Life

Dampak Negatif (di) Sosial Media

Di era sosial media saat ini, segala macam hal dapat terjadi dari berbagai fungsi sosial media itu sendiri, salah satunya adalah media sosial dijadikan sebagai sarana untuk mengekspresikan diri seseorang. Mungkin hampir mayoritas penduduk dunia saat ini, terutama yang di negaranya memiliki koneksi internet, memiliki minimal satu buah akun sosial media dari beberapa platform sosial media yang ada pada saat ini. Bahkan berdasarkan informasi dari https://www.statista.com/, disebutkan bahwa jumlah pengguna aktif sosial media Facebook dalam 1 (satu) bulan di dunia dalam rentang Quarter ke-4 tahun 2017 adalah mencapai 2,2 Milyar orang dari sekitar 7,6 Milyar penduduk dunia (source: Google, Wikipedia, World Bank). 

 

Statistik Jumlah Pengguna Facebook Rentang 2008 – 2017 (source: https://www.statista.com/)

 

Jumlah Penduduk Dunia Tahun 2016 dan 2017 (sumber: Google, Wikipedia, World Bank)

 

 

 

Sosial Media sebagai Sarana Ekspresi Diri

Tidak dipungkiri, dengan hadirnya sosial media saat ini, mungkin akan banyak orang yang berlomba-lomba untuk dapat “terlihat” di ranah publik. Atau kalau dalam bahasa kerennya “narsis“. Sebagai sarana mengekspresikan diri seseorang inilah, terkadang sosial media juga dijadikan sebagai wadah untuk ajang pamer terhadap segala hal yang melekat pada diri individu pengguna sosial media tersebut, entah kegiatan sehari-hari, koleksi akan kebendaan, aktivitas liburan, aktivitas rumah tangga, aktivitas keluarga, dan berbagai hal lainnya. Tidak ada yang salah dengan hal itu semua, asalkan setiap hal yang dibagikan ke ranah publik adalah sesuatu hal yang positif-positif saja. Bahkan banyak juga akun-akun sosial media saat ini yang berisikan hal-hal bermanfaat dan mengandung banyak ilmu pengetahuan bagi para pengikutnya, seperti tentang perencanaan keuangan dan investasi, tentang parenting, tentang resep-resep masakan, dan berbagai hal bermanfaat lainnya.

 

 

Dampak Buruk Penggunaan Sosial Media

Apabila terjadi penggunaan sosial media secara berlebihan dan tidak pada tempatnya, maka hal-hal negatif akan sangat mungkin terjadi, seperti halnya adanya penyebaran isu-isu hoax, gosip-gosip artis yang belum tentu akan kebenarannya, pornografi, hingga kasus penipuan online.

Dan melalui tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang kejadian-kejadian negatif yang terjadi di dalam penggunaan sosial media yang kebetulan saya  menyaksikannya sendiri dengan mata kepala saya sendiri.

 

Beberapa waktu lalu di linimasa facebook milik saya, terdapat 2 (dua) buah kasus yang mungkin dapat dijadikan pelajaran bagi siapapun. Kasus yang pertama adalah kasus penjualan krim wajah secara online namun ternyata terbukti bahwa krim yang dijual mengandung zat berbahaya, yaitu zat kimia mercury (Hg). Kasus yang kedua adalah kasus penipuan hingga milyaran rupiah dari investasi berlian, Logam Mulia emas, dan properti. Sebenarnya masih terdapat kasus-kasus negatif yang terjadi dalam lingkaran sosial media milik saya seperti halnya juga kasus penipuan arisan online, namun saya kali ini hanya ingin bercerita tentang 2 (dua) kasus yang sempat hits dan panas di linimasa saya tersebut.

 

1. Kasus Penjualan Krim Wajah Ber-Mercury

Dengan sosial media, kita juga dapat melakukan aktivitas positif yang dapat menguntungkan, misalnya seperti aktivitas jual-beli secara online. Dengan “kepiawaian” para penjual online di dalam mengoperasikan penggunaan sosial medianya, tidak menutup kemungkinan jika aktivitas jualan online miliknya akan dapat sukses di kemudian hari. Entah dari “kepiawaian” mereka dalam merangkai kata-kata indah dalam rangka mempromosikan produk-produk yang mereka jual, pencitraan diri akan produk yang mereka jual, kemampuan menjaring calon-calon pembeli, hingga kemampuan “pdkt” yang sangat “ciamik” kepada calon-calon pembeli tersebut.

Tersebutlah seseorang pengusaha baru dalam dunia jual-beli krim wajah. Sebenarnya jika ingin melihat di instagram saat ini, akan banyak ditemui akun-akun online shop yang menjual produk-produk krim wajah sejenis dengan dibalut berbagai merk-merk “baru” yang bertebaran yang mungkin banyak di antaranya belum teruji keamanannya.  Walau demikian, di antara ratusan bahkan mungkin jutaan merk-merk  “baru” tersebut, tetap ada merk-merk yang benar-benar baik dan aman bagi kulit wajah.

Kembali kepada pengusaha baru bidang krim wajah tadi.

Secara background pendidikan maupun pelatihan, sang pengusaha tersebut bukanlah seseorang yang memiliki latar maupun pengalaman di bidang kesehatan kecantikan maupun kefarmasian atau kimia dalam peracikan pembuatan obat-obatan maupun kosmetik. Namun sang pengusaha tersebut memang merupakan lulusan Public Relation, yang mana menyebabkan ia memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa bahkan dapat “membius” siapapun yang ia temui.

Berjalannya waktu, usaha penjualan krim wajah tersebut berkembang pesat, bahkan dapat dikatakan sangat cepat, karena hanya dalam kurun waktu 1,5 tahunan saja ia sudah dapat “menjaring” reseller di berbagai kota besar di Indonesia hingga memiliki keuntungan sangat luar biasa, terlihat dari apa-apa saja yang ia tunjukkan dan pamerkan melalui sosial media miliknya.

Hingga pada suatu hari, salah seorang pengguna krim wajah tersebut menguji sendiri dan membawa krim wajah tersebut ke laboratorium. Dan hasil yang didapatkan sangat membuat shock karena krim tersebut mengandung mercury (Hg) dalam kadar yang sangat tinggi. Setelah seorang pengguna tersebut menguji sendiri krim wajah tersebut, akhirnya beberapa orang pun mengikuti jejaknya untuk menguji krim wajah mereka ke laboratorium. Sangat sedih. Hasil yang didapatkan pun sama, krim wajah mereka mengandung kadar mercury yang sangat tinggi juga!

Zat merkuri memang dikenal sebagai zat berbahaya yang memang dapat memutihkan kulit wajah secara cepat. Kasus-kasus krim wajah yang mengandung mercury (Hg) banyak ditemui di pasaran sebagai tindak kejahatan, seperti berita razia pabrik krim wajah gelondongan yang banyak ditemui di beberapa daerah. Padahal sejatinya tidak boleh ada kandungan zat mercury sama sekali di dalam produk-produk kecantikan (cmiiw), apalagi yang bersentuhan langsung dengan kulit. Dan kasus penjual krim wajah yang saya ceritakan ini pun terduga kuat kalau krim yang dijual merupakan krim gelondongan.

 

Selang beberapa saat setelah beberapa bukti kuat laboratorium di dapat, gegerlah suasana linimasa di facebook saya. Karena tidak dipungkiri kalau sudah banyak sekali pengguna krim wajah tersebut, terutama dalam lingkaran  pertemanan maya saya, dan bahkan termasuk diri saya sendiri. Banyak yang kecewa dan marah besar, apalagi saya. Bagaimana tidak? Sang pengusaha selalu menggembar-gemborkan dan mempromosikan melalui sosial medianya bahwa krim wajah yang ia jual adalah aman dan sudah bersertifikat BPOM, bahkan diklaim aman bagi ibu hamil dan ibu menyusui.  Sudah begitu, foto-foto liburan ke luar negeri sang pengusaha tersebut sering muncul dan berseliweran di news feed facebook kami para pembeli krim wajahnya.

Hingga saat ini, saya belum mendengar lagi kelanjutan dari kasus krim merkuri tersebut. Informasi terakhir yang saya dengar, beberapa korban yang kebetulan sudah memakai hampir setahun dan memiliki kemampuan materi berlebih, membantu kami para korban dengan melaporkan sang pengusaha ke pihak yang berwajib. Dan beruntungnya, di antara ibu-ibu tersebut, terdapat juga orang-orang yang pandai dan paham dalam bidang hukum, karena kebetulan memang profesi ibu-ibu tersebut sehari-hari.

Well, tidak dipungkiri. Kemampuan marketing yang luar biasa sang pengusaha lakukan benar-benar hebat dan mampu menghipnotis setiap pembaca yang berseliweran dan berteman maya dengannya. Balutan kata-kata indah pencitraan akan produk-produk krim wajah yang ia jual benar-benar dapat “menggugah” minat calon pembeli. Kemampuan membalas komentar yang ciamik turut “menyihir” siapapun yang bertanya tentang krim wajah tersebut. Bahkan informasi produk yang dapat  “memutihkan wajah secara cepat” entah bagaimana cerita, dapat menyebar dari orang satu ke orang lainnya secara cepat juga. Begitulah “kehebatan” sosial media jika digunakan dengan maksimal namun sayangnya dalam kasus ini bersifat sangat negatif.

 

 

2. Kasus Penipuan Investasi Hingga Milyaran Rupiah

Nah, kalau kasus ini benar-benar  saya tidak pernah menyangka-nyangka kejadiannya akan demikian adanya. Sempat tidak percaya dengan apa yang saya lihat dan saya baca terkait kasus ini. Bagaimana tidak? Sebelumnya, saya adalah termasuk orang yang sangat mengagumi orang yang melakukan kejahatan ini. Karena bagi saya, orang tersebut adalah orang yang sangat baik dan nampak “sempurna” sebagai seorang wanita, seorang istri, dan seorang ibu.

Tersebutlah seorang pengusaha (ya, lagi-lagi pengusaha) yang nampak sangat luar biasa dari “penampilan luar”nya. Pengusaha tersebut gemar sekali membuat kalimat-kalimat bijak dan nasehat-nasehat super bak Mario Teguh. Konten facebook-nya pun nampak indah, dari jualan-jualan Logam Mulia-nya, tips-tips investasi, hingga kehidupan pribadi dan keluarganya yang nampak baik.

Bertambahnya waktu, lingkup usaha orang tersebut pun merambah, dari yang hanya berjualan Logam Mulia, saat itu sudah dapat merambah ke usaha berlian dan properti. Bahkan ia pun sudah membuka program cicilan dan tabungan Logam Mulia. Sebenarnya bidang usahanya tidak hanya yang berbau-bau “kemewahan”, tetapi juga merambah ramuan-ramuan tradisional untuk kesehatan yang ia dapat dari beberapa UKM di beberapa daerah di Indonesia. Ia pun, sepenglihatan di sosial medianya, sedang membuka sebuah salon kecantikan di kota tempat ia tinggal.

Yang menarik dari orang tersebut adalah, cara ia berkomunikasi dengan siapa saja di dunia maya, baik melalui komen-komen maupun chat, memiliki kesan yang sangat ramah dan teduh. Ditambah status-status bijaknya yang hampir setiap hari update membuat “adem” bagi siapa saja yang membaca. Saya pun sempat berkomunikasi dengannya walau tidak intens, karena saat itu ia pernah membantu saya di dalam penjualan barang jualan saya.

Selain update status-status bijak yang ia buat, terkadang ia juga menunjukkan beberapa asset dan kegiatan liburan ke luar negerinya. Boleh dikata saat itu, saya terpesona dengannya karena berkat kerja keras dan kegigihannya, ia pun dapat memiliki segala yang diinginkan. Kesan “wah” namun elegan tidak lebay, itulah yang saya lihat.

Hingga pada suatu hari, saya melihat salah seorang teman maya saya ada yang mulai me-mention namanya kalau ternyata ada transaksi di antara mereka (teman maya dengan si pengusaha) yang belum selesai. Tidak tanggung-tanggung kerugian yang teman maya rasakan mencapai belasan juta, akibat dari aktivitas cicilan Logam Mulia dan berlian. Saat pertama kali membaca status tersebut, saya tidak percaya. “Masa’ sih?“, begitu respon saya di dalam hati.

Setelah salah seorang teman maya berstatus demikian, tidak lama kemudian saya pun melihat status yang mirip oleh teman maya lainnya, dan lagi-lagi me-mention nama sang pengusaha. Namun yang membedakan pada status teman maya lainnya ini, ia bercerita lebih detail. Dan dari update-an status-statusnya terkait sang pengusaha, benar-benar membuat mata saya semakin terbuka lebar plus tidak percaya. Dari menyimak obrolan-obrolan dalam kolom komentar, ternyata kasus ini sudah sampai tahap pelaporan kepada pihak berwajib, di mana ternyata data korban terkumpul berjumlah puluhan dengan kerugian materi total mencapai angka milyaran. Insane!

Benar-benar tidak menyangka.

Sosok yang nampaknya sangat positif dalam kehidupan sehari-hari, ternyata seorang penipu juga. Miris. Sempat saya membuat status terkait orang tersebut dalam status facebook saya. Setelahnya beberapa orang chat saya secara personal, dan ada yang memberi tahu kalau ternyata sebelum kasus penipuan cicilan investasi Logam Mulia, berlian, dan properti, pernah terdapat kasus sebelumnya yang mirip. Namun, kebiasaan orang tersebut (sang pengusaha) ternyata memang demikian. Jika sudah ada pembeli yang berhasil “terjaring”, maka beberapa saat kemudian customer tersebut akan kena block atau tidak, akan digantung-gantungkan dengan chat yang tidak dibalas berhari-hari hingga berbulan-bulan.

Aksinya memang demikian. Bermanis-manis di muka, mempengaruhi calon pembeli dengan nuansa baik dan positif, dan jika sudah berhasil meyakinkan calon pembeli tersebut untuk dapat berinvestasi dalam jumlah yang cukup besar, barulah sang pengusaha mulai menjauhi pembeli tersebut, dengan cara-cara negatif seperti yang sudah saya katakan di kalimat akhir paragraf di atas. Mungkin strategi si pengusaha memang “sengaja” demikian, membiarkan para pembelinya “lelah” menagih dengan sendirinya. Insane!

Informasi yang saya dengar dan baca, saat ini kasus penipuan investasi tersebut sedang berjalan di ranah hukum, namun belum tahu lagi sudah sejauh mana prosesnya.

Walau demikian, berkat orang tersebut, saya jadi tersadar akan keharusan untuk memulai berinvestasi atau menabung untuk masa depan, salah satunya adalah dengan menabung Logam Mulia. Well, thanks to her.

 

– – – – –

(source: MakeAWebsiteHub.com)

 

Kedua kasus penipuan online di atas benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala. Hanya dengan berbekal “pencitraan” dunia maya melalui sosial media, orang pun dapat berubah menjadi liar dan lupa diri. Apakah mungkin dikarenakan ingin selalu terlihat “keren” dan “wah” di dunia maya, maka segala macam cara ditempuh, termasuk cara-cara yang tidak halal? Entahlah.

Ternyata bisa sampai sebegitunya, jika seorang pengguna sosial media tidak mampu mengendalikan diri. Bahkan hanya berbekal update-an status sehari-hari di sosial media, orang dapat membuat citra dirinya sesuai dengan yang diinginkan dan direncanakan oleh pikirannya.

 

Saya malah jadi ingat kejadian unik yang saya alami, yang justru berkebalikan dengan kondisi di atas, di mana pelaku pengguna sosial media dalam kedua kasus di atas, mereka, sangat intens meng-update status tentang dirinya sehari-hari.

Saat ini saya ibaratnya seperti sedang “berpuasa” untuk tidak bermain dengan sosial media pribadi milik saya. Kebetulan memang saya sedang tidak ada mood pada sosial media tersebut, karena sosial media tersebut juga saya gunakan untuk berjualan online dengan menggunakan akun lain, bukan menggunakan akun pribadi.

Kebetulan beberapa bulan lalu, saya memang suka bermain sosial media tersebut seperti yang dilakukan teman-teman lainnya juga, di mana terkadang saat berkala waktunya, ikut-ikutan untuk update kegiatan-kegiatan apa saja yang sedang saya lalui dan alami. Namun kemudian, karena sudah berbulan-bulan lamanya saya tidak update, salah seorang sahabat dekat pada salah satu chatting personal melalui WhatsApp, sahabat saya tersebut mengatakan kalau saya sudah lama sekali tidak terdengar kabarnya dan serasa “menghilang”. Wow! Ternyata sebegitunya ya dampak sosial media sehingga dapat benar-benar me-labeli setiap penggunanya.

 

Entahlah. Menurut pendapat sebagian orang, justru semakin tidak sering “terlihat” di sosial media, berarti orang tersebut benar-benar “hidup” dan menikmati kesehariannya. Begitupun sebaliknya, semakin sering update seseorang tentang dirinya, maka ada kemungkinan orang tersebut sesungguhnya sedang mencari pengakuan dan perhatian.

Namun, sebagian orang lainnya tidak setuju dengan pendapat demikian. Menurut pendapat orang-orang yang tidak setuju ini, menurut mereka, sejatinya memang terdapat orang-orang yang benar-benar murni “demikian adanya”,  sesuai dengan apa yang sedang dirasakan saat itu dan bukan sedang berusaha mencari simpati. Entahlah.

Saya pun tidak dapat menyimpulkan. Karena bagi saya pribadi, menurut saya pribadi seperti yang saya rasakan, semakin saya addict untuk bermain sosial media (akun sosial media pribadi, bukan akun sosial media jualan online), saya merasa seperti ada yang salah dalam diri saya. Seperti orang yang tidak punya kehidupan nyata rasanya, yang padahal sebenarnya sehari-hari saya benar-benar menikmati kehidupan sehari-hari saya. Hmmm, rumit ya?

– – – – –

Sejatinya, bermain sosial media mau sesering apapun sebenarnya tidak masalah, asalkan semuanya bersifat positif, dan kalau bisa tidak mengganggu kenyamanan orang lain yang berada dalam lingkaran followers atau pertemanan maya seorang pengguna sosial media tersebut. Karena bagaimana pun, isi kepala tiap orang berbeda-beda.

 

Terkadang ada kasus seperti ini, ada orang yang sangat aktifnya bermain sosial media, dalam sehari dapat meng-upload beberapa foto kegiatan dirinya di sosial media instagram. Namun, hal tersebut tidak hanya dilakukan dalam 1 hari, terkadang hanya jeda 2 atau 3 hari kemudian, ia pun melakukan hal yang sama. Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal demikian. Namun apabila jika dilakukan di facebook, yang bersangkutan dapat membuat sebuah album foto khusus untuk foto-foto tersebut atau dalam arti, akan terlihat hanya dalam 1 kali muncul dalam sekali post, sehingga tidak beberapa detik kemudian atau beberapa menit kemudian muncul postingan sejenis di linimasa. Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap sah-sah saja dan biasa saja. Namun, ada sebagian orang lainnya akan merasa seperti “spam” yang terlalu berlebihan. Dan hal yang paling tidak diinginkan pun terjadi, orang-orang yang merasa “terganggu” dengan “spam” tersebut, akan memilih untuk meng-unfollow  bahkan meng-unfriend temannya sendiri tersebut, yap, padahal teman, namun terpaksa melakukan demikian.

Kasus unfollow dan unfriend di dalam lingkaran pertemanan nyata dalam dunia maya ini juga, dapat terjadi jika sang pengguna sosial media gemar menyebar berita-berita dan artikel-artikel yang belum tentu akan kebenarannya, menulis tulisan-tulisan hoax, tulisan-tulisan yang mengandung unsur kebencian, atau tulisan-tulisan berat berkaitan dengan isu SARA serta politik. Terkadang hal-hal tersebut membuat sebagian orang juga merasa “gerah” dan malas untuk berteman dengan teman “nyata”-nya lagi secara maya.

Kondisi seperti yang terjadi pada kedua paragraf sebelumnya di atas, di kemudian hari memunculkan persepsi baru bagi pengguna-pengguna  sosial media yang melakukan upload foto-foto dalam sehari tersebut atau penyebar-penyebar isu hoax tersebut bahwa, “jika tidak suka, ya silakan unfollow saja“. Pernyataan tersebut bagi saya terlalu berlebihan. Kalau dipikir-pikir dengan hati emosi dan egois, mungkin pernyataan tersebut terasa “benar” dalam sesaat. Namun ada baiknya sebelum berpikir demikian, bagaimana kalau berpikir sebaliknya :

Jika bisa tidak perlu mendatangkan musuh atau jika mampu membuat orang lain merasa nyaman dan tidak terganggu akan kehadiran kita di tengah-tengah mereka, kenapa tidak kita pilih opsi kedua ini, daripada harus membuat orang lain menjauh dari diri kita, menjadi musuh kita, dan berpikir buruk tentang kita?“.

 

– – – – –

Jadi, pada intinya tidak ada yang salah dengan bermain sosial media, di mana diharapkan mampu bijak di dalam berinteraksi antar sesama di dalamnya juga. Jangan sampai digunakan untuk hal-hal negatif seperti yang terjadi dalam lingkaran maya saya yang sudah saya ceritakan di atas. Dan yang terpenting adalah, jadilah diri sendiri, itu jauh lebih baik, dibandingkan dengan harus berpura-pura agar terlihat seperti orang lain. Karena nafsu “narsis” memang manusiawi, namun nafsu tersebut jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat berujung yang tidak baik juga, entah capek hati, capek pikiran, bahkan capek berhutang dan capek kredit kesana-kemari. Nah lho. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s