AMG, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Belajar Menjadi Wanita Hebat dengan Berubah dari Hal yang Mudah

Sebelum memulai tulisan pada minggu ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh wanita hebat di dunia yang kebetulan jatuh pada minggu ini, yaitu tanggal 8 Maret 2018. Selamat!

– – –

Bagi sebagian wanita, terutama yang sudah beranjak dewasa, pasti akan memiliki rasa kelak ingin menjadi seorang istri yang baik bagi suami mereka dan menjadi seorang ibu yang hebat bagi anak-anak mereka. Semakin bertambah usia, maka impian-impian tersebut akan semakin sering muncul dalam pikiran. Namun tidak dipungkiri juga, terkadang saat memiliki impian-impian indah tersebut, sebagian wanita “hanya” mengimpikannya tanpa ada persiapan-persiapan yang cukup matang, walau berjalannya waktu bagi sebagian wanita tersebut dapat menyesuaikan diri dengan baik dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan-kehidupan baru mereka terkait impian-impian indah yang selalu mereka impikan itu. 

 

Happy International Women’s Day

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pribadi “yang belum siap” tersebut, apalagi jika terdapat ke-fleksibilitas-an di dalam kehidupan baru sebagian wanita tersebut. Seperti misal, terdapat seorang wanita yang menikah dengan pasangan yang “tidak ribet”, di mana memang di dalam kehidupan baru wanita tersebut, tidak perlu “berubah” secara drastis untuk menyesuaikan diri dengan pasangannya. Walau demikian, bagaimanapun juga, seorang wanita yang sudah menikah hukumnya adalah wajib untuk patuh terhadap suaminya.

 

Lalu, apakah dengan ke-fleksibilitas-an yang diberikan oleh pasangan yang “tidak ribet” lantas dapat membiarkan sebagian wanita tersebut untuk tetap terus hidup santai bin “leha-leha”? Tentu saja jawabannya adalah tidak.

 

Dan berikut ini merupakan 2 (dua) hal yang sangat mendasar yang mungkin dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sebagian wanita tersebut.

 

 

  1. Jika Memiliki Pasangan yang Tidak Mewajibkan Istrinya untuk Memasak Setiap Hari Bahkan Cenderung Melarang

 

Jika sebagian wanita memiliki pasangan jenis ini, dapat dipastikan bahwa sang pasangan memang betul-betul bersikap demikian, bukan sedang “berpura-pura” agar sang istri menyadari sendiri, bukan. Namun, jangan sampai “keleluasaan” dari pasangan inilah yang kelak malah dapat membuat kehidupan berjalan tidak baik untuk ke depannya.

 

Makan merupakan kebutuhan pokok setiap manusia di muka bumi ini. Untuk memenuhi kebutuhan utama tersebut, maka manusia akan melakukan “usaha” agar dapat memenuhinya. Dan salah satu “usaha”nya adalah dengan cara memasak, selain melakukan “usaha” dengan “jajan di luar rumah”.

 

Mungkin bagi sebagian wanita, ada yang terbiasa “hidup enak” dan “tidak ribet” perihal memperoleh makanan. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh beberapa faktor, mungkin di antaranya adalah sejak kecil sebagian wanita tersebut memiliki seorang asisten rumah tangga kedua orang tuanya di mana segala macam kebutuhan dapat terpenuhi atau terbantukan karenanya, atau dapat diakibatkan juga sebagian wanita tersebut di masa mudanya tidak dibiasakan oleh ibunya untuk membantu menyiapkan makanan bagi keluarga di dapur dengan alasan “takut malah membuat lama persiapan”, dan berbagai alasan lainnya.

 

Tidak ada yang salah dengan pola asuh kedua orang tuanya, karena pasti terdapat alasan baik mengapa hal tersebut terjadi dan dilakukan.

 

Seperti misal, terdapat seorang wanita di mana sesungguhnya ibunya sangat pandai dan sangat berbakat di dapur alias sangat jago memasak berbagai jenis masakan, dari yang namanya makanan berat, hingga ke makanan ringan. Namun demikian, wanita tersebut, anak dari sang ibu, malah tidak dapat memasak sama sekali atau hanya dapat memasak masakan-masakan yang simpel dan tidak memerlukan skill rumit.

 

Lalu bagaimana jika sang wanita tersebut kemudian menikah? Apakah kebiasaan buruk tersebut harus terus dipelihara, walaupun memiliki pasangan yang “tidak ribet” tadi? Tentu saja jawabannya adalah jelas, harus bin wajib untuk berubah.

 

Walau mungkin kondisi pasangan “sangat mentolerir” terhadap istrinya dan dengan alasan “menerima apa adanya dan tidak menuntut macam-macam terhadap sang istri”,  namun sebagai wanita hendaknya merubah kebiasaan buruk tersebut dan berniatlah untuk berubah.

 

Mungkin tidak akan terasa selama 1 – 2 tahun di awal, terutama apabila di dalam memulai kehidupan baru berumah-tangga belum memiliki anak. Mungkin kebiasaan buruk tersebut akan menjadi sesuatu hal “yang wajar” bagi kehidupan berdua. Namun, di sinilah sebagai wanita, yuk, mari berubah. Ubah kebiasaan yang kurang baik ini menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat untuk ke depannya. Berubahlah untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Yah, walau mungkin akan terasa “ribet” di awal, namun tidak ada salahnya untuk memulai belajar masak makanan-makanan sederhana sehari-hari.

 

Ibarat kata, semalas-malasnya seorang wanita, jika sudah menikah dan di mana kelak akan menjadi seorang ibu juga, dirasa tetap harus dan wajib untuk bisa memasak, walau hanya masakan-masakan sederhana ala warteg. Jika pasangan melarang memasak dengan alasan “takut istri kecapekan”, tetap niatkan untuk selalu belajar. Diniatkan saja bahwa skill memasak ini diperuntukkan untuk anak-anak kelak. Mungkin niat pasangan memang sangat baik untuk istrinya, namun sebagai wanita, harus tetap menjadi koki nomor satu di hati anak-anaknya.

 

Selalu terbayang-bayang bukan, kata-kata seperti ini:

“Masakan paling enak adalah masakan buatan ibuku!”

 

Lagipula, jika berjalannya waktu sang wanita menjadi sangat mahir memasak, bukankah akan menjadi sebuah hadiah sepanjang hidup yang sangat berharga juga untuk pasangan? Sangat berpahala juga to. Apalagi jika diniatkan utama untuk beribadah kepada Yang Maha Kuasa.

 

 

  1. Jika Memiliki Pasangan yang Tidak Mewajibkan Istrinya untuk Berberes Rumah dan Bebersih Rumah Setiap Hari Bahkan Jika Tidak Dibersihkan Berminggu-Minggu pun Tidak Masalah

 

Jika sebagian wanita memiliki pasangan jenis ini, sekali lagi, bukan berarti pasangan  tidak peduli terhadap sang istri, apalagi bukan berarti juga tidak peduli akan kebersihan, bukan.

 

Mungkin pasangan jenis ini yang memang di sepanjang hidupnya tidak pernah merasa “ribet” tentang kebersihan dan kerapihan. Ditambah kebiasaan “anak cowok” di masa muda “yang katanya” cenderung memiliki kamar yang sering berantakan di setiap harinya.

 

Pada umumnya, secara naluriah, wanita akan jauh lebih peka terhadap hal-hal berbau kebersihan dan kerapihan dibandingkan dengan pria. Namun terkadang tingkat kerajinan tiap wanita inilah yang berbeda-beda, di mana mungkin akan dikaitkan dengan beberapa faktor seperti kondisi sehari-hari, kebiasaan masa muda, kebiasaan sehari-hari, dan berbagai faktor lainnya.

 

Lalu bagaimana jika wanita dengan tingkat kerajinan seadanya ini memiliki pasangan yang “tidak ribet” tadi? Apakah rasa tentang kebersihan terabaikan begitu saja di dalam hatinya? Sepertinya tidak ya.

 

Ibarat kata, apabila terdapat seorang wanita yang sangat malas pun, pasti akan ada rasa tidak nyaman atau kurang nyaman ketika melihat ruangan yang tidak bersih dan tidak rapih. Hal ini sangat alamiah dirasakan wanita. Kalau meminjam istilah umum, “naluri seorang wanita”.

 

Walau sebagian wanita yang memiliki tingkat kerajinan seadanya ini terkadang “merasa beruntung” memiliki pasangan jenis “tidak ribet” tersebut, tetap harus berubah demi keberlangsungan hidup yang lebih baik di masa mendatang.

 

Kembali, niatkan saja seutuhnya untuk anak-anak kelak, walau saat ini bagi sebagian wanita tersebut belum memiliki anak bersama dengan pasangannya. Karena kelak seorang ibu adalah sebuah “contoh nyata” sehari-hari bagi kehidupan sehari-hari anak-anaknya. Bagaimana anak-anak akan berperilaku baik atau memiliki kebiasaan baik jika kedua orang tuanya tidak mencontohkan hal-hal yang baik juga? Sekiranya demikian.

 

Perubahan dapat dimulai dari membuat jadwal kecil-kecilan di tengah-tengah minggu atau di akhir minggu untuk khusus bersih-bersih dan berberes. Tidak harus setiap hari, namun belajar saja dulu untuk dapat rutin minimal 1 minggu 1 kali. Lagipula, jika rumah bersih, rapih, dan wangi, bukankan akan menjadi bonus plus-plus  bagi pasangan?

 

Kembali, sebelum diniatkan untuk keluarga, niatkanlah yang utama untuk beribadah kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan dan mengharapkan ridho dari-Nya, maka akan berbuah pahala yang berlipat-lipat juga to. Mengingat pula bahwa “kebersihan adalah sebagian dari iman“.

 

– – –

 

Mungkin bagi sebagian wanita akan merasa sangat beruntung jika memiliki jenis pasangan yang “tidak ribet” dan cenderung sersan alias serius tapi santai di dalam menjalankan kehidupan sehari-hari berumah-tangga. Satu sisi betul, mungkin pasangan sangat perhatian dan sangat baik bagi sebagian wanita tersebut, namun tetap harus dipikirkan juga dampaknya kelak jika sudah memiliki anak. Jika kebetulan masih belum memiliki anak di awal kehidupan berumah-tangga, mungkin itu adalah saat yang sangat tepat untuk mulai berubah dan mulai belajar sedikit demi sedikit.

 

Pasangan yang “tidak ribet” bukan berarti orang yang tidak tegas, bukan. Adalah benar adanya jenis pasangan seperti ini betul-betul sangat menyayangi dan sangat perhatian terhadap sang istri. Namun sebagai wanita, sebaiknya membalas kebaikan-kebaikan tersebut dengan hal-hal yang baik pula, semisal melakukan perubahan-perubahan kecil yang justru kelak akan sangat bermanfaat bagi kehidupan keluarga. Anak-anak akan bangga, apalagi pasangan, akan semakin sayang. Ditambah, jika ikhlas melakukan semua-semuanya itu, maka ridho dan pahala dari-Nya pun akan didapat. Nah, kan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s