English Test Preparation (1)

So this is it.

The moment when suddenly I want to explore my english skill again and again by monologue-ing and writing here.

Now it’s becoming an obsession to get much higher score of my TOEFL or IELTS later. It started actually at the end of last year. I remembered about my expired TOEFL prediction-test result, so I decided to start again to study. But because of my new job had just began, so I didn’t make it fast in time.

Actually I had a plan to take a TOEFL Test in this early year which were could be in January or February. But you can guess, I wasn’t in good performance so that’s why I postponed it. Haha. I hope I will ready this middle of the year.

image

I’m trying to keep reading english articles, watching western serials, english news, finishing my english novels, and even keeping update events on Quora day by day. That platform I mentioned in previous sentence is similar with other social medias but on Quora you can find any topics or updated events while increasing your english skill without any fear of lagging the informations or update moments or events which is happening or recently happened. Instead of facing bullsh*ts on mainstream social medias like facebook, path, instagram, and twitter everyday, it’s better to move on with something new and certainly will make you smarter.

(well actually it is not a generalize, we’re still can find good/positive things on that mainstream social medias, but related to what happened recently which always be that political things again and again, racism, fanaticism, etc, sometimes better to switch to another platforms for your entertainment)

I have some english materials too for supporting me learning the english. Lucky me, I have both IELTS and TOEFL materials freely. One is I got from a friend who got it by downloading from the internet which you can imagine how big the file size is where you have to provide the best internet connection to download it, and the other one is I got from a free educational workshop that held by one of candidate of the IA-ITB election participant in last February.

Through these months since I decided to start studying again, I’ve experienced things related to “increasing english skill”, such as took a TOEFL prediction test, took an english test on jobstreet website, and the last one is I came to an interview at foreign company where of course I needed english to do it although I didn’t past it in the end, haha. But for me, that interview was the very incredible experience I’ve ever had since graduated from college at least for me as an ordinary student who’s not as smart as others, haha. And for the results of both tests, guess what, my scores have increased! Both of them! At least since 2014, the last year I’ve taken those tests.

Talking about the free workshop that I mentioned in previous passage, lucky us who came to the event, there’s also a simulation of an IELTS test by the IDP Education, a kind of an educational organisation based in Australia that help international students to find best universities for them who want to study abroad, including organize the IELTS test. Honestly, that was my first experience knowing what the IELTS test form is. But I don’t think I’m late, at least now I can manage my self to fulfill the best scores both for IELTS and TOEFL.

Wish me luck then. 🙂

– – – – –

Matraman, 10.04.2016

Advertisements

6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016

Sayur Bobor Daun Singkong

Lama ya rasanya tidak menulis terkait resep-resep harian. Haha. Makin lama muncul juga rasa malas untuk mengetik tentang masakan. Kadang-kadang sudah rempong di dapur, agak-agak ribet jikalau harus bergantian tangan ini untuk bergantian memegang alat dapur dengan kamera. Hahaha. 😀

Baiklah. Kali ini saya ingin menulis resep sayur bobor daun singkong favorit.

Yuk gan. 🙂

 

Bahan-Bahan:

  1. Seikat daun singkong. (biasanya kalau belanja di pasar maupun supermarket sudah dalam bentuk ikat per ikat)
  2. Kencur 1 jari jempol kurang-lebih.
  3. Santan Kara 1 buah saja. (saya tidak memarut sendiri atau membuat santan sendiri dari parutan kelapa, hehehe, ketahuan deh malasnya, 😀 )
  4. Bawang merah 5 butir. (atau sesuai selera)
  5. Bawang putih 5 butir. (atau sesuai selera)
  6. Gula.
  7. Garam.

Tahap Membuat Sayur:

  1. Petik satu per satu daun singkong dari tangkainya.
  2. Bersihkan, kemudian masak daunnya saja kurang-lebih 30 menit.
  3. Sambil menunggu matang atau empuk daunnya, mari kita siapkan bumbu-bumbunya.
  4. Kupas kencur, bersihkan, kemudian digeprek atau di-penyet.
  5. Kupas bawang merah kemudian iris-iris.
  6. Kupas bawang putih kemudian iris-iris.
  7. Setelah kurang lebih 30 menit, angkat dan saring daun singkong yang sudah matang tadi. Ingat, di-saring kemudian ganti air matang yang baru (bisa dari dispenser atau memasak baru, yaiyalah gan, hehe).
  8. Masukkan semua bumbu. Masukkan santan Kara, masukkan kencur, dan irisan-irisan bawang merah dan putih tadi.
  9. Tambahkan gula dan garam secukupnya atau sesuai selera.
  10. Masak lagi kurang-lebih 15 menit.
  11. Sajikan hangat.

Bobor Kangkung

Nah, mudah bukan? Mangga dicoba. Selamat makan! 🙂

 

Jagung Manis Pedas + Bawang Bombay + Telur Orak-Arik

Menu ini dapat dijadikan sebagai simple breakfast jika sedang terburu-buru. Atau bisa juga sebagai snack ketika lapar datang dengan sangat tiba-tiba alias mendadak, misalnya seperti di tengah malam buta. Tapi ingat, hati-hati kalori, hehehe.

Yuk mari diintip sejenak resep jagung manis pedas dengan topping telur orak-arik.  🙂

 

Bahan:

  1. Jagung manis 1 batang.
  2. Telur 1 butir.
  3. Bawang bombay 1/2 badan.

Bumbu:

  1. Madu 3 sdm.
  2. Sambal Bangkok 2 sdm. (atau sesuai selera)

Tahap Membuat Jagung Manis:

  1. Lepaskan butir-butir jagung dari tongkol-nya.
  2. Kupas bawang bombay kemudian iris-iris.
  3. Siapkan wajan.
  4. Panaskan wajan dan margarin.
  5. Masukkan butir-butir jagung tadi ke dalam wajan panas.
  6. Masukkan irisan bawang bombay.
  7. Masukkan madu dan saos sambal Bangkok-nya.
  8. Oseng-oseng-oseng sampai jagungnya empuk.
  9. Jadi deh. Angkat dan tiriskan dalam mangkok kecil.
Jagung Manis

Jagung Manis Pedas

Tahap Membuat Telur Orak-Arik:

  1. Kembali siapkan wajan dan panaskan beserta margarinnya.
  2. Goreng telur dengan diorak-orik hingga mengental dan matang.
  3. Angkat dan tambahkan ke atas mangkok jagung manis yang sudah jadi tadi.
  4. Hidangkan hangat-hangat.
Jagung Manis Telur Orak-Arik

Jagung Manis Pedas Telur Orak-Arik

 

Simpel bukan? Semua proses hanya butuh waktu maksimal 30 menit saja. Selamat mencoba. 🙂

 

*nb: jika hanya ingin menikmati jagung manis pedas-nya saja juga sudah sangat enak kok, hehehe, tanpa harus ditambah topping telur orak-ariknya. 😉