Curhat Terbuka – Jalur Selatan Jawa Tengah Menuju Jawa Barat yang Sering Rusak

Kali ini saya ingin menulis tentang sebuah memori di mana dalam kurun waktu 8,5 tahun ini kurang lebih, selalu “terngiang-ngiang” dalam benak saya. Mungkin untuk beberapa saat ini dalam beberapa kurun waktu ke depan, saya akan jarang mengalaminya lagi.

Sejak kecil, kira-kira usia 2 tahun, sampai saya menamatkan bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), hari-hari saya lalui di Kota Banjarnegara, Jawa Tengah. Saya memang bukan asli kelahiran Banjarnegara, melainkan kelahiran Kota Surakarta (Solo), karena saat saya dalam kandungan dan kemudian lahir,  status Ibu saya adalah seorang mahasiswi di Universitas Negeri Surakarta (UNS). Dan mengapa ke Banjarnegara? Karena mengikuti Bapak saya yang telah dipindah-tugaskan oleh perusahaan dari Jakarta ke Banjarnegara. (walau pada akhirnya Bapak saya kembali dimutasikan ke Jakarta, namun tanpa keluarga ikut berpindah) Walhasil saya dan kedua adik saya tumbuh besar di Banjarnegara.

Barulah setelah lulus SMP, saya mendapatkan kesempatan dari-Nya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke Kota Kembang, Bandung, yaitu di SMA Terpadu Krida Nusantara. Sedikit promosi, sekolah saya ini merupakan sekolah berasrama full dengan sistem kedisiplinan yang semi-militer namun tetap memperhatikan kualitas pendidikan agamanya juga. Dan pemilik Yayasan Krida Nusantara adalah Ibu Hj. Tuty Tri Sutrisno. Sesungguhnya cita-cita pribadi saya sejak duduk di bangku SD adalah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan SMA ke Magelang, yaitu SMA Taruna Nusantara (SMA TN). Namun apa daya, kemampuan saya ternyata tidak dapat menembus passing grade sebagai calon siswa-siswi SMA TN. Untuk masuk sekolah impian tersebut harus melalui rangkaian tes-tes yang cukup sukar. Jadilah saya masuk sekolah berasrama yang setidaknya menurut saya pribadi memiliki penerapan sistem semi-militer yang sama dengan SMA TN.

Hijrah ke Bandung di Tahun 2005

Alhamdulillah merasa beruntung, saat masuk di usia masuk SMA, angkutan umum (dalam hal ini adalah bus umum) yang menuju Bandung, sudah ada yang jalurnya melewati Kota Banjarnegara. Karena setahu saya sejak kecil, bus umum yang banyak melewati jalur Banjarnegara ke arah barat hanyalah bus-bus yang menuju Ibukota Jakarta, tidak ada yang menuju Kota Bandung. Kesemua bus yang ke arah barat tersebut seperti tujuan Jakarta, Bekasi, dan Bandung, semuanya berasal dari Kota Wonosobo (kira-kira jaraknya kurang lebih ada 10 km dari arah timur Banjarnegara). Nah, Banjarnegara merupakan kota kedua setelah Wonosobo dalam jalur bus-bus tersebut yang menuju ke arah barat.

Tiga tahun berlalu dan alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan-Nya lagi kepada saya untuk meneruskan hidup sebagai mahasiswa di Kota Bandung. Dan ritme mudik yang saya alami benar-benar semakin terasa dan semakin terekam dalam benak saya. Dalam hal ini adalah kegiatan perjalanan saya dari Bandung menuju Banjarnegara, ataupun sebaliknya dari Banjarnegara menuju Bandung.

Mobilisasi Bandung – Banjarnegara & Banjarnegara – Bandung

Transportasi utama favorit saya adalah bus umum bernama Budiman. Bus Bandung tersebut yang melewati jalur Banjarnegara kebetulan semuanya merupakan bus patas bisnis AC, sehingga di dalam perjalanan sudah terasa nyaman, karena jumlah kursi sesuai dengan jumlah penumpang yang naik, alias mendapatkan tempat duduk semuanya, tidak ada yang berdiri satu pun. Walau dalam titik-titik tertentu, tetap ada pejuang-pejuang rizqi-Nya seperti, pengamen-pengamen bus, pedagang-pedagang asongan, sampai peminta-peminta sumbangan (biasanya meminta untuk pembangunan masjid). Akan tetapi suasana seperti itulah yang justru membuat “rasa” perjalanan saya menjadi semakin seru dan menjadi pengalaman-pengalaman yang sangat berharga kelak untuk anak-anak dan cucu-cucu saya di masa mendatang. (Aamiin…!) 🙂

Namun sesekali juga, pergi menuju Bandung diantar oleh Bapak saya, sekaligus karena Beliau memang harus ke Jakarta menuju tempat kerja sehari-hari. Begitu juga sebaliknya. Terkadang saya dijemput Bapak saya di Bandung, kemudian meneruskan perjalanan menuju Banjarnegara. Biasanya momen-momen ini terjadi saat suasana libur semester, libur lebaran, dan juga sebaliknya.

Baru pada tahun-tahun menuju akhir tahun perkuliahan, kira-kira tingkat tiga, saya mencoba transportasi yang baru saya sadari ternyata ADA. Yaitu travel, namanya Luis Jaya Travel. Walaupun jenis dan tipenya tidak secanggih travel-travel Bandung – Jakarta. Informasi ini saya peroleh dari sahabat saya satu kota Banjarnegara yang juga melanjutkan kuliah di Bandung. Dari sanalah Ibu saya kemudian mencari letak travel tersebut di Banjarnegara.

Dan pada tahun-tahun terakhir perkuliahan juga, bus umum Sinar Jaya yang sudah terkenal mengangkut penumpang ke daerah Ibukota Jakarta dan sekitarnya, membuka trayek baru sama seperti bus Budiman, yaitu Bandung – Wonosobo dan sebaliknya.

UNEG – UNEG

Satu hal yang selalu saya ingat dan terekam dalam benak saya adalah kondisi jalan raya utama jalur selatan Jawa Tengah yang menghubungkan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan dari kondisi jalan raya kedua provinsi tersebut. Bahkan ketika sedang menikmati perjalanan dengan memejamkan mata atau pada saat sudah gelap, saya pun dapat “merasakan” sudah sampai di Jawa Barat atau sebaliknya sudah sampai di Jawa Tengah. Terasa sekali perbedaannya! Dari duduk yang tidak tenang naik-turun loncat-loncat kemudian dengan tiba-tiba duduknya menjadi nyaman dan tenang. ATAU sebaliknya, dari yang duduk tenang dan nyaman, tahu-tahu duduk loncat-loncat sampai terkaget-kaget dan akhirnya terbangun.

Jalan raya Jawa Tengah jalur selatan banyak sekali yang blang-bonteng, banyak lubang dan rusak.  Apabila kendaraan dalam kecepatan yang cukup tinggi, akan sangat berbahaya sekali dalam mengemudinya. Di satu sisi harus menghindari lubang-lubang yang bertebaran, satu sisi juga harus memperhatikan jalur arus berlawanan. Hal ini sering saya alami dan amati dengan Bapak saya.

Setiap kali perjalanan-perjalanan tersebut saya lalui, saya selalu berpikir. Kenapa ya, kok jalanan JaTeng nggak pernah mulus kayak jalanan di JaBar? Terutama di area Ajibarang-Wangon-Lumbir-Karangpucung-Cimanggu-Majenang-Wanareja menuju perbatasan JaTeng-JaBar. Ketika grunjal-grunjal sudah reda dan duduk bernapas lega, berarti saya sudah masuk Kota Banjar (JaBar). Dan sebaliknya dari arah barat, ketika masih tenang-tenangnya tiba-tiba berubah menjadi grunjal-grunjal, maka sudah pasti saya merasa akan segera sampai rumah, dalam arti terasa saya sudah masuk wilayah Jawa Tengah!

jalan rusak

Ilustrasi – Penampakan Jalan Rusak (sumber: Pikiran Rakyat Online)

Berdasarkan berita dari Republika Online tertanda tanggal 5 Februari 2014, dikutip dari  Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Nasional wilayah Cilacap Barat Rudi Hartono mengatakan bahwa pemerintah akan menggelontorkan dana sebesar Rp 58 Miliar yang dialokasikan dari APBN untuk perbaikan maupun pelebaran sejumlah ruas jalan di jalur selatan JaTeng. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/14/02/05/n0imk8-sejumlah-ruas-jalan-jalur-selatan-jateng-rusak) Serta berdasarkan informasi lawas yang saya dapat dari AntaraJateng.com tertanda tanggal 27 Februari 2013, dikatakan oleh Bina Marga Jawa Tengah bahwa alokasi anggaran perbaikan jalan di provinsi Jawa Tengah mencapai Rp 1,9 Triliun lebih yang bersumber dari APBD, APBN, dana alokasi khusus (DAK), dan pinjaman lunak (loan). (http://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=74863)

Saya memang tidak pandai dalam urusan ilmu kenegaraan maupun pemerintahan bila menyangkut dana-pendanaan atau yang berkaitan dengan anggaran negara. Namun, apabila benar informasinya seperti itu, saya semakin terheran-heran. Dana sebegitu besarnya, namun mengapa di setiap tahunnya saya selalu merasakan “kekurang-nyamanan” dalam perjalanan-perjalanan saya? Perjalanan-perjalanan bolak-balik Bandung – Banjarnegara dan Banjarnegara – Bandung. Saya suka berpikir seenaknya, kalau pemerintah Jawa Barat saja bisa dan mampu membuat jalanan jalur selatan selalu mulus dan nyaman, mengapa pemerintah di Jawa Tengah tidak bisa atau melakukan perbaikan jalan yang ”lebih serius” begitu?

Entahlah. Saya hanya berharap pemerintah di Jawa Tengah lebih serius di dalam meningkatkan kualitas perbaikan jalan raya ke arah yang jauh lebih baik, sehingga perbaikan-perbaikan major  tidak perlu dilakukan lagi tahun demi tahun. Setidaknya pemerintah-pemerintah daerah terkait, seperti Pemerintah Daerah Karesidenan Banyumas dan Pemerintah Daerah Kabupaten Cilacap agar selalu memperhatikan dan menyelesaikan permasalahan kerusakan jalan ini. Dapat dibayangkan, apabila di setiap tahunnya dalam kurun waktu 8 tahun ke belakang ini, di setiap momen libur mudik lebaran saya selalu merasa jalan raya jalur selatan selalu rusak dan bolong-bolong, apakah mungkin di tahun ini akan kembali terulang dengan kondisi yang sama? Mudah-mudahan tidak. 🙂

Jakarta, 23 Mei 2014

Curhat Terbuka – Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014

Tulisan ini mengisahkan sedikit “perjuangan” untuk mendapatkan tiket kereta api untuk kembali ke kota tempat tinggal. Berdasarkan pengalaman yang gagal total mendapatkan tiket mudik di hari akhir kerja (jum’at, 25 juli 2014) maupun hari sesudahnya (sabtu, 26 juli 2014) & hari berikutnya lagi (minggu, 27 juli 2014), alias kehabisan tiket kereta api, yang akhirnya harus “terpaksa” memilih hari lebih cepat untuk melaksanakan mudik dari waktu yang seharusnya. Itupun sudah dalam kondisi kursi-kursi sisa, di mana saya dan suami pun mendapatkan jatah bangku terpisah. Luar biasa sekali tahun ini!

Sabtu, 3 Mei 2014

Hari tersebut adalah tepat 1 hari sebelum pembukaan secara on-line untuk pembelian tiket kereta api tertanda tanggal 2 Agustus 2014. Dalam arti, pada malam hari tersebut merupakan jadwal untuk begadang. Untung saja, pada hari tersebut merupakan hari Sabtu, di mana bila begadang tidak menjadi masalah, karena besoknya masih hari libur, dapat digunakan untuk beristirahat karena adanya kemungkinan mengantuk.

Mengapa harus begadang?

Seperti yang sudah diketahui oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) telah memberikan kebijakan pembelian tiket dengan cara lebih mudah, yaitu dapat membeli secara on-line dalam waktu H-90 sebelum hari keberangkatan. (tentunya dengan standar Waktu Indonesia Barat yang digunakan) Namun, apa jadinya apabila hal ini berkaitan dengan waktu libur lebaran? Mungkin saja bukan “lebih mudah” yang didapatkan, melainkan “agak lebih berat” karena harus bersaing dengan ribuan atau bahkan mungkin jutaan masyarakat Indonesia yang juga ingin mendapatkan tiket mudik lebaran dan tiket sepulangnya kembali ke kota asal pasca mudik.

Tahun ini merupakan pengalaman pertama saya untuk “harus” berjuang lebih, demi mendapatkan tiket kereta api untuk mudik dan untuk sekembalinya lagi ke kota tempat tinggal, yaitu Jakarta. Kebetulan juga, mudik kali ini dapat dijangkau dengan menggunakan moda transportasi kereta api. Karena sebelumnya bila saya mudik (yaitu ke Banjarnegara), hanya dapat dijangkau dengan menggunakan bus ataupun travel, dalam arti hanya dapat ditempuh dengan jalan raya.  Tidak ada stasiun kereta api, apalagi bandara. Hehe. (yaa bisa saja sih menggunakan kereta api, namun tujuannya adalah ke Kota Purwokerto dan menyambung dengan bus ke Kota Banjarnegara-nya) Dan kebetulan juga, tertanda awal tahun 2014, orang tua saya sudah berhijrah dari Banjarnegara menuju kota kelahiran beliau berdua (lebih tepatnya Kecamatan kali ya) di Kota Cepu. Jadi, kali ini dapat menjangkau kedua orang tua dengan menggunakan kereta api. Dan kebetulan lagi, kedua mertua saya bermukim di Kota Semarang. Walhasil, dalam beberapa masa sekarang ini, ke mana-mana kalau mudik, sudah pasti akan selalu mengandalkan kereta api sebagai moda transportasi umum yang utama.

Oke, kembali ke topik.

 

Minggu, 4 Mei 2014

Jadilah malam minggu tanggal 3 Mei 2014 menuju tanggal 4 Mei 2014 saya lewatkan dengan harap-harap cemas. Dan TENG! Jam 12 malam pun tiba! Suami dengan cekatannya meng-klik alamat yang sudah diketik sejak menit-menit sebelumnya ke http://www.kereta-api.co.id/. Dan apa yang terjadi? Loading lamaaaaaaaaaa sekali! Sampai muncul error dan kotak dialog yang menyuruh user mengecek alamat yang dituju. Hadeuh, sebenarnya kenapa ya? For your information saja, internet yang kami pakai saat itu memiliki koneksi yang dibilang tergolong cepat, apalagi untuk ukuran waktu tengah malam seperti itu. Dan, Anda tahu? Setiap halaman reservasi tiket sudah berhasil terbuka, yang ada hanyalah informasi bahwa sudah banyak tiket habis di beberapa gerbong, HABIS! Dan jam baru menunjukkan pukul 00.25 WIB!

Malam itu pikiran semakin kalut dan khawatir. Masih mungkinkah mendapatkan tiket atau tidak. Menit demi menit terus berlalu tanpa harapan pasti. Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB kurang lebih. Dan YAK! Alhamdulillah akhirnya muncul juga halaman tiket reservasi. Segeralah suami meng-copy paste identitas diri kami masing-masing yang sudah disiapkan dalam lembar notepad. Kondisi saat itu masih sesekali loading dan diikuti situasi yang harap-harap cemas. Sepertinya Dewi Fortuna memang berpihak kepada kami malam itu. Akhirnya, Kode Bukti Pemesanan pun telah masuk ke dalam kotak inbox e-mail dan segeralah kami keluar rumah menuju ATM terdekat.

Jadi, apabila pembelian tiket kereta api dilakukan secara on-line, pembayaran dapat dilakukan melalui ATM. Namun, terdapat batasan waktu maksimal pembayaran. Apabila tidak dipenuhi pembayarannya, maka tiket kereta api yang sudah dipesan, akan hangus, dan harus mengulang proses pemesanan dari awal. Biasanya, maksimal waktu pembayaran yang harus dilakukan adalah 3 jam, terhitung sejak Kode Bukti Pemesanan masuk ke inbox e-mail. Nah, oleh sebab itu lah mengapa kami dengan segera menuju ATM terdekat, selain karena mata sudah terasa mengantuknya ingin segera beranjak tidur.

Sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, proses pembayaran tiket kereta api berhasil dilakukan! Alhamdulillah! Dengan sigap saya menyimpan bukti transfer bayar dari ATM secara hati-hati dalam dompet saya, dengan sebelumnya dipotret terlebih dahulu menggunakan handphone. (saking berharganya loh!) Sekitar pukul 3 dini hari barulah saya dapat bernapas lega dan segera beranjak tidur, walau masih belum melihat notifikasi Kode Bukti Pembayaran masuk ke kotak inbox e-mail.

Dan keesokan paginya, saya diberitahu suami bahwa beliau ternyata begadang sampai Subuh! Dan ternyata notifikasi Kode Bukti Pembayaran baru masuk sekitar pukul 4 pagi menjelang setengah 5 pagi! WAH! Benar-benar perjuangan banget yah!

 

KONFLIK BATIN

Yang menjadi pertanyaan adalah, kok ya bisa gitu ya, sampai sesusah itu ndapetin tiket, PADAHAL on-line? Saya sempat kesal dan menumpahkan kekecewaan saya terhadap pelayanan PT KAI yang menurut saya kurang optimal dan kurang persiapan di dalam menghadapi momen mudik lebaran tahun ini. Yah…, walau pada akhirnya saya pun mendapatkan tiketnya juga sih, dan lumayan mendapatkan respon dari admin twitter PT KAI.

Tweet Kereta Tiket1

Penampakan Tweet Kekecewaan

 

Dan bunyi balasan dari admin @KAI121 adalah sebagai berikut:

Twitter KAI

Penampakan Tweet Balasan Mimin PT KAI

 

Sampailah pada kesempatan hari Sabtu kemarin tanggal 17 Mei 2014, saya yang sedang berencana menonton konser klasik di Goethe Haus, yang dengan tiba-tiba harus ke Gambir terlebih dahulu karena pada akhirnya meeting point saya dengan kawan-kawan dari Bandung adalah di sana. (padahal mereka menggunakan mobil LOH, BUKAN naik kereta -___-“)

Sembari menunggu, saya menemukan sebuah papan bertuliskan daftar nama-nama agen resmi PT KAI yang tersebar di beberapa wilayah di Jakarta. Wah! (baru sadar ada papan beginian di Stasiun Gambir, donk!)

agen kereta

Penampakan Papan Besar di Gambir Berisikan Nama-Nama Agen Resmi PT KAI di Jakarta

 

Pikiran saya kembali teringat akan perjuangan di malam minggu yang telah lalu tersebut. Dugaan-dugaan negatif berseliweran di kepala saya. Memikirkan adanya kemungkinan PT KAI “ada main” dengan orang-orang tertentu. Saya sempat berpikir bahwa, “modus” pencaloan tiket saat ini tetap ada, dengan cara “titip KTP” kepada pihak-pihak tertentu.

Dan setelah melihat papan tersebut, saya jadi berpikir, apakah mungkin salah satu penyebab lelet-nya koneksi internet menuju website resmi PT KAI adalah karena layanan-layanan utama tertuju pada agen-agen ini? Atau, penyebab CEPAT-HABIS-nya TIKET KAI adalah karena adanya agen-agen tersebut? Sehingga terdapat pengkondisian jumlah tiket terlebih dahulu oleh pihak PT KAI sebelum resmi launch secara on-line? Entahlah.

Sampai sekarang saya terus berpikir, kenapa dan ada apa. Mudah-mudahan dugaan-dugaan negatif saya benar-benar hanyalah sekedar pikiran buruk belaka. Dan mudah-mudahan PT KAI akan semakin baik di dalam pelayanannya ke depan, khususnya dalam menghadapi momen lebaran yang terjadi di setiap tahunnya. Mungkin dapat menerapkan pembagian jumlah yang merata untuk pembelian tiket oleh pihak agen A, B, C, dan seterusnya, dengan masyarakat umum. Atau dapat dengan penambahan kuota bandwith, sehingga koneksi menuju alamat website PT KAI lebih cepat.

Karena saya mengakui, pelayanan PT KAI memang jauh lebih membaik, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama dapat dilihat dalam pelayanan Kereta kelas Ekonomi dan tidak adanya lagi pedagang-pedagang liar yang berlalu-lalang di dalam stasiun kereta. For your information lagi, saya dan kebetulan juga suami, adalah penyuka bepergian menggunakan kereta api. Sekalipun menuju Bandung, kami tetap menggunakan jasa kereta api, walaupun sudah banyak terdapat jasa travel Jakarta-Bandung yang semakin marak.

Maju terus PT KAI! 🙂

 

 

Jakarta, 18 Mei 2014