Password

Sejak kami “sepakat” untuk menjalin kisah kasih asmara, terdapat serangkaian kalimat yang biasa diucapkan dan diperdengarkan di hadapan saya, sebelum berpisah pulang ke kosan masing-masing, atau sebelum berangkat tidur via telepon. Deretan kalimat gombalan cinta dari seorang pria kepada wanita yang sangat dikagumi dan dicintai, sekiranya begitu, mudah-mudahan istiqomah selamanya hingga di penghujung waktu dan sesampainya di akhirat kelak.

Sejak pertama kali berjumpa, beliau langsung mengajak saya menjadi calon istrinya. Niat saya kala itu, cukup sekali saja, bertemu dengan seseorang yang serius, tidak main-main. Walau saat itu tidak pernah terpikirkan akan terjadi apa dan bagaimana di hadapan kami. Namun hanya berbekal saran dari Ibu, maka saya mengiyakan beliau dan menjalani saja hingga nanti pada waktunya, rencana pada saat itu, yaitu pasca kelulusan tingkat sarjana.

Sama-sama dimabuk cinta untuk yang pertama kalinya dalam hidup, begitu indah dan pernuh warna, dan ketika  seseorang yang saya minta dari-Nya, “langsung” sesuai kriteria, baik untuk saya juga kedua orang tua saya. Dan salah satu bagian “bumbu penyedap rasa” kami berdua adalah serangkaian kalimat password berikut.

wpid-password-abi.jpg.jpeg

 

Sebelum sah menjadi istri beliau, kalimat “ibu dari anak-anakku” berbunyi “calon istriku”. Begitu diperdengarkan langsung dengan lembut oleh suara beliau dengan intonasi yang pas, sungguh indah dan begitu  memanjakan. Memang, sangat gombal, sangat, sangat, sangat gombal. Namun saya senang. Ketika beliau mengantar pulang dari kampus, sebelum berpisah, hampir selalu tidak pernah absen kalimat-kalimat tersebut. Dalam beberapa kesempatan pula, diucapkan saat menjelang tidur melalui telepon.

Kami menyebutnya “password”. Entah bagaimana dulu mulanya, saya hanya menceploskan ide dengan menamakan untaian kalimat gombal tersebut sebagai “password”. Selain dengan do’a dan usaha, kalimat-kalimat “password” tersebut membuat kami menjadi semakin kuat, hari demi hari. Hingga terdapat beberapa kerikil dan batu besar di hadapan kami pun, yang bukan berasal dari diri kami, dapat kami lalui. Syukur kepada-Nya, setelah ini-itu, akhirnya Allah menyatukan kami berdua.

Kini, untaian kalimat-kalimat indah dalam “password” tetap berlanjut, tidak terhenti. Terutama setiap beranjak tidur, tidak lupa beliau ucapkan dengan lembutnya lagi-lagi dan seperti biasanya di hadapan saya. Ibarat sunnah menjelang tidur, seperti halnya mengambil air wudhu atau Sholat Sunnah Taubat 2 roka’at yang sebaiknya dilakukan sebelum tidur.

Gambar di atas adalah pesan singkat yang dikirimkan beliau malam ini, ketika kami sedang berada pada kota berbeda. Ada hal yang harus kami urus. Ini memang berlebihan. Padahal insyaAllah Selasa pagi besok (18 Aug’14) beliau sudah di Jakarta lagi. Dikarenakan sinyal kurang baik di kota seberang sana, membuat beliau “terpaksa” mengetikkannya malam ini sebelum berangkat tidur. Dan membiarkan saya membacanya dengan imajinasi suara lembut beliau dalam benak saya.

 

 

Jakarta, 17 Agustus 2014
Pukul 22:22 WIB

Advertisements

2 thoughts on “Password

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s