AMG, Culinary, Entertainment, Family & Friends, Hobby, Life, Review Hotel, Travelling

Libur Panjang Tahun Baru 2018 dan Review POP! Hotel Kelapa Gading (Lagi!)

Libur panjang tahun baru telah usai. Rasanya baru kemarin dirasakan dan dinikmati, eh, tau-tau sudah mau pertengahan Januari lagi saja.

 

Oke deh, kali ini saya ingin kembali me-review sebuah hotel tempat saya menginap, plus, kegiatan liburan yang saya lakukan saat menginap pada hotel tersebut.

 

– – –

 

Sebenarnya, review mengenai hotel ini pernah saya tulis dan bahas pada tulisan di blog ini juga beberapa waktu sebelumnya (klik link berikut ini). Namun saat itu merupakan tulisan perdana mengenai Review Hotel dan belum ada persiapan dengan mendokumentasikan suasana hotel dengan baik. Dan kali ini saya memastikan semua sudut kamar dapat terpotret dengan baik.

 

Namanya adalah POP! Hotel Kelapa Gading.

 

Sekali lagi saya sebutkan, lokasi hotel ini saaaaangat dan superrrrr strategis. POP! Hotel Kelapa Gading menyatu dengan Mall Kelapa Gading 3. Kali ini saya berkesempatan menginap selama 4 hari 3 malam dan saya hanya, ya, hanya, memerlukan Rp 1.000.000,- ++ lebih sedikit. Entahlah, bagi saya jumlah sekian termasuk murah, jika dibandingkan dengan lokasi yang super strategis seperti ini. Apalagi jika dibandingkan dengan postingan saya sebelumnya mengenai hotel ini di mana harga per malam saat itu adalah Rp 425.000,-.  Plus, ini momen peak season lho, di saat suasana Tahun Baru. Jadi semakin berasa “murah”nya. Dan saya memesan hotel tersebut 2 bulan sebelum kedatangan melalui aplikasi Agoda.

 

– – –

 

Day 1 – Jumat, 29 Desember 2017

 

Jauh-jauh hari saya memang sengaja memesan untuk dapat menginap sejak hari Jumat, walau dulu jauh hari tersebut saya sudah berpikir dan tahu jika hari Jumat, 29 Desember 2017 belum libur dan bukan hari cuti bersama. Walau demikian saya hanya berpikir bahwa saya ingin “memulai” liburan long weekend saya dengan sudah berada pada hotel. Jadi, bangun tidur di pagi hari di hari Sabtu-nya, saya sudah dapat bermalas-malasan dengan suasana hotel, tanpa harus bergerak bersiap menuju lokasi liburan.

 

Alhamdulillah, tibalah juga hari Jumat tanggal 29 Desember 2017 tersebut, dan di Jumat siang harinya saya dapat “kabur”, mengingat suasana kantor juga sudah sepi sekali, dan sebenarnya banyak juga yang mengambil jatah cuti di hari tersebut.

 

Tadinya saya berniat ingin naik Kereta Commuter Line (KRL) dan nyambung-nyambung menggunakan Kopaja. Namun saya mengurungkan niat dan memikirkan saran pasangan untuk langsung naik ojol alias ojek online langsung dari kantor (di selatan) menuju Mall Kelapa Gading (di utara).

 

Sebenarnya yang terpikirkan oleh saya kemudian malah naik ojol nyambung-nyambung, misal dari kantor (Jakarta Selatan) ke Jakarta Pusat (sekitar Bundaran Hotel Indonesia atau Sudirman), kemudian dari  titik Bundaran HI atau Sudirman tersebut baru melanjutkan kembali ke Jakarta Utara (MKG). Karena saya berpikir, “sepertinya nggak mungkin ada yang mau ambil, kalaupun ambil nanti takutnya misuh-misuh”, dsb.

 

Namun  saat saya mencoba order langsung menuju Mall Kelapa Gading (MKG), ternyata ada yang mau! Saat datang pun saya langsung bilang ke Bapak Driver Ojol, “ke utara nih ya Pak, hehe”. Dan ternyata…..malah si Bapak Driver adalah orang Bekasi yang mungkin Bekasi-nya berbatasan langsung dengan area Pulogadung, yang jadinya malah lokasi tujuan saya di Kelapa Gading jadi semakin dekat dengan rumah Beliau. Haaah…..beruntunglah saya. *senang*

 

Saat sampai, beruntunglah saya sudah sekitar pukul 1 siang, sehingga sudah memasuki jam check in, alias sudah bisa check in. Ditambah, belum ada antrian check in. Yeay! Dan lebih beruntungnya lagi, saya mendapatkan service dari Mbak Resepsionis yang baaaik banget dan super ramah. Mood langsung hepi. Plus, request-request  yang saya sebutkan pada order sebelumnya, terpenuhi semua, lantai tertinggi dari jenis kamar yang dipilih, non-smoking room, dan view menghadap ke arah selatan atau arah mall sampai La Piazza. Alhamdulillah…

 

Dan beginilah penampakan kamar kami, simpel namun nyaman.

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami dengan Kamar Mandi Simpel Tanpa Bathtub Hanya Shower

 

Penampakan Kamar Kami

 

Setelah istirahat sejenak, saya langsung menuju ke area food court mall untuk mencari makan siang.

 

Ruang Makan Hotel yang Menyambung dengan Lantai 3 Mall Kelapa Gading Bagian Food Court

 

Pasangan baru sampai sekitar pukul 19.30 WIB. Beliau tidak ikut “kabur” seperti yang sudah saya lakukan. Tentu saja tidak, biarkan Beliau serius di dalam mencari nafkah tanpa saya ganggu-ganggu. Hehe. Eeeaaa… XD

 

Malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk mengisi waktu dengan menonton film Si Juki The Movie. Usai menonton, kami memutuskan untuk jalan-jalan sekitar hotel, mencari tempat makan yang mungkin masih buka. Karena sudah hampir tengah malam, terlihat sudah semua tempat makan yang berjajar banyak di sepanjang jalan kuliner Kelapa Gading tutup. Berjalan, berjalan, dan berjalan. Ternyata masih ada yang buka (dan bukan tempat dugem tentu saja), tempat makan hits  kekinian, yaitu Warunk Upnormal.

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Warunk Upnormal Kelapa Gading

 

Oiya, setelah sekian lama tidak bermain ke area Kelapa Gading, sekarang ada perubahan pada Mall Kelapa Gading-nya, terutama bagian MKG 1 dan MKG 2. Seperti sekarang, bioskop yang biasanya ada di MKG 1, sekarang semuanya menyatu di area bioskop MKG 3 di lantai 3 yang satu lantai dengan area food court. Dan nama mall sudah berubah ditambah dengan nama developer-nya yaitu menjadi Summarecon Mall Kelapa Gading.

 

Selain itu juga, di sekitar MKG ini, terutama di jalan raya bagian depan MKG, kini sedang dibangun jalur LRT di mana LRT ini panjangnya sampai menuju area Cikarang, Bekasi (cmiiw).

 

 

Day 2 – Sabtu, 30 Desember 2017

 

 

Sabtu pagi kami lalui di dalam hotel saja. Dan baru memasuki waktu brunch, kami memutuskan untuk ke Dunia Fantasi yang berada di area Ancol, Jakarta Utara. Yeay!

 

Sebelum berangkat, kami sudah berpikir, sudah pasti nanti saat di area wisata tersebut akan saaangat ramai orang, mengingat ini adalah hari libur nasional dan semua orang di Indonesia juga libur! Dalam arti, wisatawan domestik yang datang di DuFan tidak hanya orang Jakarta atau orang yang bertempat tinggal di Pulau Jawa, melainkan banyak juga yang datang dari luar Pulau Jawa. Benar saja, saat kami sampai sekitar pukul 11 siang, kami melihat buanyaaak sekali orang yang akan masuk ke DuFan.

 

Antrian Panjang Masuk Dunia Fantasi di Libur Panjang Tahun Baru 2018

 

Jadi, saat kami datang, terdapat promo Tiket Masuk Annual yang harganya sama dengan Tiket Masuk Reguler sebesar Rp 335.000,-. Tiket Masuk Annual  ini merupakan tiket masuk ke DuFan di mana sepanjang tahun 2018, kita dapat masuk DuFan secara free alias gratis. Jadilah semua orang yang datang membeli tiket masuk yang Tiket Masuk Annual.

 

Formulir yang Harus Diisi untuk Mendapatkan Annual Card Dunia Fantasi

 

Semakin siang semakin panas. Antrian pun semakin mengular. Semakin siang semakin banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya wisatawan domestik, melainkan juga wisatawan manca negara saya lihat ikut meramaikan suasana liburan di Dunia Fantasi siang hari itu.

 

Antrian di “Balai Kota” Dunia Fantasi untuk Menukar Formulir Isian dengan Annual Card

 

Setelah mengantri hampir 30 menit lamanya, akhirnya kami pun mendapatkan tiket masuk yang ternyata kami harus mengantri kembali di “Balai Kota” yang baru kemarin saat ke DuFan saya ketahui bahwa terdapat bangunan baru miniatur Taman Fatahillah lengkap dengan gedung Balai Kota Jadul. Nah di dalam gedung tersebutlah kami menukar tiket masuk annual kami, dengan sebelumnya juga kami harus mengisi formulir yang telah disediakan. Well, kembalilah kami mengantri selama kurang lebih 20 menit-an. Haha.

 

Akhirnya, setelah 30 menit-an kami mengantri, didapatkanlah Annual Access Card kami, yeay!

 

Annual Card Dunia Fantasi

 

Setelah mendapatkan kartu dan akhirnya beneran bisa masuk, kami tidak langsung menuju wahana, melainkan beli jajanan kentang goreng dulu di dekat pintu masuk, dekat komedi putar, haha. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang. Dan…kami pun kembali mengantri. Hahaha. XD

 

Untunglah tidak lama kemudian, kami pun sudah mendapatkan kentang goreng kami.

 

Dan wahana pertama yang kami coba adalah Tornado! Awalnya saya hanya iseng saja menyebutkan ingin naik wahana tersebut kepada pasangan. Sembari makan kentang goreng kami, kami bersama pengunjung lain di bagian pedestrian samping wahana, menyaksikan para pengunjung yang sedang naik wahana tersebut. Nampaknya seru! Begitu saya pikir. Plus, nampaknya antrian Tornado masih saaangat sepi bila dibandingkan dengan wahana-wahana lain. Jadilah setelah menghabiskan kentang goreng kami, naiklah kami ke wahana.

 

Hasilnya? Saya mual, benar-benar mual! Seru memang naik wahana Tornado, tapi tidak lagi-lagi deh. Masih untung saya tidak sampai muntah-muntah. X(

 

Muka Udah Mau Nangis Ketakutan 😦

 

Wahana berikutnya, kami memutuskan untuk masuk ke dalam Rumah Boneka. Kondisi perut yang masih sangat mual dan saya yang hampir menyerah, membuat saya meminta kepada pasangan untuk naik wahana yang santai-santai saja.

 

Awalnya ragu saat akan memasuki wahana Rumah Boneka tersebut, mengingat antrian yang menguuular puanjaaang sekali. Akhirnya kami pun tetap masuk ke dalam antrian. Yah, begitulah suasana libur panjang. Di wahana manapun pasti ramai.

 

Setelah kurang lebih 1 jam, akhirnya kami pun mendapat giliran untuk masuk ke dalam wahana dengan menaiki perahu yang digerakkan oleh pompa untuk menyusuri dan melintasi bagian dalam Rumah Boneka.

 

Usai dari Rumah Boneka, kami memutuskan untuk melihat-lihat sekitar, barangkali ada sesuatu yang dapat kami makan di siang hari tersebut.

 

Sampailah kami di area Rumah Jahil dan Rumah Miring. Di sana terdapat kedai snack yang sepertinya baru buka, di mana ia menawarkan snack cumi-cumi yang dipanggang, di mana cumi-cumi tersebut di-press ke dalam mesin panggang, dan penyajiannya ditusuk sate. Rasanya? Yummy…! 

 

Korean Roasted Squid Mashita

 

Setelah makan snack gurita, kami melanjutkan petualangan kami untuk memasuki wahana Rumah Jahil dan Rumah Miring.

 

Sebelum lanjut kembali, saya beristirahat sejenak di sebuah panggung di dekat area tersebut. Saya tidur-tiduran sejenak beberapa menit. Tidak hanya saya yang rebahan beristirahat, terlihat beberapa pengunjung lain juga tidur-tiduran di sekitar kami. Beruntunglah saya dan pasangan masih mendapatkan space untuk beristirahat, mengingat panggung tersebut sangat kecil.

 

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu Sholat Dzuhur dan Sholat Ashar.

 

Usai sholat, kami penasaran dengan wahana Ice Age yang saat itu sedang tidak beroperasi, akan tetapi terlihat ada 2-3 orang petugas yang berdiri di depan wahana tersebut seperti sedang menjaga sesuatu tapi tidak ada apa-apa di sekitar mereka. Kami pun menghampiri dan menanyakan wahana Ice Age yang tutup tersebut. Namun ternyata, dari jawaban para petugas tersebut, walau Ice Age tidak beroperasi, di dalam gedung wahana terdapat wahana lain seperti Perahu Ice Age yang dapat berputar-puar dan wahana Hello Kitty.

 

Di dalam gedung juga terdapat tempat jajanan dan makanan. Dan saya memutuskan untuk membeli sebuah nasi dalam mangkuk kertas yang ternyata sepertinya anak perusahaan Hoka-Hoka Bento. Usai makan, kami melanjutkan masuk ke dalam wahana Rumah Hello Kitty.

 

Rumah Hello Kitty

 

Usai dari Rumah Hello Kitty, kami melanjutkan ke wahana yang saat itu sedang sering ditayangkan dalam iklan Dunia Fantasi di TV, yaitu wahana permainan Galactica. Lokasinya bersebelahan dengan restoran cepat saji Mc Donald di bagian dalam.

 

Seperti yang sudah ditebak, betul saja, antri panjang! Haha. Yasudah, karena penasaran, kami pun ikut mengantri. Selama kurang lebih 1 jam-an, akhirnya kami pun mendapat giliran masuk ke dalam wahana.

 

Akan tetapi………………..

 

Ternyata “menu utama” wahana tersebut yaitu tembak-tembakan, mendadak tidak beroperasi dan terjadi masalah teknis di dalam pengoperasiannya.

 

Yah……….penonton kecewa. 😦

 

Kami pun diarahkan keluar wahana dengan diberikan cap stempel tambahan di tangan kami, agar nanti jika sudah dapat beroperasi kembali, kami dapat masuk melalui Pintu Khusus pemegang Kartu Premium  tanpa mengantri. Tetap saja, kami menjadi kecewa. Karena sudah hampir 1,5 jam kami mengantri, eh, malah batal bermain. Hiks, hiks. 😦

 

Terlihat Petugas Wahana “Galactica” yang Panik dan Bingung Rembugan

 

Baiklah, daripada kami memendam kesedihan, akhirnya kami memutuskan ke area wahana Bianglala. Namun ketika melihat antriannya plus hari sudah mulai gelap, pada awalnya saya agak malas. Namun karena saya penasaran dan belum pernah sama sekali naik wahana tersebut sebelum-sebelumnya saat mengunjungi DuFan, akhirnya kami pun ikut ke dalam antrian panjang tersebut.

 

Dan…kembali. Setelah hampir 2 jam kami mengantri, akhirnya kami dapat masuk ke dalam wahana. Hah…akhirnya. Kalau dipikir-pikir, kok kami mau-maunya ya mengantri lagi selama itu, padahal sebelumnya kami sudah mendapatkan zonk setelah mengantri selama 1 jam-an. Haha.

 

Akhirnya sekitar pukul 8 malam kami menyudahi petualangan kami di Dunia Fantasi Ancol.

 

Oiya, setelah turun dari wahana Bianglala, kami melihat kalau wahana Ice Age MENDADAK dibuka dooonk. Hahaha. Namun karena badan sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kelapa Gading.

 

Sesampainya di Kelapa Gading sekitar pukul 20.30 WIB, kami langsung menuju ke restoran seafood yang di malam sebelumnya kami melihat sudah tutup. Namanya adalah Rumah Makan Seafood Wiro Sableng 212. Saya terbayang-bayang dengan Kepiting Raksasa yang pernah saya makan beberapa waktu sebelumnya di Rumah Makan Kepiting Asap Cendrawasih Lebak Bulus. Di restoran Wiro Sableng 212 ini juga tersedia menu kepeting raksasa tersebut dengan beberapa bumbu pilihan.

 

Makan Malam Besar di Rumah Makan Seafood “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kepiting Saus Telur Asin “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Udang Goreng Saus Mentega “Wiro Sableng 212” Kelapa Gading

 

Setelah makan malam, kami kembali ke hotel.

 

Berhubung hari itu adalah hari Sabtu, kami memutuskan akan menikmati nonton film midnite di MKG. Karena midnite hanya ada di hari Sabtu saja, tidak ada di hari lain. Kami sudah membeli tiket sejak kami masih di DuFan di siang harinya. Film yang kami tonton adalah Bleeding Steel, di mana pemeran utamanya adalah Jackie Chan.

 

Sekitar pukul 2 pagi, kami pun menyudahi aktivitas kami di hari Sabtu tersebut.

 

 

Day 3 – Minggu, 31 Desember 2017

 

Hari Minggu pagi kami mulai seperti biasa dengan sarapan di dalam hotel. Ternyata memang betul, pengunjung hotel di liburan panjang kali itu benar-benar ramai! Tidak seperti pada kunjungan kami sebelumnya pada hotel ini.

 

Hari itu kami memutuskan untuk ke daerah Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Menurut berita di TV beberapa waktu lalu yang pernah saya lihat, sedang diadakan bazaar besar-besaran dari beberapa instansi bertajuk “Big Bang Jakarta“. Memang sih, suasana pada acara tersebut tidak seramai saat PRJ. Acara tersebut lebih ke ajang acara cuci gudang diskon akhir tahun.

Naik Bajaj dari MKG 3 Menuju PRJ Kemayoran

 

Minggu pagi itu langit tidak begitu cerah seperti pada hari sebelumnya dan agak sedikit mendung. Kami memutuskan pergi ke Kemayoran dengan menggunakan bajaj yang memang sedang ngetem di depan Mall Kelapa Gading 3.

 

Sesampainya di JIExpo Kemayoran, kami disambut oleh petugas dari JakFM. Mendadak kami ditawari promo untuk masuk gratis ke dalam acara pameran dengan cara meng-install aplikasi radio tersebut. Akhirnya kami pun mengikuti arahan dari mas petugas tersebut dan mendapatkan free tiket masuk.

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Tiket Masuk “Big Bang Jakarta” GRATIS dari JakFM

 

Setelah masuk ke area pameran, kami langsung menuju spot tempat makan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum berkeliling. Saat kami makan, benar saja, hujan turun sangat deras! Angin juga bertiup sangat kencangnya. Bahkan air hujan sampai terciprat ke bagian teras dalam bangunan saking deras dan kencangnya. Beruntungnya tidak ada kejadian aneh-aneh yang terjadi. Dan tidak sampai 30 menit, hujan pun sedikit reda.

Menu Makan Siang Hari Itu

 

Suasana Hujan Angin Deras – View dari Tempat Kami Makan Siang

 

Saya dan pasangan pun kembali meneruskan kegiatan usai makan siang dengan masuk ke dalam beberapa area pameran di dalam gedung.

 

Seperti biasa terdapat peralatan rumah tangga, elektronik, handphone, mainan anak, kosmetik, bahkan travel fair pun juga diselenggarakan dalam bazaar. Terlihat antrian tersendiri untuk acara travel fair tersebut. Dan travel fair  tersebut diadakan oleh maskapai Sriwijaya Air.

Salah Satu Suasana Bazaar “Big Bang Jakarta”

 

Kami pun puas berkeliling, namun tidak ada satu pun barang yang berhasil kami lirik, akhirnya kami menuju ke pusat kuliner kembali. Di sana kami akhirnya malah menikmati kuliner durian yang katanya asli dari Medan. Mantab!

 

Kuliner Durian Asli Medan

 

Setelah makan durian, kami memutuskan pulang kembali saja ke Kelapa Gading. Kami pun beristirahat sore hari hingga waktu Isya’ di dalam kamar hotel. Sembari suami tidur-tiduran dan main game, saya menelepon Ibu saya yang juga sedang beraktivitas liburan tahun baru di sebuah tempat yang sejuk bernama Sarangan yang dekat dari Cepu. Ibu tidak sendiri, Beliau ditemani Ayah dan adik saya, serta bersama dengan teman Ayah di Cepu.

 

Sore hari tersebut, saya menikmati betul-betul suasana menjelang Maghrib. Pasca hujan, langit begitu indah dan sangat cerah. Terlihat semburat orange di ujung selatan sana.

 

Suasana Sore Hari Terakhir 2017 – Lokasi Kelapa Gading

 

Selepas Sholat Isya’, kami memutuskan untuk berkeliling mall sepanjang MKG 5, MKG 3, MKG 2, MKG 1, dan La Piazza. Kami juga mencari tempat untuk aktivitas makan malam kami.

 

Namun apa yang terjadi? Tempat makan – tempat makan yang menjadi tujuan dan keinginan kami, semuanya full alias penuh dan harus waiting list jika ingin benar-benar makan di tempat-tempat tujuan kami tersebut. Berawal dari 1 tempat, pindah ke tempat lain karena tujuan awal full, yang berujung nggak nemu, akhirnya saya memutuskan untuk keluar mall dan berjalan ke area rumah makan seafood yang berjejer.

 

Akhirnya saya masuk ke dalam Rumah Makan Seafood Pondok Pangandaran. Akhirnya makan seafood lagi malam itu. Haha. Beruntungnya masih ada tempat, terutama bagi kami yang hanya berdua saja.

Rumah Makan Seafood “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

 

Udang Jumbo Goreng Mentega “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Udang Jumbo Saos Pangandaran “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Cumi Bakar “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Kerang Dara Rebus “Pondok Pangandaran” Kelapa Gading

 

Usai makan malam, kami kembali lagi ke hotel dan memutuskan untuk tidak keluar-keluar lagi hingga tengah malam. Ya, tengah malamnya adalah malam pergantian tahun dari tahun 2017 menuju tahun 2018.

 

Di dalam menunggu datangnya tengah malam, kami pun hanya mengamati kondisi langit malam hari melalui jendela kamar kami. Sebenarnya terdapat acara konser musik di halaman La Piazza, namun kami tidak tertarik untuk masuk. Kami cukup memperhatikan dari jauh lampu-lampu suar yang menyorot ke langit yang bersumber dari panggung acara konser tersebut. Kebetulan memang view kamar kami ini adalah yang menuju ke arah mall dan La Piazza.

 

Kami juga melihat acara di TV yang menyiarkan siaran langsung acara pergantian tahun di berbagai daerah di Indonesia. Setengah jam menuju tengah malam, mulai terdengar suara kembang api dari kejauhan. Kami pun mulai heboh dengan mematikan lampu kamar dan mulai melihat ke arah luar kamar. Saya pun mulai sibuk dengan kamera saya dan suamipun mulai sibuk dengan hape-nya. Haha.

 

Tengah malam pun tiba. Akhirnya yang ditunggu-tunggu dari arah La Piazza, muncul juga kembang api terdekat dan terbesarnya. Karena beberapa menit sebelumnya, fireworks yang muncul hanya dari wilayah sekitar dan dari arah yang jauh-jauh.

 

Fireworks Mulai Muncul dari Arah La Piazza

 

Fireworks dari Arah La Piazza

 

Euforia kami malam itu benar-benar terasa. Sekitar pukul 00.30 WIB kami baru berangkat tidur.

 

Day 4 – Senin, 1 Januari 2018

 

Aktivitas pagi kembali berjalan seperti biasanya. Namun setelah Sholat Subuh kami memutuskan untuk kembali berlabuh ke Pulau Kapuk. Maklum, baru tidur 4 jam dan rasanya ngantuk sekali. Haha. Walau begitu kami tetap tidak melewatkan waktu sarapan kami di hotel. (nggak mau rugi bo’ hehe)

 

Sekitar pukul 11 siang kami sudah siap berkemas dan siap untuk check out dari hotel.  Sebelum pulang ke Pondok Pinang, kami menyempatkan datang sejenak ke area pameran “Star Wars” di dalam Mall Kelapa Gading 3 untuk sekedar melihat-lihat. Siang hari itu kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta Selatan dengan menggunakan taksi. Mengingat bawaan kami yang juga sudah “beranak” akibat libur panjang kali itu.

Pameran Star Wars di MKG 3

 

Berfoto dengan Lightsaber

 

– – –

 

Liburan usai. Akhirnya kami pun benar-benar dapat bersantai selama 4 hari full. Benar-benar rasanya energi recharged walau bagi sebagian orang berkesan “liburannya kok ke situ-situ lagi sih”. Hehe.

 

So, alhamdulillah. 🙂

Advertisements
Culinary, Entertainment, Hobby, Public Transportation, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Marina Mandarin Singapore (Dokumentasi)

Halo lagi internet! Baru kemarin update blog, hari ini sudah menulis kembali. Yeay! Semangat! Haha. 😀

Suasana libur panjang macam sekarang ini memang bikin semangat buat nulis yang temanya bernuansa liburan. Nah, hari ini saya kembali akan menulis tentang sebuah hotel, biar masih nyambung kali ya dengan tulisan sebelumnya. Hehe. Yuk ah, mari! 🙂

 

Kali ini ingin membahas sebuah hotel cantik yang ada di Singapura. Lokasinya di area Marina Singapore. Mengapa bisa kemari dan di hotel ini menginapnya? Jawabannya adalah karena random dan memang sedang ingin bersenang-senang menikmati waktu berdua bersama pasangan. Ahey! ^-^

 

Berawal dari tiba-tiba yang sangat dadakan sekali, saat itu saya sedang menunggu jam keberangkatan kereta pulang kampung di Stasiun Gambir, iseng-iseng sambil menyimak grup-grup WhatsApp, tetiba seorang kawan di salah satu grup yang mostly memang banyak ibu-ibu yang berjualan, mendadak ia mempromosikan tiket PP murah Jakarta – Singapore – Jakarta. Dan dengan sangat random-nya, saya pun membeli tiket tersebut. Haha. (tapi sudah se-izin pasangan loh…hehe)

 

Tiket sudah di tangan, berikutnya bingung kan tuh mau nginep di mana. Nah, dengan sangat random-nya kembali, saya iseng-iseng googling dan buka-buka aplikasi-aplikasi travel online untuk mencari-cari. Berhubung karena sudah pernah ke Singapura sebelum-sebelumnya (ciye sombong, :p ), maka ke Singapura kala itu saya ingin suasana yang berbeda dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Nah, jatuhlah pada hotel yang satu ini.

 

Yak, namanya adalah Hotel Marina Mandarin Singapore.

 

Lokasi Hotel

Hotel Marina Mandarin Singapore merupakan hotel bintang lima yang berlokasi sangat strategis di salah satu area pusat bisnis Marina Singapore. Lokasinya persis bersebelahan dengan Stasiun MRT Esplanade, di mana stasiun ini menyambung dengan area kuliner dan perbelanjaan Marina Square yang jika ke arah utara akan menyambung dengan Mall Suntec City di mana mall ini terletak persis di seberang Hotel Marina Mandarin Singapore.

Lokasi Hotel Marina Mandarin Singapore

 

Menuju ke hotel ini dari Bandara Changi juga sangat-sangat mudah, tidak ribet, seperti yang juga sudah pernah saya tulis pada tulisan dalam link berikut ini (klik).

Sampailah juga kami pada hotel setelah kurang-lebih 45 menit perjalanan dari Bandara Changi. Segera kami langsung menuju area check in hotel.

 

Check in dulu, gan!

 

Kondisi Kamar

Dan ini adalah penampakan kamar yang kami pesan.

 

Penampakan Kamar Kami

 

Penampakan Kamar Kami

 

Aaaaak! Cakeeep banget ternyata! Sesuai dengan review-review yang ada di internet! X) #norak

 

Begitulah reaksi saya saat pertama kali memasuki kamar ini. Katrok! Ndeso! Norak! Haha. XD Ya, kami memang sengaja mengambil kamar dengan view ke arah Marina Bay Sands. Cantik! Terutama jika dinikmati di malam hari, lebih cantik sekali! ❤

 

Berikut adalah penampakan-penampakan betapa cozy dan romantis-nya suasana di dalam kamar. Benar-benar membangkitkan mood honeymoon agar semakin membara! Haha. 😀

 

Yeay! Honeymoon! :”) – Foto Bokeh Ala-Ala

 

Foto Bokeh Ala-Ala

 

View Cantik dari Balkon Kamar Kami

 

Sebenarnya memang, mungkin agak kurang tepat saat kami berkunjung ke Singapura saat itu dikarenakan cuaca masih masuk dalam musim penghujan, alias sedang sering-seringnya hujan datang. Sama seperti halnya dengan kondisi yang juga sedang terjadi di Indonesia. Walhasil, suasana langit saat kami berkeliling Singapura di siang hingga sore hari saat itu pun lebih sering mendung, kurang begitu cerah.

 

 

View Malam Hari dari Kamar Kami di Marina Mandarin Singapore

 

Kondisi Interior Hotel

Sebenarnya saya tidak terlalu banyak mengambil gambar bagian dalam hotelnya seperti apa. Suasananya menurut saya (atau hanya perasaan saya saja) tidak terlalu banyak menerapkan aksen-aksen warna gold agar berkesan sebagai sebuah bangunan mewah. Akan tetapi menurut saya, bentuk bagian dalam hotel ini justru unik, karena menyerupai penampakan interior kapal pesiar.

 

Bentuk Desain Interior Marina Mandarin Singapore Mirip Seperti Sebuah Kapal Pesiar

 

Dan Ini Penampakan Interior Marina Mandarin Singapore Jika Dilihat dari Dalam Lift

 

Nah, jadi hanya segitu saja review singkat mengenai Hotel Marina Mandarin Singapore. Kalau makanannya, terus terang kami tidak mengambil jatah makan di dalam hotel, mengingat kanan-kiri-depan merupakan pusat perbelanjaan dan kuliner. Jadilah kami memutuskan jika ingin membeli berbagai makanan dan jajanan hanya di area sekitar saja. Hitung-hitung sekalian berkegiatan kuliner juga, bukan. Hehe.

 

Oke deh.

Jangan lupa untuk selalu bersemangat dalam segala hal, selalu berusaha, dan selalu berdoa ya.

Yuk mari berlibur! 🙂

 

Bonus

Dan ini adalah suasana pagi hari yang dapat dinikmati dari dalam balkon kamar kami. Walau di siang dan sore hari sering turun hujan, beruntungnya kalau di pagi hari suasana sangat cerah dan matahari pun tak malu untuk muncul ke permukaan. Sooo beautiful! 

 

Suasana Pagi Hari dari Balkon Kamar Kami

 

 

Suasana Pagi Hari dari Balkon Kamar Kami

 

 ❤ ❤ ❤

Culinary, Entertainment, Hobby, Review Hotel, Travelling

Review Hotel Grand Sahid Jaya (Dokumentasi)

Musim Liburan!

Sebentar lagi Natal dan Tahun Baru. Ditambah Desember tahun ini, punya 2 buah long weekend berturut-turut, long weekend Natal dan long weekend Tahun Baru. Wooohooo! 😀

 

Tapi……….

 

Libur long weekend Natal ini saya tidak ke mana-mana. Hiks, hiks. Padahal kalau dipikir-pikir, lumayan juga lho, dari Sabtu – Selasa, 4 hari bo’! Yah, sudahlah, tak apeu, hehehe.

 

Oke deh, gara-gara suasana libur panjang begini, kali ini saya jadi ingin kembali menulis tentang review sebuah hotel deh. Tapi, postingan kali ini mungkin akan lebih banyak pamer dokumentasi foto-foto saja yah. Mengingat, hawa-nya bikin mager nih. Huhu. Oke deh, let’s check this out gan!

 

– – –

 

Namanya adalah Hotel Grand Sahid Jaya yang berlokasi di salah satu area pusat bisnis Jakarta, ya, di daerah Sudirman. Hotel ini merupakan hotel bintang 5 yang memang hotelnya cetaaarrr banget, cakep!

 

Saya berkesempatan menginap di sini karena memang pas ada urusan pekerjaan. Menginap selama 2 hari 1 malam di hari kerja.

 

Lokasi Hotel

 

Lokasi Hotel Grand Sahid Jaya (https://www.google.co.id)

 

Lokasi hotel ini benar-benar berada pada jantung Jalan Jend. Sudirman Jakarta dan berada persis di pinggir jalan rayanya. Menuju pada hotel ini juga sangat mudah, tidak ribet. Mau naik angkutan umum pun bisa, seperti Bus TransJakarta (berhenti di Halte Karet), Metromini (lupa nomor berapa), serta Kopaja Nomor 19 arah Manggarai trayek Blok M – Manggarai yang langsung berhenti persis di depan hotel. Apalagi kalau naik taksi, mobil, maupun motor, juga jauh lebih bisa menuju kemari.

 

Sedikit cerita, dulu saat saya masih bekerja di area Bendungan Hilir dan setiap pulang ke arah pulang ke arah  Matraman dengan menaiki Bus Kota jurusan ke Kampung Melayu, saya suka memperhatikan hotel megah ini dari kejauhan. Cantik! Eh, sekarang malah dapat kesempatan buat “mencicipi” hotel tersebut walau dalam waktu yang sangat singkat. Kebetulan sekali. Sudah begitu, gratis pula. Hehe. 😀

 

Penampakan Kamar

 

Nah, berikut ini adalah penampakan suasana kamar yang saya tempati bersama teman saya.

 

Suasana Kamar Hotel Grand Sahid Jaya Sudirman

 

Karena kami mendapatkan kamar pada posisi di bagian menghadap belakang atau bagian dalam, maka inilah view yang dapat dilihat dari kamar kami. Kebetulan lokasi hotel ini bersebelahan dengan Gedung Da Vinci, gedung dengan arsitektur yang sangat cantik khas bangunan Eropa. Jadilah view kamar kami adalah bagian belakang gedung tersebut dan terdapat juga sebuah bangunan tempat parkir.

 

View Bagian Belakang Hotel, Sebelah Kanan Depan adalah Gedung Da Vinci

 

Nah di sinilah yang saya baru sadar, kalau seharusnya saya bisa mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel. T_T

 

Sebenarnya saya bersama dengan rombongan dari kantor, saya-lah yang memegang dan membagi-bagikan kunci. Tidak banyak sih, jatah kantor kami mendapatkan 3 kamar saja, dan penukaran kunci pada resepsionis saya yang melakukan. Saya pun meminta 3 kamar yang berdekatan, agar saat berkoordinasi jadi lebih mudah, tidak perlu berjalan jauh. Dan bagian kami adalah di Lantai 5.

 

Di sini lah saya tidak sadar karena mungkin memikirkan hal lain terkait pekerjaan, sampai-sampai “kebiasaan” mengungkapkan keinginan meminta view bagian depan jadi lupa. Tau-tau sudah saya bagi-bagi saja begitu kunci-kunci kamarnya. Haha. Padahal diantara kamar-kamar yang didapatkan adalah kombinasi kamar genap dan kamar ganjil, dalam arti ada kamar yang view-nya bagian depan alias view Jalan Jend. Sudirman! Aaargh…lupa parah. Dan kamar saya dapatnya yang view bagian belakang. Mweee. Agak sedih sih akibat ke-alfa-an diri sendiri. Mau minta tukar kamar juga tidak mungkin (nggak enak juga kali :D), plus baru sadarnya setelah beberapa menit lamanya di dalam kamar. Haha, yasudahlah…

 

Jadi, FYI, kalau menginap di hotel bagus, apalagi di hotel bintang 5 seperti ini, katanya, ini juga info dari teman saya sih, ambillah kamar dengan Nomor Genap jika ingin punya view kamar menghadap bagian depan. Dan kamar dengan Nomor Ganjil akan berada pada bagian belakang, alias view-nya akan menghadap bagian belakang hotel. Begitu… Katanya sih ya.. Saat saya menulis tulisan ini juga belum meng-googling kebenaran akan hal tersebut sih... Hehe.

 

Dan ini adalah view yang dapat dinikmati jika mengambil kamar Nomor Genap yang menghadap ke bagian depan.

 

 

Dan ini adalah teman saya saat berpose. Cakep juga kan background-nya. Hehe.

 

 

 

Kualitas Makanan

 

Kalau urusan makanan, hmmm, jangan ditanya deh. Udah pasti enak! Secara bintang 5 gitu loh. Haha.

 

Karena kami adalah rombongan kantor yang sedang melaksanakan acara semacam seminar atau workshop, maka kami disediakan makanannya secara prasmanan dan dilengkapi juga dengan coffee break saat pagi, sore, dan malam hari. Dari segi rasa, enak-enak semua lha ya.. Hehe.

 

Penampakan Sarapan Nasi Goreng + Omelette

 

Sayangnya saya tidak banyak memotret semua makanan yang saya makan. Haha. Mirip-mirip standar prasmanan saat acara kondangan di hotel begitu deh dan yang pasti enak!

 

 

Suasana Interior Hotel

 

Sudah layaknya hotel bintang 5, sudah pasti suasana di dalamnya akan sangat ciamik dan asik. Yang pasti, kesan mewah dan nyaman sudah terasa saat baru melangkahkan kaki masuk ke dalam hotel. Dan ini beberapa penampakan bagian dalam yang sempat saya potret.

 

Suasana Ruang Tunggu Hotel Bagian Depan

 

Dekorasi Suasana Natal

 

Suasana Workshop dalam Sebuah Ruangan pada Hotel

 

Yak, jadi begitulah “liburan singkat” saya di Hotel Grand Sahid Jaya Sudirman Jakarta. Bagaimana pun menginap di sini karena tugas dinas, jadi memang bukan untuk bersenang-senang. Hehe. Jadilah hanya sekelumit saja yang dapat saya rasakan saat menginap di sana. Yah, mudah-mudahan di lain waktu ada kesempatan lagi untuk menginap dan dengan suasana yang berbeda pula. Aamiin! 😀

Culinary, Entertainment, Hobby, Public Transportation, Review Hotel, Travelling

Review Hotel De’ Qur dan Wisata Kawasan Kota Tua Jakarta

Dear internet, apa kabar! Hehe. 😀

Kali ini kembali saya ingin menulis mengenai review liburan singkat dengan bermodal menginap di hotel murah atau hotel-hotel yang cocok disambangi oleh para backpackerSo, let’s check this out, gan!

 

– – –

Day 1: Sabtu, 30 September 2017

Ide menginap weekend kali itu muncul dengan sangat tiba-tiba sekali. Karena sesungguhnya kami sudah pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya. Ya memang, walau tidak sering, tapi setidaknya sudah pernah kami mengunjunginya.

Namanya adalah Kawasan Kota Tua Jakarta, sebuah tempat sangat bersejarah bagi Indonesia dan khususnya bagi Jakarta. Di kawasan ini berjajar banyak sekali bangunan-bangunan kuno alias bangunan-bangunan jadul khas Kota Tua, baik yang masih berfungsi dengan baik maupun yang sudah tidak berfungsi atau sudah tidak digunakan sama sekali.

Salah satunya adalah Museum Fatahillah atau Museum Sejarah yang sangat terkenal itu. Pada area tersebut juga terdapat bangunan-bangunan atau gedung-gedung lain yang bersejarah, seperti Museum WayangCafe BataviaMuseum Seni Rupa dan KeramikMuseum Bank IndonesiaJembatan Kota Intan, dan lain sebagainya. Dan kami pun memutuskan untuk bermalam di Kawasan Kota Tua JakartaSooo random! Haha. 😀

Kami memutuskan untuk berlibur akhir pekan di Kawasan Kota Tua Jakarta pada weekend akhir Bulan September 2017, ya tepat pada tanggal 30 September 2017 dan tanggal 1 Oktober 2017. Saat itu saya berpikir akan ada nobar film sejarah di area tersebut karena tanggal menginap kami bertepatan dengan peristiwa sejarah kelam G30S PKI, yang ternyata tidak ada kegiatan pemutaran film sejarah atau sejenisnya pada tanggal tersebut.

– – –

 

Perjalanan Menuju Kawasan Kota Tua Jakarta

Kami menuju ke kawasan wisata tersebut dengan menggunakan angkutan umum kereta KRL Jabodetabek, dimulai berangkat dari Stasiun Kebayoran dengan harus transit terlebih dahulu di Stasiun Tanah Abang untuk menuju ke Stasiun Kampung Bandan yang kemudian transit kembali pada stasiun tersebut untuk menuju ke stasiun akhir yaitu Stasiun Jakarta Kota. Peta Rute Jalur KRL Jabodetabek dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Peta KRL Jabodetabek (source: http://www.krl.co.id/)

 

Setelah sampai di Stasiun Jakarta Kota, kami langsung menuju ke arah Hotel De’ Qur tempat kami menginap dengan melalui area Taman Fatahillah. Suasana siang hari itu sangat terik dan terlihat banyak sekali orang memadati area tersebut. Benar-benar semakin terasa suasana libur weekend saat kami melalui hamparan orang-orang itu.

Berhubung hari sudah siang dan suasana cukup terik, ditambah perjalanan kami yang lumayan memakan waktu, maka pada saat kami melalui area Taman Fatahillah dan melihat Cafe Batavia di hadapan kami, maka kami pun memutuskan untuk mampir sejenak sambil menunggu waktu check in hotel. Sebelum mampir ke dalam cafe, saya sempat membeli sebuah es krim. Saat sampai di depan cafe kami dihadang oleh Mbak-Mbak Cantik pelayan cafe tersebut dan kami dilarang masuk karena masih memegang es krim yang belum habis. Terpaksa deh makan cepat sambil mengamati orang-orang yang mampir di depan cafe untuk sekedar mengambil foto dengan latar belakang Cafe Batavia.

Jajan Es Krim (gagal bokeh, hiks)

 

Cafe Batavia

Suasana di dalam Cafe Batavia ini benar-benar seperti berada di luar negeri dan terasa sekali suasan vintage-nya alias jadul-nya. Di dalam cafe banyak sekali terlihat turis mancanegara, makin terasa seperti kami sedang berjalan-jalan di luar negeri. Suasana interior di dalam cafe pun menggambarkan suasana cozy dengan sentuhan artistik jaman kolonial. Cafe ini terdiri dari 2 (dua) lantai, lantai atas dikhususkan bagi para pengunjung yang tidak merokok, dan lantai bawah dikhususkan bagi para pengunjung yang merokok dengan dilengkapi panggung hiburan serta bar, persis seperti apa yang suka dilihat dalam film-film hollywood.

Suasana di Dalam Cafe Lantai 2

 

Foto-Foto Tokoh di Dinding Dekat Tangga

 

Hotel De’ Qur

Tepat pukul 2 siang atau pukul 14.00 WIB, kami sampai di Hotel De’ Qur. Hotel ini terletak persis di samping Jalan Kali Besar dengan ciri khas bangunan lama. Beberapa waktu sebelumnya, kami pernah mengikuti tur jalan kaki dari sebuah Komunitas Tur Lokal bernama Jakarta Good Guide dan jadwal tur yang kami ikuti saat itu adalah berjalan-jalan di area Kota Tua Jakarta, dengan rute start dari Stasiun Jakarta Kota yang kemudian rute jalan kaki kami saat itu juga melalui Jalan Kali Besar. Saat itu, kawasan Kali Besar belum dilakukan renovasi atau pemugaran pada area pinggir kalinya. Dan saat kami berkunjung kembali akhir September 2017 lalu, area Kali Besar sedang dilakukan renovasi di bagian trotoar di kanan-kiri Kali Besar.

Berikut ini adalah sebuah foto yang sempat saya ambil saat berjalan-jalan bersama dengan Jakarta Good Guide pada awal tahun 2016 lalu yang juga saya abadikan dalam instagram “serius” saya di http://www.instagram.com/phoneography.id/ .

Kali Besar Sebelum Renovasi di Awal 2016 (IG: @phoneography.id –> http://www.instagram.com/phoneography.id/)

 

Dan berikut ini adalah penampakan Kali Besar yang sedang dilakukan renovasi.

Kali Besar sedang Direnovasi, Penampakan dari Ruang Makan Hotel De’ Qur  (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)
Renovasi Kali Besar (Dokumentasi Pribadi 1 Oktober 2017)

 

Kami memesan Hotel De’ Qur dengan menggunakan aplikasi travel online. Harga yang kami dapatkan pada hotel ini adalah Rp 230.000,-an saja per malamnya. Cukup relatif sangat murah dengan lokasi yang super strategis dengan Kawasan Kota Tua Jakarta atau Taman Fatahillah. Kami hanya perlu berjalan kaki untuk menuju ke arah tersebut. Hotel De’ Qur ini merupakan hotel bintang 1.

Saat kami datang untuk check in sesuai petunjuk di dalam voucher hotel yaitu pukul 14.00 WIB, suasana di dalam hotel masih terlihat ramai dari para petugasnya yang sedang membereskan kamar-kamar hotel dan baru sebagian kamar yang ready. Walau begitu, kami sudah mendapatkan kamar tepat pada pukul 2 siang tersebut.

Suasana kamar hotel mirip dengan suasana kos-kosan yang sudah kategori “wah”, karena ukuran kamar cukup luas, sudah dilengkapi meja belajar, lemari pakaian, TV, AC, kasur ukuran large, dan sudah kamar mandi dalam. Haha. 😀

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Penampakan Kamar Hotel De’ Qur

 

Ukuran kamar yang tidak kecil dan juga tidak terlalu besar, alias cukup ini, memang sangat cocok bagi para pelancong backpacker di mana kegiatan wisata lebih banyak di luar hotel. Kami menempati kamar di lantai 2. Bangunan hotel ini terdiri dari 3 lantai, dan sepertinya memang hanya tersedia ukuran kamar demikian, tidak ada jenis kamar lain atau tipe kamar dengan ukuran kamar lebih besar lagi, mengingat pula hotel ini adalah hotel bintang 1.

Dan berikut ini suasana di lorong kamar hotel, semakin terasa seperti kos-kosan, bukan?

Lorong Hotel De’ Qur

 

Hotel De Qur 5.jpg
Suasana Lantai 2 di Mana Terdapat Ruang Makan dan Ruang Tunggu Tamu

 

Kami beristirahat sejenak siang hari itu dengan tidur-tiduran dan menikmati HBO. Kami berencana untuk kembali ke area Taman Fatahillah di sore harinya kembali. Di tengah-tengah kami beristirahat, saya teringat kapan Museum Sejarah atau Museum Fatahillah tutup, dan saat melihat jam, sepertinya sudah tutup, maka saya putuskan untuk masuk ke museum adalah di keesokan harinya, alias Hari Minggu.

 

Kawasan Taman Fatahillah

 

Sekitar pukul setengah lima sore atau pukul 16.30 WIB, kami memutuskan untuk kembali menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Namun rute masuk ke Taman Fatahillah sore hari itu, kami memilih jalur pintu selatan, di mana sebelumnya saat kami akan menuju hotel, kami melalui pintu di sebelah utara. Saat menuju ke pintu selatan, kami melihat sebuah Indomaret unik yang berada pada bangunan gedung lama, namun sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Dan ternyataIndomaret tersebut menyatu dengan sebuah Hostel yang sepertinya unik dan instagram-able sekali yaSudah begitu, keluar masuk hostel menggunakan akses kartu, jadi tidak sembarang orang dapat masuk. ( kemudian saya berpikir, bagaimana cara masuk para pelancong pada saat datang pertama kali ke hostel tersebut dan bagaimana caranya mereka mendaftar ya? mungkin ada semacam bel pintu masuk yang harus ditekan dari luar sehingga memudahkan petugas hostel di dalam untuk mendapatkan notifikasi pengunjung datang dan menyambut mereka? entahlah) Pada mulanya saya berpikir bahwa hostel tersebut tidak terdapat pada aplikasi travel online, namun ternyata setelah meng-googling via maps.google.com tenyata ada. Hiks hiks…nggak notice samsek euy… Oke deh, next time kali ya… 

Wonderloft Hostel (source: TripAdvisor)

 

Suasana sore hari tersebut semakin menggila. Kerumuman orang di area Taman Fatahillah semakiiiiin ramai! Kami pun lagi-lagi hanya menikmati suasana dan melihat-lihat saja, sesekali juga mengambil beberapa foto. Saat sampai di dekat Cafe Batavia kembali, saya melihat sebuah poster besar mengenai pengumuman sebuah Pameran Seni bertajuk “Book of Islamic Art” yang diselenggarakan oleh Universitas Leiden bekerjasama dengan Kedutaan Besar Belanda, yang diselenggarakan di Gedung Niaga Kawasan Kota Tua Jakarta. Beruntunglah kami “sempat” melihat pengumuman poster tersebut, karena pada saat kami masuk ke area pameran, kami adalah pengunjung terakhir, karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore (18.00 WIB) di mana area pameran akan ditutup. Begitu sepi suasana, karena diselenggarakan pada gedung yang sebagian besar bagian-bagiannya sedang direnovasi dan diselenggarakan di area tidak terlalu luas.

Salah Satu Karya Seni yang Dipamerkan

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Suasana di Dalam Area Pameran

 

Usai melilhat pameran tersebut, kami memutuskan kembali lagi ke hotel, untuk melaksanakan Sholat Maghrib dan Sholat Isya. Dan kami memutuskan akan kembali lagi sekitar pukul 19.30 WIB di malam harinya.

Hotel De’ Qur di Malam Hari

 

Malam Minggu di Kawasan Kota Tua Jakarta

Sekitar hampir menuju pukul 20.00 WIB, kami kembali lagi ke area Kawasan Kota Tua Jakarta lebih tepatnya menuju ke area Taman Fatahillah kembali. Dan pada saat kami menuju area Taman Fatahillah kembali, kami dikejutkan dengan banyaknya pedagang pasar malam yang sudah mulai ramai di kanan-kiri jalan sepanjang trotoar area kawasan tersebut, sungguh meriah dan semakin terasa aura pesta rakyat-nya! Dan yang paling membuat terkejut adalah pada saat memasuki Taman Fatahillah, sudah sangat-sangat-sangat ramai penuh sesak lautan manusia! Luarrr biasa! 😀

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Suasana Malam Minggu di Kota Tua Jakarta

 

Malam pun kian larut dan kami pun kian merasakan rasa lapar yang datang menghampiri, maklum makan berat terakhir saat makan siang saja. Kami pun memutuskan menyusuri lautan pasar malam yang berada di sepanjang trotoar di pinggir-pinggir jalan di sebelah utara Taman Fatahillah. Kami menyusuri jalanan hingga ke ujung di mana spot pasar malam ini berakhir. Berharap menemukan menu makan malam yang akan menggiurkan, kami malah “bertemu” dengan sebuah rumah makan di seberang jalan setelah ujung spot pasar malam berakhir. Dari kejauhan terlihat aura warna-warni dari rumah makan tersebut, maka tanpa pikir panjang lagi kami segera memutuskan menuju ke tempat makan tersebut.

 

Rumah Makan Lumba-Lumba Kota Tua Jakarta

Dari kejauhan dengan aura warna-warni-nya bak lukisan suasana pantai, saya pikir rumah makan tersebut adalah rumah makan yang menyajikan makanan laut alias seafood, di tambah nama rumah makan tersebut adalah “Rumah Makan Lumba-Lumba“. Tapi ternyata, tidak. Haha. 😀 Rumah makan ini ternyata menyajikan makanan khas Kota Semarang dan juga menjual beberapa oleh-oleh khas Kota Semarang. Saat memasukinya, kami pun hanya bisa senyam-senyum saja, maklum, suami adalah asli orang Semarang, sementara saya sendiri pun asli orang Jawa Tengah. Berharap dapat bertemu dengan kuliner unik, eh ternyata, ketemunya makanan semarang lagi, semarang lagi. Hehe.

Dan kami pun memesan makanan favorit kami, yaitu pindang ayam, garang asem bandeng, dan tahu petis khas Semarang.

Menu Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Interior Rumah Makan Lumba-Lumba Kawasan Kota Tua Jakarta

 

Pindang Ayam Khas Semarang

 

Garang Asem Bandeng Khas Semarang

 

Tahu Petis Khas Semarang

 

Usai makan malam, kami kembali menuju ke arah area Taman Fatahillah dengan menyusuri trotoar di bagian luar yang sudah menjadi pasar malam di malam minggu yang ramai itu. Penjaja bekam dan shisha di pinggir jalan raya semakin banyak bermunculan. Sepertinya semakin malam semakin ramai ya!

Penjaja Pijat Urut, Bekam, dan Refleksi yang Berjajar di Sepanjang Trotoar

 

Penjaja Shisha Berjajar Juga di Sepanjang Trotoar

 

Area Pasar Malam di Mana Lauan Manusianya Menutupi Jalur TransJakarta

 

Kami akhirnya kembali ke Hotel De’ Qur, namun pada saat bertemu dengan security hotel, dan karena kami terlihat benar-benar seperti pelancong dari kota yang jauh, mendadak si Bapak Security menyarankan kepada kami untuk mengunjungi Jembatan Kota Intan di mana saya menyebutnya sebagai Jembatan Merah karena bentuk fisiknya yang berwarna merah. Letak jembatan tersebut di ujung jalan Kali Besar  di sebelah utara, dekat dengan Hotel De Rivier di mana hotel tersebut sempat hampir kami pilih sebagai tujuan tempat menginap kami kala itu yang ternyata malah sedang direnovasi di bagian depannya.  Kami menuju Jembatan Kota Intan dengan berjalan kaki, menyusuri kegelapan malam di mana semakin terasa gelap karena memang area trotoar kanan-kiri Kali Besar yang sedang direnovasi menyebabkan jalan dekat kali menjadi minim penerangan. Agak seram, sih sebenarnya. Tapi untunglah kami dapat sampai ke jembatan dengan selamat.

 

Jembatan Kota Intan di Malam Hari

 

Suasana Kali Besar ke Arah Selatan Dilihat dari Jembatan Kota Intan, Sebelah Kanan adalah Bangunan Hotel De Rivier

 

Pada mulanya kami pikir bahwa pintu akses masuk jembatan sudah tutup dan kami tidak dapat masuk ke dalam untuk melihat suasana Jembatan Kota Intan secara langsung. Beruntunglah ternyata penjaganya masih ada dan membukakan pintu untuk kami berdua.

Susana di Jembatan Kota Intan sebenarnya sedikit agak creepy mengingat di sampingnya juga terdapat pohon tua raksasa plus kami berkunjung di malam hari, bukan siang hari. Mungkin karena area dekat jembatan juga masih ramai lalu-lalang orang, menyebabkan suasana seram agak dapat sedikit ternetralisir. Struktur bangunan Jembatan Kota Intan masih asli berbahan dasar kayu. Pada zamannya, jembatan ini dapat membuka dan menutup karena dahulu Kali Besar sebagai tempat lalu-lintas transportasi laut juga. Saat berada di atasnya sambil menikmati suasana jembatan, saya juga membayangkan suasana masa lampau di sekitar area jembatan tersebut. Merinding, tapi seru. Sebenarnya dulu pada saat saya berjalan-jalan bersama dengan Komunitas Jakarta Good Guide, kami juga melalui area ini, namun saat itu kami tidak mampir karena saat itu suasana sangat panas.

Setelah puas melihat-lihat suasana, kami pun pamit kepada penjaga dan kembali pulang menuju hotel kami Hotel De’ Qur. Namun saat kembali, kami menggunakan angkot dan tidak berjalan kaki seperti sebelumnya saat berangkat menuju Jembatan Kota Intan.

– – – – –

Day 2: Minggu, 1 Oktober 2017

Minggu pagi saya sangat bersemangat sekali. Saya sangat penasaran bagaimana suasana sunrise di Kawasan Kota Tua tersebut. Setelah Sholat Subuh, kami bergegas untuk bersiap-siap menuju kembali ke area Taman Fatahillah.

Kami menyusuri jalan menuju pintu masuk di bagian utara. Miris. Begitu banyak sampah bertebaran di sana-sini. Terlihat beberapa Pasukan Oranye yang sedang membersihkan jalur jalan bekas pasar kaget di malam minggunya. Terlihat juga beberapa kios tenda yang masih ditunggui oleh beberapa pemiliknya yang mungkin sengaja menginap.

Memasuki area Taman Fatahillah kembali, kami melihat suasana yang berbeda dengan hari sebelumnya. Mungkin karena masih pagi, maka area tersebut juga masih sepi pengunjung. Terlihat beberapa warga sekitar yang melaksanakan olahraga pagi. Sayup-sayup terdengar suara musik disco yang sengaja dinyalakan untuk mempersiapkan senam aerobik warga sekitar. Suasana pagi itu saaaaangat indah! Suasananya mirip sekali dengan suasana luar negeri. Dan ternyata kalau pagi, masih banyak burung merpati yang bertebaran di Taman Fatahillah ini. Seorang pengelola rental sepeda hias mulai menebarkan biji-bijian agar para merpati datang bergerombol menikmatinya. Benar-benar indah!

Burung-Burung Bergerombol Menikmati Suasana Pagi

 

Sekitar pukul 6 pagi menuju setengah 7 pagi, terlihat di ufuk timur matahari mulai nampak batang hidungnya. Benar-benar indaaah. Tidak menyangka kami dapat menyaksikan langsung suasana indahnya pagi hari itu.

Suasana Sunrise di Kawasan Wisata Kota Tua

 

Setelah puas menikmati suasana pagi di Kawasan Kota Tua Jakarta, kami memutuskan kembali lagi ke hotel untuk sarapan dan bersiap-siap berkemas kembali pulang ke rumah.

 

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Sarapan pada Hotel De’ Qur ini dapat dikatakan cukup minimalis, sekali lagi, mengingat bahwa hotel tempat kami menginap adalah hotel bintang 1. Sarapan pada hotel ini kami diberi Menu Nasi Goreng + Telur Dadar + Teh Manis Panas pagi hari.

Sarapan di Hotel De’ Qur

 

Usai sarapan kami segera bergegas untuk bersiap-siap. Sesudah check out kami pun mengunjungi Museum Fatahillah.

Tiket masuk ke dalam Museum Fatahillah adalah Rp 5.000,-/orang dewasa. Cukup murah, bukan? Kami pun menyusuri setiap bagian museum dan sesekali mengambil gambar. Kami pun mengikuti alur rombongan yang juga berkeliling untuk melihat-lihat dan menikmati suasana museum.

Suasana Taman Fatahillah di Siang Hari Dilihat dari Museum Fatahillah

 

Sejarah Asal Muasal Kata “Jakarta”

 

Berpose di Salah Satu Prasasti

 

Sekitar pukul setengah 2 siang, kami memutuskan untuk pulang dan menuju ke Stasiun Kota kembali. Sebelum pulang kami menyempatkan menjajal sego pecel yang penjualnya tersebar banyak di area Kawasan Kota Tua.

Kami sampai Stasiun Kebayoran kembali sekitar pukul 16.30 WIB. Dan sore hari itu suasana sudah mulai terlihat mendung. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Angkot D01 yang menuju ke arah Lebak Bulus dan Pondok Pinang. Sekitar pukul 17.30 WIB kami pun sampai rumah.

– – – – –

Liburan singkat 2 hari kami itu menjadi liburan yang terasa sangat menyenangkan dan menyehatkan bagi kami berdua. Karena kami menuju satu tempat ke tempat lainnya dengan berjalan kaki. Ditambah kami pun tidak mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan perjalanan sehat tersebut.

Nah, bagaimana? Tertarik mencoba juga untuk berlibur singkat di Kawasan Kota Tua Jakarta? Tunggu apalagi… Yuk! 🙂

Culinary, Family & Friends, Life, Public Transportation, Travelling

Reuni Akbar

Sabtu, 4 November 2017

 

Aku sangat bersemangat sekali. Sampai-sampai di malam harinya aku tidur tidak tenang. Rasanya seperti  terkena sindrom “akan berlibur ke tempat yang seru” sehingga membuat hati dan saluran cernaku sedikit berbunga-bunga hanya karena menantikan datangnya hari itu.

Ya, Sabtu pagi itu aku akan pergi ke Bandung, ke kota di mana semua mimpi dan harapan dimulai. Hari itu aku datang ke acara Reuni Akbar yang diselenggarakan oleh sekolah di mana aku berkuliah dulu. Karena kegiatannya bertajuk “Reuni Akbar”, maka acara tersebut banyak dihadiri oleh para alumni senior. Tidak ketinggalan pula aku dan beberapa teman semasa kuliah juga turut meramaikan acara tersebut. Kegiatan Reuni Akbar Sabtu pagi itu selain sebagai ajang silaturahmi antar angkatan, juga sebagai ajang peringatan ulang tahun jurusan kuliahku yang ke-55 tahun dengan dibungkus sebagai Acara Lustrum yang tahun ini sudah menginjak Lustrum Ke-11.

Aku berangkat menuju Kota Bandung dengan menggunakan kereta api yang berangkat dari Stasiun Gambir dengan jadwal keberangkatan pukul 5 pagi. Bersama dengan suamiku pagi hari itu, kami berangkat dari rumah sekitar pukul 4 pagi. Namun aku sendiri, sudah mulai bersiap-siap sejak pukul 2 pagi, ya, saking bersemangatnya. Untunglah kami tidak terlambat dan bisa melaksanakan Sholat Subuh terlebih dahulu di stasiun sekitar pukul 04.30 WIB.

Pemandangan dari dalam KA Argo Parahyangan (Dokumentasi Pribadi)

 

Kegiatan Reuni Akbar dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan berlangsung selama dua hari berturut-turut, hari Sabtu dan hari Minggu. Sangat cocok bagi para alumni yang turut serta membawa keluarganya masing-masing untuk sekalian berlibur weekend dengan menikmati suasana indahnya Kota Bandung.

Acara utama dalam kegiatan Reuni Akbar tersebut adalah kegiatan kongres pemilu ikatan alumni, yaitu di mana dalam momen tersebut dilakukan pemilihan ketua alumni yang baru untuk periode kepengurusan tahun 2017 sampai dengan tahun 2021. Acara kongres  diselenggarakan pada siang hari setelah istirahat makan siang. Namun sebelumnya di pagi harinya, kami disuguhi sebuah kuliah umum bertajuk acara talkshow, di mana para pembicara yang dihadirkan adalah dari para alumni yang saat ini sudah dapat dikatakan sukses yang tentu saja berprestasi dan sangat menginspirasi. Ditambah, talkshow tersebut dipandu langsung oleh seorang moderator ternama tanah air bernama Mbak Ira. Ya, siapa sih yang tidak kenal Beliau? Jika aku harus menggambarkan suasana hari Sabtu itu, rasanya sangat-sangat-sangat luar biasa menyenangkan, terutama pada sesi acara talkshow di pagi harinya. Setelah mendengarkan pemaparan-pemaparan Beliau-Beliau, rasanya seperti mendapatkan  motivasi dan penyemangat baru.

 

– – – – –

 

Walau acara sudah dimulai sejak pukul 8 pagi, aku baru sampai di tempat acara sekitar pukul 9 pagi dan saat itu masih sesi sambutan dari ketua panitia dan beberapa petinggi dari sekolah dan dari pihak ikatan alumni. Beruntunglah aku tidak terlambat pada sesi kuliah umum yang sudah dinanti-nantikan sejak hari-hari sebelumnya.

Sampailah pada sesi di mana Mbak Ira muncul ke permukaan dan mulai membuka sesi talkshow dengan gayanya yang khas. Para peserta yang berada di dalam ruangan pun riuh senang dan semangat saat menyambut kehadiran moderator ternama itu. Aku pun tak henti-hentinya mengangkatkan kepala untuk sekedar mengikuti arah berjalannya Mbak Ira menuju panggung. Satu-persatu nama pembicara pun disebutkan Mbak Ira agar Beliau-Beliau tersebut segera naik ke atas panggung dan menduduki kursi yang telah disediakan. Tepuk tangan riuh peserta talkshow pun tidak henti-hentinya bertabuh di setiap Mbak Ira mengeluarkan jokes cerdas saat memandu acara bersama dengan ke-5 pembicara hebat di atas panggung. Ya, aku sangat menikmatinya. Seru!

 

Mbak Ira Memandu Acara Talkshow (Dokumentasi Pribadi)

 

Ada Pak Joni sebagai rektor Kampus I, ada Bu Penny sebagai kepala Badan P, ada Pak Elia sebagai Direktur PT P, ada Pak Setiawan yang saat ini menjabat sebagai Kepala SDM suatu kementerian di mana sebelumnya selama bertahun-tahun Beliau berkarya dan mengabdi di Provinsi Jawa Barat, kemudian ada juga Pak Tjatur yang saat ini bertugas sebagai anggota dewan di Jakarta. Masing-masing dari Beliau pun menyampaikan paparan singkat mengenai pengalaman-pengalaman hidup sebagai alumni, serta berbagi bagaimana mengelola tekad dan semangat berjuang demi cita-cita di dalam menggapai masa depan agar dapat berguna dan bermanfaat hidup, tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk orang lain. Aku menyaksikan dengan antusias dan penuh seksama, walau sesekali bercengkarama dengan kawan-kawanku di bangku penonton. Tidak ketinggalan pula kami terkadang memberikan komentar-komentar positif kepada Beliau-Beliau yang ada di panggung.

 

– – – – –

 

Usai acara di siang hari itu, aku bersama dengan kawan-kawanku memutuskan untuk pergi ke suatu café yang hits di dekat kampus kami. Kami pun saling melepas rindu. Rasanya benar-benar sangat menyenangkan. Namun bagiku, momen-momen reuni bersama dengan kawan-kawan kuliahku ini malah  memunculkan sedikit rasa sesal jika mengingat-ingat masa kuliah dulu. Aku akui, dulu semasa kuliah aku tidak terlalu dekat dengan banyak kawan dalam satu jurusan, jarang sekali ikut berkumpul bersama saat sedang mengerjakan tugas, atau jarang sekali berkumpul untuk sekedar melepas penat di sekretariat himpunan mahasiswa jurusan kami. Padahal di situlah momen-momen bahagia bersama kami yang kini akan selalu terkenang dalam memori kami.

Bukan, aku bukan tipe anti-sosial dan sukar bergaul, bukan. Aku masih dapat berteman dengan beberapa kawan dalam lingkup satu jurusanku dan masih dapat berkumpul bersama seperti untuk mengerjakan tugas atau belajar bersama. Sayangnya, dulu tidak sering melewatkan waktu bersama mereka di luar urusan perkuliahan. Ya, disitulah letak rasa sesal yang terkadang masih menghantui hingga kini.

Walau aku jarang bermain bersama dengan teman-temanku di jurusan, aku aktif di beberapa unit kegiatan mahasiwa atau organisasi lain di kampusku, di mana unit-unit kegiatan tersebut tidak ada satupun yang berkaitan dengan hal-hal berbau jurusan kuliahku. Aku saat itu merasa lebih bebas dan lebih dapat mengekspresikan diri pada komunitas-komunitas di luar jurusanku tersebut.

Dulu aku sering merasa rendah diri di hadapan kawan-kawanku di jurusan. Bagaimana tidak? Aku ini bukan termasuk mahasiswi pintar seperti teman-temanku yang lain. Ibarat kata, aku ini sering mengulang mata kuliah di semester berikutnya atau di tahun berikutnya dari mata kuliah tersebut diselenggarakan. Nilai akhir pun terkadang pas-pasan, ditambah saat mengerjakan skripsi, lamanya minta ampun. Entah, aku pun  bingung apa yang sebenarnya terjadi pada diriku di masa lalu. Beberapa kali setiap mengingat kejadian-kejadian tersebut rasanya menyesal dan rasanya ingin kembali mengulang masa-masa kuliah. Namun beruntungnya aku, aku memiliki teman-teman yang sangat baik dan tidak membeda-bedakan status dan kedudukan diantara kami. Mudah-mudahan rasa saling menguatkan seperti ini akan terus terjaga hingga nanti di masa tua kami. Amin.

 

– – – – –

Suasana Senja Cihampelas di Kala Mendung (Dokumentasi Pribadi)

 

Acara reuni memang diselenggarakan 2 hari, namun aku dan teman-temanku hanya mengikuti prosesi acara di hari Sabtu-nya saja. Beberapa di antara kami juga sudah ada yang bertolak kembali ke kota masing-masing di malam minggunya.

Namun demikian, hari Sabtu kala itu benar-benar berkesan untukku. Rasa semangat untuk kembali menapaki kehidupan beserta tantangan-tantangannya kembali muncul dan semakin bergelora. Rasa rendah diri bertahun-tahun yang aku alami pun semakin terasa berkurang sejak Sabtu itu. Rasanya seperti kembali hidup. \(^-^)/

Dan berikut ini adalah beberapa hal serta hikmah yang dapat aku ambil dari pertemuan hari Sabtu kemarin itu:

  1. Kerja keras pasti membuahkan hasil, tidak ada yang namanya keberuntungan yang hakiki tanpa disertai dengan usaha dan kerja keras yang gigih. Usaha tidak akan menghianati hasil.
  2. Jangan lupa untuk senantiasa berdoa di setiap usaha yang sedang dijalankan, tanpa doa, usaha akan menjadi sia-sia. Karena sejatinya, segala nikmat yang kita dapat di dunia ini berasal dari Tuhan Sang Pemilik Kehidupan.
  3. Selalu bersyukur dengan apa-apa yang sudah didapat dan tidak menyia-nyiakan nikmat yang sudah Tuhan Berikan hingga detik ini. Pada intinya, semakin pandai bersyukur, maka semakin bertambah nikmat yang akan didatangkan Tuhan kepada kita. Terkadang juga, malah datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
  4. Jangan pernah meremehkan orang yang selalu bekerja jujur, selain usaha dan kerja keras yang selalu ia lakukan, karena kita tidak akan pernah tahu keberuntungan seperti apa yang menantinya di depan.
  5. Bekerjalah dengan niat tulus ikhlas dan jangan selalu mengejar materi. Karena yang terpenting adalah kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan memperkaya diri dengan berbagai pengalaman kerja, agar dapat mengambil berbagai manfaat dari pengalaman-pengalaman tersebut bagi diri sendiri maupun orang lain.

 

– – – – –

 

Jadi, tunggu apalagi. Yuk mari semangat! 🙂