Ternyata Hujan-Hujanan Memang Romantis Ya!

Jika dahulu Pak B. J. Habibie beserta Ibunda Ainun mbecak, kalau saat ini adanya bajaj, maka kami mbajaj. Ternyata benar, hujan-hujanan itu romantis! Ditambah lagi kena cipratan air banjir dari sebuah motor yang melaju kencang di samping bajaj! Yang sudah basah kuyup menjadi semakin basah kuyup. Ah, romantis! :’)

Berawal dari ngambek yang seperti biasa tidak jelas, berjalan kaki-lah aku dari Bundaran HI yang ceritanya menuju arah Halte Transjakarta Dukuh Atas. Sebelum sampai patung Jend. Soedirman, hujan turun dengan sangat derasnya. Dengan masih sambil sok-sokan ngambek, turunlah aku ke arah kolong jembatan.
(Dan dirimu seperti biasa di belakangku, mengikutiku, kemanapun.)

Sudah jelas, taksi-taksi tidak ada yang mau berhenti. Apalagi melihat kondisi calon penumpangnya yang basah kuyup. Setelah beberapa menit, beruntunglah ada sebuah bajaj berhenti menurunkan penumpang di kolong jembatan yang sama. Dan alhamdulillah akhirnya kami dapat meneruskan perjalanan kembali menuju rumah.
(Dan ya, tentu saja, dirimulah semua yang melakukannya. Aku hanya diam saja yang tahu-tahu sudah duduk manis di dalam bajaj.)

Untuk engkau, aku salut. Kurang lebih 4 tahun kebersamaan kita, tidak pernah sekalipun engkau menyelaku di saat-saat aku ngambek ge-je. Marah pun tidak. Malah mendengarkan selalu. Dan hebatnya engkau, selalu bisa meredakan ngambek hanya dengan cara mendengarkan dan mendengarkan, hingga dalam waktu hitungan jam (bahkan menit), selesai. Baru sesudahnya, perlahan-lahan engkau meng-input-kan nasehat/kata-kata positif untuk aku cerna kemudian.

Dan selama waktu inilah, aku belajar bagaimana mengelola emosi, belajar untuk sabar, sabar, dan sabar, khususnya kepada orang-orang terdekat yang aku ini merasa nyaman di dekat mereka.

Dan tidak terasa kanan-kiri sudah suasana natal lagi. Rasanya baru kemarin aku berkeliling melihat-lihat suasana kota pada musim natal 2013. Mungkin karena sehari-hari yang terlalu nyaman, dapat dikatakan bahkan, sangat nyaman.

Engkau benar, dengan bermodal sabar, satu per satu apa yang aku impikan, engkau wujudkan. Aku tahu, seharusnya tidak demikian berlebihan. Maafkan aku. Tapi, aku jadi semakin semangat untuk bisa lebih bersabar lagi. Kira-kira dalam waktu satu tahun ke depan, engkau akan memberikan kejutan apalagi.

Terima kasih untukmu yang selalu sabar! Aku tahu, aku terlalu beruntung, karena dirimu telah dan akan selalu memilihku. Dirimu sungguh terlalu sempurna! Sungguh!

Dulu, saat ikatan ini belum sah di hadapan Allah SWT, aku senantiasa berpikir di tengah-tengah kengambekanku yang super tidak jelas. Sebenarnya, mudah saja bagimu untuk meninggalkanku yang sangat-sangat tidak sempurna ini dan mencari pengganti yang lain. Namun dirimu tidak pernah lakukan! Ditambah lagi penampilan fisik rupawan serta kudengar kabar saat itu ada beberapa wanita (yang kubayangkan dan kutahu pasti berparas sangat cantik) yang akan dijodohkan untukmu. Tapi dirimu tetap bertahan untukku!

Terima kasih menjadikan aku wanita asing pertama dan satu-satunya dalam hidupmu. Mudah-mudahan akan selalu, hingga nanti di hari tua kita bersama, dan berlanjut di akhirat kelak. Selamanya. Aamiin.

Dan sebelum keluar rumah menuju Sholat Maghrib berjama’ah, tidak lupa engkau menanyakannya,
Mau dibeliin makan malem apa Yang?

Hai hujan, terima kasih telah membuatku merasa romantis dan menuangkan semuanya di sini.

Jakarta, 6 Desember 2014
18.45 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s