AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

 

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

 

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa Gading.

 

Sekali lagi saya sebutkan, lokasi hotel ini saaaaangat dan superrrrr strategis. POP! Hotel Kelapa Gading menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Kali ini saya berkesempatan menginap selama 4 hari 3 malam dan saya hanya, ya, hanya, memerlukan Rp 1.000.000,- ++ lebih sedikit. Entahlah, bagi saya jumlah sekian termasuk murah, jika dibandingkan dengan lokasi yang super strategis seperti ini. Apalagi jika dibandingkan dengan postingan saya sebelumnya mengenai hotel ini di mana harga per malam saat itu adalah Rp 425.000,-.  Plus, ini momen peak season lho, di saat suasana Tahun Baru. Jadi semakin berasa “murah”nya. Dan saya memesan hotel tersebut 2 bulan sebelum kedatangan melalui aplikasi Agoda.

 

– – –

 

Day 1 – Jumat, 29 Desember 2017

 

Jauh-jauh hari saya memang sengaja memesan untuk dapat menginap sejak hari Jumat, walau dulu jauh hari tersebut saya sudah berpikir dan tahu jika hari Jumat, 29 Desember 2017 belum libur dan bukan hari cuti bersama. Walau demikian saya hanya berpikir bahwa saya ingin “memulai” liburan long weekend saya dengan sudah berada pada hotel. Jadi, bangun tidur di pagi hari di hari Sabtu-nya, saya sudah dapat bermalas-malasan dengan suasana hotel, tanpa harus bergerak bersiap menuju lokasi liburan.

 

Alhamdulillah, tibalah juga hari Jumat tanggal 29 Desember 2017 tersebut, dan di Jumat siang harinya saya dapat “kabur”, mengingat suasana kantor juga sudah sepi sekali, dan sebenarnya banyak juga yang mengambil jatah cuti di hari tersebut.

 

Tadinya saya berniat ingin naik Kereta Commuter Line (KRL) dan nyambung-nyambung menggunakan Kopaja. Namun saya mengurungkan niat dan memikirkan saran pasangan untuk langsung naik ojol alias ojek online langsung dari kantor (di selatan) menuju Mall Kelapa Gading (di utara).

 

Sebenarnya yang terpikirkan oleh saya kemudian malah naik ojol nyambung-nyambung, misal dari kantor (Jakarta Selatan) ke Jakarta Pusat (sekitar Bundaran Hotel Indonesia atau Sudirman), kemudian dari  titik Bundaran HI atau Sudirman tersebut baru melanjutkan kembali ke Jakarta Utara (MKG). Karena saya berpikir, “sepertinya nggak mungkin ada yang mau ambil, kalaupun ambil nanti takutnya misuh-misuh”, dsb.

 

Namun  saat saya mencoba order langsung menuju Mall Kelapa Gading (MKG), ternyata ada yang mau! Saat datang pun saya langsung bilang ke Bapak Driver Ojol, “ke utara nih ya Pak, hehe”. Dan ternyata…..malah si Bapak Driver adalah orang Bekasi yang mungkin Bekasi-nya berbatasan langsung dengan area Pulogadung, yang jadinya malah lokasi tujuan saya di Kelapa Gading jadi semakin dekat dengan rumah Beliau. Haaah…..beruntunglah saya. *senang*

 

Saat sampai, beruntunglah saya sudah sekitar pukul 1 siang, sehingga sudah memasuki jam check in, alias sudah bisa check in. Ditambah, belum ada antrian check in. Yeay! Dan lebih beruntungnya lagi, saya mendapatkan service dari Mbak Resepsionis yang baaaik banget dan super ramah. Mood langsung hepi. Plus, request-request  yang saya sebutkan pada order sebelumnya, terpenuhi semua, lantai tertinggi dari jenis kamar yang dipilih, non-smoking room, dan view menghadap ke arah selatan atau arah mall sampai La Piazza. Alhamdulillah…

 

Dan beginilah penampakan kamar kami, simpel namun nyaman.

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami dengan Kamar Mandi Simpel Tanpa Bathtub Hanya Shower

 

Penampakan Kamar Kami

 

Setelah istirahat sejenak, saya langsung menuju ke area food court mall untuk mencari makan siang.

 

Ruang Makan Hotel yang Menyambung dengan Lantai 3 Mall Kelapa Gading Bagian Food Court

 

Pasangan baru sampai sekitar pukul 19.30 WIB. Beliau tidak ikut “kabur” seperti yang sudah saya lakukan. Tentu saja tidak, biarkan Beliau serius di dalam mencari nafkah tanpa saya ganggu-ganggu. Hehe. Eeeaaa… XD

 

Malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film Si Juki The Movie. Usai menonton, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel, mencari tempat makan yang mungkin masih buka. Karena sudah hampir tengah malam, terlihat sudah semua tempat makan yang berjajar banyak di sepanjang jalan kuliner Kelapa Gading tutup. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata masih ada yang buka (dan bukan tempat dugem tentu saja), tempat makan hits  kekinian, yaitu Warunk Upnormal.

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Oiya, setelah sekian lama tidak bermain ke area Kelapa Gading, sekarang ada perubahan pada Mall Kelapa Gading-nya, terutama bagian MKG 1 dan MKG 2. Seperti sekarang, bioskop yang biasanya ada di MKG 1, sekarang semuanya menyatu di area bioskop MKG 3 di lantai 3 yang satu lantai dengan area food court. Dan nama mall sudah berubah ditambah dengan nama developer-nya yaitu menjadi Summarecon Mall Kelapa Gading.

 

Selain itu juga, di sekitar MKG ini, terutama di jalan raya bagian depan MKG, kini sedang dibangun jalur LRT di mana LRT ini panjangnya sampai menuju area Cikarang, Bekasi (cmiiw).

 

 

Day 2 – Sabtu, 30 Desember 2017

 

 

Sabtu pagi kami lalui di dalam hotel saja. Dan baru memasuki waktu brunch, kami memutuskan untuk ke Dunia Fantasi yang berada di area Ancol, Jakarta Utara. Yeay!

 

Sebelum berangkat, kami sudah berpikir, sudah pasti nanti saat di area wisata tersebut akan saaangat ramai orang, mengingat ini adalah hari libur nasional dan semua orang di Indonesia juga libur! Dalam arti, wisatawan domestik yang datang di DuFan tidak hanya orang Jakarta atau orang yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, melainkan banyak juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Benar saja, saat kami sampai sekitar pukul 11 siang, kami melihat buanyaaak sekali orang yang akan masuk ke DuFan.

 

Antrian Panjang Masuk Dunia Fantasi di Libur Panjang Tahun Baru 2018

 

Jadi, saat kami datang, terdapat promo Tiket Masuk Annual yang harganya sama dengan Tiket Masuk Reguler sebesar Rp 335.000,-. Tiket Masuk Annual  ini merupakan tiket masuk ke DuFan di mana sepanjang tahun 2018, kita dapat masuk DuFan secara free alias gratis. Jadilah semua orang yang datang membeli tiket masuk yang Tiket Masuk Annual.

 

Formulir yang Harus Diisi untuk Mendapatkan Annual Card Dunia Fantasi

 

Semakin siang semakin panas. Antrian pun semakin mengular. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan manca negara saya lihat ikut meramaikan suasana liburan di Dunia Fantasi siang hari itu.

 

Antrian di “Balai Kota” Dunia Fantasi untuk Menukar Formulir Isian dengan Annual Card

 

Setelah mengantri hampir 30 menit lamanya, akhirnya kami pun mendapatkan tiket masuk yang ternyata kami harus mengantri kembali di “Balai Kota” yang baru kemarin saat ke DuFan saya ketahui bahwa terdapat bangunan baru miniatur Taman Fatahillah lengkap dengan gedung Balai Kota Jadul. Nah di dalam gedung tersebutlah kami menukar tiket masuk annual kami, dengan sebelumnya juga kami harus mengisi formulir yang telah disediakan. Well, kembalilah kami mengantri selama kurang lebih 20 menit-an. Haha.

 

Akhirnya, setelah 30 menit-an kami mengantri, didapatkanlah Annual Access Card kami, yeay!

 

Annual Card Dunia Fantasi

 

Setelah mendapatkan kartu dan akhirnya beneran bisa masuk, kami tidak langsung menuju wahana, melainkan beli jajanan kentang goreng dulu di dekat pintu masuk, dekat komedi putar, haha. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Dan…kami pun kembali mengantri. Hahaha. XD

 

Untunglah tidak lama kemudian, kami pun sudah mendapatkan kentang goreng kami.

 

Dan wahana pertama yang kami coba adalah Tornado! Awalnya saya hanya iseng saja menyebutkan ingin naik wahana tersebut kepada pasangan. Sembari makan kentang goreng kami, kami bersama pengunjung lain di bagian pedestrian samping wahana, menyaksikan para pengunjung yang sedang naik wahana tersebut. Nampaknya seru! Begitu saya pikir. Plus, nampaknya antrian Tornado masih saaangat sepi bila dibandingkan dengan wahana-wahana lain. Jadilah setelah menghabiskan kentang goreng kami, naiklah kami ke wahana.

 

Hasilnya? Saya mual, benar-benar mual! Seru memang naik wahana Tornado, tapi tidak lagi-lagi deh. Masih untung saya tidak sampai muntah-muntah. X(

 

Muka Udah Mau Nangis Ketakutan 😦

 

Wahana berikutnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Boneka. Kondisi perut yang masih sangat mual dan saya yang hampir menyerah, membuat saya meminta kepada pasangan untuk naik wahana yang santai-santai saja.

 

Awalnya ragu saat akan memasuki wahana Rumah Boneka tersebut, mengingat antrian yang menguuular puanjaaang sekali. Akhirnya kami pun tetap masuk ke dalam antrian. Yah, begitulah suasana libur panjang. Di wahana manapun pasti ramai.

 

Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kami pun mendapat giliran untuk masuk ke dalam wahana dengan menaiki perahu yang digerakkan oleh pompa untuk menyusuri dan melintasi bagian dalam Rumah Boneka.

 

Usai dari Rumah Boneka, kami memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang dapat kami makan di siang hari tersebut.

 

Sampailah kami di area Rumah Jahil dan Rumah Miring. Di sana terdapat kedai snack yang sepertinya baru buka, di mana ia menawarkan snack cumi-cumi yang dipanggang, di mana cumi-cumi tersebut di-press ke dalam mesin panggang, dan penyajiannya ditusuk sate. Rasanya? Yummy…! 

 

Korean Roasted Squid Mashita

 

Setelah makan snack gurita, kami melanjutkan petualangan kami untuk memasuki wahana Rumah Jahil dan Rumah Miring.

 

Sebelum lanjut kembali, saya beristirahat sejenak di sebuah panggung di dekat area tersebut. Saya tidur-tiduran sejenak beberapa menit. Tidak hanya saya yang rebahan beristirahat, terlihat beberapa pengunjung lain juga tidur-tiduran di sekitar kami. Beruntunglah saya dan pasangan masih mendapatkan space untuk beristirahat, mengingat panggung tersebut sangat kecil.

 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar.

 

Usai sholat, kami penasaran dengan wahana Ice Age yang saat itu sedang tidak beroperasi, akan tetapi terlihat ada 2-3 orang petugas yang berdiri di depan wahana tersebut seperti sedang menjaga sesuatu tapi tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Kami pun menghampiri dan menanyakan wahana Ice Age yang tutup tersebut. Namun ternyata, dari jawaban para petugas tersebut, walau Ice Age tidak beroperasi, di dalam gedung wahana terdapat wahana lain seperti Perahu Ice Age yang dapat berputar-puar dan wahana Hello Kitty.

 

Di dalam gedung juga terdapat tempat jajanan dan makanan. Dan saya memutuskan untuk membeli sebuah nasi dalam mangkuk kertas yang ternyata sepertinya anak perusahaan Hoka-Hoka Bento. Usai makan, kami melanjutkan masuk ke dalam wahana Rumah Hello Kitty.

 

Rumah Hello Kitty

 

Usai dari Rumah Hello Kitty, kami melanjutkan ke wahana yang saat itu sedang sering ditayangkan dalam iklan Dunia Fantasi di TV, yaitu wahana permainan Galactica. Lokasinya bersebelahan dengan restoran cepat saji Mc Donald di bagian dalam.

 

Seperti yang sudah ditebak, betul saja, antri panjang! Haha. Yasudah, karena penasaran, kami pun ikut mengantri. Selama kurang lebih 1 jam-an, akhirnya kami pun mendapat giliran masuk ke dalam wahana.

 

Akan tetapi………………..

 

Ternyata “menu utama” wahana tersebut yaitu tembak-tembakan, mendadak tidak beroperasi dan terjadi masalah teknis di dalam pengoperasiannya.

 

Yah……….penonton kecewa. 😦

 

Kami pun diarahkan keluar wahana dengan diberikan cap stempel tambahan di tangan kami, agar nanti jika sudah dapat beroperasi kembali, kami dapat masuk melalui Pintu Khusus pemegang Kartu Premium  tanpa mengantri. Tetap saja, kami menjadi kecewa. Karena sudah hampir 1,5 jam kami mengantri, eh, malah batal bermain. Hiks, hiks. 😦

 

Terlihat Petugas Wahana “Galactica” yang Panik dan Bingung Rembugan

 

Baiklah, daripada kami memendam kesedihan, akhirnya kami memutuskan ke area wahana Bianglala. Namun ketika melihat antriannya plus hari sudah mulai gelap, pada awalnya saya agak malas. Namun karena saya penasaran dan belum pernah sama sekali naik wahana tersebut sebelum-sebelumnya saat mengunjungi DuFan, akhirnya kami pun ikut ke dalam antrian panjang tersebut.

 

Dan…kembali. Setelah hampir 2 jam kami mengantri, akhirnya kami dapat masuk ke dalam wahana. Hah…akhirnya. Kalau dipikir-pikir, kok kami mau-maunya ya mengantri lagi selama itu, padahal sebelumnya kami sudah mendapatkan zonk setelah mengantri selama 1 jam-an. Haha.

 

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami menyudahi petualangan kami di Dunia Fantasi Ancol.

 

Oiya, setelah turun dari wahana Bianglala, kami melihat kalau wahana Ice Age MENDADAK dibuka dooonk. Hahaha. Namun karena badan sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kelapa Gading.

 

Sesampainya di Kelapa Gading sekitar pukul 20.30 WIB, kami langsung menuju ke restoran seafood yang di malam sebelumnya kami melihat sudah tutup. Namanya adalah Rumah Makan Seafood Wiro Sableng 212. Saya terbayang-bayang dengan Kepiting Raksasa yang pernah saya makan beberapa waktu sebelumnya di Rumah Makan Kepiting Asap Cendrawasih Lebak Bulus. Di restoran Wiro Sableng 212 ini juga tersedia menu kepeting raksasa tersebut dengan beberapa bumbu pilihan.

 

Makan Malam Besar di Rumah Makan Seafood “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kepiting Saus Telur Asin “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Udang Goreng Saus Mentega “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

 

Berhubung hari itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan akan menikmati nonton film midnite di MKG. Karena midnite hanya ada di hari Sabtu saja, tidak ada di hari lain. Kami sudah membeli tiket sejak kami masih di DuFan di siang harinya. Film yang kami tonton adalah Bleeding Steel, di mana pemeran utamanya adalah Jackie Chan.

 

Sekitar pukul 2 pagi, kami pun menyudahi aktivitas kami di hari Sabtu tersebut.

 

 

Day 3 – Minggu, 31 Desember 2017

 

Hari Minggu pagi kami mulai seperti biasa dengan sarapan di dalam hotel. Ternyata memang betul, pengunjung hotel di liburan panjang kali itu benar-benar ramai! Tidak seperti pada kunjungan kami sebelumnya pada hotel ini.

 

Hari itu kami memutuskan untuk ke daerah Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Menurut berita di TV beberapa waktu lalu yang pernah saya lihat, sedang diadakan bazaar besar-besaran dari beberapa instansi bertajuk “Big Bang Jakarta“. Memang sih, suasana pada acara tersebut tidak seramai saat PRJ. Acara tersebut lebih ke ajang acara cuci gudang diskon akhir tahun.

Naik Bajaj dari MKG 3 Menuju PRJ Kemayoran

 

Minggu pagi itu langit tidak begitu cerah seperti pada hari sebelumnya dan agak sedikit mendung. Kami memutuskan pergi ke Kemayoran dengan menggunakan bajaj yang memang sedang ngetem di depan Mall Kelapa Gading 3.

 

Sesampainya di JIExpo Kemayoran, kami disambut oleh petugas dari JakFM. Mendadak kami ditawari promo untuk masuk gratis ke dalam acara pameran dengan cara meng-install aplikasi radio tersebut. Akhirnya kami pun mengikuti arahan dari mas petugas tersebut dan mendapatkan free tiket masuk.

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Setelah masuk ke area pameran, kami langsung menuju spot tempat makan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berkeliling. Saat kami makan, benar saja, hujan turun sangat deras! Angin juga bertiup sangat kencangnya. Bahkan air hujan sampai terciprat ke bagian teras dalam bangunan saking deras dan kencangnya. Beruntungnya tidak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Dan tidak sampai 30 menit, hujan pun sedikit reda.

Menu Makan Siang Hari Itu

 

Suasana Hujan Angin Deras – View dari Tempat Kami Makan Siang

 

Saya dan pasangan pun kembali meneruskan kegiatan usai makan siang dengan masuk ke dalam beberapa area pameran di dalam gedung.

 

Seperti biasa terdapat peralatan rumah tangga, elektronik, handphone, mainan anak, kosmetik, bahkan travel fair pun juga diselenggarakan dalam bazaar. Terlihat antrian tersendiri untuk acara travel fair tersebut. Dan travel fair  tersebut diadakan oleh maskapai Sriwijaya Air.

Salah Satu Suasana Bazaar “Big Bang Jakarta”

 

Kami pun puas berkeliling, namun tidak ada satu pun barang yang berhasil kami lirik, akhirnya kami menuju ke pusat kuliner kembali. Di sana kami akhirnya malah menikmati kuliner durian yang katanya asli dari Medan. Mantab!

 

Kuliner Durian Asli Medan

 

Setelah makan durian, kami memutuskan pulang kembali saja ke Kelapa Gading. Kami pun beristirahat sore hari hingga waktu Isya’ di dalam kamar hotel. Sembari suami tidur-tiduran dan main game, saya menelepon Ibu saya yang juga sedang beraktivitas liburan tahun baru di sebuah tempat yang sejuk bernama Sarangan yang dekat dari Cepu. Ibu tidak sendiri, Beliau ditemani Ayah dan adik saya, serta bersama dengan teman Ayah di Cepu.

 

Sore hari tersebut, saya menikmati betul-betul suasana menjelang Maghrib. Pasca hujan, langit begitu indah dan sangat cerah. Terlihat semburat orange di ujung selatan sana.

 

Suasana Sore Hari Terakhir 2017 – Lokasi Kelapa Gading

 

Selepas Sholat Isya’, kami memutuskan untuk berkeliling mall sepanjang MKG 5, MKG 3, MKG 2, MKG 1, dan La Piazza. Kami juga mencari tempat untuk aktivitas makan malam kami.

 

Namun apa yang terjadi? Tempat makan – tempat makan yang menjadi tujuan dan keinginan kami, semuanya full alias penuh dan harus waiting list jika ingin benar-benar makan di tempat-tempat tujuan kami tersebut. Berawal dari 1 tempat, pindah ke tempat lain karena tujuan awal full, yang berujung nggak nemu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar mall dan berjalan ke area rumah makan seafood yang berjejer.

 

Akhirnya saya masuk ke dalam Rumah Makan Seafood Pondok Pangandaran. Akhirnya makan seafood lagi malam itu. Haha. Beruntungnya masih ada tempat, terutama bagi kami yang hanya berdua saja.

Rumah Makan Seafood “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

 

Udang Jumbo Goreng Mentega “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Udang Jumbo Saos Pangandaran “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Usai makan malam, kami kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk tidak keluar-keluar lagi hingga tengah malam. Ya, tengah malamnya adalah malam pergantian tahun dari tahun 2017 menuju tahun 2018.

 

Di dalam menunggu datangnya tengah malam, kami pun hanya mengamati kondisi langit malam hari melalui jendela kamar kami. Sebenarnya terdapat acara konser musik di halaman La Piazza, namun kami tidak tertarik untuk masuk. Kami cukup memperhatikan dari jauh lampu-lampu suar yang menyorot ke langit yang bersumber dari panggung acara konser tersebut. Kebetulan memang view kamar kami ini adalah yang menuju ke arah mall dan La Piazza.

 

Kami juga melihat acara di TV yang menyiarkan siaran langsung acara pergantian tahun di berbagai daerah di Indonesia. Setengah jam menuju tengah malam, mulai terdengar suara kembang api dari kejauhan. Kami pun mulai heboh dengan mematikan lampu kamar dan mulai melihat ke arah luar kamar. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya dan suamipun mulai sibuk dengan hape-nya. Haha.

 

Tengah malam pun tiba. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari arah La Piazza, muncul juga kembang api terdekat dan terbesarnya. Karena beberapa menit sebelumnya, fireworks yang muncul hanya dari wilayah sekitar dan dari arah yang jauh-jauh.

 

Fireworks Mulai Muncul dari Arah La Piazza

 

Fireworks dari Arah La Piazza

 

Euforia kami malam itu benar-benar terasa. Sekitar pukul 00.30 WIB kami baru berangkat tidur.

 

Day 4 – Senin, 1 Januari 2018

 

Aktivitas pagi kembali berjalan seperti biasanya. Namun setelah Sholat Subuh kami memutuskan untuk kembali berlabuh ke Pulau Kapuk. Maklum, baru tidur 4 jam dan rasanya ngantuk sekali. Haha. Walau begitu kami tetap tidak melewatkan waktu sarapan kami di hotel. (nggak mau rugi bo’ hehe)

 

Sekitar pukul 11 siang kami sudah siap berkemas dan siap untuk check out dari hotel.  Sebelum pulang ke Pondok Pinang, kami menyempatkan datang sejenak ke area pameran “Star Wars” di dalam Mall Kelapa Gading 3 untuk sekedar melihat-lihat. Siang hari itu kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta Selatan dengan menggunakan taksi. Mengingat bawaan kami yang juga sudah “beranak” akibat libur panjang kali itu.

Pameran Star Wars di MKG 3

 

Berfoto dengan Lightsaber

 

– – –

 

Liburan usai. Akhirnya kami pun benar-benar dapat bersantai selama 4 hari full. Benar-benar rasanya energi recharged walau bagi sebagian orang berkesan “liburannya kok ke situ-situ lagi sih”. Hehe.

 

So, alhamdulillah. 🙂

Advertisements
Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Film, Travelling

Review Film “Susah Sinyal”

Halo lagi internet!

Kali ini saya ingin kembali me-review sebuah film, lebih tepatnya bercerita tentang sebuah film. Dan film yang akan saya bahas adalah film Indonesia. Judulnya adalah “Sunyah Sinyal” dengan disutradarai oleh Ernest Prakasa.

Sedikit cerita, Ernest Prakasa merupakan seorang Stand Up Comedian yang sebelumnya telah mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV Season Pertama yaitu tahun 2011 dan berhasil mendapatkan peringkat ketiga. Berjalannya waktu, Ernest malah terlihat semakin melebarkan sayapnya di dunia tulis-menulis buku dan membuat film.

Beberapa waktu sebelumnya, sebuah film berjudul “Cek Toko Sebelah” telah semakin membuat saya semakin “mengenal” sosok Ernest seperti apa di dalam dunia perfilman. Dari “Cek Toko Sebelah” juga, saya dapat menyimpulkan bahwa Ernest ini memang keren banget kalau harus membuat film ber-genre drama komedi berbobot. Tidak sembarang komedi, melainkan juga dapat memasukkan unsur nilai-nilai positif yang dapat diambil hikmahnya.

Seperti film Indonesia satu ini yang baru saja saya tonton, yaitu film “Susah Sinyal”.

Oiya, hokinya, saat kemarin membeli tiket nonton film ini, saya mendapatkan free CD Stand Up Comedy dari para pemain “Susah Sinyal“. Hehe.

 

Free CD Susah Sinyal

 

– – – – –

 

Susah Sinyal” mengisahkan kehidupan seorang wanita single parent yang sangat sukses dan bertipe workaholic dengan seorang anak yang sedang beranjak remaja. Dikisahkan wanita ini telah berpisah sejak lama dengan suaminya sejak anak perempuannya tersebut berusia 2 tahun.

Namanya adalah Ellen, seorang pengacara yang sangat sukses. Berjalannya waktu, Ellen memutuskan untuk membuat sebuah law firm sendiri di bawah pimpinannya dengan dibantu oleh sahabat terbaiknya yaitu Iwan. Ellen memiliki seorang anak perempuan yang saat ini sedang duduk di bangku SMA, bernama Kiara. Sehari-hari Ellen dikenal sebagai seorang wanita pekerja keras dan seorang ibu yang sangat sibuk.

Kiara sehari-hari ditemani oleh Oma-nya, yaitu Oma Agatha, Mama-nya Ellen. Kiara merasa bahwa Mamanya super dan sangat sibuk, sampai-sampai tidak memiliki waktu sama sekali dengannya. Dikisahkan bahwa Kiara dan Ellen jarang sekali berbincang. Ellen pun jika pulang ke rumah selalu di malam hari atau sudah sangat larut.

Hingga suatu hari, Oma Agatha terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Kiara pun akhirnya sangat bersedih karena kehilangan seseorang yang sangat ia cintai dan seseorang yang sangat dekat dengannya sehari-hari. Berjalannya waktu, Kiara membuat ulah di sekolah sampai-sampai Ellen pun dipanggil oleh pihak sekolah, yaitu Guru BK. Bincang, bincang, dan berbincang, Guru BK pun menasehati Ellen agar mengurang-ngurangi kesibukannya sebagai seorang pengacara dan sesekali mengambil waktu libur bersama dengan Kiara berdua saja.

Maka, ide rencana liburan pun Ellen utarakan juga kepada Kiara saat Ellen mengantar Kiara ke sekolah. Dikisahkan dalam fim bahwa Kiara memang sedang ingin mengunjungi sebuah pantai atau daerah baru yang belum pernah ia kunjungi, sementara Ellen menyerahkan sepenuhnya kepada Kiara ke mana tujuan wisata yang Kiara inginkan. Dan pilihan pun jatuh kepada Sumba, sebuah pulau cantik di Nusa Tenggara Timur.

Pada saat yang sama, law firm milik Ellen sedang menangani kasus perceraian seorang aktris yang sangat terkenal di Indonesia. Dan dalam waktu yang bersamaan dengan jadwal liburan ke Sumba, akan diselenggarakan sebuah sidang penting atas kasus tersebut, dan Ellen pun menyerahkan kepada Iwan, sahabatnya beserta anak magang bernama Astrid. Astrid inilah koneksi Ellen untuk mendapatkan travel agent di Sumba. Dan travel agent di Sumba ini adalah milik Tante-nya Astrid, Tante Maya.

 

 

Wisata ke Sumba

Akhirnya, sampailah juga Ellen dan Kiara di Sumba. Mereka dijemput oleh pegawai dari travel agent yang memang sudah dipilih Ellen untuk menemani perjalanan wisata mereka selama di Sumba.

Dikisahkan bahwa mereka berdua akan menginap di sebuah  hotel yang berlokasi persis di pinggir pantai. Dikisahkan juga bahwa Ellen dan Kiara tidak hanya berdua di sana, melainkan terdapat juga dua pasang honeymoon-ers  yang juga sedang menikmati liburan di sana.

Sebaliknya di Jakarta, sidang pun berjalan lancar.

Nah, mengapa film ini diberi judul “Susah Sinyal”, mungkin dikarenakan selama menginap di Sumba inilah, para peserta wisata susah sekali mendapatkan sinyal. Namun demikian, “akibat” dari  susah sinyal tersebut, maka Ellen dan Kiara malah dapat benar-benar menikmati waktu liburan mereka, walau sesekali Ellen juga “penasaran” dengan kondisi pekerjaannya di Jakarta.

Saat di Sumba inilah, penonton diberi suguhan pemandangan-pemandangan fantastis dan eksotis indahnya Pulau Sumba yang sudah mirip seperti pemandangan-pemandangan di luar negeri. Suasana Pulau Sumba digambarkan dengan hamparan savana yang sangat luas dengan beberapa kali diselingi ada adegan berkuda. Selain itu juga, Pulau Sumba juga digambarkan sebagai tempat yang sangat indah dengan keindahan air terjun yang dimilikinya. Benar-benar membuat diri ini menjadi ingin berkunjung ke Pulau Sumba.

 

 

Sepulangnya Kembali ke Jakarta

Sepulangnya kembali ke Jakarta, Kiara akan mengikuti sebuah audisi tarik suara di mana sebelum pergi berwisata ke Pulau Sumba, ia telah mengikuti audisi online untuk ajang pencarian bakat tersebut. Ellen berjanji akan selalu ada dan hadir di dalam segala persiapan audisi hingga pada hari-H audisi, termasuk di dalamnya menyiapkan pakaian yang akan dikenakan saat audisi nantinya.

Dan di sinilah konflik permasalahan pun mulai muncul. Pada hari yang sama dengan hari jadwal audisi, Ellen juga akan menggelar sidang yang sangat penting terkait dengan perceraian sang aktris yang sedang ia tangani saat ini. Pada jadwal rencana, sidang akan dilaksanakan pada pagi hari dan audisi akan dilaksanakan di siang harinya setelah jam makan siang. Namun, hal di luar dugaan pun terjadi. Sidang ditunda dan baru di mulai siang hari. Dan apes­-nya lagi, Ellen mem-flight mode­ ponselnya.

Audisi Kiara pun berlangsung, namun ia tidak dapat perform  dengan baik dan malah berhenti di tengah-tengah ia menyanyi. Kiara pun marah besar dikarenakan Mama-nya, Ellen, terihat tidak hadir di tengah-tengah Kiara melakukan audisi. Karena saking marahnya, Kiara pun kabur dan pergi dari rumah. Ia pun kembali ke Pulau Sumba dan bertemu Tante Maya di hotel yang sama.

Sementara Ellen baru selesai sidang saat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan ia pun baru sadar kalau ia telah melakukan kesalahan dengan lupa hadir dalam acara audisi Kiara di siang harinya.  Ellen pun buru-buru menyalakan kembali jaringan pada ponselnya dan mendapatkan laporan dari Saodah, Mbak di rumah, kalau Kiara sudah kabur pergi dari rumah.

Saat pulang ke rumah, Ellen sudah melihat kamar Kiara yang begitu berantakannya, pakaian audisinya yang sudah terkoyak, serta dekorasi kamar yang dibuat berdua pun juga sudah hancur. Ellen pun menyesal. Beruntunglah notebook milik Kiara masih menyala dan menampilkan ke mana tujuan Kiara pergi dan terlihat bahwa tujuan Kiara adalah kembali ke Pulau Sumba. Ellen pun berpikir untuk menyusulnya.

 

 

Kembali ke Pulau Sumba

Keesokan harinya, Ellen sudah sampai kembali ke hotel tempat ia sebelumnya berlibur bersama dengan Kiara. Terlihat Kiara begitu sangat marah dan tidak mau berbicara dengan Ellen saat Ellen menghampiri Kiara. Pergolakan emosi Kiara pun terjadi. Namun pada akhirnya Ellen pun berhasil menenangkan putrinya dan menunjukkan sebuah video kepada putrinya tersebut.

Dikisahkan dalam audisi tarik suara yang sedang diikuti oleh Kiara, salah satu juri merupakan idola Kiara, yaitu Andien. Dan video yang Ellen tunjukkan kepada Kiara merupakan video dari Andien yang menyatakan bahwa Andien mengajak Kiara untuk dapat berkolaborasi menyanyi bersama dengannya. Begitu video tersebut ditunjukkan pada Kiara, Kiara pun bangkit bersorak-sorak kegirangan karena saking bergembiranya. Ia tidak percaya apa yang baru saja Mama-nya tunjukkan padanya.

 

 

Happy Ending dan Pesta Tahun Baru di Jakarta

Pada akhir cerita dikisahkan bahwa akhirnya semuanya berbahagia dan senang bersama. Diselenggarakanlah sebuah pesta tahun baru kecil-kecilan di kediaman Kiara. Tante Maya beserta rombongan dari Sumba pun turut hadir meramaikan pesta tersebut. Akhirnya, Ellen pun menyadari bahwa keluarga adalah hal terpenting di atas segalanya. Keluarga adalah sesuatu yang jauh lebih penting dibandingkan dengan karirnya yang sedang bersinar. Ellen pun berjanji akan selalu ada di samping Kiara dan akan selalu hadir di manapun Kiara membutuhkannya.

 

– – – – –

 

Dari film “Susah Sinyal” inilah, saya dapat mengambil beberapa poin penting yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Diantaranya adalah:

  1. Sesibuk-sibuknya dan sesukses-suksesnya seorang Ibu, tetap ia adalah seorang Ibu yang memiliki tugas dan kewajiban kepada keluarganya.
  2. Bagaimana pun, bagi seorang Ibu, keluarga harus selalu menjadi prioritas utama, prioritas nomor satu dibandingkan dengan apapun, termasuk karir atau perkerjaan yang mungkin sedang dirintis atau mungkin sedang bersinar-sinarnya.
  3. Komunikasi antara anak dan orang tua sangatlah penting dilakukan, di usia berapapun, sekalipun sang anak sudah beranjak dewasa.

Jadi, begitulah kira-kira kisah dari film “Susah Sinyal” yang menurut saya sangat layak dan bagus untuk ditonton. Walau ber-genre drama keluarga, sentuhan-sentuhan komedi yang sangat lucu juga mewarnai sepanjang film dimainkan.

 

Tertarik menontonnya langsung? Berikut ini merupakan link trailer film “Susah Sinyal”.

Nah, bagaimana? Yuk, capcus segera ke bioskop-bioskop terdekat ya.

 

 

Culinary, Entertainment, Hobby, Public Transportation, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Marina Mandarin Singapore (Dokumentasi)

Halo lagi internet! Baru kemarin update blog, hari ini sudah menulis kembali. Yeay! Semangat! Haha. 😀

Suasana libur panjang macam sekarang ini memang bikin semangat buat nulis yang temanya bernuansa liburan. Nah, hari ini saya kembali akan menulis tentang sebuah hotel, biar masih nyambung kali ya dengan tulisan sebelumnya. Hehe. Yuk ah, mari! 🙂

 

Kali ini ingin membahas sebuah hotel cantik yang ada di Singapura. Lokasinya di area Marina Singapore. Mengapa bisa kemari dan di hotel ini menginapnya? Jawabannya adalah karena random dan memang sedang ingin bersenang-senang menikmati waktu berdua bersama pasangan. Ahey! ^-^

 

Berawal dari tiba-tiba yang sangat dadakan sekali, saat itu saya sedang menunggu jam keberangkatan kereta pulang kampung di Stasiun Gambir, iseng-iseng sambil menyimak grup-grup WhatsApp, tetiba seorang kawan di salah satu grup yang mostly memang banyak ibu-ibu yang berjualan, mendadak ia mempromosikan tiket PP murah Jakarta – Singapore – Jakarta. Dan dengan sangat random-nya, saya pun membeli tiket tersebut. Haha. (tapi sudah se-izin pasangan loh…hehe)

 

Tiket sudah di tangan, berikutnya bingung kan tuh mau nginep di mana. Nah, dengan sangat random-nya kembali, saya iseng-iseng googling dan buka-buka aplikasi-aplikasi travel online untuk mencari-cari. Berhubung karena sudah pernah ke Singapura sebelum-sebelumnya (ciye sombong, :p ), maka ke Singapura kala itu saya ingin suasana yang berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Nah, jatuhlah pada hotel yang satu ini.

 

Yak, namanya adalah Hotel Marina Mandarin Singapore.

 

Lokasi Hotel

Hotel Marina Mandarin Singapore merupakan hotel bintang lima yang berlokasi sangat strategis di salah satu area pusat bisnis Marina Singapore. Lokasinya persis bersebelahan dengan Stasiun MRT Esplanade, di mana stasiun ini menyambung dengan area kuliner dan perbelanjaan Marina Square yang jika ke arah utara akan menyambung dengan Mall Suntec City di mana mall ini terletak persis di seberang Hotel Marina Mandarin Singapore.

Lokasi Hotel Marina Mandarin Singapore

 

Menuju ke hotel ini dari Bandara Changi juga sangat-sangat mudah, tidak ribet, seperti yang juga sudah pernah saya tulis pada tulisan dalam link berikut ini (klik).

Sampailah juga kami pada hotel setelah kurang-lebih 45 menit perjalanan dari Bandara Changi. Segera kami langsung menuju area check in hotel.

 

Check in dulu, gan!

 

Kondisi Kamar

Dan ini adalah penampakan kamar yang kami pesan.

 

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami

 

Aaaaak! Cakeeep banget ternyata! Sesuai dengan review-review yang ada di internet! X) #norak

 

Begitulah reaksi saya saat pertama kali memasuki kamar ini. Katrok! Ndeso! Norak! Haha. XD Ya, kami memang sengaja mengambil kamar dengan view ke arah Marina Bay Sands. Cantik! Terutama jika dinikmati di malam hari, lebih cantik sekali! ❤

 

Berikut adalah penampakan-penampakan betapa cozy dan romantis-nya suasana di dalam kamar. Benar-benar membangkitkan mood honeymoon agar semakin membara! Haha. 😀

 

Yeay! Honeymoon! :”) – Foto Bokeh Ala-Ala

 

Foto Bokeh Ala-Ala

 

View Cantik dari Balkon Kamar Kami

 

Sebenarnya memang, mungkin agak kurang tepat saat kami berkunjung ke Singapura saat itu dikarenakan cuaca masih masuk dalam musim penghujan, alias sedang sering-seringnya hujan datang. Sama seperti halnya dengan kondisi yang juga sedang terjadi di Indonesia. Walhasil, suasana langit saat kami berkeliling Singapura di siang hingga sore hari saat itu pun lebih sering mendung, kurang begitu cerah.

 

 

View Malam Hari dari Kamar Kami di Marina Mandarin Singapore

 

Kondisi Interior Hotel

Sebenarnya saya tidak terlalu banyak mengambil gambar bagian dalam hotelnya seperti apa. Suasananya menurut saya (atau hanya perasaan saya saja) tidak terlalu banyak menerapkan aksen-aksen warna gold agar berkesan sebagai sebuah bangunan mewah. Akan tetapi menurut saya, bentuk bagian dalam hotel ini justru unik, karena menyerupai penampakan interior kapal pesiar.

 

Bentuk Desain Interior Marina Mandarin Singapore Mirip Seperti Sebuah Kapal Pesiar

 

Dan Ini Penampakan Interior Marina Mandarin Singapore Jika Dilihat dari Dalam Lift

 

Nah, jadi hanya segitu saja review singkat mengenai Hotel Marina Mandarin Singapore. Kalau makanannya, terus terang kami tidak mengambil jatah makan di dalam hotel, mengingat kanan-kiri-depan merupakan pusat perbelanjaan dan kuliner. Jadilah kami memutuskan jika ingin membeli berbagai makanan dan jajanan hanya di area sekitar saja. Hitung-hitung sekalian berkegiatan kuliner juga, bukan. Hehe.

 

Oke deh.

Jangan lupa untuk selalu bersemangat dalam segala hal, selalu berusaha, dan selalu berdoa ya.

Yuk mari berlibur! 🙂

 

Bonus

Dan ini adalah suasana pagi hari yang dapat dinikmati dari dalam balkon kamar kami. Walau di siang dan sore hari sering turun hujan, beruntungnya kalau di pagi hari suasana sangat cerah dan matahari pun tak malu untuk muncul ke permukaan. Sooo beautiful! 

 

Suasana Pagi Hari dari Balkon Kamar Kami

 

 

Suasana Pagi Hari dari Balkon Kamar Kami

 

 ❤ ❤ ❤

Culinary, Entertainment, Hobby, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Grand Sahid Jaya (Dokumentasi)

Musim Liburan!

Sebentar lagi Natal dan Tahun Baru. Ditambah Desember tahun ini, punya 2 buah long weekend berturut-turut, long weekend Natal dan long weekend Tahun Baru. Wooohooo! 😀

 

Tapi……….

 

Libur long weekend Natal ini saya tidak ke mana-mana. Hiks, hiks. Padahal kalau dipikir-pikir, lumayan juga lho, dari Sabtu – Selasa, 4 hari bo’! Yah, sudahlah, tak apeu, hehehe.

 

Oke deh, gara-gara suasana libur panjang begini, kali ini saya jadi ingin kembali menulis tentang review sebuah hotel deh. Tapi, postingan kali ini mungkin akan lebih banyak pamer dokumentasi foto-foto saja yah. Mengingat, hawa-nya bikin mager nih. Huhu. Oke deh, let’s check this out gan!

 

– – –

 

Namanya adalah Hotel Grand Sahid Jaya yang berlokasi di salah satu area pusat bisnis Jakarta, ya, di daerah Sudirman. Hotel ini merupakan hotel bintang 5 yang memang hotelnya cetaaarrr banget, cakep!

 

Saya berkesempatan menginap di sini karena memang pas ada urusan pekerjaan. Menginap selama 2 hari 1 malam di hari kerja.

 

Lokasi Hotel

 

Lokasi Hotel Grand Sahid Jaya (https://www.google.co.id)

 

Lokasi hotel ini benar-benar berada pada jantung Jalan Jend. Sudirman Jakarta dan berada persis di pinggir jalan rayanya. Menuju pada hotel ini juga sangat mudah, tidak ribet. Mau naik angkutan umum pun bisa, seperti Bus TransJakarta (berhenti di Halte Karet), Metromini (lupa nomor berapa), serta Kopaja Nomor 19 arah Manggarai trayek Blok M – Manggarai yang langsung berhenti persis di depan hotel. Apalagi kalau naik taksi, mobil, maupun motor, juga jauh lebih bisa menuju kemari.

 

Sedikit cerita, dulu saat saya masih bekerja di area Bendungan Hilir dan setiap pulang ke arah pulang ke arah  Matraman dengan menaiki Bus Kota jurusan ke Kampung Melayu, saya suka memperhatikan hotel megah ini dari kejauhan. Cantik! Eh, sekarang malah dapat kesempatan buat “mencicipi” hotel tersebut walau dalam waktu yang sangat singkat. Kebetulan sekali. Sudah begitu, gratis pula. Hehe. 😀

 

Penampakan Kamar

 

Nah, berikut ini adalah penampakan suasana kamar yang saya tempati bersama teman saya.

 

Suasana Kamar Hotel Grand Sahid Jaya Sudirman

 

Karena kami mendapatkan kamar pada posisi di bagian menghadap belakang atau bagian dalam, maka inilah view yang dapat dilihat dari kamar kami. Kebetulan lokasi hotel ini bersebelahan dengan Gedung Da Vinci, gedung dengan arsitektur yang sangat cantik khas bangunan Eropa. Jadilah view kamar kami adalah bagian belakang gedung tersebut dan terdapat juga sebuah bangunan tempat parkir.

 

View Bagian Belakang Hotel, Sebelah Kanan Depan adalah Gedung Da Vinci

 

Nah di sinilah yang saya baru sadar, kalau seharusnya saya bisa mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel. T_T

 

Sebenarnya saya bersama dengan rombongan dari kantor, saya-lah yang memegang dan membagi-bagikan kunci. Tidak banyak sih, jatah kantor kami mendapatkan 3 kamar saja, dan penukaran kunci pada resepsionis saya yang melakukan. Saya pun meminta 3 kamar yang berdekatan, agar saat berkoordinasi jadi lebih mudah, tidak perlu berjalan jauh. Dan bagian kami adalah di Lantai 5.

 

Di sini lah saya tidak sadar karena mungkin memikirkan hal lain terkait pekerjaan, sampai-sampai “kebiasaan” mengungkapkan keinginan meminta view bagian depan jadi lupa. Tau-tau sudah saya bagi-bagi saja begitu kunci-kunci kamarnya. Haha. Padahal diantara kamar-kamar yang didapatkan adalah kombinasi kamar genap dan kamar ganjil, dalam arti ada kamar yang view-nya bagian depan alias view Jalan Jend. Sudirman! Aaargh…lupa parah. Dan kamar saya dapatnya yang view bagian belakang. Mweee. Agak sedih sih akibat ke-alfa-an diri sendiri. Mau minta tukar kamar juga tidak mungkin (nggak enak juga kali :D), plus baru sadarnya setelah beberapa menit lamanya di dalam kamar. Haha, yasudahlah…

 

Jadi, FYI, kalau menginap di hotel bagus, apalagi di hotel bintang 5 seperti ini, katanya, ini juga info dari teman saya sih, ambillah kamar dengan Nomor Genap jika ingin punya view kamar menghadap bagian depan. Dan kamar dengan Nomor Ganjil akan berada pada bagian belakang, alias view-nya akan menghadap bagian belakang hotel. Begitu… Katanya sih ya.. Saat saya menulis tulisan ini juga belum meng-googling kebenaran akan hal tersebut sih... Hehe.

 

Dan ini adalah view yang dapat dinikmati jika mengambil kamar Nomor Genap yang menghadap ke bagian depan.

 

 

Dan ini adalah teman saya saat berpose. Cakep juga kan background-nya. Hehe.

 

 

 

Kualitas Makanan

 

Kalau urusan makanan, hmmm, jangan ditanya deh. Udah pasti enak! Secara bintang 5 gitu loh. Haha.

 

Karena kami adalah rombongan kantor yang sedang melaksanakan acara semacam seminar atau workshop, maka kami disediakan makanannya secara prasmanan dan dilengkapi juga dengan coffee break saat pagi, sore, dan malam hari. Dari segi rasa, enak-enak semua lha ya.. Hehe.

 

Penampakan Sarapan Nasi Goreng + Omelette

 

Sayangnya saya tidak banyak memotret semua makanan yang saya makan. Haha. Mirip-mirip standar prasmanan saat acara kondangan di hotel begitu deh dan yang pasti enak!

 

 

Suasana Interior Hotel

 

Sudah layaknya hotel bintang 5, sudah pasti suasana di dalamnya akan sangat ciamik dan asik. Yang pasti, kesan mewah dan nyaman sudah terasa saat baru melangkahkan kaki masuk ke dalam hotel. Dan ini beberapa penampakan bagian dalam yang sempat saya potret.

 

Suasana Ruang Tunggu Hotel Bagian Depan

 

Dekorasi Suasana Natal

 

Suasana Workshop dalam Sebuah Ruangan pada Hotel

 

Yak, jadi begitulah “liburan singkat” saya di Hotel Grand Sahid Jaya Sudirman Jakarta. Bagaimana pun menginap di sini karena tugas dinas, jadi memang bukan untuk bersenang-senang. Hehe. Jadilah hanya sekelumit saja yang dapat saya rasakan saat menginap di sana. Yah, mudah-mudahan di lain waktu ada kesempatan lagi untuk menginap dan dengan suasana yang berbeda pula. Aamiin! 😀

AMG, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life

Aktivitas Me-Time

Hello, hello, hello again internet! Apa kabar!

Tulisan kali ini saya akan membahas tentang apa-apa saja yang dilakukan ketika sedang me-time. Ya, me-time.

 

Sebenarnya tulisan kali ini mengikuti tema mingguan yang diberikan oleh komunitas blog yang sedang saya ikuti, dan temanya minggu ini memang tentang me-time. Hehe. 😀

Sebenarnya jika membahas tentang me-time, saya dapat mengkategorikan me-time menjadi dua bagian, yaitu me-time pada saat saya masih single dan me-time saat saya sudah men-double alias sudah menikah. 😀

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Masih Single

Melakukan kegiatan personal yang menyenangkan dan melegakan pikiran di waktu luang saat sendiri atau saat sedang menyendiri alias melakukan kegiatan me-time  memang kadang harus disempatkan dilakukan di sela-sela kesibukan kegiatan kita sehari-hari. Jika dalam sehari tidak dapat “bertemu” waktu me-time, setidaknya kegiatan tersebut dapat dilakukan seminggu sekali.

Menurut saya, menikmati me-time tidak selalu harus diisi dengan mengerjakan hobi pribadi. Seperti misalnya saya, hobi saya adalah bermain instrumen musik flute. Bukan berarti saya harus berlatih atau bermain flute dengan mengambil “jatah” me-time saya, bukan begitu. Bagi saya, kegiatan me-time ini jika dilakukan, pikiran benar-benar harus bisa relax dan dapat menjadi ringan akibat rutinitas sehari-hari yang sudah berhasil “memadati” pikiran kita.

Nah, salah satu kegiatan me-time yang gemar saya lakukan pada saat masih single dulu adalah dengan berjalan-jalan ke pasar atau ke pusat perbelanjaan atau juga ke toko buku.

Dulu saat saya masih beranjak dewasa, yaitu saat usia menginjak usia SMP, saya sudah mulai “menyadari” jika tubuh ini “butuh” me-time. Hehe. Mungkin semakin besar atau semakin mendewasa pikiran ini, semakin banyak hal yang dipikirkan, oleh karenanya sudah mulai butuh yang namanya “relaksasi pikiran”.

Source: https://www.pexels.com/

 

Biasanya saya lakukan me-time saat usai melaksanakan ujian caturwulan atau sudah mulai mendekati waktu-waktu liburan sekolah. Saat itu saya masih tinggal di Banjarnegara dan memang di sana tidak seramai kota besar yang ada mall-nya atau plaza-nya atau supermarket yang benar-benar besar atau tempat makan franchise ala-ala barat, tidak ada sama sekali. Satu-satunya pusat perbelanjaan saat itu ya hanya pasar, Pasar Banjarnegara. Walau demikian, pasar menjadi tempat yang seru untuk hang-out bersama teman-teman semasa sekolah dulu. Dan jangan salah, saat ini kota saya tersebut sudah mulai berkembang, sudah ada area wisata waterboom, bioskop, plaza, café-café gaul  yang makin banyak bertebaran, bahkan supermarket-nya juga sudah banyak yang menjadi bertingkat-tingkat.

 

Kondisi Pasar Kota Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Berjalan kaki panjang bermeter-meter memang sudah menjadi hobi sejak kecil. Saya tidak merasa capai jika harus berjalan kaki jauh. Oleh karenanya dulu saya sempat suka dibilang kalau berjalan kaki terlalu cepat. Rasanya seperti ada kepuasan tersendiri di dalam berjalan kaki panjang tesebut.

Masa-masa sekolah SD – SMP saat itu masih era-nya kaset tape. Saya juga suka datang ke toko kaset demi melihat-lihat album-album terbaru dari penyanyi-penyanyi baru yang muncul dalam dunia hiburan baik dalam negeri maupun luar negeri. Saya pun menjadi kolektor kaset beberapa penyanyi yang cukup terkenal di masanya saat itu.

Saya juga senang mampir ke toko yang menjual majalah remaja dan komik yang ada di pasar. Bukan, bukan toko buku semacam Gramedia, bukan. Toko tersebut berukuran seperti toko sembako yang ada di pasar-pasar pada umumnya. Tapi saya sangat suka melihat-lihat dan masuk ke dalamnya.

Di kota saya saat itu belum terdapat toko buku sebesar Gramedia. Namun semakin berkembang dan berjalannya waktu, terdapat sebuah toko buku yang cukup besar di mana ia bentuknya hampir menyerupai Gramedia, namanya Toko Buku “Ratna”. Selain menjual peralatan kantor dan alat tulis, ia juga menjual beberapa novel dan komik, walau tidak selengkap Gramedia. Tapi jangan salah, saat ini di toko buku tersebut sudah semakin berkembang besar di kota kami. Kalau tidak salah, saat ini ia memiliki 3 cabang toko yang tiga-tiganya berada di area pusat Kota Banjarnegara juga.

Toko Buku “Ratna” Banjarnegara Masa Kini (source: http://www.panoramio.com)

 

Saya senang menghabiskan waktu di toko buku tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat dan tidak membeli apapun. Rasanya ada rasa puas yang teramat sangat di dalam melakukan aktivitas me-time seperti itu. Hobi saya sedikit banyak memang senang membaca, terutama novel-novel remaja muslim keluaran penerbit Mizan saat itu. Dan saya pun mengoleksi beberapa. Jika dibandingkan dengan hari ini, tentu saja referensi novel-novel sejenis sudah berhamburan banyaknya dibandingkan saat itu. Dan mungkin sekarang si Toko Buku “Ratna” sudah semakin jauh lebih besar dibandingkan dengan saat terakhir dulu mengunjunginya.

Kegemaran berjalan kaki tersebut berlanjut saat saya beranjak dewasa hingga memasuki usia SMA-Kuliah. Kebetulan masa-masa SMA dan Kuliah saya sudah berpindah ke kota besar, yaitu Kota Bandung. Di sinilah di mana saya mulai merasakan “culture shock” untuk yang pertama kalinya. Melihat kota besar seperti meihat sebuah berlian terang benderang yang menarik untuk selalu dipandang. Ditambah, sekarang saya sudah dapat ke toko buku besar seperti Gramedia atau Gunung Agung jika ingin melakukan me-time dengan melihat-lihat buku-buku baru.

Jadi, kegiatan berjalan-jalan ke pasar atau pusat berbelanjaan dan ke toko buku adalah kegiatan me-time saya saat masih single.

 

– – – – –

 

Me-Time Saat Sudah Men-Double Alias Sudah Menikah

Nah, sebenarnya me-time saat sudah menikah pun tidak jauh berbeda dengan me-time saat masih single dulu, sama-sama masih senang melakukan jalan kaki jauh bermeter-meter. Ditambah saat ini yang juga hidup merantau ke kota besar, sudah dapat bepergian dengan mudahnya ke bermacam-macam  pusat-pusat perbelanjaan yang diinginkan.

Me-time jalan-jalan ke mall atau pasar atau supermarket ini biasa saya lakukan saat pasangan melakukan rutinitas mingguan olahraga malam bersama teman-teman kantornya atau pada saat pasangan sedang ada meeting atau lembur yang memang tidak dapat ditinggalkan. Kebetulan tempat tinggal saat ini dan kantor tempat saya bekerja saat ini, dekat dengan sebuah mall besar yang dapat dijangkau hanya dengan berjalan kaki. Selain itu juga, wilayah saya saat ini juga dekat dengan pasar tradisional terlengkap dan terbesar dari yang pernah saya kunjungi sejauh ini, yang hanya dengan naik angkot sekali saja dan tidak lama, saya sudah bisa mengunjungi pasar tersebut. Selain itu juga dekat dengan 2 supermarket besar ternama yang bertetangga-an, di mana juga saya hanya butuh naik angkot sekali dan tidak lama, saya sudah dapat menjangkau ke-dua supermarket tersebut.

Shopping at Mall (source: http://www.sheknows.com)

 

Selain berjalan-jalan dan berbelanja ke pusat perbelanjaan, saya juga menyebut nonton film di bioskop sebagai kegiatan me-time walau melakukan aktivitas tersebut hampir selalu bersama dengan pasangan. Mengapa me-time? Karena kegiatan ini seperti hiburan di sela-sela penatnya pikiran dan urusan kantor. Selain itu juga, kegiatan nonton ke bioskop kami termasuk ke dalam kategori “lebay”, di mana setiap ada film baru muncul dan ratingnya memang bagus, kami “hampir pasti” datang ke bioskop untuk menonton.

Kemudian berikutnya adalah kegiatan arisan. Ya, arisan bersama dengan teman-teman satu komunitas! Kegiatan arisan ini tidak hanya melakukan pengocokan jatah arisan bulanan, melainkan juga saya dapat ber-haha-hihi bersama-sama dan saling bertukar cerita seru. Selain pikiran kembali fresh, saya juga suka membawa pulang ilmu baru yang di dapat saat sedang berkumpul tersebut. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah ibu-ibu dan banyak diantaranya sudah memiliki anak. Seru!

– – – – –

Jadi kesimpulannya adalah, kegiatan me-time apa saja sih yang suka saya lakukan?

  1. Berjalan-jalan dan sesekali berbelanja ke pusat-pusat perbelanjaan dan ke toko buku.
  2. Nonton ke bioskop.
  3. Arisan bulanan.

Kegiatan me-time menurut saya memang penting dan perlu dilakukan agar pikiran ini juga tidak selalu penat dengan kegiatan harian atau rutinitas kita sehari-hari. Mari menjalani hidup dengan serius, namun jangan lupa untuk bersantai juga ya. 🙂