Review Hotel De’ Qur dan Wisata Kawasan Kota Tua Jakarta

Dear internet, apa kabar! Hehe. 😀

Kali ini kembali saya ingin menulis mengenai review liburan singkat dengan bermodal menginap di hotel murah atau hotel-hotel yang cocok disambangi oleh para backpackerSo, let’s check this out, gan!

 

– – –

Day 1: Sabtu, 30 September 2017

Ide menginap weekend kali itu muncul dengan sangat tiba-tiba sekali. Karena sesungguhnya kami sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Ya memang, walau tidak sering, tapi setidaknya sudah pernah kami mengunjunginya.

Namanya adalah Kawasan Kota Tua Jakarta, sebuah tempat sangat bersejarah bagi Indonesia dan khususnya bagi Jakarta. Di kawasan ini berjajar banyak sekali bangunan-bangunan kuno alias bangunan-bangunan jadul khas Kota Tua, baik yang masih berfungsi dengan baik maupun yang sudah tidak berfungsi atau sudah tidak digunakan sama sekali.

Salah satunya adalah Museum Fatahillah atau Museum Sejarah yang sangat terkenal itu. Pada area tersebut juga terdapat bangunan-bangunan atau gedung-gedung lain yang bersejarah, seperti Museum WayangCafe BataviaMuseum Seni Rupa dan KeramikMuseum Bank IndonesiaJembatan Kota Intan, dan lain sebagainya. Dan kami pun memutuskan untuk bermalam di Kawasan Kota Tua JakartaSooo random! Haha. 😀

Kami memutuskan untuk berlibur akhir pekan di Kawasan Kota Tua Jakarta pada weekend akhir Bulan September 2017, ya tepat pada tanggal 30 September 2017 dan tanggal 1 Oktober 2017. Saat itu saya berpikir akan ada nobar film sejarah di area tersebut karena tanggal menginap kami bertepatan dengan peristiwa sejarah kelam G30S PKI, yang ternyata tidak ada kegiatan pemutaran film sejarah atau sejenisnya pada tanggal tersebut.

– – –

 

Perjalanan Menuju Kawasan Kota Tua Jakarta

Kami menuju ke kawasan wisata tersebut dengan menggunakan angkutan umum kereta KRL Jabodetabek, dimulai berangkat dari Stasiun Kebayoran dengan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang untuk menuju ke Stasiun Kampung Bandan yang kemudian transit kembali pada stasiun tersebut untuk menuju ke stasiun akhir yaitu Stasiun Jakarta Kota. Peta Rute Jalur KRL Jabodetabek dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Peta KRL Jabodetabek (source: http://www.krl.co.id/)

 

Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota, kami langsung menuju ke arah Hotel De’ Qur tempat kami menginap dengan melalui area Taman Fatahillah. Suasana siang hari itu sangat terik dan terlihat banyak sekali orang memadati area tersebut. Benar-benar semakin terasa suasana libur weekend saat kami melalui hamparan orang-orang itu.

Berhubung hari sudah siang dan suasana cukup terik, ditambah perjalanan kami yang lumayan memakan waktu, maka pada saat kami melalui area Taman Fatahillah dan melihat Cafe Batavia di hadapan kami, maka kami pun memutuskan untuk mampir sejenak sambil menunggu waktu check in hotel. Sebelum mampir ke dalam cafe, saya sempat membeli sebuah es krim. Saat sampai di depan cafe kami dihadang oleh Mbak-Mbak Cantik pelayan cafe tersebut dan kami dilarang masuk karena masih memegang es krim yang belum habis. Terpaksa deh makan cepat sambil mengamati orang-orang yang mampir di depan cafe untuk sekedar mengambil foto dengan latar belakang Cafe Batavia.

Jajan Es Krim (gagal bokeh, hiks)

 

Cafe Batavia

Suasana di dalam Cafe Batavia ini benar-benar seperti berada di luar negeri dan terasa sekali suasan vintage-nya alias jadul-nya. Di dalam cafe banyak sekali terlihat turis mancanegara, makin terasa seperti kami sedang berjalan-jalan di luar negeri. Suasana interior di dalam cafe pun menggambarkan suasana cozy dengan sentuhan artistik jaman kolonial. Cafe ini terdiri dari 2 (dua) lantai, lantai atas dikhususkan bagi para pengunjung yang tidak merokok, dan lantai bawah dikhususkan bagi para pengunjung yang merokok dengan dilengkapi panggung hiburan serta bar, persis seperti apa yang suka dilihat dalam film-film hollywood.

Suasana di Dalam Cafe Lantai 2

 

Foto-Foto Tokoh di Dinding Dekat Tangga

 

Hotel De’ Qur

Tepat pukul 2 siang atau pukul 14.00 WIB, kami sampai di Hotel De’ Qur. Hotel ini terletak persis di samping Jalan Kali Besar dengan ciri khas bangunan lama. Beberapa waktu sebelumnya, kami pernah mengikuti tur jalan kaki dari sebuah Komunitas Tur Lokal bernama Jakarta Good Guide dan jadwal tur yang kami ikuti saat itu adalah berjalan-jalan di area Kota Tua Jakarta, dengan rute start dari Stasiun Jakarta Kota yang kemudian rute jalan kaki kami saat itu juga melalui Jalan Kali Besar. Saat itu, kawasan Kali Besar belum dilakukan renovasi atau pemugaran pada area pinggir kalinya. Dan saat kami berkunjung kembali akhir September 2017 lalu, area Kali Besar sedang dilakukan renovasi di bagian trotoar di kanan-kiri Kali Besar.

Berikut ini adalah sebuah foto yang sempat saya ambil saat berjalan-jalan bersama dengan Jakarta Good Guide pada awal tahun 2016 lalu yang juga saya abadikan dalam instagram “serius” saya di http://www.instagram.com/phoneography.id/ .

Kali Besar Sebelum Renovasi di Awal 2016 (IG: @phoneography.id –> http://www.instagram.com/phoneography.id/)

 

Dan berikut ini adalah penampakan Kali Besar yang sedang dilakukan renovasi.

Kali Besar sedang Direnovasi, Penampakan dari Ruang Makan Hotel De’ Qur  (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

Renovasi Kali Besar (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

 

Kami memesan Hotel De’ Qur dengan menggunakan aplikasi travel online. Harga yang kami dapatkan pada hotel ini adalah Rp 230.000,-an saja per malamnya. Cukup relatif sangat murah dengan lokasi yang super strategis dengan Kawasan Kota Tua Jakarta atau Taman Fatahillah. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke arah tersebut. Hotel De’ Qur ini merupakan hotel bintang 1.

Saat kami datang untuk check in sesuai petunjuk di dalam voucher hotel yaitu pukul 14.00 WIB, suasana di dalam hotel masih terlihat ramai dari para petugasnya yang sedang membereskan kamar-kamar hotel dan baru sebagian kamar yang ready. Walau begitu, kami sudah mendapatkan kamar tepat pada pukul 2 siang tersebut.

Suasana kamar hotel mirip dengan suasana kos-kosan yang sudah kategori “wah”, karena ukuran kamar cukup luas, sudah dilengkapi meja belajar, lemari pakaian, TV, AC, kasur ukuran large, dan sudah kamar mandi dalam. Haha. 😀

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Ukuran kamar yang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar, alias cukup ini, memang sangat cocok bagi para pelancong backpacker di mana kegiatan wisata lebih banyak di luar hotel. Kami menempati kamar di lantai 2. Bangunan hotel ini terdiri dari 3 lantai, dan sepertinya memang hanya tersedia ukuran kamar demikian, tidak ada jenis kamar lain atau tipe kamar dengan ukuran kamar lebih besar lagi, mengingat pula hotel ini adalah hotel bintang 1.

Dan berikut ini suasana di lorong kamar hotel, semakin terasa seperti kos-kosan, bukan?

Lorong Hotel De’ Qur

 

Hotel De Qur 5.jpg

Suasana Lantai 2 di Mana Terdapat Ruang Makan dan Ruang Tunggu Tamu

 

Kami beristirahat sejenak siang hari itu dengan tidur-tiduran dan menikmati HBO. Kami berencana untuk kembali ke area Taman Fatahillah di sore harinya kembali. Di tengah-tengah kami beristirahat, saya teringat kapan Museum Sejarah atau Museum Fatahillah tutup, dan saat melihat jam, sepertinya sudah tutup, maka saya putuskan untuk masuk ke museum adalah di keesokan harinya, alias Hari Minggu.

 

Kawasan Taman Fatahillah

 

Sekitar pukul setengah lima sore atau pukul 16.30 WIB, kami memutuskan untuk kembali menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Namun rute masuk ke Taman Fatahillah sore hari itu, kami memilih jalur pintu selatan, di mana sebelumnya saat kami akan menuju hotel, kami melalui pintu di sebelah utara. Saat menuju ke pintu selatan, kami melihat sebuah Indomaret unik yang berada pada bangunan gedung lama, namun sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Dan ternyataIndomaret tersebut menyatu dengan sebuah Hostel yang sepertinya unik dan instagram-able sekali yaSudah begitu, keluar masuk hostel menggunakan akses kartu, jadi tidak sembarang orang dapat masuk. ( kemudian saya berpikir, bagaimana cara masuk para pelancong pada saat datang pertama kali ke hostel tersebut dan bagaimana caranya mereka mendaftar ya? mungkin ada semacam bel pintu masuk yang harus ditekan dari luar sehingga memudahkan petugas hostel di dalam untuk mendapatkan notifikasi pengunjung datang dan menyambut mereka? entahlah) Pada mulanya saya berpikir bahwa hostel tersebut tidak terdapat pada aplikasi travel online, namun ternyata setelah meng-googling via maps.google.com tenyata ada. Hiks hiks…nggak notice samsek euy… Oke deh, next time kali ya… 

Wonderloft Hostel (source: TripAdvisor)

 

Suasana sore hari tersebut semakin menggila. Kerumuman orang di area Taman Fatahillah semakiiiiin ramai! Kami pun lagi-lagi hanya menikmati suasana dan melihat-lihat saja, sesekali juga mengambil beberapa foto. Saat sampai di dekat Cafe Batavia kembali, saya melihat sebuah poster besar mengenai pengumuman sebuah Pameran Seni bertajuk “Book of Islamic Art” yang diselenggarakan oleh Universitas Leiden bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda, yang diselenggarakan di Gedung Niaga Kawasan Kota Tua Jakarta. Beruntunglah kami “sempat” melihat pengumuman poster tersebut, karena pada saat kami masuk ke area pameran, kami adalah pengunjung terakhir, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore (18.00 WIB) di mana area pameran akan ditutup. Begitu sepi suasana, karena diselenggarakan pada gedung yang sebagian besar bagian-bagiannya sedang direnovasi dan diselenggarakan di area tidak terlalu luas.

Salah Satu Karya Seni yang Dipamerkan

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Usai melilhat pameran tersebut, kami memutuskan kembali lagi ke hotel, untuk melaksanakan Sholat Maghrib dan Sholat Isya. Dan kami memutuskan akan kembali lagi sekitar pukul 19.30 WIB di malam harinya.

Hotel De’ Qur di Malam Hari

 

Malam Minggu di Kawasan Kota Tua Jakarta

Sekitar hampir menuju pukul 20.00 WIB, kami kembali lagi ke area Kawasan Kota Tua Jakarta lebih tepatnya menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Dan pada saat kami menuju area Taman Fatahillah kembali, kami dikejutkan dengan banyaknya pedagang pasar malam yang sudah mulai ramai di kanan-kiri jalan sepanjang trotoar area kawasan tersebut, sungguh meriah dan semakin terasa aura pesta rakyat-nya! Dan yang paling membuat terkejut adalah pada saat memasuki Taman Fatahillah, sudah sangat-sangat-sangat ramai penuh sesak lautan manusia! Luarrr biasa! 😀

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Malam pun kian larut dan kami pun kian merasakan rasa lapar yang datang menghampiri, maklum makan berat terakhir saat makan siang saja. Kami pun memutuskan menyusuri lautan pasar malam yang berada di sepanjang trotoar di pinggir-pinggir jalan di sebelah utara Taman Fatahillah. Kami menyusuri jalanan hingga ke ujung di mana spot pasar malam ini berakhir. Berharap menemukan menu makan malam yang akan menggiurkan, kami malah “bertemu” dengan sebuah rumah makan di seberang jalan setelah ujung spot pasar malam berakhir. Dari kejauhan terlihat aura warna-warni dari rumah makan tersebut, maka tanpa pikir panjang lagi kami segera memutuskan menuju ke tempat makan tersebut.

 

Rumah Makan Lumba-Lumba Kota Tua Jakarta

Dari kejauhan dengan aura warna-warni-nya bak lukisan suasana pantai, saya pikir rumah makan tersebut adalah rumah makan yang menyajikan makanan laut alias seafood, di tambah nama rumah makan tersebut adalah “Rumah Makan Lumba-Lumba“. Tapi ternyata, tidak. Haha. 😀 Rumah makan ini ternyata menyajikan makanan khas Kota Semarang dan juga menjual beberapa oleh-oleh khas Kota Semarang. Saat memasukinya, kami pun hanya bisa senyam-senyum saja, maklum, suami adalah asli orang Semarang, sementara saya sendiri pun asli orang Jawa Tengah. Berharap dapat bertemu dengan kuliner unik, eh ternyata, ketemunya makanan semarang lagi, semarang lagi. Hehe.

Dan kami pun memesan makanan favorit kami, yaitu pindang ayam, garang asem bandeng, dan tahu petis khas Semarang.

Menu Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Interior Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Pindang Ayam Khas Semarang

 

Garang Asem Bandeng Khas Semarang

 

Tahu Petis Khas Semarang

 

Usai makan malam, kami kembali menuju ke arah area Taman Fatahillah dengan menyusuri trotoar di bagian luar yang sudah menjadi pasar malam di malam minggu yang ramai itu. Penjaja bekam dan shisha di pinggir jalan raya semakin banyak bermunculan. Sepertinya semakin malam semakin ramai ya!

Penjaja Pijat Urut, Bekam, dan Refleksi yang Berjajar di Sepanjang Trotoar

 

Penjaja Shisha Berjajar Juga di Sepanjang Trotoar

 

Area Pasar Malam di Mana Lauan Manusianya Menutupi Jalur TransJakarta

 

Kami akhirnya kembali ke Hotel De’ Qur, namun pada saat bertemu dengan security hotel, dan karena kami terlihat benar-benar seperti pelancong dari kota yang jauh, mendadak si Bapak Security menyarankan kepada kami untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan di mana saya menyebutnya sebagai Jembatan Merah karena bentuk fisiknya yang berwarna merah. Letak jembatan tersebut di ujung jalan Kali Besar  di sebelah utara, dekat dengan Hotel De Rivier di mana hotel tersebut sempat hampir kami pilih sebagai tujuan tempat menginap kami kala itu yang ternyata malah sedang direnovasi di bagian depannya.  Kami menuju Jembatan Kota Intan dengan berjalan kaki, menyusuri kegelapan malam di mana semakin terasa gelap karena memang area trotoar kanan-kiri Kali Besar yang sedang direnovasi menyebabkan jalan dekat kali menjadi minim penerangan. Agak seram, sih sebenarnya. Tapi untunglah kami dapat sampai ke jembatan dengan selamat.

 

Jembatan Kota Intan di Malam Hari

 

Suasana Kali Besar ke Arah Selatan Dilihat dari Jembatan Kota Intan, Sebelah Kanan adalah Bangunan Hotel De Rivier

 

Pada mulanya kami pikir bahwa pintu akses masuk jembatan sudah tutup dan kami tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat suasana Jembatan Kota Intan secara langsung. Beruntunglah ternyata penjaganya masih ada dan membukakan pintu untuk kami berdua.

Susana di Jembatan Kota Intan sebenarnya sedikit agak creepy mengingat di sampingnya juga terdapat pohon tua raksasa plus kami berkunjung di malam hari, bukan siang hari. Mungkin karena area dekat jembatan juga masih ramai lalu-lalang orang, menyebabkan suasana seram agak dapat sedikit ternetralisir. Struktur bangunan Jembatan Kota Intan masih asli berbahan dasar kayu. Pada zamannya, jembatan ini dapat membuka dan menutup karena dahulu Kali Besar sebagai tempat lalu-lintas transportasi laut juga. Saat berada di atasnya sambil menikmati suasana jembatan, saya juga membayangkan suasana masa lampau di sekitar area jembatan tersebut. Merinding, tapi seru. Sebenarnya dulu pada saat saya berjalan-jalan bersama dengan Komunitas Jakarta Good Guide, kami juga melalui area ini, namun saat itu kami tidak mampir karena saat itu suasana sangat panas.

Setelah puas melihat-lihat suasana, kami pun pamit kepada penjaga dan kembali pulang menuju hotel kami Hotel De’ Qur. Namun saat kembali, kami menggunakan angkot dan tidak berjalan kaki seperti sebelumnya saat berangkat menuju Jembatan Kota Intan.

– – – – –

Day 2: Minggu, 1 Oktober 2017

Minggu pagi saya sangat bersemangat sekali. Saya sangat penasaran bagaimana suasana sunrise di Kawasan Kota Tua tersebut. Setelah Sholat Subuh, kami bergegas untuk bersiap-siap menuju kembali ke area Taman Fatahillah.

Kami menyusuri jalan menuju pintu masuk di bagian utara. Miris. Begitu banyak sampah bertebaran di sana-sini. Terlihat beberapa Pasukan Oranye yang sedang membersihkan jalur jalan bekas pasar kaget di malam minggunya. Terlihat juga beberapa kios tenda yang masih ditunggui oleh beberapa pemiliknya yang mungkin sengaja menginap.

Memasuki area Taman Fatahillah kembali, kami melihat suasana yang berbeda dengan hari sebelumnya. Mungkin karena masih pagi, maka area tersebut juga masih sepi pengunjung. Terlihat beberapa warga sekitar yang melaksanakan olahraga pagi. Sayup-sayup terdengar suara musik disco yang sengaja dinyalakan untuk mempersiapkan senam aerobik warga sekitar. Suasana pagi itu saaaaangat indah! Suasananya mirip sekali dengan suasana luar negeri. Dan ternyata kalau pagi, masih banyak burung merpati yang bertebaran di Taman Fatahillah ini. Seorang pengelola rental sepeda hias mulai menebarkan biji-bijian agar para merpati datang bergerombol menikmatinya. Benar-benar indah!

Burung-Burung Bergerombol Menikmati Suasana Pagi

 

Sekitar pukul 6 pagi menuju setengah 7 pagi, terlihat di ufuk timur matahari mulai nampak batang hidungnya. Benar-benar indaaah. Tidak menyangka kami dapat menyaksikan langsung suasana indahnya pagi hari itu.

Suasana Sunrise di Kawasan Wisata Kota Tua

 

Setelah puas menikmati suasana pagi di Kawasan Kota Tua Jakarta, kami memutuskan kembali lagi ke hotel untuk sarapan dan bersiap-siap berkemas kembali pulang ke rumah.

 

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Sarapan pada Hotel De’ Qur ini dapat dikatakan cukup minimalis, sekali lagi, mengingat bahwa hotel tempat kami menginap adalah hotel bintang 1. Sarapan pada hotel ini kami diberi Menu Nasi Goreng + Telur Dadar + Teh Manis Panas pagi hari.

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Usai sarapan kami segera bergegas untuk bersiap-siap. Sesudah check out kami pun mengunjungi Museum Fatahillah.

Tiket masuk ke dalam Museum Fatahillah adalah Rp 5.000,-/orang dewasa. Cukup murah, bukan? Kami pun menyusuri setiap bagian museum dan sesekali mengambil gambar. Kami pun mengikuti alur rombongan yang juga berkeliling untuk melihat-lihat dan menikmati suasana museum.

Suasana Taman Fatahillah di Siang Hari Dilihat dari Museum Fatahillah

 

Sejarah Asal Muasal Kata “Jakarta”

 

Berpose di Salah Satu Prasasti

 

Sekitar pukul setengah 2 siang, kami memutuskan untuk pulang dan menuju ke Stasiun Kota kembali. Sebelum pulang kami menyempatkan menjajal sego pecel yang penjualnya tersebar banyak di area Kawasan Kota Tua.

Kami sampai Stasiun Kebayoran kembali sekitar pukul 16.30 WIB. Dan sore hari itu suasana sudah mulai terlihat mendung. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Angkot D01 yang menuju ke arah Lebak Bulus dan Pondok Pinang. Sekitar pukul 17.30 WIB kami pun sampai rumah.

– – – – –

Liburan singkat 2 hari kami itu menjadi liburan yang terasa sangat menyenangkan dan menyehatkan bagi kami berdua. Karena kami menuju satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki. Ditambah kami pun tidak mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan perjalanan sehat tersebut.

Nah, bagaimana? Tertarik mencoba juga untuk berlibur singkat di Kawasan Kota Tua Jakarta? Tunggu apalagi… Yuk! 🙂

Advertisements

Review Hotel Wirton, Dago, Bandung

Hello again internet!

Pagi ini suasana langit sangat gloomy yah. Hujan sudah dimulai sejak tadi pagi Subuh. Dan saat ini, siang hari, saat saya menulis kembali, matahari belum juga muncul dari peraduannya. Hujan sudah berhenti sih sejak pukul 9 pagi tadi, tapi suasana masih mendung. Ya, mendung, dingin, komplit. Rasanya akan sangat menyenangkan menikmati hari dengan segelas teh hangat atau secangkir kopi hangat.

Yak, kembali lagi! Saya ingin kembali me-review sebuah penginapan yang baru saja saya dan pasangan kunjungi kemarin weekend. Kali ini kembali ke Kota Kembang, Bandung. Pada mulanya mengapa kami memilih hotel ini, dikarenakan sebenarnya kami sedang ada acara di malam minggunya di Teater Tertutup Dago Tea House yang letaknya berada pada kawasan budaya pemerintah Kota Bandung yang berada di area Dago Atas. Berhubung acaranya dilaksanakan pada malam hari, maka kami memutuskan untuk mencari hotel yang sangat dekat dengan Dago Tea House tersebut, bila perlu kami bisa PP Dago Tea House – hotel hanya dengan berjalan kaki.

Maka, pilihan kami jatuh kepada Hotel Wirton.

 

– – –

 

Hotel Wirton merupakan hotel bintang 2 yang terletak persis sebelum jalan masuk ke Dago Tea House, berseberangan dengan Pom Bensin.

Lokasi Hotel Wirton Dago Bandung

 

Lokasi hotel ini strategis berada di pinggir Jalan Raya Dago Atas (Jln. Ir. H. Djuanda bagian atas) dengan harga per malamnya untuk Kamar Standard adalah sekitar Rp 250.000,-an. Cukup murah bukan?

Jam check in dan check out hotel ini sama-sama jam 12 siang, akan tetapi saat kemarin kami datang tepat waktu pukul 12 siang, ternyata kamarnya belum ready. Jadilah kami agak sedikit menunggu sampai dengan pukul 12.30-an. Yah, cukup lama, tapi berhubung saya juga membawa bekal novel, jadilah saya bisa memanfaatkan waktu menunggu dengan membaca novel. Pasangan? Ya apalagi jika bukan bermain game. Haha.

 

Nah, berikut merupakan penampakan kamar standard pada Hotel Wirton tempat kami menginap ini. Cukup minimalis dengan bentuk kamar-kamar hotel budget masa kini. Dan yang menjadi unik sebenarnya adalah, 2 (dua) sisi dinding yang menghadap luar ini, terdapat kaca yang menembus ke arah luar, sehingga pemandangan keluar hotel langsung dapat terlihat. Kebetulan kami memang request untuk kamar yang menghadap ke arah luar dan di lantai tertinggi dari jenis kamar yang ada. Dan memang mentok di lantai 2 untuk jenis kamar standard hotel ini.

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

 

Suasananya tenang dan tidak berisik walau kamar menghadap ke arah jalan raya dan berhadapan langsung dengan Pos Satpam Hotel, ya, pos satpam! Haha. Stereotype  yang biasanya suka menjadi “hal wajar” dengan yang namanya “pos satpam” itu adalah, kalau pada malam hari, petugas-petugasnya atau satpam-satpamnya suka menyalakan radio kencang-kencang untuk menemani sepanjang malam berjaga, malah bisa-bisa dangdutan dari radio yang dinyalakan tersebut. Akan tetapi kemarin kami tidak mengalami “hal yang tidak diinginkan” tersebut, alhamdulillah. Haha. Nah, berikut ini adalah penampakan bagian luar kamar kami atau pemandangan yang kami dapat dari kamar kami. Hihi.

Penampakan Sisi Sebelah Utara

 

Penampakan Sisi Timur yang Menghadap ke Arah Jalan Raya (Nah kan, ada Pos Satpam-nya kan….hahaha.)

 

Menuju ke hotel ini juga relatif sangat mudah ya, apalagi jika menggunakan transportasi umum yaitu angkot. Dapat dituju dengan menggunakan:

  1. Angkot Kalapa – Dago (Warna Hijau dengan Corak Orange di Bagian Bawah Angkot)
  2. Angkot Stasion – Dago (Warna Hijau dengan Garis Orange di Bagian Tengah Angkot)
  3. Angkot Riung – Dago (Warna Putih dengan Corak Hijau di Bagian Bawah Angkot)

Berhentinya pun persis di depan hotel dan tidak perlu berjalan kaki lagi menuju ke hotel ini. Mudah bukan?

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Kalau boleh saya katakan, kulaitasnya sama seperti hotel-hotel budget bintang 2 lainnya. Sistem prasmanan, rasa yang cukup lezat dan memuaskan bagi para tamu di dalam memenuhi kebutuhan sarapan pagi. Sarapan pagi seperti biasa dari pukul 6 sampai dengan pukul 10 pagi. Kemarin saat kami selesai melaksanakan sarapan pagi kami, kami melanjutkan aktivitas kami ke Car Free Day (CFD) Dago yang berada di Jalan Raya Dago Bawah (Jln. Ir. H. Djuanda bagian bawah). Menuju ke CFD pun kami tidak kesulitan, karena hanya dengan sekali menggunakan angkot menuju ke arah Simpang Dago di bagian bawah.

Sarapan Pagi di Hotel Wirton Dago Bandung

 

Overall menurut saya menginap di hotel ini cukup memuaskan dan yah walau pada saat datang agak sedikit menunggu. Selain itu, harga di hotel ini relatif murah, karena dari Rp 250.000,-an, teman-teman sudah dapat menginap di hotel ini.

Oke deh, liburan yuk! 🙂

Review Hotel Losari Blok M

Hello internet!

Tulisan kali ini kembali mengenai review hotel. Yeay! Haha. Rasanya tiada henti ingin menulis tentang beberapa hotel yang sudah pernah saya singgahi. Yuk mareee.

Namanya adalah Hotel Losari Blok M. Hotel ini merupakan hotel bintang 2, lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Panglima Polim Raya dan berada di seberang sisi kiri Blok M Plaza, di mana di depan hotel yang merupakan Jalan Raya Panglima Polim Raya ini sedang dibangun fly over baru. Saat saya menginap bersama dengan suami, saya baru meyadari bahwa, hotel tempat kami menginap ini dilalui oleh crane proyek jalan layang tersebut! Yang terlintas dalam benak saya adalah, sungguh-sangat-tidak-aman-sekali kami menginap di sana. Benar-benar kurang tepat waktunya rasanya. Tapi alhamdulillah selama kami menginap di sana, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Na’udzubillahimindzalik

Lokasi hotel ini sangat strategis, meskipun apes-nya dia berlokasi dekat sekali dengan proyek pembangunan jalan layang di depannya. Hotel Losari Blok M ini berada pada komplek area hiburan dan bisnis Melawai – Blok M. Letaknya persis di samping pintu masuk area komplek ini di sisi barat. Lokasi hotel ini juga dekat sekali dengan Blok M Square.

Harga per malamnya juga relatif sangat murah, apalagi jika teman-teman melakukan booking hotel via aplikasi travel online seperti agoda, traveloka, dan lain sebagainya. Dan saya saat menginap adalah pada saat long-weekend mendapatkan biaya menginap per malamnya adalah  sekitar Rp 300.000,-an.

Lokasi Hotel Losari Blok M

 

Untuk suasana hotel dan kamarnya, interiornya malah mengingatkan saya akan kondisi-kondisi hostel-hostel atau bahkan hotel-hotel budget di luar negeri, yang memang diperuntukkan bagi para backpacker. Dari masuk hotel dan menunggu di ruang resepsionis atau kedatangan tamu, sudah terasa “aura luar negeri”-nya. Haha. Dekorasi resepsionis yang dihiasi bendera-bendera beberapa negara plus jam dinding yang menunjukkan 4 (empat) waktu di 4 (empat) wilayah di dunia, semakin membuat terasa “aura luar negeri”-nya. Dan ketika sedang menunggu, kami juga disuguhi welcome drink yang memang sengaja dipersiapkan bagi para tamu hotel yang masih harus menunggu beberapa saat menunggu kamar yang dipesan siap.

Suasana Ruang Tunggu Hotel Losari Blok M

 

Suasana Ruang Tunggu Hotel Losari Blok M

 

Nah, ini yang tidak kalah menarik. Kamarnya gaes. Entah bagaimana cerita, saya langsung teringat Negara Jepang pada saat pertama kali masuk kamar hotel ini, tanpa mengingat bahwa lokasi hotel ini memang berada di kawasan Jepang-Jepang-an di Komplek Melawai Blok M.  Ya, Jepang! Saya rasa hotel-hotel budget di Jepang akan memiliki penampakan mirip-mirip seperti dengan kamar standar Hotel Losari Blok M ini. Ya walaupun sebenarnya saya juga belum pernah ke Jepang sih. Haha. Dari luas kamar yang minimalis, tapi sepertinya sang arsitek hotel ini pandai memanfaatkan ruang yang kecil terasa menjadi cozy dan membuat betah. Terkesan juga dengan posisi kamar mandi yang tidak biasa semakin terasa seperti di luar negeri. Haha. Tapi mungkin memang sepertinya sang pemilik hotel juga merupakan orang Jepang, di mana memang wilayah komplek Melawai – Blok M ini isinya mostly cafe-cafe, restoran-restoran, dan club-club Jepang.

Penampakan Kamar Standard Hotel Losari Blok M

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Losari Blok M

 

Penampakan Kamar Mandi Hotel Losari Blok M yang Minimalis Praktis

 

Sebelum masuk ke dalam kamar, terdapat ruang duduk-duduk semacam ruang tamu yang dapat digunakan oleh para tamu hotel jika misalnya menerima tamunya masing-masing. Walau nampak cozy untuk duduk-duduk, tamu hotel tetap tidak diperkenankan untuk merokok di dalam hotel.

Penampakan Ruang Tamu Sekunder Dekat Kamar-Kamar Hotel

 

Lukisan Cantik pada Ruang Tamu Sekunder (Benar-benar lukisan asli, BUKAN gambar print. Cat lukisnya terasa sekali. Cantik!)

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Seperti pada kualitas-kualitas hotel budget pada umunya, sarapan pada hotel ini sudah cukup baik dan lezat, sangat dapat memuaskan kebutuhan sarapan pagi para tamu. Selain itu juga, desain interior untuk ruang makan dan bar pada hotel ini juga cantik dan lagi-lagi bernuansa Jepang atau bernuansa “luar negeri”.

Meja Makan pada Ruang Makan Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Prasmanan di Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Prasmanan di Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Kami di Hotel Losari Blok M

 

Nah, kalau berikut ini merupakan penampakan beberapa hiasan dinding yang berada di sekitar area ruang makan Hotel Losari Blok M.

Hiasan Dinding di Area Restoran dan Bar Hotel Losari Blok M

 

Hiasan Dinding di Area Restoran dan Bar Hotel Losari Blok M

 

Sebenarnya kalau dari luar, hotel ini sangat terlihat sekali sebagai hotel lama dengan eksterior bangunan lama. Sayangnya juga nampak seperti bangunan lusuh jika dilihat sepintas dari luar. Akan tetapi, dilihat dari lokasinya yang strategis, dekat dengan tempat-tempat wisata belanja, saya rasa, tidak akan menjadi masalah. Apalagi kondisi interior yang bersih dan unik juga membuat suasana semakin terasa kalau sedang berlibur.

Tunggu apalagi gaes. Mari berkemas dan yuk liburan!

Review Fave Hotel Melawai – Blok M

Halo lagi internet!

 

Wow-wow! Rasanya saya sedang bersemangat. Haha! Kembali lagi, saya akan membahas dan me-review sebuah hotel. Dan giliran kali ini jatuh pada Fave Hotel Melawai yang sebenarnya letaknya persis dekat dengan Blok M Square. Yuk, cekidot gan!

 

Pada mulanya mengapa saya menginap pada hotel ini? Ya, seperti biasa karena iseng. Oh wait, iseng? Buang-buang duit donk kamuh! No, no, nggak, kami bukan tipe yang suka buang-buang duit. Nyarinya susah, bo! Hehe. Ya, kebetulan memang dalam minggu-minggu kala itu, load pekerjaan yang sedang saya handle memang sedang banyak-banyaknya dikerjakan, walau sebenarnya yeah…..nggak capek-capek amat sih, hanya, rasanya badan memang terasa sedikit penat. Haha. (alasan kamu, gan! wkwk) 😀

 

Saya menginap dari tanggal 11 – 13 Agustus 2017. Saat itu memang kebetulan suami memang ada acara keluarga menemani Tante ke Samarinda, akan tetapi saya tidak dapat ikut, dikarenakan di hari Jumat-nya saya memang masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera, jadi yah, mau bagaimana lagi. Ditambah saat itu, di bulan depannya, yaitu September 2017, saya akan mengambil cuti banyak, karena urusan keluarga juga, hehe. (saat saya menulis ini, cutinya sudah saya lakukan pada minggu lalu, 😀) Saya pun izin kepada suami perkara ide menginap ini, dan alhamdulillah suami meng-iya-kan. Yeay! Dan kebetulan juga, di hari Sabtu-nya, 12 Agustus 2017, ada sebuah konser klasik (orkestra) yang diselenggarakan di Balai Resital Kertanegara di mana lokasinya tidak jauh dari Blok M, pluuus kebetulan yang dadakan juga, ada teman semasa kuliah yang akhirnya menemani saya menginap di hotel di hari Sabtu sampai dengan Minggu-nya, karena sama-sama akan menonton konser tersebut. (tenang, temen cewek kok! :D)

 

Konser Jakarta Sinfonietta di Balai Resital Kertanegara

 

– – –

 

Hotel budget bintang 3 (tiga) ini merupakan hotel yang termasuk dalam kategori hotel baru dengan mengusung konsep hotel budget “kekinian”, modern, dan memang tipe-tipe seperti ini diperuntukkan bagi para backpacker. Akan tetapi, saya berkesempatan menginap di hotel ini pada saat weekend, bukan dalam urusan atau kegiatan kerja.

 

Lokasi ini jika boleh saya bilang atau katakan adalah, sangat sangat sangat dan superrr strategis. Karena apa? Karena lokasinya persis di samping Blok M Square. Apalagi jika memang sengaja memiliki tujuan untuk berlibur dan untuk berwisata belanja di area Blok M. Bagaimana tidak? Keluar dari hotel, teman-teman sudah menjumpai Blok M Square di depan mata, sudah begitu pintu hotel tegak lurus dengan salah satu pintu masuk mall tersebut. Nah kan? Kurang strategis apalagi coba? Hahaha.

 

Lalu bagaimana dengan harga? Jangan khawatir, walaupun lokasi hotel ini begitu sangat strategis, harga per malamnya tidak terlalu mahal, alias relatif murah. Sebagai perbandingan, untuk harga kamar tipe standard adalah sekitar Rp 350.000,-an per malamnya untuk waktu weekend (karena pada saat saya menginap adalah waktu weekend, bukan weekday). Apalagi jika melakukan booking melalui aplikasi travel online seperti agoda, traveloka, maupun aplikasi lain semacamnya, bisa-bisa mendapatkan diskon tambahan atau diskon bawaan dari aplikasi-aplikasi tersebut.

 

Berikut penampakan Kamar Standard Fave Hotel Melawai:

 

 

Sebenarnya pada saat booking saya sudah request untuk kamar yang menghadap ke arah luar, alias arah bagian depan yang berhadapan langsung dengan Blok M Square, akan tetapi yang saya dapatkan malah di sisi bagian dalam (bukan menghadap ke bagian luar hotel). Sempat kecewa pada awalnya, namun setelah mendengar penjelasan dari petugas resepsionis yang mengatakan kalau tipe kamar standard dengan single bed sudah tidak ada yang menghadap ke bagian luar, karena yang bagian luar itu tersisa yang double bedYeah…..walau sebenarnya saya masih dongkol dan tidak terima, tapi yasudah lebih baik saya terima dan berdamai saja dengan keadaan. Haha. (lebay banget yak perkara letak posisi kamar doank :D). Akan tetapi, setelah tau dadakan yang ternyata kawan saya ternyata mau menemani saya menginap, tau begitu, saya akan ambil tuh kamar double bed. Hahaha. Yah…yasudahlah.

 

Next…

 

Untuk sarapan pagi pada hotel ini, menurut saya sudah sangat enak ya, dengan berbagai varian sarapan yang diberikan. Ada bentuk sereal, salad, roti, bubur, hingga makanan berat nasi atau mie beserta lauk-pauknya.

Omelette Fave Hotel Melawai

 

Dan yang menjadi unik adalah, letak ruang makan atau restoran hotel ini ternyata berada pada lantai yang menyambung dengan bangunan sebelah, yaitu terletak pada lantai 2. Dan setelah dilihat-lihat juga, properti seperti meja dan kursi makan, ternyata milik Kedai Kopitiam, di mana memang letak warung kopi tersebut bersebelahan persis dengan hotel ini. Jadi, ruang makan yang digunakan oleh Fave Hotel Melawai ini merupakan ruangan share dengan Kedai Kopitiam. Mungkin sistem pembagian jadwalnya menjadi begini, pada pagi hari diperuntukkan untuk sarapan pagi Fave Hotel Melawaikemudian pada siang harinya barulah untuk Kedai Kopitiam. Lagipula jam sarapan berbatas hanya dari jam 6 pagi sampai dengan jam 10 pagi saja, sementara toko-toko atau tempat makan atau cafe-cafe pada umumnya baru akan buka sekitar pukul 10 – 12 siang. Boleh juga ya idenya. (sayang saya tidak sempat memotret seluruh bagian ruang makan tersebut, hiks)

 

Yang lebih seru lagi, pada saat malam hari, akan berjejer banyak kuliner lesehan yang digelar pada sisi Blok M Square yang berhadapan langsung dengan hotel ini! Karena sisi-sisi lain Blok M Square tidak ada gelaran kuliner lesehan seperti sisi yang satu ini. Nah, ciamik bukan? Hehe. 😀 Jadi, tidak perlu khawatir jika ingin mencari makan malam atau jajanan pada malam hari. Hanya sayangnya, kuliner lesehan ini tidak sampai jam 12 malam biasanya sudah habis dan tutup. Pada awalnya, saya pikir kuliner malam tersebut akan buka dengan overtime lebih dari jam 12 malam, mengingat waktu weekend biasanya akan banyak orang yang berkegiatan malam di area wisata tersebut, tapi ternyata tidak demikian.

 

– – –

 

Atraksi-atraksi wisata belanja yang dapat dituju dari hotel ini antara lain, jelas yang pertama adalah Blok M Square, yang terletak persis di seberang hotel. Kemudian ada Pasaraya Blok M yang terletak di belakang hotel, di mana setelah keluar dari hotel, pengunjung diharuskan berjalan ke arah kanan mentok kemudian belok kanan, maka lokasi Pasaraya Blok M sudah terlihat di sebelah kanan. Perlu diketahui juga bahwa lokasi Pasaraya Blok M ini bersebalahan persis dengan Terminal Bus Blok M non-TransJakarta. Untuk halte TransJakarta itu sendiri, terintegrasi (menyatu) dengan Blok M Square, di mana jika ingin menuju ke sana, pengunjung diharuskan melalui bagian basement gedung Blok M Square.

 

Oh iya, ada lagi! Di atas Blok M Square ini juga terdapat Masjid Raya atau Masjid Besar yang saaangat luas, di mana di tiap minggunya suka diselenggarakan pengajian dan mendatangkan ustad-ustad ternama negeri ini. Nah kan, hotel ini benar-benar strategis bukan? Selain itu, hotel ini juga terletak dekat dengan Mall Blok M Plaza yang berada di arah barat dari Blok M Square, serta dekat juga dengan club-club (diskotik) dan restoran Jepang yang identik dengan “kehidupan malam”.

 

(Sungguh super unik ya area Blok M dan Melawai ini. Di sisi lain, pada saat malam hari, areanya penuh kelap-kelip khas hiburan malam, sementara di tengah-tengah-nya atau di “jantung” atau pusat-nya area Blok M dan Melawai ini, terdapat Masjid Raya Megah yang sudah saya sebutkan tadi yang berada di atas Blok M Square tersebut. Kontras sekali rasanya, apalagi jika menikmati area ini dari pagi, siang, sore, hingga malam hari, akan terasa sekali “perbedaan” dan “kontras”-nya. Haha.)

 

Lokasi Fave Hotel Melawai

 

Tunggu apa lagi. Mari berkemas dan hilangkan penat sejenak. Mari liburan! 😀

Review Hotel Royal Dago Bandung

Hai hai internet, lama tak menulis. Rasanya sudah lama sekali tidak menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan. Hehe. 😀 Kali ini saya ingin kembali membuat review mengenai sebuah penginapan, alias hotel yang pernah saya kunjungi atau tempati. Okedeh, cekidot gan!

 

Hotel ini merupakan hotel yang termasuk sering saya kunjungi juga pada saat ada acara di Bandung selain Hotel Serela Cihampelas (seperti yang sudah pernah saya review sebelumnya). Selain karena harganya relatif murah, lokasi yang strategis dan dekat sekali dengan kampus, membuat saya beberapa kali juga menjadikan hotel ini sebagai opsi jika ada kunjungan ke Kota Bandung.

 

 

Hotel Royal Dago

 

Namanya adalah Hotel Royal Dago, hotel bintang 2 yang terletak pada jalur strategis salah satu pusat Kota Bandung, yaitu di daerah Dago, dengan letak persisnya dekat dengan Simpang Dago. Jika melihat jalur ke arah Dago Atas, maka hotel ini terletak di sebelah kiri sebelum perempatan lampu merah Simpang Dago. Sebenarnya terdapat 2 (dua) Hotel Royal Dago, yang pertama adalah yang akan saya bahas ini, dan berikutnya terletak di seberang persis Hotel Royal Dago yang sedang akan saya bahas.

 

Bentuk bangunan hotel ini sangat terlihat dengan ciri khas bangunan lama dan bersejarah, dilengkapi juga interior kamar hotel yang makin terlihat ciri khas bangunan lama, seperti halnya properti-properti lama yang ada, dari bentuk kamar mandi, tempat tidur, sofa, telepon, serta meja kayu letak steker-steker secondary untuk menyalakan beberapa benda elektronik di dalam kamar, termasuk di dalamnya adalah lampu-lampu kamar. Unik.

Mungkin bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan “hotel jadul”, mungkin akan kurang tertarik dengan bentuk dan suasana hotel di mana mungkin akan merasa memiliki suasana sedikit “creepy”.

 

Walau merupakan hotel lama, hotel ini juga terintegrasi dengan jasa layanan aplikasi travel online Airy Room di mana harga-harga kamar yang ditawarkan relatif lebih murah dari harga normal. Sebagai perbandingan saja, harga Kamar Standard untuk hotel ini adalah Rp 375.000,- per malamnya dengan range harga tertinggi dari jenis kamar yang ada pada hotel ini adalah sekitar Rp 425.000,- per malamnya. Harga-harga tersebut sudah termasuk fasilitas sarapan pagi. Tidak lupa dengan fasilitas air hangat juga tersedia pada hotel ini.

 

Kualitas sarapan pagi di hotel ini juga tidak mengecewakan, walau mungkin bagi sebagian orang akan menilai sebagai masakan “rasa standar”. Akan tetapi menurut saya, dari segi rasa sudah sangat enak dan cukup memuaskan kebutuhan sarapan pagi, terutama bila tidak sempat berjalan keluar dari hotel untuk sekedar mencari sarapan pagi.

 

Sarapan Pagi

 

Lokasi hotel Royal Dago ini benar-benar sangat strategis, terutama bila terdapat acara-acara besar seperti wisuda kampus-kampus sekitar seperti ITB, Unikom, serta Unpad, atau mungkin kampus-kampus lain di mana acara wisuda yang dilaksanakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) di daerah Siliwangi.

 

Lokasi hotel ini juga terletak dekat dengan jalur Car Free Day (CFD) utama Kota Bandung di sepanjang jalan Ir. H. Juanda Dago, yang terbentang dari perempatan Simpang Dago sampai dengan perempatan BCA atau berbatasan dengan jalan layang yang berada di area Dago Bawah. Akan tetapi saat ini CFD dimulai tidak persis dari perempatan Simpang Dago, melainkan pertigaan Jalan Dayang Sumbi dengan Jalan Ir. H. Juanda. Letak jalan Dayang Sumbi berada di sebelah kanan hotel. Jika dilihat dari letak lokasi seperti gambar berikut, lokasi Hotel Royal Dago ini berada di antara Perempatan Simpang Dago dengan Jalan Dayang Sumbi.

 

Posisi Letak Hotel Royal Dago

 

Selain itu, lokasi hotel ini juga terletak pada jantung utama jalur wisata belanja Factory Outlet (FO) yang banyak berada di kanan-kiri sepanjang Jalan Ir. H. Juanda (Jalan Raya Dago), dimulai dari dekat Jalan Dayang Sumbi ke arah bawah sampai menuju Jalan Merdeka, atau area Bandung Indah Plaza (BIP). Apalagi jika ingin berwisata belanja pada malam hari, kita dapat menyusurinya dengan berjalan kaki melalui trotoar pejalan kaki di sepanjang kanan-kiri Jalan Ir. H. Juanda.

Salah Satu Tulisan Yang Dapat Ditemui di Trotoar Dekat dengan Area Factory Outlet

 

Lokasi hotel yang berada pada area Simpang Dago ini, juga dekat dengan transportasi umum Travel Jakarta – Bandung – Jakarta, seperti salah duanya adalah Travel Cipaganti dan Travel Day Trans yang lokasi pool-nya berada persis di Simpang Dago. Terdapat pula Travel Citi Trans yang dekat dengan Simpang Dago, akan tetapi agak sedikit jauh dari Simpang Dago menuju ke arah Universitas Padjadjaran (Unpad) ke arah timur yang dapat dituju dengan menggunakan angkot Cicaheum – Ciroyom (kijang warna hijau garis orange) atau angkot Riung – Dago (warna putih garis hijau) atau bahkan angkot Kalapa – Dago (warna hijau) yang belok ke arah timur, degan waktu tempuh sekitar 10 menit-an jika tidak macet, maka akan dapat berhenti langsung di seberang pool Travel Citi Trans.

 

Mencari makanan di sekitar hotel juga sangat mudah. Sekali lagi, karena area Simpang Dago sangat ramai pada malam hari, di area tersebut terdapat banyak warung tenda berbagai jenis makanan, dari ayam goreng, ikan bakar, sea food, nasi goreng, surabi bandung, dan sebagainya. Dan jika ingin sedikit mencicipi kuliner tempat makan ber-AC, terdapat McDonald yang berada persis pada Simpang Dago tersebut. Selain itu juga, di Simpang Dago terdapat area Pasar Simpang Dago dengan berjejer toko-toko yang salah satunya merupakan toko yang menjual berbagai macam snack, di mana area pertokoan tersebut jika di pagi hari akan ramai pedagang-pedagang pasar tradisional yang membuka lapak di area pasar tersebut. Selain itu juga terdapat rumah makan padang serta mini market modern Circle K di bagian timur Simpang Dago. Jadi, tidak akan khawatir jika ingin mencari makanan atau snack di dekat hotel.

 

Dan berikut merupakan penampakan dari bentuk Kamar Standard Hotel Royal Dago:

Penampakan Kamar Standard Hotel Royal Dago

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Royal Dago

 

 

Nah, bagaimana? Ekonomis dan strategis bukan? Sangat cocok bagi teman-teman yang ingin berpetualang dan berjalan-jalan ke area pusat Kota Bandung. Yuk mari liburan! 🙂