Uncategorized

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

Jika kamu percaya kepada Tuhan, maka percayalah dengan penuh keyakinan. Jangan bebani pikiranmu dari perkataan-perkataan (bahkan nasehat-nasehat) orang lain yang cenderung menyakiti hatimu. Biarkan argumen mereka berlalu. Percaya saja sepenuhnya dengan apa-apa saja yang kamu yakini untuk dijalani. Trust me, it works! ūüôā

Diary Renjana

Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan cantik milik ¬†Mbak Dian¬† dan saat itu juga entah mengapa hati saya semakin plong se-plong-plongnya. Tanpa beban! Seolah seperti whuzzz‚Ķ diterpa angin dan hilang begitu saja. Haha! Terima kasih untuk teman-teman facebook yang sudah men-share link tersebut yang pada akhirnya bisa muncul juga di halaman news feed saya. Terima kasih ya! ūüėÄ

Tulisan Mbak Dian tersebut benar-benar mencerahkan pikiran dan membuka mata saya semakin lebar. Terutama saat membaca ayat-ayat Allah yang Mbak Dian cantumkan juga di dalam tulisan Beliau, di mana membuat hati semakin tenang dan membuat saya semakin enjoy dalam menjalani kehidupan. Mengapa saya? Karena diantara saya dan suami, hanya saya saja yang terlalu banyak berpikir tidak-tidak dan khawatir ini-itu yang padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Haha. ūüėÄ

Syukur alhamdulillah memang, saya memiliki pasangan hidup yang pembawaannya selalu bisa tenang dalam situasi dan kondisi apapun, sekalipun itu dalam kondisi sepanik-paniknya. Itulah…

View original post 2,596 more words

Advertisements
Curhat Terbuka, Life, Uncategorized

Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….

Apakah Anda perokok? Namun apakah Anda paham kalau merokok di tempat umum juga ada aturannya?

Tulisan ini terinspirasi saat saya sedang melakukan antrian di salah satu wahana di¬†Dunia Fantasi di mana antriannya panjang dan mengular. Dan di dalam antrian tersebut terdapat segerombolan manusia yang nampaknya benar-benar “tidak punya otak” atau “tidak bisa membaca plang larangan merokok yang jelas-jelas tertera di area mengantri”.

Saya marah dan saya kesal.

– – – – –

Pada dasarnya, saya bukan tipe orang yang mudah terganggu dengan para perokok begitu saja. Saya sama sekali tidak masalah dengan orang-orang yang merokok, asalkan:

  • Memang di tempat tersebut tidak ada rambu-rambu yang menyatakan “dilarang merokok”.
  • Memang di tempat tersebut memang dikhususkan bagi para perokok (area merokok atau ruang khusus merokok).
  • Memang di tempat tersebut diperbolehkan untuk merokok.
  • Ruang outdoor dan tidak ada plang larangan merokok.
  • Perokoknya punya tata krama, bahkan meminta izin terlebih dahulu kepada yang bukan merokok sebelum mereka merokok.

Dan saya akan sangat kesal dan marah dengan para perokok jika:

  • Jelas-jelas pada tempat tersebut terdapat tulisan rambu-rambu larangan “dilarang merokok” atau “no smoking“.
  • Jelas-jelas ruangan ber-AC, apalagi ada tulisan “no smoking” yang terpampang jelas di sudut ruangan.
  • Di sekitar perokok terdapat anak kecil, apalagi bayi, dan ibu hamil.
  • Di dalam angkutan umum, khususnya angkot atau kendaraan kecil, ditambah kalau suasana padat atau ramai penumpang.

Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang sengaja merokok di tempat yang jelas-jelas dilarang atau tidak diperbolehkan untuk merokok. Atau mereka yang merokok tidak melihat situasi dan kondisi di mana banyak anak kecil, bayi, dan ibu hamil. Di mana rasa empatinya?! *geregetan*

Oke, mungkin dalam pikiran mereka bahwa merokok bagi mereka bukan sesuatu yang haram dan “merasa” badannya sehat-sehat saja sehingga “tidak percaya” dengan berbagai penyakit mematikan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam kehidupan mereka.

Walau demikian, saya akan sangat respect dan menghargai teman-teman perokok jika:

  • Saat sebelum merokok, mereka sudah lihat-lihat situasi dan kondisi ada siapa-siapa saja di sana, bahkan mereka rela melipir atau menjauh dari gerombolan orang untuk menikmati sendiri asap rokoknya.
  • Saat merokok minta izin terlebih dahulu dan arah asap tidak ditiupkan ke arah yang sedang bergerombol atau berkumpul.

Sebenarnya saat ini terdapat peraturan-peraturan yang sudah berlaku terkait merokok di tempat umum. Bahkan terdapat sanksi yang benar-benar akan diterapkan jika melanggar.

(Well, saya tidak peduli dengan pendapat orang-orang yang menganggap hukum di Indonesia itu masih lemah dan dapat dibeli. Pokoknya peraturan ya peraturan, harus dilaksanakan dan dipatuhi, dalam hal apapun, walau memang terkadang suka “berat” menjalaninya.)

 

Dan berikut merupakan beberapa peraturan-peraturan perundang-undangan yang saya tahu yang mengatur tentang perokok dan merokok di tempat umum, khususnya di area ibukota Jakarta.

 

1. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 (klik link untuk mendownload)

Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 ini mengatur tentang Kawasan Larangan Merokok. Disebutkan dalam peraturan tersebut bahwa kawasan yang dilarang untuk merokok adalah:

  • Tempat umum.
  • Tempat kerja.
  • Tempat proses belajar mengajar.
  • Tempat pelayanan kesehatan.
  • Arena kegiatan anak-anak.
  • Tempat ibadah.
  • Angkutan umum.

Di dalam peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa kawasan dilarang merokok dan kawasan merokok harus terpisah di dalam pelaksanaannya. Dalam arti, sebenarnya merokok itu tidak dilarang, melainkan ada tempatnya dan aturannya sendiri. Catet ya.

 

2. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 Pasal 13 dan Pasal 41 Ayat (2) (klik link untuk mendownload)

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 merupakan peraturan yang mengatur tentang Pengendalian Pencemaran Udara, di mana di dalam Pasal 13 disebutkan bahwa kawasan dilarang merokok yang sudah saya sebutkan pada poin pertama tadi disebutkan sebagai upaya pencegahan pencemaran udara. Dan apabila melanggar, akan ada sanksi pidana yang disebutkan pada Pasal 41 Ayat (2) yaitu pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

 

3. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 (klik link untuk mendownload)

Sebenarnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 ini merupakan penyempurnaan dari peraturan terdahulu (seperti yang sudah saya sebutkan juga di atas), yaitu penyempurnaan dari Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 di mana memang Peraturan Gubernur No. 88 Tahun 2010 ini tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Di dalam PerGub ini disebutkan penjelasan tambahan mengenai tempat khusus merokok, yaitu:

  • Terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung, dan
  • Tidak berdekatan dengan pintu keluar-masuk gedung.

 

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 (klik link untuk mendownload)

Di Indonesia, terdapat peraturan khusus mengenai produksi rokok di mana harus melihat aspek pengamanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia, seperti yang tertuang di dalam peraturan ini. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 ini berbicara tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Tujuan dikeluarkannya peraturan ini adalah:

  • Melindungi kesehatan dari bahaya akibat merokok.
  • Membudayakan hidup sehat.
  • Menekan perokok pemula.
  • Melindungi kesehatan perokok pasif.

Kembali disebutkan dalam PP No. 19 Tahun 2003 ini di Bagian Keenam yaitu Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 yaitu berbicara tentang Kawasan Tanpa Rokok, di mana kawasan tanpa rokok adalah tempat-tempat yang sudah saya sebutkan dalam poin pertama tadi di atas. Bahkan disebutkan di dalam Pasal 25 bahwa Pemerintah Daerah juga harus dapat berpartisipasi (bahkan bersifat wajib) di dalam perwujudan kawasan tanpa rokok.

Plang Peringatan “Dilarang Merokok” di Salah Satu Mall di Jakarta Selatan

 

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau merokok di tempat umum itu¬†ada aturannya, bahkan ada¬†sanksi pidana¬†bagi siapa saja yang berani melanggar. Jadi, mas-mas dan¬† mbak-mbak yang memang belum bisa lepas dari rokok karena memang hobi dan sudah menjadi bagian dalam hidup, diharapkan untuk selalu bijak jika pas ingin merokok. Kalau misal ditegur di tengah jalan, please, jangan marah dan sensi ya. Boleh kok merokok bebas-sebebasnya, yang penting manners-nya saja. Hormati mereka yang benar-benar nggak bisa dekat-dekat dengan asap rokok. Oke? ūüôā

 

nb: Beruntunglah pasangan saya bukan perokok.