Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂

Advertisements

Dampak Menyenangkan Permainan Pokémon GO

Masih ingat dengan sebuah permainan yang sempat hits beberapa waktu lalu? Walau sebenarnya hingga saat ini permainan tersebut juga masih banyak juga yang memainkannya, termasuk saya.

 

Pokémon GO.

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan permainan yang satu ini? Sepertinya hampir semua orang yang memiliki HP pasti pernah memainkannya. Dan kali ini, saya ingin sedikit bercerita mengenai sudah seberapa jauhkah Pokémon GO mempengaruhi kehidupan saya? Hehe.

 

  1. Permainan Ini Berhasil Membuat Saya dan Suami Menikmati CFD-nya Jakarta untuk PERTAMA KALI-nya, Sampai-Sampai Membuat Kami Berjalan Kaki Selama Kurang Lebih 5 Jam Berjalan Non-Stop!

 

Apa? Hanya karena Pokémon GO baru jalan-jalan dan main ke CFD? Seriusan lo?

 

Beberapa kawan sempat ada yang bertanya demikian saking tidak percayanya. Bagaimana tidak, saat itu sudah hampir 3 tahun kami (saya dan suami) merantau ke ibukota dan tempat tinggal kami  saat itu kalau boleh dikatakan sangat dekat dengan area Car Free Day (CFD) Sudirman. Ya, kami tinggal di area Perempatan Matraman, dekat dengan halte TransJakarta Matraman, di mana kalau naik Bus TransJakarta kami dapat langsung menuju ke area Sudirman dengan sekali jalan tanpa transit, itu pun hanya beda 3 halte saja, dekat bukan? Namun apa? Kami belum pernah sekalipun “mencicipi” suasana CFD Sudirman sepanjang menuju 3 tahun kami tinggal di Jakarta tersebut. Selalu saja ada banyak alasan untuk kami tidak dapat menuju ke sana. Bahkan kami pun merasa kalau CFD itu jauuuuuh sekali, padahal sebenarnya tidak jauh sama sekali.

 

Namun semua itu berubah ketika Pokémon GO hadir di dalam kehidupan kami. Haha. 😀

 

Percaya tidak percaya, kami benar-benar baru merasakan suasana CFD  Sudirman untuk pertama kalinya yaitu pada saat minggu-minggu awal hadirnya Pokémon GO. Ingat sekali saat itu hari Minggu pertama setelah libur panjang lebaran.

 

Saat itu kami masih berada pada level-level awal permainan. So, mau tidak mau kami harus berjalan! Ya, jalaaan terus! Hahaha.

 

Mendadak kami menjadi rajin di hari Minggu pagi. Setelah Sholat Subuh kami tidak bermalas-malasan di atas kasur dan menikmati acara-acara pagi hari di televisi seperti biasanya. Kami langsung bersiap dan berkemas untuk menyiapkan segala amunisi yang harus kami bawa untuk “bekal” bermain Pokémon GO. Power bank full, baterai HP full, dan tas kecil yang roomy untuk memudahkan membawa peralatan-peralatan tersebut.

 

Sepatu olahraga?

 

Tidak, kami tidak menggunakan itu. Kami benar-benar pure, murni hanya berjalan kaki menyusuri CFD Sudirman. So, kami hanya butuh sandal kami saja, tidak sepatu kami.

 

Saking bersemangatnya, kami sengaja tidak naik TransJakarta menuju ke sana. Kami naik bajaj!  Dan tujuan pertama kami adalah menuju Bundaran Hotel Indonesia sebagai titik awal kami akan mulai “berburu”. Bahkan selama perjalanan menuju Bundaran HI, kami pun sudah mulai memainkan permainan tersebut! Haha.

 

CFD kali itu terdapat sebuah atraksi TNI Terjun Payung di area Bundaran HI. Sesekali juga saya melihat-lihat beberapa pedagang yang menggelar lapaknya masing-masing. Dan kami juga beberapa kali berhenti untuk sekedar jajan makanan yang ada di area tersebut.

 

Kami berjalan mengelilingi Bundaran HI, karena di area tersebut banyak sekali titik Pokéstop yang dipasangi Lure Module.

 

Pokéstop adalah sebuah titik di mana pemain bisa mendapatkan pokéball dan beberapa bonus lainnya dengan cara berhenti pada titik tersebut dan memutar bulatan yang ada.

 

Sedangkan Lure Module adalah sebuah fitur berbentuk seperti hujan kelopak bunga pink, di mana jika dipasangi Lure tersebut, maka akan semakin banyak Pokémon  yang “mampir” dan terlihat di area Pokéstop tersebut. Namun sifat Lure ini tidak selamanya “menyala”, ia berbatas waktu dengan max waktu adalah 30 menit.

 

Banyaaak sekali jika boleh saya bilang. Hampir semua titik Pokéstop dipasangi Lure.

 

Oh iya, virus Pokémon GO ini tidak hanya menjangkiti kami berdua. Berhubung CFD kali itu merupakan CFD perdana pasca libur panjang lebaran dan pasca rilisnya game tersebut, jadilah banyak pula manusia di CFD kala itu memainkan game yang sama. Ada yang bergerombol, ada yang sampai ketawa-tawa, ejek-ejekan bercanda-ria bersama dengan teman-temannya, berlari-lari demi agar tidak tertinggal masa Lure yang sedang menyala, dan sebagainya. Seru!

 

Kami berjalan kaki hampir 5 jam tanpa henti!

 

Ya, kami berjalan kaki hampir sepanjang 5 jam dari area Bundaran HI – Dukuh Atas – Perempatan Matraman dengan melalui jalur area sekitar Bappenas – Taman Suropati – Masjid Cut Mutia Menteng – Perumahan Menteng – Cikini – Tugu Proklamasi – Matraman.

 

Di dalam permainan Pokémon GO ini juga terdapat yang namanya fitur telur pokémon yang dapat ditetaskan dengan cara berjalan kaki sampai beberapa km. Misal, sebuah telur akan menetas jika sudah berjalan kaki selama 5 km dan 10 km.

 

Pengalaman perdana CFD Jakarta kami benar-benar berkesan. Bagaimana tidak? Kami melaluinya sambil bermain Pokémon GO. Haha! 😀

 

 

  1. Membuat Kami Menginap di Area Dekat Cihampelas Walk pada Saat Ada Acara di Bandung

 

Ya! Ini yang lebih lebay lagi.

 

Begitu banyak hotel yang bertebaran di Kota Bandung, namun kami memilih hotel-hotel di area sekitar Cihampelas Walk pada saat kami menghadiri beberapa acara di Bandung pada masa-masa permainan Pokémon GO sedang hits-hitsnya. Dan yang lebih sering kami tuju adalah Hotel Serela Cihampelas (klik untuk melihat tautan) yang berlokasi di seberang Cihampelas Walk persis.

 

Mengapa harus dekat dengan Cihampelas Walk?

 

Jadi ternyata, pada saat awal-awal permainan ini muncul, pihak manajemen Cihampelas Walk “sengaja” dan  “rutin” memasang Lure Module di setiap titik Pokéstop yang memang tersebar beberapa titik di area Mall Cihampelas Walk.

 

Sampai-sampai yang tidak habis pikir, bahkan sampai tengah malam pun area Cihampelas Walk masih ramai dipadati orang! Khususnya di malam minggu, semakin malam, semakin ramai. Luar biasa! Kisah ini pernah saya tulis juga dalam blog ini (klik untuk melihat tautan). Jika teman-teman melihat dokumentasi pada postingan tersebut, benar-benar menggila bukan people of Bandung di dalam antusiasmenya bermain Pokémon GO?

 

Suasana Ramainya Titik2 Pokéstop di CiWalk yang Dipasangi Lure Module

 

  1. Semakin Hari Kami Semakin Rajin Berjalan Kaki, Bahkan di Malam Hari Sepulang Kerja

 

Ini yang lebih parahya lagi sih. Kami benar-benar seperti sudah “dibutakan” oleh permainan ini. Demi naik level, kami  akan upayakan untuk selalu berjalan dan berjalan terus.

 

Walau saat itu sudah mulai banyak yang cheating alias curang dengan adanya aplikasi-aplikasi “Fake GPS” yang katanya memudahkan orang untuk tidak perlu berjalan jauh, tau-tau level bisa naik begitu saja, hanya dengan menggerakkan titik pada peta dalam aplikasi “Fake GPS”. Untunglah saat itu pihak Pokémon GO melihat fenomena kebocoran dan kecurangan ini, sehingga meraka pun membuat sistem “banned otomatis” bagi para pemain yang dengan sengaja bermain curang (langsung terdeteksi oleh server).

 

Berjalan di malam hari tidak hanya kami lakukan di malam minggu. Terkadang di malam-malam biasa kami juga melakukan “ritual” berjalan kaki sekitaran area Perempatan Matraman. Sambil berjalan kaki menuju Bioskop Metropole, kami sempatkan bermain. Kemudian ke area Taman Proklamasi, di mana di sana memang terdapat sebuah Gym atau “area battle” dalam permainan, kami pun mencicipi “nongkrong” di sana sampai area tugu tutup atau sekitaran pukul 9 malam.

 

  1. Menjadi Tidak Malas ke Monas

 

Jadi, selain kami belum pernah ke CFD Jakarta selama 3 tahun merantau, kami pun juga belum pernah mencoba naik ke Tugu Monas. Kalau sekedar melihat Tugu Monas dari jarak jauh, cukup sering, karena kami pulang kampung ke Jawa atau main ke Bandung, hampir pasti kami selalu naik kereta api dari Stasiun Gambir.

 

Tujuannya sih memang ingin naik ke Tugu Monas, tapi tetap sebagai menu utama kami berjalan-jalan ke sana adalah bermain  Pokémon GO donk. Apa lagi? Haha. 😀

 

Di area Monas memang banyak sekali titik-titik Pokéstop yang juga sering dipasangi Lure Module. Terutama di Hari Minggu pagi.

 

Penampakan manusia-manusia-nya persis seperti manusia-manusia yang ada pada CFD Sudirman kala itu. “Beringas” dan “terlalu bersemangat” di dalam memainkan permainan Pokemon GO. Walau begitu, suasana terasa seru dan asik. 😀

 

 

Nah, jadi itu adalah beberapa pengalaman kami setelah “dipengaruhi” oleh sebuah game bernama  Pokémon GO. Lalu, bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman juga merasakan ke-lebay-an yang sama?

 

😀

Review Hotel De’ Qur dan Wisata Kawasan Kota Tua Jakarta

Dear internet, apa kabar! Hehe. 😀

Kali ini kembali saya ingin menulis mengenai review liburan singkat dengan bermodal menginap di hotel murah atau hotel-hotel yang cocok disambangi oleh para backpackerSo, let’s check this out, gan!

 

– – –

Day 1: Sabtu, 30 September 2017

Ide menginap weekend kali itu muncul dengan sangat tiba-tiba sekali. Karena sesungguhnya kami sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Ya memang, walau tidak sering, tapi setidaknya sudah pernah kami mengunjunginya.

Namanya adalah Kawasan Kota Tua Jakarta, sebuah tempat sangat bersejarah bagi Indonesia dan khususnya bagi Jakarta. Di kawasan ini berjajar banyak sekali bangunan-bangunan kuno alias bangunan-bangunan jadul khas Kota Tua, baik yang masih berfungsi dengan baik maupun yang sudah tidak berfungsi atau sudah tidak digunakan sama sekali.

Salah satunya adalah Museum Fatahillah atau Museum Sejarah yang sangat terkenal itu. Pada area tersebut juga terdapat bangunan-bangunan atau gedung-gedung lain yang bersejarah, seperti Museum WayangCafe BataviaMuseum Seni Rupa dan KeramikMuseum Bank IndonesiaJembatan Kota Intan, dan lain sebagainya. Dan kami pun memutuskan untuk bermalam di Kawasan Kota Tua JakartaSooo random! Haha. 😀

Kami memutuskan untuk berlibur akhir pekan di Kawasan Kota Tua Jakarta pada weekend akhir Bulan September 2017, ya tepat pada tanggal 30 September 2017 dan tanggal 1 Oktober 2017. Saat itu saya berpikir akan ada nobar film sejarah di area tersebut karena tanggal menginap kami bertepatan dengan peristiwa sejarah kelam G30S PKI, yang ternyata tidak ada kegiatan pemutaran film sejarah atau sejenisnya pada tanggal tersebut.

– – –

 

Perjalanan Menuju Kawasan Kota Tua Jakarta

Kami menuju ke kawasan wisata tersebut dengan menggunakan angkutan umum kereta KRL Jabodetabek, dimulai berangkat dari Stasiun Kebayoran dengan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang untuk menuju ke Stasiun Kampung Bandan yang kemudian transit kembali pada stasiun tersebut untuk menuju ke stasiun akhir yaitu Stasiun Jakarta Kota. Peta Rute Jalur KRL Jabodetabek dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Peta KRL Jabodetabek (source: http://www.krl.co.id/)

 

Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota, kami langsung menuju ke arah Hotel De’ Qur tempat kami menginap dengan melalui area Taman Fatahillah. Suasana siang hari itu sangat terik dan terlihat banyak sekali orang memadati area tersebut. Benar-benar semakin terasa suasana libur weekend saat kami melalui hamparan orang-orang itu.

Berhubung hari sudah siang dan suasana cukup terik, ditambah perjalanan kami yang lumayan memakan waktu, maka pada saat kami melalui area Taman Fatahillah dan melihat Cafe Batavia di hadapan kami, maka kami pun memutuskan untuk mampir sejenak sambil menunggu waktu check in hotel. Sebelum mampir ke dalam cafe, saya sempat membeli sebuah es krim. Saat sampai di depan cafe kami dihadang oleh Mbak-Mbak Cantik pelayan cafe tersebut dan kami dilarang masuk karena masih memegang es krim yang belum habis. Terpaksa deh makan cepat sambil mengamati orang-orang yang mampir di depan cafe untuk sekedar mengambil foto dengan latar belakang Cafe Batavia.

Jajan Es Krim (gagal bokeh, hiks)

 

Cafe Batavia

Suasana di dalam Cafe Batavia ini benar-benar seperti berada di luar negeri dan terasa sekali suasan vintage-nya alias jadul-nya. Di dalam cafe banyak sekali terlihat turis mancanegara, makin terasa seperti kami sedang berjalan-jalan di luar negeri. Suasana interior di dalam cafe pun menggambarkan suasana cozy dengan sentuhan artistik jaman kolonial. Cafe ini terdiri dari 2 (dua) lantai, lantai atas dikhususkan bagi para pengunjung yang tidak merokok, dan lantai bawah dikhususkan bagi para pengunjung yang merokok dengan dilengkapi panggung hiburan serta bar, persis seperti apa yang suka dilihat dalam film-film hollywood.

Suasana di Dalam Cafe Lantai 2

 

Foto-Foto Tokoh di Dinding Dekat Tangga

 

Hotel De’ Qur

Tepat pukul 2 siang atau pukul 14.00 WIB, kami sampai di Hotel De’ Qur. Hotel ini terletak persis di samping Jalan Kali Besar dengan ciri khas bangunan lama. Beberapa waktu sebelumnya, kami pernah mengikuti tur jalan kaki dari sebuah Komunitas Tur Lokal bernama Jakarta Good Guide dan jadwal tur yang kami ikuti saat itu adalah berjalan-jalan di area Kota Tua Jakarta, dengan rute start dari Stasiun Jakarta Kota yang kemudian rute jalan kaki kami saat itu juga melalui Jalan Kali Besar. Saat itu, kawasan Kali Besar belum dilakukan renovasi atau pemugaran pada area pinggir kalinya. Dan saat kami berkunjung kembali akhir September 2017 lalu, area Kali Besar sedang dilakukan renovasi di bagian trotoar di kanan-kiri Kali Besar.

Berikut ini adalah sebuah foto yang sempat saya ambil saat berjalan-jalan bersama dengan Jakarta Good Guide pada awal tahun 2016 lalu yang juga saya abadikan dalam instagram “serius” saya di http://www.instagram.com/phoneography.id/ .

Kali Besar Sebelum Renovasi di Awal 2016 (IG: @phoneography.id –> http://www.instagram.com/phoneography.id/)

 

Dan berikut ini adalah penampakan Kali Besar yang sedang dilakukan renovasi.

Kali Besar sedang Direnovasi, Penampakan dari Ruang Makan Hotel De’ Qur  (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

Renovasi Kali Besar (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

 

Kami memesan Hotel De’ Qur dengan menggunakan aplikasi travel online. Harga yang kami dapatkan pada hotel ini adalah Rp 230.000,-an saja per malamnya. Cukup relatif sangat murah dengan lokasi yang super strategis dengan Kawasan Kota Tua Jakarta atau Taman Fatahillah. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke arah tersebut. Hotel De’ Qur ini merupakan hotel bintang 1.

Saat kami datang untuk check in sesuai petunjuk di dalam voucher hotel yaitu pukul 14.00 WIB, suasana di dalam hotel masih terlihat ramai dari para petugasnya yang sedang membereskan kamar-kamar hotel dan baru sebagian kamar yang ready. Walau begitu, kami sudah mendapatkan kamar tepat pada pukul 2 siang tersebut.

Suasana kamar hotel mirip dengan suasana kos-kosan yang sudah kategori “wah”, karena ukuran kamar cukup luas, sudah dilengkapi meja belajar, lemari pakaian, TV, AC, kasur ukuran large, dan sudah kamar mandi dalam. Haha. 😀

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Ukuran kamar yang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar, alias cukup ini, memang sangat cocok bagi para pelancong backpacker di mana kegiatan wisata lebih banyak di luar hotel. Kami menempati kamar di lantai 2. Bangunan hotel ini terdiri dari 3 lantai, dan sepertinya memang hanya tersedia ukuran kamar demikian, tidak ada jenis kamar lain atau tipe kamar dengan ukuran kamar lebih besar lagi, mengingat pula hotel ini adalah hotel bintang 1.

Dan berikut ini suasana di lorong kamar hotel, semakin terasa seperti kos-kosan, bukan?

Lorong Hotel De’ Qur

 

Hotel De Qur 5.jpg

Suasana Lantai 2 di Mana Terdapat Ruang Makan dan Ruang Tunggu Tamu

 

Kami beristirahat sejenak siang hari itu dengan tidur-tiduran dan menikmati HBO. Kami berencana untuk kembali ke area Taman Fatahillah di sore harinya kembali. Di tengah-tengah kami beristirahat, saya teringat kapan Museum Sejarah atau Museum Fatahillah tutup, dan saat melihat jam, sepertinya sudah tutup, maka saya putuskan untuk masuk ke museum adalah di keesokan harinya, alias Hari Minggu.

 

Kawasan Taman Fatahillah

 

Sekitar pukul setengah lima sore atau pukul 16.30 WIB, kami memutuskan untuk kembali menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Namun rute masuk ke Taman Fatahillah sore hari itu, kami memilih jalur pintu selatan, di mana sebelumnya saat kami akan menuju hotel, kami melalui pintu di sebelah utara. Saat menuju ke pintu selatan, kami melihat sebuah Indomaret unik yang berada pada bangunan gedung lama, namun sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Dan ternyataIndomaret tersebut menyatu dengan sebuah Hostel yang sepertinya unik dan instagram-able sekali yaSudah begitu, keluar masuk hostel menggunakan akses kartu, jadi tidak sembarang orang dapat masuk. ( kemudian saya berpikir, bagaimana cara masuk para pelancong pada saat datang pertama kali ke hostel tersebut dan bagaimana caranya mereka mendaftar ya? mungkin ada semacam bel pintu masuk yang harus ditekan dari luar sehingga memudahkan petugas hostel di dalam untuk mendapatkan notifikasi pengunjung datang dan menyambut mereka? entahlah) Pada mulanya saya berpikir bahwa hostel tersebut tidak terdapat pada aplikasi travel online, namun ternyata setelah meng-googling via maps.google.com tenyata ada. Hiks hiks…nggak notice samsek euy… Oke deh, next time kali ya… 

Wonderloft Hostel (source: TripAdvisor)

 

Suasana sore hari tersebut semakin menggila. Kerumuman orang di area Taman Fatahillah semakiiiiin ramai! Kami pun lagi-lagi hanya menikmati suasana dan melihat-lihat saja, sesekali juga mengambil beberapa foto. Saat sampai di dekat Cafe Batavia kembali, saya melihat sebuah poster besar mengenai pengumuman sebuah Pameran Seni bertajuk “Book of Islamic Art” yang diselenggarakan oleh Universitas Leiden bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda, yang diselenggarakan di Gedung Niaga Kawasan Kota Tua Jakarta. Beruntunglah kami “sempat” melihat pengumuman poster tersebut, karena pada saat kami masuk ke area pameran, kami adalah pengunjung terakhir, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore (18.00 WIB) di mana area pameran akan ditutup. Begitu sepi suasana, karena diselenggarakan pada gedung yang sebagian besar bagian-bagiannya sedang direnovasi dan diselenggarakan di area tidak terlalu luas.

Salah Satu Karya Seni yang Dipamerkan

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Usai melilhat pameran tersebut, kami memutuskan kembali lagi ke hotel, untuk melaksanakan Sholat Maghrib dan Sholat Isya. Dan kami memutuskan akan kembali lagi sekitar pukul 19.30 WIB di malam harinya.

Hotel De’ Qur di Malam Hari

 

Malam Minggu di Kawasan Kota Tua Jakarta

Sekitar hampir menuju pukul 20.00 WIB, kami kembali lagi ke area Kawasan Kota Tua Jakarta lebih tepatnya menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Dan pada saat kami menuju area Taman Fatahillah kembali, kami dikejutkan dengan banyaknya pedagang pasar malam yang sudah mulai ramai di kanan-kiri jalan sepanjang trotoar area kawasan tersebut, sungguh meriah dan semakin terasa aura pesta rakyat-nya! Dan yang paling membuat terkejut adalah pada saat memasuki Taman Fatahillah, sudah sangat-sangat-sangat ramai penuh sesak lautan manusia! Luarrr biasa! 😀

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Malam pun kian larut dan kami pun kian merasakan rasa lapar yang datang menghampiri, maklum makan berat terakhir saat makan siang saja. Kami pun memutuskan menyusuri lautan pasar malam yang berada di sepanjang trotoar di pinggir-pinggir jalan di sebelah utara Taman Fatahillah. Kami menyusuri jalanan hingga ke ujung di mana spot pasar malam ini berakhir. Berharap menemukan menu makan malam yang akan menggiurkan, kami malah “bertemu” dengan sebuah rumah makan di seberang jalan setelah ujung spot pasar malam berakhir. Dari kejauhan terlihat aura warna-warni dari rumah makan tersebut, maka tanpa pikir panjang lagi kami segera memutuskan menuju ke tempat makan tersebut.

 

Rumah Makan Lumba-Lumba Kota Tua Jakarta

Dari kejauhan dengan aura warna-warni-nya bak lukisan suasana pantai, saya pikir rumah makan tersebut adalah rumah makan yang menyajikan makanan laut alias seafood, di tambah nama rumah makan tersebut adalah “Rumah Makan Lumba-Lumba“. Tapi ternyata, tidak. Haha. 😀 Rumah makan ini ternyata menyajikan makanan khas Kota Semarang dan juga menjual beberapa oleh-oleh khas Kota Semarang. Saat memasukinya, kami pun hanya bisa senyam-senyum saja, maklum, suami adalah asli orang Semarang, sementara saya sendiri pun asli orang Jawa Tengah. Berharap dapat bertemu dengan kuliner unik, eh ternyata, ketemunya makanan semarang lagi, semarang lagi. Hehe.

Dan kami pun memesan makanan favorit kami, yaitu pindang ayam, garang asem bandeng, dan tahu petis khas Semarang.

Menu Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Interior Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Pindang Ayam Khas Semarang

 

Garang Asem Bandeng Khas Semarang

 

Tahu Petis Khas Semarang

 

Usai makan malam, kami kembali menuju ke arah area Taman Fatahillah dengan menyusuri trotoar di bagian luar yang sudah menjadi pasar malam di malam minggu yang ramai itu. Penjaja bekam dan shisha di pinggir jalan raya semakin banyak bermunculan. Sepertinya semakin malam semakin ramai ya!

Penjaja Pijat Urut, Bekam, dan Refleksi yang Berjajar di Sepanjang Trotoar

 

Penjaja Shisha Berjajar Juga di Sepanjang Trotoar

 

Area Pasar Malam di Mana Lauan Manusianya Menutupi Jalur TransJakarta

 

Kami akhirnya kembali ke Hotel De’ Qur, namun pada saat bertemu dengan security hotel, dan karena kami terlihat benar-benar seperti pelancong dari kota yang jauh, mendadak si Bapak Security menyarankan kepada kami untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan di mana saya menyebutnya sebagai Jembatan Merah karena bentuk fisiknya yang berwarna merah. Letak jembatan tersebut di ujung jalan Kali Besar  di sebelah utara, dekat dengan Hotel De Rivier di mana hotel tersebut sempat hampir kami pilih sebagai tujuan tempat menginap kami kala itu yang ternyata malah sedang direnovasi di bagian depannya.  Kami menuju Jembatan Kota Intan dengan berjalan kaki, menyusuri kegelapan malam di mana semakin terasa gelap karena memang area trotoar kanan-kiri Kali Besar yang sedang direnovasi menyebabkan jalan dekat kali menjadi minim penerangan. Agak seram, sih sebenarnya. Tapi untunglah kami dapat sampai ke jembatan dengan selamat.

 

Jembatan Kota Intan di Malam Hari

 

Suasana Kali Besar ke Arah Selatan Dilihat dari Jembatan Kota Intan, Sebelah Kanan adalah Bangunan Hotel De Rivier

 

Pada mulanya kami pikir bahwa pintu akses masuk jembatan sudah tutup dan kami tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat suasana Jembatan Kota Intan secara langsung. Beruntunglah ternyata penjaganya masih ada dan membukakan pintu untuk kami berdua.

Susana di Jembatan Kota Intan sebenarnya sedikit agak creepy mengingat di sampingnya juga terdapat pohon tua raksasa plus kami berkunjung di malam hari, bukan siang hari. Mungkin karena area dekat jembatan juga masih ramai lalu-lalang orang, menyebabkan suasana seram agak dapat sedikit ternetralisir. Struktur bangunan Jembatan Kota Intan masih asli berbahan dasar kayu. Pada zamannya, jembatan ini dapat membuka dan menutup karena dahulu Kali Besar sebagai tempat lalu-lintas transportasi laut juga. Saat berada di atasnya sambil menikmati suasana jembatan, saya juga membayangkan suasana masa lampau di sekitar area jembatan tersebut. Merinding, tapi seru. Sebenarnya dulu pada saat saya berjalan-jalan bersama dengan Komunitas Jakarta Good Guide, kami juga melalui area ini, namun saat itu kami tidak mampir karena saat itu suasana sangat panas.

Setelah puas melihat-lihat suasana, kami pun pamit kepada penjaga dan kembali pulang menuju hotel kami Hotel De’ Qur. Namun saat kembali, kami menggunakan angkot dan tidak berjalan kaki seperti sebelumnya saat berangkat menuju Jembatan Kota Intan.

– – – – –

Day 2: Minggu, 1 Oktober 2017

Minggu pagi saya sangat bersemangat sekali. Saya sangat penasaran bagaimana suasana sunrise di Kawasan Kota Tua tersebut. Setelah Sholat Subuh, kami bergegas untuk bersiap-siap menuju kembali ke area Taman Fatahillah.

Kami menyusuri jalan menuju pintu masuk di bagian utara. Miris. Begitu banyak sampah bertebaran di sana-sini. Terlihat beberapa Pasukan Oranye yang sedang membersihkan jalur jalan bekas pasar kaget di malam minggunya. Terlihat juga beberapa kios tenda yang masih ditunggui oleh beberapa pemiliknya yang mungkin sengaja menginap.

Memasuki area Taman Fatahillah kembali, kami melihat suasana yang berbeda dengan hari sebelumnya. Mungkin karena masih pagi, maka area tersebut juga masih sepi pengunjung. Terlihat beberapa warga sekitar yang melaksanakan olahraga pagi. Sayup-sayup terdengar suara musik disco yang sengaja dinyalakan untuk mempersiapkan senam aerobik warga sekitar. Suasana pagi itu saaaaangat indah! Suasananya mirip sekali dengan suasana luar negeri. Dan ternyata kalau pagi, masih banyak burung merpati yang bertebaran di Taman Fatahillah ini. Seorang pengelola rental sepeda hias mulai menebarkan biji-bijian agar para merpati datang bergerombol menikmatinya. Benar-benar indah!

Burung-Burung Bergerombol Menikmati Suasana Pagi

 

Sekitar pukul 6 pagi menuju setengah 7 pagi, terlihat di ufuk timur matahari mulai nampak batang hidungnya. Benar-benar indaaah. Tidak menyangka kami dapat menyaksikan langsung suasana indahnya pagi hari itu.

Suasana Sunrise di Kawasan Wisata Kota Tua

 

Setelah puas menikmati suasana pagi di Kawasan Kota Tua Jakarta, kami memutuskan kembali lagi ke hotel untuk sarapan dan bersiap-siap berkemas kembali pulang ke rumah.

 

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Sarapan pada Hotel De’ Qur ini dapat dikatakan cukup minimalis, sekali lagi, mengingat bahwa hotel tempat kami menginap adalah hotel bintang 1. Sarapan pada hotel ini kami diberi Menu Nasi Goreng + Telur Dadar + Teh Manis Panas pagi hari.

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Usai sarapan kami segera bergegas untuk bersiap-siap. Sesudah check out kami pun mengunjungi Museum Fatahillah.

Tiket masuk ke dalam Museum Fatahillah adalah Rp 5.000,-/orang dewasa. Cukup murah, bukan? Kami pun menyusuri setiap bagian museum dan sesekali mengambil gambar. Kami pun mengikuti alur rombongan yang juga berkeliling untuk melihat-lihat dan menikmati suasana museum.

Suasana Taman Fatahillah di Siang Hari Dilihat dari Museum Fatahillah

 

Sejarah Asal Muasal Kata “Jakarta”

 

Berpose di Salah Satu Prasasti

 

Sekitar pukul setengah 2 siang, kami memutuskan untuk pulang dan menuju ke Stasiun Kota kembali. Sebelum pulang kami menyempatkan menjajal sego pecel yang penjualnya tersebar banyak di area Kawasan Kota Tua.

Kami sampai Stasiun Kebayoran kembali sekitar pukul 16.30 WIB. Dan sore hari itu suasana sudah mulai terlihat mendung. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Angkot D01 yang menuju ke arah Lebak Bulus dan Pondok Pinang. Sekitar pukul 17.30 WIB kami pun sampai rumah.

– – – – –

Liburan singkat 2 hari kami itu menjadi liburan yang terasa sangat menyenangkan dan menyehatkan bagi kami berdua. Karena kami menuju satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki. Ditambah kami pun tidak mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan perjalanan sehat tersebut.

Nah, bagaimana? Tertarik mencoba juga untuk berlibur singkat di Kawasan Kota Tua Jakarta? Tunggu apalagi… Yuk! 🙂

Keliling Singapura Naik MRT (Dokumentasi)

Halo lagi internet! Kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai pengalaman ke Singapura (Singapore) di mana saya menggunakan MRT (Mass Rapid Transit) sebagai sarana trasnportasinya.

 

Singapura. Ya, negara yang satu ini memang dekat sekali dengan Indonesia. Negara maju, negara pusat bisnis dunia, negara rapih, negara bersih, dan sebagainya ini memang sering menjadi tujuan wisata mancanegara bagi negara-negara di dunia, salah satunya Indonesia. Menuju ke negara tersebut juga sudah sangat mudah. Baik dengan menyeberang via Batam, maupun terbang langsung menuju Bandara Changi. Ditambah lagi, hanya bermodal paspor dan sedikit uang jajan, kita sudah dapat mengunjungi negara tersebut, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak memerlukan visa saat mengunjungi Singapura.

 

Sebelum berangkat, pastikan Paspor kita masih dalam keadaan aktif dan tidak bermasalah. Pastikan juga teman-teman membawa uang saku yang cukup, tidak perlu lebih, yang penting adalah cukup. Dan kalau menurut saya, untuk bekal Dolar Singapura, dapat ditukar saat setelah mendarat di Singapura saja, jadi tidak perlu menukar saat masih berada di Indonesia. Mengapa? Alasannya ada pada paragraf dalam rangkaian tulisan di bawah. Hehe. Cekidot gan!

 

Ketika Sudah Mendarat di Changi Airport

 

Saat menuju Singapura, jika teman-teman bepergian dengan menggunakan armada low cost airline seperti Air Asia di mana maskapai satu ini memang demen hobi ngasih promo-promo tiket murahnya, maka teman-teman akan mendarat pada Terminal 1 Changi Airport. Nah, setelah turun dari pesawat, langsung perhatikan seluruh papan-papan petunjuk jalan yang berada dalam gedung terminal kedatangan. Apalagi jika teman-teman melakukan perjalanan mandiri, tidak bergabung dengan tour/travel agent.

 

Perlu diketahui, bahwa jika ingin menaiki MRT menuju kota Singapura, kita HARUS menuju ke Terminal 3, di mana memang hanya dari terminal tersebutlah MRT mulai berjalan menuju ke arah kota.

 

Namun, jika teman-teman naik armada seperti Garuda Indonesia, maka akan langsung mendarat di Terminal 3, jadi tidak perlu mencari-cari lagi cara menuju Shelter MRT yang berada pada Terminal 3.

 

Peta MRT Singapore (Source: http://www.lta.gov.sg/)

 

Lalu bagaimana caranya teman-teman menuju ke Terminal 3? Mudah. Agar lebih cepat dan tidak perlu berjalan kaki, maka dapat menggunakan Skytrain (seperti monorail yang ada di TMII). Ikuti petunjuk arah yang mengarahkan ke arah Skytrain yang menuju ke Terminal 3, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini, “Skytrain to T3“.

Penunjuk Arah Menuju Skytrain ke Terminal 3

 

Menunggu Skytrain untuk Menuju Terminal 3

 

Setelah Sampai di Terminal 3

 

Setelah teman-teman sampai ke terminal 3, teman-teman langsung menuju ke arah Imigrasi yang berdekatan dengan Shelter MRT. Tetap ikuti petunjuk arah yang berada di dalam gedung bandara. Jika bingung, bertanyalah pada bagian informasi.

Imigrasi yang Dekat dengan Shelter MRT

 

Oiya, sebelum keluar imigrasi, tukarkan Uang Rupiah teman-teman di Counter UOB Bank. Mengapa UOB? Karena sebelum kami berangkat, diberitahu oleh banyak teman kalau menukar di UOB Bank adalah yang paling murah saat membeli Dolar Singapura (SGD) dibandingkan dengan Money Changer lainnya.

Dan saat menuju bagian imigrasi, siapkan:

  1. Paspor.
  2. Kertas Isian Tinggal yang dibagikan saat masih berada di dalam pesawat menuju Singapura. Bentuknya kertas putih tebal dengan kotak-kotak kosong yang harus diisi dengan data dan informasi milik kita. (Pada saat mengisi bagian kota tinggal, isi saja Nama Hotel dan Daerah Hotel tersebut berada.)

Pengisian Data Diri

 

Tidak perlu grogi saat berhadapan dengan petugas. Cukup jawab setiap pertanyaan petugas imigrasi. Yang paling sering ditanyain paling-paling:

“Mau ngapain Anda ke Singapore? Dengan siapa?”

 

Next, setelah melewati gerbang imigrasitetap perhatikan papan-papan penunjuk jalan.  Perhatikan papan yang menuju ke arah Shelter MRT, di mana pada papan akan tertulis “Train to City“, di mana memang tidak hanya MRT yang akan menuju ke arah kota, melainkan juga terdapat LRT (Light Rail Transitdan letak shelter-nya bersebelahan.

Papan Penunjuk Arah ke Shelter MRT

 

Nah, setelah sampai pada area Shelter MRT, beli tiket pada mesin, seperti mesin tiket KRL Jabodetabek. Cara pembeliannya pun mirip seperti saat membeli tiket KRL Jabodetabek dan touch screen. Kalau saya lebih suka menggunakan tampilan map atau peta baru memilih Stasiun Tujuan. Dan rata-rata para pelancong akan menuju ke area Bugis, Orchard, Bayfront, maupun Marina, dan rata-rata biaya yang dibutuhkan di dalam menuju lokasi-lokasi tersebut hanya senilai $ 2.4 saja. Sebenarnya ada semacam kartu seperti e-money atau e-toll sama seperti yang ada di Indonesia, di mana dengan kartu tersebut kita tidak perlu mengantri dan membeli tiket manual pada mesin, sehingga pemegang kartu dapat langsung masuk gerbang shelter. Berhubung kami belum punya, ya mau tidak mau kami harus bersabar mengantri.

Mengantri Membeli Tiket MRT pada Mesin Tiket

 

Tiket MRT Harian seperti Tiket Harian Berjalan (THB) KRL Jabodetabek

 

Setelah mendapatkan tiket MRT, mengantrilah pada Shelter MRT dan menunggu datangnya MRT. Jangan lupa! Siapkan Peta Jalur MRT (bisa dilihat pada gambar teratas pada postingan ini) pada HP masing-masing sebagai panduan selama perjalanan, karena sama seperti menaiki Bus TransJakarta dan KRL Jabodetabek, terkadang teman-teman harus transit pada titik-titik tertentu.

Karena lokasi hotel kami dekat dengan Stasiun Esplanade, maka pertama-tama kami harus transit di Stasiun Tanah Merah dan berganti dengan MRT ke arah Tuas, jika diperhatikan pada peta di atas, terdapat pada garis hijau. Dan memang jika ingin ke arah kota, semua wisatawan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Merah.

Stasiun Tanah Merah

 

Setelah sampai pada Stasiun Tanah Merah kita juga harus berhati-hati akan keluar sisi kanan atau kiri, karena posisi MRT berada di tengah-tengah jalur, di mana di kanan-kirinya adalah rel MRT arah Pasir Ris dan arah Tuas. Karena jika kita salah turun sisi, kita harus menunggu kereta datang untuk menyeberang arah (menyeberang melalui gerbong kereta) atau harus turun ke bawah melalui eskalator (ya, eskalator!) untuk menyeberang  (menyeberang bawah tanah). Sayangnya saya juga tidak sempat mendokumentasikan arah mana harus turun dari arah kereta melaju. Oiya, seluruh stasiun MRT di Singapura dilengkapi dengan eskalator, setidaknya sepanjang area yang saya lalui, jadi para penumpang tidak akan kelelahan dengan menaiki maupun menuruni tangga secara manual. Oiya, satu lagi, ketika menaiki eskalatorwajib berdiri di sebelah kiri, jangan seperti di Indonesia yang bisa santai-santai di eskalator berjejer kanan-kiri, tidak boleh alias tidak bisa. Karena bila demikian kita akan menghalangi orang-orang yang akan terburu-buru dan mereka-mereka inilah yang membutuhkan jalur kanan kosong tersebut.

Suasana di Dalam Salah Satu MRT

 

Karena tujuan kami ke arah Stasiun Esplanade, setelah naik MRT arah Pasir Ris atau Tuas dari Tanah Merah, maka kami harus transit di Stasiun Bugis, kemudian selang 1 stasiun naik MRT arah Chinatown atau Bayfront dan transit di Stasiun Promenade, kemudian kembali menaiki MRT arah Dhoby Ghaut dan hanya berjarak 1 stasiun saja kami sudah sampai pada Stasiun Esplanade. Setelah turun kami pun turun dan menuju ke arah Marina Square di mana lokasi hotel kami berada.

Arah Tujuan Kami ke Area Marina Square

 

Lebih lengkapnya dapat diperhatikan pada Peta MRT di atas. Pada saat kami menuju area Marina Square ini, kami juga melalui Stasiun Bugis di mana banyak juga pelancong yang turun pada stasiun tersebut, di mana memang di daerah tersebut dekat dengan area belanja, seperti Bugis Street dan Bugis JunctionSekali lagi, harus selalu perhatikan Peta dan juga Google Maps pada HP masing-masing. Karena apabila kita bingung di tengah perjalanan kita, dengan berbekal melihat Google Maps, kita dapat berjalan ke arah manapun yang kita inginkan.

Salah Satu Area di Kawasan Bugis Junction

 

Kawasan Bugis Street

 

Nah, memang tidak rumit keliling Singapura dengan menggunakan transportasi MRT, asalkan kita mau memperhatikan dan selalu aware di mana kita berada pada saat berjalan-jalan keliling Singapore. Tidak lupa selalu perhatikan Peta Singapura yang dapat didapatkan pada saat masih di Bandara Changi, kemudian memperhatikan panduan peta MRT seperti yang ada pada postingan ini, dan terakhir tidak lupa juga Google Maps. 

Area Mengantri Masuk MRT

 

Oiya, ada hal yang menarik juga untuk bisa dibahas, yaitu kondisi atau kultur orang-orang di negara ini pada saat akan naik dan turun dari MRT. Benar-benar tidak ada yang namanya saling serobot seperti yang terjadi pada saat kita mengantri naik KRL maupun Bus TransJakarta. Benar-benar yang namanya menunggu penumpang yang akan turun terlebih dahulu ya benar-benar ditunggu sampai semua penumpang yang akan turun itu turun! Tidak ada satu pun yang menghalangi mereka di depan pintu MRT. Dan orang-orang yang akan naik MRT pun bebaris mengantri dengan rapih di kanan-kiri pintu MRT. Benar-benar luar biasa ya. Boleh itu kita tiru dan kita contoh. Di setiap tepi jalur naik-turun MRT juga terdapat panah-panah seperti pada gambar di atas, panah merah dan panah hijau sebagai petunjuk bagi para pengguna MRT posisi mengantri dan posisi jalur turun yang harus dipatuhi. Dan kerennya rambu-rambu seperti itu selalu dipatuhi oleh orang-orang di negara tersebut. Keren!

 

Setiap kultur unik, rapih, dan bersih pada negara tersebut kerap membuat nagih para pelancong, sehingga rasanya ingin kembali merasakan sensasi berjalan-jalan keliling negara tersebut lagi dan lagi.

 

Review Hotel Wirton, Dago, Bandung

Hello again internet!

Pagi ini suasana langit sangat gloomy yah. Hujan sudah dimulai sejak tadi pagi Subuh. Dan saat ini, siang hari, saat saya menulis kembali, matahari belum juga muncul dari peraduannya. Hujan sudah berhenti sih sejak pukul 9 pagi tadi, tapi suasana masih mendung. Ya, mendung, dingin, komplit. Rasanya akan sangat menyenangkan menikmati hari dengan segelas teh hangat atau secangkir kopi hangat.

Yak, kembali lagi! Saya ingin kembali me-review sebuah penginapan yang baru saja saya dan pasangan kunjungi kemarin weekend. Kali ini kembali ke Kota Kembang, Bandung. Pada mulanya mengapa kami memilih hotel ini, dikarenakan sebenarnya kami sedang ada acara di malam minggunya di Teater Tertutup Dago Tea House yang letaknya berada pada kawasan budaya pemerintah Kota Bandung yang berada di area Dago Atas. Berhubung acaranya dilaksanakan pada malam hari, maka kami memutuskan untuk mencari hotel yang sangat dekat dengan Dago Tea House tersebut, bila perlu kami bisa PP Dago Tea House – hotel hanya dengan berjalan kaki.

Maka, pilihan kami jatuh kepada Hotel Wirton.

 

– – –

 

Hotel Wirton merupakan hotel bintang 2 yang terletak persis sebelum jalan masuk ke Dago Tea House, berseberangan dengan Pom Bensin.

Lokasi Hotel Wirton Dago Bandung

 

Lokasi hotel ini strategis berada di pinggir Jalan Raya Dago Atas (Jln. Ir. H. Djuanda bagian atas) dengan harga per malamnya untuk Kamar Standard adalah sekitar Rp 250.000,-an. Cukup murah bukan?

Jam check in dan check out hotel ini sama-sama jam 12 siang, akan tetapi saat kemarin kami datang tepat waktu pukul 12 siang, ternyata kamarnya belum ready. Jadilah kami agak sedikit menunggu sampai dengan pukul 12.30-an. Yah, cukup lama, tapi berhubung saya juga membawa bekal novel, jadilah saya bisa memanfaatkan waktu menunggu dengan membaca novel. Pasangan? Ya apalagi jika bukan bermain game. Haha.

 

Nah, berikut merupakan penampakan kamar standard pada Hotel Wirton tempat kami menginap ini. Cukup minimalis dengan bentuk kamar-kamar hotel budget masa kini. Dan yang menjadi unik sebenarnya adalah, 2 (dua) sisi dinding yang menghadap luar ini, terdapat kaca yang menembus ke arah luar, sehingga pemandangan keluar hotel langsung dapat terlihat. Kebetulan kami memang request untuk kamar yang menghadap ke arah luar dan di lantai tertinggi dari jenis kamar yang ada. Dan memang mentok di lantai 2 untuk jenis kamar standard hotel ini.

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

 

Suasananya tenang dan tidak berisik walau kamar menghadap ke arah jalan raya dan berhadapan langsung dengan Pos Satpam Hotel, ya, pos satpam! Haha. Stereotype  yang biasanya suka menjadi “hal wajar” dengan yang namanya “pos satpam” itu adalah, kalau pada malam hari, petugas-petugasnya atau satpam-satpamnya suka menyalakan radio kencang-kencang untuk menemani sepanjang malam berjaga, malah bisa-bisa dangdutan dari radio yang dinyalakan tersebut. Akan tetapi kemarin kami tidak mengalami “hal yang tidak diinginkan” tersebut, alhamdulillah. Haha. Nah, berikut ini adalah penampakan bagian luar kamar kami atau pemandangan yang kami dapat dari kamar kami. Hihi.

Penampakan Sisi Sebelah Utara

 

Penampakan Sisi Timur yang Menghadap ke Arah Jalan Raya (Nah kan, ada Pos Satpam-nya kan….hahaha.)

 

Menuju ke hotel ini juga relatif sangat mudah ya, apalagi jika menggunakan transportasi umum yaitu angkot. Dapat dituju dengan menggunakan:

  1. Angkot Kalapa – Dago (Warna Hijau dengan Corak Orange di Bagian Bawah Angkot)
  2. Angkot Stasion – Dago (Warna Hijau dengan Garis Orange di Bagian Tengah Angkot)
  3. Angkot Riung – Dago (Warna Putih dengan Corak Hijau di Bagian Bawah Angkot)

Berhentinya pun persis di depan hotel dan tidak perlu berjalan kaki lagi menuju ke hotel ini. Mudah bukan?

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Kalau boleh saya katakan, kulaitasnya sama seperti hotel-hotel budget bintang 2 lainnya. Sistem prasmanan, rasa yang cukup lezat dan memuaskan bagi para tamu di dalam memenuhi kebutuhan sarapan pagi. Sarapan pagi seperti biasa dari pukul 6 sampai dengan pukul 10 pagi. Kemarin saat kami selesai melaksanakan sarapan pagi kami, kami melanjutkan aktivitas kami ke Car Free Day (CFD) Dago yang berada di Jalan Raya Dago Bawah (Jln. Ir. H. Djuanda bagian bawah). Menuju ke CFD pun kami tidak kesulitan, karena hanya dengan sekali menggunakan angkot menuju ke arah Simpang Dago di bagian bawah.

Sarapan Pagi di Hotel Wirton Dago Bandung

 

Overall menurut saya menginap di hotel ini cukup memuaskan dan yah walau pada saat datang agak sedikit menunggu. Selain itu, harga di hotel ini relatif murah, karena dari Rp 250.000,-an, teman-teman sudah dapat menginap di hotel ini.

Oke deh, liburan yuk! 🙂