Mengelola Hati dengan Keimanan

Apakah Anda memiliki social media? Apakah Anda memiliki facebook?

Bila iya memiliki, apakah Anda suka melakukan share terhadap artikel-artikel menarik atau tulisan-tulisan menarik berupa nasehat-nasehat yang berupa kebaikan? Seperti misalnya, tulisan-tulisan Bapak Mario Teguh dalam fan page-nya atau tulisan-tulisan penulis-penulis bijak lainnya. Apakah Anda termasuk salah satunya yang sering melakukan hal tersebut?

 

– – – – –

 

Pada hakikatnya, ketika kita sedang terhimpit oleh perasaan “permasalahan” hati yang mostly biasanya sebenarnya hanya dipengaruhi oleh pikiran-pikiran kita sendiri, kita senang mencari pembenaran-pembenaran melalui tulisan-tulisan bijak atau nasehat-nasehat yang keluar dari penulis-penulis bijak tersebut yang memang tulisan-tulisannya sangat menarik untuk dibaca dan tentu saja juga menenangkan hati.

Sebenarnya kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan diri kita yang biasanya suka terjadi pada saat kita sedang melakukan sesi curhat bersama sahabat. Apakah Anda pernah berada dalam posisi “yang dicurhati” dan biasanya sahabat Anda tersebut akan meminta nasehat baik dari Anda? Nah, sebenarnya hampir mirip dengan kondisi tersebut.

 

Pada saat kita sedang merasa “susah hati” kemudian membuka halaman facebook dan melihat ada status baik atau tulisan baik yang berkaitan dengan suasana hati kita saat itu juga, yang kemudian tipe kita adalah tipe yang suka men-share hal-hal baik tersebut, biasanya kita akan dengan mudah meng-klik tombol “share” di bagian bawah tulisan atau status tersebut. Atau bila bukan tipe demikian, maka kita akan sekedar membaca saja tanpa ikut men-share dan kemudian diresapi betul-betul makna dari tulisan tersebut. Saya yakin, pasti hal tersebut akan membuat hati kita menjadi lebih plong dan merasa “terhibur”. Bukankah demikian?

Atau apabila kita sedang merasa “susah hati” kemudian kita mendatangi sahabat kita dan melakukan sesi curhat, pasti di akhir cerita panjang-lebar kita, kita akan meminta saran atau nasehat baik yang datang dari mulut sahabat kita untuk bisa kita resapi betul-betul dan tentu saja hati akan sangat senang dan “terhibur” dengan nasehat-nasehat tersebut. Rasanya nyaman. Ya, seperti itu.

 

Namun, di sinilah hal tersusah itu dimulai. Memang sangat mudah berkata-kata baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Saya yakin, baik saya maupun Anda pasti pernah mengalami hal ini. Anda diminta oleh sahabat Anda untuk memberikan nasehat atau saran terbaik dari sudut pandang Anda, yang sebenarnya belum tentu Anda dan saya bisa melakukan atau mengimplementasikan “nasehat baik” yang telah Anda dan saya buat tersebut, dengan mudahnya. Dan bahkan mungkin malah akan diikuti oleh perasaan bersalah mendalam atas kata-kata yang sudah saya/Anda perbuat untuk sahabat terbaik saya/Anda tersebut. Karena sesungguhnya saya/Anda sendiri belum begitu mengetahui secara persis “kadar kebaikan” dari kata-kata saya/Anda yang keluar dari mulut saya/Anda tersebut. Betul tidak?

pure heart

Dan menurut saya, hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk bisa menjadi pribadi yang “baik” sesuai dengan kata-kata “baik” yang sudah saya katakan kepada orang lain tersebut adalah, cukup saya diam dan meresapi betul-betul di dalam hati atas kata-kata “baik” yang telah “berhasil” saya buat tersebut, dan mencoba dengan perlahan dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan “nasehat baik saya” tersebut. Khususnya apabila diri kita sendiri, saya dan Anda, yang sedang pada gilirannya mengalami kondisi “susah hati”. Ternyata betul. Tidak mudah mengimplementasikan kata-kata dalam bersikap.

Sama halnya pada saat  kita telah usai dalam membaca tulisan atau artikel baik yang penuh dengan peringatan dan nasehat baik. Sama terasa susahnya di dalam pelaksanaan nasehat-nasehat tersebut. Yang padahal salah satu diantara tulisan-tulisan baik yang banyak tersebut, juga merupakan Ayat-Ayat Suci Tuhan dan Janji-Janji Tuhan kepada hamba-hamba-Nya yang mau beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Tetap saja. Adaaa saja rasa “susah” yang muncul dari bisikan-bisikan hati terdalam, yang sesungguhnya sudah menyadari bahwa sebenarnya bisikan-bisikan tersebut adalah berasal dari syaitan. Mungkin dalam bagian ini, yang perlu dipertanyakan adalah kualitas keimanan kita. Seharusnya bila sudah yakin, maka hati akan mantap dan tetap beriman penuh atas Janji-Janji Tuhan tersebut.

 

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang selalu bijak dan baik terhadap sesama dan terhindar dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, khususnya kondisi hati yang buruk.

Na’udzubillaamindzalik…

 

– – – – –

Tebet, 12 Januari 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s