Culinary, Family & Friends, Life, Public Transportation, Traveling

Reuni Akbar

Sabtu, 4 November 2017

 

Aku sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai di malam harinya aku tidur tidak tenang. Rasanya seperti  terkena sindrom “akan berlibur ke tempat yang seru” sehingga membuat hati dan saluran cernaku sedikit berbunga-bunga hanya karena menantikan datangnya hari itu.

Ya, Sabtu pagi itu aku akan pergi ke Bandung, ke kota di mana semua mimpi dan harapan dimulai. Hari itu aku datang ke acara Reuni Akbar yang diselenggarakan oleh sekolah di mana aku berkuliah dulu. Karena kegiatannya bertajuk “Reuni Akbar”, maka acara tersebut banyak dihadiri oleh para alumni senior. Tidak ketinggalan pula aku dan beberapa teman semasa kuliah juga turut meramaikan acara tersebut. Kegiatan Reuni Akbar Sabtu pagi itu selain sebagai ajang silaturahmi antar angkatan, juga sebagai ajang peringatan ulang tahun jurusan kuliahku yang ke-55 tahun dengan dibungkus sebagai Acara Lustrum yang tahun ini sudah menginjak Lustrum Ke-11

Aku berangkat menuju Kota Bandung dengan menggunakan kereta api yang berangkat dari Stasiun Gambir dengan jadwal keberangkatan pukul 5 pagi. Bersama dengan suamiku pagi hari itu, kami berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Namun aku sendiri, sudah mulai bersiap-siap sejak pukul 2 pagi, ya, saking bersemangatnya. Untunglah kami tidak terlambat dan bisa melaksanakan Sholat Subuh terlebih dahulu di stasiun sekitar pukul 04.30 WIB.

Pemandangan dari dalam KA Argo Parahyangan (Dokumentasi Pribadi)

 

Kegiatan Reuni Akbar dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berlangsung selama dua hari berturut-turut, hari Sabtu dan hari Minggu. Sangat cocok bagi para alumni yang turut serta membawa keluarganya masing-masing untuk sekalian berlibur weekend dengan menikmati suasana indahnya Kota Bandung.

Acara utama dalam kegiatan Reuni Akbar tersebut adalah kegiatan kongres pemilu ikatan alumni, yaitu di mana dalam momen tersebut dilakukan pemilihan ketua alumni yang baru untuk periode kepengurusan tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Acara kongres  diselenggarakan pada siang hari setelah istirahat makan siang. Namun sebelumnya di pagi harinya, kami disuguhi sebuah kuliah umum bertajuk acara talkshow, di mana para pembicara yang dihadirkan adalah dari para alumni yang saat ini sudah dapat dikatakan sukses yang tentu saja berprestasi dan sangat menginspirasi. Ditambah, talkshow tersebut dipandu langsung oleh seorang moderator ternama tanah air bernama Mbak Ira. Ya, siapa sih yang tidak kenal Beliau? Jika aku harus menggambarkan suasana hari Sabtu itu, rasanya sangat-sangat-sangat luar biasa menyenangkan, terutama pada sesi acara talkshow di pagi harinya. Setelah mendengarkan pemaparan-pemaparan Beliau-Beliau, rasanya seperti mendapatkan  motivasi dan penyemangat baru.

 

– – – – –

 

Walau acara sudah dimulai sejak pukul 8 pagi, aku baru sampai di tempat acara sekitar pukul 9 pagi dan saat itu masih sesi sambutan dari ketua panitia dan beberapa petinggi dari sekolah dan dari pihak ikatan alumni. Beruntunglah aku tidak terlambat pada sesi kuliah umum yang sudah dinanti-nantikan sejak hari-hari sebelumnya.

Sampailah pada sesi di mana Mbak Ira muncul ke permukaan dan mulai membuka sesi talkshow dengan gayanya yang khas. Para peserta yang berada di dalam ruangan pun riuh senang dan semangat saat menyambut kehadiran moderator ternama itu. Aku pun tak henti-hentinya mengangkatkan kepala untuk sekedar mengikuti arah berjalannya Mbak Ira menuju panggung. Satu-persatu nama pembicara pun disebutkan Mbak Ira agar Beliau-Beliau tersebut segera naik ke atas panggung dan menduduki kursi yang telah disediakan. Tepuk tangan riuh peserta talkshow pun tidak henti-hentinya bertabuh di setiap Mbak Ira mengeluarkan jokes cerdas saat memandu acara bersama dengan ke-5 pembicara hebat di atas panggung. Ya, aku sangat menikmatinya. Seru!

 

Mbak Ira Memandu Acara Talkshow (Dokumentasi Pribadi)

 

Ada Pak Joni sebagai rektor Kampus I, ada Bu Penny sebagai kepala Badan P, ada Pak Elia sebagai Direktur PT P, ada Pak Setiawan yang saat ini menjabat sebagai Kepala SDM suatu kementerian di mana sebelumnya selama bertahun-tahun Beliau berkarya dan mengabdi di Provinsi Jawa Barat, kemudian ada juga Pak Tjatur yang saat ini bertugas sebagai anggota dewan di Jakarta. Masing-masing dari Beliau pun menyampaikan paparan singkat mengenai pengalaman-pengalaman hidup sebagai alumni, serta berbagi bagaimana mengelola tekad dan semangat berjuang demi cita-cita di dalam menggapai masa depan agar dapat berguna dan bermanfaat hidup, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Aku menyaksikan dengan antusias dan penuh seksama, walau sesekali bercengkarama dengan kawan-kawanku di bangku penonton. Tidak ketinggalan pula kami terkadang memberikan komentar-komentar positif kepada Beliau-Beliau yang ada di panggung.

 

– – – – –

 

Usai acara di siang hari itu, aku bersama dengan kawan-kawanku memutuskan untuk pergi ke suatu café yang hits di dekat kampus kami. Kami pun saling melepas rindu. Rasanya benar-benar sangat menyenangkan. Namun bagiku, momen-momen reuni bersama dengan kawan-kawan kuliahku ini malah  memunculkan sedikit rasa sesal jika mengingat-ingat masa kuliah dulu. Aku akui, dulu semasa kuliah aku tidak terlalu dekat dengan banyak kawan dalam satu jurusan, jarang sekali ikut berkumpul bersama saat sedang mengerjakan tugas, atau jarang sekali berkumpul untuk sekedar melepas penat di sekretariat himpunan mahasiswa jurusan kami. Padahal di situlah momen-momen bahagia bersama kami yang kini akan selalu terkenang dalam memori kami.

Bukan, aku bukan tipe anti-sosial dan sukar bergaul, bukan. Aku masih dapat berteman dengan beberapa kawan dalam lingkup satu jurusanku dan masih dapat berkumpul bersama seperti untuk mengerjakan tugas atau belajar bersama. Sayangnya, dulu tidak sering melewatkan waktu bersama mereka di luar urusan perkuliahan. Ya, disitulah letak rasa sesal yang terkadang masih menghantui hingga kini.

Walau aku jarang bermain bersama dengan teman-temanku di jurusan, aku aktif di beberapa unit kegiatan mahasiwa atau organisasi lain di kampusku, di mana unit-unit kegiatan tersebut tidak ada satupun yang berkaitan dengan hal-hal berbau jurusan kuliahku. Aku saat itu merasa lebih bebas dan lebih dapat mengekspresikan diri pada komunitas-komunitas di luar jurusanku tersebut.

Dulu aku sering merasa rendah diri di hadapan kawan-kawanku di jurusan. Bagaimana tidak? Aku ini bukan termasuk mahasiswi pintar seperti teman-temanku yang lain. Ibarat kata, aku ini sering mengulang mata kuliah di semester berikutnya atau di tahun berikutnya dari mata kuliah tersebut diselenggarakan. Nilai akhir pun terkadang pas-pasan, ditambah saat mengerjakan skripsi, lamanya minta ampun. Entah, aku pun  bingung apa yang sebenarnya terjadi pada diriku di masa lalu. Beberapa kali setiap mengingat kejadian-kejadian tersebut rasanya menyesal dan rasanya ingin kembali mengulang masa-masa kuliah. Namun beruntungnya aku, aku memiliki teman-teman yang sangat baik dan tidak membeda-bedakan status dan kedudukan diantara kami. Mudah-mudahan rasa saling menguatkan seperti ini akan terus terjaga hingga nanti di masa tua kami. Amin.

 

– – – – –

Suasana Senja Cihampelas di Kala Mendung (Dokumentasi Pribadi)

 

Acara reuni memang diselenggarakan 2 hari, namun aku dan teman-temanku hanya mengikuti prosesi acara di hari Sabtu-nya saja. Beberapa di antara kami juga sudah ada yang bertolak kembali ke kota masing-masing di malam minggunya.

Namun demikian, hari Sabtu kala itu benar-benar berkesan untukku. Rasa semangat untuk kembali menapaki kehidupan beserta tantangan-tantangannya kembali muncul dan semakin bergelora. Rasa rendah diri bertahun-tahun yang aku alami pun semakin terasa berkurang sejak Sabtu itu. Rasanya seperti kembali hidup. \(^-^)/

Dan berikut ini adalah beberapa hal serta hikmah yang dapat aku ambil dari pertemuan hari Sabtu kemarin itu:

  1. Kerja keras pasti membuahkan hasil, tidak ada yang namanya keberuntungan yang hakiki tanpa disertai dengan usaha dan kerja keras yang gigih. Usaha tidak akan menghianati hasil.
  2. Jangan lupa untuk senantiasa berdoa di setiap usaha yang sedang dijalankan, tanpa doa, usaha akan menjadi sia-sia. Karena sejatinya, segala nikmat yang kita dapat di dunia ini berasal dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
  3. Selalu bersyukur dengan apa-apa yang sudah didapat dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang sudah Tuhan Berikan hingga detik ini. Pada intinya, semakin pandai bersyukur, maka semakin bertambah nikmat yang akan didatangkan Tuhan kepada kita. Terkadang juga, malah datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
  4. Jangan pernah meremehkan orang yang selalu bekerja jujur, selain usaha dan kerja keras yang selalu ia lakukan, karena kita tidak akan pernah tahu keberuntungan seperti apa yang menantinya di depan.
  5. Bekerjalah dengan niat tulus ikhlas dan jangan selalu mengejar materi. Karena yang terpenting adalah kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperkaya diri dengan berbagai pengalaman kerja, agar dapat mengambil berbagai manfaat dari pengalaman-pengalaman tersebut bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

– – – – –

 

Jadi, tunggu apalagi. Yuk mari semangat! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s