Review Hotel De’ Qur dan Wisata Kawasan Kota Tua Jakarta

Dear internet, apa kabar! Hehe. 😀

Kali ini kembali saya ingin menulis mengenai review liburan singkat dengan bermodal menginap di hotel murah atau hotel-hotel yang cocok disambangi oleh para backpackerSo, let’s check this out, gan!

 

– – –

Day 1: Sabtu, 30 September 2017

Ide menginap weekend kali itu muncul dengan sangat tiba-tiba sekali. Karena sesungguhnya kami sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Ya memang, walau tidak sering, tapi setidaknya sudah pernah kami mengunjunginya.

Namanya adalah Kawasan Kota Tua Jakarta, sebuah tempat sangat bersejarah bagi Indonesia dan khususnya bagi Jakarta. Di kawasan ini berjajar banyak sekali bangunan-bangunan kuno alias bangunan-bangunan jadul khas Kota Tua, baik yang masih berfungsi dengan baik maupun yang sudah tidak berfungsi atau sudah tidak digunakan sama sekali.

Salah satunya adalah Museum Fatahillah atau Museum Sejarah yang sangat terkenal itu. Pada area tersebut juga terdapat bangunan-bangunan atau gedung-gedung lain yang bersejarah, seperti Museum WayangCafe BataviaMuseum Seni Rupa dan KeramikMuseum Bank IndonesiaJembatan Kota Intan, dan lain sebagainya. Dan kami pun memutuskan untuk bermalam di Kawasan Kota Tua JakartaSooo random! Haha. 😀

Kami memutuskan untuk berlibur akhir pekan di Kawasan Kota Tua Jakarta pada weekend akhir Bulan September 2017, ya tepat pada tanggal 30 September 2017 dan tanggal 1 Oktober 2017. Saat itu saya berpikir akan ada nobar film sejarah di area tersebut karena tanggal menginap kami bertepatan dengan peristiwa sejarah kelam G30S PKI, yang ternyata tidak ada kegiatan pemutaran film sejarah atau sejenisnya pada tanggal tersebut.

– – –

 

Perjalanan Menuju Kawasan Kota Tua Jakarta

Kami menuju ke kawasan wisata tersebut dengan menggunakan angkutan umum kereta KRL Jabodetabek, dimulai berangkat dari Stasiun Kebayoran dengan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang untuk menuju ke Stasiun Kampung Bandan yang kemudian transit kembali pada stasiun tersebut untuk menuju ke stasiun akhir yaitu Stasiun Jakarta Kota. Peta Rute Jalur KRL Jabodetabek dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Peta KRL Jabodetabek (source: http://www.krl.co.id/)

 

Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota, kami langsung menuju ke arah Hotel De’ Qur tempat kami menginap dengan melalui area Taman Fatahillah. Suasana siang hari itu sangat terik dan terlihat banyak sekali orang memadati area tersebut. Benar-benar semakin terasa suasana libur weekend saat kami melalui hamparan orang-orang itu.

Berhubung hari sudah siang dan suasana cukup terik, ditambah perjalanan kami yang lumayan memakan waktu, maka pada saat kami melalui area Taman Fatahillah dan melihat Cafe Batavia di hadapan kami, maka kami pun memutuskan untuk mampir sejenak sambil menunggu waktu check in hotel. Sebelum mampir ke dalam cafe, saya sempat membeli sebuah es krim. Saat sampai di depan cafe kami dihadang oleh Mbak-Mbak Cantik pelayan cafe tersebut dan kami dilarang masuk karena masih memegang es krim yang belum habis. Terpaksa deh makan cepat sambil mengamati orang-orang yang mampir di depan cafe untuk sekedar mengambil foto dengan latar belakang Cafe Batavia.

Jajan Es Krim (gagal bokeh, hiks)

 

Cafe Batavia

Suasana di dalam Cafe Batavia ini benar-benar seperti berada di luar negeri dan terasa sekali suasan vintage-nya alias jadul-nya. Di dalam cafe banyak sekali terlihat turis mancanegara, makin terasa seperti kami sedang berjalan-jalan di luar negeri. Suasana interior di dalam cafe pun menggambarkan suasana cozy dengan sentuhan artistik jaman kolonial. Cafe ini terdiri dari 2 (dua) lantai, lantai atas dikhususkan bagi para pengunjung yang tidak merokok, dan lantai bawah dikhususkan bagi para pengunjung yang merokok dengan dilengkapi panggung hiburan serta bar, persis seperti apa yang suka dilihat dalam film-film hollywood.

Suasana di Dalam Cafe Lantai 2

 

Foto-Foto Tokoh di Dinding Dekat Tangga

 

Hotel De’ Qur

Tepat pukul 2 siang atau pukul 14.00 WIB, kami sampai di Hotel De’ Qur. Hotel ini terletak persis di samping Jalan Kali Besar dengan ciri khas bangunan lama. Beberapa waktu sebelumnya, kami pernah mengikuti tur jalan kaki dari sebuah Komunitas Tur Lokal bernama Jakarta Good Guide dan jadwal tur yang kami ikuti saat itu adalah berjalan-jalan di area Kota Tua Jakarta, dengan rute start dari Stasiun Jakarta Kota yang kemudian rute jalan kaki kami saat itu juga melalui Jalan Kali Besar. Saat itu, kawasan Kali Besar belum dilakukan renovasi atau pemugaran pada area pinggir kalinya. Dan saat kami berkunjung kembali akhir September 2017 lalu, area Kali Besar sedang dilakukan renovasi di bagian trotoar di kanan-kiri Kali Besar.

Berikut ini adalah sebuah foto yang sempat saya ambil saat berjalan-jalan bersama dengan Jakarta Good Guide pada awal tahun 2016 lalu yang juga saya abadikan dalam instagram “serius” saya di http://www.instagram.com/phoneography.id/ .

Kali Besar Sebelum Renovasi di Awal 2016 (IG: @phoneography.id –> http://www.instagram.com/phoneography.id/)

 

Dan berikut ini adalah penampakan Kali Besar yang sedang dilakukan renovasi.

Kali Besar sedang Direnovasi, Penampakan dari Ruang Makan Hotel De’ Qur  (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

Renovasi Kali Besar (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

 

Kami memesan Hotel De’ Qur dengan menggunakan aplikasi travel online. Harga yang kami dapatkan pada hotel ini adalah Rp 230.000,-an saja per malamnya. Cukup relatif sangat murah dengan lokasi yang super strategis dengan Kawasan Kota Tua Jakarta atau Taman Fatahillah. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke arah tersebut. Hotel De’ Qur ini merupakan hotel bintang 1.

Saat kami datang untuk check in sesuai petunjuk di dalam voucher hotel yaitu pukul 14.00 WIB, suasana di dalam hotel masih terlihat ramai dari para petugasnya yang sedang membereskan kamar-kamar hotel dan baru sebagian kamar yang ready. Walau begitu, kami sudah mendapatkan kamar tepat pada pukul 2 siang tersebut.

Suasana kamar hotel mirip dengan suasana kos-kosan yang sudah kategori “wah”, karena ukuran kamar cukup luas, sudah dilengkapi meja belajar, lemari pakaian, TV, AC, kasur ukuran large, dan sudah kamar mandi dalam. Haha. 😀

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Ukuran kamar yang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar, alias cukup ini, memang sangat cocok bagi para pelancong backpacker di mana kegiatan wisata lebih banyak di luar hotel. Kami menempati kamar di lantai 2. Bangunan hotel ini terdiri dari 3 lantai, dan sepertinya memang hanya tersedia ukuran kamar demikian, tidak ada jenis kamar lain atau tipe kamar dengan ukuran kamar lebih besar lagi, mengingat pula hotel ini adalah hotel bintang 1.

Dan berikut ini suasana di lorong kamar hotel, semakin terasa seperti kos-kosan, bukan?

Lorong Hotel De’ Qur

 

Hotel De Qur 5.jpg

Suasana Lantai 2 di Mana Terdapat Ruang Makan dan Ruang Tunggu Tamu

 

Kami beristirahat sejenak siang hari itu dengan tidur-tiduran dan menikmati HBO. Kami berencana untuk kembali ke area Taman Fatahillah di sore harinya kembali. Di tengah-tengah kami beristirahat, saya teringat kapan Museum Sejarah atau Museum Fatahillah tutup, dan saat melihat jam, sepertinya sudah tutup, maka saya putuskan untuk masuk ke museum adalah di keesokan harinya, alias Hari Minggu.

 

Kawasan Taman Fatahillah

 

Sekitar pukul setengah lima sore atau pukul 16.30 WIB, kami memutuskan untuk kembali menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Namun rute masuk ke Taman Fatahillah sore hari itu, kami memilih jalur pintu selatan, di mana sebelumnya saat kami akan menuju hotel, kami melalui pintu di sebelah utara. Saat menuju ke pintu selatan, kami melihat sebuah Indomaret unik yang berada pada bangunan gedung lama, namun sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Dan ternyataIndomaret tersebut menyatu dengan sebuah Hostel yang sepertinya unik dan instagram-able sekali yaSudah begitu, keluar masuk hostel menggunakan akses kartu, jadi tidak sembarang orang dapat masuk. ( kemudian saya berpikir, bagaimana cara masuk para pelancong pada saat datang pertama kali ke hostel tersebut dan bagaimana caranya mereka mendaftar ya? mungkin ada semacam bel pintu masuk yang harus ditekan dari luar sehingga memudahkan petugas hostel di dalam untuk mendapatkan notifikasi pengunjung datang dan menyambut mereka? entahlah) Pada mulanya saya berpikir bahwa hostel tersebut tidak terdapat pada aplikasi travel online, namun ternyata setelah meng-googling via maps.google.com tenyata ada. Hiks hiks…nggak notice samsek euy… Oke deh, next time kali ya… 

Wonderloft Hostel (source: TripAdvisor)

 

Suasana sore hari tersebut semakin menggila. Kerumuman orang di area Taman Fatahillah semakiiiiin ramai! Kami pun lagi-lagi hanya menikmati suasana dan melihat-lihat saja, sesekali juga mengambil beberapa foto. Saat sampai di dekat Cafe Batavia kembali, saya melihat sebuah poster besar mengenai pengumuman sebuah Pameran Seni bertajuk “Book of Islamic Art” yang diselenggarakan oleh Universitas Leiden bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda, yang diselenggarakan di Gedung Niaga Kawasan Kota Tua Jakarta. Beruntunglah kami “sempat” melihat pengumuman poster tersebut, karena pada saat kami masuk ke area pameran, kami adalah pengunjung terakhir, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore (18.00 WIB) di mana area pameran akan ditutup. Begitu sepi suasana, karena diselenggarakan pada gedung yang sebagian besar bagian-bagiannya sedang direnovasi dan diselenggarakan di area tidak terlalu luas.

Salah Satu Karya Seni yang Dipamerkan

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Usai melilhat pameran tersebut, kami memutuskan kembali lagi ke hotel, untuk melaksanakan Sholat Maghrib dan Sholat Isya. Dan kami memutuskan akan kembali lagi sekitar pukul 19.30 WIB di malam harinya.

Hotel De’ Qur di Malam Hari

 

Malam Minggu di Kawasan Kota Tua Jakarta

Sekitar hampir menuju pukul 20.00 WIB, kami kembali lagi ke area Kawasan Kota Tua Jakarta lebih tepatnya menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Dan pada saat kami menuju area Taman Fatahillah kembali, kami dikejutkan dengan banyaknya pedagang pasar malam yang sudah mulai ramai di kanan-kiri jalan sepanjang trotoar area kawasan tersebut, sungguh meriah dan semakin terasa aura pesta rakyat-nya! Dan yang paling membuat terkejut adalah pada saat memasuki Taman Fatahillah, sudah sangat-sangat-sangat ramai penuh sesak lautan manusia! Luarrr biasa! 😀

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Malam pun kian larut dan kami pun kian merasakan rasa lapar yang datang menghampiri, maklum makan berat terakhir saat makan siang saja. Kami pun memutuskan menyusuri lautan pasar malam yang berada di sepanjang trotoar di pinggir-pinggir jalan di sebelah utara Taman Fatahillah. Kami menyusuri jalanan hingga ke ujung di mana spot pasar malam ini berakhir. Berharap menemukan menu makan malam yang akan menggiurkan, kami malah “bertemu” dengan sebuah rumah makan di seberang jalan setelah ujung spot pasar malam berakhir. Dari kejauhan terlihat aura warna-warni dari rumah makan tersebut, maka tanpa pikir panjang lagi kami segera memutuskan menuju ke tempat makan tersebut.

 

Rumah Makan Lumba-Lumba Kota Tua Jakarta

Dari kejauhan dengan aura warna-warni-nya bak lukisan suasana pantai, saya pikir rumah makan tersebut adalah rumah makan yang menyajikan makanan laut alias seafood, di tambah nama rumah makan tersebut adalah “Rumah Makan Lumba-Lumba“. Tapi ternyata, tidak. Haha. 😀 Rumah makan ini ternyata menyajikan makanan khas Kota Semarang dan juga menjual beberapa oleh-oleh khas Kota Semarang. Saat memasukinya, kami pun hanya bisa senyam-senyum saja, maklum, suami adalah asli orang Semarang, sementara saya sendiri pun asli orang Jawa Tengah. Berharap dapat bertemu dengan kuliner unik, eh ternyata, ketemunya makanan semarang lagi, semarang lagi. Hehe.

Dan kami pun memesan makanan favorit kami, yaitu pindang ayam, garang asem bandeng, dan tahu petis khas Semarang.

Menu Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Interior Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Pindang Ayam Khas Semarang

 

Garang Asem Bandeng Khas Semarang

 

Tahu Petis Khas Semarang

 

Usai makan malam, kami kembali menuju ke arah area Taman Fatahillah dengan menyusuri trotoar di bagian luar yang sudah menjadi pasar malam di malam minggu yang ramai itu. Penjaja bekam dan shisha di pinggir jalan raya semakin banyak bermunculan. Sepertinya semakin malam semakin ramai ya!

Penjaja Pijat Urut, Bekam, dan Refleksi yang Berjajar di Sepanjang Trotoar

 

Penjaja Shisha Berjajar Juga di Sepanjang Trotoar

 

Area Pasar Malam di Mana Lauan Manusianya Menutupi Jalur TransJakarta

 

Kami akhirnya kembali ke Hotel De’ Qur, namun pada saat bertemu dengan security hotel, dan karena kami terlihat benar-benar seperti pelancong dari kota yang jauh, mendadak si Bapak Security menyarankan kepada kami untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan di mana saya menyebutnya sebagai Jembatan Merah karena bentuk fisiknya yang berwarna merah. Letak jembatan tersebut di ujung jalan Kali Besar  di sebelah utara, dekat dengan Hotel De Rivier di mana hotel tersebut sempat hampir kami pilih sebagai tujuan tempat menginap kami kala itu yang ternyata malah sedang direnovasi di bagian depannya.  Kami menuju Jembatan Kota Intan dengan berjalan kaki, menyusuri kegelapan malam di mana semakin terasa gelap karena memang area trotoar kanan-kiri Kali Besar yang sedang direnovasi menyebabkan jalan dekat kali menjadi minim penerangan. Agak seram, sih sebenarnya. Tapi untunglah kami dapat sampai ke jembatan dengan selamat.

 

Jembatan Kota Intan di Malam Hari

 

Suasana Kali Besar ke Arah Selatan Dilihat dari Jembatan Kota Intan, Sebelah Kanan adalah Bangunan Hotel De Rivier

 

Pada mulanya kami pikir bahwa pintu akses masuk jembatan sudah tutup dan kami tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat suasana Jembatan Kota Intan secara langsung. Beruntunglah ternyata penjaganya masih ada dan membukakan pintu untuk kami berdua.

Susana di Jembatan Kota Intan sebenarnya sedikit agak creepy mengingat di sampingnya juga terdapat pohon tua raksasa plus kami berkunjung di malam hari, bukan siang hari. Mungkin karena area dekat jembatan juga masih ramai lalu-lalang orang, menyebabkan suasana seram agak dapat sedikit ternetralisir. Struktur bangunan Jembatan Kota Intan masih asli berbahan dasar kayu. Pada zamannya, jembatan ini dapat membuka dan menutup karena dahulu Kali Besar sebagai tempat lalu-lintas transportasi laut juga. Saat berada di atasnya sambil menikmati suasana jembatan, saya juga membayangkan suasana masa lampau di sekitar area jembatan tersebut. Merinding, tapi seru. Sebenarnya dulu pada saat saya berjalan-jalan bersama dengan Komunitas Jakarta Good Guide, kami juga melalui area ini, namun saat itu kami tidak mampir karena saat itu suasana sangat panas.

Setelah puas melihat-lihat suasana, kami pun pamit kepada penjaga dan kembali pulang menuju hotel kami Hotel De’ Qur. Namun saat kembali, kami menggunakan angkot dan tidak berjalan kaki seperti sebelumnya saat berangkat menuju Jembatan Kota Intan.

– – – – –

Day 2: Minggu, 1 Oktober 2017

Minggu pagi saya sangat bersemangat sekali. Saya sangat penasaran bagaimana suasana sunrise di Kawasan Kota Tua tersebut. Setelah Sholat Subuh, kami bergegas untuk bersiap-siap menuju kembali ke area Taman Fatahillah.

Kami menyusuri jalan menuju pintu masuk di bagian utara. Miris. Begitu banyak sampah bertebaran di sana-sini. Terlihat beberapa Pasukan Oranye yang sedang membersihkan jalur jalan bekas pasar kaget di malam minggunya. Terlihat juga beberapa kios tenda yang masih ditunggui oleh beberapa pemiliknya yang mungkin sengaja menginap.

Memasuki area Taman Fatahillah kembali, kami melihat suasana yang berbeda dengan hari sebelumnya. Mungkin karena masih pagi, maka area tersebut juga masih sepi pengunjung. Terlihat beberapa warga sekitar yang melaksanakan olahraga pagi. Sayup-sayup terdengar suara musik disco yang sengaja dinyalakan untuk mempersiapkan senam aerobik warga sekitar. Suasana pagi itu saaaaangat indah! Suasananya mirip sekali dengan suasana luar negeri. Dan ternyata kalau pagi, masih banyak burung merpati yang bertebaran di Taman Fatahillah ini. Seorang pengelola rental sepeda hias mulai menebarkan biji-bijian agar para merpati datang bergerombol menikmatinya. Benar-benar indah!

Burung-Burung Bergerombol Menikmati Suasana Pagi

 

Sekitar pukul 6 pagi menuju setengah 7 pagi, terlihat di ufuk timur matahari mulai nampak batang hidungnya. Benar-benar indaaah. Tidak menyangka kami dapat menyaksikan langsung suasana indahnya pagi hari itu.

Suasana Sunrise di Kawasan Wisata Kota Tua

 

Setelah puas menikmati suasana pagi di Kawasan Kota Tua Jakarta, kami memutuskan kembali lagi ke hotel untuk sarapan dan bersiap-siap berkemas kembali pulang ke rumah.

 

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Sarapan pada Hotel De’ Qur ini dapat dikatakan cukup minimalis, sekali lagi, mengingat bahwa hotel tempat kami menginap adalah hotel bintang 1. Sarapan pada hotel ini kami diberi Menu Nasi Goreng + Telur Dadar + Teh Manis Panas pagi hari.

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Usai sarapan kami segera bergegas untuk bersiap-siap. Sesudah check out kami pun mengunjungi Museum Fatahillah.

Tiket masuk ke dalam Museum Fatahillah adalah Rp 5.000,-/orang dewasa. Cukup murah, bukan? Kami pun menyusuri setiap bagian museum dan sesekali mengambil gambar. Kami pun mengikuti alur rombongan yang juga berkeliling untuk melihat-lihat dan menikmati suasana museum.

Suasana Taman Fatahillah di Siang Hari Dilihat dari Museum Fatahillah

 

Sejarah Asal Muasal Kata “Jakarta”

 

Berpose di Salah Satu Prasasti

 

Sekitar pukul setengah 2 siang, kami memutuskan untuk pulang dan menuju ke Stasiun Kota kembali. Sebelum pulang kami menyempatkan menjajal sego pecel yang penjualnya tersebar banyak di area Kawasan Kota Tua.

Kami sampai Stasiun Kebayoran kembali sekitar pukul 16.30 WIB. Dan sore hari itu suasana sudah mulai terlihat mendung. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Angkot D01 yang menuju ke arah Lebak Bulus dan Pondok Pinang. Sekitar pukul 17.30 WIB kami pun sampai rumah.

– – – – –

Liburan singkat 2 hari kami itu menjadi liburan yang terasa sangat menyenangkan dan menyehatkan bagi kami berdua. Karena kami menuju satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki. Ditambah kami pun tidak mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan perjalanan sehat tersebut.

Nah, bagaimana? Tertarik mencoba juga untuk berlibur singkat di Kawasan Kota Tua Jakarta? Tunggu apalagi… Yuk! 🙂

Advertisements

Reuni Akbar

Sabtu, 4 November 2017

 

Aku sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai di malam harinya aku tidur tidak tenang. Rasanya seperti  terkena sindrom “akan berlibur ke tempat yang seru” sehingga membuat hati dan saluran cernaku sedikit berbunga-bunga hanya karena menantikan datangnya hari itu.

Ya, Sabtu pagi itu aku akan pergi ke Bandung, ke kota di mana semua mimpi dan harapan dimulai. Hari itu aku datang ke acara Reuni Akbar yang diselenggarakan oleh sekolah di mana aku berkuliah dulu. Karena kegiatannya bertajuk “Reuni Akbar”, maka acara tersebut banyak dihadiri oleh para alumni senior. Tidak ketinggalan pula aku dan beberapa teman semasa kuliah juga turut meramaikan acara tersebut. Kegiatan Reuni Akbar Sabtu pagi itu selain sebagai ajang silaturahmi antar angkatan, juga sebagai ajang peringatan ulang tahun jurusan kuliahku yang ke-55 tahun dengan dibungkus sebagai Acara Lustrum yang tahun ini sudah menginjak Lustrum Ke-11.

Aku berangkat menuju Kota Bandung dengan menggunakan kereta api yang berangkat dari Stasiun Gambir dengan jadwal keberangkatan pukul 5 pagi. Bersama dengan suamiku pagi hari itu, kami berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Namun aku sendiri, sudah mulai bersiap-siap sejak pukul 2 pagi, ya, saking bersemangatnya. Untunglah kami tidak terlambat dan bisa melaksanakan Sholat Subuh terlebih dahulu di stasiun sekitar pukul 04.30 WIB.

Pemandangan dari dalam KA Argo Parahyangan (Dokumentasi Pribadi)

 

Kegiatan Reuni Akbar dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berlangsung selama dua hari berturut-turut, hari Sabtu dan hari Minggu. Sangat cocok bagi para alumni yang turut serta membawa keluarganya masing-masing untuk sekalian berlibur weekend dengan menikmati suasana indahnya Kota Bandung.

Acara utama dalam kegiatan Reuni Akbar tersebut adalah kegiatan kongres pemilu ikatan alumni, yaitu di mana dalam momen tersebut dilakukan pemilihan ketua alumni yang baru untuk periode kepengurusan tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Acara kongres  diselenggarakan pada siang hari setelah istirahat makan siang. Namun sebelumnya di pagi harinya, kami disuguhi sebuah kuliah umum bertajuk acara talkshow, di mana para pembicara yang dihadirkan adalah dari para alumni yang saat ini sudah dapat dikatakan sukses yang tentu saja berprestasi dan sangat menginspirasi. Ditambah, talkshow tersebut dipandu langsung oleh seorang moderator ternama tanah air bernama Mbak Ira. Ya, siapa sih yang tidak kenal Beliau? Jika aku harus menggambarkan suasana hari Sabtu itu, rasanya sangat-sangat-sangat luar biasa menyenangkan, terutama pada sesi acara talkshow di pagi harinya. Setelah mendengarkan pemaparan-pemaparan Beliau-Beliau, rasanya seperti mendapatkan  motivasi dan penyemangat baru.

 

– – – – –

 

Walau acara sudah dimulai sejak pukul 8 pagi, aku baru sampai di tempat acara sekitar pukul 9 pagi dan saat itu masih sesi sambutan dari ketua panitia dan beberapa petinggi dari sekolah dan dari pihak ikatan alumni. Beruntunglah aku tidak terlambat pada sesi kuliah umum yang sudah dinanti-nantikan sejak hari-hari sebelumnya.

Sampailah pada sesi di mana Mbak Ira muncul ke permukaan dan mulai membuka sesi talkshow dengan gayanya yang khas. Para peserta yang berada di dalam ruangan pun riuh senang dan semangat saat menyambut kehadiran moderator ternama itu. Aku pun tak henti-hentinya mengangkatkan kepala untuk sekedar mengikuti arah berjalannya Mbak Ira menuju panggung. Satu-persatu nama pembicara pun disebutkan Mbak Ira agar Beliau-Beliau tersebut segera naik ke atas panggung dan menduduki kursi yang telah disediakan. Tepuk tangan riuh peserta talkshow pun tidak henti-hentinya bertabuh di setiap Mbak Ira mengeluarkan jokes cerdas saat memandu acara bersama dengan ke-5 pembicara hebat di atas panggung. Ya, aku sangat menikmatinya. Seru!

 

Mbak Ira Memandu Acara Talkshow (Dokumentasi Pribadi)

 

Ada Pak Joni sebagai rektor Kampus I, ada Bu Penny sebagai kepala Badan P, ada Pak Elia sebagai Direktur PT P, ada Pak Setiawan yang saat ini menjabat sebagai Kepala SDM suatu kementerian di mana sebelumnya selama bertahun-tahun Beliau berkarya dan mengabdi di Provinsi Jawa Barat, kemudian ada juga Pak Tjatur yang saat ini bertugas sebagai anggota dewan di Jakarta. Masing-masing dari Beliau pun menyampaikan paparan singkat mengenai pengalaman-pengalaman hidup sebagai alumni, serta berbagi bagaimana mengelola tekad dan semangat berjuang demi cita-cita di dalam menggapai masa depan agar dapat berguna dan bermanfaat hidup, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Aku menyaksikan dengan antusias dan penuh seksama, walau sesekali bercengkarama dengan kawan-kawanku di bangku penonton. Tidak ketinggalan pula kami terkadang memberikan komentar-komentar positif kepada Beliau-Beliau yang ada di panggung.

 

– – – – –

 

Usai acara di siang hari itu, aku bersama dengan kawan-kawanku memutuskan untuk pergi ke suatu café yang hits di dekat kampus kami. Kami pun saling melepas rindu. Rasanya benar-benar sangat menyenangkan. Namun bagiku, momen-momen reuni bersama dengan kawan-kawan kuliahku ini malah  memunculkan sedikit rasa sesal jika mengingat-ingat masa kuliah dulu. Aku akui, dulu semasa kuliah aku tidak terlalu dekat dengan banyak kawan dalam satu jurusan, jarang sekali ikut berkumpul bersama saat sedang mengerjakan tugas, atau jarang sekali berkumpul untuk sekedar melepas penat di sekretariat himpunan mahasiswa jurusan kami. Padahal di situlah momen-momen bahagia bersama kami yang kini akan selalu terkenang dalam memori kami.

Bukan, aku bukan tipe anti-sosial dan sukar bergaul, bukan. Aku masih dapat berteman dengan beberapa kawan dalam lingkup satu jurusanku dan masih dapat berkumpul bersama seperti untuk mengerjakan tugas atau belajar bersama. Sayangnya, dulu tidak sering melewatkan waktu bersama mereka di luar urusan perkuliahan. Ya, disitulah letak rasa sesal yang terkadang masih menghantui hingga kini.

Walau aku jarang bermain bersama dengan teman-temanku di jurusan, aku aktif di beberapa unit kegiatan mahasiwa atau organisasi lain di kampusku, di mana unit-unit kegiatan tersebut tidak ada satupun yang berkaitan dengan hal-hal berbau jurusan kuliahku. Aku saat itu merasa lebih bebas dan lebih dapat mengekspresikan diri pada komunitas-komunitas di luar jurusanku tersebut.

Dulu aku sering merasa rendah diri di hadapan kawan-kawanku di jurusan. Bagaimana tidak? Aku ini bukan termasuk mahasiswi pintar seperti teman-temanku yang lain. Ibarat kata, aku ini sering mengulang mata kuliah di semester berikutnya atau di tahun berikutnya dari mata kuliah tersebut diselenggarakan. Nilai akhir pun terkadang pas-pasan, ditambah saat mengerjakan skripsi, lamanya minta ampun. Entah, aku pun  bingung apa yang sebenarnya terjadi pada diriku di masa lalu. Beberapa kali setiap mengingat kejadian-kejadian tersebut rasanya menyesal dan rasanya ingin kembali mengulang masa-masa kuliah. Namun beruntungnya aku, aku memiliki teman-teman yang sangat baik dan tidak membeda-bedakan status dan kedudukan diantara kami. Mudah-mudahan rasa saling menguatkan seperti ini akan terus terjaga hingga nanti di masa tua kami. Amin.

 

– – – – –

Suasana Senja Cihampelas di Kala Mendung (Dokumentasi Pribadi)

 

Acara reuni memang diselenggarakan 2 hari, namun aku dan teman-temanku hanya mengikuti prosesi acara di hari Sabtu-nya saja. Beberapa di antara kami juga sudah ada yang bertolak kembali ke kota masing-masing di malam minggunya.

Namun demikian, hari Sabtu kala itu benar-benar berkesan untukku. Rasa semangat untuk kembali menapaki kehidupan beserta tantangan-tantangannya kembali muncul dan semakin bergelora. Rasa rendah diri bertahun-tahun yang aku alami pun semakin terasa berkurang sejak Sabtu itu. Rasanya seperti kembali hidup. \(^-^)/

Dan berikut ini adalah beberapa hal serta hikmah yang dapat aku ambil dari pertemuan hari Sabtu kemarin itu:

  1. Kerja keras pasti membuahkan hasil, tidak ada yang namanya keberuntungan yang hakiki tanpa disertai dengan usaha dan kerja keras yang gigih. Usaha tidak akan menghianati hasil.
  2. Jangan lupa untuk senantiasa berdoa di setiap usaha yang sedang dijalankan, tanpa doa, usaha akan menjadi sia-sia. Karena sejatinya, segala nikmat yang kita dapat di dunia ini berasal dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
  3. Selalu bersyukur dengan apa-apa yang sudah didapat dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang sudah Tuhan Berikan hingga detik ini. Pada intinya, semakin pandai bersyukur, maka semakin bertambah nikmat yang akan didatangkan Tuhan kepada kita. Terkadang juga, malah datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
  4. Jangan pernah meremehkan orang yang selalu bekerja jujur, selain usaha dan kerja keras yang selalu ia lakukan, karena kita tidak akan pernah tahu keberuntungan seperti apa yang menantinya di depan.
  5. Bekerjalah dengan niat tulus ikhlas dan jangan selalu mengejar materi. Karena yang terpenting adalah kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperkaya diri dengan berbagai pengalaman kerja, agar dapat mengambil berbagai manfaat dari pengalaman-pengalaman tersebut bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

– – – – –

 

Jadi, tunggu apalagi. Yuk mari semangat! 🙂

Keliling Singapura Naik MRT (Dokumentasi)

Halo lagi internet! Kali ini saya ingin bercerita sedikit mengenai pengalaman ke Singapura (Singapore) di mana saya menggunakan MRT (Mass Rapid Transit) sebagai sarana trasnportasinya.

 

Singapura. Ya, negara yang satu ini memang dekat sekali dengan Indonesia. Negara maju, negara pusat bisnis dunia, negara rapih, negara bersih, dan sebagainya ini memang sering menjadi tujuan wisata mancanegara bagi negara-negara di dunia, salah satunya Indonesia. Menuju ke negara tersebut juga sudah sangat mudah. Baik dengan menyeberang via Batam, maupun terbang langsung menuju Bandara Changi. Ditambah lagi, hanya bermodal paspor dan sedikit uang jajan, kita sudah dapat mengunjungi negara tersebut, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak memerlukan visa saat mengunjungi Singapura.

 

Sebelum berangkat, pastikan Paspor kita masih dalam keadaan aktif dan tidak bermasalah. Pastikan juga teman-teman membawa uang saku yang cukup, tidak perlu lebih, yang penting adalah cukup. Dan kalau menurut saya, untuk bekal Dolar Singapura, dapat ditukar saat setelah mendarat di Singapura saja, jadi tidak perlu menukar saat masih berada di Indonesia. Mengapa? Alasannya ada pada paragraf dalam rangkaian tulisan di bawah. Hehe. Cekidot gan!

 

Ketika Sudah Mendarat di Changi Airport

 

Saat menuju Singapura, jika teman-teman bepergian dengan menggunakan armada low cost airline seperti Air Asia di mana maskapai satu ini memang demen hobi ngasih promo-promo tiket murahnya, maka teman-teman akan mendarat pada Terminal 1 Changi Airport. Nah, setelah turun dari pesawat, langsung perhatikan seluruh papan-papan petunjuk jalan yang berada dalam gedung terminal kedatangan. Apalagi jika teman-teman melakukan perjalanan mandiri, tidak bergabung dengan tour/travel agent.

 

Perlu diketahui, bahwa jika ingin menaiki MRT menuju kota Singapura, kita HARUS menuju ke Terminal 3, di mana memang hanya dari terminal tersebutlah MRT mulai berjalan menuju ke arah kota.

 

Namun, jika teman-teman naik armada seperti Garuda Indonesia, maka akan langsung mendarat di Terminal 3, jadi tidak perlu mencari-cari lagi cara menuju Shelter MRT yang berada pada Terminal 3.

 

Peta MRT Singapore (Source: http://www.lta.gov.sg/)

 

Lalu bagaimana caranya teman-teman menuju ke Terminal 3? Mudah. Agar lebih cepat dan tidak perlu berjalan kaki, maka dapat menggunakan Skytrain (seperti monorail yang ada di TMII). Ikuti petunjuk arah yang mengarahkan ke arah Skytrain yang menuju ke Terminal 3, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini, “Skytrain to T3“.

Penunjuk Arah Menuju Skytrain ke Terminal 3

 

Menunggu Skytrain untuk Menuju Terminal 3

 

Setelah Sampai di Terminal 3

 

Setelah teman-teman sampai ke terminal 3, teman-teman langsung menuju ke arah Imigrasi yang berdekatan dengan Shelter MRT. Tetap ikuti petunjuk arah yang berada di dalam gedung bandara. Jika bingung, bertanyalah pada bagian informasi.

Imigrasi yang Dekat dengan Shelter MRT

 

Oiya, sebelum keluar imigrasi, tukarkan Uang Rupiah teman-teman di Counter UOB Bank. Mengapa UOB? Karena sebelum kami berangkat, diberitahu oleh banyak teman kalau menukar di UOB Bank adalah yang paling murah saat membeli Dolar Singapura (SGD) dibandingkan dengan Money Changer lainnya.

Dan saat menuju bagian imigrasi, siapkan:

  1. Paspor.
  2. Kertas Isian Tinggal yang dibagikan saat masih berada di dalam pesawat menuju Singapura. Bentuknya kertas putih tebal dengan kotak-kotak kosong yang harus diisi dengan data dan informasi milik kita. (Pada saat mengisi bagian kota tinggal, isi saja Nama Hotel dan Daerah Hotel tersebut berada.)

Pengisian Data Diri

 

Tidak perlu grogi saat berhadapan dengan petugas. Cukup jawab setiap pertanyaan petugas imigrasi. Yang paling sering ditanyain paling-paling:

“Mau ngapain Anda ke Singapore? Dengan siapa?”

 

Next, setelah melewati gerbang imigrasitetap perhatikan papan-papan penunjuk jalan.  Perhatikan papan yang menuju ke arah Shelter MRT, di mana pada papan akan tertulis “Train to City“, di mana memang tidak hanya MRT yang akan menuju ke arah kota, melainkan juga terdapat LRT (Light Rail Transitdan letak shelter-nya bersebelahan.

Papan Penunjuk Arah ke Shelter MRT

 

Nah, setelah sampai pada area Shelter MRT, beli tiket pada mesin, seperti mesin tiket KRL Jabodetabek. Cara pembeliannya pun mirip seperti saat membeli tiket KRL Jabodetabek dan touch screen. Kalau saya lebih suka menggunakan tampilan map atau peta baru memilih Stasiun Tujuan. Dan rata-rata para pelancong akan menuju ke area Bugis, Orchard, Bayfront, maupun Marina, dan rata-rata biaya yang dibutuhkan di dalam menuju lokasi-lokasi tersebut hanya senilai $ 2.4 saja. Sebenarnya ada semacam kartu seperti e-money atau e-toll sama seperti yang ada di Indonesia, di mana dengan kartu tersebut kita tidak perlu mengantri dan membeli tiket manual pada mesin, sehingga pemegang kartu dapat langsung masuk gerbang shelter. Berhubung kami belum punya, ya mau tidak mau kami harus bersabar mengantri.

Mengantri Membeli Tiket MRT pada Mesin Tiket

 

Tiket MRT Harian seperti Tiket Harian Berjalan (THB) KRL Jabodetabek

 

Setelah mendapatkan tiket MRT, mengantrilah pada Shelter MRT dan menunggu datangnya MRT. Jangan lupa! Siapkan Peta Jalur MRT (bisa dilihat pada gambar teratas pada postingan ini) pada HP masing-masing sebagai panduan selama perjalanan, karena sama seperti menaiki Bus TransJakarta dan KRL Jabodetabek, terkadang teman-teman harus transit pada titik-titik tertentu.

Karena lokasi hotel kami dekat dengan Stasiun Esplanade, maka pertama-tama kami harus transit di Stasiun Tanah Merah dan berganti dengan MRT ke arah Tuas, jika diperhatikan pada peta di atas, terdapat pada garis hijau. Dan memang jika ingin ke arah kota, semua wisatawan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Merah.

Stasiun Tanah Merah

 

Setelah sampai pada Stasiun Tanah Merah kita juga harus berhati-hati akan keluar sisi kanan atau kiri, karena posisi MRT berada di tengah-tengah jalur, di mana di kanan-kirinya adalah rel MRT arah Pasir Ris dan arah Tuas. Karena jika kita salah turun sisi, kita harus menunggu kereta datang untuk menyeberang arah (menyeberang melalui gerbong kereta) atau harus turun ke bawah melalui eskalator (ya, eskalator!) untuk menyeberang  (menyeberang bawah tanah). Sayangnya saya juga tidak sempat mendokumentasikan arah mana harus turun dari arah kereta melaju. Oiya, seluruh stasiun MRT di Singapura dilengkapi dengan eskalator, setidaknya sepanjang area yang saya lalui, jadi para penumpang tidak akan kelelahan dengan menaiki maupun menuruni tangga secara manual. Oiya, satu lagi, ketika menaiki eskalatorwajib berdiri di sebelah kiri, jangan seperti di Indonesia yang bisa santai-santai di eskalator berjejer kanan-kiri, tidak boleh alias tidak bisa. Karena bila demikian kita akan menghalangi orang-orang yang akan terburu-buru dan mereka-mereka inilah yang membutuhkan jalur kanan kosong tersebut.

Suasana di Dalam Salah Satu MRT

 

Karena tujuan kami ke arah Stasiun Esplanade, setelah naik MRT arah Pasir Ris atau Tuas dari Tanah Merah, maka kami harus transit di Stasiun Bugis, kemudian selang 1 stasiun naik MRT arah Chinatown atau Bayfront dan transit di Stasiun Promenade, kemudian kembali menaiki MRT arah Dhoby Ghaut dan hanya berjarak 1 stasiun saja kami sudah sampai pada Stasiun Esplanade. Setelah turun kami pun turun dan menuju ke arah Marina Square di mana lokasi hotel kami berada.

Arah Tujuan Kami ke Area Marina Square

 

Lebih lengkapnya dapat diperhatikan pada Peta MRT di atas. Pada saat kami menuju area Marina Square ini, kami juga melalui Stasiun Bugis di mana banyak juga pelancong yang turun pada stasiun tersebut, di mana memang di daerah tersebut dekat dengan area belanja, seperti Bugis Street dan Bugis JunctionSekali lagi, harus selalu perhatikan Peta dan juga Google Maps pada HP masing-masing. Karena apabila kita bingung di tengah perjalanan kita, dengan berbekal melihat Google Maps, kita dapat berjalan ke arah manapun yang kita inginkan.

Salah Satu Area di Kawasan Bugis Junction

 

Kawasan Bugis Street

 

Nah, memang tidak rumit keliling Singapura dengan menggunakan transportasi MRT, asalkan kita mau memperhatikan dan selalu aware di mana kita berada pada saat berjalan-jalan keliling Singapore. Tidak lupa selalu perhatikan Peta Singapura yang dapat didapatkan pada saat masih di Bandara Changi, kemudian memperhatikan panduan peta MRT seperti yang ada pada postingan ini, dan terakhir tidak lupa juga Google Maps. 

Area Mengantri Masuk MRT

 

Oiya, ada hal yang menarik juga untuk bisa dibahas, yaitu kondisi atau kultur orang-orang di negara ini pada saat akan naik dan turun dari MRT. Benar-benar tidak ada yang namanya saling serobot seperti yang terjadi pada saat kita mengantri naik KRL maupun Bus TransJakarta. Benar-benar yang namanya menunggu penumpang yang akan turun terlebih dahulu ya benar-benar ditunggu sampai semua penumpang yang akan turun itu turun! Tidak ada satu pun yang menghalangi mereka di depan pintu MRT. Dan orang-orang yang akan naik MRT pun bebaris mengantri dengan rapih di kanan-kiri pintu MRT. Benar-benar luar biasa ya. Boleh itu kita tiru dan kita contoh. Di setiap tepi jalur naik-turun MRT juga terdapat panah-panah seperti pada gambar di atas, panah merah dan panah hijau sebagai petunjuk bagi para pengguna MRT posisi mengantri dan posisi jalur turun yang harus dipatuhi. Dan kerennya rambu-rambu seperti itu selalu dipatuhi oleh orang-orang di negara tersebut. Keren!

 

Setiap kultur unik, rapih, dan bersih pada negara tersebut kerap membuat nagih para pelancong, sehingga rasanya ingin kembali merasakan sensasi berjalan-jalan keliling negara tersebut lagi dan lagi.

 

Review Hotel Wirton, Dago, Bandung

Hello again internet!

Pagi ini suasana langit sangat gloomy yah. Hujan sudah dimulai sejak tadi pagi Subuh. Dan saat ini, siang hari, saat saya menulis kembali, matahari belum juga muncul dari peraduannya. Hujan sudah berhenti sih sejak pukul 9 pagi tadi, tapi suasana masih mendung. Ya, mendung, dingin, komplit. Rasanya akan sangat menyenangkan menikmati hari dengan segelas teh hangat atau secangkir kopi hangat.

Yak, kembali lagi! Saya ingin kembali me-review sebuah penginapan yang baru saja saya dan pasangan kunjungi kemarin weekend. Kali ini kembali ke Kota Kembang, Bandung. Pada mulanya mengapa kami memilih hotel ini, dikarenakan sebenarnya kami sedang ada acara di malam minggunya di Teater Tertutup Dago Tea House yang letaknya berada pada kawasan budaya pemerintah Kota Bandung yang berada di area Dago Atas. Berhubung acaranya dilaksanakan pada malam hari, maka kami memutuskan untuk mencari hotel yang sangat dekat dengan Dago Tea House tersebut, bila perlu kami bisa PP Dago Tea House – hotel hanya dengan berjalan kaki.

Maka, pilihan kami jatuh kepada Hotel Wirton.

 

– – –

 

Hotel Wirton merupakan hotel bintang 2 yang terletak persis sebelum jalan masuk ke Dago Tea House, berseberangan dengan Pom Bensin.

Lokasi Hotel Wirton Dago Bandung

 

Lokasi hotel ini strategis berada di pinggir Jalan Raya Dago Atas (Jln. Ir. H. Djuanda bagian atas) dengan harga per malamnya untuk Kamar Standard adalah sekitar Rp 250.000,-an. Cukup murah bukan?

Jam check in dan check out hotel ini sama-sama jam 12 siang, akan tetapi saat kemarin kami datang tepat waktu pukul 12 siang, ternyata kamarnya belum ready. Jadilah kami agak sedikit menunggu sampai dengan pukul 12.30-an. Yah, cukup lama, tapi berhubung saya juga membawa bekal novel, jadilah saya bisa memanfaatkan waktu menunggu dengan membaca novel. Pasangan? Ya apalagi jika bukan bermain game. Haha.

 

Nah, berikut merupakan penampakan kamar standard pada Hotel Wirton tempat kami menginap ini. Cukup minimalis dengan bentuk kamar-kamar hotel budget masa kini. Dan yang menjadi unik sebenarnya adalah, 2 (dua) sisi dinding yang menghadap luar ini, terdapat kaca yang menembus ke arah luar, sehingga pemandangan keluar hotel langsung dapat terlihat. Kebetulan kami memang request untuk kamar yang menghadap ke arah luar dan di lantai tertinggi dari jenis kamar yang ada. Dan memang mentok di lantai 2 untuk jenis kamar standard hotel ini.

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Wirton Dago Bandung

 

 

Suasananya tenang dan tidak berisik walau kamar menghadap ke arah jalan raya dan berhadapan langsung dengan Pos Satpam Hotel, ya, pos satpam! Haha. Stereotype  yang biasanya suka menjadi “hal wajar” dengan yang namanya “pos satpam” itu adalah, kalau pada malam hari, petugas-petugasnya atau satpam-satpamnya suka menyalakan radio kencang-kencang untuk menemani sepanjang malam berjaga, malah bisa-bisa dangdutan dari radio yang dinyalakan tersebut. Akan tetapi kemarin kami tidak mengalami “hal yang tidak diinginkan” tersebut, alhamdulillah. Haha. Nah, berikut ini adalah penampakan bagian luar kamar kami atau pemandangan yang kami dapat dari kamar kami. Hihi.

Penampakan Sisi Sebelah Utara

 

Penampakan Sisi Timur yang Menghadap ke Arah Jalan Raya (Nah kan, ada Pos Satpam-nya kan….hahaha.)

 

Menuju ke hotel ini juga relatif sangat mudah ya, apalagi jika menggunakan transportasi umum yaitu angkot. Dapat dituju dengan menggunakan:

  1. Angkot Kalapa – Dago (Warna Hijau dengan Corak Orange di Bagian Bawah Angkot)
  2. Angkot Stasion – Dago (Warna Hijau dengan Garis Orange di Bagian Tengah Angkot)
  3. Angkot Riung – Dago (Warna Putih dengan Corak Hijau di Bagian Bawah Angkot)

Berhentinya pun persis di depan hotel dan tidak perlu berjalan kaki lagi menuju ke hotel ini. Mudah bukan?

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Kalau boleh saya katakan, kulaitasnya sama seperti hotel-hotel budget bintang 2 lainnya. Sistem prasmanan, rasa yang cukup lezat dan memuaskan bagi para tamu di dalam memenuhi kebutuhan sarapan pagi. Sarapan pagi seperti biasa dari pukul 6 sampai dengan pukul 10 pagi. Kemarin saat kami selesai melaksanakan sarapan pagi kami, kami melanjutkan aktivitas kami ke Car Free Day (CFD) Dago yang berada di Jalan Raya Dago Bawah (Jln. Ir. H. Djuanda bagian bawah). Menuju ke CFD pun kami tidak kesulitan, karena hanya dengan sekali menggunakan angkot menuju ke arah Simpang Dago di bagian bawah.

Sarapan Pagi di Hotel Wirton Dago Bandung

 

Overall menurut saya menginap di hotel ini cukup memuaskan dan yah walau pada saat datang agak sedikit menunggu. Selain itu, harga di hotel ini relatif murah, karena dari Rp 250.000,-an, teman-teman sudah dapat menginap di hotel ini.

Oke deh, liburan yuk! 🙂

Review Hotel Losari Blok M

Hello internet!

Tulisan kali ini kembali mengenai review hotel. Yeay! Haha. Rasanya tiada henti ingin menulis tentang beberapa hotel yang sudah pernah saya singgahi. Yuk mareee.

Namanya adalah Hotel Losari Blok M. Hotel ini merupakan hotel bintang 2, lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Panglima Polim Raya dan berada di seberang sisi kiri Blok M Plaza, di mana di depan hotel yang merupakan Jalan Raya Panglima Polim Raya ini sedang dibangun fly over baru. Saat saya menginap bersama dengan suami, saya baru meyadari bahwa, hotel tempat kami menginap ini dilalui oleh crane proyek jalan layang tersebut! Yang terlintas dalam benak saya adalah, sungguh-sangat-tidak-aman-sekali kami menginap di sana. Benar-benar kurang tepat waktunya rasanya. Tapi alhamdulillah selama kami menginap di sana, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Na’udzubillahimindzalik

Lokasi hotel ini sangat strategis, meskipun apes-nya dia berlokasi dekat sekali dengan proyek pembangunan jalan layang di depannya. Hotel Losari Blok M ini berada pada komplek area hiburan dan bisnis Melawai – Blok M. Letaknya persis di samping pintu masuk area komplek ini di sisi barat. Lokasi hotel ini juga dekat sekali dengan Blok M Square.

Harga per malamnya juga relatif sangat murah, apalagi jika teman-teman melakukan booking hotel via aplikasi travel online seperti agoda, traveloka, dan lain sebagainya. Dan saya saat menginap adalah pada saat long-weekend mendapatkan biaya menginap per malamnya adalah  sekitar Rp 300.000,-an.

Lokasi Hotel Losari Blok M

 

Untuk suasana hotel dan kamarnya, interiornya malah mengingatkan saya akan kondisi-kondisi hostel-hostel atau bahkan hotel-hotel budget di luar negeri, yang memang diperuntukkan bagi para backpacker. Dari masuk hotel dan menunggu di ruang resepsionis atau kedatangan tamu, sudah terasa “aura luar negeri”-nya. Haha. Dekorasi resepsionis yang dihiasi bendera-bendera beberapa negara plus jam dinding yang menunjukkan 4 (empat) waktu di 4 (empat) wilayah di dunia, semakin membuat terasa “aura luar negeri”-nya. Dan ketika sedang menunggu, kami juga disuguhi welcome drink yang memang sengaja dipersiapkan bagi para tamu hotel yang masih harus menunggu beberapa saat menunggu kamar yang dipesan siap.

Suasana Ruang Tunggu Hotel Losari Blok M

 

Suasana Ruang Tunggu Hotel Losari Blok M

 

Nah, ini yang tidak kalah menarik. Kamarnya gaes. Entah bagaimana cerita, saya langsung teringat Negara Jepang pada saat pertama kali masuk kamar hotel ini, tanpa mengingat bahwa lokasi hotel ini memang berada di kawasan Jepang-Jepang-an di Komplek Melawai Blok M.  Ya, Jepang! Saya rasa hotel-hotel budget di Jepang akan memiliki penampakan mirip-mirip seperti dengan kamar standar Hotel Losari Blok M ini. Ya walaupun sebenarnya saya juga belum pernah ke Jepang sih. Haha. Dari luas kamar yang minimalis, tapi sepertinya sang arsitek hotel ini pandai memanfaatkan ruang yang kecil terasa menjadi cozy dan membuat betah. Terkesan juga dengan posisi kamar mandi yang tidak biasa semakin terasa seperti di luar negeri. Haha. Tapi mungkin memang sepertinya sang pemilik hotel juga merupakan orang Jepang, di mana memang wilayah komplek Melawai – Blok M ini isinya mostly cafe-cafe, restoran-restoran, dan club-club Jepang.

Penampakan Kamar Standard Hotel Losari Blok M

 

Penampakan Kamar Standard Hotel Losari Blok M

 

Penampakan Kamar Mandi Hotel Losari Blok M yang Minimalis Praktis

 

Sebelum masuk ke dalam kamar, terdapat ruang duduk-duduk semacam ruang tamu yang dapat digunakan oleh para tamu hotel jika misalnya menerima tamunya masing-masing. Walau nampak cozy untuk duduk-duduk, tamu hotel tetap tidak diperkenankan untuk merokok di dalam hotel.

Penampakan Ruang Tamu Sekunder Dekat Kamar-Kamar Hotel

 

Lukisan Cantik pada Ruang Tamu Sekunder (Benar-benar lukisan asli, BUKAN gambar print. Cat lukisnya terasa sekali. Cantik!)

 

Lalu bagaimana dengan kualitas sarapannya? Seperti pada kualitas-kualitas hotel budget pada umunya, sarapan pada hotel ini sudah cukup baik dan lezat, sangat dapat memuaskan kebutuhan sarapan pagi para tamu. Selain itu juga, desain interior untuk ruang makan dan bar pada hotel ini juga cantik dan lagi-lagi bernuansa Jepang atau bernuansa “luar negeri”.

Meja Makan pada Ruang Makan Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Prasmanan di Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Prasmanan di Hotel Losari Blok M

 

Sarapan Kami di Hotel Losari Blok M

 

Nah, kalau berikut ini merupakan penampakan beberapa hiasan dinding yang berada di sekitar area ruang makan Hotel Losari Blok M.

Hiasan Dinding di Area Restoran dan Bar Hotel Losari Blok M

 

Hiasan Dinding di Area Restoran dan Bar Hotel Losari Blok M

 

Sebenarnya kalau dari luar, hotel ini sangat terlihat sekali sebagai hotel lama dengan eksterior bangunan lama. Sayangnya juga nampak seperti bangunan lusuh jika dilihat sepintas dari luar. Akan tetapi, dilihat dari lokasinya yang strategis, dekat dengan tempat-tempat wisata belanja, saya rasa, tidak akan menjadi masalah. Apalagi kondisi interior yang bersih dan unik juga membuat suasana semakin terasa kalau sedang berlibur.

Tunggu apalagi gaes. Mari berkemas dan yuk liburan!