Curhat Terbuka, Learn About Islam, Life

Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5) – Jangan Iri, Itu Berat

Sudah lama rasanya tidak setor tulisan pada komunitas menulis blog yang sedang saya ikuti. Mood menulis akhir-akhir ini seperti sedang menurun drastis. Entah karena apa. Beruntunglah baru sekali membolos. Namun sayangnya, pada satu minggu sebelum  “jatah” membolos saya ambil, tulisan yang saya buat pun hanya me-reblog tulisan lama dengan sedikit barisan caption singkat. Heu…

Well, mungkin kini saatnya untuk kembali bersemangat. Yuk ah!

(Sebelum meneruskan membaca, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa  tulisan berikut ini hanyalah pendapat pribadi, murni pendapat pribadi. Dan satu lagi, tulisan ini akan sangat panjang dan bersifat curhatan.

 

– – –

 

Kembali lagi bertemu dengan “minggu tema”, di mana tema dalam minggu ini adalah tentang “berbagi”. Terus terang, saat mendengar tema ini, yang saya pikirkan hanya tentang “berbagi” yang berkaitan dengan social media. Yap, yang ada dalam pikiran saya adalah ini:

Berbagi = Share

 

(Entahlah tulisan kali ini apakah akan nyambung dengan tema atau tidak. Hehe.

– – –

 

Di era social media seperti saat ini, banyak sekali saya temukan berbagai informasi dari hal  yang penting, kurang penting, hingga nggak penting sama sekali. Bahkan ke dalam tingkat yang lebih ekstrim lagi, akan semakin ditemukan juga berbagai macam berita “berat” yang terkadang saya ataupun kita belum tahu kebenaran akan isi berita tersebut.  Bahkan bisa jadi malah, banyak berita yang sudah saya baca, yang saya mengira selama ini adalah berita atau informasi benar, ternyata setelah berselang beberapa waktu, terbukti bahwa berita atau informasi tersebut ternyata adalah salah, alias hoax. Ngeri! Hi…..

Nah, akan tetapi sat ini saya sedang tidak ingin menulis tentang hal-hal “berat” demikian, melainkan ingin bercerita tentang pengalaman atau setidaknya perasaan yang saya alami saat menggunakan social media sejauh ini.

 

– – –

 

Platform social media saat ini bermacam-macam, ada Facebook, Instagram, Twitter, dan lain sebagainya. Bahkan aktivitas blogging seperti ini juga dapat dikategorikan sebagai social media. Pada intinya kan, social media itu merupakan media yang bersifat maya, yang dapat berfungsi secara sosial, atau dapat menghubungkan dan berinteraksi antar satu individu dengan individu-individu lainnya dalam berbagai tempat dan waktu berbeda secara bersamaan. Mungkin seperti itu.

Di dalam penggunaan social media-social media ini, makin banyak individu bermunculan yang berekspresi dengan sekreatif-kreatifnya dan sebebas-bebasnya, termasuk saya. (walau saya tidak kreatif sih, yang penting mah upload, haha) Kehidupan atau kegiatan sehari-hari pun saling dibagikan, minimal ke dalam lingkaran pertemanan terdekat. Nah, di sinilah jika semakin addict di dalam penggunaan social media, maka masalah baru akan muncul jika tidak pandai dalam bermain social media. Apa itu?

 

Yup, perasaan hati yang semakin tidak menentu jika melihat postingan milik orang lain.

 

– – –

 

Hal ini pernah saya alami beberapa waktu lalu. Mudah-mudahan insyaaAllah kalau sekarang ini, sudah mulai bisa move on  dan sudah mulai bisa menata hati. “Gejala” yang tidak beres saat awal-awal dulu ketika mulai muncul Twitter, di mana kalau kata sebagian orang, media tersebut seperti mini blog, karena kita dapat mengungkapkan hal apapun, yep, a-pa-pun yang ada dalam benak kita, yang terkadang bahasan yang diungkapkan tersebut tidak di-filter sama sekali. Pokoknya yang penting ngomong! Haha.

Kalau dapat dibilang, masa-masa itu adalah masa-masa alay saya di mana saat sedang nge-tweet rasanya itu seperti “pede tingkat dewa” kalau buah pemikiran yang saya ungkapkan saat itu adalah benar, bahkan berasa paling benar. Media tersebut kalau kata sebagian orang juga, sebagai “pengganti” update status yang kepengen sering-sering seperti yang suka dilakukan sebelum-sebelumnya pada Facebook maupun Friendster.

Saat itu sebenarnya juga ada media lain yang dapat berfungsi juga seperti Twitter, yaitu media Plurk. Namun platform yang satu itu kurang begitu populer dibandingkan dengan Twitter.

 

Semakin berjalannya waktu, menggunakan Twitter semakin tidak ada rem-nya dan mulai merambah ke area baper, alias bawa perasaan. Misalnya, si A bilang tentang sesuatu, kemudian si B membaca dan si B pun merasa kalau si A sedang membicarakan tentang dirinya, yang padahal belum tentu si A sedang membahas tentang si B. Dan akhirnya muncullah yang namanya tweet-war, alias saling berbalas pantun. Yang tadinya si A tidak bermaksud menyinggung si B, kemudian karena melihat si B update status yang “rasanya” berkaitan dengan status si A sebelumnya, maka si A pun mulai “membalas” dengan update status terbaru yang bersifat lebih ke arah “pembelaan”. Duh!

 Benar-benar tidak sehat. Saya sebagai penonton terkadang jadi jengah membacanya, bahkan malah saya pun pernah mengalami baper tersebut. Nggak banget deh gan!

 

– – –

 

Berikutnya adalah ketika media Instagram mulai muncul. Namun saat masa-masa awal Twitter, saya belum menjadi pengguna aktif Instagram, bahkan saat itu sepertinya belum punya akun social media tersebut.

 

Malah terdapat media lain dengan lilngkaran pertemanan lebih kecil yaitu Path. Nah, mengingat saya “mulai sadar” ada yang salah dalam diri saya dalam ber-social media, maka saya putuskan saat baru beberapa bulan menggunakan Path, langsung saya putuskan uninstall aplikasi tersebut dan menghapus akun Path milik saya selama-lamanya. Saat itu bahkan lingkaran pertemanan masih dibatasi dalam jumlah 150 orang teman saja, dan saya pun sudah memutuskan untuk tidak ikut-ikutan menggunakan social media tersebut. Kini kabarnya bahkan dapat menambahkan daftar teman mencapai 500 orang teman dalam social media Path.

 

Fyuuuh…

 

– – –

 

Kembali lagi ke dalam social media Instagram. Saya lupa di tahun berapa tepatnya, saat itu saya merasa pengguna Facebook semakin banyak yang tidak aktif. Dan saya melihat banyak yang berpindah ke Path, di mana banyak yang meng-link­­-kan status Path pada akun Facebook mereka. Dan saya mulai berpikir untuk mulai “bermain” Instagram, walau sebenarnya saya awalnya tidak terlalu paham bahkan tidak tertarik dengan media satu ini. Sebelum mulai “serius” bermain Instagram, saya putuskan untuk menghapus akun Twitter saya selama-lamanya. Yep, selama-lamanya.

 

Berhubung dalam Twitter tidak ada istilah “deactivate sementara”, hanya ada pilihan “hapus akun”, maka saya putuskan untuk memilih lebih baik dihapus saja. Lebay-nya saat dulu memutuskan untuk menghapus akun Twitter, rasanya kok beraaat sekali ya, wkwkwk. Lebay! Namun berjalannya waktu, eh ternyata biasa saja tuh tidak punya Twitter. Hehehe…

 

Balik lagi ke Instagram.

(et dah, dari tadi mau bahas Instagram kagak jadi mulu, haha) 😀

 

Akhirnya, saya pun memutuskan untuk “ikut-ikutan” membuat akun Instagram. Saya ingat sekali saat itu adalah masa-masa awal saya menikah dan masa-masa awal saya juga bekerja dan ikut pasangan hijrah ke ibukota.

 

Ternyata di Instagram, rasanya semakin gila! Lebih gila! Jika dibandingkan dengan platform-platform lain yang sudah saya “icipi”. Di sini banyak sekali yang narsis, temasuk saya. Wkwkwk. Bahkan dapat dikatakan saat itu rasanya ada perasaan “tidak mau kalah”. Wkwkwk, itu benar-benar pikiran gila se-gila-gilanya. Bahkan dapat dikatakan sepanjang bermain Instagram, sepertinya lebih sering muncul perasaan “pengen deh seperti si C atau si D agar dapat dilihat juga”, walau terkadang di tengah-tengah kembali “eling” alias inget kalau punya perasaan demikian itu sangat-sangat tidak baik, bahkan cenderung sangat buruk! Hehe.

 

Terutama, saat melihat momen-momen kebahagiaan milik orang lain pada orang-orang tertentu, yang terkadang entah bagaimana ceritanya, bisa “mengusik” perasaan hati saya.

 

Yep, it happened! Wkwkwk. Sedih sekali kamu gan!

 

– – –

 

Dulu saya sempat punya pemikiran, jika ingin men-share sesuatu dalam social media kita, ada baiknya melihat-lihat terlebih dahulu situasi dan kondisi bagaimana teman-teman dalam lingkaran pertemanan social media tersebut. Menurut saya saat itu, ibaratnya manusia, harus sering-sering memiliki rasa empati terhadap sesama. Belum tentu kondisi yang sedang saya alami, dapat pula dirasakan pula oleh orang lain atau orang-orang di sekitar kita. 

 

Well, saya yakin saat itu pemikiran tersebut juga didorong oleh rasa nafsu iri yang besar ketika saya melihat apa yang sedang di-share oleh orang lain, dalam arti bahkan diantaranya adalah teman-teman saya.

 

Berjalannya waktu, saya semakin sadar kalau ada yang salah dengan apa yang saya rasakan. Benarkah ikut campaign bahwa sesama manusia harus saling menghormati dan harus memiliki rasa simpati dan empati? Ataukah hanya perasana cemburu belaka?

 

Saat itu masa-masa yang sangat aneh  bagi saya. Rasanya saya ingin segera memiliki semuanya. Puncaknya adalah ketika saya dan pasangan mulai memasuki usia pernikahan dua tahun jalan tiga tahun, dan kehamilan tak kunjung datang. Rasanya hari-hari terasa berat dan hopeless, terutama saat melihat milik orang lain.

 

Beruntunglah masih belum terlambat, seperti yang sudah pernah saya tulis juga dalam tulisan ini. Berjalannya waktu saya semakin sadar, bahwa benar, ketika saya semakin iri, maka saya semakin tidak fokus pada kehidupan saya. Segala kesempatan baik, bahkan rejeki baik pun rasanya tidak ada yang mau mampir ke dalam kehidupan saya. Saya lupa bahwa hidup saya sudah terlalu banyak kenikmatan yang seharusnya banyak-banyak disyukuri. Pada akhirnya, semakin bertambahnya waktu, saya semakin terus dan selalu belajar untuk bisa bersabar, untuk bisa ikhlas, dan move on.

 

120756-Positive-Mind-Vibes-Life
(Source: http://www.lovethispic.com)

 

Mudah-mudahan pemikiran dan perasaan positif seperti ini akan dapat terjaga. Saya merasa bahwa hal ini sudah sangat-sangat gawat jika saya teruskan untuk trying to be somebody elses. Sampai-sampai niatan hati untuk mencoba move on seperti ini, yang membuat saya  men-deactivate akun Instagram lama saya, di samping juga sekarang mulai banyak campaign bahwa muslimah sebaiknya (atau bahkan dilarang) untuk  meng-upload foto-foto diri mereka karena akan ada kemungkinan dilihat oleh orang banyak, bahkan oleh non-mahram-nya. Namun untuk hal tersebut, saya masih meyakini bahwa semuanya tergantung kepada niat­-nya bagaimana. Akan tetapi, siapa yang tahu isi hati seseorang kan. Hehe.

Saya pun semakin fokus pada aktivitas jualan online saya yang memang juga masih menggunakan media Instagram untuk berjualan. 

 

Pada akhirnya, saya pun semakin dan sangat meyakini bahwa, jika semakin saya iri dan cemburu dengan hal-hal yang dimiliki oleh orang lain, di mana hal-hal yang dimiliki oleh orang lain tersebut adalah hal-hal yang memang benar yang saya inginkan, malah akan semakin menutup rejeki-rejeki yang justru seharusnya dapat datang kapan saja ke dalam kehidupan saya. Semakin saya iri, maka semakin tertutup rejeki milik saya.

 

Dan sebaliknya, saya pun sangat yakin. Semakin saya mengurangi rasa iri dan rasa cemburu yang sebelumnya mungkin sangat menggebu-gebu, entah bagaimana cerita, rasanya hidup terasa semakin ringan, dan rejeki-rejeki malah banyak yang datang ke dalam kehidupan saya dan datangnya pun tidak diduga-duga. Saya saaangat yakin itu! At least I feel I’ve experienced itA lot. 🙂

Semakin banyak bersyukur, maka Tuhan Akan Melipat Gandakan nikmat-Nya. 🙂

– – –

 

Jadi kesimpulannya?

 

Kembali kepada pribadi masing-masing. Lagipula tulisan ini hanyalah tulisan curhat colongan belaka. Dan ini adalah murni pendapat dari pandangan pribadi tentang penggunaan social media di mata saya dan murni pendapat saya tentang apa-apa saja yang do and don’ts to be shared.

 

Terakhir, ingat. Jangan iri, itu berat! Just be yourself and always be the original you. 🙂

 

 

 

Pondok Pinang, 11 Februari 2018

20.15 WIB

 

 

 

 

Advertisements

1 thought on “Konsep Rejeki dan Hindari Iri (5) – Jangan Iri, Itu Berat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s