Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Maven Fatmawati, Jakarta Selatan

Hai internet! Kembali kali ini saya ingin me-review sebuah hotel dan hotel yang akan saya review ini berlokasi di area Fatmawati, Jakarta Selatan. Yuk, cekidot gan!

 

Sebenarnya tulisan kali ini masih relate dengan tulisan saya yang ini (klik ya…). Yup, menginap di sini dikarenakan air di rumah masih mati dari hari-hari sebelumnya, sementara saya sedang sangat butuh-butuhnya untuk bolak-balik ke kamar mandi untuk urusan beser.

 

– – – – –

 

Hotel yang akan saya review ini bernama Hotel Maven Fatmawati yang merupakan hotel jadul berbintang 3 (tiga) di mana lokasinya sangat dekat dengan kawasan ITC Fatmawati. Jadi sewaktu saya menginap di sini, terlihat juga ada beberapa orang yang sepertinya penjual yang berasal dari daerah, yang mungkin sedang kulakan di Jakarta.

Lokasi Hotel Maven Fatmawati (sumber: Google Maps)

 

Saya memilih hotel ini dengan pertimbangan, lokasinya tidak jauh dari pusat kuliner dan pusat perbelanjaan (mumpung nginep di hotel ceritanya kan…), serta dilalui jalur pulang-pergi suami ngantor sehari-hari.

 

Namun sayangnya saat menginap di hotel ini, area sekitar, khususnya bagian depan hotel, masih terdapat proyek pembangunan Jalur MRT Jakarta, jadi cukup lumayan berdebu jika berjalan kaki di siang hari.

 

Walau demikian, menurut saya menginap di hotel ini tidak mengecewakan dan cenderung merasa nyaman selama periode menginap berlangsung.

 

Saya menginap dari hari Senin hingga hari Kamis siang, alias menginap selama 4 hari 3 malam. Pada mulanya, saya hanya booking selama 2 malam saja, namun pada saat hari ke-3 yang seharusnya di rencana awal hari check out, saat suami mengecek air di rumah masih belum menyala juga dan beberapa tetangga terlihat masih mengandalkan pompa air rumahnya masing-masing, jadilah kami menambah 1 malam meginap. Dan bersyukurnya pada hari ke-4 mengungsi, alias hari terakhir mengungsi, saat dicek kembali di pagi harinya oleh suami, air di rumah sudah mulai berangsur-angsur menyala walau masih rintik-rintik nyala-mati tidak jelas.

 

 

Kondisi Kamar Hotel

 

Di hotel ini kami menginap di kelas kamar terendah yaitu tipe Kamar Standard. Harga per malam yang kami dapatkan di sini adalah Rp 330.000,-an.

Jika melihat kondisi hotel yang bersifat klasik dan memang merupakan hotel jadul, serta walau bertuliskan hotel berbintang 3, namun kamar yang kami tempati berukuran lebih luas jika dibandingkan dengan tipe Kamar Standard hotel berbintang 3 lainnya yang pernah kami kunjungi, plus fasilitas di dalam kamar yang sudah terdapat heater yang mana sangat jarang saya temui di hotel berbintang 3 lainnya dan terdapat jumlah colokan jauh lebih banyak dibandingkan dengan hotel berbintang 3 lainnya, saya rasa harga demikian cukup worth it.

 

Mengingat juga area sekitar hotel yang sedang menjadi wilayah pembangunan, hotel ini ternyata memang sedang memberikan harga diskon bagi siapa saja yang menginap di hotel tersebut. Mungkin jika area hotel “sedang normal” dan bukan masa-masa pembangunan, harga per malam di kelas kamar terendah hotel tersebut dapat mencapai angka Rp 400.000,-an.

 

Dan beginilah kondisi kamar yang kami tempati.

Kondisi Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

Kondisi Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

Kondisi Kamar Mandi Tipe Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

Area Mini Bar Kamar Standard Hotel Maven Fatmawati

 

View dari Kamar Standard Kami di Hotel Maven Fatmawati

 

Kami memang sengaja meminta view kamar kami menghadap ke bagian luar hotel, dengan alasan agar cahaya matahari dari luar dapat masuk di siang harinya dan pemandangan mata juga tidak terasa jenuh.

 

 

Kondisi Interior Hotel dan Ruang Resepsionis Hotel

 

Saat pertama kali memasuki hotel dan memasuki area resepsionis hotel, suasana yang saya rasakan adalah kenyamanan. Ditambah pula walau bersifat minimalis, namun dekorasi interior hotel membuat saya menjadi lupa dengan “kondisi berantakannya” di luar hotel yang memang sedang bertumpuk-tumpuk bahan bangunan.

 

Bahkan jika dilihat dari area kedatangan saya, lokasi hotel ini benar-benar dilalui jalan buntu akibat proyek pembangunan MRT yang sedang berlangsung tersebut.

Lokasi Hotel Maven Fatmawati (Sebelah Kiri pada Gambar)

 

Dan berikut ini merupakan beberapa penampakan bagian dalam hotel.

Ruang Resepsionis Hotel Maven Fatmawati

 

Hiasan pada Ruang Resepsionis Hotel Maven Fatmawati

 

Terdapat Sebuah Piano di Ruang Resepsionis Hotel Maven Fatmawati

 

Lift “Touchscreen” di Hotel Maven Fatmawati

 

Tangga Bernuansa Klasik di Hotel Maven Fatmawati

 

 

Kondisi Ruang Makan dan Sarapan

 

Kebetulan di hotel ini tidak terdapat sewa kamar tanpa sarapan, jadi setiap menginap di hotel ini, harga yang diberikan sudah termasuk dengan fasilitas sarapan pagi.

 

Nah, untuk kualitas sarapan di sini sebenarnya agak kurang berwarna dan kurang bervariasi. Mungkin hal ini dikarenakan karena memang kondisi hotel yang berbintang 3. Namun, suasana “minimalis sekali” sangat terasa saat kami melaksanakan sarapan pagi kami.

 

Makanan berat yang tersedia pun hanya terdapat 2 jenis saja, yaitu nasi dan lauk 1 jenis. Nasinya memang pilihan, nasi putih atau nasi goreng, namun untuk lauknya ya hanya 1 jenis saja, bergantian di tiap harinya. Berhubung kami menginap selama 4 hari, “hawa bosan” agak terasa saat kami sarapan di sini.

 

Walau demikian, terdapat menu lain seperti roti, buah, puding, teh panas, kopi panas, serta jus yang tersedia juga untuk para pengunjung.

 

Kesimpulan untuk sarapan di hotel ini, cukup dapat memuaskan dan memenuhi kebutuhan sarapan kami lah ya…

 

Suasana Ruang Makan Hotel Maven Fatmawati

 

Suasana Ruang Makan di Hotel Maven Fatmawati yang Menghadap Langsung Bagian Depan Hotel (Terlihat Pagar Seng Pembatas Proyek MRT)

 

Suasana Sarapan di Hotel Maven Fatmawati

 

Suasana Sarapan di Hotel Maven Fatmawati

 

Kuliner Sekitar Hotel Maven Fatmawati

 

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, bahwa lokasi hotel ini sangat dekat sekali dengan area ITC Fatmawati. Oleh karenanya, di wilayah sekitarnya pun sudah pasti banyak terdapat warung makan-warung makan seperti warteg dan warung makan padang yang berderet di pinggir jalan raya Fatmawati.

 

Namun terdapat 2 (dua) kuliner yang “membekas” di hati saat saya menginap pada Hotel Maven Fatmawati ini.

 

 

1) Kuliner Soto Kudus

 

Posisi warung makan ini berada pada deretan warteg dan warung  makan padang yang ada. Pada hari pertama menginap, saya nge-warteg, namun saat melihat ada warung Soto Kudus di sampingnya, saya pun tertarik untuk mengunjunginya di keesokan harinya. Dan rasa penasaran saya pun terpuaskan dengan hidangan yang disajikan.

 

Lokasi Warung Soto Kudus yang Berada pada Deretan Warteg

 

Soto Kudus yang Disajikan dengan Mangkuk Berbahan Tanah Liat

 

Soto Kudus yang disajikan masih menggunakan cara tradisional dengan menggunakan mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Awalnya saya mengira akan menggunakan mangkuk kecil keramik seperti pada warung-warung soto sejenis di tempat lain, namun saya “dikejutkan” dengan penyajian yang terasa “berbeda” dan “tidak biasanya”.

 

Suasana saat makan siang di warung soto tersebut, membuat saya jadi teringat kampung halaman di Jawa Tengah sana. Rasanya tuh jadi “pas”. Hehe.

 

Harga soto pun menurut saya tidak terlalu mahal, yaitu Rp 15.000,- untuk semangkuk Soto Kudus Campur.

 

(oiya, kalau di Jawa Tengah,  cara menikmati sajian soto khas kuliner Jawa Tengah memang kebanyakan dengan cara “dicampur”, dari yang namanya Soto Sokaraja, Soto Bangkong Semarang, hingga Soto Kudus, semuanya akan terasa nikmat jika disantap dengan cara “dicampur”, tidak dipisah antara soto dengan nasi)

 

Namun kebanyakan sekarang di kota-kota besar seperti di Bandung maupun Jakarta, jika terdapat warung soto khas Jawa Tengah seperti yang sudah saya sebutkan tadi, biasanya tetap memberikan pilihan bagi para pengunjung, mau menikmati soto secara “dipisah” atau “dicampur”.

 

 

2) Kuliner Seafood

 

Seafood! Siapa sih yang tidak suka dengan jenis makanan yang satu ini? Hehe.

 

Jadi ternyata, di deretan Hotel Maven Fatmawati menjorok ke bagian dalam ke arah jalan buntu akibat proyek pembangunan MRT, terdapat sebuah kuliner seafood yang sangat lezat menurut saya, di mana sepertinya karena sedang ada pembangunan, tempat makan tersebut menjadi tidak seramai biasanya seperti saat belum terdapat proyek pembangunan MRT Jakarta ini. Karena lokasinya menjadi sedikit “tersembunyi”, maka sang owner pun setiap malam harus menaruh papan pengumuman kalau tempat makannya tetap buka dalam masa pembangunan MRT.

 

Papan Penunjuk Arah Lokasi Seafood “Santiga” di Ujung Jalan Sebelum Jalan Buntu

 

Kenapa saya tau kalau papan ini ditaruh setiap hari? Karena pada saat siang hari papan tersebut tidak ada, baru ada di malam harinya, dan tempat makan seafood tersebut memang hanya buka pada malam hari saja.

Dan beginilah suasana tempat makan Seafood “Santiga”.

 

Penampakan Tempat Makan Seafood “Santiga”

 

Menu di Tempat Makan Seafood “Santiga”

 

 

Suasana di Tempat Makan Seafood “Santiga”

 

 

– – – – –

Jadi, begitulah pengalaman kami selama menginap 4 hari 3 malam pada Hotel Maven Fatmawati. Overall menginap di sini sangat menyenangkan dan membuat “rasa betah” walau harus seharian berada di dalam kamar hotel.

 

(maklum, saya kan IRT sehari-hari, jadi memang nggak ke mana-mana sehari-hari juga, hehe)

 

Dan menurut saya, Hotel Maven Fatmawati ini sangat cocok bagi para backpacker maupun siapa saja yang ingin “kabur sejenak” dari rutinitas harian. Harga relatif sangat murah untuk lokasi yang sangat strategis.

 

Oiya, FYI, jika saya bandingkan dengan hotel-hotel lain di sekitar ITC Fatmawati juga, penawaran harga tipe kamar terendah Hotel Maven Fatmawati ini masih jauh lebih murah. Hotel-hotel lain yang sama-sama berlokasi sekitar ITC Fatmawati, masih menawarkan harga di angka sekitar Rp 400.000,- hingga Rp 450.000-an untuk tipe kamar terendah yang dimiliki dari hotel-hotel tersebut. So, masih worth it saya rasa jika memutuskan untuk menginap di hotel ini.

 

Terutama apabila para pelancong adalah para pedagang yang memang bergerak dalam dunia fashion maupun bidang elektronik, yang kebetulan mungkin sesekali ingin “mencari inspirasi” di area ITC Fatmawati. Hotel Maven Fatmawati dapat dijadikan bahan pertimbangan sebagai tempat menginap.

Advertisements
Culinary, Hobby, Review Hotel, Travelling

Review M Hotel Melawai – Blok M

Halo internet!

Kembali kali ini saya ingin menulis tentang review sebuah hotel, dan kali ini saya akan me-review hotel yang berada di kawasan Blok M Square. Lagi-lagi kali ini yang menyebabkan kami (harus) menginap (kembali) di hotel adalah karena adanya perbaikan sistem penyediaan air bersih dari pusat terhitung sejak hari Sabtu tanggal 31 Maret 2018, yang katanya air mati hanya sampai Minggu sore saja di tanggal 1 April 2018.

Baca juga: Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Mengapa bisa kembali ke kawasan Blok M? Karena kebetulan kemarin yang terpikirkan hanya kawasan ini, mengingat lokasi yang super ramai dan memang suasana sekitar hotel bernuansa liburan.

 

– – – – –

 

M Hotel merupakan hotel bintang 3 yang berlokasi tepat di pusat perbelanjaan Blok M Square.  Bahkan posisinya persis berada di seberang Mall Blok M Square-nya.

Lokasi M Hotel – Blok M (Source: Google Maps)

 

Karena kemarin sifatnya adalah “dadakan”, maka kami memang tidak mempersiapkan secara khusus untuk “sengaja berlibur” menginap di hotel, walau memang kemarin suasananya adalah suasana libur long weekend (30 Maret, 31 Maret, 1 April 2018). Di hari Sabtunya, kami kebetulan sedang ada acara di Kota Depok. Sepulangnya kembali ke Jakarta sudah malam sekitar pukul 7 malam. Di tengah jalan saat kepikiran air di rumah sudah menyala atau belum, kami pun memutuskan untuk mengungsi saja di hotel, mengingat sudah hampir pasti malam minggu tersebut air masih mati, karena pengumuman dari Palyja menyebutkan bahwa air mati sampai dengan hari Minggu sore di tanggal 1 April 2018-nya.

Jika ada yang bertanya, “Kok nggak nimba saja dari pompa?” Bukan tidak punya dan tidak mau, kebetulan memang pompa air di rumah kebetulan sekali masih rusak dan memang belum diperbaiki. Walaupun dapat diperbaiki juga, harus menunggu sekitar 3 hari-an agar air yang mengalir benar-benar bersih terbebas dari pasir. Itu pun setelah 3 hari dinyalakan, tetap saja masih ada pasir kecil-kecil di dalam air. Jadi, mau tidak mau, untuk saat ini kami masih bergantung sepenuhnya kepada Palyja.

Kembali kepada M Hotel.

Kami check in pada hotel sudah sangat malam dan beruntungnya kami mendapatkan harga promo yaitu Rp 350.000,- di mana harga tersebut sudah dengan sarapan pagi. Kebetulan kami memesan kamar hotel melalui aplikasi travel online di mana sudah mendapatkan diskon dari aplikasi, kemudian mendapatkan diskon tambahan sebesar 10%  dari program promo hotel. Dan saat di meja resepsionis, kami juga melihat bahwa M Hotel memang sedang mengadakan promo kalau menginap saat weekday akan mendapatkan diskon 20% jika check in langsung, dan di weekend diskon 10%. Namun saya curiganya, promo yang diberikan pada saat check in langsung, hanya kamar yang seharga Rp 500.000,- ke atas, mengingat sebelumnya kami pernah “dadakan” juga ingin check in di hotel ini dikarenakan air mati juga di minggu-minggu sebelumnya, yang pada akhirnya tidak jadi, dan jadinya menginap di Fave Hotel.

Promo Diskon M Hotel

 

Suasana Ruang Resepsionis

Suasana ruang resepsionis M Hotel ini bersifat minimalis seperti hotel-hotel budget pada umumnya. Jam menunjukkan pukul 22.44 WIB, ya, itu adalah jam kami check in pada hotel. Benar-benar murni ini sifatnya “mengungsi” kembali. Hiks.

Suasana Ruang Resepsionis

 

Setelah melakukan check in, kami masuk ke arah lift menggunakan pintu kaca yang berada di sebelah kanan (lihat gambar di atas), dan untuk membuka pintu tersebut harus menggunakan kartu akses, sehingga saat naik lift menuju kamar hotel tidak perlu lagi menggunakan kartu akses.

Di depan lift terdapat ruang tunggu tamu yang juga bersebelahan dengan ruang makan hotel.

Suasana Ruang Tunggu Tamu yang Bersebelahan dengan Ruang Makan Hotel

 

Suasana Kamar Hotel

Berikut ini adalah kondisi penampakan kamar standard kami.

Suasana Kamar Standard M Hotel

 

Suasana Kamar Standard M Hotel

 

Dan berikut ini merupakan suasana kamar mandi tipe kamar yang kami pesan. Tidak terdapat bath tub, namun sudah sangat cukup dengan menggunakan shower dan mendapatkan peralatan mandi standar seperti sabun, cotton bud, sikat gigi, dan shampo.

Suasana Kamar Mandi

 

Malam itu tidak banyak yang kami lakukan. Sebelum masuk hotel, kami baru saja menonton film indonesia yang sedang tayang, yaitu Hongkong Kasarung yang bintang utamanya adalah Sule. Usai check in, kami melaksanakan makan malam kami di lesehan makan malam area teras Mall Blok M Square seperti yang pernah saya ceritakan juga pada tulisan-tulisan saya sebelumnya mengenai review hotel-hotel di Blok M yang pernah kami singgahi.

 

Baca Juga: Review Fave Hotel Melawai – Blok M

Baca Juga: Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Baca Juga: Review Hotel Losari Blok M

 

Suasana Sarapan Pagi

Sarapan pagi pada M Hotel dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Lokasi ruang makan terletak di lantai paling bawah bersebalahan dengan ruang resepsionis.

Untuk menu sarapan pagi kami di hari Minggu tersebut, menurut saya cukup simpel dan tidak terlalu banyak variasinya, terutama untuk menu nasi dan lauknya, jika dibandingkan dengan hotel-hotel budget lainnya yang berbintang 3 juga yang pernah kami kunjungi sebelum-sebelumnya. Dan untuk menu nasinya saja, hanya tersedia nasi liwet dengan berbagai macam lauk di mana lauk-pauknya sudah termasuk di dalam masing-masing bungkusan nasi liwetnya.  Namun demikian, sudah cukup membuat kenyang dan memenuhi kebutuhan sarapan pagi kami.

 

Suasana Ruang Makan Hotel dan Menu Sarapan Kami

 

Ruang makan hotel tidak terlalu luas dan terkesan minimalis, namun terasa sangat segar karena jendela-jendela di samping ruang makan ini langsung berhadapan ke bagian luar hotel. Suasana dinginnya pagi hari (walau di Jakarta), masih terasa dari hembusan-hembusan angin yang masuk melalui celah-celah jendela. Segar! Membuat pikiran saya melayang “seolah-olah” suasana seperti berada di pinggir pantai. Haha.

Suasana Ruang Makan Hotel yang Langsung Menghadap Bagian Luar Hotel

 

Terlihat dari foto di atas, bagian luar hotel yang terlihat adalah bagian dari Mall Blok M Square. Benar-benar strategis bukan lokasi hotel ini? Apalagi jika menginap dengan harga promo. Hehe.

Nasi Liwet dengan Lauk Ikan Cakalang

 

Pagi itu, menu sarapan saya tidak banyak, hanya mengambil roti beserta selai dan butter-nya, dan nasi liwet dengan lauk ikan cakalangnya. Sebenarnya ada menu lain yaitu bubur ayam, tapi saya tidak mencobanya. Kembali, sayangnya karena menu sarapannya tidak terlalu variatif, khususnya untuk menu nasinya, yang tersedia hanya nasi liwet ini saja. Super minimalis ya. Hehe.

– – – – –

Jadi kesimpulannya, menginap pada M Hotel Melawai – Blok M ini overall menyenangkan, dikarenakan nilai plus-nya yaitu lokasi yang super strategis di pusat perbelanjaan Blok M Square. Oiya, bahkan lokasi M Hotel ini berseberangan langsung dengan kedai kopi yang sangat terkenal se-Indonesia Raya, bahkan pernah ada filmya, ya, yaitu si Filosofi Kopi yang terkenal itu. Kemudian di samping persis kedai kopi tersebut terdapat mini market 24 jam Circle K di mana jika menginginkan jajan makanan ringan dan minuman di malam hari, tidak perlu khawatir. Perlengkapan mandi juga terdapat pada mini market tersebut.

M Hotel ini menurut saya sangat cocok bagi siapa saja yang berniat backpacker-an bersama dengan teman-teman untuk menikmati suasana Jakarta di area selatan Jakarta.

So, tunggu apalagi. Mari berkemas! 🙂

 

AMG, Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Review Hotel, Travelling

Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Hai hai hai internet!

Akhir-akhir ini saya sedang saaangat malas sekali untuk membuat tulisan. Ada apa ya gerangan? Padahal tidak berat, cukup 1 kali saja dalam 1 minggu untuk “menyetorkan” sebuah cerita pada blog pribadi. Yeah, itulah ketentuan wajib yang harus dipatuhi jika ingin dapat terus bertahan dan mengikuti komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti.

Baiklah, berhubung sudah sangat mepet dengan waktu setoran, di mana ini saya mulai menulis tepat pukul 22.45 WIB di hari Minggu tanggal 4 Maret 2018, dalam arti sudah tinggal 1 jam lagi menuju batas waktu penyetoran, maka saya putuskan untuk bercerita singkat mengenai kegiatan weekend 3 – 4 Maret 2018 ini ngapain aja dan ke mana aja. Yuk, cekidot gan!

 

– – –

 

Berawal dari Sabtu pagi 3 Maret 2018 waktu subuh. Air mati! Dan lupa untuk menampung air dari Jumat sorenya. Duh!

(Entahlah mulai mati sejak kapan, bisa jadi sudah sejak Jumat malam air mati, mengingat saat Jumat sore air masih menyala. -_-” )

 

Hari semakin siang. Pikiran pun mulai panik. Karena sampai waktu Zuhur, air tak kunjung menyala juga. Waduh!

Akhirnya sekitar pukul 11 siang, saya dan pasangan secara random bergegas packing untuk bersiap-siap berangkat ke Masjid Besar Pondok Pinang demi menunaikan rutinitas mandi yang seharusnya sudah dilakukan sejak beberapa jam sebelumnya. Jadilah kami berdua pun berangkat dengan cueknya. Untunglah memang di Masjid Besar tersebut memang diperbolehkan untuk mandi bagi masyarakat umum di sekitar secara cuma-cuma.

 

– – –

 

Perkara mandi pagi pun dapat terlaksana dengan baik, namun masih berharap-harap cemas apa yang akan terjadi kemudian. Usai mandi dan sholat Zuhur, pasangan pun kembali menelepon CS Palyja (perusahaan swasta air minum yang menyuplai air bersih di area rumah kami). Jawaban yang didapat masih sama dengan jawaban saat beberapa jam sebelumnya, nihil, belum tau penyebab pastinya kenapa air mati. What???

Akhirnya kembali, dengan super random-nya, saya pun mengajak pasangan untuk check in di hotel dengan asumsi pikiran positif kalau di hari Minggu siangnya air sudah akan menyala. Mengingat, sebenarnya kejadian air mati seperti ini sudah pernah terjadi di beberapa waktu sebelumnya di mana kejadian juga sama-sama terjadi di weekend. Kebetulan masa-masa itu memang saya dan pasangan pas sedang bepergian keluar kota dan baru kembali lagi ke rumah di Senin paginya, di mana tentu saja air sudah menyala kembali. Biasanya kami tau kondisi demikian saat di Sabtu pagi sebelum berangkat, saya mengecek kalau air memang benar-benar mati.

Berkat kerandoman kami di Sabtu siang tersebut, kami pun menuju ke area Blok M Square dan melihat-lihat hotel sekitar yang ada, dan pilihan pun jatuh pada Fave Hotel Melawai.

 

– – –

 

Saya pernah menginap di hotel tersebut saat weekend beberapa waktu lalu bersama dengan teman perempuan saya. Saat itu, kebetulan pasangan memang sedang ada acara di luar kota, tepatnya di Kalimantan. Saat itu memang saya juga sedang padat-padatnya pekerjaan sehingga tidak dapat mengambil cuti di hari Jumat-nya seperti yang pasangan lakukan. Pengalaman menginap pada hotel tersebut juga pernah saya tulis dalam blog ini (klik link berikut).

Check In Sabtu Siang 3 Maret 2018

 

Nah, pada kesempatan weekend kali ini, saya menikmati hotel tersebut bersama dengan pasangan dan dengan kondisi lebih menyenangkan. Mengingat saat pengalaman sebelumnya di mana saya tidak mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel, dengan alasan jenis kamar yang saya pesan sudah habis tidak ada stok lagi yang menghadap depan, yang padahal saya saat itu sangat mengharapkan untuk bisa mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel, yang mana pada akhirnya saya mendapatkan kamar dengan view bagian dalam hotel, alias dalam gedung. Hiks. Namun, hari Sabtu kemarin ini, kami mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel walau kami hitungannya terlambat untuk check in dan belum melakukan booking sebelumnya.

Dan berikut ini merupakan penampakan kamar kami di lantai 5.

Penampakan Kamar Standard

 

Penampakan Kamar Standard

 

Seperti yang sudah saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa Fave Hotel Melawai ini berhadapan langsung dengan mall Blok M Square, bahkan berseberangan langsung dengan salah satu pintu masuk mall, yaitu Pintu UG Mutiara 2.

Bagian Depan Hotel yang Berhadapan Langsung dengan Mall Blok M Square

 

Bagian Mall Blok M Square yang Berhadapan Langsung dengan Fave Hotel Melawai

 

Bagian Mall Blok M Square yang Berhadapan Langsung dengan Fave Hotel Melawai

 

Berhubung memang tujuan utama menginap di hotel adalah karena air mati (saya sedang sangat membutuhkan air untuk bolak-balik kamar mandi) dan memang saya sedang butuh untuk beristirahat, jadilah sesorean tersebut hingga waktu Maghrib, saya hanya tidur-tiduran saja di kamar hotel. Sementara pasangan memang sedang ingin sekali ke Balai Kartini di mana memang di tempat tersebut sedang ada acara pameran yang ditunggu-tunggu.

Di malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk malam mingguan dengan menikmati menonton film di bioskop (lagi-lagi ke bioskop, hehe) untuk melihat Bruce Willis di film terbarunya berjudul Death Wish. Usai menonton film sekitar pukul setengah 10 malam, kami melanjutkan dengan kegiatan kuliner untuk makan malam kami di area pujasera lesehan terbesar yang selalu diselenggarakan di tiap harinya di salah satu sisi Blok M Square, di mana sisi tersebut berada di depan hotel kami. Yeay!

Kuliner Lesehan di Salah Satu Sisi Mall Blok M Square di Malam Hari

 

Usai makan malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

– – –

 

Hari Minggu pagi dimulai dengan sholat Subuh. Kami terbangun secara alami oleh suara azan Subuh di mana suara azan tersebut sangat dekat sekali terdengar dari kamar hotel kami. Mengingat memang, Masjid Raya Blok M Square memang terletak pada sisi yang berdekatan dengan sisi area hotel kami. Syahdu! :’)

Pagi hari itu kami sarapan di dalam hotel. Beruntungnya saat kami sarapan, belum banyak pengunjung hotel lain yang datang, karena kami datang ke area restoran juga termasuk yang paling awal, sekitar pukul 7 pagi.

Suasana Restoran Hotel di Pagi Hari yang Masih Sepi

 

Sarapan Spaghetti Aglio Olio

 

Setelah sarapan kami kembali ke kamar untuk berisitirahat menuju waktu check out hotel.

 

– – –

 

Overall, pengalaman menginap di Fave Hotel Melawai – Blok M ini bagi saya terasa sangat menyenangkan. Karena mungkin faktor yang saaangat dekat sekali dengan pusat kuliner dan perbelanjaan. Ke mini market pun juga sangat dekat. Lokasinya super strategis dengan harga yang dapat dikatakan relatif murah, sekitar 450.000++/malam.

Hotel ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang memang berencana untuk weekend escape sejenak dari rutinitas harian yang sudah sangat melelahkan.

So, selamat berlibur! 🙂

 

– – –

 

Lalu bagaimana kelanjutan cerita air mati di awal tulisan ini? Yep, apesnya, sesampainya di rumah di minggu sore harinya, air belum juga menyala. Aaaaargh! -_-“

 

Pondok Pinang, 4 Maret 2018, 23.49 WIB

 

 

 

AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

 

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

 

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa Gading.

 

Sekali lagi saya sebutkan, lokasi hotel ini saaaaangat dan superrrrr strategis. POP! Hotel Kelapa Gading menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Kali ini saya berkesempatan menginap selama 4 hari 3 malam dan saya hanya, ya, hanya, memerlukan Rp 1.000.000,- ++ lebih sedikit. Entahlah, bagi saya jumlah sekian termasuk murah, jika dibandingkan dengan lokasi yang super strategis seperti ini. Apalagi jika dibandingkan dengan postingan saya sebelumnya mengenai hotel ini di mana harga per malam saat itu adalah Rp 425.000,-.  Plus, ini momen peak season lho, di saat suasana Tahun Baru. Jadi semakin berasa “murah”nya. Dan saya memesan hotel tersebut 2 bulan sebelum kedatangan melalui aplikasi Agoda.

 

– – –

 

Day 1 – Jumat, 29 Desember 2017

 

Jauh-jauh hari saya memang sengaja memesan untuk dapat menginap sejak hari Jumat, walau dulu jauh hari tersebut saya sudah berpikir dan tahu jika hari Jumat, 29 Desember 2017 belum libur dan bukan hari cuti bersama. Walau demikian saya hanya berpikir bahwa saya ingin “memulai” liburan long weekend saya dengan sudah berada pada hotel. Jadi, bangun tidur di pagi hari di hari Sabtu-nya, saya sudah dapat bermalas-malasan dengan suasana hotel, tanpa harus bergerak bersiap menuju lokasi liburan.

 

Alhamdulillah, tibalah juga hari Jumat tanggal 29 Desember 2017 tersebut, dan di Jumat siang harinya saya dapat “kabur”, mengingat suasana kantor juga sudah sepi sekali, dan sebenarnya banyak juga yang mengambil jatah cuti di hari tersebut.

 

Tadinya saya berniat ingin naik Kereta Commuter Line (KRL) dan nyambung-nyambung menggunakan Kopaja. Namun saya mengurungkan niat dan memikirkan saran pasangan untuk langsung naik ojol alias ojek online langsung dari kantor (di selatan) menuju Mall Kelapa Gading (di utara).

 

Sebenarnya yang terpikirkan oleh saya kemudian malah naik ojol nyambung-nyambung, misal dari kantor (Jakarta Selatan) ke Jakarta Pusat (sekitar Bundaran Hotel Indonesia atau Sudirman), kemudian dari  titik Bundaran HI atau Sudirman tersebut baru melanjutkan kembali ke Jakarta Utara (MKG). Karena saya berpikir, “sepertinya nggak mungkin ada yang mau ambil, kalaupun ambil nanti takutnya misuh-misuh”, dsb.

 

Namun  saat saya mencoba order langsung menuju Mall Kelapa Gading (MKG), ternyata ada yang mau! Saat datang pun saya langsung bilang ke Bapak Driver Ojol, “ke utara nih ya Pak, hehe”. Dan ternyata…..malah si Bapak Driver adalah orang Bekasi yang mungkin Bekasi-nya berbatasan langsung dengan area Pulogadung, yang jadinya malah lokasi tujuan saya di Kelapa Gading jadi semakin dekat dengan rumah Beliau. Haaah…..beruntunglah saya. *senang*

 

Saat sampai, beruntunglah saya sudah sekitar pukul 1 siang, sehingga sudah memasuki jam check in, alias sudah bisa check in. Ditambah, belum ada antrian check in. Yeay! Dan lebih beruntungnya lagi, saya mendapatkan service dari Mbak Resepsionis yang baaaik banget dan super ramah. Mood langsung hepi. Plus, request-request  yang saya sebutkan pada order sebelumnya, terpenuhi semua, lantai tertinggi dari jenis kamar yang dipilih, non-smoking room, dan view menghadap ke arah selatan atau arah mall sampai La Piazza. Alhamdulillah…

 

Dan beginilah penampakan kamar kami, simpel namun nyaman.

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami dengan Kamar Mandi Simpel Tanpa Bathtub Hanya Shower

 

Penampakan Kamar Kami

 

Setelah istirahat sejenak, saya langsung menuju ke area food court mall untuk mencari makan siang.

 

Ruang Makan Hotel yang Menyambung dengan Lantai 3 Mall Kelapa Gading Bagian Food Court

 

Pasangan baru sampai sekitar pukul 19.30 WIB. Beliau tidak ikut “kabur” seperti yang sudah saya lakukan. Tentu saja tidak, biarkan Beliau serius di dalam mencari nafkah tanpa saya ganggu-ganggu. Hehe. Eeeaaa… XD

 

Malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film Si Juki The Movie. Usai menonton, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel, mencari tempat makan yang mungkin masih buka. Karena sudah hampir tengah malam, terlihat sudah semua tempat makan yang berjajar banyak di sepanjang jalan kuliner Kelapa Gading tutup. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata masih ada yang buka (dan bukan tempat dugem tentu saja), tempat makan hits  kekinian, yaitu Warunk Upnormal.

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Oiya, setelah sekian lama tidak bermain ke area Kelapa Gading, sekarang ada perubahan pada Mall Kelapa Gading-nya, terutama bagian MKG 1 dan MKG 2. Seperti sekarang, bioskop yang biasanya ada di MKG 1, sekarang semuanya menyatu di area bioskop MKG 3 di lantai 3 yang satu lantai dengan area food court. Dan nama mall sudah berubah ditambah dengan nama developer-nya yaitu menjadi Summarecon Mall Kelapa Gading.

 

Selain itu juga, di sekitar MKG ini, terutama di jalan raya bagian depan MKG, kini sedang dibangun jalur LRT di mana LRT ini panjangnya sampai menuju area Cikarang, Bekasi (cmiiw).

 

 

Day 2 – Sabtu, 30 Desember 2017

 

 

Sabtu pagi kami lalui di dalam hotel saja. Dan baru memasuki waktu brunch, kami memutuskan untuk ke Dunia Fantasi yang berada di area Ancol, Jakarta Utara. Yeay!

 

Sebelum berangkat, kami sudah berpikir, sudah pasti nanti saat di area wisata tersebut akan saaangat ramai orang, mengingat ini adalah hari libur nasional dan semua orang di Indonesia juga libur! Dalam arti, wisatawan domestik yang datang di DuFan tidak hanya orang Jakarta atau orang yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, melainkan banyak juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Benar saja, saat kami sampai sekitar pukul 11 siang, kami melihat buanyaaak sekali orang yang akan masuk ke DuFan.

 

Antrian Panjang Masuk Dunia Fantasi di Libur Panjang Tahun Baru 2018

 

Jadi, saat kami datang, terdapat promo Tiket Masuk Annual yang harganya sama dengan Tiket Masuk Reguler sebesar Rp 335.000,-. Tiket Masuk Annual  ini merupakan tiket masuk ke DuFan di mana sepanjang tahun 2018, kita dapat masuk DuFan secara free alias gratis. Jadilah semua orang yang datang membeli tiket masuk yang Tiket Masuk Annual.

 

Formulir yang Harus Diisi untuk Mendapatkan Annual Card Dunia Fantasi

 

Semakin siang semakin panas. Antrian pun semakin mengular. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan manca negara saya lihat ikut meramaikan suasana liburan di Dunia Fantasi siang hari itu.

 

Antrian di “Balai Kota” Dunia Fantasi untuk Menukar Formulir Isian dengan Annual Card

 

Setelah mengantri hampir 30 menit lamanya, akhirnya kami pun mendapatkan tiket masuk yang ternyata kami harus mengantri kembali di “Balai Kota” yang baru kemarin saat ke DuFan saya ketahui bahwa terdapat bangunan baru miniatur Taman Fatahillah lengkap dengan gedung Balai Kota Jadul. Nah di dalam gedung tersebutlah kami menukar tiket masuk annual kami, dengan sebelumnya juga kami harus mengisi formulir yang telah disediakan. Well, kembalilah kami mengantri selama kurang lebih 20 menit-an. Haha.

 

Akhirnya, setelah 30 menit-an kami mengantri, didapatkanlah Annual Access Card kami, yeay!

 

Annual Card Dunia Fantasi

 

Setelah mendapatkan kartu dan akhirnya beneran bisa masuk, kami tidak langsung menuju wahana, melainkan beli jajanan kentang goreng dulu di dekat pintu masuk, dekat komedi putar, haha. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Dan…kami pun kembali mengantri. Hahaha. XD

 

Untunglah tidak lama kemudian, kami pun sudah mendapatkan kentang goreng kami.

 

Dan wahana pertama yang kami coba adalah Tornado! Awalnya saya hanya iseng saja menyebutkan ingin naik wahana tersebut kepada pasangan. Sembari makan kentang goreng kami, kami bersama pengunjung lain di bagian pedestrian samping wahana, menyaksikan para pengunjung yang sedang naik wahana tersebut. Nampaknya seru! Begitu saya pikir. Plus, nampaknya antrian Tornado masih saaangat sepi bila dibandingkan dengan wahana-wahana lain. Jadilah setelah menghabiskan kentang goreng kami, naiklah kami ke wahana.

 

Hasilnya? Saya mual, benar-benar mual! Seru memang naik wahana Tornado, tapi tidak lagi-lagi deh. Masih untung saya tidak sampai muntah-muntah. X(

 

Muka Udah Mau Nangis Ketakutan 😦

 

Wahana berikutnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Boneka. Kondisi perut yang masih sangat mual dan saya yang hampir menyerah, membuat saya meminta kepada pasangan untuk naik wahana yang santai-santai saja.

 

Awalnya ragu saat akan memasuki wahana Rumah Boneka tersebut, mengingat antrian yang menguuular puanjaaang sekali. Akhirnya kami pun tetap masuk ke dalam antrian. Yah, begitulah suasana libur panjang. Di wahana manapun pasti ramai.

 

Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kami pun mendapat giliran untuk masuk ke dalam wahana dengan menaiki perahu yang digerakkan oleh pompa untuk menyusuri dan melintasi bagian dalam Rumah Boneka.

 

Usai dari Rumah Boneka, kami memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang dapat kami makan di siang hari tersebut.

 

Sampailah kami di area Rumah Jahil dan Rumah Miring. Di sana terdapat kedai snack yang sepertinya baru buka, di mana ia menawarkan snack cumi-cumi yang dipanggang, di mana cumi-cumi tersebut di-press ke dalam mesin panggang, dan penyajiannya ditusuk sate. Rasanya? Yummy…! 

 

Korean Roasted Squid Mashita

 

Setelah makan snack gurita, kami melanjutkan petualangan kami untuk memasuki wahana Rumah Jahil dan Rumah Miring.

 

Sebelum lanjut kembali, saya beristirahat sejenak di sebuah panggung di dekat area tersebut. Saya tidur-tiduran sejenak beberapa menit. Tidak hanya saya yang rebahan beristirahat, terlihat beberapa pengunjung lain juga tidur-tiduran di sekitar kami. Beruntunglah saya dan pasangan masih mendapatkan space untuk beristirahat, mengingat panggung tersebut sangat kecil.

 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar.

 

Usai sholat, kami penasaran dengan wahana Ice Age yang saat itu sedang tidak beroperasi, akan tetapi terlihat ada 2-3 orang petugas yang berdiri di depan wahana tersebut seperti sedang menjaga sesuatu tapi tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Kami pun menghampiri dan menanyakan wahana Ice Age yang tutup tersebut. Namun ternyata, dari jawaban para petugas tersebut, walau Ice Age tidak beroperasi, di dalam gedung wahana terdapat wahana lain seperti Perahu Ice Age yang dapat berputar-puar dan wahana Hello Kitty.

 

Di dalam gedung juga terdapat tempat jajanan dan makanan. Dan saya memutuskan untuk membeli sebuah nasi dalam mangkuk kertas yang ternyata sepertinya anak perusahaan Hoka-Hoka Bento. Usai makan, kami melanjutkan masuk ke dalam wahana Rumah Hello Kitty.

 

Rumah Hello Kitty

 

Usai dari Rumah Hello Kitty, kami melanjutkan ke wahana yang saat itu sedang sering ditayangkan dalam iklan Dunia Fantasi di TV, yaitu wahana permainan Galactica. Lokasinya bersebelahan dengan restoran cepat saji Mc Donald di bagian dalam.

 

Seperti yang sudah ditebak, betul saja, antri panjang! Haha. Yasudah, karena penasaran, kami pun ikut mengantri. Selama kurang lebih 1 jam-an, akhirnya kami pun mendapat giliran masuk ke dalam wahana.

 

Akan tetapi………………..

 

Ternyata “menu utama” wahana tersebut yaitu tembak-tembakan, mendadak tidak beroperasi dan terjadi masalah teknis di dalam pengoperasiannya.

 

Yah……….penonton kecewa. 😦

 

Kami pun diarahkan keluar wahana dengan diberikan cap stempel tambahan di tangan kami, agar nanti jika sudah dapat beroperasi kembali, kami dapat masuk melalui Pintu Khusus pemegang Kartu Premium  tanpa mengantri. Tetap saja, kami menjadi kecewa. Karena sudah hampir 1,5 jam kami mengantri, eh, malah batal bermain. Hiks, hiks. 😦

 

Terlihat Petugas Wahana “Galactica” yang Panik dan Bingung Rembugan

 

Baiklah, daripada kami memendam kesedihan, akhirnya kami memutuskan ke area wahana Bianglala. Namun ketika melihat antriannya plus hari sudah mulai gelap, pada awalnya saya agak malas. Namun karena saya penasaran dan belum pernah sama sekali naik wahana tersebut sebelum-sebelumnya saat mengunjungi DuFan, akhirnya kami pun ikut ke dalam antrian panjang tersebut.

 

Dan…kembali. Setelah hampir 2 jam kami mengantri, akhirnya kami dapat masuk ke dalam wahana. Hah…akhirnya. Kalau dipikir-pikir, kok kami mau-maunya ya mengantri lagi selama itu, padahal sebelumnya kami sudah mendapatkan zonk setelah mengantri selama 1 jam-an. Haha.

 

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami menyudahi petualangan kami di Dunia Fantasi Ancol.

 

Oiya, setelah turun dari wahana Bianglala, kami melihat kalau wahana Ice Age MENDADAK dibuka dooonk. Hahaha. Namun karena badan sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kelapa Gading.

 

Sesampainya di Kelapa Gading sekitar pukul 20.30 WIB, kami langsung menuju ke restoran seafood yang di malam sebelumnya kami melihat sudah tutup. Namanya adalah Rumah Makan Seafood Wiro Sableng 212. Saya terbayang-bayang dengan Kepiting Raksasa yang pernah saya makan beberapa waktu sebelumnya di Rumah Makan Kepiting Asap Cendrawasih Lebak Bulus. Di restoran Wiro Sableng 212 ini juga tersedia menu kepeting raksasa tersebut dengan beberapa bumbu pilihan.

 

Makan Malam Besar di Rumah Makan Seafood “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kepiting Saus Telur Asin “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Udang Goreng Saus Mentega “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

 

Berhubung hari itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan akan menikmati nonton film midnite di MKG. Karena midnite hanya ada di hari Sabtu saja, tidak ada di hari lain. Kami sudah membeli tiket sejak kami masih di DuFan di siang harinya. Film yang kami tonton adalah Bleeding Steel, di mana pemeran utamanya adalah Jackie Chan.

 

Sekitar pukul 2 pagi, kami pun menyudahi aktivitas kami di hari Sabtu tersebut.

 

 

Day 3 – Minggu, 31 Desember 2017

 

Hari Minggu pagi kami mulai seperti biasa dengan sarapan di dalam hotel. Ternyata memang betul, pengunjung hotel di liburan panjang kali itu benar-benar ramai! Tidak seperti pada kunjungan kami sebelumnya pada hotel ini.

 

Hari itu kami memutuskan untuk ke daerah Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Menurut berita di TV beberapa waktu lalu yang pernah saya lihat, sedang diadakan bazaar besar-besaran dari beberapa instansi bertajuk “Big Bang Jakarta“. Memang sih, suasana pada acara tersebut tidak seramai saat PRJ. Acara tersebut lebih ke ajang acara cuci gudang diskon akhir tahun.

Naik Bajaj dari MKG 3 Menuju PRJ Kemayoran

 

Minggu pagi itu langit tidak begitu cerah seperti pada hari sebelumnya dan agak sedikit mendung. Kami memutuskan pergi ke Kemayoran dengan menggunakan bajaj yang memang sedang ngetem di depan Mall Kelapa Gading 3.

 

Sesampainya di JIExpo Kemayoran, kami disambut oleh petugas dari JakFM. Mendadak kami ditawari promo untuk masuk gratis ke dalam acara pameran dengan cara meng-install aplikasi radio tersebut. Akhirnya kami pun mengikuti arahan dari mas petugas tersebut dan mendapatkan free tiket masuk.

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Setelah masuk ke area pameran, kami langsung menuju spot tempat makan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berkeliling. Saat kami makan, benar saja, hujan turun sangat deras! Angin juga bertiup sangat kencangnya. Bahkan air hujan sampai terciprat ke bagian teras dalam bangunan saking deras dan kencangnya. Beruntungnya tidak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Dan tidak sampai 30 menit, hujan pun sedikit reda.

Menu Makan Siang Hari Itu

 

Suasana Hujan Angin Deras – View dari Tempat Kami Makan Siang

 

Saya dan pasangan pun kembali meneruskan kegiatan usai makan siang dengan masuk ke dalam beberapa area pameran di dalam gedung.

 

Seperti biasa terdapat peralatan rumah tangga, elektronik, handphone, mainan anak, kosmetik, bahkan travel fair pun juga diselenggarakan dalam bazaar. Terlihat antrian tersendiri untuk acara travel fair tersebut. Dan travel fair  tersebut diadakan oleh maskapai Sriwijaya Air.

Salah Satu Suasana Bazaar “Big Bang Jakarta”

 

Kami pun puas berkeliling, namun tidak ada satu pun barang yang berhasil kami lirik, akhirnya kami menuju ke pusat kuliner kembali. Di sana kami akhirnya malah menikmati kuliner durian yang katanya asli dari Medan. Mantab!

 

Kuliner Durian Asli Medan

 

Setelah makan durian, kami memutuskan pulang kembali saja ke Kelapa Gading. Kami pun beristirahat sore hari hingga waktu Isya’ di dalam kamar hotel. Sembari suami tidur-tiduran dan main game, saya menelepon Ibu saya yang juga sedang beraktivitas liburan tahun baru di sebuah tempat yang sejuk bernama Sarangan yang dekat dari Cepu. Ibu tidak sendiri, Beliau ditemani Ayah dan adik saya, serta bersama dengan teman Ayah di Cepu.

 

Sore hari tersebut, saya menikmati betul-betul suasana menjelang Maghrib. Pasca hujan, langit begitu indah dan sangat cerah. Terlihat semburat orange di ujung selatan sana.

 

Suasana Sore Hari Terakhir 2017 – Lokasi Kelapa Gading

 

Selepas Sholat Isya’, kami memutuskan untuk berkeliling mall sepanjang MKG 5, MKG 3, MKG 2, MKG 1, dan La Piazza. Kami juga mencari tempat untuk aktivitas makan malam kami.

 

Namun apa yang terjadi? Tempat makan – tempat makan yang menjadi tujuan dan keinginan kami, semuanya full alias penuh dan harus waiting list jika ingin benar-benar makan di tempat-tempat tujuan kami tersebut. Berawal dari 1 tempat, pindah ke tempat lain karena tujuan awal full, yang berujung nggak nemu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar mall dan berjalan ke area rumah makan seafood yang berjejer.

 

Akhirnya saya masuk ke dalam Rumah Makan Seafood Pondok Pangandaran. Akhirnya makan seafood lagi malam itu. Haha. Beruntungnya masih ada tempat, terutama bagi kami yang hanya berdua saja.

Rumah Makan Seafood “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

 

Udang Jumbo Goreng Mentega “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Udang Jumbo Saos Pangandaran “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Usai makan malam, kami kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk tidak keluar-keluar lagi hingga tengah malam. Ya, tengah malamnya adalah malam pergantian tahun dari tahun 2017 menuju tahun 2018.

 

Di dalam menunggu datangnya tengah malam, kami pun hanya mengamati kondisi langit malam hari melalui jendela kamar kami. Sebenarnya terdapat acara konser musik di halaman La Piazza, namun kami tidak tertarik untuk masuk. Kami cukup memperhatikan dari jauh lampu-lampu suar yang menyorot ke langit yang bersumber dari panggung acara konser tersebut. Kebetulan memang view kamar kami ini adalah yang menuju ke arah mall dan La Piazza.

 

Kami juga melihat acara di TV yang menyiarkan siaran langsung acara pergantian tahun di berbagai daerah di Indonesia. Setengah jam menuju tengah malam, mulai terdengar suara kembang api dari kejauhan. Kami pun mulai heboh dengan mematikan lampu kamar dan mulai melihat ke arah luar kamar. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya dan suamipun mulai sibuk dengan hape-nya. Haha.

 

Tengah malam pun tiba. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari arah La Piazza, muncul juga kembang api terdekat dan terbesarnya. Karena beberapa menit sebelumnya, fireworks yang muncul hanya dari wilayah sekitar dan dari arah yang jauh-jauh.

 

Fireworks Mulai Muncul dari Arah La Piazza

 

Fireworks dari Arah La Piazza

 

Euforia kami malam itu benar-benar terasa. Sekitar pukul 00.30 WIB kami baru berangkat tidur.

 

Day 4 – Senin, 1 Januari 2018

 

Aktivitas pagi kembali berjalan seperti biasanya. Namun setelah Sholat Subuh kami memutuskan untuk kembali berlabuh ke Pulau Kapuk. Maklum, baru tidur 4 jam dan rasanya ngantuk sekali. Haha. Walau begitu kami tetap tidak melewatkan waktu sarapan kami di hotel. (nggak mau rugi bo’ hehe)

 

Sekitar pukul 11 siang kami sudah siap berkemas dan siap untuk check out dari hotel.  Sebelum pulang ke Pondok Pinang, kami menyempatkan datang sejenak ke area pameran “Star Wars” di dalam Mall Kelapa Gading 3 untuk sekedar melihat-lihat. Siang hari itu kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta Selatan dengan menggunakan taksi. Mengingat bawaan kami yang juga sudah “beranak” akibat libur panjang kali itu.

Pameran Star Wars di MKG 3

 

Berfoto dengan Lightsaber

 

– – –

 

Liburan usai. Akhirnya kami pun benar-benar dapat bersantai selama 4 hari full. Benar-benar rasanya energi recharged walau bagi sebagian orang berkesan “liburannya kok ke situ-situ lagi sih”. Hehe.

 

So, alhamdulillah. 🙂

Culinary, Entertainment, Hobby, Public Transportation, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Marina Mandarin Singapore (Dokumentasi)

Halo lagi internet! Baru kemarin update blog, hari ini sudah menulis kembali. Yeay! Semangat! Haha. 😀

Suasana libur panjang macam sekarang ini memang bikin semangat buat nulis yang temanya bernuansa liburan. Nah, hari ini saya kembali akan menulis tentang sebuah hotel, biar masih nyambung kali ya dengan tulisan sebelumnya. Hehe. Yuk ah, mari! 🙂

 

Kali ini ingin membahas sebuah hotel cantik yang ada di Singapura. Lokasinya di area Marina Singapore. Mengapa bisa kemari dan di hotel ini menginapnya? Jawabannya adalah karena random dan memang sedang ingin bersenang-senang menikmati waktu berdua bersama pasangan. Ahey! ^-^

 

Berawal dari tiba-tiba yang sangat dadakan sekali, saat itu saya sedang menunggu jam keberangkatan kereta pulang kampung di Stasiun Gambir, iseng-iseng sambil menyimak grup-grup WhatsApp, tetiba seorang kawan di salah satu grup yang mostly memang banyak ibu-ibu yang berjualan, mendadak ia mempromosikan tiket PP murah Jakarta – Singapore – Jakarta. Dan dengan sangat random-nya, saya pun membeli tiket tersebut. Haha. (tapi sudah se-izin pasangan loh…hehe)

 

Tiket sudah di tangan, berikutnya bingung kan tuh mau nginep di mana. Nah, dengan sangat random-nya kembali, saya iseng-iseng googling dan buka-buka aplikasi-aplikasi travel online untuk mencari-cari. Berhubung karena sudah pernah ke Singapura sebelum-sebelumnya (ciye sombong, :p ), maka ke Singapura kala itu saya ingin suasana yang berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Nah, jatuhlah pada hotel yang satu ini.

 

Yak, namanya adalah Hotel Marina Mandarin Singapore.

 

Lokasi Hotel

Hotel Marina Mandarin Singapore merupakan hotel bintang lima yang berlokasi sangat strategis di salah satu area pusat bisnis Marina Singapore. Lokasinya persis bersebelahan dengan Stasiun MRT Esplanade, di mana stasiun ini menyambung dengan area kuliner dan perbelanjaan Marina Square yang jika ke arah utara akan menyambung dengan Mall Suntec City di mana mall ini terletak persis di seberang Hotel Marina Mandarin Singapore.

Lokasi Hotel Marina Mandarin Singapore

 

Menuju ke hotel ini dari Bandara Changi juga sangat-sangat mudah, tidak ribet, seperti yang juga sudah pernah saya tulis pada tulisan dalam link berikut ini (klik).

Sampailah juga kami pada hotel setelah kurang-lebih 45 menit perjalanan dari Bandara Changi. Segera kami langsung menuju area check in hotel.

 

Check in dulu, gan!

 

Kondisi Kamar

Dan ini adalah penampakan kamar yang kami pesan.

 

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami

 

Aaaaak! Cakeeep banget ternyata! Sesuai dengan review-review yang ada di internet! X) #norak

 

Begitulah reaksi saya saat pertama kali memasuki kamar ini. Katrok! Ndeso! Norak! Haha. XD Ya, kami memang sengaja mengambil kamar dengan view ke arah Marina Bay Sands. Cantik! Terutama jika dinikmati di malam hari, lebih cantik sekali! ❤

 

Berikut adalah penampakan-penampakan betapa cozy dan romantis-nya suasana di dalam kamar. Benar-benar membangkitkan mood honeymoon agar semakin membara! Haha. 😀

 

Yeay! Honeymoon! :”) – Foto Bokeh Ala-Ala

 

Foto Bokeh Ala-Ala

 

View Cantik dari Balkon Kamar Kami

 

Sebenarnya memang, mungkin agak kurang tepat saat kami berkunjung ke Singapura saat itu dikarenakan cuaca masih masuk dalam musim penghujan, alias sedang sering-seringnya hujan datang. Sama seperti halnya dengan kondisi yang juga sedang terjadi di Indonesia. Walhasil, suasana langit saat kami berkeliling Singapura di siang hingga sore hari saat itu pun lebih sering mendung, kurang begitu cerah.

 

 

View Malam Hari dari Kamar Kami di Marina Mandarin Singapore

 

Kondisi Interior Hotel

Sebenarnya saya tidak terlalu banyak mengambil gambar bagian dalam hotelnya seperti apa. Suasananya menurut saya (atau hanya perasaan saya saja) tidak terlalu banyak menerapkan aksen-aksen warna gold agar berkesan sebagai sebuah bangunan mewah. Akan tetapi menurut saya, bentuk bagian dalam hotel ini justru unik, karena menyerupai penampakan interior kapal pesiar.

 

Bentuk Desain Interior Marina Mandarin Singapore Mirip Seperti Sebuah Kapal Pesiar

 

Dan Ini Penampakan Interior Marina Mandarin Singapore Jika Dilihat dari Dalam Lift

 

Nah, jadi hanya segitu saja review singkat mengenai Hotel Marina Mandarin Singapore. Kalau makanannya, terus terang kami tidak mengambil jatah makan di dalam hotel, mengingat kanan-kiri-depan merupakan pusat perbelanjaan dan kuliner. Jadilah kami memutuskan jika ingin membeli berbagai makanan dan jajanan hanya di area sekitar saja. Hitung-hitung sekalian berkegiatan kuliner juga, bukan. Hehe.

 

Oke deh.

Jangan lupa untuk selalu bersemangat dalam segala hal, selalu berusaha, dan selalu berdoa ya.

Yuk mari berlibur! 🙂

 

Bonus

Dan ini adalah suasana pagi hari yang dapat dinikmati dari dalam balkon kamar kami. Walau di siang dan sore hari sering turun hujan, beruntungnya kalau di pagi hari suasana sangat cerah dan matahari pun tak malu untuk muncul ke permukaan. Sooo beautiful! 

 

Suasana Pagi Hari dari Balkon Kamar Kami

 

 

Suasana Pagi Hari dari Balkon Kamar Kami

 

 ❤ ❤ ❤