedang merokok dan juga ada Adi maupun Alif yang berdiri terdiam memandangi pemandangan bergerak di luar kereta. Pandu dan Alfa ikut duduk bersamaku, walaupun sesekali Pandu berdiri dan ikut bergabung merasakan angin di dekat pintu gerbong tersebut. Duduk bergantian.

Tadi sesaat setelah kerata berangkat, Pandu menyuruh kami berenam untuk mengirimkan sebuah SMS ucapan terima kasih kepada Tyo, Airen, dan Raga. Kami berenam pun sibuk mengetik SMS kami masing-masing. Dan pada waktu yang hampir bersamaan, kami mengirimkan SMS-SMS tersebut. Menyenangkan sekali. Balasan pun kami terima dari Eyang Tyo. SMS yang kami terima pun berisikan pesan yang sama, yang menanyakan sebuah celana jins berwarna hitam yang tertinggal di rumahnya. Usut punya usut, ternyata celana tersebut adalah milik Pandu.

Selama perjalanan, aku hanya bisa terdiam, menikmati angin yang berhembus, sesekali melihat ke arah ponsel. Alfa yang sedari tadi terduduk diam di sampingku, akhirnya angkat bicara dan mengajakku berbincang. Dari kejauhan, Pandu mengambil gambar kami menggunakan kamera milikku. Adi terlihat serius membaca sebuah komik. Dwi tetap tenang di dekat pintu, dengan sebatang rokok di tangannya. Alif berdiri dan sesekali meminjam kameraku untuk mengambil gambar juga.

***

Bertahan dengan panasnya matahari siang itu membuatku semakin merasa kepanasan. Sesekali kuusap dan menyentuh wajahku. Kekhawatiran yang seperti biasanya, aku takut sekali jika wajahku menjadi berminyak karena derasnya keringat yang mengalir di wajahku. Berulang kali kulihat Dwi dengan yang lainnya bergantian posisi untuk berdiri dekat pintu gerbong kereta. Siang itu cerah yang berarti sang matahari memang bersinar dengan terangnya.

Setelah bergulat dengan suasana panasnya siang hari ini, akhirnya tibalah kami di Stasiun Gubeng Surabaya. Kereta perlahan mulai memperlambat laju kecepatannya. Terdengar deritan rem akibat gesekan roda kereta dengan bantalan rel kereta. Perlahan namun pasti, kereta pun berhenti. Dengan berhati-hati sekali kami berenam turun dari kereta. Kembali kumelihat ke arah layar ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul 15.28 WIB. Ternyata perjalanan Malang-Surabaya membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Pantas, tidak terlalu terasa perjalanannya, walaupun rasa panas berulang kali menyergapi raga ini.

Sesampainya di Stasiun Gubeng, kami menuju ke arah pintu keluar stasiun ini. Aku mencari mesin ATM BNI. Aku harus segera mengambil beberapa lembar uang yang harus segera diserahkan kepada Ijot untuk mengganti biaya tiket kereta menuju ke Bandung. Sebelum kami tiba di Surabaya, Alif sudah meminta tolong kepada Ijot untuk membelikan kami berlima tiket kereta eksekutif untuk menuju kembali ke Bandung. Kali ini kami harus kembali berlima, karena Alfa tidak akan mengikuti kami menuju Kota Bandung. Sesampainya di depan ruang ATM, sebagian di antara kami mengantri. Setelah giliran sudah sampai kepadaku, aku segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Seketika itu juga, udara segar menyelimutiku. Udara segar yang berasal dari Air Conditioner dalam ruang ATM. Dengan sigap tanganku menggunakan mesin ATM ini. Setelah berhasil mengambil beberapa lembar uang, aku segera keluar dari ruangan ini.

Aku meminta izin kepada yang lain untuk pergi ke toilet untuk menuntaskan urusan per-toilet-an. Kebetulan di dekat mesin ATM BNI ini terdapat sebuah toilet yang letaknya memang tidak jauh. Sekembalinya dari toilet, terlihat tas-tas ransel milik kami sudah tertata rapi di dekat mesin ATM. Sekarang yang kami lakukan adalah menunggu datangnya Ijot. Kami hanya duduk-duduk di lantai depan ATM. Beberapa saat kemudian, Alfa memohon izin untuk kembali ke kosannya. Agak disayangkan, karena keberadaan kami di Surabaya ini tinggal beberapa jam lagi. Kupikir dia akan turut mengantarkan keberangkatan kami nanti pukul enam sore. Dia pun bersalam-salaman kepada kami semua. Mungkin Alfa sedang ada urusan selanjutnya yang harus dia selesaikan segera.

Setelah Alfa pergi, kami pun kembali duduk-duduk terdiam, melihat kondisi di lingkungan sekitar stasiun ini. Terlihat si Alif sedang bersusah payah mencari sebuah titik sudut untuk meletakkan kameranya untuk mengambil gambar kami berlima. Akhirnya, dia pun menemukan titik tersebut. Dengan menggunakan timer yang ada pada kamera, kami berlima ini dapat masuk dalam foto semuanya tanpa terkecuali. Senang sekali masih dapat tersenyum di tengah-tengah rasa lelah menunggu ini. Kemudian kuputuskan untuk berkeliling mencari makanan kecil dan membeli sekedar minuman ringan. Aku pergi membeli ditemani oleh Alif. Dia juga sedang ingin mencari batu baterai untuk menggantikan baterai yang sudah habis pada kameranya.

Duduk-Duduk di Depan ATM Sembari Menunggu Ijot

Duduk-Duduk di Depan ATM Sembari Menunggu Ijot

 

Hari pun beranjak semakin sore, kami pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam stasiun dengan membayar karcis peron. Kami akan menunggu Ijot di dalam sambil mencari makanan berat yang dapat mengganjal perut kami. Pada mulanya, kami mencari Hoka-Hoka Bento yang biasanya ada dan terdapat di stasiun kereta di Bandung maupun Jakarta. Tetapi ternyata tidak ada. Mencari kantin-kantin kecil pun tidak dapat kami temui. Akhirnya setelah berjalan sedikit berkeliling untuk mencari, kami pun memutuskan untuk menunggu dan makan di Kindy’s. Masuklah kami ke dalam Kindy’s ini dan segera mengambil posisi duduk. Aku pun segera ke arah counter untuk memesan. Dan pada akhirnya, semuanya menitip kepadaku untuk dipesankan juga. Aku pun menyanggupinya. Tetapi sayangnya, ayam-ayam yang tersedia hanya ada sedikit. Rupanya mereka belum menggoreng beberapa ayam lagi. Mereka menawarkan untuk dibuatkan lagi beberapa, namun harus menunggu untuk beberapa saat. Tetapi, para pria ini sudah tidak sabar, maka dibelilah semua ayam yang tersisa. Segera kubayar kepada kasir. Bagaikan orang yang benar-benar kelaparan, mereka semua terlihat makan dengan lahapnya.

Setelah selesai dengan hidangan milikku, aku pun pergi ke toilet untuk berganti pakaian, dan sekedar bebersih diri. Tidak lupa aku juga membeli sebuah minuman di koperasi dekat toilet. Waktu sudah menunjukkan waktu Maghrib. Bergiliranlah para pria menunaikan ibadah Sholat Maghrib. Aku segera kembali ke Kindy’s. Sesampainya di dalam Kindy’s, sudah ada Ijot yang ternyata sudah datang beberapa saat ketika ku menuju toilet. Aku pun bersalaman dengannya. Melihat Ijot yang telah duduk dalam Kindy’s ini dan tanpa membayar karcis peron karena masuk melewati pintu depan Kindy’s ini, kami pun menyesal telah membayar karcis-karcis tersebut. Kali ini Ijot membelikan kami gorengan-gorengan dan beberapa bungkus es tebu.

Aku menerima sebuah kertas bersampulkan tulisan “pegadaian”. Kubuka, dan ternyata berisi tiket kereta kami. Aku bertanya kepada Ijot tetntang proses mendapatkan tiket kereta ini. Ijot pun bercerita kepada kami bagaimana proses pembelian tiket kereta tersebut. Berawal dari pemesanan via telepon, yang kemudian sang petugas yang menerima telepon tersebut mengakui bahwa pernah bekerja sama dengan orang tua Ijot. Beliau pun akhirnya bersedia membantu Ijot untuk mengurus masalah tiket-tiket kereta tersebut, yang akhirnya berjalan dengan lancar. Benar-benar saat di Surabaya ini, Ijot-lah yang paling berperan dalam urusan akomodasi. Dia benar-benar bersedia menyempatkan waktunya hanya untuk bertemu dengan kami, saudara-saudarinya yang datang dari Bandung ini. Kembali aku mengucapkan terima kasih banyak kepada Ijot. Terima kasih, Ijot… 😀

Meja di depanku sudah berantakan penuh berisi piring-piring kotor juga tulang-belulang ayam sisa makanan kami semua. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 18.00 WIB. Berkemaslah kami dan segera menuju jalur di mana kereta kami akan menunggu. Sudah keluar dari Kindy’s, masih belum nampak kereta yang akan kami naiki. Sejenak aku iseng memasuki ruang tunggu VIP yang berada di dekat kursi-kursi tunggu. Kemudian aku bersama Adi juga Alif, berpose bersama Ijot.

Photo Session di Stasiun Gubeng Surabaya sebelum Berangkat ke Bandung

Photo Session di Stasiun Gubeng Surabaya sebelum Berangkat ke Bandung

 

Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara seorang pria yang mengumumkan bahwa kereta Turangga akan segera memasuki jalurnya. Kami pun bersemangat kembali menuju jalur tersebut. Di dekat jalur tersebut, ternyata ada beliau yang dimaksudkan oleh Ijot yang telah membantu dalam proses pembelian tiket-tiket kereta kami. Berjabat tanganlah kami semua kepada beliau. Tidak lama kemudian, terdengar pengumuman kembali bahwa kereta kami akan segera berangkat. Kami pun berjabat tangan dengan Ijot. Berulang kali mengucapkan kata,

Mpe ketemu lagi ya Jot! Makasih banyak ya Jot!

Naiklah kami berlima ke dalam kereta. Benar-benar ruangan yang mewah. Cocok sekali bagi kami yang telah bersusah-susah berkeringat selama perjalanan ini. Akhirnya kereta eksekutif juga kereta yang kami naiki. Setelah menemukan kursi-kursi kami, kami pun segera melihat ke arah keluar jendela kereta. Masih terdapat Ijot di sana. Aku turut menghampiri kaca jendela dan melambai-lambaikan tangan untuknya. Ijot yang sedari tadi mengawasi kami dari arah luar juga turut membalas lambaian tangan kami. Tidak lama kemudian, kereta ini mulai bergerak dan mulai berangkat. Bayangan di luar sana pun mulai bergerak. Aku berulang kali terus melambaikan tangan kepada Ijot di luar sana, hingga bayangannya sudah tidak terlihat lagi. Selamat tinggal Surabaya… Selamat tinggal Ijot… Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan.. 😀

(Entah mengapa, saat penulisan bagian ending perpisahan di Surabaya ini, air mataku tiba-tiba menetes tanpa kusadari. Rasanya sedih namun juga bahagia sekali. Perasaanku bercampur aduk menjadi satu, antara senang, bahagia, sedih, dan juga terharu.)

***

Bismillahi tawakkaltu’alalloh… Lakhaula wa laquwwata illabillah…

Seketika duduk di bangku kami masing-masing, kami pun berkomentar beraneka macam. Inilah kereta eksekutif. Bukan lagi kereta bisnis. Dan tentunya juga bukan lagi kereta ekonomi! Tidak ada lagi yang duduk-duduk berjajar di lantai kereta, tidak ada lagi orang-orang yang berlalu-lalang menjajakan dagangannya, tidak ada lagi teriakan-teriakan mengganggu dari para penjaja tersebut, tidak ada lagi rasa panas yang menyiksa, tidak ada lagi duduk bertiga dalam satu bangku, tidak ada lagi kursi yang terasa keras mengenai (maaf) pantat kami semua, dan paling penting dan utama bagiku, tidak ada lagi asap-asap bertebaran di sana-sini! 😀

Berpose Sejenak di Dalam Kereta Eksekutif

Berpose Sejenak di Dalam Kereta Eksekutif

 

Dwi yang sedang Asik Tidur di Atas 2 Bangku

Dwi yang sedang Asik Tidur di Atas 2 Bangku

 

Yang kami lihat sekarang adalah sebuah kenyamanan yang kami terima di penghujung acara perjalanan dan petualangan kami ini. Kursi empuk yang tentunya sangat nyaman untuk kami duduki. Air Conditioner yang dingin telah melupakan kesan panas yang telah kami rasakan pada kereta-kereta sebelumnya. Jauh dari kesan tidak nyaman. Aku duduk bersebelahan dengan Pandu. Di hadapanku duduklah Adi dan bersebelahan dengan Alif. Sementara Dwi masih terlihat duduk sendiri di seberang Pandu. Penumpang di sebelahnya nampaknya bukan berasal dari Surabaya, terlihat bangku tersebut tetap kosong saat telah meninggalkan Kota Surabaya.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.25 WIB. Terlihat para pramugari dan pramugara mulai bertugas menyampaikan makan malam kepada para penumpang. Wah, wah… Padahal baru saja tadi aku melahap sepotong ayam plus nasi di Kindy’s. Perutku masih merasa kenyang akibat makanan yang belum sepenuhnya terolah. Tapi beruntungnya dan seperti biasanya, menu makanan yang diberikan sebagian dari pelayanan, tidaklah dalam porsi yang cukup besar. Dapat dikatan, hanya dalam beberapa suapan sendok nasi, makanan sudah habis.

Saat sang pramugari sampai pada bangku kami berempat, aku, Pandu, Adi, dan Alif, dia mulai membagikan piring-piring plastik kepada kami, yang sudah berisi lauk-pauk, salah satu di antaranya adalah ayam goreng. Setelah diberikan, sang pramugari mulai membagikan beberapa nasi kepada kami. Namun sayangnya, terlihat, nasi dalam wadah sudah mulai menipis yang berarti akan habis. Dan pada saat akan memberikan beberapa nasi kepada Dwi, nasi yang tersedia benar-benar sudah habis. Sang pramugari pun meminta izin kepada Dwi untuk mengambil persediaan nasi ke gerbong kereta makan, dan akan kembali beberapa saat lagi. Kami pun menunggunya.

Tidak lama kemudian, sang pramugari kembali dengan membawa dua wadah berisikan nasi penuh. Dan Alif pun melihat ada nasi goreng di antara salah satu wadah-wadah tersebut. Dia pun meminta kepada sang pramugari untuk menukar menu makanannya. Dengan senyuman manis dari sang pramugari, dia pun mengangguk dan menjelaskan kepada Alif, kalau ingin nasi goreng, berarti lauknya harus ditukar, tidak berpasangan dengan lauk ayam goreng. Alif pun mengangguk saja. Namun, ketika sang pramugari akan segera membagikan nasi kepada Dwi, tiba-tiba dia berhenti. Dwi meminta dan berbicara kepada sang pramugari, kalau Dwi tetap ingin mendapatkan lauk ayam gorengnya, namun nasinya bukan nasi putih, melainkan nasi goreng. Melihat adegan perbincangan juga perdebatan antara Dwi dengan sang pramugari tersebut, kami pun tertawa.

Tapi saya juga mau ayamnya,

😀

Setelah puas tertawa, segeralah kami menyantap makan malam kami. Yah… lumayan juga. Cukup membuat perut kenyang kembali. Alhamdulillah…

Makan malam kami pun habis. Adi beranjak dari bangkunya dan menuju duduk ke samping Dwi. Kali ini jam masih terlalu muda, menunjukkan jarum-jarumnya pada angka 7 dan 5. Ya, masih pukul 19.05 WIB. Kali ini mulai terlihat para pramugara mulai menjajakan beberapa makanan dan minuman. Tentunya makanan dan minuman yang akan ditawarkan pada para penumpang ini harganya cukup tinggi, harga standar food court dalam mall. Datanglah para pramugara ke bangku kami. Dia menawarkan minuman “wedang ronde” kepada kami. Tetapi aku, Pandu, dan Alif menolak, karena memang tidak berminat untuk membeli. Sebaliknya, Adi dan Dwi terima-terima saja minuman yang ditawarkan oleh kedua pramugara tersebut. Kami bertiga pun melihat ke arahnya. Saat pramugara-pramugara tersebut akan pergi, Pandu pun memberitahu kepada Dwi dan Adi, kalau minuman tersebut tidaklah gratis, melainkan harus membayar di akhir nanti. Setelah mendengar penjelasan dari Pandu, bagaikan ada yang mengkomando, Dwi dan Adi segera mengembalikan gelas-gelas mereka kepada kedua pramugara tersebut.

Eh, nggak jadi Mas,

Melihat hal tersebut, kembalilah kami tertawa terbahak bersama-sama. 😀

Malam pun semakin lama semakin larut. Terlihat Dwi dengan santainya merebahkan diri di atas dua bangkunya dan memainkan blackberry-nya, karena memang bangku yang terisi barulah miliknya. Setelah nampaknya sudah cukup jauh perjalanan kami, tiba-tiba kereta terhenti, tetapi aku tidak tahu nama daerah ini. Datanglah seorang pria ke arah Dwi. Ternyata beliau adalah seorang penumpang yang mendapat jatah kursi di sebelah Dwi. Mulailah Dwi duduk berdua, tidak sendirian lagi.

Semakin lama, mata ini semakin berat dan segera ingin segera tidur dan beristirahat. Aku pun mulai sayup-sayup memejamkan kedua mata ini. Adi yang sudah sejak tadi kembali ke bangkunya sendiri, mulai menutupi kakinya dengan selimut yang tadi dibagikan oleh para petugas. Langkah ini juga diikuti oleh Pandu dan Alif. Setelah itu, kedua mata kami masing-masing mulai terpejam. Namun sebelum sepenuhnya terlelap, kami berencana untuk turun di Jogja untuk sekedar membeli oleh-oleh untuk teman-teman kami di Bandung.

***

6 Juli 2009

Selamat pagi…!!!

Ohayou gozaimasu…!!!

Hoahemmm… Ah, nyenyak sekali tidurku. Benar-benar kereta eksekutif yang benar-benar “eksekutif”. Sampai-sampai perjalanan yang kami tempuh saja tidak terasa. Tiba-tiba saat membuka mata, kereta sudah masuk menuju wilayah Bandung kembali. Jam telah menunjukkan pukul 06.55 WIB. Wah, benar-benar tidak terasa ya? Saking lelap dan nyamannya kami tertidur dengan pulas.

Tadi saat sekitar pukul 05.00 WIB, aku sempat terbangun tanpa sadar. Terlihat para petugas mulai menarik selimut-selimut yang membungkus badan para penumpang, termasuk selimut-selimut yang kami berlima pakai. Aku pun sempat sarapan. Entah mengapa perutku terasa lapar berat. (pantas… aku ini cepat sekali bertambah berat badannya..) Saat menikmati hidangan makan pagi ini, keempat pria terlihat masih belum sadarkan diri. Mereka masih terbuai di alam mimpi mereka masing-masing.

Kereta melaju dan terus melaju. Matahari juga sudah semakin menampakkan wajahnya. Sampailah kami di Stasiun Bandung pada pukul 07.34 WIB. Wuaaa… sampai juga di Bandung lagi…

Setelah turun dari kereta, aku tidak langsung pulang menuju kosan, melainkan mampir sejenak ke Waspada untuk sekedar beristirahat atau cuci muka. Kami berlima akhirnya berangkat dengan menggunakan jasa taksi Blue Bird. Agak berdempet-dempetan, namun tidak separah “dempet-dempetan” yang sebelum-sebelumnya. Sesampainya di Waspada, aku, Pandu, dan Alif saja yang turun dari taksi. Dwi dan Adi tidak ikut turun untuk sekedar mampir. Dwi harus memulai kuliah semester pendeknya siang ini. Dia ingin tidur sejenak sebelum siang nanti. Berbeda dengan Adi yang memang sudah ingin segera sampai di rumahnya. Kami pun saling melambaikan tangan.

Masuklah aku ke dalam kosan ini. Aku naik ke atas dan mulai berurusan dengan masalah per-kamar mandi-an. Terlihat Wahyu yang sedang bersiap-siap akan berangkat kuliah. Tetapi aku tidak melihat sang tuan rumah, Amri, maupun sang tamu, Tommy. Setelah cukup mengistirahatkan kaki dan badan, aku pun ingin segera pulang dan tiba di kamarku sendiri. Berpamitanlah aku kepada orang-orang yang ada. Aku pun pulang di antar dengan motor oleh Pandu.

Hwah…

Selesailah perjalanan ini. Selesailah petualangan kami ini. Selesailah sudah mimpi kami. Rasanya enam hari yang baru saja kami lewati ini cepat sekali. Membawa kesan yang begitu berharga bagiku dan juga yang lainnya. Petualangan yang baru saja aku lewati bersama dengan saudara-saudaraku ini tidak akan pernah aku lupakan. Aku senang karena tali persaudaraan kami tidak terputus begitu saja ketika kami menerima medali wisuda dahulu (sayangnya aku tidak ikut wisuda). Melalui kegiatan ini pulalah yang telah mempererat tali silaturahmi, tali persaudaraan, dan juga persahabatan kami kembali. Aku benar-benar bahagia.

Berharap untuk kegiatan-kegiatan semacam ini di tahun-tahun ke depannya semakin banyak diikuti oleh saudara-saudaraku yang lain. Semakin ramai, kegiatan pun akan semakin terasa mengasyikkan.

:’)

 

***