Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (6) – Penantian Kehamilan

Rasanya ada banyak hal yang aku pelajari dan renungkan selama masa-masa penantian kehamilan ini. Rasanya ada banyak kejadian dan pengalaman yang benar-benar membuat diri ini semakin banyak untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Rasanya sama seperti pada saat menggapai jodoh pasangan hidup dan jodoh pekerjaan yang diinginkan. Namun, dibalik semua kejadian yang sudah terjadi itu, ada 1 kata kunci yang sungguh sangat luar biasa dapat mengubah cara pandang serta cara berpikir, atau dapat dikatakan,  bahkan dapat mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik.

Ya, bersyukur.

Janji Tuhan pun Nyata sesuai dengan Firman-Nya, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Q.S. Ibrahim (14) : 7]

– – –

Sungguh sangat manusiawi jika aku menginginkan banyak hal di dunia ini yang ingin aku raih dan miliki. Salah satunya adalah sebuah “kesempurnaan hidup di dunia” —setidaknya menurut kacamataku–, yaitu keturunan.

Sebagai pasangan yang sudah menikah tidak hanya satu-dua tahun, rasa-rasanya sudah semakin berpikir untuk harus serius berusaha untuk memiliki keturunan, agar kelak di kemudian hari tidak ada muncul rasa sesal yang tiada berarti.

Walau benar, kebahagiaan hidup tidak ditentukan dari seberapa banyak anak yang dimiliki, single atau menikah, bekerja di perusahaan besar atau perusahaan kecil, mengabdi pada satu perusahaan atau ber-wiraswasta, dan lain sebagainya.

Namun kali ini, aku sudah memutuskan untuk serius. Sudah ada perasaan ingin banget, tapi berusaha meminimalisir rasa keinginan tersebut, selain mencegah rasa kecewa, karena bagaimanapun, hanya Tuhan Yang Dapat Memberi, sementara kita manusia hanya mampu sebatas berusaha dan berdoa saja. Oleh karenanya, aku pun bersungguh-sungguh dan berkeyakinan penuh bahwa Tuhan PASTI Akan Mengabulkan keinginanku. Dan yang PASTI, pada kondisi dan waktu yang terbaik.

– – –

Flashback

Aku jadi teringat masa-masa di saat dulu menuju pernikahanku dengan suamiku saat ini. Peristiwa yang menurutku harus selalu aku ingat betul-betul, karena yang namanya ke-jumawa-an, kesombongan, keangkuhan, benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kuasa Tuhan.

Namun begitu, Tuhan pun PASTI Akan Selalu Melihat upaya hamba-hamba-Nya ketika mereka selalu berusaha untuk berubah, menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan cara yang sungguh-sungguh. Ya, benar. Tuhan Mahatahu siapa-siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka ia pantas mendapatkan “hadiah” dari-Nya.

Dulu memang, pada mulanya, aku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan pasangan (yang saat itu masih berstatus sebagai “pacar“) yang menurutku sangat-sangat sempurna dan mau bersanding denganku. Aku pun sampai terheran-heran, hingga aku pun memiliki pemikiran demikian, “Kok bisa ya doi mau sama gue yang biasa-biasa ini?”, ya, semacam itulah keheran-heranan diriku saat itu.

Pengalaman dekat dengan seorang pria saat itu adalah pengalaman pertama bagiku. Apalagi saat itu, sudah sejak awal “kesepakatan”, Beliau sudah meminta serius diriku agar kelak menjadi istrinya di kemudian hari (alhamdulillah sekarang sudah sah menjadi istrinya). Segala kesempurnaan yang ada pada dirinya, sempat membuatku lupa diri. Penampilan fisiknya, latar belakang pendidikannya, kesabarannya, dan beberapa hal lainnya yang melekat pada dirinya, benar-benar “membutakan“ku.

Hingga berjalannya waktu, terjadilah sebuah kejadian yang hingga saat ini selalu aku ingat betul-betul bahwasanya benar, yang namanya manusia tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan Kuasa Tuhan. Ya, sebuah pengalaman hidup yang begitu “menampar” diriku.

Saat itu adalah masa-masa di mana sedang menuju momen yang sudah sangat kami nanti-nantikan sejak lama oleh kami berdua, yaitu, momen pernikahan kami. Ada satu masa di mana pada saat menuju impian dan keinginan tersebut, di situlah “ujian” perdana yang kami terima pun datang.

Sepanjang perjalanan berdua, alhamdulillah kami tidak pernah terlibat dalam suatu pertengkaran, baik ringan maupun berat, tidak pernah. Walau mungkin yang sebenarnya terjadi adalah, karena “kesempurnaan” Beliau-lah yang membuat hubungan ini dapat terus berjalan dengan sangat lembut dan sangat baik, mengimbangi diriku yang sesungguhnya adalah orang yang cukup emosional. Oleh karenanya aku bilang, rasa-rasanya hampir tidak pernah kami beradu mulut maupun adu argumen, bahkan hingga kini menuju 9 tahun kebersamaan kami. Itulah mengapa aku sebutkan di atas, “ujian perdana” dalam hubungan kami itu datang justru pada saat momen-momen menuju hari pernikahan kala itu.

Saat itu, bagai disambar petir, aku baru menyadari sesuatu, menyadari hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam benakku sebelum-sebelumnya, karena yang aku pikirkan selama ini adalah, aku merasa kedudukan manusia di dunia ini adalah sama, dan yang membedakan hanyalah keimanan serta ketaqwaannya kepada Tuhan.

Aku baru tau saat itu, ternyata benar adanya, yang namanya perbedaan suku itu terkadang menjadi suatu hambatan dan penghalang bagi beberapa orang yang hendak bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Kami berdua, walau sama-sama tinggal di tanah jawa, dan bahkan sama-sama di wilayah Provinsi Jawa Tengah, ternyata kami berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Ya, kami berbeda suku.

Beliau merupakan peranakan turunan dari suku pedagang Gujarat atau Pakistan (yang dulu sering kita dengar dan baca dalam kisah-kisah sejarah saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar), yang bernama Suku Koja, yang hingga kini kelompok masyarakat tersebut banyak yang masih menetap dan melanjutkan keturunan di sebuah kawasan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Bahkan kisah mereka juga tercatat dalam sejarah, salah satunya pada Wikipedia [link].

Dan ya, aku benar-benar baru tau saat itu.

Keluargaku —lebih tepatnya orang tuaku— merupakan keturunan Suku Jawa tulen. Namun demikian, beruntungnya saat itu,  mereka membebaskan aku di dalam menentukan pasangan hidup, karena bagaimana pun, hal itu terkait dan menyangkut kebahagiaan masa depanku.

Namun sebaliknya, ternyata terdapat kondisi yang sedikit berbeda pada keluarga Beliau. Keluarga inti; Bapak, Ibu (Almh), Kedua Adik Beliau, mereka setuju-setuju saja Beliau memilihku sebagai calon istrinya. Dan sesungguhnya pada bagian ini, aku sudah merasa lega.

Namun ternyata, ada sebagian kecil di antara keluarga besar Beliau yang nampaknya kurang setuju jika Beliau memilihku sebagai pendamping hidupnya, dengan alasan, aku bukanlah “serumpun” seperti keluarga besar Beliau, dan tentu saja maksudnya adalah berbeda suku. Hingga saat ini aku pun tidak pernah tau siapa-siapa sajakah yang saat itu kurang setuju. Namun mudah-mudahan saat ini, mereka sudah mau mulai menerima diriku apa adanya di tengah-tengah mereka. Aamiin. Bahkan Beliau pun, suamiku, tidak tau persis siapakah yang paling tidak setuju di antara keluarga besarnya. Beliau hanya mendapatkan cerita dari Almarhumah Ibu.

Sejauh yang aku tau, terkadang untuk beberapa urusan “penting” yang menyangkut orang tua, mereka akan melakukan diskusi hanya di antara mereka, dan terkadang anak-anak atau putra-putri yang bersangkutan, tidak ikut dilibatkan secara langsung ke dalam diskusi. Baru setelah diskusi usai, jika hasil diskusi ada yang terkait dengan salah satu putra-putri di antara mereka, barulah akan diberi tau melalui orang tuanya sendiri. Jadilah, suamiku tidak begitu tau persis siapa yang paling kurang setuju. Namun demikian, Beliau masih dapat menerka-nerka, siapakah kira-kira di antara mereka.

Nah, itulah “ujian perdana” dalam hubungan kami berdua. Kami pun bingung. Sementara, seperti yang sudah aku tulis di atas, kami sama sekali tidak pernah bertengkar apalagi beradu mulut. Alhamdulillah semua selalu berjalan baik-baik saja. Walau  lebih tepatnya sekali lagi, aku yang sangat berterima kasih kepada Beliau yang sudah mau mengimbangi sifat emosionalku, sehingga hubungan kami tetap dapat berjalan dengan sangat baik, bahkan hingga kini menuju 9 tahun kebersamaan kami, dan mudah-mudahan seterusnya dan selamanya. Aamiin. Ibarat kata saat itu, kami yang sedang berbahagia-bahagianya, sedang adem-ayem-nya, masa’ hanya karena perkara “sepele” saja —ya, aku menyebutnya perkara itu hanyalah sebuah masalah sepele–, kami harus berpisah tanpa sebab dan tanpa alasan yang sangat tidak masuk akal?

Saat itu benar-benar bagai disambar petir, aku menerima kabar via telepon dari Beliau, bahwa ada keluarganya —lebih tepatnya beberapa keluarga besarnya— yang tidak setuju dengan hubungan kami ini. Aku ingat sekali, saat itu masih musim liburan ‘Idul Adha, di mana kami sama-sama melakukan rutinitas tahunan pulang ke kampung halaman kami masing-masing. Suara Beliau di seberang sana kudengar parau. Suaranya serak seperti menahan tangisan. Katanya, Beliau pun tidak tau harus bercerita ke mana, ke siapa, karena sejauh perjalanan hidupnya, Beliau tiada teman curhat terbaik untuk masalah-masalah teramat pribadi seperti pada saat itu, dan hanya akulah satu-satunya orang yang Beliau percaya untuk berbagi cerita masalah-masalah yang bersifat pribadi seperti itu.

See? Bahkan sudah sejauh itu kepercayaan yang terjalin di antara kami. Tapi kenapa ada saja pihak yang tidak mengizinkan kami untuk melanjutkan dan menikmati kebahagiaan kami?

Saat mendengar kabar itu, aku pun menangis sejadi-jadinya, bahkan disaksikan oleh ibuku dengan sedikit menahan isakan sambil menuju kamar tidurku. Aku tidak habis pikir, ibaratnya kami yang sedang dalam kondisi dan keadaan tenang-tenangnya, masa’ kami harus menyerah begitu saja dengan alasan yang menurutku super-duper tidak masuk akal? Dan ya, aku tidak mau menyerah begitu saja. Aku putuskan detik itu juga, aku tidak akan menyerah dengan keadaan!

Maka, jadwal kepulanganku ke Kota Bandung aku majukan harinya, agar tepat sampai di Bandung pada pagi hari yang sama dengan kedatangan kereta yang Beliau tumpangi dari Semarang menuju Bandung yang tiba di pagi hari juga. Beruntung jadwal travel Banjarnegara-Bandung yang aku tumpangi selalu tiba di Kota Bandung sebelum waktu Subuh, sementara kalau kereta dari Semarang, jadwal tibanya selalu setelah waktu Subuh. Oleh karenanya, sesampainya di kosanku di Bandung kala itu, aku langsung bergegas dan bersiap-siap menuju Stasiun Bandung, untuk dapat mengejar kedatangan kereta yang Beliau tumpangi itu.

Dan lagi-lagi aku merasa sangat beruntung, karena kosanku dekat dengan bagian depan gang yang mana banyak tukang ojek yang mangkal di sana setiap harinya. Yep, saat itu belum era-nya transportasi online seperti saat ini. Jadilah di pagi buta kala itu, aku bersama tukang ojek yang aku tunjuk, menembus dinginnya pagi dengan kecepatan motor yang cukup kencang menuju Stasiun Bandung. Beruntunglah lalu lintas belum padat, karena memang saat itu kondisi masih pagi hari buta, di mana tentu saja belum banyak aktivitas manusia yang terlihat dan turun ke jalan.

Sesampainya di Stasiun Bandung, aku pun bergegas menuju area Pintu Kedatangan dan menunggu di sana, hingga tiba masanya Kereta Api Harina pun datang. Aku tetap memberitahu Beliau melalui short message service (SMS) kalau aku menantinya di Pintu Kedatangan stasiun. Saat itu juga belum era-nya WhatsApp seperti saat ini. Aku tidak peduli apakah SMS-ku dibalas atau tidak, yang terpenting aku tetap fokus pada gerombolan manusia yang keluar melalui Pintu Kedatangan. Kuperhatikan detail satu per satu orang yang keluar dari pintu tersebut. Sampailah pada aku melihat sosok Beliau dan langsung kuhampiri dirinya. Terlihat Beliau pun juga bingung, wajah dan muka yang terlihat sekali seperti banyak hal yang sedang dipikirkan.

Kami pun menuju bangku di area menunggu di bagian luar stasiun dan saling duduk terdiam. Aku pun mulai berbicara kepada Beliau straight to the point, “Aku nggak mau berpisah, pokoknya, titik.” Kata-kata itu meluncur dan keluar  begitu saja dari mulutku. Beliau pun menatapku, dengan pandangan penuh makna, bahwasanya ya, Beliau pun memiliki rasa yang sama, perasaan tidak ingin berpisah juga.

Maka sejak momen itu, bagaimana pun juga, kami bertekad, kami harus bersatu, memperjuangkan kebahagiaan kami. Kami pun mengubah niat kami dan meluruskan niat kami kembali kepada Sang Maha Pencipta.

– – –

Sepenggal kisah flashback kala itu, benar-benar membuatku untuk selalu ingat dan ingat, eling dan eling, bahwasanya Kuasa Tuhan adalah segala-galanya. Hal yang tadinya tidak mungkin, PASTI BISA menjadi mungkin, selama itu masih di dalam koridor dan ketentuan-Nya, Tuhan PASTI Kabulkan.

Source: https://medium.com/

Sejak momen “hampir putus” tersebut kala itu, kami pun masing-masing saling berintrospeksi diri. Kembali meluruskan niat kami tertuju hanya kepada Sang Pencipta. Bagaimana pun, menikah adalah ibadah. Kami pun juga tidak mau berlama-lama di dalam hubungan tanpa ikatan sah perkawinan.

Berharap, berusaha, dan berdoa. Rasa-rasanya saat itu tiada henti aku lakukan. Tidak lupa juga kami pun berusaha untuk selalu berubah menjadi pribadi ke arah yang lebih baik lagi, berusaha untuk selalu memantaskan diri di hadapan-Nya, apakah kami benar-benar pantas untuk dapat disatukan oleh-Nya.

Alhamdulillah, pada akhirnya, segera setelah aku lulus dan menamatkan jenjang sarjana, kami pun dapat menikah. Yep, tidak perlu menunggu-nunggu terlalu lama, selama kami sudah saling mantab, untuk apa kami membuang-buang waktu lagi. Akhirnya!

Usai menikah, saat itu pun aku tidak merasa khawatir mengenai bagaimana nanti aku akan bekerja, sementara statusku saat itu sudah menikah. Aku hanya yakin, Tuhan PASTI AKAN Membantuku.

– – –

Ya, benar. Dengan bermodalkan keyakinan kepada-Nya serta usaha yang sungguh-sungguh, dan lagi-lagi dengan mengaplikasikan rasa syukur di tiap harinya, alhamdulillah, selama 4 tahun-an berturut-turut, seiring dengan usia pernikahan yang menuju 5 tahun, aku pun tetap dapat menerapkan ilmu yang kudapat pada bangku kuliah, terlibat ke dalam beberapa proyek, dengan tanpa jeda, antara 1 proyek dengan 1 proyek lainnya.

Ketika aku bekerja perdana sebagai seorang sarjana, seorang fresh graduate, sudah berstatus menjadi istri orang. Saat itu di awal-awal mencari kerja, rasa-rasanya hampir pesimis ada perusahaan yang mau menerimaku dengan status sudah menikah tersebut. Apalagi jamanku sudah memasuki era modern di mana sudah banyak standar yang ditinggikan di dalam penerimaan pegawai. Tapi saat itu, aku hanya yakin saja, selama aku tidak aneh-aneh dan tidak menyogok atau melakukan perbuatan negatif lainnya, pasti akan aku lalui dan jalani di setiap prosesnya.

Kembali pada 1 kata kunci yang sudah aku sebutkan pada awal tulisan, yaitu bersyukur. Selama 4 tahun-an bekerja, setiap mendapatkan pekerjaan atau proyek di mana aku berkecimpung di dalamnya, selalu aku syukuri, nikmati, dan jalani. Walau mungkin bagi sebagian orang, pekerjaanku “tidak bergengsi”, namun aku tetap menjalaninya dengan penuh rasa syukur.

Dan benar saja, lagi-lagi kuncinya hanya dengan bersyukur, pada akhirnya, aku pun mendapatkan tempat kerja yang sesuai dengan keinginanku —yang lagi-lagi walau sebagian orang memandang sebelah mata karena dianggap “tidak bergengsi”–.

Gaji bulanan yang memadai, bahkan kalau boleh aku katakan sudah melebihi ekspektasi dari jumlah yang aku inginkan, cukup besar rasanya —bahkan terasa sangat besar bagiku–, lokasi dekat dengan tempat tinggal, yep, hanya 15 menit berjalan kaki dan 5 menit jika menggunakan sepeda motor, dan bidang yang dikerjakan masih terkait dengan jurusan kuliahku. Benar-benar pekerjaan impian!

Rizqi itu datangnya dari Dia Sang Maha Pemberi Rizqi, so, selama kita berusaha bersungguh-sungguh dan berkeyakinan penuh, niscaya Tuhan PASTI Akan Memberikan jalan rizqi-Nya kepada kita.

Aku memang bukan tipe pengejar karir, karena bagiku, selama aku dapat bekerja dengan sungguh-sungguh dan dapat bermanfaat pada lingkungan sekitar dengan ilmuku atau perbuatan kerjaku, hal itu sudah cukup bagiku. Kemudian pengalaman-pengalaman kerja yang aku dapatkan selama bekerja itu, aku yakin insyaaAllah pasti akan selalu ada manfaatnya di kemudian hari.

Lagipula, setelah 4 tahun-an bekerja, aku pun tiba-tiba mulai serius berpikir untuk “membangun” keluarga dengan sungguh-sungguh. Ada masa-masa di mana perasaan hati tidak dapat dibohongi, kalau sudah saatnya aku harus memikirkan serius untuk bisa memiliki keturunan dalam keluarga kecil kami berdua. Ada semacam perasaan, “Udah saatnya nih gue serius,” seperti itu. Ada rasa yang sukar digambarkan, seolah-olah perasaan tersebut datangnya langsung dari Tuhan. Rasanya seperti petunjuk dari Tuhan Yang Sedang Menegur dan Mengingatkanku.

– – –

Kembali ke Masa Kini

Sebenarnya, upaya memiliki keturunan ini sudah kami lakukan sejak usia pernikahan kami menginjak usia 2 tahun pernikahan. Namun saat itu sepertinya masih belum ada niatan yang “serius banget”, mengingat saat itu kami pun merasa masih santai dan tidak terlalu ambil pusing karena masih berharap dan menunggu secara alami seperti biasanya kami menjalani hari-hari. Mungkin saat itu juga, terutama bagiku, perasaan sebagai fresh graduate lebih mendominasi isi hati. Ditambah teman-teman sebaya dan seangkatanku pun juga banyak yang masih menikmati masa-masa sebagai lulusan baru dan banyak yang belum menikah juga. Kalau boleh dikatakan, di angkatanku, khususnya di angkatan kuliahku, aku adalah orang ke-3 dari 97 orang, yang menikah terlebih dahulu. Well, bukan suatu prestasi untuk dibanggakan juga sih, biasa saja.

Namun, berjalannya waktu, maka satu per satu di antara kami pun mulai banyak yang menikah, baik teman-teman semasa SMA maupun kuliah. Di situlah “baru terasa” hawa-hawa era menikahnya teman-teman seangkatanku ya ini-nih.  Begitu. Hingga sampailah masa menuju usia 5 tahun pernikahan, di mana semakin banyak teman-teman sebayaku yang menikah, barulah aku semakin “kecipratan” hawa-hawa banyaknya pengantin baru di sekelilingku. Ditambah satu per satu “keponakan”ku dari teman-teman ini sudah banyak yang lahir.

Tidak, aku tidak iri kepada mereka terkait kelahiran anak-anak teman-temanku tersebut. Walau iya sih, pada mulanya aku sempat memiliki rasa iri terhadap beberapa di antara mereka, terutama yang menikahnya berbarengan dengan waktu pernikahanku. Ya, sempat, hanya berlangsung hingga usia pernikahan kami mencapai 2 tahun-an saja.

Karena sudah mulai “kecipratan” hawa-hawa banyaknya pengantin baru tersebut, di tambah dengan munculnya perasaan “serius” secara tiba-tiba seperti yang sudah aku sebutkan pada bagian sebelumnya, maka aku dan suamiku pun kembali mengunjungi rumah sakit terdekat untuk dapat merealisasikan keinginanku untuk dapat hamil. Namun kunjungan ke rumah sakit kali ini cenderung memiliki perasaan yang berbeda dibandingkan dengan perasaan saat dulu usia pernikahan menginjak 2 tahun. Perasaan kali ini cenderung jauh lebih santai dan lebih merasa tidak terbebani, bahkan dapat dibilang, kami cenderung lebih pasrah kali ini. Rumah sakit yang kami kunjungi kali ini pun  merupakan rumah sakit ke-3 selama menuju usia 5 tahun pernikahan kami demi tujuan ingin melakukan pemeriksaan terkait program kehamilan. Ya, kami memulai proses semuanya kembali dari awal.

Baca juga: Konsep Rejeki dan Hindari Iri (2)

Nah, selama masa-masa penantian kehamilan ini, aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Dari mengelola rasa iri, rasa cemburu kepada teman, bahkan rasa hasad yang sempat muncul juga, astaghfirullahal’adzim, hingga pada akhirnya aku pun berhasil melalui masa-masa itu dan kembali fokus kepada kehidupanku sendiri dengan meneraplan 1 kata kunci yang aku sebut-sebut sejak tadi dalam tulisan, yes, bersyukur dan bersyukur selalu sepanjang waktu, sembari senantiasa memantaskan diri di hadapan-Nya. Semakin banyak direnungi juga, ternyata sudah banyak rejeki dan kebaikan yang sudah banyak mampir dalam kehidupanku. Lagipula aku meyakini sepenuhnya, jika aku semakin iri terhadap hal-hal milik orang lain atau rejeki milik orang lain, justru akan semakin membuat tertutup pintu-pintu rizqi-Nya kepadaku. Aku sangat yakin itu.

Dalam masa-masa penantian ini juga, semakin banyak direnungi dan disyukuri, ternyata memang sudah sangat banyak sekali kebaikan yang sudah mampir ke dalam hidupku. Pekerjaan yang baik –bagiku bukan lagi baik, melainkan sempurna, khususnya bagiku yang seorang perempuan–, suami yang sangat baik, rejeki berbau ke-duniawi-an seperti dapat melakukan aktivitas jalan-jalan liburan ke destinasi-destinasi wisata yang aku inginkan, lokasi tempat tinggal yang dekat ke mana-mana, baik itu dekat dengan mall-mall yang termasuk dalam kategori mall besar di Jakarta, dekat dengan rumah sakit bagus –di mana akhirnya aku dapat melaksanakan panggilan hati yang sudah aku sebutkan pada paragraf sebelum-sebelumnya, untuk memulai lagi usaha dari awal dalam rangka mencapai kehamilan– , dekat dengan pasar tradisional terbesar di Jakarta yang pernah aku lihat sejauh ini, dan tentunya aku tidak perlu bertemu dengan rutinitas harian kemacetan ibu kota lagi, di mana 3 tahun yang lalu aku masih harus merasakannya setiap hari, bertemu dengan komunitas ibu-ibu yang dapat membuka peluang baru jika ingin memulai bisnis/usaha sampingan, dan maaasih banyak lagi kebaikan-kebaikan lainnya. Banyak!

Kuncinya memang hanya 1 tadi, bersyukur. Aku benar-benar merasakan makna yang teramat dalam dari Firman Tuhan yang sudah aku sebutkan di awal tulisan.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” [Q.S. Ibrahim (14) : 7]

Dan aku sangat-sangat meyakini Firman Tuhan itu. Khususnya di dalam masa-masa penantian kehamilan yang sudah aku impikan ini. Aku tidak perlu terlalu fokus “kapan kehamilan itu akan datang“, melainkan aku malah lebih mem-fokus-kan diri kepada apa-apa saja yang sudah aku miliki hingga detik ini. Aku sangat yakin, dengan semakin banyak bersyukur tentang kehidupan ini, Tuhan PASTI Memberikan “hadiah” terbaik-Nya untukku. Ya, aku sangat percaya itu. 🙂

Pondok Pinang, 3 Agustus 2018

– – –

Advertisements

1 thought on “Konsep Rejeki dan Hindari Iri (6) – Penantian Kehamilan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s