Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid”

Jika momen-momen kebersamaan dapat bermakna keakraban, namun mengapa harus merusaknya dengan bumbu-bumbu “yang tidak perlu” saat sedang pertemuan. Jika momen-momen kebersamaan dapat mempererat kekeluargaan, namun mengapa harus merusaknya dengan kata-kata “pedas berbekas” hingga di kemudian hari. Jika momen-momen kebersamaan dapat semakin mempererat tali silaturahmi, namun mengapa harus merusaknya dengan sikap tidak saling menghormati privacy antar individu dalam sebuah pertemuan tersebut.

Dunia akhir-akhir ini dikejutkan dengan berbagai macam berita mengenai orang-orang terkenal yang ternyata mereka mengidap depresi dan pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka dengan cara bunuh diri. Berita-berita tersebut menunjukkan dan membuktikan bahwa yang namanya penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya. Namun, jangan sekali-kali men-cap mereka “kurang iman”, jangan. Ini bukan perkara tidak beragama atau kurang iman. Melainkan hal ini juga dapat dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan sekitar sang penderita. Lagipula kasus bunuh diri di dalam negeri pun juga banyak ditemui bukan? Walau mereka bukan orang terkenal, tapi kasus-kasus tersebut benar adanya dan nyata. 

 

– – – – –

 

Gue menulis ini sebenarnya karena menyesuaikan dengan tema mingguan dari komunitas blog yang sedang gue ikuti saat ini. Dan tema tulisan pada minggu ini adalah tentang “kebersamaan”. Jadi, gue ingin mengeluarkan beberapa uneg-uneg yang bisa gue tuangkan dan berkaitan dengan tema tulisan yang diberikan. Jika terdapat kesamaan tempat dan kejadian, hanya kebetulan semata saja ya. 🙂

 

– – – – –

 

Mungkin pada jaman dahulu di mana teknologi belum berkembang pesat seperti saat ini, kata-kata yang biasa muncul di dalam sebuah pertemuan akan dianggap sebagai hal yang “biasa saja”, wajar, dan malah sebagai sarana “sekedar basa-basi” untuk memulai percakapan di dalam sebuah pertemuan tersebut.

 

Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, di mana teknologi juga semakin maju, era social media juga semakin berkembang, maka manusia-manusia-nya pun gue rasa semakin kritis di dalam segala hal. Salah satunya adalah di dalam pergaulan atau hubungan antar sesama manusianya, terutama yang berkaitan dengan hal “kata-kata basa-basi” tadi, yang saat ini sudah mulai banyak yang sadar dan mulai belajar beralih menggunakan kalimat lain untuk memulai sebuah percakapan di dalam sebuah pertemuan. Orang-orang juga sudah semakin pintar untuk dapat mem-filter kata-kata yang akan keluar dari mulutnya masing-masing.

 

Berikut ini beberapa kondisi yang mungkin akan memicu keluarnya beberapa kalimat serta sikap yang dirasa “julid” atau “nyinyir” yang sebaiknya dapat dihindari jika menghadiri suatu pertemuan, entah itu pertemuan keluarga, pertemuan buka puasa bersama, pertemuan reuni sekolah, dan berbagai jenis pertemuan lainnya. Beberapa kondisi berikut ini terinspirasi dari beberapa kejadian nyata dari lingkungan pribadi maupun juga lingkungan teman-teman sekitar.

 

 

  1. Ketika melihat kerabat yang sudah bertahun-tahun menikah namun belum juga dikaruniai keturunan, sementara dengan kebetulan sang calon ibu (pihak perempuan) aktif juga bekerja sehari-hari.

 

Menikah, lalu memiliki momongan dengan segera. Rasanya terdengar sangat “normal” dan “sepatutnya demikian” ya. Hal ini mungkin berlaku sangat kental di lingkungan masyarakat Indonesia. Jadi, jika terdapat pasangan-pasangan yang tidak memiliki kondisi “yang demikian”, sudah pasti akan membuat bertanya-tanya banyak pihak, yang mana biasanya lebih banyak dilakukan oleh kaum “senior”, di mana justru malah cenderung banyak kepo-nya daripada memberikan solusi, doa, saran, serta nasehat berarti.

 

Yang menjadi permasalahan dalam kondisi ini biasanya adalah, di mana sang pihak perempuan, yang masih terlihat aktif bekerja di luar rumah, biasanya lebih sering kena “semprot” dan “tuduhan” sebagai “sumber permasalahan utama” kenapa pasangan menikah ini sudah lama sekali tidak juga diberi keturunan. Kondisi seperti ini entah gimana cerita gampang banget menarik minat para kaum “senior” buat memberikan “petuah-petuah bijak” yang mana sebenarnya tidak semua petuah yang keluar dari mulut mereka semuanya benar dan dapat diterima oleh sang calon ibu tersebut.

 

“Makanya, jangan capek-capek kerja mulu, ntar nggak hamil-hamil lho.”

 

Duh, pernyataan seperti itu gue rasa nggak perlu lah ya buat diungkapkan tanpa filter di muka si calon ibu tersebut.

 

Atau,

 

“Lu tuh ngejar karir mulu. Kapan lu mau serius buat punya anak.”

 

Hadeuh… Mungkin terlihat “sepele” dan terkesan super “basa-basi” banget ya. Tapi apakah ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas tau efeknya bagaimana terhadap si calon ibu tersebut? Mungkin Anda pikir pernyataan-pernyataan tersebut termasuk ke dalam kategori “nasehat positif”. Tapi malah sebaliknya, bisa jadi sama sekali tidak.

 

Lagipula, memangnya si calon ibu itu benar-benar berniat mengejar cita-cita? Memangnya si calon ibu benar-benar workaholic? Belum tentu, kan?

 

Mungkin sebagai seseorang yang merasa jauh lebih “senior” dan merasa paling banyak pengalamannya, memiliki perasaan “harus” untuk berkata demikian. Yep, di mana-mana gue juga mengakui kalau yang namanya orang-orang yang jauh lebih tua dibandingkan dari usia gue, pasti memiliki banyak pengalaman yang sudah terjadi dalam hidup mereka. Namun, apakah pernah terpikirkan jika sebenarnya tidak semua perkataan orang yang usianya jauh di atas itu “semua pasti benar”?

 

Nih, gue mau kasih contoh, dan ini nyata lho.

 

Gue pernah ketemu dengan seseorang yang usianya sudah jauh di atas gue. Kalau gue bilang ya bisa dikatakan kayak seusia nenek gue lah. Pada suatu kesempatan, si nenek tersebut menanyai seorang anak muda perempuan yang sudah menikah, yang mana saat itu memang terlihat belum ada tanda-tanda sedang hamil walau si anak muda tersebut sudah bertahun-tahun menikah. Lalu apa yang dilakukan sang nenek?

 

Nenek tersebut malah minta maaf! Ya, minta maaf dengan segera kepada si anak muda tersebut sesaat setelah Beliau bertanya apakah sudah ada tanda-tanda hamil apa belum. Wow! Ini nyata lho! Benar-benar terjadi! Di sini gue terpana dan mengambil kesimpulan mengenai jenis-jenis manusia “senior” yang ada di muka bumi ini. Dan gue jadi punya cita-cita, kelak dalam keberjalanan hidup gue menua, gue pengen banget bisa seperti sang nenek tersebut, bijak dan punya sikap yang menurut gue itu sangat luar biasa dan langka! Keren banget!

 

Nah, balik lagi ke pernyataan-pernyataan julid tadi di atas.

 

Gue cuma kepengen bilang. Nyatanya banyak juga yang gue temui, perempuan hamil yang justru memiliki pekerjaan jauh lebih berat dan lebih ekstrim dari si calon ibu yang dikomentarin tersebut. Lagipula, datangnya anak ke dalam sebuah keluarga, bukan ditentukan apakah sang calon ibu bekerja atau tidak, karena semuanya kembali lagi kepada-Nya Sang Pemilik Kehidupan.

 

Iya, boleh kok memberikan nasehat, apalagi bersifat positif. Namun, mungkin bisa menggunakan kata-kata lain yang lebih halus dan nada yang lebih dapat diterima oleh sang calon ibu.

 

Karena sebenarnya kita nggak pernah tau kan, kata-kata spontan yang terucap tersebut bagaimana diterimanya oleh telinga si calon ibu tersebut. Apalagi kalau ternyata berdampak secara psikologis terhadap diri sang calon ibu tersebut. Dan yang namanya efek psikologis itu kita nggak pernah tau bisa bertahan berapa lama di dalam tubuh seseorang. Jika efeknya negatif, bisa jadi akan terasa seumur hidup lho rasa sakitnya. Gue yakin orang tersebut bukan tidak mampu memaafkan, namun terkadang yang namanya luka hati sukar disembuhkan walau sudah berlalu lama peristiwa buruknya.

 

So, watch your words, people.

 

 

  1. Ketika melihat kerabat yang sudah menikah bertahun-tahun, sementara sang calon ibu (pihak perempuan) sehari-hari hanya berdiam diri di rumah saja (tidak bekerja).

 

Sekali lagi, menikah dan langsung memiliki momongan dengan segera atau dalam kurun waktu relatif cepat, siapa sih yang tidak mau seperti itu?

 

Nah, kalau kondisi ini kondisi yang berbeda dengan kondisi poin pertama tadi. Di mana justru tipe keluarga ini adalah tipe yang pro jika perempuan dapat “mandiri” secara finansial dan tidak selalu melulu bergantung kepada suaminya.

 

Dan dalam kondisi ini yang terjadi adalah, kebetulan sang calon ibu ini tidak bekerja di luar rumah dan memang beraktivitas sehari-hari di rumah. Lalu muncul pernyataan-pernyataan julid semacam,

 

“Loh, trus kamu ngapain aja di rumah. Nggak ngapa-ngapain banget? Kenapa nggak cari kerja saja biar lebih ada manfaatnya. Toh, belum ada anak ini juga kan.”

 

Waduh…ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas. Please atuh lah, jangan seperti itu ya.

 

Kita tidak pernah tau kondisi keluarga kecil seperti apa si calon ibu itu. Kita juga tidak pernah tau apa yang sebenarnya sang calon ibu  lakukan di rumah itu ngapain aja dan apa-apa saya yang ia rencanakan dan perjuangkan. Dan kita juga tidak pernah tau kan, kondisi keuangan keluarga sang calon ibu ini seperti apa.

 

Mungkin maksudnya baik ya dengan mengeluarkan “basa-basi” seperti di atas tadi. Tapi kita juga tidak pernah tau, sebenarnya bagaimana perasaan sang calon ibu tersebut ketika mendengar pernyataan-pernyataan sejenis tersebut? Bisa jadi berakibat negatif lho ke perasaan dan psikologi sang calon ibu. Alih-alih mendapatkan petuah positif, eh malah menambah beban pikiran baru kepada sang calon ibu. Nah lho.

 

Apakah harus dengan kata-kata demikian demi mendukung program kehamilan sang calon ibu tersebut? Tidak juga kan?

 

Nah, yuk. Mari kita lebih bijak lagi di dalam pemilihan kata-kata jika bertemu dengan kondisi seperti ini. Mari support mereka dengan tidak menambah-nambahi beban pikiran atau malah luka mendalam di hati mereka. Biarkan pikiran mereka tenang dengan didukung juga melalui sikap kita yang positif juga terhadap mereka. Syukur-syukur kita doakan mereka selalu dalam diam, agar program kehamilan para calon ibu tersebut dapat berhasil. Ya to?

 

 

  1. Ketika melihat kerabat yang sudah dirasa “cukup umur” untuk menikah, namun belum ada tanda-tanda akan melanjutkan ke dalam tahapan menikah tersebut, sementara juga sedang memiliki pekerjaan yang sedang bagus-bagusnya.

 

Memiliki pekerjaan bagus dengan prospek masa depan yang terjamin, sudah pasti dapat menjadi impian untuk sebagian (atau malah kebanyakan) orang. Walau pada sebagian orang lainnya tidak menyukai kehidupan seperti itu yang bagi mereka mungkin nampak “monoton” dan “hidup yang begitu-begitu saja” serta cenderung membosankan. Namun pada satu sisi kehidupan lain lagi, terdapat orang-orang yang memiliki skill yang mumpuni dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehingga dapat bermanfaat, apalagi kemudian dapat digunakan juga di dalam mencari nafkah.

 

Namun apa yang akan terjadi jika tipe sebagian orang yang kedua ini (skilled people) jika masih terlihat sendiri? Sementara dunia seperti sudah ada pada genggamannya? Sudah dapat dibayangkan kah pernyataan julid macam apa yang biasanya suka dilayangkan oleh kebanyakan orang kepada para jomblowan dan jomblowati sukses ini?

 

“Eh elo. Kapan nih nyari bini-nya? Rumah punya, pekerjaan oke, kurang apa lagi coba? Jangan lama-lama sob, entar keburu jadi jejaka tua lho.”

 

Atau,

 

“Eh sis. Gue liat elo makin sukses aja nih karirnya. Ati-ati lho jangan serius-serius banget cari duit. Keburu tua, ntar susah punya anaknya.”

 

OMG. Sumprit nggak banget banget menurut gue. Maunya apa sih dengan orang-orang ini? Itu kata-kata kagak ada yang lebih halus lagi apa?

 

Ingat, sekali lagi…kita tidak akan pernah tau bagaimana perjuangan dan kehidupan masing-masing orang itu seperti apa. Bisa jadi ada baaaaanyak alasan yang jauh lebih urgent dibandingkan dengan urusan menikah, misalnya mengabdi kepada kemanusiaan. Lagipula, kalau dilihat dari kacamata agama Islam (cmiiw), kalau memang mampu menahan hawa nafsu (terutama nafsu yang begonoh), maka tidak wajib bagi orang tersebut untuk menikah.

 

Lagipula jika orang-orang tersebut sibuk dengan berbuat kebaikan untuk sesama, atau selalu berbuat kebaikan di mana pun mereka berada, gue rasa kita nggak perlu men-judge mereka yang aneh-aneh. Mungkin bagi mereka, menikah bukanlah solusi untuk menambah daftar perbuatan baik untuk mereka lakukan dalam kehidupan mereka.

 

 

  1. Ketika melihat kerabat yang terlihat sedang hamil, di mana sang calon ibu tersebut masih aktif bekerja di luar rumah.

 

Nah, kalau kondisi seperti ini dapat menimbulkan berbagai macam respon oleh lingkungan sekitar. Tentunya, baik yang bersifat positif maupun negatif. Syukur-syukur respon positif, malah semakin membantu semangat sang ibu hamil itu sendiri kan. Lalu kalau respon negatif? Hmmm…ini dia nih.

 

Ada berbagai macam tipe keluarga yang ada di dunia ini, apalagi di Indonesia dengan berbagai macam budaya yang ada di negara ini. Mungkin gue akan ambil salah satu contoh kasus yang mungkin atau bahkan pernah terjadi.

 

Seperti salah satu contoh kasus. Ada keluarga yang begitu pro dengan wanita yang tidak bekerja di luar rumah dan pokoknya yang namanya ibu di rumah itu perfect banget deh. Sementara sang ibu hamil saat sedang hamil kebetulan masih berstatus sebagai seorang pegawai di suatu perusahaan, dalam arti masih bekerja di luar rumah. Nah, yang terjadi kemudian oleh tipe keluarga ini adalah, bukannya men-support dengan kata-kata positif membangun kepada si ibu hamil, eh malah memberi respon aneh-aneh yang justru tidak enak terdengar di telinga sang ibu hamil.

 

“Nanti kalau anak kamu sudah lahir, ingat, kamu harus di rumah saja lho. Jangan tinggalin anak kamu sama pembantu.”

 

Ooops. Ngeri banget ya dengernya. Kata-katanya serem. 😦

 

Begini ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas. Kita tidak pernah tau rencana seperti apa yang sedang direncanakan oleh keluarga kecil si ibu hamil tersebut. Kita juga tidak pernah tau kan kondisi keluarga kecil si ibu hamil ini seperti ini. Sudah pasti banyak variabel yang terikat dengan keluarga kecil mereka ini, entah masih memiliki tanggungan orang tua, saudara yang tidak dapat bekerja secara mandiri, serta berbagai kebutuhan lainnya.

 

Dan lagipula, sekalipun sang ibu hamil memang sudah ada rencana resign dari pekerjaannya setelah anaknya lahir dan memang berniat untuk di rumah saja, sebaiknya kata-kata julid seperti di atas tidak perlu diungkapan. Tetap akan sama-sama terasa sakit di hati si ibu hamil walaupun sebenarnya memang meng-amin-i kata-kata julid tersebut.

 

Daripada memberikan komentar-komentar pedas seperti di atas, bagaimana kalau memberikan semangat dan kata-kata positif lain atau bahkan pertanyaan-pertanyaan lain yang dirasa malah membuat hati dan perasaan si ibu hamil semakin nyaman. Jadi, biar pulang-pulang dari pertemuan, si ibu hamil tersebut tidak ada beban perasaan baper akibat celetukan-celetukan yang menurut gue nggak guna dan cenderung negatif seperti itu.

 

Lagipula yang dibutuhkan oleh seorang ibu hamil itu adalah ketenangan batin dan juga perasaan, sehingga badan pun dapat menghasilkan hormon positif yang nantinya juga akan berdampak baik terhadap tumbuh-kembang sang bayi di dalam kandungan. Tuh kan, bisa jadi pahala juga lho karena sudah bisa men-support kebahagiaan para ibu hamil di mana pun mereka berada. Ya to?

 

 

  1. Ketika melihat kerabat yang terlihat baru saja memiliki anak (new mom).

 

Nah ini. Jika melihat dari beberapa kasus atau kejadian yang ada di lingkungan sekitar gue, apalagi terutama di era social media seperti saat ini, ternyata banyak juga ya berbagai macam  komentar yang suka disematkan kepada para ibu baru.

 

Gue pikir setelah akhirnya berhasil menikah dan hamil, “permasalahan dengan pernyataan-pernyataan julid” itu berhenti sampai dengan masa kehamilan. Ternyata tidak juga.

 

Ada banyak sekali perjuangan yang harus dilalui oleh para ibu baru, terutama menghadapi komentar-komentar para ibu lain mengenai cara mendidik atau membesarkan anak si ibu baru tersebut.

 

Ingat, yang namanya orang tua-orang tua di dunia, pasti punya standarnya masing-masing di dalam pengasuhan bagi anak-anak mereka. Mereka pasti tau yang terbaik untuk anak-anak mereka. Lagipula terkadang, yang namanya teori tidak selalu berjalan mulus diterapkan ke dalam kehidupan nyata.

 

Kalau buat gue, selama gue nggak melanggar batas-batas aturan agama dan norma kemanusiaan, rasa-rasanya oke-oke saja dan sah-sah saja melakukan apapun demi tumbuh-kembang anak-anak gue secara optimal.

 

Ilustrasi (source: http://thefools.org/ )

 

 

  1. Ketika melihat kerabat yang sudah menikah bertahun-tahun namun belum juga memiliki rumah tinggal pribadi, apalagi kendaraan pribadi.

 

Nah ini nih. Kondisi seperti ini juga ada lho yang kena “julid” dan “nyinyir” dari lingkungan sekitar.

 

Memang, di dalam masyarakat kita, terdapat beberapa keluarga tertentu yang memiliki target khusus terkait batas waktu “wajar” di dalam memiliki segala macam benda yang baru gue sebutkan di atas. Bahkan ada yang memasukkannya ke dalam salah satu “syarat pernikahan” bagi para calon pengantin. Wew.

 

Well, begini. Menurut gue untuk hal ini, sekali lagi dan balik lagi. Kita tidak pernah tau gimana kondisi masing-masing keluarga seperti apa, apa saja kebutuhannya, bagaimana keuangannya, prinsip keluarganya, latar belakang keluarga seperti apa, dan lain sebagainya.

 

Daripada mengomentari kapan mereka cepat memiliki benda-benda keduniaan tersebut, bagaimana kalau didoakan saja semoga keluarga-keluarga tersebut selalu dimudahkan di dalam mencari jalan rejeki mereka masing-masing dengan cara yang halal. Dan syukur-syukur didoakan juga agar kelak jika mereka menjadi orang yang beruntung di kemudian hari, mereka akan dapat bermanfaat untuk lingkungan sekitarnya, tidak sombong, dan tetap rendah hati.

 

Lagipula, sebaik-baiknya orang yang memiliki harta berlimpah-ruah, adalah mereka yang dapat memberikan manfaat dan berkat kepada orang-orang dan lingkungan sekitar mereka, dari harta-harta yang mereka miliki.

 

 

  1. Ketika melihat kerabat (perempuan) yang sudah menjadi seorang ibu, namun tetap pergi bekerja dengan jarak tempuh yang tidak pendek, di mana harus berangkat pagi dan pulang malam.

 

Iniiiii. Banyak sekali gue lihat yang sering banget julid tentang kondisi ini. Entah bagaimana cerita, era sekarang ini, khususnya era social media saat ini, banyak sekali yang mempermasalahkan dengan kondisi ini. Yep, ibu di rumah vs working mom.

 

“Ngapain sih kamu capek-capek berangkat pagi pulang malam, toh uang yang kamu hasilkan juga nggak ada bedanya kalau kamu hire nanny/pembantu buat jagain anak-anak kamu di rumah? Nggak ada manfaatnya banget.”

 

Uuurgh… Nylekit banget sis, sakit banget buat didenger di telinga, apalagi kalau masuk sampai ke dalam hati dan ngendon selama bertahun-tahun rasa sakitnya.

 

Hati-hati, ibu-ibu, teman-teman, mbak-mbak semuanya.

 

Ingat, tidak semua orang memiliki kondisi seberuntung dengan apa yang dirasakan oleh sebagian orang lainnya saat ini. Tidak semua orang memiliki kondisi nyaman “uang bulanan pasti cukup” oleh pemberian suami saja. Tidak semua orang.

 

Begini, hidup itu selalu tentang pilihan. Dan ketika sudah mantab memilih, biarkan itu menjadi urusan pribadi orang yang sudah memilih tersebut. Lagipula, kalau menurut gue, selama sang suami memberikan izin dan segala macam hal per-RT-an dapat ter-handle dengan baik, anak-anak aman, tidak nakal, nyaman, tidak rewel, tumbuh kembang baik, dan lain sebagainya, gue rasa nggak ada masalah ya. Karena buat gue, yang utama itu adalah Ridho Suami bagi para istri di dalam setiap melakukan kegiatan.

 

Gue yakin, pasti baaanyak sekali pertimbangan dan sudah melalui berbagai tahap pemikiran, mengapa pilihan sang ibu harus tetap bekerja di luar rumah. Dan gue rasa semua itu nggak melulu tentang “buat cari duit”. Percaya deh.

 

 

  1. Ketika melihat kerabat (perempuan) yang sudah menjadi seorang ibu, dan sehari-hari berkegiatan di rumah untuk mengurus Rumah Tangga.

 

Kerja salah, nggak kerja juga salah.

 

Hadeuhnggak ada habisnya ya komentar-komentar semacam ini bermunculan?

 

“Heh? Kamu di rumah aja urus anak? Lha kemarin kamu capek-capek sekolah trus buat apa? Nggak sayang ijazahmu apa?”

 

Daaan…berbagai macam pernyataan julid sejenis lainnya.

 

Kembali lagi, hidup itu selalu tentang pilihan. Dan kita nggak berhak ikut-campur dengan pilihan-pilihan  yang sudah orang lain buat.  Lagipula sekali lagi, setiap pilihan yang sudah dibuat oleh seseorang pasti sudah melalui tahapan yang sangat panjang, sehingga dapat menghasilkan suatu keputusan yang pada akhirnya diambil tersebut.

 

Percaya deh, nggak mudah lho buat para ibu yang bergelar akademik hebat yang pada akhirnya secara sadar memutuskan ingin di rumah saja. Sudah pun tekanan batin yang disebabkan oleh diri sendiri akibat pertimbangan panjang tiada habisnya tentang “duh kok gue ngerasa sayang ya sama ilmunya”, dan berbagai alasan lain di dalam benak para ibu tersebut, eh malah ketambahan pikiran dari pernyataan-pernyataan julid yang muncul dari orang lain.

 

Sekali lagi, tidak mudah lho ibu-ibu, mbak-mbak, dan mas-mas sekalian. Daripada membuat sang ibu merasa semakin down dan menambah beban pikiran sang ibu, bagaimana kalau diajak bicara tentang hal-hal lain yang jauh lebih menyenangkan, agar pembawaan dan pikiran sang ibu tersebut tetap positif dan tidak meninggalkan bekas luka di kemudian hari.  Setuju?

 

– – – – –

 

 

Nah, kira-kira itu tadi beberapa kondisi yang tiba-tiba kepikiran di otak gue. Ternyata panjang juga ya, haha. 😀 Dan emang kebetulan banget, ide tulisan ini muncul begitu saja karena  terinspirasi dengan beberapa kejadian yang terjadi di lingkungan sekitar gue.

 

Sekali lagi, penyakit akibat tekanan psikologis itu benar adanya dan nyata terjadi. Oleh karenanya, harap untuk selalu diingat dan direnungkan bahwa, kita tidak pernah tau kondisi hati, pikiran, dan perasaan setiap orang yang kita temui itu seperti apa. Ada orang yang memiliki hati sekuat baja, dan ada juga orang yang memiliki hati selembut sutra serta sangat sensitif.

 

So, berhati-hatilah di dalam pemilihan kata-kata. Anggap saja sebagai sebuah pembelajaran hidup tentang karma. Setiap perbuatan baik, kelak akan berbuah baik di kemudian hari. Begitupula sebaliknya, setiap perbuatan buruk, akan berbuah keburukan juga di kemudian hari. Hati-hati dan hati-hati.

 

Bagaimana pun juga, menebar hal-hal positif di mana pun kita berada adalah jauh lebih baik, dibandingkan dengan menebar hal-hal negatif tiada berguna.

 

Berkatalah yang baik atau diam.

 

Salam,

🙂

 

Advertisements

2 thoughts on “Jangan Rusak Momen Kebersamaan dengan “Julid””

  1. Dulu ada sepupu yg ga mau dateng ke arisan keluarga besar, krn sering ditanya “udah isi belum”. Lebaran pun tak datang. Hingga >10 thn ini pun belum berputra. Tante² tuh yg nyinyir. Mana makin sepuh makin nyinyir…
    Setiap ada pasangan baru ya nanyanya sama…tentang udah isi belum…
    Haha…ga kreatif…

    1. Ya Allah Bunda,, 😭 duh pasti sakit banget itu saudara Bunda dengernya,, apalagi kalo tiap ketemu begitu,, 😭
      Tau sekali rasanya Bun,, nyesek,, Saya pun merasakan yg 4,5 tahunan aja merasa gimana2 gitu, gimana yg 10 tahunan,, 😭

      Mudah2an sodara Bunda itu selalu diberi kelimpahan rizqi & pahala yg jauh lebih besar lagi ya Bun,, aamiin,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s