AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Life, Traveling

Perjalanan Jauh Perdana dengan Bayi 3 Bulan

Perjalanan perdana dengan bayi 3 bulan ternyata seru dan menegangkan. Haha. Bagaimana tidak? Ini pengalaman perdana chuy, pertama! Bawaannya udah cemas-cemas aja duluan dari H-sekian. Takut entar bakal ada kejadian apa dan gimana. Gitu aja terus kepala mikirnya. Haha.

1 kata : SERU!

Yes, seru adrenalinnya, secara ini pengalaman pertama sekali buat saya sebagai orang tua baru. Sudah begitu, perjalanan yang kami tempuh bukan sekadar Jakarta-Tangerang, Jakarta-Depok, atau Jakarta-Bogor, bukan. Melainkan perjalanan jauh pulang kampung ke rumah orang tua saya di Cepu, sebuah kecamatan dalam Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Jauh! Ya…walau memang kami menggunakan moda transportasi kereta api sih, bukan berkendara sendiri menuju ke Cepu-nya.

– – –

Hari-H Perjalanan

Saat itu memang sedang momen hari libur anak sekolah dan memang libur akhir tahun juga. Ibu saya adalah seorang guru, yang mana Beliau pun juga libur bekerja. Oleh karenanya, saya pun berkeinginan untuk pulang kampung pasca melahirkan. Toh, si anak sudah 3 bulan juga usianya, sudah bisa diajak perjalanan jauh, begitu pikir saya.

Saya memang melahirkan tetap di kota perantauan, walau sebenarnya Ibu saya berharap saya dapat melahirkan di kampung orang tua. Sejak awal mengetahui saya hamil, saya memang bercita-cita untuk bisa mandiri hingga melahirkan, mandiri seperti biasanya saja. Terlebih kontrol kehamilan bulanan memang saya lakukan di kota perantuan ini. Lagipula juga, saya tidak bisa LDR dengan suami. Jadilah saya mantab untuk melahirkan di ibu kota saja.

Nah, berjalannya waktu, si anak pun semakin tumbuh besar. Saya pun mulai ada rasa rindu. Haha. Mengingat juga, saat hamil kemarin itu, saya tidak pulang kampung sama sekali. Jadilah lebaran di ibu kota.

Saat usai melahirkan kemarin, memang orang tua saya datang berkunjung ke Jakarta dan menemani selama 3 hari di rumah sakit. Namun demikian, Beliau berdua tidak dapat menemani sepanjang minggu dikarenakan kesibukan Beliau berdua yang memang berprofesi sebagai seorang guru. Dan pada akhirnya, lagi-lagi kemandirian saya pun diuji dengan suasana baru dalam kehidupan baru sebagai seorang ibu baru.

Skip…… Balik lagi ke cerita perjalanan liburan kemarin ya. Hehe.

Sebelum bertemu dengan hari-H perjalanan saat itu, saya sudah beberapa kali juga berjalan-jalan keluar rumah bertiga. Entah ke rumah teman, ke mall, atau sekadar berjalan-jalan di sekitar rumah saja. Sebenarnya hal ini juga bertujuan agar sang ibu juga semakin terbiasa dan tidak kagok plus tidak panikan. Haha.

Jadilah pada saat hari-H perjalanan, saya pun tidak terlalu panik dan cenderung lebih tenang. Saat dalam perjalanan dari rumah menuju stasiun pun tidak lupa saya menyusui sang anak. Kondisi cukup padat saat itu, karena suasananya adalah jam pulang kantor. Beruntungnya sang anak tidak menangis yang aneh-aneh, hanya merengek karena kehausan.

Dan beruntungnya lagi, di Stasiun Gambir juga terdapat ruang ibu menyusui, yang mana letaknya yang cukup tersembunyi yang mungkin membuat ruangan ini juga jarang yang menggunakan. Sebelum naik kereta, kami menggantikan popok dan menyusui bayi kami. Diharapkan, agar pada saat memulai perjalanan tidak terlalu cranky dan lebih tenang. Dan itu benar terbukti pada saat kereta berangkat, anak kami tertidur pulas sampai 1,5 jam-an ke depan. Berikut-berikutnya, rutinitas menyusui dan ganti popok pun kami lakukan dengan rasa tenang.

Saat Sampai di Cepu

Sampailah sekitar pukul 01.30 WIB dini hari saat kereta kami tiba di Semarang. Anak kami mulai kembali terjaga. Namun kali ini nampaknya sang anak tidak mau dan tidak dapat kembali tertidur. Perasaan was-was mulai muncul. Padahal kereta kami dijadwalkan baru akan sampai di Cepu sekitar pukul 03.30 WIB. Jadilah kami mengajaknya ke gerbong kereta makan, karena kami khawatir mengganggu ketenangan penumpang-penumpang lain.

Benar saja, selama kurang lebih 2 jam tersebut, anak kami benar-benar tidak tidur! Duh! Semakin was-was diri ini. Wkwkwk. Terutama saat akan sampai pada stasiun tujuan, yaitu Stasiun Cepu, sang anak malah baru memulai  rewelnya. *mamak mulai panik beneran*

Setelah turun dari kereta, kami dijemput oleh kedua orang tua saya. Sang anak tetap rewel menangis bahkan sampai di dalam mobil pun. Dan pada saat sampai rumah, sang anak rewelnya semakin menjadi! Terutama ketika ia melihat-lihat suasana di dalam rumah, seperti asing dan membuatnya semakin menangis. *hwaaa mamak makin panik nggak ketulungan*

Saat itu anak kami menangis tiada henti sekitar 3,5 jam jika dihitung-hitung total. Diberi susu tidak mau, direbahkan di atas kasur nangisnya semakin menjadi, digendong-gendong juga nangisnya awet, fyuuuh bingung! Akhirnya pada pukul 7 pagi, ayah saya membawa kami ke tukang pijat bayi yang sangat terkenal di Cepu dan konon katanya mampu membuat bayi siapapun tenang setelah Beliau pijat. Pada awalnya saya takut jika bayi saya akan dipijat yang aneh-aneh. Namun ternyata, setelah saya lihat, Beliau terlihat seperti hanya mengelus-ngelus kulit anak kami dan tidak menekan-nekan yang bagaimanaaa gitu.

Sepulangnya dari tukang pijat tersebut, anak kami memang menjadi jauuuh lebih tenang. Seperti ajaib! Walau pada mulanya kembali sang anak susah mau untuk menyusu. Namun pada akhirnya ia pun mau menyusu juga dan tertidur. Alhamdulillah… Dan ia pun tertidur sampai sore hari! Haha. *mamak mulai sedikit lega*

Namun, rasa panik saya belum bisa usai, karena keesokan harinya kami berencana untuk pergi ke Semarang, mengunjungi keluarga yang ada di sana. Dan kami tidak menginap di Semarang, dalam arti kami melakukan kunjungan PP (pulang-pergi) dalam sehari tersebut saja. *mamak makin kebayang kan rasa capek yang mungkin bakal timbul*

Perjalanan ke Semarang

Pagi hari pukul 03.00 WIB saya sudah terbangun dan bersiap-siap. Tidak lupa saya bangungkan suami untuk juga segera bersiap-siap. Kami menuju Semarang kembali menggunakan kereta. Dan kereta kami dijadwalkan berangkat dari Stasiun Cepu pukul 05.00 WIB pagi.

Alhamdulillah-nya perjalanan ke Semarang super lancar. Sang anak pun tidak cranky. Sepanjang hari saat di Semarang pun anak kami tidak ada rewel-rewelnya.

Perjalanan Balik Semarang – Cepu

Kereta kami dijadwalkan berangkat dari Stasiun Tawang pukul 19.10 WIB. Kembali, tiada masalah berarti selama dalam perjalanan walau sesampainya di Cepu sudah sekitar pukul setengah sepuluh malam.

Alhamdulillah…

Perjalanan Kembali ke Ibu Kota

Saat itu saya di rumah orang tua di Cepu selama 1 minggu. Namun, di hari Minggu malamnya Suami kembali ke ibu kota dan menjemput saya kembali di hari Sabtu minggu depannya.

Sebelum kembali ke ibu kota, anak kami tidak lupa kembali dipijat oleh Tukang Pijat Bayi yang terkenal yang sudah saya sebutkan di atas. Dan alhamdulillah-nya perjalanan naik kereta Cepu – Jakarta berjalan lancar tanpa sang anak rewel. Begitupun saat sudah sampai rumah, sang anak pun ternyata sudah mengenali kamar tidurnya sehari-hari, sehingga kejadian rewel seperti saat pertama kali tiba di Cepu tidak terjadi.

*mamak pun menangis haru, akhirnyaaa*

Advertisements

5 thoughts on “Perjalanan Jauh Perdana dengan Bayi 3 Bulan”

    1. Benerrr bangettt Kak. Apalagi kalo rewelnya ngga diduga samsek. Haha.

      Btw ini tulisan belum saya edit lagi bahkan. Udah mau 4 kali bolos nyetor.
      Kemarin nulis biar ngga ke-kick. Hahah. Kacauuu. Baru buka wp lagi ini.

Leave a Reply to renjanaganis Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s