Culinary, Traveling

Jakarta Fair 2014

Siang ini cukup cerah. Matahari tidak begitu terik seperti biasanya. Sementara jam telah menunjukkan pukul 12:20 WIB. Sabtu siang ini, saya beserta suami berencana untuk kembali berpetualang di hari libur seperti ini. Kebetulan juga, kami mengikuti jadwal Pemerintah di dalam melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan. Jadi kami baru memulai puasa hari Minggu di keesokan harinya.

Dalam rangka HUT DKI Jakarta, seperti biasa di setiap tahunnya diadakan pergelaran bertajuk Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau Jakarta Fair yang dilaksanakan di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran. Konon, di dalam sejarahnya, sebelumnya PRJ ini kerap  dilaksanakan di area Monas. Dan pada tahun ini, Jakarta Fair 2014 masih tetap dilaksanakan di JIExpo.

Berangkatlah kami dari rumah sekitar pukul 1 siang WIB. Kami menggunakan kendaraan umum untuk menuju Jakarta Fair 2014. Dari Jalan Yos Sudarso, kami naik Metromini 07 ke arah utara (arah Tanjung Priok). Tidak sampai 10 menit, kami sampai pada Halte Bus Trans Jakarta Sunter-Kelapa Gading. Dari sana, kami naik Bus Trans Jakarta koridor 12 arah Pluit. Melalui koridor 12 ini, kami turun di halte Jembatan Merah. Namun sayang, sudah sesuai mengikuti petunjuk dari internet, yang seharusnya dapat melanjutkan perjalanan menggunakan Mikrolet (Angkot) 53 menuju JIExpo, ternyata kami malah salah naik (salah arah), dan nyasar ke arah Mangga Dua (untung tidak terlalu jauh). Yasudah, akhirnya diputuskanlah sesampainya di depan Carrefour Mangga Dua, kami naik Bajaj saja. Haha. -_-“

***

Pintu 9 - Gerbang Masuk PRJ
Pintu 9 – Gerbang Masuk PRJ
Pedagang Kerak Telor Dekat Pintu Masuk
Pedagang Kerak Telor Dekat Pintu Masuk
Pedagang Kerak Telor Dekat Pintu Masuk
Pedagang Kerak Telor Dekat Pintu Masuk

Sesampainya di PRJ – Jakarta Fair 2014, kami masuk melalui Pintu 9 dengan harga tiket per orang adalah Rp 30.000,-. Yak, cukup mahal saya rasa. Dengan sebelumnya kami melewati pedagang-pedagang Kerak Telor yang sudah berbaris rapih di dekat pintu masuk. Tiket masuk berupa Kartu Flash seperti yang dipergunakan untuk memasuki halte Trans Jakarta ataupun stasiun KRL. Tidak hanya tiket masuk Flash yang kami dapatkan, terdapat pula kupon-kupon voucher yang dapat ditukar pada beberapa stand tertentu, walau menurut saya pribadi, tetap saja kurang berguna demi pemenuhan keinginan berbelanja. Bayangkan saja, misalnya pada salah satu contoh stand produk, ia memberikan potongan harga Rp 50.000,- dengan menggunakan kupon voucher, namun dengan syarat pembelanjaan minimal adalah senilai Rp 249.000,-. Ya keleusss aja kali ya. Haha.

Saat Mengantri Tiket Masuk
Saat Mengantri Tiket Masuk
Tiket Masuk
Tiket Masuk
Kupon Diskon Beberapa Stand Tertentu
Kupon Diskon Beberapa Stand Tertentu
Suasana Pengunjung yang akan Masuk Area PRJ
Suasana Pengunjung yang akan Masuk Area PRJ

Beruntunglah suasana yang sedikit mendung, sehingga cukup mendukung kegiatan jalan-jalan kali ini. Jutaan manusia terlihat memadati area Jakarta Fair 2014. Dan kami pun kemudian menjadi bagian dari gerombolan manusia tersebut.

Suasana Mendung
Suasana Mendung
Keramaian Pengunjung
Keramaian Pengunjung

Namanya juga H-1 Puasa Ramadhan, kami pun memuaskan diri sepuas-puasnya untuk berkeliling melihat-lihat. Berbagai macam stand kami lewati, seperti makanan khas daerah-daerah di Indonesia, handphone, batik, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya. Memang, terdapat beberapa produk yang biasa dapat dijumpai di mall-mall. Mereka ini memiliki harga yang relatif lebih murah, namun tetap saja ada yang masih terasa mahal. Seperti salah satu contoh produk gamis busana muslim wanita yang sedang memberikan sale 50% dan 70% dengan harga asli produk adalah 1,5 juta-an dan ada juga yang 3 juta-an. Nah, sama saja bukan?

Kebanyakan stand barang berada di dalam gedung (indoor), namun untuk stand-stand makanan yang begitu banyaknya berjajar rapih di luar gedung (outdoor). Itulah mengapa saya sangat bersyukur karena suasana siang-sore ini tidak panas dan cenderung mendung, dan tentu saja tidak ada pula hujan yang turun.

Berkeliling dan terus berkeliling. Mungkin kurang lebih sudah 4 jam kami berkeliling. Dan tangan kamipun sudah terisi dengan barang-barang yang terbeli akibat “tergoda” oleh pemandangan-pemandangan yang dilalui. Haha! Dan salah satu belanjaan favorit saya adalah Pengasah Pisau ini! 😀

Pengasah Pisau
Pengasah Pisau
Pengasah Pisau yang Cara Peletakannya dapat "Ditempel" pada Keramik, Sehingga Memudahkan dalam Pemakaian
Pengasah Pisau yang Cara Peletakannya dapat “Ditempel” pada Keramik, Sehingga Memudahkan dalam Pemakaian

Lumayan, dari harga asli Rp 80.000,- menjadi Rp 65.000,-. (Mahal ya?) Benda ini sangat berguna tentunya. Tidak hanya mengasah pisau, namun juga sebagai pengasah gunting. No more ngomel-ngomel di dapur deh kalo pas kedapetan susah memotong bahan makanan.

***

Sesaat sebelum makan malam, saya sempat mampir membeli “jajanan” nugget Fiesta. Stand-nya yang besar membuat perut saya menarik-narik ke arahnya. Harganya tergolong lumayan dengan 2 buah nugget ayam dipatok harga sebesar Rp 5000,-. Saat menelusuri stand-stand makanan kecil, saya melihat Bakpia Pathok khas Yogyakarta. Sesaat pikiran melambung pada kampung halaman. 🙂

Stand Fiesta
Stand Fiesta
Stand Bakpia Pathok
Stand Bakpia Pathok

Tibalah waktunya makan malam. Karena hari ini adalah malam minggu, sudah pasti tentunya akan semakin banyak sekali orang-orang yang memadati area PRJ ini. Lihat saja, makin malam makin ramai tidak terkendali. Hehe. Namun beruntunglah kami menemukan spot tempat makan (lebih tepatnya meja makan di salah satu tempat makan) yang pemakai meja sebelum kami, telah selesai melaksanakan makan mereka. Segeralah kami duduk dan memesan makanan. Unik, seluruh harga di kedai makan ini mematok harga 20 ribu rupiah untuk seluruh menu (sayang tidak sempat memotret menunya). Saya memilih Soto Betawi dan Sang Abang memilih Ayam Goreng (ya, ayam dan ayam di manapun berada).

Tempat Makan Malam
Tempat Makan Malam

 

Soto Betawi
Soto Betawi

Seusai makan malam, perjalanan kami lanjutkan sejenak di dekat area tempat makan. Terdapat area stand khusus yang diperuntukkan bagi pedagang-pedagang Negara India. Benda-benda yang dipamerkan beberapa diantaranya berupa kerajinan-kerajinan khas negara tersebut. Seperti perhiasan-perhiasan wanita, baju gamis pria India, tas-tas corak India, serta sepatu-sepatu manik-manik India. Dan harga-harga yang ditawarkan dirasa relatif mahal, karena memang barang-barang tersebut tergolong barang impor juga. Yasudah, jadinya kami hanya melihat-melihat saja. Namun sayang, saya tidak sempat mengambil gambar pada bagian ini.

Dekat dengan tempat makan kami pula, terdapat Patung Manusia Millenium yang biasanya dapat ditemui di area Kota Tua Jakarta. Patung Manusia Millenium ini sedang berpose membaca koran dengan duduk melayang. Hihi. Unik!

Patung Manusia Millenium
Patung Manusia Millenium

Kami juga menyempatkan masuk ke dalam area gedung yang mirip seperti bangunan mall. Di sana terdapat beberapa toko yang menawarkan diskon besar-besaran. Namun sekali lagi. Sekalipun bertajuk diskon besar-besaran, tetap saja untuk beberapa barang dirasa masih cukup mahal. Begitu. Salah satu toko yang mengadakan diskon besar-besaran adalah Matahari Department Store.

Sale Event di Matahari
Sale Event di Matahari

 

***

 

Benar-benar. Semakin malam semakin ramai. Tetapi kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Mengingat masih banyak kegiatan yang harus dilakukan dan diantaranya adalah persiapan sahur pertama kami keesokan paginya.

Semakin Malam Suasana PRJ Semakin Ramai
Semakin Malam Suasana PRJ Semakin Ramai

Sebelum pulang, saya menyempatkan diri membungkus Kerak Telor untuk dibawa pulang. Cukup kaget, karena harganya menurut saya adalah mahal, yaitu Rp 15.000,-! Dulu saya pikir saat pernah membeli Kerak Telor di area Factory Outlet Dago Bandung dengan harga Rp 10.000,- saja sudah terasa mahal. Eh ternyata yang ini malah lebih mahal lagi ya. Wah! Yasudah, yang penting keinginan makan Kerak Telor sudah terpenuhi deh.

Pedagang Kerak Telor
Pedagang Kerak Telor
Kerak Telor yang Dibungkus
Kerak Telor yang Dibungkus

***

 

Demikian cuplikan kisah jalan-jalan hari ini. Mungkin saran saya bila Anda-Anda ingin berkunjung atau sekedar main ke PRJ, ada baiknya dilakukan pada saat weekdays, jangan saat-saat weekend seperti ini. Tentunya untuk menghindari keramaian manusia yang terlalu padat. Haha! Untuk tahun ini, pergelaran Jakarta Fair 2014 dilaksanakan hingga tanggal 6 Juli 2014.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan bagi saudara-saudari Muslim di manapun berada. Mohon maaf lahir dan batin. Tetap semangat! 🙂

 

 

Jakarta, 28 Juni 2014

Advertisements
Daily Recipes

Cumi-Cumi Oseng Item (Hitam)

Cumi. Yak cumi.

Menu yang satu ini merupakan favorit saya sejak kecil bila sedang masuk tenda seafood atau resto seafood bersama keluarga. Sudah hampir dipastikan makanan yang saya pesan pasti cumi. Dan pada suatu ketika, saat sedang berbelanja di Carrefour, tiba-tiba sang Abang nyeletuk tentang Cumi-Cumi Oseng Item. Seketika saya antusias, karena menu tersebut juga merupakan favorit adek saya, Wisnu. Oke deh, diputuskan saat itu juga untuk membuat Cumi-Cumi Oseng Item di keesokan paginya.

Cekidot!

Bahan-Bahan :
+ 500 gram Cumi Sero ukuran kecil.

cumi mentah

Cumi Potong yang Sudah Siap Dimasak

– 5 siung bawang merah.
– 5 siung bawang putih.
– Garam secukupnya.
– Gula secukupnya.
– Minyak goreng secukupnya untuk menumis.
– Air secukupnya (kira-kira + 50 ml)

Tahap Persiapan :
1. Pertama-tama, pisahkan kepala cumi dari badannya. Jangan lupa untuk mengeluarkan tulang plastik dari badannya. Kemudian, potong-potong dengan ukuran kira-kira 0,5 – 1 cm.
Saat mencuci cumi, tetap sisakan tinta yang masih terkandung di dalam badan cumi.

persiapan cumi

Persiapan Cumi

2. Iris-iris tipis bawang merah dan bawang putih.

Cara Membuat :
1. Siapkan minyak goreng dalam wajan panas.
2. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum.
3. Setelah harum, masukkan cumi yang telah disiapkan.
4. Tambahkan air, gula secukupnya, dan garam secukupnya.
5. Oseng-oseng bolak-balik cumi dalam wajan hingga empuk dan matang.
6. Sajikan hangat.

Cumi Oseng Item

Cumi-Cumi Oseng Item (Hitam)

 

Hummm… Bagaimana? Sangat mudah bukan?

🙂

 

Jakarta, 26 Juni 2014

Daily Recipes

Terong Balado versi Sederhana (Digoreng)

Selamat ulang tahun ke-487 hey Jakarta! 🙂

Hari Minggu siang ini cukup terik dan membuat saya dan suami malas untuk bepergian keluar rumah. Padahal dalam rangka HUT DKI Jakarta ke-487 ini, pemerintah sedang menggratiskan tiket Bus Trans Jakarta sejak Sabtu 21 Juni 2014 pukul 18.00 WIB sampai hari Minggu ini 22 Juni 2014 pukul 22.00 WIB. (http://news.bisnis.com/read/20140620/77/237413/hut-jakarta-sabtu-dan-minggu-pekan-ini-transjakarta-gratis)

Terkadang memang, saat-saat libur seperti ini, kami menyempatkan diri jalan-jalan untuk sekedar makan siang di luar rumah. Dengan pikiran kami, mumpung masih berdua dan mumpung masih ada kesempatan dan rejeki untuk dapat berkegiatan piknik berdua di tiap weekendnya.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba memasak Terong Balado khas buatan Ibu saya. Mengapa di dalam judul dikatakan “dalam versi sederhana dan digoreng”? Karena ternyata Terong Balado yang sering saya makan di rumah, cara memasak daging terongnya dengan cara dikukus. Sehingga daging terong tersebut akan terasa lebih lembut.

Namun di dalam menu kali ini, saya membuatnya dengan cara digoreng, tanpa melalui proses pengukusan terong. Tentunya sangat cocok bagi pemula atau yang baru mencoba memasak menu ini. Cekidot!

Bahan-Bahan :
– 2 buah terong ungu ukuran sedang.
– 5 siung bawang merah.
– 5 siung bawang putih.
– 6 buah cabe merah keriting. (jumlah dapat lebih dari 6 buah, sesuai selera kepedasan masing-masing lidah)
– 1 buah tomat ukuran sedang.
– Gula secukupnya.
– Garam secukupnya.
– Minyak goreng secukupnya.

Tahap Persiapan :
– Potong-potong terong sesuai silindernya dengan ukruan + 2 cm, kemudian belah menjadi 2 bagian pada permukaan silindernya.

Persiapan Terong

Persiapan Terong

– Haluskan (uleg / blender) bawang merah, bawang putih, cabe merah, dan tomat.

Ulegan Bumbu

Persiapan Bumbu

Cara Membuat :
1. Siapkan wajan dan panaskan minyak goreng (kira-kira 2 – 3 sendok makan minyak goreng).
2. Goreng terong yang sudah dipotong-potong sampai empuk dan matang. Kemudian angkat.

Oseng Terong

Goreng Terong hingga Empuk dan Matang

3. Panaskan kembali minyak goreng dalam wajan (kira-kira 2 sendok makan minyak goreng).
4. Tumis hasil ulegan / blenderan bumbu hingga harum.
5. Setelah harum, masukkan terong-terong yang telah matang tadi kembali ke dalam wajan.
6. Tambahkan gula dan garam secukupnya.
7. Oseng bolak-balik sampai matang.
8. Sajikan hangat. Yummy!

Terong Balado

Terong Balado Siap Disajikan!

 

Saya rasa cara membuat Terong Balado ini sangat mudah dan tidak memerlukan waktu lama.
Selamat mencoba! 🙂

 

Jakarta, 22 Juni 2014

Family & Friends

Renjana adalah Kami Bertiga

Diskusi siang ini cukup melelahkan, belum lagi telinga yang harus super tajam memperhatikan. Karena kami (saya dan partner kerja, Dyesti) berhadapan dengan seorang Jepang yang berbicara menggunakan Bahasa Inggris aksen Jepang, lebih tepatnya Beliau adalah atasan kami berdua yang tidak selalu ada di proyek dengan waktu terlibat dalam proyek hanya 2 minggu di setiap kedatangannya yang hanya 2 bulan sekali. Otomatis, semua pekerjaan yang melibatkan Beliau, harus dibabat habis dalam 2 minggu ini.

Setelah diskusi yang cukup panjang membahas tentang laporan lingkungan kami, akhirnya kembalilah saya ke meja saya. Ingin meneruskan pekerjaan, jam sudah menunjukkan pukul 16:27 WIB (males banget bo, setengah jam lagi pulang, haha). Akhirnya saya memutuskan ingin menulis tentang nama-nama saya dan kedua adik, pemberian Bapak dan Ibu saya (tentu saja).

Renjana

Pada suatu waktu, saya membaca sebuah tulisan menarik yang membahas tentang makna kata “passion” pada sebuah blog. Judul tulisannya adalah “Mengapa “follow your passion” adalah saran yang menyesatkan” (http://paramitamohamad.com/2014/03/09/follow-your-passion-saran-yang-menyesatkan/). Dalam tulisan tersebut, Sang Penulis menguraikan panjang-lebar bagaimana “Renjana” (passion) seharusnya itu didefinisikan dan diterapkan dalam kehidupan kita.

Lalu pada suatu waktu pula saat saya sedang berjalan-jalan ke Toko Buku Gramedia, saya menemukan sebuah Novel berjudulkan “Renjana – Yang Sejati Tersimpan di Dalam Rasa”, yang saya sendiri sampai sekarang belum tau apa isi cerita dari novel tersebut. Berdasarkan sumber dari internet (http://www.tabloidnova.com/Nova/News/Varia-Warta/Renjana-Membuai-dengan-Puisi-puisinya/), novel tersebut mengisahkan pertemuan dua insan yang sebelumnya pernah saling mengisi hati masing-masing. Ya intinya, novel romantis dengan pembawaan Sang Penulis yang serba puitis.

RENJANA-YANG-SEJATI-TERSIMPAN-DI-DALAM-RASA

Novel “Renjana” karya Anjar

 

Kembali kepada saya dan kedua adik saya.

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya yang pertama adalah laki-laki, dan adik kedua saya adalah perempuan. Kalau dalam istilah Jawa, persaudaraan kandung kami bertiga disebut dengan istilah “pancuran kapit sendhang”, yang artinya 3 orang anak dengan anak laki-laki di tengah kedua anak perempuan.

Dan kembali saya ingin memperkenalkan kedua orang tua saya. Bapak saya bernama lengkap Djoko Lasono dan Ibu saya bernama Puji Renaningsih. Jarak kedua orang tua saya menikah dapat dibilang cukup jauh dalam jarak usianya. Kala itu, pada tahun 1988, Bapak saya yang berusia 31 tahun jalan 32 tahun saat menikahi Ibu saya yang berusia 19 tahun jalan 20 tahun. Nah, apa hubungannya usia dengan “Renjana”? Nggak ada sih…Hehehe. :p

Nama saya adalah Renjana Ratih Inaganis. Adik laki-laki saya, Renjana Wisnu Ariestyaji. Dan adik perempuan saya, Renjana Shinta Adiyanti. Nah kan, semuanya Renjana. Alhamdulillah kami memiliki nama indah tersebut dari kedua orang tua kami. 🙂

Bapak saya merupakan tipe orang yang senang mengutak-ngatik, berpikir, sehingga idenya adaaa saja. Sejalannya waktu sampai mendekati hari-H kelahiran saya, Bapak menemukan kata bagus di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu kata Renjana. Nah, menurut KBBI, makna kata Renjana adalah rasa hati yg kuat (rindu, cinta kasih, berahi, dsb). Dan kebetulan juga pada masa itu kata “Renjana” menjadi judul salah satu lagu kenangan yang dinyanyikan oleh penyanyi Grace Simon, walau lagunya sendu mendayu-dayu. Singkat cerita, ternyata Bapak saya ini lantas mengkombinasikan nama Bapak saya dan Ibu saya dalam 1 kata tersebut, Renjana. Renaningsih & Jaka Laksana (pengucapan modern untuk nama Bapak saya, Djoko Lasono).

renjana kbbiMakna Kata “Renjana” berdasarkan KBBI

 

The Names

Bapak saya adalah pengagum cerita pewayangan jawa. Sangat njowoni banget lah, begitu. Untuk saya, nama saya mengandung unsur nama Ratih, dari tokoh Dewi Ratih atau yang sering disebut sebagai Dewi Kamaratih, yang merupakan istri dari Batara Kamajaya. Batara Kamajaya adalah Dewa Cinta, ia salah satu di antara banyak dewa dalam agama Hindu maupun dalam cerita pewayangan yang terkenal karena ketampanannya, berbudi pekerti luhur, jujur, lembut, dan penuh kasih sayang. Sementara Dewi Ratih adalah seorang dewi yang cantik serta seluruh laku, watak, dan budinya sama dengan suaminya (berbudi pekerti luhur, jujur, lembut dan penuh kasih sayang). Mereka adalah pasangan paling serasi, masing-masing selalu menjaga kesetiannya lahir-batin dan sehidup-semati. Cerita cinta mereka bahkan lebih menarik daripada Romeo Juliet-nya Shakespeare. Harapan orang tua saya, kelak di masa mendatang, saya dapat memiliki sifat-sifat mulia dan bernasib seperti Dewi Ratih tersebut. Aamiin. Hehehe.

dewi-kamaratih

Dewi Ratih

 

Kemudian untuk Inaganis sendiri, saya sesungguhnya juga kurang paham bagaimana. Akan tetapi untuk ganis sendiri, diharapkan kelak saya bisa menjadi gadis manis seperti idaman kedua orang tua saya. Begitu. Hehe.

Kemudian adik laki-laki saya. Namanya mengandung unsur nama Wisnu, dari tokoh Dewa Wisnu. Menurut wikipedia, makna kata Wisnu kira-kira dapat diartikan sebagai “Sesuatu yang menempati segalanya“. Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (disebut juga Sri Wisnu atau Narayana) adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Tuhan Yang Maha Esa). Dalam pementasan wayang jawa, wisnu sering disebut dengan gelar sanghyang batara wisnu. Menurut versi ini, wisnu adalah putra kelima Batara Guru dan Batari Uma. Dia merupakan putra yang paling sakti di antara semua putra Batara Guru. Menurut mitologi jawa, wisnu pertama kali turun ke dunia menjelma menjadi raja bergelar Srimaharaja Suman. Negaranya bernama Medangpura, terletak di wilayah Jawa Tengah sekarang. Lalu kemudian dia berganti nama menjadi Sri Maharaja Matsyapati, merajai semua jenis binatang air. Dan harapan orang tua saya, adik laki-laki saya ini kelak dapat menjadi pelindung dan dapat menjadi pemimpin di mana dia berada dengan cara yang baik dan positif. Aamiin.

Wisnu_Solo

Dewa Wisnu

 

Untuk kata Ariestyaji sendiri, adik saya ini lahir pada bulan April dengan perhitungan tanggal masih masuk ke dalam rumpun astrologi bintang Aries. Dan “aji” sendiri bermakna berharga sekali dan tidak ternilai kehormatan dan kedudukannya sehingga orang merasa wajib mengagungkan dan menghormati. Secara harfiah dapat diartikan sebagai raja atau baginda. Maka diharapkan kelak di masa mendatang adik saya ini benar-benar dapat memimpin di mana pun dia berada, dengan cara yang baik dan positif, serta disukai oleh banyak orang, serta orang yang melihatnya dapat mendapatkan pengaruh yang positif. Aamiin. 🙂

Kemudian adik perempuan saya, mengandung unsur nama Shinta dari tokoh Dewi Shinta. Dewi Shinta merupakan putri Prabu Janaka, raja negara Mantili atau Mitila (Mahabharata). Dewi Shinta diyakini sebagai titisan Bathari Sri Widowati, istri Bathara Wisnu. Selain sangat cantik, Dewi Shinta merupakan putri yang sangat setia, jatmika (selalu dengan sopan santun) dan suci trilaksita (ucapan, pikiran, dan hatinya). Maka diharapkan adik saya kelak menjadi seseorang yang sangat cantik dan anggun, yang senantiasa menjunjung tinggi tata krama di manapun dia berada. Aamiin.

dewi shinta1Dewi Shinta

 

Sementara untuk makna kata Adiyanti sendiri karena adik saya ini lahir di rumah sakit bernama Rumah Sakit Adina, yang kemudian oleh Bapak saya dimodifikasi menjadi nama cantik, Adiyanti.

Nah, sekiranya begitu cerita dibalik nama-nama kami bertiga. Mungkin ada pembaca yang ingin berbagi juga? 🙂

 

 

Jakarta, 16 Juni 2014

 

Daily Recipes

Sosis Sapi Asam Manis versi Sederhana

Sebenarnya menu ini merupakan menu saduran yang saya ambil dari website-nya Royco dengan sedikit modifikasi. Cukup simpel dan mudah di dalam mempersiapkannya. Yuk kita mulai!

Bahan-Bahan:
1. Sosis sapi merk Champ. (Lagi-lagi mengapa saya menulis menggunakan merk tersebut, dikarenakan harga produk Champ relatif lebih murah dibandingkan dengan sosis-sosis sapi lainnya, terutama di supermarket-supermarket. Namun, bila memang berselera dengan yang lebih berkelas dengan menggunakan merk yang memiliki kualitas di atas Champ, maka tentu saja tidak ada salahnya menggunakannya.)
2. 5 siung bawang putih.
3. ½ bawang bombay.
4. 1 sendok gula pasir.
5. ½ sendok teh (sdt) merica (lada putih) bubuk.
6. 3 sendok saus tomat.
7. + 100 ml air.
8. Margarin secukupnya untuk menumis.
9. Garam secukupnya.
10. Royco (bila perlu).

Persiapan :
1. Kupas sosis dari pembungkus plastiknya dan iris dengan panjang + 2 cm, dengan dibelah bentuk plus (+) di masing-masing bagian ujung potongan sosis.

persiapan sosis

Persiapan Sosis

2. Iris tipis-tipis untuk bawang putih.
3. Potong dadu untuk bawang bombay.

persiapan bawang

Persiapan Bumbu Bawang

Cara Membuat:
1. Siapkan margarin dalam wajan panas. Kemudian goreng sosis hingga merekah. Kemudian angkat.

sosis

Goreng Sosis Sapi hingga Merekah di Kedua Ujungnya

2. Siapkan kembali margarin dalam wajan panas. Kemudian tumis irisan-irisan dan potongan-potongan bawang putih dan bawang bombay hingga harum.

tumis bawang

Tumis Bawang Putih dan Bawang Bombay

3. Masukkan sosis, saus tomat, gula, garam, merica bubuk, Royco, dan air.
4. Masak kurang lebih 5 menit.
5. Sajikan hangat. Yummy!

Sosis Sapi Asam ManisSosis Sapi Ayam Manis Sederhana is ready!

Nah, bagaimana? Simpel bukan? 🙂

 

 

Jakarta, 19 Juni 2014

Daily Recipes

Daging Lapis Ala Bu Puji Alias Bu Djoko

Menu yang satu ini, selalu membuat saya teringat masa kecil dan merupakan salah satu menu favorit ketika pulang kampung ke Banjarnegara. Kalau dalam acara-acara hajatan atau banca’an, biasanya menu ini suka dihidangkan.

Untuk perkenalan, Ibu saya dan Bapak saya ini kebetulan sama-sama penduduk Kota Cepu di perbatasan Jawa Tengah – Jawa Timur sana. (Lah, apa hubungannye Neng?)
Nah, ingin cerita tentang Ibu saya. Beliau ini super sekali, jago sekali memasak! Hampir semua makanan sepertinya sudah pernah Beliau coba, khususnya makanan khas2 wong Jowo. Begitu. Hehehe. Oke, kembali ke topik!

Daging Lapis. Dari beberapa literatur yang saya baca, makanan ini merupakan makanan khas Jawa Timur. Kalo di Sumatera punya rendang, kami wong Jowo punya Daging Lapis.

Makanan ini saya rasa cukup dan sangat mudah bagi pemula yang baru bisa memasak atau yang baru ingin coba-coba masak dengan bahan daging sapi. Cekidot!

 

 

Bahan-Bahan :
– ½ kg Daging Sapi.
– 7 butir kemiri.
– 6 – 8 siung bawang putih (sesuai selera).
– Merica (lada putih) secukupnya (dapat bertakar 1/4 – 1/2 sendok teh, untuk merica bubuk) atau sesuai selera.
– 8 – 10 siung bawang merah (sesuai selera).
– 2 butir telur ayam.
– Garam secukupnya.
– Gula merah (gula jawa) secukupnya.
– Kecap manis secukupnya.
– Minyak goreng secukupnya (sedikit saja cukup) untuk menumis bawang putih.
– 2 sendok makan margarin sebagai pelapis wajan.
– Air secukupnya (cukup untuk ngungkeb yang merendamkan daging).

Persiapan Bumbu :
1. Tumis bawang putih sampai harum, kemudian angkat.
2. Uleg bawang putih, kemiri, dan merica hingga halus.
3. Cincang (iris tipis-tipis) bawang merah. (ingat, tidak untuk di-uleg)

persiapan bumbu Persiapan Bumbu Uleg

 

Cara Membuat :
1. Potong daging sapi tipis-tipis kira-kira berukuran 3 – 6 cm, kemudian cuci bersih.

daging

Persiapan Daging

2. Siapkan wajan dan lapiskan permukaan wajan dengan margarin.
3. Masukkan irisan-irisan daging sapi ke dalam wajan.
4. Campurkan hasil ulegan bawang putih, kemiri, merica yang telah halus ke dalam adonan daging dalam wajan.
5. Masukkan irisan-irisan bawang merah, garam secukupnya, 2 butir telur, ke dalam adonan daging dalam wajan.
6. Aduk-aduk daging yang telah tercampur bahan-bahan tersebut, dengan tangan, hingga merata.
7. Tambahkan air hingga adonan (tumpukan) daging terendam.
8. Ungkeb daging sampai airnya habis (jangan lupa tutup panci/wajannya yang besar).
9. Apabila setelah airnya habis, namun daging belum empuk-empuk juga, boleh tambahkan air kembali dan ungkeb kembali sampai airnya habis.
10. Setelah air akan kembali habis dan daging sudah empuk, tambahkan kecap manis dan gula jawa (gula merah) secukupnya.

proses

Proses Mengaduk-aduk Sampai Mengungkeb

 

11. Aduk-aduk hingga merata dan matang.
12. Siap disajikan. Sangat cocok dengan nasi putih hangat. Yummy!

jadi

Daging Lapis Siap Disajikan

 

 

Nah, bagaimana? Sudah siap mencoba?

^_^

 

 

Jakarta, 10 Juni 2014

Curhat Terbuka, Life

Curhat Terbuka – Setiap Perempuan Itu Bisa Memasak

Dapur
Ilustrasi

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa statement yang sering saya dengar, baik saat masih SMA atau saat masih duduk di bangku kuliah.

Pembicaraan yang sering terjadi di antara kami anak-anak perempuan tentang “keharusan” bisa memasak. Memang benar, di setiap keluarga terdapat “ajaran” yang berbeda-beda tentang perihal masak-memasak ini. Dikatakan bahwa, setiap wanita itu “diwajibkan” untuk dapat memasak. Namun pada kenyataannya, ada beberapa keluarga juga yang tidak mensyaratkan mutlak bahwa anak-anak perempuan mereka diharuskan untuk dapat memasak dan memasak. Sementara di dalam concern orang tua yang tinggi terhadap pendidikan anak, porsi “ketrampilan memasak” lebih terasa “dinomor-duakan” dibandingkan dengan pendidikan formal itu sendiri.

Mengapa dikatakan demikian?
Setiap ibu di dunia -mungkin-, memiliki kekhawatiran tinggi apabila di masa depan, anak-anak perempuan mereka tidak dapat memasak. Tentu saja hal itu berkaitan dengan kodrat seorang perempuan yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka. Dan seiring berkembangnya waktu, kekhawatiran-kekhawatiran tersebut berubah menjadi pola pikir kekinian yang akhirnya membuat beberapa wanita merasa khawatir dengan dirinya, kurang percaya diri, dan sebagainya.

Sebenarnya di sini, saya hanya ingin menggambarkan diri saya yang malas dan enggan pada mulanya untuk belajar memasak. (walaupun Ibu saya adalah Ibu Guru Rumah Tangga yang sangat jago memasak) Apalagi untuk sekedar “nongkrong” di dapur bersama Ibu dan Dhe Ngatini di masa kecil sampai remaja, sementara Bapak saya yang dengan ngototnya selalu “memaksa” saya untuk ikutan beraktivitas di dapur. Ditambah kini, suami yang selalu membebaskan dan tidak menuntut perihal memasak.

Pada kenyataannya, setelah saya menikah, saya memang tiada ketrampilan berarti di dalam perihal masak-memasak ini. Sementara sejak mengenyam pendidikan di bangku SMA sampai kuliah, saya merantau ke Kota Bandung hingga 8 tahun lamanya. Otomatis tidak banyak kegiatan memasak yang saya lakukan. (tentu saja, karena saat SMA bersekolah di sekolah asrama, dan pada saat kuliah memilih untuk ngekos yang hanya berfungsi sebagai tempat tidur dari full-nya kegiatan kampus yang saya ikuti, dalam arti tidak mementingkan faktor ada dapur atau tidak di dalam memilih kamar kos) 😀

Dengan hanya berbekal sepengamatan saya sejauh ini dengan kegiatan Ibu di dapur, saya berangkat untuk memulai belajar sedikit demi sedikit. Dan seperjalanan saya memasak hari demi hari, ternyata muncullah secara naluriah “ke-perempuan-an” bahwa sebenarnya saya ini ada bakat loh dalam memasak (dalam arti sebagai seorang perempuan). Tidak peduli sebrutal dan setomboi apapun, pasti bisa memasak. Seperti kata pepatah, asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. Dan saya juga berpikir, itulah mengapa ada saja teman-teman pria yang justru malah jago memasak dibandingkan saya sendiri.

Jadi intinya.
Tidak perlu takut karena menganggap diri tidak bisa memasak atau masih kurang percaya diri dalam memasak. Begitu pun sebaliknya, tidak perlu berbangga berlebih karena merasa bisa dan jago dalam hal memasak dibandingkan dengan orang lain. Karena pada dasarnya, setiap perempuan itu bisa memasak.

Walaupun pada akhirnya semua kembali lagi kepada kondisi keluarga masing-masing dan fleksibilitas pembawaan di setiap anggota keluarga. Di mana urusan “keharusan bisa memasak” hanya menjadi sebuah pilihan tanpa harus terbebani di dalamnya.

Jakarta, 12 Juni 2014

Daily Recipes

Sup Sosis Ayam

Menu Sup Sosis Ayam ini mudah untuk dibuat dan tidak membutuhkan waktu lama. Simpel, praktis, dan yang pasti menyegarkan. Hehehe. Yuk kita mulai, khalayak ramai! (Dodit style mode on, lagi dan lagi, :p)

 

Bahan-Bahan :
– 6 batang wortel ukuran sedang (bukan yang besar-besar).
– ¼ bagian kubis (kol) ukuran besar.
– 1 buah kentang ukuran sedang (seukuran genggaman tangan perempuan dewasa).
– Air dengan ukuran 2 – 3 mangkok sedang.
– 5 – 6 sosis ayam (sesuai selera). Saya biasanya memakai merk Champ (harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan merk sosis lainnya di supermarket).
– 2 sendok makan makaroni mentah.
– 5 siung bawang putih.
– 10 siung bawang merah (atau sesuai selera).
– ¼ sendok teh merica bubuk.
– Garam secukupnya.
– Gula secukupnya.
– Royco rasa ayam. (optional, pilihan, boleh pakai boleh tidak, sesuais selera).

bumbu serbuk

Persiapan Bumbu Serbuk

 

Persiapan Sayuran :
1. Wortel dipotong-potong sesuai diameter, lingkaran-lingkaran kecil.
2. Kubis (kol) dipotong persegi-persegi kecil (kira-kira ukuran 4 x 5 cm) sesuai kuntumnya.
3. Kentang diiris-iris kubus, dengan ukuran sisi + 2 cm.
4. Kupas sosis ayam dari plastiknya, kemudian dipotong-potong serong.

bahan

Bahan Sayuran

 

Persiapan Bumbu :
1. Uleg bawang putih hingga halus.
2. Cincang (iris tipis-tipis) bawang merah. (tidak untuk di-uleg)
3. Panaskan minyak/margarin menggunakan wajan atau teflon, kemudian tumis hasil ulegan bawang putih, hingga harum, kemudian angkat.

bawang putih

Persiapan Bumbu Bawang Putih

 

4. Goreng irisan-irisan bawang merah hingga matang sampai kering, kemudian angkat.

bawang merah

Persiapan Bumbu Bawang Merah

bawang

Bumbu Bawang Putih & Bawang Merah yang Telah Ditumis & Digoreng

 

Cara Membuat :
1. Siapkan panci.
2. Masukkan air ke dalam panci.
3. Yang pertama, masukkan kentang ke dalam panci dan rebus hingga setengah empuk.

panci

Rebus Kentang yang Pertama

4. Kemudian masukkan makaroni mentah, potongan-potongan wortel, kubis, dan sosis ayam.
5. Masukkan tumisan bawang putih yang telah halus sebelumnya.
6. Masukkan bawang goreng.
7. Masukkan merica bubuk.
8. Tambahkan garam secukupnya dan gula secukupnya, hingga terasa gurih dan pas di lidah. (penambahan optional Royco rasa ayam).
9. Aduk-aduk hingga rata dan matang semuanya.
10. Siap disajikan. Hangat lebih baik.

Sup Sosis Ayam

Sup Sosis Ayam

 

Gimana khalayak ramai? Tertarik untuk mencoba?

\(^-^)/

 

Jakarta, 7 Juni 2014

Daily Recipes

Orak Arik Buncis – Wortel – Kecambah

Membuat menu Orak-Arik ini tergolong cukup mudah di dalam pembuatannya. Cepat, praktis, dan tidak membutuhkan waktu lama. Yuk kita mulai!

Bahan-Bahan :
– 2 batang wortel ukuran besar.
+ 100 gram buncis ukuran diameter kecil. (kira-kira 1 genggam tangan).
+ 100 gram kecambah. (kira-kira 1 genggam tangan).
– 4 siung bawang putih.
– 2 butir telur ayam.
– Garam secukupnya.
– Gula pasir secukupnya.
– Minyak / margarin secukupnya (sedikit saja, tidak usah banyak-banyak).
– Royco (bebas mau pakai atau tidak, sesuai selera, karena gula-garam juga sudah cukup bila pas takaran)

Cara Membuat :
1. Wortel dipotong korek api + 3 cm. (lebih mudah diiris sesuai diameter lingkaran, baru kemudian lingkaran-lingkaran wortel tersebut diiris tipis-tipis korek api).
2. Buncis dipotong serong (miring) dengan panjang ukuran + 3 cm.

bahan

Persiapan Bahan Sayuran

3. Tumis bawang putih hingga harum, kemudian angkat.
4. Uleg bawang putih hingga halus.

bumbu

Persiapan Bawang Putih

5. Panaskan minyak/margarin di atas wajan.
6. Masukkan hasil ulegan bawang putih ke dalam wajan.
7. Masukkan potongan-potongan wortel dan buncis ke dalam wajan.
8. Masukkan kecambah dalam wajan.
9. Masukkan 2 butir telur (kecilkan api) ke dalam wajan. Jangan langsung diaduk-aduk dengan sayuran, namun diorak-arik terlebih dahulu pada bagian yang kosong dari permukaan wajan (di samping sayuran).
10. Setelah telur sudah agak mengental, campurkan dengan sayuran. Aduk-aduk hingga rata.
11. Tambahkan gula dan garam secukupnya hingga rasanya pas di lidah.
12. Aduk-aduk terus hingga matang.
13. Sajikan hangat.

SAM_2546

Orak Arik Buncis – Wortel – Kecambah

Bagaimana kerabat? (Dodit style mode on)
Monggo dijajal (dicoba) di rumah masing-masing ya! Hehehe.

🙂

 

Jakarta, 7 Juni 2014

Culinary

Kampoeng Tempo Doeloe 2014

Selama periode waktu tanggal 9 Mei – 1 Juni 2014, bagi pecinta fashion dan kuliner, di Jakarta berlangsung Jakarta Food and Fashion Festival (JFFF) 2014. Perhelatan ini diselenggarakan pada area La Piazza dan Mal Kelapa Gading Jakarta Utara.  Namun, saya hanya ingin menulis tentang food festival-nya saja. Dan mengingat hal ini merupakan pengalaman saya untuk pertama kalinya menghadiri festival tersebut.

Namanya adalah Kampoeng Tempo Doeloe (KTD). Sampai tulisan ini dimuat, saya sudah mengunjungi KTD sebanyak 3 kali. Pertama kali mengunjungi KTD, saya menemani rekan sekantor yang sudah sangat ingin sekali mengunjungi KTD, akan tetapi belum sempat menentukan waktu yang paling tepat, namanya Bani. Dan untuk kedua kalinya bersama dengan suami. Itu pun tidak sengaja karena saat itu kami baru saja selesai menonton Film X-Men: Days of Future Past di MKG 3 dan perut terasa keroncongan minta untuk segera diisi, lalu teringatlah saya dengan JFFF 2014 ini. Kemudian untuk ketiga kalinya, kembali bersama dengan suami, memang sengaja datang ke KTD untuk sekedar meluluskan keinginan makan siang di luar rumah.

Konsep KTD sangat menarik dan bernuansa tradisional Betawi yang kental, dengan dilatar-belakangi iring-iringan musik khas Betawi. Tema yang diangkat untuk KTD 2014 ini adalah mengusung tema tampilan “Pasar Gambir” pada era jadul.  Di dalam area “warung”, terdapat panggung hiburan yang tidak terlalu luas, yang sesekali diisi dengan para komedian dan artis-artis Betawi. Sebagai informasi, untuk memasuki kawasan KTD 2014, diharuskan bagi setiap pengunjung untuk memiliki Kartu Pra-Bayar Kampoeng Tempo Doeloe 2014 sebagai media utama transaksi pembayaran setiap makanan yang ingin dibeli.

 

SAM_2449

Kartu Kampoeng Tempo Doeloe 2014 (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Gate "Pasar Gambir" Siang Hari

Gate “Pasar Gambir” pada Siang Hari (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

 

Beberapa makanan disajikan dalam festival tersebut. Dimulai dari nasi, lontong, pempek, mie, dan beberapa  makanan dan minuman khas daerah lainnya. Yang menarik adalah, saya menemukan jajanan khas jaman SD, yaitu Sate Telur Gulung dan Gulali Merah-Ijo yang Berbentuk Bangau dengan Batang Sate. Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, antrian Warung Telur ini cukup panjang. Saya pun ikut mencoba dengan biaya Rp 12.000,-/4 tusuk telur. Seketika bayangan kala SD berkelebat dan muncul dalam benak saya.

Sebelum menyantap Sate Telur Gulung, saya dan Bani menjajal menu Bakmi Godhog Djowo khas Yogyakarta. Kembali, seperti yang sudah diduga sebelumnya, antrian cukup panjang untuk Warung Bakmi Djowo tersebut. Walaupun kami menunggu sampai setengah jam kurang-lebih, akhirnya kami berdua pun dapat menikmati sajian Bakmi Godhog yang gurih dan menghangatkan badan. Biaya per porsi untuk Bakmi Godhog tersebut adalah Rp 25.000,-.

 

Bakmi Djowo

Bakmi Djowo khas Yogyakarta (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

 

Di dalam kesempatan yang kedua kalinya, saya mengunjungi KTD 2014 bersama dengan suami. Kali ini saya ingin mencoba menu berbeda. Dan pilihan pun jatuh pada Nasi Bebek Hainan. Beruntungnya kami saat itu, walau jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB, masih terdapat porsi yang cukup banyak. Untuk menikmati Nasi Bebek Hainan ini, harus mengeluarkan uang sebesar Rp 38.000,- per porsi. Ya memang, cukup mahal. Akan tetapi dengan harga sekian, rasa dari nasi tersebut terbilang enak dan sangat lezat! Worthed lah… dibandingkan dengan Nasi Bebek Hainan dalam restoran-restoran mahal Jakarta. 😀

Menu kedua yang saya pilih ternyata kembali pada Sate Telur Gulung. Menu ini memang eye-catching bagi saya. Dan walau sebenarnya saya dapat membuat sendiri di rumah. 😀

 

Bebek Hainan

Bebek Hainan & Sate Telur Gulung (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Dalam kesempatan yang ketiga, saya kembali pergi dengan suami. Bedanya kali ini pada siang hari, karena mumpung hari libur. Siang itu cukup terik dan akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menu Sop Buah Cipaganti (jauh-jauh ke Jakarta, ketemunya Cipaganti lagi, Cipaganti lagi, :D) seharga Rp 15.000,-. Brrr…dinginnya maknyus! :9

Saya  juga mencoba menu Es Susu Sapi Segar. Bentuk penyajiannya berupa milkshake. Harga dari menu ini adalah Rp 8.000,- saja. Setelah itu, untuk menu makan siangnya kami memutuskan menu Nasi Gudheg Komplit lengkap dengan Telur dan Ayam Kremes-nya. Yaaa…kembali, cukup mahal. Karena untuk menu yang satu ini, harga per porsi adalah Rp 32.000,-.

 

SAM_2513

Es Susu Sapi Segar (sumber: Dokumentasi Pribadi)

SAM_2517

Nasi Gudheg Komplit Telur & Ayam Kremes (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

 

Yak. Pengalaman mengunjungi festival makanan ini memang yang pertama untuk saya sebagai pendatang baru di Ibukota. Rasanya memang menyenangkan bila dapat menikmati aneka jenis makanan yang berada hanya dalam satu tempat saja, seperti dalam pameran tersebut. Memang, bila dilirik dari segi harganya, tidak kesemua harga dari kesemua jenis makanan tersebut tergolong murah. Namun dari segi penyajian dan tempatnya, dapat dikatakan tergolong bersih sehingga memberikan kenyaman tersendiri bagi para pengunjung.

 

SAM_2269

Bani di Tengah-Tengah Ramainya Suasana Malam Hari KTD 2014 (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Gate "Pasar Gambir" Malam Hari

Suasana “Pasar Gambir” KTD 2014 pada Malam Hari (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

SAM_2511Kincir-Kincir Hiburan khas Pasar Malam (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Nah, sekian pengalaman kuliner pertama saya pada salah satu Festival Makanan di Jakarta. Sampai berjumpa lagi pada JFFF tahun depan! 🙂

 

 

Jakarta, 4 Juni 2014