AMG, Curhat Terbuka, Family & Friends, Learn About Islam, Life

Just Be Positive

Kenapa harus takut kalau kita yakin?

Terkadang rasa takut dan kekhawatiran berlebih, malah jadi pemicu yang membuat gerak tubuh dan badan kita menuju ke “arah sana” yang dikhawatirkan tersebut. Na’udzubillahimindzalik..

Makanya kalau kata nasehat, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

Tulisan ini saya buat saat sedang melakukan perjalanan menuju Bandung, terinspirasi dari sebuah post yang sedikit “menggelitik” pemikiran saya dan yang kemudian membuat saya “teringat” akan kondisi diri saya sendiri. So, ya. Tulisan ini hanya pendapat dari sudut pandang pribadi saja. 

– – –

Kembali kepada nasehat positif tadi, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga. Ya, saya masih dan akan selalu yakin dan percaya demikian.

Source: https://www.jiujitsutimes.com/

 

Misal, dalam suatu tes atau ujian sesuatu. Ada sebagian orang pada mulanya grogi, nervous, nggak yakin, ketakutan, dan sebagainya. Akan tetapi karena akhirnya mereka yakin dan telah bersungguh-sungguh dengan ikhtiarnya masing-masing, yakin bisa, yakin mampu, kemudian semakin hari semakin positif semangat dan pikirannya, ternyata benar-benar membuahkan hasil, mereka pun lolos ujian!

– – –

Bahasan berikutnya, terkait dengan artikel-artikel yang suka beredar luas di masyarakat dan berdasarkan penelitian-penelitian psikologi oleh para ahli.

Misal, mungkin pernah ada yang mengatakan, “wajar”, namanya juga hidup berpasangan, apalagi dalam kehidupan berumah-tangga, berantem-berantem begitu itu “wajar”, bisa jadi bumbu asem-manis kehidupan berpasangan dan biar bisa jadi pengalaman dan pembelajaran hidup untuk ke depannya atau bahkan dapat diceritakan kepada anak-cucu kita.

Akan tetapi, kalau bisa nggak perlu berantem-berantem, kenapa harus “memaksakan” untuk berantem.

Terkadang stereotype-stereotype yang umum dan berlaku “pada umumnya” di masyarakat, yang dianggap “wajar” dan “biasa”, nggak perlu dijadikan “trend” juga atau beranggapan “ini lho track yg udah bener” atau “berarti kalau kamu “begini” itu sudah wajar lho“, dan sebagainya.

Terkadang artikel-artikel hasil penelitian dunia psikologi untuk sebagian (kecil) orang memang nggak cocok.

Misal lagi, ada yang mengatakan “wajar”, ibu hamil kan pasti ngidam. Tapi nyatanya, untuk sebagian orang ternyata “perasaan ngidam” tersebut nggak muncul sama sekali sampai mereka melahirkan.

(bahkan dalam hal ini, Ibu saya yang orang Biologi murni, bilang, kalau “trend ngidam” ini hanya fenomena “ikut-ikutan” dan bahkan hanyak “efek pengaruh pikiran”, karena para ibu hamil ini senang membaca artikel-artikel terkait ngidam, dan berdasarkan pengalaman Beliau, anak sampai 3 begini, nggak pernah ngidam sama sekali, yang membuat saya malah bertanya-tanya “kok bisa Bu? wow”)

Kemudian ada lagi artikel yg mengatakan, untuk kehidupan berpasangan, nanti di usia mencapai 5 tahun ke atas, pasti akan muncul rasa bosan dan akan dimulai berantem-berantem kecil dan itu adalah “wajar”. Tapi nyatanya, banyak juga yang ternyata pasangan yang sudah hidup bersama selama 10 tahun ++, bahkan 20 tahun ++, nggak pernah sama sekali berantem, nggak pernah sama sekali merasa bosan, bahkan “dipaksa” untuk menciptakan “adegan” berantem pun, gagal juga, alias bener-bener nggak bisa berantem sama sekali. Nah lho.

– – –

Kalau nggak salah, cmiiw, di setiap penelitian-penelitian psikologi-psikologi tersebut biasanya pakai angka persentase-persentase. Misal, ingin membuktikan kondisi “begini (X)” pada masyarakat yang dianggap “umum” dan “wajar”, yang kemudian diharapkan hasil kondisi “begini (X)” memiliki persentasi paling besar mendekati mayoritas dari random sampel yang diambil. Akan tetapi kemudian terdapat catatan, bahwa kondisi “begini (X)” mengandung kesan atau konotasi negatif.

Misalnya seperti ini, diadakan suatu penelitian tentang tema sesuatu hal, yang penelitiannya sebenarnya sudah dilakukan berulang-ulang juga oleh para ahli dengan tema yang sama, kemudian menunjukkan hasil seperti ini:

86% orang itu ternyata memang “begini (X)” dan 14% lainnya “begitu (Y)”. Maka muncul stereotype “umum”, “oh wajar” kalau misal mengalami kondisi X. Padahal, sekali lagi padahal, kondisi X adalah kondisi dengan kesan negatif.

Kenapa harus memaksakan diri menjadi bagian yang 86% tadi yang “umum” dan dianggap “wajar” berlaku dalam masyarakat yang padahal merupakan sesuatu hal yang berkesan negatif?

Kalau kita bisa menjadi atau bahkan naturally menjadi bagian yang 14% yaitu kondisi Y dan memang golongan 14% ini merupakan sesuatu hal dengan kondisi yang positif, kenapa tidak?

– – –

Saat ini saya masih dan selalu percaya dengan kekuatan pikiran. Apa yang kita jalani, alami, dan lalui merupakan hasil buah pemikiran kita sendiri dan sesuai apa yang kita percayai. Dan saya masih dan akan selalu percaya nasehat para bijak yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, di mana, pikiran positif akan melahirkan perkataan-perkataan dan tindakan-tindakan yang positif juga.

– – –

Well, hidup cuma sekali. Manfaatkan sebaik-baiknya dan sepositif-positifnya.

Source: https://www.successconsciousness.com/

– – –

Sama seperti yang sedang saya alami (eeaaa curcol). Saya yakin dan masih akan selalu yakin, Tuhan Bukan Tidak Percaya kepada kami, bukan, melainkan Tuhan Mempersiapkan waktu terbaik-Nya, dan saya sangat yakin kalau kami punya kesempatan yang sama dengan yang lain.

Andaikata pun, na’udzubillahimindzalik, sampai nanti di penghujung waktu masih “belum kejadian” juga, maka saya yakin, Tuhan Memang Punya Rencana Terindah untuk kami berdua dan mungkin Tuhan Memang Mempercayakan kami untuk suatu hal lainnya yang memiliki manfaat yang sama atau bahkan lebih. Dan toh pun jika benar demikian, na’udzubillahimindzalik, mungkin sudah beberapa masa yang kami lewati, di usia panjang kami insyaaAllah (aamiin) dan mungkin juga sudah beberapa aksi atau kegiatan positif yang sudah kami kerjakan, lalui, dan jalani, dan mudah-mudahan bisa bermanfaat juga.

Setidaknya juga, jika benar sampai di penghujung waktu nanti kami masih “belum-belum juga”, na’udzubillahimindzalik, setidaknya, kami pasti sudah berusaha semaksimal kami bisa, berbagai ikhtiar dan cara pasti sudah kami coba, dan tentu saja tidak akan ada penyesalan dan rasa kecewa sedikit pun kepada-Nya, karena rasa kecewa dan rasa sesal yang muncul adalah jelas bisikan setan.

Lagian, masa’ kita mau marah dan benci kepada Sang Maha Pencipta kita? Ya nggak to.

So jadi, tetap dan berusaha selalu positif. Kondisikan pikiran agar selalu positive thinking. InsyaaAllah “bonus”-nya pasti juga positif. (dan mudah-mudahan “positif” beneran, eeaaa, aamiin) 😀

 

– – –

X-Trans Arah Bandung,

23 September 2017

08.25 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s