Kampoeng Tempo Doeloe 2014

Selama periode waktu tanggal 9 Mei – 1 Juni 2014, bagi pecinta fashion dan kuliner, di Jakarta berlangsung Jakarta Food and Fashion Festival (JFFF) 2014. Perhelatan ini diselenggarakan pada area La Piazza dan Mal Kelapa Gading Jakarta Utara.  Namun, saya hanya ingin menulis tentang food festival-nya saja. Dan mengingat hal ini merupakan pengalaman saya untuk pertama kalinya menghadiri festival tersebut.

Namanya adalah Kampoeng Tempo Doeloe (KTD). Sampai tulisan ini dimuat, saya sudah mengunjungi KTD sebanyak 3 kali. Pertama kali mengunjungi KTD, saya menemani rekan sekantor yang sudah sangat ingin sekali mengunjungi KTD, akan tetapi belum sempat menentukan waktu yang paling tepat, namanya Bani. Dan untuk kedua kalinya bersama dengan suami. Itu pun tidak sengaja karena saat itu kami baru saja selesai menonton Film X-Men: Days of Future Past di MKG 3 dan perut terasa keroncongan minta untuk segera diisi, lalu teringatlah saya dengan JFFF 2014 ini. Kemudian untuk ketiga kalinya, kembali bersama dengan suami, memang sengaja datang ke KTD untuk sekedar meluluskan keinginan makan siang di luar rumah.

Konsep KTD sangat menarik dan bernuansa tradisional Betawi yang kental, dengan dilatar-belakangi iring-iringan musik khas Betawi. Tema yang diangkat untuk KTD 2014 ini adalah mengusung tema tampilan “Pasar Gambir” pada era jadul.  Di dalam area “warung”, terdapat panggung hiburan yang tidak terlalu luas, yang sesekali diisi dengan para komedian dan artis-artis Betawi. Sebagai informasi, untuk memasuki kawasan KTD 2014, diharuskan bagi setiap pengunjung untuk memiliki Kartu Pra-Bayar Kampoeng Tempo Doeloe 2014 sebagai media utama transaksi pembayaran setiap makanan yang ingin dibeli.

 

SAM_2449

Kartu Kampoeng Tempo Doeloe 2014 (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Gate "Pasar Gambir" Siang Hari

Gate “Pasar Gambir” pada Siang Hari (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

 

Beberapa makanan disajikan dalam festival tersebut. Dimulai dari nasi, lontong, pempek, mie, dan beberapa  makanan dan minuman khas daerah lainnya. Yang menarik adalah, saya menemukan jajanan khas jaman SD, yaitu Sate Telur Gulung dan Gulali Merah-Ijo yang Berbentuk Bangau dengan Batang Sate. Dan seperti yang sudah saya duga sebelumnya, antrian Warung Telur ini cukup panjang. Saya pun ikut mencoba dengan biaya Rp 12.000,-/4 tusuk telur. Seketika bayangan kala SD berkelebat dan muncul dalam benak saya.

Sebelum menyantap Sate Telur Gulung, saya dan Bani menjajal menu Bakmi Godhog Djowo khas Yogyakarta. Kembali, seperti yang sudah diduga sebelumnya, antrian cukup panjang untuk Warung Bakmi Djowo tersebut. Walaupun kami menunggu sampai setengah jam kurang-lebih, akhirnya kami berdua pun dapat menikmati sajian Bakmi Godhog yang gurih dan menghangatkan badan. Biaya per porsi untuk Bakmi Godhog tersebut adalah Rp 25.000,-.

 

Bakmi Djowo

Bakmi Djowo khas Yogyakarta (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

 

Di dalam kesempatan yang kedua kalinya, saya mengunjungi KTD 2014 bersama dengan suami. Kali ini saya ingin mencoba menu berbeda. Dan pilihan pun jatuh pada Nasi Bebek Hainan. Beruntungnya kami saat itu, walau jam sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB, masih terdapat porsi yang cukup banyak. Untuk menikmati Nasi Bebek Hainan ini, harus mengeluarkan uang sebesar Rp 38.000,- per porsi. Ya memang, cukup mahal. Akan tetapi dengan harga sekian, rasa dari nasi tersebut terbilang enak dan sangat lezat! Worthed lah… dibandingkan dengan Nasi Bebek Hainan dalam restoran-restoran mahal Jakarta. 😀

Menu kedua yang saya pilih ternyata kembali pada Sate Telur Gulung. Menu ini memang eye-catching bagi saya. Dan walau sebenarnya saya dapat membuat sendiri di rumah. 😀

 

Bebek Hainan

Bebek Hainan & Sate Telur Gulung (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Dalam kesempatan yang ketiga, saya kembali pergi dengan suami. Bedanya kali ini pada siang hari, karena mumpung hari libur. Siang itu cukup terik dan akhirnya saya memutuskan untuk mencoba menu Sop Buah Cipaganti (jauh-jauh ke Jakarta, ketemunya Cipaganti lagi, Cipaganti lagi, :D) seharga Rp 15.000,-. Brrr…dinginnya maknyus! :9

Saya  juga mencoba menu Es Susu Sapi Segar. Bentuk penyajiannya berupa milkshake. Harga dari menu ini adalah Rp 8.000,- saja. Setelah itu, untuk menu makan siangnya kami memutuskan menu Nasi Gudheg Komplit lengkap dengan Telur dan Ayam Kremes-nya. Yaaa…kembali, cukup mahal. Karena untuk menu yang satu ini, harga per porsi adalah Rp 32.000,-.

 

SAM_2513

Es Susu Sapi Segar (sumber: Dokumentasi Pribadi)

SAM_2517

Nasi Gudheg Komplit Telur & Ayam Kremes (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

 

Yak. Pengalaman mengunjungi festival makanan ini memang yang pertama untuk saya sebagai pendatang baru di Ibukota. Rasanya memang menyenangkan bila dapat menikmati aneka jenis makanan yang berada hanya dalam satu tempat saja, seperti dalam pameran tersebut. Memang, bila dilirik dari segi harganya, tidak kesemua harga dari kesemua jenis makanan tersebut tergolong murah. Namun dari segi penyajian dan tempatnya, dapat dikatakan tergolong bersih sehingga memberikan kenyaman tersendiri bagi para pengunjung.

 

SAM_2269

Bani di Tengah-Tengah Ramainya Suasana Malam Hari KTD 2014 (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

Gate "Pasar Gambir" Malam Hari

Suasana “Pasar Gambir” KTD 2014 pada Malam Hari (sumber: Dokumentasi Pribadi)

 

SAM_2511Kincir-Kincir Hiburan khas Pasar Malam (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Nah, sekian pengalaman kuliner pertama saya pada salah satu Festival Makanan di Jakarta. Sampai berjumpa lagi pada JFFF tahun depan! 🙂

 

 

Jakarta, 4 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s