AMG, Culinary, Curhat Terbuka, Entertainment, Hobby, Review Hotel, Travelling

Mengungsi – Review Fave Hotel Melawai (Lagi!)

Hai hai hai internet!

Akhir-akhir ini saya sedang saaangat malas sekali untuk membuat tulisan. Ada apa ya gerangan? Padahal tidak berat, cukup 1 kali saja dalam 1 minggu untuk “menyetorkan” sebuah cerita pada blog pribadi. Yeah, itulah ketentuan wajib yang harus dipatuhi jika ingin dapat terus bertahan dan mengikuti komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti.

Baiklah, berhubung sudah sangat mepet dengan waktu setoran, di mana ini saya mulai menulis tepat pukul 22.45 WIB di hari Minggu tanggal 4 Maret 2018, dalam arti sudah tinggal 1 jam lagi menuju batas waktu penyetoran, maka saya putuskan untuk bercerita singkat mengenai kegiatan weekend 3 – 4 Maret 2018 ini ngapain aja dan ke mana aja. Yuk, cekidot gan!

 

– – –

 

Berawal dari Sabtu pagi 3 Maret 2018 waktu subuh. Air mati! Dan lupa untuk menampung air dari Jumat sorenya. Duh!

(Entahlah mulai mati sejak kapan, bisa jadi sudah sejak Jumat malam air mati, mengingat saat Jumat sore air masih menyala. -_-” )

 

Hari semakin siang. Pikiran pun mulai panik. Karena sampai waktu Zuhur, air tak kunjung menyala juga. Waduh!

Akhirnya sekitar pukul 11 siang, saya dan pasangan secara random bergegas packing untuk bersiap-siap berangkat ke Masjid Besar Pondok Pinang demi menunaikan rutinitas mandi yang seharusnya sudah dilakukan sejak beberapa jam sebelumnya. Jadilah kami berdua pun berangkat dengan cueknya. Untunglah memang di Masjid Besar tersebut memang diperbolehkan untuk mandi bagi masyarakat umum di sekitar secara cuma-cuma.

 

– – –

 

Perkara mandi pagi pun dapat terlaksana dengan baik, namun masih berharap-harap cemas apa yang akan terjadi kemudian. Usai mandi dan sholat Zuhur, pasangan pun kembali menelepon CS Palyja (perusahaan swasta air minum yang menyuplai air bersih di area rumah kami). Jawaban yang didapat masih sama dengan jawaban saat beberapa jam sebelumnya, nihil, belum tau penyebab pastinya kenapa air mati. What???

Akhirnya kembali, dengan super random-nya, saya pun mengajak pasangan untuk check in di hotel dengan asumsi pikiran positif kalau di hari Minggu siangnya air sudah akan menyala. Mengingat, sebenarnya kejadian air mati seperti ini sudah pernah terjadi di beberapa waktu sebelumnya di mana kejadian juga sama-sama terjadi di weekend. Kebetulan masa-masa itu memang saya dan pasangan pas sedang bepergian keluar kota dan baru kembali lagi ke rumah di Senin paginya, di mana tentu saja air sudah menyala kembali. Biasanya kami tau kondisi demikian saat di Sabtu pagi sebelum berangkat, saya mengecek kalau air memang benar-benar mati.

Berkat kerandoman kami di Sabtu siang tersebut, kami pun menuju ke area Blok M Square dan melihat-lihat hotel sekitar yang ada, dan pilihan pun jatuh pada Fave Hotel Melawai.

 

– – –

 

Saya pernah menginap di hotel tersebut saat weekend beberapa waktu lalu bersama dengan teman perempuan saya. Saat itu, kebetulan pasangan memang sedang ada acara di luar kota, tepatnya di Kalimantan. Saat itu memang saya juga sedang padat-padatnya pekerjaan sehingga tidak dapat mengambil cuti di hari Jumat-nya seperti yang pasangan lakukan. Pengalaman menginap pada hotel tersebut juga pernah saya tulis dalam blog ini (klik link berikut).

Check In Sabtu Siang 3 Maret 2018

 

Nah, pada kesempatan weekend kali ini, saya menikmati hotel tersebut bersama dengan pasangan dan dengan kondisi lebih menyenangkan. Mengingat saat pengalaman sebelumnya di mana saya tidak mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel, dengan alasan jenis kamar yang saya pesan sudah habis tidak ada stok lagi yang menghadap depan, yang padahal saya saat itu sangat mengharapkan untuk bisa mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel, yang mana pada akhirnya saya mendapatkan kamar dengan view bagian dalam hotel, alias dalam gedung. Hiks. Namun, hari Sabtu kemarin ini, kami mendapatkan kamar dengan view bagian depan hotel walau kami hitungannya terlambat untuk check in dan belum melakukan booking sebelumnya.

Dan berikut ini merupakan penampakan kamar kami di lantai 5.

Penampakan Kamar Standard

 

Penampakan Kamar Standard

 

Seperti yang sudah saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa Fave Hotel Melawai ini berhadapan langsung dengan mall Blok M Square, bahkan berseberangan langsung dengan salah satu pintu masuk mall, yaitu Pintu UG Mutiara 2.

Bagian Depan Hotel yang Berhadapan Langsung dengan Mall Blok M Square

 

Bagian Mall Blok M Square yang Berhadapan Langsung dengan Fave Hotel Melawai

 

Bagian Mall Blok M Square yang Berhadapan Langsung dengan Fave Hotel Melawai

 

Berhubung memang tujuan utama menginap di hotel adalah karena air mati (saya sedang sangat membutuhkan air untuk bolak-balik kamar mandi) dan memang saya sedang butuh untuk beristirahat, jadilah sesorean tersebut hingga waktu Maghrib, saya hanya tidur-tiduran saja di kamar hotel. Sementara pasangan memang sedang ingin sekali ke Balai Kartini di mana memang di tempat tersebut sedang ada acara pameran yang ditunggu-tunggu.

Di malam harinya, saya dan pasangan memutuskan untuk malam mingguan dengan menikmati menonton film di bioskop (lagi-lagi ke bioskop, hehe) untuk melihat Bruce Willis di film terbarunya berjudul Death Wish. Usai menonton film sekitar pukul setengah 10 malam, kami melanjutkan dengan kegiatan kuliner untuk makan malam kami di area pujasera lesehan terbesar yang selalu diselenggarakan di tiap harinya di salah satu sisi Blok M Square, di mana sisi tersebut berada di depan hotel kami. Yeay!

Kuliner Lesehan di Salah Satu Sisi Mall Blok M Square di Malam Hari

 

Usai makan malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

 

– – –

 

Hari Minggu pagi dimulai dengan sholat Subuh. Kami terbangun secara alami oleh suara azan Subuh di mana suara azan tersebut sangat dekat sekali terdengar dari kamar hotel kami. Mengingat memang, Masjid Raya Blok M Square memang terletak pada sisi yang berdekatan dengan sisi area hotel kami. Syahdu! :’)

Pagi hari itu kami sarapan di dalam hotel. Beruntungnya saat kami sarapan, belum banyak pengunjung hotel lain yang datang, karena kami datang ke area restoran juga termasuk yang paling awal, sekitar pukul 7 pagi.

Suasana Restoran Hotel di Pagi Hari yang Masih Sepi

 

Sarapan Spaghetti Aglio Olio

 

Setelah sarapan kami kembali ke kamar untuk berisitirahat menuju waktu check out hotel.

 

– – –

 

Overall, pengalaman menginap di Fave Hotel Melawai – Blok M ini bagi saya terasa sangat menyenangkan. Karena mungkin faktor yang saaangat dekat sekali dengan pusat kuliner dan perbelanjaan. Ke mini market pun juga sangat dekat. Lokasinya super strategis dengan harga yang dapat dikatakan relatif murah, sekitar 450.000++/malam.

Hotel ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang memang berencana untuk weekend escape sejenak dari rutinitas harian yang sudah sangat melelahkan.

So, selamat berlibur! 🙂

 

– – –

 

Lalu bagaimana kelanjutan cerita air mati di awal tulisan ini? Yep, apesnya, sesampainya di rumah di minggu sore harinya, air belum juga menyala. Aaaaargh! -_-“

 

Pondok Pinang, 4 Maret 2018, 23.49 WIB

 

 

 

Advertisements
Curhat Terbuka, Family & Friends, Hobby, Life, Travelling

Kenapa Jakarta?

“Kenapa Jakarta?”

Begitulah pertanyaan yang sering aku dengar dan aku dapat dari kerabatku.

 

Jakarta. Sebuah kota penuh impian. Sebuah kota yang kata banyak orang, adalah tempat di mana mimpi-mimpi untuk kehidupan dapat dimulai. Setidaknya, aku juga merasakan hal yang sama tentang perasaan itu terhadap Jakarta.

– – –

Monumen Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (Source: http://www.instagram.com/mrs.ganis)

 

1. UMR Tertinggi di Indonesia

Dapat dikatakan, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, Provinsi DKI Jakarta menduduki peringkat pertama sebagai daerah dengan UMR tertinggi di Indonesia. Untuk tahun 2018 ini saja UMR Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp 3.648.035,-.

Mungkin, ya mungkin, itulah salah satu alasan “Kenapa Jakarta?” ya karena hal tersebut di atas.

Oleh karenanya, Jakarta menjadi “surga” bagi para pejuang nafkah demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk kelangsungan hidup yang lebih baik.

 

2. Teman-Teman SMA dan Kuliah 

Berjalannya waktu, aku pun ditakdirkan Tuhan untuk dapat mengenyam pendidikan tingkat SMA di Kota Bandung. Aku memang bukan asli Jawa Barat dan Jakarta, melainkan asli Jawa Tengah.

Entah bagaimana cerita, setelah lulus dari SMP, kemudian karena cita-cita yang gagal untuk dapat masuk ke sebuah SMA Swasta ternama di Kota Magelang, dan berkat ketidak-sengajaan kedua orang tuaku yang saat itu sedang ada acara gathering kantor Ayahku di Kota Bandung, yang membuat mereka bertemu dengan rombongan senior almamaterku yang sedang melaksanakan Pesiar Hari Minggu, jadilah aku pun dapat meneruskan jenjang pendidikan SMA ke sekolah yang mirip  dengan sekolah impianku dulu di Kota Magelang.

Selepas masa SMA, lagi-lagi Tuhan Menakdirkanku untuk meneruskan pendidikan di Kota Bandung. Walau pengalaman 3 tahun berasrama sesungguhnya membuatku homesick dan selalu ingin kembali ke Jawa Tengah agar dekat dengan kedua orang tuaku, namun tetap, Tuhan Berkata lain. Aku tetap stay di Kota Bandung selepas SMA, hanya berbeda lokasi saja.

Dan entah bagaimana cerita, banyak teman-teman saat SMA dan kuliah yang pada akhirnya meneruskan kehidupan mereka masing-masing di kota Bandung, Jakarta, dan area sekitarnya. Apalagi jarak Bandung-Jakarta hanya membutuhkan waktu 3 jam saja jika menggunakan transportasi umum kereta api dan plus-minus 2 jam (jika lancar) via tol.

Oleh karenanya, jika terdapat acara-acara, seperti pernikahan teman-teman, reuni komunitas-komunitas saat SMA dan kuliah, maupun reuni akbar dan reuni angkatan dari almamater-almamater itu sendiri, sudah pasti akan sering dilakukan di antara kedua kota tersebut, entah di Jakarta maupun Bandung.

 

3. Komunitas dan Organisasi

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, aku pun memulai mencicipi kegiatan dagang kecil-kecilan untuk mengisi waktu-waktu kosong. Dari kegiatan tersebut, aku pun bertemu dengan teman-teman yang pada mulanya bertemu secara maya, yang kini berteman secara nyata juga.

Komunitas yang aku ikuti tersebut berisikan orang-orang yang memang asli Jakarta dan orang-orang rantau sepertiku yang meneruskan kehidupan di Jakarta. Komunitas ini beranggotakan ibu-ibu atas kesamaan hobi. Dan aku senang berada di dalamnya. Banyak informasi yang didapatkan dari komunitas tersebut, yang dapat kujadikan pelajaran dan pengalaman bekal hidup untuk ke depannya.

Sebenarnya tidak hanya komunitas ibu-ibu saja yang aku ikuti. Ada juga komunitas-komunitas alumni seperti organisasi alumni almamater, baik SMA maupun kuliah, yang mana banyak kegiatan juga dilaksanakan di antara Jakarta maupun Bandung.

 

4. Pekerjaan

Setelah menjalani kehidupan berumah-tangga, kebetulan memang pasanganku memulai karir di Jakarta. Jadilah aku pun mendampingi Beliau untuk hijrah ke kota tersebut.

Pada mulanya aku memang tidak bekerja saat menapaki kaki di kota Jakarta ini. Saat itu memang, kondisinya, setelah lulus kuliah, aku langsung mau saja dipersunting calon suamiku saat itu untuk menjadi istri Beliau. Toh aku sudah merasa siap dan sudah merasa cocok-cocok saja tiada masalah, jadi untuk apa harus menunggu-nunggu lebih lama lagi. Hehe.

Baru setelah menikah, dengan suasana sebagai fresh graduate, aku pun baru mulai “menjelajah” dunia kerja yang kiranya cocok dengan latar belakang pendidikanku.

Dan lagi-lagi, dengan hanya jeda waktu kurang-lebih 3 bulan saja selepas menikah, Tuhan pun Memberikan rejeki itu kepadaku. Akupun memulai pengalamanku dalam dunia kerja di sebuah daerah di Jakarta juga. Saat itu adalah awal tahun 2014. Dan hingga detik ini, aku pun telah terlibat ke beberapa project dan semuanya berlangsung di Jakarta.

 

5. Rumah Sakit dan Dokter yang Kompeten untuk Program Hamil

Aku pikir, setelah menikah, yang namanya memiliki anak itu adalah perkara yang sangat mudah. Ibaratnya, toh sudah sah ini kan, gampang lah… Begitu pikirku dulu. Ternyata tidak demikian.

Pertengahan 2015 lalu, aku pun memulai untuk mencoba mencari-cari informasi terkait program hamil yang ada di Jakarta dan beberapa dokter Sp.OG ternama dan terkenal, khususnya dokter perempuan, yang ternyata memang banyak ditemukan di Jakarta. Walau saat itu belum mengikuti program secara sungguh-sungguh dan terhenti antara 2016 – 2017, namun pada akhir tahun 2017 lalu, aku dan pasangan baru memulai kembali untuk berprogram kembali.

Berkat dari teman-teman komunitas juga, yang memang most of them adalah asli orang Jakarta, lahir dan besar di Jakarta, aku pun mendapatkan banyak informasi dari mereka terkait rumah sakit dan dokter bagus untuk program hamil. Dan memang ternyata banyak sekali ditemukan di Jakarta.

 

6. Hiburan dan Surga Dunia

Selain karena alasan-alasan utama di atas, aku pun menemukan kenyamanan di dalam menjalani kehidupan sehari-hari di Jakarta. Ditambah tempat-tempat belanja sehari-sehari seperti pasar, terasa lebih banyak warna dan pilihan di kota ini, dibandingkan dengan kota asalku dulu di Jawa Tengah.

Kemudian tempat-tempat hiburan untuk refreshing. Mungkin bagi sebagian orang merasa bosan mainnya ke mall lagi, ke mall lagi. Tapi bagiku, justru tidak. Tidak pernah ada rasa bosan untuk menapaki tempat-tempat hiburan tersebut, walau hanya sekedar melihat-lihat saja. Biasanya di dalam mall, ada yang namanya toko buku, itulah yang membuatku juga semakin menyukai untuk berkunjung ke mall.

Di Jakarta juga, aku banyak menemukan momen dan hiburan di mana saat masa kecilku dulu, aku tidak mampu dan tidak dapat merasakannya. Seperti halnya mainan-mainan dan kesukaan masa kecil, yang dulu hanya dapat melihat milik orang lain atau hanya melihat di majalah maupun TV, akhirnya di masa dewasa ini ternyata banyak kutemukan di Jakarta. Ditambah saat ini aku sudah memiliki penghasilan sendiri, sehingga tanpa harus melibatkan pasangan, aku pun sudah dapat memenuhi keinginan sangat tersier tersebut.

 

– – –

Jadi, itulah alasan-alasanku saat ini yang mungkin membuatku betah dan nyaman untuk hidup dan tinggal di kota Jakarta. Ditambah juga saat ini, aku menjalani kegiatan sehari-hari tanpa bertemu dengan macetnya Jakarta sama sekali. Yap, sama sekali. Mungkin faktor tersebutlah yang membuatku semakin merasa nyaman dan betah untuk tinggal di kota ini.

Walau demikian, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti, aku akan mulai move on dan jatuh cinta dengan kota lain. Who knows. 🙂

Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Jangan Iri, Itu Berat – Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5)

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan.)

 

– – –

 

Kembali lagi bertemu dengan “minggu tema”, di mana tema dalam minggu ini adalah tentang “berbagi”. Terus terang, saat mendengar tema ini, yang saya pikirkan hanya tentang “berbagi” yang berkaitan dengan social media. Yap, yang ada dalam pikiran saya adalah ini:

Berbagi = Share

 

(Entahlah tulisan kali ini apakah akan nyambung dengan tema atau tidak. Hehe.

– – –

 

Di era social media seperti saat ini, banyak sekali saya temukan berbagai informasi dari hal  yang penting, kurang penting, hingga nggak penting sama sekali. Bahkan ke dalam tingkat yang lebih ekstrim lagi, akan semakin ditemukan juga berbagai macam berita “berat” yang terkadang saya ataupun kita belum tahu kebenaran akan isi berita tersebut.  Bahkan bisa jadi malah, banyak berita yang sudah saya baca, yang saya mengira selama ini adalah berita atau informasi benar, ternyata setelah berselang beberapa waktu, terbukti bahwa berita atau informasi tersebut ternyata adalah salah, alias hoax. Ngeri! Hi…..

Nah, akan tetapi sat ini saya sedang tidak ingin menulis tentang hal-hal “berat” demikian, melainkan ingin bercerita tentang pengalaman atau setidaknya perasaan yang saya alami saat menggunakan social media sejauh ini.

 

– – –

 

Platform social media saat ini bermacam-macam, ada Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Bahkan aktivitas blogging seperti ini juga dapat dikategorikan sebagai social media. Pada intinya kan, social media itu merupakan media yang bersifat maya, yang dapat berfungsi secara sosial, atau dapat menghubungkan dan berinteraksi antar satu individu dengan individu-individu lainnya dalam berbagai tempat dan waktu berbeda secara bersamaan. Mungkin seperti itu.

Di dalam penggunaan social media-social media ini, makin banyak individu bermunculan yang berekspresi dengan sekreatif-kreatifnya dan sebebas-bebasnya, termasuk saya. (walau saya tidak kreatif sih, yang penting mah upload, haha) Kehidupan atau kegiatan sehari-hari pun saling dibagikan, minimal ke dalam lingkaran pertemanan terdekat. Nah, di sinilah jika semakin addict di dalam penggunaan social media, maka masalah baru akan muncul jika tidak pandai dalam bermain social media. Apa itu?

 

Yup, perasaan hati yang semakin tidak menentu jika melihat postingan milik orang lain.

 

– – –

 

Hal ini pernah saya alami beberapa waktu lalu. Mudah-mudahan insyaaAllah kalau sekarang ini, sudah mulai bisa move on  dan sudah mulai bisa menata hati. “Gejala” yang tidak beres saat awal-awal dulu ketika mulai muncul Twitter, di mana kalau kata sebagian orang, media tersebut seperti mini blog, karena kita dapat mengungkapkan hal apapun, yep, a-pa-pun yang ada dalam benak kita, yang terkadang bahasan yang diungkapkan tersebut tidak di-filter sama sekali. Pokoknya yang penting ngomong! Haha.

Kalau dapat dibilang, masa-masa itu adalah masa-masa alay saya di mana saat sedang nge-tweet rasanya itu seperti “pede tingkat dewa” kalau buah pemikiran yang saya ungkapkan saat itu adalah benar, bahkan berasa paling benar. Media tersebut kalau kata sebagian orang juga, sebagai “pengganti” update status yang kepengen sering-sering seperti yang suka dilakukan sebelum-sebelumnya pada Facebook maupun Friendster.

Saat itu sebenarnya juga ada media lain yang dapat berfungsi juga seperti Twitter, yaitu media Plurk. Namun platform yang satu itu kurang begitu populer dibandingkan dengan Twitter.

 

Semakin berjalannya waktu, menggunakan Twitter semakin tidak ada rem-nya dan mulai merambah ke area baper, alias bawa perasaan. Misalnya, si A bilang tentang sesuatu, kemudian si B membaca dan si B pun merasa kalau si A sedang membicarakan tentang dirinya, yang padahal belum tentu si A sedang membahas tentang si B. Dan akhirnya muncullah yang namanya tweet-war, alias saling berbalas pantun. Yang tadinya si A tidak bermaksud menyinggung si B, kemudian karena melihat si B update status yang “rasanya” berkaitan dengan status si A sebelumnya, maka si A pun mulai “membalas” dengan update status terbaru yang bersifat lebih ke arah “pembelaan”. Duh!

 Benar-benar tidak sehat. Saya sebagai penonton terkadang jadi jengah membacanya, bahkan malah saya pun pernah mengalami baper tersebut. Nggak banget deh gan!

 

– – –

 

Berikutnya adalah ketika media Instagram mulai muncul. Namun saat masa-masa awal Twitter, saya belum menjadi pengguna aktif Instagram, bahkan saat itu sepertinya belum punya akun social media tersebut.

 

Malah terdapat media lain dengan lilngkaran pertemanan lebih kecil yaitu Path. Nah, mengingat saya “mulai sadar” ada yang salah dalam diri saya dalam ber-social media, maka saya putuskan saat baru beberapa bulan menggunakan Path, langsung saya putuskan uninstall aplikasi tersebut dan menghapus akun Path milik saya selama-lamanya. Saat itu bahkan lingkaran pertemanan masih dibatasi dalam jumlah 150 orang teman saja, dan saya pun sudah memutuskan untuk tidak ikut-ikutan menggunakan social media tersebut. Kini kabarnya bahkan dapat menambahkan daftar teman mencapai 500 orang teman dalam social media Path.

 

Fyuuuh…

 

– – –

 

Kembali lagi ke dalam social media Instagram. Saya lupa di tahun berapa tepatnya, saat itu saya merasa pengguna Facebook semakin banyak yang tidak aktif. Dan saya melihat banyak yang berpindah ke Path, di mana banyak yang meng-link­­-kan status Path pada akun Facebook mereka. Dan saya mulai berpikir untuk mulai “bermain” Instagram, walau sebenarnya saya awalnya tidak terlalu paham bahkan tidak tertarik dengan media satu ini. Sebelum mulai “serius” bermain Instagram, saya putuskan untuk menghapus akun Twitter saya selama-lamanya. Yep, selama-lamanya.

 

Berhubung dalam Twitter tidak ada istilah “deactivate sementara”, hanya ada pilihan “hapus akun”, maka saya putuskan untuk memilih lebih baik dihapus saja. Lebay-nya saat dulu memutuskan untuk menghapus akun Twitter, rasanya kok beraaat sekali ya, wkwkwk. Lebay! Namun berjalannya waktu, eh ternyata biasa saja tuh tidak punya Twitter. Hehehe…

 

Balik lagi ke Instagram.

(et dah, dari tadi mau bahas Instagram kagak jadi mulu, haha) 😀

 

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk “ikut-ikutan” membuat akun Instagram. Saya ingat sekali saat itu adalah masa-masa awal saya menikah dan masa-masa awal saya juga bekerja dan ikut pasangan hijrah ke ibukota.

 

Ternyata di Instagram, rasanya semakin gila! Lebih gila! Jika dibandingkan dengan platform-platform lain yang sudah saya “icipi”. Di sini banyak sekali yang narsis, temasuk saya. Wkwkwk. Bahkan dapat dikatakan saat itu rasanya ada perasaan “tidak mau kalah”. Wkwkwk, itu benar-benar pikiran gila se-gila-gilanya. Bahkan dapat dikatakan sepanjang bermain Instagram, sepertinya lebih sering muncul perasaan “pengen deh seperti si C atau si D agar dapat dilihat juga”, walau terkadang di tengah-tengah kembali “eling” alias inget kalau punya perasaan demikian itu sangat-sangat tidak baik, bahkan cenderung sangat buruk! Hehe.

 

Terutama, saat melihat momen-momen kebahagiaan milik orang lain pada orang-orang tertentu, yang terkadang entah bagaimana ceritanya, bisa “mengusik” perasaan hati saya.

 

Yep, it happened! Wkwkwk. Sedih sekali kamu gan!

 

– – –

 

Dulu saya sempat punya pemikiran, jika ingin men-share sesuatu dalam social media kita, ada baiknya melihat-lihat terlebih dahulu situasi dan kondisi bagaimana teman-teman dalam lingkaran pertemanan social media tersebut. Menurut saya saat itu, ibaratnya manusia, harus sering-sering memiliki rasa empati terhadap sesama. Belum tentu kondisi yang sedang saya alami, dapat pula dirasakan pula oleh orang lain atau orang-orang di sekitar kita. 

 

Well, saya yakin saat itu pemikiran tersebut juga didorong oleh rasa nafsu iri yang besar ketika saya melihat apa yang sedang di-share oleh orang lain, dalam arti bahkan diantaranya adalah teman-teman saya.

 

Berjalannya waktu, saya semakin sadar kalau ada yang salah dengan apa yang saya rasakan. Benarkah ikut campaign bahwa sesama manusia harus saling menghormati dan harus memiliki rasa simpati dan empati? Ataukah hanya perasana cemburu belaka?

 

Saat itu masa-masa yang sangat aneh  bagi saya. Rasanya saya ingin segera memiliki semuanya. Puncaknya adalah ketika saya dan pasangan mulai memasuki usia pernikahan dua tahun jalan tiga tahun, dan kehamilan tak kunjung datang. Rasanya hari-hari terasa berat dan hopeless, terutama saat melihat milik orang lain.

 

Beruntunglah masih belum terlambat, seperti yang sudah pernah saya tulis juga dalam tulisan ini. Berjalannya waktu saya semakin sadar, bahwa benar, ketika saya semakin iri, maka saya semakin tidak fokus pada kehidupan saya. Segala kesempatan baik, bahkan rejeki baik pun rasanya tidak ada yang mau mampir ke dalam kehidupan saya. Saya lupa bahwa hidup saya sudah terlalu banyak kenikmatan yang seharusnya banyak-banyak disyukuri. Pada akhirnya, semakin bertambahnya waktu, saya semakin terus dan selalu belajar untuk bisa bersabar, untuk bisa ikhlas, dan move on.

 

120756-Positive-Mind-Vibes-Life
(Source: http://www.lovethispic.com)

 

Mudah-mudahan pemikiran dan perasaan positif seperti ini akan dapat terjaga. Saya merasa bahwa hal ini sudah sangat-sangat gawat jika saya teruskan untuk trying to be somebody elses. Sampai-sampai niatan hati untuk mencoba move on seperti ini, yang membuat saya  men-deactivate akun Instagram lama saya, di samping juga sekarang mulai banyak campaign bahwa muslimah sebaiknya (atau bahkan dilarang) untuk  meng-upload foto-foto diri mereka karena akan ada kemungkinan dilihat oleh orang banyak, bahkan oleh non-mahram-nya. Namun untuk hal tersebut, saya masih meyakini bahwa semuanya tergantung kepada niat­-nya bagaimana. Akan tetapi, siapa yang tahu isi hati seseorang kan. Hehe.

Saya pun semakin fokus pada aktivitas jualan online saya yang memang juga masih menggunakan media Instagram untuk berjualan. 

 

Pada akhirnya, saya pun semakin dan sangat meyakini bahwa, jika semakin saya iri dan cemburu dengan hal-hal yang dimiliki oleh orang lain, di mana hal-hal yang dimiliki oleh orang lain tersebut adalah hal-hal yang memang benar yang saya inginkan, malah akan semakin menutup rejeki-rejeki yang justru seharusnya dapat datang kapan saja ke dalam kehidupan saya. Semakin saya iri, maka semakin tertutup rejeki milik saya.

 

Dan sebaliknya, saya pun sangat yakin. Semakin saya mengurangi rasa iri dan rasa cemburu yang sebelumnya mungkin sangat menggebu-gebu, entah bagaimana cerita, rasanya hidup terasa semakin ringan, dan rejeki-rejeki malah banyak yang datang ke dalam kehidupan saya dan datangnya pun tidak diduga-duga. Saya saaangat yakin itu! At least I feel I’ve experienced itA lot. 🙂

Semakin banyak bersyukur, maka Tuhan Akan Melipat Gandakan nikmat-Nya. 🙂

– – –

 

Jadi kesimpulannya?

 

Kembali kepada pribadi masing-masing. Lagipula tulisan ini hanyalah tulisan curhat colongan belaka. Dan ini adalah murni pendapat dari pandangan pribadi tentang penggunaan social media di mata saya dan murni pendapat saya tentang apa-apa saja yang do and don’ts to be shared.

 

Terakhir, ingat. Jangan iri, itu berat! Just be yourself and always be the original you. 🙂

 

 

 

Pondok Pinang, 11 Februari 2018

20.15 WIB

 

 

 

 

Uncategorized

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

Jika kamu percaya kepada Tuhan, maka percayalah dengan penuh keyakinan. Jangan bebani pikiranmu dari perkataan-perkataan (bahkan nasehat-nasehat) orang lain yang cenderung menyakiti hatimu. Biarkan argumen mereka berlalu. Percaya saja sepenuhnya dengan apa-apa saja yang kamu yakini untuk dijalani. Trust me, it works! 🙂

Diary Renjana

Suatu ketika saya membaca sebuah tulisan cantik milik  Mbak Dian  dan saat itu juga entah mengapa hati saya semakin plong se-plong-plongnya. Tanpa beban! Seolah seperti whuzzz… diterpa angin dan hilang begitu saja. Haha! Terima kasih untuk teman-teman facebook yang sudah men-share link tersebut yang pada akhirnya bisa muncul juga di halaman news feed saya. Terima kasih ya! 😀

Tulisan Mbak Dian tersebut benar-benar mencerahkan pikiran dan membuka mata saya semakin lebar. Terutama saat membaca ayat-ayat Allah yang Mbak Dian cantumkan juga di dalam tulisan Beliau, di mana membuat hati semakin tenang dan membuat saya semakin enjoy dalam menjalani kehidupan. Mengapa saya? Karena diantara saya dan suami, hanya saya saja yang terlalu banyak berpikir tidak-tidak dan khawatir ini-itu yang padahal sebenarnya tidak ada apa-apa. Haha. 😀

Syukur alhamdulillah memang, saya memiliki pasangan hidup yang pembawaannya selalu bisa tenang dalam situasi dan kondisi apapun, sekalipun itu dalam kondisi sepanik-paniknya. Itulah…

View original post 2,596 more words

Curhat Terbuka, Life, Uncategorized

Silakan Anda Merokok di Tempat Umum, Asalkan……….

Apakah Anda perokok? Namun apakah Anda paham kalau merokok di tempat umum juga ada aturannya?

Tulisan ini terinspirasi saat saya sedang melakukan antrian di salah satu wahana di Dunia Fantasi di mana antriannya panjang dan mengular. Dan di dalam antrian tersebut terdapat segerombolan manusia yang nampaknya benar-benar “tidak punya otak” atau “tidak bisa membaca plang larangan merokok yang jelas-jelas tertera di area mengantri”.

Saya marah dan saya kesal.

– – – – –

Pada dasarnya, saya bukan tipe orang yang mudah terganggu dengan para perokok begitu saja. Saya sama sekali tidak masalah dengan orang-orang yang merokok, asalkan:

  • Memang di tempat tersebut tidak ada rambu-rambu yang menyatakan “dilarang merokok”.
  • Memang di tempat tersebut memang dikhususkan bagi para perokok (area merokok atau ruang khusus merokok).
  • Memang di tempat tersebut diperbolehkan untuk merokok.
  • Ruang outdoor dan tidak ada plang larangan merokok.
  • Perokoknya punya tata krama, bahkan meminta izin terlebih dahulu kepada yang bukan merokok sebelum mereka merokok.

Dan saya akan sangat kesal dan marah dengan para perokok jika:

  • Jelas-jelas pada tempat tersebut terdapat tulisan rambu-rambu larangan “dilarang merokok” atau “no smoking“.
  • Jelas-jelas ruangan ber-AC, apalagi ada tulisan “no smoking” yang terpampang jelas di sudut ruangan.
  • Di sekitar perokok terdapat anak kecil, apalagi bayi, dan ibu hamil.
  • Di dalam angkutan umum, khususnya angkot atau kendaraan kecil, ditambah kalau suasana padat atau ramai penumpang.

Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang sengaja merokok di tempat yang jelas-jelas dilarang atau tidak diperbolehkan untuk merokok. Atau mereka yang merokok tidak melihat situasi dan kondisi di mana banyak anak kecil, bayi, dan ibu hamil. Di mana rasa empatinya?! *geregetan*

Oke, mungkin dalam pikiran mereka bahwa merokok bagi mereka bukan sesuatu yang haram dan “merasa” badannya sehat-sehat saja sehingga “tidak percaya” dengan berbagai penyakit mematikan yang mungkin terjadi di masa mendatang dalam kehidupan mereka.

Walau demikian, saya akan sangat respect dan menghargai teman-teman perokok jika:

  • Saat sebelum merokok, mereka sudah lihat-lihat situasi dan kondisi ada siapa-siapa saja di sana, bahkan mereka rela melipir atau menjauh dari gerombolan orang untuk menikmati sendiri asap rokoknya.
  • Saat merokok minta izin terlebih dahulu dan arah asap tidak ditiupkan ke arah yang sedang bergerombol atau berkumpul.

Sebenarnya saat ini terdapat peraturan-peraturan yang sudah berlaku terkait merokok di tempat umum. Bahkan terdapat sanksi yang benar-benar akan diterapkan jika melanggar.

(Well, saya tidak peduli dengan pendapat orang-orang yang menganggap hukum di Indonesia itu masih lemah dan dapat dibeli. Pokoknya peraturan ya peraturan, harus dilaksanakan dan dipatuhi, dalam hal apapun, walau memang terkadang suka “berat” menjalaninya.)

 

Dan berikut merupakan beberapa peraturan-peraturan perundang-undangan yang saya tahu yang mengatur tentang perokok dan merokok di tempat umum, khususnya di area ibukota Jakarta.

 

1. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 (klik link untuk mendownload)

Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 ini mengatur tentang Kawasan Larangan Merokok. Disebutkan dalam peraturan tersebut bahwa kawasan yang dilarang untuk merokok adalah:

  • Tempat umum.
  • Tempat kerja.
  • Tempat proses belajar mengajar.
  • Tempat pelayanan kesehatan.
  • Arena kegiatan anak-anak.
  • Tempat ibadah.
  • Angkutan umum.

Di dalam peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa kawasan dilarang merokok dan kawasan merokok harus terpisah di dalam pelaksanaannya. Dalam arti, sebenarnya merokok itu tidak dilarang, melainkan ada tempatnya dan aturannya sendiri. Catet ya.

 

2. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 Pasal 13 dan Pasal 41 Ayat (2) (klik link untuk mendownload)

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 merupakan peraturan yang mengatur tentang Pengendalian Pencemaran Udara, di mana di dalam Pasal 13 disebutkan bahwa kawasan dilarang merokok yang sudah saya sebutkan pada poin pertama tadi disebutkan sebagai upaya pencegahan pencemaran udara. Dan apabila melanggar, akan ada sanksi pidana yang disebutkan pada Pasal 41 Ayat (2) yaitu pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

 

3. Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 (klik link untuk mendownload)

Sebenarnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 ini merupakan penyempurnaan dari peraturan terdahulu (seperti yang sudah saya sebutkan juga di atas), yaitu penyempurnaan dari Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 di mana memang Peraturan Gubernur No. 88 Tahun 2010 ini tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Di dalam PerGub ini disebutkan penjelasan tambahan mengenai tempat khusus merokok, yaitu:

  • Terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung, dan
  • Tidak berdekatan dengan pintu keluar-masuk gedung.

 

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 (klik link untuk mendownload)

Di Indonesia, terdapat peraturan khusus mengenai produksi rokok di mana harus melihat aspek pengamanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia, seperti yang tertuang di dalam peraturan ini. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 ini berbicara tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Tujuan dikeluarkannya peraturan ini adalah:

  • Melindungi kesehatan dari bahaya akibat merokok.
  • Membudayakan hidup sehat.
  • Menekan perokok pemula.
  • Melindungi kesehatan perokok pasif.

Kembali disebutkan dalam PP No. 19 Tahun 2003 ini di Bagian Keenam yaitu Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 yaitu berbicara tentang Kawasan Tanpa Rokok, di mana kawasan tanpa rokok adalah tempat-tempat yang sudah saya sebutkan dalam poin pertama tadi di atas. Bahkan disebutkan di dalam Pasal 25 bahwa Pemerintah Daerah juga harus dapat berpartisipasi (bahkan bersifat wajib) di dalam perwujudan kawasan tanpa rokok.

Plang Peringatan “Dilarang Merokok” di Salah Satu Mall di Jakarta Selatan

 

Nah, jadi sudah jelas kan, kalau merokok di tempat umum itu ada aturannya, bahkan ada sanksi pidana bagi siapa saja yang berani melanggar. Jadi, mas-mas dan  mbak-mbak yang memang belum bisa lepas dari rokok karena memang hobi dan sudah menjadi bagian dalam hidup, diharapkan untuk selalu bijak jika pas ingin merokok. Kalau misal ditegur di tengah jalan, please, jangan marah dan sensi ya. Boleh kok merokok bebas-sebebasnya, yang penting manners-nya saja. Hormati mereka yang benar-benar nggak bisa dekat-dekat dengan asap rokok. Oke? 🙂

 

nb: Beruntunglah pasangan saya bukan perokok.