Curhat Terbuka, Life

Kreativitas yang Meresahkan

Berita akhir-akhir ini, baik di media elektronik, media cetak, sosial media, dan lain sebagainya, cukup membuat resah masyarakat. Apalagi di antara berita-berita tersebut terdapat kejadian yang bersinggungan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Berita-berita ini saya menyaksikan langsung melalui media televisi maupun juga di media elektronik, jadi saya meyakini jika berita-berita ini bukan merupakan berita hoax

 

  1. Berita Pemulung Bahan Makanan

Berita ini saya lihat di Trans 7 di acara-acara investigasi makanan yang khas dimiliki oleh stasiun TV ini. Biasanya dari program televisi ini, kita sering mendengar berita mengenai daging bakso sapi yang diganti dengan daging tikus, ada juga berita terkait makanan yang mengandung pengawet borax, dan berita negatif lainnya.

Namun pada sore hari itu, saya tidak sengaja melihat berita yang cukup membuat kaget dan menjadi membuat sedikit rasa khawatir.

Berita yang saya lihat adalah adanya kegiatan yang dilakukan oleh beberapa oknum pemulung di mana mereka memulung bahan makanan sisa yang terlihat “masih layak” konsumsi di pasar tradisional. Jenis bahan makanan yang dimaksud dalam berita adalah beberapa bahan dasar seperti bawang merah, bawang putih, tomat, dan cabai.  Yang membuat miris adalah bahwa hasil-hasil pulungan tersebut kemudian akan dilakukan pembersihan agar terlihat “lebih fresh”. Kemudian setelah bersih, bahan-bahan makanan tersebut akan dijual kembali dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran.

Misal, saat ini harga bawang merah ¼ kg adalah mencapai angka Rp 13.000,-, namun harga jual bawang merah hasil pulungan ini, ¼ kg-nya bisa hanya dijual dalam rentang Rp 6.000,- sampai dengan Rp 7.000,- saja.

Yang membuat saya merasa miris adalah, kejadian ini menyasar pasar-pasar tradisional, di mana membuat saya semakin berpikir, di pasar tradisional inilah banyak masyarakat yang menggantungkan kehidupan sehari-hari keluarga mereka dari tempat ini. Terutama untuk saya pribadi, jika ingin berhemat untuk supply bahan makanan sehari-hari, saya bisa dapatkan di pasar tradisional ini. Sementara yang terlihat pada berita investigasi sore hari itu adalah benar-benar terjadi di sebuah pasar tradisional yang kebetulan lokasinya berada di sebuah kota besar. Saya tidak habis pikir jika apabila ternyata praktek-praktek kejahatan ini banyak terjadi di pasar-pasar tradisional lainnya di kota-kota lainnya.

Yang tadinya merasa aman-aman saja berbelanja harian di pasar tradisional, berubah menjadi memiliki rasa khawatir berlebih dan memiliki rasa hilang kepercayaan terhadap kualitas bahan makanan yang dijual di pasar tradisional.

Ya…memang tidak semua pasar tradisional akan seperti itu sih, saya yakin. Namun rasa was-was dan khawatir tetap muncul kan. 😦

 

  1. Berita Kebocoran Jawaban Ujian Nasional Tingkat SMA

Berita ini juga saya lihat di televisi. Kejadian kebocoran jawaban ujian nasional ini terjadi di Kota Bandung di suatu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan menurut berita yang saya dengar, kunci jawaban ujian ini sudah tersebar luas beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian di kalangan murid-murid tingkat SMA tersebut melalui grup-grup WhatsApp dan grup-grup sejenis.

Yang saya tangkap, mungkin, terdapat beberapa oknum yang terlalu khawatir jika terjadi ketidak-lulusan siswa yang sangat besar. Oleh karenanya sang oknum melakukan penyebaran kunci jawaban soal-soal ujian tersebut dengan sengaja, mengingat ujian tersebut bersifat nasional dan sebagai tolak ukur lulus atau tidaknya seorang siswa dari bangku sekolah tingkat SMA.

Link berita terkait.

 

  1. Berita Packaging Ulang Makanan yang Sudah Kedaluwarsa

Nah ini. Berita ini yang lagi-lagi membuat geleng-geleng kepala saat mendengarnya. Bagaimana tidak? Banyak sekali makanan-makanan yang sudah jelas-jelas telah melewati batas tanggal kedaluwarsa, namun dilakukan packaging ulang dengan kemasan yang bertuliskan tanggal kedaluwarsa baru yang lebih panjang lagi dari masa sebelumnya, yang padahal jelas-jelas tanggal tersebut adalah palsu alias bohong. Dan lebih mirisnya lagi adalah ketika saya melihat nama salah satu perusahan besar yang memang bergerak dalam bidang makanan, terdapat dalam gerombolan makanan yang berhasil dikumpulkan oleh pihak kepolisian. Yang jauh lebih miris lagi, hasil re-packaging ini benar-benar dijual kembali ke supermarket-supermarket yang ada di beberapa kota besar.

Saat menyimak berita ini, saya tidak menemukan kesimpulan jika memang sang produsen asli (perusahaan-perusahaan makanan asli) yang “menyuruh” kegiatan demikian, melainkan terdapat beberapa oknum di tengah-tengah masyarakat, yang memang memiliki usaha ilegal ini, bahkan memiliki pabrik sendiri yang memang sengaja untuk melakukan re-packaging makanan-makanan kedaluwarsa ini. Sad.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana dengan nasib makanan-makanan yang sudah terlanjur tersebar di beberapa supermarket ya? Mudah-mudahan dapat terdeteksi ke mana saja persebarannya dari hasil penyelidikan kepolisian dan dapat segera menarik kembali makanan-makanan tersebut. Aamiin. -_-”

Link berita terkait.

 

  1. Berita Konten Puisi yang Menyinggung Isu SARA

Berita yang satu ini memang cukup menggegerkan dunia maya. Berita ini membuat netizen bereaksi super heboh dengan berbagai macam reaksi, baik reaksi negatif maupun positif ketika melihat berita ini.

Jadi, dalam puisi tersebut mengandung beberapa kata-kata yang menyinggung suatu agama di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, kata-kata yang digunakan benar-benar straight to the point, benar-benar lugas, sehingga orang yang mendengar dan membaca hampir pasti akan dapat mendidih seketika, khususnya umat agama tersebut. Permasalahan di sini adalah karena kata-kata yang digunakan terlalu sensitif dan tidak bisa dijadikan sebagai hal-hal perbandingan, apalagi sebagai bahan lelucon, karena kata-kata tersebut merupakan hal-hal mendasar pada ajaran agama tersebut.

Berita terakhir yang saya baca sih, sudah ada klarifikasi langsung oleh sang penyair melalui press conference dan sudah meminta maaf langsung kepada masyarakat umum.

Satu hal yang dapat dipelajari dari kasus ini, sekreatif apapun diri kalian, jika kurang berhati-hati di dalam bertindak, maka kelak akan dapat menimbulkan masalah di kemudian hari, apalagi jika menyangkut hal-hal sensitif seperti halnya isu SARA dan menyangkut hajat hidup masyarakat pada umumnya.

Link berita terkait.

 

  1. Video Instastory Seorang Youtuber Muda yang Merobek Uang Rp 100.000,-

Terakhir, berita ini. Saya sebenarnya sudah tidak kaget jika hal ini akan terjadi demikian, mengingat sepertinya “ada yang berbeda” dengan Halilintar yang satu ini. Sayangnya, akibat dari seorang Halilintar yang berperilaku negatif  inilah, jadinya nama Gen Halilintar pun ikutan tercoreng negatif. Padahal sebenarnya, tidak semua Halilintar yang memiliki sifat “nyentrik” macam sang Youtuber tersebut.

Di dalam video tersebut, terlihat bahwa seorang Halilintar yang juga seorang Youtuber melakukan  aksi merobek uang kertas senilai Rp 100.000,-, di mana yang diklarifikasi oleh sang Youtuber tersebut di kemudian hari menyatakan kalau uang kertas yang digunakan adalah uang kertas mainan. Namun nasi telah menjadi bubur. Video tersebut sudah banyak ditonton oleh banyak pengguna Instagram dan bahkan sudah tersebar dalam bentuk digitalnya secara luas. Sehingga banyak masyarakat yang telah menyaksikan video tersebut. Pada akhirnya masyarakat pun merasa kecewa terhadap sang Youtuber karena sudah memberikan contoh yang tidak baik kepada masyarakat. Terutama apalagi banyak fans  dari keluarga Halilintar ini yang masih anak-anak dan remaja. Miris sekali rasanya. 😦

Saya pernah bertemu dengan gerombolan Halilintar perempuan saat sedang berbelanja di supermarket di suatu mall di Jakarta Selatan. Kesan yang saya lihat dari mereka justru (anak-anak Halilintar perempuan), malah tidak terlihat sama sekali kalau mereka ini adalah “anak orang kaya”.  Benar-benar penampilannya sangat biasa saja, kesan “kaya” hampir tidak terlihat sama sekali. Banyak yang menyematkan bahwa keluarga ini sangat kaya-raya dan tajir-melintir, kemudian sering riya’ di kesehariannya. Padahal menurut saya, kesan seperti itu terbentuk hanya karena perspektif orang-orang tertentu saja, atau karena “bentukan” image di sosial media, dan mungkin disebabkan oleh beberapa anggota Halilintar saja yang memang memiliki sifat “nyentrik” tadi.

Hal yang saya pelajari di sini adalah bukan tertuju pada sang Youtuber, melainkan tertuju kepada kedua orang tuanya. Saya malah memiliki kesimpulan pribadi demikian, ternyata mendidik anak itu susah, atau dapat dikatan sangat susah. Bagaimanapun anak adalah titipan Tuhan, harus dirawat dan dididik dengan penuh tanggung-jawab. Menjadi orang tua memang berat, akan tetapi jika sudah memutuskan untuk menjadi orang tua, berarti juga sudah harus siap secara lahir dan batin untuk segala bentuk tanggung-jawab ke depannya di dalam mendidik dan menuntun anak-anaknya hingga nanti usia dewasa.

Menurut saya pribadi, saya yakin kedua orang tua Halilintar bukan orang tua yang tidak baik, bukan tipe orang tua yang masa bodoh dan  menelantarkan anak-anak mereka, bukan. Hanya saja kejadian yang sedang terjadi ini semacam “ujian” yang sedang “mampir” ke dalam kehidupan mereka saja sebagai orang tua. Dari beberapa video Gen Halilintar yang berada di channel Youtube, khususnya yang berada pada channel utama keluarga ini, saya melihat kalau apa yang mereka lakukan itu adalah murni jika mereka memang “demikian” adanya, yang terkadang juga terlihat kesan kalau mereka adalah keluarga religius juga. Walau terkadang benar, kesan “terlalu heboh” pada keluarga ini juga benar-benar terasa, yang mana terkadang memang dapat mengganggu orang-orang di sekitar mereka pada saat mereka melakukan rekaman video vlog.

Link berita terkait.

– – – – –

 

Beberapa kejadian di atas merupakan hal-hal yang sesungguhnya bersifat kreatif, namun sayangnya hal-hal yang dilakukan justru bersifat sangat negatif.

Dari kejadian-kejadian yang sudah saya sebutkan di atas, kita jadi dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran, agar untuk ke depannya kita juga tidak ikut-ikutan membuat sebuah kreativitas yang justru malah dapat meresahkan.

So, be careful ya. 🙂

nb: Kata “kedaluwarsa” adalah kata baku sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Advertisements

4 thoughts on “Kreativitas yang Meresahkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s