Curhat Terbuka – Setiap Perempuan Itu Bisa Memasak

Dapur

Ilustrasi

Tulisan ini terinspirasi dari beberapa statement yang sering saya dengar, baik saat masih SMA atau saat masih duduk di bangku kuliah.

Pembicaraan yang sering terjadi di antara kami anak-anak perempuan tentang “keharusan” bisa memasak. Memang benar, di setiap keluarga terdapat “ajaran” yang berbeda-beda tentang perihal masak-memasak ini. Dikatakan bahwa, setiap wanita itu “diwajibkan” untuk dapat memasak. Namun pada kenyataannya, ada beberapa keluarga juga yang tidak mensyaratkan mutlak bahwa anak-anak perempuan mereka diharuskan untuk dapat memasak dan memasak. Sementara di dalam concern orang tua yang tinggi terhadap pendidikan anak, porsi “ketrampilan memasak” lebih terasa “dinomor-duakan” dibandingkan dengan pendidikan formal itu sendiri.

Mengapa dikatakan demikian?
Setiap ibu di dunia -mungkin-, memiliki kekhawatiran tinggi apabila di masa depan, anak-anak perempuan mereka tidak dapat memasak. Tentu saja hal itu berkaitan dengan kodrat seorang perempuan yang kelak akan menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka. Dan seiring berkembangnya waktu, kekhawatiran-kekhawatiran tersebut berubah menjadi pola pikir kekinian yang akhirnya membuat beberapa wanita merasa khawatir dengan dirinya, kurang percaya diri, dan sebagainya.

Sebenarnya di sini, saya hanya ingin menggambarkan diri saya yang malas dan enggan pada mulanya untuk belajar memasak. (walaupun Ibu saya adalah Ibu Guru Rumah Tangga yang sangat jago memasak) Apalagi untuk sekedar “nongkrong” di dapur bersama Ibu dan Dhe Ngatini di masa kecil sampai remaja, sementara Bapak saya yang dengan ngototnya selalu “memaksa” saya untuk ikutan beraktivitas di dapur. Ditambah kini, suami yang selalu membebaskan dan tidak menuntut perihal memasak.

Pada kenyataannya, setelah saya menikah, saya memang tiada ketrampilan berarti di dalam perihal masak-memasak ini. Sementara sejak mengenyam pendidikan di bangku SMA sampai kuliah, saya merantau ke Kota Bandung hingga 8 tahun lamanya. Otomatis tidak banyak kegiatan memasak yang saya lakukan. (tentu saja, karena saat SMA bersekolah di sekolah asrama, dan pada saat kuliah memilih untuk ngekos yang hanya berfungsi sebagai tempat tidur dari full-nya kegiatan kampus yang saya ikuti, dalam arti tidak mementingkan faktor ada dapur atau tidak di dalam memilih kamar kos) 😀

Dengan hanya berbekal sepengamatan saya sejauh ini dengan kegiatan Ibu di dapur, saya berangkat untuk memulai belajar sedikit demi sedikit. Dan seperjalanan saya memasak hari demi hari, ternyata muncullah secara naluriah “ke-perempuan-an” bahwa sebenarnya saya ini ada bakat loh dalam memasak (dalam arti sebagai seorang perempuan). Tidak peduli sebrutal dan setomboi apapun, pasti bisa memasak. Seperti kata pepatah, asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. Dan saya juga berpikir, itulah mengapa ada saja teman-teman pria yang justru malah jago memasak dibandingkan saya sendiri.

Jadi intinya.
Tidak perlu takut karena menganggap diri tidak bisa memasak atau masih kurang percaya diri dalam memasak. Begitu pun sebaliknya, tidak perlu berbangga berlebih karena merasa bisa dan jago dalam hal memasak dibandingkan dengan orang lain. Karena pada dasarnya, setiap perempuan itu bisa memasak.

Walaupun pada akhirnya semua kembali lagi kepada kondisi keluarga masing-masing dan fleksibilitas pembawaan di setiap anggota keluarga. Di mana urusan “keharusan bisa memasak” hanya menjadi sebuah pilihan tanpa harus terbebani di dalamnya.

Jakarta, 12 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s