Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

 

Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan cantik milik  Mbak Dian  dan saat itu juga entah mengapa hati saya semakin plong se-plong-plongnya. Tanpa beban! Seolah seperti whuzzz… diterpa angin dan hilang begitu saja. Haha! Terima kasih untuk teman-teman facebook yang sudah men-share link tersebut yang pada akhirnya bisa muncul juga di halaman news feed saya. Terima kasih ya! 😀

 

Tulisan Mbak Dian tersebut benar-benar mencerahkan pikiran dan membuka mata saya semakin lebar. Terutama saat membaca ayat-ayat Allah yang Mbak Dian cantumkan juga di dalam tulisan Beliau, di mana membuat hati semakin tenang dan membuat saya semakin enjoy dalam menjalani kehidupan. Mengapa saya? Karena diantara saya dan suami, hanya saya saja yang terlalu banyak berpikir tidak-tidak dan khawatir ini-itu yang padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Haha. 😀

 

Syukur alhamdulillah memang, saya memiliki pasangan hidup yang pembawaannya selalu bisa tenang dalam situasi dan kondisi apapun, sekalipun itu dalam kondisi sepanik-paniknya. Itulah mengapa saya selalu heboh dan panik sendiri terutama pada saat sedang merasa kepepet atau panik yang sesungguhnya nggak penting. (Biasanya terjadi pada saat merasa takut ketinggalan pesawat, ketinggalan kereta, atau terlambat masuk studio bioskop. Terutama kalau jam-nya sudah “merasa” mepet dan kami masih di jalan. Dan ternyata sampai sekarang, kami alhamdulillah belum pernah terlambat dari hal-hal tersebut. Jadi intinya, memang tidak perlu panik kan? Haha. 😀 )

 

Berikut Ayat-Ayat Allah yang disebutkan Mbak Dian dalam tulisan cantiknya, yang terkandung dalam Q.S. As-Syura (42) : 49 – 50 beserta artinya.

quickmemo-_2015-08-24-01-07-02-1.png.png

quickmemo-_2015-08-24-01-07-18-1.png.png
– – – – –

 

Menikah kemudian memiliki momongan dengan segera.
Yep, seperti itulah culture kita “normally” as an Indonesian.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Indonesia dengan budaya ramah-tamah-nya, pasti tidak pernah luput dari fenomena “kepo” yang terkadang dibumbui banyak basa-basi, yang terkadang basa-basi ini diterjemahkan sebagai “perhatian”. Haha. (beuh, dalem)

 

Sebagai contoh, sebut saja Pasangan X, di mana posisinya sudah menikah selama 3 tahun, akan tetapi belum juga terlihat menggendong anak, atau setidaknya melihat perut si istri menggelembung lah ya, sudah pasti akan menjadi “sasaran empuk” bagi golongan “kepo-ers”. Terutama jika sedang berada dalam momen-momen kebersamaan seperti pada saat acara kumpul keluarga, entah saat sedang pengajian keluarga, arisan keluarga, wisata keluarga, saat-saat lebaran, atau bisa terjadi juga pada saat reuni sekolah bersama teman-teman. Sudah bisa ditebak apa itu? Yep, pertanyaan-pertanyaan tiada henti macam itu lah. Haha. Tau kan? 😀

 

Sebenarnya itu wajar sih…mengingat kita ini orang Indonesia yang katanya notabene “memang sudah bawaan orok” kalau kita ini senang beramah-tamah diantara sesama. Rasanya kurang afdhol bo, kalau lagi acara ketemuan malah diem-diem aja dan nggak tanya kabar ini-itu. Ya kan?

 

Nah, biasanya, yang menjadi masalah di sini adalah bagian si penerima pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada yang selow kayak di pantai, ada yang cuek pura-pura bego, ada yang mbolongin kuping tembus sepanjang kuping kanan sampai dengan kuping kiri alias masuk kuping kanan keluar kuping kiri, ada yang antusias heboh nggak karuan, ada yang mengaminkan secara tulus, ada yang buru-buru mengaminkan dengan segera (biar cepet beres obrolannya ceunah), ada yang cuma diam dan memberikan senyuman terbaik plus nyengir mamerin gigi putih cemerlangnya tapi sambil ngedumel dalem ati, dan berbagai respon yang mungkin terjadi.
Kalau saya? Wah, saya kurang tau termasuk tipe yang mana yah. Hahaha. Cuman mungkin lebih banyak selow-nya kali ya. Diaminkan saja to. Hahaha. (jyaaah pencitraan lo gan! :p)

 

Akan tetapi yang menjadi bahasan di sini adalah kita sebagai pihak si penerima pertanyaan saja, bukan pihak yang memberikan pertanyaan. Karena saya secara pribadi lebih banyak berpengalamannya sebagai si pihak penerima pertanyaan saja. Hahaha. Mengapa kita? Atau kamu? Iya… kamu… (Dodit style mode on, :p)

 

Hey girls, santai sajalah kita. Mungkin benar jika pertanyaan-pertanyaan mereka adalah bentuk “perhatian” dan “kasih sayang” yang sedang ditunjukkan kepada kita girls. Walau semisal suka terbersit pikiran buruk macam, “yaelah kepo banget sih, iye tau iye, anak lo banyak udah 2, 3, 4, dst,” maka buang jauh-jauh pikiran buruk macam itu. Sekalipun misal benar ada diantara mereka yang seperti itu (super kepo dan ingin ngerusuh), yasudah biarkan saja, karena itu adalah urusan mereka dengan Tuhannya. Yang perlu kita lakukan hanyalah positive thinking dan positive thinking terus selamanya dengan senyuman merekah setiap hari. (ceileh gan, tumben bijak, :p)

 

Tapi benar kan, tidak ada untungnya meratapi nasib yang sebenarnya tidak perlu diratapi dengan lebay. 😀

 

Kalau pesan suami saya seperti ini :
“Belum memiliki anak” itu CUMA satu perkara saja, iya, satu, S-A-T-U, satu! HANYA satu bo, satu! 😀
Dan bila mau membandingkan dengan hal-hal bahagia lain yang sudah saya dan suami lalui, jalani, nikmati, miliki, angka 1 (satu) tadi berbanding dengan banyak angka lho. Dan itupun KALAU memang mau memandang hal tanda kutip tadi sebagai sebuah masalah. Kalau tidak? Wuih, ternyata beneran hidup itu rasanya nggak ada beban sama sekali! Beneran. 😀

 

Coba deh temen-temen yang baca tulisan ini, nerapin buat “hal-hal lain” yang temen-temen rasa “hal-hal lain” tersebut adalah sebagai sebuah “masalah”, kemudian mengubah mindset bahwa “hal-hal lain” tersebut itu hanyalah “nothing”, CUMA satu (1), HANYA satu (1) dari sekian banyak hal yang udah bikin temen-temen bahagia hingga detik ini. Yakin deh, yang 1 (satu) itu akan ketutup sama banyak angka (banyak hal lain) dari momen-momen bahagia yang udah temen-temen lalui. Ya kan?

 

Kalau dalam kasus saya, saya benar-benar harus bisa serius belajar ikhlasnya, karena betul kan, ini semua ketetapan Tuhan, di mana kita sebagai manusia hanya dibatasi kemampuan dalam berusaha dan berdo’a. Ketika saya mengubah mindset di dalam menghadapi yang SATU itu, saya kembali bisa fokus kepada kehidupan saya. Semakin menikmati apa-apa saja yang sedang dijalani, semakin bisa bersyukur, semakin bisa memahami dan berusaha untuk selalu bijak terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dan semakin banyak direnungi, ternyata kenikmatan dunia yang sudah “mampir” ke saya itu buanyaaaaak sekali. Banyak! Termasuk masih hidup dan bernapas hingga detik ini sebagai seorang muslimah secara sadar, bukankah hal itu merupakan kenikmatan teramat luar biasa yang patut disyukuri?

 

Hingga suatu ketika di saat saya dan suami kontrol ke Dokter SpOG kami, Beliau tidak menangkap sinyal kekhawatiran pada wajah kami. Mungkin dalam pikiran Beliau, “ni anak tiap dateng cengangas-cengenges niat program nggak sih,” Hahaha. 😀 Sampai-sampai pada saat Beliau membaca rekaman medis berat badan kami jeda 1 minggu yang bertambah 3 kg, Beliau hanya bisa geleng-geleng kepala pasrah. (peace Dok, haha)

 

– – – – –

 

beautiful-heart

 

Mungkin ada beberapa hal yang membuat saya agak selow dengan “masalah” ini. (well, now i won’t mention it as a problem anymore) Karena apa? Karena salah satunya, saya ini sudah beruntung buanget lho akhirnya bisa menikah cepat dengan seseorang yang sudah saya idam-idamkan sejak lama. (iya bo, anak STEI (Sekolah Teknik Elektro & Informatika ya, bukan Sekolah Tinggi Ekonomi, :p), tinggi besar, pinter plus ganteng kayak bintang pelem India2-nya ANTV itu, gimana nggak bersyukur, :p – jyaaah pamer lo kumat lagi gan!) Masih beryukur dan beruntung akhirnya beneran “jadi” dengan Beliau suami saya. Teringat gimana dulu susah-nya menuju jalan ini (uhuks!). Iiish…ngebayanginnya aja kadang bikin sedih, tapi sekarang kalau diingat-ingat lagi, “kok bisa ya?”. Ya itulah. Kalau sudah jodoh ternyata betul nggak akan ke mana. Ya pada intinya, nggak semua orang seberuntung saya akhirnya bisa merasakan “menikah cepat”.

 

Kemudian melihat juga kawan-kawan sepantaran yang buanyak sekali yang melanjutkan sekolah lanjutan, entah di dalam negeri maupun di luar negeri. Terutama kawan-kawan yang melanjutkan sekolah ke luar negeri, membuat saya tidak terlalu merisaukan “masalah” yang sedang saya bahas pada tulisan ini. Luar negeri bo! Hampir tiap hari seliweran di social media saya postingan kawan-kawan ini. Ada yang di Amerika, Australia, Jepang, Norwegia, Belanda, Jerman, New Zealand, Spanyol, Inggris, China, Singapore, dll. (ternyata banyak juga ya, haha, 😀 ) Malah justru saya secara pribadi menjadi termotivasi. Apalagi baru saja adik sepupu (kakak sepupu, literally) kelar sarjana dan berangkat ke Jepang. Pikiran saya menjadi bertambah motivasi untuk hal lain, ketimbang memikirkan kapan ya “masalah” ini “berakhir”. Hahaha.

 

Kemudian lagi, melihat kawan-kawan sepantaran juga yang sedang meraih sukses di perusahaannya masing-masing, berkarya, berprestasi, dan bermanfaat untuk bangsa dan negara. Ditambah, sekalipun diantara kawan-kawan tersebut yang sudah menikah juga dan memiliki anak, mereka jaraaang sekali mengupdate tentang kehidupan anak-anak mereka, melainkan lebih banyak mengupdate prestasi dan karya mereka yang tentunya banyak juga bermanfaat bagi bangsa dan negara ini.

 

Jadi, itulah alasan-alasan mengapa saya masih agak selooow dan yeah, santai saja lah ya. Haha. 😀

 

Kalau Tuhan sudah Bertindak dan Berkata “YA”, maka jadilah! Jadi, tunggu saja dan sembari menunggu, mari bersenang-senang! Haha. 🙂

 

Dan saya teringat kisah Paman (Alm) dan Bibi dari pihak suami. Beliau berdua sudah ditakdirkan oleh Tuhan hingga pada usia dewasa seperti ini belum memiliki keturunan juga, sampai Paman wafat pun, Tuhan tidak juga menitipkan keturunan bagi Beliau berdua. Namun, jangan salah sangka dulu. Saya yakin Beliau berdua, terutama Bibi (Tante), pasti sudah mengalami masa-masa yang tentunya “sangat sulit” juga, terutama bila bertemu sanak saudara. Coba dibayangkan, betul tidak? Bagaimana beratnya hati, dan lain sebagainya.

 

Namun di sini, ada yang menarik.
Alhamdulillah Beliau berdua dititipi Tuhan harta yang terus mengalir berlimpah dan terus bertambah sepanjang hidup Beliau berdua. Walau demikian, Beliau berdua hampir sama sekali tidak pernah yang namanya absen untuk berbagi dan bersedekah. Tiap minggu! Bayangkan, seminggu sekali! Pengajian anak yatim, pengajian mushola, bagi-bagi nasi berkat (nasi lunch box), dan agenda-agenda lain yang terus bergantian.

 

Dan yang saya petik dari kisah Beliau berdua, kita benar-benar harus luruuus hati, tawakal seutuhnya atas segala ketetapan Tuhan yang sudah betul-betul memang harus kita alami. Bisa jadi hal yang secara kasat mata adalah sesuatu “yang tidak menyenangkan”, akan tetapi dari jalur tersebutlah ternyata Tuhan telah melipat-gandakan dan menyuburkan pahala-pahala bekal akhirat yang mungkin saja belum tentu akan demikian bila Beliau berdua dititipi keturunan.

 

Pada intinya, kita memang harus pandai-pandai bagaimana cara kita melihat “berkah” dan “potensi pahala” dari setiap detik hidup kita sekalipun itu terasa sulit dan berat. InsyaaAllah Janji Tuhan tidak akan pernah salah. Mungkin pesan berikutnya dari kisah Beliau berdua adalah, tidak perlu menunggu hadirnya anak-anak yang sholeh-sholehah untuk bisa mendapatkan tiket ke surga secara mudah. Karena memang pada intinya, kelak nasib kita di akhirat itu, porsi paaaling besar ya ditentukan oleh diri kita sendiri masing-masing selama kita hidup di dunia. 🙂

 

– – – – –

 

Berikutnya adalah……….hindari iri! Apalagi dengki, hindari! Hihihi. 😀

 

Sudah menjadi wajar lah ya, namanya orang, manusiawi, apalagi musim-musim banyak pengantin baru, beuh…angin yang bertiup dari segala penjuru itu rasanya seperti whuzzz-whuzzz kesana-kemari bagaikan badai tiada henti. (lebay! :p) Bagaimana tidak? Teman-teman yang “seangkatan” menikahnya dengan saya dan suami, mulai terlihat melahirkan anak-anak mereka satu per satu. Bahkan lebih berasanya lagi, “badai” yang datang dari teman-teman “angkatan berikutnya” yaitu teman-teman yang menikah sesudah saya dan suami, semakin banyak yang terlihat sudah melahirkan anak-anak mereka. “Lah terus, kapan donk giliran gue, Tuhan?” Kira-kira seperti itu kondisi kesalnya saya kepada Tuhan beberapa bulan lalu. Wkwkwk. So pathetic, wasn’t I?

 

Namun, apa jadinya kalau saya terus meratapi dan nggak move on-move on? Beuh, nggak kebayang deh macam mana saya jadinya sekarang ini. Mungkin bisa menjadi orang yang kurus kering kerontang dengan pandangan nanar seolah-olah tiada kehidupan asik lagi di dunia ini, atau lebih banyak melamun sehingga menyebabkan tidak fokus pada pekerjaan, tidak fokus pada keluarga yang menyayangi saya, dan tidak fokus pada teman-teman di sekeliling saya, atau kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya, na’udzubillahimindzalik… (lebay sih ah gan!)

 

Well, well. Setiap orang berhak atas kebahagiaannya masing-masing bukan. Dan memang rasa-rasanya tidak perlu iri maupun dengki atas kebahagiaan, keberhasilan, atau rizqi milik orang lain. Apalagi sampai merasa dengki, dan apalagi apabila menjauh sebagai teman. Ih, rasa-rasanya nggak banget deh ya.

 

Dan untuk saya pribadi, menurut saya, tidak perlu lah membenci seseorang hanya karena mellihat dia atau mereka nampak “lebih” di mata kita, apalagi dia atau mereka itu adalah kawan-kawan atau saudara sendiri. Please, nggak banget deh ya. Dan menurut saya juga, apabila sampai muncul rasa benci hanya karena hal-hal kelebihan yang dimiliki oleh orang lain justru akan membuat diri kita ini semakin tidak fokus dan tidak pandai bersyukur dengan apa-apa yang ada di hadapan kita sendiri. Kita semakin sibuk melihat orang lain dan berusaha mencari cara agar dapat “menyaingi” orang lain tersebut, dan malah menjadi tidak fokus pada kehidupan sendiri. Intinya, sia-sia.

 

Padahal menurut saya secara pribadi, dengan menghindari iri maupun dengki bisa membuka pintu rizqi semakin lebar dan mendatangkan rizqi yang banyak serta tidak diduga-duga. Ditambah hidup semakin dapat bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain. Syukur-syukur semakin dapat berkontribusi secara positif kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

 

Dan itu benar, banyak pengalaman dan kejadian yang saya rasa saya sudah mengalaminya.

 

Saya memberi contoh untuk kasus “masalah” yang sedang kita bahas dalam tulisan ini saja ya. Suatu ketika betul, saya sempat “minder” dan “rendah diri” dikarenakan hanya karena melihat makhluk kecil nan lucu milik orang lain, yang kemudian membuat saya kepikiran dan membuat gerombolan syaitan menanamkan rasa benci akibat iri karena melihat makhluk kecil lucu nan tidak berdosa itu. Semakin hari kebencian saya semakin menjadi dengan merapal beberapa pembenaran yang saya buat-buat secara pribadi. Namun beruntungnya, belum sempat kebencian itu memuncak, saya kembali sadar. Sepanjang masa itu, perlahan-lahan, suami saya semakin mengarahkan hati serta pikiran saya supaya “back to normal”.

 

Dan sampailah pada saat saya memutuskan untuk tidak merasa iri lagi dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Tuhan. Hati semakin plong dan membuat saya semakin enjoy di dalam mengarungi kehidupan ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, seolah-olah setelah “lepas” dari perasaan penuh dosa tersebut, saya diberi Tuhan rizqi yang semakin berlimbah, semakin banyak, dan datangnya banyak yang tidak diduga-duga. Sebagai contoh yang paling mengagetkan yaitu, rizqi pekerjaan yang datang secara tiba-tiba, tidak diduga-duga, di mana pekerjaan ini sesuai dengan bidang saya dengan tentunya salary yang lumayan, hahaha. (masalah gaji, cuma bonus ya, bukan patokan, :p)

 

Dan maaaaasih banyak lagi kejadian menyenangkan lainnya yang terjadi secara tiba-tiba setelah saya menurunkan kadar iri (khususnya ke-benda-an) terhadap orang lain, serta memahami bahwa porsi rizqi tiap orang itu memang berbeda. Dan yang pasti selalu ada maksud mengapa Tuhan memberikan rizqi si A sekian, si B sekian, si C sekian, dst yang sebetulnya kita yang “melihat” tidak pernah tahu kan latar belakang dan kebutuhan mereka seperti apa.

 

Ya…pada intinya.
Semakin seseorang iri maupun dengki dengan apa yang dipunya atau dimiliki oleh orang lain, maka akan semakin dapat menutup pintu-pintu rizqi miliknya yang sebetulnya bisa dibuka kapan saja dengan leluasa tanpa halangan. Yah…kira-kira begitulah mekanisme kerja syaitan di dunia ini. Yang padahal, dengan semakin kita pandai bersyukur, maka rizqi dan nikmat Tuhan akan semakin banyak diberikan kepada kita. Memang benar harus banyak-banyak berdo’a dan memohon perlindungan Tuhan selama masih hidup di dunia.

 

Q. S. Ibrahim : 7

Q. S. Ibrahim : 7

 

– – – – –

 

Jadi, saya rasa sudah jelas kan bagaimana Tuhan Mengatur setiap kehidupan yang ada di dunia ini. Dan rejeki itu memang Hanya Allah Yang Mahatahu, tidak akan salah, dan tidak akan pernah tertukar antara satu individu dengan individu lain, selama kita sebagai makhluk selalu berusaha dan berdoa secara maksimal. Saya selalu yakin Allah Sudah Menyiapkan sesuatu yang saaaaangat indah bagi saya dan suami kelak di kemudian hari. Entah apa itu yang tentu saja kami belum tahu. 🙂

 

Terakhir. Jujur saja, saya suka iri kepada teman-teman yang pintar-pintar. Kok bisaaa ya teman-teman tuh gampang banget masuk sana-sini, bikin ini-itu, dll. Haha. 😀 Tapi dalam hal ini, “iri” yang demikian, “iri” yang seperti ini, yang kemudian saya terjemahkan sebagai “motivasi” untuk dapat terus mengembangkan dan menggali potensi diri. Dan baiknya memang setiap rasa “iri” yang sempat mampir dalam hati kita, akan jauh lebih baik bila diterjemahkan sebagai sebuah “motivasi” membangun diri agar kita dapat menjadi pribadi yang jauh lebih baik serta agar bisa semakin mengembangkan potensi diri kita masing-masing sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. 🙂

 

– – – – –

4 Januari 2016 

( eeeh tulisan perdana di tahun 2016! 😀 )

Advertisements

2 thoughts on “Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

  1. Nana says:

    Thx bgt mb.. ini gw bgt ngerasain.. pernikahan mau menginjak 2th alhamdulillah di kasih tau rasanya hamil.. usia kandungan 3 bulan eh Allah berkehendak lain.. mungkin dirasa saya belum pantas.. shgga Dia mengambil kembali amanah itu.. (keguguran) setahun berlalu artinya ud 3th nikah.. gw blm jg hamil.. suami msh selow.. ortu dan mertua alhamdulillah ga nyinyirin kami.. tetap mereka mendoakan.. tp pas lebaran kmren.. adalah kerabat.. tetangga.. yg lama tak jumpa.. dtg dg berbagai pertanyaan.. *km belom hamil juga na.. lama juga ya.. km belom hamil2.. ud periksa dokter belom..trs gmn ada masalah..eh km begini.. km begitu..*
    ya ampun.. bukankah ank itu hak mutlak allah..
    Klo km bilang km selow.. jujur awalnya aku selow.. suami jg.. tp dr sekian banyak omongan org agak risih jg d kuping yg kadang jd nya gw sok senyum dan minta di doain tp dlm hati msh suka ngedumel.. hhmm.. pasrah deh sm Gusti Allah.. krn memang anak afl hak mutlak allah.. smga saatnya akan tiba.. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s