6 Years and Still Counting,..

Dengan tangan bergetar, pemuda itu berusaha keras memberikan benda itu kepadaku. Ya, sebuah invitation untuk menghadiri sebuah acara. Dengan ragu namun pasti, melawan ke-grogi-an dan wajah yang merah padam, dengan terbata-bata Beliau pun mengucapkan kata-kata itu kepadaku,

“M..m..ma..u..   da..teng, ng..nggak..?”

– – – – –

undangan syukwis

Sore itu, hujan turun. Suasana dinginnya Bandung semakin sejuk dengan kehadiran hujan ringan yang sejak siang belum berhenti juga. Sore itu, aku masih memiliki jadwal latihan untuk perhelatan konser beberapa hari ke depan. Sebuah konser orkestra akbar pertama kami (saya dan teman-teman orkestra) yang akan kami lakukan di Sabuga.

Tapi, bukan momen latihan yang aku ingat hingga detik ini, melainkan momen yang benar-benar tidak aku sangka-sangka sebelumnya. Rasanya begitu cepat dan terjadi begitu saja.

– – – – –

Mungkin cara kami (saya dan Beliau) salah, karena kami melakukan “hal tabu” yang sebaiknya tidak kami lakukan. Ya, pacaran. Begitulah, ketika manusia sudah dimabuk oleh sebuah benda pink bernama cinta, cinta diantara dua insan. Terbuai dan tidak tahan menolak pesona keindahan di dalamnya.

Tapi, tidak mengapa. Biarlah yang sudah berlalu tetap berlalu dan mengalir menuju muara kisah kami di penghujung waktu kelak di keabadian. Toh pun kami selalu menikmati di setiap langkah “perjalanan” kisah kami. Dan beruntungnya kami masih berada di dalam pagar dan tidak melompat lebih jauh. Sekedar bercanda, tertawa bersama, bermain bersama, serta membahas apapun dari yang penting hingga tidak penting. Aku hanya ingin fokus dengan apa yang sudah ada, apa yang sudah tercapai, serta fokus untuk selalu melangkah ke depan mengarungi kehidupan keluarga kecil ini.

Terima kasih kepada keempat orang tua kami, Ibu di Surga, Ibu, dan Kedua Bapak, serta keluarga kami yang senantiasa mendukung kisah kami, yang pada akhirnya merestui kemantaban langkah kami menuju masa depan bersama.

– – – – –

Well, biarpun “tabu”, aku tetap merasa beruntung, karena aku jatuh kepada orang yang tepat. Terutama untukku di mana pada “masa muda” masih sempat merasakan “ngeceng” atau dalam bahasa gaul-nya nge-“gebet” satu-dua orang pria. Beruntungnya masih dalam tahap “ngeceng” dan belum ada sesi tanya-jawab, tembak-menembak, kemudian “jadian”.

Dan kondisi demikian berbeda dengan Beliau. Mungkin dikarenakan peraturan yang begitu ketatnya dalam keluarga, membuat Beliau senantiasa berhati-hati. Namun demikian, tetap saja gejolak “rasa suka” terhadap lawan jenis itu tetap ada dan terjadi di antara waktu dari masa baligh dimulai, hingga Beliau pun bertemu denganku. Akan tetapi entah mengapa Tuhan menunjukku sebagai tempat berlabuhnya, tempat “eksekusi” pertama dan terakhir bagi Beliau. Itulah mengapa aku katakan di sini lagi-lagi: beruntung. Terlebih, kriteria Beliau entah mengapa langsung pas dan yasudah, berjalan begitu saja hingga kini dan hingga nanti, insyaaAllah.

Jika aku ingin memilih, rasanya memang, ingin seperti kawan-kawanku yang berhasil ta’aruf dan langsung menikah tanpa “pacaran” lama-lama. Tapi, aku tidak akan menyesal. Karena bagaimana pun, menyesal adalah bisikan syaitan. Lagipula, masih beruntung bahwasanya yang menjadi suamiku kini adalah mantan satu-satunya yang tentunya di dalam masa pacaran-nya melibatkan perasaan hati serta emosi, merasa sudah terikat satu sama lain. Dan lagi, selama masa-masa pacaran  itu, Beliau tidak pernah tidak bertanggung-jawab atas sikap dan perbuatannya kepadaku. Dan jika di masa mendatang aku teringat mantan, ya, hanya Beliau, bukan kecengan atau gebetan masa muda, karena dengan alasan tidak pernah merasa terikat dengan mereka, apalagi melibatkan perasaan dan harus mengalami momen-momen “harus move on”, tidak pernah. (well, semacam pembelaan yah, hahaha)

– – – – –

Bila bercerita tentang Beliau, sudah pasti, isinya akan lebay-selebay-lebay-nya. Betul, Beliau adalah pria yang sangat baik luar dan dalam. Bukan tipe pria di mana sebelum aku bertemu dengan Beliau, dalam benakku, pria itu penuh emosi, egois, dan yang pasti sebagai wanita, kudu siap-siap banyak mengalahnya di kemudian hari. Akan tetapi ternyata, bayangan “mengerikan” tersebut sirna begitu saja ketika aku bertemu dengan Beliau.

Namun pada intinya, bukan Beliau yang tidak pernah memarahiku, akan tetapi justru akulah yang selalu membuat Beliau pusing tujuh keliling. Bahkan aku pernah mengungkapkan hal ini kepadanya,

“Abi, Abi itu kok masih mau ya sama aku yang tukang marah-marah. Padahal lho, Abi bisa aja pas aku lagi marah-marah jaman belom nikah yang nggak jelas itu, bisa aja langsung ninggalin aku, pergi dan nggak mbalik, kemudian nyarik calon istri lain yang lebih lembut,”

Tapi tidak pernah Beliau lakukan. Itulah mengapa, lagi-lagi satu fase dalam hidup yang aku sebut juga sebagai salah satu bagian dari sebuah keberuntungan, lucky, persis seperti doa Ibuku.

– – – – –

Matraman, 8 April 2016

Advertisements

2 thoughts on “6 Years and Still Counting,..

    • renjanaganis says:

      eh..? wah yg bagian mana itu Kak, kok saya lupa yak, hehehe. -.-” aamiiin Kakak mudah2an bisa betul terealisasi anak saya 7, aamiin! 😀 wah Kakak masa’ sampai tahun ke-7 siiih, selamanya donk Kak..hehehe, aamiin. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s