Selamat Ulang Tahun Bapake & Selamat Hari Ayah!

Selamat ulang tahun Bapake!
Selamat Hari Ayah juga! (eh, Hari Ayah udah lewat ya, tapi nggak apa-apa juga kan, :p )
Tepat hari ini, 23 November, Bapak saya berulang tahun yang ke-59!
Sehat-sehat selalu ya Bapake!

 

– – –

 

Kali ini saya ingin berkisah sedikit tentang Bapak saya. Boleh ya..? Hehehe.
Karena dari Beliau lah, saya bisa menjadi seperti saya sekarang ini.

Yuk!

 

– – –

 

Bapak saya, Djoko Lasono, merupakan sosok yang penuh tanggung-jawab terhadap keluarga, gigih, ulet, dan rajin dalam berkegiatan apapun, baik bekerja maupun berkegiatan organisasi dan sosial. (Mungkin sifat Bapak saya yang seneng dengan kegiatan organisasi inilah membuat saya juga suka berkegiatan organisasi sejak sekolah sampai kuliah, dan bahkan sampai sekarang.)
Walau Beliau sedikit agak keras dan galak (yang saya artikan sebagai sebuah ketegasan), akan tetapi dari didikan Beliau lah saya bisa menjadi pribadi saat ini, di samping saya ini yang memang sebagai anak pertama dalam keluarga.

 

Bapak saya berasal dari keluarga biasa saja. Kalau dari cerita Beliau, masa kecil dan masa remaja Beliau dapat dikatakan hidup itu dalam keadaan “susah”. Dan kisah yang paling membuat saya semakin merinding adalah pada saat masa kecil Beliau, Beliau harus membantu Alm. Kakek dan Alm. Nenek saya dalam pekerjaan rumah tangga. Karena kebetulan juga Bapak saya adalah Kakak tertua dari 5 bersaudara. Sampai-sampai pada saat untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga, Bapak saya harus menimba dulu bolak-balik ke sumur yang letaknya agak jauh dari rumah dengan cara memanggul. Manggul, guys! Manggul! Nangis dewa nggak sih saya mendengarnya?

 

Tapi di sisi lain, di balik keterbatasan ekonomi saat itu, Beliau merupakan sosok yang sangat ulet, gigih, pandai, dan rajin belajar. Dan karena keterbatasan ekonomi tersebutlah, Bapak saya hanya mampu menamatkan pendidikan hingga tingkat STM saja (kalau sekarang itu namanya SMK). Beruntungnya Beliau mengambil keahlian Teknik Mesin pada saat bersekolah di STM tersebut.

 

Lulus dari STM, Bapak saya tidak langsung bekerja di perusahaan-perusahaan yang mostly perusahaan minyak dan gas, seperti sebagian kecil kawan-kawan Beliau. Beliau memutuskan merantau dan mencari peruntungan ke ibukota untuk bekerja aaaaapa saja! Bayangkan, Beliau yang saya tahu memang orang yang sangat pintar, dan memiliki hasil nilai yang baik dan memuaskan, Beliau tidak gengsi dan mau bekerja apa saja. “Sembari mengenyam pengalaman hidup,” kalau kata Beliau. Yang membuat saya semakin merinding dewa adalah, Beliau ke Jakarta benar-benar bekerja serabutan guys, seperti halnya menjadi seorang buruh bangunan! Ya, itu, menjadi seorang buruh bangunan seperti yang Anda tahu, angkut-angkut pasir, angkut-angkut batu, nyemen, masang batu bata, dan berbagai pekerjaan bangunan lainnya. Seperti itu! Bayangkan, apa nggak nangis dewa saya mendengar cerita itu? Beruntung banget kan saya dengan kondisi saya saat ini? *mewek* 😥

 

Sembari menjadi seorang buruh bangunan, Beliau mencoba peruntungan baru juga untuk menjadi seorang bellboy di sebuah hotel di Jakarta. Bayangkan guys, bellboy! Itu lho yang suka angkut-angkut tas tamu ke kamar hotel dan bahkan sesekali juga ikut membantu bersih-bersih di hotel lho. Bellboy jaman dahulu dengan jaman sekarang tentu berbeda kondisi bukan? Dan setiap kali saya melintasi hotel tersebut, pasti saya akan selalu teringat kisah ini dan terkadang membuat saya berkaca-kaca lagi dan lagi. Gilak, bersyukur banget hidup saya kan? Nama hotelnya adalah Hotel Arya Duta yang terletak di Tugu Tani, dekat dengan Stasiun Gambir itu.

 

Mungkin dengan keuletan dan kegigihan Beliau itulah, Tuhan pun membukakan rizqi lain kepada Bapak saya. Saat itu terdapat pengumuman rekrutmen pegawai PLN besar-besaran skala nasional, dan dibuka untuk lulusan STM juga. Alhamdulillah Beliau berkesempatan mendapatkan informasi ini dan mencoba untuk ikut mendaftar. Jaman dahulu masih banyak perusahaan, yang bahkan perusahaan sekelas BUMN, masih banyak yang merekrut lulusan-lulusan SMA dan STM (SMK), apalagi untuk keahlian-keahlian tertentu. Dan bersyukurnya, Bapak saya memiliki latar belakang keahlian di bidang Teknik Mesin. Dan ketika Tuhan Berkata, Jadilah! Maka Jadilah. Alhamdulillah, Bapak saya lolos tahap demi tahap seleksi dan pada akhirnya bisa menjadi seorang pegawai muda di PLN. Alhamdulillah…

 

Berangkat dari seorang pegawai tetap PLN inilah, Beliau akhirnya bisa memulai kehidupan baru ke arah yang jauuuh lebih baik. (Walau banyak orang bilang sampai-sampai Bapak saya ini telat menikah lho.) Namun sekali lagi, karena Beliau tidak langsung berpuas diri dan tetap tekun dan gigih dalam bekerja, maka Tuhan pun kembali membukakan rizqi kepada Bapak saya melalui perusahaan untuk dapat menyekolahkan Bapak saya ke tingkat pendidikan lanjut. Nggak mudah loh mendapatkan beasiswa spesial tersebut. Tentunya melalui proses seleksi ketat juga! Ah, keren Bapake! Beliau mendapatkan kesempatan bersekolah D3 di Bandung, ya di ITB. Nggak tanggung-tanggung memang PLN memberikan beasiswa kepada pegawai-pegawai terbaiknya ya! Jaman dahulu ITB memang masih menerima D3 untuk beberapa jurusan “umum” macam Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Sipil. Kalau jaman sekarang, kalau saya tidak salah pemahaman, program D3 ITB tersebut kini sudah memisahkan diri sebagai Politeknik Bandung (PolBan), dan memang khusus untuk D3 ke-teknik-an jurusan-jurusan “umum” tersebut. Cmiiw.

 

Dan apalah saya ini kalau masih tidak mau bersyukur kaaan. 😥

 

– – –

 

Tepat pada tanggal 16 Juli 1988, Beliau resmi menikahi Ibu saya. Dan 1,5 tahun berikutnya, lahirlah saya. Ehehehe.

 

Dahulu, tugas perdana Bapak saya setelah diterima sebagai pegawai PLN adalah di Jakarta. Namun, setelah selesai pendidikan D3 di Bandung, Beliau mendapatkan mandat tugas dari perusahaan untuk mutasi ke daerah, yaitu ke Banjarnegara, ke PLTA Mrica atau nama yang sesungguhnya adalah PLTA Jenderal Soedirman. Saat itu usia saya kurang lebih 2 tahun dan saat itu adik saya Wisnu, sudah lahir juga. Dari sanalah kisah kehidupan saya di Banjarnegara dimulai. 🙂

 

Baca juga: Renjana adalah Kami Bertiga.

 

Lagi dan lagi, berkat kegigihan dan keuletan Beliau dalam bekerja, Tuhan kembali membukakan rizqi kepada Bapak saya melalui perusahaan untuk menyekolahkan Beliau kembali ke sekolah lanjutan, yaitu ke jenjang pendidikan S1 di Universitas Tidar Magelang mengambil jurusan Teknik Mesin. Sistem belajarnya menggunakan sistem kelas karyawan, hari Sabtu-Minggu, yang terkadang juga dilaksanakan pada hari Jumat. Saya ingat sekali saat itu saya masih duduk di bangku kelas 3 SD saat Bapak saya lulus sarjana. Dan ramai-ramai juga kami sekeluarga menuju Magelang untuk perayaan kelulusan Beliau.

 

Mungkin ini yang selalu dinasehati Bapak saya untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Dengan bersyukur, rejeki dan nikmat  insyaaAllah (hampir pasti) akan terus bertambah. Saat saya sudah usia remaja, memang saya sebagai anak baru bisa memahami perjuangan luar biasa Bapak saya tersebut.

 

Kembali, lagi dan lagi, berkat kegigihan dan keuletan Bapak saya dalam bekerja dan berkegiatan, ditambah Beliau juga telah menamatkan pendidikan Magister Beliau dalam bidang Manajemen dengan predikat memuaskan, Tuhan kembali membukakan pintu rizqi kepada Beliau dan kembali lagi melalui perusahaan. (Oiya, dalam perkembangannya, PLN khusus pembangkit listrik seperti PLTA Mrica ini salah satunya, berganti nama sebagai anak perusahaan PLN, yaitu menjadi PT Indonesia Power seperti yang sudah dikenal umum saat ini.) Saat saya usia kelas 1 SMP, Bapak saya dipindah tugaskan kembali ke ibukota, ke kantor PT IP pusat, sampai Beliau pensiun pun juga di sana. See? Perjuangan panjang seperti itu tidak semudah membalikkan telapak tangan saja loh guys. Butuh keuletan dan kegigihan banget-banget!

 

Walau sudah pindah tugas kembali ke ibukota, keluarga tetap tinggal di Banjarnegara, tidak ikut pindah ke Jakarta. LDR loh guys, LDR dengan Ibu saya! Ya…mungkin memang itu sudah keputusan terbaik. Mengingat Ibu saya juga memiliki tanggung-jawab sebagai abdi negara dan mengajar di SMP. Oleh karenanya saat dulu kuliah, saya suka sekali bolak-balik Bandung-Jakarta untuk berkumpul bersama Ibu dan Bapak. (Ibu saya dan adik saya yang paling kecil, kerap beberapa kali Sabtu-Minggu ke Jakarta juga, bergantian dengan Bapak saya yang pulang ke Banjarnegara atau Ibu saya yang menyusul Bapak saya ke Jakarta.)

 

– – –

 

Yang menarik dari bolak-baliknya saya Bandung-Jakarta pada masa-masa SMA Kelas 3 dan masa-masa kuliah itu, Bapak saya kerap tidak memanjakan dengan fasilitas-fasilitas yang mungkin bisa saja Beliau berikan. Dari Beliaulah saya belajar naik kendaraan umum untuk keliling Jakarta dan sama sekali NO Taxi, walau sekali lagi saya bilang, bisa saja Beliau suruh saya/adakan untuk saya saat saya sedang berada di Jakarta kala itu. Tapi tidak, Beliau malah mengajari saya tentang Kopaja, Bus Besar, Metromini, dan angkot. Sama seperti halnya dulu saat masih kelas 3 SD, saya sudah diajari untuk berani naik “micro” atau mini bus untuk berangkat ke sekolah, tanpa harus menunggu Bus Koperca (fasilitas bus sekolah dari kantor).

Dulu saat masih awal-awal booming travel Bandung-Jakarta, saya malah bolak-balik Bandung-Jakarta masih menggunakan moda transportasi bus umum, yang berangkat dari Terminal Leuwi Panjang. Saya biasa naik bus ke arah Bekasi atau ke arah Grogol/Slipi. Memang saya akui, Bapak saya ini selalu mengajari tentang “berani” dan nggak manja di sepanjang perjalanan hidup saya sebagai anak Beliau. Hanya berbekal telepon-teleponan dengan Bapak saya sajalah, saya bisa tahu “ancer-ancer” saya untuk turun di mana atau menyambung dengan bus apa dari mana, untuk menuju kantor Bapak saya di perempatan Kuningan-Gatsu. Sampai pada akhirnya saya mengenal Kereta Api pun, ketika saya sampai di Jakarta tepatnya di Stasiun Gambir, saya tidak diarahkan untuk naik taksi, melainkan diarahkan untuk nyeberang ke jalan seberang setelah keluar dari Stasiun Gambir untuk naik Kopaja P20. “Nanti dari situ langsung nyampe kantor Bapak, ndhuk,” kata Bapak saya di seberang sana. “Okeeey,” Cuma 1 (satu) kata itu saja yang bisa saya gumamkan. Hahaha.

 

Baca juga: Curhat Terbuka – Untuk PT Kereta Api (Persero).

Baca juga: Curhat Terbuka – Reservasi Tiket Kereta Api Online Edisi Lebaran 2014.

 

Dan ketika dulu pada saat kuliah, saya dan teman-teman dari Club Catur di kampus, setiap 1 (satu) tahun sekali mengikuti kejuaraan catur nasional di Jakarta di Senayan, tepatnya di Gedung Kemendikbud. Lagi-lagi setiap saya bilang ingin main ke kantor Bapak saya, saya diarahkan untuk naik Kopaja nomor sekian, alias nomor 66. Bukan diarahkan untuk menggunakan taksi. See? Sepanjang menjadi pelajar saya tidak pernah disuruh untuk naik Taxi! Tega bener yak. Hiks2. Haha. 😀

 

Akan tetapi…..
Akibat didikan Beliau yang seperti itulah, yang kini membuat saya berani kesana-kemari tanpa mobil pribadi, even bila harus sendirian. Dan terasa sekali seperti saat ini, ketika saya benar-benar sudah hidup dan tinggal di ibukota. Sudah sejak lama juga saya lepas dari TransJakarta sebagai moda transportasi sehari-hari dalam berkendaraan umum. Biar dikata lebih mahal sedikit, setidaknya dengan sambung-menyambung naik Metromini, Angkot, Kopaja, atau bahkan KRL, setidaknya lebih hemat waktu dan lebih nyaman selama proses perjalanan. Dan setidaknya selama kurang-lebih 2 (dua) tahun tinggal di Jakarta, saya merasa langsung merasa betah dan no drama macet-macetan.

 

Walau memang, saat pertamaaaaa kali dulu itu saat saya datang ke Jakarta dan waktu itu masih dalam hitungan hari, dan kebetulan juga saya belum bekerja, pernah suatu ketika saya berniat main ke Tangerang, ke rumah teman SMA saya. Namanya Tia. Doi saat itu sedang sakit. Jadi ingin menjenguk dan sekalian main, mumpung saat itu saya memang masih sempat kesana-kemari. Tentunya, dengan seizin suami donk. Nah…dari sanalah saya merasa “rugi” karena saya naik taksi ke Tangerang dari Cempaka Putih! Hahaha. (dulu awal-awal menikah, kami masih tinggal di daerah Cempaka Putih). Thanks to Mami-nya Tia buat ngajarin pertama kalinya naik KRL dari Tangerang ke arah balik menuju Jakarta. Hahaha. Oiya, dan hari saat saya main ke rumah Tia itu adalah hari terjadinya peristiwa kecelakaan KRL bertabrakan dengan Truk Pertamina di daerah Bintaro, yang mengakibatkan 2 (dua) orang Pahlawan Masinis wafat di tempat. Senin, 9 Desember 2013. Gara-gara tabrakan tersebut, membuat Bapak saya sampai khawatir telepon-telepon saya dengan nada heboh plus panik (kebetulan Beliau juga tahu saat itu saya memang mau main ke Tangerang).

 

Semenjak dari Tangerang itulah saya semakin berani untuk bisa naik kendaraan umum yang tanpa “bergantung” dengan TransJakarta, apalagi taksi dan ojek. Maap, maap. Saya bukan maksud untuk narsis, temen-temen semua juga bisa kendel seperti ini to? Intinya rasa “berani” saya ini sebagai seorang pendatang baru ibukota (dan perasaan betah tentunya), diwarisi dari ajaran Bapak saya tersebut. Please, saya tau ini lebay, tapi please, jangan bandingkan dengan teman-teman yang sudah lama tinggal di ibukota ya, yang memang dari lahir, kecil, dan membesar di sini. I know I’m nothing lah.. Hehehe.

 

– – –

 

1185755_158901007638414_1974190412_n

 

Dan…sekali lagi.
Selamat ulang tahun Bapake ya!
Mugi-mugi selalu sehat, semakin berkah usia, semakin mesra sama Ibune, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Dan mugi-mugi cepet dikarunia putu-putu yang sholeh-sholehah ya Bapake. Aamiin! (kalau ini sih saya yang ngarep, hahaha) 😀
– – –

Tebet.
Senin, 23 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s